Anda di halaman 1dari 3

Judul:

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2009


TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI
UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN
KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983
TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN
MENJADI UNDANG-UNDANG

Struktur Isi:

Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mengatur


segala sistem, mekanisme, dan tata cara perpajakan yang menganut sistem self
assessment serta dibuat sebagai pedoman bagi berbagai pihak, terutama bagi
Wajib Pajak dalam memenuhi hak dan melaksanakan kewajiban perpajakan,
maupun bagi petugas pajak untuk menjalankan tugas dalam menghimpun
penerimaan negara dari sektor pajak.

Bab I

Berisi Ketentuan Umum, pasal 1


Membahas mengenai pengertian istilah perpajakan yang dipergunakan dalam
undang-undang ini.

Bab II

Berisi Nomor Pokok Wajib Pajak, Surat Pemberitahuan, Dan Tata Cara
Pembayaran Pajak, pasal 2 s/d 11
Membahas mengenai kewajiban Wajib Pajak terkait kepemilikan NPWP;
Pengisian dan penyampaian, denda administrasi, batas waktu dan hal-hal lain
terkait Surat Pemberitahuan (SPT); Tempat pembayaran pajak dan; restitusi.

Bab III

Berisi Penetapan Dan Ketetapan Pajak pasal 12 s/d 17


Membahas mengenai pemahaman pajak terutang yang harus dibayarkan oleh
Wajib Pajak; Kewenangan yang diberikan Direktur Jenderal Pajak untuk
menerbitkan Surat Ketetapan Kurang Bayar dan adanya sanksi administrasi
yang dikenakan Wajib Pajak, serta pasal 13A menjelaskan tentang sanksi
pidana yang akan dilakukan sebagai upaya terakhir untuk meningkatkan
kepatuhan Wajib Pajak; Pengakuan Surat Tagihan Pajak yang disamakan
dengan Surat ketetapan Pajak; Persyaratan untuk penerbitan Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar; Pembetulan yang dilakukan pihak fiskus untuk kesalahan
yang bersifat manusiawi; Kegunaan dari Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.

Bab IV

Berisi Penagihan Pajak pasal 18 s/d 24


Membahas mengenai dasar penagihan pajak; Penundaan dalam penyampaian
Surat Pemberitahuan; Penagihan pajak dengan Surat Paksa sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; Ketentuan tentang Hak
mendahulu; Penagihan pajak dimana hak penagihan pajak tersebut meliputi
bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak; Ketentuan gugatan Wajib
Pajak atau penanggung pajak terhadap berbagai hal.

Bab V

Berisi Keberatan dan Banding, pasal 25 s/d 27


Membahas mengenai pengajuan keberatan ke Dirjen Pajak; Jangka waktu
pemberian keputusan atas keberatan yang diajukan dan; Pengajuan
permohonan banding atas putusan keberatan.

Bab VI

Berisi Pembukuan dan Pemeriksaan, pasal 28 s/d 31


Membahas mengenai kewajiban Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas untuk melakukan pembukuan
dan atau pencatatan dan; Kewenangan Dirjen Pajak untuk melakukan
pemeriksaan; Kewenangan Dirjen Pajak untuk melakukan penyegelan tempat
atau ruangan tertentu.

Bab VII

Berisi Ketentuan Khusus, pasal 32 s/d 37


Membahas mengenai siapa yang menjadi wakil untuk melaksanakan hak dan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak; Dihapus (pasal 33); Larangan dalam
mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak yang menyangkut masalah
perpajakan oleh pejabat atau petugas pajak; Kewajiban pihak ketiga untuk
memberikan keterangan atau bukti yang diminta oleh Dirjen Pajak dalam
rangka menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;
Penghapusan atau pengurangan terkait sanksi administrasi, surat ketetapan
pajak, dan Surat Tagihan Pajak, serta sanksi terhadap pegawai pajak akibat
kelalaian, pembentukan kode etik pegawai pajak dan komite pengawas
perpajakan dan; Perubahan besarnya sanksi administrasi (Peraturan
Pemerintah) dan perpanjangan jangka waktu pelaksanaan ketentuan Pasal 37A
ayat (1) tentang penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dalam
penyampaian pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
sebelum tahun yang belum ditentukan.

Bab VIII

Berisi Ketentuan Pidana, pasal 38 s/d 43


Membahas mengenai sanksi atas pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan
yang dilakukan oleh Wajib Pajak; Sanksi pidana atas perbuatan atau tindakan
yang disengaja terhadap perbuatan yang telah ditetapkan di dalam pasal ini
(p.39); Tenggat waktu penuntutan tindak pidana dan; Sanksi pidana dan denda
terhadap pejabat pajak, pihak ketiga, dan orang yang menghalangi atau
mempersulit penyidikan atas perbuatan yang telah ditetapkan di dalam pasal
ini (p.41); Penggolongan atas Pelanggaran dan atas Kejahatan dan; Ketentuan
pidana ditujukan juga kepada pihak lain yang ditunjuk oleh Wajib Pajak
sebagai wakil, kuasa, pegawai Wajib Pajak, atau pihak lain yang ikut serta
melakukan dan membantu tindak pidana.

Bab IX

Berisi Penyidikan, pasal 44


Membahas mengenai wewenang untuk melakukan penyidikan yang diberikan
kepada Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Dirjen Pajak dan;
mengenai penghentian penyidikan.

Bab X

Berisi Ketentuan Peralihan, pasal 45 s/d 47


Membahas mengenai penentuan jangka waktu berlakunya peraturan
perundang-undangan lama; Masih berlakunya peraturan pelaksanaan di bidang
perpajakan sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan;
Peraturan terkait pengenaan pajak dalam bidang penambangan minyak dan gas
bumi.

Bab XI

Berisi ketentuan Penutup, pasal 48 s/d 50


Membahas mengenai hal-hal yang belum cukup diatur di dalam Undangundang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah dan; Tanggal
berlakunya Undang-undang ini.

Kesimpulan: Pada dasarnya Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP) mengatur ketentuan Pajak Penghasilan dan PPN Barang dan Jasa dan
PPnBM, sehingga Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) lebih menekankan pada ketentuan formal.
KUP mengatur tentang tata cara bagaimana mewujudkan Hukum Pajak
Materiil menjadi kenyataan, sehingga di dalam Undang-undang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) diatur beberapa hal termasuk
kewajiban umum.