Anda di halaman 1dari 355

PANDANGAN KRITIS TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA HAK

ATAS TANAH ADAT DALAM


SISTEM HUKUM PERTANAHAN NASIONAL
(STUDI DI KABUPATEN SIMALUNGUN)

DISERTASI
Untuk Memperoleh Gelar Doktor dalam Bidang Ilmu Hukum
Pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Dibawah Pimpinan Rektor Universitas Sumatera Utara
Prof.Dr.dr.Syahril Pasaribu, DTM & H.,M.Sc (CTM).,Sp.A.(K)
Untuk Dipertahankan Dihadapan
Sidang Terbuka Senat Universitas Sumatera Utara

Oleh :

Rosnidar Sembiring
088101005/ S-3 Hk

PROGRAM STUDI DOKTOR ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN
(Promosi Doktor)
JUDUL DISERTASI : PANDANGAN KRITIS TENTANG PENYELESAIAN
SENGKETA HAK ATAS TANAH ADAT DALAM
SISTEM HUKUM PERTANAHAN NASIONAL (STUDI
DI KABUPATEN SIMALUNGUN)
NAMA
: Rosnidar Sembiring
Nomor Pokok
: 088101005
PROGRAM
: Doktor (S3) Ilmu Hukum

MENYETUJUI :
KOMISI PEMBIMBING

(Prof. Dr. Runtung, SH.,M.Hum)


Promotor

(Prof. Dr. Usman Pelly, MA)


Co-Promotror

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH.,MS.,CN)


Co-Promotor

Ketua Program Doktor Ilmu Hukum

Dekan

(Prof. Dr. Suhaidi, SH.,MH)

(Prof. Dr. Runtung, SH.,M.Hum)

Universitas Sumatera Utara

KOMISI PENGUJI

Prof. Dr. Tan Kamello, SH.,MS

Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH.,M.Hum

Prof. Dr. Yulia Mirwati, SH., CN.,MH

Universitas Sumatera Utara

KOMISI PENGUJI

Prof. Dr. Tan Kamello, SH.,MS

Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH.,M.Hum

Prof. Dr. Yulia Mirwati, SH., CN.,MH

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim


Alhamdu lillahi Rabbil Aalamiin,
Assalamualaikum wr.wb, salam sejahtera dan selamat siang.
Puji dan syukur ke hadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNYA sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian hingga promosi doktor pada hari
ini. Semoga karunia yang saya peroleh mendapat ridho Allah swt dan membawa
manfaat bagi saya dan keluarga, masyarakat dan almamater saya, Universitas
Sumatera Utara.
Sebagai insan yang senantiasa memegang budi baik sesama dan rasa syukur kepada
Illahi, izinkan saya menyampaikan terimakasih :
1.

2.

3.

Kepada Prof.Dr.dr.Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc (CTM)., Sp.A (K), Rektor


Universitas Sumatera Utara, yang telah menerima saya dalam mengikuti
program Doktor dalam Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Adat dan fasilitas
yang diberikan selama pendidikan hingga mengikuti promosi Doktor pada hari
ini.
(Kepada Prof.Ir.Zulkifli Nasution, MSc, Ph.D, Pembantu Rektor 1 Universitas
Sumatera Utara.
Kepada Prof.Dr.Runtung, SH,M.Hum. Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, saya mengucapkan terimakasih serta penghormatan atas
kesempatan, bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada saya selama menjalani
pendidikan di Program Doktor, sekaligus atas kesediaan beliau untuk menjadi
Promotor dalam disertasi ini. Meskipun kesibukan beliau telah cukup banyak
menyita waktu dan tenaga, tetapi beliau masih menyempatkan diri untuk
membimbing dan mentransfer ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga
sangat membantu penulisan disertasi ini. Pemikiran beliau yang sistematis dan
pemeriksaan yang sangat detail, misalnya : masalah penomoran, telah membuka
inspirasi penulis untuk menyelesaikan bab demi bab. Untuk semua keikhlasan
hati beliau, semoga Allah lah yang membalasnya dengan melimpahkan rakhmat
dan hidayah kepada beliau dan keluarga.
Kepada Prof.Dr.Suhaidi,SH, M.H., Ketua Program Doktor, saya mengucapkan
terimakasih atas keizinan dan fasilitas yang baik di program S3 Ilmu Hukum
juga atas motivasi yang selalu diberikan untuk cepat menyelesaikan disertasi
ini, rasa terimakasih disampaikan kepada Direktur Sekolah Pascasarjana (SPS)
USU, Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, M.SIE, yang membuka akses untuk
mendapatkan dana penelitian Pendidikan Tinggi (Dikti), dan seluruh
staf/pegawai administrasi, termasuk yang di Pascasarjana Universitas Sumatera

Universitas Sumatera Utara

4.

Utara; Salamuddin, ST, Juliani, SH, Rafika Suryani, SH, kak Sri Rahayu, SH,
Suherman, SE, Fitri Idayani Lintang, SE, Suhendra Sibarani, SH, Isniar
Handayani, Johan, SH, Wiwik Kusdianingsih, SE atas segala pelayanan,
pengarahan dan dorongan yang diberikan kepada kami selama menuntut ilmu
pengetahuan di Program Doktor (S3) Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU.
Kepada Prof.Dr.Tan Kamello, SH,MS, Prof.Dr.Syafruddin Kalo, SH, M.Hum,
dan Prof.Dr.Yulia Mirwati,SH,CN,MH selaku penguji luar komisi, saya
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan dan waktu
yang diberikan untuk memberikan penilaian dan saran-saran dalam
menyelesaikan disertasi ini. Kepada seluruh staf pengajar program Doktor S3
Ilmu Hukum USU, saya mengucapkan terimakasih atas ilmu pengetahuan,
pengalaman dan bantuan yang diberikan kepada saya. Kepada seluruh staf
pengajar termasuk Ikatan Staf Pengajar Wanita (ISPW) FH USU yang hadir
pada hari ini (Chairul Bariah, SH,M.Hum, Liza Erwina,SH, M.Hum, Zulfi
Chairi, SH,M.Hum, Syamsiar Yulia, SH,CN, Latifah, SH, Dra. Zakiah, MPd,
Puspa Melati Hasibuan, SH,M.Hum, Maria, SH,M.Hum, Suria Ningsih,
SH,M.Hum, Zaidar, SH, M.Hum., Mariati Zendrato, SH.M.Hum, Rafiqoh
Lubis, SH.M.Hum, dan lainnya. Khusus kepada adinda Afrita, SH, M.Hum,
yang selalu berbagi dalam suka dan duka sehubungan dengan pendidikan
yang sedang dijalani, semoga Allah mewujudkan cita-cita adinda dalam
waktu yang tidak lama. Dr. Utary Maharani Barus,SH,M.Hum, Dr.Idha
Aprilyana Sembiring, SH.M.Hum, Dr.Marlina,SH.M.Hum), seluruh sahabat
saya, rekan-rekan di program Doktor Ilmu Hukum USU. Khusus kepada
alm.Syamsiar Yulia,SH,CN, yang meninggal pada hari Kamis, 28 Maret
2013, terimakasih kak atas kebersamaan selama ini. Semoga Allah
mengampuni segala dosa-dosanya, amin. Secara khusus, saya ingin
menyampaikan rasa hormat yang ikhlas kepada bang Hayat,SH karena
hati yang tulus dan jujur selalu membimbing dan membela saya,
terimakasih bang, semoga Allah tetap memberi kesehatan dan umur yang
panjang kepada abang, pak Kalelong Bukit, SH, Zulkifli Sembiring,
SH,M.Hum, Amsali Sembiring, SH,M.Hum, Syarifuddin Siba, SH.M.Hum,
terutama kepada abanganda Malem Ginting, SH,M.Hum., atas bantuannya, Dt.
Syaiful
Azam,
SH,M.Hum,
Azwar
Mahyuzar,
SH,M.Hum,
Mulhadi,SH,M.Hum, Boy dan Eko, dan lainnya.
Juga staf administrasi FH USU; Efraim Purba,STh, MTh, Juni Surbakti, SH,
MKN, Sadli Damanik, Amd, Sarno,SH, Rosmawaty,SH, Syamsinar,SH,
Misyani, Annisa,SE. mengucapkan terimakasih yang tak terhingga atas
kerjasama dan dukungan yang saling menguatkan yang terjalin selama ini;
Asmadi Lubis, SH, MKN, Sutrisno, SH,MKN, Kompol Bachtiar Marpaung,
SH,S.Sos, M.Hum, Marianne Ketaren, SH,MKN, Sutiarnoto, SH, MH, Abul
Khair, SH, M.Hum, Asmin Nasution, SH, M.Hum, Megarita, SH,CN,M.Hum,
terutama kakanda Dr.Edy Ikhsan, SH,MA yang selalu berdiskusi,
berdebat, bertukar informasi (ada beberapa informasi penting yang tidak

Universitas Sumatera Utara

5.

6.

7.

akan pernah saya lupakan dalam hidup ini antara lain informasi agar saya
bisa promosi pada hari ini). Beliau juga meminjamkan beberapa
literatur karena memang sama-sama menulis tentang hukum tanah adat.
Terimakasih bang, semoga Allah mengabulkan apa yang menjadi cita-cita
abang dan keluarga, amin.
Terimakasih yang tulus kepada Prof.Dr.Bismar Nasution,SH,MH dan
Prof.Dr.Ningrum Nastasya Sirait, SH,MLI selaku Ketua dan Sekretaris Program
Studi S3 FH USU pada saat saya ditest ujian masuk dan dinyatakan lulus
sebagai mahasiswa S3 di awal tahun 2009. Saya meyakinkan beliau berdua
bahwa tulisan ini meskipun kajian hukum adat yang terkesan obsolete,
tradisional, tapi tetap up to date bahkan kajian ini sedang menjadi persoalan
besar yang dihadapi bangsa ini hari ini. Satu jaminan saya bagi Prof.Ningrum
waktu itu adalah penguasaan bahasa Simalungun yang saya miliki, karena
pernah bersekolah di Pematang Raya, akan menambah kevaliditasan dan
keakurasian data nantinya (dan memang sangat membantu selama saya berada
di lapangan bersama masyarakat adat, yang masih ada mengenal saya).
Terimakasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tinggi nya saya
ucapkan kepada Prof.Dr.Usman Pelly,MA selaku Kopromotor penulisan
disertasi ini. Masukan-masukan dan pemikiran-pemikiran beliau telah cukup
banyak memperkaya materi dalam disertasi ini. Beliau terkadang menelepon,
menanyakan tentang kesulitan saya dalam menulis disertasi ini dan menyuruh
datang untuk mengambil bahan-bahan yang saya butuhkan, yang sudah
dipersiapkan. Dengan senang hati diajak berdiskusi dan meminjamkan bukubuku dari perpustakaannya. Untuk semua kebaikan dan bantuan beliau, saya
berdoa semoga Allah swt membalas yang lebih baik lagi kepada beliau dan
keluarganya.
Prof.Dr.Muhammad Yamin, SH, MS,CN selaku Kopromotor dalam penulisan
disertasi ini. Selama bimbingan, saya banyak menerima cucuran ilmu
pengetahuan utamanya di bidang agraria, beliau juga banyak meminjamkan
literatur kepada saya. Motivasi dan nasehat yang tak henti-hentinya, saya
peroleh darinya. Satu hal yang tidak mungkin saya lupakan adalah ucapan
beliau yang mengatakan : Ros, ketika orang-orang mendebatkan tentang hak
ulayat, mereka akan mencari kamu karena kamu intens menuliskan tentang
itu, jadilah pakar di bidang hak ulayat, Semoga ucapan yang menjadi doa
beliau diijabah oleh Allah Swt. Untuk semua kebaikan dan keikhlasan beliau,
hanya kepada Allahlah saya berharap agar Dia memberikan rakhmatNya kepada
beliau
dan
keluarga.
Juga
para
staf
beliau
:
Dr.T.Devi
Keizerina,SH,CN,M.Hum, Fatimah, Lisa, Sari, dan lainnya yang banyak
membantu saya.
Kepada Bapak Dj.Naiborhu (direktur SMAN 3 Pematangsiantar) yang
merekomendasikan saya menjadi mahasiswa FH USU lewat jalur PMDK
(Pemanduan Minat Dan Ketrampilan) meskipun beliau menyarankan waktu itu

Universitas Sumatera Utara

8.

9.

10.

agar saya memilih FE (Akuntansi) Universitas Indonesia sesuai cita-cita awal


saya tapi atas nasihat ayahanda tercinta, saya harus memilih FH USU.
Seluruh alumni SMANTIG Pematangsiantar; Prof.Dr.Sunarmi,SH,M.Hum,
yang selalu mengingatkan saya tuk memprioritaskan disertasi dari yang lain,
agar disertasi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, Dr.Hasim
Purba,SH,M.Hum, Dra.Hennita Purba,MPd, Junedi Sirait,SH (Anggota DPRD
Bogor), Drs.H.Suayatno (Wakil Bupati Bengkalis), Darlainy Nasution,SE, MM,
khusus buat kelas 3 IPS4; bu Salmi, Dilla Haryanti Tarigan,SH,MH, Nurlely,
Normadiah, Hanum, Massa Hati Silalahi, Rita Elfrida, Wahyu Ilahi, Syawal
Naibaho, Dayat, dan lainnya.
Kepada kakak Hj.Farida Tarigan yang karena motivasi awal darinya untuk
mengambil program S3. Beliau juga seperti ibu bagi saya, karena tak lelah
dan berharap atas keberhasilan saya. Kepada Hj.Khalida Djalil,SE, teman
seperjuangan di masa S1, terimakasih atas doa, bantuan, motivasi kalian berdua.
Semoga Allah membalas yang lebih baik bagi hidup dan kehidupan kalian dan
keluarga. Kepada ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan FH USU : kak Ros
Budiman, kak Hafsah Sulung, kak Ani Husni, kak Ayu Ikhsan, mba Ani
Sulaiman, Yunita Hasibuan, kak Lely Armansyah dan lainnya yang tidak bisa
saya sebutkan. Semoga silaturakhim di antara kita tetap terpelihara dengan baik.
Seluruh guru-guru saya dari SD sampai Perguruan Tinggi yang tidak bisa saya
sebutkan satu persatu, karena ilmu dan nasehat mereka lah saya bisa berdiri di
tempat ini, saat ini, khusus buat Prof.Dr.M Solly Lubis, SH yang sudah saya
anggap seperti orang tua saya sendiri. Beliau tidak pernah lelah diajak
berdiskusi tentang hak ulayat, masyarakat adat, adakah political will dari
Negara dan pemerintah untuk ini? Begitu selalu yang dipertanyakan beliau.
Pertanyaan lainnya selalu ditujukan melalui staf administrasi tentang mengapa
saya terlambat mengambil program S3, Saya jawab : Pak, 3 tahun lamanya saya
disuruh suami untuk sekolah, barulah saya mau. Musibah atas sakit menahun
dan berpulangnya putri saya yang kedua, alm. Diva, menyisakan luka yang
sangat mendalam dan sulit berkonsentrasi waktu itu. Lantas beliau menjawab :
sekarang apakah karena suami kamu bersekolah, saya jawab : utamanya, karena
Allah, kedua karena niat saya sendiri dan selanjutnya karena keluarga.
Terimakasih pak atas motivasinya, semoga impian saya bisa produktif menulis
buku seperti bapak, bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Saya
berharap semoga Allah tetap memberi kesehatan dan lindunganNya buat bapak
dan keluarga.
Kepada Bpk. H.Tinggi Sembiring, SH beserta mamak Hj.Rossy.S,SH, yang
juga menjadi orang tua saya. Beliau membantu saya dalam memperoleh
beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas dan karenanya diterima menjadi dosen pada
FH USU, dan menjadi asisten beliau dalam mata kuliah Hukum Adat, bapak
alm.Datuk Usman, SH, alm.Hamzah,SH, Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,M.Hum,
Syafruddin Sulung,SH,MH,DFM, M.Husni,SH,MH dan terimakasih yang tulus

Universitas Sumatera Utara

11.

12.

13.

14.

15.

16.

kepada ibunda Prof.Hj.Rehgena Purba, SH, MS, yang telah memberi dukungan
moril mulai dari S2 sampai hari ini.
Prof.Dr.Sulistiowati Irianto, MA, (Guru Besar FH UI) yang telah
mengikutsertakan saya dalam grup Socio Legal Study dan membantu saya
dalam beberapa literatur. Terimakasih ibu, semoga ibu semakin kuat dalam
menghadapi hidup ini dan Tuhan selalu memberkati ibu.
Kepada Abanganda Dr.Oloan Sitorus, SH,MH (Ketua STPN BPN, Yogyakarta)
dan Abdon Nababan (Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara,
Jakarta). Beliau berdua ini selalu dengan lapang hati berdiskusi (sampai jauh
malam melalui telepon (by phone) tentang apa saja berkaitan dengan disertasi
ini dan banyak mengirim bahan-bahan literatur / yang terkait via email. Penulis
juga bangga dipertemukan dalam 2 (dua) kali kesempatan menjadi narasumber
bersama Abdon Nababan dalam seminar sehari tentang hak ulayat dan
masyarakat adat, terutama di lokasi penelitian disertasi ini (kabupaten
Simalungun). Juga kepada abanganda Dr. Jaminuddin Marbun, SH.M.Hum
(Dekan FH Dharma Agung). Atas bantuan dan motivasinya, semoga Allah
membalasnya.
Rekan-rekan Ikatan Alumni FH USU angkatan 85 : H.Erwin Adhanto,SH, Erna
Herlinda,SH,M.Hum, Bachtiar Sinaga, SH., yang banyak membantu di
lapangan, Rita Manurung,SH, Hirim Tiarma Pasaribu,SH (Inggris),
M.Joni,SH,MH, Idha Deliana,SH,MH, Yusnawati, SH,CN, Nuriani, SH, Rifka
Daulay,SH, Maslem Simarmata,SH, Sujono,SH, Fatimah, SH, MH, dan lainnya
yang tidak bisa saya sebut satu per satu.
Rekan-rekan Ikatan Alumni PPS Program Ilmu Hukum S2 USU :
Dr.Supandi,SH,M.Hum, Dr.Surya Perdana Ginting,SH,MH, Dr.Iman
Jauhari,SH,M.Hum, Susilawati,SH,M.Hum, Muskibah,SH,M.Hum (Jambi),
Rajin Sitepu, Roswita Sitompul,SH,M.Hum, Rosmalinda Sitorus,SH,M.Hum,
dan lain-lain.
Prof.Dr.Jan Michelle Otto, Dr.Mr.Adriaan Badneer, dan rekan-rekan dari grup
Socio Legal Study : Dr.Asri Wijayanti, SH, MH (Surabaya), yang telah banyak
membantu pengiriman bahan-bahan yang terkait dengan disertasi ini dan
mengikutsertakan penulis dalam pelatihan penyelesaian sengketa tanah di
Universitas Airlangga, Surabaya. Rina Oktoberina,SH,MA (Bandung), Nanda
Amalia,SH,M.Hum (Aceh), mba Santi & Tity Wahju Setiawati,SH, M.Hum
(Semarang), Imam Koeswayono, SH, MH (Unibraw, Malang), Muktiono,SH,
M.Phil (Unibraw, Malang), Fachrizal Afandi,S.Psi (Unibraw, Malang), Fully
Handayani,SH,MA (FH UI), Tri Lisiani Prihatina, SH, MA, Phd., Sonya
Claudia Siwu,SH,MH,LLM (Unair, Surabaya), dan lainnya yang tidak bisa saya
sebutkan satu per satu.
Kakanda dan Adinda dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam; Nurdin
Lubis,SH,MM, Alm.Prof.Hasnil Basri Siregar,SH, Dr.Maiyasyak Johan,
SH,MH, Dr. Faisal Akbar Nasution, SH.M.Hum, Ok. Saidin,SH,M.Hum, bang
Enda, Erwin Hafiz, SH, Salahuddin, SH,MH/ Nurmalawaty, SH,M.Hum, Sinta

Universitas Sumatera Utara

Uli Pulungan, SH,M.Hum, Marasamin Ritonga, SH, Syafril Warman,SH,


Borkat,SH, Ahsanul Fuad Saragih, SH,MA, Afrizon,SH dan masih banyak lagi
yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Tetaplah : Yakin Usaha Sampai.
17. Anak-anak saya : Kevin, Hardyles, SH, Reka, Irfan, Yuni, Yuyun, dan lainnya
atas perhatian, waktu yang diberikan atas penyelesaian disertasi ini. Khusus
kepada tulang/ito Reoko Putra Panjaitan, SH,MKN atas setiap motivasi dan doa
agar saya segera menyelesaikan disertasi ini, semoga Allah membalas semua
kebaikan kalian.
18. Terimakasih disampaikan kepada seluruh ibu-ibu komplek Villa Mutiara Johor
1; Bu Srik, Ira, Bunda, bu Ita Jauzi, Henny, kak Erni, bu Lisa, Rani dan lainnya
yang telah membantu saya mengontrol anak-anak saya ketika saya tidak ada di
rumah, terima kasih atas kekeluargaan yang mendalam dan kebersamaan kita
selama ini, semoga Allah memberi rahmatNya kepada kita semua.
Khusus kepada bu Santi dan bu Rina yang menggantikan posisi saya mengajar
anak-anak saya dalam pelajarannya selama saya studi. Peran dan dedikasi yang
tinggi dari kedua ibu ini sangat membantu dalam pelajaran anak saya. Untuk
itu, saya dan keluarga mengucapkan terimakasih yang tulus kepada keduanya,
semoga apa yang dicita-citakan mereka berdua dikabulkan oleh Allah swt.
19. Terimakasih yang tidak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga
disampaikan kepada bapak alm. MR Djariaman Damanik, (yang meninggal
pada hari Minggu, 3 Maret 2013), mantan ketua PT Denpasar, ketua PT Medan.
Beliau juga salah seorang anak dari Raja Damanik sedangkan istri beliau, alm.
Martha br Saragih, adalah juga salah seorang putri dari Raja Silampuyang.
Dengan beliau berdua, penulis selalu berdiskusi, di mana saja (Siantar ataupun
Medan) dan kapan saja (pagi, sore, bahkan malam). Beliau selalu menelephone saya
tentang kesulitan saya dan menanyakan sudah sampai sejauh mana, karena dirasa
terlalu lama untuk datang ke rumahnya hanya untuk berdiskusi. Terkadang penulis
tersipu malu manakala beliau mendatangi saya, di fakultas hanya untuk menyerahkan
buku-buku, Acte Consessie, dll, serta menerjemahkan langsung kepada saya bahasa
Belandanya. Alasan berbuat demikian karena beliau menyatakan : tulisan anak
sudah merupakan tanggung jawab saya. Benarlah beliau berdarah biru, beliau adalah
anak Raja, (salah seorang Raja Marpitu) yang jiwa, perasaan, hatinya selalu ada di
Simalungun meskipun raga ini ada dimana-mana (terkadang di Bali, Medan bahkan
di luar negeri). Beliau salah satu pengetua adat di Simalungun meskipun oleh Negara
dianggap tidak karena tidak berada di wilayah setempat. Ompung,
Bapakmaafkan saya bila disertasi yang utuh ini tidak sempat bapak baca, tapi saya
yakin bapak melihat dan mengetahuinya. Semoga Tuhan melapangkan jalannya.
Terimakasih juga kepada para responden dan narasumber, Camat, Lurah, gamot dan
seterusnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Kepada Ayahanda almarhum H.Muhammad Yahya Sembiring dan ibunda
Hj.Nursatia br Panjaitan, terimakasih atas kasih sayang, pengertian, semangat, dan
selalu mengisi harinya dengan doa-doa yang tulus. Kepada tante saya, Rahmawaty br
Panjaitan beserta uda Marpaung, uda Drs.Kondarius Ambarita yang telah menemani

Universitas Sumatera Utara

hari-hari saya selama di lapangan Alm. Tuan Manuel Panjaitan/Alm. Hj. Nurmiah br
Sibarani (nek ito/eda), tulang Sahat Panjaitan/D. br Hutajulu, Tulang saya ini adalah
popparan ni (keturunan dari) Raja Tuan Nakhoda Pajaitan, yang turut membesarkan
dan mendidik saya dari kecil, kakak saya, Hj.Hidayani Sembiring (semoga
secepatnya diberi kesembuhan), beserta suami H.Mhd.Djamil dan adik-adik saya
Ir.Sry Rezeky Sembiring, T.Ivo Sembiring,S.Psi/Ir. Bambang Sucipto, sepupu saya
Ica dan Yul, tante Ida/pa Etek, pak tua, pak tengah, pak uda Indra Sembiring, bibi
uda/ bunde Hj. Rukiah Sembiring/ Hj.Ibrahim Lubis, tulang Palit Nasution,SE, MM,
atas segala doanya dan seluruh keluarga yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Juga kepada ponakan-ponakanku Tika, Putri, Arif dan lain-lain, semoga kalian bisa
mengikuti jejak mama/wak.
Kepada suami tercinta, Ir.Suhadianto,MT, yang telah dengan sabar menghadapi
saya, beliau adalah motivator ulung dan hebat, yang pernah saya kenal, dan anakanakku tersayang : .Ridho Eko Prasojo, alm Diva Wahyuni, Mhd.Zaman Baskoro.
Terimakasih atas kebersamaan kita, kasih sayang, pengertian, dan kesabaran yang
merupakan sesuatu yang sangat berarti dalam penyelesaian disertasi ini. Maafkan
mama jika selama studi ini bukanlah ibu yang baik, karena kurang memperhatikan
pelajaran-pelajaran kalian. Untuk itu kepada Allah mama mohon ampun dan kepada
kalian mama mohon dimaafkan. Semoga kelak keberhasilan ini menjadi motivasi
bagi kalian untuk dapat juga meraihnya kelak dan menjadi anak-anak yang sholeh.
Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kegiatan promosi ini,
kepada hadirin dan undangan sekalian yang telah meluangkan waktu dan perhatian,
saya ucapkan terimakasih dan mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Allah
swt senantiasa melimpahkan rahmatNYA kepada kita semua. Wabillahi taufiq wal
hidayah, wasalamualaikum wr.wb, salam sejahtera dan selamat siang.

Medan, April 2013

Rosnidar Sembiring

Universitas Sumatera Utara

PANDANGAN KRITIS TENTANG PENYELESAIAN


SENGKETA HAK ATAS TANAH ADAT DALAM
SISTEM HUKUM PERTANAHAN NASIONAL
(STUDI DI KABUPATEN SIMALUNGUN)
Rosnidar Sembiring 1
Runtung 2
Usman Pelly 3
Muhammad Yamin 4
ABSTRAK
Sengketa atau konflik bukan suatu keadaan yang statis, sengketa bersifat
ekspresif, dinamis, dan dialektis. Istilah sengketa atau konflik berasal dari kata
dispute atau conflict, kebanyakan di berbagai negara dipakai secara bergantian.
Tulisan ini memfokuskan sengketa pertanahan, yang berdasarkan keputusan BPN RI
No.34 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan Penyelesaian Masalah
Pertanahan adalah : Perbedaan nilai, kepentingan, pendapat, dan atau persepsi antara
orang perorangan dan atau badan hukum (privat atau publik) mengenai status
penguasaan dan atau status kepemilikan dan atau status penggunaan atau
pemanfaatan atas bidang tanah tertentu, atau status keputusan tata usaha Negara
menyangkut penguasaan, pemilikan dan penggunaan atau pemanfaatan atas bidang
tanah tertentu.Perkembangan sengketa pertanahan secara kuantitas maupun kualitas
selalu mengalami kenaikan, bahkan di seluruh wilayah Indonesia, dari tahun ke
tahun, jumlah kasus tanah terus meningkat. Dalam kurun 2 (dua) tahun saja, jumlah
kasus tanah yang dilaporkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI meningkat 5000%
(lima ribu persen). Antara tahun 2005 sampai dengan Agustus 2011, Kementerian
Sekretariat Negara (Kemensesneg) menerima 5.767 berkas kasus sengketa tanah.
Kasus ini terbanyak ketiga setelah berkas masalah hukum (9.602) dan berkas masalah
ketenagakerjaan (8.474). Wilayah yang tercatat paling sering bersengketa pada tahun
2012 ini adalah Jawa Timur (36 kasus), Sumatera Utara (25 kasus), Sulawesi
Tenggara (15 kasus), Jawa Tengah (12 kasus), Jambi (11 kasus), Riau (10 kasus),
Sumatera Selatan (9 kasus), dan sisanya tersebar di provinsi lainnya.
1
2
3
4

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara


Guru Besar Hukum Adat pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Guru Besar Antropologi, Universitas Negeri Medan
Guru Besar Hukum Agraria pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

Perumusan permasalahan disertasi ini adalah :


1. Bagaimanakah status hukum hak atas tanah adat di kabupaten Simalungun dalam
Sistem Hukum Pertanahan Nasional?
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan timbulnya sengketa hak atas tanah adat di
kabupaten Simalungun?
3. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam hal menyelesaikan sengketa hak atas
tanah adat di kabupaten Simalungun?
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian disertasi ini bersifat
penelitian hukum normatif (doctrinal) dan empiris (non-doctrinal) dengan
pendekatan socio legal study, jadi diawali dari penelusuran peraturan-peraturan
tertulis atau bahan-bahan hukum lainnya tentang Sistem Hukum Pertanahan Nasional,
UU sektoral tentang Sumber Daya Agraria dengan berbagai kritikan terhadapnya
kemudian secara empiris tentang perilaku hukum sehingga akhirnya bisa memperoleh
faktor penyebab sengketa tanah adat sekaligus upaya penyelesaiannya. Lokasi
penelitian, sengketa yang berkaitan dengan hak atas tanah adat di Kabupaten
Simalungun juga banyak terjadi, namun ada 4 (empat) kasus besar yang dianalisis
dalam tulisan ini yaitu :
1. Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Desa Bangun Dolok, kelurahan Parapat,
kecamatan Panei, kabupaten Simalungun.
2. Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat Silampuyang
3. Sengketa Hak Atas Tanah Adat pada Masyarakat Kebun Bangun (Kasus Tanjung
Pinggir), klaim pelepasan eks HGU PTPN III Kebun Bangun, kota
Pematangsiantar.
4. Sengketa Hak Atas Tanah Adat antara Masyarakat dan Perkebunan Bandar Betsy.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status hukum hak atas tanah adat di
kabupaten Simalungun masih eksis. Terbukti masih adanya masyarakat adat / etnis
Simalungun yang diikat oleh faktor territorial (huta) dan genealogis (marga). Masih
dijumpai objek hak ulayat (hak partuanon), misalnya : bong-bongan sahuta,
parjalangan sahuta, panambuhan sahuta, parsinumbahan, pamelean, dan lainnya
yang secara spuradis terdapat di berbagai wilayah Simalungun, masih dipatuhinya
hukum adat simalungun, masih ada tetua-tetua adat (keturunan Raja Marpitu). Faktor
penyebab timbulnya sengketa hak atas tanah adat di kabupaten Simalungun : Faktor
historis, hukum dan non-hukum. Secara historis pemerintahan Hindia Belanda
menerapkan hukum Barat terhadap sistem penguasaan tanah-tanah di Indonesia,
hukum barat sebagai acuan sesuai dengan kepentingan penjajah, justru ini
melemahkan sendi-sendi hukum adat dan memicu sengketa di antara warga
masyarakat, mengenai objek tanah maupun kepemilikannya. Faktor hukum; aturan
yang saling kontradiksi, tidak jelas, aparatur hukum yang tidak memahami hukum,
dan budaya hukum masyarakat yang tidak patuh, administrasi pertanahan yang
kurang baik sehingga dalam penyelesaian sengketa tanah terkadang terjadi tumpang
tindih kewenangan. Untuk itu disarankan huta atau marga mempertahankan eksistensi
hak partuanon. Karenanya perlu dibentuk pusat kajian Simalungun terdiri dari stake
holder yaitu : Pemerintah kabupaten Simalungun, DPRD, Akademisi, LSM,

Universitas Sumatera Utara

masyarakat adat setempat, tetua-tetua adat, untuk berdiskusi (secara ilmiah / nonilmiah) tentang Simalungun atau tentang penyelesaian sengketa hak atas tanah adat,
membuat peraturan daerah tentang hak partuanon yang berasaskan hukum adat
simalungun (asas, prinsip, lembaga, misal : prinsip habonaron do bona , dan lainlain) sehingga tercipta hukum yang benar-benar menyentuh (legal empathy) sekaligus
melaksanakan reformasi di bidang agraria dengan prinsip think globally but act
locally.

Kata kunci : Sengketa, hak atas tanah adat, Sistem hukum pertanahan nasional.

Universitas Sumatera Utara

CRITICAL VIEWS ON THE SETTLEMENT


INDIGENOUS LAND DISPUTE IN
LAND NATIONAL LEGAL SYSTEM
(STUDY IN DISTRICT OF SIMALUNGUN)
Rosnidar Sembiring 5
Runtung 6
Usman Pelly 7
Muhammad Yamin 8
ABSTRACT
Dispute or conflict is not a static situation, the dispute is expressive, dynamic
and dialectical. Disputes or conflicts term derived from the word dispute or conflict,
mostly in various countries used interchangeably. This paper is focused on land
disputes, the decision based on BPN RI 34 Year 2007 regarding Technical Guidelines
Handling and Settlement of Land Problems are:
"The difference in values, interests, opinions, and or perception between
individuals or legal entity (private or public) on the status or the status of the
acquisition and possession and or usage status or utilization of certain parcels of
land, or the status of state administrative decisions regarding the acquisition,
possession or use of the land or the use of certain. "
The development of land disputes in quantity and quality always increases, even in
the whole of Indonesia, from year to year, the number of land cases continues to
increase. Within 2 (two) years, the number of reported cases of land by the National
Land Agency (BPN) RI increased 5000% (five thousand percent). Between 2005 to
August 2011, the Ministry of the State Secretariat (Kemensesneg) received 5767 land
dispute case file. The case is the third highest after the file legal matters (9602) and
file labor issues (8474). Areas that recorded most often disputed in 2012 was East
Java (36 cases), North Sumatra (25 cases), South East Sulawesi (15 cases), Central
Java (12 cases), Edinburgh (11 cases), Riau (10 cases) , South Sumatra (9 cases), and
the rest scattered in other provinces. Areas that recorded most often disputed in 2012
was East Java (36 cases), North Sumatra (25 cases), South East (15 cases), Central
Java (12 cases), Edinburgh (11 cases), Riau (10 cases) , South Sumatra (9 cases), and
the rest scattered in other provinces.
5

Lecturer at the Faculty of Law, University of North Sumatra

Customary Law Professor at the Faculty of Law, University of North Sumatra

Professor of Anthropology, State University of Medan

Professor of Agrarian Law at the Faculty of Law, University of North Sumatra

Universitas Sumatera Utara

In accordance with research sites, disputes relating to customary land rights in


the District of Simalungun too much going on, but there are 4 (four) major cases
analyzed in this paper are:
1. Indigenous Land Rights Dispute in Bangun Dolok Village, Parapat village, Panei
sub, Simalungun district.
2. Indigenous Land Rights Dispute of Peoples of Silampuyang.
3. Indigenous Land Rights Dispute in Kebun Bangun Community (Tanjung Pinggir
Case), claims the release of the concession of Right of Cultivation of PTPN III
Kebun Bangun, Pematangsiantar city.
Based on what has been described above, defined some of the problems that
this dissertation focused and directed, namely:
1. How is the legal status of customary land rights in the Simalungun district in the
National Land Law System?
2. What factors led to the emergence of customary land rights disputes in the
Simalungun district?
3. How efforts in resolving disputes over customary land rights in the Simalungun
district?
The research method used in this dissertation research is normative legal
research (doctrinal) and empirical (non-doctrinal) socio-legal approach to study, so
the search begins from the written regulations or other legal materials on the System
of National Land Law, Law Sector of Agricultural resources with various criticisms
against him then the empirical laws of behavior that could eventually acquire
customary land disputes factor once effort to completion.
The results showed that the legal status of customary land rights in the district
Simalungun still exist. Evidently still the indigenous / ethnic Simalungun bound by
territorial factors (huta) and genealogical (clan). Still objects found customary rights
(rights partuanon), for example: bong-bongan sahuta, parjalangan sahuta,
panambuhan sahuta, parsinumbahan, pamelean, and others that are found in various
spuradis regions in Simalungun, still using Simalungun customary law, there are still
indigenous elders (descendant of King Marpitu). Factors causing the customary land
rights disputes in the district Simalungun. The historical, legal and non-legal.
Historically the Dutch East Indies government to apply the law of the West against
the system of land tenure in Indonesia, western law by reference in accordance with
the interests of the invaders, it weakens the customary law and trigger disputes among
members of the community, the land and the ownership of the object. Legal factors;
rules contradict each other, it is not clear, the legal apparatus does not understand the
law, and the legal culture of non-compliance, poor land administration resulting in the
settlement of land disputes sometimes overlapping authority. It is recommended huta
or clan partuanon maintain the existence of rights. Therefore necessary to set up
"Simalungun Study Center" consists of stakeholders, namely: Local Simalungun
Governments, parliament, academics, NGOs, local indigenous community,
indigenous elders, to discuss (in fiction / non-fiction) about Simalungun or disputes
about customary land rights, make regulations on the rights partuanon Based

Universitas Sumatera Utara

Simalungun customary law (principle, principles, institutions, eg the principle of


habonaron do bona, etc.) so as to create laws that really existed (legal empathy)
simultaneously implement reforms in the agrarian sector with the principle of think
globally but act locally.
Keywords: Disputes, indigenous land rights, national land law system.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

Halaman
i

KOMISI PEMBIMBING DAN TIM PENGUJI .

KATA PENGANTAR .

ii

ABSTRAK ...

viii

ABSTRACT

xi

DAFTAR ISI

xiv

DAFTAR TABEL

xvii

DAFTAR GAMBAR

xviii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Kerangka Teori dan Konsep ..
1. Kerangka Teori
2. Konsep .
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan .
2. Jenis, Sifat, dan Teknik Penelitian .
G. Asumsi
H. Sistematika Penulisan

1
1
30
32
33
34
34
52
59
59
62
66
67

BAB II : STATUS HUKUM HAK ATAS TANAH ADAT DALAM


SISTEM HUKUM PERTANAHAN NASIONAL
(di Kabupaten Simalungun) .
A. Deskripsi Tentang Kabupaten Simalungun
1. Tinjauan mengenai historis (sejarah) Simalungun
2. Nama Simalungun dalam perdebatan
3. Masuknya orang Tapanuli ke Simalungun ..
4. Pemerintahan Swapraja
5. Asal-usul orang Simalungun

69
69
69
72
73
79
84

Universitas Sumatera Utara

6. Filosofi Hidup orang Simalungun


7. Simalungun dalam Angka .
B. Sistem Hukum Pertanahan Nasional
1. Sistem Hukum Tanah Nasional
2. Konsep Hukum Tanah Nasional
3. Objek Hukum Tanah Nasional .
4. Prinsip-prinsip Hukum Tanah Nasional ..

90
96
101
101
112
117
123

C. Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun ..


1. Hukum Pertanahan di Simalungun
2. Masyarakat Hukum Adat Simalungun ..
3. Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun
4. Hak Atas Tanah Adat dalam Sistem Hukum Pertanahan
Nasional dan Kritikan Terhadapnya
5. Transaksi yang dikenal dalam Hukum Adat

142
142
156
162

BAB III : FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA SENGKETA HAK ATAS


TANAH ADAT DI KABUPATEN SIMALUNGUN
A. Pengertian Sengketa Pertanahan
1. Pengertian Sengketa Hukum Atas
2. Dasar-dasar dan Landasan Penyelesaian Sengketa Pertanahan
3. Asas-asas yang harus diperhatikan dalam menyelesaiakan
sengketa tanah khususnya adalah asas penguasaan dan
pemilikan tanah
B. Tipologi Sengketa Pertanahan
1. Sengketa Pertanahan yang bersifat politis .
2. Sengketa Pertanahan yang beraspek sosial-ekonomis ..
3. Sengketa Pertanahan yang bersifat keperdataan
4. Sengketa Pertanahan yang bersifat administratif
C. Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Pertanahan
D. Tipologi dan Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Pertanahan
di Kabupaten Simalungun
1. Kasus 1 : Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Desa Bangun Dolok,
Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon,
Kabupaten Simalungun
2. Kasus 2: Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat Silampuyang
3. Kasus 3 : Sengketa Hak Atas Tanah Adat pada Masyarakat
Kebun Bangun (Kasus Tanjung Pinggir), klaim pelepasan eks
HGU PTPN III Kebun Bangun, Kota Pemantangsiantar.
4. Kasus 4 : Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat dengan
Perkebunan Bandar Betsy

176
216

241
241
241
242

246
248
257
261
262
263
278
290

299
310

334
357

Universitas Sumatera Utara

BAB IV : PENYELESAIAN SENGKETA HAK ATAS TANAH ADAT


DI KABUPATEN SIMALUNGUN
A. Temuan Desa Tanpa Sengketa Tanah (Desa Sipoldas dan
Desa Bangun Das Meriah,Kecamatan Panei, Kabupaten
Simalungun) ...
B. Penyelesaian Sengketa Tanah menurut Musyawarah Mufakat
(Hukum Adat Simalungun) .
C. Penyelesaian Sengketa Melalui Instansi Badan Pertanahan Nasional
Kabupaten Simalungun
D. Penyelesaian Kasus/sengketa hak atas tanah adat melalui litigasi
(Badan peradilan) di Kabupaten Simalungun
1. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Desa Bangun
Dolok Kelurahan Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon
Kabupaten Simalungun
2. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat
Silampuyang
3. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat Kebun Bangun
(Kasus Tanjung Pinggir, klaim Pelepasan Eks HGU PTPN-III
Kebun Bangun Kota Pematang Siantar,
Sumatera Utara) ..
4. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat dan Konflik
tanah yang berkembang antara Masyarakat dengan
perkebunan Bandar Betsy

BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan .
B. Saran

377

378
385
399
407

407
414

421

426

433
433
447

DAFTAR PUSTAKA 450


CURICULUIM VITAE 470

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Nomor

Judul

Halaman

Tabel 1 Sengketa Regional Berdasarkan Jenis Sengketa

Tabel 2 Permasalahan Tanah yang diterima oleh Provinsi Sumatera


Utara Tahun 2011.. 8
Tabel 3 Luas Daerah Menurut Kecamatan

97

Tabel 4 Banyaknya Nagori (Desa) dan Kelurahan menurut


Kecamatan 2009

98

Tabel 5 Permasalahan Pertanaha oleh BPN

255

Tabel 6 Objek/Tanah yang Dituntut oleh Kelompok Tambun Nabolon (ha)

337

Tabel 7 Objek/Tanah yang Dituntut oleh Kelompok Tanjung Pinggir

338

Tabel 8 Objek/Tanah yang dituntut oleh Kelompok Kandang Lembu

340

Tabel 9 Objek/Tanah yang dituntut oleh Kelompok Gurilla (ha)

341

Tabel 10 Luas Wilayah menurut Huta (Dusun) Tahun 2012

389

Tabel 11 Luas Wilayah berdasarkan pada jumlah Kepadatan Penduduk


per Huta.

390

Tabel 12 Banyaknya Penduduk dirinci Menurut Jenis Kelamin

390

Tabel 13 Banyaknya Penduduk Berdasarkan Agama

391

Tabel 14 Banyaknya Sarana Ibadah Menurut Agama dan Huta Tahun 2009

392

Tabel 15 Banyaknya Jumlah Penduduk berumur 10 Tahun ke atas menurut


status pekerjaannya.

392

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
Gambar 7
Gambar 8
Gambar 9
Gambar 10
Gambar 11
Gambar 12
Gambar 13
Gambar 14
Gambar 15
Gambar 16
Gambar 17
Gambar 18
Gambar 19

Judul
Halaman
Harangan
149
Sappalan
150
Tanoh rih
150
Parbalogan
151
Sawah Lombang
151
Tanoh reben
152
Tanoh roba
152
Bong-bongan sahuta
167
Parmahanan huda pakon horbou Tuan Damak
168
Horbangan
169
Tempat merawat hewan (kuda/kerbau)
169
Parjalangan Sahuta
170
Parsinumbahan
171
Paridian ni Raja
171
Dalan ni bah
172
Umbul ni bah
173
Martokkarang/sopou ni losung
174
Losung jantan
174
Losung betina
175

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Sengketa yang juga dikenal konflik adalah dua kosa kata yang tidak sama,
tetapi sulit untuk dibedakan sehingga di dalam penggunaannya adakalanya dilakukan
secara bergantian 9.
Sengketa adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat, dan atau persepsi antara
orang perorangan atau badan hukum (privat atau publik) mengenai status penguasaan
dan atau status kepemilikan dan atau status penggunaan atau pemanfaatan atas bidang
tanah tertentu oleh pihak tertentu atau status Keputusan Tata Usaha Negara
menyangkut penguasaan, pemilikan, dan penggunaan atau pemanfaatan atas bidang
tanah tertentu.
Konflik adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat atau persepsi antara
warga atau kelompok masyarakat dan atau warga atau kelompok masyarakat dengan
badan hukum (privat atau publik), masyarakat dengan masyarakat mengenai status
penguasaan dan atau status kepemilikan dan atau status penggunaan atau
pemanfaatan atas bidang tanah tertentu oleh pihak tertentu atau status Keputusan Tata
Usaha Negara menyangkut penguasaan, pemilikan dan penggunaan atau pemanfaatan
atas bidang tanah tertentu, serta mengandung aspek politik, ekonomi, dan sosial
budaya. 10
Studi kepustakaan menunjukkan bahwa di kalangan ahli sosiologi (termasuk
sosiologi hukum) pengkajian lebih terfokus pada istilah konflik (conflict), sedangkan
di kalangan ahli antropologi hukum terdapat kecendrungan untuk memfokuskan pada
istilah sengketa (dispute). 11
Sengketa bisa terjadi antar individu, antara individu dengan kelompok, atau
antara kelompok dengan kelompok. Tentang pembagian sengketa ini Roy. J. Lewicki
dkk, mengklasifikasikan berdasarkan jumlah atau kelompok manusia yang
mengadakan interaksi didalamnya, ke dalam empat bentuk yaitu : 12
1. Intrapersonal or Intrapsychic Conflict, konflik ini terjadi dalam diri individu
tersebut. Sumber-sumber konflik dapat meliputi pendapat, pikiran, emosi,
penilaian, predisposisi sesuatu. Misalnya seorang karyawan marah pada atasannya
9

Runtung, Keberhasilan dan Kegagalan Penyelesaian Sengketa Alternatif: Studi Mengenai Masyarakat
Perkotaan Batak Karo di Kabanjahe dan Berastagi, disertasi, (Medan : PPS USU, 2002), hal. 74. Istilah sengketa
atau konflik yang berasal dari kata dispute atau conflict kebanyakan di berbagai Negara dipakai secara bergantian
(pen).
10

http://d5er.wordpress.com/2010/12/21/perbedaan-sengketa-konflik-dan-

perkara/
11

Lihat Valerine J.L. Kriekhoff, Mediasi (Tinjauan dari Segi Antropologi Hukum), dalam T.O.
Ihromi (Ed), Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1993) hal. 224.
12
Joni Emirzon, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi,
dan Arbitrase) (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama ; 2001), hal. 25-26

Universitas Sumatera Utara

(Bos), tetapi dia takut mengutarakannya karena atasan tersebut dapat


memberhentikannya. Disini terdapat konflik batin dalam diri si karyawan.
2. Interpersonal Conflict (Konflik antar Individu) adalah konflik yang terjadi di
antara majikan dan karyawan, suami-isteri, saudara kandung, atau kawan sekamar.
3. Intragroup Conflict, konflik yang terjadi dalam kelompok kecil di antara team dan
anggota panitia dengan keluarga, kelas, kelompok-kelompok persaudaraan, dan
perkumpulan mahasiswa-mahasiswi.
4. Intergroup Conflict, konflik yang terjadi antar group, seperti antara serikat-serikat
kerja dengan pengelola, perseteruan keluarga, kelompok masyarakat dengan
pemerintah yang berkuasa.
Dalam ranah hukum, dapat dikatakan bahwa sengketa adalah masalah antara
dua orang atau lebih dimana keduanya saling mempermasalahkan suatu objek
tertentu. Hal ini terjadi di karenakan kesalahpahaman atau perbedaan pendapat atau
persepsi antara keduanya yang kemudian menimbulkan akibat hukum bagi
keduanya 13.
Berdasarkan Keputusan Kepala BPN RI No. 34 Tahun 2007 tentang Petunjuk
Teknis Penanganan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan.
Sengketa pertanahan adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat,
dan atau persepsi antara orang perorangan dan atau badan hukum
(privat atau publik) mengenai status penguasaan dan atau status
kepemilikan dan atau status penggunaan atau pemanfaatan atas bidang
tanah tertentu oleh pihak tertentu, atau status keputusan tata usaha
negara menyangkut penguasaan, pemilikan dan penggunaan atau
pemanfaatan atas bidang tanah tertentu.
Dalam Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan,
Sengketa pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang
perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosiopolitis.
Sengketa tanah dapat berupa sengketa hak ulayat, sengketa administratif,
sengketa perdata, sengketa pidana terkait dengan pemilikan, transaksi pendaftaran,
penjaminan, pemanfaatan, penguasaan. Walaupun tindak pidana menjadi sengketa
yang paling sering terjadi secara nasional. Kejadian sengketa tanah meningkat
menjadi 19 persen di luar Pulau Jawa, dimana masyarakat pedesaan lebih sering
berhadapan dengan perusahaan perkebunan, kehutanan dan pertambangan, sebuah
sumber utama ketegangan.
Tabel di bawah membandingkan angka di tingkat nasional dengan hasil di
tingkat regional.
Tipe Konfl ik Indone Sumatera Jawa/Bali Kalimantanulawe NTB/NTT Maluk

13

Bernhard Limbong, Konflik Pertanahan, (Jakarta Selatan : Margaretha Pustaka, 2012), hal. 48.

Universitas Sumatera Utara

Tipe Sengketa

Tabel 1
Sengketa Regional berdasarkan jenis sengketa
Indonesia Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi
/
Bali
16,4%
15,6%
16,0 10,9%
16,9%
%
13,3%
9,6%
9,2% 14,2%
17,5%

NTB/
NTT

Maluku/
Papua

24,2%
18,6%
Tindak
Pidana
23,3%
19,5%
Sengketa
Tanah/
Gedung
10,9%
8,3%
11,0 8,0%
9,8%
17,3%
15,3%
Perselisihan
%
Keluarga
1,7%
3,0% 2,4%
2,3%
4,0%
4,8%
Penyalahgun 2,8%
aan
Wewenang
7,6%
5,1%
6,2% 5,2%
4,1%
13,8%
19,8%
KDRT
3,2%
1,3%
4,2% 1,8%
2,0%
2,6%
8,8%
Sengketa
Pemilu
2,0%
1,2%
1,7% 1,2%
3,4%
1,9%
3,9%
SARA
Sumber : Asia Foundation (2001), World Bank (2004), UNDP (2007), Justice for All ?
An assessment of Access to Justice in Five Provinces of Indonesia.
Sifat sengketa/ konflik bukan suatu keadaan yang statis. Sengketa bersifat
ekspresif dinamis, dan dialektis. 14
Perkembangan sengketa pertanahan, secara kuantitas selalu mengalami
kenaikan, penyebabnya antara lain adalah luas tanah yang tetap, sementara jumlah
penduduk yang memerlukan tanah untuk memenuhi kebutuhannya selalu bertambah
dan adanya akumulasi sengketa kepentingan antara pemilik tanah (perorangan,
masyarakat adat, badan hukum swasta, pemerintah) dengan perseorangan atau badan
hukum swasta lainnya.

14

M. Yamin, Model Kebijakan Penyelesaian Konflik Tanah, makalah, 26 Juni 2012, hal. 6

Universitas Sumatera Utara

Di Indonesia 15, dari tahun ke tahun jumlah kasus tanah terus meningkat.
Dalam kurun dua tahun saja, jumlah kasus tanah yang dilaporkan Badan Pertanahan
Nasional (BPN) Republik Indonesia meningkat lima ribu kasus. Menurut Kasubdit
Sengketa Pertanahan BPN RI, Henry Rustandi Butarbutar, pada tahun 2007 jumlah
laporan sengketa yang masuk hanya 2.615 kasus. Namun pada tahun 2009, jumlahnya
melonjak 300 persen menjadi lebih dari tujuh ribu kasus di seluruh Indonesia.
Henry Rustandi Butarbutar juga menuturkan, data itu berdasarkan inventarisasi kasus
yang dihimpun dari setiap Kanwil BPN di Indonesia. Tren kasus pertanahan memang
meningkat, terutama tanah perkebunan. Sedangkan sengketa yang menyangkut tanah
aset negara tidak sebanyak sengketa tanah perkebunan.
Henry Rustandi Butarbutar mengatakan, sebagian besar sengketa pertanahan itu
terjadi antara perusahaan perkebunan, baik PTPN maupun non PTPN, dengan
masyarakat 16. Sengketa itu terjadi karena tanah yang diklaim milik perusahaan
perkebunan, diduduki atau digarap oleh warga. Pendudukan itu pun terjadi karena
warga menganggap lahan milik perkebunan itu diterlantarkan. Jumlah sengketa tanah
yang semakin bertambah tidak selamanya karena ada lahan baru yang diperebutkan.
Malah sebaliknya, satu lahan dapat diklaim oleh banyak pihak, sehingga jumlah
kasusnya menjadi banyak.
Senada dengan data BPN di atas, Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan
Kemasyarakatan Kemensesneg, Yoseph Indrajaya, mengatakan masalah pertanahan
masih kerap kali disampaikan masyarakat. Sejak tahun 2005, masalah pertanahan
yang diadukan cenderung tidak menurun. Antara Januari 2005 hingga Agustus 2011,
Kementrian Sekretariat Negara (Kemensesneg) menerima 5.767 berkas kasus
sengketa tanah. Kasus ini terbanyak ketiga setelah berkas masalah hukum (9.602) dan
berkas masalah ketenagakerjaan (8.474).
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pun mencatat bahwa sengketa
pertanahan meningkat dari tahun ke tahun. Menurut KPA, sedikitnya sengketa lahan
terjadi di atas area seluas 472.084,44 hektare dengan melibatkan 69.975 kepala
keluarga sepanjang 2011. Sejumlah kasus berdasarkan kuantitas kasus adalah
perkebunan (97 kasus), kehutanan (36 kasus), infrastruktrur (21 kasus), pertambangan
(8 kasus), dan pertambakan (1 kasus). Jumlah total mencapai 163 kasus sengketa/
sengketa tanah dengan korban jiwa sebanyak 22 orang yang tersebar di 25 provinsi.

15

16

Benhard Limbong, Op Cit. hal 59.

Ketika persoalan tanah sampai pada sengketa antara pemerintah dengan rakyat, penguasa/investor
dengan rakyat ujung-ujungnya rakyat tidak pernah menang, terlepas dari menurut hukum itu benar, karena rakyat
miskin tidak pernah dapat menunjukkan alat bukti hak atas tanah yang berupa sertifikat. Rakyat miskin hanya
dapat mendalilkan bahwa :
a. Mereka sudah tinggal di situ bertahun-tahun lamanya, beranak cucu.
b. Mereka telah lama mengerjakan lahan di situ untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka
c. Kadang-kadang mereka juga ada yang membayar pajak tanah kepada desa. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan
terusmenerus. Janganlah Negara demi kepentingan pihak investor mengorbankan kepentingan rakyat,
Negara wajib melindungi rakyatnya, Andi Muttaqien dan kawan-kawan, UU Perkebunan, Wajah Baru
Agrarische Wet, (JakSel : Elsam-Sawit Watch-Pilnet, 2012), hal.262.

Universitas Sumatera Utara

Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 106
kasus sengketa tanah dan menewaskan 3 warga.
Adapun wilayah yang tercatat paling sering bersengketa di tahun 2012 ini
adalah Jawa Timur (36 kasus), Sumatera Utara (25 kasus), Sulawesi Tenggara (15
kasus), Jawa Tengah (12 kasus), Jambi (11 kasus), Riau (10 kasus), Sumatera Selatan
(9 kasus) dan sisanya tersebar di provinsi lainnya. Bahkan permasalahan tanah yang
diterima oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Permasalahan Tanah yang diterima oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2011
No
KABUPATEN/ KOTA
JUMLAH
1
Medan
46
2
Binjai
39
3
Langkat
53
4
Deli Serdang
304
5
Serdang Bedagai
17
6
Karo
2
7
Tebing Tinggi
2
8
Batu Bara
8
9
Pematang Siantar
5
10
Simalungun
40
11
Asahan
25
12
Tanjung Balai
6
13
Dairi
2
14
Toba Samosir
4
15
Samosir
1
16
Humbang Hasundutan
5
17
Pakpak Barat
1
18
Tapanuli Utara
2
19
Sibolga
1
20
Tapanuli Tengah
7
21
Tapanuli Selatan
6
22
Padang Sidempuan
4
23
Labuhan Batu
24
24
Labuhan Batu Selatan
17
25
Labuhan Batu Utara
24
26
Mandailing Natal
20
27
Padang Lawas Utara
7
28
Padang Lawas
19
29
Nias
2
30
Nias Selatan
4

Universitas Sumatera Utara

JUMLAH
697
Sumber : Seminar Hukum; Konflik Pertanahan di Sumatera Utara, Balai Raya Tiara
Convention Hall, Medan, 21 April 2012

Sengketa antara hak-hak masyarakat hukum adat atas tanah dan Negara telah
berlangsung sejak lama 17. Sebanyak 2.913 kasus sengketa dan perkara pertanahan
hingga saat ini masih menunggu penyelesaian melalui Badan Pertanahan Nasional
(BPN). Dari total 7.491 kasus sengketa tanah yang dilaporkan kepada BPN, hingga
akhir tahun 2009 baru diselesaikan sebanyak 4.578 kasus 18.
Banyaknya tuntutan masyarakat terhadap eks HGU PTPN II, III, IV sebagai
tanah ulayat dan tanah garapan yang telah diusahai dan dikuasai secara turun temurun
menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal yang mengarah pada tindakan
anarkis.
Eks HGU PTPN II seluas + 5.873,06 ha dengan perincian :
1. Keputusan Kepala BPN No : 42/HGU/BPN/2002 tanggal 29 November 2002
seluas 3,366,55 ha terletak di kabupaten Deli Serdang.
2. Keputusan Kepala BPN No : 43/HGU/BPN/2002 tanggal 29 November 2002
seluas 1,210,87 ha terletak di kabupaten Langkat
3. Keputusan Kepala BPN No : 44/HGU/BPN/2002 tanggal 29 November 2002
seluas 238,52 ha terletak di kabupaten Binjai
4. Keputusan Kepala BPN No : 10/HGU/BPN/2002 tanggal 6 Februari 2004 seluas
1.057,12 ha terletak di kabupaten Deli Serdang.
Sampai saat ini permasalahan eks HGU PTPN II sebgaian belum dapat
diselesaikan walaupun telah dilakukan Memorandom Of Understanding (MOU)
antara BPN Provinsi Sumatera Utara dengan PTPN II untuk melakukan pengukuran
ulang terhadap HGU PTPN II yang diberikan perpanjangannya, namun sampai saat
ini belum tercapai kesepakatan untuk finalisasi terhadap pelaksanaan MOU tersebut.
Dengan kondisi ini dikhawatirkan proses permohonan pelepasan dari Menteri Negara
BUMN terhadap Eks HGU dimaksud akan terkendala. 19
Eks HGU PTPN III seluas 5.987,90 ha terletak pada 7 (tujuh)
Kabupaten/kota se Sumatera Utara yang belum mendapat pelepasan asset dari
Menteri Negara BUMN RI dengan perincian sebagai berikut :

17
Mochammad Tauhid, Masalah Agraria Sebagai Masalah Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat
Indonesia, Bagian Kedua, (Jakarta: Tjakrawala, 2012), hal.17.
18
file:///C:/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/Sengketa%20tanah/2.913.Sengketa
.Tanah.Menunggu.Penyelesaian.htm, diakses tanggal 09 November 2010.
19
Hasbullah Hadi (Ketua Komisi A DPRD Provinsi Sumatera Utara), Penanganan Masalah Petanahan di
Provinsi Sumatera Utara, makalah, Dialog Publik Hukum Pertanahan di FH USU, 24 Sept 2011, hal.2.

Universitas Sumatera Utara

1.

Sk HGU No: 3/HGU/BPN/2005 tanggal 13 Januari 2005 seluas 16,84 ha terletak


di Kabupaten Simalungun.

2.

SK HGU No: 147/HGU/BPN-RI/2009 seluas 0,86 ha terletak di Kabupaten


Simalungun.

3.

SK HGU No: 92/HGU/BPN-RI/2009 seluas 8,84 ha terletak di Kabupaten


Simalungun

4.

SK HGU No: 115/HGU/BPN/2003 seluas 1.051,82 ha terletak di Kabupaten


Labuhan Batu

5.

SK HGU No: 117/HGU/BPN/2005 seluas 42,73 ha terletak di Kabupaten


Labuhan Batu

6.

SK HGU No: 118/HGU/BPN/2005 seluas 461,12 ha terletak di Kabupaten


Labuhan Batu.

7.

SK HGU No: 119/HGU/BPN/2005 seluas 363,25 ha terletak di Kabupaten


Labuhan Batu.

8.

SK HGU No: 116/HGU/BPN/2005 seluas 338,10 ha terletak di Kabupaten


Labuhan Batu.

9.

SK HGU No: 187/HGU/BPN/2004 seluas 260,74 ha terletak di Kecamatan Siais


Kabupaten Tapanuli Selatan.

10. SK HGU No: 179/HGU/BPN/2004 seluas 215,99 ha terletak di Kecamatan


Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.
11. SK HGU No: 178/HGU/BPN/2004 seluas 10,40 ha terletak di Kecamatan
Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.

Universitas Sumatera Utara

12. SK HGU No: 113/HGU/BPN/2005 seluas 717,38 ha terletak di Kecamatan


Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.
13. SK HGU No: 10/HGU/BPN/2005 seluas 586,44 ha terletak di Pijorkoling
Kabupaten Tapanuli Selatan.
14. SK HGU No: 34/HGU/BPN/2008 seluas 3,19 ha terletak di Kecamatan
Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan.
15. SK HGU No: 184/HGU/BPN/2004 seluas 61,42 ha terletak di Kecamatan
Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai.
16. SK HGU No: 181/HGU/BPN/2004 seluas 209,55 ha terletak di Dolok Masihul
Kabupaten Serdang Bedagai.
17. SK HGU No: 2/HGU/BPN/2005 seluas 545,48 ha terletak di Kotarih Kabupaten
Serdang Bedagai.
18. SK HGU No: 91/HGU/BPN/2009 seluas 265,60 ha terletak di Sei Rampah
Kabupaten Serdang Bedagai.
19. SK HGU No: 90/HGU/BPN/2009 seluas 1,65 ha terletak di Bandar Kabupaten
Serdang Bedagai.
20. SK HGU No: 37/HGU/BPN/2009 seluas 1,03 ha terletak di Serba Jadi
Kabupaten Serdang Bedagai.
21. SK HGU No: 9/HGU/BPN/2005 seluas 67,52 ha terletak di BP Mandoge
Kabupaten Asahan.
22. SK HGU No: 21/HGU/BPN/2006 seluas 78,00 ha terletak di Bandar Pulau
Kabupaten Asahan.

Universitas Sumatera Utara

23. SK HGU No: 146/HGU/BPN/2009 seluas 35,49 ha terletak di Buntu Pane


Kabupaten Asahan.
24. SK HGU No: 93/HGU/BPN/2009 seluas 69,34 ha terletak di Air Batu Kabupaten
Asahan.
25. SK HGU No: 35/HGU/BPN/2009 seluas 0,69 ha terletak di Sei Suka Kabupaten
Batubara.
26. SK HGU No: 102/HGU/BPN/2005 seluas 574,53 ha terletak di Kota Pematang
Siantar. 20
Artinya jika HGU telah berakhir, akibat hukumnya tanah akan kembali kepada
Negara (karena hak menguasai Negara), sedangkan asset berupa mesin-mesin, pabrikpabrik, hasil produksi (jika produktif) harus diangkat, dalam arti diselesaikan
berdasarkan Keputusan Menteri Negara BUMN RI.
Eks HGU PTPN IV seluas 1.641,94 ha terletak di 6 Kabupaten/kota seSumatera Utara yang belum dapat pelepasan asset dari Menteri Negara BUMN RI
dengan perincian sebagai berikut :
1. SK HGU No: 14/HGU/BPN/2003 seluas 15,37 ha terletak di Hutabayu Raja
Kabupaten Simalungun.
2.

SK HGU No: 15/HGU/BPN/2003 seluas 233,53 terletak di Bosar Maligas


Kabupaten Simalungun

3.

SK HGU No: 20/HGU/BPN/2003 seluas 26,01 terletak di Panei Kabupaten


Simalungun

4.

SK HGU No: 19/HGU/BPN/2003 seluas 138,29 ha terletak di Panei Tongah


Kabupaten Simalungun.

20

ibid , hal.5

Universitas Sumatera Utara

5.

SK HGU No: 21/HGU/BPN/2003 seluas 73,73 ha terletak di Bosar Maligas


Kabupaten Simalungun.

6.

SK HGU No: 5/HGU/BPN/2005 seluas 0,77 ha terletak di Hatonduhon


Kabupaten Simalungun.

7.

SK HGU No: 12/HGU/BPN/2006 seluas 55,86 terletak di Siantar Kabupaten


Simalungun.

8.

SK HGU No: 14/HGU/BPN/2006 seluas 3,11 ha terletak di Jorlang Hataran


Kabupaten Simalungun.

9.

SK HGU No: 48/HGU/BPN/2008 seluas 22,17 ha terletak di Gunung Maligas


Kabupaten Simalungun.

10. SK HGU No: 54/HGU/BPN/2008 seluas 386,56 ha terletak di Silau Kahean


Kabupaten Simalungun.
11. SK HGU No: 77/HGU/BPN/2008 seluas 410,46 ha terletak di Sosa dan Huta
Raja Tinggi Kabupaten Tapanuli Selatan.
12. SK HGU No: 180/HGU/BPN/2004 seluas 5,50 ha terletak di Dolok Merawan
Kabupaten Serdang Bedagai.
13. SK HGU No: 40/HGU/BPN/2005 seluas 15,31 ha terletak di Tebing Tinggi dan
Dolok Merawan Kabupaten Serdang Bedagai.
14. SK HGU No: 18/HGU/BPN/2003 seluas 53,32 ha terletak di Air Batu Kabupaten
Asahan.
15. SK HGU No: 15/HGU/BPN/2006 seluas 5,46 ha terletak di Kabupaten Asahan.

Universitas Sumatera Utara

16. SK HGU No: 22/HGU/BPN/2007 seluas 22,83 ha terletak di BP Mandoge


Kabupaten Asahan.
17. SK HGU No: 164/HGU/BPN/2009 seluas 3,31 ha terletak di Galang Kabupaten
Deli Serdang.
18. SK HGU No: 163/HGU/BPN/2009 seluas 3,51 ha terletak di Bangun Purba
Kabupaten Deli Serdang.
19. SK HGU No: 36/HGU/BPN/2009 seluas 0,34 ha terletak di Galang Kabupaten
Deli Serdang.
20. SK HGU No: 17/HGU/BPN/2003 seluas 166,50 ha terletak di Limapuluh
Kabupaten Batubara.
Izin lokasi yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten kepada perusahaan
perkebunan seringkali mengabaikan keberadaan penduduk yang telah lama bermukim
pada lokasi yang diberikan izin. Kemudian adanya tumpang tindih kepemilikan lahan,
diserahkannya ganti rugi/ganti untung/tali asih yang diberikan oleh perusahaan
perkebunan kepada masyarakat tidak sesuai dan sering salah sasaran. Selain itu juga,
masih banyak perusahaan perkebunan yang menguasai dan mengusahai sebuah lahan
dalam kurun waktu yang cukup lama namun belum memiliki Surat Keputusan HGU.
Kondisi-kondisi tersebut di atas menimbulkan konflik berkepanjangan dan
menimbulkan tindakan-tindakan anarkis seperti pemukulan, penangkapan,
pengrusakan tanaman dan lain-lain sehingga akan menggangu keamanan dan
kenyamanan berusaha. 21
Satuan tugas (Satgas) Mafia Hukum hingga Mei 2010 menerima sebanyak
1670 pengaduan dari masyarakat. Bahkan kasus sengketa tanah menempati peringkat
pertama dibandingkan kasus korupsi dan kasus-kasus lainnya.
Sengketa/ sengketa tentu membutuhkan perhatian ekstra. Tidak sedikit, kasuskasus sengketa tanah tersebut berujung pada bentrokan fisik hingga menyebabkan
kematian, karena bermuara pada keadilan, sengketa, dan kemiskinan.
Dalam sebuah diskusi di akhir september tahun 2010, menteri Pertanian RI,
Suswono mengatakan bahwa petani padi di Indonesia, kepemilikan sawahnya ratarata hanya 0,2 hektar. Di beberapa daerah memang ada beberapa petani yang luas
21

i b i d.

Universitas Sumatera Utara

lahannya sampai 50 hektar bahkan ada yang lebih, tetapi jumlahnya hanya sedikit
kurang dari 1% sedangkan yang terbanyak antara 0,2 - 0,7 hektar.
Patut diterima jika ribuan petani, nelayan, mahasiswa, perangkat desa, dan
warga berunjuk rasa di sejumlah daerah 22. Mereka menuntut reforma agraria dan
penuntutan kasus pertanahan, reformasi di bidang pertanahan dengan memberikan
hak hak rakyat di bidang pertanahan yang dijamin dalam Undang Undang No.5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok pokok Agraria ( UUPA ) 23.
Beberapa sengketa pertanahan yang terjadi yang menarik perhatian publik :
Kasus di Mesuji, Lampung adalah satu dari sekian banyak kasus pertanahan di
Indonesia dimana tak ada bentuk kepedulian pemerintah atau negara untuk
melindungi rakyatnya.
Di Jambi, Kamis 12/01-12, sekitar 500 orang petani dari sejumlah daerah
menuntut pengakuan hak kelola atas lahan yang saat ini diperebutkan dengan
sejumlah perusahaan 24.
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sekitar 100 orang dari 17 elemen
masyarakat dan mahasiswa dalam aksi mereka meminta perampasan tanah milik
rakyat oleh penguasa dan pemodal dihentikan 25.
Sengketa Pertanahan pada dasarnya dapat dilihat, adanya sengketa yang
timbul di antara warga masyarakat, sengketa antara warga masyarakat dengan
perusahaan perkebunan dan sengketa antara warga masyarakat dengan instansi
ataupun lembaga pemerintah 26. Salah satu ciri sengketa pertanahan yang cukup
banyak menarik perhatian adalah sengketa yang terkait dengan masalah tanah adat.
Sengketa/sengketa tanah adat ini antara lain menyangkut sengketa hak ulayat
masyarakat hukum adat maupun sengketa tanah adat hak perseorangan dari warga
masyarakat hukum adat, karena pengaturan mengenai apa itu hak ulayat, tanah adat
dan masyarakat adat belum tegas.
Untuk menyelesaikan permasalahan dan sengketa pertanahan diperlukan
peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan sebagai pedomannya.
Penggunaan tanah oleh siapapun dan untuk kepentingan apapun harus ada landasan
haknya dan agar tanah dapat dipergunakan secara baik dan benar perlu ditunjang oleh
aturan-aturan hukum di bidang pertanahan.
22

Kompas, Pulihkan Hak Tanah Rakyat, 13 Januari 2012


Henry Saragih, juru bicara Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-hak Rakyat Indonesia menjelaskan,
aksi dilakukan serentak di 27 Provinsi se-Indonesia, unjuk rasa dilakukan pada Kamis, 12 Januari 2012 di
sejumlah daerah.
24
Sarwadi, Ketua Serikat Petani Indonesia ( SPI ) Jambi: sengketa terjadi hampir di semua Kabupaten di
Jambi serta melibatkan petani dan perusahaan. Namun, hingga kini tak satu sengketa pun terselesaikan dengan
tuntas. Petani justru sering menjadi korban penganiayaan oleh aparat.
25
Dwitho Frasetiandy, Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( WALHI) Kalsel,
2008 s/d sekarang, ada 28 kasus sengketa sosial yang terkait perkebunan sawit di Provinsi itu belum termasuk
kasus pertambangan. Modusnya berupa penyerobotan tanah masyarakat oleh penguasa. Mereka mendapat izin dari
Kepala Daerah. Di Kabupaten Jember, Jatim, Solidaritas Petani Jember untuk Mesuji & Bima mendesak
Pemerintah segera menyelesaikan sengketa agraria antara masyarakat dengan Pengusaha dan Pemerintah.
26
Maria S.W Sumardjono, Mediasi Sengketa Tanah, (Jakarta: Kompas, 2008), hal.44.
23

Universitas Sumatera Utara

Demikian pula yang terjadi di daerah Kabupaten Simalungun, salah satu


Kabupaten yang berada di daerah Sumatera Utara, berbatasan dengan :
Sebelah Utara
: Kabupaten Serdang Bedagai/Deli Serdang.
Sebelah Barat
: Kabupaten Karo
Sebelah Selatan : Kabupaten Toba Samosir
Sebelah Timur
: Kabupaten Asahan/ Batubara
Di Tengah
: Kota Pematangsiantar 27.
Di Kabupaten Simalungun kasus-kasus tanah itu ada yang sudah diselesaikan
melalui jalur hukum bahkan sampai kepada tingkat kasasi namun Keputusan
Mahkamah Agung (MA) itu belum/tidak dapat dieksekusi sampai saat ini.
Berikut beberapa contoh kasus tanah yang terjadi:
1. Penyelesaian sengketa hak atas tanah adat oleh MARI No. 2143 K/PDT/2005
Perkara Kasasi Perdata antara Manatar Sinaga dkk melawan Keturunan Amani
Marhilap di daerah Girsang Simpangan Bolon, kelurahan Parapat, Kabupaten
Simalungun. Tapi sampai hari ini keputusan MA ini belum di eksekusi. Kasus
ini adalah sengketa tanah adat antara masyarakat adat versus masyarakat adat.
2.

Kasus Silampuyang yang melibatkan masyarakat versus Perseroan Terbatas


Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Marihat.

3.

Kasus Sengketa Bandar Betsy (daerah PTPN IV Gunung Pamela yang terletak
antara Tebing Tinggi - Pematangsiantar.

4.

Kasus

Tanjung

Pinggir

antara

Masyarakat

Versus

Pemerintah

Kota

Pematangsiantar.
Kajian atas pandangan kritis mengenai penyelesaian sengketa hak atas tanah
adat Simalungun di atas menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini dan sangat
aktual untuk diteliti secara mendalam disebabkan beberapa hal:
1. Terbukti bahwa kelompok-kelompok masyarakat terus mengklaim dirinya
sebagai Subjek hak ulayat (masyarakat hukum adat Simalungun). Ini otomatis

27

Simalungun Dalam Angka 2010, kerjasama Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun dan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Simalungun, hal.3.

Universitas Sumatera Utara

menimbulkan sengketa untuk mendapatkan pengakuan hak atas tanah adat


mereka bahkan sudah sampai jalur hukum. Ini terbukti dari putusan Pengadilan
Negeri sampai ke tingkat Kasasi walaupun eksekusinya belum/ tidak
dilaksanakan 28.
2.

Sengketa yang berkepanjangan ini belum menemukan solusi hukum yang tepat
untuk paling tidak memperkecil sengketa hak atas tanah adat tersebut, walaupun
menurut adat Simalungun, semula dikenal hak bersama atas tanah yang disebut
hak Partuanon, terkait dengan rahatan ni huta 29.

3.

Out put dari kebijakan Pemerintah dan Legislator yang menimbulkan


ketidakpastian hukum dan menjadikan sengketa tanah yang terus-menerus 30.

Dengan perkataan lain, negara lebih menekankan kepada pertumbuhan


ekonomi nasional daripada kesejahteraan masyarakat lokal.
Sengketa-sengketa dengan wujud negatif, sengketa yang dilakukan dengan
pertentangan, demonstrasi, pengambilalihan lahan, secara paksa yang menuju pada
tindakan anarkhis bahkan membawa korban nyawa dan harta.
Terjadinya sengketa menyangkut hak atas tanah adat tersebut antara lain
disebabkan faktor:
1.
Ada perbedaan persepsi antara masyarakat dan negara mengenai hak atas tanah.
Negara berpendapat, bahwa negara yang mempunyai hak menguasai atas tanah
berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945.

28

Putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Simalungun Nomor 26/Pdt/G/2006/PN Sim.,dan Putusan


MARI No.2143 K/PDT/2005.
29
Rahatan Ni huta yaitu hutan yang berdekatan dengan kampung, dimana kayu-kayunya tidak boleh
diambil oleh penduduk, kecuali untuk keperluan kampung itu, umpamanya untuk Balai Desa, Lumbung Desa
sedangkan untuk perseorangan harus mendapat izin dari Penghulu, tapi bisa juga (saat ini), tempat berkumpulnya
warga untuk bermusyawarah.
30
Kasus Tanjung Pinggir, sengketa tanah yang melibatkan kelompok masyarakat penduduk kecamatan
Siantar Toba Kota Pematangsiantar dengan PTPN-III Kebun Bangun.

Universitas Sumatera Utara

Sebaliknya Masyarakat Adat berpendapat, bahwa mereka memiliki hak ulayat


atas tanah berdasarkan hukum adat.
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 mengatakan bahwa
bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sementara
itu, Pasal 3 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 (UUPA) menyatakan, bahwa
hak-hak masyarakat hukum adat diakui sepanjang menurut kenyataannya masih
ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan Nasional dan
Negara. Rumusan yang terdapat dalam Pasal 3 Undang-Undang Pokok Agraria
(UUPA) tersebut ternyata menimbulkan perbedaan penafsiran, terutama apa
yang dimaksud dengan kepentingan nasional dan negara, dan siapakah
sebenarnya yang tepat menentukan kepentingan nasional dan negara tersebut
bagi masyarakat setempat.Sebaliknya masyarakat adat berpendapat, bahwa
memiliki hak ulayat atas tanah tersebut sudah sejak lama bahkan sebelum
negara Indonesia ada 31.
Menurut masyarakat adat, hak atas tanah dipandang secara keseluruhan
merupakan hak komunal, namun tetap memungkinkan penguasaan tanah secara
individual, dengan berbagai syarat dan atas ijin Kepala Adat.
Penjelasan UUPA meskipun dengan gamblang menyatakan bahwa Pasal 3 tidak
dimaksudkan untuk mereplikasikan Domeinverklaring pada masa kolonial 32,
gagasan tentang hak menguasai negara membolehkan pemberian hak atas tanahtanah nirgarapan dan/atau nirhunian yang tidak bersertifikat hak milik kepada
pihak lain tanpa persetujuan masyarakat lokal yang berkepentingan dan tanpa
mengeluarkan kewajiban hukum untuk membayar kompensasi yang layak
pada pemegang hak sebelumnya. Hak menguasai ini juga telah digunakan untuk
menjustifikasi berlanjutnya pembedaan zaman kolonial antara tanah negara
bebas dan tidak bebas. Tanah negara bebas mencakup wilayah Indonesia
yang sangat luas. Sementara tanah negara yang tidak bebas mencakup
sebagian besar tanah nirgarapan dan/atau nirhunian yang tidak bersertifikat hak
milik yang berada dalam wilayah yang ditetapkan sebagai milik negara 33.
Meskipun masyarakat yang mendiami wilayah ini biasanya diperbolehkan
untuk tetap tinggal di situ, hak-hak hukum mereka tetap tidak begitu jelas dan
pemanfaatan atas tanah itu sering kali sangat terbatas, khususnya di daerah yang
sudah ditetapkan sebagai kawasan hutan (negara). Khususnya karena
pembatasan inilah muncul banyak konflik di berbagai penjuru Indonesia 34.
31
Maria S.W Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, (Jakarta:
Kompas, 2001), hal. 54.
32
Lihat UUPA, Penjelasan Umum, Pasal 2.
33
Peter Burns, The myth of adat, Journal of Legal Pluralism, (Leiden: KITLV Press, 1989), hal.19-32.
34
Daniel Fitzpatrick,Disputes and pluralism in modern Indonesian land law, Yale Journal of
International Law, (Sydney: The Federation Press, 1997), hal.186.

Universitas Sumatera Utara

2.

Jika terjadi sengketa maka keseimbangan dalam masyarakat akan terganggu


sehingga harus dipulihkan pada keadaan semula agar kepentingan manusia
kembali terlindungi (restitutio in integrum). Perlindungan kepentingan itu
tercapai dengan adanya pedoman atau peraturan hidup yang menentukan
bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam masyarakat 35.
Secara filosofis, peraturan ini diperlukan supaya kehidupan bersama bisa diatur
dengan baik dan semua orang dapat menikmati ketentraman dan keadilan.
Dengan demikian jarak antara hukum dan keadilan tidak jauh. Jika setiap orang
menyadari bahwa hukum itu untuk keadilan maka mereka akan dengan rela
menaatinya dan tidak akan menganggap hukum sebagai larangan belaka
melainkan sebagai cita-cita hidupnya 36.
Kebutuhan pembangunan ekonomi menimbulkan konflik antara negara dan
masyakat adat. Pada masa Orde Baru, sengketa atau konflik yang terjadi terkait
dengan kebijakan pemerintah yang memberikan keleluasaan kepada pemilik
modal dalam melakukan berbagai investasi dengan maksud meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah
telah menempatkan pemerintah dan swasta sebagai aktor dominan dalam proses
pembangunan yang akhirnya menyebabkan munculnya sengketa atau konflik.

3.

Adanya anggapan tentang ketiadaan konsepsi perlindungan terhadap penduduk


lokal, terjadi karena tidak ada rumusan atau batasan yang tegas mengenai apa
yang disebut dengan masyarakat hukum adat. Padahal Pasal 3 UUPA telah
menegaskan pengakuan tersebut dengan menyebutkan : dengan mengingat
ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak
serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut
kenyataannya masih ada sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan
negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan
35

Sudikno Mertokusumo-I, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 1996a), hal.3-4.

Universitas Sumatera Utara

dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. Jelaslah


UUPA telah memberikan batasan-batasan yang berlaku untuk seluruh hak yang
sejenis hak ulayat yang terdapat di seluruh Indonesia secara nasional di
samping tentunya ada pembatasan-pembatasan yang khusus yang berlaku di
daerah/wilayah itu sendiri.
Prediksi ke depan mengenai sengketa pertanahan jika tidak ditangani dengan
baik, akan melahirkan revolusi agraria. Oleh karena itu akar konflik dan sengketa
pertanahan bersifat multi-dimensional sehingga tidak bisa dilihat hanya sebagai
persoalan agraria atau aspek hukum semata tetapi juga terkait variabel-variabel non
hukum. Aspek hukum meliputi antara lain kelemahan regulasi, sertifikasi tanah
secara nasional yang baru mencapai 30 persen, pengaturan tata ruang yang tak
kunjung tuntas, serta lemahnya penegakan hukum dan HAM. Variabel-variabel non
hukum antara lain politik pertanahan, ledakan jumlah penduduk, kemiskinan
(ekonomi), tuntutan pembangunan, perkembangan kesadaran hukum dan HAM
masyarakat, faktor budaya, adat istiadat (hukum adat), kemajuan ilmu pengetahuan
teknologi, khususnya teknologi informasi.
Sulit dipungkiri bahwa kondisi agraria Indonesia yang mencuat selama ini
adalah konflik agraria yang semakin mengeras. Tragedi berdarah akibat konflik
agraria yang berdimensi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) datang silih berganti.
Sebagian yang menjadi korban adalah komunitas masyarakat adat, dan kaum tani, tak
sedikit pula kaum miskin di perkotaan jadi bulan-bulanan penggusuran.
Kasus-kasus sengketa agraria ini mencakup sektor sektor agraria penting
seperti pertambangan dan perkebunan besar, kehutanan, fasilitas umum, konservasi,
pertanian, perkotaan, transmigrasi, serta kelautan dan pesisir.
Melihat kompleksitas sengketa agraria, menyadarkan kita bahwa kondisi
agraria di era reformasi belumlah berubah signifikan. Ketimpangan penguasaan tanah
serta kekayaan alam lainnya, yang dibumbui konflik agraria dengan dimensi
pelanggaran hak sipil-politik maupun hak ekonomi, sosial dan budaya, masih menjadi
menu sehari-hari yang belum mampu dituntaskan penyelenggara negara.
Sengketa agraria yang diwarnai kekerasan ini seolah menegaskan kembali
perlunya pelaksanaan reforma agraria sebagai jawaban kunci atas problem agraria.
Gagasan mengenai pembentukan mekanisme dan kelembagaan alternatif yang khusus
untuk menyelesaikan konflik agraria terasa semakin relevan.
36

Theo Huijbers, Filsafat Hukum, ( Yogyakarta: Kanisius,1990), hal.11.

Universitas Sumatera Utara

Akar dari sengketa agraria yang menampilkan wajah ketidakadilan merupakan


ekspresi politik agraria yang otoriter sebagai benteng dari politik agraria yang
kapitalistik. Politik agraria gaya Orba ini masih kuat diterapkan dalam rangka
mengamankan pembangunan. Puncak dari otoritarianisme adalah penggunaan
senjata dan alat kekerasan negara (bahkan premanisme) dalam mengusir rakyat dari
tanahnya sehingga korban di pihak rakyat berjatuhan.
Mengerasnya sengketa agraria menjadikan problem pokok agraria di
Indonesia makin mendesak untuk diselesaikan. Dalam konteks ini, kita perlu reforma
agraria untuk memastikan tanah dan kekayaan alam sungguh dikuasai, dikelola, dan
dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Kehendak Pemerintah untuk menjalankan reforma agraria, revitalisasi
pertanian dan pembangunan pedesaan hendaknya diterjemahkan, salah satunya dalam
bentuk mengupayakan secara serius pembentukan dan pembenahan mekanisme serta
kelembagaan khusus untuk penyelesaian konflik agraria.
Sebenarnya lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-pokok Agraria yang biasa disebut Undang-Undang Pokok Agraria yang
disingkat dengan UUPA, diharapkan hanya ada satu hukum tanah (unifikasi) yang
berlaku di seluruh Indonesia dan menghapus dualisme hukum bahkan pluralisme
hukum yang berlaku sebelumnya, akibat penerapan Pasal 131 dan Pasal 163 IS
(Indische Staatsregeling). Disamping itu juga diharapkan UUPA untuk mewujudkan
kepastian hukum hak atas tanah bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sebelum lahirnya UUPA, ketentuan Hukum Agraria Pemerintahan Belanda
diatur dalam Agrarische Wet 1870 yang tidak memberikan kepastian hukum terhadap
hak masyarakat hukum adat yang disebut dengan hak ulayat 37. Padahal keberadaan
hak ulayat ini diakui didalam Batang Tubuhnya, dapat dilihat pada Pasal 5 UUPA 38.
Pengakuan hak ulayat tersebut mengakibatkan adanya pembatasan terhadap
hak menguasai dari negara. Hal ini juga dapat dilihat dari Penjelasan Umum UUPA
bagian II yang menyatakan bahwa: .kekuasaan negara atas tanah-tanah inipun
sedikit atau banyak dibatasi pula oleh hak ulayat dari kesatuan-kesatuan hukum,
sepanjang kenyataannya masih ada.
UUPA sebagai ketentuan yang mengatur masalah tanah di seluruh wilayah
Republik Indonesia, menyatakan negara sebagai penguasa atas seluruh wilayah
Republik Indonesia. Hak menguasai dari negara ini memberikan wewenang
kepadanya (Pasal 2 ayat (2) ) untuk :

37

Yulia Mirwati, Konflik-Konflik Mengenai Tanah Ulayat Dalam Era Reformasi di Daerah Sumatera
Barat, disertasi, (Medan: PPS USU, 2002), hal.2.
38
Pasal 5 UUPA: Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang angkasa adalah hukum adat,
sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan kepada persatuan
bangsa, sosialisme Indonesia serta dengan peratutan-peraturan yang tercantum dalam Undang-Undang ini dan
peratutan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandarkan pada hukum
agama.

Universitas Sumatera Utara

a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan


pemeliharaan, bumi, air dan ruang angkasa tersebut,
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi, air dan ruang angkasa,
c. Menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatanperbuatan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Dengan adanya kewenangan dari negara untuk mengatur hubungan hukum
antara orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa maka diakui adanya macammacam hak atas tanah (Pasal 16 UUPA), dan hak atas tanah ulayat (Pasal 3 UUPA),
yang mempunyai konsep berbeda dengan pembatasan fungsi sosial (Pasal 6 UUPA).
Meskipun UUPA mengakui adanya hak ulayat (Pasal 3), namun dalam prakteknya
sering menimbulkan konflik 39.
Perdebatan mengenai kedudukan hukum adat dalam hukum agraria nasional
menimbulkan polemik seperti : bahwa hukum agraria nasional tidak bisa
dipertemukan dengan hukum adat karena keduanya saling bertentangan 40; bahwa
hukum agraria nasional, utamanya Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Pokok-Pokok Agraria (UUPA) didasarkan pada asas-asas hukum adat 41; bahwa
hukum adat sebagai pelengkap bagi hukum agraria nasional 42.
Perdebatan mengenai pengakuan terhadap keberadaan masyarakat adat dan
hak-hak mereka atas sumber daya alam juga hukum adat tidak pernah kehabisan
relevansi. Ada energi yang membuatnya selalu memiliki relevansi, yakni sengketa.
Jadi statemen penelitian ini adalah : pandangan bahwa terjadinya
konflik/sengketa hak atas tanah adat karena:
1. Adanya perbedaan persepsi antara masyarakat dan negara mengenai hak atas
tanah 43.
2.

Kebutuhan pembangunan ekonomi menimbulkan konflik antara negara dan


masyarakat adat (adanya politik ekonomi dan politik hukum). Konflik terkait

39

Konsep penguasaan Negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya telah
menjadi suatu alat yang ampuh menghilangkan kedaulatan masyarakat adat. Berbagai UU (UUPA,UU No.5
Tahun 1967, UU No.11 Tahun 1967), mendasarkan diri pada konsep hak menguasai negara yang merupakan
wujud kekuasaan Negara mengambil alih kedaulatan masyarakat adat atas tanah dan kekayaan alamnya, Noer
Fauzi Rachman, Masyarakat Adat dan Perjuangan Tanah Airnya, makalah, Kongres AMAN ke-4, 19 April 2012,
Tobelo, Halmahera Utara.
40
Kartohadiprojo dalam Abdurrahman, Kedudukan hukum adat dalam perundang-undangan Agraria di
Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1994), hal.11.
41
Hazairin dan Muhammad Koesnoe dalam Rikardo Simarmata , Pengakuan Hukum Terhadap
Masyarakat Adat di Indonesia, (Jakarta: UNDP, 2006), hal.1.
42
Sudargo Gautama dan Boedi Harsono dalam Rikardo Simarmata, ibid dan bagi mereka hukum adat
yang dimaksud oleh UUPA adalah hukum adat yang telah disaring dan dibersihkan dari unsur feodalisme dan
kolonialisme.

Universitas Sumatera Utara

dengan kebijakan pemerintah yang mempersempit bahkan menghilangkan


kewenangan kelompok masyarakat adat Simalungun.
3.

Sehingga dari segi hukum, ada anggapan tiadanya konsep perlindungan hukum
bagi penduduk lokal.

