Anda di halaman 1dari 16

BAB II

DASAR TEORI
Prinsip Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berdasarkan pada ilmu thermodinamika
yaitu proses perubahan panas menjadi energi Uap. Dengan ilmu termodinamika maka dapat dianalisa
perubahan energi untuk mengoptimalkan efisiensi dari PLTU:

2.1 Thermodinamika
Hukum Thermodinamika menyatakan bahwa energi listrik dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Energi dalam suatu sistem bertambah atau berkurang karena perubahan bentuk energi yang satu menjadi
bentuk energi yang lain di dalam sist eksem tersebut.
Siklus Carnot Menyatakan suatu menyatakan suatu siklus reversible yang terdiri dari beberapa
proses reversible. Konsep entropi digunakan untuk menganalisa siklus carnot dengan mengukur derajat
ketidakteraturan dari suatu sistem.

Gambar 2.1 Siklus carnot dalam diagram P-v dan T-s

1 2 : kompresi adiabatic reversible


2 3 : Penambahan panas pada temperature konstan reversible
3 4 : ekspansi adiabatic reversible
4 1 : pelepasan panas adiabatic reversible

Efisiensi dari siklus Carnot adalah perbandingan antara panas netto dengan sumber panas masuk,
jadi efisiensi dari siklus carnot tergantung temperature sumber panas dan temperatur reservoir. Unjuk
kerja proses thermos dinyatakan dengan efisiensi thermal, yaitu perbandingan antara kerja yang
dihasilkan dengan panas yang masuk ke siklus.
Untuk skema siklus efisiensi thermalnya (%) adalah sebagai berikut :

th =
Dimana :
-

= kerja netto yang dihasilkan dalam sistem (kJ/kg)

= panas masuk (kJ/hr)

Jadi efisiensi termal (%) menurut siklus carnot dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

c =
Dengan TH dan TL adalah sumber panas dan temperature reservoir dalam Kelvin.
Siklus Rankine adalah siklus cair uap, yang merupakan dasar dari sistem pembangkit tenaga uap.
Diagram P-v dan T-s pada gambar dibawah garis uap jenuh, daerah di sebelah kiri garis cair jenuh adalah
daerah cair dingin lanjut daerah di sebelah kanan garis uap jenuh disebut daerah panas lanjut sedangkan di
daerah antara dua garis tersebut adalah daerah campuran dua fase.

Gambar 2.2 Siklus Rankine ideal dalam diagram (a) P-v dan (b)T-s

Siklus 1-2-3-4-B-1 adalah siklus Rankine Jenuh, yang berarti uap jenuh ke dalam turbin. Siklus
1-2-3-4-B-1 merupakan siklus Rankine uap super panas karena uap super panas yang masuk turbin.
Siklus tersebut melalui proses sebagai berikut:
1 2 atau 1 2 : ekspansi adiabatic reversible dalam turbin, uap keluar pada 2 atau 2

berada

dalam daerah campuran dua fase


2 3 atau 2 3 : panas keluar pada suhu dan tekanan konstan di kondensor
34

: kompresi abiabatic reversible oleh pompa terhadap cair jenuh

Beberapa rumusan penting berkaitan dengan siklus rankine antara lain:


Penambahan panas (kJ/kg)

: qA = h2 h4

Kerja turbin (kJ/kg)

: wr = h1 h2

Pelepasan panas (kJ/kg)

: |qB| = h2 h3

Kerja pompa (kJ/kg)

: |wB| = h4 h3

Network (kJ/kg)

: Wnet = (h1 h2) (h4 h3)

Efisiensi termal (%)


(

) (
(

)
)

Dimana :
-

h1 = entalpi uap masuk ke turbin (kJ/kg)

h2 = entalpi uap keluar dari turbin (kJ/kg)

h3 = entalpi air keluar dari kondensor (kJ/kg)

h4 = entalpi air masuk ke dalam ketel (kJ/kg)


