Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Acquired Immune Deficuency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan
gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dan ditandai dengan imunosupresi berat yang menimbulkan infeksi
oportunistik, neoplasma sekunder, dan manifestasi neurologis (Vinay
Kumar,2007). Pengidap AIDS umumnya berada dalam situasi yang membuat
mereka merasakan menjelang kematian dalam waktu dekat. Situasi tersebut
mereka antisipasi secara khusus. Ketika individu dinyatakan terinfeksi HIV,
sebagian besar menunjukkan perubahan karakter psikososial (hidup dalam
stress, depresi, merasa kurangnya dukungan social, dan perubahan perilaku
(Nasronudin, 2005).
Saat ini HIV/AIDS telah menyerang jutaan penduduk di dunia, pria,
wanita

bahkan

anak-anak.

Organisasi

Kesehatan

Sedunia

(WHO)

memperkirakan bahwa sekitar 15 juta orang diantaranya 14 juta remaja dan


dewasa terinfeksi HIV, 1 juta bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi.
Setiap hari sebanyak 5000 orang ketularan virus HIV. Menurut estimasi pada
tahun 2000 sekitar 30-40 juta orang terinfeksi virus HIV, 12-18 juta orang akan
menunjukkan gejala-gejala penyakit AIDS dan setiap tahun sebanyak 1,8 juta
orang akan meninggal karena AIDS. Pada saat itu laju infeksi (infection rate)
pada wanita akan jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi HIV,
90% akan terjadi di negara berkembang, terutama di Asia. Negara yang paling
parah terkena antara lain Thailand, India, Myanmar dan Cina bagian selatan.
Sementara itu negara-negara industri yang lebih maju telah menekan laju
infeksi HIV di negaranya.
Berdasarkan data Departemen kesehatan (Depkes) pada periode JuliSeptember 2006 secara kumulatif tercatat pengidap HIV positif di Indonesia
telah mencapai 4.617 orang dan AIDS 6.987 orang (Media Indonesia, 2006).
HIV/AIDS merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan belum
ditemukan obat yang dapat memulihkannya hingga saat ini. Menderita
1

HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan


psikologis terutama pada penderitanya maupun pada keluarga dan lingkungan
di sekeliling penderita
Pada suatu studi longitudinal ditemukan hasil dimana jumlah CD4+
limfosit menurun 38% lebih besar pada penderita HIV yang tidak mengalami
depresi. Pada suatu studi longitudinal dilaporkan prevalensi depresi meningkat
dari 15-27% pada 36 bulan sebelum diagnosis AIDS hingga 34% pada saat 6
bulan sebelum diagnosis AIDS dan 43% pada saat 6 bulan sesudah diagnosis
(Tandiono, 2007).
Penolakan terhadap diagnosis HIV akan membuat penderita jatuh pada
keadaan stress berkepanjangan dan berdampak pada penurunan system imun,
sehingga mempercepat progresivitas HIV ke AIDS. Berdasarkan pendekatan
ilmu Psychoneuroimunology dapat dijelaskan, kondisi emosional berupa
penolakan dan stress yang dialami penderita terinfeksi HIV akan memodulasi
system imun melelui jalur Hipothalamus-Pituitary-Adenocorticol (HPA) axis
dan system limbic (control emosi danLearning Process), melepaskan
neuroleptik Corticotropin Realising Factor (CRF). Counter Regulasi ini
mrningkatkan produksi dari kotekolamin, kortisol danargininvasopresin (AVP)
(Nasronudin, 2005).
Motivasi sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan seseorang baik
berupa motivasi ekstrinsik (dukungan orang tua, teman dan sebagainya)
maupun motivasi intrinsic (dari individu sendiri). Dukungan social
mempengaruhi kesehatan dan melindungi seseorang terhadap efek negatif
stress berat (Nursalam, 2007). Perawat merupakan faktor yang mempunyai
peran penting pada pengelolaan stres khususnya dalam memfasilitasi dan
mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat beradaptasi
dengan sakitnya dan pemberian dukungan sosial, berupa dukungan emosional,
informasi, dan material (Batuman, 1990; Bear, 1996; Folkman & Lazarus,
1988).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :

1. Apa masalah psikososial yang dialami pasien HIV/AIDS yang sudah


terinfeksi oportunistik ?
2. Bagaimana peran dari perawat, keluarga dan masyarakat / LSM dalam
menanggulangi masalah psikososial pasien HIV/AIDS ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui masalah psikososial yang dialami pasien HIV/AIDS yang sudah
terinfeksi oportunistik.
2. Mengetahui peran dari perawat, keluarga dan masyarakat / LSM dalam
menanggulangi masalah psikososial pasien HIV/AIDS.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Masalah Psikososial yang Dialami Pasien HIV/AIDS yang Sudah