Pengertian land law (hukum pertanahan) dengan agrarian law (hukum


agraria) adalah berbeda meskipun UUPA menyebut hukum agraria tetapi saat ini
yang dimunculkan adalah hukum pertanahan 44. Untuk lebih memberikan pemahaman
kepada kita menurut Wiradi, 45 secara etimologis, kata agraria berasal dari bahasa
Latin ager yang berarti sebidang tanah, dalam bahasa Inggris acre. Dalam bahasa
Latin agrarius berarti yang ada hubungannya dengan tanah.
Pembagian atas tanah terutama tanah-tanah umum bersifat rural. Penelusuran
ini dimaksudkan oleh Wiradi untuk menjelaskan makna dua istilah yang
pemakaiannya hampir bersamaan yaitu antara landreform dan agrarian reform. Ada
yang mengatakan bahwa landreform merupakan bagian dari agrarian reform, tetapi
juga ada pendapat bahwa kedua istilah ini mengandung arti yang sama.
Indonesia menganut paham pertama yaitu landerform merupakan bagian dari
agrarian reform, hal ini berarti bahwa pengertian agararia (agrarian) lebih luas dari
pada tanah (land). Selanjutnya, pengertian lain mengenai agraria diberikan oleh
Boedi Harsono, satu, agraria berasal dari bahasa Latin ager berarti tanah atau
sebidang tanah, agrarius berarti Perladangan, persawahan, pertanian, jadi dengan
mengutip Blacks Law Dictionary, menurutnya agraria selalu diartikan tanah dan
dihubungkan dengan usaha pertanian 46. Dua, pengertian agraria di lingkungan
adminstrasi pemerintahan, agraria dipakai dalam arti tanah baik tanah pertanian
maupun non-pertanian. Tiga, pengertian agraria dalam UUPA yaitu meliputi bumi,
air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, bahkan termasuk juga ruang
angkasa yaitu ruang di atas bumi dan air yang mengandung tenaga dan unsur-unsur
yang dapat digunakan untuk usaha-usaha memelihara dan memperkembangkan
kesuburan bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan hal-hal
lain yang bersangkutan dengan itu. Dengan demikian, hukum agraria merupakan

43
Sumber utama sengketa adalah apa yang dimaksud dengan hak atas tanah. Erman Rajagukguk,
Hukum dan Masyarakat, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), hal.26.
44
M. Yamin Lubis, Kuliah mahasiswa S3 : Politik dan Teori Hukum Agraria, SPS USU, 20 Februari
2010.
45
G.Wiradi, Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria, dalam Sediono. M. P. Tjondronegoro dan
Gunawan Wiradi (penyunting), Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari
masa ke masa, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, PT. Gramedia, 1984), hal.312.
46
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi
dan Pelaksanaannya, Jilid I, Cetakan Kesembilan (Edisi Revisi), (Jakarta: Djambatan, 2003), hal.4-7.

Universitas Sumatera Utara

suatu kelompok berbagai bidang hukum, yang masing-masing mengatur hak-hak


penguasaan atas sumber daya alam yang termasuk pengertian agraria 47.
Tanah, tentu dipandang sebagai salah satu sumber daya alam namun
mengingat lahan pertanahan saat itu tak terukur luasnya maka tanah hanya dapat
dikuasai secara ipso facto artinya tanah dipandang dikuasai apabila secara nyata tanah
dimaksud ditempati, dimanfaatkan, diusahakan, dan dirawat oleh pemukim dan
penggarapnya untuk kesejahteraan manusia. Semakin lahan pertanahan dimaksud
ditempati, diolah dan dimanfaatkan secara nyata, maka hak penguasaan atas tanah
akan semakin menguat, sebaliknya semakin ditelantarkan maka hak penguasaan atas
tanah dimaksud akan semakin mengabur. Jika demikian halnya, hak individual itu
kembali tertransformasi menjadi tanah bebas 48, yang menurut konsep hukum adat
disebut tanah adat dan ini tetap menjadi polemik yang belum bisa terpecahkan hingga
saat ini.
B. Perumusan Masalah
Seperti disebutkan bahwa suatu masalah itu adalah merupakan proses yang
mengalami hambatan di dalam mencapai tujuannya, dan hambatan ini hendak diatasi
sebagaimana yang akan dicarikan penyelesaiannya ke penelitian lapangan. 49 Sebelum
merumuskan masalah dalam penelitian ini, diambil ukuran perumusan masalah pada
pandangan teoritis, sebagaimana dikemukakan oleh Kerlinger, bahwa ciri-ciri
masalah yang baik adalah :
1. Masalah yang dihadapi harus memiliki nilai penelitian.
2. Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.
3. Harus sesuai dengan kualifikasi penelitian. 50
Sehingga bila diwujudkan dalam objek yang akan diteliti ini perlu terlebih
dahulu dikemukakan indentifikasi yang akan dirumuskan, supaya rumusan
permasalahn itu dapat ditangkap sebagaimana yang akan diteliti dan ditelaah serta
dianalisis menurut landasan berfikir ilmiah.
Berdasarkan hal yang telah dipaparkan di atas, maka dirumuskan beberapa
permasalahan yang dapat membantu penulisan disertasi ini agar lebih fokus dan
terarah yakni :

47

Ibid, hal.17.
Ade Saptomo, Dibalik Sertifikasi Hak Atas Tanah dalam Perspektif Pluralisme Hukum, makalah
(Padang: Universitas Andalas, 2010), hal.207.
49
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1984), hal.109.
50
Maria S.W Sumardjono, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, (Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada, 1989), hal.9.
48

Universitas Sumatera Utara

1. Bagaimana status hukum hak atas tanah adat di Kabupaten Simalungun dalam
Sistem Hukum Pertanahan Nasional ?
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan timbulnya sengketa hak atas tanah adat di
Kabupaten Simalungun ?
3. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam hal menyelesaikan sengketa hak atas
tanah adat di Kabupaten Simalungun ?

C. Tujuan Penelitian
Hak-hak penguasaan atas tanah yaitu berisikan serangkaian wewenang,
kewajiban dan/atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu dengan
tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib dan/atau dilarang untuk diperbuat
itulah yang merupakan tolok pembeda antara berbagai hak penguasaan atas tanah
yang diatur dalam Hukum Tanah Negara yang bersangkutan. Hak-hak penguasaan
tanah dapat juga diartikan sebagai lembaga hukum, jika belum dihubungkan
dengan tanah dan subjek tertentu. Hak-hak penguasaan tanah dapat juga merupakan
hubungan hukum konkret jika sudah dihubungkan dengan tanah tertentu dan subjek
tertentu sebagai pemegang haknya.
Oleh karenanya melalui penelitian ini, tujuan yang akan diperoleh adalah data
empirik mengenai :
1. Status hukum hak atas tanah adat di Kabupaten Simalungun dalam Sistem Hukum
Pertanahan Nasional. Jika memang masih eksis, keberadaannya perlu mendapat
pengakuan dan perlindungan hukum, dan jika memang benar-benar tidak eksis
lagi, masyarakat etnis Simalungun harus juga mengakuinya. Jadi tanah dalam
studi ini adalah tentang caranya mengendalikan kepemilikan tanah bagi
perseorangan dan badan hukum agar tidak terjadi kesenjangan dan monopoli
tanah. Sehingga diharapkan tidak akan terjadi seperti yang dilansir harian ibukota,
bahwa ribuan petani, nelayan, mahasiswa, perangkat desa, dan warga (Kompas,

Universitas Sumatera Utara

12-01-12), berujuk rasa di sejumlah daerah. Masyarakat mendesak Pemerintah


memulihkan hak rakyat, terutama terkait hak atas tanah adat, dan merevisi
undang-undang yang merugikan rakyat.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya sengketa hak atas tanah adat di
Kabupaten Simalungun.
3. Cara penyelesaian sengketa hak atas tanah adat di Kabupaten Simalungun.

D. Manfaat Penelitian
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
perkembangan ilmu hukum, khususnya hukum agraria nasional yang memposisikan
hukum adat sebagai sumber utama pengembangannya melalui salah satu prinsip
keanekaragaman dalam kesatuan hukum.
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan :
1. Dapat memberikan masukan kepada Pemerintah, terutama Pemerintah Daerah /
Kabupaten Simalungun dalam pengaturan tanahnya, termasuk penyelesaian
sengketa tanah.
2.

Membuka cakrawala yang lebih luas para pembuat kebijakan untuk


mempertimbangkan banyak sistem hukum yang terkait.

3.

Sebagai tempat bekerjasamanya sistem-sistem hukum tersebut.

4.

Untuk mengurangi/menghindari sengketa hak atas tanah (adat) dan upaya


menyelesaikan konflik hak atas tanah (adat).

5.

Kepada Pemerintah Pusat dalam rangka pembuatan peraturan perundangundangan yang mendukung terwujudnya prinsip keanekaragaman dalam
kesatuan hukum agraria. Hasil penelitian ini diharapkan akan menyajikan
penjelasan bagi Pemerintah Pusat bagaimana akibat dari ketidaksinkronan

Universitas Sumatera Utara

peraturan perundang-undangan bidang sumber daya agraria bagi upaya


pemberian kepastian hukum kepada pihak yang berkepentingan.

E. Kerangka Teori dan Konsepsi


1.

Kerangka Teori

Kerangka (landasan) teori menurut M. Solly Lubis adalah suatu kerangka


pemikiran atau butir-butir pendapat, teori thesis mengenai sesuatu kasus atau
permasalahan (problem) yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis yang
mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat
kerangka berfikir dalam penulisan. 51
Teori yang akan dijadikan landasan dalam studi ini adalah teori sistem
hukum dari Lawrence M.Friedman. Sistem hukum dalam suatu masyarakat
merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat tersebut. Menurut Lawrence M.
Friedman 52, sistem hukum terdiri dari : struktur hukum (legal structure), substansi
hukum (legal substance) dan budaya hukum (legal culture), ketiga komponen ini
akan menentukan berjalannya suatu hukum dalam masyarakat.
Pertama-tama, sistem hukum mempunyai struktur. Sistem hukum terus
berubah, namun bagian-bagian sistem itu berubah dalam kecepatan yang berbeda, dan
setiap bagian berubah tidak secepat bagian tertentu lainnya. Ada pola jangka panjang
yang berkesinambungan, aspek sistem yang berada disini kemarin (atau bahkan pada
abad yang terakhir) akan berada di situ dalam jangka panjang. Inilah struktur sistem
hukum, kerangka atau rangkanya, bagian yang tetap bertahan, bagian yang memberi
semacam bentuk dan batasan terhadap keseluruhan.
Struktur hukum (legal structure) adalah lembaga-lembaga atau instansi yang
akan menjalankan proses dalam penegakan hukum, semacam kerangka sistem
hukum, ruang lingkup struktur hukum (penegak hukum) sangat luas, karena
mencakup mereka secara langsung atau tidak langsung berkecimpung di bidang
penegakan hukum, namun dalam arti sempit, penegak hukum mencakup mereka yang
bertugas di bidang kehakiman, kejaksaan, kepolisian, pengacara dan lembaga
pemasyarakatan.
Aspek lain sistem hukum adalah substansinya. Yang dimaksud dengan
substansi adalah aturan, norma, dan pola perilaku nyata manusia yang berada dalam
sistem itu. Substansi hukum (legal substance) berarti produk yang dihasilkan oleh
orang yang berada dalam sistem hukum itu, produk yang dikeluarkan, aturan-aturan
baru yang mereka susun dengan kata lain bagian dari budaya hukum itulah yang
menyagkut sistem hukum. Pemikiran dan pendapat ini sedikit banyak menjadi
51
52

M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), hal.80.
Lawrence M. Friedman, American Law, (New York : W.W Norton and Company, 1984), hal.7.

Universitas Sumatera Utara

penentu jalannya proses hukum. 53 Substansi juga berarti produk yang dihasilkan
oleh orang yang berada di dalam sistem hukum itu, keputusan yang mereka
keluarkan, aturan baru yang mereka susun.
Jadi penekanannya di sini terletak pada hukum yang hidup (the living law ),
bukan hanya pada aturan dalam kitab hukum ( law books ). Hal ini menuju komponen
ketiga dari sistem hukum yaitu budaya hukum.
Budaya hukum adalah sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum,
kepercayaan, nilai, pemikiran, serta harapannya. Bagian dari budaya umum itulah
yang menyangkut sistem hukum.
Budaya hukum (legal culture) pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang
mendasari hukum yang berlaku. Nilai-nilai ini merupakan konsepsi yang abstrak
mengenai apa yang dianggap baik sehingga diikuti, dan apa yang dianggap buruk
sehingga dihindari. Nilai-nilai ini lazimnya merupakan pasangan nilai yang
mencerminkan dua keadaan yang ekstrim yang harus diserasikan. Pasangan nilai yang
berperan dalam penegakan hukum adalah :
1. Nilai ketertiban dan nilai ketentraman
2.

Nilai jasmaniah (kebendaan) dan nilai rohaniah (keakhlakan)

3.

Nilai kelanggengan (konservatisme) dan nilai kebaruan (innovation).

Setiap masyarakat, setiap daerah, setiap kelompok, mempunyai budaya


hukum. Mereka memiliki sikap dan pandangan terhadap hukum yang tidak selalu
sama. Dengan kata lain ide, pandangan dan sikap masyarakat terhadap hukum
dipengaruhi budaya hukum seperti suku etnik, usia, jenis kelamin, status sosial
ekonomi, kebangsaan, pekerjaan dan pendapatan, kedudukan, kepentingan,
lingkungan agama. Budaya hukum juga dapat berubah akibat pendidikan,
modernisasi, teknologi dan masuknya unsur asing dan berbagai pergerakan
pembaharuan seperti pergerakan wanita dan terkandung konsep individualisme.
Bobot keterkaitan penting teori Friedman dengan studi ini terletak pada
faktor-faktor berikut :
1. Munculnya perkembangan dan formulasi kebijakan bahan bentuk peraturan dan
penanganan dalam Hukum Tanah Indonesia berlangsung dalam tatanan sosial
yang dipenuhi dengan nilai, harapan-harapan orientasi yang berkembang dalam
masyarakat. Kekuatan-kekuatan tersebut saling menentukan dan mempengaruhi.

53

Eggi Sudjana dan Riyanto, Penegakan Hukum Lingkungan dalam Perspektif Etika Bisnis di
Indonesia, cetakan pertama, (Jakarta: Gramedia Pustaka Umum, 1999), hal.8.

Universitas Sumatera Utara

2. Reformulasi kebijakan di bidang pertanahan, khususnya pemberian ijin


penggunaan tanah dalam Hukum Tanah Indonesia merupakan puncak
pertarungan, perdebatan semata. Pertarungan dan perdebatan tersebut, bisa jadi
disebabkan oleh perbedaan kepentingan, nilai, orientasi dan harapan dari setiap
kekuatan politik.
3. Persidangan yang dilakukan oleh judikatif dalam Hukum Tanah Indonesia
merefleksikan dua peristiwa sekaligus; hukum dan politik. Kedua unsur tersebut
tercakup dalam konsep Legal Culture. Pilihan ini juga ditopang oleh pemikiran
Frans Magnis Suseno. 54 untuk menemukan perasaan masyarakat, maka semua
unsur yang relevan dengan tertib hukum harus diperhitungkan. Unsur-unsur itu
adalah nilai, norma-norma kehidupan, pola dan struktur hidup, demikian juga
hubungan sosial. Dalam konteks ini akan kelihatan apa yang adil dan apa yang
tidak.
Aliran idealis pada Mazhab Sejarah, yang diwakili oleh von Savigny,
memandang hukum tumbuh dan berlaku dalam masyarakat. Hukum ditemukan tidak
dibuat (recht wird nicht gemacht, es ist und wird mit dem volke) , hukum berkembang
dari hubungan-hubungan hukum yang mudah dipahami pada masyarakat tradisional
ke hukum yang lebih kompleks dalam peradaban modern. Dikatakan juga bahwa
undang-undang tidak berlaku atau tidak diterapkan secara universal. Setiap
masyarakat mengembangkan hukum kebiasaan sendiri, sebagaimana bahasa adatistiadat dan konstitusi yang khas. 55 Hukum mengikuti jiwa rakyat (volgeist) dari
masyarakat tempat hukum itu berlaku, karena itulah maka hukum merupakan produk
budaya suatu bangsa 56
54

Frans Magnis Suseno, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, (Jakarta:
Gramedia, 1994), hal.112.
55
Lawrence M. Friedman, Legal Theory, (New York: Columbia University, 1967), hal. 211, lihat juga
Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Kanisius, 1986), hal.118.
56
P.Purbacaraka dan M.Chaidir Ali, Disiplin Ilmu Hukum, (Bandung: P.T Citra Aditya, 1990),hal. 20,
lihat juga Iman Sudiyat, Asas-Asas Hukum Adat, Bekal Pengantar, (Yoyakarta: Liberty, 1991), hal.34 dan Kurnia
Warman, Hukum Agraria Dalam Masyarakat Majemuk, (Jakarta: KITLV, 2010), hal.393.

Universitas Sumatera Utara

Pengaruh pemikiran Savigny ini sangat terasa di Indonesia melalui para ahli hukum
Belanda, sehingga melahirkan suatu cabang ilmu hukum yang baru yang dikenal
sebagai hukum adat, dipelopori oleh van Vollenhoven, Ter Haar dan lain sebagainya.
Jadi jelas membicarakan hukum adat, asas-asasnya, konsepsinya, lembagalembaganya, dan norma-normanya tidak terlepas dari membicarakan mazhab sejarah
ini.
Hukum oleh Roscoe Pound diyakini sebagai suatu alat untuk membangun
masyarakat, dimaksudkan agar tidak ada kesenjangan antara hukum, dalam artian
ketentuan abstrak yang seharusnya berlaku, dengan hukum dalam artian nilai yang
hidup dalam masyarakat sebagai pedoman bertingkah laku 57.
Perlu disampaikan lebih dahulu konsep-konsep filosofis yang digunakan
sebagai alat untuk menjelaskan makna apa yang terdapat di balik hak atas tanah.
1. Globalisme
Globalisme sebagai suatu konsep filosofis dapat menunjuk kepada suatu
proses penyebaran sesuatu ke seluruh penjuru dunia yang dikerjakan oleh
suatu kekuatan tertentu. Kekuatan dimaksud mengerjakan suatu proses
yang membawa serta warga masyarakat di seluruh penjuru dunia untuk
menerima peradaban baru, tidak saja dalam bidang teknologi, tetapi juga
bidang ekonomi, sosial budaya, dan hukum. Dengan begitu ia berisi suatu
proses penggantian filsafat yang telah dianut oleh masyarakat tempatan
dengan filsafat luar yang terbawa serta dalam arus globalisasi.
2. Individualisme
Individuaalisme sebagai konsep filosofis menggerakkan masyarakat di
seluruh dunia untuk menerima sebuah proses menuju kemajuan material
dengan sebuah taruhan berisiko tinggi yang tak dapat terbagi kepada
orang lain. Artinya secara substansial, ada kekuatan yang mengglobalkan
suatu ide beserta hasil-hasilnya ke dalam kehidupan materi semua umat
manusia.
3. Hedonisme
Hedonisme dimaksud diartikan sebagai faham pencapaian kekayaan,
kekuatan, ketenaran, dan kekuasaan. Artinya, petualangan kearah
perbaikan kehidupan manusia dilakukan dengan tujuan menjadikan hidup
mereka serba berkecukupan materi. Fanatisme perjuangan demikian
melahirkan sebuah pandangan bahwa tujuan hidup didunia tidak lain
adalah mencari kehidupan bergelimang materi. Faham yang menekankan
materi demikian ini biasa disebut materialism (materialism), suatu faham
yang memacu mereka untuk berjuang keras untuk memperoleh harta
kekayaan dalam jumlah sebanyak-banyaknya 58.

57
Mas Soebagio dan Slamet Supriatma, Dasar-dasar Filsafat Suatu Pengantar ke Filsafat Hukum,
(Jakarta : Akademika Presindo, 1988), hal. 69.
58
Ade Saptomo, Dibalik Sertifikasi, makalah, Op. Cit. hal. 209.

Universitas Sumatera Utara

Hak atas tanah meliputi semua hak yang diperoleh langsung dari Negara disebut
hak primer dan semua hak yang berasal dari pemegang hak atas tanah lain
berdasarkan pada perjanjian bersama, disebut hak sekunder. Kedua hak tersebut pada
umumnya mempunyai persamaan, dimana pemegangnya berhak untuk menggunakan
tanah yang dikuasainya untuk dirinya sendiri atau untuk mendapat keuntungan dari
orang lain melalui perjanjian dimana satu pihak memberikan hak-hak sekunder pada
pihak lain. 59
Lahirnya UUPA maka dualisme hukum tanah yang selama ini terjadi menjadi
hapus. Bahagian terbesar dari Hukum Barat atas tanah dengan tegas digugurkan dan
dengan tegas pula dinyatakan bahwa Hukum Adatlah sebagai dasar bagi soal-soal
agraria. 60
Pengakuan eksistensi hak ulayat hukum adat oleh UUPA merupakan hal yang
wajar karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum
terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Konsep interaksi antar hukum, menurut pandangan Moores (1987), 61 jika
hukum negara dan hukum lokal berinteraksi di dalam lokal sosial sama (one social
field) diduga akan melahirkan empat kemungkinan. Kemungkinan dimaksud
diasumsikan sebagai integrasi (integrate), yaitu penggabungan sebagian hukum
Negara dan hukum lokal, inkoorporasi (incoorporate) yaitu penggabungan konflik
(conflict) yang tidak terjadi penggabungan sama sekali mengingat hukum negara dan
hukum lokal dimaksud saling bertentangan, dan menghindar (avoidance) yaitu salah
satu hukum menghindari keberlakukan hukum yang lain.
Positivisme hukum membentuk dasar ideologi hukum modern maka
sistem hukumnya sudah pasti pula menerapkan pendekatan yang
sentralistis. Peranan negara dalam ranah tatanan normatif sangatlah
mendasar, sehingga apa yang sebenarnya kita sebut dengan hukum dalam
prakteknya hanyalah hukum yang diproduksi oleh negara, sementara
banyak tatanan normatif non negara lainnya berada di luar cakupan defenisi
hukum. Dengan kata lain, posisi hukum negara sangat sentral, sementara
posisi hukum lainnya hanyalah pinggiran. Pada titik ini, positivisme hukum
Austinian yang menganggap tidak ada yang melebihi ekspresi kehendak
kekuasaan yang berdaulat, mengambil alih posisi. 62
59

Shodiq Tri Yuliadi, Hukum Tanah dan Tata Guna Tanah, Hak Milik Atas Tanah, makalah,
(Purwokerto: Univ Muhammadiyah, 2010), hal.1.
60
Kosnoe, Catatan-catatan terhadap Hukum Adat Dewasa ini, (Surabaya: Airlangga University Press,
1979), hal.161.
61
Stardford W.Moorse and Gordon R.Woodman, Indigeneous Law and State, (Dordrecht Holland: Faris
Publications, 1987), hal.33.
62
Secara umum lihat John Austin, The Province of Yurisrudence Determined and the uses of the study
of Yurisprudence, 3rd, (London: weidenfeld and Nicholson, 1968 lihat pula Austin, Lecture on Yurisprudence or
the fhilosophy of positive law, (London: John Murray, 1875), hal.14. maksudnya menurut aliran positivisme,
hukum adalah peraturan yang dibuat oleh penguasa (semacam lembaga legislatif/Dewan Perwakilan Rakyat,
yang berdaulat), yang bersifat tertulis bahkan terkodifikasi seperti undang-undang jadi bukan hukum yang tidak
tertulis seperti Hukum Adat.

Universitas Sumatera Utara

Apapun bentuk kekuasaan itu, bisa dikatakan memiliki personalitas hukum


masing-masing warga negara, dan dalam kenyataannya; memiliki hukum itu sendiri.
Namun ini adalah dilema definisi hukum itu sendiri, karena kriteria positivistik seperti
itu secara otomatis akan menciptakan batasan yang tidak mungkin diterapkan pada
institusi hukum. Kalau validitas hukum hanya berasal dari negara maka semua tradisi
normatif, kebiasaan, ajaran agama dan tatanan lainnya yang terdapat di dalam
masyarakat tentu akan dianggap berada di luar cakupan hukum.
Kenyataannya, hukum harus dipahami sebagai sesuatu yang memiliki
validitas polisentris, validitas hukum tidak hanya terbatas pada tindakan, aturan dan
keputusan pengadilan di mana peran negara tidak bisa dihindari (seperti biasa
ditemukan dalam logika realisme hukum), tapi harus diperluas agar mencakup
norma-norma sosial apapun yang teramati, yang diciptakan dan dipertahankan di
dalam sebuah komunitas atau dalam asosiasi apapun di tengah-tengah masyarakat.
Kalau masalahnya seperti itu, meski ini adalah fenomena universal, maka hukum bisa
diejawantahkan dalam berbagai cara. Inilah yang bisa dipahami dari tokoh-tokoh
lama aliran hukum polisentris semisal Ehrlich, Malinowski, Gurvitch, Hoebel,
Gluckman, Bohannan, Pospisil, dan lain-lain. 63 Bagi mereka, meski dalam beberapa
hal peran negara tidak bisa dihindari, hukum negara bukanlah satu-satunya fakta
normatif karena di sana ada hukum-hukum lainnya selain hukum negara modern.
Secara sosiologis, hukum tidak tertulis senantiasa akan hidup terus dalam
masyarakat. Sehubungan dengan hal itu, perlu dicatat asumsi-asumsi sebagai berikut.
1. Hukum tidak tertulis pasti ada karena hukum tertulis tidak akan mungkin
mengatur semua kebutuhan masyarakat yang perlu diatur dengan hukum.
2.

Pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial yang cepat, peranan
hukum tidak tertulis lebih menonjol dari hukum tertulis.

3.

Yang menjadi masalah adalah mana yang merupakan hukum tidak tertulis yang
dianggap adil. 64

Pandangan pluralistik mengenai hukum semacam itu bukannya tidak logis,


terutama jika dipandang dari perspektif budaya dan dimensi sosio-antropologis.
Pemahaman tentang hukum sebagai institusi budaya dan tradisi memungkinkan
munculnya defenisi yang lebih bersifat open-ended, sehingga bisa, yaitu dari negara
dan non negara, sakral atau sekuler. Dengan begitu, istilah hukum dengan
63

Ratno Lukito, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler, Studi tentang Konflik dan Resolusi dalam Sistem
Hukum Indonesia, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2008), hal.7.
64
Rehngena Purba , Hukum Adat dalam Yurisprudensi, Majalah Hukum Nasional No. 2 Tahun 2006,
ISSN 0216 0227, BPHN, Departemen Hukum dan HAM RI, hal. 41.

Universitas Sumatera Utara

sendirinya bisa diterapkan kepada bermacam ragam norma sosial yang diproduksi
oleh tatanan normatif, dan norma apapun dipertahankan dalam bidang-bidang
kehidupan masyarakat bisa dianggap mencerminkan manifestasi hukum. Akibatnya,
kebenaran fenomena hukum tidak hanya dipahami dalam hal keragaman bentuknya,
tapi juga keragaman sumbernya. Agama dan adat kebiasaan serta institusi negara
sendiri bisa sama-sama diterima sebagai produsen hukum, dan tatanan yang
dihasilkannya bisa berdampingan dalam interaksi dan kompetisi satu sama lain.
Keadaan seperti ini juga membukakan kemungkinan terjadinya asimilasi dan
penggabungan antara elemen-elemen hukum itu melalui berbagai cara. Jadi hukum
negara tidak akan bekerja efektif kalau tidak sesuai dengan konteks sosialnya.
Di samping teori sistem hukum itu teori yang dipergunakan sebagai alat
pendekatan dalam kerangka mencari dan merumuskan penyelesaian sengketa hak atas
tanah adat dalam Sistem Hukum Pertanahan Nasional di Kabupaten Simalungun
adalah teori yang dikemukakan oleh Griffith tentang pluralisme hukum. 65
Pluralisme adalah merupakan ciri hukum dalam masyarakat modern, yaitu
adanya hukum negara di satu sisi, dan sisi lain adanya juga berbagai bentuk sistem
pengaturan yang beroperasi dalam masyarakat. Pandangan pluralisme hukum dapat
menjelaskan bagaimana hukum yang beraneka ragam itu secara bersama-sama
mengatur berbagai peristiwa hukum dan menyelesaikan berbagai sengketa yang
terjadi dalam masyarakat sehari-hari. 66
Dalam konteks apa orang memilih aturan-aturan tertentu atau gabungan dari
berbagai aturan-aturan tertentu dan dalam konteks apa memilih pola dan mekanisme
penyelesaian sengketa tertentu. Yang dimaksudkan dengan kemajemukan hukum
(legal pluralism) adalah suatu situasi dimana dapat ditemukan dua atau lebih (sistem)
hukum yang berlaku dalam masyarakat.
Sampai saat ini sudah banyak konsep dan atribut mengenai pluralisme hukum
yang diajukan oleh para ahli. Para legal pluralist pada masa permulaan (1970 an)
mengajukan konsepsi pluralisme hukum yang meskipun agak bervariasi, namun pada
dasarnya mengacu pada adanya lebih dari satu sistem hukum yang secara bersamasama berada dalam lapangan sosial yang sama. 67 Seperti yang dikemukakan oleh
Sally Engle Merry, pluralisme hukum is generally defined social field, dan konsep
klasik dari Griffith, yang mangacu pada adanya lebih dari satu tatanan hukum dalam
suatu arena sosial By legal pluralism mean the presence in a social field of more
than one legal order. 68
Selanjutnya Griffith 69 membedakan pula adanya dua macam pluralisme
hukum yaitu weak legal pluralism (pluralisme hukum yang lemah), dan strong legal
65

Sulystyowati Irianto, Perempuan diantara Berbagai pilihan hukum (studi mengenai strategi perempuan
Batak Toba untuk mendapatkan akses kepada harta warisan melalui proses penyelesain sengketa), disertasi,
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hal.57.
66
Runtung, disertasi, Op Cit, hal. 25.
67
Ibid, hal.38.
68
Ibid
69
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

pluralism (pluralisme hukum yang kuat). Menurut Griffith pluralisme hukum yang
lemah adalah bentuk lain dari sentralisme hukum, karena meskipun mengakui adanya
pluralisme hukum, tetapi hukum negara tetap dipandang sebagai superior, sedangkan
hukum-hukum yang lain disatukan dalam hirarki di bawah hukum negara. Pluralisme
hukum yang kuat menurut Giffith merupakan produk dari para ilmuan sosial, adalah
pengamatan ilmiah mengenai fakta adanya kemajemukan tatanan hukum yang
terdapat di semua (kelompok) masyarakat. Semua sistem hukum yang ada dipandang
sama kedudukannya dalam masyarakat, tidak terdapat hierarki yang menunjukkan
sistem hukum yang satu lebih tinggi dari yang lain. 70 Semua sistem hukum yang ada
diakui dalam masyarakat dan beroperasi dalam kerangka hukum formal (sistem
Hukum Barat, sistem Hukum Islam, sistem Hukum Adat). Penerapan hukum adat
beserta lembaganya diakui selama tidak bertentangan dengan kebijakan publik dan
hukum alam 71 dalam pengertian sempit ini (state law pluralism), paling tidak dua
sistem hukum yang masing-masing bersifat otonom, hidup berdampingan dan
berinteraksi dalam peristiwa-peristiwa tertentu, ini ditandai dengan dominasi hukum
negara terhadap hukum adat.
Pengamatan sepintas menunjukkan bahwa secara teoritis Indonesia lebih
cenderung menganut weak legal pluralism atau state law pluralism. Dengan catatan
bahwa pengakuan dan pengadopsian hukum adat tidak hanya ditempuh melalui
perundang-undangan, tetapi juga melalui yurisprundensi. 72 Griffith memasukkan
pandangan beberapa ahli ke dalam pluralisme hukum yang kuat, antara lain teori
living law dari Eugene Ehrlich, yaitu aturan-aturan hukum yang hidup dari tatanan
normatif, yang dikontraskan dengan hukum negara.
Pandangan lain adalah teori Semi Autonomous Social Field (SASF) dari Sally
Falk Moore.
Sehubungan dengan teorinya tersebut Moore 73
...merupakan suatu fakta bahwa bidang yang kecil dan untuk sebagian
otonom itu dapat menghasilkan peraturan-peraturan dan adat kebiasaan
serta simbol-simbol yang berasal di dalam, tapi di lain pihak bidang
tersebut juga rentan terhadap aturan-aturan dan keputusan-keputusan dan
kekuatan-kekuatan lain yang berasal dari dunia luar yang mengelilinginya.
Bidang sosial yang semi otonom ini memiliki kapasitas untuk membuat
aturan-aturan dan sarana untuk menyebabkan atau memaksa seseorang
tunduk pada aturannya, tapi sekaligus juga berada dalam suatu kerangka
acuan sosial yang lebih luas yang terdapat dan memang dalam

70

Ibid.
J.C Bekker, JMT Labuschagne, LP Vorster, Introduction to legal Pluralism in South Africa, (London:
Butter Worths, 2003), hal.343.
72
Maria S.W Sumardjono, Tanah dalam Persepektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, (Jakarta:
Penerbit Buku kompas, 2009), hal.57.
73
Sally Falk Moore, Hukum dan Perubahan Sosial, terjemahan Sulistyowati Irianto dkk, dalam T.O
Ihromi (Ed), Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), hal.150.
71

Universitas Sumatera Utara

kenyataannya mempengaruhi dan menguasainya, kadang-kadang karena


dorongan dari dalam, kadang-kadang atas kehendaknya sendiri.
Konsep pluralisme hukum berkembang tidak lagi menonjolkan dikotomi
antara sistem hukum negara di satu sisi dan sistem hukum rakyat di sisi lain. Pada
tahap ini konsep pluralisme hukum lebih menekankan pada a variety of interacting,
competing normative orders each mutually influencing. The emergence and operation
of each others rules, processes and institution 74
Frans von Benda-Beckman 75 salah seorang ahli yang dapat digolongkan ke
dalam tahap perkembangan ini. dikatakan bahwa tidak cukup untuk sekedar
menunjukkan bahwa di lapangan sosial tertentu terdapat keanekaragaman hukum.
Namun yang lebih pantas adalah apakah yang terkandung dalam keanekaragaman
hukum tersebut, bagaimanakah sistem-sistem hukum tersebut saling berinteraksi
(mempengaruhi) satu sama lain, dan bagaimanakah keberadaan dari sistem-sistem
hukum yang beragam itu secara bersama-sama dalam lapangan kajian tertentu.
Pada tahap perkembangan ini (akhir 1990-an) terdapat variasi pandangan,
yang ditunjukkan oleh adanya konsep pluralisme hukum yang tidak didasarkan pada
mapping yang dibuat sendiri, setiap melihatnya pada tatanan individu yang menjadi
subjek dari pluralisme hukum tersebut. 76 Lihatlah bagaimana Gordon Woodman
mengajukan konsepnya.
legal pluralisme in general may be defined as the state of affairs in
which a category of social relations is within the field of operation of
two or more bodies of legal norms. Alternatively, if it is viewed not from
above in the process of mapping the legal universe but rather from the
perspective of the individual subjek of law, legal pluralism may be said
to exist whenever a person is subject to more than one body of law.
Jadi sebenarnya bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat
hukum adat terhadap tanah/wilayah yang diambil alih pemerintah (misalnya untuk
kawasan hutan atau pertambangan) bisa dilihat sebagai perwujudan dari strong legal
pluralism (pluralisme hukum kuat).Pada sisi lainnya, aturan-aturan dari luar
masyarakat hukum adat (kebijakan kehutanan, dan lain sebagainya./hukum negara)
mencoba memberlakukan diri dalam lapangan sosial tersebut secara bersamaan,
sehingga hal ini menggambarkan situasi Semi-Autonomous Social Fields (SASF),
yang oleh Falk Moore dinyatakan sebagai kemampuan untuk mengatur diri sendiri
komunitas (self regulating) dalam lapangan sosial tertentu terlihat otonom. Namun,
otonominya tidak bersifat total karena masih dipengaruhi oleh aturan atau hukum dari
74
Roderick A. Macdonald Kleinhans,Martha-Marie,What is a Critical Legal Pluralism, Canadian
Journal of Law and Society,vol 12 no.2/ 1997, hal.25-27
75
Frans Von Benda Beckmann, Some Comperative Generalizations about the Differential Use of State
and Falk Institutions of Dispute Settlemet, dalam Antony Allot dan Gordon Woodman (ed), Peoples Law and
State Law. The bellagio Papers, (Dordrecht: Faris Publications, 1990), hal.2.
76
Ibid

Universitas Sumatera Utara

luar lapangan sosial tersebut. 77 Persinggungan antar hukum (hukum adat dengan
hukum negara) bukan hanya melahirkan kontradiksi atau pertentangan, namun juga
melahirkan hubungan inkorporasi (penggabungan sebagian aturan sebuah sistem
hukum ke dalam sistem hukum lainnya) dan penghindaran (salah satu sistem hukum
menghindari keberlakuan sistem hukum lainnya). 78 Terjadinya pengakuan dan
legimitasi masing-masing sebagai hukum, tetap melahirkan suatu hukum baru
(reflective of law), dengan demikian efektiflah berlakunya hukum itu dalam satu
sistem hukum yang memberikan rasa aman bagi semua masyarakat tanpa dirasakan
sifat diskriminatifnya, 79 bahkan membentuk satu dedikasi hukum yang tinggi, yakni
kesediaan dan kerelaan untuk mematuhi hukum sepenuh hati dari masyarakatnya.
Dalam posisi seperti ini,
Gunther melihat dan menyebutnya sebagai refleksi baru, berkembang
sebagai akibat krisis hukum dalam menampung perkembangan sosial.
Sehingga terbentuk integrasi dalam pertentangan bidang-bidang kehidupan
yang ada. Lebih lanjut disebutkannya, untuk mencapai integrasi dalam
diferensiasi antara kehidupan hukum sosial dengan kehidupan hukum
fungsional harus dibiarkan terrefleksi sebagai suatu yang tidak
dipertentangkan . ditumbuhkan sebagai bagian atau sub-sub sistem, untuk
mengikat satu sistem hukum yang baru. Di sinilah fungsi hukum dapat
digunakan sebagai rasionalitas substantif sehingga menimbulkan
rasionalitas refleksifnya hukum tersebut. Peranan refleksif ini akan
mendamaikan ketegangan yang melekat antara fungsi dan pelaksanaan.
Sesuai dengan batas-batas internalnya 80
Diharapkan hasil dari refleksi itu akan melahirkan harmonisasi dalam
pelaksanaan 81. Harmonisasi menunjukkan perhatian seimbang untuk menciptakan
koordinasi serta penyesuaian di antara dua posisi yang berbeda. Selanjutnya, kata
harmonisasi juga akan membawa penyesuaian dan pencocokan antara dua posisi yang
berbeda, karena tidak ada kebutuhan untuk mewujudkan harmonisasi di antara posisi
yang sama 82
Ada empat alasan mengapa harmonisasi diperlukan,
1. Karena keadaan darurat,
2. Tidak wajar untuk meninggalkan undang-undang yang sudah ada,

77

Ibid
Ibid
79
M.Yamin, Perkembangan Hukum Adat di Indonesia: studi mengenai refleksi gadai tanah di
Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, disertasi, (Medan: PPS.USU, 2002), hal.58.
80
Gunter Teubner, Dilemma of law in the Welfare State dalam Yamin, disertasi, ibid.
81
Utari MB, Penerapan Hukum Perjanjian Islam Bersama-Sama Dengan Hukum Perjanjian menurut
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Studi Mengenai Akad Pembiayaan Antara Bank Syariah
dan Nasabahnya di Indonesia, disertasi, (Medan: SPS.USU 2006), hal.30-34.
82
Mohammad Hashim Kamali. Shariah and Civil law, International Conference on Harmonisation of
Shariah and Civil law, Kuala Lumpur 20-21 oktober 2003.
78

Universitas Sumatera Utara

3. Terdapat dua peraturan perundang-undangan mempunyai ruang lingkup


yang sangat luas,
4. Beberapa aspek dari dua undang-undang yang berbeda mempunyai
persamaan dari segi materi dan tata caranya. 83
Harmonisasi hukum bisa dicapai dalam tingkatan yang berbeda sedikitnya dengan
3 (tiga) cara 84:
1. Adalah pengaruh dari aparatur yang ada yang melahirkan pendekatan antara dua
sistem hukum melalui perjanjian yang dibuat atau keputusan yang dikeluarkan di
mana kedua sistem hukum yang berbeda tersebut dapat berjalan secara bersamasama.
2. Bertambahnya kecenderungan peraturan perundang-undangan nasional yang lahir
sedikit atau banyak secara spontan mendekatkan satu sistem hukum dengan
lainnya berdasarkan analisis perbandingan.
3. Harmonisasi juga bisa dicapai dengan melahirkan satu peraturan perundangundangan nasional yang secara efektif menyatukan materi dari 2 (dua) sistem
hukum yang berbeda. Harmonisasi diterapkan untuk bidang-bidang hukum
khusus dan umum dari negara yang memiliki beberapa sistem hukum yang
berbeda dengan tujuan untuk memfasilitasi transaksi-transaksi antara warga
negaranya atau penduduknya 85
Pengarang lain telah mendeskripsikan proses harmonisasi sebagai suatu
proses yang mana dampak dari suatu tipe transaksi di dalam suatu sistem hukum
83
Muhammad Amanullah,Approaches To Methodology of Harmonisation: Principles to Be Followed
in Harmonisation of Shariah and Man-Made Law, International Conference on Harmonisation of Shariah and
Civil Law 2, Kuala Lumpur 29-30 Juni 2005, hal.6.
84
Arthur Hartkamp (ed.), Towards an European Civil Code (London: Kluwer Law International, 1998),
hal.173-174.
85
Boodman Martin, The myth of Harmonization of Laws, Canadian Report on The Subjektif
Harmonization of Private Law Rules Between Comman and Civil Law Jurisdictions Presented to the XIIIth
International Congress Comparative Law, Montreal Canada, August, 1990, hal.702.

Universitas Sumatera Utara

diletakkan sedekat mungkin terhadap dampak transaksi yang sejenis berdasarkan


sistem hukum lain. 86
Selanjutnya dikatakan, bahwa harmonisasi menggambarkan suatu konsep
yang fleksibel yang mewujudkan serangkaian tindakan yang mungkin beranekaragam
sesuai konteks yang mana suatu isu diberlakukan. Dalam suatu konteks, harmonisasi
dapat berarti hukum yang relevan dari yurisdiksi yang terlibat dicirikan oleh suatu
tingkat yang tinggi kemiripannya dalam prinsip-prinsip dasar akan tetapi
ketentuannya tidak detil. Hasilnya adalah bahwa seseorang terbiasa dengan hukum di
dalam satu yurisdiksi dapat dengan mudah memahami hukum dari yurisdiksi lain dan
menyesuaikannya tanpa kesulitan. 87
Gagasan dasar dari harmonisasi adalah bahwa memungkinkan negara dari
juridiksi yang berbeda berinteraksi terutama dalam transaksi yang terjadi secara
langsung di antara dua juridiksi. 88 Namun demikian perlu untuk diketahui bahwa ada
suatu kondisi di mana harmonisasi tidak perlu dilakukan. Dalam keadaan di mana
undang-undang sudah tidak jelas lagi (kabur) maka harmonisasi tidak perlu
dilakukan. 89
Berdasarkan kondisi di atas, maka teori harmonisasi hukum yang menyatakan
bahwa harmonisasi bisa dicapai salah satunya dengan melihat pengaruh dari aparatur
yang ada yang melahirkan pendekatan antara dua sistem hukum melalui perjanjian
yang dibuat atau keputusan yang dikeluarkan di mana kedua sistem hukum yang
berbeda tersebut dapat berjalan secara bersama-sama, dalam konteks di atas
merupakan teori yang berkaitan erat untuk melihat telah terjadi suatu harmonisasi
pelaksanaan antara hukum adat dan hukum agraria mengenai pertanahan.
Dalam hal penguasaan atau menguasai tanah dapat dipakai dalam arti fisik,
juga dalam arti yuridis, penguasaan yuridis dilandasi hak yang dilindungi oleh hukum
dan umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara
fisik tanah yang dihak`i. Tetapi ada juga penguasaan yuridis yang biarpun memberi
kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik pada kenyataannya
penguasaan fisiknya dilakukan pihak lain. Misalnya kalau tanah yang dimiliki
disewakan kepada pihak lain dan penyewa yang menguasai secara fisik atas tanah
tersebut, tanah tidak dikuasai secara fisik, tapi oleh pihak lain tanpa hal ini pemilik
tanah berdasarkan hak penguasaan yuridisnya berhak untuk menuntut diserahkannya
kembali tanah yang bersangkutan secara fisik kepadanya.
Dengan demikian pengertian atau istilah yang dikenal dalam masyarakat
umum pada saat ini adalah penguasaan hak bawah dan atas. Penguasaan hak bawah
atas tanah adalah penguasan yuridis, artinya mempunyai bukti-bukti kepemilikan
86

Ibid, hal.703.
Ibid., hal.703-704.
88
www.ilpf.org/events/jurisdiction/presentations/clifpr.htm. UNCITRAL and The Goal of
Harmonization of law, diakses tanggal 2 agustus.and the Goal of Harmonization of Law.diakses tanggal 2
agustus 2005.
89
Abdul Aziz Bari, Harmonization of Laws:A Survey of The Issues, Approaches and Methodology
Involved, International Confreence of Harmonisation of Shariah and Civil Law 2, International Islamic
University Malyasia, Kuala Lumpur, 29-30 June 2005, hal.22.
87

Universitas Sumatera Utara

berupa sertifikat atau bukti lain. Kemudian juga ada yang dikuasai secara fisik
adapula yang tidak dikuasai secara fisik, sedangkan penguasaan hak atas tanah adalah
penguasaan fisik, artinya seseorang menggarap atau menguasai tanah secara legal
maupun ilegal.
2.

Konsep

Konsepsi/konsep adalah merupakan defenisi operasional dari berbagai istilah


yang dipergunakan dalam tulisan ini. Sebagaimana dikemukakan oleh M. Solly
Lubis. 90 Adapun defenisi operasional dari berbagai istilah tersebut di bawah ini
adalah sebagai berikut:
Kritis, 91 bersifat tidak lekas percaya, tajam dalam penganalisisan. Pandangan
kritis dimaksudkan, berusaha melihat, menemukan kesalahan atau kekeliruan
terhadap sistem hukum pertanahan nasional maksudnya hasil penelitian ini
menunjukkan, agar hukum adat dan hukum negara bisa bekerja sama dalam
pengaturan pertanahan dalam rangka pembangunan hukum agraria yang beragam
dalam kesatuan, dibutuhkan setidaknya empat kondisi yaitu :
1. Adanya keterbukaan dari sistem hukum adat itu sendiri terhadap pengaruh luar.
2. Adanya pengakuan dari hukum negara terhadap eksistenssi hukum adat.
3. Adanya kemauan politik dari pemerintah untuk mengakomodasi nilai-nilai yang
terkandung dalam hukum adat dalam pelaksanaan pembangunan.
4. Adanya desentralisasi pengaturan sumber daya agraria. 92
Sengketa terjadi karena terdapat situasi dimana satu pihak yang merasa
dirugikan oleh pihak lain. Perasaan tidak puas akan segera muncul ke permukaan
apabila terjadi conflict of interest. Pada umumnya di dalam kehidupan bermasyarakat
ada beberapa cara menyelesaikan konflik yakni proses penyelesaian sengketa yang
ditempuh dapat melalui cara-cara formal maupun informal. Cara penyelesaian
sengketa yang telah ditempuh selama ini adalah melalui pengadilan (litigasi) dan
penyelesaian sengketa di luar pengadilan (non litigasi).
Penyelesaian melalui jalur pengadilan bertujuan untuk mendapatkan keadilan
dan kepastian hukum, maka penyelesaian di luar pengadilan justru yang diutamakan
adalah perdamaian dalam mengatasi sengketa yang terjadi di antara yang bersengketa
dan bukan mencari pihak yang benar atau salah.
90

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Op.Cit., hal.80.


Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Balai
Pustaka, 2007), hal.601.
92
Kurnia Warman,,Hukum Agraria, op cit, hal.351.
91

Universitas Sumatera Utara

Penyelesaian sengketa non litigasi atau alternative yang lebih dikenal dengan
istilh Alternatif Dispute Resolution (ADR) diatur dalam Undang-undang Nomor 9
tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Mekanisme
penyelesaian sengketa dengan cara ini digolongkan dalam media non litigasi yaitu
merupakan konsep penyelesaian konflik atau sengketa yang kooperatif yang
diarahkan pada suatu kesepakatan satu solusi terhadap konflik atau sengketa yang
bersifat win win solution. ADR dikembangkan oleh para praktisi hukum dan
akademisi sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih memiliki akses pada
keadilan 93.
Hak Atas Tanah Adat adalah hak-hak atas tanah menurut hukum adat.
Terdapat 2 (dua) jenis hak atas tanah adat : hak komunal yaitu hak persekutuan
hukum adat beserta warganya dan hak perseorangan dari para warga persekutuan
hukum adat. Hak persekutuan beserta warganya sebutannya bermacam-macam.
Istilah lainnya juga adalah hak purba.
Di berbagai wilayah di Hindia Belanda terdapat lingkungan berbagai hak
purba yang dipisahkan oleh wilayah tak bertuan yang luas. Di bagian lain terdapat
wilayah yang hampir tak ada sebidang pun yang termasuk dalam hak purba.
Di satu tempat hak purba kuat di lain tempat lemah sesuai dengan kemajuan
dan kebebasan usaha pertanian penduduknya. Apabila hak purba sudah sangat lemah
dengan sendirinya hak perorangan akan berkembang. Rumusannya : hak purba dan
hak perorangan berhubungan kembang-kempis, mulur-mungkret, desak-mendesak,
batas-membatasi tiada henti. Apabila hak purba kuat maka hak perorangan lemah dan
sebaliknya 94.
Hak atas tanah sebagai suatu hubungan hukum didefinisikan sebagai hak atas
permukaan bumi yang memberi wewenang kepada pemegangnya untuk
menggunakan tanah yang bersangkutan, beserta tubuh bumi dan air serta ruang udara
di atasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan
penggunaan tanah itu, dalam batas-batas menurut UUPA dan peraturan hukum lain
yang lebih tinggi (Pasal 4). Hal itu mengandung arti bahwa hak atas tanah itu di
samping memberikan wewenang juga membebankan kewajiban kepada pemegang
haknya. 95
Hukum tanah adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur hak-hak
penguasaan atas tanah dapat disusun menjadi satu kesatuan yang merupakan satu
sistem. 96 Hukum tanah bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya. Ia hanya
mengatur salah satu aspek yuridisnya yang disebut hak-hak penguasaan atas tanah. 97

93

Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, (Bandung : Citra Aditya Bakti,
2003), hal. 4
94
Happy Warsito, Hak-hak Keagrariaan Adat dalam Politik Hukum Agraria Indonesia di Era
Globalisasi, disertasi, (Semarang : Undip, 2005), hal. 124.
95
Maria S.W Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Op.Cit., hal.128.
96
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Op.Cit, hal.16.
97
Ibid

Universitas Sumatera Utara

Hukum tanah adat adalah hak pemilikan dan penguasaan sebidang tanah yang
hidup dalam masyarakat adat pada masa lampau dan masa kini serta ada yang tidak
mempunyai buku-buku kepemilikan secara otentik atau tertulis, kemudian pula ada
yang didasarkan atas pengakuan dan tidak tertulis 98 karena seperti kita ketahui hukum
adat mencerminkan kultur tradisional dan aspirasi mayoritas rakyatnya . Hukum ini
berakar dalam perekonomian subsistensi serta kebijakan paternalistik, kebijakan yang
diarahkan pada pertalian kekeluargaan.
Ciri-ciri Tanah Hukum Adat masa lampau adalah tanah-tanah yang dimiliki
dan dikuasai oleh seseorang dan atau sekelompok masyarakat adat yang memiliki dan
menguasai serta menggarap, mengerjakan secara tetap maupun berpindah-pindah
sesuai dengan daerah, suku, dan budaya hukumnya, kemudian secara turun temurun
masih berada di lokasi daerah tersebut, dan atau mempunyai tanda-tanda fisik berupa
sawah, ladang, hutan, dan simbol-simbol berupa makam, patung, rumah-rumah adat,
dan bahasa daerah sesuai dengan daerah yang ada di Negara Republik Indonesia.
Hukum Tanah Adat masa kini ialah hak memiliki dan menguasai sebidang
tanah pada zaman sesudah merdeka tahun 1945 sampai sekarang, dengan bukti
otentik berupa girik, petuk pajak, pipil, hak agrarische eigendom, milik yasan, hak
atas druwe atau hak atas druwe desa, pesini, Grant Sultan, landerijenbezitrecht,
altijddurende erfpacht, hak usaha atas tanah bekas partikelir, fatwa ahli waris, akte
peralihan hak, dan surat segel di bawah tangan, dan bahkan ada yang telah
memperoleh sertifikat serta surat pajak hasil bumi (Verponding Indonesia) dan hakhak lainnya sesuai dengan daerah berlakunya hukum adat tersebut, serta masih diakui
secara internal maupun eksternal.
Selain hak-hak tersebut di atas masih terdapat hak-hak tanah adat sesuai
dengan perkara yang telah diputuskan oleh Pengadilan sebagai berikut: Hak sawah
menurut hukum adat Aceh, Hak Atas Tanah di Batak yaitu Hak Atas Huta, Tanah
Kesain dan Tanah Merimba, Hak Atas Tanah di Minangkabau, Hak Atas Tanah di
Bengkulu, Hak Atas Tanah di Sulawesi Utara, Hak Atas Tanah di Jawa yaitu Tanah
Yasan, Tanah Pekulen, Tanah gogolan, Hak Gaduh atas tanah dan Petuk sebagai
bukti.
Ciri-ciri tanah hukum adat masa kini adalah tanah-tanah yang dimiliki
seseorang atau sekelompok masyarakat adat dan masyarakat di daerah pedesaan
maupun di daerah perkotaan, sesuai dengan daerah, suku dan budaya hukumnya
kemudian secara turun temurun atau telah berpindah tangan kepada orang lain dan
mempunyai bukti-bukti kepemilikan serta secara fisik dimiliki atau dikuasai sendiri
dan atau dikuasai orang/badan hukum.
Secara ringkas ciri-ciri tanah hukum adat masa kini ialah:
1. Ada masyarakat, Badan Hukum Pemerintah/Swasta.
2. Masyarakat di daerah pedesaan atau perkotaan.
98

B. F. Sihombing, Evolusi Kebijakan Pertanahan dalam Hukum Tanah Indonesia, (Jakarta: PT. Toko

Universitas Sumatera Utara

3. Turun temurun atau telah berpindah tangan atau dialihkan.


4. Mempunyai bukti pemilikan berupa girik, verponding Indonesia, petuk, ketitir,
sertifikat, fatwa waris, penetapan pengadilan, hibah, akta peralihan, surat di
bawah tangan, dan lain-lain.
5. Menguasai secara fisik, berupa Masjid, Kuil, Gereja, Pura, Candi, danau, patung,
makam, sawah, ladang, hutan, rumah adat, gedung, sungai, gunung dan lain-lain.
Dengan demikian dari 2 (dua) jenis defenisi Hukum Adat, Masa Lampau dan
Hukum Adat Masa Kini, menggambarkan adanya perubahan mendasar sebagian
besar dalam hukum yang hidup di masyarakat kaitannya dengan kepemilikan tanah
dari yang tidak tertulis menjadi tertulis. Maksud penulis di sini sebagian besar adalah
karena dimungkinkan bukti kepemilikan atas sebidang tanah tersebut masih dikenal
atau dianut tanpa bukti tertulis. Misalnya di daerah Tapanuli Utara (Suku Batak)
masih ditemukan bukti pemilikan tanah tersebut hanya disebutkan dalam perkawinan
seorang anak perempuan diberikan oleh orang tuanya, misalnya sebidang tanah sawah
atau tanah darat kepada si wanita yang dinikahkan tanpa ada tertulis yang disebut
Ulos nasora Buruk(secara letterlijk artinya ulos yang tidak pernah buruk/rusak
tetapi secara faktual maksudnya tanah atau sawah).
Demikian juga apabila seorang wanita yang telah menikah dan mempunyai
anak yang datang berkunjung ke rumah orang tuanya untuk beradat, maka anak cucu
dari wanita ini dapat juga diberikan semacam harta benda berupa sawah atau tanah
darat, yang disebut juga Ulos Nasora Buruk. Jadi inilah salah satu penyebab wanita
di daerah Tapanuli Utara (Suku Batak) tidak lagi memperoleh harta warisan setelah
orang tuanya meninggal. Namun demikian apabila masih ada wanita dari si pewaris
belum menikah maka si wanita tersebut juga akan memperoleh bagian dari kakak
lelaki tertua dalam keluarganya, setelah ia menikah. Pengertian Ulos Nasora Buruk
ini adalah pemberian harta benda berupa tanah.
Sistem adalah : sesuatu yang terdiri atas sejumlah unsur atau komponen yang
selalu saling memengaruhi dan saling terkait satu sama lain oleh satu atau beberapa
asas. 99
St.Munadjat Danusaputro 100 menyatakan bahwa sistem merupakan satu
kesatuan yang tersusun secara terpadu antara bagian-bagian kelengkapannya, dengan
memiliki tujuan secara pasti.

Gunung Agung Tbk, 2005), hal.67.


99
Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, (Bandung: Alumni,1991),
hal.56.

Universitas Sumatera Utara

Hukum adalah suatu gejala yang dari dirinya sendiri menghendaki


sistematisasi. 101 Jadi hukum tanah nasional adalah hukum tanah Indonesia yang
tunggal yang tersusun dalam mata sistem (sistem hukum pertanahan nasional).
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan
Dalam penelitian ini diawali dengan pendekatan normatif (doctrinal), yaitu
pendekatan yang mengacu pada peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan hukum
lainnya yang bersifat sekunder. Ini terlihat pada Bab II yang mendeskripsikan status
hukum hak atas tanah adat dalam Sistem Hukum Pertanahan Nasional.
Lahirnya UU No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria
(selanjutnya disebut UUPA) memberikan harapan baru, angin segar bagi rakyat
Indonesia karena akan ada perubahan struktur penguasaan pemilikan tanah di alam
kemerdekaan yang lebih dikenal dengan program land reform (ternyata gagal).
Diperparah lagi dengan dilahirkannya UU Sektoral (antara lain UU Perkebunan, UU
Kehutanan, UU Minerba) yang mengakibatkan permasalahan (seperti sengketa
tanah). Penelitian ini mengkritisi (pandangan kritis) terhadap Sistem Hukum
Pertanahan Nasional antara lain tentang UU sektoral itu sendiri.
Pendekatan berikutnya adalah sejarah 102 (secara historis) tentang kabupaten
Simalungun serta Hak Atas Tanah Adat di kabupaten Simalungun, yang masih
merupakan hak milik huta maupun hak milik marga.
Penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan
menganalisis sesuatu hal sampai menyusun laporannya 103. Oleh karena itu guna
mendapatkan hasil yang mempunyai nilai validitas yang tinggi serta dapat
100
St.Munadjat Danusaputro, Hukum Lingkungan Buku V: Sektoral jilid 5 (Dalam Pencemaran
Lingkungan) Melandasi Sistem Hukum Pencemaran, (Bandung: Bina Cipta, cetakan kelima,1986), hal.6.
101
Bruggink J.J.H, Rechts Reflecties, Grondbeggripen Uit de Rechtstheorie, Refleksi tentang Hukum,
Terjemahan B. Arief Sidharta, (Bandung: Citra Aditya Bakti, cetakan ketiga, 1996), hal.137.
102
Frederick G.Kempin dalam Edy Ikhsan, Pergeseran Hak tanah komunal dalam Pluralisme Hukum
dalam Perspektif Socio-legal, disertasi, (Medan:FH USU, 2013), hal.32 mengatakan : ada 6 (enam) sebab kita
memerlukan kajian sejarah hukum. Pertama, untuk menunjukkan bahwa hukum yang kita hadapi sekarang ini
tidaklah suatu yang unik Persoalan dasar adalah abadi. Umpanya, golongan minoritas selalu lemah bila
berhadapan dengan kekuasaan. Kedua, untuk meluruskan kesalahan anachronism yang diterapkan pada sejarah,
artinya menerapkan metode, konsep dan nilai sekarang kepada masalah-masalah masa lalu. Mempelajari sejarah,
seseorang harus memberikan kritiknya dalam konteks waktu, dan harus berpikir dalam pola pendahulu kita, bukan
berdasarkan pikiran kita sekarang. Ketiga, untuk menunjukkan kekuatan ekonomi dan kepentingan-kepentingan
komersil dalam pertumbuhan hukum. Ekonomi dan kebutuhan komersil tidak hanya mendorong perubahan
hukum, tetapi perubahan hukum kemudian dapat menimbulkan konsekwensi ekonomi dan komersil. Keempat,
menunjukkan hukum adalah instrument dari standard etik yang dominan. Pergeseran etik dalam kenyataannya
dijalankan oleh hukum, misalnya perbudakan bergeser kepada kebebasan, diskriminasi ke non diskriminasi dll.
Kelima, untuk menunjukkan bagaimana sulitnya mengadakan komrpomi antara stabilitas (stability) dan perubahan
(change). Dan yang terakhir, sejarah hukum menunjukkan adanya saling ketergantungan antara hak-hak hukum
dan prosedur hukum.
103
Cholid Narbuko, H. Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), hal. 1

Universitas Sumatera Utara

dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka diperlukan suatu metode penelitian yang


tepat. Metode penelitian yang tepat juga diperlukan untuk memberikan pedoman serta
arah dalam mempelajari dan memahami objek yang diteliti, Sehingga penelitian dapat
berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan.
Di dalam penelitian termasuk penelitian hukum, dikenal berbagai macam atau
jenis dan tipe penelitian. Terjadinya perbedaan jenis penelitian itu berdasarkan sudut
pandang dan cara meninjaunya, dan pada umumnya suatu penelitian sosial termasuk
penelitian hukum dapat ditinjau dari segi sifat, bentuk, tujuan dan penerapan dari
sudut disiplin ilmu. Penentuan jenis atau macam penelitian dipandang penting karena
ada kaitan erat antara jenis penelitian itu dengan sistematika dan metode serta analisa
data yang harus dilakukan untuk setiap penelitian. Hal demikian perlu dilakukan guna
mencapai nilai validitas data yang tinggi, baik data yang dikumpulkan maupun hasil
akhir penelitian yang dilakukan 104.
Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan yuridis empiris (non doctrinal) dalam
melihat bagaimana penetapan/pelaksanaannya melalui suatu penelitian lapangan yang
dilakukan secara sosiologis dengan wawancara, observasi sehingga diperoleh
kejelasan tentang hal yang diteliti.
Data primer dalam rangka untuk melihat perilaku hukum dari praktek penyelesaian
sengketa pertanahan yang terjadi.
Sebagai suatu penelitian hukum empiris yang menggunakan data primer, cara
penelitian ini dapat juga mengikuti sebagian cara penelitian ilmu sosial. Lahirnya
pendekatan penelitian hukum empiris (sosio legal research) merupakan konsekuensi
dari ilmu hukum yang memang bersifat terbuka, sehingga interaksi antara ilmu
hukum dengan ilmu-ilmu terutama ilmu sosial merupakan suatu keniscayaan 105.
Metode pendekatan di atas digunakan karena mengingat bahwa permasalahan
yang diteliti berhubungan dengan cara penyelesaian sengketa pertanahan yang terjadi,
yang juga mencakup bidang yuridis yaitu peraturan-peraturan perundangan yang
mengatur tata cara pelaksanaannya dan penyelesaian sengketa yang timbul.
Penyelesaian sengketa hak atas tanah adat di kabupaten Simalungun diawali dengan
Tipologi Sengketa Pertanahannya, faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan
sebagaimana tercantum dalam Bab III Studi ini.
2. Jenis, Sifat, dan Teknik Penelitian
Penulisan metodologi penelitian disertasi ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan penelitian yuridis normatif, bahan atau materi penelitian, alat
penelitian dan analisis hasil. Penelitian disertasi ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan hukum yuridis normatif. Metode penelitian kualitatif
dimaksudkan bahwa hasil analisis tidak tergantung dari jumlah data berdasarkan

104

Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta : Sinar Grafika, 1991), hal. 7
B.Z. Tamanaha, Realistic Socio Legal Theory : Pragmatizm and a Social Theory of Law, (England :
Clarendon Press Oxford University, 1999), hal. 129.
105

Universitas Sumatera Utara

angka-angka melainkan data yang dianalisis dilakukan secara mendalam dan


holistik. 106
Selain hal-hal di atas, juga dilakukan penelitian yang bersifat yuridis empiris.
Penelitian hukum normatif (doctrinal) dan yuridis empiris (non-doctrinal) adalah
untuk mengetahui atau mengenal tipologi sengketa pertanahan serta faktor-faktor
penyebab sengketa hak atas tanah adat dan upaya penyelesaiannya serta kenyataankenyataan yang berkembang di lapangan.
Jadi bahan atau materi penelitian disertasi ini diperoleh dari penelitian
kepustakaan dan penelitian lapangan. Oleh karena penelitian ini lebih menekanan
sifat kualitatif dan gabungan yuridis normatif serta yuridis empiris, maka bahan
hukum yang dipergunakan adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tertier. 107
Data sekunder lainnya adalah data yang diperoleh dari penelitian lapangan
berupa Putusan Pengadilan mengenai penyelesaian sengketa hak atas tanah adat,
penyelesaian Sengketa Tanah oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten
Simalungun, Penyelesaian Sengketa Tanah secara musyawarah mufakat oleh
masyarakat adat kabupaten Simalungun dan dokumen-dokumen consesie.
Dari penelitian lapangan juga diperoleh data primer dari para responden dan informan
penelitian yakni tokoh-tokoh adat, camat, lurah yang bertindak sebagai mediator
dalam penyelesaian sengketa tanah tersebut. Penguasaan bahasa daerah, bahasa
Simalungun membuat peneliti lebih familiar (akrab) dengan para responden
(masyarakat adat Simalungun), sehingga data yang diharapkan benar-benar bisa
didapatkan lebih tepat dan akurat.
Lokasi penelitian disertasi ini adalah daerah kabupaten Simalungun, dua desa
dari kab.Simalungun atas dan 2 (dua) desa dari kab.Simalungun bawah, karena
daerah ini memiliki frekuensi sengketa tanah, tetapi dalam perjalanan proses
penelitian ditemukan 2 (dua) desa (nagori) dimana tidak pernah terjadi sengketa
tanah.
Dalam rangka penelitian lapangan, ada dua macam wawancara yang
dilakukan dengan membedakan karakternya yakni informan dan responden. Informan
adalah orang yang diwawancarai untuk mendapatkan keterangan mengenai
pandangan dan penyelesaian sengketa hak atas tanah adat. 108
Untuk menentukan sampel dalam penelitian ini dipergunakan teknik non
probability sampling yaitu purposive sampling, artinya tidak semua populasi
dijadikan sampel melainkan dipilih beberapa subyek penelitian berdasarkan sifat-sifat
tertentu dan tujuannya yang berhubungan dengan obyek penelitian.
106

Anton J Kuzel dalam Tan Kamello, Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia : Suatu Kajian
Terhadap Pelaksanaan Jaminan Fidusia dalam Putusan Pengadilan di Sumatera Utara, disertasi, (Medan : PPS
USU , 2002), hal.42-43.
107
Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta:Rajawali
Pers, 1990), hal.39.
108
Djariaman Damanik, salah seorang informan yang selalu berdiskusi tentang apa saja mengenai
Simalungun. Beliau adalah salah seorang anak dari Raja Damanik, yang beristrikan anak (boru) dari Raja
Silampuyang. Djariaman Damanik juga hasil didikan Belanda (Mr in the rechten), mantan ketua PT di Medan dan
Denpasar.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan teknik tersebut, diperoleh subjek penelitian yang meliputi para


pihak/masyarakat yang terlibat dalam sengketa tanah,Bagian kasus dan Penyelesaian
Sengketa Pertanahan : kantor BPN, Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Pengadilan
Negeri Simalungun, Camat, Lurah, tokoh-tokoh adat setempat.
Sebagai alat penelitian untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder
dipakai studi dokumen, kuesioner dan wawancara. Data primer diperoleh dengan
menggunakan alat penelitian berupa kuesioner dan wawancara. Studi dokumen
dilakukan terhadap bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum
tertier serta data tentang penyelesaian sengketa. Bahan ataupun dokumen lainnya
yang berkaitan dengan objek penelitian.
Kuesioner disusun dalam bentuk kombinasi yang bersifat tertutup dan
terbuka, yang ditujukan kepada responden penelitian. Caranya daftar kuesioner
dikirimkan terlebih dahulu kepada responden dengan tujuan agar pertanyaanpertanyaan dapat dijawab dengan benar. Wawancara dilakukan terhadap responden
dan informan. Untuk mempermudah mendapatkan data yang mendalam dipersiapkan
pedoman wawancara. Melalui wawancara ini dapat dilengkapi dengan kekurangan
pengisian kuesioner.
Kegiatan akhir dari penelitian ini adalah melakukan tahap analisis hasil
penelitian. Data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, sekunder, tertier serta
didukung oleh data primer dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan
pendekatan yuridis normatif.
Hasil penelitian lapangan dalam wujud angka hanya merupakan data
pendukung dari data sekunder yang dituangkan dalam tabel frekuensi. Data kualitatif
dianalisis dengan menghubungkan kepada unsur-unsur yuridis dan ditafsirkan dengan
menggunakan metode penafsiran ilmu hukum. Dari hasil analisis kualitatif dengan
metode yuridis normatif dan dukungan data kuantitatif tersebut, yang kemudian
ditafsirkan menurut penafsiran ilmu hukum diharapkan dapat memberikan
pemecahan masalah penelitian yang akurat tentang perkembangan penyelesaian
sengketa hak atas tanah adat.
G. Asumsi
Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan asumsi
sebagai berikut di bawah ini :
1. Status hukum hak atas tanah adat di Kabupaten Simalungun mengalami ancaman
kepunahan akibat politik hukum, maupun politik ekonomi oleh kebijakan
Pemerintah yang menempatkan pemilik modal kuat sebagai aktor dominan dalam
pembangunan ekonomi.

Universitas Sumatera Utara

2. Fungsi sosial hak milik atas tanah yang dirumuskan dalam teks normatifpositivistik (ius constitutum) dalam aktualisasinya berubah ke fungsi individual,
maka fungsi sosial sebagai norma positif (ius constitutum) tidak pernah terealisasi
sebagai perilaku aktual dan bahkan memicu lahirnya sengketa, dengan kata lain
kebijakan yang dibuat keliru memahami konsep hak menguasai dari negara
yang dianut UUPA. Artinya Negara

bukan memiliki (seperti tafsiran asas

domein verklaring, tetapi hanya mengatur peruntukan penggunaan tanah sematamata demi kesejahteraan rakyat/masyarakat Indonesia.
3. Penyelesaian Sengketa Tanah Adat di Kabupaten Simalungun pada umumnya,
disamping penyelesaiannya melalui litigasi tapi juga non litigasi (alternatif).
Namun tidak memberi kepastian hukum karena tidak dituangkan dalam suatu
bukti tertulis (bukti otentik), namun hanya memberikan ganti rugi, dengan dasar
kesepakatan antara kedua belah pihak (musyawarah mufakat).

H. Sistematika Penulisan
Inti dari pengkajian dalam penulisan disertasi ini terpusat pada pandangan
kritis tentang penyelesaian sengketa hak atas tanah adat dalam Sistem Hukum
Pertanahan Nasional yang mengambil lokasi di Kabupaten Simalungun.
Dimulai dari Bab I Pendahuluan, yang menguraikan Latar Belakang perlunya
pembahasan mengenai penyelesaian sengketa hak atas tanah adat di Kabupaten
Simalungun, agar sesuai dengan kualifikasi, penelitian ini dibatasi dalam perumusan
masalah, berdasarkan ini pula tergambar Tujuan dan Manfaat Penelitian. Sebagai
pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak, digunakan Kerangka Teori
dan Konsepsi, kemudian dilanjutkan dengan Asumsi, dan tak lupa menggambarkan
Sistematika Penulisan.
Bab. II membahas tentang Status Hukum Hak Atas Tanah Adat dalam Sistem
Hukum Pertanahan Nasional (di Kabupaten Simalungun).
Dimulai dari mendeskripsikan tentang Kabupaten Simalungun; historisnya, mengapa
berdebat mengenai nama Simalungun, bagaimana masuknya orang Tapanuli ke

Universitas Sumatera Utara

Simalungun, Pemerintahan Swapraja,Asal-usul orang Simalungun, Filosofi hidup


orang Simalungun, serta Simalungun Dalam Angka. Juga penting dibahas tentang
Sistem Hukum Pertanahan Nasional itu sendiri, mengenai pengertiannya,
konsepsinya, objeknya, dan prinsip-prinsipnya serta kritikan terhadap perundangundangan yang mengatur sumber daya agraria (hak atas tanah adat), masyarakat adat
dalam UU Sektoral, misalnya UU Kehutanan, UU Perkebunan, UU Minerba, dan
lain-lain. Untuk menjawab permasalahan pertama juga dibahas tentang Hak Atas
Tanah Adat di Simalungun itu sendiri, bagaimana gambaran hukum pertanahannya,
masyarakat hukum adatnya, transaksi adat yang asih dipraktekkan di lokasi
penelitian.
Bab III pembahasannya sudah meningkat kepada sejauh mana rupanya Faktor
Penyebab Timbulnya Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun.
Dalam hal ini dibahas mengenai : Pengertian Sengketa Hukum Atas Tanah, Tipologi
sengketa pertanahan secara umum, secara khusus di Kabupaten Simalungun dan
faktor penyebab Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun.
Bab IV dari gambaran bab-bab sebelumnya, dilampirkan kepada pembahasan
tentang Penyelesaian Sengketa Tanah Adat di Kabupaten Simalungun. Baik terhadap
sengketa (kasus) yang diselesaikan secara non litigasi (BPN, musyawarah mufakat
(hukum adat)), maupun secara litigasi (Pengadilan Negeri sampai Mahkamah
Agung). Bahkan ditemukan ada 2 desa (Nagori) yang secara empiris tidak (pernah)
terjadi sengketa pertanahan.
Bab V, merupakan bab penutup dari penelitian ini, dikemukakan Kesimpulan
(jawaban atas permasalahan penelitian), dan diakhiri dengan Saran.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
STATUS HUKUM HAK ATAS TANAH ADAT DALAM SISTEM HUKUM
PERTANAHAN NASIONAL (di Kabupaten Simalungun)
A. Deskripsi tentang Kabupaten Simalungun
1. Tinjauan mengenai historis (sejarah) Simalungun
Stagnasi penulisan sejarah Simalungun 109 disebabkan oleh beberapa hal 110
yaitu: a) Minimnya sumber-sumber tertulis yang merupakan rangkaian peristiwa
sejarah di Simalungun, sehingga mengalami kesulitan untuk membentangkan,
mendeskripsikan, serta menjelaskan peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau itu.
b) Di antara sumber tertulis yang ada umumnya dibukukan setelah masuknya era
perkebunan 111 sehingga era praperkebunan tersebut tidak diketahui, jika pun ada dari
segi tradisi tulis, umumnya dilakukan oleh datu atau guru bolon 112 dan isinya
merupakan mantera-mantera atau pengobatan tradisional. Lain daripada itu
manuskrip 113 (partikkian) yang ada tidak mengisahkan angka tarikh atau tahun yang
jelas, dan pengarang yang anonimus. Sementara itu, sumber-sumber pengelana
asing 114, juga tidak menyebutkan nama Simalungun secara pasti, walaupun di
109
Nama dan penamaan Simalungun sesungguhnya masih relatif baru. Peta yang dibuat oleh D.B. Hagen
(eincompassauf namen) tahun 1883, belum mencantumkan nama Simalungun meskipun wilayah dimaksud adalah
Simalungun sekarang. Dalam tradisi Kesultanan Melayu disebut Batak Dusun untuk menyebut Simalungun.
Demikian pula ketika RMG memulai penginjilannya (1903) disebut Timor landen. Pada waktu itu, dikenal
Batak Timur yakni orang Batak yang terletak disebelah timur Danau Toba (Negeri Timur). Sebenarnya kurang
tepat apabila nama Simalungun sekarang dikaitkan dengan kepribadian orang Simalungun sebagai Simou-mou
malungun atau meratap, sunyi, sepi, dan tertutup.
110
Asumsi ini tentu saja didasarkan pada minimnya buku-buku standard tentang Simalungun. Demikian
pula bahwa, kebanyakan buku tersebut ditulis oleh bukan sejarahwan akademis tetapi oleh sejarahwan non
akademis ataupun budayawan. Tulisan yang dihasilkan cenderung untuk konsumsi kerabat (kalangan tertentu)
yang kurang dapat dijadikan rujukan dalam pembahasan ilmiah. Namun demikian, sejumlah Theolog sudah
banyak mencoba mengurai sejarah masyarakat dan kebudayaan Simalungun dari perspektif theology khususnya
Kristen.
111
Kebiasaan bagi orang Belanda adalah mengirimkan ilmuwan khususnya etnolog dan filolog ke daerah
yang akan dikuasainya. Masuknya pengusaha perkebunan asing di Sumatera Timur (1862), Simalungun (Sejak
1875) meninggalkan sepenggal noktah tentang Simalungun. Umumnya tulisan tersebut adalah nota penjelasan
para penguasa daerah dan pengembangan wilayah perkebunan. Laporan komprehensif tentang Simalungun
diperoleh dari J. Tidemann (1922), yakni kontrolir afdeeling Simeoloengen, itupun ditulis dalam kerangka
pengetahuan kolonial terhadap sejarah etnis, kebudayaan dan topografis untuk perluasan perkebunan. Dalam kata
pengantarnya, Tidemann mengemukakan terimakasih penyambung lidahnya kepada masyarakat yakni Johannes
Hutapea khususnya dalam pengumpulan informasi tentang masyarakat Simalungun pada saat itu.
112
Periksa, JE. Saragih, Pustaka Laklak Museum Simalungun No 252, (Jakarta: Proyek Pengembangan Media
Kebudayaan Departemen P dan K, 1981). Salinan terhadap naskah-naskah Pustaha Simalungun seperti yang dikerjakan
oleh Vorhooeve tahun 1938 belum dipublikasikan, demikian pula nota-nota penjelasan daerah Simalungun dalam catatan
kolonial belum pernah diterbitkan, dan jikapun diterbitkan masih terlalu singkat, sehingga keadaan ini menambah sulit
historiografi Simalungun berdasarkan sumber tertulis.
113
Manuskrip yang ada seperti Parpadanan Na Bolag (PNB), Parmongmong Bandar Syahkuda (PBS),
Partikkian Bandar Hanopan (PBH), tidak terdapat klan dan tarikh peristiwa tersebut, demikian pula penulisnya yang
anonimus. Lain daripada itu, analisis teks terhadap manuskrip ini belum pernah dilakukan hingga saat ini.
114
Periksa William Marsden, History of Sumatera, (Kuala Lumpur: Oxford University of Press, 1966), John
Anderson, Mission to the East Cost of Sumatera, (Kuala Lumpur: Oxford in Asia, 1971). Ma Huan, Ying-Yai Shen-Lan:
The Overal Survey of the Ocean Shores 1433, (Cambridge: Hakluyt Society, 1970), Tome Pires, The Summa Oriental of

Universitas Sumatera Utara

kemudian hari wilayah yang dimaksud adalah Simalungun, c) Kebanyakan bukubuku tentang Simalungun pada masa sekarang, baik yang diterbitkan (ber-ISBN)
ataupun masih dalam bentuk laporan tesis atau disertasi adalah tinjauan theology
(Kristen) sehingga analisis terhadap kesejarahannya masih terbatas pada aspek
theologis 115, d) Minimnya Sarjana-sarjana penulis sejarah dan sosial berpredikat
(master dan doktor 116) yang menggeluti dunia kesejarahan ini sehingga literatur
sejarah menjadi jarang dijumpai di toko buku, e) Di antara buku-buku yang ada
cenderung ditulis untuk keperluan pribadi atau keluarga 117 yang dalam
pembentangannya kurang menjelaskan kaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa
lainnya atau juga dari satu wilayah dengan wilayah lainnya, f) Kerancuan daripada
sejarah Simalungun sekarang dengan sumber terbatas itu berdampak pada pola
penulisan yang mengadopsi penulis awal 118 tanpa adanya dialog sumber sehingga
makin lama makin terasa biasnya, g) Tradisi menulis yang belum memasyarakat 119,
dan h) Minimnya penyelidikan lintas disiplin ilmu 120
Tomme Pires: An account of the east from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512-1515, (Armando
Corteasao, ed) Germany: Lessing Druckerij, Edwin M. Loeb (ed), 1935. Sumatera: Its History and People Singapore:
Oxford University, atau juga Anthony Reid (ed) 1995. Witnessses to Sumatera: A Travelers Anthology. Kuala Lumpur:
Oxford University. Atau juga WP. Groeneveltd (ed). 1960. Historical Notes on Indonesia and Malay: Compiled from
Chinese Sources. Jakarta: Bharata. Kong Yuanzhi. 2007. Cheng Ho Muslim Tionghoa: Misteri Perjalanan Muhibah di
Nusantara (Hembing W, Ed). Jakarta: Obor
115
Lihat misalnya.Martin Lukito Sinaga, Identitas Postkolonial Gereja Suku Indonesia: Studi Tentang JW.
Saragih, (Yogyakarta: LkiS, 2006), atau Martin Lukito Sinaga dan Juandaharaya Dasuha, Tole den Timorlanden das
Evanggelium: Sejarah 100 Tahun Injil di Simalungun, ( Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003) Satu buku yang
diterbitkan tentang Simalungun adalah buah karya Arlin Dietrich Jansen. Gonrang Simalungun: Struktur dan Fungsinya
dalam Masyarakat Simalungun, (Medan : Bina Media, 2003).
116
Kebanyakan tema-tema penelitian yang ditulis oleh penulis asing tentang Simalungun adalah ekonomi
pertanian dan perkebunan serta politik. Masih jarang dijumpai penulis yang mengurai sejarah Simalungun. Lain daripada
itu kebanyakan para intelektual (professor, doktor, maupun magister) adalah berlatar belakang ilmu Paedagogis (ilmu
pendidikan), Pertanian, Hukum, dan Tehnik, Kesehatan dan Theologi. Sedang dalam bidang ilmu sejarah, anthropologi
maupun sosiologi (rumpun ilmu sosial lainnya) terutama yang aktif menulis buku masih jarang. Bilapun ada penulis
sejarah cenderung bukan dalam kerangka akademis.

117
Lihat dan periksa buku-buku yang ditulis tentang Simalungun masih terfokus pada riwayat Raja dan
Kerajaan, seperti Sejarah Kerajaan Raya, Kerajaan Siantar Sang Na Ualuh Damanik, Kerajaan Purba Pakpak,
Kerajaan Panei Purba Dasuha dst, yang ditulis untuk keperluan keluarga. Demikian pula buku biografi atau
semacam memoir yang ditulis dengan penjelasan minim tentang Simalungun.
118
Bandingkan dengan pendapat Michael Faucault yang mengemukakan bahwa dalam masyarakat
biasanya terdapat berbagai wacana yang berbeda, namun karena penguasa memilih wacana tertentu yang
kemudian mendominasi wacana lainnya, maka wacana-wacana lainnya akan terpinggirkan dan termarginalkan.
Lihat Michael Faucault, What is an author?. In: Josue Harari (ed), Textual Strategies: Perspectives in Post
Structuralis Criticism, (London: Methuen 1979). Maksud daripada pernyataan ini adalah ada-nya semacam
fenomena penulisan buku dengan merujuk pada penulis luar Simalungun di mana rujukan tersebut sebenarnya
bertentangan dengan keadaan Simalungun dan apalagi dengan penjelasan yang sangat dangkal. Contoh, penulis
Simalungun masih saja merujuk bahwa klan dan asal usul orang Simalungun berasal dari Pusuh Buhit, tradisi Raja
dan Kerajaan khususnya Raja Maropat adalah bentukan Singamangaraja, Nama dan penamaan Simalungun adalah
sebagai (orang) yang Malungun, Sunyi, Sepi, (Sima-sima, Simou dan Malungun) padahal tidak punya dasar
sama sekali.
119
Walaupun dengan analisis dan rujukan yang terbatas, beberapa diantaranya telah mencoba menulis
seperti Sortaman Saragih, Orang Simalungun, (Jakarta: Citama Vigora, 2007).
120
Berdasarkan diskusi tak resmi dengan Kepala Museum Negeri Sumatera Utara dan Balai Arkeologi
Medan, demikian pula tinggalan (artifak) arkeologis yang banyak di temukan di Simalungun, namun penelitian
untuk mendapatkan data yang akurat seperti ekskavasi, geomorphologis, carbodanting atas tinggalan tersebut
belum pernah dilakukan. Contoh fort of Nagur, Catur Nagur, arca raja yang menunggang Gajah maupun tinggalan

Universitas Sumatera Utara

2. Nama Simalungun dalam perdebatan 121


Masih menjadi pertanyaan, darimana asal kata Simalungun ?. Sebagai
pedoman adalah sebagai berikut :
a. Pendapat dari U. Hamdar (Urich H. Damanik) :
Simalungun berasal dari kata : Si-ma-lungun, yaitu bertitik tolak dari
pemecahan secara etimologis bahwa Si adalah kata penunjuk, ma adalah
awalan, lungun artinya sunyi atau rindu.
b. Pendapat Kasim Sipayung :
Simalungun berasal dari Siou-ma-lungun, dengan penjelasan bahwa Siou
adalah daerah atau wilayah, ma adalah awalan lungun adalah sunyi atau
rindu. Malungun berarti yang sunyi atau yang dirindui. Iou artinya Negeri.
Dalam pergaulan sehari-hari kata ini tidak banyak dipakai tetapi dalam
Kidung mengandung arti kasih sayang dan kerinduan, misalnya jika
seorang anak meninggal dunia maka ibunya akan meratap dengan kalimat
juppa ma parsirangan, madaoh ma pardomuan, lahoma tunas
mardomu nadaoh, marlangit anak-anak martamoh pulau-pulau artinya :
kinilah kita berpisah, tak akan bertemu lagi (karena) dikau pergi ke negeri
jauh dengan bumi dan langit yang terasing. Jadi Simalungun berarti daerah
tersayang yang (menjadi) sunyi.
c. Pendapat T. Ms. Purbaraya :
Simalungun berasal dari kata Silou-ma-lungun, yakni dengan
menghubungkan sejarah runtuhnya Kerajaan Silou Tua sebagai lanjutan dari
Kerajaan Nagur dan lain-lain yang berhubungan dengan perpindahan
penduduk (migra-si) dan wabah penyakit sampar.
d. Pendapat T.B.A. Purba Tambak :
Simalungun berasal dari kata : Simou dan Lungun. Simou artinya samarsamar yakni antara nampak dan tidak nampak dengan terang, tetapi jelas ada.
Ibarat Sima (kuman) tidak dapat dilihat dengan terang tetapi jelas ada.
Lungun artinya sunyi atau lengang, karena wilayah itu dulunya adalah
terdiri dari hutan belantara yang sunyi dan lengang dimana penduduknya
hampir tidak kelihatan
e. Pendapat D. Kenan Purba :
Kata Simalungun berasal dari kata Sima-lungun. Sima artinya sisa, lungun
artinya kesedihan, maka Simalungun artinya Sisa dari Kesedihan. Dalam

tradisi megalitik lainnya belum pernah diteliti sehingga belum didapat informasinya. Jika pun ada, masih terbatas
pada segi arsitektur seperti yang dilakukan oleh Claire Holt dan Ery Soedewo. Lihat, Buletin Sangkakala,
(Medan: Balai Arkeologi. 2005).
121

Pemberian nama Simalungun masih memerlukan penelitian dari ahli bahasa, sejarah dan budaya
Simalungun : Bukan Sibalungun, bukan Simelungun, melainkan Simalungun, demikian O.J Sinaga dari Tiga
Balata, SIB, 15 Januari 1977 dalam Kenan Purba dan J.D Poerba, Sejarah Simalungun, (Jakarta : Bina Budaya
Simalungun, 1995), hal. 1.