Analisa Carnot menunjukan bahwa efisiensi siklus meningkat bila panas ditambahkan pada siklus

dari sumber eksternal, demikian juga pada siklus rankine. Pemanasan lanjut (superheat) dan pemanasan
ulang (reheat) adalah dua metoda yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi siklus thermos.
Pemanas lanjut (superheater) dalam siklus digunakan untuk menambah panas pada uap jenuh,
sehingga meningkatkan temperaturnya diatas temperature jenuh. Dengan adanya superheater, uap jenuh
pada titik co dipanaskan lagi sampai titik co sebelum mengalir keadalam turbin. Pada titik d uap
dikeluarkan dari dalam turbin dan dikirim kembali kedalam turbin dan berekspansi menjadi buangan pada
titik f. Salah satu hal yang penting adalah superheater dan reheater dapat emnurunkan kerugian akibat
kelembaban ( moiseture loss) sehingga kelembaban sistem buangan (exhaust) dari uap menjadi kecil.

Gambar 2.3 Diagram T-s untuk Rankine dengan superheat dan reheat

Peningkatan efisiensi dapat juga diperoleh dari pemanasan feedwater berdasarkan perpindahan
panas secara internal dimana titik a dipanaskan lagi mencapai titik b, dengan adanya pemanasan
feedwater, panas yang masuk ketel dapat diturunkan sebab feedwater yang masuk mempunyai suhu
tinggi.
Efisiensi thermal adalah rasio dari kerja netto disbanding panas yang masuk. Pada kenyataan,
perhitungan efisiensi akan lebih kecil disbanding dengan perhitungan secara teori. Hal ini dikarenakan
kegagalan analisa perhitungan yang mencakup banyak peralatan bantu yang digunakan pada PLTU dan
faktor irreversibilitas dalam siklus tersebut. Perencanaan PLTU lain yang diperlukan adalah laju kalor
sebagai ukuran ekonomis bahan bakar pada suatu pembangkit. Laju kalor didefinisikan sebagai
banyaknya panas yang masuk (Btu) untuk menghasilkan kerja (kWh), merupakan kebalikan dari efisiensi.

Angka 3,412 berasal dari 1 kWh = 3,412 Btu

2.2

Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Prinsip Kerja Utama PLTU ditunjukan pada gambar dibawah.

Gambar 2.4 Gambaran sistem kerja pada PLTU

Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah bahan bakar. Bahan
bakar yang digunakan dapat berupa batu bara (padat), minyak (cair), atau gas. Ada kalanya PLTU
menggunakan Kombinasi beberapa macam bahan bakar.
Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU adalah konversi energi primer
menjadi energi panas (kalor). Hal ini dilakukan alam ruang bakar dari ketel uap PLTU. Energi panas ini
kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada dalam ruang bakar dari ketel uap PLTU. Energi panas ini
kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa ketel untuk menghasilkan uap yang
dikumpulkan dalam drum dari ketel. Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap. Dalam turbin uap,
energi (enthalpy) uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator, dan akhirnya energi
mekanis dari turbin uap ini dikonversikan menjadi energi listrik oleh generator.
Proses pembakaran batu bara umumnya membutuhkan tempat penyimpanan dan peralatan
penangannannya. Ukuran biji batu bara diperkecil dengan menggunakan mesin pemecah (pulverizer) dan
disimpan di tempat terbuka sampai sekiranya dibutuhkan baru akan diambil. Conveyor bertugas
menganggkut batubara menuju ke mesin pemecah (pulverizer). Pada umumnya batubara di hancurkan di
mesin pulverizer dengan menggunakan variable speed coal feeders controlled untuk merespon perubahan
beban. Batubara akan terbakar dengan mudah dan efisien seperti gas jika dibuat dalam serbuk halus. Di
samping itu jika digunakan dalam bentuk serbuk, batubara akan mempunyai keuntungan-keuntungan
antara lain dapat menanggapi perubahan beban dengan baik, kebutuhan akan kelebihan udara pembakaran

(excess air) rendah sehingga konsumsi daya untuk kipas lebih rendah, suhu pembakaran lebih tinggi,
efisiensi thermal lebih baik dan biaya operasi dan pemeliharaan rendah. Kemudian serbuk batu bara
tersebut didorong oleh udara primer dari primary air fan (PAF) sampai ke pembakaran. Pembakar batu
bara serbuk menerima serbuk batubara kering dan udara primer kemudian mencampurnya dengan udara
pembakaran utama dari forced draft fan (FDF) sehingga timbullah nyala api di dalam.