Terinfeksi Oportunistik.
Timbulnya masalah psikososial pada ODHA didahului dengan berbagai
respon/ reaksi seperti
1. Reaksi Psikologis Pasien HIV
Kubler ross (1974) menguraikan lima tahap reaksi emosi seseorang
terhadap penyakit yaitu :
a. Pengingkaran (denial)
Pada tahap pertama, pasien menunjukkan karakteristik perilaku
pengingkaran, mereka gagal dapat memahami dan mengalami makna
rasional dan dampak emosional dari diagnosis. Pengingkaran dapat
disebabkan karena ketidaktahuan pasien pada sakitnya atau sudah
mengetahui dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat di nilai dari
ucapan pasien saya di sini istirahat. Pengingkaran dapat berlalu
sesuai dengan kemungkinan memproyeksikan pada apa yang diterima
seperti alat yang tidak berfungi dengan sehingga menyebabkan
kesalahan laboratorium, atau perkiraan dokter dan perawat yang tidak
kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak dengan timbulnya
kecemasan. Pengingkaran ini segera berubah menjadi fase lain dalam
menghadapi kenyatan ( Achir, Yani 1999).
b. Kemarahan (anger)
Apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi maka fase pertama
menjadi kemarahan. Perilaku

pasien secara karakteristik yang

dihubungkan dengan marah dan rasa bersalah pasien akan mengalihkan


kemarahan pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Biasannya
kemarahan diarahkan kepada dirinya sendiri. Yang menjadi sasaran
utama atas kemarahannya adalah perawat. Semua tindakan perawat
menjadi serba salah. Pasien menjadi penuntut, cerewet, cemberut, tidak
bersahabat,

kasar,

menentang,

tidak

mau

kerjasama,

mudah

tersinggung, meminta banyak perhatian jika keluarga mengunjungi


mereka, sikap menolak sehingga mengakibatkan keluarga segan untuk
datang, hal ini menyebabkan keagresifan ( hudak dan gallo, 1996).
c. Sikap tawar menawar (bargaining)
4

Setelah fase marah-marah berlalu, pasien akan berpikir dan merasakan


bahwa protesnya tidak berarti. Pasien mulai timbul rasa bersalah dan
mulai membina hubungan, pasien berdoa, meminta dan berjanji pada
Tuhan, tindakan ini merupakan ciri yang jelas, yaitu pasien
menyanggupi akan menjadi lebih baik bila dia sembuh (Aher Yani
1990).
d. Depresi
Selama fase

ini pasien sedih/berkabung serta mulai mengatasi

kehilangan secara kontrukstif. Reaksi emosional yang dialami pasien


yaitu kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah, penyesalan
yang dalam, kesepian. Waktu untuk menangis berguna pada saat ini.
Prilaku pada fase ini antara lain ketakutan akan masa depan, bertanya
peran baru dalam keluarga. Intensitas depresi tergantung pada makna
dan beratnya penyakit (Netty, 1999).
e. Penerimaan dan partisipasi
Seiring dengan berlalunya waktu, pasien mulai beradaptasi, kepedihan
yang menyakitkan berkurang, dan bergerak menuju identifikasi sebagai
seseorang yang memiliki keterbatasan karena penyakitnya sebagai
seorang yang cacat. Pasien mampu bergantung pada orang lain jika
perlu dan tidak membutuhkan dorongan melebihi daya tahannya
(Hudak dan Gallo, 1996)
2. Respon Adaptif Spiritual
Respons adaptif spiritual dikembangkan dari konsep Ronaldson (2000) dan
Kauman dan Nipan (2003). Respon adaptif spiritual, meliputi :
a. Harapan yang realistis
b. Tabah dan sabar
c. Pandai mengambil hikmah
3. Respons adaptif sosial
Aspek psikososial menurut Stewart (1997) dibedakan menjadi 3 hal, yaitu:
a. Stigma social dapat memperparah depresi dan pandangan yang negatif
tentang harga diri pasien.
b. Diskriminasi terhadap oaring yang terinfeksi HIV, misalnya penolakan
bekerja dan hidup serumah juga akan berpengaruh terhadap kondisi
5