Universitas Sumatera Utara

bahasa daerah Simalungun biasa disebut : Sima-sima ni lungun yang


akhirnya dilafazkan menjadi Simalungun.
Asal kata Simalungun karena itu, berasal dari bahasa Simalungun, lungun
artinya sunyi/ sepi. Bila penjelasan ini diceritakan di tempat orang lain, maka
menurut tata bahasa Simalungun ditambah dengan kata ma (malungun),
menunjukkan kondisi territorial yang sunyi sepi itu. Dalam perkembangan tata bahasa
Simalungun, bila kata sebutan tentang sesuatu benda atau wilayah menjadi nama,
biasanya ditambah si misalnya : si Anu jika wilayah Simarjarunjung,
Simalungun. 122
Malungun menggambarkan keadaan asli, bahwa tanah yang sangat luas itu
masih jarang manusia penghuninya, penuh dengan binatang-binatang buas, tempat
burung-burung bersarang. Belum ada jalan manusia, hanya padang belantara
(harangan toras/ hutan belukar), sungai (bah), bukit-bukit gunung dan lembahlembah.
Legenda yang bersifat mythos, ada seorang bidadari berasal dari kahyangan,
sepanjang hidupnya merasa kesepian (malungun) karena merindukan sesuatu yang
tak kunjung datang. Dari segi panorama, nun jauh mata memandang disebut marsima-sima artinya sima : lungun menjadi Simalungun. Itulah asal mula munculnya
istilah/ nama Simalungun.
3. Masuknya orang Tapanuli ke Simalungun
Dimulai pada abad ke 19, kampung halaman Batak Toba sudah mulai sesak
akibat pertambahan alamiah, angka kematian mulai menurun, sedang angka kelahiran
menjadi meningkat. 123 Jumlah penduduk bertambah dengan cepat dan sejalan dengan
itu tekanan penduduk terhadap lahan pertanian, terutama dalam persawahan menjadi
masalah yang pelik di daerah Dataran Tinggi Toba 124. Di berbagai wilayah, luas
lahan persawahan yang diusahai penduduk semakin sempit. Pembukaan dan
perluasan persawahan baru semakin tidak mungkin karena berbagai hal, diantaranya
faktor sumber air dan iklim. Hasil yang diperoleh dari lahan kering pun kurang
memuaskan. Berbagai :tantangan di kampung halaman harus dihadapi. Sementara
itu cita-cita untuk selalu mengejar 3H (Hagabeon, Hamoraon, dan Hasangapon)
tidak pernah padam dalam diri setiap orang. Berbagai keterbatasan yang dihadapi di
wilayah sendiri mendorong mereka meninggalkan kampung halamannya. Pada
awalnya tidak sedikit dari kaum tani yang bekerja keras membuka hutan dan

122
123

Ibid, hal. 14
Ini adalah salah satu dampak positif dari usaha-usaha Zending Jerman di bidang kesehatan

Universitas Sumatera Utara

membangun kampung baru dengan menghadapi tantangan yang berat tanpa


memperhitungkan risiko di daerah lain.
Pada tahun 1912 atas kerjasama Pemerintah Hindia Belanda dengan zending
Kristen didatangkanlah orang-orang dari Toba, Angkola, dan Mandailing, dengan
menjanjikan fasilitas-fasilitas tertentu asal mau membawa rombongan dalam jumlah
besar ke Simalungun terutama untuk membuka areal persawahan.
Pada tahun 1920 telah ada orang Toba sebanyak 21.832 orang dan Mandailing
sebanyak 4.699 orang yang tersebar di daerah-daerah persawahan di Simalungun.
Sesuai dengan janji yang diumbar oleh Pemerintah Hindia Belanda dan sejalan
dengan Politik Devide Et Impera, maka bagi suku-suku pendatang, diangkatlah
pimpinan-pimpinan yang diambil dari kalangan mereka sendiri. Untuk memimpin
orang-orang Toba diangkatlah Andreas Simangunsong dengan gelar Jaihutan (Raja
Ihutan). Demikian juga jabatan-jabatan di pemerintahan seperti Pangulu Balei
(Kepala Kantor Raja), Kerani, Guru dan lain-lain banyak yang diberikan kepada
suku-suku pendatang tanpa memperhatikan perimbangan dengan penduduk setempat.
Hal ini mendapat tantangan keras dari Raja-raja Simalungun, sehingga
akhirnya pada tahun 1921 jabatan Jaihutan, Pangulu dan Kepala Rodi untuk orangorang Toba dihapuskan.
Selain itu pemerintah Kolonial Belanda memberikan lokasi tanah persawahan
bagi orang-orang Jawa, terutama bagi mereka yang telah habis masa kontraknya di
perkebunan, maka berdirilah perkampungan orang Jawa di Bandar dan Sidamanik,
perkampungan seperti ini disebut Javakolonisasi.
Keseluruhan kegiatan tersebut di atas adalah untuk memperbesar persaingan
(tidak jarang jadi permusuhan) antara penduduk setempat dengan para pendatang
sesuai dengan kepentingan politik Belanda.
Sesuai dengan sifat orang Simalungun yang suka menyendiri, mudah
tersinggung, dan tidak mengenal pertanian sawah, akhirnya mereka mudik ke daerahdaerah yang relatip lebih kurus (kurang subur atau gersang), karena daerah-daerah
subur dan yang dapat dijadikan persawahan hampir seluruhnya diduduki orang-orang
pendatang.
Dengan kata lain, setelah tersebar berita tentang keadaan Simalungun di
Tapanuli, yang dibawa oleh petugas mission, beberapa waktu kemudian telah ada
yang memberanikan diri untuk melihat keadaan daerah itu, ada yang naik sampan dari
Balige menuju Sungkean Samosir terus ke Parapat dan dari Panahatan melewati hutan
terus ke Tigadolok dan sampai ke Siantar setelah empat hari perjalanan. Sesudah
melihat keadaan daerah tersebut, mereka memutuskan untuk membuka
perkampungan. Untuk menambah tenaga dan mempertahankan diri dari serangan
musuh, beberapa orang disuruh pulang dan sekaligus memberi kabar kepada
keluarganya dan teman-teman sekampung agar mereka ikut dalam perjalanan
124

O.H.S Purba dan Elvis F. Purba, Migrasi Batak Toba, di luar Tapanuli Utara : Suatu Deskriptif.
(Medan : Monora, 1998), hal. 1

Universitas Sumatera Utara

berikutnya. Demikian pula berita yang diwartakan pekabar Injil melalui majalah
mingguan Immanuel sangat cepat tersebar dan menarik perhatian, terutama bagi
keluarga yang tidak memiliki lahan yang luas. Sejak itu, beberapa rombongan,
sebagian naik sampan dari Balige ke Panahatan terus ke Tigadolok dan sebagian
berjalan kaki dari Lumban Julu terus ke Tigadolok dan dari sana menuju arah Siantar.
Perjalanan yang melelahkan dengan melewati hutan yang diselang-selingi terik
matahari dan hujan tidak menjadi penghambat bagi mereka memasuki daerah
Simalungun.
Pada tahun 1904 di Pematang Bandar telah dimulai membuka persawahan
yang diprakarsai oleh missioner G.K. Simon. Proyek ini hanya berjalan beberapa
lama karena hasilnya sangat sedikit dan akhirnya tutup 125. Ketika itu untuk
membentuk persawahan sangat sukar karena saluran irigasi belum ada. Oleh karena
itu orang Batak Toba kurang berminat tinggal disana.
Disamping dorongan dari diri sendiri, missioner Jerman juga mendukung
perpindahan sebagian orang Batak Toba ke Simalungun dengan maksud untuk
memberi contoh dalam cara bercocok tanam di persawahan dan sekaligus untuk
memberi teladan cara hidup Kristiani. Tahun 1905 orang-orang dari Tapanuli sudah
makin banyak yang pindah, ada yang menuju Panai, Bandar dan Tanah Jawa. Petanipetani yang sudah membuka perladangan berusaha mengubahnya menjadi
persawahan. Pada tahun itu juga petani-petani yang tinggal di dekat Siantar berhasil
menggali tali air dari Sungai Bah Biak secara gotong royong dengan berpedoman
pada teknologi irigasi yang mereka bawa dari kampung asalnya. Sejak pembukaan
tali air tersebut, persawahan mulai ada. Nama tempat persawahan itu pun, yang
semula adalah perladangan (juma) berubah menjadi Juma-Saba, yang bermakna
perladangan (juma) berubah menjadi persawahan (saba), yaitu di derah Simpang
Empat yang sekarang.
Dalam beberapa tahun, areal pertanian pangan yang dibuka petani-petani
Batak Toba sudah menunjukkan hasil yang lumayan. Keberhasilan tersebut
ternyata mendapat perhatian dari pemerintah Kolonial. Mereka mengetahui
bahwa petani-petani tersebut sungguh-sungguh mengerjakan lahan
pertaniannya dan melihat semangat petani-petani yang datang belakangan
membuka lahan pertanian pangan. Sadar akan kesungguhan dan keagresifan
petani-petani tersebut, serta sesuai dengan politik mereka, pemerintah
kolonial melalui Kontrolir Batubara mengadakan perjanjian dengan raja
Bandar, agar orang Batak Toba diberi kesempatan memasuki daerah Bandar
dalam rangka membuka persawahan 126
Sejak perjanjian tersebut semakin banyak kaum tani dari Tapanuli menuju
Bandar, walaupun kemudian hari banyak yang pindah kembali. Tahun 1906 petanipetani dari Toba Holbung, Silindung, dan Humbang datang untuk membuka
persawahan. Mula-mula mereka tiba di Bandar Meratur dan dari sana menyebar ke
125
126

M.Joustra, van Medan Naar Padang En Terugi, (Leiden:S.C van Doesburq, 1915), hal.39
Batara Sangti, dkk, Sejarah Batak, (Balige : Karl Sianipar Company,1977), hal.179

Universitas Sumatera Utara

daerah sekitarnya 127. Pada tanggal 31 Desember 1906, sudah terdapat sebanyak 94
orang Kristen Batak, terdiri dari 40 laki-laki dewasa, 11 perempuan dewasa dan 43
anak-anak yang datang dari Tapanuli tinggal di Pematang Bandar 128. Pada tahun yang
sama, di Juma-Saba sudah diadakan kebaktian yang dipimpin oleh evangelis
Theopilus Pasaribu 129
Tahun 1907 sudah terdapat beberapa keluarga Batak Toba yang datang dari
Toba Holbung, Humbang, dan Silindung tinggal di daerah Panai 130. Selain ke daerah
Panai, banyak pula yang menuju Siantar, kearah Dolok Merlawan dan daerah
lainnya di Simalungun. Sebaliknya perpindahan ke Tanah Jawa ketika itu mendapat
hambatan. Mereka tidak diijinkan oleh pemerintah, yaitu kontrolir yang lama
memerintah dan mengawasi rakyat di daerah itu 131. Pada bulan September 1907
tujuh raja Simalungun menandatangani Korte Verklaring 132. Penandatanganan
perjanjian tersebut merupakan pengakuan terhadap kedaulatan Belanda di sana dan
ketika itu raja-raja tersebut berjanji tidak akan melakukan hubungan-hubungan
politik dengan negeri-negeri asing serta setuju untuk mengikuti undang-undang dan
peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Sejak itulah dirintis
perluasan perkebunan di Simalungun 133. Pembukaan perkebunan tersebut membuka
kesempatan yang lebih luas lagi bagi kaum terdidik Batak Toba mendapatkan
pekerjaan di daerah itu. Dalam kurun waktu 3 Tahun, beberapa daerah di
Simalungun sudah dihuni orang-orang Batak Toba.
4. Pemerintahan Swapraja
Sesudah penandatangan Korte Verklaring tahun 1907, sistem pemerintahan di
Simalungun sudah berubah, dari kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri berubah
menjadi Swapraja yang disebut Landschap berada dalam Onder Afdeling Simalungun
di bawah pemerintahan Hindia Belanda. 134
Dengan adanya perubahan tersebut maka peranan Harajaan (dewan kerajaan)
tidak ada lagi, karena semua kekuasaan telah dipusatkan pada Raja sebagai Kepala
Landschap.
Sejak tahun 1904 kerajaan-kerajaan Dolok Silau, Raya, Purba dan Silimakuta
termasuk daerah dalam penguasaan Pemerintah Belanda, dikepalai oleh seorang
127

Sihombing, P.T.P., Saratus Taon Huria Kristen Batak Protestan, (Medan : Philemon & Liberty,1961),

hal. 56.
128
H.Marbun, Barita Djujur Taon-Laporan Tahunan (1946-1960), (Doloksanggul, Humbang, Bandar,
Asahan, D. Serdang, Medan-Atjeh dan Medan TImur), (Medan;Lembaga Penelitian Universitas HKBP
Nomensen,1990) , hal. 77
129
Panitia Jubileum, Buku Sejarah HKB P Pematangsiantar, Pesta Jubileum 75 Taon 29 September 190729 September 1982, (Pematangsiantar; Grafina,1982) hal. 16.
130
Sihombing, loc cit
131
A.A Sitompul, Perintis Kekristenan di Sumatera Bagian Utara, (Jakarta:BPK Gunung Mulia,1986),
hal.159
132
Reid, Anthony, The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern
Sumatera. (Kuala Lumpur : Oxford University Press,1979), hal. 101.
133
Liddle, R, William, Ethnicity, Party, and National Integration: An Indonesian Case Study, (New Haven
: Yale University Press, 1970), hal. 25
134
Kenan Purba & J.D. Poerba, Sejarah Simalungun , op cit, hal. 60

Universitas Sumatera Utara

Controleur bernama V.CJ Westenberg yang berkedudukan di Bangun Purba,


sedangkan kerajaan-kerajaan Siantar, Tanah Jawa dan Pane telah terdahulu (sejak
akhir tahun 1890) pengaruh Pemerintah Belanda dibawah pimpinan seorang
Controleur yang berkedudukan di Labuhan Ruku daerah Batu Bara. 135
Pelaksanaan Pemerintahan oleh Belanda dilakukan dengan cara tournee ke
Daerah-daerah dan di mana perlu menyelesaikan sesuatu persoalan langsung di
lapangan, ataupun para Raja-raja dan pembesar-pembesarnya datang berkumpul
untuk berrapat (Harungguan Nabolon). Harungguan Na Bolon pada waktu dalam
hubungan ada sesuatu sengketa, maka dijadikan merupakan sidang pengadilan
sedangkan penuntut umum (Jaksa) pertama untuk daerah Hukum Saribu Dolok ialah
Ingat-dolok Saragih (Tuan Sinasih) dan untuk daerah hukum P.Siantar Jaksa pertama
ialah Manase Sitompul.
Hasil penerimaan/pendapatan dari Pemerintah Belanda ialah Candu yang
merupakan hadiah mengurangi ketegangan Politik. Pada akhir tahun 1909 daerah
Karo disatukan dengan Pemerintahan daerah kerajaan Simalungun di bawah
pimpinan Assintent-Resident Westenberg yang berkedudukan di Saribu Dolok
(Westenberg sebelumnya conroleur di Bangun Purba). Untuk daerah Simalungun
didudukkan seorang Controleur bertempat di P.Siantar dan kemudian Controleur
untuk daerah Karo bertempat di Kabanjahe (tahun 1911).
Pada tahun 1910 didirikanlah markas Tentera Belanda di Seribu Dolok, tetapi
pada pertengahan tahun 1911 dipindahkan ke Sidikalang.
Di daerah Simalungun Atas, Politik Pemerintahan tidak begitu pesat
perkembangannya, sedangkan di daerah Simalungun Bawah dengan adanya
penanaman karet, pertumbuhannya cepat sekali, sehingga kedudukan Assistant
Resident pada tahun 1912 dipindahkan dari Seribu Dolok ke P.Siantar. Demikianlah
sejak pertengahan tahun 1920 daerah Simalungun termasuk daerah penanaman modal
asing.
Sesudah penandatanganan kontrak pendek dengan pemerintah Belanda pada
tahun 1907, maka kekuasaan Raja-Raja di Simalungun dengan berangsur-angsur
menjadi kurang, sekalipun dinamakan pemerintahan itu diserahkan seluas-luasnya
mengurus rumah tangganya sendiri. Hanya bayangan nama Raja sesungguhnya
merupakan Kepala Adat dimana kekuasaannya telah dibatasi oleh Pemerintah
Belanda. Dengan surat keputusan Pemerintah Belanda Lembaran Negara 1914 No.24
yang pelaksanaannya untuk daerah Simalungun baru disahkan pada tahun 1917, maka
berlakulah peraturan-peraturan yang diperbuat oleh pemerintah Belanda mengenai
wewenang dari Raja-Raja Simalungun dan pengaturan mengenai peradilannya.
Mulai tahun ini dibangun kantor Raja di tiap-tiap kerajaan untuk
melaksanakan administrasi Pemerintahan. Pada tiap-tiap kantor diangkat seorang
kepala kantor yang dinamakan penghulu balai dan bertindak juga selaku jaksa
(penuntut Umum) dalam perkara pidana pada Pengadilan Swapraja tingkat kerapatan
urung. Yaitu pelanggaran denda di antara 20-60 rupiah uang Belanda dan ancaman
135

TBA Purba Tambak, Sejarah Simalungun, (Pematangsiantar:Danau Singkarak,1982), hal.129

Universitas Sumatera Utara

hukuman penjara selama 14 hari sampai 5 bulan dan dalam bidang perkara perdata
bertindak selaku panitera yang memutuskan perkara dengan nilai harga 50-100 rupiah
uang Belanda.
Onder Afdeling Simalungun dibagi habis dalam 7 Kerajaan, dan Kerajaan
dibagi atas beberapa Distrik (semua ada 16 Distrik) dan selanjutnya Distrik dibagi
habis dalam beberapa Kampung (huta). Adanya Kerajaan/ Landschap dan Distrik di
Simalungun pada waktu itu adalah sebagai berikut :
No
Landschap
Distrik
1
Siantar
1. Siantar
2. Bandar
3. Sidamanik
2
Tanoh Jawa
4. Tanoh Jawa
5. Bosar Maligas
6. Jorlang Hataran
7. Dolog Panribuan
8. Girsang Sipangan Bolon
3
Panei
9. Panei
10. Dolog Batu Nanggar
4
Raya
11. Raya
12. Raya Kahean
5.
Dolog Silou
13. Dolog Silou
14. Silou Kahean
6.
Purba
15. Purba
7.
Silima Kuta
16. Silima Kuta
Dalam hal perubahan kewenangan raja-raja berdasarkan besluit Gubernement
tahun 1914 No 24 ditetapkan hak-hak dan wewenang Raja-Raja Simalungun
termasuk Peradilan Swapraja/Landraad sebagai pengganti Kerapatan atau
Harungguan, tetapi baru mulai berlaku pada tahun 1917.
Pada tahun 1917 gedung Kantor para Kepala Landschap (Raja) di Simalungun
dibangun dan pada setiap kantor diangkat seorang Pangulu Balei (Kepala Kantor)
yang sekaligus merangkap sebagai jaksa pada tingkat Kerapatan Urung.
Sedangkan hirarki dan tingkat-tingkat peradilan yang ada di Simalungun
waktu itu adalah sebagai berikut :
a. Tingkat Huta (Kampung) tugas peradilan dipegang oleh Kepala Kampung
(Pangulu) dibantu oleh beberapa orang pengetua (Partuha Maujana).

Universitas Sumatera Utara

b. Tingkat Parbapaan (gabungan beberapa kampung) peradilan diadakan melalui


Kerapatan Balei yang diketuai oleh Parbapaan dan anggota-anggotanya adalah
para Pangulu yang ada di wilayahnya.
c. Tingkat Landschap (Kerajaan) melalui Kerapatan Urung yang langsung diketuai
oleh Raja (Kepala Landschap) dibantu oleh Pangulu Balei dan beberapa Gamot
Harajaan.
d. Pengadilan Tertinggi di Onder Afdeling Simalungun disebut Kerapatan Na Bolon
yang langsung diketuai oleh Controleur dan anggotanya adalah ke 7 Raja-raja
Simalungun. Tugasnya ialah untuk menyelesaikan perkara atau sengketa di antara
Raja-raja Simalungun. Tetapi hakekatnya kepada Badan tersebut dibebankan juga
tugas-tugas pelaksanaan pengaturan otonomi dan medebewind (tugas perbantuan).
Controleur mempunyai tugas ganda, yaitu sebagai Zelfbestuur (Pemerintah di
Daerahnya) dan sebagai Voorzitter (Hakim).
Dalam sistem Swapraja ini Raja-raja merasa kuasanya dikukuhkan, akan tetapi
mereka tidak sadar bahwa mereka telah menjadi alat kolonial. Sebagai bukti, raja-raja
sudah ditugaskan memungut belasting (pajak) dan bagi rakyat yang tidak mampu
membayar pajak dipaksa untuk melaksanakan pekerjaan Rodi (Kerja Paksa).
5. Asal Usul Orang Simalungun
a. Marga
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim
SISADAPUR, yaitu :
1) Sinaga
2) Saragih
3) Damanik
4) Purba
Keempat marga ini merupakan hasil dari Harungguan Bolon (permusyawaratan
besar) antara 4 raja besar (raja-raja yang pernah berkuasa di Simalungun), untuk

Universitas Sumatera Utara

tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani


hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah :
Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik
berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma,
agung/terhormat, paling cerdas).
Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti
atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur,
penyusun atau pemegang undang-undang.
Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa, berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Purwa yang berarti
timur, gelagat masa datang, pengatur, pemegang undang-undang, tenungan
pengetahuan, cendekiawan/sarjana.
Raja Saniang Naga bermarga Sinaga
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai
penyebab Gempa dan Tanah Longsor.
Dilihat dari perkembangan marga-marga Dilihat dari perkembangan marga-marga di
Simalungun bahwa marga Sinaga, Saragih, Damanik, dan Purba (Sisadapur) hanyalah
merupakan marga pokok saja. Hal itu dapat kita lihat dari perkembangan berikutnya
berdasarkan hubungan kekerabatan dari raja-raja atau partuanon dahulu, maka di
masing-masing kerajaan terdapat tambahan marga-marga yang baru sebagai berikut :
a. Di bekas Kerajaan Purba : Marga Lingga, Silalahi dan Haloho
b. Di bekas Kerajaan Raya : Marga Sipayung, Silalahi, Sinurat dan Sitopu
c. Di bekas Kerajaan Tanoh Jawa : Marga Manurung, Butar-butar, Sirait, Sitorus
dan Margolang.
d. Di bekas Kerajaan Siantar : Marga Dabahu (Naibaho), Dasopang, Dasalak
bahkan dari etnis Melayu, Banjar, dan Sipirok/Mandailing.
e. Di bekas Kerajaan Dolog Silou : Marga Sipayung, Tarigan, Sembiring, Ginting
dan Munthe.
f. Di bekas Kerajaan Panei : Marga Sipayung , Turnip dan Sitio.

Universitas Sumatera Utara

g. Di bekas Kerajaan Silimakuta : Marga Tarigan, Sembiring, Silalahi,


Simanjorang dan Situngkir. 136
b. Perkerabatan Simalungun
Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu
partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek
moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acaraacara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung
bertanya aha marga ni ham? (apa marga anda) tetapi hunja do hasusuran ni
ham? (dari mana asal usul anda?).
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini
Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei (dari Raya, Purba,
Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).
Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga
raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep
perkawinan antara raja dengan puang bolon (permaisuri) yang adalah puteri raja
tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar
(Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanon Silappuyang, Raja
Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri
Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.
Adapun perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai
partuturan. Partuturan ini menentukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan
(pardihadihaon), dan dibagi ke dalam beberapa kategori sebagai berikut :
a). Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri
b). Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat
Simalungun
c). Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak
berbicara sebagai tanda hormat.
Menurut penelitian G. Ferrand seorang antropolog dari Amerika
menyimpulkan bahwa kedatangan penduduk ke Nusantara terjadi dalam 2 periode.
Periode pertama disebut protomelayu/ proto Simalungun yang datang sekitar 1000
tahun SM, diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam
(India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk
selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari
136

Kenan Purba & J.D. Poerba, Sejarah Simalungun , op cit, hal. 4-5

Universitas Sumatera Utara

Raja dinasti Damanik, yang diperkirakan menjadi penduduk pertama Nusantara. Pada
awalnya protomelayu banyak mendiami pesisir pantai di pulau-pulau Nusantara.
Kelompok ini antara lain adalah Batak (termasuk Simalungun), Toraja, Dayak dan
Nias. 137
Periode kedua datang sekitar tahun 500 SM dan disebut deuteromelayu /
deutero Simalungun, datang dari suku-suku di sekitar Smalungun yang bertetangga
dengan suku asli Simalungun. Kelompok ini termasuk orang Jawa, Madura dan
Makasar. Kedatangan deutromelayu ini mendesak protomelayu sehingga suku
protomelayu semakin bergerak dan berpindah ke pegunungan di pulau-pulau
Nusantara.
Dikisahkan, pada waktu perpindahan gelombang protomelayu, ada
sekelompok penduduk yang hijrah (pindah) dari India Selatan secara estafet. Awalnya
kelompok ini berangkat dari India Selatan menuju Champa (baca : Siam = Thailand
sekarang).; Setelah beberapa puluh tahun tinggal di Champa, komunitas ini diserang
oleh suku Mongolia dari utara. Kaum pria banyak dibunuh dan wanitanya dikawini
para pria Mongolia. Dari hasil perkawinan campuran ini terlahirlah suatu turunan ras
baru berkulit sawo matang.
Setelah peristiwa serangan tersebut sebagian dari kelompok ini berpindah lagi
dan berpencar menuju pulau-pulau di sekitarnya (yakni Indonesia dan Philipina
sekarang). Di Nusantara ada kelompok yang menuju Sulawesi dan ada yang menuju
Sumatera. Mereka yang mendarat di Sulawesi tersebut, beranak-pinak menjadi suku
Toraja. Sementara kelompok yag pindah menuju Sumatera mendarat di Batubahra
(Sekarang : Batubara) dan dari sana mulai menyebar ke seluruh pelosok Sumatera
bagian Utara. Kelompok inilah yang beranak-pinak menjadi leluhur orang
Simalungun (termasuk Batak lainnya). 138
Sementara kelompok ketiga berpindah menuju Tagalog (Philipina). Di sana
beranak-pinak dan kelak menjadi leluhur orang Philipina. Bukti budaya sebagai fakta
otentik hingga kini masih ada ditemui persamaan budaya dalam ketiga kelompok ini.
Misalnya pemakaian kain perca putih (simalungun = porsa), yang diikatkan pada
kepala seperti slayer pada saat kematian orang tua yang sudah lanjut usia. Juga
adanya budaya makan sirih serta meratakan gigi (mangkihir ipon). Mangkihir ipon
adalah tradisi meratakan gigi dengan cara memotongnya dengan alat kikir. Setelah
diratakan, untuk menghilangkan rasa ngilu, gigi dioles dengan getah kayu
(Simalungun : saloh) sehingga gigi kelihatan berwarna hitam. Budaya ini ditemukan
pada semua kelompok keturunan di atas.
Budaya mangkihir ipon di Simalungun masih ditemukan pada saat
kedatangan orang Jawa ke Simalungun. Oleh sebab itu dulu orang Simalungun
137

MD.Purba, Museum Simalungun, [(s.l): (s.n), 1978], menjelaskan bahwa Nagur sebagai leluhur
Simalungun datang dalam gelombang protomelayu ke Nusantara
138
Penelitian (disertasi) tentang gen yang dilakukan oleh Del tri Munir dosen USU di Leiden
menyimpulkan bahwa gen HLA yang terdapat pada Orang Mongolia dan orang Batak, Thailand, Toraja dan
Philipina adalah berasal dari induk yang sama

Universitas Sumatera Utara

menyebut orang Jawa dengan sebutan si bontar ipon (si gigi putih) karena giginya
putih atau tidak hitam sebagaimana gigi orang Simalungun. 139.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, juga disebutkan bahwa Tuan
Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan
dari 4 raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah
Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran
danau Toba dan Samosir.
Pustaha Parpandanan Na Bolag (Pustaka Simalungun Kuno) mengisahkan bahwa
Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua
di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga
ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan
Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau. 140
6. Filosofi Hidup orang Simalungun
Pandangan Religi Tradisional Simalungun
Sebelum masuknya agama Islam maupun Kristen di daerah Simalungun,
orang Simalungun sudah menganut agama animisme parhabonaron. Keyakinan ini
secara umum merupakan warisan Hindu yang tertanam secara turun-temurun.
Animisme parhabonaron adalah suatu keyakinan yang mempercayai bahwa semua
makhluk (benda) mempunyai kekuatan (power) yang dapat mempengaruhi kehidupan
manusia di sekitarnya.
Menurut J.Tideman orang Simalungun pada saat itu meyakini semua
makhluk, tumbuh-tumbuhan atau benda tertentu mempunyai kekuatan gaib. Dan
mereka mempercayai bahwa ada Tuhan pencipta langit dan bumi beserta segala
isinya dikenal dengan nama Naibata (dewata). Pemahaman akan Naibata bagi orang
Simalungun saat itu adalah sebagai suatu oknum yang maha adil. Selain oknum
Naibata orang Simalungun juga menyembah roh-roh bernama Sinumbah dan
Simagot.
Habonaran Do Bona
Ada suatu pemahaman yang sangat kental pada keyakinan leluhur orang
Simalungun bahwa Naibata itu maha kuasa, maha adil dan maha benar. Manusia juga
dituntut untuk bersikap benar. Segala sesuatu harus didasarkan kepada hal yang
benar. Inilah prinsip dasar dari filosofi Habonaron Do Bona pada orang
Simalungun.
Falsafah Habonaron Do Bona merupakan filosofi hidup bagi orang
Simalungun. Habonaron Do Bona arti harfiahnya adalah kebenaran adalah dasar
segala sesuatu. Artinya mereka menganut aliran pemikiran dan kepercayaan bahwa
segala sesuatu harus dilandasi oleh kebenaran, sehingga enak bagi semua pihak.
Mereka dituntut senantiasa harus menjaga kejujurannya (kebenaran) di hadapan
sesama manusia.
139
140

G.Ferrand dalam Sortaman Saragih, Orang Simalungun, op cit, hal.23


ibid

Universitas Sumatera Utara

Bersumpah
Untuk membuktikan kejujuran, dulu sering dilakukan bersumpah atau
dalam bahasa Simalungun disebut marbija. Apabila orang lain mencurigai seseorang
melakukan kejahatan, maka orang tersebut biasa mengangkat sumpah dengan
mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga padanya. Semisal jiwa anaknya. Jika
terbukti melakukan kejahatan tersebut maka anaknya akan menjadi tumbal. Dalam
marbija ini seseorang harus jujur karena jikalau bersumpah palsu, diyakini tumbal
sumpahnya menjadi nyata. Orang tidak berani berdusta hanya untuk menutupi
kesalahan sesaat.
Di samping marbija, di Simalungun dulu ada suatu cara menguji kejujuran
yakni dengan menyerukan atau mengucap si pittor bilang kepada Naibata. Artinya
biarlah Naibata yang akan membalaskan kepada pelaku kejahatan tersebut.
Nilai-nilai falsafah ini terasa sangat positif dalam membentuk keharmonisan
hidup dengan sesama. Falsafah ini membimbing manusia untuk hidup dalam
kejujuran dan ketentraman.
Hal Habonaron Do Bona ini juga dijunjung oleh para pemimpin seperti
raja-raja yang ada di Simalungun. Raja sendiri tidak bertindak dengan seenaknya.
Para orangtua juga selalu menanamkan prinsip hidup Habonaron Do Bona kepada
anak-cucunya. Harus bijaksana dalam bergaul di tengah masyarakat.
Dari filosofi Habonaron Do Bona, tercermin prinsip-prinsip hidup yang
banyak diungkapkan. Berupa kata-kata nasehat dan prinsip hidup dalam bentuk
ungkapan, pepatah, kiasan dan perumpamaan. Secara umum prinsip Habonaron Do
Bona menanamkan kehati-hatian, hidup bijaksana, matang dalam berencana sehingga
tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.
Menurut MD. Purba sebagai penjabaran Habonaron Do Bona dapat
disebutkan dalam 8 nilai kebenaran yang dianut pada saat itu yakni :
a. Berpandangan yang benar
Orang Simalungun diajarkan untuk tetap teguh berpandangan yang benar. Jangan
ada niat jahat untuk merugikan orang, jangan merugikan orang yang pernah
memberikan pertolongan kepadanya, jangan suka mencari-cari kesalahan orang
lain. Namun harus juga selalu member arti kepada sesama manusia dan jangan
saling memburukkan.
b. Berencana (berniat) yang benar
Habonaron Do Bona mengajarkan orang Simalungun untuk tidak menjadi
manusia provokator dan hidup tanpa aturan, tanpa perhitungan dalam segala hal.
c. Berbicara yang benar

Universitas Sumatera Utara

Orang Simalungun selalu diajarkan untuk hidup dengan cara yang benar. Jangan
pernah membodohi orang lain sebab bisa merugikan diri sendiri, Jangan terlalu
banyak bicara kalau tidak benar adanya.
d. Bekerja (bertindak) yang benar
Orang Simalungun diajarkan untuk melakukan pekerjaan yang benar dan tidak
menjadi pekerjaan yang sia-sia. Sekali kebijakan diputuskan, pantang untuk surut
melakukannya.
e. Berkehidupan yang benar
Habonaron do Bona mengajarkan sikap kepada orang Simalungun untuk hidup
yang benar. Jangan sampai hidup tersisih karena tidak disenangi orang lain,
jangan sampai dibenci orang lain.
f. Berusaha (berkarya) yang benar
Orang Simalungun diajarkan untuk hidup dengan pekerjaan yang terencana dan
target yang benar. Hidup harus direncanakan supaya dapat mencapai kemajuan.
Janganlah hanya hidup tanpa ada kemajuan.
g. Berprinsip yang benar
Orang Simalungun diajarkan Habonaron do Bona untuk hidup dengan prinsip
yang benar. Punya pendirian yang teguh dengan prinsip yang benar. Punya
pendirian yang teguh dan idealis yang positif. Jangan mudah terpengaruh oleh hal
yang tidak baik. Perkembangan agamapun awalnya sangat sulit di Simalungun,
tetapi setelah dianut, kian susah untuk mengubah pilihannya (mengganti agama).
h. Berpikiran yang benar
Dalam hal berpikir, Orang Simalungun diajarkan untuk menganut pola pikir yang
benar dalam hidup bersama dengan orang lain. Tidak boleh hanya menang
sendiri. Harus memikirkan perasaan dan harapan orang lain.
Filosofi dalam budaya adat
Kepribadian dan karakter Orang Simalungun juga dapat dilihat dari falsafah
adat yang berkembang dalam masyarakat. Tatanan dan manajemen sosial tercermin
dalam cara pelaksanaan adat. Secara prinsip, dalam adat Simalungun adalah suatu
tatanan kehidupan yang digambarkan dalam 3 sahundulan 5 saodoran.
Tolu sahundulan artinya adalah bahwa dalam masyarakat Simalungun, secara
manajemen untuk menentukan suatu keputusan ditentukan oleh kesepakatan dari tiga
pihak keluarga. Mereka duduk bareng untuk berembuk dan memutuskan bentuk

Universitas Sumatera Utara

kebijakan yang akan diambil. Ketiga pihak tersebut yakni : Suhut (pihak tuan rumah),
tondong (pihak keluarga si istri), boru (pihak keluarga si suami).
Aplikasi prinsip adat ini bagi orang Simalungun adalah, setiap orang memiliki
ikatan kekeluargaan yang begitu luas dan begitu kuat. Untuk merencanakan sesuatu
program kerja, harus terlebih dahulu mengundang dan meminta pendapat dari empat
pihak keluarga lain. Di sisi lain hal ini membuat kebijakan yang lamban dan tidak
dapat cepat disimpulkan. Prinsip ini terbawa-bawa dalam semua sisi kehidupan orang
Simalungun, lebih banyak berembuk dari pada berbuat.
Filosofi ayam dalam adat
Satu hal yang sangat penting dicermati dalam tatanan adat Simalungun adalah
menggunakan ayam sebagai makanan adat. Simalungun tidak mengenal ternak babi
dalam pelaksanaan adat. Pada zaman dahulu, keluarga raja pada umumnya memakai
sapi atau kerbau sebagai makanan adat. Karena dalam acara pesta kerajaan, banyak
hadirin.
Alasan memilih ayam sebagai makanan ternak karena ada beberapa sifat dan
prinsip ayam yang pantas untuk ditiru oleh manusia yakni, mengerami telurnya,
melindungi anaknya, dan disiplin terhadap waktu. Selain itu, alasan pemakaian ayam
sebagai makanan adat mencerminkan pola hidup Orang Simalungun yang disiplin,
rela berkorban demi anak dan selalu melindungi anak. Akan tetapi resiko yang terlalu
melindungi anak sering menjadikan orang tua kurang mendidik anak, dan justru
dominan membela anak. Konsekwensinya adalah anak menjadi kurang mandiri dan
kurang mampu untuk bersaing dengan orang di sekitarnya. 141
7. Simalungun dalam Angka
a. Tinjauan mengenai letak geografis daerah Kabupaten Simalungun
Kabupaten Simalungun yang merupakan salah satu Daerah di Propinsi
Sumatera Utara, terletak antara: 020360 030180 LU , 980320 990350 BT dengan
ketinggian 369 meter di atas permukaan laut dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang/Serdang Bedagai
-

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Asahan/Batu Bara

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir

Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo

Kabupaten Simalungun yang secara Adminstratif Pemerintahan terdiri dari 31


Kecamatan dengan 345 Desa, 22 Kelurahan dengan perincian sebagai berikut:
4.386,60 km2 (6,12%) dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara.

141

Sortaman Saragih, Orang Simalungun, loc cit

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3
Luas Daerah Menurut Kecamatan. 142
No.

Kecamatan Sub Regency

Luas/Area (Km2)

1
2
3
1
Silimakuta
77,50
2
Pematang Silimahuta
68,20
3
Purba
172,00
4
Haranggaol Horison
34,50
5
Dolok Pardamean
99,45
6
Sidamanik
83,56
7
Pematang Sidamanik
125,19
8
Girsang Sipangan Bolon
123,00
9
Tanah Jawa
213,95
10
Hatonduhan
275,80
11
Dolok Panribuan
154,30
12
Jorlang Hataran
92,25
13
P a n e i
72,30
14
Panombeian Panei
82,20
15
R a y a
335,60
16
Dolok Silau
288,45
17
Silau Kahean
220,50
18
Raya Kahean Tapian
226,25
19
Dolok
116,90
20
Dolok Batu Nanggar
126,10
21
Siantar
79,11
22
Gunung Malela
108,97
23
Gunung Maligas
58,52
24
Hutabayu Raja
156,13
25
Jawa Maraja Bah Jambi
73,72
26
Pematang Bandar
95,00
27
Bandar Huluan
102,35
28
Bandar
109,18
29
Bandar Masilam
97,72
30
Bosar Maligas
294,40
31
Ujung Padang
223,50
Kabupaten Simalungun
4.386,60
Sumber : Buku Rencana Tata Ruang Kabupaten Simalungun (2004-2014)

142

Rasio Terhadap
Jumlah/Ratio on Total
4
0,02
0,02
0,04
0,01
0,02
0,02
0,03
0,03
0,05
0,06
0,04
0,02
0,02
0,02
0,08
0,07
0,05
0,05
0,03
0,03
0,02
0,02
0,01
0,04
0,02
0,02
0,02
0,02
0,02
0,07
0,05
1,00

Simalungun Dalam Angka, Op.Cit, hal.6

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4
Banyaknya Nagori (Desa) dan Kelurahan menurut Kecamatan 2009 143
No.

Kecamatan Sub Regency

1
2
1
Silimakuta
2
Pematang Silimahuta
3
Purba
4
Haranggaol Horison
5
Dolok Pardamean
6
Sidamanik
7
Pematang Sidamanik
8
Girsang Sipangan Bolon
9
Tanah Jawa
10
Hatonduhan
11
Dolok Panribuan
12
Jorlang Hataran
13
P a n e i
14
Panombeian Panei
15
R a y a
16
Dolok Silau
17
Silau Kahean
18
Raya Kahean Tapian
19
Dolok
20
Dolok Batu Nanggar
21
Siantar
22
Gunung Malela
23
Gunung Maligas
24
Hutabayu Raja
25
Jawa Maraja Bah Jambi
26
Pematang Bandar
27
Bandar Huluan
28
Bandar
29
Bandar Masilam
30
Bosar Maligas
Ujung Padang
31
Kabupaten Simalungun
Sumber : BPMN Kab. Simalungun

Nagori
Village
3
5
8
9
4
11
12
9
2
19
9
14
9
12
10
17
10
16
10
9
14
17
16
9
12
8
10
10
13
9
16
16
345

Kelurahan
Urban
4
1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
22

Jumah Total
5
6
8
10
5
11
13
10
5
20
9
14
10
13
10
18
10
16
11
10
15
17
16
9
13
8
12
10
15
9
17
17
367

b. Tinjauan mengenai keadaan iklim Kabupaten Simalungun


Keadaan iklim Kabupaten Simalungun bertemperatur sedang, suhu tertinggi
terdapat pada bulan Juni dengan rata-rata 25,90 C. Rata-rata suhu udara tertinggi per
tahun adalah 30,00 C dan terendah 21,00 C.
143

Ibid, hal. 21

Universitas Sumatera Utara

Kelembaban udara rata-rata perbulan 84,0% dengan kelembaban tertinggi terjadi


pada bulan Januari dan Maret yaitu 87% dengan penguapan rata-rata 3,18 mm/hari.
Dalam satu tahun rata-rata terdapat 15 hari hujan dengan hari hujan tertinggi
terdapat pada bulan Maret sebanyak 23 hari hujan, kemudian bulan Desember
sebanyak 19 hari hujan. Curah hujan terbanyak terdapat pada bulan September
sebesar 478 mm.
c. Tinjauan mengenani penduduk di Kabupaten Simalungun
Penduduk Kabupaten Simalungun tahun 2009 sebanyak 859.879 jiwa yang
terbagi laki-laki sebanyak 430.913 jiwa dan perempuan 428.966 jiwa dan tersebar di
31 kecamatan, dengan perbandingan penduduk laki-laki dan penduduk perempuan
(sex ratio) sebesar 100,45.
Jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Bandar yaitu sebesar 67.807
jiwa dan terkecil berada di Kecamatan Haranggaol Horisan yang hanya sebesar 5.883
jiwa.
Kecamatan yang memiliki luas wilayah yang terbesar terdapat di kecamatan
Raya dengan luas 335.60 Km dan wilayah terkecil di kecamatan Haranggaol Horisan
(34.50 Km), wilayah yang paling padat penduduknya terdapat di kecamatan Bandar
Masilam (621.00 jiwa/Km), disusul kecamatan Gunung Maligas (440.00) jiwa/Km)
dan Siantar (415.00 jiwa/Km).
d. Tinjauan mengenai pendidikan di Kabupaten Simalungun
Sarana pendidikan yang tersedia di Kabupaten Simalungun untuk tingkat SD s/d
SMA baik negeri maupun swasta berjumlah 1.043 sekolah. Ditingkat SD jumlah
sekolah negeri sebanyak 806 buah dan sekolah swasta 45 buah, dengan jumlah guru
SD Negeri sebanyak 8.576 orang dengan rasio murid terhadap guru sebesar 12,
sedangkan untuk SD swasta jumlah guru 400 orang dengan rasio murid terhadap guru
yang lebih tinggi dibandingkan dengan SD negeri yakni sebesar 7.
Pada tingkat SMP, jumlah sekolah negeri sebanyak 51 sekolah dan sekolah
swasta sebanyak 88 sekolah, dengan jumlah guru untuk SMP negeri sebanyak 1.929
orang dan SMP swasta sebanyak 1.229 orang atau dengan rasio murid terhadap guru
masing-masing sebesar 8 baik untuk SMP negeri dan 13 untuk SMP swasta.
Untuk tingkat SMA, jumlah sekolah negeri sebanyak 20 sekolah dengan jumlah
guru 768 orang dan rasio murid terhadap guru sebesar 11, sedangkan jumlah sekolah
swasta sebanyak 30 sekolah dengan jumlah guru 579 orang dan rasio murid terhadap
guru sebesar 13.
Untuk tingkat SMK negeri hanya ada 2 yakni di Kecamatan Raya dengan
jumlah guru 70 orang dan murid sebanyak 673 orang dan Kecamatan Bandar

Universitas Sumatera Utara

Masilam dengan jumlah guru 11 orang dan murid sebanyak 61 orang, sementara
untuk SMK swasta jumlah sekolah mencapai 27 sekolah dan jumlah guru 427 orang
dan murid sebanyak 8.978 orang.
B. Sistem Hukum Pertanahan Nasional
1. Sistem Hukum Tanah Nasional
Menurut Ludwig Von Bertalanffy, yang dimaksud sistem adalah complex of
elements in mutual interaction. 144 Sejalan dengan Ludwig Von Bertalanffy, Geoffrey
Samuel menyatakan bahwa system is method of comprehending an object, not
through reductionism and causality as such, but through, a global unity interrealtion
between elements. 145 Sudikono Mertokusumo menyatakan bahwa:
hukum merupakan sistem berarti bahwa hukum itu merupakan tatanan,
merupakan suatu kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian-bagian atau
unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain. Dengan perkataan
lain, sistem hukum adalah suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur
yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk
mencapai tujuan tersebut. Kesatuan tersebut diterapkan terhadap
kompleks unsur-unsur yuridis seperti peratuaan hukum, asas hukum, dan
pengertian hukum. 146
Lebih lanjut Sudikno Mertokusumo 147 menyatakan bahwa :
sistem merupakan tatanan atau kesatuan yang utuh yang terdiri dari
bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain
yaitu kaedah apa yang seharusnya, sehingga sistem hukum merupakan
sistem normatif. Dengan kata lain, sistem hukum adalah suatu kumpulan
unsur-unsur yang ada dalam interaksi satu sama lain yang merupakan satu
kesatuan yang terorganisasi dan kerjasama ke arah tujuan kesatuan.
Wu Min Aun memberikan ruang lingkup tentang unsur-unsur dalam sistem
hukum yaitu:

144

Ludwig von Bertalanffy, General System Theory, Foundations, Development, applications,( New York:
Braziller, 1972), hal. 34.
145
Geoffrey Samuel, The Foundations of Legal Reasoning, SA, (Vormgevers: Tilburg, 1994), hal. 124.
146
Sudikno Mertokusumo I, Mengenal Hukum, Op Cit. hal.115.
147
Sudikno Mertoksumo-II, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty 2001), hal. 18.

Universitas Sumatera Utara

In legal system, the most important areas of social organization are


the people's attitude to the following :
a. political system ; the way society is governed.
b. economic system ; the ownership, production and distribution of
society's resources.
c. Moral standards ; what constitutes acceptable and unacceptable
behaviour.
d. Social intercourse; relationships between people. 148

Tiga komponen utama yang dimiliki oleh sistem hukum dikemukakan oleh
Lawrence M Friedman, yaitu Legal Structure, Legal Substance, and Legal Culture. 149
Ketiga komponen tersebut saling menentukan satu sama lainnya, demikian juga
saling berpengaruh satu sama lainnya. B.F. Sihombing menjabarkan struktur hukum,
substansi hukum, dan budaya hukum dalam kaitannya dengan sistem hukum, yaitu:
1)

2)
3)

Struktur hukum merupakan representasi dari aspek institusional


(birokrasi) yang memerankan tugas pelaksanaan hukum dan pembuatan
undang undang;
Substansi hukum merupakan refleksi dari aturan-aturan yang berlaku,
norma, dan perilaku masyarakat dalam sistem tersebut;
Budaya hukum dimaksudkan sebagai sikap atau apresiasi masyarakat
terhadap hukum dan system hukum. Ke dalam budaya hukum adalah
kepercayaan terhadap hukum, nilai (value), idea tau gagasannya dan
harapan-harapannya. 150

Riduan Syahrani memberikan pengertian tentang sistem hukum, yaitu : Suatu


kesatuan peraturan-peraturan hukum yang terdiri atas bagian-bagian (hukum) yang
mempunyai kaitan (interaksi) satu sama lain tersusun sedemikian rupa menurut asasasasnya, yang berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. 151
148

Wu Min Aun, The Malaysian Legal System, (Longman Malaysia: Selangor Darul Eksan, 1990), hal. xv.
Lawrence M Friedman, American Law, Op Cit, hal. 5-6.
150
B.F. Sihombing, Evolusi Kebijakan Pertanahan, Op Cit, hal. 32.
151
Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, , 1999), hal. 169149

170.

Universitas Sumatera Utara

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa dalam sistem hukum terdapat unsurunsur hukum dimana antara unsur hukum yang satu dengan unsur hukum yang lain
saling berkaitan dan saling berpengaruh serta tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lain, sehingga membentuk suatu pengertian tentang hukum.
Secara yuridis ruang lingkup agraria dimuat dalam UUPA, meliputi bumi, air
dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Ruang
lingkup agraria disebutkan dalam Pasal 1 ayat (2) UUPA, yaitu "Seluruh bumi, air
dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam
wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuban Yang Maha . Esa adalah bumi, air
dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional".
Pengertian Hukum Agraria dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo, yaitu
keseluruhan kaidah-kaidah hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang
mengatur agraria. 152 Kaidah hukum yang tertulis adalah Hukum Agraria.
Agraria terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
agraria, sedangkan kaidah hukum yang tidak tertulis terdapat Hukum Adat yang
berkaitan dengan agraria.
Berdasarkan ruang lingkupnya, Hukum Agraria bukan merupakan satu
perangkat bidang hukum, melainkan suatu kelompok berbagai bidang hukum, yang
masing-masing mengatur hak penguasaan atas sumber daya agraria. Boedi Harsono
menyatakan bahwa kelompok bidang hukum dalam Hukum Agraria, yaitu:
a. Hukum Tanah
Hukum Tanah mengatur hak-hak penguasaan atas tanah, dalam arti
permukaan bumi.
152

Sudikno Mertokusumo II,Penemuan Hukum, Op.Cit, hal. 12.

Universitas Sumatera Utara

b. Hukum Air
Hukum Air mengatur hak-hak penguasaan atas air.
c. Hukum Pertambangan.
Hukum Pertambangan mengatur hak-hak penguasaan atas bahan-bahan
galian.
d. Hukum Perikanan
Hukum Perikanan mengatur hak-hak penguasaan atas kekayaan alam yang
terkandung di dalam air
e. Hukum Penguasaan Atas Tenaga dan Unsur-unsur Dalam Ruang Angkasa.
Hukum Penguasaan Atas Tenaga dan Unsur-unsur Dalam- Ruang Angkasa
mengatur hak-hak penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang
angkasa yang dimaksudkan oleh Pasal 48 UUPA. 153
Menurut Purnadi Purbacaraka dan Ridwan Halim, Hukum Agraria pada
dasarnya adalah suatu hukum yang mengatur perihal tanah beserta segala seluk beluk
yang. ada hubungannya dengan pertanahan, misalnya hal perairan, perikanan,
perkebunan, pertambangan, dan sebagainya. 154
Dari pendapat Boedi Harsono dan Purnadi Purbacaraka menunjukkan bahwa
dalam Hukum Agraria tidak terdapat satu bidang hukum, melainkan berbagai bidang
hukum yang di dalamnya mengatur hal-hal yang berkaitan dengan pertanahan.
Bumi sebagai salah satu unsur dari agraria, meliputi permukaan bumi (tanah),
termasuk pula tubuh bumi di bawahnya, serta bagian bumi yang berada di bawah air.
Tanah merupakan pengertian yuridis dari permukaan bumi, sebagaimana disebutkan
dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA, sedangkan tanah dalam pengertian hak adalah hak
atas tanah yang mempunyai batas-batas dan berdimensi dua yaitu panjang dan lebar.
Pengertian tanah dalam UUPA ada kesamaan dengan pengertian land dalam

153

Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia,,op cit, hal. 8.


Purnadi Purbacaraka dan Ridwan Halim, Sendi sendi Hukum Agraria, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1985), hal. 9.
154

Universitas Sumatera Utara

Pasal 5 National Land Code Malaysia 1965, yaitu :


1. the surface of the earth and all substances forming that surface;
2. the earth below the surface and all substances there in;
3. all vegetation and other natural product, whether or not requiring the
priodical application of labour th their production, and whether on or
below the surface;
4. all things attached to the earth or permanently fastened to any thing
attached to the earth, wheter on or below the surface; and

Land covered by water


Salah satu bidang dalam Hukum Agraria adalah Hukum Tanah. Effendi
Peranginangin menyatakan bahwa Hukum Tanah adalah keseluruhan peraturanperaturan hukum, baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur hak-hak
penguasaan atas tanah yang merupakan lembaga-lembaga hukum dan hubunganhubungan hukum yang konkrit dengan tanah. 155 Pengertian hukum tanah yang lebih
lengkap dikemukan oleh Boedi Harsono, yaitu:
keseluruhan ketentuan-ketentuan hukum, ada yang tertulis ada pula yang
tidak tertulis, yang semuanya mempunyai obyek pengaturan yang
sama,yaitu hak-hak penguasaan atas tanah sebagai lembaga-lembaga
hukum dan sebagai hubungan-hubungan hukum yang konkrit, beraspek
publik dan perdata, yang dapat disusun dan dipelajari secara sistematis,
hingga keseluruhannya menjadi satu kesatuan yang merupakan satu
sistem. 156

Hukum Tanah sebelum Indonesia merdeka adalah Hukum Tanah Kolonial yang
mempunyai sifat dualisme hukum, yaitu pada saat yang sama berlaku Hukum Tanah
Barat yang diberlakukan bagi orang-orang yang tunduk pada Hukum Barat, dan

155

Effendi Perangin-angin, Hukum Agraria Indonesia Suatu Telaah dari sudut Pandang Praktisi Hukum,
(Jakarta: Rajawali, 1989), hal.95.

Universitas Sumatera Utara

Hukum .Tanah Adat yang diberlakukan bagi orang-orang yang tunduk pada Hukum
Adat. Dalam rangka mewujudkan unifikasi (kesatuan) hukum, Hukum Adat tentang
tanah dijadikan dasar bagi pembentukan Hukum Tanah Nasional. Hukum Adat
dijadikan dasar dikarenakan hukum tersebut dianut oleh sebagian besar rakyat
Indonesia, sehingga Hukum Adat tentang tanah mempunyai kedudukan yang
istimewa dalam pembentukan Hukum Tanah Nasional. Supriadi menyatakan bahwa
"Pembangunan Hukum Tanah Nasional secara yuridis formal menjadikan Hukum
Adat menjadi sumber utama, sehingga bahan yang dibutuhkan dalam pembangunan
Hukum Tanah Nasional sumbernya tetap mengacu kepada Hukum Adat, baik berupa
konsepsi, asas-asas, lembaga- lembaga hukum, dan sistem hukumnya. 157
Unsur-unsur Hukum Tanah Nasional yang dimuat dalam UUPA, adalah :
1) Hukum Adat
Ketentuan yang menunjukkan bahwa Hukum Adat sebagai unsur Hukum
Tanah Nasional disebutkan dalam Pasal 5 UUPA, yaitu
"Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang angkasa ialah
Hukum Adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional
dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme
Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undangundang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu
dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama".

Hukum Adat yang menjadi dasar pembentukan Hukum Agraria


Nasional bukan Hukum Adat yang murni, melainkan Hukum Adat dengan
156

Boedi Harsono, Op.Cit., hal. 31.


Supriadi, Hukum Agraria, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), hal. 2.

157

Universitas Sumatera Utara

persyaratan dan pembatasan tertentu yang telah disesuaikan dengan keadaan,


kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Ketentuan lain
dalam UUPA yang menunjukkan bahwa Hukum Adat sebagai unsur dalam
Hukum Tanah Nasional, adalah Pasal 56, yaitu
"Selama Undang-undang mengenai Hak Milik sebagai tersebut
dalam Pasal 50 ayat (1) belum terbentuk, maka yang berlaku adalah
ketentuanketentuan Hukum Adat setempat dan peraturan-peraturan
lainnya mengenai hak atas tanah yang memberi wewenang,
sebagaimana atau mirip dengan yang dimaksud dalam Pasal 20
sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan-ketentuan
Undang-undang ini.

Pasal 50 ayat (1) UUPA menetapkan bahwa "Ketentuan-ketentuan lebih


lanjut mengenai Hak Milik diatur dengan Undang-undang". Untuk mengisi
kekosongan hukum tentang ketentuan Hak Milik ditetapkan oleh Pasal 56
UUPA, yaitu selama Undang-undang tentang Hak Milik belum terbentuk,
maka berlaku ketentuan Hak Milik menurut Hukum Adat setempat.
2) Hukum Barat
Ketentuan yang menunjukkan bahwa Hukum Barat sebagai unsur Hukum
Tanah Nasional disebutkan dalam Dictum Memutuskan UUPA di bawah perkataan
'Dengan Mencabut" Angka 4, yaitu "Buku II Kitab Undangundang Hukum Perdata
Indonesia sepanjang yang mengenai bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang berlaku pada
mulai berlakunya Undang-undang ini". Pasal 57 UUPA menyatakan bahwa

Universitas Sumatera Utara

"Selama Undang-undang mengenai Hak Tanggungan tersebut dalam Pasal


51 belum terbentuk, maka yang berlaku ialah ketentuan- ketentuan
mengenai hypotheek tersebut dalam Kitab Undang-undang Hukum
Perdata Indonesia dan Credietverband tersebut dalam S. 1908-542 sebagai
yang telah diubah dengan S. 1937 190".

Pasal 25, Pasal 33, dan Pasal 39 UUPA menetapkan bahwa Hak Milik, Hak
Guna Usaha, dan Hak Guna Bangunan dapat dijadikan jaminan utang dengan dbebani
Hak Tanggungan. Selanjutnya dalam Pasal 51 UUPA ditetapkan bahwa "Hak
Tanggungan yang 'dapat dibebankan pada Hak Milik, Hak Guna Usaha, dan Hak
Guna Bangunan tersebut dalam Pasal 25, 33, dan 39 diatur dengan Undang-undang.
Hypotheek merupakan lembaga jaminan dalam Hukum Barat yang obyeknya
dapat berupa tanah diatur dalam Burgerlijk Wetboek (BW). Pemberlakuan Hypotheek
yang obyeknya berupa tanah dengan maksud untuk mengisi kekosongan hukum
selama Undang-undang tentang Hak Tanggungan belum terbentuk. Setelah
berlangung selama 36 tahun sejak berlakunya UU PA, yaitu tanggal 24 September
1960, diundangkan Undang-undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas
Tanah Beserta Benda Benda yang Berkaitan Dengan Tanah. Sejak diundangkan
Undang-undang No. 4 Tahun 1996, maka Hypotheek yang obyeknya berupa tanah
dinyatakan tidak berlaku lagi. Dengan demikian, Hypotheek yang obyeknya berupa
tanah berlaku selama 36 tahun sejak diundangkan UUPA.

3) Hukum Islam
Ketentuan yang menunjukkan bahwa Hukum Islam sebagai unsur dalam
Hukum Tanah Nasional disebutkan dalam Pasal 49 ayat (3) UUPA, yaitu
"Perwakafan tanah Hak Milik dilindungi dan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

Universitas Sumatera Utara

Hak atas tanah tidak hanya direncanakan dan dipergunakan untuk


keperluan Negara, tetapi juga dapat direncanakan dan dipergunakan untuk
keperluan keagamaan, peribadatan, pendidikan, dan sosial. Lembaga wakaf
tidak terdapat dalam Hukum Adat maupun Hukum Barat, melainkan ada di
dalam Hukum Islam. Dalam wakaf tanah Hak Milik terdapat perbuatan hukum
oleh pemiliknya untuk menyerahkan tanah Hak Milik selama-lamanya guna
kepentingan peribadatan, sosial, dan pendidikan. Dengan wakaf, maka terputus
sudah hubungan hukum untuk selama-lamanya antara pemilik tanah dengan
tanahnya.
Peraturan Pemerintah yang melaksanakan ketentuan Pasal 49 ayat (3)
UUPA adalah Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan
Tanah Hak Milik. Perwakafan tanah Hak Milik yang diatur dalam Hukum
Islam dimasukkan menjadi bagian dari Hukum Tanah Nasional melalui,
pendaftaran wakaf tanah Hak Milik kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota
sebagai tanda bukti pendaftaran wakaf tanah Hak Milik diterbitkan Sertipikat Wakaf
T'anah Hak Milik oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat.
Antara sistem hukum nasional, sistem hukum tanah nasional, hukum tanah
nasional, dan Hak Pengelolaan mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain.
Keterkaitan itu dapat dijelaskan, yaitu pada mulanya sistem hukum nasional adalah
sistem hukum adat yang bersifat tidak tertulis. Dengan masuknya agama Islam di

Universitas Sumatera Utara

Indonesia, masyarakat hukum adat meresap agama Islam ke dalam hukum adatnya.
Selanjutnya dengan masuknya Belanda yang menjajah Indonesia, maka hukum Barat
diberlakukan kepada masyarakat Indonesia. Dengan demikian, sistem hukumnya
adalah sistem hukum adat, sistem hukum Islam, dan sistem hukum Barat. Setelah
Indonesia merdeka berubahlah sistem hukum nasional, yaitu sistem hukum nasional
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Setiap bidang hukum yang
akan merupakan bagian dari sistem hukum nasional itu wajib bersumber kepada
Pancasila dan Undang -undang Dasar 1945. 158 Sistem hukum suatu bangsa - negara
tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai yang terdapat dalam bangsa - negara yang
bersangkutan. Lebih-lebih apabila bangsa - negara itu mempunyai pandangan hidup
yang berbeda dengan bangsa atau negara lain. 159 Sistem hukum nasional menurut
Sudikno Mertokusumo, 160 adalah keseluruhan tata hukum nasional dapat disebut
sistem hukum nasional. Kemudian masih dikenal sistem hukum perdata, sistem
hukum pidana, sistem hukum tata negara. Selanjutnya dikenal sistem hukum
keluarga, sistem hukum benda, sistem hukum perikatan. Sejalan dengan pendapat
Sudikno Mertokusumo, Riduan Syahrani mengemukakan bahwa :
Seluruh peraturan hukum dalam suatu negara dapat dikatakan sebagai satu
sistem hukum, seperti sistem hukum Indonesia. Dalam sistem hukum
Indonesia terdapat berbagai macam bidang hukum yang masing masing
mempunyai sistem sendiri-sendiri, sehingga ada sistem hukum perdata,
sistem hukum pidana, sistem hukum tata negara, dan sebagainya.
Kemudian dalam sistem hukum perdata (Barat), misalnya terdapat lagi
sistem hukum orang, sistem hukum benda, sistem hukum perikatan, dan
158

C.F.G. Sunaryati Hartono, Politik Hukum, Op.Cit, hal. 57-64.


Moh. Busyro Muqoddas, Salman Luthan, Muh. Miftahudin, Politik Pembangunan Hukum Nasional,
(Yogyakarta : UII Press, 1992), hal. 33.
160
Sudikno Mertokusumo I, Mengenal Hukum, Op.Cit., hal. 116.
159

Universitas Sumatera Utara

sistem hukum pembuktian. 161

Dalam sistem hukum nasional, tidak hanya terdapat sistem hukum perdata,
sistem hukum pidana, sistem hukum tata negara, tetapi juga sistem hukum
internasional, sistem hukum administrasi, dan sistem hukum agraria. Dalam sistem
hukum agraria terdapat sistem hukum tanah, sistem hukum air, sistem hukum
kehutanan, sistem hukum pengairan, sistem pertambangan. Dengan demikian, sistem
hukum tanah nasional merupakan bagian dari sistem hukum nasional. Dalam sistem
hukum tanah nasional yang merupakan bagian dari sistem Hukum Agraria tersebut
terdapat hak penguasaan atas tanah, pendaftaran tanah, pencabutan hak atas tanah,
hak tanggungan, wakaf tanah hak milik, penatagunaan tanah, dan landreform. Dalam
sistem hukum .tanah nasional terdapat hak penguasaan atas tanah, yang di dalamnya
terdapat hak menguasai negara atas tanah, hak atas tanah, dan hak pengelolaan.
Dengan demikian, hak pengelolaan sebagai bagian dari hak penguasaan atas tanah
merupakan unsur, dalam hukum tanah nasional.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa sistem Hukum Tanah Nasional,
adalah keseluruhan dari unsur-unsur, bagian-bagian, atau elemen-elemen yang
merupakan kaedah dari Hukum Tanah Nasional yang berkaitan erat, berinteraksi, atau
bekerja sama satu dengan yang lain. Kaedah-kaedah dalam Hukum Tanah Nasional
sebagai unsur-unsurnya ada yang berasal dari Hukum Adat tentang tanah, Hukum
Islam khususnya dalam wakaf tanah Hak Milik, dan Hukum Barat dalam ketentuanketentuan mengenai Hypotheek yang berakhir sejak diundangkan Undang-undang
No. 4 Tahun 1996, tentang Hak Tanggungan Atas Tanah dan Benda-benda Yang
Berkaitan Dengan Tanah

161

Riduan Syahrani, Op.Cit, hal. 170.

Universitas Sumatera Utara

2. Konsep Hukum Tanah Nasional


Hukum tanah nasional adalah hukum tanah Indonesia yang tunggal yang
tersusun dalam suatu sistem berdasarkan alam pemikiran hukum adat mengenai
hubungan hukum antara masyarakat hukum adat tertentu 162 dengan tanah ulayatnya.
Konsepsi hukum tanah adat adalah konsepsi asli Indonesia yang tertitik tolak dari
keseimbangan antara kepentingan bersama dan kepentingan perseorangan. Oleh
karena itu, dapat juga disebut sebagai konsepsi Pancasila 163 karena memposisikan
manusia dan masyarakatnya dalam posisi yang selaras, serasi, dan seimbang dan tidak
ada pertentangan antara masyarakat dan individu.
Dalam hubungannya dengan tanah, menurut alam pikiran hukum adat, tertanam
keyakinan bahwa setiap kelompok masyarakat hukum adat tersedia suatu lingkungan
tanah sebagai peninggalan atau pemberian dari sesuatu kekuatan gaib sebagai
pendukung kehidupan kelompok dan para anggotanya sepanjang zaman. Artinya
bukan hanya untuk kepentingan suatu generasi, tetapi untuk generasi berikutnya dari
kelompok masyarakat hukum adat tersebut. 164

162
Van Vollenhoven, Het Adatrecht van Nederlandsh Indie, jilid 1 Bagian I (Leiden:E.J Brill, 19041933), hal.27. Dalam buku ini dikemukakan adanya 19 macam lingkungan hukum adat (rechtskring). Suatu
deskripsi yang baik mengenai hubungan masyarakat hukum adat dengan lingkungan tanahnya terjadi di beberapa
masyarakat hukum adat seperti desa di Jawa, marga di Sumatera Selatan, nagari di Minangkabau, kuria di
Tapanuli, wanua di Sulawesi Selatan. Masyarakat hukum adat tersebut merupakan kesatuan kesatuan
kemasyarakatan yang mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa, kesatuan lingkungan hidup berdasarkan
hak bersama atas tanah dan air bagi semua anggotanya. Dalam hal ini lihat dalam Hazairin, Demokrasi Pancasila,
(Jakarta: Tinta Mas, 1970).
163
Padmo Wahyono, Bahan Bahan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, (Jakarta: Aksara
Baru, 1984), hal. 28-29.
164
Arie Sukanti Hutagalung, Konsepsi Yang Mendasari Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional,
(Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Hukum Agraria Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Depok, 2003), hal. 15.

Universitas Sumatera Utara

Falsafat hukum adat tersebut mengandung konsepsi hukum adat mengenai


pertanahan yang kemudian diangkat menjadi konspesi hukum tanah nasional yang
menurut Boedi Harsono, terwakili dalam satu kata kunci, yaitu komunalistik
religius. 165 Konsepsi hukum adat yang bersifat komunalistik religius ini
memungkinkan penguasaan bagian-bagian tanah bersama sebagai karunia Tuhan
Yang Maha Esa oleh para warga negara secara individual, dengan hak-hak atas tanah
yang bersifat pribadi sekaligus mengandung unsur kebersamaan. 166
Sifat komunalistik dalam konsepsi hukum tanah nasional tercermin dalam
rumusan Pasal 1 ayat (1) UUPA yang menyebutkan : seluruh wilayah Indonesia
adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa
Indonesia. Sementara itu, sifat religius konsepsi hukum tanah nasional terdapat
dalam Pasal 1 ayat (2) UUPA yang menyebutkan : seluruh bumi, air, dan ruang
angkasa termasuk kekayaan alam terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik
Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa`adalah bumi, air, dan ruang angkasa
bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional. 167
Konsepsi ini sedikit berbeda dengan hukum adat, yaitu hanya menyangkut
wilayah cakupannya. Dalam hukum adat, tanah ulayat merupakan tanah bersama para

165

Ibid., hal. 23.


Konsepsi hukum tanah nasional yang bersifat komunalistik religious ini disimpulkan oleh Boedi
Harsono, dari ketentuan Pasal 1 ayat (1) dan (2) UUPA yang mengatur tanah hak bersama bangsa Indonesia,
dihubungkan dangan ketentuan Pasal , Pasal 6, dan Pasal 16 ayat 1 UUPA yang mengatur hak-hak atas tanah. Hal
ini berarti bahwa hukum tanah nasional menggunakan konsepsi, asas-asas, lembaga-lembaga hukum, dan sistem
hukum adat. Sunaryo Basuki, Diktat Hukum Agraria Jilid 1 (Jakarta: Universitas Indonesia, 2005), hal. 2.
Pembahasan lebih mendalam dapat dibaca dalam Boedi Harsono, Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah
Nasional Dalam Hubungannya dangan TAP MPR RI No.IX/MPR/2001, (Jakarta: Universitas Trisakti, Maret
2002), hal. 49.
167
Indonesia, Undang-Undang Pokok Agraria, Op.Cit., Pasal 1
166

Universitas Sumatera Utara

warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan, sedangkan dalam hukum tanah
nasional, semua tanah dalam wilayah negara Indonesia adalah tanah bersama seluruh
rakyat Indonesia yang telah bersatu menjadi bangsa Indonesia. 168
Dibandingkan dengan konsepsi Hukum Tanah Barat dan Konsepsi Tanah Feodal,
konsepsi hukum tanah barat berlandaskan konsepsi liberal yang memberikan
kebebasan seluas-luasnya kepada individu guna memenuhi kebutuhannya masingmasing. Keadaan itu menimbulkan paham individualism yang ajarannya memberi
tekanan pada nilai utama pribadi, sehingga masyarakat hanyalah merupakan suatu
sarana untuk mencapai tujuan pribadi, dimana menurut konsep Burgerlijk Wetboek
(BW) dalam sistem hukum Belanda, hak perorangan disebut Hak eigendom sebagai
hak penguasaan atas tanah yang tertinggi. 169 Sebagai hak yang paling sempurna,
pemilik Eigendom atas tanah dapat berbuat apa saja terhadap tanah tersebut, baik
menjual, menggadaikan, menghibahkan, bahkan merusaknya asal tidak bertentangan
dengan undang-undang atau hak orang lain 170, artinya sebagian hak orang lain, hak
eigendom atas tanah adalah merupakan hak prima yang bersumber pada kedudukan
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang mempunyai hak untuk menikmati dan
memiliki kekayaan alam yang diciptakan Tuhan baginya. Konsepsi ini tersirat dalam
kalimat kedua dari Declaration Of Independence Amerika Serikat, dinyatakan antara
lain : that all men are created equal.. dan dikaruniai hak-hak Life, Liberty and
pursuit of happiness. 171 sedangkan Konsepsi Hukum Tanah Nasional yang
didasarkan pada hukum adat jelas merupakan konsepsi yang sesuai dengan falsafah
dan budaya bangsa Indonesia. Konsepsi hukum tanah Eropa yang didasarkan pada
semangat individualisme dan liberalisme 172 tentu tidak sesuai dengan pandangan
hidup bangsa Indonesia yang komunal dan religius.
168

Boedi, Sejarah, Op.Cit., hal. 229.


Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), diterjemahkan oleh R. Subekti dan R.
Tjitrosudibio, Cet. Ke-31, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2001), Pasal 570. Ketentuan ini sempat berlaku di
Indonesia (Hindia Belanda) sebagai daerah jajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka dan terbit UUPA,
ketentuan buku II kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang yang mengenai bumi, air serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai Hypotheek yang masih
berlaku pada mulai berlakunya undang-undang ini. Sementara itu, ketentuan mengenai Hypotheek dicabut
berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah
Beserta Benda-benda yang berkaitan dangan tanah yang menyebutkan bahwa ketentuan mengenai Hypotheek
sebagaimana tersebut dalam buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang mengenai
pembebanan Hak Tanggungan pada hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dangan tanah dinyatakan
tidak berlaku lagi.
170
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata (Jakarta: Intermasa, 2001), hal. 69.
171
Muchtar Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah, (Jakarta Selatan : Republika,
2008), hal.51
172
Ternyata konsep individualism liberal tersebut tidak membawa kemakmuran yang merata pada rakyat.
Kemakmuran hanya dinikmati oleh sebagian kecil rakyat yaitu yang memiliki tanah dan alat alat produksi.
Maka, timbulah pemikiran baru, yaitu bahwa Negara turut campur tangan dalam kehidupan ekonomi dan sosial
yang dikenal konsep welfare state. Seiring dangan itu, muncul pula pemikiran berdasarkan konsepsi komunikasi
169

Universitas Sumatera Utara

Konsepsi tanah feodal juga tidak sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup
bangsa Indonesia karena hak penguasaan tanah yang tertinggi adalah hak milik
raja 173. Semua tanah yang terdapat di seluruh wilayah kekuasaan raja adalah milik
sepenuhnya dari raja yang bersangkutan. Di negara-negara yang tidak lagi menganut
bentuk kerajaan, maka hak penguasaan atas tanah yang tertinggi ada pada negara
sebagai pengganti kedudukan raja. 174
Berdasarkan pembahasan tentang sejumlah konsepsi di atas, tentu tidak
berlebihan jika disimpulkan bahwa konsepsi hukum tanah nasional merupakan
konsepsi yang sesuai dengan falsafah dan budaya bangsa Indonesia. Penyempurnaan
terhadap hukum tanah nasional selayaknya dilakukan dengan tetap mempertahankan
konsepsi yang lahir dan digali dari akar budaya nasional tanpa menutup diri dari
perubahan-perubahan yang berlangsung sejak beberapa dasawarsa terakhir seperti era
globalisasi, otonomi daerah, dan hak asasi manusia.
Menurut Arie Sukanti Hutagalung 175 penyempurnaan Hukum Tanah Nasional
juga diperlukan dalam menghadapi era globalisasi, yang dewasa ini sudah terasa
pengaruhnya di bidang kegiatan-kegiatan yang memerlukan penguasaan tanah,
misalnya ada tuntutan untuk lebih dipermudah cara memperoleh tanah yang
diperlukan dunia usaha. Tata cara perolehan tanah kini sudah dipermudah, dengan

dangan kekuasaan absolute pada Negara. Lihat dalam Moh. Kusnardi dan Bintan Saragih, Ilmu Negara, (Jakarta:
Gaya Media Pratama, 2000), hal. 61-78 dan Soehino, Ilmu Negara (Yogyakarta: Liberty, 2000), hal. 146-223.
173

Seperti misalnya berlaku di Inggris, hak-hak penguasaan atas tanah yang lain bersumber pada hak
milik Raja tersebut, dengan sendirinya tidak ada yang setingkat hak milik, Muchtar Wahid, op cit, hal.54.
174
Arie Soekanti Hutagalung, Konsepsi,Op.Cit., hal. 31.
175
Arie Soekanti Hutagalung, Pergulatan Pemikiran dan Aneka Gagasan Seputar Hukum Tanah Nasional
(Suatu Pendekatan Multidisipliner), (Jakarta: Badan Penerbit FH UI, 2011), hal.108.

Universitas Sumatera Utara

dimungkinkannya perubahan Hak Milik yang sudah bersertifikat menjadi Hak Guna
Bangunan atau Hak Pakai secara langsung. Dalam hal suatu perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas memerlukan tanah yang berstatus Hak Milik, tidak lagi
perlu ditempuh tata cara permohonan hak baru berupa Hak Guna Bangunan yang
diawali dengan acara pelepasan Hak Milik tersebut oleh pemiliknya yang
memerlukan waktu dan biaya
Konsepsi komunalistik religius yang telah dianut sejak 24 September 1960, di
samping telah teruji hingga saat ini hendaknya perlu juga dilestarikan untuk
mewujudkan cita-cita politik Agraria nasional yang tercantum dalam Pasai 33
Undang-Undang Dasar 1945. 176

3. Objek Hukum Tanah Nasional


a. Hak Bangsa Indonesia
Dalam Penjelasan UUPA disebutkan bahwa bumi, air dan ruang angkasa
dalam wilayah Republik Indonesia yang kemerdekaannya diperjuangkan
oleh bangsa sebagai keseluruhan, juga menjadi hak bangsa Indonesia; jadi
tidak semata-mata menjadi hak para pemiliknya saja. Demikian pula tanahtanah di daerah-daerah dan pulau-pulau tidaklah semata-mata menjadi hak
rakyat asli daerah atau pulau yang bersangkutan saja. Dengan pengertian
demikian hubungan bangsa Indonesia dengan bumi, air, dan ruang angkasa
Indonesia merupakan semacam hubungan hak ulayat yang diangkat pada
tingkatan yang paling atas, yaitu pada tingkatan yang mengenai seluruh
wilayah negara. 177
Rumusan Pasal 1 ayat (1) UUPA menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia
adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indoesia yang bersatu sebagai bangsa

176

Ibid., hal. 43.


Arie Soekanti Hutagalung, Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan, (Jakarta : Rajawali Pers,
2008), hal. 20.
177

Universitas Sumatera Utara

Indonesia. 178 Hal ini berarti bahwa tanah di seluruh wilayah Indonesia. adalah hak
bersama dari bangsa Indonesia (beraspek perdata) dan bersifat abadi, yaitu seperti hak
ulayat pada masyarakat hukum adat. 179
Dengan demikian, hak bangsa Indonesia mengandung dua unsur,yaitu sebagai
berikut. 180
-

Unsur kepunyaan bersama yang bersifat perdata, tetapi bukan berarti hak
kepemilikan dalam arti yuridis, tanah bersama dari seluruh rakyat
Indonesia yang telah bersatu menjadi bangsa Indonesia (Pasal 1 ayat (1)
UUPA) Pernyataan ini menunjukkan sifat komunalistik dari konsepsi
Hukum Tanah Nasional.

Unsur tugas kewenangan yang bersifat publik untuk mengatur dan


memimpin penguasaan dan penggunaan tanah yang dipunyai bersama
tersebut.

Apabila unsur perdata sifatnya abadi dan tidak memerlukan campur tangan
kekuasaan politik untuk melaksanakannya, tugas kewajiban yang termasuk hukum
publik tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh rakyat. Oleh karena itu,
penyelengaraanya dilakukan oleh bangsa Indonesia sebagai pemegang hak dan
pengemban amanat yang pada tingkatan tertinggi diserahkan kepada negara Republik
Indonesia sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. 181

178

Indonesia, Undang-Undang Pokok Agraria,Loc.Cit.


Ibid.
180
Arie Sukanti Hutagalung, Konsepsi, Op.Cit., hal. 17.
179

181

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Aspek Publik ini tercermin dari adanya kewenangan Negara untuk mengatur
tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia. Tugas Kewewenangan ini dilaksanakan
oleh negara berdasarkan hak menguasai negara yang dirumuskan dalam Pasal 2
UUPA yang merupakan tafsiran autentik dari pengertian dikuasai oleh negara dalam
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. 182 Bumi , air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat.
Bagian-bagian atau bidang-bidang tanah hak bersama tersebut dapat diberikan
kepada orang dan badan hukum dengan dikuasai dalam bentuk hak milik, hak guna
usaha, hak guna bangunan, atau hak pakai.
Pemberian hak tersebut terkait dengan subjek pemegang haknya. Dalam hal ini
menurut undang-undang kewarganegaraan yang dimaksud dengan orang-orang yang
termasuk warga negara Indonesia atau rakyat Indonesia disebut Warga Negara
Indonesia (WNI). Setiap warga negara Indonesia tidak dibedakan menurut asal
keturunannya (asli atau keturunan asing) maupun tidak dibedakan jenis kelaminnya
(pria atau wanita). 183
Ketentuan ini menjadikan setiap warga negara Indonesia yang merupakan
bagian dari bangsa Indonesia mempunyai hak yang sama untuk memperoleh bidang182
Undang-Undang dasar 1945 telah mengalami empat kali amandemen. Namun, pasal 33 Ayat (3) tidak
mengalami perubahan. Berdasarkan amandemen ke empat Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33 ditambah menjadi lima
ayat. Indonesia, Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 33.

183

Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dangan undang-undang sebagai warga negara. Maksud bangsa Indonesia asli adalah
orang Indonesia yang menjadi warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima
kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri. Indonesia, undang-undang tentang kewarganegaraan UU No. 12
Tahun 2006, LN No. 63 Tahun 2006, TLN No. 4634, Pasal 2.

Universitas Sumatera Utara

bidang tanah sesuai dengan kebutuhannya. 184 Bidang tanah tersebut dapat dimiliki
dalam bentuk hak milik sebagai hak atas tanah yang tertinggi maupun dengan hakhak atas tanah lainnya, sesuai dengan keperluan subjek pemegang haknya.
Hak bangsa adalah sebutan yang diberikan oleh para ilmuwan hukum tanah
pada lembaga hukum dan hubungan hukum konkret dengan bumi, air, dan ruang
angkasa Indonesia, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang
merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang bersifat abadi
dan merupakan kekayaan nasional. 185 Hak bangsa Indonesia merupakan hak
penguasaan atas tanah yang tertinggi dan menjadi sumber bagi hak-hak penguasan
atas tanah yang lain yaitu hak, menguasai negara dan hak-hak perorangan atas
tanah. 186
b. Hak Menguasai Negara
Dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA disebutkan bahwa negara adalah organisasi
kekuasaan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini berarti bahwa bangsa Indonesia
membentuk negara Republik Indonesia untuk melindungi segenap tanah air
Indonesia dan melaksanakan tujuan bangsa Indonesia untuk memajukan
kesejahteraan umum. 187
Untuk melaksanakan tujuan tersebut, negara Republik Indonesia mempunyai
hubungan hukum dengan tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia agar

184

Indonesia, Undang-Undang Pokok Pokok Agraria, Op.Cit.,Pasal 9


Boedi, Sejarah, Op.Cit.,hal. 269.

185

186

Ibid.

187

Indonesia, Undang-Undang Pokok Agraria, Op.Cit., Pasal 2.

Universitas Sumatera Utara

dapat memimpin dan mengatur tanah-tanah di seluruh wilayah Republik


Indonesia atas nama Bangsa Indonesia melalui peraturan perundangundangan, yaitu UUPA dan peraturan pelaksanaannya. 188
Hubungan hukum tersebut dinamakan Hak Menguasai Negara. Hak ini tidak
memberi kewenangan untuk menguasai secara fisik dan menggunakannya seperti
hak`atas tanah karena sifatnya semata-mata sebagai kewenangan publik sebagaimana
dirumuskan dalam Pasal 2 UUPA.
Negara diberikan kewenangan untuk mengatur tanah dan unsur-unsur sumber
daya alam lainnya yang merupakan kekayaan nasional. Dalam hal ini negara
berwenang mengatur persediaan, perencanaan, penguasaan dan penggunaan tanah,
serta pemeliharaan tanah atas seluruh tanah di wilayah Republik Indonesia dengan
tujuan agar dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Kewenangan tersebut dilaksanakan negara dalam kedudukannya sebagai organisasi
kekuasaan seluruh rakyat Indonesia atau berkedudukan sebagai badan penguasa. 189
Penguasaan negara atas tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia bersumber
pula pada Hak Bangsa Indonesia yang meliputi kewenangan negara dalam Pasal 2
ayat (2) UUPA, yaitu: 190
a.

Mengatur dan menyelengarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan


pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa;

b. Menentukan dan mengatur hubungan hubungan hukum antara orang-orang

188

Ibid.
Boedi, Sejarah, Op.Cit.,hal. 270-278.

189

Universitas Sumatera Utara

dengan bumi, air dan ruang angkasa;


c. Menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan
perbuatan hukum yang mengenai bumi ,air, dan ruang angkasa.
Dengan rincian kewenangan mengatur, menentukan, dan menyelenggarakan
berbagai kegiatan dalam Pasal 2 tersebut, oleh UUPA diberikan suatu interpretasi
autentik mengenai hak menguasai dari negara yang dimaksudkan oleh UndangUndang Dasar 1945 sebagai hubungan hukum yang bersifat publik semata mata.
Dengan demikian, tidak akan ada lagi tafsiran lain mengenai pengertian dikuasai
dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar tersebut.

PASAL 33 UNDANG UNDANG DASAR 1945


SEBELUM AMANDEMEN
SETELAH AMANDEMEN
Ayat (1)
Ayat (1)
Perekonomian disusun sebagai usaha Perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasarkan atas asas bersama
berdasarkan
atas
asas
kekeluargaan
kekeluargaan
Ayat (2)
Ayat (2)
Cabang cabang produksi yang Cabang cabang produksi yang penting
penting bagi Negara dan menguasai bagi Negara dan menguasai hajat hidup
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh orang banyak dikuasai oleh Negara
Negara
Ayat (3)
Ayat (3)
Bumi dan air dan kekayaan alam yang Bumi dan air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh terkandung di dalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk Negara dan dipergunakan untuk sebesar
sebesar besarnya kemakmuran besarnya kemakmuran rakyat.
190

Indonesia, Undang-Undang Pokok Agraria, Loc.Cit

Universitas Sumatera Utara

rakyat.
Ayat (4)
Perekonomian nasional diselengarakan
berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan
menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional.
Ayat (5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai
pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.

Konsep ini berbeda dengan hubungan hukum yang bersifat kepemilikan antara
negara dengan tanah berdasarkan alas domein verklaring 191 dalam Hukum Tanah
Administrasi Pemerintah Hindia Belanda yang telah dicabut dalam UUPA.
Asas domein verklaring yang dipergunakan sebagai dasar dari perundangundangan agraria yang berasal dari pemerintah jajahan tidak dikenal dalam UUPA.
Asas domein bertentangan dengan kesadaran hukum rakyat Indonesia dan asas dari
negara yang merdeka dan modern. Berkaitan dengan ini, asas tersebut, yang
dipertegas dalam berbagai "pernyataan domein", yaitu misalnya dalam pasal 1
Agrarisch Besluit (S.1870-118), S.1875-119a, S.1874-94f, S.1888-58 ditinggalkan
dan pernyataan-pernyataan domein itu dicabut. UUPA berpangkal pada' pendirian
bahwa untuk mencapai apa yang ditentukan dalam Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang
Dasar tidak perlu dan tidaklah pula pada tempatnya, bahwa bangsa Indonesia ataupun

191

Ibid, hal 42. Domein verklaring/pernyataan domein dimaksudkan untuk menegaskan bahwa satusatunya penguasa yang berwenang memberikan tanah tanah yang dimaksudkan tersebut kepada pihak lain

Universitas Sumatera Utara

Negara bertindak sebagai pemilik tanah. Lebih tepat jika negara, sebagai organisasi
kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku badan penguasa. 192
4. Prinsip-prinsip Hukum Tanah Nasional
Prinsip hukum atau asas hukum yang dalam Bahasa Belanda disebut rechts
beginsel dan dalam Bahasa Inggris disebut principle of law. Henry Campbell
Black memberikan pengertian tentang prinsip adalah a fundamental truth or
doctrine, as of law; a comprehensive rule or doctrine which furnishes a basis
or origin for others ". 193 Bruggink J.J.H menyatakan bahwa asas / prinsip
hukum adalah nilai-nilai yang melandasi norma hukum. 194 Selanjutnya
Bruggink J.J.H menyetir pendapat Paul Scholten yang menyatakan bahwa asas
hukum merupakan pikiran-pikiran dasar, yang terdapat di dalam dan di
belakang sistem hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan perundangundangan dan putusan-putusan hakim, yang berkenaan dengan ketentuanketentuan dan keputusan keputusan individual. George Whitecross Paton
menyatakan bahwa A principle is the broad reason, which lies at the base of
rule of law. 195
Ronald Zelfianus Titahelu menyatakan bahwa sebagai nilai dasar, prinsip

adalah Pemerintah. Domein verklaring ini menjadi landasan hukum bagi pemerintah sebagai pemilik tanah.
Pemberian tanah dilakukan dangan cara pemindahan hak milik Negara kepada penerima hak.
192
Indonesia, Undang-Undang Pokok Agraria, Op.Cit., Penjelasan
193
Henry Campbell Black, Blacks Law Dictionary, A Bridged Sixt Edition, (Minn : West Publishing,
1991), hal.828.
194
Bruggink, , Refleksi Tentang Hukum, Op.Cit, hal.121.
195
George Whitecross Paton, A Textbook of Jurisprudance, (Oxford : University Press, 1969), hal. 204.

Universitas Sumatera Utara

hukum memiliki nilai dasar sebagai: 196


a. Pokok yang menguasai isi dari setiap hubungan hukum;
b. Pokok yang memberi makna bagi setiap figur hukum;
c. Pokok yang menjadi dasar system penentu nilai (waarde bepalende system) dan
dasar system penentu pengertian.
Menurut Bruggink J.J.H., kaedah hukum dapat dibedakan dalam kedudukannya
sebagai kaedah perilaku dan sebagai mata kaedah. Kaedah perilaku adalah kaedah
yang ditunjukkan pada perbuatan warga suatu masyarakat tertentu, dalam artian
kaedah tersebut memuat perintah perilaku (gedragsvoorschrift), sedangkan mata
kaedah dipahami sebagai kaedah yang berkenaan dengan keberadaan dari kaedah
perilaku. 197 Hal yang senada juga dikemukakan oleh HLA Hart yang membedakan
aturan hukum sebagai Primary rules (untuk kaedah perilaku) dan secondary rules
(untuk mata kaedah). 198 Sebagai kaedah perilaku, aturan hukum di dalamnya akan
dapat berisi kaedah yang digolongan sebagai kaedah perintah (gebod), larangan
(verbod), pembebasan (vrijstelling, dispensasi), dan izin (toestemming). 199
Prinsip hukum merupakan ratio legis dari norma hukum. Satjipto Rahardjo
menyatakan bahwa asas hukum merupakan jantungnya peraturan hukum dan ia
merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum, yang
berarti bahwa peraturan-peraturan hukum itu pada akhirnya bisa dikembalikan kepada
asas-asas tersebut. 200 selanjutnya Satjipto Rahardjo mengutip pendapat dari George
Whitecross Paton, yaitu asas hukum ini tidak akan habis kekuatannya dengan
melahirkan suatu peraturan hukum, melainkan akan tetap saja ada dan akan
melahirkan peraturan-peraturan selanjutnya. Asas hukum ini pula yang membuat
196
Ronald Zelfianus Titahelu, Penetapan Asas-asas Hukum Umum dalam Penggunaan Tanah untuk
Sebesar-Besar Kemakmuran Rakyat Op.Cit, hal. 12. Seperti dikutip Ronald Zelfianus Titahelu. Penetapan Asasasas Hukum Umum dalam Pengguanaan Tanah Untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat (Suatu Kajian
Filosofi dan Teori Tentang Pengaturan dan Penggunaan Tanah di Indonesia, disertasi (Surabaya: Pascasarjana
Universitas Airlangga, 1993), hal. 92
197
Bruggink J.J.H, Rechts Reflecties, Grondbegrippen uit De Rechtstheorie, Op.Cit, hal. 121.
198
Hart HLA, The Concept Of Law, (Oxford : Clarendon Press, 1961), hal. 92.
199
Bruggink J.J.H., Op.Cit, hal 100-101.

Universitas Sumatera Utara

hukum itu hidup, tumbuh, dan berkembang dan ia juga menunjukkan bahwa hukum
itu bukan sekedar kumpulan peraturan-peraturan belaka, karena asas mengandung
nilai-nilai dan tuntunan-tuntunan etis. 201
Brugging J.J.H. menyatakan bahwa prinsip hukum adalah kaedah yang
memuat ukuran (kriteria) nilai. Prinsip hukum berfungsi sebagai mata kaedah
terhadap kaedah perilaku, karena menentukan interpretasi terhadap aturan hukum
dan wilayah penerapan aturan tersebut. 202 Peranan prinsip hukum dalam
kedudukannya sebagai dasar atau pedoman dalam pembentukan aturan hukum
dikemukakan oleh van Eikema Hommes yang dikutip oleh Sudikno Mertokusumo,
yaitu prinsip hukum tidak boleh dianggap sebagai norma hukum yang konkrit, tetapi
dipandang sebagai dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku. 203 Suatu
prinsip hukum berubah menjadi aturan hukum, bukan berarti prinsip hukum itu akan
kehilangan kekuatannya. Prinsip hukum akan tetap hidup sebagai prinsip hukum
walaupun telah melahirkan dan atau terumuskan dalam aturan hukum. Oleh karena
itu, prinsip hukum akan dapat terus melahirkan aturan aturan hukum lainnya. 204
Y.Sogar Simamora menyatakan bahwa prinsip-prinsip hukum diperlukan
sebagai dasar dalam pembentukan aturan sekaligus sebagai dasar dalam
memecahkan persoalan hukum yang timbul manakala aturan hukum yang tersedia

200

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 45.
Ibid.
202
Bruggink J.J.H., Op.Cit, hal.123.
203
Sudikno Mertokusumo-II, Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Op.Cit, hal. 5.
204
George Whitecross Paton, Op.Cit, hal. 85.
201

Universitas Sumatera Utara

tidak memadai. 205 Prinsip hukum atau asas hukum merupakan salah satu obyek
terpenting dalam kajian ilmu hukum. Pembahasan tentang prinsip hukum lazimnya
disandingkan dengan aturan hukum atau kaedah hukum untuk memperoleh
gambaran yang jelas menyangkut perbedaannya. 206 Prinsip hukum dalam ilmu
hukum mempunyai peran yang sangat penting, apalagi jika dikaitkan dengan aturan
hukum. Prinsip hukum dan aturan hukum merupakan elemen dari sistem hukum.
Oleh karenanya, antara prinsip hukum dan aturan hukum memiliki keterkaitan yang
erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Menurut George Whitecross Paton yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo, 207 ada
keterkaitan antara prinsip hukum dan aturan hukum. Beliau menyampaikan ada 2
(dua) hal penting dalam memahami hubungan antara prinsip hukum dan aturan
hukum yaitu pertama, prinsip hukum merupakan landasan yang luas bagi lahirnya
suatu aturan hukum. Aturan-aturan hukum itu pada akhimya dapat dikembalikan pada
prinsip-prinsip hukum tersebut. Ini berarti materi dari aturan hukum itu harus sesuai
dan tidak boleh bertentangan dengan prinsip hukum yang menjadi dasar lahirnya atau
sumber dari aturan hukum tersebut. Setiap konflik norma yang ada dalam setiap
aturan hukum, penyelesaiannya harus dikembalikan pada prinsip , hukum. Kedua,
prinsip hukum merupakan rario legis, alasan bagi lahirnya suatu aturan hukum.
Prinsip hukum tidak hanya dapat melahirkan satu aturan hukum saja, tapi bisa lebih

205
Yohanes Sogar Simamora, Prinsip Hukum Kontrak Dalam Pengadaan Barang dan Jasa Oleh
Pemerintah, disertasi, (Surabaya : PPS Unair, 2001), hal. 22.
206
Ibid, hal. 23.
207
Satjipto Rahadjo, Ilmu Hukum, Op.Cit. hal. 85.

Universitas Sumatera Utara

dari satu.
Peter Mahmud Marzuki mengemukakan pendapatnya bahwa asas hukum atau
prinsip hukum dapat saja timbul dari pandangan akan kepantasan dalam pergaulan
sosial yang kemudian diadopsi oleh pembuat Undang-undang, sehingga menjadi
aturan hukum, akan tetapi tidak semua asas atau prinsip hukum dapat dituangkan
menjadi aturan hukum. 208
Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa asas atau prinsip hukum bukanlah
merupakan peraturan hukum konkret, melainkan merupakan pikiran dasar yang
umum sifatnya atau merupakan latar belakang dari peraturan yang konkret yang
terdapat dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan
perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat
diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan konkret tersebut. 209
Untuk menemukan asas hukum dicarilah sifat-sifat umum dalam kaedah atau
peraturan yang konkret. Ini berarti menunjuk kepada kesamaan-kesamaan yang
terdapat dalam ketentuan- ketentuan konkret itu. 210
Dalam kaitannya dengan peran dari prinsip hukum dalam menyelesaikan
persoalan hukum, Yohanes Sogar Simamora menyatakan bahwa aturan hukum
diperlukan untuk menjawab persoalan hukum. Realitas menunjukkan bahwa tidak
setiap persoalan hukum dapat dipecahkan hanya mengandalkan aturan hukum, ada

208

Peter Mahmud Marzuki, Batas-batas Kebebasan Berkontrak, Majalah YURIDIKA, Vol. 18 No. 3,
(Surabaya : FH Unair, 2003), hal.193.
209
Sudikno Mertokusumo-I, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Op.Cit, hal. 34.
210
Ibid, hal. 35.