Gambar 2.5 Sistem batu bara serbuk

Dalam perhitungan neraca energi dan efisiensi perlu diketahui nilai kalor dari proses pembakaran
batubara. Nilai kalor menunjukkan perpindahan panas dari suatu proses pembakaran batu bara yang
didinginkan sampai suhu awak dari udara dan batu bara.
Ada dua macam nilai kalor, yaitu nilai kalor Tinggi (HHV, High Heating Value) yaitu nilai kalor
yang terjadi jika semua uap yang terbentuk telah terkondensasi, sehingga dalam hal ini termasuk kalor
laten penguapan air. Selain HHV ada nilai lain yaitu Nilai Kalor Rendah (LHV, Low Heating Value)
yaitu nilai kalor yang tidak termasuk nilai kalor laten untuk penguapan uap air. HHV dan LHV dalam
kcal/kg dapat ditentukan dengan:
HHV = [ 8,080C + 34.500 (H O/8) +2220 SJ] ........................................................................(1)

Dan
LHV = HHV - 588,76 x W ...........................................................................................................(2)
Dimana:
-

= Fraksi massa Karbon

= Fraksi massa Hidrogen

= Fraksi massa Oksigen

= Fraksi massa Sulfur

= Jumlah uap air yang terbentuk karena pembakaran 1 kg batu bara

Dalam perhitungan neraca energi dan efisiensi digunakan HHV karena semua kandungan energi
total harus diperhitungkan. Panas yang dihasilkan dalam kcal/hr dari pembakaran batubara di dalam
Boiler sebesar:

QBB = HHV x BB ........................................................................................................................(3)


Dimana:
-

BB : Jumlah batubara yang dibakar di ketel dalam kg/hr

Sedangkan untuk mencari kebutuhan udara yang dibutuhkan untuk pembakaran tiap kg batubara adalah :
UOG = 11,5C +34,5 (
UOV =

) + 4,325.........................................................................................(4)

....................................................................................................................................(5)

Dimana :
-

UOG

: kebutuhan udara teoritis (kgudara/kgbatubara)

UOV

: kebutuhan udara teoritis (m3udara/kgbatubara)

C,H,O,S : fraksi C,H,O dan S dalam setiap kg batubara (%)

Kebutuhan udara sebenarnya tiap kg batu bara memperhitungkan factor excessair (udara lebih) supaya
pembakaran yang terjadi lebih sempurna. Factor udara lebih (excess air) dicari dengan menggunakan
persamaan:

m = 21/(21-O2) ............................................................................................................................(6)
dimana:
-

: Faktor udara lebih (excess air)

O2

: Kadar oksigen dalam gas buang (%)\

Kebutuhan udara sebenarnya adalah:


U = m.Uo ....................................................................................................................................(7)
Dimana:
-

U = kebutuhan udara actual (kgudara/kgbatubara) atau (m3udara/kgbatubara)

Uo = kebutuhan udara teoritis (kgudara/kgbatubara) atau (m3udara/kgbatubara)

Dari pembakaran tersebut dihasilkan gas buang yang dibuang ke atmosfer melalui cerobong. Untuk
menghitung laju aliran dari gas buang ini digunakan persamaan :

Gog

= Uog + (1 A) .................................................................................................................(8)

Gg

= m.Uog + (1 A) ..............................................................................................................(9)

Gov

= Uov+ 5,6 (

Gv

= (m-1) Uov +Gov .............................................................................................................(11)

)+1,24W + 0,8 N..............................................................................(10)

Dimana:
-

Gog

: berat gas asap teoritis (kggasasap/kgbatubara)

Gg

: berat asap actual (kggasasap/kgbatubara)