kesehatan. Bagi pasien homoseksuaal, penggunaan obat-obat narkotika


akan berakibat terhadap kurangnya dukungan social, hal ini akan
memperparah stress pasien.
c. Terjadinya waktu yang lama terhadap respons psikologis mulai dari
penolakan, marah-marah, tawar menawar, dan depresi berakibat
terhadap keterlambatan upaya pencegahan dan pengobatan. Pasien
akhirnya mengonsumsi obat-obat terlarang untuk menghilangkan strees
yang dialami.
4. Masalah Psikososial pada Pasien HIV/AIDS yang Sudah Terinfeksi
Oportunistik.
a. Depresi
Cichocki (2009, dalam Kusuma, 2011) menemukan dalam studinya
bahwa pasien HIV/AIDS sangat rentan mengalami tanda dan gejala
depresi mulai ringan hingga berat dimulai sejak 1 bulan setelah
terdiagnosa HIV yang selanjutnya fluktuatif dan berkembang seiring
perjalanan penyakit.
Depresi dapat timbul pada penderita HIV/AIDS yang dapat
disebabkan oleh beberapa hal berikut (Chandra, 2005 dalam Saragih,
2008) :
1) Invasi virus HIV ke Susunan Saraf Pusat (SSP), dimana menghasilkan
perubahan neuropatologis pada bangsal ganglia, thalamus, nucleus,
batang otak yang menyebabkan disfungsi dan akhirnya akan
menyebabkan gangguan pada mood dan motivasi.
2) Efek samping penggunaan obat-obat anti retroviral seperti: evavirenz
interferon, zidovudin.
3) Komplikasi HIV seperti infeksi oportunistik dan tumor intra cranial
4) Pengaruh psikologis yang ditimbulkan setelah diketahui menderita
penyakit tersebut, biasanya penderita mengalami reaksi penolakan dari
pekerjaan, keluarga maupun masyarakat.
Pada ODHA dengan tahap infeksi HIV positif, kondisi fisik yang
tidak stabil dan cenderung menurun diikuti dengan munculnya gejalagejala fisik seiring dengan perjalanan penyakit serta tekanan sosial yang
begitu hebat yang didapatkan dari lingkungan dapat menjadi sumber
stres yang dapat menyebabkan ODHA mengalami depresi (Kusuma,
2011).
6

Berdasarkan pendekatan Psychoneuroimunology dapat dijelaskan


bahwa keadaan stres atau depresi yang dialami pasien HIV/AIDS akan
memodulasi sistem imun melalui jalur HPA (Hipothalamic-PituitaryAdrenocorticoid) axis dan sistem limbik (yang mengatur emosi dan
learning

process).

Kondisi

stres

tersebut

akan

menstimulasi

hypothalamus untuk melepaskan neuropeptida yang akan mengaktivasi


ANS (Autonomic Nerve System) dan hypofise untuk mengeluarkan
kortikosteroid dan katekolamin yang merupakan hormon-hormon yang
bereaksi terhadap kondisi stres. Peningkatan kadar glukokortikoid akan
mengganggu sistem imunitas, yang menyebabkan pasien akan semakin
rentan terhadap infeksi opportunistic (Gunawan & Sumadiono, 2007
dalam Kusuma, 2011). Hal tersebut didukung oleh penelitian Robinson
(2003, dalam Kusuma, 2011) yang melaporkan bahwa ODHA yang
mengalami depresi kronis akan mengalami penurunan yang tajam
dalam jumlah sel CD4 selama 2 tahun dibanding ODHA yang tidak
depresi. Hal tersebut akan memperburuk derajat kesehatan fisik pasien.
Stres adalah respon alami dan peringatan pada tubuh manusia yang
memerlukan proses adaptasi. Respon alami ini dapat menjadi gangguan
patologis berlebihan dan tidak terkendali. Menurut Robinson (2003,
dalam Kusuma, 2011), keadaan stres yang berlebihan pada pasien
depresi berperan penting terhadap perkembangan penyakit pada klien
HIV (+) yaitu dapat mempercepat terjadinya replikasi virus dan
menekan respon klien sehingga dapat memperpendek periode HIV (+)
tanpa gejala dan mempercepat perjalanan penyakit menuju AIDS.
Selain itu depresi juga mempengaruhi self care pasien. Depresi
menyebabkan seseorang malas untuk mengikuti regimen pengobatan
anti retrovirus, nafsu makan yang kurang, keengganan berolahraga, dan
kesulitan tidur sehingga dapat memperberat gangguan fisiknya (Holmes
et al, 2007 dalam Kusuma, 2011).
b. Gambaran Diri Penderita HIV/AIDS
Gambaran diri sebenarnya merupakan gambaran terhadap diri
sendiri atau pikiran tentang pandangan orang lain terhadap diri kita.
Gambaran ini terbentuk bertahun-tahun selama manusia hidup.
7