Universitas Sumatera Utara

persoalan hukum yang harus ditemukan jawabannya melalui prinsip hukum. 211
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya prinsip hukum
dalam kaitannya dengan aturan hukum. Pentingnya prinsip hukum tersebut dalam
hal:
a. pembentukan peraturan perundang-undangan (legal drafting);
b. penyelesaian kasus atau perkara yang penyelesaiannya melalui pengadilan;
c. dalam penyelesaian suatu kasus atau perkara hukum, ternyata tidak dijumpai
adanya aturan hukum. Dalam keadaan ini, prinsip hukum berperan mengisi
kekosongan hukum dengan cara memberikan dasar hukum bagi hakim untuk
memberikan putusan.
UUPA diundangkan pada tanggal 24 September 1960. UUPA mencabut peraturan
dan keputusan yang berkaitan dengan agraria yang dibuat oleh Pemerintahan Hindia
Belanda. Muchsin dkk menyatakan bahwa dicabutnya peraturan oleh UUPA dan
dinyatakannya Hukum Adat sebagai dasar Hukum Agraria Nasional, adalah dalam
rangka mewujudkan kesatuan dan kesederhanaan hukum tersebut. 212 Sampai
sekarang masih ada orang yang mempermasalahkan dan mempertanyakan hubungan
Hukum Adat dengan UUPA, yakni Hukum Adat manakah yang dimaksud oleh
UUPA tersebut?
Hukum adat dimaksud UUPA adalah :
1) Formal :
bagian dari hukum positif Indonesia yang berlaku sebagai hukum yang
hidup dalam bentuk tidak tertulis di kalangan orang-orang Indonesia asli yang
mengandung ciri-ciri nasional, yaitu
2) Materil :
sifat kemasyarakatan yang berasaskan keseimbangan dan diliputi suasana
keagamaan. 213
211

Yohannes Sogar Simamora, Prinsip Hukum Kontrak, Op.Cit, hal.23.


Muchsin, Imam Koeswahyono, Soimin, Hukum Agraria Dalam Prespektif Sejarah, (Bandung : Refika
Aditama, 2007), hal. 50.
212

213

Dengan pengertian yang demikian, maka apa yang disebut Hukum Adat tidak harus
diartikan semata-mata sebagai rangkaian norma-norma hukum saja, akan tetapi meliputi juga :

Universitas Sumatera Utara

Hukum Tanah Nasional diatur dalam UUPA memuat prinsip hukum dan aturan
hukum yang menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan di bidang pertanahan
dan memutuskan kasus atau perkara di bidang pertanahan.
UUPA sebagai peraturan dasar yang mengatur pokok-pokok keagrariaan dan
merupakan landasan Hukum Tanah Nasional tidak memberikan pengertian yang tegas
baik mengenai istilah tanah
maupun istilah agraria. 214 Untuk
mengoperasionalkan konsep pembaruan agraria, diperlukan prinsip-prinsip yang
menjadi landasan dan arahan yang mendasari pelaksanaannya. Prinsip-prinsip itu
seyogianya bersifat holistik, komprehensif, dan mampu menampung hal-hal pokok
yang menjadi tujuan pembaruan agraria. Untuk mengoperasionalkan konsep
pembaharuan agraria, diperlukan prinsip-prinsip yang menjadi landasan dan arahan
yang mendasari pelaksanaannya. Menurut Maria S.W. Sumardjono 215, prinsipprinsip dasar pembaruan agraria tersebut adalah:
a. menjunjung tinggi hak asasi manusia, karena hak atas sumber-sumber agraria
merupakan hak ekonomi setiap orang;
b. unifikasi hukum yang mampu mengakomodasi keanekaragaman hukum setempat
(pluralisme);
c. keadilan dalam penguasaan dan pemanfaatan sumber-sumber agraria (keadilan
gender, keadilan dalam satu generasi dan antargenerasi, serta pengakuan
kepemilikan masyarakat adat terhadap sumber-sumber agraria yang menjadi
ruang hidupnya);
d. fungsi sosial dan ekologi tanah dan sumber-sumber agraria lainnya; bahwa hak
yang dipunyai seseorang menimbulkan kewajiban sosial bagi yang
bersangkutan karena haknya dibatasi oleh hak orang lain dan hak masyarakat
yang lebih luas;
e. penyelesaian sengketa pertanahan;
f. pembagian tanggung jawab kepada daerah berkenaan dengan alokasi dan
manajemen sumber-sumber agraria;
g. transparansi dan partisipasi dalam pembuatan kebijakan;
h. landreform/restrukturisasi dalam pemilikan, penguasaan, pemanfaatan sumber-

a.
b.
c.
d.

Konsepsi (ajaran, teori)


Asas-asas (yang merupakan perwujudan dari konsepsi)
Lembaga lembaga hukum
Sistem (tata susunan yang teratur), Arie Sukanti, Pembentukan UUPA dan Pembangunan Hukum
Tanah Nasional, hal.15).
214

Dari ketentuan-ketentuan Pasal 1 ayat (4), (5), dan (6) jo Pasal 2 ayat (1) UUPA dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengertian Agraria mengandung makna yang luas, yang meliputi bumi, air, ruang angkasa dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
215
Maria S.W Sumardjono, Transitional Justice atas Hak Sumber Daya Alam, dalam Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia: Keadilan dalam Masa Transisi, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Komnas
HAM, 2001), hal.4.

Universitas Sumatera Utara

sumber agraria;
i. usaha-usaha produksi di lapangan agraria;
j. pembiayaan program-program pembaruan agraria.
Tidak jauh berbeda dari prinsip-prinsip di atas, ketentuan Pasal 4 Ketetapan
MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya
Alam menetapkan duabelas prinsip pembaruan agraria dan pengelolaan sumber
daya alam, sebagai berikut:
a. memelihara dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
c. menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasikan keanekaragaman dalam
unifikasi hukum;
d. menyejahterakan rakyat, terutama melalui peningkatan kualitas sumber daya
manusia Indonesia;
e. mengembangkan demokrasi, kepatuhan hukum, transparansi, dan optimalisasi
partisipasi rakyat;
f. mewujudkan keadilan termasuk kesetaraan gender dalam penguasaan, pemilikan,
penggunaan, pernanfaatan, dan pemeliharaan sumber daya agraria/sumber daya
alam;
g. memelihara keberlanjutan yang dapat memberi manfaat yang optimal, baik untuk
generasi sekarang maupun generasi mendatang, dengan tetap memperhatikan
daya tampung dan, daya dukung lingkungan;
h. melaksanakan fungsi sosial, kelestarian, dan fungsi ekologis sesuai dengan kondisi
sosial budaya setempat;
i. meningkatkan keterpaduan dan koordinasi antar sektor pembangunan dan antardaerah
dalam pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam;
j. mengakui, menghormati, dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan
keragaman budaya bangsa atas sumber daya agraria/sumber daya alam;
k. mengupayakan keseimbangan hak dan kewajiban negara, pemerintah (pusat,
daerah provinsi, Kabupaten/kota dan desa atau yang setingkat), masyarakat dan
individu;
l. melaksanakan desentralisasi berupa pembagian kewenangan di tingkat nasional,
daerah provinsi, Kabupaten/kota, dan desa atau yang setingkat, berkaitan
dengan alokasi dan pengelolaan sumber daya agraria/sumber daya alam.
Dimuatnya keduabelas prinsip pembaruan agraria tersebut dalam Ketetapan
MPR mengharuskan prinsip-prinsip itu dijadikan acuan dalam penyusunan berbagai
peraturan perundang-undangan agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Hal ini
membawa konsekuensi terhadap perlunya upaya pengkajian ulang dan
harmonisasi terhadap berbagai peraturan perundang-undangan sektoral, yaitu
melakukan upaya pencabutan, penggantian, atau penyempurnaan undang-undang

Universitas Sumatera Utara

sektoral di bidang keagrariaan. 216


Dalam kaitannya dengan perundang-undangan di bidang agraria, khususnya
dalam hal penyusunan RUU Penyempurnaan UUPA, maka seyogianya undangundang itu mengacu pada prinsip-prinsip 217:
a. prinsip kebangsaan;
b. hubungan hukum antara negara, pemerintah, masyarakat, dan individu dalam
kaitannya dengan sumber daya agraria;
c. pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat
hukum adat, baik dalam dimensi global, dimensi nasional, maupun dimensi
regional;
d. prinsip landreform;
e. prinsip perencanaan dalam penggunaan tanah;
f. akomodasi hukum adat (pluralisme dalam unifikasi hukum);
g. fungsi sosial dan fungsi ekologis atas sumber daya agraria;
h. prinsip keadilan, baik keadilan antargenerasi maupun keadilan gender dalam
perolehan dan pemanfaatan sumber daya agraria;
i. pemberlakuan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan sumber
daya agraria.
Prinsip-prinsip di atas merupakan reorientasi atas prinsip-prinsip yang
terdapat dalam UUPA selama ini, dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip yang
terdapat dalam Tap MPR tentang pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya
alam. Dengan mengacu pada falsafah bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya harus dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,
maka sinergi yang baik antara prinsip-prinsip UUPA yang ada selama ini dengan
prinsip-prinsip pembaruan agraria, diharapkan dapat mencapai tujuan
penyempurnaan UUPA, yaitu keadilan, efisiensi, serta pelestarian lingkungan dan
pola penggunaan tanah yang berkelanjutan.
Atas dasar prinsip-prinsip pembaruan agraria di atas, maka Pasal 5 Tap MPR
No. IX/MPR/2001 menetapkan arah kebijakan pembaruan agraria sebagai berikut.
a. melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan agraria dalam rangka sinkronisasi kebijakan antarsektor
demi terwujudnya peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada
prinsip-prinsip pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam;
b. menyelesaikan konflik-konflik yang berkenaan dengan sumber daya agraria
yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik di
masa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan
didasarkan atas prinsip-prinsip pembaruan agraria dan pengelolaan sumber
daya alam;
c. melaksanakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan
216

Maria S.W Sumardjono, Penyempurnaan UUPA dan Sinkronisasi Kebijakan, Surat Kabar harian
Kompas, Jakarta, 24 September 2001, hal. 2.
217
Maria S.W Sumardjono, Menggagas ulang Penyempurnaan UUPA sebagai Pelaksanaan TAP MPR-RI
NO. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Yogyakarta, 21 September.

Universitas Sumatera Utara

pemanfaatan tanah (landreform) yang berkeadilan dengan memperhatikan


kepemilikan tanah untuk rakyat;
d. menyelenggarakan pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan registrasi
penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah secara
komprehensif dan sistematis dalam rangka pelaksanaan landreform;
e. memperkuat kelembagaan dan kewenangannya dalam rangka mengemban
pelaksanaan pembaruan agraria dan menyelesaikan konflik-konflik sumber
daya agraria yang terjadi;
f. mengupayakan dengan sungguh-sungguh pembiayaan dalam melaksanakan
program pembaruan agraria dan penyelesaian konflik-konflik sumber daya agraria
yang terjadi.
Selanjutnya, menurut Maria S.W. Sumardjono 218, apabila arah kebijakan
pembangunan dipandang sebagai "raga," maka prinsip-prinsip pembaruan agraria
perlu diakomodasi sebagai landasan yang akan berfungsi sebagai "jiwa" yang akan
menjadi dasar untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Pembangunan yang
berlandaskan pada konsep pembaruan agraria harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut 219 :
a. Cara pandang dan tindakan berkenaan dengan tanah. Tanah tidak boleh
diperlakukan secara eksklusif, tetapi harus dilihat sebagai satu subsistem
dari keseluruhan sistem berkenaan dengan penguasaan/pemanfaatan sumber
daya agraria/sumber daya alam dan dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip
pembaruan agraria tersebut di atas. Dengan demikian, dapat dihindarkan
tumpang tindih dan inkonsistensi antar peraturan perundang-undangan
sektoral. Pembaruan agraria memerlukan reformasi di bidang hukum yang terkait
dengan sumber daya agraria/sumber daya alam.
b. Karena di masa yang akan datang kesempatan untuk menggantungkan hidup
dari sumber-sumber pertanian akan semakin berkurang, maka untuk
mendukung pembaruan agraria, pelaksanaan program pembaruan agraria
perlu dilengkapi dengan penciptaan sumber pendapatan dan peluang kerja, di
samping program pendukung lainnya.
c. Berbagai konflik untuk memperebutkan sumber daya alam antarberbagai
kelompok kepentingan akan semakin meningkat, baik dalam skala lokal
maupun regional. Perlu diupayakan cara-cara penanggulangannya.
d. Dengan semangat otonomi, perlu meningkatkan tanggung jawab daerah dalam
merancang bersama alokasi dan penatagunaan tanah.
e. Untuk mendorong pelaksanaan pembaruan agraria, diperlukan keberadaan
suatu lembaga yang berkomitmen dan bertanggung jawab penuh terhadap
pelaksanaannya, dengan dukungan pembiayaan yang memadai.
f. Pendekatan, sikap, dan perlakukan terhadap hukum adat dan masyarakat
218

Maria S.W Sumardjono, Arti Strategis Pembaruan Agraria, sebagai landasan pembangunan, makalah
pada seminar dan lokakarya nasional Pengelolaan SDA berkelanjutan yang ramah lingkungan dan Pembaruan
Agraria untuk keadilan dan kemakmuran rakyat, (Bandung: ITB-UNPAD, 2001), 14-16 September, hal.9.
219
Ibid, hal.9-10.

Universitas Sumatera Utara

hukum adat. Perlu pendekatan baru dalam menyikapi hukum adat pada saat
kini dengan memperhatikan kecenderungan global, nasional, dan lokal dalam
upaya mengakomodasi prinsip-prinsip hukum adat ke dalam tatanan hukum
positif. Hak masyarakat hukum adat atas tanah milik bersama, hak cipta serta
hak-hak lain yang terkait dengan pengetahuan tradisional masyarakat hukum adat
yang bersangkutan, harus dihormati dan dilindungi oleh hukum positif.
Pada intinya, keduabelas prinsip pembaruan agraria yang terdapat dalam
Tap MPR No. IX/MPR/2001 itu, jika diringkas akan berpangkal pada tiga prinsip
utama 220 :
a. prinsip demokratis, dalam dimensi kesetaraan antara pemerintah dengan rakyat,
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan good governance dalam
penguasaan dan pemanfaatan sumber daya agraria;
b. prinsip keadilan, dalam dimensi filosofis baik keadilan intergenerasi maupun
keadilan antargenerasi dalam upaya mengakses sumber daya agraria;
c. prinsip keberlanjutan, dalam dimensi kelestarian fungsi dan manfaat yang berdaya
guna dan berhasil guna.
Ketiga prinsip utama sebagai rangkuman dari dua belas prinsip pembaruan
agraria di atas, saling terkait, tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang
lainnya. Manakala berbicara prinsip demokrasi, maka terkandung di dalamnya makna
prinsip keadilan. Manakala berbicara prinsip keadilan, terkandung di dalamnya
makna prinsip keberlanjutan.
Dalam pemahaman normatif, demokrasi merupakan sesuatu yang secara
ideal hendak dilakukan oleh suatu negara. Sementara itu, dalam pemahaman
empiris (procedural democracy), merupakan demokrasi dalam perwujudannya dalam
kehidupan politik praktis. Keadilan adalah ukuran yang dipakai dalam
memperlakukan objek (manusia) di luar diri seseorang. Ukuran tersebut tidak
dapat dilepaskan dari arti yang diberikan pada manusia. 221 Sementara itu, memahami
keberlanjutan dalam kaitannya dengan lingkungan alam akan selalu berkaitan
dengan kegiatan ekonomi. Dalam hal ini ada syarat keharusan (necessary condition)
bagi keberlanjutan ekonomi yang harus dipenuhi, yaitu bahwa lingkungan alam
tempat perekonomian itu berkembang harus dijaga agar terus menerus
memberikan manfaatnya. 222 Dengan kegiatan perekonomian yang berkelanjutan dan
dilakukan dengan mengacu pada norma-norma yang demokratis, maka keadilan
dalam kegiatan ekonomi pun dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurut H.S. Dillon 223, berbicara mengenai demokrasi berarti berbicara
mengenai kemerdekaan dan kesetaraan, karena kemerdekaan dan kesetaraan
220

Maria S.W Sumardjono, Transisional, Op Cit, hal. 7.


Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Op Cit, hal.165.
222
Azis Khan, Pengelolaan Sumber Daya Alam: Ruang Kompromi dan Harmonisasi Kepentingan
Ekonomi, Sosial dan Lingkungan: dalam Harijadi Kartidihardjo. dkk., Dibawah satu Payung Pengelolaan Sumber
Daya Alam, (Jakarta: Suara Bebas, cet.I edisi revisi, 2005), hal. 83.
223
H.S. Dillon, Pembaruan Agraria sebagai alat demokrasi HAM, keadilan di Indonesia, makalah pada
semiloka Pelaksanaan Pembaruan Agraria dan pengelolaan SDA yang adil dan berkelanjutan, (Bandung, 2001),
hal. 4. 14-16 September.
221

Universitas Sumatera Utara

adalah prinsip dasar demokrasi. Kemerdekaan berarti bebas dari hegemoni


politik dan (ketergantungan) ekonomi. Kesetaraan berarti bebas dari diskriminasi
atas kesetaraan hak dan peluang, artinya demokrasi bertujuan untuk menegakkan
keadilan, yang bermakna diakhirinya segala bentuk diskriminasi terhadap manusia dan
alam semesta. Dalam hal ini pengertian demokrasi bukan lagi sekadar berbicara
mengenai format demokrasi politik formal, melainkan menurut H.S. Dillon juga
mencakup format demokrasi ekonomi untuk peningkatan keadilan sosial bagi
seluruh umat manusia. Jika diletakkan dalam konteks kehidupan bernegara, maka
hal ini berarti membebaskan rakyat dari keterbelengguan, dan menuju penguatan
otonomi rakyat di segala bidang (ekonomi, politik, sosial-budaya, dan sebagainya).
Dalam konteks permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini, maka demokrasi
harus dapat mengakhiri dan/atau mengoreksi ketidakadilan struktural dalam
penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dan sumber daya
agraria lainnya yang terjadi sebagai warisan pemerintahan orde baru dan hingga kini
masih kerap terjadi.
Dari sisi hak asasi manusia, hal di atas merupakan bentuk pelanggaran
massal atas hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya terbesar bagi rakyat
Indonesia yang termarjinalkan oleh peraturan perundang-undangan dan kebijakan
negara di bidang tanah dan sumber daya agraria/alam. Baik dalam Article 25 dari
international Convenant on Economic, Social and Cultural Rights yang telah diratifikasi
dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005, maupun dalam Article 47 dari
International Convenant on Civil and Political Rights yang telah diratifikasi dalam
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005, sama-sama menegaskan bahwa:
Nothing in the present convenant shall be interpreted as impairing the
inherent rights of all peoples to enjoy and utilize fully and freely their natural wealth
and resources.
Atas dasar kedua ketentuan dalam kedua buah konvenan di atas, maka dalam
kaitannya dengan aspek hak-hak penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah dan sumber daya agraria lainnya, pelaksanaan pengakuan,
penghormatan, dan perlindungan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya
tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai mengurangi hak-hak yang melekat pada seluruh
masyarakat untuk menikmati secara penuh dan bebas atas kekayaan dan sumber daya
alam mereka.
Atas dasar kondisi di atas, tidak mungkin membangun demokrasi dan
keadilan tanpa upaya pembaruan agraria sehingga pembaruan agraria merupakan
suatu keniscayaan bagi negara yang sedang membangun seperti Indonesia, bahkan
bagi negara yang meskipun pemerintahnya mempraktikkan paradigma
modernisasi. 224 Jika dipahami bahwa pembaruan agraria merupakan suatu upaya
merestrukturisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dan
sumber daya agraria lainnya, maka ketiga prinsip utama di atas harus menjadi landasan
224

Gunawan Wiradi, Reformasi Agraria: Perjalanan yang belum berakhir, (Yogyakarta: Insist Press,
KPA dan Pustaka Pelajar, cet.I, 2001), hal.4.

Universitas Sumatera Utara

segala upaya restrukturisasi.


Dalam hal prinsip demokratisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah dan sumber daya agraria lainnya, hal tersebut ditentukan oleh
sejauh mana peran serta masyarakat dapat tumbuh dan berkembang secara adil.
Dalam hal ini peran serta masyarakat harus ditafsirkan sebagai hak dasar dari
rakyat untuk terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam proses
perumusan kebijakan. Keterlibatan itu dapat dimulai sejak tahap perencanaan,
pelaksanaan, sampai dengan tahap pengawasan. Pemahaman demokrasi tidak dapat
disederhanakan hanya sebagai mekanisme pengambilan kebijakan saja, lebih dari
itu. 225
a. Demokrasi itu berkaitan dengan input atau sumber-sumber aspirasi, gagasan, dan
potensi. Dari mana aspirasi digali, siapa yang mengontrol sumber daya yang ada
yang akan menjadi input proses pembangunan.
b. Demokrasi itu berkaitan dengan proses, yakni tentang bagaimana pengambilan
keputusan dilakukan, siapa yang terlibat dan bagaimana proses tersebut
dijalankan.
c. Demokrasi juga berkaitan dengan output, artinya bagaimana output dari suatu
proses didistribusikan. Siapa yang paling mempunyai akses untuk mengontrol
distribusi.
Ketiga pemahaman demokrasi di atas merupakan segi-segi dasar dari
proses demokrasi itu sendiri, yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan
ketiga pemahaman demokrasi tersebut, dapat dilihat misalnya, apakah pemerintah
dalam menjalankan kekuasaannya sudah mencerminkan keadilan, atau bagaimana
pola hubungan antara penguasa dengan rakyat dalam penguasaan, pemilikan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah dan sumber daya agraria.
Demokratisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, serta pemanfaatan tanah
dan sumber daya agraria tidak mungkin dilaksanakan jika hak-hak masyarakat
terutama masyarakat hukum adat dan lokal yang selama ini tertindas, tidak diupayakan
untuk dipulihkan. Akses masyarakat terhadap sumber daya agraria harus dibuka lebar
untuk mewujudkan keadilan agraria sebagai kata kunci pembaruan agraria.
C. Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun
1. Hukum Pertanahan di Simalungun
Sebelum Pemerintahan Hindia Belanda menginjakkan kakinya di daerah
Simalungun, mereka sudah punya hubungan politik dengan beberapa kesultanan di
daerah Pantai Sumatera Timur, misalkan Kesultanan Deli Serdang, Langkat, Asahan
dan Labuhan Batu. Kontrak yang mereka lakukan disebut kontrak panjang dan
investor-investor asing (Nederland) juga dibawa dalam bidang perkebunan, seperti
Deli Maatschapij, penghasil cerutu (tembakau pembungkus cerutu) 226
225
Tim Lapera, Otonomi Pemberian Negara: Kajian kritis atas kebijakan otonomi daerah, (Yogyakarta:
Lapera Pustaka Umum, cet.I, 2001), hal.47.
226
Djariaman Damanik, Berpikir Multi Disiplin, Belajar dari Sejarah, (SL:SN ,2006), hal.110

Universitas Sumatera Utara

Kolonel van Dalen (pemimpin marsuse Belanda) mulai memasuki Sibayak,


tanah Karo, melalui perbukitan Dairi, sementara Snouck Hurgronje menaklukkan
Aceh.
Pada pertengahan abad XIX (1860), Pemerintah Hindia Belanda sudah
menduduki Sibolga (sebelah Barat daerah Simalungun).
Raja-raja di Simalungun hanya diakui sebagai pemimpin / partongah,
sebagai primus interparis. Partongah secara turun-temurun diberikan kepada anak
laki-laki tertua. Tanggung jawab raja sangat mulia dan besar, padanya ada kharisma
(sahala) sehingga semula digelari Tuhan (yang disembah). naniminakan ni
Naibata (yang diminyaki oleh Tuhan).
Tahun 1907, dikenal tahun masuknya Belanda ke Simalungun dimana
Simalungun dengan Raja Marompatnya, yaitu Kerajaan Siantar, Tanah Jawa, Panei
dan Dolog Silau. Pemerintahan Hindia Belanda selalu mengabaikan lembaga raja
marompat, tidak diakui, lebih jauh lagi empat kerajaan ini dimekarkannya menjadi
tujuh (kerajaan, raja Napitu). Filosofi adat Habonaran do bona (veritas est Alpha),
artinya kebenaran adalah awal segala sesuatu, maknanya : aturan dalam hidup
manusia harus mengacu kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya tumbuh dan timbul apa
yang disebut hukum kepatutan dalam masyarakat Simalungun, menurut paradigma
masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Disamping aturan hukum adat
berbasiskan kekeluargaan Tolu Sahundulan Lima Saodoran ada dan berlaku hukum
adat mengenai pertanahan secara sederhana. Dalam masyarakat Simalungun dikenal
juga lembaga-lembaga di tingkat bawah (lingkaran daerah territorial paling kecil)
yang disebut huta, tempat pemukiman yang disebut parhutaan. Di sekeliling
Huta terdapat tanah pertanian penduduk, tanah penggembalaan, hutan lindung,
biasanya ada daerah aliran sungai sebagai tempat pemandian/ tapian sekaligus
sebagai tempat untuk dijadikan bongbongan (tambak atau kolam pemeliharaan ikan)
kebutuhan masyarakat huta.
Jadi ada sejumlah aset kepunyaan dari Huta itu untuk dijadikan sumberdaya
alam demi eksistensi penduduk desa bersangkutan, tanah pertanian, hutan, aliran
sungai yang melintas tanah kepunyaan huta itu, merupakan tanah ulayat huta
dalam arti luas. Bila huta itu berfungsi sebagai tempat kediaman Partuanon/
Parbapaan, maka huta itu menyandang sebutan Pamatang
Jadi Huta atau Pamatang mempunyai daerah teritorial sendiri yang
menjadi landasan hidupnya secara materil demi eksistensinya untuk seterusnya. Jadi
dapat dipahami betapa nilai dan harga materil dan sprituil dari lingkungan hidupnya
itu bagi masyarakat adat setempat. Boleh disimpulkan itulah hidupnya, tanpa tanah
dan air serta hutan bagaimana dapat menghidupi keluarganya? Itulah keseluruhan
yang dimilikinya, bila itu sudah tidak ada lagi, maka ia sudah tidak punya akar

Universitas Sumatera Utara

penghidupan di daerahnya sendiri. Suasana inilah yang dijumpai sebelum masuknya


pemerintahan penjajahan Belanda ke Simalungun.
Bagaimana sikap pemerintahan penjajahan terhadap keberadaan masyarakat
dan hak pertanahannya masa silam.
Dengan singkat dapat dikemukakan 227, bahwa pemerintahan Hindia Belanda
benar-benar memarginalkan hukum adat pertanahan di Simalungun dengan
memperalat pemerintahan zelfbestuurders/ swapraja Simalungun. Semua perilaku
kebijaksanaannya, melulu demi kepentingan tuan-tuan dari maskapai-maskapai
Belanda atau asing; untuk mencapai tujuannya itu memakai golongan penduduk dari
luar daerah ke Simalungun dengan tidak memperdulikan hak-hak pertanahan yang
sudah berlaku berabad-abad di Simalungun.
Pada tahun-tahun 1910-1920an, dikeluarkanlah tanah-perkampungan (tanahtanah ulayat) dari kekuasaan raja-raja Simalungun yang didudukkan mereka sebagai
domeinheer tanah-tanah termasuk hak ulayat rakyat/ penduduk asli (otokton)
Simalungun. 228
Perlu dicatat bahwa ada pertentangan prinsipil antara Pemerintahan Hindia
Belanda sebagai penganut dan pencipta Domein teori dengan para Sarjana Hukum
Adat (van Vollenhoven dan Ter Haar). Disamping perbedaan yang ada, juga ada
persamaan, yaitu pendirian bahwa Alle gronden, zowel bebouwde en onbebouwde
behoren aan de gemeente (semua tanah yang sudah dikerjakan oleh rakyat dan
tanah-tanah yang belum digarap rakyat, adalah kepunyaan Gemeente, yang artinya
masyarakat keseluruhan).
Penguasa desalah yang mengurus hal-hal/ perkara yang berkenaan dengan tanah
atau pertanahan di lingkungan desanya. 229
Daftar Historical Injustices 230 di Daerah Simalungun Tahun 1906/07-1945
Selama Penjajahan Belanda dan Jepang.
Di Bidang Politik Pertanahan.
a. Memberlakukan Vorstelijke Domein Verklaring atas tanah yang sudah maupun
yang belum diolah di lingkungan hak ulayat atau hak Partuanon Urung,
Partuanon Parbapaan, Partuanon Huta.

227

J. Tideman (Assisten-Resident Simalungun dan Karo): Simeloengoen, Hetland der Timoer-Bataks...,


(Leiden:Van Doesburg, 1922), [(s:a)].
228
Djariaman Damanik, op cit, hal. 114
229
Ibid, hal.115
230
Ibid, hal.116

Universitas Sumatera Utara

b. Memfasilitasi pendatang-pendatang ke daerah Simalungun, dalam rupa pemberian


tanah-tanah subur secara gratis untuk pembukaan sawah-sawah, kepentingan
perkebunan dan perkotaan, tanpa mengindahkan pembinaan atau pengembangan
SDM setempat.
c. Rekrutering pegawai-pegawai pemerintahan Hindia Belanda, perkebunan,
swapraja dari kalangan para pendatang tanpa mempertimbangkan penduduk
setempat yang masih uneducated sedang mereka adalah juga manusia-manusia
yang deserve kemajuan dan kesempatan dalam pembangunan di semua aspek
kehidupan di daerahnya. Dengan singkat, kepentingan penduduk setempat yang
otokton dikesampingkan, melulu mengedepankan kepentingan dan keuntungannya
sendiri sebagai penjajah.
d. Terasa sekali perilaku yang diskriminatif terhadap para pendatang atas penduduk
asli (otokton) dibelakangkan, karena sesama pendatang ke daerah Simalungun,
sekaligus memberlakukan politik devide et impera (peristiwa pengangkatan Hoofd
der Tobasche zaken)
e. Sikap dan pendirian RMG pun berjalan paralel dengan Pemerintahan Hindia
Belanda, terhadap penduduk asli Simalungun yang masih heiden atau Islam.
f.

Orang-orang pendatang, khususnya dari Tapanuli tidak memberlakukan hidup


perantau dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, kadang-kadang
menunjukkan sikap yang arogan memarginalkan orang-orang Simalungun.

g. Kapan kesenjangan-kesenjangan dan sikap arogansi itu dapat diatasi dan sekaligus
mencegah konflik-konflik yang tidak diinginkan.

Universitas Sumatera Utara

Dalam buku J. Tideman 231: Simeloengoen, Het land der Timoer-Bataks in zijz
vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het culturgebied van de
Oostkust van Sumatra:
De grond kon niet als eigendom van het Gouvernement beschouwd
worden, zodat geen regeling kon worden getroffen, welke de gemeente het
recht gaf titels daarop uit te geven (rekayasa).
De oplossing zal worden gevonden door eene schenking van de grond
door het zelfbestuur van Siantar aan het Gouvernement, warrna de
grondpolitiek binnen de gemeente in de juiste banen kan worden geleid.
(Artinya, Tanah tidak bisa dianggap sebagai hak milik, oleh karena itu tidak
ada peraturan dapat diterapkan termasuk juga di mana Pemerintah Kodamadya
memberikan title hak atas tanah tersebut. Penyelesaian akan ditentukan oleh
penyerahan oleh Swapraja Siantar kepada Pemerintah, demikian politik tanah
di dalam pemerintahan dapat dilaksanakan dalam cara-cara yang benar.)
Pertanyaan lain yang timbul 232:
Apakah istilah zelfbestuur Siantar sama dan serupa dengan Raja
Siantar. Raja Siantar in person dalam Bahasa Belanda disebut de
zelfbestuurder van Siantar. Zelfbestuur berarti raja dan aparat
harajaannya atau raja tambah harajaan (pemerintahan adat). Dalam
hal perembugan dan mufakat dengan Harajaan Siantar, mungkin tidak
relevan menurut Raja Riahkadim. Raja ini sudah over het paard
ghetild (diberikan kekuasaan/ wewenang yang berlebih) dan dia pun
tinggal tanda-tangan saja. Sungguh menyedihkan. Tapi inilah siasaat
pemerintahan Hindia Belanda: memanfaatkan kepolosan raja-raja
Simalungun untuk mencapai tujuan politik penjajahannya.
Dalam bukunya J. Tideman, mengenai Grondrechten (halaman 129 dst)
dicatat :
Persekutuan-persekutuan hukum (Harajaan: Urung/ PartuanonParbapaan dan Huta) terbentuk dan didirikan oleh penyandangpenyandang marga yang berkuasa di sesuatu wilayah, dan sekaligus
terbentuklah wilayah kekuasaannya (ulayat kekuasaannya/ partuanon
atas tanah dan air); yang dikenal dengan nama rechtgemeenschap
besar dan kecil yang mempunyai hak ulayat atas tanah dan air dalam
rechtgemeenschapkring-nya. Dan bahwa rechtgemeenschaprechtgemeenschap itu punya zelfbeschikkingsrecht atas tanah dan air
dalam wilayah yang dikuasainya. Dapat dipahami bahwa ada hubungan
khusus antara kaula/ warga dengan tanah dan air dalam lingkungan hak
ulayat terkait, dimana yang berwenang adalah Marga Harajaan/
231
232

J.Tideman dalam Djariaman Damanik, Ibid, hal.119


Ibid

Universitas Sumatera Utara

Urung/ Partuanon/ Parbapaan, terjelma dalam marga pamungkah di


wilayah itu.
Maka terjadilah beschikkingsrecht: (Hak Ulayat) dari marga itu.
Hak Ulayat dari persekutuan-persekutuan hukum itu diselenggarakan
oleh Kepala-kepala persekutuan hukum terkait (Partongah/ Tuan/
Parbapaan). 233
Di Simalungun, pada umumnya, para Partuanon mempunyai wewenang yang
agak otokratis atas tanah-tanah yang berada dalam hak ulayat Huta/ Urung/
Harajaan, namun persekutuan-persekutuan hukum dan lembaga-lembaga hak
ulayatnya tidak pernah punah atau hancur, walaupun sudah berlangsung berabadabad.
a. Kooreman (Indische Gids 1914) mencatat: Setiap Persekutuan Hukum (PH)
memelihara: batas-batas hak ulayatnya, perangkat pemerintahannya, lembagalembaga adat yang berasal dari hukum kodratnya sendiri termasuk hak ulayatnya
atas hutan belukar (woeste gronden misalnya) dan setiap anggota dari
Persekutuan hukum itu berhak untuk menguasai hutan belukar yang termasuk
hak ulayat Persekutuan masing-masing. Adanya otonomi dari masing-masing
persekutuan hukum dipelihara secara baik/ serasi antara PH yang rendah dan
yang lebih tinggi, dipelihara secara seimbang atas hak-hak ulayat masingmasing.
b.

Dalam Adatrechtbundel IX Pag. 38 disebutkan:


De zuivere Batakadat kent immers geen andere overheidsrechten (t.a. V.
Van de grond, welke berusten bij de stam (marga yang berkuasa) en
krachtens het aan deze ontleende gezag, door de atamhoofden worden
uitgeoefend. 234

Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan, bahwa penjualan (grondverkoop)


pengasingan tanah dilarang; yang ditolerir hanya jual gadai (peminjaman uang
233
234

Ibid
Ibid, hal.120.

Universitas Sumatera Utara

dengan tanah sebagai jaminan), namun dalam praktek sudah menyerupai jual-beli
biasa.
Ada berbagai pengertian dalam hukum adat tanah yang harus dibedakan, yaitu:
tombak, harangan, galoenggoeng, sampalan, parmahanan, tanoh rih, parhutaan,
pamatang, tapian, dalan bah, paranggiran, harangan panumbahan, jerat, pokkalan,
parjabuan, parjumaan, parsabahan, parkobunan, harangan larangan, umbul ni bah,
pinggiran ni bah, parbalogan, sabah lombang, lombang, reben-reben, dan lain-lain.
Istilah-istilah di atas dapat dilihat (masih eksis) di Kabupaten Simalungun 235 :
1) Harangan : Hutan

Gambar 1 : Harangan
2) Sappalan : Tempat makanan kerbau. Sappalan adalah milik Huta
Sappalan (Sampalan) : Tanah yang berisi rumput-rumputan saja, tidak ada
kayu, tempat masyarakat melepaskan kerbaunya, tempat makanan kerbau.

Gambar
2
:
Sappalan

3) Tanoh rih : tanah yang berisi lalang-lalang saja

Universitas Sumatera Utara

Gambar 3 :Tanoh rih


4) Pokkalan : Tempat kaum bapak minum tuak di ladang.
5) Parjabuan : Rumah-rumah yang bertumpuk.
6) Parbalogan : Batas ladang, sempadan.

Gambar 4 : Parbalogan / Parbalokan


Tempat berdirinya orang ini ada parit / Parbalokan antara dusun Siloting
dengan Sombul sepanjang 100m dengan lebar 80cm dan kedalamannya 1m, sekarang
telah ditutupi semak belukar dan pohon bambu.
7) Sabah Lombang : Sawah yang kiri kanannya jurang.

235

Wawancara yang telah diolah dengan L.Sitopu,S.Kom, dan mendampingi peneliti selama di lapangan.

Universitas Sumatera Utara

Gamba
r 5 :
Sawah
Lomba
ng
8) Tano-Reben / Reben-reben : Tanah miring.

Gambar 6
: Tanoh /
Tano
Reben

9) Tanah / Tano Roba : Tanah yang sudah ditinggalkan.

Gambar 7
: Tanoh /

Universitas Sumatera Utara

c.

Tano Roba
Contoh kedua politik pertanahan pemerintahan Kolonial Belanda dijalankan
untuk mengakomodasi eksploitasi hutan belukar (woeste gronden) yang
masih banyak dijumpai di daerah Simalungun (Kerajaan Siantar/ Bandar/
Sidamanik/ Tanah Jawa/ Panei) oleh maskapai-maskapai perusahaan asing
(Belanda, Swiss, Belgia, dan lain-lain) yang haus akan tanah untuk
penanaman karet, teh, sisal, kelapa sawit, dan lain-lain. Juga dengan memakai
politik domein verklaring atas tanah-tanah di daerah-daerah itu, seolah-olah
Raja/ Partuanon/ Tuan menjadi pemilik (eigenaar) dari tanah-tanah yang
termasuk wilayah Hak Ulayat Urung, Partuanon/ Parbapaan. Oleh Raja atau
Partuanon diadakan perjanjian dengan Perusahaan Perkebunan Besar,
memberikan tanah luas sebagai/ dengan hak Konsesi atau Erfpacht untuk
waktu misalnya 75 tahun, dengan persetujuan Pemerintah Hindia Belanda c.q
Gubernur Jenderal yang berarti bertolak belakang dengan makna sistem hak
ulayat atau beschikkingsrecht dari Urung/ Parbapaan/ Partuanon yang
masih berlaku di kalangan masyarakat Simalungun sejak berabad-abad. 236

Pemerintah Hindia Belanda meminjam tangan Raja Simalungun untuk mencapai


tujuan politik kolonialnya, demi kepentingan pengusaha-pengusaha besar asing untuk
perkebunan karet, sisal, teh, kelapa sawit, dan lain-lain.
Pada umumnya di daerah Simalungun, rechtsgemeenschappen (masyarakat
hukum/persekutuan hukum) diawali dengan pembentukan Huta (Pamatang). Baru
sesudah itu berkembang menjadi Oeroeng (sebagai pemekaran dari huta atau
pamatang) oleh suatu marga (yang kemudian menjadi marga yang berkuasa atau yang

236

Ibid, hal.121.

Universitas Sumatera Utara

memerintah di suatu daerah tertentu). Karena faktor-faktor geografis, ditentukanlah


batas-batas daerah kekuasaan dari masyarakat hukum adat itu. 237
Dengan begitu, terjadilah hubungan yang mantap dan mendalam antara
penduduk dan bumi di lingkungan daerah tersebut, terlebih lagi bagi generasi yang
lahir kemudian. Hubungan dimaksud bertambah mendalam (ingat di Jerman: blut
und boden dan di Indonesia tanah tumpah darahku). Dalam hubungan itulah, maka
terbentuk akar alamiah hak ulayat (beschikkingsrecht) dari Marga tertentu atas daerah
dalam lingkungan masyarakat hukumnya (beschikkingsrecht) yang tentu atau dengan
sendirinya dilaksanakan (dikelola) oleh kepala persekutuan-persekutuan terkait
(partongah/ partuanon/ parbapaan). Pada mulanya, seorang warga cukup
memberitahukan kepada kepala persekutuan, bahwa yang bersangkutan ingin
membuka ladang pertanian di suatu tempat (dalam lingkungan masyarakat
hukumnya). Namun kemudian, dengan pertumbuhan jumlah penduduk, seorang
warga harus minta ijin dari kepala persekutuan yang akan menunjuk sebidang lahan
untuk dikerjakan si pemohon.
Di daerah Simalungun, para raja, pada awalnya hanya berkedudukan sebagai
kepala Urung, sebagaimana telah kita lihat, berhasil menarik kekuasaan yang bersifat
otokratis pada dirinya masing-masing dan ini telah berlangsung ratusan tahun.
Namun persekutuan-persekutuan hukum dan lembaga-lembaganya (harajaan =
bestuur) tetap dapat bertahan dan tidak dapat dihancurkan.

Tuan Kooreman (Indische Gids 1914. I) 238


Kesimpulan yang diambilnya :
Tiap persekutuan tetap memiliki (mempertahankan) batas-batas daerahnya,
pemerintahan, lembaga-lembaga harajaan-nya, yang terlahir dari hukum
kodrat hak ulayat atas hutan-hutan belukar (woeste grond) dan tiap warga
persekutuan berhak untuk mengelola hutan belukar milik persekutuan
hukum, dan seterusnya. Telah kita lihat bagaimana Urung-urung
(vazalstaatjes) dapat mempertahankan kedaulatannya (kebebasannya) dari
kekuasaan para raja, juga terhadap hak ulayatnya atas tanah dan berbagai
lembaga adatnya. Dalam banyak hal para raja itu digambarkan sebagai
despoten sejati, khususnya terhadap para rakyatnya atau bawahannya yang
diakui banyak terjadi. Namun bahwa para raja itu diposisikan sebagai
pemilik-pemilik dari tanah belukar/ hutan-hutan, sebagaimana dicatat oleh
237
238

J.Tideman dalam Djariaman Damanik, Ibid, hal.122.


Djariaman Damanik, Ibid, hal. 123.

Universitas Sumatera Utara

Batakspiegel (hal. 28) dan juga diadvokasi (betogen) oleh banyak penulispenulis (van Dijk, hal. 196), menurut pendapat Kooreman, adalah tidak benar
sama sekali (J. Tideman).
(Perkara tanah Silampuyang dengan Sumatera Rubber/ Marihat, tahun 1919).
Van Dijk berkata demikian: bahwa sebenarnya raja-raja itulah yang jadi
pemilik dari hutan-hutan (woeste gronden), juga dari semua tanah (alle gronden).
Sementara de Batakspiegel mengedepankan, bahwa sang raja malah mempunyai
hak mencabut hak menguasai sawah dari seseorang, karena alasan kekurangan tanah,
dan menyerahkannya kepada orang lain. Mungkin hal-hal serupa itu pernah terjadi,
tetapi kejadian serupa itu tergolong sebagai penyalahgunaan kekuasaan raja.
Adatrechtbundel IX mencatat dengan singkat dan tegas: Adat Batak asli
(murni) tidak mengenal sama sekali hak-hak publik (penguasaan) atas tanah, kecuali
yang dimiliki oleh Stam/ Clan/ Marga dan berdasarkan kuasanya itu dilaksanakan
oleh Partongah (Stamhoofd). Itulah sebabnya, maka setiap kaula atau warga
persekutuan hukum adat bebas untuk memilih sebidang tanah di lingkungan hak
ulayat persekutuan hukum bagi usaha pertaniannya, sedangkan seorang asing, harus
terlebih dahulu meminta ijin dari Partongah (kepala persekutuan hukum), dan
kemudian membayar sejenis bunga tanah
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: penjualan tanah dilarang, dan jual
gadai tanah hanya dapat ditolerir, namun jual gadai tersebut biasanya berujung pada
jual beli tanah. Hak-hak penduduk asli sudah demikian menipis, sehingga orang
yang menjual tanahnya karena pindah desa, tetap punya hak untuk menebus kembali
tanahnya, dengan syarat bahwa ia tetap memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap
desa walaupun ia sudah menjadi warga desa lain.
2. Masyarakat Hukum Adat Simalungun
Sebelum membicarakan apa yang disebut dengan hak atas tanah adat
(Simalungun) perlu diketahui subjek 239 dari hak tersebut yaitu masyarakat adat
(persekutuan hukum adat). Dikenal 2 konsep besar yang sering diterjemahkan sama
yaitu Indigenous peoples (pribumi) maupun tribal peoples (suku bangsa). Pada jaman
Hindia Belanda terdapat istilah inlanders yang diterjemahkan sebagai Bumi Putera
berdasarkan Pasal 131 dan 163 Indische Staatsregeling, dimuat dalam Staatsblad
tahun 1855 Nomor 1 jo 2 yang membagi penduduk Hindia Belanda dalam golongan :
Eropa, Timur Asing, dan Bumi Putera. Penggolongan ini memperbaiki apa yang ada
dalam Regelment op het beleid op Regering van Nederland Indie. Golongan pertama
239

Pasal 2 ayat (2) PMNA/KBPN No.5/1999, Kriteria adanya Hak Ulayat maka etnis Simalungun sebagai
si Pukkah Huta Pakon si Mada Talun (Pembuka Kampung dan Pemilik Tanah Ulayat, Syamsudin Manan Sinaga,
Tanggung Jawab Pemerintah Terhadap Hak-hak Masyarakat Hukum Adat Simalungun, Makalah pada Seminar
Menguak Hak Ulayat Simalungun, Fakultas Hukum Universitas Simalungun dan Yayasan Pelpem GKPS,
Pematangsiantar, 15 Desember 2012.

Universitas Sumatera Utara

dan kedua tunduk pada sistem hukum Eropa sedangkan golongan Bumi Putera
tunduk pada hukum adat mereka kecuali apabila diinginkan lain. Yang dimaksudkan
adalah orang-orang setempat (inlanders, natives, indigenous) yang tunduk pada
hukum adat mereka masing-masing. 240
Pada awalnya Perserikatan Bangsa Bangsa mengartikan indigenous people
sebagai:
Descendents of those who inhabited in a country or a geographical region at the
time when people of different cultures or ethnic region arrived, the new arrival later
becoming dominant through conquest, occupation, settlement or other means
Yang dimaksudkan adalah kaum Indian di seluruh kawasan Amerika (dari
Kanada sampai Chili), Maori di Selandia Baru, Aborigin di Australia dan suku Sami
di Eropa Utara (Nordik).
International Labour Organization mengadakan konvensi tentang indigenous
people pada 1957, dan yang terakhir diperbaiki pada 1989 yang cakupannya lebi luas
dari aspek ketenagakerjaan karena termasuk juga aspek-aspek : anti diskriminasi,
perlindungan tradisi dan budaya. Pasal 1 (1.b) Konvensi International Labour
Organization Nomor 169 Tahun 1989 241 merumuskan bahwa Indigenous People
adalah:
masyarakat di negara-negara merdeka yang dianggap sebagai bangsa pribumi
yang penetapannya didasarkan pada asal-usul (keturunan) mereka di antara
penduduk lain yang mendiami suatu negara atau suatu wilayah geografis di
mana suatu negara terletak, pada waktu terjadi penaklukan atau penjajahan
atau penerapan batas-batas Negara yang baru tanpa menilik pada status
hukum mereka, dan masih tetap memiliki sebagian atau seluruh bentuk
kelembagaan sosial, ekonomi, budaya, dan politik mereka.
Hal ini diartikan bukan hanya kaum Indian, Maori, Aborigin dan Sami, namun
juga tribal groups yang dalam konteks Indonesia termasuk suku terasing. Demikian
juga pendapat dari Amnesti Internasional.
Pasal 1 (1.a) Konvensi mengistilahkan tribal people sebagai :

240

Sandra Moniaga, dalam Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Hak Asasi Manusia:Tanggung Jawab
Negara, Peran Institusi Nasional & Masyarakat (Jakarta : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 1998), hal.135.
Kosakata masyarakat adat juga merupakan sebutan tandingan terhadap berbagai sebutan yang merendahkan,
seperti suku terasing, masyarakat terbelakang, dan perambah hutan, yang digunakan secara resmi oleh pemerintah,
Arianto Sangaji, Kritik terhadap Gerakan Masyarakat Adat di Indonesia dalam Jamie S.Davidson, David Henley,
Sandra Moniaga, Adat Dalam Politik Indonesia, (Jakarta:KITLV, YOI, 2010), hal.347.
241
Sebutan masyarakat adat cenderung merupakan terjemahan dari indigenous people dan atau tribal
people, sesungguhnya memiliki akar sejarah yang cukup panjang dalam perbincangan internasional. ILO, sebuah
badan antar pemerintahan dengan struktur tripartit yang terdiri atas perwakilan pemerintah, pengusaha-pengusaha
nasional dan organisasi-organisasi buruh sudah menaruh perhatian dengan isu pekerja asli (indigenous worker)
sejak 1920an. Sekitar tiga decade kemudian ILO memperkenalkan perjanjian pertama tentang indigenous and
tribal population dikenal dengan konvensi ILO 107. Konvensi ini direvisi menjadi konvensi ILO 169 yang
dikeluarkan pada tahun 1989 Kingsburry dalam Jamie S. Davidson, David Henley, Sandra Moniagra, Adat Dalam
Politik Indonesia,ibid, hal. 348.

Universitas Sumatera Utara

mereka yang berdiam di negara-negara merdeka di mana kondisi-kondisi


sosial, kultural dan ekonominya membedakan mereka dari masyarakat
lainnya di negara tersebut, dan yang statusnya diatur seluruhnya maupun
sebagian oleh adat dan tradisi masyarakat tersebut atau dengan hukum dan
peraturan khusus.
Dari rumusan ini jelas terdapat warga Indonesia yang dapat dikategorikan
baik sebagai indigenous maupun tribal people. 242
Menurut peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Petanahan
Nasional No.5 Tahun 1999 (PMNA/KBPN No.5 / 1999) tentang Pedoman
Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Pasal 1, angka (3),
Masyarakat Hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum
adatnya, sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat
tinggal ataupun atas dasar keturunan.
Ada 4 (empat) elemen yang membentuk masyarakat adat tersebut, yaitu :
a. Sekelompok orang yang masih terikat dengan spiritualitas nilai-nilai sikap dan
perilaku tertentu dan yang membedakan mereka sebagai kelompok sosial
terhadap kelompok sosial yang lain.
b. Wilayah hidup tertentu yang di dalamnya ada tanah, hutan, laut dan SDA
lainnya yang bukan semata-mata diperlakukan sebagai barang produksi
sehari-hari (sumber mata pencaharian), tetapi menjadi bagian utuh dari sistem
religi dan sosial budaya kelompok sosial tersebut.
c. Praktek-praktek yang berbasis pada pengetahuan (kearifan) tradisional yang
terus menerus diperkaya / dikembangkan sesuai kebutuhan keberlanjutan
hidup mereka.
d. Aturan dan tata kepengurusan hidup bersama (hukum dan kelembagaan adat)
yang berkembang sesuai dengan sistem nilai bersama yang diterima dan
berlaku di dalam kelompok sosial tersebut. 243
Masyarakat hukum adat (adat rechtsgemeenschap, Belanda) oleh pakar-pakar
hukum adat Belanda pada umumnya diterima secara umum atau kenyataan di hampir

242

Stephanus Djuweng dan Sandra Moniaga, Kebudayaan dan Manusia yang Majemuk. Apakah Masih
Punya Tempat di Indonesia? Kata Pengantar Konvensi International Labour Organization 169 mengenai Bangsa
Pribumi dan Masyarakat Adat di Negara-negara Berkembang, (Jakarta:ELSAM dan LBBT, 1994), hal.135.
243
Abdon Nababan, Masyarakat Adat Dalam Disain Hubungan Pusat-Daerah : Peluang dan Tantangan
untuk mengembalikan otonomi asli komunitas adat, dalam P.Panggabean, Pemberdayaan hak MAHUDAT
(Masyarakat Hukum Adat) Mendukung Kegiatan Otonomi Daerah, (Jakarta : Permata Aksara, 2011), hal.55.
Pertanyaan Abdon tentang hal ini : lembaga mana yang sah mewakili masyarakat adat? Bagaimana mereka
mendapatkan dan mempertahankan keabsahan tersebut? Bagaimana mereka menghasilkan keputusan yang
mengikat ke dalam dan ke luar? Apakah pranata adat yang ada saat ini masih menyediakan norma dan mekanisme
untuk menangani berbagai permasalahan yang muncul saat ini? Bagaimana keputusan-keputusan ini ditegakkan?
Bagaimana posisi dan relasi komunitas adat ini dengan struktur administrasi Negara dan pihak-pihak luar non
Negara seperti perusahaan atau Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP).

Universitas Sumatera Utara

seluruh Indonesia. Khususnya di daerah-daerah di mana hukum adat masih berlaku,


dalam hal ini di Kabupaten Simalungun 244.
Sejarah sebelum dan sesudah pemerintahan Belanda berkuasa di Simalungun,
kita mengenal Sistem Harajaan dalam pemerintahan (Zelfbesturende Landschappen
= Swapraja) Raja Marompat, yang kemudian dimekarkan pada tahun 1907 menjadi
Raja Napitu: Siantar, Tanah Jawa, Pane, Dolok Silau, Raya, Poerba, dan Silimakuta.
Potret susunan pemerintahan tradisional di kerajaan-kerajaan itu boleh
dikatakan sama, sebagai contoh (sifatnya bertingkat dan berlapis): 245
Harajaan Siantar dengan pemekarannya : Harajaan Bandar dan Harajaan
Sidamanik berasal dari satu leluhur (Partiga-tiga Sipunjung), bermarga Damanik.
Dalam hukum adat kedudukannya setaraf, juga mengenai pertanahan berkaitan
dengan masyarakat hukum adatnya. Pembagian/ struktur pemerintahan Landschaap
Siantar dan Distrik (Partuanon Bandar dan Sidamanik) di samping Siantar Proper,
adalah ciptaan Pemerintahan Hindia Belanda dalam rangka uniformisasi/
restrukturisasi pemerintahan swapraja di Simalungun). Menurut hukum adat yang
berlaku di Kerajaan Siantar, bertalian dengan adatrecht-gemeenschappen, terdapat
Masyarakat Hukum adat yang bertingkat atau berlapis:
1. Lapis Atas: Urung Siantar
2. Lapis Tengah: Partuanon (Sipolha, Silampuyang, Dolok Malela, dan lain-lain)
3. Lapis Bawah: Huta (Naga Huta, Siantar)
Urusan pertanahan secara internal, cukup diselesaikan oleh Pemerintahan Huta
atau Desa, namun apabila ada urusannya dengan pihak luar (bukan kaula/warga
masyarakat hukum adat), maka diurus oleh lapis yang lebih tinggi, misalnya
Pemerintahan Partuanon (Lapis Tengah).
Bila urusannya tidak terselesaikan oleh Pemerintahan Partuanon, maka
akhirnya diangkat persoalannya pada masyarakat hukum adat Lapis Atas, yakni
Kepala Urung (Landschaap) atau pemerintahannya. Dengan demikian, ada semacam
check and balances di antara pemerintahan masyarakat hukum yang berlapis-lapis
itu.
Pertanyaan mungkin timbul lagi: Kenapa di Simalungun terdapat masyarakat
hukum yang berlapis itu? Untuk dapat memberi penjelasan, menurut sejarah
244

Masyarakat Hukum Adat Simalungun adalah warga masyarakat asli Simalungun karena kesamaan
tempat tinggal (territorial) dan atau atas dasar keturunan (genealogis) yang sejak kelahirannya hidup dalam
wilayah tertentu dan terikat serta tunduk kepada hukum adat Simalungun, Rosnidar Sembiring, Eksistensi Hak
Ulayat Masyarakat Adat Simalungun, makalah pada Seminar Menguak Hak Ulayat Simalungun, op cit.
245
Djariaman Damanik, Op Cit, hal.128.

Universitas Sumatera Utara

pertumbuhan atau perkembangan kerajaan Partuanon masing-masing Urung


(Landschaap). Misalnya, bagaimana sejarah pembentukan Harajaan Siantar, Bandar
dan Sidamanik. Perlu diingat, Harajaan Siantar memiliki sejarah pembentukannya
sendiri sejak asal mulanya sampai pada pemekarannya menjadi tiga urung
(landschaap): Siantar, Bandar, dan Sidamanik. 246
Partuanon Silampuyang yang bermarga Saragih, juga mempunyai sejarah
pembentukannya yang khas. Partuanon Silampuyang menurut sejarahnya, lebih
dahulu ada atau eksis, sebelum pembentukan atau pendirian Harajaan Siantar, kirakira akhir abad XV.
Untuk pengetahuan lebih jelas, baik untuk dibaca: Verhandeling tanah
partuanon Silampuyang yang diberikan menjadi erfpacht Perkebunan Marihat oleh
Raja Siantar, Tuan Riahkadim (Tuan Waldemar Damanik) pada tahun 1919.
Pendirian Tuan Silampuyang bahwa, yang berhak menentukan status tanah
dalam lingkaran masyarakat Hukum Adat Silampuyang adalah dirinya, bukan Raja
Siantar semata-mata, akhirnya diakui atau dibenarkan oleh pemerintahan Hindia
Belanda dahulu. Keputusannya : Perkampungan Silampuyang dan tanah-tanah
keperluan rakyatnya dikembalikan sebagian kepada Tuan Silampuyang.
Pertimbangannya dapat diduga, karena di Kerajaan Siantar berlaku Masyarakat
Hukum Adat berlapis. Jadi, berbeda masyarakat hukum adat di Siantar dengan di
Tapanuli.
Di Siantar, hampir sama dengan masyarakat hukum adat yang ada di
Penyabungan dan di Sipirok, berbeda dengan masyarakat hukum adat di Toba, yang
titik sentralnya (heavy-nya) berada di Huta atau Desa.
Dalam perkembangan terakhir, kadang-kadang Huta pun tidak lagi merupakan
Masyarakat Hukum Adat di Simalungun. Jadi yang tinggal kemudian adalah
Masyarakat Hukum Partuanon (Parbapaan) dan masyarakat Hukum Urung
(landschaap) atau Partuanon Banggal.
3. Hak Atas Tanah Adat di Kabupaten Simalungun
Menurut Hukum Adat Simalungun, pada mulanya pemilikan tanah adalah hak
milik Marga yang dikuasai oleh Raja dari salah seorang anak keluarga marga
tersebut. Rakyat hanya mempunyai hak pakai (hak massamod) disebut:
Galunggung.
Hak massamod (Galunggung) bagi rakyat berlaku turun-temurun dan dapat
diwariskan, juga dapat dijual. Sebenarnya Kabupaten Simalungun yang penduduknya

246

Ibid, hal.129.

Universitas Sumatera Utara

etnis Batak, berada di Pantai Timur Sumatera Utara ini sangat berbeda dengan daerah
Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan maupun Karo 247.
Penduduk dapat membuka perladangan/persawahan dengan sekuat
kemampuannya dengan ketentuan tanaman keras di atas tanah tersebut adalah milik
Marga oleh salah seorang Raja dari marga tersebut. Sebagai Pemerintah tertinggi di
wilayahnya masing-masing penduduk diwajibkan mendapat persetujuan dari Raja
untuk massamod yang baru dan setiap penjualan hak massamod dari rakyat kepada
orang lain harus diketahui oleh Raja, untuk itu yang bersangkutan memberikan suatu
pertanda berupa hasil dari atau peliharaan atau uang tunai (tidak ada ketentuan).
Masyarakat adat Simalungun adalah masyarakat Batak Simalungun di wilayah
Kabupaten Simalungun yang berprinsip Tolu Sahundulan Lima Saodoran (kedudukan
nan tiga, barisan nan lima, Tondong, Sanina, Suhut, Anak Boru Jabu, Anak Boru
Mintori).
Hak bersama atas tanah disebut rahatan ni huta. Rahatan ni huta termasuk
juga hutan yang berdekatan dengan kampung, dimana kayu-kayunya tidak boleh
diambil oleh penduduk kecuali untuk keperluan kampung itu umpamanya untuk balai
desa, lumbung desa. 248
Pada mulanya ada beberapa fase yang dilalui untuk dapat mengusahakan
sebidang tanah yaitu:
a. Fase penebangan kayu

b.

Pada fase ini ditentukan waktunya, kemudian pembakarannya dan pada saat ini
melekatlah suatu hak atas pemakaian tanah, yaitu ladang yang disebut juma
tombakan.
Fase dimana ladang yang dipakai untuk tahun kedua, ketiga disebut gas-gas.
Gas-gas adalah tanah yang tidak produktif (unsur haranya habis). Gas-gas
kebalikan dari juma roba (hutan yang masih perawan, sangat subur karena
belum pernah ditanami).

c.

Fase untuk pertama kalinya ditinggalkan gas-gas tadi, disebut bunga talun
sedangkan apabila ditinggalkan untuk kedua kalinya disebut talun(Tanaman

247
Moshedayan Pakpahan, Tanah Adat di Daerah-Daerah Indonesia, (Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Badan Pertanahan Nasional, 1998), hal.6.
248
Hasil wawancara pra penelitian dengan salah seorang tokoh adat.

Universitas Sumatera Utara

yang tidak ada di suatu tempat tetapi hanya di satu talun). Bunga Talun ada di
daerah Gulting, Sondi Raya.
d.

Perladangan yang karena ditinggalkan, tapi masih ada di atasnya tanam-tanaman


muda, disebut galunggung (bukit-bukit, perladangan).

e.

Hak memperusahai / memakai atas tanah ini melekat apabila terus-menerus


dikerjakan. Dalam waktu 2 (dua) tahun berturut-turut tidak dikerjakan maka hak
itu kembali kepada Penghulu/Kepala Adat, yang kemudian dapat
memberikannya kepada orang lain yang memerlukannya. Sebagai catatan,
bahwa tanaman-tanaman keras biasanya tidak boleh ditanami di sini, agar pada
waktunya (secara rotasi) dapat kembali berladang ke daerah kawasan hutan
perkampungan ini, kecuali di tepi gubuk ladang (sopou juma).
Dalam hal perladangan tersebut oleh Penghulu diberikan kepada orang lain, oleh
karena pemegang hak pakai semula tidak memerlukannya, maka tanam-tanaman
keras tadi (biasanya pohon durian dan petai) oleh si pemakai yang memperoleh
kemudian itu, harus membersihkan sekeliling tersebut jelasnya lingkungan
tanaman-tanaman itu tidak turut boleh diperladanginya, istilah dalam bahasa
Simalungun i-salagsagi.
Tempat tanaman-tanaman keras disediakan di luar pagar disebut partoguh
atau bidei dari perkampungan dan tempat ini disebut pohon diberi ganti
kerugian.

f.

Hak Panunggu atau Pangayakan hanya terdapat pada tanah sawah yaitu
tanah sebelah kiri dan kanan sawahnya ditambah bagi orang yang bersawah
paling ujung ialah tanah sebelah hulunya.

g.

1) Rahatan ni Huta, hutan yang berdekatan dengan kampung (merupakan hak


bersama atas tanah).
2) Hak Parjalangan sahuta yaitu tempat penggembalaan hewan.
3) Hak bong-bongan sahuta : kolam tempat mengambil ikan.
4) Hak Panambunan sahuta yaitu pekuburan bersama. Adakalanya
pengemuka masyarakat di kampung itu dikuburkan atau menyediakan
terlebih dahulu bangunan kuburannya di pohonnya. dan cara ini

Universitas Sumatera Utara

dibolehkan, mengingat status tanah pohon itu dikerjakan secara turuntemurun. 249
Sekali lagi kalau diurutkan Hak Tanah menurut Hukum Adat Simalungun
adalah sebagai berikut:
1. Hak Tombakan
2.

Hak Gas-gas

3.

Hak Bunga Talun

4.

Hak Talun

5.

Hak Pohon

6.

Hak Panunggu

7.

1) Hak Rahatan ni Huta


2) Hak Parjalangan
3) Hak Bong-bongan Sahuta
4) Hak Panambunan Sahuta

Jadi Hak Atas Tanah Adat yang terdiri atas Hak Ulayat dan hak perseorangan
atas tanah (adat) di Kabupaten Simalungun masih eksis 250, Meskipun dari segi objek
(adanya bong-bongan sahuta, tapian, juma na bolak, dan lain-lain). Masyarakat
Hukum Adat masih ada tapi lemah, ditandai dengan adanya pimpinan adat dalam
acara-acara ritual seperti pesta, Hukum Adat Simalungun juga masih dipakai
meskipun di sana-sini sudah mengalami pergeseran (pen).
Berikut ini bukti bahwa masih terdapat objek hak ulayat (tanah atau yang
dipersamakan dengan tanah,misalnya: tano reben, tano roba, harangan,
parmahanan, parjalangan sahuta, parsinumbahan / pamelean, bong-bongan sahuta,
dan lain-lain, juga masih terdapat subjek hak ulayat yaitu huta dan marga,
seperti di bawah ini :
1) Bong-bongan sahuta
249

Jahutar Damanik, Jalannya Hukum Adat Simalungun, (Medan: PD Aslan, 1974), Hal.23.
Rosnidar Sembiring, Keberadaan Hak Ulayat di Kabupaten Simalungun, tesis, (Medan : PPS USU,
2001), hal. 16. Bahwa menurut PMNA No. 5 tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat
Masyarakat Hukum Adat : Harus ada subjeknya (Masyarakat Hukum Adat), Objeknya (Tanah dan yang
dipersamakan dengan Tanah), Hubungan Subjek dan Objek tersebut.
250

Universitas Sumatera Utara

Gambar 8 : Bong- Bongan Sahuta

Bong-Bongan Sahuta adalah kolam ikan bersama, berawal dari Parawangan ni


Horbou ( tempat pemandian kerbau), kemudian melebar terus sehingga menjadi
Bong-bongan , oleh warga karena dia hanya mengandalkan air hujan dan pintu keluar
air pun tidak ada, maka dimanfaatkan untuk menanam benih ikan sehingga jika tiba
masa kemarau panjang, airnya akan menjadi surut, saat itulah warga setempat
mandurung, mananggok/ mengambil ikan. Saat ini oleh Huta, dibuat sebagai
tempat pemancingan ikan, uang pemasukannya dimasukkan menjadi kas desa/Huta.
Ini terdapat di Huta Kampung Baru, desa Dolog Huluan, kecamatan Raya dan dusun
Baringin Raya, kelurahan Pam.Raya. Luas Bong-bongan itu 15 rantai (6000 meter)
sedangkan daratannya 5 rantai (2000 meter) jadi luas keseluruhan 8000 meter yang
merupakan milik Huta
2) Parmahanan

Universitas Sumatera Utara

Gambar 9 : Parmahanan Huda pakon Horbou Tuan Damak Raya.

(Parmahanan/penggembalaan kuda dan kerbau milik Tuan Damak/Pangulu Damak).


Parmahanan adalah tempat penggembalaan hewan seperti kerbau dan kuda.

Gambar 10
Horbangan

(Horbangan/Pintu masuk ke Parmahanan). Gambar di atas adalah


horbangan/harbangan yaitu pintu masuk ke Parmahanan Damak Nagori Siporkas
kecamatan Raya kabupaten Simalungun.

Gam
bar
11 :
Tem
pat merawat hewan (kuda / kerbau).

Parmahanan lebih sistematis, terawat / rapih daripada Parjalangan Sahuta.


3) Parjala
ngan
Sahuta

Universitas Sumatera Utara

Gambar 12 : Parjalangan Sahuta


Parjalangan Sahuta hampir sama dengan Parmahanan : sama-sama tempat
penggembalaan ternak. Hanya bedanya dalam Parmahanan lebih terawat,
mempunyai sistem, sedangkan dalam parjalangan sahuta tidak terawat, bebas. Samasama memiliki pintu yang disebut horbangan. Yang memiliki parjalangan sahuta
adalah Huta. Sipukkah horbangan disebut si jolom horbangan. Sistem ini
diterapkan dalam hukum perkawinan adat, yang membuka pintu adalah para
pemuda, biasanya diberi sirih/demban. Ini terdapat di daerah/dusun Mappu, Nagori
Siporkas, kecamatan Raya. 251
4) Parsinumbahan
Gambar 13 : Parsinumbahan / Pamelean

Parsinumbahan adalah tempat


penyembahan masyarakat sebelum adanya agama berupa pohon yang sangat besar,
luasnya 4 rantai (5000m), di dalamnya saat ini masih terdapat patung-patung yang
disembah dulu, yang disebut pamelean. Parsinumbahan (pamelean) ini terdapat di
Siloting. Parsinumbahan adalah milik Marga (Saragih Garingging).

5) Paridian ni Raja

251

Observasi dan hasil wawancara dengan Ernawati Br Purba, 27 Januari 2013 di dusun Mappu Nagori
Siporkas kec.Raya, Gamotnya bernama Dedy Saragih Garingging (35 tahun), memiliki 6 ekor kerbau yang

Universitas Sumatera Utara

Gambar

14 : Paridian ni Raja
Paridian ni Raja Raya (Tuan Rondahaim Saragih Garingging).
Ada 2 (dua) tempat, masing-masing punya pintu masuk untuk laki-laki dan
perempuan, beserta umbul ni bah (mata air) dari sebuah batu, terletak di Aman Raya
Kelurahan Pematang Raya, kecamatan Raya. Pancurannya sudah diubah semula
bentuk bambu sekarang menjadi bentuk pipa besi. Sebagai bukti sejarah, tempat
pemandian umum (dalam hal ini meskipun umum, yang berhak masuk hanyalah
marga-marga Garingging, karena pemiliknya adalah Marga (Saragih Garingging)
(Keturunan Raja Rondahaim) oleh Pemkab Simalungun sudah direnovasi, di atasnya
ada Parsinumbahan juga Pamelean yang sudah dibeton. Ketika ada acara besar/acara
adat seperti Rondang Bittang, sebelum pembukaan acara tersebut, biasanya Bupati
beserta jajarannya maranggir (mandi dengan menggunakan air jeruk purut).
Ada yang disebut istilah dalan ni bah : jalan ke pemandian seperti gambar
berikut ini;

Gambar 15 : Dalan ni Bah


Kemudian Pinggir ni bah : tepian sungai
Umbul ni bah : mata air seperti gambar berikut ini ;

berkandang di belakang rumahnya. Dari jam 12.00-17.00 setiap hari ngangon/ngurusi kerbaunya, kerbau-kerbau
tidak akan dikeluarkan jika di desa tersebut ada pesta.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 16 :
Umbul ni Bah
Jika musim kemarau, debit airnya tetap sehingga bisa digunakan untuk sumber
air penduduk setempat. Airnya sangat jernih seperti air AQUA. Paridian ni Raja
Raya ini merupakan hak milik komunal marga (marga Saragih Garingging).
6) Losung
Losung atau lesung adalah tempat menumbuk padi, terletak pada
martokkarang/sopou/ rumah panggung : inganan ni losung (tempat losung) terdiri
dari 4 (empat) tiang tetapi tidak menggunakan paku (hanya dipahat), ada gambar
tulisan dari Raja Sulaiman. Atapnya terbuat dari ijuk (arribut) sekarang sudah diganti
seng. Keempat tiang tersebut terbuat dari kayu pokki (sama seperti kayu pembuatan
losung).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 17 : Martokarrang / Sopou : rumah panggung tempat losung berada.

Gambar 18 : Losung Jantan.


Losung ini dibentuk / dipahat dari kayu pokki, mempunyai kepala layaknya
(menyerupai) manusia. Ini adalah losung berjenis kelamin jantan 252 kelihatan dari
bentuk telinganya yang lebih panjang. Losung-losung ini terletak di huta Sambual
desa Nagori Raya Bayu. Di desa ini terdapat 27 kepala keluarga (KK) berjarak 8 km,
dengan medan (area) yang sulit dicapai. Losung ini sudah berusia 100 tahun lebih
terdiri dari 14 (empat belas) lubang (jantan maupun betina), dan terbuat dari kayu
pokki. Tinggi losung satohot (1 lutut).

Gambar 19 : Losung Betina

Ini adalah losung berjenis kelamin betina, mempunyai lubang juga berjumlah
14 (empat belas), yang membedakannya hanya telinga, telinga losung betina lebih
pendek sementara telinga losung jantan lebih panjang, sedangkan mata & hidung
sama.
252

Wawancara yang sudah diolah bersama Marsen Saragih , 5 Desember 2012.

Universitas Sumatera Utara

Menurut sejarahnya, pembuatan losung dikerjakan di hutan, kayunya adalah


kayu pokki, setelah selesai dikerjakan, secara gotong-royong ditarik dengan
menggunakan roda oleh masyarakat dan diiring nyanyian aloi-aloi. Andalu / alu :
alat penumbuk dimiliki oleh masing-masing warga , panjangnya 2 atau 3 m. Losung
ini mempunyai nilai magisch diyakini warga jika ada yang berniat tidak baik,
misalnya mencuri maka ia tidak akan bisa keluar dari desa tersebut.
Biasanya yang ditumbuk pada losung tersebut adalah : padi, kopi, bumbubumbu masakan jika ada pesta, dan hasil yang ditumbuk pada losung tersebut terasa
lebih wangi serta tidak mengurangi kadar gizinya jika dibandingkan dengan jika
ditumbuk/digiling dengan menggunakan mesin. Ada kebiasaan (adat) masyarakat
setempat, jika ingin memakan daging ayam, maka ayamnya tidak boleh dibawa dari
luar (luar desa tersebut), harus ayam dari daerah / huta Sambual, tujuannya untuk
mencegah warga dari berbagai penyakit, seperti penyakit flu burung pada hewan. Jika pun
dijual, harganya akan lebih mahal, padi atau kopi yang ditumbuk pada losung tersebut
daripada jika padi dan kopi itu digiling dengan menggunakan mesin.

4. Hak Atas Tanah Adat dalam Sistem Hukum Pertanahan Nasional


a. Hak Atas Tanah Adat dalam UUD RI Tahun 1945 beserta kritikan
terhadapnya :
Undang-undang Dasar 1945 meletakkan dasar Politik dan Hukum Tanah
Nasional yang dimuat dalam :
1) Pasal 33 ayat (3)nya yaitu : bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat
Ketentuan ini bersifat imperatif, yaitu mengandung perintah kepada Negara,
sehingga tujuan dari penguasaan oleh Negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya adalah mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pada tahun 2000, dilakukan amandemen yang kedua terhadap UUD 1945 yang
menghasilkan klausul baru mengenai masyarakat adat. Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945
dan Pasal 28 I Ayat (3) hasil amandemen yaitu :
2) Pasal 18 B Ayat (2) : Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup

Universitas Sumatera Utara

dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan


Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang.
3) Pasal 28 I Ayat (3) : Identitas budaya dan hak tradisional dihormati selaras
dengan perkembangan zaman dan peradaban.
Pada awal era Pasca- Soeharto, memang terjadi perubahan mendasar untuk
melindungi masyarakat adat. Pasal 18 B ayat (2) Bab VI UUD RI Tahun 1945 yang
sudah diamandemen pada tanggal 18 Agustus 2000 menyatakan bahwa Negara
mengakui dan menghormarti kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hakhak tradisionalnya.
Tahun 2001, TAP MPR menyatakan bahwa hak masyarakat tradisional dihormati
sebagai hak asasi manusia, akan tetapi , perubahan-perubahan ini belum memberikan
arti apa-apa bagi masyarakat adat di lapangan. Dalam berbagai sengketa sumber daya
alam, masyarakat selalu kalah, berhadapan dengan perselingkuhan antara pemodal
dan aparat Negara 253.
b. Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dan
kritikan terhadap UUPA :
Baru pada tanggal 24 September 1960, Pemerintah berhasil membentuk
Hukum Tanah Nasional yang dituangkan dalam UUPA, UUPA melaksanakan
ketentuan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 sesuai dengan tujuan di undangkannya UUPA
tersebut. Ketentuan mengenai hak ulayat masyarakat hukum adat diatur dalam Pasal 3
UUPA yaitu :
Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan Pasal 2
pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakatmasyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada, harus
sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara,
berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan
Undang-undang dan peraturan-peraturan yang lebih tinggi.
Sepanjang menurut kenyataannya masih ada, artinya bila kenyataannya tidak ada,
maka hak ulayat masyarakat hukum adat itu tidak akan dihidupkan lagi, dan tidak
akan diciptakan hak ulayat baru. Hak Milik atas tanah adat (yang asli), karena belum
tuntas pengaturannya, belum terlayani persertifikatannya, diragukan kepastiannya
karena berdasarkan ada tidaknya sertifikat tanah, pemilik tanah adat digusur akibat
pendatang baru pemegang HGU, HGB atau hak pakai (HP) bahkan hak pengelolaan.
253

Arianto Sangaji, Kritik terhadap gerakan masyakat adat di Indonesia dalam Jamie S. Davidson, op cit,

hal 355.

Universitas Sumatera Utara

Polemik UUPA dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 (sudah diganti


menjadi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, kemudian Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah.
1. Adanya perbedaan pandangan tentang pelimpahan kewenangan bidang
agraria/pertanahan kepada daerah.
a. Pelimpahan kewenangan berdasar Pasal 2 ayat (1) UUPA 1960, yang
mengatur bahwa hak menguasai dari negara pelaksanaannya dapat
dilaksanakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat hukum
adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Realisasi
pelimpahan kewenangan, dalam bentuk medebewind, sebab persoalan
agraria pada asasnya merupakan tugas pemerintah pusat.
b. Penyerahan kewenangan berdasarkan Pasal 11 ayat (1) dan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999, mengatur bahwa bidang pemerintahan
yang wajib dilaksanakan daerah dan kota adalah semua kewenangan
pemerintah, termasuk bidang pertanahan kecuali yang ditentukan Pasal 7
dan 9. 254
2. Pendapat yang menginginkan hanya kewenangan tertentu/terbatas saja yang
dilimpahkan pada daerah. Pasal 2 ayat (4) UUPA menegaskan, bahwa hak
menguasai negara, pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah
swatantra dan masyarakat hukum adat 255 apabila diperlukan dan tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional. Sedangkan Pasal 11 UU Nomor
22 Tahun 1999 menentukan bahwa semua kewenangan bidang agraria /
pertanahan harus diserahkan kepada daerah. 256

UUPA sendiri memang mengakui adanya hak ulayat dengan pembatasan


mengenai eksitensi dan pelaksanaannya, tetapi UUPA tidak memberi penjelasan
tentang hak ulayat itu kecuali menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak ulayat
adalah beschikkingsrecht dalam kepustakaan hukum adat. Juga UUPA tidak
memberikan kriteria dan eksistensi hak ulayat.
254
Penjelasan Pasal 11 ayat (1) menyebutkan, dengan diberlakukannya undang-undang ini maka pada
prinsipnya seluruh kewenangan berada pada daerah kabupaten dan kota. Penyerahan kewenangan tersebut, tidak
perlu dilakukan secara aktif melainkan cukup melalui pengakuan saja.
255
Menilik namanya, objek pengaturan UUPA meliputi semua hal yang terkait dengan SDA (tanah, air,
hutan, tambang, dsb), tetapi kenyataannya UUPA baru mengatur hal-hal yang berhubungan dengan pertanahan
saja, dari 67 pasal UUPA, 53 pasal mengatur tentang tanah. Objek pengaturan yang belum diselesaikan UUPA
ditindaklanjuti berbagai sektor melalui Undang-Undang sektoral, untuk memenuhi menjawab permasalahnpermasalahan yang belum diatur UUPA, Maria S.W Sumardjono, Kedudukan Hak Ulayat dalam Peraturan
Perundangan di Indonesia, makalah. Materi Kuliah Hukum, hal.1.
256
Yusriyadi, Industrialisasi & Perubahan Fungsi Sosial Hak Milik Atas Tanah, (Yogyakarta : Genta
Publishing, 2010), hal. 179-181.

Universitas Sumatera Utara

Pemberian tempat kepada hukum adat di dalam UUPA dapat ditemukan dalam
Pasal 2 Ayat (4), 3, 5, 22 Ayat (1), 56, 58 257.
Dengan mengakui hukum adat sebagai dasar hukum agraria nasional, berarti
mengakui lebih dari satu tatanan hukum tanah, ini menandai adanya konsepsi
pluralisme hukum (sesuai dengan kerangka teori yang dipakai dalam disertasi ini).
Pluralisme hukum disini bukan merupakan suatu antinomi antar pluralisme hukum
dengan unifikasi hukum, melainkan interaksi antara sistem hukum yang saling
berbeda mengikuti pendapat. Setelah memahami konsepsi Hak Atas Tanah UUPA,
disebut hak atas tanah menentukan penggunaan tanah, bukan penggunaan tanah
mengarahkan hak tanah, justru seperti diperintahkan oleh Pasal 2 ayat (2) UUPA.
Secara langsung ataupun tidak langsung alam pikiran hukum barat mempengaruhi
rumusan ketentuan-ketentuan dalam UUPA yang merupakan rumusan
kompromistis 258 secara lengkap atau sebagian untuk sementara atau selamanya,
sehingga meragukan kemurnian UUPA yang secara formal dikatakan Hukum Adat
adalah dasar UUPA, sehingga hak atas tanah yang strategis dan terkait dengan banyak
aspek, dirumuskan memberi wewenang untuk menggunakan dan menentukan
pemanfaatan, rumusan ini berdasarkan Hukum Barat (setidaknya berorientasi
kepadanya), bukan berdasarkan dan berorientasi kepada Hukum Adat. 259
Hak atas tanah itu berorientasi pada eigendom yang merupakan hak privat, dimana
benda di atas tanah seperti rumah, melekat pada tanah. Maka aspek penggunaan
mengikuti aspek penguasaan. Hal itu dalam pelaksanaan UUPA menimbulkan banyak
permasalahan hak atas tanah apapun yang bersifat privat menentukan penggunaan
tanah yang bersifat publik, sehingga menyebabkan pemanfaatan tanah tidak terarah
untuk mewujudkan kemakmuran bersama. 260
c. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Secara jelas nampak pada Pasal 9 Ayat (1) : Pemerintah menetapkan
kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang
dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat-istiadat, dan nilai-nilai yang
hidup dalam masyarakat.

257

Yulia Mirasuti, Konflik-konflik Mengenai Tanah Ulayat, op cit, hal. 88.


Soedjarwo Soeromihardjo, Mengkritisi Undang-Undang Pokok Agraria, Meretas Jalan Menuju
Penataan Kembali Politik Agraria Nasional, (Jakarta: Cerdas Pustaka, 2009), hal.139, lihat juga AP Parlindungan,
Kapita Selekta Hukum Agraria, (Bandung:Alumni, 1981), hal.167, dan perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat
Gotong Royong, ketika UUPA dibicarakan ternyata banyak hal yang dapat diungkapkan bahwa produk Undangundang itu sebagai suatu kompromi yang maksimal yang dapat dicapai.
259
Menurut Penelitian Soedjarwo Soeromihardjo, pada saat penyusunan UUPA suasana kebatinan masih
berpikir Belanda, walaupun sudah ada kehendak untuk meninggalkannya dan berpikir Indonesia.
260
Akibatnya menghasilkan kawasan hutan yang tidak berhutan (jutaan hektar), perkebunan yang tidak
merupakan kebun karena tidak diusahakan (jutaan hektar), tanah perkotaan tidak memperhatikan kepentingan
lingkungan, tumbuhnya hutan beton ke samping dan ke atas yang akhirnya mengganggu resapan air dan menjadi
banjir, juga perubahan iklim (menipisnya lapisan ozon).
258

Universitas Sumatera Utara

d. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (Permen


Agraria/ Kepala BPN) No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
1) Dalam Pasal 1 Angka 1, pengertian hak ulayat, yaitu :
Hak Ulayat adalah kewenangan yang menurut adat dipunyai oleh
masyarakat hukum adat tertrentu atas wilayah tertentu yang
merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil
manfaat dari sumber daya alam (SDA), termasuk tanah dalam wilayah
tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari
hubungan secara lahiriah dan bathiniah secara turun-temurun dan tidak
terputus antara masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah yang
bersangkutan
UUPA tidak memberikan kriteria khusus mengenai eksistensi hak
ulayat itu, namun menurut pandangan dari Mahadi yang menyebut
bahwa masyarakat hukum adat inhern dengan adanya hak ulayat,
sehingga dapat diterima, tidak adanya masyarakat hukum adat berarti
tidak adanya hak ulayat itu. 261
2) Pasal 2 Ayat (1) :
Pelaksanaan Hak Ulayat sepanjang pada kenyataannya masih ada
dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut
ketentuan hukum adat setempat
3) Pasal 2 Ayat (2) : Hak Ulayat masyarakat hukum adat dianggap masih ada
apabila :
1). Terdapat sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan hukum
adatnya sebagai warga bersama satu persekutuan hukum tertentu, yang
mengakui dan menetapkan ketentuan-ketentuan persekutuan tersebut dalam
kehidupannya sehari-hari.
2). Terdapat tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup pada warga
persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan hidupnya
sehari-hari.
3). Terdapat tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan, dan
penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh para warga
persekutuan hukum tersebut artinya harus ada subjek (masyarakat hukum
adat), objek (tanah atau yang dipersamakan dengan tanah), hukum adat dan
hubungannya antara Subjek (hak ulayat/ dan Objek (hak ulayat).
261

A.P. Parlindungan dalam Rosnidar Sembiring, Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah dalam Masyarakat
Adat Simalungun, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2011), hal. 122.

Universitas Sumatera Utara

e. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia


1) Dalam Pasal 5 Ayat (3) : Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang
rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan
kekhususannya.
2) Dalam Pasal 6 Ayat (1) : Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan
dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi
oleh hukum, masyarakat, dan Pemerintah.
3) Dalam Pasal 6 Ayat (2) : Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak
atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.
f. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (UUPK) dan kritikan
terhadap UUPK :
1) Pasal 1 huruf f : Hutan adalah hutan Negara yang berada dalam wilayah
masyarakat hukum adat.
2) Pasal 4 ayat (3) : Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak
masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada
dan diakui keberadaannya serta tidak bertentangan dengan
kepentingan nasional.
3) Dalam Pasal 5 Undang-undang tersebut mengatur tentang status hutan sebagai
berikut :
1. Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari
a). Hutan Negara
b). Hutan Hak
2. Hutan Negara sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf a, dapat berupa
hutan adat.
3. Pemerintah menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan
Ayat (2) dan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya
masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui
keberadaannya.
4. Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan
tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada pemerintah.
Artinya hutan adat, hutan ulayat, hutan marga, hutan pertuanan, atau sebutan
lain dinyatakan sebagai hutan negara. Menurut Pasal 1 Nomor 4 Undang-undang ini
hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas
tanah. Tanah yang tidak dibebani hak atas tanah adalah tanah yang dikuasai
langsung oleh negara atau disebut dengan tanah negara/ tanah bebas. Akibatnya,

Universitas Sumatera Utara

negara dapat memberi tanah bebas itu dengan suatu hak kepada suatu subjek hukum.
Hal ini merupakan pengingkaran terhadap objek hak ulayat, sehingga objek hak
ulayat menjadi lenyap. Hal ini menjadi salah satu sebab timbulnya konflik agraria
yang berkepanjangan.
4) Pasal 34 : Pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan khusus sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 dapat diberikan kepada :
(a) masyarakat hukum adat;
(b) lembaga pendidikan;
(c) lembaga penelitian;
(d) lembaga sosial dan keagamaan.
5) Pasal 37 ayat (1) : Pemanfaatan hutan adat dilakukan oleh masyarakat hukum
adat yang bersangkutan, sesuai dengan fungsinya.
6) Pasal 37 ayat (2) : Pemanfaatan hutan adat yang berfungsi lindung dan
konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
7) Pasal 67 ayat (1) : Masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya
masih ada dan diakui keberadaannya berhak :
(a) melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan;
(b) melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku
dan tidak bertentangan dengan Undang-undang; dan
(c) mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.
Kemudian diatur kriteria mengenai suatu masyarakat hukum adat diakui
keberadaannya, yaitu jika menurut kenyataannya memenuhi unsur antara lain :
a. Masyarakat masih dalam bentuk paguyuban (rechtgemenschap);
b. Ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya;
c. Ada wilayah hukum adat yang jelas;
Ada pranata dan perangkat hukum, khususnya peradilan adat yang masih
ditaati
d. Masih mengadakan pungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Penetapan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat tersebut sebaiknya
diterangkan dalam Peraturan Daerah dengan mempertimbangkan hasil penelitian para
pihak ahli hukum adat, aspirasi masyarakat setempat, tokoh masyarakat yang
bersangkutan, serta instansi dari pihak lain yang terkait. 262
262

Arie Sukanti Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, (Jakarta:LPHI,2005),

hal.129

Universitas Sumatera Utara

Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tidak secara jelas mengakui hak para warga
masyarakat hukum adat untuk membuka hutan ulayatnya dan mengusahakan tanah
bekas hutan yang dibukanya. Kata-kata yang digunakan adalah hak masyarakat
hukum adat untuk melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat
yang berlaku, yang secara tegas disebut terbatas pada mengadakan pungutan hasil
hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pernyataan dalam Pasal 68 Undang-Undang ini, setiap orang, jadi bukan hanya warga
suatu masyarakat hukum adat saja, berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya
hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari adanya penerapan kawasan hutan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dinyatakan, bahwa Pemerintah bersama pihak penerima izin usaha pemanfaatan
hutan berkewajiban untuk mengupayakan kompensasi yang memadai, antara lain
dalam bentuk mata pencaharian baru dan keterlibatan dalam usaha pemanfaatan hutan
di sekitarnya.
Namun demikian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1999 tidak memberikan solusi
mengenai penyelesaian masalah hilangnya hak masyarakat hukum adat 263 yang hutan
ulayatnya selama orde baru diberikan kepada para pengusaha pemegang Hak
Pengusahaan Hutan (HPH). Bahwa dalam areal hutan yang sedang dikerjakan dalam
rangka pengusahaan hutan oleh pemegang HPH, pelaksanaan hak rakyat untuk
memungut hasil hutan yang didasarkan atas hak ulayat itu dibekukan, kenyataannya
dihapuskan. Pengambilan kayu dan hasil hutan lainnya oleh warga masyarakat
hukum adat yang ada di belakang rumahnya, yang semula menurut ketentuan hukum
adat merupakan haknya, tanpa izin pemegang HPH, menjadi suatu tindak pidana.
8) Pasal 67 Ayat (2) : Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum
adat sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
9) Pasal 67 Ayat (3) : Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)
dan Ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Proses peminggiran terhadap hak-hak masyarakat lokal diyakini sudah terjadi
sejak lama dan secara turun-temurun, dimana mereka telah menggantungkan
hidupnya dari sumber daya hutan yang ada di sekitarnya. Demikian juga yang terjadi
pada masyarakat sekitar hutan, mereka telah turun-temurun menggantungkan
hidupnya dari hutan, telah menjadi masyarakat asing di tanah kelahirannya /
leluhurnya sendiri. Dampak yang jelas-jelas terjadi pada masyarakat sekitar hutan
sekurang-kurangnya dapat berwujud :

263

Disebabkan karena pengakuan terhadap eksistensi atau keberadaan masyarakat hukum adat beserta hak
ulayatnya sendiri masih tidak konsisten. Ketidakkonsistenan tersebut dikarenakan belum ada kriteria yang baku
mengenai keberadaan masyarakat hukum adat beserta hak ulayatnya di suatu wilayah. Maria S.W Sumardjono,
Harmonisasi kedudukan Hak Ulayat Dalam Peraturan Perundangan di Indonesia, makalah, Materi kuliah hukum
Sumber Daya Alam, hal.2.

Universitas Sumatera Utara

a. Peminggiran secara ekonomis yang berwujud : masyarakat lapar tanah (tuna


kisna) karena 80% 264 tidak memiliki tanah dan hanya tergantung pada
pekerjaan mencari rencek / kayu bakar yang semakin sulit untuk
mengimbangi tingginya harga bahan kebutuhan pokok, langkanya
pekerjaan 265 dan terbatasnya keahlian yang memaksa mereka hanya
tergantung pada hutan di tengah semakin sulitnya bercocok tanam di tengah
hutan. Masyarakat miskin atau kantong-kantong kemiskinan di sekitar
kawasan hutan yang terus-menerus bertambah, sedangkan lapangan pekerjaan
di sekitar hutan sangat tergantung pada musim menanam, musim tebang, dan
lain-lain.
b. Peminggiran secara sosial yang berwujud terputusnya akses pendidikan,
pelayanan kesehatan dan fasilitas umum lainnya, sehingga sering dikeluhkan
mahalnya biaya trasnportasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan biaya
pendidikan, pelayanan kesehatan, dan lain-lain.
c. Peminggiran secara politis yang berwujud tidak pernah terserapnya aspirasi
politik masyarakat dalam kegiatan demokrasi.
d. Peminggiran secara kultural yang berwujud ketertinggalan dari berbagai
bentuk informasi ke arah perubahan yang lebih positif.
Dampak langsung berwujud banyaknya kasus penjarahan hutan jati, penguasaan
secara massal tanah kawasan hutan Perhutani, pembabatan secara massal tanaman jati
muda. 266
g. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004.
Dalam Program Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber
Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup sub ke 2 : Pemberdayaan masyarakat
lokal dalam pengelolaan sumber daya alam dan pemeliharaan lingkungan hidup
melalui pendekatan keagamaan, adat, dan budaya.
h. TAP MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Hukum Agraria dan
Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat dikeluarkan pada tahun
2001 melalui Ketetapan MPR Republik Indonesia No. IX/MPR/2001 tentang
Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pasal 4 TAP MPR No.
264

Subadi, Penguasaan dan Penggunaan Tanah Kawasan Hutan, (Jakarta: PT Prestasi Pustakarya, 2010),

hal.134.
265
Pekerjaan menanam dan tebang kayu, hanya bersifat musiman yang tidak bisa dijadikan handalan
dalam penopang hidup Rumah tangga yang permanen.