A,W,N : fraksi asap, uap air, nitrogen dalam setiap kg batu bara (%)

Gov

: volume gas asap teoritis (m3gasasap/kgbatubara)

Gv

: volume gas asap actual (m3gasasap/kgbatubara)

Laju aliran udara atau gas buang yang diperlukan atau dihasilkan oleh pembakaran sujumlah tertentu batu
bara dalam kg/hr adalah:
m = U.BB ........................................................................................................................................(12)
debit aliran fluida dalam m3/hr adalah :
Q = m/ ..........................................................................................................................................(13)
Dimana

adalah berat jenis fluida

2.3 Proses Pembangkitan Uap


Proses pembangkitan uap merupakan kombinasi kompleks dari peralatan-peralatan di dalam ketel
seperti ekonomiser, superheater dan reheater. Ketel sebagai bagian utama dari proses pembangkitan uap
mengubah cair jenuh menjadi uap jenuh. Pada instalasi pembangkit tenaga yang besar biasanya digunakan
ketel pipa air daripada ketel pipa api karena memiliki dimensi yang lebih kecil sehingga harganya lebih
ekonomis.

Gambar 2.6 Diagram alir proses pembangkitan uap secara umum

Pada gambar diatas menunjukkan proses yang berlangsung pada boiler termasuk perubahan fluida
didalamnya. Pada boiler untuk membangkitkan panas diperlukan adanya 3 hal yaitu udara, bahan bakar,
dan batu bara. Udara didapatkan dari luar dengan bantuan FD Fan yang menyedot udara langsung dari
luar, sedangkan serbuk batubara yang sudah benar-benar halus nantinya akan di sedot oleh PA fan dan
masuk ke boiler. Pada boiler terdapat 2 buah drum yaitu upper drum dan lower drum, bedasarkan
fungsinya yaitu untuk proses pemisahan antara fluida dengan uap. Uap yang sudah dipanaskan nantinya
akan digunakan oleh turbin HP turbin, dan panas sisanya nantinya akan di panaskan kembali, berguna
untuk meningkatkan efisiensi. Penyerapan panas pada masing-masing peralatan dirumuskan sebagai
berikut :

Q = m (hout - hin) ........................................................................................................................(14)

Dimana:
-

: laju aliran air atau uap (kg/hr)

hout

: entalpi air atau uap keluar (kJ/kg)

hin

: entalpi air atau uap masuk (kJ/kg)

Efisiensi ketel adalah ratio antara panas yang diserap oleh ketel dengan panas dari bahan bakar.
ketel =

..............................................................................................................................(15)

yang perlu diperhatikan di sini adalah pengendalian proses pembangkitan uap (tekanan, suhu, dan
ketinggian air) yang berakibat langsung terhadap efisiensi PLTU apabila terjadi perubahan beban.
Efisiensi pembakaran maksimum memerlukan lebih banyak udara disbanding dengan perhitungan secara
teoritis. Pengandalian proses pembakaran dan mengoprasikan control valve, dampers dan variable speed
drive. Bahan bakar atau panas yang masuk ke dalam ketel harus dijaga sesuai dengan tekanan uap yang
diinginkan. Aliran udara ke dalam ketel dikoordinasikan dengan panas yang masuk. Bila beban pada uap
meningkat tekanan ketel akan menurun, hal ini terdeteksi oleh alat pengatur sehingga aliran udara dan
panas masuk dan di tingkatkan untuk menjaga tekanan uap menjadi normal. Air dalam drum uap harus
dijaga pada ketinggian yang konstan, konsumsi uap yang tinggi oleh turbin dan rendahnya penyediaan air
pengisi ketel penyebab rendahnya air dalam drum uap. Hal ini akan menggerakkan alat pengukur untuk
meningkatkan bukaan katup pengisi air ketel. Akibat dari banyaknya jumlah panas yang terserap pada
komponen logam dari superheater dan reheater menyebabkan suhu uap berubah. Suhu uap yang tinggi
menyebabkan kerusakan pada peralatan. Suhu uap yang keluar superheater dan reheater dikendalikan oleh
katup atur pada penyemprot adir dalam attemperator yang diletakkan di dalam peralatan tersebut.