Meskipun demikian, hal ini dapat diubah dan diganti sehingga individu
mempunyai citra diri yang diinginkan. Nilai diri berkaitan erat dengan
cara pandang terhadap diri sendiri dan bagaimana cara pikir diri
mengenai penilaian orang lain terhadap diri kita. Kadang kita terlalu
terpaku pada pendapat umum.
Gambaran diri yang negatif adalah cara memandang diri sendiri
sangat buruk. Individu tersebut memikirkan dirinya tidak mempunyai
sisi baik. Dirinya mempunyai bentuk fisik yang tidak sempurna,
hidupnya tidak memberikan manfaat baik bagi orang lain maupun bagi
dirinya sendiri, dirinya adalah makhluk yang gagal dan semua hal yang
buruk melekat di dalam dirinya. Seseorang yang memiliki gambaran
diri negative akan selalu merasa tidak puas terhadap dirinya, dihinggapi
kecemasan, rendah diri serta selalu bersikap pesimis.
Gambaran diri positif dapat memberikan kekuatan bagi pribadi
yang bersangkutan. Seseorang yang memiliki gambaran diri positif
adalah seseorang yang selalu mampu melihat kelebihan dari pribadinya.
Dia tahu bahwa setiap orang memiliki kelemahan, namun orang dengan
gambaran diri positif mampu melupakan kelemahan dirinya dan
berusaha untuk selalu melihat kelebihan dirinya.
Sebagian besar kasus ODHA menghadapi problema rendah diri
atau mempunyai gambaran diri

yang negatif. Apalagi pada saat

pertama kali divonis terinfeksi HIV, maka ODHA memiliki kesulitan


untuk menerima dirinya. ODHA menjadi merasa lemah serta pesimis
terhadap masalah yang akan menimpa dirinya di kelak kemudian hari.
ODHA juga sering takut terhadap masalah yang akan menimpa diri
keluarganya. Masalah ekonomi juga sering menambah rasa takut bagi
ODHA. Akan tetapi beberapa ODHA juga mempunyai kegiatan yang
sifatnya pengalihan dari rasa tertekan dengan cara berusaha menjadi
pahlawan bagi masyarakat lainnya supaya terhindar dari HIV/AIDS.
Banyak ODHA yang tergabung di dalam aktivitas pemberantasan dan
pencegahan AIDS, baik dengan cara bergerak secara individual maupun
masuk ke lembaga-lembaga pencegahan AIDS.
c. Kecemasan

Kecemasan adalah bagian dari penyakit medis dan biasanya


menyertai suatu tahapan yang dimulai dari gejala yang tidak
mengganggu sampai gangguan perilaku dan penyakit pikiran yang
bermakna. Walaupun sebagian orang mungkin mengalami kecemasan
subsindrom, penelitian menunjukkan prevalensi kecemasan pada
kelompok orang HIV-positif berkisar kurang lebih 25% sampai 40%.
Gangguan kecemasan mencakup gangguan penyesuaian yang ringan,
gangguan panik, fobia, obsessive-compulsive, stres setelah trauma,
penyakit stres yang akut, dan kegelisahan yang menyeluruh. Jika pasien
mengalami kriteria tersebut, atau dokter umum mencurigai, salah satu
penyakit ini, rujukan pada psikiatri merupakan langkah yang tepat.
Pasien HIV/AIDS dapat menampilkan suatu variasi yang luas dari
sindrom kecemasan, mulai episode singkat dari mood yang cemas
disertai gangguan penyesuaian sampai pada keadaan cemas yang lebih
berat seperti panic, stress akut sampai gangguan obsesif kompulsif.
Kecemasan biasanya timbul pada saat pemeriksaan serologis HIV,
permulaan terapi antiretroviral, onset gejala AIDS yang pertama dan
saat pertama dirawat di RS. Banyak pasien melaporkan bahwa
perkembangan penyakit yang tidak dapat diramalkan, berkurangnya
CD4+

limfosit,

serta

rasa

takut

terisolasi

dan

ditinggalkan

memprovokasi timbulnya perasaan cemas.