266

Subadi, ibid, hal.135.

Universitas Sumatera Utara

IX/MPR/2001 tersebut menentukan antara lain dalam sub j : Mengakui,


Menghormati, dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan keragaman budaya
bangsa atas sumber daya agraria/ sumber daya alam
Pengakuan dan penghormatan terhadap hak ulayat terdapat dalam berbagai
peraturan termasuk Peraturan Daerah (PERDA) yang menggunakan landasan hukum
yang berkaitan dengan kewenangan pembuatan Perda maupun landasan hukum yang
berkaitan dengan materi yang diatur dalam Perda tersebut. Contoh beberapa daerah
yang mengatur tentang pengakuan dan penghormatan terhadap hak ulayat adalah
Peraturan Daerah Kabupaten Kampar Nomor 12 Tahun 1999 tentang Hak Ulayat
Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 Tahun 2001 tentang perlindungan atas
Hak Ulayat Masyarakat Baduy : Peraturan Daerah Sumatera Barat Nomor 6 Tahun
2008 tentang Hak Ulayat. Daerah yang sedang membuat Rancangan Peraturan
Daerah Hak Ulayat Tobelo, Rancangan Peraturan Daerah Hak Ulayat Halmahera
Utara 267.
i. Undang-undang No. 22/2009 tentang Minyak dan Gas Bumi serta kritikan
terhadapnya.
1) Pasal 34 Ayat 1 : Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap akan
menggunakan bidang-bidang tanah hak atau tanah negara di dalam Wilayah
Kerjanya, Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang bersangkutan wajib
terlebih dahulu mengadakan penyelesaian dengan pemegang hak atau
pemakai tanah di atas tanah negara, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2) Pasal 34 Ayat 2 : Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1)
dilakukan secara musyawarah dan mufakat dengan cara :
(a) jual beli, tukar-menukar, ganti-rugi yang layak;
(b) pengakuan atau bentuk penggantian lain kepada pemegang hak atau
pemakai tanah di atas tanah negara.
3) Penjelasan Pasal 34 Ayat (2) : Yang dimaksudkan dengan pengakuan dalam
ketentuan ini adalah pengakuan atas adanya hak ulayat masyarakat hukum
adat di suatu daerah, sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan melalui
musyawarah dan mufakat berdasarkan hukum adat yang bersangkutan.
Pengaturan perundang-undangan dalam bidang energi dan sumber daya
mineral di Indonesia juga mengalami beberapa kali pengaturan. Pertama kali Undangundang yang mengatur bidang pertambangan adalah Undang-Undang No. 10 Tahun
267

Adonia Ivonne Laturette, Hak Ulayat Dalam Hukum Tanah Nasional, disertasi, (Surabaya : Unair,
2011), hal. 131.

Universitas Sumatera Utara

1959 tentang Pembatalan Hak-hak Pertambangan. Kemudian pada tahun 1961,


diundangkan Undang-Undang No. 11 tahun 1961 tentang Tambahan Atas Lampiran
Undang-undang No. 10 Tahun 1959, dengan pertimbangan masih ada hal-hal
pertambangan yang diberikan sebelum tahun 1949 dan hingga tanggal 25 April 1959
tidak atau belum dikerjakan serta masih termasuk dalam daftar hak-hak
pertambangan yang dibatalkan. Kemudian pada tahun 1967 regulasi pertambangan
diperkuat dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Sampai sebelum memasuki Tahun 1971,
segala bidang usaha pertambangan menggunakan Undang-undang No. 11 Tahun
1967. Barulah pada tahun 1971 dibentuklah Undang-undang yang lebih spesifik yaitu
Undang-undang No 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi Negara yang kemudian dicabut dengan Undang-undang No. 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi 268. Perkembangan terbaru dalam bidang
pertambangan mineral dan batubara adalah telah diundangkan Undang-Undang No. 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Undang-undang Minerba)
yang efektif sejak 12 Januari 2009.
Kritikan terhadap Undang-Undang No. 4 Tahun 2009/ Undang-undang
Minerba ini sebagai pengganti Undang-undang No. 11 Tahun 1967 itu tak ubah
seperti ular berganti kulit. Undang-undang ini dinilai sarat dengan kepentingan
melindungi perusahaan tambang, pemegang Kontrak Karya, dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batu bara, sehingga makin melenggangkan sistem keruk
cepat dan jual murah bahan tambang Indonesia. 269
Menurut Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), setidaknya ada 6 (enam)
masalah yang utama dalam Undang-undang Minerba :
1. Tidak ada peluang untuk melakukan kaji ulang dan negosiasi terhadap
Kontrak Karya
2. Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara ini menguatkan ego sentral, melalui lahirnya Wilayah
Pertambangan
3. Undang-undang ini tidak menempatkan pentingnya menjaga dan
melindungi perairan pesisir laut

268

Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum (Yogyakarta :
Pusaka Yustisia, 2010), hal. 34.
269

Ibid, hal. 53-54

Universitas Sumatera Utara

4. Undang-undang ini menggunakan pendekatan administratif dalam proses


perijinannya sehingga tidak efektif untuk menangani dampak pencemaran
lingkungan\
5. Mempercepat kerusakan sarana dan prasarana umum karena Undangundang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
membolehkan untuk dimanfaatkan menjadi Sarana Pertambangan
6. Terjadi Kontradiktif dengan Undang-undang Lingkungan Hidup yang
mengakui legal standing organisasi lingkungan hidup untuk mengajukan
gugatan terhadap perusahaan yang merusak lingkungan 270
Menurut hasil survei tahunan konsultan independen Pricewaterhouse
Cooper (PwC) terhadap sektor pertambangan Indonesia, Undang-undang Minerba
dinilai memperburuk iklim investasi. Hasil ini disampaikan Technical Advisor PwC
bidang pertambangan Saeha Winzenried 271
Survei juga menyebutkan Undang-undang Minerba merupakan kemunduran
dibandingkan sistem Kontrak Karya dan menghambat perkembangan sektor
pertambangan dan peraturan kehutanan, duplikasi dan kontradiksi antara peraturan
pemerintah pusat dan daerah serta ketidakadilan divestasi kepemilikan asing dan
penutupan tambang dinilai merugikan pebisnis. Banyak proyek dan rencana investasi
pertambangan yang dijadwalkan mulai tahun ini tertunda, akibat sistem KK diganti.
Kendati industri pertambangan mencatat hal keuangan yang bagus ketika lojakan
harga komoditas pada 2007 & 2008, pengeluaran eksplorasi untuk proyek baru sangat
rendah. Pemerintah bahkan gagal menarik investasi baru pada masa keemasan harga
komoditas sebab masalah yang menghambat investasi baru sulit diselesaikan.
270

Ini menimbulkan masalah bagi masyarakat adat yakni :


Hak veto mereka tidak diakui karena hanya memiliki 2 pilihan yakni ganti rugi sepihak atau memperkarakan
ke Pengadilan. Bahkan penduduk lokal beresiko dipidana setahun atau denda Rp. 100 juta jika menghambat
kegiatan pertambangan.
2. Kawasan lindung dan hutan adat yang diakui oleh masyarakat hukum adat akan terancam karena alih
fungsinya bisa dilaksanakan setelah ada izin dari pemerintah, H.P Panggabean, Inkonsistensi Undang-undang
No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba, khususnya dalam hal pemberdayaan hak masyarakat Hukum Adat,
Seminar MHA, 6 Agustus 2012, Hermina Hall Darma Agung, Medan
271
Hasil Survei PwC, Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
Perburuk Iklim Investasi Tambang http : //www.tekmira.esdm.go.id/ currentissues/?p=1759
1.

Universitas Sumatera Utara

Investor pertambangan nasional lebih memilih untuk mengeluarkan biaya tetapi tidak
bersedia menanamkan modal, hingga saat ini belum ada jaminan, sebagian besar
masalah yang menghambat pertambangan dapat diselesaikan melalui Undang-undang
Minerba 272.
Berikut diuraikan beberapa hal yang bersifat kontroversi setelah
diundangkannya UU Minerba :
1. Adanya kontradiksi pada Pasal Peralihan Dalam Pasal 169 a UU No. 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyatakan :
Kontrak Karya dan perjanjian karya pengusahaan dan pertambangan
batubara yang telah ada sebelum berlakunya undang-undang ini tetap
diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/ perjanjian.
Namun butir b menyebutkan :
Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian
karya pengusahaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud
pada huruf a disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak
Undang-undang ini diundangkan kecuali mengenai penerimaan
Negara.
Pada Pasal 169 a, Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya
Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah ada sebelum
berlakunya Undang-undang ini akan tetap berlaku sampai jangka waktu
berakhirnya kontrak maupun perjanjian, sementara pada pasal b,
disebutkan bahwa ketentuan yang tercantum dalam pasal KK dan PKP2B
harus disesuaikan paling lambat 1 tahun setelah Undang-undang
diberlakukan kecuali terkait penerimaan negara. Aturan Peralihan pada
hakikatnya memberikan kepastian hukum. Ketentuan tersebut
membingungkan, di satu sisi mengakui dan menghormati jangka waktu
kontrak/ perjanjian, akan tetapi di sisi lain substansi kontrak/ perjanjian
disesuaikan dengan Undang-undang baru, artinya ketentuan peralihan
memaksa para pihak untuk mengubah kontrak/ perjanjian
2. Sistem kontrak/ perjanjian diganti dengan sistem perizinan
Hampir semua wilayah yang mengandung batu bara nyaris sudah dibagi
habis oleh sejumlah Konglomerasi melalui PKP2B itu. 273
272

Ibid

273

H. Salim HS, Hukum Pertambangan di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo, 2005, hal. 57.

Universitas Sumatera Utara

Dalam Pasal 35, Usaha pertambangan dilakukan dalam tiga bentuk :


a. Izin Usaha Pertambangan (IUP)
b. Izin Pertambangan Rakyat (IPR)
c. Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK)
Dalam Pasal 36, IUP terdiri dari 2 tahap :
1) IUP eksplorasi : penyelidikan umum, eksplorasi dan studi
kelayakan.
2) IUP operasi produksi : kegiatan konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
3. Pendapatan Negara dan Daerah
Dalam pasal 129 UU Minerba ditegaskan bahwa :
a. Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan mineral
logam dan batubara wajib membayar 4% (empat persen) kepada
pemerintah dan 6% (enam persen) kepada pemerintah daerah dari
keuntungan bersih sejak berproduksi.
b. Bagian pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur sebagai berikut :
1) Pemerintah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu
persen)
2) Pemerintah kabupaten/ kota penghasil mendapat bagian
sebesar 2,5% (dua koma lima persen), dan

Universitas Sumatera Utara

3) Pemerintah kabupaten/ kota lainnya dalam provinsi yang


sama mendapat bagian sebesar 2,5% (dua koma lima
persen)
Dengan adanya ketentuan ini, investor mau tidak mau harus membayar
10% kepada pemerintah dari keuntungan bersih usahanya. Tidak ada
peluang negosiasi atas jumlah yang harus dibayarkan kepada pemerintah.
Tentu saja hal ini memberikan keuntungan kepada pemerintah dan sekali
lagi memperkuat posisi pemerintah sebagai regulator.
4. Kewajiban reklamasi dan pascatambang
Pasal 100 UU Minerba :
1) Pemegang IUP dna IUPK wajib menyediakan dana jaminan
reklamasi dan dana jaminan pascatambang.
2) Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya dapat menerapkan pihak ketiga untuk melakukan
reklamasi dan pascatambang dengan dana jaminan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan
apabila pemegang IUP atau IUPK tidak melaksanakan reklamasi
dan pascatambang sesuai dengan rencana yang telah disetujui.
Artinya pelaku usaha tidak diberi kewajiban tuntas dan tanggung
jawab penuh untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang
ditimbulkannya. 274
Sebenarnya ketentuan ini bermaksud memberikan jaminan
perlindungan lingkungan dan ekosistem yang diakibatkan oleh kegiatan
usaha pertambangan. Namun adanya klausula bahwa investor wajib
memberikan dana jaminan reklamasi dan pascatambang yang dapat
digunakan oleh pihak ketiga jika investor tidak melakukan kewajibannya
memberikan peluang kepada invenstor untuk bersikap cuek (apatis)
terhadap kewajiban tersebut 275. Seharusnya kewajiban pemberian dana
tersebut disertai dengan sanksi apabila investor tidak melakukan
reklamasi dan pascatambang. Dengan ketentuan Pasal 100, akan
memungkinkan investor untuk tidak melakukan kewajibannya karena
274

Pandangan Fraksi PAN mengenai RUU Minerba ; <http : //www.pme-indonesia.com/ opinion/?

Id=8>

Universitas Sumatera Utara

pemerintah akan menunjuk pihak ketiga untuk menggantikan investor


melakukan kewajibannya.
5. Pasal 91 UU Minerba :
Pemegang IUP dan IUPK dapat memanfaatkan prasarana dan sarana
umum untuk keperluan pertambangan setelah memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal ini jelas merugikan masyarakat. Dibebaskannya perusahaan
tambang dalam menggunakan sarana publik maka yang akan dirugikan
bukan hanya masyarakat melainkan pemerintah daerah. Sebagai ilustrasi,
seperti di Kalimantan Selatan, jalan yang seharusnya digunakan oleh 8
ribu kendaraan per hari, bias dilewati hingga 9 ribu lebih kendaraan, dan
jumlah itu yang paling banyak adalah truk-truk pengangkut batu bara.
Sebanyak 27% (dua puluh tujuh persen) jalan-jalan yang dilewati oleh
truk batu bara menjadi rusak berat. Belum lagi efek pemakaian jalan
tersebut, bisa menimbulkan kecelakan atau infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA). Artinya Undang-undang ini memberi ruang terhadap
keburukan-keburukan, dan yang menanggung biaya adalah masyarakat
lokal dan APBD. Hal ini berarti pula UU Minerba tidak punya sensitivitas
terhadap masalah. 276
j. Undang-undang No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan 277
Pasal 35 Ayat (6) : Dalam hal tanah yang digunakan pemegang Izin Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik terdapat tanah ulayat dan yang serupa dari
masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada, penyelesaiannya
dilakukan oleh pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dengan
masyarakat hukum adat yang bersangkutan sesuai peraturan perundangundangan di bidang pertanahan dengan memerhatikan ketentuan hukum adat
setempat.
275

H.P. Panggabean, Op Cit, hal 11.


Nida Saadah, UU Minerba dan BatuBara : Melanggengkan Sistem Keruk Cepat dan Jual Murah
Bahan Tambang Indonesia; <http : // syabab.com/index. php? option = com_concent & view = article & catid =
33% 3Aopini & id = 561% 3 AUU-mineral-dan-batubara-melanggengkan-sistem-keruk-cepat-dan-jual-murahbahan-tambang-indonesia & itemid = 62>
277
Mahkamah Konstitusi telah menjelaskan, hak menguasai Negara yang tercantum dalam Pasal 33
UUD RI Tahun 1945 sebagai berikut, dengan Putusan MK dalam pengujian UU Ketenagalistrikan : Bukan dalam
makna Negara harus memiliki, melainkan Negara hanya merumuskan kebijakan (beleid), melakukan
276

pengaturan (regelandaad), melakukan pengurusan (bestuurdaad), melakukan


pengelolaan (beheersdaa), melakukan pengawasan (toetzichthourdesdaad), Andi
Muttaqinh, op cit, hal.266.

Universitas Sumatera Utara

k. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air dan kritikan
terhadapnya :
1) Dalam Pasal 6 Ayat 2 : Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud
pada Ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah dan/ atau pemerintah daerah
dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak
yang serupa dengan itu, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan
nasional dan peraturan perundang-undangan.
2) Dalam Pasal 6 Ayat 3 : Hak Ulayat masyarakat hukum adat atas sumber
daya air sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) tetap diakui sepanjang
kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah
setempat.
Ada 4 (empat) variable yang sangat menentukan guna dipakai untuk
melihat keberhasilan dari proyek privatisasi air, yaitu :
1) Jumlah pelanggaran (bertambah atau tidak)
2) Kualitas air (membaik atau memburuk)
3) Sumbangan terhadap PAD (bertambah atau membebani)
4) Tarif
5) Mutu pelayanan (Memuaskan atau menjengkelkan)
Kemudian dapat dilihat dari dampak negatif antara lain :
1) Konflik kepentingan penggunaan air (antar petani, antara petani
dengan perusahaan, antara petani dengan pemerintah)
2) Penurunan kualitas air sungai dari kelimpahan biota air
3) Perubahan pola tanam. Pengeluaran tambahan akibat pompanisasi
karena air irigasi tidak ada atau tidak cukup. Tidak ada tambahan
pendapatan masyarakat atau pendapatan desa.
4) Kecemburuan sosial terhadap masyarakat tertentu (hulu) 278

278

Suteki, Rekonstruksi Politik Hukum Hak Atas Air Pro-Rakyat, (Semarang : Surya Pena Gemilang
Publishing, 2010) hal. 260

Universitas Sumatera Utara

Masalah keadilan timbul dalam situasi yang oleh John Rawls 279
disebut Circum Srance Of Justice (COJ), suatu rumusan yang berasal dari
David Hume. Hume sendiri menyebut COJ untuk menggambarkan bahwa
keadilan baru merupakan keutamaan yang relevan (relevant virtue) hanya
apabila terjadi kelangkaan dan orang-orang tidak spontan tergerak dalam ikatan
emosional untuk mengulurkan bantuan. Prinsip keadilan Hume hanya berkaitan
dengan situasi empiris transaksi antar individual, sedangkan COJ Rawl, adalah
Objective COJ, yaitu situasi normal sengketa klaim dimana kerjasama antara
manusia dan perlu Oleh Karena itu, pengertian keadilan mengandaikan dua
syarat :
1) Masyarakat
2) Situasi kelangkaan wajar
Kita hanya bias membicarakan masyarakat adil jika yang disebut
masyarakat itu memang ada. Keadilan selalu berhubungan dengan
hak. Keadilan sosial dalam bidang distribusi air akan muncul dan
dibutuhkan telah terjadi kelangkaan distribusi air dalam
masyarakat. 280
l. Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan dan kritikan
terhadapnya :
1) Pasal 9 Ayat (2) :
Dalam hal tanah yang diperlukan adalah tanah hak ulayat masyarakat hukum
adat yang menurut kenyataannya masih ada mendahului pemberian hak
dimaksud Ayat (1), pemohon hak wajib melakukan musyawarah dengan
masyarakat adat pemegang hak ulayat dan warga pemegang hak atas tanah
yang bersangkutan untuk memperoleh kesepakatan mengenai penyerahan
tanah dan imbalannya.
Justru Pasal tersebut di atas wujud pertentangan dengan konstitusi UUD RI Tahun
1945 Pasal 18B ayat (2).
Berdasarkan asas lex spesialis derogate lex generalis, maka UUPA akan
dikalahkan oleh UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan itu, karena UUPA
merupakan peraturan dasar pokok-pokoknya saja dari Hukum Agraria Nasional
bersifat umum, di dalam pasal-pasalnya berisi peraturan-peraturan penggunaan,
279
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial (Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas), (Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama, 2005) hal. 4
280
Suteki, Op Cit, hal. 268.

Universitas Sumatera Utara

penguasaan atas tanah melalui macam-macam hak atas tanah yang dapat diberikan
oleh negara kepada perseorangan/ badan hukum, sedangkan Undang-undang No. 18
Tahun 2004 hanya mengatur pengelolaan perkebunan (bersifat khusus). Hal ini
menyebabkan terjadinya disinkronisasi secara horizontal jika berdasarkan lex
posteriori derogate lex priori, maka UUPA pun akan dikalahkan oleh Undangundang No 18 Tahun 2004, karena UUPA lahir lebih dahulu, yaitu tahun 1960,
sedangkan Undang-undang Perkebunan lahir tahun 2004.
Secara ideologis filsafati keduanya sama-sama mengacu Pasal 33 ayat 3
UUD RI Tahun 1945, tetapi secara yuridis telah terjadi penghapusan keterkaitan
norma 281 memang tidak secara langsung melanggar Pasal 33 UUD 1945, namun
berpotensi menghilangkan hak-hak warganegara melalui Undang-undang
Perkebunan.
Berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang pembentukan
peraturan perundang-undangan
Pasal 6 menyatakan : Materi muatan peraturan perundang-undangan mengandung
asas : pengayoman, kemanusiaan, kebangsaan, kekeluargaan,
kenusantaraan, bhineka tunggal ika, keadilan, kesamaan,
kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, ketertiban dan
kepastian hukum dan/ atau keseimbangan, keserasian dan
keselarasan.
Penjelasan Pasal 6 ayat 1a : Asas pengayoman adalah bahwa setiap peraturan
perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka
menciptakan ketentraman masyarakat. Undang-undang Perkebunan, materi muatan
dalam pasal-pasalnya tidak mengandung asas pengayoman terhadap rakyat (miskin),
karena dalam kenyataan di lapangan rakyat masyarakat hukum adat justru tersingkir
dari akses tanah sebagai sumber kehidupan mereka karena hadirnya investor.
Sudah sewajarnya jika perlindungan hak-hak masyarakat hukum adat sebagai hakhak tradisional mereka yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bentuk
Undang-undang segera dapat diwujudkan agar dengan demikian ketentuan Pasal 18 B
UUD 1945 mampu menolong keadaan hak-hak masyarakat hukum adat yang semakin
termarginalisasi dan dalam kerangka mempertahankan pluralisme kehidupan
berbangsa dan bernegara 282. Untuk mengatasi persoalan sengketa pemilikan tanah
perkebunan yang berhubungan dengan hak ulayat seharusnya negara konsisten
dengan penjelasan Pasal 9 Ayat (2) Undang-undang Perkebunan tentang eksistensi
masyarakat hukum adat memenuhi 5 (lima) syarat yaitu (a) masyarakat masih dalam
bentuk paguyuban (rechtgemeinschaft), (b) ada kelembagaan dalam bentuk perangat
281

Andi Muttaqien, dkk, Wajah Baru, Suhaningsih : Analisis hukum mengenai eksistensi UU No. 18
Tahun 2004 tentang Perkebunan dengan permasalahan yang timbul, UU Perkebunan, hal. 271
282
Jadi bukannya meminggirkan bahkan meniadakan hak atas tanah ulayat, karena tercapainya
musyawarah untuk mencapai sepakat mengenai penyerahan tanah ulayat pada pemegang hak baru (investor).

Universitas Sumatera Utara

penguasa adat, (c) ada wilayah hukum adat yang jelas, (d) ada pranata dan perangkat
hukum, khususnya peradilan adat yang masih ditaati, dan (e) ada pengukuhan dengan
peraturan daerah. 283
Syarat ini berbeda dengan Permenag No. 5 Tahun 1999.
Pasal 5 Ayat (1) Permenag No. 5 Tahun 1999 : Penelitian dan Penentuan
masih adanya hak ulayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 di oleh
Pemerintah Daerah dengan mengikutsertakan para pakar hukum adat,
masyarakat hukum adat yang ada di daerah yang bersangkutan, Lembaga
Swadaya Masyarakat, dan instansi-instansi yang mengelola sumberdaya
alam.
Pasal 5 Ayat (2) menyatakan : Keberadaan tanah ulayat masyarakat hukum
adat yang masih ada sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dinyatakan
dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan menumbuhkan suatu tanda
kartografi dan apabila memungkinkan, menggambarkan batas-batasnya
serta mencatatnya dalam daftar tanah.
2) Pasal 6 menyatakan : Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pasal 5
diatur dengan Peraturan Daerah yang bersangkutan.
Sebelum dilakukan penelitian tersebut, sulit menentukan siapakah yang
melanggar Pasal 21 dan dikenakan pidana Pasal 47 Ayat (1) dan Ayat (2)
Undang-Undang Perkebunan. 284
Frasa dan/ atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya
usaha perkebunan dalam :
3) Pasal 21 Undang-undang aquo mengandung ketidakpastian hukum : Apakah
yakin dengan tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya
perkebunan-perkebunan disebut tindakan lainnya tentunya sangat luas dan
tidak terbatas. 285
m. Undang-undang No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan
Dalam Pasal 6 Ayat (2) : Pengelolaan perikanan untuk kepentingan
penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus mempertimbangkan hak adat dan/
atau kearifan lokal serta memerhatikan peran serta masyarakat.
283

Achmad Sodiki : Putusan MK yang berkenaan dengan sumber agraria, Seminar dan Lokakarya
Nasional, Konflik Perkebunan : Mencari Solusi yang berkeadilan dan Mensejahterakan Rakyat Kecil, (Malang :
Unibraw, 2012), 24-25 Mei 2012, hal. 19.
284
Pasal 21 dan 47 Undang-Undang Perkebunan
285

Achmad Sodiki, Op Cit, hal. 20.

Universitas Sumatera Utara

n. Undang-undang No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan


Dalam Pasal 58 Ayat (3) : Pemegang hak atas tanah, atau pemakai tanah
negara, atau masyarakat hukum adat, yang tanahnya diperlukan untuk pembangunan
jalan, berhak mendapat ganti kerugian.
o. Undang-Undang No 27 Tahun 2007 tentang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil.
1) Dalam Pasal 1 Angka 33 : Masyarakat Adat adalah kelompok Masyarakat
Pesisir yang secara turun-temurun bermukin di wilayah geografis tertentu
karena adanya ikatan pada asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat
dengan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta adanya sistem
nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik sosial, dan hukum
2) Dalam Pasal 17 :
1) HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu.
2) Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) wajib
mempertimbangkan kepentingan kelestarian Ekosistem Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil, Masyarakat Adat, dan kepentingan nasional serta
hak lintas damai bagi kapal asing.
3) Dalam Pasal 18 :
HP-3 dapat diberikan kepada :
a) Orang perseorangan warga negara Indonesia;
b) Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia; atau
c) Masyarakat Adat
4) Dalam Pasal 21 :
(4) Persyaratan operasional sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)
mencakup kewajiban pemegang HP-3 untuk :
1) Memberdayakan masyarakat sekitar lokasi kegiatan;

Universitas Sumatera Utara

2) Mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat adat


dan/ atau masyarakat lokal;
3) Memerhatikan hak masyarakat untuk mendapatkan akses ke
sempadan pantai dan muara sungai; serta
4) Melakukan rehabilitasi sumber daya yang mengalami kerusakan di
lokasi HP-3.
5) Dalam Pasal 61 :
a) Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak
Masyarakat Adat, Masyarakat Tradisional, dan Kearifan Lokal atas
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah dimanfaatkan
secara turun-temurun.
b) Pengakuan hak-hak Masyarakat Adat, Masyarakat Tradisional, dan
Kearifan Lokal sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dijadikan
acuan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
yang berkelanjutan.
Disamping berbagai Undang-Undang tersebut di atas, perlu dicatat
bahwa pada tahun 1999, terbit Peraturan Menteri Negara Agraria/
Kepala BPN No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, yang merupakan
penegasan lebih lanjut dari bentuk pengakuan terhadap hak ulayat
masyarakat hukum adat sebagaimana tercantum dalam Pasal 3
UUPA.
Peraturan Menteri ini seara eksplisit mengemukakan kriteria masih
berlangsungnya hak ulayat masyarakat adat berdasarkan pada
keberadaan masyarakat adat, wilayah dan tatanan hukum adatnya.

Universitas Sumatera Utara

Hak-hak atas tanah adat berbagai macam dan bertingkat, yang paling tinggi
adalah hak menguasai atau hak ulayat.
Hak Ulayat. Hak ini yang merupakan hak terutama dari hak-hak atas tanah adat
merupakan sekumpulan hak suatu persekutuan hukum adat yang biasanya merupakan
suku, serikat desa atau biasanya hanya sebuah desa yang bersumberdaya dari hak
untuk menguasai tanah beserta seluruh isinya dalam lingkungan hidup wilayahnya.
Hak ini dikenal sebagai hak purba 286. Hak pertuanan 287 atau hak ulayat (UndangUndang Pokok Agraria, meminjam istilah Minangkabau). Oleh Van Vollenhoven hak
ini disebut sebagai beschikkingsrecht. Di Jawa dan Madura kurang kuat dan tidak lagi
mempunyai arti penting.
Hak ini mempunyai beberapa ciri pokok yang dapat dilihat dengan jelas di luar
Jawa sebagai berikut 288:
Hanya persekutuan hukum itu sendiri beserta para warganya yang berhak
dengan bebas mempergunakan tanah di wilayah kekuasaannya; Orang luar
dapat mempergunakan tanah di wilayah tersebut dengan ijin penguasa
wilayah tersebut disertai dengan pembayaran kepada persekutuan hukum.
Bila tidak dianggap melakukan pelanggaran; Warga persekutuan hukum
boleh mengambil manfaat dari wilayah tersebut khusus untuk keperluan
sendiri. Apabila untuk orang lain dianggap sebagai orang luar, Persekutuan
hukum bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi di wilayah
tersebut, terutama tindakan melawan hukum (delik); Hak ini tidak dapat
dilepaskan, dipindahtangankan untuk selamanya; Hak ini juga meliputi
tanah yang sudah merupakan milik perseorangan.
Hak-hak atas tanah adat terutama hak ulayat sebagai serangkaian wewenang
dan kewajiban suatu persekutuan hukum adat atas lingkungan hidupnya ini meliputi
bidang hukum publik seperti pengelolaan lingkungan tersebut maupun hukum perdata
seperti kepunyaan bersama atas lingkungan tersebut. Hak ini meliputi semua tanah
yang ada di lingkungan hidup tersebut baik yang sudah ada haknya maupun yang
belum. Dalam hukum adat tidak dikenal istilah res nullius, benda atau tanah yang
tidak ada pemiliknya sama sekali. Hak ulayat ini adalah milik semua anggota
persekutuan hukum, bukan orang seorang.
Hak Milik (Inlands Bezitsrecht). Apabila warga persekutuan hukum adat
memerlukan tanah untuk kehidupannya mereka dapat pergi ke hutan dalam wilayah
286

M.M. Djojodigoeno, dan R Tirtawinata, Het Adatprivaatrecht van Middel-Java, (Bandung :


Sukamiskin, 1940), hal. 36.
287
Soepomo, Hubungan Individu dan Masyarakat Dalam Hukum Adat, terjemahan H.B. Jassin. (Jakarta
: Gita Karya, 1963), hal. 236.
288
Iman Sudiyat, Asas-asas Hukum Adat, op cit, hal. 2-3.

Universitas Sumatera Utara

lingkungan hidupnya dan membukanya. Perbuatan tersebut dilakukan dengan


memenuhi asas religio-magis yaitu hubungan dengan dunia nyata maupun dunia yang
tidak kelihatan. Hubungan dengan dunia nyata dilakukan dengan memberitahukannya
kepada Kepala Persekutuan Hukum Adatnya. 289 Hubungan dengan dunia tidak
kelihatan dilakukan dengan membuat upacara yang di luar Jawa terutama Sumatera
disebut dengan pancung alas guna memulihkan keseimbangan religio-magis. Setelah
terbukti intensitas pengerjaannya dalam waktu yang lama tanpa terputus tanah hutan
tersebut dapat menjadi hak milik warga yang mengerjakan tanah tersebut.
Di Jawa dan Madura hak ini disebut dengan hak atas tanah yasan (milik). Hak
ini memberikan wewenang untuk memperlakukan suatu benda sebagai kepunyaan
sendiri dengan beberapa pembatasan. Hak ini meliputi hak untuk memperoleh hasil
sepenuhnya dari benda tersebut dan hak untuk mempergunakannya seolah-olah sang
pemegang hak itu pemiliknya. Sehingga dia boleh menjual, menggadaikan atau
memberikannya kepada pihak lain.
Hak ini dibatasi oleh beberapa hal. Batas pertama adalah Staatsblad Tahun
1875 Nomor 179 tentang larangan Penjualan Tanah, Staatsblad Tahun 1906 Nomor
83 tentang Peraturan Desa (Inlandse Gemeente Ordonnantie). Yang lain adalah
serangkaian kewajiban yaitu kewajiban untuk menghormati hak menguasai desa
selama hak milik masih diliputinya; kewajiban menghormati kepentingan pemilik hak
lainnya; kewajiban mentaati dan menghormati ketentuan-ketentuan tentang pemilik
tanah dalam hukum adat. 290
Baik Perseorangan maupun persekutuan hukum dapat menjadi pemegang hak
milik. Dengan demikian terdapat hak milik perseorangan dan hak milik komunal. Di
luar Jawa dan Madura hak milik ini memberikan wewenang untuk mendapat
kenikmatan sepenuhnya atas benda dan mempergunakannya seakan-akan kepunyaan
sendiri dengan beberapa pembatasan. Hak ini dapat diperoleh dengan : membuka
tanah, dan mengajukan permintaan. Kepada para kuli kontrak di Lampung diberikan
hak milik setelah tanah dikerjakan selama 10 tahun oleh Residen. Atas tanah domein
bebas di ibukota-ibukota daerah dapat diberikan juga hak milik oleh Direktur
Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri.
Berdasarkan subjeknya terdapat dua jenis Hak Milik. Yang pertama adalah Hak
Milik Perseorangan (Erfelijk Individueel Bezitsrecht). Di Jawa hak ini terdapat di
Jawa Barat, Jawa Timur dan daerah-daerah yang penduduknya berasal dari Madura;
dan juga di Madura. Karena banyak tanah dibuka maka untuk mencegah hal yang
berlebihan dikeluarkan Ontginnings Ordonnantie (Peraturan Pembukaan Tanah)
289
290

Happy Warsito, Hak-hak Keagrariaan Adat ,op cit, hal.127.


Ibid

Universitas Sumatera Utara

dalam Staatsblad Tahun 1925 No. 649 jo Tahun 1928 No. 340, Staatsblad Tahun
1931 Nomor 168, dan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 423. Untuk luar Jawa dimuat
dalam peraturan agraria berlainan. Tanah negara bebas (vrijlands domein) boleh
dibuka dengan ijin Gubernur. Dikecualikan adalah: lelaki yang tidak mampu,
perempuan, perserikatan desa, badan keagamaan dan badan pemerintah. Apabila
pemegang ijin meninggal maka warisnya berhak membuka atau melanjutkan
pembukaan tanah. Apabila pemegang ijin tidak memenuhi syarat, ijin dapat
dicabut. 291
Yang kedua adalah hak milik komunal: sawah desa (Cirebon, Kedu, Tegal,
Pekalongan); playangan (Banyumas); sanggan (Bagelen); norowito, sewon, jung,
bakon (Jepara); kramanan, ideran, bagen, rojo, kongsen (Rembang). Hak ini
bukanlah hak asli bangsa. Perubahan hak milik perseorangan menjadi hak komunal
terjadi sewaktu kompeni (Verenigde op Oost Indische Compagnie: VOC)
mengadakan rodi (kerja paksa) dan monopoli. Hak ini berkembang terutama karena
Tanam Paksa di Jawa dan Madura. Hak ini tidak boleh diasingkan namun boleh dijual
atau digadaikan kepada bumiputera sesuai dengan hukum adat. 292 Apabila seorang
warga desa membuka tanah yang diatasnya terdapat hak komunal maka diperolehnya
hak pakai atas tanah tersebut. Hak ini memberikan wewenang untuk mengusahakan,
serta memberikannya kepada orang lain, menggadaikan maupun menyewakan baik
kepada bumiputera maupun bukan (Pasal 13 Inlands Gementee Ordonnantie,
Staatsblaad Tahun 1906 Nomor 83).
Di Jawa Tengah hak ini bercampur dengan hak milik perseorangan. Hak ini
terdapat di Jawa Barat dan luar Jawa dan Madura. Di daerah dengan hak milik
komunal terdapat pembagian dengan bagian yang tetap maupun yang diperbarui tiap
waktu. Pekarangan rumah selalu merupakan hak milik perseorangan.
Hak semacam ini sering menimbulkan penyalahgunaan yang berupa kecurangan
dalam pembagian, kurangnya hasrat untuk mengerjakannya dengan baik atau
memperbaikinya karena tiada jaminan untuk dapat mengerjakannya dalam waktu
yang lama (diperbarui sewaktu-waktu). Karena itu diadakan kesempatan untuk
mengubah (konversi) hak ini menjadi hak milik perseorangan dengan Convertie
Besluit, Staatsblad Tahun 1885 Nomor 102. Konversi dilakukan apabila minimal
dari yang berhak memakai tanah menghendaki dan menyetujui cara pembagiannya;
tiap orang yang berhak memakai tanah komunal menerima bagian tanah dengan hak
milik perorangan; dan tanah bengkok dikeluarkan dari pembagian. 293 Rencana
291

Ibid, hal.128.
Ibid
293
Ibid
292

Universitas Sumatera Utara

pembagian diberitahukan kepada Residen yang membentuk Panitia Pemeriksaan.


Setelah memeriksa dan mendengar yang berkepentingan kemudian dibuat berita
acara. Apabila tidak terdapat keberatan Dewan Pemerintah Daerah Kabupaten
memutuskan perubahan tersebut. Karena ketentuan ini tidak sesuai dengan hukum
adat maka jarang dipergunakan. Desa-desa dengan pembagian tetap kembali dengan
sistem pembagian berganti.
Selain dengan konversi, terdapat tiga cara untuk mendapatkan hak milik yaitu:
pembukaan tanah, pemberian pemerintah, dan pernyataaan peraturan. Pasal 7
Staatsblad Tahun 1870 Nomor 118 menentukan bahwa Gubernur Jenderal
menetapkan peraturan pembukaan tanah Bumiputera. Karena itu untuk Jawa Madura
dikeluarkan Ontginnings Ordonnantie dalam Staatsblad Tahun 1874 Nomor 179,
Staatsblad Tahun 1896 Nomor 44, dan Staatsblad Tahun 1925 Nomor 649, dengan
beberapa perubahan. Peraturan ini mulai berlaku di Jawa Barat pada 1929 dengan
Staatsblad Tahun 1928 Nomor 538, di Jawa Tengah pada 1931 dengan Staatsblad
Tahun 1930 Nomor 428, dan di Jawa Timur pada 1931 dengan Staatsblad Tahun
1931 Nomor 115.
Terdapat tiga tujuan peraturan ini. Yang pertama adalah membatalkan
penggarapan atau pembukaan tanah; yang kedua untuk mencegah pembukaan daerah
dengan mata air yang menghalangi pengairan; dan yang ketiga untuk mengatur hak
menguasai (ulayat) desa. 294
Ditentukan bahwa untuk membuka tanah diperlukan ijin pejabat yang ditunjuk
oleh Gubernur Jenderal. Hal ini terjadi cuma-cuma dan tidak dapat dioperkan tanpa
persetujuan pemberi. Apabila yang mendapatkannya meninggal maka ahli waris
dapat melanjutkan atau memulai pembukaan tanah. Ijin dapat ditolak untuk
kepentingan negara atau pihak ketiga. Ijin juga dapat dicabut bila tidak selesai dalam
waktu ditentukan atau tidak sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Dalam Pasal
6 ditentukan apabila semua syarat dipenuhi maka pembukaan tanah mendapatkan hak
milik.
Untuk luar Jawa Madura diatur dengan Peraturan Agraria (Agrarisch
Reglement) : Staatsblad Tahun 1915 Nomor 678, Staatsblad Tahun 1917 Nomor 497,
Staatsblad Tahun 1925 Nomor 560 untuk karesidenan Sumatra Barat; : Staatsblad
Tahun 1918 Nomor 80, : Staatsblad tahun 1919 Nomor 98 untuk karesidenan
Manado; Staatsblad Tahun 1923 Nomor 508; Staatsblad Tahun 1927 Nomor 194, :
Staatsblad Tahun 1927 Nomor 451, Staatsblad 1938 Nomor 157, Staatsblad 1938
Nomor 371 untuk karesidenan Bangka dan sekitarnya; Staatsblad Tahun 1923 Nomor
509, Staatsblad Tahun 1926 Nomor 394, Staatsblad Tahun 1937 Nomor 561,

Universitas Sumatera Utara

Staatsblad Tahun 1938 Nomor 371, Staatsblad Tahun 1939 Nomor 47 untuk
karesidenan Bali dan Lombok; Staatsblad Tahun 1923 Nomor 253, Staatsblad Tahun
1924 Nomor 595, Staatsblad Tahun 1926 Nomor 392 untuk karesidenan Riau dan
sekitarnya; Staatsblad Tahun 1927 Nomor 40, Staatsblad Tahun 1927 Nomor 195,
Staatsblad Tahun 1938 Nomor 371 untuk karesidenan Tapanuli; Staatbld Tahun 1925
Nomor 353, Staatsblad Tahun 1925 Nomor 596, Staatsblad Tahun 1926 Nomor 141,
Staatsblad Tahun 1926 Nomor 286, Statblad Tahun 1927 Nomor 193, Staatsblad
Tahun 1938 Nomor 371 untuk keresidenan Sumatera Selatan. 295
Hak Usaha (Mengerjakan dan Menanami) 296. Di daerah-daerah dimana hak
milik masih dikuasai oleh hak menguasai (ulayat) maka hak usaha ini sama dengan
hak milik. Hak ini dapat diwariskan tetapi tidak dapat dijual. Hak ini timbul karena
penggarapan tanah yang di bawah raja-raja yang berkuasa mutlak. Apabila raja ini tak
ada lagi hak milik bebas timbul. Yang termasuk dalam hak semacam ini adalah : Hak
atas tanah penduduk di sebelah barat Sungai Cimanuk yang di dalam Staatsblad
Tahun 1912 Nomor 422 disebut sebagai hak erfpacht. Lain dengan hak erfpacht
menurut Burgerlijk Wetboek. Selanjutnya Hak memetik berhubungan dengan kebun
kopi pemerintah dulu. Dengan Staatsblad Tahun 1910 Nomor 163 mereka yang wajib
menanami setelah hapusnya tanam paksa diberi hak memetik atas tanah negara yang
atas perintah negara ditanami kopi; Hak para kuli kontrak dari Bagelen atau tempat
lain di Jawa atas tanah di Lampung berdasarkan Bijblad Nomor 7535.
Hak menikmati tanah untuk sementara. Tanah liar atau kosong yang tidak
termasuk desa dibuka dengan tidak mendalam dan setelah dipungut hasilnya sekali
atau dua kali, ditinggalkan. Hak ini lemah tak dapat dijual, digadaikan atau
diwariskan dan akan bebas apabila penggarapan dihentikan.
Hak pakai atas tanah persekutuan. Tanah persekutuan adalah tanah yang oleh
golongan bumiputera dipakai perseorangan, yaitu tanah komunal di Jawa dan Madura
maupun tanah bengkok. Hak pakai ini hanya berlangsung selama hidup atau selama
menjadi penduduk desa atau selama menjabat.
Hak meramu atau mengumpulkan. Hak ini meliputi wewenang untuk menggali,
memburu dan menggembala sebagai akibat dari hak mengusai desa. Semula tidak ada
campur tangan pemerintah namun akhirnya dipandang perlu untuk mengeluarkan
Staatsblad Tahun 1930 Nomor 38 tentang Pertambangan, Staatsblad Tahun 1931
Nomor 133 tentang Perburuhan dan Staatsblad Tahun 1932 Nomor 17 tentang Cagar
Alam. Hak menggembala tersedia bagi tiap penduduk desa yang termasuk dalam desa
294

Ibid, hal.129.
Ibid
296
Ibid, hal.131.
295

Universitas Sumatera Utara

atau di tempat tertentu atas tanah liar atau kosong atau tanah yang baru dipungut
hasilnya bila dibiarkan kosong tidak ditanami atau dipagari. 297
Hak membagihasilkan. Sering seorang pemilik tanah menyuruh orang lain
mengerjakan tanah dengan perjanjian bahwa hasil kotor dari tanah garapan tersebut
akan dibagi bersama. Lazim dijumpai di atas tanah dengan hak milik perorangan, hak
milik komunal atau bengkok. Biasa disebut ngedol tahunan dengan pembayaran uang
ataupun hasil bumi. Penggarap atau pekerja menikmati hasil dari tanah orang lain lalu
membayar sejumlah imbalan kepadanya. Jarang terjadi di antara Pribumi.
Hak gadai atas tanah. Gadai adalah perjanjian dimana sebidang tanah oleh
pemiliknya diserahkan kepada orang lain untuk dipakai dengan pembayaran sejumlah
uang dengan kewajiban mengembalikannya apabila uang telah dibayar kembali atau
denga kata lain perjanjian penyerahan tanah untuk dipakai orang lain dengan
pembayaran dengan hak untuk menebusnya. Hak ini tidak dapat diwariskan.
5. Transaksi yang dikenal dalam hukum adat
a) Transaksi atas Tanah Adat
Dari hak atas tanah adat dapat timbul transaksi hak atas tanah adat.
Transaksi dapat langsung yaitu transaksi atas tanah adat secara sempit: tanah
dan transaksi yang tidak langsung namun bersangkutan dengan tanah.
Terdapat bermacam transaksi tanah, umumnya jual. Sedang Transaksi yang
bersangkutan dengan tanah: bagi hasil, sewa, kombinasi dan tanggungan atas
tanah. Dari transaksi ini timbul pula hak turunannya. Dalam hukum adat
pengertian tanah termasuk juga segala sesuatu yang berada di atas dan di
dalamnya.
Jual. Transaksi ini sejenis perjanjian timbal balik yang bersifat riil di
lapangan hukum harta kekayaan dan merupakan perbuatan tunai dan berobjek
tanah. Intinya adalah penyerahan benda (sebagai prestasi) bersamaan dengan
penerimaan pembayaran tunai (seluruhnya atau sebagian sebagai kontra
prestasi). Banyak istilah untuk perbuatan tersebut (Jual: Indonesia, sade:
Jawa)
Menurut hukum tanah transaksi ini dapat mengandung tiga maksud 298.
Pertama, menjual gadai : menggadai (Minang), adol sende (Jawa), ngajual
akad/gade (Sunda). Perbuatan ini berupa penyerahan tanah untuk menerima
pembayaran sejumlah uang tunai dengan ketentuan bahwa si penjual tetap
berhak atas pengembalian tanahnya dengan penebusan kembali. Timbul hak
297

Ibid
Ibid, hal.133.

298

Universitas Sumatera Utara

gadai; Kedua, menjual lepas: adol plas, run tumurun, pati bogor (Jawa),
menjual jaja (Kalimantan). Penyerahan tanah untuk menerima pembayaran
sejumlah uang tunai tanpa hak menebus kembali. Penyerahan ini berlaku
untuk seterusnya/selamanya; Timbul hak milik atas pemilik baru untuk
selamanya; dan Ketiga, menjual tahunan: adol oyodan (Jawa). Penyerahan
tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang tunai dengan janji: tanpa
perbuatan hukum lagi tanah akan kembali dengan sendirinya kepada
pemiliknya sesudah berlalu beberapa tahun/beberapa kali panen (menurut
perjanjian). Timbul hak milik untuk sementara. Dalam pengertian tanah
termasuk pula perairan misalnya empang/tebat/tambak ikan. Transaksi itu
harus dilakukan secara terang agar terjamin/terlindung dalam lalu-lintas
hukum bebas khususnya terhadap kemungkinan gugatan/tangkisan pihak
ketiga yaitu dilakukan dengan bantuan/kesaksian Kepala Persekutuan
Hukum.
Jual Gadai. Hak pembeli gadai untuk menikmati manfaat yang
melekat pada hak milik benda gadai dengan pembatasan: tidak boleh menjual
lepas tanah gadai kepada pihak lain; tidak boleh menyewakan tanah gadai
untuk lebih dari satu musim (jual tahunan). Pembeli boleh mengoper gadai
(doorverpanden)
atau
menggadaikan
kembali/dibawah
harga
(onderverpanden) tanah kepada orang lain jika sangat memerlukan uang
karena dia tidak dapat memaksa penjual gadai untuk menebus tanahnya;
Membagi hasilkan (belah pinang, paruh hasil tanam, maro dan Penebusan
gadai) tergantung dari kehendak penjual gadai. Hak menebus bahkan dapat
beralih kepada ahli warisnya. Uang gadai hanya dapat ditagih oleh pembeli
gadai. Dalam hal transaksi gadai disusuli dengan penyewaan tanah oleh
penjual gadai sendiri dengan janji: jika si penjual (merangkap penyewa) tidak
membayar uang sewa maka uang gadai dapat ditagih kembali oleh pembeli
(merangkap penguasa) atas tanah yang kini berfungsi rangkap: objek gadai
sekaligus objek sewa. 299
Setahu dan seijin penjual gadai sang pembeli gadai dapat
mengoperkan gadai kepada pihak ketiga yaitu menyerahkan tanah tersebut
kepadanya dengan menerima sejumlah uang tunai. Dengan demikian
terjadilah pergantian subjek di dalam perutangan yang sama: hubungan
hukum antara penjual gadai dengan pembeli gadai semula berubah menjadi
hubungan hukum antara penjual gadai dengan pembeli gadai yang baru.
Tanpa setahu dan seijin penjual gadai sang pembeli gadai dapat

Universitas Sumatera Utara

menggadaikan kembali tanah itu kepada pihak ketiga dengan janji: sewaktuwaktu dia dapat menebus tanah itu dari pihak ketiga tersebut.
Dengan demikian terdapat dua perutangan: antara penjual gadai
semula dengan pembeli gadai semula (terang-terangan); serta antara pembeli
semula yang menjadi penjual baru dengan pihak ketiga yang menjadi pembeli
gadai baru (sembunyi-sembunyi). Bila suatu waktu penjual gadai semula
menebus tanahnya sang pembeli gadai yang semula harus cepat-cepat
menebusnya dari pembeli gadai yang baru. Tanah yang menjadi objek
transaksi rangkap kembali dengan aman kepada pemiliknya. 300
Dengan berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria gadai ini diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
56 Tahun 1960 (Undang_undang Nomor 56 Prp. Tahun 1960) tentang
Penetapan Luas Tanah Pertanian. Peraturan ini berisi pembatasan terhadap
lama waktu menggadaikan tanah dan bermaksud memberantas unsur-unsur
pemerasan yang terdapat dalam transaksi gadai tanah tersebut. Praktik
menunjukkan bahwa hasil yang dinikmati pembeli gadai setiap tahunnya
ternyata jauh lebih besar dari bunga yang pantas dari uang pembeli gadai
dahulu Pasal 7 nya menentukan bahwa tanah yang sudah digadaikan selama
7 tahun atau lebih harus dikembalikan kepada pemilik tanah/penjual gadai
tanpa ada kewajiban baginya untuk membayar uang tebusan. Pengembalian
tanah itu dilakukan dalam waktu sebulan setelah tanaman yang terdapat di
atasnya selesai dipetik hasilnya.
Untuk gadai yang berlangsung kurang dari 7 tahun sang pemilik dapat
memintanya kembali setiap waktu setelah selesai pemetikan tanaman yang
ada dengan membayar uang tebusan berdasarkan rumus: (7+1/2) x waktu
gadai : 7:2 x uang gadai. Dengan perubahan nilai mata uang. Mahkamah
Agung telah menetapkan bahwa resiko dari perubahan nilai uang rupiah
ditanggung rata oleh baik penjual gadai maupun pembeli gadai. Penilaian
dilakukan menurut harga emas.
Jual Lepas. Perjanjian jual lepas tanah selesai dengan tercapainya
persetujuan/persesuaian
kehendak
(konsensus)
diikuti
dengan
ikrar/pembuatan kontrak jual beli di hadapan Kepala Persekutuan Hukum
yang berwenang dibuktikan dengan pembayaran harga tanah oleh pembeli
dan disambut dengan kesediaan penjual untuk memindahkan hak miliknya
kepada pembeli. Perjanjian ini bersifat riil, hak milik atas tanah berpindah
299
300

Ibid
Ibid, hal.134.

Universitas Sumatera Utara

meskipun formalitas balik nama belum dilakukan (dipandang sebagai bagian


dari rangkaian pemindahan hak milik).
Van Vollenhoven 301
berpendapat bahwa jual lepas sebidang tanah atau perairan adalah
penyerahan benda itu di hadapan orang-orang yang ditunjuk oleh
Hukum Adat dengan pembayaran uang pada saat itu atau kemudian
(Adatrecht hal 241). Oleh Enthoven dikemukakan bahwa penjualan
barang tidak bergerak adalah penyerahan dengan harga tertentu dan
bukan merupakan suatu perjanjian yang membentuk kewajiban
untuk menyerahkan. Menurut Hukum Indonesia penjualan dan
penyerahan adalah satu 302. Sedangkan Ter Haar 303 menjelaskan
bahwa pada waktu di hadapan Kepala Persekutuan Hukum
dinyatakan bahwa saya mengaku telah menyerahkan tanahnya dan
telah menerima harganya maka saat itulah hak pembeli tercipta baik
hak gadai atau hak milik maupun hak sewa.
Mahkamah Agung dalam keputusan tertanggal 25-9-1957
berpendapat bahwa keterangan jual beli saja belum mengakibatkan
pemindahan atau penyerahan hak milik. Keterangan ini harus diikuti pula
dengan semacam levering. Sebelumnya hak milik belum berpindah. Menurut
pertimbangannya Mahkamah Agung menyatakan bahwa walaupun dengan
surat Notaris dan surat di bawah tangan serta yang disimpan pada Notaris yang
dimaksudkan dalam putusan judex facti di dalamnya disebutkan bahwa para
pihak bersangkutan menerangkan menjualbelikan tanahnya belum dapat
diterima bahwa sebenarnya telah terjadi pemindahan atau penyerahan hak
milik oleh yang dinamakan penjual kepada yang dinamakan pembeli 304.
Pembicaraan yang mengandung janji (afspraak) saja tidak
mengakibatkan kewajiban. Namun janji lisan yang diikuti dengan pembayaran
sesuatu (uang atau benda lain) dapat menimbulkan kewajiban hanya untuk
berbuat sesuatu missal untuk menjual atau membeli. Pembayaran ini disebut
panjar. Tanpa panjar orang tidak merasa terikat. Dengan panjar orang merasa
wajib melaksanakan hal yang ditentukan dalam janji. Perjanjian pokok (misal
jual beli) belum terlaksana hanya dengan pemberian panjar saja. Sesudah
diadakan permufakatan serius tentang jual beli tersebut barulah terlaksana
301

J.C. van Vollenhoven, Het Adatrecht van Nederlands-Indie, op cit, hal. 241. Juga dalam Iman Sudiyat,
op cit, hal. 33.
302
Enthoven, Het Adatrecht der Inlanders in de Jurisprudentie dikutip oleh E.A. Boerenbaker, (Bandung:
[s . n], 1935), , dalam Sudiyat, Ibid, hal. 33
303
Ter Haar Bzn, Azas-azas dan Susunan Hukum Adat. Op Cit, hal. 17.

Universitas Sumatera Utara

perjanjian tersebut 305. Bila perjanjian pokok tidak terjadi maka terdapat 2
kemungkinan: Apabila dibatalkan oleh pemberi panjar uang/benda sesuatu
tersebut tetap pada penerima panjar; Apabila dibatalkan oleh penerima panjar
maka sesuatu itu harus dikembalikan, dapat 2 kali nilainya.
Holleman 306 menyatakan bahwa janji (afspraak) tidak mengikat
hanya menimbulkan kewajiban moral untuk melaksanakannya. Sebelum
perjanjian jual beli terjadi calon penjual dapat menjual barang kepada pihak
lain dengan harga lebih tinggi. Tampak bahwa perjanjian jual menurut hukum
adat adalah konkrit/riil tidak abstrak/konsensual seperti dalam Burgerlijk
Wetboek. Dikatakan pula bahwa perjanjian jual beli di dalam Hukum Adat
merupakan perbuatan kontan (contante handeling)
Jual Tahunan. Dengan transaksi ini pembeli tahunan memperoleh hak
untuk: mengolah tanah, menanami dan memetik hasil, dan berbuat dengan
tanah seakan-akan miliknya sendiri. Sang pembeli dilarang untuk
menjual/menyewakan tanah tanpa seijin pemiliknya. Jual lepas atau jual lagi
yang mungkin dilakukan pemilik tidak mengurangi hak pembeli tahunan (koop
brekt geen huur: jual tidak menghapus sewa).
Baik jual gadai maupun jual tahunan mungkin juga dilakukan sebagai
perjanjian pelunasan hutang (delgingsovereenkomst), hutang dibayar dengan
penyerahan tanah untuk sementara. Dengan penyerahan tanah debitur merintis
jalan untuk melunasi hutangnya dengan memperhitungkan hasil tanah itu
dengan jumlah hutang tersebut.
b) Transaksi yang menyangkut atas Tanah Adat
Hukum Adat mengenal transaksi yang walaupun tidak langsung atas
tanah namun bersangkutan dengan tanah. Akan dibahas beberapa di antaranya.
Transaksi bagi hasil, belah pinang, paruh hasil tanam: memperduai
(Minang), toyo (Minahasa), tesang (Sulawesi Selatan), maro, mertelu (1:1, 1:2,
Jawa Tengah), nengah, jejuron (1:1, 1:2; Priangan). 307 Seseorang mempunyai
tanah namun tidak ada kesempatan/semangat untuk mengusahakannya sendiri
dan ingin memungut hasilnya. Karena itu dibuat transaksi dengan orang lain
untuk mengerjakan, menanami dan memberikan sebagian hasil panennya.
304

Ibid, hal 143


Bedakan dengan uang muka (voorschot) menurut hukum barat. Ini adalah pembayaran di muka yang
sebenarnya dan diperhitungkan dalam transaksi. Tidak memberikan kewajiban moral atau akibat hukum apapun.
Apabila tak terjadi transaksi uang muka dikembalikan. Apabila terjadi Transaki uang ini diperhitungkan dalam
harga.
306
F.D. Holleman, Het Adatrecht van de Afdelling Tulungagung, (Batavia: Buitenzorg, 1927), hal. 67
305

Universitas Sumatera Utara

Fungsi transaksi adalah untuk memproduktifkan tanah milik, tanpa


pengusahaan sendiri dan memproduktifkan tenaga kerja tanpa tanah milik
sendiri. Objeknya adalah tenaga kerja dan tanaman (bukan tanah). Untuk
formalnya bantuan Kepala Persekutuan Hukum tidak merupakan syarat sah
perjanjian, tidak harus terang cukup dengan kedua pihak saja. Jarang dibuat
akad untuk perbuatan hukum tersebut, dan dapat dibuat oleh pemilik tanah,
pembeli gadai, pembeli tahunan, pemakai tanah kerabat, pemegang tanah
jabatan. Hak pertuanan tidak berlaku terhadap perbuatan hukum tanpa
pembatasan terhadap yang membagi hasilkan.
Transaksi ini biasanya disambung dengan lembaga tambahan yang
melekat; srama, mesi (Jawa Tengah) berupa pembayaran sekedar uang pada
permulaan transaksi. Pembayaran ini mengandung arti persembahan yang
disertai dengan permohonan (srama) mengandung pengakuan bahwa seseorang
berada di tanah orang lain (mesi), plais (Bali), balango (Sulawesi Selatan)
merupakan hubungan di antara pinjaman uang dan bagi hasil.
Pemegang/penguasa tanah meminjam uang tanpa bunga dari pembagi hasil dan
pembagi hasil tetap boleh memegang hak mengerjakan tanah selama uang
pinjaman belum dilunasi. Uang pembagi hasil tidak boleh dituntut kembali
tetapi apabila ia dilarang terus mengerjakan tanah peminjam uang seketika
dapat dituntut kembali. Terkadang diadakan perhitungan dari hutang dan hasil
yang sudah dinikmati sehingga sesudah pemungutan hasil pertahun uang
pinjaman dikurangi dengan jumlah tertentu, adakalanya uang pinjaman itu
tetap besarnya hingga hutang lunas sekaligus. Mungkin juga pembagi hasil
tidak dibolehkan mengerjakan tanah bersangkutan maka ia berhak menuntut
ganti rugi dari pemegang tanah bukan tanahnya seperti hak dari transaksi
jual. 308
Sewa. Dapat diartikan sebagai ijin kepada orang lain untuk
mengerjakan atau mendiami tanah di bawah kekuasaannya dengan keharusan
membayar sejumlah uang tertentu sebagai uang sewa sesudah tiap bulan, tiap
panen atau tiap tahun dengan konsekuensi bahwa sesudah pembayaran itu
transaksi dapat diakhiri. Mengasi di Tapanuli Selatan berarti hak sewa tanah
maupun hak menikmati. Sewa bumi (Sumatera Selatan) berarti pajak yang
harus dibayar oleh orang luar untuk pemungutan hasil dari wilayah lingkungan
hak pertuanan. Cukai (Kalimantan) bermaksud pembayaran orang luar untuk
pemungutan hasil dari wilayah lingkungan hak pertuanan. Cukai (Kalimantan)
bermaksud pembayaran orang luar untuk pemungutan hasil dari wilayah
307
308

Happy Warsito, Op Cit, hal.136.


Ibid, hal.137.

Universitas Sumatera Utara

lingkungan hak pertuanan dan pembayaran dari penyewa tanah. Sewa ewang
(Ambon) dimaksudkan sebagai pemberian orang luar untuk memperoleh hak
mengumpulkan hasil hutan di lingkungan hak pertuanan Negeri. Ngupetenin
(Bali) adalah penyewaan tanah pertanian. Upeti adalah pajak yang harus
dibayar oleh orang luar (sewa bumi) berdasarkan hak pertuanan.
Kombinasi bagi hasil, sewa dengan gadai tanah dan sewa tanah
dengan pembayaran uang di muka. Transaksi bagi hasil dan sewa sering
dikaitkan dengan gadai tanah. Sesudah hak pembeli gadai diletakkan di atas
tanah bersangkutan dia memperbolehkan si penjual gadai mengerjakan tanah
tersebut selaku pembagi hasil atau penyewanya. Pembeli gadai tidak boleh
membuat transaksi jual lepas atas tanah yang dibeli gadai. 309 Tanah juga tidak
boleh dijual tahunan karena itu untuk sementara akan melanggar hak penjual
gadai
untuk
menebusnya.
Dia
hanya
dibenarkan
untuk
mengoperkan/mengalihkan gadai (doorverpanden) tanah itu kepada orang lain.
Dia juga boleh mengijinkan orang lain masuk di tanah tersebut untuk
mengerjakan atau mendiami berdasar kontrak yang dapat diputuskan setiap
saat. Transaksi tersebut dapat diakhiri dalam waktu pendek. Terdapat kelalaian
pada pihak-pihak: pembagi hasil, pemberi bagi hasil, penyewa atau pemberi
sewa akan timbul hak menuntut ganti rugi bukan atas tanahnya. Gadai dapat
diakhiri berdasarkan aturan gadainya sendiri. Transaksi gabungan ini mirip
dengan transaksi pinjam uang dengan tanah sebagai jaminan/tanggungan.
Pihak yang satu memberi uang kepada pihak lainnya dan selama uang belum
dikembalikan pihak pertama menerima sebagian dari hasil panen tanah
pertanian atau pembayaran berasal dari pihak kedua. Transaksi semacam ini
dapat pula dilakukan sebagai transaksi uang yang disangkutkan dengan tanah
sebagai tanggungan tetapi menurut Hukum Adat transaksi ini merupakan
lembaga hukum yang lain. Persewaan tanah dengan pembayaran uang di muka
digabungkan dengan memperbolehkan si pemberi sewa menjadi penyewa di
tanahnya sendiri mirip dengan persekot atas tanaman atau pinjam uang dengan
mengangsur padi (bagi hasil) atau uang (sewa) setiap tahun.
Transaksi pinjam uang dengan tanggungan tanah: tahan (Batak),
babaring (Dayak Ngaju), makantah (Bali), tanggungan, jonggolan (Jawa),
borroh, borg, borot (tersebar luas). Titik inti perjanjian adalah perjanjian
adalah perjanjian selama utang belum lunas tidak akan membuat transaksi
tanah atas tanahnya kecuali untuk kepentingan kreditur. Tanah sebagai
tanggungan adalah transaksi asesoir pada transaksi pinjam uang selaku
transaksi pokok. Tindakan itu merupakan persiapan sewaktu debitur menerima
uang pinjaman seketika ditetapkan sebidang tanah pertanian yang bila
perlu/dikehendaki akan dipakai sebagai benda pelunas transaksi
309

Ibid

Universitas Sumatera Utara

(delgingsovereenkomst) dengan demikian transaksi pinjam uang diganti


dengan transaksi tanah.
Di Bali dan Batak tanah yang ditunjuk sebagai tanggungan digadaikan
kepada yang meminjami uang bila bunganya sudah meningkat sampai taraf
tertentu, utang sudah bertambah. Sedang di Jawa gadai sebagai perbuatan
hukum sering disusul dengan tanggungan/jaminan (zekerheidstelling). Dan
disini sering dilakukan tanpa sepengetahuan Kepala Persekutuan Hukum
(tanggungan di bawah tangan, onderhanse zekerheidstelling) dan tidak berlaku
terhadap pihak ketiga. Akibatnya adalah: transaksi jual yang diadakan
berakibat beban atas tanah tanggungan selama hutang belum lunas sah menurut
hukum dan tanah tanggungan dapat dijual atas dasar vonnis hakim untuk
melunasi pinjaman uang lainnya, sedang pemberi hutang dengan tanggungan di
bawahtangan tidak mempunyai hak mendahului (voorrecht) terhadap kreditur
lainnya. 310 Hal ini tidak berarti bahwa tanggungan di bawah tangan tidak
berguna hanya tidak dapat dirumuskan suatu norma untuk melindungi
penerima tanggungan di bawah tangan terhadap pihak ketiga.
Transaksi dengan sepengetahuan Kepala Persekutuan Hukum (Bali
dan Batak) berakibat bahwa pemilik tanah tidak dapat dan tidak boleh
memindahkan tanah/menggadaikan dengan tiada memanfaatkan hasil tanah
untuk mengangsur hutang. Transaksi yang akan diadakan oleh peminjam uang
harus diberitahukan kepada pemberi hutang bila debitur lalai. Tanpa
pemberitahuan terjadi kecurangan dan penerima tanggungan berhak atas
perlindugan hukum. Transaksi tahan (Batak) dan makantah (Bali) memberikan
hak mendahului kepada pemberi hutang dengan tanggungan jika tanah dilelang
berdasar vonnis hakim. Jurisprudensi dan doktrin di Jawa tidak seragam.
Pendaftaran pada kepala dusun tidak/belum merupakan aturan yang
menentukan berlakunya transaksi dalam lalu-lintas hukum namun ada yang
mengakui hak ini karena pemberitahuan dan pendaftaran oleh Kepala Dusun
berakibat hak mendahului yang dapat dilakukan menurut hukum positif bila
dengan sukarela para pihak.
Simulatio. Untuk menghindari larangan pengasingan tanah pada
zaman Hindia Belanda sering dilakukan simulatio yang merupakan objek
tersendiri dalam ajaran umum persetujuan, hukum perjanjian. Sebagai
perbuatan/kompleks perbuatan dimana 2 orang/lebih sepakat menimbulkan
kesan/semu dunia luar seakan-akan terjadi perjanjian (perbuatan hukum)
tertentu sedangkan sesungguhnya sepakat bahwa perjanjian tidak akan berlaku
dengan akan mempertahankan berlakunya hubungan hukum yang sudah ada
atau akan melaksanakan perjanjian lain. Kadang hal ini untuk merugikan pihak
ketiga kadang-kadang tidak. Walaupun sering dilakukan untuk
menyembunyikan perjanjian terlarang namun simulatio sendiri tidak dilarang.
310

Ibid, hal.138.

Universitas Sumatera Utara

Biasanya simulatio meliputi seluruh perjanjian tetapi kadang-kdang hanya


mengenai salah satu unsur dari perjanjian yang diadakan.
Terdapat dua macam simulatio. Mutlak para pihak menimbulkan
kesan seakan-akan mengadakan perjanjian tertentu dan diam-diam bersepakat
bahwa dalam hubungan hukum yang telah berlaku tidak akan diadakan
perubahan. Misalnya seorang pengusaha terancam pailit. Supaya hartanya tidak
disita ia pura-pura menjual hartanya kepada orang lain. Para pihak sepakat
bahwa sebenarnya tidak ada jual beli dan peralihan hak sedang si penjual purapura tetap memiliki harta tersebut. Pada simulatio Nisbi di belakang perjanjian
yang disimulasikan, terdapat perjanjian yang didissimulasikan. Para pihak
mengadakan perjanjian jual beli yang sebenarnya adalah hibah.
Simulatio dapat meliputi seluruh perjanjian namun dapat juga hanya
tentang salah satu unsur perjanjian misalnya di dalam perjanjian dicantumkan
harga yang lebih rendah daripada yang sebenarnya disepakati. Dapat juga
bahwa hal ini tak berhubungan dengan esensi kontrak namun dengan pihaknya:
kontrak dilakukan antara A dan B, namun sebenarnya antara A dan C. Antara
para pihak terdapat asas umum yang berlaku adalah kontrak yang
didissimulasikan bukan yang disimulasikan kecuali terdapat hal yang berakibat
batalnya kontrak yang tersembunyi. Para pihak tidak terkait kontrak yang
disimulasikan karena tidak dikehendaki.
Pada simulatio mutlak tidak terjadi perubahan hubungan hukum para
pihak karena hal ini memang tidak dikehendaki. Pada simulatio relatif terdapat
azas umum bahwa terdapat kekuatan hukum pada kontrak yang
didissimulasikan karena itulah yang dikehendaki. Jadi terdapat persamaan
penuh antara kehendak dan pernyataannya. Namun karena hal sebenarnya
disembunyikan biasanya terdapat kekurangan yang biasanya adalah tujuan
yang tidak dapat dibenarkan dan berakibat batal berdasarkan Pasal 1335 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata. Syarat formal juga dapat menghilangkan
kekuatan hukum perjanjian misalnya hibah yang dilakukan dengan kontrak jual
beli tanpa akta notaris.
Pihak ketiga dapat menanggapi atas : kontrak yang disimulasikan,
kontrak yang didissimulasikan, dan tidak terjadinya perubahan dalam
hubungan hukum para pihak. Pada simulatio mutlak pihak ketiga dapat
menanggapi kontrak yang disimulasikan dengan menanggapi kesan yang
ditimbulkan oleh pernyataan para pihak. Biasanya mereka berkepentingan
dengan pendirian bahwa kontrak yang dinyatakan adalah perbuatan semu dan
karena itu tidak sah karena tidak berakibat perubahan dalam keadaan hukum
para pihak. 311
Pada simulatio relatif terbuka tiga kemungkinan : Menanggapi
perjanjian yang disimulasikan karena dapat dinyatakan reaksi atas semu yang
dapat dipertanggungjawabkan. Bagi mereka yang tampak hanyalah perjanjian
311

Ibid, hal.140.

Universitas Sumatera Utara

yang disimulasikan sehingga terlindung dari janji tersembunyi sesuai dengan


Pasal 1873 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa perjanjian yang
menyusul yang diadakan dengan akta/ perbuatan tersendiri yang bertentangan
dengan perjanjian semula hanya berkekuatan bukti bagi pihak yang menjadi
peserta dalam akta tersebut beserta ahli waris atau mereka yang memperoleh
hak, tapi tidak mempunyai kekuatan hukum terhadap pihak ketiga.
Menanggapi perjanjian yang didissimulasikan jika diketahuinya sejak semula
atau kemudian. Kebanyakan hal ini dipandang sebagai akibat langsung dari
ketentuan Pasal 1873 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa alat bukti
yang bertentangan tidak dapat merugikan pihak ketiga sehingga alat bukti
tersebut harus menguntungkan bagi pihak ketiga. Menanggapi manipulasi/ tipu
daya para pihak dengan menyatakan bahwa perjanjian semu, perjanjian yang
tidak dikehendaki para pihak, tidak mempunyai kekuatan hukum. Atau bahwa
perjanjian yang didissimulasikan memang dikehendaki terbukti dari pernyataan
timbal balik para pihak. Pada perjanjian yang didissimulasikan biasanya
terdapat sesuatu yang tidak beres karena justru hal itu diselubungi dengan
perbuatan semu karena dengan itu para pihak ingin mencapai tujuan yang tidak
dibenarkan hukum. Pihak ketiga dapat berpendirian bahwa hubungan hukum
masih seperti semula sebelum adanya perbuatan semu. Perjanjian yang
disimulasikan tidak ada karena tidak dikehendaki para pihak. Perjanjian yang
didissimulasikan tidak dapat dipaksakan berlakunya bagi pihak ketiga
berdasarkan pasal 1873 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa
perjanjian tersebut batal baik berdasarkan tujuan atau sifatnya yang tidak
dibenarkan hukum.
Gaius 312, seorang ahli hukum klasik Romawi yang menyamakan
hukum alam (natuurrecht) dengan ius gentium (hukum alam sekunder yang
khusus), menempatkan milik perseorangan (eigendom privat) sebagai hukum
alam (its naturale). Karena itu Gaius berbicara bertolak dari pengelompokan
benda-benda, di dalam mana termasuk juga tanah. Ia membagi benda-benda
atas atas dua golongan yaitu :
a.

res devini iuris, atau benda-benda yang berhubungan dengan kepentingan


dewa-dewa, hal-hal yang suci, atau hal-hal yang sangat diutamakan;

b.

res humani iuris, atau benda benda yang berhubungan dengan

Universitas Sumatera Utara

kepentingan manusia baik perorangan maupun masyarakat.


Benda-benda yang termasuk res vini iuris umumnya dipandang sebagai
benda-benda yang tidak dimiliki oleh siapapun, baik negara atau maupun pribadi
seperti:
a. res sacrae, yaitu benda-benda yang demi negara ditahbiskan ( disucikan

dengan upacara keagamaan).


b. res religionae, yaitu benda-benda yang dibiarkan untuk menjadi tempat

kediaman para arwah yang telah meningal dunia.


c. res sanetae, yaitu benda khusu yang memiliki arti sangat penting bagi negara

(kota) ; dinding-dinding dan pintu-pintu yang kota merupakan benda yang


sangat khusus dan penting untuk itu.
Sedangkan tanah yang termasuk res humani iuris ialah
5) res publicae, yaitu semua benda yang diperuntukan bagi dinas umum
6) resprivatea, yaitu benda-benda yang diperuntukan dan dimiliki oleh
perseorangan
Pandangan yang menyatakan bahwa negara bukan pemilik tanah, jelas
menunjukkan bahwa yang menjadi pemilik atas tanah adalah manusia alami.
Seperti yang telah dikemukan bahwa Gaius memandang sama hukum alam
dengan hukum alam sekunder khusus (ius gentium) dalam hal ini milik
perseorangan (eigendom privat) merupakan hukum alam (natuurrecht).
Secara alami eksistensi manusia senantiasa disertai dengan hak-hak yang
312

Seperti dikutip Ronald Zelfianus Titahelu. Penetapan Asas-asas Hukum Umum ,op cit, hal. 92

Universitas Sumatera Utara

secara alami melekat padanya,termasuk hak untuk memiliki. Bagi Gaius milik
perseorangan ini adalah alami, dan karena itu bersifat asasi. Walaupun ada
pembatasan berupa penggunaan hak milik yang merugikan orang lain maka
Thomas Aquino (1225-1274) salah seorang penganut aliran hukum alam dari
aliran Skolastik pada pertengahan (400-1500) di Eropa Barat, melihat milik
perseorangan sebagai hak yang tidak bertentangan dengan hukum alam:
a.

Setiap Orang lebih suka memperoleh sesuatu hal yang akan menjadi miliknya
sendiri, dari pada sesuatu hal yang menjadi milik bersama atau milik orang
banyak. Sebab setiap orang menghindarkan pekerjaan yang itu menjadi tugas
orang banyak seperti apabila banyak pelayan.

b.

Sesuatu hal yang akan diperlakukan lebih teratur, apabila pemeliharaan dari
pada sesuatu hal itu diserahkan pada masing-masing orang itu sendiri, sebab
apabila semua orang diserahi pemeliharaaan semua hal tanpa diadakan
perbedaaan akan timbul kekacauan.

c.

Di antara orang-orang akan ada perdamaian yang disebabkan karena setiap


itu puas dengan apa yang menjadi miliknya. Itu sebabnya mengapa dapat
dilihat bahwa diantara mereka .yang memiliki suatu hal bersama-sama lebih
sering timbul pertentangan-pertentangan. 313

Hubungan yang terjalin, lahir melalui tindakan manusia atas tanah yang
berkendak menjalin pertalian dengan tanah baik secara perseorangan
(individu), keluarga maupun kelompok. Hubungan dilahirkan karena
313

Imam Soetiknjo, Undang-undang Pokok Agraria, Sekelumit Sejarah, Departemen Dalam Negeri.
(Jakarta: Direktorat Jenderal Agraria,1985), hal. 11.

Universitas Sumatera Utara

adanya suasana bathin yaitu rasa cocok atau tidak cocok. Sedangkan
hak dilahirkan berdasarkan kenyataaan penguasaaan yaitu tetap atau
sementaranya penguasaan oleh orang atau kelompok tertentu atas tanah
yang diakuinya. Karena itu hubungan bersifat tetap dan langgeng atau
abadi sedangkan hak bersifat semu karena dapat berubah- ubah. 314
Menurut Ter Haar, Kuat dan langgeng dinyatakan sebagai sama dengan
satu hubungan hukum (rechtsbetrekking). Dengan demikian, upacara ritual yang
lazim dilakukan pada saaat orang melakukan hubungan dengan tanah oleh Ter
Haar tidak di pandang semata-mata sebagai suatu upacara mistik akan tetapi suatu
dialog antara manusia dengan tanah dan alam roh dalam rangka mengadakan
jalinan hubungan hukum yaitu hubungan yang melahirkan hak dan kewajiban
diantara kedua belah pihak.
Hakekat dari hubungan magis itu adalah merupakan pernyataan yang
bersifat menegaskan bahwa telah terjalin pertalian atau ikatan nyata antara
manusia dengan tanah dengan alam roh yang menguasai tanah. Hal ini bermakna
bahwa roh-roh yang menguasai tanah secara gaib berhak dan berkewajiban untuk
menduduki dan mengusahakan tanah dengan sebaik-baiknya agar tanah bisa
mengeluarkan hasil yang menyenangkan semua pihak yang berkepentingan. Maka
anti dan makna hubungan magis itu, pertama-tama adalah bahwa tanah digunakan
untuk jaminan kehidupan jasmani dan rohani manusia maupun roh-roh yang
menduduki dan menguasai tanah.
Untuk dapat dikatakan mempunyai hubungan dan hak-hak perorangan

314

Herman Soesangobeng, Kontektualisme filosofi Adat Tentang Tanah dan Penerapannya setelah UU
No.5/1960 serta advokasi Pertanahan di Indonesia, makalah (Bandung: Akatiga), 21 Pebruari 1998, hal. 4.

Universitas Sumatera Utara

atas tanah haruslah memenuhi tiga syarat pokok yakni tempat tinggal, kedudukan
sebagai warga persekutuan dan intensitas penguasaaan serta pengolahan tanah 315
artinya hanya rnereka yang bertempat tinggal dalam lingkungan ulayatlah yang
berhak memiliki hubungan dan hak perorangan yang kuat, baik secara individu,
keluarga maupun kelompok. Begitu pula hanya warga persekutuanlah yang yang
memiliki hak serta hubungan yang kuat terhadap tanah yang berada dalam
lingkungan tanah ulayat. Selanjutnya tentang syarat ketiga yaitu intensitas
penguasaan dan pengolahan tanah, artinya tanah yang secara terus menerus
diusahakan dan diolah sehingga memberikan hasil dan manfaat. Syarat ini
merupakan petunjuk bagi adanya sifat "menguncup mengembangnya" hubungan
ulayat dengan hak perorangan. Dengan diusahakan tanah secara terus menerus
dan hubungan penguasaan maupun pengolahan oleh seseorang ataupun keluarga
atas tanah, maka hubungan hak perorangan berkembang menjadi kuat dan penuh
sedangkan hubungan kewenangan ulayat mengucup dan menjadi bertambah
lemah begitupun sebaliknya.Meskipun demikian, hubungan kekuasaan dan
kewenangan ulayat, masih tetap meliputi dan menguasai hak perorangan yang
bersangkutan. Karena itu, bilamana ketiga syarat tersebut dibaikan, maka
hubungan hak perorangan atas tanah menjadi munguncup dan melemah atau
lenyap, tetapi sebaliknya hubungan kekuasaan ulayat pun menjadi berkembang
dan terpulihkan tanpa halangan apapun. 316

315

Ibid, hal. 29.


Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Op Cit, hal. 51.

316

Universitas Sumatera Utara

Atas dasar hubungan kewenangan dan kekuasaan ulayat maka


dikembangkan hak-hak perorangan maupun masyarakat atas tanah. Hak dan
kewenangan masyarakat atas tanah dapat dipilahkan menjadi tiga yaitu:
1. untuk mengatur dan menetapkan peruntukan serta penggunaan tanah
2. untuk mengendalikan penyimpangan atas peruntukan dan penggunaan tanah.
3. untuk memberikan tanah yang ditelantarkan kepada warga masyarakat lainnya
yang diakui berhak.
Sedangkan hak hak perorangan yang dapat lahir ada empat yaitu:
1. Hak untuk mengambil hasil hutan serta pengairan dalam lingkungan ulayat
2. Hak untuk menanam dan memiliki bangunan atas tanah ulayat
3. Hak untuk membuka tanah dan hutan
4.

Hak untuk mengalihkan hak atas tanah serta bangunan dan tanaman
diatasnya.
Adapun kedudukan hak penguasaan/ hak perorangan adalah merupakan

hak yang diciptakan berdasarkan kekuasaan masyarakat (ulayat). Hak ini tidak
bersifat abadi dan dikat oleh kekuasaan masyarakat. Ikatan mana bisa menjadi
kuat atau melemah bergantung pada lamanya penguasaan dan intensitas
pengolahan atas tanahnya. Lamanya waktu penguasaan itu biasanya dibuktikan
dengan adanya kewenangan meneruskan hak penguasaan berupa mewariskan
tanah kepada generasi penerus.

Universitas Sumatera Utara

Ter Haar 317 memberikan istilah hukum atas hubungan tersebut yang
disebutnya erfelijk individueele bezitsrecht (hak penguasaan. perorangan yang
diwariskan) dan diterjemahkan oleh S. Poesponoto menjadi "hak milik
perorangan turun-temurun" sehingga dapat dipersamakan dengan hak milik yang
sering di sebut sebagai "hak milik adat"
Pemberian hak-hak perorangan atas tanah yang dibebankan diatas hak
ulayat, oleh Ter Haar dilihat sebagai suatu perbuatan hukum sepihak dari
masyarakat terhadap hak ulayatnya. Perbuatan sepihak itu dilihatnya sebagai
memberi hak perorangan atas tanah ulayat yang dihisap dari hak ulayat. Oleh
karenanya perbuatan itu dilihat sebagai suatu perbuatan mengalihkan hak, suatu
"transaksi" hak atas tanah,yaitu hak ulayat ke hak perorangan. Dengan istilahnya
Ter Haar itu di sebut sebagai Grondtransaktie. 318
Untuk melaksanakan hak memakai dan memanfaatkan tanah ulayat, hakhak perorangan yang membebani tanah ulayat tetap tunduk pada asas hukum
tanah adat yang pertama dan utama yaitu : "didalam pemakaian dan pemanfaatan
tanah ulayat atas dasar hak perorangan, kekuasaan masyarakat yang bersumber
pada hak ulayatnya tidak hilang atau tersisihkan oleh hak-hak perorangan yang
membebaninya. Segala macam hak perorangan atas tanah ulayat tetap hanya
menumpang saja di atas hak ulayat" dengan asas ini berarti bahwa setiap macam
hak perorangan yang ada diatas tanah ualayat, tetap berada dalam pengaruh dan

317

Ibid, hal. 55

Universitas Sumatera Utara

pengawasan masyarakat sebagai pelaksana hak ulayat.


Dengan demikian setiap waktu masyarakat dapat mencampuri dalam
urusan pemakaian dan pemanfaatan hak perorangan yang bersangkutan bila
dalam pemakaian atau pemanfaatan hak perorangan oleh yang bersangkutan ada
hal-hal yang tidak sesuai atau berlawanan dengan prinsip-prinsip pemberian hak
perorangan tersebut.
Dalam sistem Hukum Adat, hak-hak pemakai dan pemanfaatan atas
tanah ulayat ada bermacam-macam. Berdasar pada pemakaian dan pemanfaatan,
ada hak-hak sebagai berikut: 319
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

hak kampung dan halaman


hak sawah, ladang atau empang
hak hutan
hak mengambil hasil
hak tanah kuburan
hak tanah lapang
hak tanah keramat dan tanah ibadah
hak pasar

Di dalam hukum tanah Adat ada berbagai macam hak perorangan atas
tanah yang kekuatan dan isinya berbeda-beda. Macam-macam hak perorangan
atas tanah dilihat dari kualitasnya masing-masing yang berlainan itu, dalam
pokoknya ada tiga macam yaitu
1. hak milik : menyangkut penguasaan atas tanah danga sifatnya yang kuat
dan terbanyak isi muatannya

318
Moh Koesnoe, Kapita Selekta Hukum Adat Suatu Pemikiran Baru, (Jakarta: varia Peradilan Ikatan
Hakim Indonesia, 2002), hal.110
319
Ibid

Universitas Sumatera Utara

2. hak pakai : hak yang isinya terbatas pada pemakaian tanah saja
3. hak ambil hasil : hak yang pada dasarnya tidak mengenai tanahnya, tetapi
hanya atas apa yang ada diatasnya. 320
Hak ulayat masih sangat kuat dan besar pengaruhnya atas hak
perorangan. Pengaruh hak ulayat atas hak perorangan tidak pernah lenyap
sama sekali sebab hak ulayat tetap meliputi dan mempengaruhinya sehinggga
pada saat hak itu diabaikan, maka kekuasaaan hak ulayat berlaku kembali
secara penuh.

320

Ibid

Universitas Sumatera Utara

BAB III
FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA SENGKETA HAK ATAS TANAH
ADAT DI KABUPATEN SIMALUNGUN
A. Pengertian Sengketa Pertanahan
1. Pengertian Sengketa Hukum Atas Tanah
Timbulnya sengketa hukum adalah bermula dari pengaduan sesuatu pihak
(orang/badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah baik
terhadap status tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan harapan dapat
memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan
yang berlaku.
Akan tetapi dari alasan-alasan tersebut di atas, sebenarnya tujuannya akan
berakhir kepada tuntutan bahwa ia adalah yang lebih berhak dari yang lain (prioritas)
atas tanah sengketa, oleh karena itu penyelesaian sengketa hukum terhadap sengketa
tersebut tergantung dari sifat/masalah yang diajukan sehingga prosesnya akan
memerlukan beberapa tahap tertentu sebelum diperoleh suatu keputusan.
Sifat permasalahan dari suatu sengketa secara umum ada beberapa macam,
antara lain :
a. Masalah/persoalan yang menyangkut prioritas untuk dapat ditetapkan sebagai
pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus hak, atau atas tanah yang belum
ada haknya.
b. Bantahan terhadap sesuatu alas hak/bukti perolehan yang digunakan sebagai dasar
pemberian hak (perdata).
c. Kekeliruan/kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang
kurang/tidak benar.
d. Sengketa/masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial praktis (bersifat
strategis).
Masalah berbeda dengan sengketa. Suatu masalah dapat bersifat teknis
semata-mata yang penyelesaiannya cukup berupa petunjuk-petunjuk teknis/instruksi
dinas yang biasanya merupakan cara pemecahan apabila sesuatu aparat pelaksanaan
menemukan kesulitan teknis peraturan. Ini adalah fungsi dari Bimbingan Teknis,
akan tetapi apabila yang mengajukan usul tersebut seorang warga masyarakat yang
merasa dirugikan oleh karena suatu penetapan seorang pejabat, misalnya : Seorang

Universitas Sumatera Utara

pemohon hak milik ternyata hanya dikabulkan dengan Hak Guna Bangunan atau hak
lain, maka ini adalah tugas Pelayanan Masyarakat yang merupakan fungsi
penyelesaian sengketa hukum/masalah hak-hak atas tanah.
2. Dasar-dasar dan Landasan Penyelesaian Sengketa Pertanahan
Sebagaimana diketahui Undang-undang Pokok Agraria (undang-undang No.5
Tahun 1960 LN.Tahun 1960 No.104) di dalam Pasal 2 (dua), mengenai Hak
Menguasai Negara atas Tanah telah diuraikan bahwa kewenangan-kewenangan dari
negara tersebut adalah berupa :
a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan
pemeliharaan buni, air dan ruang angkasa.
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang dengan
bumi, air dan ruang angkasa.
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang dengan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Dari wewenang tersebut di atas, walaupun secara tegas-tegas tidak diatur,
akan tetapi wewenang untuk memberikan sesuatu hak atas tanah adalah Negara
Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia yang dalam hal ini Menteri
Dalam Negeri Direktur Jenderal Agraria.
Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 kemudian menegaskan kembali
wewenang tersebut dimana di dalam penjelasan mengenai Uitwijzing Procedure
(Stb.1872 NO.118) mengenai penetapan hak atas tanah oleh Pengadilan Negeri
dinyatakan tidak berlaku lagi.
Akibat dari keadaan di atas, maka lengkaplah wewenang pemberian hak
tersebut dilakukan oleh pemerintah, sehingga setiap perselisihan maupun
persengketaan hak atas tanah merupakan pula sebagian dari tugas pemerintah di
dalam fungsi administrasi.
Sesuai dengan maksud dan tujuan Undang-undang Pokok Agraria, khususnya
mengenai usaha-usaha meletakkan dasar-dasar dalam rangka mengadakan kepastian
hukum atas tanah sebagaimana diatur dalam pasal 19, 23, 32 dan 38 yang
menghendaki agar pemerintah menyelenggarakan Pendaftaran Tanah yang bersifat
rechts kadaster dengan asas bahwa penguasaan saja terhadap suatu bidang tanah
belum merupakan jaminan bahwa orang tersebut atas tanahnya (nemo plus yuris).
Penggunaan lembaga rechtsverwerking sebagai instrumen penguat sistem
negatif, sifatnya paradoksal dengan asas hukum umum nemo plus yuris. Lembaga itu

Universitas Sumatera Utara

jelas tidak dapat menyelaraskan kedua kepentingan yang saling berhadapan, dan jika
diberlakukan secara imperatief akan melanggar hak asasi pemilik yang sebenarnya. 321
Kritikannya :
Proses interaksi sosial dalam rangka kegiatan pendaftaran tanah dapat
menjadi peluang timbulnya hubungan emosional antara aparat dan pemohon hak yang
menyebabkan penyimpangan aturan sehingga dapat melahirkan produk pendaftaran
cacat hukum.
Faktor lingkungan strategis, terefleksikan dalam berbagai kondisi seperti
belum tertibnya administrasi pemilikan tanah pada sasaran pemerintahan tingkat desa/
kelurahan sehingga basis data pemilikan tanah, maupun data pemilikan tanah objek
pajak hasil bumi pada institusi perpajakan.
Tingkat kesadaran hukum masyarakat di bidang pertanahan relatif masih
rendah, sangat berpengaruh bagi efektifitas penyelenggaraan pendaftaran tanah, dan
proses pendaftaran tanah memerlukan informasi dan kesaksian masyarakat. 322
Dari hal-hal tersebut di atas, maka bukan suatu hal yang mustahil, terbuka
kemungkinan timbulnya perselisihan/persengketaan hak baik materiil maupun secara
formal.
Beberapa ketentuan peraturan yang dapat digunakan sebagai landasan
operasional dari fungsi penyelesaian sengketa hukum atas tanah yaitu antara lain
Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 (LN.Tahun 1961 No.28) pasal 29 dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.6 Tahun 1972 (Pasal 12 dan 14) serta Surat
Keputusan Menteri Dalam Negeri No.72 Tahun 1981 jo.No.133 Tahun 1978.
Di samping terdapat beberapa petunjuk teknis mengenai penanganan sengketa
antara lain beberapa Surat Edaran Direktur Jenderal Agraria tanggal 4 Juli 1968
No.DDA 8/4/7/1968 ditegaskan kembali melalui Surat Edaran tanggal 14 Oktober
1981 No.Btu.10/271/10.81 mengenai penanganan perkara di Pengadilan dan Surat
Edaran tanggal 21 Maret 1974 No.BA.3/219/3/74 mengenai kebijaksanaan terhadap
proses penelitian, permohonan dan gugatan terhadap surat keputusan pemberian hak.
Dari hal-hal tersebut di atas, maka penyelesaian sengketa hukum yang
merupakan sebagian dari tugas-tugas yang harus dipikul oleh Direktur Jenderal
Agraria. Direktorat Pengurusan Hak-Hak Tanah, bukan hanya sekedar kewajiban
melainkan sudah merupakan kebutuhan teknis bagi aparatnya yang memerlukan
penanganan secara sungguh-sungguh melalui cara-cara, prosedur dan pola yang
konsisten.
3. Asas-asas yang harus diperhatikan dalam menyelesaiakan sengketa
tanah khususnya adalah asas penguasaan dan pemilikan tanah

321
322

Muchtar Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah, op cit, hal. 178-179
Ibid, hal 181-182.