2.4 Turbin
Turbin adalah alat yang digunakan untuk mengkonversi energi kinetis fluida menjadi enrgi mekanis
yang akan memutar generator dan menghasilkan energi listrik.. uap air akan masuk kedalam turbin
melewati beberapa tahap yang tiap tahapnya terdiri dari sebuah sudu tetap yang berfungsi sebagai nosel
dan sudu bergerak yang terpasang pada rotor. Pada nosel, uap air dipercepat sampai kecepatan tinggi, dan
energi kinetic ini dirubah menjadi kerja pada poros.
Apabila digunakan satu buah turbin, akan menyebabkan kerugian karena diperlukan uap dengan
kecepatan yang sangat tinggi di atas kecepatan yang diijinkan karena ekspansi dari tekanan tinggi sampai
tekanan condenser. Maka biasanya digunakan lebih dari satu buah turbin, pada bahasan kali ini ada 3
buah turbin yaitu turbin bertekanan tinggi (high preasure turbine), turbin bertekanan menengah
(intermediate pressure turbine) dan turbin tekanan rendah (low preasure turbine). Untuk tekanan tinggi

biasanya menggunakan asas impuls sedangkan untuk tekanan rendah biasanya digunakan turbin
menggunakan asas reaksi.
Gambar dibawah menunjukkan turbin tekanan tinggi dan turbin tekanan rendah dengan
pemasangan lanjut dan pemasangan ulang.

Gambar 2.7 Instalasi pembangkit uap menggunakan superheater dan reheater

Dari gambar tersebut dapat dicari kerja turbin aktualnya dalam kJ/hr dengan menggunakan rumus:
WT = m1(h1-h2)+m2(h3-h4) .........................................................................................................(16)
Dimana :
-

m1

= laju aliran uap masuk ke turbin tekanan tinggi (kg/hr)

m2

= laju aliran uap masuk ke turbin teknan rendah (kg/hr)

h1

= entalpi uap masuk ke turbin tekanan tinggi (kJ/kg)

h2

= entalpi uap keluar dari turbin tekanan tinggi (kJ/kg)

h3

= entalpi uap masuk ke turbin tekanan rendah (kJ/kg)

h4

= entalpi uap keluar dari turbin tekanan rendah (kJ/kg)

Apabila uap air didalam turbin ada yang dikeluarkan sebagai uap bocoran turbin (extraction steam)
untuk memanasi air pengisi ketel dalam feedwater heater seperti terlihat pada gambar dibawah dengan m
adalah laju aliran uap dan h adalah entalpi pada titik-titik tertentu maka persamaan untuk menhitung
kerja actual turbin dalam kJ/hr menjadi:
WT = m3(h1-h2)+(m1-m2)(h2-h3)+(m1-m2-m3)(h3-h4)...................................................................(17)

(a)

(b)
Gambar 2.8 (a) & (b) Letak terjadinya situs Rankine pada grafik dan pada proses

Sedangkan daya yang terbangkitkanpada gambar generator (KW) adalah:


Pgen= WT x gen .............................................................................................................................(18)
Dimana gen adalah efisiensi generator dalam %

2.5 Kondensor
Fungsi kondensor adalah menciptakan ruang hampa udara pada keluaran turbin, mengkondensasi
uap yang keluar dari turbin untuk digunakan kembali pada situs tertutup, melakukan deaerasi kondensor
untuk mempertahankan ruang hampa dan mereduksi jumlah gas tak mampu kondensasi yang terbawa
masuk kedalam ketel melalui feedwater

Alat ini biasanya berupa penukar panas selongsong dan tabung (shell and tube) dimana mekanisme
perpindahan panasnya terutama adalah pengembunan uap jenuh di luar tabung dan pemanasan dengan
konveksi.