Reaksi kecemasan pada ODHA sering kali mencakup rasa khawatir
yang mendalam, ketakutan dan prihatin terhadap kesehatan, kemudian
masalah

yang

terkait

dengan

kondisi

tubuh,

kematian,

dan

ketidakpastian mengenai penyakitnya. Reaksi ini kerap kali mengarah


kepada sulit tidur dan berkonsentrasi dan meningkatnya keluhan fisik.
Perwujudan penyakit kecemasan lebih sering terjadi pada saat diagnosis
dan selama pengobatan baru atau penyakit akut.
Penatalaksanaannya kecemasaan ini perlu diberikan terapi perilaku
dan kognitif. Pasien diberikan edukasi bahwa kecemasan memiliki segi
fisik dan mental yang saling berkaitan. Pasien biasanya dapat mengerti
dan

bersedia

mempelajari

berbagai

tehnik

untuk

mengontrol

kecemasannya. Selain diberikan edukasi, pasien yang mengalami


9

kecemasan biasanya diberikan terapi obat diazepam 5-30mg perhari


bagi pasien HIV yang asimtomatik.
d. Gangguan Kognitif
Gangguan kognitif merupakan salah satu komplikasi dari
HIV/AIDS yang cukup sering ditemukan. Gangguan kognitif pada
pasien HIV mencangkup adanya gangguan memori, gangguan
psikomotor, dan gangguan afek. Gangguan kognitif pada pasien HIV
disebabkan oleh berbagai kondisi. Penyebab tersering adalah infeksi
langsung HIV pada otak, yang dapat menyebabkan demensia. Penyebab
lain adalah infeksi oportunistik seperti toksoplasmosis dan limfoma.
Dengan pemberian ARV insiden gangguan kognitif dan infeksi dan
infeksi oportunistik padaa ODHA cenderung menurun.
Sebagian besar gangguan kognitif terkait HIV disebabkan oleh
infeksi langsung ke otak. Terdapat dua kondisi gangguan kognitif yaitu,
HIV associated minor cognitive/motor disorder (MCMD) yang
merupakan gangguan konitif pada tahap awal yang berkembang
menjadi HIV associated dementia (HAD) suatu keadaan yang berat.
Gangguan ini menunjukkan deficit kognitif, perubahan prilaku, dan
keterlibatan motorik.
Dari berbagai studi disebutkan bahwa zidovudine sebagai
monoterapi ternyata memperlibatkan perbaikan fungsi kognitif dan
survival pada pasien dengan gangguan kognitif terkait HIV. Pemberian
ARV kombinasi dengan atau tanpa inhibitor protease menunjukkan
perbaikan kecepatan psikomotor. Pengamatan menunjukkan ARV yang
poten berkaitan dengan perbaikan fungsi kognitif pada pasien HAD.
e. Ketakutan akan kematian
Ketakutan akan kematian atau kesendirian dalam kesakitan, sangat
umum terjadi. Ketakutan lain adalah karena:
1) takut dijauhi,
2) ditolak,
3) diabaikan atau ditinggalkan anak-anak/keluarga,
4) ketidakmampuan mencari nafkah,
5) kehilangan fungsi tubuh atau mental,
6) dan kehilangan kepercayaan diri.
Ketakutan mungkin didasarkan atas pengalaman orang lain. Hal ini
mungkin juga disebabkan kurangnya informasi mengenai HIV/AIDS.
ODHA dapat bereaksi dengan menarik diri dari seluruh kontak sosial.
10

Faktor penting yang mendorong situasi ini adalah ketakutan ditolak,


dengan pikiran: Setiap orang akan menolak saya, karena itu lebih baik
saya menjauh dari mereka sebelum mereka meninggalkan saya. Pada
awalnya konselor dapat menghargai perasaan untuk mengisolasi diri
sementara waktu , namun dukungan konseling harus terus berlanjut.
Kalau isolasi terus berlarut dalam jangka waktu yang lama, konselor
perlu menggali penyebabnya, dan mendorong perubahan sikap ini.
B. Peran

Dari

Perawat,

Keluarga

dan

Masyarakat/LSM

Dalam

Menanggulangi Masalah Psikososial Pasien HIV/AIDS.