Universitas Sumatera Utara

Asas-asas yang berlaku mengenai penguasaan dan pemilikan tanah dan


perlindungan yang diberikan oleh Hukum Tanah Nasional kita kepada para pemegang
hak atas tanah, sebagai hukumnya suatu negara yang berdasarkan atas hukum,
seperti yang ditegaskan dalam Penjelasan Undang-undang Dasar 1945, adalah :
a. Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah oleh siapapun dan untuk keperluan
apapun,harus dilandasi hak atas tanah yang disediakan oleh Hukum Tanah
Nasional kita;
b.

Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah tanpa ada landasan haknya, tidak
dibenarkan, bahkan diancam dengan sanksi pidana (Undang-undang Nomor
51/Prp tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Izin yang Berhak atau
Kuasanya);

c.

Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah yang berlandaskan hak yang


disediakan oleh Hukum Tanah Nasional, dilindungi oleh Hukum terhadap
gangguan oleh siapapun, baik oleh sesama anggota masyarakat maupun oleh
pihak penguasa/pemerintah sekalipun, jika gangguan tersebut tidak ada landasan
hukumnya;

d.

Bahwa oleh hukum disediakan berbagai sarana hukum untuk menanggulangi


gangguan yang ada :
1) Gangguan oleh sesama anggota masyarakat : gugatan perdata melalui
Pengadilan Umum atau meminta perlindungan Bupati/Walikotamadya sebagai
yang diatur oleh UU No. 51/Prp/1960 di atas;
2) Gangguan oleh Pengusaha: gugatan melalui Pengadilan Umum atau
Pengadilan Tata Usaha Negara;

Universitas Sumatera Utara

3) Bahwa dalam keadaan biasa, diperlukan oleh siapapun dan untuk keperluan
apapun (juga untuk proyek-proyek kepentingan umum) perolehan tanah yang
dikehendaki seseorang, haruslah melalui musyawarah untuk mencapai
kesepakatan bersama. Baik mengenai penyerahan tanahnya kepada pihak
yang memerlukan maupun mengenai imbalannya yang merupakan hak
pemegang hak atas tanah yang bersangkutan untuk menerimanya;
4) Bahwa sehubungan dengan apa yang tersebut diatas, dalam keadaan biasa,
untuk memperoleh tanah yang diperlukan tidak dibenarkan adanya paksaan
dalam bentuk apapun dan oleh pihak siapapun kepada pemegang haknya
untuk menyerahkan tanah kepunyaanya dan atau menerima imbalan yang
tidak disetujuinya;
5) Bahwa dalam keadaan yang memaksa, jika tanah yang bersangkutan
diperlukan untuk penyelenggaraan kepentingan umum, yang tidak mungkin
menggunakan tanah yang lain, dapat dilakukan pengambilannya secara paksa.
Dalam arti tidak memerlukan persetujuan pemegang haknya. Kemungkinan
dibuka oleh Undang-undang 20/1961 yang disebut di atas, dengan
menggunakan apa yang disebut acara pencabutan hak;
6) Bahwa dalam perolehan atau pengambilan tanah, baik atas dasar kesepakatan
bersama maupun melalui pencabutan hak, pihak yang empunya tanah berhak
memperoleh imbalan atau ganti kerugian;
7) Bahwa bentuk dan jumlah imbalan atau ganti kerugian tersebut haruslah
sedemikian rupa hingga bekas yang empunya tanah tidak mengalami

Universitas Sumatera Utara

kemunduran, baik dalam bidang sosial maupun pada tingkat ekonominya. Ini
merupakan suatu asas Universal, yang dinyatakan secara tegas dalam
Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah 39/1973 tentang Acara Penetapan
Ganti Kerugian oleh Pengadilan Tinggi sehubungan dengan Pencabutan Hakhak Atas Tanah dan benda-benda lain yang ada diatasnya. Pernyataan dalam
PP tersebut menunjukkan, bahwa dalam usaha memperoleh tanah untuk
penyelenggaraan kepentingan umum pun berlaku asas tersebut. Dalam
penentuan imbalan sebagai pengganti kerugian tidak ada perbedaan ukuran,
apakah

tanah

yang

bersangkutan

diperlukan

bagi

penyelenggaraan

kepentingan umum atau bukan.

B. Tipologi Sengketa Pertanahan


Tipologi sengketa pertanahan yang terjadi terkait dengan hak atas tanah
menurut Hukum Adat versus hak menguasai negara, hak-hak atas tanah menurut
UUPA maupun dengan hak atas kawasan hutan.
Sengketa adalah perbedaan pendapat mengenai 323 :
1. Keabsahan suatu hak;
2. Pemberian hak atas tanah;
3. Pendaftaran hak atas tanah termasuk peralihannya dan penerbitan tanda bukti
haknya, antara pihak-pihak yang berkepentingan maupun pihak-pihak yang
berkepentingan dengan instansi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional.
Sedangkan pihak-pihak yang berkepentingan adalah pihak-pihak yang merasa

323

Rusmadi Murad, Menyingkap Tabir Masalah Pertanahan, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hal. 77-

82.

Universitas Sumatera Utara

mempunyai hubungan hukum dengan bidang tanah tertentu atau pihak lain
yang kepentingannya terpengaruh oleh status hukum tanah tersebut.
Masalah yang paling mendasar yang dihadapi di bidang pertanahan adalah suatu
kenyataan bahwa persediaan tanah yang selalu terbatas, sedangkan kebutuhan
manusia akan tanah selalu meningkat.
Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tanah, adalah :
1. Pertumbuhan penduduk,
2. Meningkatnya kebutuhan penduduk akan ruang sebagai akibat peningkatan
kualitas hidup,
3. Meningkatnya fungsi kota terhadap daerah sekitarnya,
4. Terbatasnya persediaan tanah yang langsung dapat dikuasai atau
dimanfaatkan,
5. Meningkatnya pembangunan 324.
Maria S.W. Sumardjono menyatakan bahwa peta permasalahan tanah dapat
dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu:
1.
Masalah penggarapan rakyat atas tanah di areal kehutanan,
perkebunan, dan lain-lain,
2. Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan landreform,
3.
Ekses-ekses dalam penyediaan tanah untuk keperluan pembangunan
dan,
4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah 325.
Dari aspek substansinya, sengketa pertanahan dapat diidentifikasi antara lain
sebagai berikut:
1.
Sengketa tanah yang berkaitan dengan peralihan hak atas tanah, yaitu
jual beli, tukar-menukar, hibah, lelang dan pewarisan.
2. Sengketa tanah yang berkaitan dengan hak atas tanah sebagai jaminan
utang.
3.
Sengketa tanah yang berkaitan dengan sewa-menyewa tanah
4. Sengketa tanah yang berkaitan dengan hak atas tanah yang bersifat
sementara, yaitu hak gadai (gadai tanah), hak usaha bagi hasil (perjanjian
bagi hasil), hak menumpang dan hak sewa tanah pertanian.
5.
Sengketa tanah yang berkaitan dengan penerbitan sertifikat hak atas
tanah.
6.
Sengketa tanah yang berkaitan dengan hak ulayat.

324

Rusmadi Murad, Administrasi Pertanahan Pelaksanaan Dalam Praktek, (Bandung: Mandar Maju,

1997), hal.8.
325

Maria S.W Sumardjono, Kebijakan Pertanahan, op cit , hal. 170.

Universitas Sumatera Utara

7. Sengketa tanah yang berkaitan dengan pengambilan tanah hak untuk


kepentingan Pemerintah maupun Perusahaan swasta
8. Sengketa tanah yang berkaitan dengan status hak atas tanah yang ada di
kawasan perkebunan, kehutanan, pengairan atau pertambangan.
Tipologi Sengketa menyangkut :
a. Sengketa Penguasaan dan Pemilikan
b. Sengketa Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah
c. Sengketa Batas Bidang Tanah
d. Sengketa Ganti Rugi Eks Tanah Partikelir
e. Sengketa Tanah Ulayat
f. Sengketa Tanah Obyek Land Reform
g. Sengketa Tanah eks Tanah Swaparja (Kesultanan)
h. Sengketa Kawasan
i. Sengketa Pewarisan
j. Sengketa Tumpang Tindih Perijinan Penggunaan dan Pemanfaatan
k. Sengketa Alokasi dan Pemanfaatan Ruang
l. Sengketa Pelaksanaan Putusan Pengadilan
m. Sengketa Tanah Nasionalisasi Badan Hukum Belanda
n. Sengketa Tanah Eks Milik Belanda (Perorangan dan Badan Hukum)
o. Sengketa Tanah Aset Bekas Milik Asing / Cina Terlarang
p. Sengketa Tanah Konversi Eks Hak Barat 326
Pihak Pihak Yang Bersengketa :
a. Orang dengan orang
b. Perorangan dengan Badan Hukum
c. Perorangan dengan Instansi Pemerintah
d. Perorangan dalam Kekerabatan
e. Perorangan dengan Masyarakat / Adat
f. Masyarakat Adat dengan Masyarakat Adat
g. Masyarakat dengan Masyarakat
h. Masyarakat dengan Badan Hukum
i. Masyarakat dengan Instansi Pemerintah
j. Badan Hukum dengan Badan Hukum
k. Badan Hukum dengan Instansi Pemerintah
l. Badan Hukum dengan Masyarakat Adat
m. Instansi Pemerintah dengan Masyarakat Adat
n. Instansi Pemerintah dengan Instansi Pemerintah 327

326
327

Yamin, Model Kebijakan Penyelesaian Konflik Tanah, op cit, 26 Juni 2012, hal. 41
ibid

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan hasil analisa terhadap permasalahan pertanahan, tipologi sengketa


pertanahan, pada umumnya berkaitan dengan HGU di Sumatera Utara dapat
dipaparkan sebagai berikut 328 :
a. Sengketa penguasaan dan pemilikan tanah-tanah perkebunan, ditandai
dengan tuntutan rakyat atas tanah bekas garapan pada areal perkebunan
dengan dasar bukti alas hak yang diterbitkan pejabat terdahulu, yang diikuti
dengan pendudukan dan penggarapan tanah-tanah perkebunan yang telah
dilekati Hak Guna Usaha, baik yang masih berlaku maupun yang akan/
sudah berakhir haknya.
b. Sengketa prosedur penetapan hak dan pendaftaran tanah, ditandai dengan
proses penelitian tanah oleh Panitia B yang menemukan adanya tuntutan/
garapan masyarakat dan juga penggarapan tanah pada areal perkebunan,
namun karena tuntutan/ garapan tersebut tidak ditemukan dasar alas hak
yang kuat, maka diterbitkan keputusan penetapan haknya dengan ketentuan
apabila masih ada penggarapan di lapangan agar diselesaikan oleh
penerima hak, kenyataannya, penggarap belum diselesaikan lalu diterbitkan
sertifikat HGU-nya, belakangan masyarakat kembali mengajukan tuntutan.
c. Sengketa batas/ letak bidang tanah, ditandai dengan adanya hasil pengukuran
secara fotogrametris di masa lalu, setelah dilakukan pengukuran secara
teristris pada batas bidang tanah yang sama, maka ditemukan kelebihan
luas, masyarakat menganggap tanah kelebihan luas tersebut adalah tanah
rakyat.
d. Sengketa tanah ulayat, ditandai dengan tuntutan masyarakat/ organisasi
adat etnis tertentu dengan mengklaim seluruh tanah perkebunan merupakan
tanah hak tradisional etnisnya yang dahulu diberikan pengetua adat/ Sultan
kepada perusahaan perkebunan asing dengan akta perjanjian/ konsesi.
e. Sengketa Obyek landreform, hal ini ditandai dengan setiap pengeluaran
tanah perkebunan ditegaskan menjadi obyek landreform, akibat
pendistribusian di masa lalu, kembali dipermasalahkan mengenai subyek
dan obyek landreform.
f. Sengketa pelaksanaan putusan pengadilan ditandai dengan adanya putusan
pengadilan dengan pihak yang berperkara antar warga/ kelompok
masyarakat di atas tanah perkebunan yang dalam proses pemeriksaannya
tidak mengikutsertakan perusahaan perkebunan sebagai salah satu pihak.
Sengketa pertanahan yang sudah dan sedang berlangsung dan mungkin tetap
akan berlangsung bila tidak dicarikan jalan keluarnya yang obyektif, dapat
dikelompokan menjadi beberapa pola atau tipologi.

328

Kanwil BPN Provsu, Seminar Hukum Konflik Pertanahan di Sumatera Utara, DPC IKADIN

Universitas Sumatera Utara

Berbagai jenis sengketa yang pernah atau sedang ditangani oleh Badan
Pertanahan Nasional (BPN), antara lain adalah sebagai berikut :
a. Sengketa di atas tanah perkebunan. Para pihak adalah masyarakat (termasuk
masyarakat adat) vs Badan Hukum (PTPN/perkebunan swasta) dengan
tuntutan pembatalan HGU, pengembalian tanah dan ganti rugi kerugian.
b. Sengketa di atas tanah yang termasuk kawasan hutan. Para pihak adalah
masyarakat (termasuk masyarakat adat) vs instansi kehutanan dengan
tuntutan permohonan hak atas tanah yang masih terdaftar sebagai kawasan
hutan atau tuntutan pengembalian tanah masyarakat adat.
c. Sengketa di atas tanah yang telah dibebaskan oleh pengembang untuk
perumahan/perkantoran/kawasan industri, dan lain-lain. Para pihak adalah
masyarakat vs pengembang dengan tuntutan pembatalan Hak Guna
Bangunan (HGB) atas nama pengembang.
d. Sengketa di atas tanah obyek landreform. Para pihak adalah penggarap
bukan penerima redistribusi vs penerima redistribusi obyek landreform atau
penggarap bukan penerima redistribusi vs badan hukum.
e. Berbagai sengketa di atas tanah bekas tanah partikelir ex UU No. 1/1958.
Para pihak adalah ahli waris bekas pemilik tanah partikelir vs pengembang
atau ahli waris bekas pemilik tanah partikelir vs masyarakat dengan tuntutan
pembatalan HGB pengembang atau pengendalian tanah.
f. Sengketa di atas tanah bekas hak barat. Para pihak adalah masyarakat vs
masyarakat dengan tuntutan pembatalan hak asal konversi hak barat.
g. Sengketa di atas tanah yang dikuasai oleh ABRI (TNI AD, TNI AL, TNI AU).
Para pihak adalah masyarakat vs pihak TNI dengan tuntutan pengembalian
tanah dan pemberian hak kepada masyarakat, bila TNI memerlukannya agar
memberikan ganti kerugian kepada masyarakat.
h. Sengketa antara masyarakat dengan PT KAI, PT Pelindo, dan lain-lain,
dengan tuntutan pemberian hak atas tanah kepada masyarakat.
i. Sengketa-sengketa lain terkait dengan pendaftaran tanah yang berasal dari
tumpang tindih girik dan eigendom, tumpang tindih girik, dan konflik yang
berasal dari pelaksanaan putusan pengadilan. 329
Di samping tipologi sengketa tersebut di atas, pernah disusun pola sengketa
agraria oleh KPA, yang ruang lingkupnya lebih luas dibandingkan dengan tanah,
sebagai berikut :
a. Sengketa agraria karena penetapan fungsi tanah dan kandungan hasil bumi
serta beragam tanaman dan hasil di atasnya sebagai sumber-sumber yang
akan dieksloitasi secara massif.
MEDAN, Balai Raya Tiara Convention Hall- Medan, 21 April 2012
329
Maria S.W Sumardjono, Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi,op cit, hal.109.

Universitas Sumatera Utara

b. Sengketa agraria akibat program swasembada beras yang pada praktiknya


mengakibatkan penguasaan tanah terkonsentrasi di satu tangan dan
membengkaknya jumlah petani tak bertanah, serta konflik-konflik yang
bersumber pada keharusan petani untuk menggunakan bibit-bibit unggul
maupun masukan-masukan non organik seperti pestisida, pupuk urea dan
sebagainya.
c. Sengketa agraria di areal perkebunan, baik karena pengalihan dan
penerbitan HGU maupun karena pembangunan Perkebunan Inti Rakyat
(PIR) dan program sejenisnya seperti, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI).
d. Sengketa akibat penggusuran-penggusuran di atas lahan yang hendak
dimanfaatkan untuk industri pariwisata, real estate, kawasan industri,
pergudangan, pembangunan pabrik dan sebagainya.
e. Sengketa agraria akibat penggusuran-penggusuran dan pengambilalihan
tanah-tanah rakyat untuk pembangunan sarana-sarana yang dinyatakan
sebagai kepentingan umum maupun kepentingan keamanan.
f. Sengketa akibat pencabutan hak rakyat atas tanah karena pembangunan
taman nasional atau hutan lindung, dan sebagainya yang
mengatasnamakan kelestarian lingkungan.
g. Sengketa akibat penutupan akses masyarakat untuk memanfaatkan sumbersumber agraria nontanah (perairan, udara, dan isi perut bumi) dan
menggantikannya dengan hak-hak pemanfaatan terbatas untuk sekelompok
kecil orang atau perusahaan tertentu meskipun sumber-sumber agraria
tersebut berada dalam kawasan yang selama ini menjadi bagian dari
kawasan tenurial lokal dari masyarakat setempat atau merupakan kawasan
bebas. 330
Dalam perkembangannya, berdasarkan data yang terekam oleh Resource Center
KPA tahun 2001, macam atau jenis sengketa berdasarkan peruntukannya sebagai
akibat putusan pejabat publik adalah sebagai berikut :
Badan Pertanahan Nasional (BPN) membagi permasalahan pertanahan dalam
8 (delapan) kelompok besar, yaitu :

Universitas Sumatera Utara

Tabel 5
Permasalahan Pertanahan oleh BPN
Jenis Sengketa
Jumlah

No.

1.

Perkebunan

344

19,6

2.

Sarana Umum/Fasilitas Perkotaan

243

13,9

3.

Perumahan/Kota Baru

232

13,2

4.

Kehutanan Produksi

141

8,0

5.

Kawasan Industri/Pabrik

115

6,6

6.

Bendungan/Pengairan

77

4,4

7.

Turisme/Hotel/Resort

73

4,2

8.

Pertambangan

59

3,4

9.

Sarana Militer

47

2,7

10.

Kehutanan Konservasi/Lindung

44

2,5

11.

Pertambakan

36

2,1

12.

Sarana Pemerintah

33

1,9

13.

Perairan

20

1,1

14

Transmigrasi

11

0,6

15.

Lain-lain

278

15,9

1.753

100

Jumlah Seluruh Sengketa

Sumber : Diolah dari Data Base Konflik Agraria KPA, entry due to Dec 30,
2001
a.
b.
c.
d.

Masalah/sengketa tanah perkebunan.


Masalah penggarapan tanah kawasan hutan oleh masyarakat.
Masalah yang berkaitan dengan putusan pengadilan oleh pihak yang kalah.
Masalah permohonan pendaftaran yang berkaitan dengan tumpang tindih
hak sengketa batas.

330

Dianto Bachriadi, Sengketa Agraria dan Perlunya Menegakkan Lembaga Peradilan yang Independen,
dalam Usulan Revisi UUPA, (Jakarta: KRHN-KPA,1998), hal.110.

Universitas Sumatera Utara

e. Masalah berkaitan dengan pendudukan tanah/atau tuntutan ganti rugi


masyarakat atas tanah-tanah yang telah dibebaskan oleh pihak swasta untuk
berbagi kegiatan.
f. Masalah yang berkaitan dengan klaim sebagai tanah ulayat.
g. Masalah yang berkaitan dengan tukar menukar tanah bengkok desa yang
telah menjadi kelurahan.
h. Masalah-masalah lainnya, seperti sengketa dari pemanfaatan lahan tidur dan
tanah terlantar. 331
Secara garis besar, tipologi sengketa pertanahan dapat dipilah menjadi lima
kelompok, yakni :
a. Kasus-kasus berkenaan dengan penggarapan atau pendudukan rakyat atas areal
perkebunan, kehutanan, dan tanah-tanah yang dikuasai BUMN, ABRI (TNI AD,
TNI AL, TNI AU);
b. Kasus-kasus berkenaan dengan pelanggaran peraturan landreform;
c. Kasus-kasus berkenaan dengan ekses-ekses dalam penyediaan tanah untuk
pembangunan;
d. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah;
e. Sengketa berkenaan dengan tanah ulayat.
Tanpa mengurangi arti penting kelima pola sengketa pertanahan tersebut di
atas, diperlukan perhatian berkenaan dengan sengketa tanah ulayat karena dinamika
perkembangannya yang diawali dengan terbitnya UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi
Manusia.
Hak ulayat sebagai salah satu wujud hak-hak adat dihormati dan dilindungi oleh
berbagai konvensi internasional maupun berbagai peraturan perundang-undangan
dalam ruang lingkup nasional maupun regional.
Pengakuan dan penghormatan atas tanah ulayat, dalam peraturan perundangundengan dalam lingkup nasional, regional maupun lokal, dapat diduga akan
menimbulkan peluang terjadinya sengketa berkenaan dengan tanah ulayat baik antara
masyarakat adat maupun antara masyarakat adat dengan pihak-pihak yang akan
memanfaatkan tanah ulayat yang bersangkutan. Oleh karena itu, perhatian

331

Badan Pertanahan Nasional, 2003.

Universitas Sumatera Utara

secukupnya harus diberikan terhadap jalan keluar untuk menyelesaikan atau paling
tidak meminimalkan sengketa berkenaan dengan tanah ulayat tersebut.
Sengketa pertanahan yang timbul dewasa ini, pada umumnya dapat
diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok sebagai berikut :
1). Sengketa pertanahan yang bersifat politis
Sengketa pertanahan yang bersifat politis biasanya ditandai dari hal-hal
sebagai berikut :
1). Melibatkan masyarakat banyak.
2). Menimbulkan keresahan dan kerawanan masyarakat.
3). Menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban.
4). Menimbulkan ketidak-percayaan kepada pemerintah/ penyelenggara Negara.
5). Mengganggu penyelenggaraan pembangunan nasional, serta menimbulkan
bahaya disintegrasi bangsa.
Sengketa yang bersifat politis ini biasanya tidak didasarkan pada alasanalasan hukum melainkan dengan memanfaatkan isu-isu populis sehingga terbentuk
opini masyarakat yang mengarah pada ketidak-percayaan masyarakat kepada
pemerintah. Keadaan seperti ini lebih lanjut akan melahirkan gangguan-gangguan
sosial, politik, ekonomi maupun keamanan. Meskipun demikian sengketa-sengketa
yang tidak bersifat politis pun apabila tidak ditangani secara adil dapat berkembang
menjadi sengketa yang bersifat politis.
Sengketa yang bersifat politis tersebut antara lain disebabkan :
1). Eksploitasi dan dramatisasi ketimpangan-ketimpangan keadaan penguasaan dan
pemilikan tanah di dalam masyarakat, dan
2). Tuntutan keadilan dan keberpihakan pada golongan ekonomi lemah.
Manifestasi dari bentuk sengketa yang bersifat politis di atas, dilakukan dalam
bentuk unjuk rasa, penekanan-penekanan kepada institusi pemerintah dengan melalui
institusi yang dirasakan dapat menyalurkan aspirasi masyarakat seperti lembaga
swadaya masyarakat, lembaga perwakilan rakyat, Komisi Nasional HAM, Komisi
Ombudsman bahkan sampai ke lembaga kepresidenan.
Bentuk-bentuk sengketa pertanahan yang bersifat strategis antara lain :
1). Tuntutan pengembalian tanah (reclaiming action) sebagai akibat pengambilan
tanah pada jaman pemerintahan kolonial.
2). Tuntutan pengembalian tanah garapan yang kini dikuasai pihak lain.
3). Penyerobotan tanah-tanah perkebunan.
4). Pendudukan tanah-tanah asset instansi pemerintah.
5). Tuntutan pemberian hak atas tanah bekas tanah partikelir yang diduduki rakyat.
6). Tuntutan pengembalian tanah atau tuntutan ganti rugi sebagai akibat kebijakan
pembebasan tanah untuk pembangunan di masa lalu.
7). Tuntutan penguasaan tanah oleh masyarakat hukum adat atas tanah ulayat di
wilayahnya.

Universitas Sumatera Utara

8).

Tuntutan pengembalian tanah yang dikuasai rakyat dalam skala besar yang
diambilalih oleh pihak tertentu.
9). Tuntutan redistribusi tanah yang terkena obyek landreform.
10). Tuntutan atas proses perolehan hak tanah yang tidak mempertimbangkan
ketersediaan tanah bagi masyarakat atau kepentingan masyarakat disekitarnya.
11). Tuntutan pengembalian tanah yang penggunaannya tidak sesuai dengan ijin
lokasi.
12). Masalah tanah milik warganegara Belanda yang terkena ketentuan Undangundang No. 3 Tahun 1960.
13). Masalah tanah milik organisasi terlarang.
14). Masalah-masalah yang timbul sebagai akibat dari kegiatan pengadaan tanah
untuk pembangunan dalam skala besar.
15). Dan sebagainya.
Terhadap bentuk sengketa pertanahan yang bersifat strategis pada sub bab 5),
sengketa tanah bekas milik partikelir.
Banyak terjadi sengketa atas tanah bekas milik partikelir seperti di Kabupaten
Simalungun. Sengketa-sengketa yang terjadi itu adalah akibat terjadinya mutasi
(pergantian) penguasa tanahnya yang tidak diikuti dengan penyelesaian administratif,
bahkan sering terjadi pemegang hak semula sudah tidak diketahui lagi. Dari segi
administrasi pajak dapat terjadi terhadap sebidang tanah yang sudah berkali-kali
mengalami perubahan obyek pajak, tetapi dari segi hukum belum terjadi pergantian
pemegang haknya sebagaimana diatur dalam PP No.10 tahun 1961 tentang
Pendaftaran Tanah yang telah diubah dengan PP No.24 tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah. Masalah ini mengakibatkan tidak adanya suatu kepastian dari segi
hukum.
Hal yang sama juga sering terjadi terhadap tanah-tanah yang melebihi batas
luas maksimum dan tanah-tanah absentee yang didistribusikan tahun 1960, yang
ternyata baru dilakukan pembayaran ganti-ruginya sejak tahun 1980.
Berdasarkan UU No.1 Tahun 1958 tentang penghapusan tanah partikelir dan
diikuti dengan pembayaran ganti-rugi kepada pemiliknya terlalu lama sejak
dikelurkannya UU tsb, yaitu baru sekitar th 1980 (sampai saat ini). Jangka waktu
tersebut terlalu lama mengendapkan masalah ganti-rugi yang akibatnya belakangan
ini juga masih dirasakan dan erat kaitannya dengan perubahan harga tanah yang
dalam waktu yang begitu lama itu.
Akibat dari kondisi yang disebutkan di muka adalah terjadinya komplikasi
yang akhirnya menimbulkan sering terjadinya manipulasi dalam bidang pertanahan
antara lain munculnya sertifikat palsu, sertifikat aspal (asli tapi palsu), dan sertifikat
ganda. Ketiga jenis manipulasi tersebut telah banyak terjadi di masyarakat, padahal
sertifikat tanah adalah bukti hak atau alat pembuktian pemilikannya, sehingga
merupakan dokumen yang sangat bernilai. Pemalsuan-pemalsuan semacam itu

Universitas Sumatera Utara

sebenarnya sudah masuk ke wilayah perbuatan kriminal seperti halnya juga terhadap
pemalsuan uang, paspor atau ijazah. 332
2). Sengketa pertanahan beraspek sosial-ekonomis
Masalah ini timbul sebagai akibat ketimpangan dan kecemburuan sosial dalam
pemilikan tanah antara masyarakat dengan pemilik tanah luas (perusahaan). Adanya
ketimpangan tersebut secara tajam dapat mendorong aksi masyarakat untuk
menyerobot tanah yang bukan miliknya. Hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat
akan tanah untuk mendukung penghidupannya. Penyerobotan juga sering terjadi pada
tanah-tanah kosong atau tanah-tanah yang terlantar.
Faktor-faktor pendorong timbulnya penyerobotan tanah disamping adanya
kesenjangan sosial-ekonomi juga karena pihak pemilik tanah yang tidak
memperhatikan kewajibannya. Berdasarkan ketentuan dasarnya, setiap pemegang hak
dibebani dengan kewajiban-kewajiban tertentu yang haris dilaksanakan antara lain :
a. Mengusahakan tanahnya secara aktif.
b.

Menambah kesuburan dan mencegah kerusakan tanah.

c.

Menjaga batas-batas tanah.

d.

Mengusahakan tanahnya sesuai dengan peruntukannya.

Tidak dipenuhinya kewajiban tersebut dapat mengundang masuknya pihakpihak yang tidak berhak untuk menguasai tanah dimaksud. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya sengketa antara pemilik tanah dengan pihak-pihak yang menguasai secara
tidak berhak tersebut.
Sengketa tersebut tidak hanya disebabkan kurang adanya pemerataan
penguasaan dan pemilikan tanah, melainkan dapat juga disebabkan kurang
tersedianya lapangan kerja. Sementara kebutuhan dalam kehidupan sosial menuntut
untuk dipenuhi, maka pendudukan tanah secara tidak sah merupakan keterpaksaan
yang dilakukan.
3) Sengketa pertanahan yang bersifat keperdataan
Sengketa ini berkaitan dengan hak-hak keperdataan, baik oleh subyek hak
maupun oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap obyek haknya (tanah).
Adapun yang menjadi pokok permasalahan berkaitan dengan kepastian hak atas
tanahnya.
Sebagaimana diketahui bahwa proses penetapan suatu hak atas tanah, termasuk
penerbitan surat keputusan dan sertifikatnya, sangat tergantung pada data fisik dan
data yuridis yang disampaikan pihak yang menerima hak kepada Badan Pertanahan
Nasional. Apabila data yang disampaikan mengandung kelemahan-kelemahan, maka
332

Soni Harsono : Pokok-pokok Kebijaksanaan Bidang Pertanahan dalam Pembangunan Nasional,


dalam Analisis CSIS, hal. 94.

Universitas Sumatera Utara

demikian pula kualitas kepastian hukum mengenai hak atas tanah akan mengandung
kelemahan yang pada suatu saat dapat dibatalkan apabila terbukti cacat administrasi
maupun cacat hukum.
Sistem publikasi pendaftaran tanah di Indonesia yang menganut stelsel negatif
yang bertendens positif, tidak memungkinkan untuk memberikan jaminan kepastian
hukum secara mutlak. Jaminan kepastian hukum dimaksud hanya ada apabila data
fisik dan dan data yuridis yang tercantum di dalam buku tanah, sertifikat dan daftardaftar isian lainnya, sesuai dengan kenyataannya di lapangan. Oleh karena itu, suatu
hak atas tanah masih terbuka untuk dibatalkan, baik berdasarkan putusan badan
peradilan maupun berdasarkan kenyataan yang sebenarnya di lapangan. Dengan
demikian maka keabsahan atas hak sebagai dasar penetapan suatu hak tanah sangat
penting dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum.
Meskipun menganut stelsel negatif, tidak berarti dalam memproses suatu hak,
Badan Pertanahan Nasional bersikap pasif. Dalam rangka pelaksanaan asas-asas
umum pemerintahan yang baik, proses penerbitan hak selalu dilakukan dengan
standar ketelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan jalan dilakukan
penelitian riwayat tanah, penetapan batas secara contradictoire delimitatie,
diumumkan serta dibukanya kesempatan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk
menyampaikan keberatan.
4) Sengketa pertanahan yang bersifat administratif
Administrasi atau administrasi negara (sebagaimana diuraikan Prajudi
Atmosudirdjo), dalam Ilmu Hukum pada hakikatnya adalah sebagai aparatur negara
yang digerakkan oleh pemerintah guna menyelenggarakan Undang-undang,
kebijaksanaan-kebijaksanaan, kehendak-kehendak dari pemerintah yang berfungsi dan
bergerak melalui proses tata kerja penyelenggaraan atau proses teknis.
Perbuatan administrasi negara dalam menyelenggarakan kehendak pemerintah
yang dimaksud adalah :
1)

Perbuatan Administrasi Negara

Kegiatan-kegiatan administrasi negara tersebut dapat berupa perbuatanperbuatan administrasi biasa (non-yuridis) atau perbuatan-perbuatan hukum
administrasi (yuridis) yang secara langsung menciptakan akibat-akibat hukum.
Selanjutnya disini yang dibicarakan hanya terbatas kepada perbuatan-perbuatan
hukum (rechtshandeling) administrasi saja, yaitu yang berupa :
a) Penetapan
b)

Rencana (plan)

c)

Norma Jabaran (concreete normgiving)

Universitas Sumatera Utara

d)

Legislasi semu (pseudo wetgiving)

Dimana biasanya orang awam sehari-hari menyebut keempat macam hukum


tersebut dengan istilah keputusan pemerintah saja.
ad. a) Penetapan (beschiking)
Penetapan adalah merupakan perbuatan hukum sepihak yang bersifat
administrasi negara yang dilakukan oleh pejabat atau instansi yang berwenang dan
berwajib khusus untuk itu.
Penetapan yang dimaksud disini terbatas pengertiannya, hanya kepada
penetapan yang dibuat oleh badan administrasi negara, oleh karena badan yudikatif
(pengadilan) maupun legislatif juga mengeluarkan penetapan-penetapan misalnya
Penetapan Waris, Wali dan sebagainya.
Secara formil maka bentuk penetapan ini biasanya disusun secara tertulis di
dalam wujud Surat Keputusan (SK/SKEP). Suatu penetapan atau keputusan
administrasi negara dilihat dari segi isi/amarnya, dapat bersifat negatif yaitu apabila
berisi penolakan terhadap suatu permohonan, atau yang bersifat positif yaitu yang
biasanya mengandung hal-hal yang menguntungkan.
Penetapan ini adalah berupa :
(1) Penetapan yang menciptakan keadaan hukum baru yang terbatas kepada suatu
objek tertentu saja. (Misalnya Penetapan Menteri yang menegaskan status
daripada tanah partikulir UU No. 1 Tahun 1958, menjadi tanah negara).
(2) Penetapan yang menciptakan keadaan hukum (rechtstoestand) baru secara
umum (misalnya penetapan berlakunya undang-undang suatu wilayah)

Universitas Sumatera Utara

(3) Penetapan yang membentuk/menciptakan atau membubarkan suatu badan


hukum (misalnya Keputusan Menteri yang menetapkan badan-badan hukum
tertentu saja yang dapat berusaha di bidang real estate, penunjukkan badan
hukum tertentu yang dapat mempunyai hak milik atas tanah, PP No. 38 Tahun
1963).
(4) Penetapan yang membebani kewajiban tertentu kepada suatu badan,
perorangan (misalnya Surat Keputusan yang mewajibkan untuk membayar
sejumlah uang pemasukan dalam rangka pemberian hak-Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 1 tahun 1975, Surat Keputusan kesediaan Pemerintah
untuk membayar sejumlah ganti rugi atas tanah yang telah ditegaskan terkena
Undang-undang No. 1 Tahun 1958).
(5) Penetapan yang memberikan keuntungan kepada suatu instansi, badan,
perusahaan atau perorangan yang biasanya berbentuk :
(a) Dispensasi

yaitu penetapan yang bersifat declaratoir yang


menyatakan suatu peraturan tidak berlaku terhadap
kasus yang dimohon, misalnya Surat Keputusan
untuk memberikan keringanan/ pembebasan uang
pemasukan.
(b) Izin (vergunning): yaitu yang merupakan dispensasi dari suatu Larangan
peraturan pemohon memenuhi syarat-syarat untuk
izin untuk menggunakan tanah/menguasai sebidang
tanah.
(c) Lisensi sama dengan izin yang biasanya diberikan untuk usaha-usaha
yang bersifat komersial.

Universitas Sumatera Utara

(d) Konsepsi

suatu penetapan yang di dalamnya terkandung


dispensasi,

izin-izin,

lisensi-lisensi

dan

lain

sebagainya dalam suatu paket. Konsensi ini tidak


mudah diberikan oleh karena erat hubungannya
dengan kelestarian dan pemeliharaan lingkungan
hidup, misalnya konsensi pertambangan, konsensi
hutan dan lain sebagainya.
ad.b) Rencana (plan)
Rencana adalah merupakan suatu perbuatan hukum sepihak dari administrasi
negara yang menciptakan hubungan hukum antara penguasa dan warga masyarakat
yaitu berupa seperangkat tindakan-tindakan terpadu dengan tujuan agar tercipta suatu
keadaan yang tertib apabila tindakan tersebut nanti direalisasi. Tindakan-tindakan
tersebut misalnya suatu perizinan mendirikan bangunan serta penggunaan tanah di
suatu kawasan.
Asas hukum dari suatu rencana adalah bahwa semua pihak/warga masyarakat
yang terkena rencana, wajib diajak musyawarah sekurangkurangnya didengarkan
pendapatnya

atau

lebih

kurang

lagi

mereka

mengetahui

apa

yang

ditentukan/dimaksudkan oleh pemerintah terhadap tanah/kawasan di sekitar tanahnya


(asas legitimasi). Seorang pemilik tanah tidak hanya harus mengetahui, tapi
sebaiknya juga mengerti mengapa pemerintah menetapkan peruntukkanya, yang
lazim kita ketahui adalah misalnya rencana tata kota, rencana penggunaan tanah (land
use plan), rencana tata wilayah dan lain-lain.

Universitas Sumatera Utara

ad.c) Norma jabaran (concreete normgiving)


Norma jabaran adalah suatu perbuatan hukum (rechtshandeling) administrasi
negara dengan maksud agar suatu ketentuan undang-undang mempunyai isi yang konkret
dan praktis guna diterapkan menurut keadaan, waktu dan tempat.
Norma jabaran bukan merupakan penetapan (beschikking), melainkan sarana
agar suatu ketentuan umum perundang-undengan dapat diterapkan dalam praktek.
Contoh yang menonjol dalam penjabaran ini adalah dalam bentuk Surat
Edaran (SE) atau surat Instruksi Dinas (SID). Oleh karena merupakan suatu
perbuatan hukum, maka akibatnya adalah mengikat kepada pihak yang bersangkutan,
badan administrasi negara sendiri dan mempunyai sangsi hukum.
ad.d) Legislasi Semu
Legislasi semu adalah penciptaan hukum oleh pejabat administrasi negara yang
berwenang yang dimaksudkan sebagai garis-garis pedoman kebijaksanaan (policy)
untuk menjalankan suatu ketentuan undang-undang.
Disebut semu di sini oleh karena undang-undang adalah merupakan produk
dari badan legislatif, sedangkan policy pelaksanaannya ketentuan undang-undang ini
adalah dipunyai oleh administrasi negara, maka oleh karena itu disebut juga dengan
Hukum Bayangan dari undang-undang yang bersangkutan.
Legislasi semu hanya mengikat langsung kepada pelaksananya (para pejabat)
berdasarkan instruksi atau perintah atasan (dari sifatnya adalah intern) walaupun
secara tidak langsung, mengikat juga warga masyarakat yang berkepentingan.

Universitas Sumatera Utara

Atas hal tersebut di atas, maka hakim pengadilan tidak terikat pada ketentuan
legislasi tersebut, oleh karena aturan-aturan tersebut bukan merupakan hukum
(contohnya adalah pedoman pelaksana P3MB, Instruksi Pedoman Pelaksanaan
KEPPRES No. 32 Tahun 1979 dan lain-lain).
Dari uraian di atas sebenarnya kewenangan administrasi negara untuk
membuat peraturan tersebut adalah :
a). Undang menjabarkan secara normatif ketentuan-ketentuan undang-undang
menjadi peraturan-peraturan.
b). Interpretasi (penafsiran) pasal-pasal undang-undang yang dijadikan peraturan atau
instruksi dinas.
c). Penetapan/penciptaan kondisi nyata untuk membuat ketetnuan-ketentuan undangundang agar dapat direalisasikan (menjadi operasional).
2) Penetapan-penetapan yang Mengakibatkan Timbulnya Sengketa
Penetapan-penetapan yang sering menyebabkan sengketa pada umumnya
adalah perbuatan (hukum) administrasi yang mengandung kekurangan (kesalahan,
kekeliruan, keterlambatan, keganjilan, keanehan dan lain-lain sebagainya) di dalam
penetapannya.
Jika dikaitkan dengan teori Sistem Hukum dari Lawrence M.Friedman, tiga
komponen utama yang dimiliki sistem hukum adalah legal structure, legal substance
and legal culture. Ketiga komponen tersebut saling menentukan satu sama lainnya,
demikian juga saling berpengaruh satu sama lainnya. 333
Penetapan adalah merupakan perbuatan hukum sepihak yang bersifat
administrasi negara yang dilakukan oleh pejabat atau instansi yang berwenang dan
berwajib khusus untuk itu. Penetapan biasanya berbentuk : dispensasi, izin
(vergunning), lisensi, konsepsi.
Pejabat tertinggi dalam suatu lembaga pemerintah misalnya, bertanggung
jawab hanya kepada presiden, dan ini memungkinkan tumbulnya celah bahwa mereka
tidak bertanggungjawab kepada rakyat. Sebagai akibatnya maka 334
1. Pengambil keputusan mengutamakan politik
2. Kebijakan dan aturan yang dibuat meletakkan rakyat tidak dalam prioritas
3. Tingginya kemungkinan intervensi dalam pengambilan keputusan
333

Lawrence M.Friedman, American Law,op cit, hal 5-6.


Harkristuti, Harkrisnowo : Paradigma Peningkatan Daya Saing dalam Kerangka Good Governance,
makalah disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan tingkat II Angkatan III yang disampaikan
oleh Lembaga Administrasi Negara di Jakarta, 2 Oktober 2009.
334

Universitas Sumatera Utara

4. Pemilihan tidak berdasar meritocracy


5. Tingginya kemungkinan perubahan kebijakan dari satu pimpinan ke pimpinan
lain, yang merugikan konsistensi dan kesinambungan suatu program.
6. Peraturan kebijaksanaan (policy rules, beleidsregel) yang lebih bersumber
pada kebebasan bertindak (Freis Ermessen) yang seringkali tidak
mengindahkan asas umum penyelenggaraan administrasi Negara yang baik
dan wajar (The General Principles of Good Administration)
Oleh karenanya tidak keras apabila seperti di daerah Kabupaten Simalungun,
sering terjadi perubahan peruntukan yang semula fasilitas umum (fasum) atau
fasilitas sosial (fasos) berubah menjadi perumahan atau perkantoran, dan lainnya
yang sifatnya komersil. Contoh lain : Gedung SMA Negeri No.4 Pematangsiantar
akan diambilalih menjadi swalayan yang menimbulkan konflik berkepanjangan
ditandai dengan adanya demonstrasi yang mengakibatkan kekerasan ( tahun
2009)
Karenanya, paling tidak terdapat 4 (empat) hal yang harus dihasilkan atau
dipenuhi oleh suatu sistem hukum :
1. Sistem hukum secara umum harus dapat mewujudkan apa yang menjadi
harapan masyarakat atas sistem tersebut.
2. Harus dapat menyediakan skema normatif, walaupun fungsi penyelesaian
sengketa tersebut tidak semata-mata menjadi monopoli sistem hukum,
paling tidak harus dapat menyediakan mekanisme itu dimana orang dapat
membawa kasusnya untuk diselesaikan
3. Sebagai kontrol sosial, aparatur hukum : polisi, hakim harus menegakkan
hukum. Sistem hukum harus menyediakan panduan normatif bagi aparatur
hukum dalam penegakan hukum
4. Harus bisa sebagai instrumen perubahan tatanan sosial atau rekayasa
sosial. 335
Faktor-faktor yang menjadi penyebab antara lain adalah terlalu luasnya tugas
pemerintah, peraturan-peraturan pelaksanaan (juklak) yang tidak atau kurang jelas,
kurangnya pedoman yang diberikan serta kurangnya pengetahuan teknis aparat
pelaksana dan lain-lain kiranya tidak perlu dibahas lagi di sini.

335

ibid, hal 161

Universitas Sumatera Utara

Dari banyaknya perbuatan-perbuatan hukum yang mengandung kekurangan


tersebut

tidak

seluruhnya

dipersoalkan

masyarakat,

oleh

karena

mungkin

sikap/perilaku masyarakat kita sebagian besar masih menganut sikap pasif (sikap
menerima nasib, pasrah bongkokan dan lain sebagainya).
Perbuatan hukum administrasi yang mengandung kekurangan tersebut
bentuknya bermacam-macam, yang dapat digolongkan sebagai berikut :
a). Perbuatan hukum tersebut dilakukan di bawah wewenangnya, akan tetapi tidak
mengindahkan cara-cara atau bentuk-bentuk yang ditentukan oleh
peraturan/ketentuan dasarnya (proseduril).
b). Perbuatan hukum tersebut dilakukan di bawah wewenangnya, serta sesuai dengan
tata cara dan bentuk yang ditentukan oleh peraturan (proseduril) akan tetapi
isinya bertentangan dengan hukum/melanggar moral/etika/tata susila.
c). Perbuatan hukum tersebut dilakukan di bawah wewenangnya dan menurut
prosedur, akan tetapi keputusan yang diambil mengandung unsur-unsur paksaan,
penipuan, kekhilafan serta pengaruh negatif dari pihak ketiga.
d). Perbuatan hukum tersebut dilakukan di bawah wewenangnya dan menurut
prosedur, akan tetapi hanya memutuskan sebagian saja dari seluruh urusan.
e). Perbuatan hukum tersebut dilakukan di bawah wewenangnya dan menurut
prosedur, akan tetapi ditambah syarat-syarat yang ternyata syarat-syarat tersebut
bukan termasuk wewenangnya (detournement depouvoir), misalnya ijin
mendirikan bangunan disertai syarat, ijin tersebut diberikan apabila permohon
mau menyerahkan tanahnya secara cuma-cuma untuk pelebaran jalan.
f). Perbuatan hukum yang dilakukan oleh organ administrasi tersebut tidak jelas
wewenangnya, baik mengenai materi atau urusan yang diputuskan.
Bagaimana daya berlaku hukum (validitas) dari suatu perbuatan (hukum
administrasi) yang mengandung kekurangan, sehingga keputusan yang diambil itu
mempunyai cacad.
Pada prinsipnya, setiap tindakan hukum administrasi walaupun dilakukan di
bawah wewenangnya, akan tetapi apabila mengandung kekurangan adalah tidak sah.
Ini adalah di dalam hubungannya dengan azas kepastian hukum (rechszekerheid) dan
kewibawaan pemerintah (weting gezag).
Apakah terhadap keputusan yang demikian tidak dapat diminta koreksi atau
peninjauan kembali sehubungan dengan cacad atau kekurangan yang dikandungnya.
Kita harus melihat dari dua hal, yaitu :

Universitas Sumatera Utara

1) Apakah terhadap perbuatan hukum administrasi tersebut dapat dimintakan


banding kepada instansi atasan dengan tata cara atau prosedur yang telah
ditentukan.
2) Terhadap keadaan tersebut menurut peraturan tidak terbuka kemungkinan untuk
mengadakan banding/protes.
Namun demikian bilamana menurut peraturan dapat dilakukan banding, akan
tetapi walaupun keputusan tersebut mengandung kekurangan, ia tetap berlaku sah
selama tidak ada pengaduan atau permintaan banding sampai jangka waktu tertentu
Kadaluwarsa).
Sebaliknya apabila terhadap perbuatan hukum tersebut tidak dimungkinkan
banding, maka organ adiministrasi yang bersangkutan, dapat sewaktu-waktu menarik
kembali/meninjau kembali, tindakan hukum administrasi dengan disertai pembayaran
ganti rugi kepada masyarakat yang bersangkutan, dengan catatan apabila ternyata
kekeliruan tersebut terletak pada organ/pejabat administrasi itu sendiri dan bilamana
karena tidak baik dari warga masyarakat yang bersangkutan.
Bilamana kasus terlalu berat dipandang dari segi hukum, maka persoalannya
dapat diajukan ke Pengadilan Negeri untuk meminta keputusan hakim.
Hal tersebut di atas dapat kita bandingkan dengan stelsel positif atau negatif di
dalam sistem administrasi pendaftaran tanah yang dianut oleh Undang-undang Pokok
Agraria.
Penanganan Sengketa Hukum Administrasi
Dari penetapan-penetapan yang mengandung kekurangan sebagaimana telah
diuraikan di atas, menurut materinya dapat di golongkan bahwa kekurangankekurangan yang menyebabkan penetapan tersebut mengandung cacad, pada
dasarnya adalah merupakan akibatnya adanya :
1) Penyimpangan terhadap ketentuan-ketentuan peraturan yang bersifat administrasi

Universitas Sumatera Utara

Penyelesaian sengketa yang paling baik sebenarnya adalah dengan melalui proses
pengadilan. Selama ini di dalam praktek menurut yurisprudensi, maka Pengadilan
Negeri dapat menyatakan dirinya berwenang untuk memeriksa dan memutuskan
perkara-perkara/sengketa administrasi sepanjang Peradilan Tata Usaha Negara
belum berlaku/diatur dalam undang-undang.
2) Penyimpangan-penyimpangan yang bersifat pidana
Penyimpangan-penyimpangan yang demikian ini ada, apabila ternyata dari
perbuatan hukum administrasi yang dilakukan oleh pejabat tersebut, mengandung
aspek pidana (kejahatan/pelanggaran jabatan) sebagaimana diatur dalam
ketentuan, baik KUHP umum maupun khusus, misalnya perbuatan-perbuatan
pidana tersebut berbentuk penggelapan akta-akta surat-surat sehingga
mengakibatkan penetapan yang tidak benar (pasal 417 KUHP).
3) Penyimpanan karena tidak diindahkannya ketentuan perdata yaitu, perbuatan
hukum administrasi yang menimbulkan kerugian warga masyarakat di dalam
berbagai bentuk yang mana dapat nilai dengan uang.
Ketentuan yang digunakan sebagai dasar gugatan pada umumnya adalah
pasal-pasal 1365 BW (KUHP) mengenai perbuatan melawan hukum
(onrechtsmatigedaad) yang dalam hal ini dilakukan oleh penguasa.
Biasanya apabila suatu gugatan terbukti menurut hukum, maka tuntutan yang
dikabulkan hanya terbatas kepada perbuatan hukum administrasi saja yang
dinyatakan tidak sah.
Jadi penanganan sengketa hukum administrasi lazimnya dilakukan melalui:
1) Badan Pengadilan Administrasi (murni)
Di Indonesia yang ada dan diakui resmi adalah Badan Majelis Pertimbangan
(MPP) yaitu yang menangani sengketa di bidang perpajakan antara warga dan
pemerintah.
2) Badan Pengadilan Administrasi (semu)
Badan pengadilan ini menangani perkara-perkara yang diproses sebagimana
pengadilan biasa, akan tetapi pejabat-pejabat administrasi negara tidak berstatus
sebagai hakim walaupun hukum acaranya mirip seperti pada hakim pengadilan
biasa.

Universitas Sumatera Utara

Contoh : P4P, P4D (Panitia penyelesaian Perselisihan Perburuhan Tingkat


Pusat/Daerah). Mahkamah Pelayaran dan lain-lain.
3) Panitia atau Team Khusus
Penanganan sengketa dengan cara pembentukan Panitia/Team Khusus ini sering
dilakukan oleh administrasi untuk memenuhi proses penyelesaian yang cepat dan
bersifat melindungi pihak warga masyarakat.
Syarat-syaratnya terhadap pembentukan Panitia/Team Khusus ini adalah harus
dengan :
a)

Ada instruksi yang tegas antara tugas, wewenang dan kewajiban serta
tanggung jawab panitia/team tersebut.

b)

Prosedur penyelesaian yang harus ditempuh.

c)

Sanksi-sanksi

hukum

apabila

panitia/team

tidak

menjalankan

tugas

sebagaimana mestinya.
d)

Ada penampungan dan tindak lanjut akibat dari keputusan panitia/team.

4) Pejabat atau Instansi Atasan


Penyelesaian suatu masalah/sengketa, kasusnya ditangani langsung oleh
pejabat/organ administrasi yang bersangkutan dan secara sportif serta spontan
melakukan koreksi terhadap kekeliruaan atau kekurangan yagn terjadi atas suatu
penetapan.
Akan tetapi sering terjadi pejabat yang bersangkutan tidak berani melakukan ralat
terhadap putusannya dan mempersilahkan warga yang bersangkutan mengajukan
kepada instansi/pejabat yang bersangkutan.
5) Pengadilan/Hakim Perdata
Apabila kepada administrasi tidak dapat diminta penyelesaian atas suatu sengketa
yang diajukan, maka warga negara yang bersangkutan dapat menggugat negara
atau aparatnya ke Pengadilan Negeri/Perdata.
Dengan berdasarkan azas bahwa hakim tidak boleh menolak untuk
memeriksa/memutus perkara dengan alasan bahwa ia tidak mengetahui peraturannya,

Universitas Sumatera Utara

maka sangat terbuka kemungkinan penyelesaian sengketa mempergunakan proses di


Pengadilan Negeri. Dalam hal sebagaimana apabila terhadap sesuatu penetapan
adminsitrasi (beschiking) dapat dinyatakan perbuatan melawan hukum oleh perdata.
Menurut

yurisprudensi,

agar

sesuatu

penetapan

(beschikking)

dapat

dinyatakan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige) apabila :


a. Penetapan tersebut dilakukan secara tidak/kurang mengindahkan undang-udnang
atau dilakukan secara bertentangan dengan undang-undang.
b. Penetapan tersebut dilakukan dengan menyalahi wewenang atau menyimpang
dari tugas pemberian wewenang.
c. Penetapan tersebut dilakukan dengan sewenang-wenang (ceroboh, tidak
mengindahkan data dan fakta dan lain-lain).
Hakim perdata tidak dapat menguji secara penuh terhadap suatu penetapan
kebijaksanaan administrasi negara, oleh karena administrasi negara memiliki fries
ermessen yaitu kebebasan untuk mengambil keputusan menurut pertimbangan sendiri
dianggap paling baik, sesuai dengan tujuannya (doelmatigeheid) sepanjang dilakukan
dalam batas-batas wajar.
Sengketa pertanahan yang bersifat administratif disebabkan adanya kesalahan
atau kekeliruan penetapan hak dan pendaftarannya. Hal ini antara lain disebabkan :
1). Kekeliruan penerapan peraturan,
2). Kekeliruan penetapan subyek hak,
3). Kekeliruan obyek hak,
4). Kekeliruan status hak,
5). Masalah prioritas penerima hak tanah,
6). Kekeliruan penetapan letak, luas, dan batas
7). Dan sebagainya
Sengketa ini pada umumnya bersumber pada kesalahan, kekeliruan, maupun
kekurangcermatan penetapan hak oleh pejabat administrasi (Badan Pertanahan
Nasional). Oleh karena itu penyelesaiannya dapat dilakukan secara administratif pula,
dalam bentuk pembatalan, ralat atau perbaikan keputusan oleh pejabat administrasi
yang disengketakan.

Universitas Sumatera Utara

Seringkali penyelesaian sengketa secara administratif tersebut kurang


memuaskan para pihak, sehingga oleh yang bersangkutan diajukan ke badan
peradilan.
Permasalahan atau sengketa pertanahan menjadi salah satu dari kebijakan
bidang pertanahan yang memperoleh perhatian yang sungguh. Sebagaimana disinyalir
oleh MPR bahwa pengelolaan pertanahan selama ini masih belum dapat
menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi (konsiderans Menimbang huruf (e) Tap
MPR No. IX/ MPR/ 2001). Oleh karena itu arah kebijakan pembaruan agrarian
meliputi pula penyelesaian sengketa pertanahan.
C. Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Pertanahan
Timbulnya sengketa pertanahan secara umum disebabkan :
1. Proses ekspansi dan perluasan skala akumulasi modal, domestik maupun
internasional.
Ini menyebabkan masalah kesenjangan sosial. Pengambilalihan dan pengelolaan
kebun seringkali diikuti pula dengan segala budaya kebun yang dibangun oleh
pemilik kebun lama, yaitu semata-mata mementingkan pengusaha dengan mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya. Tetapi kurang memperhatikan masyarakat
sekelilingnya. Ini tercermin dari masih adanya indikasi besarnya gaji antara pucuk
pimpinan kebun dengan buruh seperti langit dan bumi. Kebun lalu menjadi tempat
yang eksklusif dari lingkungan sekitarnya. Kebun lalu menjadi semacam enqlave
kemewahan di tengah-tengah kemiskinan rakyat di sekitar kebun. Akibatnya tidak
ada rasa memiliki masyarakat di sekitar kebun terhadap keamanan dan lestarinya
perkebunan tersebut. Penyakit yang dihadapi oleh hukum : penyebab sertifikat
yang dipermasalahkan adalah aparat pelaksana/ pemohon hak, juga lingkungan
strategis seperti pemilikan tanah menurut adat yang jenis serta kriterianya belum
diterapkan, serta kultur masyarakat yang majemuk. Kondisi psikologis dan
sosiologis seorang aparat yang terefleksi dalam wujud kemampuan dan integritas
serta komitmen, menentukan kualitas hasil kerja dan kinerjanya di sisi lain, aspekaspek psikologis dari pemohon hak tanah, antara lain sifat jujur, rasa tanggung
jawab, taat hukum. Kebun dianggap kurang bermanfaat bagi rakyat sekitarnya,
sehingga rakyat cepat terpancing melakukan tindakan yang dikategorikan
melanggar hukum, misalnya ada bagian tertentu dari areal kebun yang sengaja
tidak ditanami untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber air (bebouwhihj
clausul), pemilik kebun sudah dianggap menelantarkan tanah dan hal ini menjadi
alasan untuk menduduki tanah secara paksa.
2. Watak otoriternya negara dalam penyelesaian kasus agraria. 336

336

a.

Menyangkut Masyarakat Adat, ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan :
Masyarakat adat selalu pada posisi minoritas dalam kehidupan politik suatu Negara.

Universitas Sumatera Utara

3. Berubahnya strategi dan orientasi pembangunan sumber-sumber daya agraria yang


dimulai dari strategi agraria yang populis (membangun masyarakat sosialis)
menjadi strategi agraria yang kapitalistik dan diintegrasikannya masyarakat
Indonesia sebagai bagian dari sebuah perkembangan kapitalisme internasional.
Proses kehilangan tanah (dislandowning process) yang terjadi karena kebutuhan
lahan untuk industri baik untuk pabrik maupun perumahan dan lapangan golf serta
bentuk konversi peruntukan tanah lainnya terus berlanjut hingga sekarang 337
Akibatnya lapar tanah akan semakin akut akan terjadi penanaman sampai ke puncakpuncak gunung yang akan dengan susah payang dibendung oleh Pemerintah,
demikian ramalam E.de Vries. 338
Sengketa pertanahan di Sumatera Utara mempunyai karakteristik tersendiri
dengan daerah lain. Penyebab terjadinya sengketa dan konflik pertanahan antara lain
faktor klasik, faktor yuridis-teknis, faktor politik, faktor historis, faktor reformasi,
faktor spekulasi dan faktor instansi lain.
a. Faktor klasik adalah berhubungan dengan terbatasnya ketersediaan tanah sedang
kegiatan pembangunan dan pertumbuhan penduduk semakin meningkat sehingga
kebutuhan akan tanah juga semakin meningkat, ketimpangan antara peningkatan
kebutuhan manusia dengan keterbatasan ketersediaan akan tanah sering
menimbulkan benturan kepentingan di tengah-tengah masyarakat ditambah
dengan adanya gejala lapar tanah yang menyebabkan banyak kelompok
menduduki tanah orang lain tanpa hak, yang pada gilirannya menimbulkan konflik
dengan melibatkan massa yang besar.
b. Faktor yuridis-teknis berkaitan dengan belum terdaftarnya seluruh bidang tanah
yang ada, misalnya untuk Sumatera Utara, bidang tanah yang terdaftar sampai
dengan data tahun 2006 baru sekitar 20,16%, sehingga belum tercipta kepastian
dan perlindungan hukum terhadap hak-hak atas tanah yang dimiliki oleh
masyarakat. Oleh karena belum terciptanya jaminan kepastian dan perlindungan
hukum, maka timbullah gejala penguasaan dan pengusahaan atas bidang-bidang
b.
c.
d.
e.
f.

Penyelenggaraan Negara umumnya memiliki pandangan yang terlalu disederhanakan terhadap persoalan dengan
berbagai heteregonitas dan keberagaman budaya.
Tuntutan otonomi yang muncul dari kelompok-kelompok yang di-subordinasi dalam struktur kekuasaan
Konflik itu semakin intensif dan mengeras ketika Negara semakin otoriter, yang meminimalkan perbedaan
(pluralistis itu).
Dominasi satu etnis dalam masyarakat multietnis dalam praktek kekuasaan
Terjadi kolonialisme domestik, penjajahan oleh bangsa sendiri, Abdon Nababan, Kekuatan masyarakat adat
nusantara dalam konteks berbangsa dan bernegara di Negara kesatuan republik Indonesia, makalah pada Seminar
Menguak Hak Ulayat SImalungun, loc cit.
337

Achmad Sodiki, Empat Puluh Tahun Masalah Dasar Hukum Agraria, Pidato Penyuluhan, 17 Juni

2000, hal. 4.
338

E. De. Vries, Masalah-masalah Petani Jawa, terjemahan Ny. P.S Kusuma Sutjo, (Jakarta Bhratara,
1972), hal. 18.

Universitas Sumatera Utara

tanah oleh pihak-pihak tertentu yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum, seperti
pendudukan atau pengklaiman atas suatu bidang tanah oleh seseorang/ kelompok
orang yang belum tentu berhak atas tanah yang bersangkutan.
c. Faktor politik terkait juga dengan permasalahan pertanahan yang muncul dari
keadaan yang disebabkan oleh belum terciptanya kepastian hukum tersebut juga
adanya keterlibatan pihak Pemerintah Daerah dan DPRD setempat untuk
menangani sengketa dan konflik pertanahan dengan menerbitkan kebijakan yang
cenderung memihak masyarakat, sebab yang terjadi kemudian adalah benturan
kepentingan antara pihak masyarakat dengan perusahaan perkebunan yang tidak
jarang diikuti dengan kepentingan lain di luar ketentuan hukum, seperti
kepentingan politik dan juga tidak tertutup kemungkinan dengan melibatkan
kepentingan lain seperti ekonomi, sosial dan budaya, dan hankam 339.
d. Faktor historis 340, berkaitan dengan sejarah perkebunan di daerah
Simalungun ini khususnya, Sumatera Utara pada umumnya yang pada mulanya
tanah-tanah yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan perkebunan adalah bekas hak
konsesi yang diberikan oleh para Raja (Raja Silampuyang, Raja Siantar) kepada
Pengusaha Perkebunan Eropah (Belanda, Inggris). Berdasarkan akar sejarah tersebut,
maka marak tuntutan dari Kerajaan Silampuyang dan daerah lain seperti Serdang
serta masyarakat/ organisasi adat Melayu yang mengklaim seluruh tanah bekas
perkebunan milik Belanda seluas 250.000 Ha yang terbentang antara Sei Ular
(Kabupaten Deli Serdang) dan Sei Wampu (Kabupaten Langkat) disebut sebagai
tanah adat/ ulayat etnisnya dan menuntut dikembalikan kepada mereka. Pembukaan
areal baru HGU seringkali memunculkan masalah reclaiming yakni tuntutan
kembalinya hak adat kepada pemegang HGU. Seringkali memang batas tanah ulayat
dan tanah negara bebas tidak jelas, sebagaimana apa yang terjadi pada masyarakat
Hindia Belanda (Stb 1937-560). Ketidakpedulian terhadap kehidupan masyarakat
adat hanyalah akan menuai badai sengketa di kemudian hari.
Dipihak lain perusahaan perkebunan Belanda mengalami perkembangan
penguasaan tanahnya sejak masa pendudukan Jepang yang mentolerir
penggarapan rakyat pada areal perkebunan kemudian berlanjut pada zaman
kemerdekaan dan berlangsung sampai tahun 1980-an. Oleh karena penggarapan
terus berlangsung, Pemerintah menerbitkan ordonantie Onrechmatige Occupatie
van Gronden (Stb. 1948-10), namun penggarapan tetap tidak dapat dibendung,
sehingga Pemerintah mengambil kebijakan membentuk Tim Khusus yang
hasilnya mengeluarkan sebagian areal perkebunan guna dibagikan kepada rakyat
339

Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara, Mengungkap Permasalahan Pertanahan di Provinsi


Sumatera Utara, Makalah pada Kuliah Bedah Kasus Hukum pada Fakultas Hukum UNPAB Medan, 27-6-2003,
hal. 1.
340
Kebijaksanaan Negara masa lalu. Eksistensi Hukum Adat dalam Pasal 131 IS tetap saja tidak
melindungi hak-hak adat, seperti hak ulayat, sehingga timbul sengketa batas antara wilayah hukum adat dengan
wilayah konsesi perkebunan. Pemerintah dianggap melanggar wilayah hukum adat (hak ulayat), Karl J.Pelzer,
Planters against Peasant, Martinus Nijhoff,1982, memberikan gambaran bagaimana pengusahaan perkebunan
(ordeneming) yang dirintis Niewhuin-huis di Sumatera Utara memperoleh tanah konsesi dari Sultan Deli yang
menjadi melanggar hak ulayat rakyat sehingga menimbulkan pemberontakan.

Universitas Sumatera Utara

diikuti dengan pemberian kartu tanda penggarapan. Tanah yang dibagikan


tersebut tidak diikuti dengan pendaftaran tanahnya, belakangan dengan berbekal
kartu garapan yang lama, rakyat mengklaim tanah-tanah garapannya diambil alih
kembali oleh perusahaan perkebunan, sehingga dituntut kembali melalui
Pemerintah.
e. Faktor reformasi, dalam hal ini sengketa dan konflik pertanahan pada areal
perkebunan kembali mencuat ke permukaan seiring dengan era reformasi, pada
saat itu akibat dari krisis ekonomi telah mengakibatkan badan hukum yang
menguasai/ memiliki tanah perkebunan belum dapat mempergunakan lahannya
sesuai dengan peruntukannya, sedangkan di sisi lain bertambahnya penduduk
serta berkurangnya kesempatan kerja pada sektor-sektor industri juga diikuti
dengan timbulnya gejala lapar tanah di kalangan masyarakat yang tidak
mempunyai lahan, ditambah lagi statemen Presiden RI Abdurahman Wahid (Gus
Dur) ketika itu yang menyatakan sebanyak 40% areal PTPN akan dibagikan
kepada rakyat karena PTPN banyak merampas tanah rakyat, maka terjadilah
pendudukan dan penggarapan di atas tanah pihak lain dan kemudian diajukan
penuntutan kembali (reclaiming action) atas tanah-tanah perkebunan yang
didasarkan berbagai alasan, seperti :
1) Mengklaim semua tanah perkebunan sebagai bagian dari tanah hak ulayat
etnisnya;
2) Mengaku bahwa dahulu pernah mempunyai hak atas tanah perkebunan tetapi
dikuasai kembali oleh pihak perkebunan (tanahnya dilindungi undang-undang);
3) Menuntut ganti kerugian dari perusahaan perkebunan karena tanah masyarakat
masuk ke dalam areal perkebunan;
4) Alasan ekonomi sekedar memenuhi kebutuhan hidup;
5) Berspekulasi dengan menggarap tanah untuk mencari untung 341.
Kritikan terhadap Negara (RI)
Memperhatikan semakin maraknya sengketa pertanahan yang terjadi di
negeri tercinta Indonesia ini, Negara telah melakukan pembiaran terjadinya
sengketa dimana-mana sampai memakan korban (bisa Pemerintah, swasta atau
perseorangan) hanya berorientasi kepada keberuntungan (laba).
Sepanjang sejarahnya di Indonesia dan hasil studi yang dilakukan oleh
banyak peneliti dan pengamat terkait dengan sengketa pertanahan, ada asumsi yang
menyebutkan Negaralah sesungguhnya yang menjadi sumber sengketa agraria
karena Negara telah gagal menjadi mediator dan fasilitator pada saat terjadinya
pelepasan tanah, bahkan secara sistematis dan terencana berada di belakang
pengusaha pada saat pelepasan tanah dengan menggunakan aparat bersenjata. 342
341
Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara, Sengketa Pertanahan dan Upaya Penyelesaiaannya di
Provinsi Sumatera Utara, Makalah yang disampaikan kepada Kepala BPN RI pada saat kunjungan kerja ke
Sumatera Utara tanggal 12 November 2006, hal. 3.
342
Afrizal, berdasarkan studi menunjukkan, Negara merupakan faktor penting penyebab konflik agraria
sementara solusi konflik ini sangat tergantung pula kepada Negara, Afrizal bertolak dari studi Bachniadi, Lucas,
Ruwiastuti, Fauzi, Stanley, Hafid, Nuh dan Collins, Sakai.

Universitas Sumatera Utara

Bukti sebagai akar permasalahan bermula dari tindakan negara dalam sengketa
agraria adalah :
Di Riau, sengketa pertanahan antara Suku Sakai (penghuni sah rimba raya)
dengan PT Arara Abadi, anak perusahaan Sinar Mas Grup. Karena tanah Riau yang
kaya minyak, suku Sakai yang harus menanggung penderitaan terusir dari tanah
leluhurnya. Dalam hal ini Negara membantu PT Arara Abadi pada tahun 1990 untuk
melakukan pencaplokan atas tanah seluas 8000 ha untuk dijadikan sebagai kebun
kayu ekaliptus dan akasia. 343
Di Papua, Kasus pengambilalihan tanah milik suku Komoro dan beberapa
suku lainnya oleh PT Freeport Indonesia.
Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sebanyak 30 orang dikabarkan
menjadi korban tewas dan sengketa lahan di Mesuji, Sumatera (2008-2011), 7 (tujuh)
orang tewas 344 dalam pertikaian antara warga, petugas pengamanan internal PT
Sumber Wangi Alam (SWA) di Mesuji, pada Kamis 21 April 2011, sekitar pukul
12.00 WIB.
Dalam bidang kehutanan, Abdon Nababan, Sekretaris Jendral (Sekjend)
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menjelaskan : Negara dengan
seenaknya menganggap hutan adat sebagai hutan negara yang kemudian dijadikan
areal pertambangan atau pembukaan lahan kelapa sawit.
Pemerintah justru membuat peraturan bahwa Tanah itu adalah milik Negara
dan diperuntukkan bagi kelancaran pembangunan dalam beberapa aspek kehidupan,
salah satunya adalah penanaman modal asing yang mendiami tanah tersebut.
Terjadinya penyebab sengketa pertanahan yang melahirkan protes yang
berkepanjangan adalah karena Negara sudah gagal memberikan perlindungan kepada
rakyat dan gagal menjadi pihak yang seharusnya menjadi pelindung dan bukan
sebaliknya melakukan persekongkolan dengan pengusaha untuk merampas hak rakyat
atas tanah mereka. Sejarah persengketaan di bidang agraria akan terus berlanjut
sepanjang negara tidak bisa membuat sebuah kebijakan yang berpihak kepada rakyat
dengan melakukan perombakan hukum agraria secara revolusioner dan total bukan
parsial yang sebenarnya cenderung hanya menguntungkan kalangan elit negeri ini
dan para pengusaha.
Kajian yang dilakukan Tim Penyusunan RUU Pengelolaan SA mencatat 5
(lima) karakteristik peraturan perundang-undangan sektoral, sebagai-berikut :

343
Konsep tanah ulayat dalam suku Sakai tidak diakui Negara kepemilikannya sebagai milik komunitas
lokal (Kompas 15 Desember 2007).
344
5 (lima) korban tewas dari pihak PT. SWA, 2 (dua) orang petani adalah warga sungai Sodung.
Kelima korban dari PT SWA itu adalah : Hambali bin M. Tohrir (Asisten Manager PT SWA), Hardi bin Rusan
(Asisten Manager PT SWA), Sabar bin Ruswat (Satpam), Saimun dan Agus Manto, 2 (dua) warga : Safei bin
Mukmindah dan Dewa alias Macah, ibid.

Universitas Sumatera Utara

1.

Orientasi pada eksploitasi, mengabaikan konservasi dan keberlanjutan


SDA, digunakan sebagai alat pencapaian pertumbuhan ekonomi melalui
peningkatan pendapatan dan devisa Negara.

2.

Lebih berpihak pada pemodal besar

3.

Ideologi penguasaan dan pemanfaatan SDA terpusat pada negara


sehingga bercorak sentralistik

4.

Pengelolaan SDA yang sektoral berdampak terhadap koordinasi antar


sektor yang lemah.

5.

Tidak mengatur perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) secara


aproporsional.

Akibat keberadaan berbagai Undang-undang Sektoral yang inkonsisten dan


tumpang tindih itu adalah koordinasi yang lemah di tingkat pusat antara pusat dan
daerah serta antar daerah, kerusakan dan kemunduran kualitas SDA. Ketidakadilan
berupa terpinggirkannya hak-hak masyarakat yang hidupnya terutama tergantung
pada akses terhadap SDA petani, masyarakat adat, dan lain-lain, serta timbulnya
konflik berkenaan dengan SDA.
Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan LandReform. 345
Pengertian mengenai land reform dapat diketahui dari beberapa definisi
buatan tentang land reform. Salah satu denifisi land reform sebagai berikut 346 :
Is a revolution which reforms the social system, a whole series of political,
economic, and cultural revolutions, destroying the old and establishing the
new, with devision of the land as the central element. Division of the land is
a result the peasant masses attain through political and economic strunggle;
it is aresult of peasant disctatorship; it is the land returning to its original
owner, it is the peasants seizing the landlords, land by revolutionary
methods.
Terjemahan :
345

Elza Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah melalui pengadilan khusus Pertanahan, (Jakarta :
Kepustakaan Populer Gramedia, 2012), hal.189
346
Emoise, Edwin, Landreform in China and North Vietnam, (London:The University of North Carolina
Press, 1983), hal. 27

Universitas Sumatera Utara

Reformasi Tanah adalah revolusi yang mereformasi sistem sosial,


keseluruhan revolusi politis, ekonomi dan budaya, menghancurkan yang
lama dan menetapkan yang baru, dengan pembagian tanah sebagai unsure
pusatnya. Pembagian tanah adalah sebagai hasil dari pencapaian massa
petani melalui pergulatan politik dan ekonomi yang berupa hasil dari
kediktatoran petani; berupa tanah kembali ke pemilik asalnya, berupa para
petani menyita para tuan tanah dengan cara metode revolusioner.
Dalam Laporan Ketiga atas Progress of Land Reform, PBB menyebutkan
bahwa 347 :
Land Reform as an integrated of measures designed to eliminate obstracles
to economic and social development arising out of defects in the agrarian
structure.
Terjemahan :
Reformasi Tanah sebagai suatu tindakan terpadu yang dirancang untuk
menghilangkan hambatan terhadap pembangunan sosial dan ekonomi yang
timbul sebagai akibat dari kesalahan dalam struktur agraria.
Di dalam land reform terkandung unsur-unsur sebagai berikut : 348
1. Adanya pembagian tanah dan perombakan sistem persewaan tanah;
2. Merupakan upaya memberikan pemerataan dalam penghasilan dan kekayaan;
3. Merupakan upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui suatu
implementasi dari peraturan Pemerintah serta aktivitas legal dari program
umum.
Berdasarkan uraian diatas, tampak bahwa Pemerintah Indonesia telah
berupaya untuk mengatur pemilikan/ penguasaan tanah dengan sebaik-baiknya
melalui perangkat perundang-undangan yang telah ditetapkan. Namun dalam
praktiknya, pelaksanaan Land Reform tidaklah berjalan mulus. Tidak sedikit warga
masyarakat yang menentang kebijakan pembatasan kepemilikan tanah tersebut,
karena rasa adil yang dirasakan dan diperjuangkan oleh Pemerintah bersama dengan
sejumlah petani tidaklah sama dengan keadilan yang dirasakan pemilik tanah. Pemilik
tanah tersebut memperoleh tanah tersebut dari hasil jerih payahnya, tentu tidak rela
tanah miliknya itu diambil alih oleh pihak lain. Apalagi program landreform
ditumpangi penguasa yang merangkap pengusaha kayu.
Sebagai kebijakan politik pemerintah, landreform bertujuan untuk
merombak struktur penguasaan tanah secara feodal ini tidak dapat dikembangkan
dengan mulus karena adanya pemanfaatan oleh PKI untuk menggoyang stabilitas
persatuan dan kesatuan RI sehingga muncul persepsi UUPA merupakan produk PKI.

347

Boedi Harsono, Sengketa Tanah Dewasa ini, akar permasalahan dan Penanggulangannya, Makalah
disajikan dalam Seminar Nasional Sengketa Tanah, Permasalahan dan Penyelesaiannya, di Jakarta 20 Agustus
2003, hal. 4-5
348
Inayatullah, Landreform, APDAC Publication, Kuala Lumpur, 1980, hal.3.

Universitas Sumatera Utara

Semasa Orde Baru, kebijkan politik ekonomi, justru menimbulkan


ketimpangan dan ketidakmerataan penguasaan tanah. Hal ini dibuktikan dengan
adanya penguasaan tanah berskala besar oleh sejumlah perusahaan dan pemilik modal
besar.
D. Tipologi dan Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Pertanahan di
Kabupaten Simalungun
Semenjak zaman Pemerintahan Hindia Belanda secara empirik terjadi konflik
(kepentingan) antara pihak perkebunan (Negara dan swasta) di satu pihak dan
pedesaan di Simalungun & sekitarnya di pihak lain. Rakyat pedesaan di sekitar
perkebunan menuntut pengembalian sebagian areal perkebunan produktif yang
sempadan / berdekatan dengan tanah pedesaan mereka 349.
Berbagai alasan dipakai rakyat pedesaan dalam menuntut hak-haknya, antara
lain kekurangan lahan pertanian mereka, sebagai sumber penghidupan satu-satunya.
Mereka merujuk kepada hak-hak historis rakyat otokton kerajaan-kerajaan
Simalungun tempo doeloe, di mana dalam Perjanjian Erfpacht/konsesi atas tanah
ulayat Partuanon dahulu, ada klausul, bahwa bila rakyat/penduduk berkembang dan
bertambah jumlahnya, maka ada kemungkinan pengembalian tanah perkebunan
kepada ulayat Partuanon, demi penghidupan dan eksistensi masyarakat desa.
Pada tahun 1930 350, ada tuntutan/permohonan seorang Partuanon (Tuan
Silampuyang) kepada pemerintahan kolonial Belanda di Bogor. Tuan Silampuyang
berhasil untuk menerima kembali sebagian dari tanah ulayatnya dari Perkebunan
Marihat waktu itu. Sebab, sesuai dengan prinsip dan pandangan hidup masyarakat
desa pada umumnya di Indonesia, juga di lingkungan masyarakat Simalungun, tanah
dan air yang masuk dalam hak ulayat Partuanon, adalah untuk menegakkan
eksistensi dari masyarakat hukum itu sendiri.
Masyarakat desa di Simalungun sebagian besar masih menggantungkan
penghidupannya dari hasil-hasil pertanian tradisional. Persoalan timbul, bagaimana
supaya masyarakat ini diberdayakan untuk mencari penghidupan di bidang atau
sektor perekonomian yang lain, atau bagaimana supaya teknik dan metode pertanian
dapat lebih diintensifkan. Jadi mereka tidak semata-mata landhonger (haus akan
tanah) dalam iklim reformasi, tapi mereka menginginkan kualitas penghidupan yang
lebih layak.
Sekelumit sejarah hubungan antara Perkebunan Besar dengan rakyat Pedesaan:

349

Pembukaan tanah perkebunan besar pada masa Hindia Belanda selalu menimbulkan sengketa antara
pengusaha/onderneming dengan rakyat.Hal ini disebabkan tanah perkebunan baru berada dalam kawasan hutan
yang dikuasai oleh rakyat dengan hak-hak adat.Domein verklaring telah melitigimasi Negara/pemerintah untuk
memiliki tanah-tanah yang kemungkinan besar berada dalam kawasan hak ulayat Pribumi kerapkali dituduh telah
melanggar hak erfacht, yang dirumuskan dalam bentuk tuduhan memakai tanah tanpa izin atau secara liar (wilde
ocupatie).Terhadap hal-hal yang demikian,pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan ketentuan Ordonantie
tanggal 7 Oktober 1937, Achmad Sodiki, Kebijakan Pertanahan Dalam Penataan Hak Guna Usaha Untuk
Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat,makalah, Focus Group UKP-PPP 28 Pebruari 2012,hal.1.
350
Hasil wawancara dengan masyarakat setempat (Silampuyang) yang telah diolah.

Universitas Sumatera Utara

1. Zaman kolonial Belanda : kepentingan rakyat sekitar perkebunan subordinated


kepada kepentingan perkebunan maskape-maskape. Semua kegiatan berorientasi
kepada kepentingan kolonial.
2. Zaman kemerdekaan Indonesia sampai ke regim Orde Baru, masa transisi, bahwa
kepentingan rakyat banyak dikedepankan, sebab rakyat Indonesia bukan saja yang
hidup di lingkungan perkebunan, tapi keseluruhannya sama; rakyat pedesaan dan
komunitas perkebunan sama (equal) pentingnya, namun fokusnya masih pada
masyarakat perkebunan sebagai faktor penting dalam memperoleh devisa Negara
oleh konglomerat.
Sengketa pertanahan dalam hal penerapan UUPA (khusus pelaksanaan
pendaftaran tanah) juga terjadi. Padahal dalam PP 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran
tanah 351 jo Permenag No 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
Pendaftaran tanah diperlukan bagi pemegang hak atas tanah karena dengan
demikian akan lebih mudah untuk dapat membuktikan hak atas tanahnya dan bagi
pihak lainnya dapat memperoleh keterangan yang diperlukan mengenai tanah yang
mungkin menjadi objek perbuatan hukum yang akan dilakukan, 352 tetapi belum
lengkapnya informasi mengenai status penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah (present land tenure and present land use), akan dapat menghambat

351
Pembuktian Hak Lama ( Pasal 24 ) PP Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
(1) Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan
alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan
yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik
atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik, dianggap cukup untuk
mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebaninya.
(2) Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan
selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahuluanpendahulunya, dengan syarat:
a. penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang
berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya;
b. penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak
lainnya.
352
Tunggal Hadi dalam Yulia Mirwati, Konflik-konflik, op cit, hal 107.

Universitas Sumatera Utara

pelaksanaan cita-cita hukum pertanahan yang jelas dirintis sejak Indonesia


merdeka. 353
Kritikan terhadap sistem pendaftaran tanah sebagai suatu sub sistem
hukum tanah nasionalis, secara substansi masih mengalami berbagai kelemahan baik
terkait dengan hukum adat yang pluralistik sebagai sumber utama peraturan
pelaksanaan yang belum sepenuhnya diatur serta kondisi pemilikan tanah yang belum
diadministrasikan secara tertib. Kondisi dimaksud meliputi berbagai aspek yang dapat
dikemukakan antara lain :
1. Masih adanya kekurangan hukum, di mana undang-undang hak milik atas
tanah dan peraturan pemerintah tentang terjadinya hak milik menurut hukum
adat, serta jenis-jenis tanah hak milik adat sebagaimana diamanatkan UUPA
belum diterapkan.
2. Terdapat konflik norma antara nilai dasar yang diatur dalam Pasal 56 UUPA
tidak diimplementasikan sepenuhnya dalam peraturan konversi hak-hak
lama yang merupakan nilai implementatif. Secara normatif, adanya penyakit
hukum dan konflik norma yang terdapat antara nilai fundamental dengan
nilai implementatif, berimplikasi timbulnya kesenjangan implementasi
dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah, terutama konversi tanah-tanah
bekas hak adat.
3. Hukum Adat yang pluralistik maka berpotensi menimbulkan kesenjangan
substansi, terlebih dengan banyaknya jenis dan sebutan tanah hak milik
menurut adat di masing-masing daerah wilayah adat.
4. Secara juridis dogmatik sistem publikasi negatif, mengandung kelemahan
dimana sertifikat sebagai produk pendaftaran tanah menghasilkan kepastian
353

Parlindungan dalam Yulia Mirwati, ibid.

Universitas Sumatera Utara

hukum & relatif karena terbuka untuk dibatalkan jika ada pihak lain dapat
membuktikan sebagai pemilik sebenarnya.
Permenag No.5 Tahun 1999 pada hakikatnya, memberikan kesempatan bagi
pemegang hak atas tanah ulayat (adat) melakukan perbuatan pemberian hak baru atas
tanah, yang akan berwujud dengan hak pakai dan hak bangunan, dengan pembatasan
jangka waktu tertentu. Setelah jangka waktu yang diberikan terhadap hak pakai dan
hak guna usaha khusus keperluan pertanian dan keperluan lain, maka hak tersebut
hapus kembali kepada hak ulayat masyarakat hukum adat (Pasal 4 ayat (2)).
Berdasarkan data lapangan didapatkan Daftar Permasalahan Sengketa Konflik
Pertanahan Pada Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun Sejak Tahun 2009 s/d
2012 sebagai berikut 354 :

354

Observasi dan wawancara dengan H. Badrus Salim (Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten
Simalungun) dan Heru Pramono (Kepala Seksi Sengketa, Konflik, dan Perkara Pertanahan), 9 14 April 2012

Universitas Sumatera Utara

No

A. Subjek
B. Obyek

A. POKOK
PERMASALAHAN
B. TIPOLOGI
C. FAKTOR-FAKTOR
PENYEBAB
A. Sengekata lahan PTPN
IV yang belum di
usahai, dikerjakan oleh
Masyarakat/ Forum
Tani Sejahtera
Indonesia kemudian
Partomuan Marga
Damanik mengaku
tanah leluhurnya.
C. Karena tanah tidak
diusahai oleh PTPN IV
dalam waktu lama,
kurang jelas apa
masalahnya

A. Forum Tani
Sejahtera
Indonesia dengan
Partomuan Marga
Damanik dan
PTPN IV Kebun
Bah Butong seluas
+40 Ha
B. Tanah tersebut
seluas +40ha
menurut
pengakuan
masyarakat telah
diusahai sejak
tahun 1971 oleh
Masyarakat/ Forum
Tani Sejahtera
Indonesia
A. Sertifikat Hak
A. Pemilik Sertifikat Hak
Milik No. 5 An.
Milik No. 5
Ramlan Zeek,
mengagunkan tanahnya
dibebani Hipotik
ke Bank Danamon dan
Bank Danamon
Koperasi.
dan Surat
C.Ramlan Zeek
Tanahnya di
mengagunkan tanahnya
agunkan ke
di 2 (dua) tempat (Bank
koperasi.
Danamon dan Koperasi)
B. Sebuah tanah dan
dengan agunan 1 (satu)
rumah terletak di
bidang tanah/ rumah.
Desa Margo
Mulyo,
Kecamatan
Gunung Malela,
Kabupaten
Simalungun.
A. Masalah Sengketa A. Sengketa pemilikan

Kronologis
Permasalahan

- Lahan kepunyaan
PTPN IV yang tidak
dipergunakan dalam
waktu lama, yang
kurang jelas
alasannya kemudian
dikerjakan oleh
Masyarakat/ Forum
Tani Sejahtera dan di
atas tanah telah
berdiri beberapa
bangunan rumah
semi permanen milik
warga Masyarakat
Forum Tani
Sejahtera Indonesia

- Sertifikat Hak Milik


No. 5 Ramlan Zeek
di agunkan ke Bank
Danamon
- Kemudian Surat
Keterangan Kepala
Desa di Agunkan ke
Koperasi, dengan
bidang tanah yang
sama (Hak Milik No.
5 An. Ramlan Zeek

- Bahwa Ingotan Diana

Universitas Sumatera Utara

Kepemilikan antara tanah.


Ingotan Diana
Sinamo (Istri
C. Karena salah satu pihak
Tamat Ginting
menyewakan rumah
Jawak) dengan Ina
tersebut pada orang lain
Br Sinaga.
kemudian yang
B. Tanah yang
berbatasan mengaku
berukuran lebar
tanah tersebut
5M Panjang 20M
kepunyaannya.
(100M2) yang
terletak di Karang
Lau Cimba

A. Masalah tanah atas


nama Saut Budi
Tuah Damanik.
Desa Sipolha
Kecamatan
Sidamanik,
Kabupaten
Simalungun.
B. Hak Milik Nomor
18/ Sipolha dan
Hak Milik Nomor
20/ Sipolha
A. PTPN IV dengan
Masyarakat Mekar
Mulia.

C. Karena selama ini pihak


pemegang Hak Milik
No. 18 tidak menguasai
sendiri tanah tersebut.

Sinamo menguasai
tanah tersebut
berdasarkan Surat
Penyerahan Tanggal
12-01-1970 yang
diperoleh suami
Ingotan Diana
Sinamo (Istri Tamat
Ginting Jawak) dari
Keliling Ginting
tanah tersebut
berukuran lebar 5M
Panjang 20M
(100M2) terletak di
Karang Lau Cimba.
- Kemudian diterbitkan
Surat Penyerahan
Hak Warisan
Sebidang Tanah
Tanggal 2 Oktober
2009 No. Reg
593/62/2020/2009,
Pangulu Rambung
Merah, berdasarkan
Surat Pernyataan Ahli
Waris tanggal 2
Oktober 2009
- Bahwa Sertifikat Hak
Milik Nomor 18 dan
20/ Sipolha telah
berkurang luasnya di
lapangan/ di lokasi
masing-masing
sertifikat tersebut.

A. Sengketa batas tanah


antara HGU dengan Hak
Milik No. 41/ Mekar

- Di dalam HGU No. 7


PTPN IV kebun
Balimbingan di duga

A. Sengketa tanda batas.

Universitas Sumatera Utara

Permasalahan
tanah masyarakat
di areal PTPN IV
Kebun
Balimbingan.
B. Sertifikat Hak
Milik No. 41/
Makar Mulia yang
letaknya di
lembah/ jurang
desa/ Nagori
Mekar Mulia,
Kecamatan Tanah
Jawa, Kabupaten
Simalungun
A. Sdr. Kemin dkk
(155 kk) dengan
PTPN III/ Kebun
Bandar Betsy luas
tanah 115 Ha.
B. Bekas HGU No.
1/ Kebun Bandar
Betsy telah
berakhir haknya
tanggal 31
Desember 2005
luas tanah 5.348,9

Mulia.
C. Sertifikat Hak Milik No.
41 berada di lembah
Kebun PTPN IV.

A. Sengketa kepemilikan
atas tanah.
C. Kelompok Kemin dkk,
menguasai tanah
tersebut sejak tahun
1943 sampai 1968
kemudian PTPN
menduduki tanah
tersebut dari tahun 1968
s/d 2000, sedang Kemin
dkk menduduki kembali
sejak tahun 2000 sampai
sekarang.

A. Sdri. Halimah
A. HM 1171 dan HM 1759
Sinaga dan
sebagian di duduki oleh
Murjimah Sinaga
orang lain tanpa seizin
Jalan Pematang No.
pemilik tanah.
7A Pematang
Siantar.
C. Karena tanah tersebut
B. Sertifikat Hak Milik
disewakan kepada orang
No. 1171 seluas
lain untuk ditanami
1.985 M2 dan HM
tanaman ubi kayu

terdapat Hak Milik


No. 41 An Sutarno
Tanggal 5 Nopember
2002 seluas 9.180 M2
yang letaknya di
Desa/ nagori Mekar
Mulia, Kecamatan
Tanah jawa,
Kabupaten
Simalungun

- Bahwa tanah seluas


215 Ha tersebut
menurut pengakuan
Kemin dkk dikuasai
sejak 1943 s/d 1968,
pada tahun 1965
keluar SK Panitia
Landreform Tanggal
2 Maret 1965 dan
pada tahun 1968 s/d
2000 di kuasai oleh
Kebun PTPN III
Bandar Betsy dari
tahun 2000 s/d saat
ini dikuasai/ diusahai
oleh Kemin dkk
seluas 115 Ha untuk
tanah pertanian
- Bahwa tanah Hak
Milik dan No
sebahagian di garap
orang +35 M2 dan 15
M2 untuk rumah dan
kedai kopi.