Gambar 2.9 Skema kondensor dua aliran

Gambar diatas menunjukkan skema kondensor yang mempunyai dua aliran pad sisi air terdiri atas
sebuah selongkong baja dengan kotak air pada kedua ujungnya. Air masuk ke tabung dari kotak air yang
terbagi dua terdapat pada satu ujung kondensor, mengalir melalui tabung-tabung itu sampai ke kotak air
berbalik arah dan mengalir melalui tabung yang separuh lagi ke belahan lainnya pada kotak air yang
terbagi dua. Gas tidak dapat dikondensasi dipisahkan dari kondensor dengan menggunakan multistage
steam fet air ejectors (SJALE). Proses pembuangan gas tak mampu kondensasi disebut deaerasi.
Biasanya terdapat batas maksimum gas-gas tak mampu kondensasi yang terkandung dalam kondensat (
0,01 cm3/L). peralatan deaerasi ini juga digunakan untuk membuat ruang hampa udara
Air kondensat dari kondensator ini kemudian dipanaskan di dalam feed water heater dengan
menggunakan uap dari bocoran uap (extractiob steam) dari turbin. Feedwater heater ini biasanya
jumlahnya lebih dari satu dan dipasang secara seri. Apabila uap bocoran yang masuk ke dalam feed water
heater bertekanan tinggi maka heaternya dinamakan high preasure feedwater heater (HPH), sebaliknya
dinamakan low preasure feedwater heater (LPH), selain heater-heater di atas terdapat satu, peralatan lagi
yang juga berfungsi untuk membuang gas-gas tak mampu kondensasi di samping untuk memanaskan air
pengisi ketel yang dinamakan Deaerator.

2.6 Peralatan Bantu (auxiliary Equipment)

Untuk mengoprasikan pembangkit listrik tenaga uap diperlukan peralatan-peralatan bantu untuk
meningkatkan unjuk kerja dari sitem tersebut di samping peralatan-peralatan utama. Dalam suatu
pembangkit listrik dengan kapasitas besar, peralatan bantu ini mutlak diperlukan keberadaannya.
Sistem peralatan bantu disini termasuk sistem air pengisian ketel, sistem udara pembakaran dan gas
buang serta sistem penanganan dan persiapan bahan bakar. Peralatan-peralatan utamanya antara lain
boiler feed pumps, condensate pumps, condenser circulating water pumps, boiler water circulating pumps,
forced draft fans, primary air fans, induced draft fans dan pulverizers. Peralatan bantu lain seperti
kompresor udara, sistem pendinginan air, sistem pemanasan, sistem penerangan dan lain-lain.
Daya listrik yang dibutuhkan oleh peralatan-peralatan bantu tersebut biasanya disuplai oleh
instalasi itu sendiri. Jadi daya listrik yang diterima oleh masyarakat adalah daya total dari PLTU itu
dikurangi oleh daya peralatan bantunya.

2.6.1

Pompa

Pompa berfungsi untuk memindahkan fluida dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam suatu
instalasi pembangkit terdapat beberapa macam pompa yang berfungsi sebagai auxiliary equipment.
Beberapa yang besar yaitu boiler feed pump yang berfungsi untuk meindahkan air pengisi ketel dari
feedwater heater ke dalam ketel, condensate pump digunakan untuk memindahkan air dari kondensor ke
dalam feedwater heater, condensate water pump untuk memasukkan air laut ke dalam kondensor dan
boiler water circulating pump untuk membuat sirkulasi air dari dalam drum menuju ke heater dan naik ke
steam drum sambil menerima perpindahan panas.
Untuk menggerakkan pompa-pompa tersebut dibutuhkan motor sebagai tenaga penggerak. Energi
listrik yang dibutuhkan oleh motor itu diambil dari instalasi tersebut. Secara umum kebutuhan daya (KW)
untuk menggerakkan pompa dapat dicari dengan menggunakan dua cara, yang pertama adalah

PP =

...................................................................................................................................(19)

Dimana:
- Q

: debit air (l/s)

- H

: head pompa (mka)

: efisiensi pompa (%)

sedangkan cara ke dua adalah :