Beban psikososial yang dialami seorang penderita AIDS adakalanya lebih
berat daripada beban fisiknya. Beban yang diderita pasien AIDS baik karena
gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial dapat
menimbulkan rasa cemas, depresi, kurang percaya diri, putus asa, bahkan
keinginan untuk bunuh diri. Kalau sudah begini, upaya mengantisipasi
perkembangan HIV/AIDS mengalami kendala yang cukup berat dan tentunya
menghambat upaya-upaya pencegahan dan perawatan.
Keterlibatan berbagai pihak diharapkan mampu mengatasi permasalahan
psikososial. Pemahaman yang benar mengenai AIDS perlu disebarluaskan.
Kenyataan bahwa dalam era obat antiretroviral, AIDS sudah menjadi penyakit
kronik yang dapat dikendalikan juga perlu dimasyarakatkan karena konsep
tersebut dapat memberi harapan pada masyarakat dan penderita HIV/AIDS
bahwa penderita AIDS dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik dan
berfungsi di masyarakat.
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling dan
pendampingan (tidak hanya psikoterapi tetapi juga psikoreligi), edukasi yang
benar tentang HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan masyarakat.
Sehingga penderita, keluarga maupun masyarakat dapat menerima kondisinya
dengan sikap yang benar dan memberikan dukungan kepada penderita. Adanya
dukungan dari berbagai pihak dapat menghilangkan berbagai stresor dan dapat
membantu penderita meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat terhindar
dari stress, depresi, kecemasan serta perasaan dikucilkan. (Susiloningsih)
Adapun peran dari perawat, keluarga dan masyarakat/LSM dalam
menanggulangi masalah psikososial pasien HIV/AIDS yaitu :
1. Peran Perawat
11

Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling


dan pendampingan (tidak hanya psikoterapi tetapi juga psikoreligi),
edukasi yang benar tentang HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan
masyarakat. Sehingga penderita, keluarga maupun masyarakat dapat
menerima kondisinya dengan sikap yang benar dan memberikan dukungan
kepada penderita. Adanya
menghilangkan

berbagai

dukungan dari berbagai pihak dapat

stresor

dan

dapat

membantu

penderita

meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat terhindar dari stress,


depresi, kecemasan serta perasaan dikucilkan.
Peran seorang perawat dalam mengurangi beban psikis seorang
penderita AIDS sangatlah besar. Lakukan pendampingan dan pertahankan
hubungan yang sering dengan pasien sehinggan pasien tidak merasa
sendiri dan ditelantarkan. Tunjukkan rasa menghargai dan menerima orang
tersebut. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
Perawat juga dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan memberi
rujukan untuk konseling psikiatri. Konseling yang dapat diberikan adalah
konseling pra-nikah, konseling pre dan pascates HIV, konseling KB dan
perubahan prilaku. Konseling sebelum tes HIV penting untuk mengurangi
beban psikis. Pada konseling dibahas mengenai risiko penularan HIV, cara
tes, interpretasi tes, perjalanan penyakit HIV serta dukungan yang dapat
diperoleh pasien. Konsekuensi dari hasil tes postif maupun negatif
disampaikan dalam sesi konseling. Dengan demikian orang yang akan
menjalani testing telah dipersiapkan untuk menerima hasil apakah hasil
tersebut positif atau negatif.
Mengingat beban psikososial yang dirasakan penderita AIDS akibat
stigma negatif dan diskriminasi masyarakat adakalanya sangat berat,
perawat perlu mengidentifikasi adakah sistem pendukung yang tersedia
bagi pasien. Perawat juga perlu mendorong kunjungan terbuka (jika
memungkinkan), hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat yang
memungkinkan bagi pasien. Partisipasi orang lain, batuan dari orang
terdekat dapat mengurangi perasaan kesepian dan ditolak yang dirasakan
oleh pasien. Perawat juga perlu melakukan pendampingan pada keluarga
serta memberikan pendidikan kesehatan dan pemahaman yang benar
12

mengenai AIDS, sehingga keluarga dapat berespons dan memberi


dukungan bagi penderita.
Aspek spiritual juga merupakan salah satu aspek yang tidak boleh
dilupakan perawat. Bagi penderita yang terinfeksi akibat penyalahgunaan
narkoba dan seksual bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan
tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan menjaga perilakunya
serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi seluruh penderita AIDS
didorong untuk mendekatkan diri pada Tuhan, jangan berputus asa atau
bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dan beri penguatan bahwa mereka
masih dapat hidup dan berguna bagi sesama antara lain dengan membantu
upaya pencegahan penularan HIV/AIDS.
2. Peran Keluarga
Dukungan keluarga mempunyai efek terhadap kesehatan dan
kesejahteraan. Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan keluarga yang
adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih mudah
sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik, dan kesehatan emosi. Disamping
itu, pengaruh positif dari dukungan keluarga adalah penyesuaian terhadap
kejadian dalam kehidupan yang penuh stres (Setiadi, 2008).
Dukungan keluarga sangat diperlukan pada pasien HIV (Nursalam,
2007). Respon psikologis pasien terhadap hasil tes yang sero positif dapat
mencakup perasaan panik, depresi dan putus asa. Oleh karena itu pasien
memerlukan dukungan baik finansial, medis dan psikologis (Smeltzer,
2005).
Dalam hal ini keluarga merupakan unit sosial terkecil yang
berhubungan dekat dengan pasien. Keluarga menjadi unsur penting dalam
kehidupan karena keluarga merupakan suatu sistem yang didalamnya
terdapat anggota keluarga yang saling berhubungan dan ketergantungan.
Individu yang termasuk dalam memberikan dukungan meliputi pasangan
(suami/istri), orangtua, anak, dan sanak keluarga (Friedman, 1998 dalam
Nursalam, 2007).
Sebagai satu diantara fungsi pertalian/ikatan sosial, segi fungsional
keluarga pada pasien HIV mencakup dukungan emosional, mendorong
adanya ungkapan perasaan positif (dukungan penghargaan), memberi
nasihat atau informasi (dukungan informasi), pemberian bantuan material
13