Universitas Sumatera Utara

No. 1759 seluas


sedang pemilik tidak
420 M2 letak tanah
bertempat tinggal di luar
Jalan Mata Air
tanah tersebut.
Desa/ Nagori
Rambung Merah
sekarang Pematang
Simalungun
A. Sdr. Ade Silalahi
A. Tentang Penerbitan Hak - Bahwa Panitia
dan Sdr. Pahala
Milik Tahun 2007
Pembagian Tanah
Sihombing, Ketua
sebanyak 42 Sertifikat
EX HTI memberikan
dan Sekretaris
dan Tanggal 6 Maret
persil-persil kepada
LSM ALIANSI
2009 sebanyak 42
Kelompok Tani di
TANNAS.
Sertifikat di lokasi EX
Buntu Bayu,
B. Penerbitan
HTI.
Kecamatan
beberapa
Hatonduhan
Sertifikat Hak
C. Karena masyarakat yang
kemudian BPN
Milik yang
menerima pembagian
Kabupaten
letaknya di Nagori
tanah tersebut atas
Simalungun
Buntu Bayu,
penunjukan Panitia
berdasarkan
Kecamatan
Pembagian Tanah tidak
pembagian tersebut
Hatonduhan
jelas letak maupun
menerbitkan
(tanah EX HTI)
batas-batasnya
sertifikat sesuai
seluas 340.70 Ha
dilapangan..
dengan peraturan
yang berlaku sedang
sebahagian dari
Kelompok
Masyarakat ada yang
keberatan atas
pembagian tersebut.
A. Kelompok Tani
A. Tanah yang sejak dulu
- Bahwa Masyarakat
Makmur An.
dikuasai oleh Kelompok
Kelompok Tani
Damril dkk
Tani Makmur kemudian
Makmur telah
(sebanyak 33 kk)
sebagian dari luas tanah
menguasai tanah
Desa Bandar Betsy
tersebut dikuasai oleh
tersebut sebelum ada
II, Kecamatan
Kebun Bandar Betsy An.
HGU Kebun Bandar
Bandar Huluan,
PTPN III
Betsy yang letak
C. Karena pada tahun 2003
Kabupaten
tanah masyarakat
Simalungun atas
patok tanda batas HGU
berdampingan
tanah seluas +10
No. 1/ Kebun Bandar
dengan Kebun
Betsy berada di luar
Ha (seluruhnya
Bandar Betsy luas
seluas 17,2 Ha).
tanah yang dikuasai
nya +17,2 Ha
B. Bekas HGU No. 1/
masyarakat, kemudian
kemudian di tahun

Universitas Sumatera Utara

Kebun Bandar
Betsy telah
berakhir haknya
tanggal 31
Desember 2005
luas tanah 5.348,9

pada tahun 2006 patok


berada di dalam areal
tanah yang dikuasai oleh
Kelompok Tani
Makmur.

2011 sebahagian
disuguh hati oleh
Kebun Bandar Betsy
seluas +7,2 Ha
sedang di areal sisa
seluas 10 Ha terdapat
patok tanda batas
Kebun Bandar Betsy
yang dulunya berada
di luas areal Kebun
Kelompok Tani
Makmur

Dari hasil penelitian lapangan, telah ditemukan sengketa hak atas tanah adat,
baik menyangkut hak Partuanon (hak ulayat, hak komunal atas tanah dari masyarakat
hukum adat) maupun hak perorangan yang memang berasal dari hak atas tanah adat.
Ada 4 (empat) kasus besar sengketa hak atas tanah adat yang akan diuraikan
berdasarkan tipologi dan faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan tersebut,
dan 1 sengketa tanah yang berasal dari hak atas tanah adat (hak perseorangan) yang
diselesaikan menurut musyawarah mufakat (mengambil asas, konsepsi, lembaga
hukum adat Simalungun).
Kasus 1 : Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Desa Bangun Dolok Kelurahan
Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun
Bahwa pada tahun 2003 Pengadilan Negeri Simalungun memeriksa dan
mengadili perkara perdata antara Keturunan Ama Ni Marhilap Sinaga (Amal Sinaga,
Salamat Sinaga, dan Jhon Sinaga), Keturunan Sijua Sinaga (Efendi Sinaga), melawan
Manatar Sinaga dan kawan-kawan (sebanyak 36 orang).
Bahwa semasa hidupnya Op, Buttu Pasir adalah Raja yang membuka (Sipukka)
Kerajaan (Harajaan) Buttu Pasir yang saat ini terdiri dari 5 (lima) kampung (Huta),
yaitu kampung Buttu Pasir (sebagai pusat Kerajaan), Kampung Tiga Rihit, kampung
Lumban Tongatonga, Kampung Parmanukan, Kampung Bangun Dolok.
Bahwa semasa hidupnya keturunan Op. Buttu Pasir yaitu Amani Marhilap
Sinaga ada membuka Kampung (Sipukka Hutta) yang merupakan bahagian dari
kerajaan Op. Buttu Pasir, yaitu kampung Bangun Dolok (sekarang merupakan anak
kampung Bangun Dolok)
Bahwa semasa hidupnya keturunan Op. Buttu Pasir adalah Raja yang membuka
(Sipukka) Kerajaan (Harajaon) Buttu Pasir yang saat ini terdiri dari 5 (lima) kampung
(Huta), yaitu Kampung Buttu Pasir (sebagai pusat kerajaan), Kampung Tiga Rihit,
Kampung Lumban Tongatonga, Kampung Parmanukan, Kampung Bangun Dolok.
Bahwa semasa hidupnya keturunan Op. Buttu Pasir yaitu Ama Ni Marhilap
Sinaga ada membuka Kampung (Sipukka Huta) yang merupakan bahagian dari
Kerajaan Op. Buttu Pasir, yaitu Kampung Bangun Dolok (sekarang merupakan anak

Universitas Sumatera Utara

Kampung Bangun Dolok) karena Ama Ni Marhilap adalah keturunan Raja Buttu
Pasir, maka ia berhak untuk membuka Kampung di atas Kerajaan Buttu Pasir dan
Kampung Bangun Dolok, luasnya lebih kurang 3 ha (tiga hektar) yang terletak di
Bangun Dolok Kelurahan Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon kabupaten
Simalungun dengan batas-batas sebagai berikut
a. Sebelah Utara berbatas dengan Tanah Negara
b. Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
c. Sebelah Timur berbatas dengan Lajangan Bangun Raja
d. Sebelah Barat berbatas dengan Ladang Pinus
Bahwa keturunan Op. Buttu Pasir lainnya, anak kedua dari Ama Ni Marhilap
yaitu Siharajaon Sinaga (Jungil) ada membuka Kampung (Sipukka Huta) bahagian
dari kerajaan Op. Buttu Pasir, yaitu yang disebut Bangun Raja (sekarang merupakan
anak Kampung Bangun Dolok) karena Siharajaon adalah Keturunan Op. Buttu Pasir,
maka ianya berhak untuk membuka Kampung di atas Kerajaan Buttu Pasir dan
bangun Raja luasnya 15 ha (lima belas hektar) yang terletak di Bangun Dolok
kelurahan Parapat kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun
dengan batas-batas sebagai berikut.
a. Sebelah Utara berbatas dengan Tanah Negara
b. Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
c. Sebelah Timur berbatas dengan Jurang
d. Sebelah Barat berbatas dengan Bangun Dolok, Ladang Pinus
Bahwa dibukanya kampung Bangun Dolok oleh Ama Ni Marhilap dan
Kampung Bangun Raja oleh Siharajaon maka kedua kampung tersebut mempunyai
tanah tempat pengembalaan ternak (Lajangan) di atas Kerajaan Buttu Pasir dan
terletak di Bangun Dolok kelurahan Parapat kecamatan Girsang Sipangan Bolon
kabupaten Simalungun dan sebahagian dari Lajangan tersebut seluas telah disewakan
Raja Usia kepada Tuan Lemes dan Tuan Houninge;
Bahwa sisa Lajangan seluas + 3ha yang masih dipergunakan oleh kedua
Kampung tersebut mempunyai batas-batas sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatas dengan Bangun Dolok, Bangun Raja
b. Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
c. Sebelah Timur berbatas dengan Jurang

Universitas Sumatera Utara

d. Sebelah Barat berbatas dengan Bangun Dolok, Ladang Pinus


Bahwa pada zaman sebelum kemerdekaan Kampung Bangun Dolok telah
didaftar kepada pemerintahan Belanda sebagai Tanah milik dari Ama Ni Marhilap
dan pendaftaran tersebut meliputi Bangun Dolok, Bangun Raja dan Lajangan
sebagaimana disebutkan diatas.
Bahwa pada saat Kampung Bangun Dolok yang dibuka Ama Ni Marhilap
terbakar maka Ama Ni Marhilap pindah ke Kampung Tiga Rihit dan meninggalkan
Kampung Bangun Dolok (anak kampung Bangun Dolok sekarang) ditinggalkan
dalam keadaan kosong dan masyarakat yang ada di atasnya juga ikut berpindah dan
sebahagian besar pindah ke Bangun Raja 355.
Bahwa saat Siharajaon yang membuka Kampung Bangun Raja meninggal dunia
dan tidak meninggalkan keturunan, maka saudaranya yaitu bernama Marhilap dan
Sijua yang juga anak dari Ama Ni Marhilap pindah dari Kampung Tiga Rihit ke
Bangun Raja untuk meneruskan Kampung Bangun Raja.
Bahwa setelah Indonesia merdeka maka Pemerintah Indonesia mendata kembali
tanah-tanah yang ada di Wilayah Indonesia dan ketiga tanah sebagaimana disebutkan
di atas yaitu Kampung Bangun Dolok, Kampung Bangun Raja, dan Lajangan didata
kembali dan sejak saat itu dinamakan Kampung Bangun Dolok sampai sekarang.
Bahwa ketiga bahagian tanah tersebut yaitu Kampung Bangun Dolok,
Kampung Bangun Raja, dan Lajangan sekarang disebut kampung Bangun Dolok
seluas + ha 20 (dua puluh hektar) merupakan satu kesatuan hak dari Ama Ni
Marhilap dan semasa hidupnya Ama Ni Marhilap ada memberikan dengan seijin dan
sepengetahuannya kepada masyarakat untuk menempati dan mengusahai tanah
terperkara dan hal tersebut berlanjut sampai sekarang, dan saat ini di Bangun Dolok
ada tinggal keturunan langsung Ama Ni Marhilap dan mempunyai rumah dan
mengusahai ladang dan juga keturunan masyarakat yang telah diberikan tempat oleh
Ama Ni Marhilap.
Bahwa masyarakat yang menempati tanah tersebut haruslah seijin dan
sepengetahuan oleh Ama Ni Marhilap dan mereka hanya diberikan ijin untuk
menempati dan mengusahai dan bukannya memiliki dan saat ini tergugat I, II, III, s/d
XXXVI mengusahai bahagian-bahagian tanah terperkara.
Bahwa di atas tanah terperkara penggugat I dan II ada mempunyai ladang,
saudara penggugat I dan penggugat II, yaitu M. Japaya Sinaga mempunya ladang,
Marben Sinaga mempunyai ladang dan Hemat Sinaga mempunyai Ladang.
Bahwa di atas tanah terperkara penggugat IV ada mempunyai ladang dan
saudara penggugat IV yitu Na Risma Br. Sirait mempunyai Ladang, Marolop Sinaga
mempunyai ladang dan Jaden Sinaga mempunyai rumah dan ladang.
Bahwa keturunan langsung Ama Ni Marhilap yaitu cucunya bernama Hati
Sinaga, semasa hidupnya sempat menjabat sebagai Gamot Bangun Raja (sekarang
355

Hasil wawancara yang telah diolah dengan 3 orang tokoh adat di Desa Bangun Dolok Kelurahan
Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, Tanggal 3 Mei 2011

Universitas Sumatera Utara

merupakan anak Kampung Bangun Dolok), hal tersebut terjadi karena Hati Sinaga
merupakan keturunan langsung dari Pembuka Kampung (Sipukka Huta) Bangun
Dolok;
Bahwa sepengetahuan Penggugat-penggugat, tanah terperkara merupakan satu
kesatuan yang dibuka (dipukka) oleh Ama Ni Marhilap dan keturunannya dan tidak
ada orang lain yang membuka (mamukka) kampung di tanah terperkara baik
keturunan Op. Buttu Pasir yang selain dari Ama Ni Marhilap apalagi yang bukan
keturunan Op. Buttu Pasir;
Bahwa sudah menjadi hukum tidak tertulis, dimana Raja-raja kerajaan lain
tidak bisa membuka kampung di bahagian tanah milik orang lain dan juga keturunan
istri kedua (imbang) tidak bisa membuka kampung.
Bahwa ternyata Tergugat I dan II telah mengklaim sebahagian tanah terperkara
sebagai hak dari bapak dan kakek tergugat I dan II.
Bahwa oleh karena keturunan Ama Ni Marhilap yaitu Penggugat-penggugat
dan saudara-saudara Penggugat-penggugat tidak pernah mengetahui adanya sipukka
huta kampung lain selain Ama Ni Marhilap dan keturunannya atas tanah terperkara,
oleh karena itu pengakuan Tergugat I bahwa kakek Tergugat I dan pengakuan
Tergugat II sebagai Pembuka Kampung (Sipukka Huta) yang merupakan kesatuan
dari tanah terperkara telah merugikan kepada penggugat-penggugat, saudara-saudara
penggugat dan juga keturunan Ama Ni Marhilap lainnya selaku keturunan langsung
dari Ama Ni Marhilap.
Bahwa setelah penggugat-penggugat selaku keturunan langsung dari sipukka
huta Bangun Dolok yaitu Ama Ni Marhilap mengetahui adanya klaim tergugat I dan
II atas tanah terperkara, maka Penggugat I dan II dengan keluarga Penggugat I dan II
telah berulangkali mencoba mencari jalan keluar untuk penyelesaian masalah tersebut
secara baik-baik dan kekeluargaan akan tetapi hingga dimajukannya gugatan itu ke
Pengadilan Negeri Simalungun Tergugat I dan II tidak menunjukkan itikad baiknya
agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan.
Bahwa pada tanggal 22 Juli 2003 dilangsungkan pertemuan yang membahas
sengketa kepemilikan hak atas tanah di Bangun Dolok yang diadakan di kantor
kelurahan Parapat (Tergugat III);
Bahwa yang hadir pada saat itu antara lain Amal Sinaga (Penggugat I), Saritua
Sinaga dan Jhon Sinaga (Penggugat III), Tergugat II, Tergugat III, M.J Sinaga
(Tergugat IX), Jori Sinaga dan Jaudin Sinaga, dan juga Tergugat III selaku Lurah
Parapat.
Bahwa dalam pertemuan tersebut 356 Penggugat I dan III merasa heran karena
Tergugat III tidak mengundang penetua-penetua Kampung (Raja-raja Bius Silima
Tali Harajaon Parapat) yang berada di sekitar Bangun Dolok dan juga keturunan Raja
Sijua, akan tetapi yng hadir adalah orang-orang yang menguntungkan Tergugat I dan
II dan pada dasarnya mereka tidak mengetahui sejarah Bangun Dolok, sehingga
356

Sperti yang diungkapkan pada wawancara dengan masyarakat adat Desa Bangun Dolok yang
dikumpulkan di rumah keluarga Hotlem Ambarita pada tanggal 04 Mei 2011

Universitas Sumatera Utara

perbuatan Tergugat III yang tidak mengundang seluruh Penetua Kampung di Parapat
merupakan perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan merupakan perbuatan
melawan hukum karena pendapat yang disampaikan dalam pertemuan tersebut hanya
sepihak tanpa didukung fakta, bukti dan pernyataan penetua kampung lainnya;
Bahwa atas pertemuan tersebut Tergugat III telah mengeluarkan Notulen Rapat
bertanggal 22 Juli 2003.
Sedangkan putusan Pengadilan Tinggi Medan 357, Penggugat (Amani Marhilap)
mengajukan banding adalah sebagai berikut :
Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Simalungun tanggal 6 Juli 2004 No.
35/Pdt. G/2003/PN. Sim, mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebahagian dan
menyatakan dalam hukum bahwa pembuka kampung (sipukka huta) tanah terperkara,
Bangun Dolok sekarang adalah Amani Marhilap dan keturunannya.
Keputusan Mahkamah Agung 358
Bahwa Posita gugatan, Penggugat ternyata tidak menyebutkan secara jelas
tentang luas dan batas-batas objek sengketa sehingga akan menyulitkan
eksekusi di kemudian hari apabila telah ada Putusan yang berkekuatan
hukum tetap atas obyek sengketa, lagi pula pemeriksaan setempat yang
dilaksanakan oleh yudex facti Pengadilan Negeri juga tidak menghasilkan
suatu kejelasan tentang luas dari batas-batas objek sengketa a quo;
Di samping itu masih terdapat beberapa orang yang menguasai bagianbagian dari objek sengketa tidak diikutsertakan sebagai Tergugat dalam
perkara ini sehingga apabila pemeriksaan materi perkara ini dilanjutkan tidak
menutup kemungkinan akan menghasilkan suatu pemeriksaan perkara yang
tidak tuntas.
Demikianlah konflik hak atas tanah adat itu masih terus berlangsung
meskipun keputusan MARI (Mahkamah Agung Republik Indonesia) sudah
ada namun belum bisa dieksekusi. Berdasarkan wawancara kondisi di
lapangan sangat mencekam 359
Perlu dijelaskan Op. Buttu Pasir kawin dengan 2 orang perempuan yaitu :
1. Boru Sijabat anaknya : Ama Ni Buttu Pasir keturunan Ama Ni Buttu Pasir
Op. Salajambar keturunan Op.Salajambar : Si Raja Hataon, Op.Jaunian,
Ama Ni marhilap, jika digambarkan dengan skema sebagai berikut :

357

Putusan No : 297/PDT/2004/PT.MDN
Putusan MA Nomor : 2143K/PDT/2005; Membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.
297/PDT/2004 PT MDN tanggal 5 April 2005 yang membatalkan Putusan PN Simalungun No.
37/PDT.G/2003/PN Sim.6-07-2004.
358

359

Mereka; pihak Penggugat dan Tergugat masih memiliki tanah di lokasi yang dipersengketakan tetapi
saling tidak berani untuk mengusahai akibat takut jika kembali terjadi pertikaian yang bisa mengakibatkan

Universitas Sumatera Utara

Op Buttu Pasir kawin dengan boru Sijabat

Ama Ni Buttu Pasir

Op. Salajambar

Si Raja Hataon

Marhilap

Saritua
Sinaga

Nagatua
Sinaga

Amal
Sinaga

Sijua

Siharajaon

Duri
Sinag
a

Ramot br
Sinaga

Hati
Sinaga

Dasing
Sinaga

Martuhan

M.
Jayapaya
Sinaga

Ama Ni Marhilap

Op. Jauniah

Marbu
n

Matio
Sinag

Mula
Sinaga

Johanna

Marihgan
Sinaga

Mina

Sopia

Mana

Hemat
Sinaga

Oris

Marolop

Efendi

Joden

John
Sinaga
penganiayaan bahkan lebih dari itu, akibat belum dieksekusinya Putusan Mahkamah Agung RI, wawancara
dengan masyarakat adat Desa Bangun Dolok, ibid

Universitas Sumatera Utara

2. Kawin dengan boru Rumahorbo, keturunannya :


a.

Op.Bungaindar.

b.

Op.Tomas.

c.

Op.Hapal.

a. Tipologi sengketa pertanahan dalam kasus 1 (satu) diatas adalah :


1) Sengketa di atas merupakan sengketa perdata berkenaan dengan masalah
tanah.
2) Sengketa tanah yang berkaitan dengan hak ulayat/ hak Partuanon yang
mempermasalahkan tentang sipukka huta.
3) Sengketa Penguasaan dan Pemilikan
4) Sengketa Penetapan Hak
Pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus di atas keturunan Ama Ni Marhilap
Sinaga (sekelompok masyarakat adat) dengan keturunan Sijua Sinaga
(sekelompok masyarakat adat). Meskipun sebenarnya kedua kelompok tersebut
(Ama Ni Marhilap Sinaga) vs Manatar Sinaga adalah keturunan dari sipukkah
huta (Op. Buttu Pasir).
b. Faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan dalam kasus 1 (satu) diatas:
1) Faktor klasik, berhubungan dengan terbatasnya ketersediaan tanah sedang
kegiatan pembangunan dan pertumbuhan penduduk semakin meningkat
sehingga kebutuhan akan tanah juga semakin meningkat, ketimpangan antara
peningkatan kebutuhan manusia dengan keterbatasan ketersediaan akan tanah
sering menimbulkan benturan kepentingan di tengah-tengah masyarakat
ditambah dengan adanya gejala lapar tanah yang menyebabkan banyak
kelompok menduduki tanah orang lain tanpa hak, yang pada gilirannya
menimbulkan konflik dengan melibatkan massa yang besar.

Universitas Sumatera Utara

2) Faktor Yuridis-Teknis berkaitan dengan belum terdaftarnya bidang tanah yang


ada.
3) Faktor Politik juga terkait, yaitu dengan permasalahan permasalahan
pertanahan yang mengandung keterlibatan pihak Pemerintah Daerah 360 dan
DPRD setempat dengan alasan kepentingan ekonomi, sosial, dan budaya.
4) Faktor Historis, yang berkaitan dengan sejarah hak Partuanon, dimana si
pukkah huta (yang membuka kampung) Kerajaan Buttu Pasir adalah Op.
Buttu Pasir.

Kasus 2 : Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat Silampuyang.


Sebelum menguraikan sengketanya sendiri ada baiknya menguraikan fakta
historis Kerajaan Silampuyang.
Sejarah singkat silsilah keturunan Tuan Djaingat Saragih, pemegang hak
partuanon (ulayat) Silampuyang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara :
Sekitar tahun 1700-an, raja (bestuur) pertama Kerajaan Silampuyang
membuka hutan untuk dijadikan lokasi perkampungan di daerah yang banyak
ditumbuhi tanaman lampuyang (sejenis tanaman yang berkhasiat untuk obat-obatan
tradisional), di sekitar tempat lokasi perkampungan Huta Bagasan yang sekarang.
Nama Pamungkah Huta (pamatang) Silampuyang adalah Tuan Tunjang Langit
marga Saragih. Batas-batas daerah Tuan Silampuyang : dibuatnya di sebelah Timur:
(saat ini) Andarasih, di Barat: Bakaran Batu, sebelah Selatan: Bah Hilang dan di
Utara: Bah Biak.
Kekuasaan Tuan Tunjang Langit berkembang pesat dengan bertumbuhnya
beberapa kampung di lingkungan wilayah kekuasaannya yang cukup luas itu.
Pemerintah Kolonial Belanda pada awalnya berjaya membuka kebun
tembakau (Deli Tobacco) di Deli Serdang dan ingin memperluas sayapnya
(memperluas areal perkebunan besarnya) ke wilayah Simalungun, Sumatera Timur,
dan mengambil lokasi Bah Jambi sebagai pusat pengembangannya (Kantor Pusat).
Yang pertama-tama diliriknya adalah wilayah Partuanon Silampuyang, yang
sangat menjanjikan itu. Raja-raja di Simalungun, khususnya Raja Sang Naualuh
Damanik, Raja Siantar (18..-1906) menolak dan mengadakan perlawanan terhadap
perluasan perkebunan mascape Belanda. Namun Belanda berhasil mematahkan
360

Menurut pengakuan warga dan bukti fotokopi Surat yang bersifat rahasia, beberapa kavlingan tanah
pada objek perkara tersebut adalah milik para pejabat (termasuk pejabat Provinsi tingkat I Sumatera Utara)

Universitas Sumatera Utara

perlawanan raja-raja Simalungun dan merampas seluruh wilayah Simalungun


(penaklukan Belanda atas raja-raja Simalungun, melalui penandatanganan Akta
Korte Verklaring oleh raja-raja Simalungun tahun 1904 dan 1907).
Raja Sang Naualuh yang menolak Perjanjian Pendek/ Korte Verklaring
diasingkan pada tahun 1906 ke Pulau Bengkalis. Dengan cara-cara demikian,
Pemerintah Hindia Belanda merasa berhak merampas seluruh wilayah Simalungun
(termasuk daerah Partuanon Silampuyang).
Pada waktu itu, wilayah Silampuyang dikuasai oleh generasi ke 6 (Dinasti ke6), yaitu Tuan Djaingat Saragih. Tuan ini, yang merasa sangat dirugikan oleh
Belanda, berangkat ke Batavia dan Bogor untuk memperjuangkan pengembalian
tanah leluhurnya kepada Pemerintah Pusat Hindia Belanda (Gubernur Jenderal).
Setelah mengatasi berbagai rintangan, Tuan Djaingat Saragih berhasil (memenangkan
perkaranya) untuk sebagian. Sekembalinya dari Batavia, tanah yang
diperjuangkannya sudah diusahai oleh Maskape Perkebunan Belanda. Tuan
Silampuyang meminta kembali seluruh tanah Harajaan Silampuyang, namun tuan
kebun (Pemerintah Daerah Sumatera Timur) licik, membujuknya dengan kesepakatan
kedua belah pihak yang berbunyi sebagai berikut :
Apabila keturunan Tuan Silampuyang dan rakyat yang dipimpinnya
bertambah, maka tanah perkebunan tersebut harus dikembalikan kepada
Tuan Silampuyang setelah tujuh puluh tahun kemudian.
Sementara itu, Tuan Djaingat Saragih telah memindahkan pusat
pemerintahannya dari Huta Bagasan ke Pematang Silampuyang bagian atas. Dan
Belanda, akibat krisis yang makin genting (Malese, 1920-an) semakin menekan
rakyat.
Tuan Djaingat Saragih meninggal dunia pada tahun 1930, dan digantikan oleh
adik kandungnya Tuan Djoriammat Saragih sebagai Tuan Silampuyang, menunggu
anak kandungnya, yaitu Tuan Simon Saragih menjadi akil baligh.
Pada saat dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 1945, Belanda
angkat kaki dari Indonesia, tanah perkebunan punya hak Partuanon Silampuyang
diambil alih oleh Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) sampai sekarang.
Pada tahun 1969, ahli waris Tuan Silampuyang meminta tanah leluhurnya
kepada Perusahaan Perkebunan Negara (PPN); sesuai dengan perjanjian melalui
DPR-GR (saat itu), PPN VII (sekarang PTPN-IV) sudah bersedia melepaskan 234
Hektar tanah Tuan Silampuyang. Namun oleh Panitia Pembagian (1970),
menyelewengkan pembagian tanah tersebut dengan mengikutsertakan warga yang
bukan ahli waris serta rakyat Tuan Silampuyang.
Sejak reformasi bergulir tahun 1998, ahli waris Tuan Silampuyang dan
masyarakat Silampuyang mengadakan musyawarah dan sepakat untuk membentuk
Kepanitiaan, yang bernama: Panitia Pengembalian Tanah Pinjaman Perkebunan
PTPN-IV dari Tuan Silampuyang (PPTPP) 361.

361

Djariaman Damanik, Op Cit, hal. 83-84.

Universitas Sumatera Utara

Kedudukan (status) Partuanon Silampuyang setelah penandatanganan Korte


Verklaring (Perjanjian Pendek) antara Pemerintah Hindia Belanda dengan
Partuanon/ Parbapaan (pemangku harajaan dan adat) wilayah Siantar di Siantar, pada
tanggal 16 Oktober 1907. Bahwa, substansi Berita Acara Persidangan, yang dihadiri
oleh Contreleur J.L. OBrien dan Harajaan Pematang Bandar, Parbapaan Bandar,
Parbapaan Siantar Proper, Parbapaan Sidamanik dan partuanon-partuanon dari
Harajaan Siantar, Sidamanik dan Bandar, semuanya berjumlah 39 orang, dapat
dipakai sebagai entry point, sebab naskah dokumen itu diakui oleh Pihak
Pemerintahan Hindia Belanda (G.G.N.I Van Heutz), Partuanon-partuanon dan
Parbapaan-parbapaan dari ketiga kerajaan itu (Siantar Proper, Bandar dan
Sidamanik).
Dari sekian banyak yang hadir dan mengetahui serta menyetujui isi naskah
itu, terdapat nama Si Djaingat Toean van Silampuyang. Yang berarti bahwa Tuan
Djaingat diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda dan Harajaan Siantar Proper, Bandar
dan Sidamanik, sebagai suatu daerah Partuanon, yang punya daerah kekuasaan
(ulayat) sendiri atas tanahnya (kampung halaman, tanah pertanian dan hutan serta air
yang berada dalam batas-batas daerahnya).
Jadi daerah Partuanon Silampuyang merupakan suatu masyarakat hukum
yang berdiri sendiri (otonom luas ) atau berdaulat atas wilayah kekuasaannya. Jadi
semua campur tangan atas barang (tanah, hutan, perkampungan, air dan lain-lain)
dalam wilayah partuanon-nya harus memperoleh persetujuannya.
Status Harajaan Siantar Proper, dapat dikatakan sebagai koordinator saja dari
sekian banyak Partuanon dan Parbapaan untuk memudahkan Pemerintah Hindia
Belanda me-manage daerah koloninya. Struktur organisasi pemerintahan,
sebagaimana kita jumpai sekarang di Kecamatan Siantar, sangat berbeda dengan
struktur atau bagan organisasi pemeritahan Harajaan tempo doeloe (semacam
statenbond dalam arti tradisional, dimana Partongah berkedudukan sebagai
primus interparis di antara para Partuanon dan Parbapaan yang ada) khususnya
menghadapai intervensi dari luar (asing) 362.
Soal benar atau tidaknya eksistensi Hak Partuanon/ Ulayat Tanah
Silampuyang 363.
a. Penuturan dari generasi ke generasi di kalangan keluarga besar Raja-raja Siantar,
Bandar dan Sidamanik menegaskan bahwa Partuanon Silampuyang sudah ada
sebelum hadirnya Kerajaan Siantar pada abad ke-15. Kerajaan Siantar
martondong bona/ mataniari terhadap Tuan Silampuyang. Artinya calon-calon
permaisuri/ Puang Bolon/ Puang Poso bagi Raja-raja Siantar/ Sidamanik/ Bandar
berasal dari Partuanon Silampuyang.
b. J. Tideman dalam bukunya Simeloengoen, Hetland der Timoer-Bataks Leiden
1922, juga menulis tentang hubungan antara raja-raja Siantar dengan Partuanon
Silampuyang.
362
363

Ibid, hal. 90-91.


Ibid, hal. 102.

Universitas Sumatera Utara

c.

Dalam perjanjian pendek atau Korte Verklaring yang dibuat oleh Belanda dan
pembesar-pembesar adat di Kerajaan Siantar, Bandar, dan Sidamanik, antara
sekian banyak Partuanon yang hadir dalam pertemuan khusus itu, tercantum
nama Tuan Djaingat/ Tuan van Silampuyang (Oktober 1907). Dari ungkapanungkapan di atas sudah dapat dipastikan bahwa Partuanon Silampuyang eksis,
demikian juga dengan hak Partuanon Ulayat (beschikkingskring) atas tanah adat,
dengan batas-batasnya yang jelas. Secara kebetulan lokasi Partuanon
Silampuyang berada di tengah-tengah tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Siantar,
Tanah Jawa, dan Panei. Menurut penuturan lisan orang-orang tua, Partuanon
Silampuyang sering berfungsi (sesuai letak geografis daerahnya) sebagai
penengah yang tidak berpihak, bila kadang kala terjadi konflik di antara raja-raja
tersebut. Di daerah itu ada sebidang lahan pertanian yang terkenal dengan nama
Sitanggal Gupak yang artinya sebagai daerah netral dimana, siapapun tidak
diperkenankan berkelahi/ bersengketa di sana, kira-kira fungsinya seperti
Negara Swiss di Benua Eropa. Bagaimanakan batas-batas daerah Partuanon
Silampuyang dahulu dapat di-trace di peta-peta lama yang tersimpan di Arsip
Nasional Jakarta. Cukup sampai disini masalah eksistensi Partuanon
Silampuyang dan daerah Partuanonnya (hak ulayat) atas tanah Silampuyang.
1) Masalah Rakyat Silampuyang, Siapakah yang dapat didefinisikan sebagai
rakyat Silampuyang? Tentu yang berdiam/ berdomisili di daerah (huta dan
dusun) Silampuyang secara menetap. Dahulu digunakan istilah Simalungun
Par Silampuyang itulah simada talun Silampuyang sebagai warga atau
kaula Silampuyang, sebagai anggota masyarakat hukum tradisional.
Sebagaimana kita ketahui ada hubungan mendasar (batin/ kodrat) antara
warga masyarakat hukum tertentu dengan tanah leluhurnya dari generasi ke
generasi.
2) Bagaimana sampai tanah Partuanon Silampuyang jatuh ke tangan Perkebunan
(PTPN-IV) Bah Jambi?
Keadaan ini mempunyai latar belakang sejarah yang panjang :
a) Berawal dari ketertarikan perkebunan asing menginvestasikan modalnya
di Simalungun. Setelah hampir semua raja-raja di Simalungun

Universitas Sumatera Utara

menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) antara tahun


1904-1907, maka daerah Simalungun mendapat giliran untuk pembukaan
perkebunan luas oleh orang-orang asing. Pembukaan kebun karet pertama
adalah di Kerajaan Bandar, kemudian menyusul di Kerajaan Siantar,
Tanah Jawa dan Panei. Menurut catatan J. Tideman dalam bukunya yang
terkenal itu,
(1) Pada tahun 1908, Kebun Siantar Estate mulai mengelola kebun karet
di sekitar Kota Siantar.
(2) Pada tahun 1919, Marihat Sumatera Plantage, dengan kebun karet,
mulai beroperasi di daerah Partuanon Silampuyang.
(3) Sampai tahun 1921, di daerah Simalungun sudah ada 14 perkebunan
teh, 20 kebun karet, 2 kebun sisal dan 10 kebun aneka tanaman.
(4) Titik puncak penetrasi perkebunan asing ke daerah Simalungun adalah
pada tanggal 1 Juli 1920 dimana pemerintah Hindia Belanda
menetapkan Simalungun menjadi bagian dari Cultuurgebied Oostkust
van Sumatra (Simalungun dimasukkan menjadi bagian dari daerah
kultur perkebunan asing), yang berarti kepentingan perkebunan asing
dinomorsatukan, sedang kepentingan rakyat raja-raja tradisional
dinomorduakan. Inilah politik kolonial murni yang telah dialami oleh
daerah dan rakyat Simalungun mulai tahun 1920 sampai tahun 1943
(masuknya pemerintahan militer Jepang ke Sumatera Timur).

Universitas Sumatera Utara

Sehubungan dengan peristiwa perusakan tanaman perkebunan PTPN-IV Bah


Jambi oleh rakyat ada beberapa hasil wawancara yang menggambarkan sengketa
tanah Silampuyang tersebut 364 :
a) Siapakah rakyat yang melakukan perusakan pohon-pohon kelapa sawit milik
PTPN itu? Apakah mereka warga/ kaula Huta Pamatang Silampuyang?
Ataukah mereka orang luar yang haus akan tanah untuk menambah tanah
pekarangan, ladang, sawahnya yang sudah ada?
b) Apa dasar/ motif perusakan yang mereka lakukan? Katanya tanah-tanah itu
diserobot oleh perkebunan? Bukankah perkebunan sudah memiliki HGU
(hak guna usaha) atas tanah sengketa itu? Mungkinkah mereka sama sekali
tidak tahu atau paham tentang sejarah tanah-tanah tersebut jatuh ke tangan
perkebunan. Misalnya perjanjian kontrak erfacht dahulu, nasionalisasi
perkebunan teh oleh pemerintah Indonesia, penerbitan hak guna usaha oleh
Pemerintah Indonesia sebagai vrij landsdomein.
c) Perlu men-discover perjanjian erfpacht antara Raja-Siantar dengan Marihat
Rubber Plantation Coy pada kira-kira tahun 1918.
d) Perlu peta batas-batas tanah Silampuyang/ batas-batas perkebunan.
e) Pendataan rakyat penggarapan secara rinci dan penduduk Silampuyang
proper (hak pemilikan tanah).
f) Apakah perjanjian atau pernyataan DPR-GR untuk memberikan lahan
perkebunan kepada rakyat Silampuyang seluas 225 hektar. Adakah suatu
triparty perjanjian antara DPRGR-Pemerintah-Rakyat? Bagaimana isi/
substansinya? Bagaimana pelaksanaannya dilapangan? Pas op : pengalaman
dahulu, ada Penghulu Alip Damanik janji kepada keluarga T. Silampuyang?
Waspadalah terhadap manipulator-manipulator! Mengatasnamakan nama
Tuan Silampuyang (bukan raja Silampuyang).
g) Perlu klarifikasi : Jangan ada yang teraniaya! Nama baik Tuan Silampuyang!
Keturunan Tuan Silampuyang yang merasa dirugikan namanya, dapat
menggugat mereka yang menyalahgunakan nama Tuan Silampuyang untuk
kepentingan diri mereka sendiri.
Masyarakat Huta Bagasan, Desa Silampuyang, Kecamatan Siantar, Kabupaten
Simalungun (85 orang) yang diwakili kuasa hukum Sitor Situmorang,SH,MH dkk
melawan
- PTPN IV
-

Pemerintah RI cq BPN RI cq BPN Sumatera Utara cq BPN Kabupaten


Simalungun

364

Hasil wawancara yang telah diolah.

Universitas Sumatera Utara

Isunya sebagai berikut :


Masyarakat Huta Bagasan, Desa Silampuyang, Kecamatan Siantar, Kabupaten
Simalungun (85 orang) yang diwakili kuasa hukum Advokat dari Law Office Sitor
Situmorang dan partners sebagai Penggugat, melawan :
1. PT Perkebunan Nusantara IV (dahulu PTP VII) Medan, sebagai Tergugat I
2. Pemerintah RI BPN RI cq dan BPN Kanwil Propinsi Sumatera Utara cq BPN
Kabupaten Simalungun selanjutnya sebagai Tergugat II.
Objek gugatan adalah tanah Cadangan Perluasan Perkampungan dan
Pertanian Huta Bagasan Nagori Silampuyang yang terletak di Huta Bagasan Desa
Silampuyang Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara
seluas 225 ha dengan batas-batas sebagai berikut 365 :
Sebelah Utara : dimulai dari Patok I memanjang sampai Patok II sampai Patok III
dibatasi dengan Tanah Sawah Pak Supar areal perkebunan Kelapa
Sawit Afdeling II PTPN IV Jalan Desa Silampuyang dan Sungai
Bah Arabi,
Sebelah Timur : dimulai dari Patok III sampai Patok IV dibatasi dengan Sungai
Bah Arabi, areal perkebunan Kelapa Sawit Afdeling II PTPN IV
areal Perkebunan Kelapa Sawit Afdeling III PTPN IV dan Sungai
Bah Hilang (dikenal masyarakat Waliman sebagai daerah
Sitahuak)
Sebelah Selatan : dimulai dari Patok IV sampai daerah irigasi (DAM) dibatasi
dengan Sungai Bah Hilang, Tanah Pak Bero, Tanah Pak Untung,
Tanah Pak Waliman, Tanah Pak Tamin, Tanah Pak Sairin, Tanah
Pak Suratman, Tanah Pak Purba, Tanah Pak Amron Batubara,
Tanah Pak Hermanto, Tanah Pak Saliwon, Tanah Pak Satia
Girsang, Tanah Pak Ginting, Tanah Pak Mangatar Saragih, Tanah
Pak Sarpen, Tanah Pak Salmon, Tanah Asam Damanik, Tanah
Pak Kasiran, Tanah Alm. Pak Torik Situmorang, Tanah Pak
Syarifuddin Manurung dan Tanah Pak Asam Damanik,
Sebelah Barat :
dimulai dari daerah irigasi (DAM) sampai Patok I dibatasi dengan
Tanah Alm. Pak Amat Lontong, Tanah Pak Zaiman, Tanah Pak
Manan, Rumah Pak Jimin, Tanah Pak Narsim dan Tanah Pak
Turino.
Selanjutnya disebut TANAH OBJEK GUGATAN 366

365

Putusan Pengadilan Tinggi No. 264/PDT/2007/PT-MDN, hal. 2


366
Putusan Nomor 26/Pdt/G/2006/P.N Sim, hal. 2

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat Huta Bagasan Desa Silampuyang Kecamatan Siantar Kabupaten


Simalungun Sumatera Utara merupakan pemilik yang sah (mempunyai hak milik
bersama atas objek gugatan) 367
Bahwa tanah kampung dan tanah cadangan pertanian Huta Bagasan diatas
telah dikuasai oleh Orang Tua Para Penggugat seluas 9.9 ha dan sisanya 225 ha yang
dalam gugatan ini disebut sebagai tanah objek gugatan telah dikuasai oleh Tergugat I
dengan cara meminjam dari Orang Tua Para Penggugat melalui Tuan Silampuyang
yang bertindak dalam kapasitasnya sebagai Penghulu (Kepala Desa) pada zaman itu.
Bahwa dalam akta/surat peminjaman tanah objek gugatan antara Tuan
Silampuyang yang mewakili kepentingan Para Penggugat dengan Tergugat
dinyatakan bahwa tanah tersebut (obyek gugatan) akan dikembalikan secara
beangsur-angsur setelah perkembangan penduduk ternyata membutuhkannya,
sebagaimana juga hasil penelitian bagian A. DPRGR membutuhkannya, sebagaimana
juga hasil penelitian Surat Laporan Bagaian A. DPRGR Kabupaten Simalungun
tentang tuntutan Pengembalian Tanah Cadangan Perluasan Perkampungan Huta
Bagasan Kecamatan Siantar dari PNP-VII Perkebunan Marihat tertanggal 4 juni
1970. 368
Bahwa apa yang disepakati dalam Perjanjian antara Tuan Silampuyang
dengan Tergugat I ini tidak pernah dipatuhi atau direalisasikan oleh Tergugat I hingga
surat gugatan ini diajukan atau dengan kata lain bahwa tanah yang merupakan obyek
gugatan aquo belum pernah dikembalikan oleh pihak Tergugat I kepada Orang Tua
Para Penggugat.
Bahwa sejak tahun 1969 369 Bagian A DPRGR Kabupaten Simalungun telah
mengadakan penelitian berdasarkan tuntutan Para Penggugat agar tanah obyek
gugatan dikembalikan kepada Para Penggugat, dimana sebelumnya juga Para
Penggugat telah menyampaikan tuntutan secara langsung kepada kepada Tergugat I
tetapi tidak pernah ditanggapi bahkan Tergugat I menggunakan kekerasan untuk
mencegah tindakan Para Penggugat tersebut, maka berdasarkan keterangan yang
diminta oleh Bagian A DPRGR dari Tergugat I, bahwa Tergugat I telah mengakui
bahwa benar Tuan Silampuyang telah meminjamkan tanah obyek gugatan kepada
Tergugat I, akan tetapi akta/surat Perjanjian Peminjaman tersebut telah hilang dan
tidak ada di berkas/arsip Tergugat I lagi.
Bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DPRGR Kabupaten
Simalungun telah dibuktikan melalui peninjauan langsung ke lokasi letak obyek tanah
367

Berkenaan dengan itu Orang Tua Para Penggugat telah memiliki tanah obyek gugatan sejak zaman
penjajahan Belanda di Indonesia, dan hal tersebut telah diakui secara tegas oleh Pemerintah Hindia Belanda pada
masa itu sebagaimana yang disebutkan secara tegas dalam terjemahan Surat Keputusan dari daftar Surat
Keputusan Gouvernour der Oostkust van Sumatera No. 273/B/E.3 tanggal 30 Agustus 1928, dimana dinyatakan
dalam surat tersebut bahwa luas tanah kampung dan tanah cadangan pertanian Huta Bagasan Nagori Silampuyang
adalah 234, 9 ha, ibid hal. 3.
368
Hasil wawancara yang telah diolah dengan Abdiaman Damanik, Ketua Panitera PN Simalungun,
tanggal 4 April 2011.
369
Wawancara dengan Ketua Pengadilan Negeri Simalungun, Pematangsiantar pada tanggal 1 April
2011.

Universitas Sumatera Utara

gugatan dan melalui keterangan-keterangan baik dari pihak Penggugat (mayarakat


Huta Bagasan Silampuyang), Pihak Tergugat serta pihak-pihak yang berkompeten
lainnya, didapat kesimpulan bahwa semua pihak membenarkan bahwa obyek tanah
gugatan adalah tanah hak milik Masyarakat Huta Bagasan Silampuyang (Para
Penggugat) yang dipinjamkan ke pihak Tergugat I (PNP IV, sekarang PTPN IV). Hal
ini sebagaimana disebutkan dalam Surat Kesimpulan hasil Penelitian/Peninjauan
Panitia Khusus DPRGR Kabupaten Simalungun tentang tuntutan pengembalian tanah
cadangan perkampungan untuk perluasan Huta Bagasan Kecamatan Siantar dari PNP
VII Perkebunan Marihat.
Bahwa selanjutnya sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh Bagian A DPRGR Kabupaten Simalungun tersebut, DPRGR Kabupaten
Simalungun mengeluarkan sebuah resolusi yang berisi desakan kepada Pemerintah
Kepala Daerah Kabupaten Simalungun agar tanah pinjaman yang berasal dari
cadangan Perkampungan Huta Bagasan Silampuyang (tanah obyek gugatan) segera
dikembalikan oleh Pihak Tergugat I untuk dibagikan kepada penduduk kampung
(dalam hal ini Para Penggugat). Hal ini tertuang dalam Resolusi DPRGR Kabupaten
Simalungun nomor 1/dprgr/70-71 tanggal 16 juni 1970 perihal Resolusi Dewan
tentang Perluasan Areal Perkampungan Desa Huta Bagasan Kecamatan Siantar. 370
Bahwa apa kemudian sebagai usaha untuk merealisasikan Resolusi DPRGR
Kabupaten Simalungun ini, 371 DPRGR Kabupaten Simalungun mengeluarkan Surat
Keputusan DPRGR Kabupaten Simalungun No. 25/dprgr/70-71 perihal Resolusi
Dewan tentang Perluasan Areal Perkampungan Desa Huta Bagasan Kecamatan
Siantar yang memutuskan antara lain tentang batas waktu realisasi Resolusi DPRGR
tersebut selambat-lambatnya akhir Juni 1971, dan biaya pengurus dibebankan kepada
Tergugat I dan Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun dan juga
Perintah agar diambil tindakan pengamanan terhadap tanah sengketa (tanah objek
gugatan) yang menjadi keputusan dalam Resolusi DPRGR sebagaimana disebutkan
di atas tidak pernah dilaksanakan oleh Kepala Daerah Kabupaten Simalungun
maupun oleh Tergugat I tanpa sebab yang jelas. Hal ini jelas-jelas menunjukkan
bahwa Tergugat I tidak mempunyai iktikad baik dan bersikap sangat arogan karena
tidak mematuhi isi dari Resolusi wakil rakyat tersebut yang jelas-jelas juga
bersumber dari keterangannya sendiri, mengingat juga Perjanjian antara Tuan
Silampuyang dengan Pihak Tergugat I yang mewajibkan Pihak Tergugat I untuk
mengembalikan Tanah obyek gugatan kepada Para Penggugat. 372
Bahwa dalam perkembangannya masyarakat (Para Penggugat) tetap
melakukan usaha-usaha dalam rangka pengembalian tanah obyek gugatan karena
memang tanah obyek gugatan adalah hak milik sendiri dan telah mendapat pengakuan
dan dukungan dari DPRGR Kabupaten Simalungun, tetapi usaha tersebut selalu
mendapat perlawanan dari Pihak Tergugat I yang dilakukan dengan tekanan-tekanan
370
371

Ibid
Ibid

372

Wawancara dengan masyarakat Silampuyang pada tanggal 6 Juni 2011.

Universitas Sumatera Utara

yang mengarah pada tindakan kekerasan. Adapun usaha yang dilakukan adalah
seperti menanami tanaman palawija diantara pohon kelapa sawit, hal ini dilakukan
masyarakat (Para Penggugat) tak terlepas juga dari tekanan ekonomi karena lahan
untuk pertanian sudah sangat sempit akibat bertambahnya populasi warga masyarakat
(Para Penggugat).
Bahwa dalam usaha untuk merebut kembali haknya atas tanah obyek gugatan,
Para Penggugat telah membentuk sebuah panitia dengan nama Panitia Pengembalian
Tanah Cadangan Perluasan Perkampungan dan Pertanian Huta Bagasan Nagori
Silampuyang yang berkedudukan di Desa Silampuyang Kecamatan Siantar
Kabupaten Simalungun. Melalui Panitia ini Para Penggugat telah melakukan upayaupaya baik barupa tuntutan langsung ataupun permohonan melalui surat kepada
lembaga-lembaga Pemerintahan yang berkompeten yang pada intinya memohon agar
tanah obyek gugatan dapat segera dikembalikan kepada Para Penggugat. Adapun
jawaban atas surat Panitia tersebut secara umum mendukung upaya Panitia bahkan
menyarankan agar tanah obyek gugatan segera dikembalikan kepada Para
Penggugat. 373
Bahwa sesuai dengan surat Gubernur Provinsi Sumatera Utara No. 593/8960
tanggal 16 Juni 2001 yang dikeluarkan berdasarkan adanya tuntutan masyarakat (Para
Penggugat) atas tanah obyek gugatan di lokasi PTPN IV (Tergugat I). Dalam surat
tersebut Gubernur meminta kepada Kakanwil BPN 374 Provinsi Sumatera Utara
(Tergugat II) untuk menunda proses perpanjangan HGU PTPN IV (Tergugat I)
menunggu adanya penyelesaian masalah tuntutan masyarakat (Para Penggugat)
tersebut. Hal ini membuktikan bahwa Gubernur sangat mendukung adanya
penyelesaian pengembalian tanah obyek gugatan kepada masyarakat (Para
Penggugat), namun sampai saat ini belum jelas realisasi dari permintaan Gubernur
tersebut.
Bahwa Para Penggugat telah melaporkan permasalahan aquo dan memohon
kepada DPR-RI agar tanah obyek gugatan dikembalikan kepada Para Penggugat.
Menanggapi hal tersebut DPR-RI mengeluarkan surat No. PW/006/3962/DPR
RI/2001 tanggal 13 Agustus 2001, yang intinya meminta kepada Gubernur Sumatera
Utara untuk menyelesaikan permasalahan aquo.
Bahwa sesuai dengan surat Bupati Simalungun No.620/11581-Tapem,
tanggal 29 November 2001 yang ditujukan kepada Gubernur Provinsi Sumatera
Utara, yang pada intinya antara lain menyampaikan Kesimpulan hasil kerja tim
Penertiban Permasalahan Tanah Kabupaten Simalungun sebagaimana dikutip yaitu :
agar tanah permasalahan seluas 225 Ha dalam waktu yang relatif singkat dapat
diselesaikan oleh Pemerintah Atasan dan dikembalikan kepada masyarakat yang
berhak sebelum HGU berakhir 31 Desember 2006. Selanjutnya dalam surat tersebut
Bupati Simalungun 375 menyarankan agar tanah seluas 225 Ha (tanah obyek gugatan)
373

Ibid
Wawancara dengan Ketua Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Simalungun, 7 April 2011
(wawancara dilakukan pra penelitian ke daerah Silampuyang).
375
Wawancara dengan B. Sinaga, Staf Kantor Bupati Simalungun pada tanggal 8 Juni 2011.
374

Universitas Sumatera Utara

tersebut dikeluarkan dari HGU PTPN IV (Tergugat I) untuk selanjutnya diserahkan


kepada masyarakat yang berhak (Para Penggugat). 376
Bahwa selanjutnya Bupati Simalungun kembali menyarankan kepada
Gubernur Sumatera Utara dan kepada Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara
(Tergugat II) melalui Surat No. 593/1762-Tapem, tanggal 22 februari 2006, supaya
tanah seluas 225 Ha (obyek gugatan) dikeluarkan dari HGU PTPN IV untuk
diserahkan kepada masyarakat yang berhak (Para Penggugat).
Bahwa berdasarkan surat Bupati Simalungun sebagaimana disebutkan di atas,
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Sekretariat Daerah Provinsi melalui
surat No. 593/1780/2006 tanggal 28 Maret 2006, telah meminta secara tegas kepada
Kakanwil Provinsi Sumatera Utara (Tergugat II) agar menindaklanjuti surat Bupati
tersebut dan tidak memproses perpanjangan HGU PTPN IV atas tanah seluas 225 Ha
(tanah obyek gugatan) yang merupakan tuntutan masyarakat Desa Silampuyang (Para
Penggugat).
Bahwa saran-saran, pertimbangan atau permintaan dari Bupati Simalungun
dan Gubernur Sumatera Utara sebagaimana dikemukakan di atas yang ditunjukan
kepad Tergugat II tidak pernah dilaksanakan secara tegas dan konkrit, justru Tergugat
II masih memproses permohonan perpanjangan HGU No. 1/Silampuyang, hal mana
diketahui dari surat BPN Kanwil Provinsi Sumatera Utara No. 570-878 tanggal 5 Juni
2006 yang menyatakan bahwa permohonan perpanjangan HGU Nomor
1/Silampuyang telah diteruskan kepada BPN Pusat c.q Deputi Bidang Pengkajian dan
Hukum Pertanahan. Kenyataan ini jelas-jelas merupakan tindakan arogan dari
Tergugat II yang sama sekali tidak menggubris tuntutan Penggugat dan saran-saran
dari Pemerintah aquo. 377
Bahwa tanggapan-tanggapan atau jawaban atas surat Para Penggugat yang
disampaikan melalui Panitia telah diketahui oleh Para Penggugat bahwa tanah obyek
gugatan telah masuk dalam bagian Hak Guna Usaha (HGU) Nomor 1/Silampuyang
yang diterbitkan oleh Tergugat II pada tanggal 11 Desember 1981 atas nama
pemegang hak yaitu PTPN IV (Tergugat I). Hal ini sesuai dengan surat Bupati
Simalungun no. 620/11581/Tapem tanggal 29 Nopember 2001 dan surat Bupati
Simalungun no. 593/1762/Tapem tanggal 22 Februari 2006 kemudian juga dalam
surat Tergugat II No. 000/364/4-60 tanggal 6 April 2006. Bahwa kenyataan ini
sungguh mengejutkan Para Penggugat, karena bagaimana mungkin obyek gugatan
tersebut masuk dalam sertifikat HGU milik Tergugat I, karena selama ini Tergugat I
adalah sebagai pihak yang meminjam obyek gugatan dari Tuan Silampuyang yang
mengatasnamakan rakyatnya (Para Penggugat), tetapi kenyatannya justru sebalikya
dan menjadi pertanyaan mengapa diterbitkan HGU sementara nyata-nyata obyek
gugatan adalah hak milik Para Penggugat dari DPRGR telah memerintahkan
Tergugat I untuk mengembalikan tanah obyek gugatan aquo sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya dalam surat gugatan ini? Tindakan Tergugat I jelas sangat
376
377

Ibid.
Wawancara dengan masyarakat Silampuyang, 10 Juni 2011.

Universitas Sumatera Utara

arogan karena tidak mematuhi apa yang telah diputuskan oleh sebuah lembaga wakil
rakyat yang merupakan bagian dari pemerintahan, DPRGR Kabupaten Simalungun.
Para penggugat belum pernah mengalihkan hak miliknya kepada pihak manapun
sehingga perbuatan Tergugat I adalah merupakan perbuatan melawan hukum, dan
akibat dari perbuatan ini Para Penggugat telah menderita kerugian baik secara materil
maupun inmateril, karena Tergugat I telah mengambil hak milik Para Penggugat
secara melawan hukum, oleh karena itu harus dinyatakan bahwa Tergugat I telah
melakukan perbuatan Melawan Hukum. Karenanya sertifikat HGU Nomor
1/Silampuyang harus pula dinyatakan produk yang cacat hukum.
Bahwa berdasarkan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat
I sebagaimana dijelaskan di atas, maka Tergugat I harus dihukum untuk membayar
ganti kerugian yang diderita oleh Para Penggugat terhitung sejak batas waktu
pengembalian tanah obyek gugatan sebagaimana diperintahkan oleh DPR-GR
Kabupaten Simalungun dalam Surat Keputusan Nomor 25/dprg/70-71 tanggal 17
Maret 1971 perihal Resolusi Dewan tentang Perluasan Areal Perkampungan Desa
Huta Bagasan Kecamatan Siantar yaitu paling lambat akhir Juni 1971. Masyarakat
Huta Bagasan Silampuyang (Para Penggugat) telah cukup lama menderita karena
tidak memiliki lagi lahan untuk bertani, yang notabene adalah sumber mata
pencaharian utama Para Penggugat, sementara Tergugat I telah cukup lama
menikmati hasil dari tanah obyek gugatan yang selama ini dijadikan lahan
perkebunan kelapa sawit oleh Tergugat I. 378
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka sangat patut Tergugat I dihukum
untuk membayar ganti kerugian materil kepada para Penggugat dengan pertimbangan
hasil rata-rata yang didapat oleh Para Penggugat apabila obyek gugatan dikelola
untuk penghidupannya adalah sebesar Rp. 2.000.000/bulan (dua juta rupiah perbulan)
dikalikan dengan 225 Ha dan dikalikan lagi dengan lamanya waktu penguasaan
Tergugat I terhitung sejak bulan Juli 1971 sampai dengan bulan Juli 2006 yaitu
selama 35 tahun atau 420 bulan, maka total ganti kerugian materil yang harus dibayar
oleh Tergugat I adalah sebesar Rp. 189.000.000.000 (seratus delapan puluh milyar
rupiah). Kemudian karena selama memperjuangkan haknya, Penggugat telah banyak
menderita secara moril akibat tekanan-tekanan, intimidasi dan kekerasan yang
diterima, untuk itu Tergugat I juga harus dihukum untuk membayar kerugian
inmateril sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah).
Bahwa untuk memaksa Tergugat I dan demi terlaksananya isi putusan yang
akan diputuskan oleh Majelis Hakim maka sudah selayaknya Majelis Hakim
menghukum Tergugat I untuk membayar uang paksa (dwangsom) apabila lalai dalam
melaksanakan isi putusan dari gugatan ini sebesar Rp. 100.000.000/hari (seratus juta
rupiah perhari).
Bahwa untuk menjaga atau menghindari kerugian yang lebih besar
dikemudian hari dan agar gugatan Para Penggugat tidak sia-sia maka sangat berdasar

378

Hasil wawancara yang telah diolah dan observasi di lapangan.

Universitas Sumatera Utara

menurut hukum Para Penggugat memohon agar Pengadilan Negeri Simalungun


meletakkan sita jaminan terhadap :
1. Areal HGU 1/Silampuyang atas nama Tergugat I yang terletak di Pematang
Siantar, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara,
2.

Tanah dan bangunan permanen milik Tergugat I, kantor yang terletak dan
setempat dikenal oleh umum di Jalan Suprapto Nomor 2 Medan Sumatera Utara.

a. Tipologi sengketa pertanahan dalam kasus 2 (dua) di atas adalah menyangkut :


1) Sengketa tanah yang berkaitan dengan Hak Partuanon (ulayat) Silampuyang.
2) Sengketa tanah yang berkaitan dengan status hak atas tanah (tanah yang ada di
kawasan perkebunan).
3) Sengketa Penguasaan dan Pemilikan
4) Sengketa Penetapan Hak
5) Sengketa Tanah eks Tanah Swapraja
Adapun pihak-pihak yang bersengketa adalah :
1) Masyarakat Adat
2) Perkebunan
b. Faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan dalam kasus 2 (dua) ini adalah:
1) Faktor Historis
Berkaitan dengan sejarah perkebunan di daerah ini yang pada mulanya tanahtanah yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan perkebunan adalah bekas hak
konsesi yang diberikan oleh para Raja (dalam hal ini Tuan Djaingot Saragih,
Tuan Silampuyang) kepada Pengusaha Perkebunan Eropah (Belanda).
Berdasarkan akar sejarah tersebut, maka marak tuntutan dari masyarakat adat
Silampuyang terhadap tanah perkebunan di wilayah tersebut, sebagai tanah
ulayat etnisnya dan menuntut dikembalikan kepada mereka.
Dipihak lain perusahaan perkebunan Belanda mengalami perkembangan
penguasaan tanahnya sejak masa pendudukan Jepang yang mentolerir
penggarapan rakyat pada areal perkebunan kemudian berlanjut pada zaman
kemerdekaan dan berlangsung sampai tahun 1980-an. Oleh karena
penggarapan terus berlangsung, Pemerintah menerbitkan ordonantie

Universitas Sumatera Utara

Onrechmatige Occupatie van Gronden (Stb. 1948-10), namun penggarapan


tetap tidak dapat dibendung, sehingga Pemerintah mengambil kebijakan
membentuk Tim Khusus yang hasilnya mengeluarkan sebagian areal
perkebunan guna dibagikan kepada rakyat diikuti dengan pemberian kartu
tanda penggarapan. Tanah yang dibagikan tersebut tidak diikuti dengan
pendaftaran tanahnya, belakangan dengan berbekal kartu garapan yang lama,
rakyat mengklaim tanah-tanah garapannya diambil alih kembali oleh
perusahaan perkebunan, sehingga dituntut kembali melalui Pemerintah.
2) Faktor Reformasi
Dalam hal ini sengketa dan konflik pertanahan pada areal perkebunan kembali
mencuat ke permukaan seiring dengan era reformasi, pada saat itu akibat dari
krisis ekonomi telah mengakibatkan badan hukum yang menguasai/ memiliki
tanah perkebunan belum dapat mempergunakan lahannya sesuai dengan
peruntukannya, sedangkan di sisi lain bertambahnya penduduk serta
berkurangnya kesempatan kerja pada sektor-sektor industri juga diikuti
dengan timbulnya gejala lapar tanah di kalangan masyarakat yang tidak
mempunyai lahan, ditambah lagi statemen Presiden RI Abdurahman Wahid
(Gus Dur) ketika itu yang menyatakan sebanyak 40% areal PTPN akan
dibagikan kepada rakyat karena PTPN banyak merampas tanah rakyat, maka
terjadilah pendudukan dan penggarapan di atas tanah pihak lain dan
kemudian diajukan penuntutan kembali (reclaiming action) atas tanah-tanah
perkebunan yang didasarkan berbagai alasan, seperti :
a) Mengklaim semua tanah perkebunan sebagai bagian dari tanah hak ulayat
etnisnya;
b) Mengaku bahwa dahulu pernah mempunyai hak atas tanah perkebunan
tetapi dikuasai kembali oleh pihak perkebunan (tanahnya dilindungi
undang-undang);
c) Menuntut ganti kerugian dari perusahaan perkebunan karena tanah
masyarakat masuk ke dalam areal perkebunan;
d) Alasan ekonomi sekedar memenuhi kebutuhan hidup;
e) Berspekulasi dengan menggarap tanah untuk mencari untung 379.
3) Faktor Politik
Titik puncak penetrasi perkebunan asing ke daerah Simalungun adalah pada
tanggal 1 Juli 1920 dimana pemerintah Hindia Belanda menetapkan
Simalungun menjadi bagian dari Cultuurgebied Oostkust van Sumatra
(Simalungun dimasukkan menjadi bagian dari daerah kultur perkebunan
asing), yang berarti kepentingan perkebunan asing dinomorsatukan, sedang
kepentingan rakyat raja-raja tradisional dinomorduakan. Inilah politik kolonial
379
Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara, Sengketa Pertanahan dan Upaya Penyelesaiaannya di
Provinsi Sumatera Utara, Makalah yang disampaikan kepada Kepala BPN RI pada saat kunjungan kerja ke
Sumatera Utara tanggal 12 November 2006,op cit, hal. 3.

Universitas Sumatera Utara

murni yang telah dialami oleh daerah dan rakyat Simalungun mulai tahun 1920
sampai tahun 1943 (masuknya pemerintahan militer Jepang ke Sumatera
Timur).
Kasus. 3. Sengketa Hak Atas Tanah Adat pada masyarakat Kebun Bangun
(Kasus Tanjung Pinggir), Klaim pelepasan eks HGU PTPN III Kebun
Bangun Kota Pematang Siantar.
Sengketa tanah bermula dari areal PTPN-III Kebun Bangun tidak kondusif
lagi dikelola untuk peruntukannya oleh PTPN-III disebabkan karena lahan tersebut
telah digarap secara liar oleh masyarakat.
Kondisi eksisting lahan tersebut telah menimbulkan berbagai sengketa
horizontal karena menjadi perebutan/saling mengklaim status tanah antar sesama
penggarap yang dikuatirkan pada efek jangka panjang akan menimbulkan sengketa
vertikal.
Berdasarkan data, terdapat beberapa subyek, yakni pihak-pihak yang
bersengketa.
Subyek yang menuntut pengembalian tanah yang saat ini dikuasai dan
diusahai PTPN-III Kebun Bangun di Afdeling VIII-IX (dahulu dikenal dengan nama
Afdeling Martoba), adalah : Kelompok masyarakat Tambun Nabolon (Kestiono
dkk.) 380
a. Kelompok masyarakat Tanjung Pinggir/Pondok Sayur (Musiman dkk)
b. Kelompok masyarakat Kandang Lembu/Pondok Sayur (Manatar Sitorus dkk)
c. Kelompok Masyarakat Gurilla (Jansen Purba Dasuha dkk)
d. Drs. Djapadang Damanik
e. Johana Wijaya/Riduan Aritonang
f. Ramijan
g. Suardi
h. Batara Siahaan
i. Piten Silalahi

380

Usulan Pelepasan eks HGU PTPN III Kebun Bangun Kota Pematangsiantar yang disusun oleh
Pemerintah Kota Pematangsiantar, 2008, hal.18.

Universitas Sumatera Utara

Subyek yang dituntut mengembalikan tanah dimaksud adalah PTPN-III, yakni


yang menguasai dan mengusahai tanah.
Obyek
a. Obyek yang dituntut oleh Kelompok Masyarakat Tambun Nabolon adalah
tanah di blok 28, 29, dan 30 seluas 51,52 Ha, dengan rincian sbb:
1) Blok 28 seluas 10 Ha
2) Blok 29 seluas 20 Ha
3) Blok 30 seluas 21,52 Ha
b. Obyek yang dituntut oleh Kelompok Masyarakat Tanjung Pinggir adalah
tanah di blok 31, 37, dan 43 seluas 108,39 Ha, dengan rincian sbb:
1) Blok 31 seluas 28,87 Ha
2) Blok 37 seluas 41,46 Ha
3) Blok 43 seluas 37,96 Ha
c. Obyek yang dituntut oleh Kelompok Kandang Lembu adalah tanah di blok
44,45,46 dan 47 seluas 76,72 Ha, dengan rincian sbb:
1) Blok 44/45 seluas 38,85 Ha
2) Blok 46/47 seluas 41,87 Ha
d. Obyek yang dituntut oleh Kelompok Penggarap Gurilla adalah tanah di blok
37,38,39 dan 40 seluas 81,49 Ha dengan rincian sbb:
1) Blok 37 seluas 5,81 Ha
2) Blok 38 seluas 4,78 Ha
3) Blok 39 seluas 28,66 Ha
4) Blok 40 seluas 42,69 Ha

Universitas Sumatera Utara

e. Obyek yang dituntut oleh Drs. Djapadang Damanik adalah tanah di Blok
46/47 seluas 65 rante (2,6 Ha).
f. Obyek yang dituntut oleh Batara Siahaan adalah tanah di blok 47 seluas 4
Ha
g. Obyek yang dituntut oleh Piten Silalahi adalah tanah di blok 46 seluas 35
rante (1,4 Ha).
h. Berdasarkan pernyataan dari Sdr. Kestiono (anggota Sub Tim dari masyarakat
Tambun Nabolon), tuntutan Suardi dan Ramijan bergabung dengan tuntutan
Kelompok Masyarakat Tambun Nabolon.
i. Obyek yang dituntut oleh Johana Wijaya berdasarkan Surat Kuasa tanggal 8
Oktober 1998 adalah tanah di eks blok 37,46,47,42,41,29, dan 30 (luas tidak
tercantum). Dalam surat Riduan Aritonang (kuasa Johana Wijaya) kepada
ketua DPRD KotaMadya Pematangsiantar tanggal 25 Maret 2002, obyek yang
dituntut menjadi tidak jelas. Dalam surat tersebut, Riduan Aritonang
mempertanyakan (1) Masalah ganti rugi tanah garapan seluas 256,65 Ha, (2)
Masalah garapan yang telah dikeluarkan dari areal Konsesi Kebun Simbolon,
dan (3) Masalah HGU Talup Kondot Nomor 1 September 1989.
Beberapa tuntutan masyarakat yaitu : 381
a) Tuntutan Kelompok Tambun Nabolon

381

Wawancara dengan Soleh, Staf Pemko Pematangsiantar, pada tanggal 4 Juli 2011.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 6
Objek / Tanah yang dituntut oleh Kelompok Tambun Nabolon
Blok

Luas
Awal

Diusahai
PTP Pra
SKLR

Garapan
Rakyat
Pra
SKLR

Rencana
Wensareal

28
29
30

30,19
27,59
24,52

0
0
0

30,19
27,59
24,52

30,19
27,59
24,52

Garapan
Rakyat
Diberikan
ke PTP
(SKLR 69)
10
20
21,52

Sisa
Garapan
Rakyat

Dikuasai
PTP
Pasca
SKLR

Diusahakan
PTP (HGU)

20,19
7,59
3

10
20
21,52

8,32
14,22
18,21

Luas yang
dituntut
Kel.Tambun
Nabolon
10
20
21,52

40,75

51,52

82,3
0
82,3
82,3
51,52
30,78
51,52
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
b) Tuntutan Kelompok Masyarakat Tanjung Pinggir (Pondok Sayur)

Obyek yang dituntut oleh Kelompok Tanjung Pinggir terletak di blok 31,37 dan 43
seluas 108,39 Ha. Luas awal blok-blok tersebut adalah 97,29 Ha.
Menurut data dari Kebun Bangun 382, sebelum terbit keputusan Panitia Landreform
tahun 1969, luas blok-blok tersebut yang telah diusahai oleh PNP-IV adalah 58,97,
sehingga sisa garapan rakyat adalah seluas 28,32 Ha.
Pada tanggal 16 Juli 1969, PNP-IV Perkebunan Simbolon mengajukan
rencana Wens-areal (daerah sekitarnya) kepada Panitia Landreform Kabupaten
Simalungun. Rencana Wens-areal tersebut dimaksudkan untuk penambahan areal
penanaman karet supaya mencapai minimal 1.500 Ha untuk dapat didirikan sebuah
pabrik.
Rencana pengembalian tanah garapan rakyat dalam Rencana Wens-areal
tersebut adalah 28,32 Ha di blok 31, dan 10 Ha di blok 37.
Luas tanah yang dikembalikan kepada PNP-IV berdasarkan keputusan Panitia
Landreform Kabupaten Simalungun tahun 1969 adalah seluas 28,32 Ha di blok 31.
Luas 10 Ha di blok 37 yang diminta perkebunan, tidak disetujui oleh Panitia
Landreform. Berdasarkan keputusan Panitia Landreform tersebut pengembalian tanah
kepada pihak PNP-IV dilakukan dengan pemberian ganti rugi.
Luas yang diusahai PTP-IV setelah keputusan Panitia Landreform adalah
87,29 Ha. Setelah di HGU-kan pada tahun 1989, luasnya menjadi 97,29 Ha, termasuk
10 Ha di blok 37 yang tidak dikembalikan kepada perkebunan.
Tabel 7
Obyek/Tanah yang dituntut oleh Kelompok Tanjung Pinggir
Blok

Luas
Awal

382

Diusahai
PTP Pra
SKLR

Garapa
n
Rakyat
Pra
SKLR

Rencana
Wensareal

Garapan
Rakyat
Diberikan
ke PTP
(SKLR
69)

Sisa
Garapa
n
Rakyat

Dikuasa
i PTP
Pasca
SKLR

Diusai
PTP
(HGU)

Luas yang
Dituntut
Kel.Kandang
Lembu

Wawancara dengan warga Kebun Bangun pada 13 Juli 2011

Universitas Sumatera Utara

31
37
43

28,32
26,8
42,17
97,29

0
16,8
42,17
58,97

28,32
10
0
38,32

28,32
10
0
28,32

28,32
0
0
28,32

0
10
0
10

28,32
16,8
42,17
87,29

28,32
26,8
42,17
97,29

28,87
41,46
37,96
108,39

Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun


c. Tuntutan Kelompok Kandang Lembu / Pondok Sayur
Obyek yang dituntut oleh kelompok Kandang Lembu terletak di blok 44,45,46, dan
47, seluas 76,72 Ha. Luas awal blok-blok tersebut adalah 93,82 Ha. Menurut data dari
Kebun Bangun, sebelum terbit keputusan Panitia Landreform tahun 1969, luas blokblok tersebut yang telah diusahai oleh PNP-IV adalah 41,67 Ha, yang ditanami karet
tahun 1963 (blok 44) dan tahun 1967 (blok 45), sehingga sisa garapan rakyat adalah
seluas 52,51 Ha.
Pada tanggal 16 Juli 1969, PNP-IV Perkebunan Simbolon mengajukan
Rencana Wens-areal kepada Panitia Landreform Kabupaten Simalungun. Rencana
Wens-areal tersebut dimaksudkan untuk penambahan areal penanaman karet supaya
mencapai minimal 1.500 Ha untuk dapat didirikan sebuah pabrik. Rencana
pengembalian tanah garapan rakyat kepada perkebunan dalam Rencana Wens-areal
tersebut adalah 52,51 Ha dengan rincian : 4,26 Ha di blok 44 : 14,88 Ha di blok 46,
dan 33,01 Ha di blok 47.
Luas tanah yang dikembalikan kepada PNP-IV berdasarkan keputusan Panitia
Landreform Kabupaten Simalungun tahun 1969 adalah seluas 30 di blok 47
Pengembalian tanah tersebut, sesuai keputusan Panitia Landreform, dilakukan dengan
pemberian ganti rugi.
Luas yang diusahai PTP-IV adalah 69,49 Ha dan telah di HGU-kan pada
tahun 1989.

Tabel 8
Obyek/Tanah yang dituntut oleh Kelompok Kandang Lembu
Blok

Luas
Awal

Diusahai
PTP Pra
SKLR

Garapa
n
Rakyat
Pra
SKLR

Rencan
a Wensareal

44
45
46
47

25,41
20,52
14,88
33,01
93,82

21,15
20,52
0
0
41,67

4,26
0
14,88
33,01
52,51

4,26
0
14,88
33,01
52,51

Garapan
Rakyat
Diberika
n ke PTP
(SKLR
69)
0
0
0
30
30

Sisa
Garapa
n
Rakyat

Dikuasa
i PTP
Pasca
SKLR

Diusai
PTP
(HGU)

Luas yang
Dituntut
Kel.Kandang
Lembu

4,26
0
14,88
3,01
22,15

21,15
20,52
0
30
71,67

14,82
16,22
10,4
28,05
69,49

34,85
41,87
76,72

Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun

Universitas Sumatera Utara

d.Tuntutan Kelompok Gurilla 383


Obyek yang dituntut oleh Kelompok Gurilla terletak di blok 37,38,39 dan 40,
seluas 81,94 Ha. Luas awal blok-blok tersebut adalah 168,98 Ha. Menurut data dari
Kebun Bangun, sebelum terbitnya SK Panitia Landreform tahun 1969, seluas 137,79
Ha telah diusahai oleh pihak PNP.
Namun luas 137,79 Ha tersebut dinyatakan tidak benar oleh wakil
masyarakat/Kelompok Gurilla (Jansen Purba Dasuha). Sebelum tahun 1969, sekitar
37 Ha lahan garapan rakyat diserobot perkebunan, tanpa melalui suatu prosedur
hukum (Jansen Purba Dasuha menyebutnya dengan nama Peristiwa tahun 1966).
Berkas-berkas pemeriksaan pihak kepolisian dan pengadilan tahun 1963, menurut
Kelompok Gurilla, merupakan salah satu bukti bahwa sebelum keputusan Panitia
Landreform, masyarakat sudah memiliki tanah garapan di blok-blok tersebut.
Selanjutnya, pada tanggal 16 Juli 1969, PNP-IV Perkebunan Simbolon
mengajukan Rencana Wens-areal kepada Panitia Landreform Kabupaten
Simalungun. Rencana Wens-areal tersebut dimaksudkan untuk penambahan areal
penanaman karet, supaya mencapai minimal 1.500 Ha untuk dapat didirikan sebuah
pabrik.
Rencana pengembalian tanah garapan rakyat dalam Rencana Wens-areal
tersebut adalah 31,19 Ha dengan rincian : 10 Ha di blok 37 dan 21,19 Ha di blok 40.
Realisasi Rencana Wens-areal tersebut berdasarkan keputusan Panitia Landreform
Kabupaten Simalungun tahun 1969 adalah seluas 15 Ha di blok 40.
Luas yang diusahai PNP-IV adalah 168,98 Ha (keseluruhan luas awal blokblok tersebut) dan telah di HGU-kan pada tahun 1989.
Tabel 9
Obyek/ Tanah yang dituntut oleh Kelompok Gurilla
Blok

Luas
Awal

Diusaha
i PNP
Pra
SKLR

Garapa
n
Rakyat
Pra
SKLR

Rencan
a Wensareal

Garapan
Rakyat
Diberikan ke
PNP (SKLR
69)

Sisa
Garapa
n
Rakyat

Dikuasa
i PNP
Pasca
SKLR

Diusai
PNP
(HGU)

Luas
yang
Dituntut
Kelompo
k Gurilla

37
38
39
40

26,8
36,47
63,02
42,69
168,98

16,8
36,47
63,02
21,5
137,79

10
21,19
31,19

10
21,19
31,19

15
15

10
6,19
16,19

16,8
36,47
63,02
36,5
152,79

26,8
36,47
63,02
42,69
168,98

5,81
4,73
28,66
42,69
81,94

Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun

e.

Tuntutan Anggota Masyarakat Perorangan

383

Hasil wawancara yang telah diolah dengan Kelompok Gurilla dan Staff PTP IV, 14 Juli 2011.

Universitas Sumatera Utara

Tuntutan anggota masyarakat yang memasukkan data/ berkas secara


perorangan sebagian besar tidak dapat dipertimbangkan. Namun demikian, apabila
ada yang memiliki hak historis penguasaan tanah, akan diinventarisir lebih lanjut.
Riwayat tanah dan kronologis Eks. Tanah HGU PTPN-III Kebun Bangun
yang dipersengketakan 384
Riwayat Tanah
Afdeling (Afd) Martoba adalah sebagian dan berkas konsesi perkebunan
Simbolon (3.858.52 Ha) adalah sebagian dari eks Perusahaan Horison & Crossfield
(Inggris)
Sejak Jepang masuk di Indonesia tahun 1942 perkebunan tersebut
ditinggalkan oleh pengelolanya menjadi tanah terlantar dan sebagian digarap oleh
masyarakat.
Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 42 HGU DA So
tanggal 9 Juli 1980, Pemerintah menegaskan bahwa bekas Hak Konsesi atas tanah
Perkebunan Simbolon telah hapus menurut hukum sejak tanggal 3 September 1957
dan dengan demikian tanah Perkebunan tersebut kembali menjadi tanah yang
dikuasai langsung oleh Negara dan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun
1956 tentang Penguasaan dan atau pengusahannya diserahkan kepada Perusahaan
Negara.
Pada Tahun 1958, perkebunan tersebut terkena Nasionalisasi dengan
Undang-undang Nomor 86 Tahun 1958 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
1959 pengelolaannya diserahkan kepada BUMN, terakhir kepada PTP-IV Pamela
(sekarang PTPN III).
Berdasarkan tahun penanaman karet, Afd Martoba telah diusahai PTP-IV
sejak tahun 1959 (di blok 35 dan sebagian blok 39). Kemudian berturut-turut tahun
1960, 1963, 1964, 1965, 1966, 1967, 1970, 1971 pada blok-blok lainnya di areal
HGU PTPN III
Tahun 1968, sempat diterbitkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Ketua
Panitia Landreorm Daerah Kabupaten Simalungun Nomor P/II/10/LR/68 PP
Tanggal 26 Februari 1968 yang menyatakan tanah tersebut menjadi objek
Landreform. Akan tetapi 21 bulan kemudian keputusan tersebut dicabut dengan
keputusan Nomor P/II/10/LR69 PP tanggal 27 November 1969 antara lain karena
adanya permohonan PTP-IV agar sebagian tanah garapan rakyat diblok-blok tertentu
diberikan kepada PTP-IV untuk perluasan tanaman karet.
Sebelum Keputusan Panitia Landreform tahun 1969 tersebut tanah yang
diusahai PTP-IV hanya seluas 1 292.12 Ha dan 3 858.52 Ha luas bekas konsesi
Perkebunan Simbolon seluruhnya selebihnya yakni 2 556.40 Ha telah digarap rakyat
perluasan kota.
Khusus di Afd Martoba, luas yang diusahai PTP IV sebelum adanya
Keputusan Panitia Landreform tahun 1969 tersebut adalah 408,41 Ha (dan luas awal
1 356.62 Ha) selebihnya (seluas 948.24 Ha) adalah garapan rakyat Perluasan Kota.
384

Usulan Pelepasan Eks HGU PTPN III Kebun Bangun Kota Pematang Siantar. Op Cit, hal. 21.

Universitas Sumatera Utara

Badan Pekerja Panitia Landreform Daerah Kabupaten Simalungun yang meninjau


garapan rakyat tersebut menyatakan ada yang sudah menjadi sawah dan sebahagian
merupakan tanah kering yang diusahakan untuk perladangan penanaman tanaman
keras, tanaman muda, serta perumahan, dan ada juga yang tidak diusahakan secara
efisien.
Berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah/ Ketua Panitia Landreform
Daerah Kabupaten Simalungun Nomor I/II/10/LR/69/PP, sebaagian tanah garapan
penduduk tersebut dikembalikan kepada pihak PTP-IV Kebun Simbolon yaitu seluas
256.65 Ha termasuk didalamnya di Afd Martoba seluas 124.84 Ha.
Pengembalian tanah garapan ini kepada pihak PTP-IV dilakukan dengan cara
mengganti rugi tanaman petani yang berada diatas tanah garapan.
Garapan penduduk yang tersisa adalah 2 566,40.256.65 dan 2 309.75Ha,
dikeluarkan dari konsesi Perkebunan Simbolon dan dinyatakan menjadi tanah yang
dikuasai langsung oleh Negara. Di Afd. Martoba garapan penduduk yang tersisa
adalah 823.37 Ha (sama dengan luas semula 948.23 Ha dikurangi 124.84 Ha).
Tahun 1980 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 42 HGU
DA 80 tanggal 9 Juli 1980. Pemerintah memberikan HGU kepada PTP-IV seluas 1
540 Ha untuk usaha Perkebunan dengan tanaman karet, termasuk, termasuk
didalamnya tanah di Afd Martoba seluas 573 Ha.
Sejak 18 Mei 1987. Afd Martoba yang sebelumnya termasuk wilayah
Kabupaten Simalungun beralih menjadi Kota Pematang Siantar berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1986.
Kondisi yang terjadi pada Areal eks PTPN-III
1) PWSPK Tanjung Pinggir
Berdasarkan surat Persatuan Wirid Sosial Penanggulangan Kemalangan
(PWSPK) Tanjung Pinggir, sekitar tahun 1901 Belanda telah menyediakan
sarana dan prasarana (seperti jalan, perumahan, rumah sakit, rumah ibadah,
pendidikan dan kuburan) untuk kerja perkebunan Horizontal and Crosfield
waktu itu pada tahun 1952. Horizontal and Crosfield tutup dan eks karyawan
dapat mengusahai 2 hektar lahan kebun per KK, sementara itu, lokasi kuburan
yang masih kosong pada waktu itu diusahai oleh masyarakat sekitar. Pada
tahun 1956, tanah garapan masyarakat dipinjam oleh NV Tani Muha, Dalam
perjalanan waktu, perkebunan tersebut telah beberapa kali berganti nama,
hingga pada tahun 1976 bangunan bangunan mesjid tersebut dirubuhkan dan
dibangun mesjid yang baru dan sebuah Taman Pendidikan Islam (TPI) yang
masih dikelola oleh PTPN-III.
Tanah pekuburan (2 hektar) bangunan mesjid dan TPI (3 hektar) tersebut
diminta PWSPK menjadi milik rakyat. Permohonannya adalah agar lokasi
kuburan dan lokasi mesjid beserta TPI disertifikasi untuk umum.
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pembahasan oleh Tim Pemerintah Kota Pematang
Siantar bahwa permohonan tersebut belum dapat dipenuhi, karena statusnya
masih Eks Lahan PTPN-III Kebun Bangun.

Universitas Sumatera Utara

2) Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI)


Alas hak yang disebutkan dalam surat Futasi adalah UUPA No. 5 Tahun
1960, Peraturan Pemerintah nomor 224 tahun 1961, Tap MPR Nomor IX tahun
2001. Keputusan Presiden nomor 34 Tahun 2003 dan Inpres Nomor M
Sesneg/5/2005.
Permohonan kelompok ini adalah agar Pemko Pematangsiantar turut
serta dalam menjalankan reforma agraria sejati dan agar Pemko
Pematangsiantar dapat membuat penyelesaian masalah lahan eks PTPN-III
Bangun di Kelurahan Gurilla Kelompok ini juga menyertakan nama-nama
penggarap (1.025 orang)
f. Sengketa Antar Masyarakat Penggarap
Sejak terjadinya penggarapan oleh Masyarakat/ Kelompok Masyarakat di
areal HGU PTPN-III Kebun Bangun terhitung sejak Desember 1998, sengketa
yang terjadi di areal tersebut tidak hanya menimbulkan sengketa vertikal yaitu
antara masyarakat/ kelompok masyarakat dengan pihak perkebunan, akan
tetapi sudah sampai pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan yaitu dengan
timbulnya sengketa horizontal yaitu dengan munculnya pertikaian antar sesama
masyarakat penggarap.
Masyarakat/ Kelompok masyarakat yang terlibat pada kondisi sekarang
telah berjuang dengan segala cara dan mengorbankan biaya yang cukup besar
untuk legitimasi atas tanah yang digarap. Hal ini terbukti dengan adanya upaya
kelompok-kelompok penggarap yang secara resmi dan terbuka mengklaim
bahwa tanah yang mereka garap mempunyai latar belakang yang sah bahwa
tanah tersebut adalah hak mereka, kondisi ini semakin diperkuat dengan
tindakan yang tidak terkendali dengan cara :
1) Penebangan terhadap tanaman produktif milik PTPN-III
2) Menguasai dan mengusahakan tanah eks PTPN-III menjadi areal pertanian
dan lokasi usaha masyarakat
3) Mendirikan bangunan perumahan mulai dari rumah sederhana, semi
permanen, dan bahkan rumah permanen
4) Memindahkantangankan (menjual) tanah garapan kepada pihak ketiga
5) Saling mengklaim hak tanah antar sesama penggarap dengan cara kekerasan
yang menimbulkan pertengkaran/ penganiayaan
6). Melakukan pengrusakan, pembakaran rumah, yang berada di tanah garapan
oleh sesama penggarap.
Hasil Pertemuan Unsur Muspida Kota Pematangsiantar Menyikapi
Permasalahan Penggarap Tanah Eks PTPN-III Kebun Bangun
Berdasarkan rapat yang dilaksanakan oleh Unsur Muspida Plus Kota
Pematangsiantar beserta Instansi terkait berdasarkan surat undangan Walikota
Pematangsiantar No. 005/4670/VII/2007 tanggal 24 Juli 2007 di simpulkan
beberapa hal untuk menjadi perhatian dan penegasan sehubungan dengan

Universitas Sumatera Utara

penggarapan yang dilakukan oleh masyarakat kelompok masyarakat terhadap


tanah Eks HGU PTPN-III Kebun Bangun yaitu :
1) Dalam amar putusan Mahkamah Agung Nomor 515 K/PDT/2003 tanggal 3
Februari 2005 Jo Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor
199/PDT/2002/PT-MDN tanggal 2 Agustus 2002 menyatakan bahwa
Saudara Kasmen Sinaga dan Kawan-kawan dalam hal ini sebagai pemohon
kasasi, dahulu para penggugat/ para terbanding bukan sebagai pemilik hak
atas tanah yang terletak di blok 28, 29, 30, 31, 37, 46, dan 47.
2) Untuk itu perlu diadakan sosialisasi kepada penggarap dan kelompokkelompok penggarap melalui mass media baik cetak maupun elektronik
dan pertemuan-pertemuan lainnya.
3) Kepada camat dan lurah tidak diperkenankan mensahkan atau
menandatangani surat-surat atau dokumen-dokumen apapun yang
menyangkut tanah eks HGU PTP-III Kebun Bangun sebelum ada putusan
yang pasti terhadap kepemilikan tanah tersebut.
4) Dihimbau kepada seluruh elemen masyarakat terutama yang berada di
tanah Eks HGU PTP-III Kebun Bangun agar tetap menjaga keamanan dan
ketertiban bersama serta kekondusifan di wilayah dimaksud
Sehubungan dengan kondisi di atas untuk menghindari terjadinya konflik
yang berkepanjangan sehingga menimbulkan efek domino antar masyarakat/
kelompok masyarakat secara luas sangat dibutuhkan sikap yang tegas dari pihak
BUMN untuk menyerahkan hak pengelolaan tanah Eks HGU PTPN-III kepada
Pemerintah Kota Pematangsiantar. Dengan demikian Pemerintah Kota
Pematangsiantar dapat sedini mungkin mengantisipasi terjadinya pertikaian/
konflik secara berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat/ kelompok
masyarakat penggarap khusus dan masyarakat luas umumnya.
Demikian riwayat tanah dan kronologis sengketa tanah HGU PTPN-III
Kebun Bangun
a. Tipologi sengketa pertanahan dalam kasus 3 (tiga) di atas adalah :
1. Sengketa Penguasaan dan Pemilikan
2. Sengketa Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah
3. Sengketa Ganti Rugi Eks Tanah Partikelir
4. Sengketa Tanah Ulayat
5. Sengketa Tanah Nasionalisasi Badan Hukum Perkebunan Belanda
Pihak-pihak yang bersengketa
1. Kelompok Masyarakat dengan Perkebunan

Universitas Sumatera Utara

2. Kelompok Masyarakat dengan Perkebunan dan Pemerintah


3. Orang dengan orang (Penggarap dengan Penggarap)
b. Faktor Penyebab terjadinya sengketa pertanahan dalam kasus 3 (tiga) ini
adalah :
Faktor historis yang berkaitan dengan sejarah perkebunan di daerah ini,
dapat dilihat seperti sengketa tanah Kebun Bangun, yang mengklaim
pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun.
Pada umumnya sengketa masyarakat dengan perkebunan memiliki
sejarah yang panjang. 385
Ini juga sekaligus kritikan terhadap UU perkebunan itu sendiri
Penangkapan dan pemenjaraan terhadap petani ataupun masyarakat
yang tinggal bersebelahan dengan wilayah-wilayah perkebunan
merupakan hal yang lumrah terjadi di Indonesia. Hal ini diakibatkan
adanya sengketa perebutan wilayah perkebunan antara petani ataupun
masyarakat dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang
mengambilalih atau mengklaim wilayah tersebut.
Sengketa perkebunan ini juga tidak bisa dilepaskan dari proses dan
tahapan pembangunan perkebunan oleh perusahaan perkebunan.
Sengketa ini biasanya terjadi dalam tiga tahapan pembangunan
perkebunan, yaitu : 386
1) Periode permulaan pembangunan perkebunan;
2) Periode saat perusahaan mulai berproduksi;
3) Periode saat kembali menguatnya aksi-aksi menuntut pengembalian
tanah paska kejatuhan Suharto 1998.
Periode permulaan pembangunan perkebunan
Pada periode ini, perusahaan mulai melakukan pengukuran ulang atas lahan-lahan
yang dikuasakan kepada mereka dan sekaligus meminta aparat keamanan melakukan
pengusiran atas lahan-lahan yang masih ditempati atau ditanami oleh penduduk. Pada
periode ini pula diketahui para penduduk lokal dengan berbekal surat keterangan

385
Nurhasan Ismail & Nyoman Nurjaya, Wajah Baru UU Perkebunan : Agrarische Wet, (Jakarta Selatan :
ELSAM, Sawit Watch-Pilnet,2012), hal.41
386
Lengkapnya lihat Pelanggaran hak asasi manusia di kawasan perkebunan kelapa sawit PT PP Lonsum
Tbk-Sumatera Utara, Kertas Posisi No.1/2010, ELSAM, ibid.