PP =

...........................................................................................................................(20)

Dimana:

2.6.2

- V

: tegangan motor pompa (kV)

- I

: arus motor pompa (ampere)

- Cos

: faktor daya

Fan
Fan berfungsi mendorong atau menarik udara atau gas. Forced draft fan berfungsi untuk

mendorong udara yang dibutuhkan untuk pembakaran batu bara. Primary air fan befungsi untuk
mendorong udara primer yang dibutuhkan untuk trasportasi serbuk batu bara ke dalam burner sekaligus
mengeringkan batubara tersebut. Induced draft fan berfungsi untuk menarik gas buang dari dalam dapur
pembakaran dan membuangnya melalui cerobong.
Sebagai penggerak dari fan-fan tersebut diatas juga digunakan motor sebagai sumber tenaga
penggerak. Dan daya (KW) yang dibutuhkan adalah:
Pf =
Dimana:

2.6.3

- V

: tegangan motor fan (kV)

- I

: arus motor fan (ampere)

- Cos

: faktor daya

Pulverizer
Pulverizer ini berfungsi untuk menghancurkan bongkahan batu bara menjadi serbuk batu bara. Di

samping itu di dalam pulverizer ini juga terjadi pengeringan batu bara oleh udara primer panas yang
masuk ke dalam pulverizer. Seperti juga halnya pompa dan fan, pulverizer ini juga digerakkan oleh motor
listrik dan kebutuhan dayanya dapat dicari dengan menggunakan persamaan diatas.

2.7

Unjuk Kerja
Unjuk kerja pembangkit dapat ditunjukkan oleh efisiensi total dari PLTU, yaitu antara daya yang

keluar pada generator dikurangi daya utnuk peralatan bantu dengan panas dari bahan bakar masuk.

total =

.............................................................................................................................(21)

Dimana :
-

Pgen

: daya terbangkit pada generator (kW)

Paux

: daya untuk peralatan bantu /auxiliary equipment (kW)

Selain itu dapat juga ditunjukkan oleh input dalam pembangkit itu tiap kWhnya

2.8

Kalor (heat rate)

Batu bara

Udara

Uap

Air pengisi ketel

Gas buang

Program Microsoft visual Studio .NET 2010


Pemrograman Microsoft Visual Studio .NET 2010 adalah sebuah platform untuk membangun,

menjalankan, dan meningkatkan generasi lanjut dari aplikasi terdistribusi .NET Framework merupakan
platform terbaru untuk pemrograman aplikasi window dari Microsoft dalam upaya meningkatkan
produktivitas pembuatan sebuah program aplikasi dan meningkatkan terbukanya peluang untuk
menjalankan program pada multi sistem operasi serta dapat memperluas npengembangan aplikasi ClientServer. Service-service yang terdapat pada Microsoft Visual Studio .NET 2010, antara lain :

Sebuah Model pemrograman yang memungkinkan developer membangun XML Web Service dan

Aplikasinya

Sekumpulan XML Web Service seperti Microsoft .NET My Services yang membantu developer

menghasilkan aplikasi yang simple dan terpadu.

Sekumpulan server, termasuk Windows 2000 dan 2003, SQL server 2005 64 bit, yang

memadukan, menjalankan dan mengoprasikan, serta menangani XML Web services dan aplikasinya

Tool seperti Visual Studio.NET untuk membandingkan XML Web Service dan aplikasi untuk

window dan web

Peranti lunak klien seperti Windows XP dan Windows Vista

.NET Framework adalah model pemrograman dari platform .NET untuk membangun, menyebarkan, dan
menjalankan XML Web Services dan aplikasi-aplikasinya. Juga menyediakan lingkungan berbasiskan
standar produksi yang tinggi untuk memadukan investasi yang ada dengan aplikasi dan service generasi
yang akan dating .NET Framework terdiri dari 2 bagian utama, yakini Command Language Runtime
(CLR) dan gabungan kelas library termasuk ASP.NET untuk aplikasi web dan XML Web Services,
Windows forms untuk aplikasi klien dan ADO.NET.