(dukungan instrumental/finansial) (Smet, 1994 dalam Nursalam, 2007).


Gallant (2010) menambahkan dukungan keluarga juga berupa perhatian
keluarga dalam mengatur gaya hidup pasien HIV/AIDS, diantaranya :
a) Menghindari makanan yang diolah setengah matang atau mentah seperti
b)
c)
d)
e)
f)
g)

daging, telur, susu dan lain-lain,


Makan buah dan sayur segar setiap hari,
Konsumsi vitamin,
Minum air putih yang sudah dimasak,
Tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok,
Berolahraga,
Selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mengurangi
infeksi akibat imun yang semakin menurun.
Faktor yang berhubungan dengan depresi adalah dukungan sosial

(social support) yang tersedia bagi individu bila berhadapan dengan stres.
Ada bukti bahwa individu yang memiliki keluarga dan teman-teman yang
akrab kurang mengalami depresi bila mereka berhadapan dengan stres.
Sedangkan individu yang memperoleh dukungan sosial kecil kemungkinan
akan mengalami depresi (Semiun, 2010).
Dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien HIV/AIDS sebagai
support system atau sistem pendukung yang utama sehingga ia dapat
mengembangkan respon atau koping yang efektif untuk beradaptasi
dengan baik dalam menangani stressor yang ia hadapi terkait penyakitnya
baik fisik, psikologis, maupun sosial (Lasserman & Perkins, 2001 dalam
Kusuma, 2011). Khairurahmi (2009) menambahkan dukungan keluarga
berpengaruh pada pemanfaatan fasilitas kesehatan pada pasien HIV/AIDS.
3. Peran Masyarakat / LSM
a. Prinsip-prinsip Dasar Penanggulangan HIV/AIDS.
Upaya penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan oleh masyarakat
dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dan pemerintah
berkewajiban untuk mengarahkan membimbing, serta menciptakan
suasana yang menunjang. Setiap upaya penanggulangan harus
mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia.
Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkukuh
ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta sistem dukungan sosial
yang mengakar dalam masyarakat.
b. Peran dan tanggung jawab masyarakat

14

Peran dan tanggung jawab masyarakat dalam menangani masalah


psikososial pada ODHA bisa dari berbagai pihak antara lain :
1) Rumah tangga dan keluarga
Keluarga merupakan unit sosial yang sangat penting

untuk

mengembangkan pola perilaku yang sehat dan bertanggung jawab dan


yang memberikan pelayanan dan dukungan pertama dan utama bagi
mereka yag hidup dengan HIV/AIDS.
Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat

perlu

ditingkatkan

ketahanannya dengan meningkatkan dan memantapkan peran serta


fungsi-fungsi keluarga agar ikut bertanggung jawab membina
anggotanya untuk mencegah penularan HIV/AIDS serta tidak bersikap
diskriminatif terhadap pengidap HIV/serta penderita AIDS.
2) Lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan Organisasi/Lembaga Non
Pemerintah.
LSM dan Organisasi/lembaga Non Pemerintah memainkan peranan
yang penting dan diakui sebagai mitra setara dalam usaha nasional
untuk penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Untuk menjangkau
orang-orang dan kelompoknya, dengan kebutuhan khusus antara lain
kelompok remaja, agama, wanita, profesi yang biasanya tidak atau sulitterjangkau oleh petugas pemerintah.
Untuk mendukung kegiatan LSM,

Organisasi/Lembaga

Non

Pemerintah secara optimal dapat dikembangkan pusat data dan


informasi serta jaringan kerjasama yang efektif.
3) Dunia usaha/swasta
Peranan dunia usaha/swasta sebagai mitra setara dalam usaha Nasional
Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia sangat penting untuk
rnempercepat dan memperluas jangkauan upaya penanggulangan
HIV/AIDS dalam lingkungan sendiri serta menunjang dana, sarana,
tenaga ahli dan lain-lain upaya penanggulangan HIV/AIDS Nasional.
4) Partisipasi aktif para tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat yang dianggap sebagai panutan masyarakat ikut
andil

dalam

menjalankan

program-program

pencegahan

dan

penanggulangan HIV/AIDS. Tokoh masyarakat ini harus dibekali


berbagai

informasi

mendalam

tentang

HIV/AIDS

agar

tidak

memunculkan sikap negative terhadap ODHA. Sebagai teladan


masyarakat, maka mereka harus menjadi penggerak pertama untuk
15

menanggulangi HIV/AIDS dan turut menciptakan lingkungan yang


kondusif setidaknya di lingkungan sekitarnya. Contohnya dengan
menjadi kader peduli HIV/AIDS.
5) Memberdayakan lembaga keagamaan dan adat
Faktor penyebab muncul dan menyebarnya HIV/AIDS adalah
pergaulan bebas yang menyimpang dari norma keagamaan. Oleh sebab
itu, lembaga keagamaan dan adat (jika tidak melanggar norma agama)
harus diberdayakan seoptimal mungkin di tengah masyarakat dengan
cara lebih giat mendakwahkan syiar agama dan akhlakul karimah
(akhlak terpuji). Mereka adalah para tokoh agama yang senantiasa
memberikan pemahaman agama kepada masyarakat dan memotivasi
ODHA untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta serta
senantiasa melakukan yang terbaik selama hidupnya.
6) Memberdayakan peran lembaga pendidikan (sekolah/perguruan tinggi)
Lembaga pendidikan sebagai tempat membina anak didiknya menjadi
manusia yang intelektual hendaknya tetap mementingkan nilai moral
agama. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang mampu
memadukan antara IPTEK (Ilmu Pengetahuan) dan IMTAK (Iman dan
Takwa).
7) Mengoptimalkan peran media massa
Pengaruh media massa baik cetak maupun elektronik mampu
membentuk karakter pemikiran masyarakat. Sayap media sekarang
semakin marak dengan tontonan pergaulan bebas. Padahal media massa
memiliki pengaruh sangat besar dalam mendidik masyarakat menjadi
manusia yang bermoral dan intelektual. Penyebaran informasi tentang
HIV/AIDS dapat diekspos lebih luas dan cepat bila dibandingkan
dengan cara manual (face to face).

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
16

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa reaksi


Psikologis Pasien HIV menurut Kubler ross (1974) ada lima tahap reaksi
yaitu

Pengingkaran

(denial),

kemarahan

(anger),

tawar-

menawar(bargaining), depresi, penerimaan (acceptance). Dari tahapantahapan tersebut, timbul beberapa masalah psikososial yang dialami pasien
HIV/AIDS yang sudah terinfeksi oportunistik antara lain, depresi, kecemasan,
gangguan kognitif, ketakutan akan kematian.
Peran dari Perawat dalam menanggulangi masalah psikososial pasien
HIV/AIDS yaitu dalam pemberian bimbingan dan konseling, pemberian
pendampingan, edukasi yang benar tentang HIV/AIDS baik pada penderita,
keluarga dan masyarakat. Peran Keluarga dalam menangani pasien
HIV/AIDS yaitu memberikan dukungan kepada pasien HIV/AIDS. Sebagai
satu diantara fungsi pertalian/ikatan sosial, segi fungsional keluarga pada
pasien HIV mencakup dukungan emosional, mendorong adanya ungkapan
perasaan positif (dukungan penghargaan), memberi nasihat atau informasi
(dukungan

informasi),

pemberian

bantuan

material

(dukungan

instrumental/finansial) (Smet, 1994 dalam Nursalam, 2007).


Masyarakat adalah pelaku utama dan pemerintah berkewajiban untuk
mengarahkan membimbing, serta menciptakan suasana yang menunjang.
LSM dan Organisasi/lembaga Non Pemerintah memainkan peranan yang
penting dan diakui sebagai mitra setara dalam usaha nasional untuk
penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Salah satunya kegiatan LSM,
Organisasi/Lembaga Non Pemerintah. Disamping itu, tokoh masyarakat juga
dianggap sebagai panutan masyarakat yang ikut andil dalam menjalankan
program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Contohnya
dengan menjadi kader peduli HIV/AIDS. Peran masyarakat disini juga dapat
melalui pemberdayakan lembaga keagamaan dan adat, lembaga pendidikan,
media massa.

17