Universitas Sumatera Utara

tentang hak mengolah atas bidang-bidang tanah, melakukan perlawanan atas upayaupaya pengambilalihan lahan-lahan dari pihak perusahaan.
Periode kedua adalah saat perusahaan mulai berproduksi
Periode ini dimulai ketika perusahaan memasuki proses produksi. Perusahaan mulai
melakukan konversi tanaman kebun lama ke kelapa sawit 387; pemeliharaan kebun;
produksi bibit kelapa sawit, dan memetik buah sawit. Pada periode ini para penduduk
mulai kembali melakukan aksi-aksi menuntut pengembalian lahan-lahan mereka yang
dirampas oleh perusahaan.
Periode terakhir adalah periode dimana perusahaan terus melakukan
peningkatan produksi, penjajagan pencarian investor baru, serta perpanjangan HGU
dan perluasan lahan. Pada periode ini, aksi-aksi menuntut pengembalian lahan oleh
penduduk semakin membesar, terutama sejalan dengan gelombang reformasi setelah
kejatuhan rezim Suharto Mei 1998. Dalam beberapa kasus, para petani melakukan
aksi reclaiming atas kebun-kebun perusahaan karena proses penyelesaian kasus
sengketa mereka berjalan lambat. Pada periode inilah biasanya penangkapan dan
kriminalisasi terhadap petani/masyarakat terjadi. Padahal upaya-upaya yang
dilakukan masyarakat/petani ini merupakan bentuk ekspresi dalam upayanya
mempertahankan hak dan salah satu bentuk komunikasi masyarakat (adat) dalam
mencoba mengkomunikasikan hak mereka yang dinilainya telah dirampas oleh
negara yang berkelindan dengan kelompok kapitalis. 388 Terlebih kepercayaan petani
akan jaminan subsistensi mulai menurun dan petani tidak mempunyai pilihan lain
kecuali melawan. Keadaan inilah yang memicu timbulnya protes dan kekerasan
sebagai manifestasi dari ketidakpuasan petani akibat hubungan eksploitatif yang
dirasakan tidak adil. 389
Sementara perusahaan perkebunan menilai apa yang dilakukan
masyarakat/petani merupakan suatu tindakan yang merugikan perusahaan dan
berakibat pada kerusakan kebun dan/atau asset lainnya, penggunaan lahan
perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya
usaha perkebunan. 390

387

Konversi kebun teh manjadi kelapa sawit di Nagori Bah Bolon Tongah, Nagori Simpang Raya,
Nagori Janggar Leto, kecamatan Panei yang saat ini jika turun hujan agak deras/lebat, daerah itu menjadi banjir
yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
388
Keterangan Ahli, Hermansyah, berkenaan dengan Permohonan Pengujian Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 26 Mei 2011
389
Sichmen Pandiangan, Bentuk-bentuk Perlawanan Petani terhadap Negara, Jurnal Pemberdayaan
Komunitas, Volume 5 No.3 hal. 302-323.
390
Persoalan ini yang kemudian direspon dan ditindaklanjuti Pemerintah dan DPR dengan
memasukkannya sebagai salah satu perbuatan yang dilarang. Rasionalitas dari dilarangnya perbuatan ini adalah
murni kepentingan Negara yang berkelindan kepentingan perusahaan. Penetapan sebagai perbuatan yang dilarang
ini disebut sebagai Mala in Prohibita, yaitu penetapan perbuatan pidana dengan dasar kepentingan Negara untuk
mengatur bagaimana warganegaranya harus berperilaku dengan menetapkan sebuah perilaku melalui hukum
pidana. Dalam konteks inilah berbagai macam pertimbangan, seperti pertimbangan ekonomi, politik, dan lain
sebagainya masuk dalam hukum pidana.

Universitas Sumatera Utara

Sebagian besar kasus-kasus yang terjadi dalam sengketa perkebunan juga


menunjukkan adanya pola yang konsisten dalam penerapan instrument hukum pidana
terhadap masyarakat/petani yang berkonflik dengan perusahaan perkebunan.
Pertama, dalam beberapa kasus sengketa perkebunan, penggunaan hukum pidana
biasanya dilakukan pada saat-saat dimana proses penyelesaian secara damai antara
dua belah pihak tidak terjadi. Walaupun pada umumnya bahwa penyelesaian yang
dimaksud adalah selalu pihak masyarakat yang menderita kerugian. Kedua, dalam
praktiknya masyarakat dan petani selalu sengaja dipancing untuk melakukan
kekerasan atau paling tidak membalas dengan kekerasan. Metode pancingan ini
biasanya kerap dilakukan oleh para preman atau sipil yang dipersenjatai oleh
perusahaan (intimidasi atau terror) atau oleh perusahaan dengan berbagai cara,
misalnya dengan cara menghancurkan tanaman milik masyarakat, pembuatan pagar
dan batas lahan yang sengaja memprovokasi masyarakat sekitar, pelarangan masuk ke
areal perkebunan bagi pengembala atau pencari kayu bakar, dan lain sebagainya.
Masyarakat yang membalas atas peristiwa tersebut kemudian ditangkap dan
dipidana. 391
Ketiga, kriminalisasi selalu dilakukan sebagai shock therapy bagi masyarakat
yang menyuarakan hak-haknya dan menentang perusahaan perkebunan. Tak jarang
ketika kelompok-kelompok tani, masyarakat yang mencari dukungan bagi
pembebasan lahan perkebunan mereka sudah terkonsolidasi, maka ancaman
kriminalisasi dilakukan oleh perusahaan perkebunan. Dengan melakukan
penangkapan-penangkapan, konsolidasi petani bisa dilemahkan. 392 Keempat, dalam
proses awal penggunaan instrumen pidana. Pihak pelapor biasanya adalah wakil dari
perusahaan perkebunan yang bersengketa dengan masyarakat. Atau penangkapan di
tempat, dalam hal terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat petani, baik di
ruang publik atau di areal lahan sengketa. Sedangkan laporan-laporan dari petani atas
perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh pihak perusahaan perkebunan atau oleh
orang-orang sewaan perusahaan perkebunan justru jarang ditanggapi atau tidak
ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. 393
Sebelum tahun 2004, instrumen hukum pidana yang paling sering dijadikan
rujukan untuk mempidana petani dan masyarakat dalam sengketa perkebunan adalah
Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun, setelah dilahirkannya Undang-undang
No 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, maka pasal-pasal pidana dalam undangundang tersebut menjadi primadona baru bagi para perusahaan perkebunan dan Polisi
391
Misalnya dalam kasus yang terjadi antara masyarakat desa Karang Mendapo, Sarolangun, Jambi
dengan PT. Krisna Duta Agroindo (PT.KDA)

392

Misalnya dalam kasus Pargulaan, 11 orang pengurus Badan Perjuangan Masyarakat Pargulaan
(BPMP) dikriminalisasi dan diajukan ke Pengadilan oleh PT. PP Lonsum. Demikian juga dengan pemimpin dan
anggota Paguyuban Petani Aryo Blitar (PPAB) Desa Soso, Blitar yang diajukan ke Pengadilan karena dianggap
menggangu jalannya usaha perkebunan PT.Kismo Handayani, hampir sama dengan kasus Bandar Betsy a.n
Kemin dkk.
393
Hal ini bisa dari kasus yang terjadi antara masyarakat desa Karang Mendapo, Sarolangun, Jambi
dengan PT. KDA dan kasus masyrakat adat Jelai Kendawangan Ketapang melawan PT. Bangun Nusa Mandiri

Universitas Sumatera Utara

untuk melakukan kriminalisasi terhadap petani atau masyarakat. Sebagian besar


perlawanan petani / masyarakat memang dapat dilumpuhkan dengan menggunakan
instrumen pidana yang terdapat dalam UU Perkebunan ini. 394
Faktor penyebab timbulnya sengketa hak atas tanah adat selain faktor historis
seperti yang diuraikan di atas, di Kabupaten Simalungun juga dikarenakan faktor
klasik yang berhubungan dengan terbatasnya ketersediaan tanah dibanding luasnya
kebutuhan manusia akan tanah, ini ditandai dengan terjadinya :
1) Migrasi yang terlalu besar dari berbagai daerah (utamanya dari Jawa yang biasa
disebut transmigrasi). Lama kelamaan menjadikan mereka landhonger, lapar
tanah. Secara historis, karena kebaikan hati Raja-raja di Simalungun,
randkolonisasi ini yaitu orang-orang, buruh-buruh meninggalkan negerinya dan
meminta tanah kepada Raja, dan Raja pun mengabulkan permintaan mereka (oleh
prinsip Tolu Sahundulan Lima Saodoran, mereka inilah salah satu kelompok
saodoran tersebut.
Secara kuantitas manusia, termasuk randkolonisasi tadi bertambah/ meningkat
terus sementara ketersediaan tanah sangat terbatas. Mereka mencari dan terus
mencari tanah yang tidak pasti sampai akhirnya mereka mendirikan tempat tinggal
di pinggiran sungai, rel-rel Kereta Api, di daerah sutet dan lain-lain. Mereka
datang, tumbuh dan berkembang terus berebutan sehingga menimbulkan konflik
bahkan sengketa hak atas tanah.
2) Hukum dan peraturan-peraturan terlalu banyak (dilahirkan, dibentuk) sehingga
membingungkan rakyat. Aparatur hukum saja pun tidak/ belum memahami
hukum apalagi Hukum Adat Simalungun mengenai pertanahan jarang atau
bahkan tidak pernah diadakan sosialisasi mengenai hukum dan peraturanperaturan secara umum, Hukum Tanah secara khusus.
3) Materi hukum kurang bahkan tidak menyentuh legal empati 395, secara riil
(faktual), who other people, rasa keadilan masyarakat setempat sesuai asal-usul
394

Nurhasan Ismail & Nyoman Nurjaya, UU Perkebunan, op cit, hal 41.

Universitas Sumatera Utara

kesejarahan yang mereka miliki (seperti masyarakat Simalungun yang mengenal


kampung, menjadi Parbapaan/ Partuanon, Partuanon menjadi Kerajaan/ Urung).
Nagori, menurut Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun No. 10 Tahun
2000 Tentang Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Nagori di
Kabupaten Simalungun Pasal 1 angka e 396 adalah :
Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki wewenang untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dalam sistem
Pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.
Pasal 1 angka f, huta adalah :
Bagian wilayah dalam Nagori yang merupakan lingkungan kerja
pelaksanaan Pemerintahan Nagori.
Pasal 1 angka j, Maujana Nagori adalah :
Badan Perwakilan yang terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat yang ada
di Nagori yang berfungsi mengayomi adat-istiadat, membuat Peraturan
Nagori, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan
pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Nagori.
4) Bahwa di Kabupaten Simalungun masih ada masyarakat adatnya, hukum adatnya,
tokoh adatnya (bahkan sebagai pelaku sejarah), lembaga adat dan lain-lain.
Walaupun kecil dan lemah tapi bukan berarti tidak ada, terhapus 397. Jadi
harus diakui, ini juga menjadi salah satu pemicu konflik bahkan sengketa (hak
atas tanah adat).
Faktor Yuridis teknis berkaitan dengan banyaknya bidang tanah yang belum
terdaftar. Faktor politik yang menyebabkan belum terciptanya kepastian hukum
tersebut.
Kasus 4. Sengketa Hak Atas Tanah Adat antara Masyarakat dengan
Perkebunan Bandar Betsy
Sejak masuknya perusahaan perkebunan (onderneming) di wilayah Sumatera
Utara, menjadikan persoalan tanah sebagai pokok permasalahan utama mengingat
perusahaan perkebunan memerlukan lahan bagi pengembangan usahanya dalam
ukuran sangat luas dan tidak mungkin dipenuhi oleh penduduk secara perorangan.
Dengan kebutuhan tersebut dan ditopang dengan pandangan tentang hak penguasaan
395

Istilah yang lahir dari perkembangan diskusi dengan Djariaman Damanik.


Jo Pasal 1 e Perda Kabupaten Simalungun No. 18 Tahun 2000 Tentang Peraturan Nagori di
Kabupaten Simalungun
397
Ibarat pepatah kita sering jatuh karena kerikil, batu-batu kecil (bukan batu besar bukan?)
396

Universitas Sumatera Utara

tanah di Eropa, pengusaha perkebunan ini mendekati para raja yang dianggap
sebagai penguasa seluruh tanah di Sumatera Utara agar menyediakan tanah milik
rakyat melalui jalur kontrak sewa (conssesie) 398.
Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, situasi penggarapan di atas tanah
perkebunan semakin tak terkendali sehingga terjadi sengketa pertanahan antara
masyarakat dengan perkebunan. Keadaan ini juga berlanjut sampai terbentuknya
Negara Sumatera Timur yang diprakarsai Belanda tahun 1947.
Pemerintah Sumatera Timur berusaha untuk menertibkan kembali tanh-tanah
perkebunan dari pendudukan oleh masyarakat (Occupatie) dengan memberlakukan
Ordonansie onrechmatige occupatie van gronden. (Ord. 8 Juni 1948, S.1948-110).
Ordonansi ini hanya berlaku di Sumatera Timur, kalau dilanggar oleh para penghuni
liar baru, mereka akan menjadi sasaran pengusiran segera dan dan dikenakan penjara
selama tiga bulan atau denda sebesar lima ratus rupiah 399. Dan pada saat itu,
Kementerian Dalam Negeri juga mengeluarkan Surat Edaran No.A.2.30/10/37
(Bijblad 15242) yang menganjurkan agar penyelesaian okupasi tanah erfacht tersebut
dilakukan melalui jalan perundingan atau damai. Namun kedua peraturan tersebut
tidak mampu menyelesaikan persoalan penggarapan tanah yang dilakukan oleh
Masyarakat. Keadaan seperti ini terus berlangsung sampai terjadinya perjanjian
KMB 400.
Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 antara pemerintah Belanda
dengan pemerintah Indonesia (RIS) menyatakan bahwa mengenai pendudukan
(occupatie) tanah perkebunan milik Belanda oleh masyarakat tidak dapat
dikembalikan begitu saja kepada pihak perkebunan. Keadaan ini berlanjut sampai
pembatalan perjanjian KMB,sejak itu penggarapan di atas tanah perkebunan tidak
dapat diselesaikan.
Berawal dari judul tulisan di sebuah koran daerah pada tanggal 13 Desember 2010
DPRDSU desak BPN dibubarkan, kasus tanah kembalikan ke Dirjen Agraria 401.
Bahwa komisi A DPRD Sumut mendesak pemerintah pusat segera membubarkan
BPN (Badan Pertanahan Nasional). Karena dianggap sebagai penyebab dalam
menuntaskan kasus-kasus tanah di daerah Simalungun, sebab dari 500-an lebih kasus
perselisihan tanah yang mencuat ke permukaan, tidak ada yang bisa diselesaikan,
artinya hanya 1% yang bisa diselesaikan.
Dengan membubarkan BPN dan mengembalikan soal pengurusan tanah ke Dirjen
Agraria di bawah naungan Mendagri, sehingga soal penyelesaian tanah di Propinsi
berada di tangan Gubernur dan Kabupaten/ Kota yakni Bupati/ Walikota yang
dianggap lebih menguasai masalah tanah di wilayahnya masing-masing.
Dari sejumlah kasus-kasus tanah yang disampaikan ke DPRD Sumut 402, mayoritas
menyangkut silang sengketa antara pengusaha dengan rakyat, Pemerintah dengan
398

Syafrudin Kalo dalam Arie Sukanti Hutagalung, Pergulatan Pemikiran, Op.Cit, hal. 192
Karl Pelzer, Planters against Peasant, op.cit, hal. 28
400
Ibid, hal 197
401
Sinar Indonesia Baru, 13 Desember 2010
399

Universitas Sumatera Utara

rakyat, perkebunan (PTPN) dengan masyarakat seperti Perkebunan Bandar Betsy ini.
Sudah puluhan tahun sengketa tanah perkebunan ini berlangsung dan tak kunjung
selesai.
Perkebunan Bandar Betsy dimasukkan dalam daerah PTP-IV Gunung Pamela
yang terletak antara Tebing Tinggi-Pematang Siantar sebelah kiri pasar hitam 15 km
dari pinggir jalan besar, sebelah kiri menuju Pematang Siantar. Perkebunan ini
sekarang termasuk dalam PTP-III. Rakyat yang mendiami kampung-kampung sekitar
areal perkebunan sejak tahun 1947, sebagian besar terdiri dari suku Jawa yang
merupakan basis dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR)
merupakan ormas dari PKI. Mereka telah menggarap areal perkebunan sejak zaman
Jepang (1943). Setelah perkebunan Bandar Betsy dinasionalisasi pada tahun 1957,
pihak PPN telah melakukan pembersihan areal perkebunan dari penggarap dengan
sistem ganti kerugian atas dasar musyawarah, walaupun tanah itu telah diganti rugi
oleh pihak PPN, namun anggota-anggota BTI/PR tidak mau mematuhi bahkan sering
mengganggu petugas-petugas PPN yang sedang bekerja 403.
Pada tahun 1960, untuk memenuhi kebutuhan pangan yang mendesak bagi
masyarakat pada waktu itu, Pemerintah Daerah Tingkat II Kab. Simalungun,
menugasi aparat/instansi terkait, antara lain : PU, Pengairan, agar memberikan
petunjuk teknis, penggalian sumber air, pencetakan sawah. Sebagai tindak lanjutnya,
Bupati KDH Tingkat II Kab. Simalungun, mengeluarkan izin pembukaan tali air
petunjuk teknis, penggalian sumber air dan pencetakan sawah, Nomor I/1963 tanggal
14 januari 1963. 404
Pada tahun1963 terjadi peristiwa di Afd. II A Blok 38. Tanah-tanah yang
sudah diganti rugi oleh PPN kembali digarap oleh BTI/PR.
Selanjutnya pada tahun 1965, Bupati Simalungun selaku Ketua Panitia
Landreform TK II Simalungun mengeluarkan dua Surat Keputusan :
1. Surat Keputusan Panitia Landreform Daerah Tingkat II Kabupaten Simalungun,
No. 4/II/10/LR/PP, 2 Maret 1965, tentang Pelepasan Tanah Garapan Dari Pihak
Perkebunan kepada Masyarakat Petani yang berlokasi di Afd. 8, 31, 39, 40 dan
41, sejumlah 2.107 ha.

402
Masyarakat kerap melakukan demonstrasi ke lembaga legislatif menuntut segera diselesaikan kasus
tanah yang menimpa masyarakat
403
Nas Sebayang dalam Syafruddin Kalo, Masyarakat dan Perkebunan: Studi Mengenai Sengketa
Pertanahan Antara Masyarakat Versus PTPN II dan PTPN III di Sumatera Utara, disertasi, (Medan: PPS USU,
2003), hal. 275.
404
Ibid, dan lihat juga Laporan Kronologis dan Upaya Penyelesaian Masalah Tanah Garapan Petani
Bandar Betsy II, Kec. P. Bandar Kab. Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Kesatuan Organisasi Reformasi
Keadilan Rakyat (KOREKER), yang ditandatangani oleh Drs. B.P. Tamba, tanpa tanggal dan tahun.

Universitas Sumatera Utara

2.

Surat Panitia Landreform Daerah Tingkat II Kabupaten Simalungun, No.


2/II/10/LR/65/PP, 31 Maret 1965, tentang Pelepasan Tanah Garapan dari pihak
Perkebunan, kepada Masyarakat Petani yang berlokasi di Afd. 37, sejumlah 306
ha.

Kedua SK Panitia Landreform tersebut, memutuskan untuk mengeluarkan


areal kebun Bandar Betsy seluas 2.413 ha. Berdasarkan kedua SK Panitia
Landreform tersebut, petani penggarap Bandar Betsy menuntut agar pihak
perkebunan mengeluarkan areal tersebut dari Hak Guna Usaha Kebun Bandar Betsy
untuk petani penggarap. Kedua SK panitia Landreform tersebut di atas, ditanggapi
oleh pihak PPN Karet IV Perkebunan Bandar Betsy (sekarang PTPN-III) yaitu
dengan surat yang ditujukan kepada Ketua Panitia Landreform Tk. II PematangSiantar, No. BBY/X/1078/1965 tertanggal 4 Maret 1965, yang ditandatangani oleh
Administratur Kebun Bandar Betsy, Soebekti, SH meminta agar areal perkebunan
seluas 1.808 ha dikembalikan kepada pihak perkebunan. 405 Permohonan tersebut
dibicarakan antara pihak pemerintah dengan pihak perkebunan dan masyarakat
penggarap.
SK Panitia Landreform Dati II Kabupaten Simalungun No. 4/II/10/LR/PP
tanggal 2 Maret 1965 dan No. 2/II/10/LR/65/PP tanggal 31 Maret 1965, yang
menimbulkan masalah antara Pemerintah Daerah Dati II Kabupaten Simalungun dan
pihak perkebunan serta masyarakat penggarap, maka Panitia Landreform Pusat
menegur Panitia Landreform Dati II Kabupaten Simalungun dengan Surat No.
27/PLP/1966 tanggal 03 April 1966 dengan menyatakan :
Dalam menentukan tanah-tanah perkebunan negara sebagai objek
Landreform, hendaknya diperhatikan kepentingan pihak perkebunan
negara, yang pada hakekatnya juga adalah kepentingan negara dan rakyat,
dan dalam pelaksanaannya agar didengar pendapat dari Inspektorat
Perkebunan, PPN dan Administratur Perkebunan yang bersangkutan serta
perlu ada pertimbangan berdasarkan Pasal 1 ayat (d) PP No. 224 Tahun
1961.
Kedua SK Panitia Landreform tersebut, ternyata belum mendapatkan
pengesahan dari Panitia Landreform Pusat, maka dengan sendirinya kedua SK
Landreform Dati II Kabupaten Simalungun tidak mempunyai kekuatan hukum.
Akibatnya tanah yang menjadi objek Landreform tersebut harus dikembalikan kepada
pihak PPN-IV Kebun Bandar Betsy.
Secara yuridis formal, untuk dapat ditegaskan sebagai tanah yang menjadi
objek Landreform, hendaknya Panitia Landreform Dati II yang bersangkutan sesudah
mengadakan musyawarah dengan pihak-pihak yang bersangkutan mengajukan usul405

Lihat, Surat PPN Karet IV Perkebunan Bandar Betsy tertanggal 04 Maret 1965.

Universitas Sumatera Utara

usulnya kepada Panitia Landreform Pusat dengan disertai pertimbangan dari Kepala
Inspeksi Agraria yang bersangkutan. Di samping itu menurut PP 224 Tahun 1961
Pasal 1 mengatur mengenai tanah-tanah yang akan dibagikan dalam rangka
pelaksanaan Landreform sebagai berikut :
a. Tanah-tanah selebihnya dari atas maximum sebagai dimaksudkan dalam UndangUndang No. 56 Prp Tahun 1960 dan tanah-tanah yang jatuh pada negara, karena
pemiliknya melanggar ketentuan-ketentuan undang-undang tersebut.
b. Tanah-tanah yang diambil oleh pemerintah, karena pemiliknya bertempat tinggal
di luar daerah, sebagai yang dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (5)
c. Tanah-tanah Swapraja dan bekas Swapraja yang telah beralih kepada negara
sebagai yang dimaksudkan dalam Diktum keempat huruf A Undang-Undang
Pokok Agraria.
d. Tanah-tanah lain yang dikuasai langsung oleh negara yang akan ditegaskan lebih
lanjut oleh Menteri Agraria.
Dua SK Panitia Landreform Dati II Kabupaten Simalungun, cacat hukum karena
tidak memenuhi prosedur, yaitu tidak memperhatikan kepentingan pihak
perkebunan negara dan rakyat, tidak mendengar pendapat dari Inspektorat
Perkebunan dan Administratur Perkebunan yang bersangkutan serta tidak
memperhatikan PP No. 224 Tahun 1961, khusus mengenai tanah-tanah yang
dikuasai langsung oleh negara lebih lanjut akan diatur oleh Menteri Agraria. Dua
kebijakan tersebut telah menimbulkan sengketa antara Pemerintah Dati II Kab.
Simalungun, perkebunan dan rakyat penggarap.
Pergantian pemerintahan pada tahun 1966 dari pemerintahan Soekarno ke
pemerintahan Soeharto, persoalan sengketa penguasaan tanah antara masyarakat
penggarap dan perkebunan tidak berakhir, malah menunjukkan kecenderungan
meningkat. Pemerintahan Soeharto yang menggunakan kekuatan represif dalam
menyelesaikan berbagai persoalan segera menerapkan konsep pendekatan
kekuasaan dalam menangani masalah sengketa ini. Tahun 1966, Direktur PPN
Karet IV, memohon kepada Menteri Agraria agar SK No. 2/II/10/LR/65/PP dan
No. 4/II/10/LR/BP Tahun 1965 tersebut dibatalkan. Permohonan Adm. Bandar
Betsy dan Direktur PPN Karet IV (sekarang PTPN-III), sampai saat ini tidak
ditanggapi. Dengan demikian 2 SK Landreform tersebut, tetap sebagai keadaan
semula. Para petani penggarap menganggap kedua SK Panitia Landreform itu,

Universitas Sumatera Utara

tetap berlaku, berarti sengketa antara pihak petani penggarap dengan pihak
perkebunan belum dapat diselesaikan.
Dalam perkembangan selanjutnya, tanggal 22 Juli 1968 diadakan musyawarah
dengan kesepakatan bahwa pihak perkebunan menyanggupi pembuatan tali air,
membayar ganti rugi tanaman Rp.4.000/ha s/d Rp.6.000/ha dan 380 ha termasuk
pando/perengan diserahkan kepada masyarakat petani penggarap. Kesepakatan
tersebut tidak ada realisasinya dari pihak perkebunan. Kemudian pada tanggal 22
Oktober 1968, diadakan musyawarah kembali, yaitu untuk mencapai kesepakatan
pembuatan tali air dengan memakai talang. Pihak perkebunan pada waktu itu telah
membuat kontrak pada pihak III. Pihak perkebunan menyatakan agar tanah terlebih
dahulu dikosongkan baru dapat dicairkan dana dari PPN. Dengan ketentuan pihak
PPN membayarkan berupa panjar Rp.720.000 sebagai uang angkut barang, tetapi
tidak ada realisasinya. Selanjutnya pada tanggal 5 Agustus 1969, diadakan
musyawarah kembali dengan kesepakatan yang isinya :
1. Pembayaran uang angkut barang harus dibayarkan Pihak Perkebunan dengan
tepat waktu
2. Pembuatan talang yang dikontrakkan pihak Perkebunan, penyerahannya harus
kepada PU. Tk. II Kab. Simalungun
3. Jika pembayaran uang angkut barang dan penyelesaian pembuatan talang tidak
dipenuhi Pihak Perkebunan, maka batallah segala keputusan musyawarah yang
sudah disepakati dan kembali kepada keputusan Panitia Landreform Tk. II Kab.
Simalungun.
Ketiga musyawarah tersebut di atas tidak ada realisasinya dari pihak
perkebunan, maka pada tanggal 8 Agustus 1969, Bupati KDH Tk. II dan selaku Ketua
Panitia Landreform Tk. II Kab. Simalungun, mengeluarkan surat keputusan
pernyataan Standfast, terhadap tanah sengketa. Selanjutnya dibentuk Tim Pemeriksa
ke lapangan pada lokasi tanah sengketa. Tim terdiri dari Pihak Perkebunan, Muspika
Kecamatan Pematang Bandar, dan Pihak Penggarap, untuk mengadakan registrasi
jumlah anggota petani penggarap. Pada waktu itu terdiri dari 75 kepala keluarga, dan
dua belas (12) lembar kartu anggota. Hasil registrasi tersebut telah ditandatangani
oleh masing-masing anggota Tim. Namun hal ini juga tidak dapat menyelesaikan
permasalahan.
Selanjutnya pada tahun 1998 dibentuk Tim Terpadu Kantor Gubernur KDH
Tk. I Sumatera Utara, untuk menyelesaikan permasalahan tanah garapan masyarakat
dengan pihak perkebunan.

Universitas Sumatera Utara

Pada tanggal 20 Oktober 1999, diadakan rapat di Kantor Bupati Simalungun


yaitu, untuk menindaklanjuti penyelesaian permasalahan tanah garapan dengan
adanya tiga alternatif sebagai berikut :
1. Alternatif I, tuntutan Djaiman Nainggolan 1200 ha 168 ha 89 ha
2. Alternatif II, dari Pihak Perkebunan atas usul Adm, Bandar Betsy, 326, 5 ha
(256,5 ha 70 ha) 168 ha = 158,5 ha
3. Alternatif III, dari Pemda 326,5 ha + 89 ha pando/perengan.
Dalam hal ini, pihak perkebunan tidak dapat menerima sehingga,
permasalahan belum juga dapat diselesaikan. Berdasarkan hal tersebut, Bupati
Simalungun membuat surat kepada Menneg Penanaman Modal dan Perkebunan
BUMN, tanggal 25 Oktober 1999 dan 6 Desember 1999. Disamping itu ada surat
dukungan dari Gubernur Sumatera Utara tanggal 5 Nopember 1999.
Undangan untuk pertemuan tanggal 13 Februari 2000, disampaikan kepada
instansi terkait, termasuk yang mewakili dari Kantor Menneg Penanaman Modal dan
Pembinaan BUMN. Gubernur Sumatera Utara dengan suratnya No. 593/2361 tanggal
24 Februari 2000, menyampaikan hasil pertemuan, dengan kesimpulan bahwa
penyelesaian sengketa harus dilakukan dengan Win-Win Solution yaitu 943 hektar
dikeluarkan dari areal perkebunan, untuk masyarakat penggarap, biaya ukur
tanggungan PTPN-III dan jangan mempermasalahkan tanaman yang ada di areal yang
akan diserahkan.
Pada tanggal 13 Maret 2000, 3 April 2000, dan 26 April 2000, kuasa dari
masyarakat penggarap menjumpai Deputi Agro Industri yang isinya :
a) Deputi membantu dan tidak merugikan masyarakat penggarap
b)

Deputi akan membuat penyelesaiannya yang merupakan percontohan

c)

Deputi hanya sebatas mengusulkan, keputusan terakhir berada di tangan


Menteri.

Setelah berlangsung tiga bulan lamanya, Surat Gubernur Sumatera Utara


tersebut disampaikan kepada Menneg Penanaman Modal, dan Pembinaan BUMN
dengan PTPN-III tidak ditanggapi. Selanjutnya pada tanggal 3 Juni 2000, kuasa dari
masyarakat penggarap, akhirnya memohon kepada Komisi IX DPR-RI sebagai
berikut :
a) Merekomendasikan kepada Menneg Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN,
agar menyelesaikan permasalahan tanah garapan Petani Bandar Betsy, mengacu

Universitas Sumatera Utara

kepada Surat Gubernur No. 593/2361 tanggal 24 Februari 2000. Cara yang
ditempuh itu sudah merupakan solusi yang terbaik Win-win Solution yaitu,
disetujui untuk masyarakat penggarap 943 ha dari tanah yang dipermasalahkan
sejumlah 2245 ha.
b) Rekomendasi dari Komisi IX DPR-RI tersebut, yang pada gilirannya akan
melahirkan Surat Persetujuan Menneg Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN.
c) Surat usulan tersebut, masyarakat penggarap mengharapkan agar berupa utusan
dari Komisi IX DPR-RI berkenan menyampaikannya kepada Bapak Gubernur
Sumatera Utara di Medan, dan disaksikan instansi terkait.
Areal yang sudah diduduki penggarap Bandar Betsy yaitu :
1. Afdeling I seluas = 8 ha
2. Afdeling IV seluas = 2 ha
3. Afdeling V seluas = 2,40 ha
4. Afdeling VI, VII, VIII seluas = 83,35 ha 406
Areal yang diduduki oleh kelompok Suharji Cs yang terletak di Afdeling VI,
VII seluas = 202 ha. Sedangkan areal yang diduduki oleh penggarap yang berasal dari
desa Bandar Silo, Bandar Pulo, Bandar Manis dan Ujung Pait terdiri dari 150 orang
penggarap, telah menduduki 297,75 ha.
Berdasarkan data yang dapat dihimpun, maka sengketa antara pihak petani
penggarap dengan pihak perkebunan Bandar Betsy (PTPN-III) sampai saat ini, belum
ada penyelesaian yang tuntas. Sebagai tindak lanjutnya, turunlah instansi terkait ke
lapangan, untuk melakukan pemeriksaan tanaman, dan tenaga masyarakat yang sudah
membersihkan areal tersebut. Keputusan instansi terkait pada waktu, agar pihak
perkebunan membayar ganti rugi tanaman dan upah pembersihan areal kepada
masyarakat petani. Namun pihak perkebunan, tidak memenuhi apa yang telah
disepakati.
406

Laporan Kronologis dan upaya penyelesaian masalah tanah garapan petani Bandar Betsy II,
Kecamatan P. Bandar Betsy, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, dari Kesatuan Organisasi
Reformasi Keadilan Rakyat (KOREKER) oleh kuasanya Drs. B.P. Tamba dalam Syarifuddin Kalo, disertasi,
Op.Cit, hal 272.

Universitas Sumatera Utara

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan Surat Menteri Negara/Kepala


Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. S-328/M.PM-PBUMN/2000
tanggal 23 Agustus 2000 yang ditujukan kepada Menteri Koordinator Ekonomi
Keuangan dan Industri, atas arahan Presiden dapat mempertimbangkan untuk
melepaskan 40 % (empat puluh persen) dari tanah HGU PTP Nusantara III seluas 943
ha untuk diserahkan kepada Gubernur/KDH Tingkat I Sumatera Utara dan mengenai
kebijaksanaan final tentang pendistribusiannya kepada masyarakat (penggarap) agar
diserahkan menjadi tanggung jawab Gubernur/KDH Tingkat I Sumatera Utara.
Namun berhubung masalah sengketa tanah perkebunan belum diatur dalam suatu
petunjuk pelaksanaan sebagai kebijaksanaan nasional dan masalah sengketa tanah
juga terjadi pada areal PTPN yang lain, maka masalah ini perlu dibicarakan pada
Rakor Ekuin dengan mengikutsertakan Menteri Perkebunan, Badan Pertanahan
Nasional, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, BPKP dan instansi terkait lain
yang diperlukan. 407
Surat Menteri Negara/Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN
tersebut di atas ditindaklanjuti Kordinator Bidang Perekonomian Indonesia. Dengan
suratnya No. S.07/D.VU.M.EKON/02/2001 tanggal 6 Februari 2001, yang ditujukan
kepada Direktur Jenderal BUMN Departemen Keuangan, Menko Perekonomian
mengusulkan agar penyelesaian masalah tanah perlu dilihat kasus per kasus dan tidak
digeneralisir secara nasional misalnya diberikan 40 % dari luas tanah yang dituntut.
Luas tanah yang dituntut masyarakat penggarap dan akan dilepaskan oleh PTPN-III
(Maksimal 943 ha) dihitung berdasarkan kesepakatan dan kalkulasi yang diusulkan
Pemerintah Daerah dengan memperhatikan aspek legalitasnya. 408
Dalam perkembangan selanjutnya, 22 Maret 2011 Advokat dan Penasehat
Hukum A. Tumanggor, SH dan Associates selaku kuasa hukum Kelompok Tani
Kemin dkk menyusul pengaduan dan menyampaikan permohonan hal-hal sebagai
berikut :
1. Bahwa masyarakat Desa Bandar Betsy Kec. Huluan, Kab. Simalungun dengan
jumlah kelompok tani 155 KK dan telah menguasai dan mengusahai tanah
garapan 115 ha seharusnya 215 ha dan telah menanami Kelapa Sawit tanaman
tua dan muda Eks. PTP Nusantara III (Persero) yang telah keluar dari luas
5.348,9 ha. Telah keluar dari HGU PTP 3 yang telah disetujui oleh DPR RI dan

407
Lihat, Surat Menteri Negara/Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. 5328/M.PM-328/M.PM-PBUMN/2000, tanggal 23 Agustus 2000
408
Ibid

Universitas Sumatera Utara

Pemerintah Pusat baik Pemerintah Gubernur Sumatera Utara dan DPR Sumatera
Utara serta Bupati Simalungun dan DPRD Kab. Simalungun.
2. Bahwa di atas PTP 3 HGU No. 1 Tahun 1989 telah berakhir tanggal 31 Desember
2005 maka tanah tersebut telah beralih menjadi tanah negara RI dengan ketentuan
Undang-Undang Pokok Agraria kelompok tani penggarap KEMIN DKK secara
hukum adalah pemilik HAK yang dilindungi undang-undang
3. Bahwa Eks PTP 3 tidak memiliki alas HAK lagi, maka tidak berhak lagi
melakukan pelakuan pidana terhadap kelompok tani KEMIN DKK
4. Bahwa berakhirnya HGU No. 1 Tahun 1989 telah mengajukan permohonan
kepada BPN RI direkomendasikan oleh BPN Kanwil Sumatera Utara tepatnya
pada tahun 2004 namun sampai saat ini sudah 7 (tujuh) tahun lamanya tidak ada
perpanjangan HGU milik PTP 3.
5. Bahwa kelompok tani penggarap KEMIN DKK telah beberapa kali melakukan
pertemuan dengan Pemerintah Daerah Kab. Simalungun dan PTP 3 Persero
bahwa tanah 5.348,9 ha telah keluar dari PTP 3 dan akan dibagikan kepada
masyarakat. Dan kami Kelompok Tani KEMIN DKK telah menyampaikan
berkas-berkas kependudukan dan persyaratan yang lengkap, sesuai dengan
pengumuman surat kabar namun lamban Bupati Simalungun menerbitkan Surat
Keterangan Tanah tersebut kepada kami, maka dengan hormat Bapak Bupati
Simalungun dan instansi terkait saat ini kami mohonkan dengan hormat
menerbitkan surat kepemilikan tanah tersebut untuk tidak terjadi lagi hal-hal yang
timbul dikemudian hari.

Universitas Sumatera Utara

6. Bahwa perlu kami sampaikan Bapak Instansi Pemerintah dan terkait dan terutama
kepada Bapak Bupati Simalungun dan kepada Bapak Ketua DPRD Simalungun
kami tidak ikut serta melakukan unjuk rasa seperti kelompom KOREKER yang
berulang kali kami baca akhir-akhir ini di Surat Kabar Pematangsiantar. Kami
cukup menyampaikan hak-hak kami secara tertib, tertulis dengan melalui kuasa
hukum kami, dan keyakinan kami sepenuhnya Instansi Pemerintah tersebut, kami
yakin bijaksana menindak lanjuti hak-hak kami dari Pemerintah Daerah baik pun
Pemerintah Pusat dan akan disetujui oleh PTP III Nusantara III Bandar Betsy
7. Bahwa terjadinya peristiwa pidana terhadap klien kami, Kelompok Tani KEMIN
dkk diduga adalah rekayasa peristiwa PERDATA dijadikan peristiwa PIDANA,
kami mohonkan Bapak Bupati Simalungun dan Bapak DPRD Simalungun dapat
merekomendasi kepada Bapak Ketua MA RI ub. Bapak Ketua Majelis dan
anggota Majelis MA RI mengadili perkara ini untuk dibebaskan dari segala
hukuman PIDANA
8) Bahwa tentang kejadian saksi-saksi ahli di persidangan dihadirkan jasa penuntut
hukum dalam perkara ini tidak dapat membuktikan pengrusakan tanaman karet
milik PTP III Bandar Betsy, Kec. Bandar Huluan Kab. Simalungun yang
dilakukan para terdakwa KEMIN DKK.
Bahwa bukti-bukti yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dipersidangkan
Pengadilan Negeri Simalungun untuk membuktikan kesalahan para terdakwa
KEMIN dkk. Ternyata tidak ada satupun bukti yang mendukung kesalahan para
terdakwa KEMIN dkk, sebab bukti yang mendukung bahwa para terdakwa
KEMIN dkk yang menguasai dan menguasai dan mengusahai lahan Eks PTPN III
Bandar Betsy adalah sertifikat HGU No. 1 Tahun 1989, yang telah berakhir
tanggal 31 Desember 2005, maka pengaduan PTPN III Bandar Betsy adalah salah
alamat karena tidak berhak mengadukan kepada para terdakwa karena lahan yang
dikuasai para terdakwa bukan milik PTPN III Bandar Betsy melainkan tanah
tersebut sudah kembali kepada masyarakat atau Eks. PTPN III Bandar Betsy dan

Universitas Sumatera Utara

para terdakwa KEMIN DKK berhak untuk menguasai dan mengusahai lahan Eks
PTPN III Bandar Betsy tersebut.
9) Tentang Pengurasakan tanaman karet milik Eks. PTPN III Bandar Betsy tidak
terbukti secara Hukum.
- Bahwa barang bukti yang diajukan di depan persidangan dalam perkara ini
adalah Nihil yang tidak dapat dibuktikan Jaksa Penuntut Umum dalam surat
Dakwaannya karena tidak benar ada pengurasakan Tanaman Karet milik Eks.
PTPN III Bandar Betsy demikian juga saksi-saksi baik yang saksi
memberatkan maupun saksi ahli dan saksi meringankan maupun bukti-bukti
dalam perkara tidak dapat menerangkan tanaman karet yang dirusak para
terdakwa KEMIN dkk.
10) Bahwa nampaknya Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara dalam suratnya
No. S-744/MBU/2008 tanggal 7 September 2008, telah mengeluarkan
rekomendasi agar HGU milik PTPN III seluas 32.219.17 Ha supaya
diperpanjang HGU nya dari areal seluas 31.219.17 Ha termasuk di dalamnya
Kebun Bandar Betsy seluas 5.348,9 Ga dan juga Kanwil BPN Sumatera Utara
telah mengusulkan Perpanjangan HGU kebun Bandar Betsy seluas 5.348,9 Ha
kepada Badan Pertanahan Nasional sesuai Surat No. 10/PTT/KR/2008/A,
tanggal 10 Oktober 2008.
11) Bahwa setelah kedua surat instansi tidak menyetujui lahan Eks. PTP III Bandar
Betsy dibagikan kepada masyarakat penggarap didukung pula Kepala Kejaksaan
Tinggi Sumatera Utara dengan Surat Kuasa Khusus Direksi PTP III No.
3.11/SKKL/03/2010, tanggal 11 Maret 2010, dan tinggal Kepala Badan
Pertanahan Nasional Pusat sampai saat ini belum memberikan
jawaban/tanggapan atas ke-2 Surat tersebut.
12) Bahwa dari kacamata hukum walaupun Pemerintah dalam hal ini Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara belum mencabut HGU No. 1 Tahun 1989 dengan
ketentuan apabila usaha atau pohon karet milik Eks. PTP III masih produktif
namun kenyataannya tanaman karet di lahan Eks, PTP III yang dikuasai
Penggarap tidak ada.
13) Bahwa apabila HGU telah berakhir dalam jangka 1 (satu) tahun maka Hak Eks.
PTP III Bandar Betsy hapus karena hukum, sebagaimana diatur dalam pasal 30
ayat 2 dan Hapus karena jangka waktunya telah berakhir sebagaimana dimaksud
Pasal 34 ayat 2 Jo. Pasal 34 sub a UU. No. 5 Tahun 1960.

Universitas Sumatera Utara

14) Bahwa ketentuan pada point 13, inilah yang belum dipahami Eks. PTP III Bandar
Betsy termasuk Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang mengaku-ngaku
kuasa Hukum Direksi PTP III.
15) Bahwa di pihak PTP III Bandar Betsy tetap berusaha melaksanakan aktifitas
pembersihan di areal Eks. PTP III Bandar Betsy dan akan menanami dan
melakukan pemeliharaan tanaman dengan cara merusak tanaman masyarakat
penggarap tanpa mengindahkan Hukum, pada hal tidak menyadari PTP III
Bandar Betsy tidak memiliki alas Hak berupa HGU dan tetap ngotot dan
mengaku sebagai pemiliki atas Eks. HGU yang telah berakhir atau hapus karena
hukum atau berakhir karena jangka waktunya telah berakhir.
16) Bahwa selanjutnya masyarakat penggarap yang mengatasnamakan Kelompok
Tani Bandar Rejo yang dikoordinis KEMIN DKK, telah dijadikan terdakwa dan
3 (tiga) orang anggotanya dan perkara pidananya telah diputus oleh Pengadilan
Negeri Simalungun dan hukuman masing-masing selama 1 tahun 6 bulan dan
telah dikuatkan Pengadilan Tinggi Medan, dengan dasar pemidanaan UndangUndang No. 18 Tahun 2004, tentang perkebunan, bersama-sama melakukan
pengrusakan kebun dan menguasai tanpa izin namun Pengaduan PTP III Bandar
Betsy baru bulan Oktober 2008, setelah HGU No. 1 Tahun 1989, berakhir
tanggal 31 Desember 2005 dan saat ini perkara tersebut di tingkat Kasasi untuk
lebih jelasnya dapat kami lampirkan Memori Kasasi KEMIN dkk.
a. Tipologi Sengketa Pertanahan dalam Kasus 4 (empat) ini adalah :
1) Sengketa Penguasaan dan Pemilikan
2) Sengketa tanah objek Land Reform
3) Sengketa Kawasan
4) Sengketa tanah nasionalisasi badan hukum belanda
Pihak-pihak yang bersengketa
1) Masyarakat Dengan Perkebunan
2) Masyarakat dengan Instansi Pemerintah
b. Faktor Penyebab terjadinya sengketa pertanahan dalam kasus ini adalah
1) Adanya kesenjangan sosial antara masyarakat sekeliling dengan pihak
perkebunan. Masyarakat sekitar perkebunan merasa tidak memiliki tanah yang

Universitas Sumatera Utara

bisa digarap untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sehingga masyarakat


memberanikan diri menduduki/ menggarap tanah-tanah perkebunan.
2) Adanya sengketa hak yang sudah lama tak terselesaikan (akut). Masyarakat
merasa sebelumnya telah memiliki tanah yang diambil secara paksa oleh
pihak

perkebunan

sehingga

masyarakat

menuntut

agar

tanahnya

dikembalikan, yakni pemahaman tentang kepemilikan tanah secara faktual


dan yuridis atau sering disebut sebagai kepemilikan ipso facto dan ipso jure
3) Adanya sikap-sikap perkebunan yang kurang melaksanakan bina lingkungan
di sekitar perkebunan. Masyarakat menduduki/ menggarap tanah-tanah
perkebunan yang ditelantarkan oleh pemegang hak atas tanah perkebunan.
4) Adanya faktor eksternal yang mendorong masyarakat memberanikan diri
meminta, menduduki, menggarap tanah-tanah perkebunan Faktor ini banyak
dipicu oleh kondisi sosial politik dan ekonomi serta perubahan rezim yang
sangat mendasar dari sentralistik yang otoriter menjadi desentralistik yang
lebih domokratis.
5) Fenomena sengketa di atas bisa dipandang sebagai proses sosiasi. Sosiasi bisa
menciptakan asosiasi, yaitu para individu yang berkumpul sebagai kesatuan
kelompok masyarakat. Sebaliknya, sosiasi juga bisa melahirkan disasosiasi
yaitu para individu mengalami interaksi saling bermusuhan karena adanya
feeling of holistility secara alamiah. 409

409

Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik dan isu-isu konflik kontemporer, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group,2009), hal.47.

Universitas Sumatera Utara

6) Simmel menyatakan: The actually dissociating elements are the causes of the
conflict-hatred and envy, want and desire (Unsur-unsur yang sesungguhnya
dari disasosiasi adalah sebab-sebab konflik-kebencian dan kecemburuan,
keinginan dan nafsu). 410

410

George Simmel, The Sociology of Conflict, (America: Journal of Sociology,1903), hal.409.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
PENYELESAIAN SENGKETA HAK ATAS TANAH ADAT
DI KABUPATEN SIMALUNGUN
Penyelesaian sengketa adalah suatu proses dengan mekanismenya yang secara
khusus dimaksudkan menyelesaikan perbedaan bentuk-bentuk kegiatan lembaga
penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para
pihak yaitu penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi,
mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
Peradilan adat adalah mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan hukum
adat atas pelanggaran terhadap hak-hak adat dan hukum adat. 411
M.Yamin Lubis menambahkan 412 hal yang paling mendasar untuk
menuntaskan persoalan tanah menurut UUPA adalah menggunakan logika agraria 413.
Jangan dibawa ke ranah politik, bawalah ke ranah hukum, karena tujuan hukum
(keadilan, kemanfaatan dan kepastian).
Jika hukum adat masih ada (tentang pertanahan) juga harus tunduk kepada
UUPA (sebagai payung hukum), karena tanah mengandung makna luas. Tanah
(land), di dalamnya ada hak (right and use of right). Jadi di dalamnya ada urusan hak
dan urusan peruntukkan dari hak tersebut.
Keputusan Presiden No.34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di bidang
Pertanahan Pasal 2 (dua) tegas disebut : Sebagian kewenangan pemerintah di bidang
pertanahan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, Kewenangan yang
dimaksud antara lain :
a. Pemberian izin lokasi
b.

Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan

c.

Penyelesaian sengketa tanah garapan

d.

Penyelesaian ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan

e.

Penetapan subjek dan objek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah
kelebihan maksimum dan tanah absentee

f.

Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat, dan lainnya

411
Kedua defenisi di atas, penyelesaian sengketa dan peradilan adat adalah defenisi yang dibuat Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam RUU tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat, diskusi
publik tentang Masyarakat Adat, dimana penulis sebagai salah satu narasumber, Hermina Hall, Universitas Darma
Agung, 11 Desember 2012.
412
M.Yamin, Logika Agraria menuntaskan Persoalan Tanah, kolom Opini dalam harian Waspada, 2
Oktober 2012.

Universitas Sumatera Utara

Ini semakin menegaskan kewenangan ada pada daerah, sehingga seharusnya


tidak lagi membuat persoalan tanah tidak bisa diselesaikan. Pemerintah daerah
harus punya nyali mengambil urusan ini.
a.

Temuan Desa Tanpa Sengketa Tanah (Desa Sipoldas dan Desa Bangun Das
Meriah, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun)

Berdasarkan penelitian di lapangan 414 ditemukan 2 desa yang tidak pernah


terjadi sengketa karena persoalan tanah (tanah adat). Desa itu bernama Sipoldas,
yang wilayahnya berbatasan dengan sebelah Utara dengan Desa Bangun Das Meriah,
sebelah Selatan dengan desa Mekar Sari Raya, sebelah Timur dengan desa Simpang
Raya Darma dan sebelah Barat dengan desa Bangun Rakyat. Desa ini terletak di
Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun.
Jarak ke ibukota kecamatan 5 km, lama jarak tempuh ke ibukota kecamatan
dengan kendaraan bermotor 10 menit, jarak ke ibukota Kabupaten 17 km, lama
jarak tempuh ke ibukota Kabupaten dengan kendaraan bermotor 30 menit (0,5
jam). 415
Sipukka Huta (yang membuka) daerah itu bermarga Omp. Jomma Sinaga,
semula disebut tanah parhutaan, luasnya 10 km persegi dan tidak memiliki hutan
lagi. Omp. Joman Sinaga sebagai si pukka huta memiliki istri boru Purba dan 3 orang
anak : 2 orang beragama Islam (Omp. Pendi Sinaga dan Omp. Tori Sinaga), dan 1
orang beragama Kristen (Omp. Tampson Sinaga). Jika digambarkan sebagai berikut :
Omp. Jomma Sinaga

Omp. Pendi.

Omp. Tori.

Omp.Tampson.

Petta Sinaga
Kamarruddin
Harmal
413

Logika Agraria : menerapkan hukum agraria berdasarkan filosofi agraria yakni memanfaatkan
penggabungan logika berpikir agraria dengan agraria in action, sesuai landasan berpikir kewawasannusantaraan,
ibid.
414
Wawancara dengan Harmal Sinaga ,Lurah Desa Sipoldas, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun,
14 Juli 2012
415
Laporan Profil Desa dan Kelurahan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2007 tentang
Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan Data Profil Desa dan Kelurahan, Depdagri Dirjend Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa Tahun 2011

Universitas Sumatera Utara

Dari gambaran di atas, jelas terlihat jika Lurah Desa tersebut (Harmal Sinaga)
adalah keturunan langsung si Pukka Huta. Berdasarkan penelitian dan hasil
wawancara, tidak pernah terjadi sengketa di bidang pertanahan di desa itu. Jika ada
permasalahan atau persoalan yang harus dipecahkan biasanya musyawarah akan
dilaksanakan di rumah Gijang (rumah Bolon) yang harus dihadiri oleh Punguan
(kumpulan) Sinaga si tolu ompung (Sinaga, si 3 nenek : keturunan dari Omp.
Pendi. S, Omp. Turi. S dan Omp. Tampson.S)
Di sana juga dijumpai kolam bersama yang luasnya 8 rante (1 rante = 20x20
m), di mana induknya ikan, tetap dibiarkan dan biasanya 1 kali setahun panen. Masih
ditemukan transaksi yang hanya dikenal dalam hukum adat, transaksi dua pihak atau
tindakan antar warga yang dilakukan secara adat, antara lain marbolah pinang
(perjanjian bagi hasil secara adat), dimana pihak yang satu menyerahkan sawahnya
untuk dipakai atau diusahakan kepada pihak lain yang menanami padi dengan
perjanjian jika panen si pemilik tanah atau sawah akan menerima 5 kaleng padi
(biasanya luas sawah itu 1 rantai).
Setiap setahun sekali, diadakan marlappet-lappet, memasak lapet atau
lepat 416 jika turun bibit, menabur benih ke sawah atau ladang. Lepat tadi akan
dibagikan kepada semua anak yang hadir sambil berdoa agar panennya tadi berhasil.
Karena anak-anak dianggap masih suci, putih, tidak berdosa (Habonaron, memiliki
kebenaran).
Setiap 3 tahun sekali, biasanya jatuh pada bulan Juni, diadakan manjolo
tangiang (meminta doa), berdoa bersama sambil manortor (menari tradisional, tari
Simalungun seperti Serma dengan-dengan, Sitalasari, dan lainnya), disusul makan
bersama untuk keselamatan desa dan warganya. Kalau dahulu acara ini diadakan di
Baringin (di bawah pohon Beringin) namun saat ini diadakan di Tanah Lapangan.
Biasanya warga asli penduduk maupun pendatang yang meninggalkan desa
itu karena mengikuti anaknya yang sudah berhasil ataupun alasan anaknya sekolah ke
tempat lain (ke luar) desa atau daerah tersebut.
Desa lain yang tanpa sengketa tanah adalah Desa Gunung Meriah, sekarang
bernama desa Bangun Das Mariah , Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun.
Semula bernama Desa Gunung Meriah merupakan pemekaran dari desa Sipoldas.
Nagori Bangun dari nama Bangun Jawa (Simpang Raya) Das dari nama Sipoldas
(das artinya sampai, sihol artinya rindu)
Mariah dari nama Gunung Mariah, yang wilayahnya berbatasan dengan sebelah
Utara desa Sigodang, sebelah Selatan desa Sipoldas, sebelah Timur desa Simpang
Raya Dasma dan sebelah Barat desa Bangun Rakyat. Luas pemukiman 8 ha/m.

416

Lepat/Lapet : sejenis kue basah, makanan yang bahannya terdiri dari ubi (singkong) campur gula
merah dan kelapa, ubinya diparut sampai lembut, diadon bersama bahan yang tadi, dibuat dalam daun, kecil-kecil
lalu dikukus sampai matang.

Universitas Sumatera Utara

Jarak ke ibukota kecamatan 8 km, lama jarak tempuh ke ibukota kecamatan dengan
kendaraan bermotor 15 menit ( jam), lama jarak tempuh ke ibukota Kabupaten
dengan kendaraan bermotor 30 menit (0,5 jam). 417
Tanah adatnya bernama Parhutaon berasal dari hasil panriahan artinya
musyawarah mufakat.
Pangulu I (pertama) adalah bernama Indano Sinaga, II (kedua) bermarga Purba, III
(ketiga) bermarga Sijabat. Pangulu tadinya diangkat oleh Partuanon.
Sipukka huta desa Gunung Mariah adalah Tuan Nagodang (Raja Panei). Desa
tersebut dikelilingi paret (2 lapis). Masih dijumpai parmahan horbo, penggembala
ternak/kerbau. Di desa ini tidak ditemukan sawah, mata pencaharian warga adalah
bertani kopi robusta.
Di kedua desa (Sipoldas & Bangun Das Mariah), jika datang pendatang
ingin tinggal di sini, diterima warga melalui kepala adatnya, Maujana Nagori dengan
cara menyerahkan sirih (sekarang bersama uang), istilahnya marbatu demban,
dengan tidak kawin dengan perempuan warga itu. Kalau pendatang tadi mengawini
perempuan warga desa tersebut, disebut sonduk hela , otomatis diberi tempat
tinggal.
Pemberian tanah atau tempat tinggal tersebut harus dimusyawarahkan terlebih
dahulu (riah / marrapot), bertempat di gereja atau kuburan.
Di desa Bangun Das Mariah, meskipun warganya mayoritas beragama Kristen
namun ada larangan memelihara hewan babi meskipun di dalam kandang. mengingat
susunan rumah yang sangat rapat (muka, belakang, samping adalah rumah). Kalaupun
ada hewan babi itu dikandang di ladang.
Berdasarkan penelitian ditemukan Surat Perjanjian Desa Tahun 1955 yang
masih diberlakukan sampai saat ini. Perjanjian ini mengenai perjanjian dan batas
perkampungan, yang kembali diperbaharui, secara musyawarah resmi pada tanggap
25 Januari 1986.
Demikian bunyinya :
Kami yang bertanda tangan di bawah ini atas nama pengetua dan tokoh
masyarakat juga segenap masyarakat Gunung Meriah Desa Sipoldas
Kecamata Panei, mengadakan musyawarah Perjanjian tentang perluasan
areal perkampungan sebagai berikut :
Luas Tanah perkampungan tersebut kira-kira 3 ha atau 75 rante (15.000 m),
watas-watasnya :
Sebelah Timur : Bandar Simpang Raya
Sebelah Barat : Ladang kopi
Sebelah Selatan : Bandar Simpang Raya
Sebelah Utara : Tanah makam (wakaf)
Kami atas nama masyarakat Gunung Meriah memusyawarahkan isi
perjanjian itu sebagai berikut :
417

Laporan Profil Desa, Desa Bangun Das Mariah, ibid.

Universitas Sumatera Utara

1) Setiap masyarakat Gunung Meriah bebas mendirikan rumah di atas areal


perluasan tanah tersebut.
2) Setiap masyarakat dalam watas perkampungan hanya dapat memakai
hak pakai.
3) Masyarakat tidak boleh membuat tapak cadangan perumahan untuk
keturunan
4) Setiap masyarakat yang akan mendirikan rumah harus dimufakatkan
kepada :
a. Sipukkah Huta
b. STM Sayur Matua
c. Pengetua Kampung dan disyahkan oleh Gamot.
5) Setiap mendirikan rumah pada suatu tempat yang ditunjuk
pertapakannya gugur haknya, apabila tidak dikerjakan dalam satu bulan,
tanpa kecuali
6) Setiap orang meninggalkan pertapakan dari dalam perkampungan
haknya gugur kecuali masih ada rumah di atas tapaknya itupun hanya
dibenarkan selama satu tahun
7) Tidak diperbolehkan menjadi wakaf di dalam areal perkampungan
tersebut
8) Pada dasarnya seluruh penduduk kampung tersebut tidak dibenarkan
menanam tanaman keras kecuali yang telah ada, itupun kalau ada
mendirikan rumah wajib dibongkar seluas pertapakan rumah tersebut
tanpa imbalan jasa.
9) Kalau ada orang pendatang mau mendirikan rumah di areal tersebut
(tanpa kaitan keluarga) harus lebih dahulu mufakat dengan pengetua
kampung dan membayar imbalan jasa kepada Desa, dengan perincian
sebagai berikut :
a) Pengusaha : 30%
b) STM Sayur Matua : 50%
c) Sipukkah Huta : 10%
d) Gamot : 10%
dari harga imbalan tersebut
Demikianlah Surat Perjanjian kami ini diperbuat secara musyawarah
untuk disadari dan dilaksanakan sebagaimana mestinya sampai ke harihari yang akan datang.
Surat ini berlaku sejak tanggal 20 April 1955. Sebelumnya kami atas
nama masyarakat mengucapkan banyak terimakasih dan perjanjian ini
dipelihara terus-menerus sebaik-baiknya, ketua Musyawarah Dariaman
Saragih. 418

418

Surat Perjanjian tentang perluasan areal perkampungan, 20 april 1955

Universitas Sumatera Utara

Surat perjanjian ini sudah jelas maknanya dan jika dikaitkan dengan 6 (enam)
ciri-ciri hak ulayat oleh Van Vollen Hoven, maknanya sama. Yang jelas isi surat
perjanjian ini sampai hari ini masih berlaku, tidak ada yang memiliki (diperkuat
dengan surat) tanah di kedua desa tersebut, tidak seorang Camat pun mau
menerbitkannya karena berdasarkan kesepakatan semua masyarakat yang ada di situ,
mereka sampai saat ini hanya memakai, sesuai dengan perjanjian semula dengan
Raja setempat.
Jika dianalisis, mengapa 2 (dua) desa ini cenderung, tidak ada (tidak terjadi) sengketa
hak atas tanah (adat) ada beberapa argumentasi :
1) Masyarakat adatnya yang diikat oleh kedua faktor pengikat (campuran)
genealogis dan territorial pada dasarnya adalah bersifat homogen.
2) Karena itu pula hidup dan kehidupan (lebensraum) masyarakat tersebut
berdasarkan (masih menerapkan) Hukum Adat Simalungun
3) Yang memimpin huta (nagori) lurah sampai ke tingkat camat dari beberapa
generasi adalah generasi sipukkah huta (yang membuka huta) dan
masyarakat sekitarnya juga masih keluarga dari sipukkah huta.
4) Asas komunaal yang rigid, yang masih dimiliki oleh masyarakat setempat
serta diikat dengan ritual kepercayaan dalam adat 419 serta ketauladanan
kepemimpinan yang dimiliki si pemangku adat membuktikan penegakan
hukum (law enforcement) berjalan secara konsisten sehingga masyarakatnya
menyadari

melanggar

hukum

adat

(Sim-pen)

adalah

melanggar

kepercayaan, dan meyakini akan menerima sanksi (adat) jika dilakukan


pelanggaran terhadapnya, sehingga sudah merupakan ritual sosial.
Kedua desa (nagori) itu juga belum terkontaminasi oleh kehadiran pihak ke-3
(ketiga) yang menjadikan perubahan seperti :
a. Sistem ekonomi kapitalis membuyarkan sifat ketauladanan
b. Norma adat bergeser
c. Pemerintah (Pemerintah setempat) tidak cepat menemukan formula baru

419

Diskusi dengan Usman Pely, bimbingan, 05 November 2012, Medan.

Universitas Sumatera Utara

Karena seperti kita ketahui ikatan moral yang tinggi dalam social capital, jaringan
sosial yang kuat memiliki sifat komunaal, moral sosial dan saling percaya, sehingga
akhirnya tidak mudah diprovokasi, disulut sebelum benar-benar terbukti dengan
nyata, karena ini alasan mutlak mengapa sengketa tidak terjadi.

B. Penyelesaian Sengketa Tanah menurut Musyawarah Mufakat (Hukum


Adat Simalungun)
Berdasarkan penelitian di lapangan 420, di Kelurahan Sipolha Horison
Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun, dimana Camat sebagai
mediator (Camat Soluter pada waktu itu : Ronald Siharmada Banjarnahor).
Sebelum diuraikan sengketa dan penyelesaiannya ada baiknya mendeskripsikan
lokasi penelitian ini.
Kecamatan Pematang Sidamanik :
Ibu Kota Kecamatan : Sait Buttu Saribu
Luas Wilayah Kecamatan : 91,02 km2 91,02 x 100 = 9,102 Ketinggian di atas
permukaan air laut : 800m
Jarak ke ibukota Kabupaten : +40 km
Jumlah Penduduk : Laki-laki (533), Perempuan (546), WNI (1.079)
Kecamatan Pematang Sidamanik ini terdiri dari beberapa kelurahan/ Nagori:
1. Sait Buttu Saribu
6. Sipahoras
2. Pematang Sidamanik

7. Pematang Tambun Raya

3. Sarimattin

8. Simantin

4. Bandar Manik

9. Sipolha

5. Jorlang Huluan

10. Gorak

Kejadian Permasalahan pada tahun 2009 421


Bahwa pada tahun 1980-an (20 tahun sebelum sengketa itu bergulir berkisar
pada tahun 1987), Jenderal Muller Damanik yang bermukim di Jakarta (orang tua pak
Muller) ada membuat surat pernyataan agar tanahnya yang terletak di Kelurahan
Sipolha seluas lebih kurang 1 hektar dijaga si Damanik.
420

Wawancara dengan Ronald Samuel Tambun, camat Pematang Sidamanik dan Bahrum Harahap, serta
Hotman Purba, Kasi Pemerintahan, yang ketika kasus di atas bergulir beliau menjabat sebagai Kasi Umum dan
Perlengkapan, 16 April 2012
421
Hasil wawancara yang diolah karena tidak didapatkan bukti tertulis

Universitas Sumatera Utara

Tanah yang merupakan lahan perladangan itu ditanami kemiri dan palawija
(tanaman muda). Setelah lebih 20 tahun diusahai si Damanik tersebut Muller
(pernah menjabat Rektor USI, Universitas Simalungun), anak kandung almarhum
Jenderal Muller yang memberi kuasa menjaga itu meminta haknya atas tanah
sengketa tersebut dikembalikan padanya.
Sengketa merebak apalagi si Damanik 422 tersebut sudah membuat Surat
Pernyataan yang disaksikan sekeliling warga: saksi batas (tidak dikuatkan oleh pihak
pemerintah) yang menyatakan bahwa dialah pemilik tanah yang dipersengketakan
tersebut.
Oleh Camat, sebagai mediator dikumpulkanlah seluruh warga termasuk tokoh
adat, pangatua adat dengan jalan musyawarah mufakat, Si Damanik mengakui
kekeliruannya dan mengembalikan tanah itu kepada Muller. Muller juga memberikan
uang sejumlah Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) dengan mengingat bahwa si Damanik
telah menikmati hasil tanah yang di usahai nya selama 20 tahun lebih. Oleh Muller
tanah itu sudah ditanami kelapa sawit.
Sengketa ini menunjukkan betapa UUPA pada hakikatnya, tidak mengenal
daluwarsa untuk memperoleh hak milik, namun sering terjadi di masyarakat bahwa
jika tanah dikuasai secara fisik 20 tahun itu, tanah dianggapnya sebagai hak miliknya.
Pernyataan seperti ini adalah kesalahan besar dalam memaknai hukum agraria.
Namun, sengketa di atas membuktikan, yang terjadi di masyarakat asal 20 tahun
diperlakukannya tanah itu sebagai miliknya. Padahal posisi 20 tahun tersebut hanya
bermakna bahwa yang menguasai tanpa ada keberatan dari pihak lain tadi bermakna
bahwa dia diberi wewenang untuk mengajukan hak milik di atas tanah tersebut,
bukan sebagai pemilik tadi. Sedangkan penguasaan fisik selama 20 tahun saja masih
harus ada syaratnya, seperti : tidak ada keberatan dan tidak dipersoalkan oleh pihak
manapun. 423
Sengketa tanah lain yang sudah diputus oleh Pengadilan namun setelahnya
dirasa kurang adil lalu diselesaikan kembali secara musyawarah mufakat melalui
lurah sebagai mediator 424
Ini terjadi di Huta (Dusun) Sait Buttu Saribu. Arti nama huta (dusun) Sait Buttu
Saribu adalah : Sait artinya mudah-mudahan, Buttu artinya ke atas jadi makna dari
Sait Buttu Saribu semoga warganya jadi orang yang berpangkat 425
Nagori Sait Buttu Saribu merupakan salah satu dari 9 Nagori dan 1 Kelurahan
di Kecamatan Pamatang Sidamanik. Secara Geografis Nagori Sait Buttu Saribu
422
Jend. Muller Damanik memiliki adik perempuan boru Damanik kawin dengan Siregar (misalnya) dan
memiliki anak perempuan boru Siregar kawin dengan Damanik, Damanik yang terakhir inilah yang menjaga
(mengusahai) tanah tersebut. Jadi masih ada kaitan saudara.
423
M.Yamin, Tanah Dalam Perspektif Hukum Agraria Indonesia, dalam Rehngena Purba, Spirit Hukum,
(Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2012). Hal.47.
424
Hasil wawancara dengan Wagimin Silalahi, mantan Lurah Kelurahan Sait Buttu Saribu Kecamatan
Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, 19 April 2012.
425
Ibid

Universitas Sumatera Utara

terletak antara 80,050 BT, 02,580 LU dengan luas wilayah +1347 Ha atau 30% dari
Luas Kecamatan Pamatang Sidamanik 13.654 Ha. Berada pada ketinggian rata-rata
800m diatas permukaan laut. Nagori Sait Buttu Saribu merupakan daerah yang
strategis yang berbatasan dengan :
a. Sebelah Timur berbatas dengan Nagori Sarimattin yang meliputi Perkebunan
PTPN 4 Kebun Tobasari.
b.

Sebelah Selatan berbatas dengan Nagori Bandar Manik

c.

Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Dolok Pardamean

d.

Sebelah Utara berbatas dengan Kecamatan Dolok Pardamean

Adapun luas wilayah menurut penggunaan tanah adalah Hak Guna Usaha
(HGU) PT. Perkebunan PTPN IV Kebun Tobasari seluas 391 Ha, Tanah
Perkampungan seluas 956 Ha. Dengan demikian lebih dari 60% wilayah Nagori Sait
Buttu Saribu merupakan lahan Tobasari yang pada saat ini ditanami Kebun Teh.
Sementara itu 70% merupakan tanah perkampungan dan perladangan masyarakat,
Sedangkan luas wilayah berdasarkan pada jumlah kepadatan penduduk per Huta
adalah sebagai berikut :
Tabel 10
Luas wilayah menurut Huta (Dusun) Tahun 2012
No

Huta (Dusun)

Luas (Ha)

1
2
3
1
Sait Buttu
108
2
Manik Saribu
203
3
Gunung Mulia
167
4
Gorbus
104
5
Afd. B. Tobasari
287
6
Afd. D. Tobasari
280
7
Manik Huluan
198
Jumlah
1347
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun

Rasio terhadap
Total Luas
Nagori (%)
4
-

Universitas Sumatera Utara

Tabel 11
Luas wilayah berdasarkan pada jumlah kepadatan penduduk per Huta

No

Huta (Dusun)

Luas (Ha)

Jumlah
Kepadatan
Penduduk
Penduduk
1
2
3
4
5
1
Sait Buttu
108
2094
2
Manik Saribu
203
802
3
Gunung Mulia
167
232
4
Gorbus
104
192
5
Afd. B. Tobasari
287
564
6
Afd. D. Tobasari
280
482
7
Manik Huluan
198
677
Jumlah
1347
5043
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
Penduduk Nagori Sait Buttu Saribu Tahun 2011 tercatat sebanyak 5043 Jiwa
yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2364 Jiwa dan Perempuan sebanyak 2679 Jiwa
dengan perincian sebagai berikut :
Tabel 12
Banyaknya penduduk dirinci menurut jenis kelamin dan Huta tahun 2009
No
Huta (Dusun)
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
2
3
4
5
1
Sait Buttu
1012
1082
2094
2
Manik Saribu
390
412
802
3
Gunung Mulia
105
127
232
4
Gorbus
87
105
192
5
Afd. B. Tobasari
269
295
564
6
Afd. D. Tobasari
229
253
482
7
Manik Huluan
272
405
677
Jumlah
2364
2679
5043
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
Dengan kepadatan penduduk rata-rata 268 jiwa per KM2. Penduduk tersebut
terhimpun dalam 550 Kepala Keluarga, dengan demikian setiap keluarga rata-rata
dari 5 jiwa.
Penduduk Nagori Sait Buttu Saribu secara Etnologi merupakan penduduk
yang heterogen yang terdiri dari berbagai etnis yaitu : Simalungun, Jawa, Batak Toba,
Batak Karo, Mandailing, Melayu, Minangkabau dan Cina. Kondisi ini mencerminkan

Universitas Sumatera Utara

pula pada budaya dan kemajemukan agama, oleh sebab itu penduduk Nagori Sait
Buttu Saribu terkenal sebagai penduduk yang agamis yang terdiri dari :
e. Agama Islam
: 2816 jiwa
f. Agama Kristen Protestan/ Katolik

: 2227 jiwa

g. Lain-lain

: 5043 jiwa

Dengan rincian per Huta sebagai berikut :


Tabel 13
Banyaknya penduduk berdasarkan agama
No
Huta (Dusun)
Islam Protestan/ Katolik Lain-lain
1
2
3
4
5
1
Sait Buttu
1567
527
2094
2
Mannik Saribu
117
755
802
3
Gunung Mulia
8
224
232
4
Gorbus
8
184
192
5
Afd. B. Tobasari
295
269
564
6
Afd. D. Tobasari
257
225
482
7
Manik Huluan
634
43
677
Jumlah
2816
2227
5043
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
Untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dimaksud di
Nagori Sait Buttu Saribu terdapat sejumlah tempat ibadah yang terdiri dari 5 Unit
Mesjid dan 6 Unit Gereja.
Adapun rincian per Huta adalah sebagai berikut :
Tabel 14
Banyaknya sarana ibadah menurut agama dan Huta tahun 2009
No
Huta (Dusun)
Mesjid
Langgar/
Gereja
Mushollah
1
2
3
4
5
1
Sait Buttu
1
2
2
Manik Saribu
1
2
3
Gunung Mulia
4
Gorbus
5
Afd. B. Tobasari
1
1
6
Afd. D. Tobasari
1
1
7
Manik Huluan
1
Jumlah
5
6
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun

Universitas Sumatera Utara

Tabel 15
Banyaknya jumlah Penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut status
pekerjaannya adalah sebagai berikut:
No

Huta (Dusun)
2
Sait Buttu
Manik Saribu
Gunung Mulia
Gorbus
Afd. B. Tobasari
Afd. D. Tobasari
Manik Huluan

Bekerja
Tidak Bekerja
1
3
4
1
1205
859
2
309
476
3
102
125
4
84
101
5
304
254
6
207
272
7
307
367
Jumlah
2578
2454
Sumber : Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
Batas Wilayah Nagori menurut Penggunaannya.
h.
Ladang/ Tegalan
150ha

Jumlah
5
2094
802
232
192
564
482
677
5043

i. Perkebunan
a. Perkebunan Rakyat

176 ha

b. Perkebunan Negara

557 ha

c. Perkebunan Swasta

0 ha

Organisasi Kelembagaan Pemerintahan di Nagori Sait Buttu Saribu terdiri


dari 7 (tujuh) Huta. Dengan diberlakukannya Surat Keputusan Bupati Simalungun
Nomor : 141/3623/Pemdes, tanggal 1 April 2000 tentang Penyesuaian Sebutan/
Peristilahan
Nama Desa-desa, Kepala Desa, Perangkat Desa, Dusun, Badan Perwakilan
Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Desa di Kabupaten Simalungun maka sebutan
nama Desa, Kepala Desa dan seterusnya sebagaimana dikatakan diatas disesuaikan
dengan kondisi sosial budaya dan adat istiadat masyarakat sehingga sebutan :
a. Desa
menjadi
Nagori
b.

Kepala Desa

menjadi

Pangulu

c.

Dusun

menjadi

Huta

d.

Kepala Dusun

menjadi

Gamot

Universitas Sumatera Utara

e.

Badan Perwakilan Desa

menjadi

Maujana Nagori

f.

Rukun Warga

menjadi

Urung/ lorong

g.

Perangkat Desa

menjadi

Tungkat Nagori

Adapun Huta yang berada di Nagori Sait Buttu Saribu yaitu : 426
1) Sait Buttu
Nama Gamot
Setu
2)

Manik Saribu

Nama Gamot

Jakop Damanik

3) Gunung Mulia

Nama Gamot

Walden Siadari

4) Gorbus

Nama Gamot

Gindo Sitio

5) Afd. B. Tobasari

Nama Gamot

Untung

6) Afd. D. Tobasari

Nama Gamot

Sukirman

7) Manik Huluan

Nama Gamot

Kirno

Sehubungan dengan pertikaian perbatasan Manikhuluan dan Simandjoloi pada


tanggal 20 November 1970 427.
Manikhuluan diwakili oleh Moraida Naibaho dan dari Simanjoloi diwakili
oleh Sapmaurung Damanik.
Kepala kampung Pematang Sidamanik meminta penjelasan dari Moraida
Naibaho, dalam hal ini Moraida Naibaho menunjukkan dua orang saksi yaitu :
1. Djaudin Saragih umur 65 tahun penduduk Simandjoloi
2.

Horalim Saragih umur 65 tahun penduduk Simandjoloi

Menurut Djaudin Saragih, pada tahun 1934 Tuan Sidamanik, almarhum


Ramahadin telah menunjuk perbatasan
a.
Dari sebelah Utara/ Tabusan : 1 buah kayu yang besar
b.

Dari sebelah Selatan : Serumpun bambu yang hidup sampai sekarang

426

Buku Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan dan Pembinaan


Kehidupan Masyarakat di Nagori Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun,
2012
427
Berdasarkan hasil wawancara dengan Wagimin Silalahi, sengketa (pertikaian) ini sudah diputus PN
Simalungun (walaupun datanya tidak ada pada beliau lagi), 21 April 2012.

Universitas Sumatera Utara

Keterangan Horalim Saragih sama dengan keterangan Djaudin Saragih.


Kemudian Kepala Kampung bertanya kepada Sapmaurung Damanik. Menurut
Sapmaurung Damanik, pada tahun 1944/2044 Tuan Sidamanik almarhum memberi 1
(satu) peta tanah perbatasan Manikhuluan dengan Simandjoloi yang bertanda
MERAH tanah kampung Manikhuluan sebelah Selatan, tanah Kampung
Simandjoloi sebelah Utara dan Sapmaurung Damanik meminta supaya nama
kampungnya di dalam daerah pertikaian tersebut dinamakan Siandjur
Untuk mendapatkan data yang akurat, Lurah turun ke lokasi (lapangan),
sehingga pada tanggal 14 Desember 1970 jam 10.00 WIB Kepala Kampung turun ke
lapangan beserta :
1. Sabirin Damanik Gamot Parmahanan
2.

Djaudin Saragih penduduk Simandjoloi

3.

Horalim Saragih penduduk Simandjoloi

4.

Sapmaurung Damanik penduduk Simandjoloi

5.

Moraida Naibaho penduduk Manikhuluan

Bahwa peta yang dipegang Sapmaurung Damanik kurang meyakinkan karena


beberapa hal
a. Peta tersebut dibuat tidak ada skala
b.

Sangat bertentangan dengan Peta pada tahun 1934 yang dipegang Moraida
Naibaho (penghunjukan Tuan Sidamanik Alm).

c.

Oleh Kepala Kampung memerintahkan kepada Sapmaurung untuk memanggil si


Pembuat Peta (Pejabat Tuan Sidamanik almarhum yang masih hidup)

Pada tanggal 19 Desember 1970 dibuat surat Pernyataan oleh Tambatan


Purba, 57 Tahun, Staff NV Perusahaan Perkembangan dan Pertanian Kebun Jeruk,
alamat di Tebing Tinggi. Ketika ia bekerja di Kantor Tuan Sidamanik, Ramahadi
Damanik sebagai pegawai tidak pernah membuat/ mengeluarkan sertifikat (Peta
mengenai perbatasan kampung Simandjoloi dengan kampung Manikhuluan), yang
menyatakan batas sebagai berikut : garis lurus dari Timur ke Barat, yang dibuatnya
atas nama Tuan Sidamanik tersebut di atas.
Jika ada orang/ oknum yang memperlihatkan Peta Penyerahan Tanah yang
ada di Simandjoloi dan Manikhuluan yang sekarang dipegang oleh Saudara
Sapmaurung Damanik, maka surat itu adalah palsu karena beliau tidak pernah
membuatnya dan menandatanganinya.

Universitas Sumatera Utara

Hasil musyawarah dan mufakat dengan berbagai pihak yang terkait pada
tanggal 27 Januari 1971 428, sehubungan surat Kepala Kampung tanggal 20 November
1970 mengenai pertikaian batas antara Simandjoloi Kampung Gunung Bosar dan
Manik Huluan Pematang Sidamanik, dan surat pengaduan penduduk Manikhuluan
kepada Musda Kecamatan Sidamanik tanggal 28 Desember 1970 sebagai berikut :
1) Batas tersebut sebenarnya sudah ada
2)

Menurut data lapangan bukti pohon enau dan bambu tidak ada keberatan

3)

Untuk mempertegas batas yang sudah ada oleh Musda Kecamatan Sidamanik
atas Instruksi Bupati KDH Kabupaten Simalungun dengan menanam pohon
lindung

4)

Kepada kedua aparat Pemerintahan Desa diperintahkan untuk membuat batas


yang permanen dengan merk Batas ManikHuluan Kampung Pematang
Sidamanik dan Simandjoloi Kampung Gunung Bosar)

Tapi oleh masyarakat setempat tidak dibenarkan karena untuk merubah nama
Huta harus dengan seluruh Pengetua Adat disahkan Kepala Kampung dan
mendapat Izin serta pengesahan dari Bupati KDH Kabupaten Simalungun dan
DPRD-GR nya.
Perkembangan berikutnya, pada tanggal 6 Agustus 2007 Risman Naibaho dan
lain-lain (7 orang anak kandung dari Moraida Naibaho) memberi pernyataan bahwa
benar Moraida Naibaho (bapak mereka) menyerahkan sebidang tanah darat kepada
Mayor CPM Raja Tagor Damanik seluas 2 ha dengan batas sebagai berikut :
a. Sebelah Timur berbatasan dengan tanah Nurdin Damanik dan Simiin
b. Sebelah Barat berbatasan dengan tanah Moraida Naibaho
c. Sebelah Utara berbatasan dengan tanah Moraida Naibaho
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan tanah kehutanan/ Indo Rayon
Penyerahan tersebut diadakan pada tahun 1971 dengan secara kekeluargaan.
Sengketa ini menunjukkan, sebenarnya, tidak dapat dipungkiri bahwa
sebenarnya peran hukum adat cukup signifikan dalam penyelesaian permasalahan
dalam masyarakat. Karena sifatnya yang komunal dan religio-magis, hukum adat
mengutamakan keseimbangan dalam masyarakat, baik itu keseimbangan antara hak
dan kewajiban antar individu maupun keseimbangan antara manusia dan alamnya.
428
Berita acara oleh B. Simarmata, Camat Kecamatan Sidamanik, Dj. Barus (Lettu CZI Nrp. 252143),
dan PTP 64 Sidamanik, Ali Kumbang (Aiptu), dan Sek 20503 Sidamanik, Briptu G. Sinaga (Kamtibmas
Kampung Pematang Sidamanik)

Universitas Sumatera Utara

Karena sifat-sifat itu pula hukum adat akan dengan mudah menyelesaikan sengketa di
tengah masyarakat, sebab kepatuhan masyarakat terhadap sesuatu yang religious akan
lebih kuat dibandingkan kepatuhan kepada hal-hal lain.
Hukum Adat menjadi sebuah sistem hukum yang mengedepankan
penyelesaian sengketa atau persoalan masyarakat dengan asas kerukunan atau
keseimbangan masyarakat itu sendiri. Apabila hukum modern lebih mengedepankan
penyelesaian sengketa di pengadilan dengan biaya mahal dan berbelit, sedangkan
hukum adat cukup mempertemukan pihak yang bersengketa dan dilanjutkan telaah
menurut hukum adat oleh para tetua adat, lalu diputuskan. Perkara dengan hukum
adat semacam ini sangat cepat, murah dan efisien. Dibandingkan dengan
penyelesaian sengketa secara litigasi yang lama dan mahal, kadangkala putusan yang
dikeluarkan itu pun jauh dari keadilan karena hakim memutus dengan subjektif dan
tidak jarang memihak dan berat sebelah. Selain itu hukum yang ditetapkan juga
berasal/diimpor dari hukum asing, hukum kolonial yang obsoleteel and unjust
(telah usang dan tidak adil) serta outmoded and unreal (sudah ketinggalan zaman
dan tidak sesuai dengan kenyataan). Sistem hukum ini jelas tidak berakar pada nilainilai budaya dan bahkan ada diskrepansi dengan aspirasi masyarakat serta tidak
responsive terhadap kebutuhan sosial masa kini.
Runtung 429 menyebutkan bahwa tujuan dari upaya yang dilakukan dalam
proses penyelesaian sengketa adat setempat adalah :
i.
Menjaga keharmonisan dan pemulihan relasi antara masyarakat adat
setempat.
ii.

Proses penyelesaian sengketa adat dapat menghemat waktu dan biaya


dari pihak yang bersengketa.

iii.

Untuk mencegah dan menghindari keputusan-keputusan yang bersifat


memihak dan sewenang-wenang yang dapat merugikan salah satu pihak
yang bersengketa.

iv.

Menjaga, memajukan dan melestarikan adat-istiadat dan hukum adat


yang hidup.

429

Sunarmi, Mengelola Kearifan Lokal Menuju Hukum Yang Berkeadilan Dalam Putusan Lembaga
Adat, dalam Rehngena Purba, ibid, hal.31.

Universitas Sumatera Utara

v.

Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat serta mendamaikan


perselisihan masyarakat.

C. Penyelesaian Sengketa Melalui Instansi Badan Pertanahan Nasional


Kabupaten Simalungun
Suatu sengketa hak atas tanah itu timbul adalah karena adanya pengaduan/
keberatan dari orang/ Badan Hukum.
1.
Pengaduan/ Keberatan dari Masyarakat
Pengaduan tersebut diajukan karena para pihak yang bersangkutan ingin
mendapatkan penyelesaian secara administrasi dengan apa yang disebut koreksi
serta merta dari pejabat yang berwenang untuk itu.
Adapun sengketa hak atas tanah adalah meliputi beberapa macam antara lain
mengenai status tanah, siapa-siapa yang berhak, bantahan terhadap bukti-bukti
perolehan yang menjadi dasar pemberian hak atau pendaftaran dalam buku
tanah dan sebagainya.
2.
Penelitian dan Pengumpulan data.
Setelah menerima berkas pengaduan dari masyarakat tersebut di atas, pejabat
yang berwenang menyelesaikan masalah ini dengan mengadakan penelitian
terhadap berkas yang diadukan tersebut. Dari hasil penelitian ini dapat diproses
lebih lanjut atau tidak dapat.
Apabila data yang disampaikan secara langsung ke Badan Pertanahan Nasional
itu masih kurang jelas atau kurang lengkap, maka BPN akan meminta
penjelasan disertai dengan data serta saran ke para Kepala Kantor Wilayah BPN
Propinsi dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota setempat letak tanah
yang disengketakan. Selanjutnya setelah lengkap data yang diperlukan,
kemudian diadakan pengkajian kembali terhadap masalah yang diajukan
tersebut yang meliputi segi prosedur kewenangan dan penerapan hukumnya.
3.
Pelayanan Secara Musyawarah
Terhadap sengketa hak atas tanah yang disampaikan ke BPN untuk dimintakan
penyelesaian, apabila biasa dipertemukan pihak-pihak yang bersengketa, maka
sangat baik jika diselesaikan melalui cara musyawarah penyelesaian melalui
cara ini seringkali BPN diminta sebagai mediator didalam menyelesaikan
sengketa hak atas tanah secara damai saling menghormati pihak-pihak yang
bersengketa. Dalam hal tercapai penyelesaian secara musyawarah seperti ini,
harus pula disertai dengan bukti tertulis sejak permulaan, yaitu dari Surat
Pemberitahuan untuk para pihak, Berita Acara Rapat dan selanjutnya sebagai
bukti adanya perdamaian dituangkan dalam Akta Pernyataan Perdamaian yang
bila perlu dihadapan Notaris sehinggga mempunyai kekuatan pembuktian yang
sempurna.

Universitas Sumatera Utara

No
1

Berdasarkan Tipologi Sengketa Pertanahan di Kabupaten Simalungun pada


Bab sebelumnya maka Upaya Penanganannya adalah sebagai berikut :
A. Subjek
Kronologis
Upaya
B. Obyek
Permasalahan
Penanganan
A. Forum Tani Sejahtera Indonesia
Lahan kepunyaan PTPN IV
8)
Surat Forum Tani
dengan Partomuan Marga Damanik yang tidak dipergunakan
Sejahtera Indonesia
dan PTPN IV Kebun Bah Butong
dalam waktu lama, yang
(FUTASI) No
seluas 40ha
kurang jelas alasannya
117/03/FUTASI/2010
B. Tanah tersebut seluas 40ha menurut kemudian dikerjakan oleh
tanggal 3 April 2010. Hal
pengakuan masyarakat telah
Masyarakat/ Forum Tani
bantuan dalam penyelesaian
diusahai sejak tahun 1971 oleh
Sejahtera dan di atas tanah
sengketa tanah antara petani
Masyarakat/ Forum Tani Sejahtera telah berdiri beberapa rumah
dengan keturunan
Indonesia
semi permanen milik warga
Partomuan Marga Damanik.
9)
Surat Sekretariat
Masyarakat Forum Tani
Negara Bidang Penguasaan
Sejahtera Indonesia
No. 13.3485/SetNeg/D5/06/2006 tanggal 6 Juni
2010
10) Disarankan kepada
PTPN IV untuk melakukan
pengukuran pengembalian
batas Kebun Bah Butong ke
Kanwil BPN Propinsi
Sumatera Utara
11) Dilakukan gelar
perkara dan mediasi
A. Sertifikat Hak Milik No. 5 An.
- Sertifikat Hak Milik No. 5 - Mengadakan penelitian
Ramlan Zeek, dibebani Hipotik Bank
Ramlan Zeek di agunkan
lapang dan Administrasi
Danamon dan Surat Tanahnya di
ke Bank Danamon
pada tanggal 29 Oktober
agunkan ke koperasi.
2010 dan tanggal 1
- Kemudian Surat
Nopember 2010
B. Sebuah tanah dan rumah terletak di
Keterangan Kepala Desa di
- Pihak pemilik sertifikat Hak
Desa Margo Mulyo, Kecamatan
Agunkan ke Koperasi,
Gunung Malela, Kabupaten
dengan bidang tanah yang
Milik No. 5 An Ramlan
Simalungun.
sama (Hak Milik No. 5 An.
Zeek sudah tidak berada di
tempat kediamannya.
Ramlan Zeek)
- Telah dilakukan gelar perkara
di Kantor Pertanahan
Kabupaten Simalungun
A. Masalah Sengketa Kepemilikan
- Bahwa Ingotan Diana
- Bahwa akibat tidak
antara Ingotan Diana Sinamo (Istri
Sinamo menguasai tanah
dipanggilnya sebagai
Tamat Ginting Jawak) dengan Ina Br
tersebut berdasarkan Surat
batasnya, maka ukuran
Sinaga.
Penyerahan Tanggal 12-01sertipikat itu lebih dari patok

Universitas Sumatera Utara

B. Tanah yang berukuran lebar 5M


Panjang 20M (100M2) yang terletak di
Karang Lau Cimba

A. Masalah tanah atas nama Saut Budi


Tuah Damanik. Desa Sipolha
Kecamatan Sidamanik, Kabupaten
Simalungun.
B. Hak Milik Nomor 18/ Sipolha dan
Hak Milik Nomor 20/ Sipolha

A. PTPN IV dengan Masyarakat


Mekar Mulia. Permasalahan tanah
masyarakat di areal PTPN IV
Kebun Balimbingan.
B. Sertifikat Hak Milik No. 41/ Makar
Mulia yang letaknya di lembah/
jurang desa/ Nagori Mekar Mulia,
Kecamatan Tanah Jawa,
Kabupaten Simalungun

1970 yang diperoleh suami


Ingotan Diana Sinamo (IStri
Tamat Ginting Jawak) dari
Keliling Ginting tanah
tersebut berukuran lebar 5M
Panjang 20M (100M2)
terletak di Karang Lau
Cimba.
- Kemudian diterbitkan Surat
Penyerahan Hak Warisan
Sebidang Tanah Tanggal 2
Oktober 2009 No. Reg
593/62/2020/2009, Pangulu
Rambung Merah,
berdasarkan Surat
Pernyataan Ahli Waris
tanggal 2 Oktober 2009
- Bahwa Sertifikat Hak Milik
Nomor 18 dan 20/ Sipolha
telah berkurang luasnya di
lapangan/ di lokasi masingmasing sertifikat tersebut.

yang ada sehingga ukuran


tanah itu masuk ke tanah
Armen Gutom seluas 1,6M
dari patok dan sebagai
informasi parit yang
berbatasan dengan Armen
Gultom sudah pernah
dipindah.
- Telah dilakukan gelar perkara
mediasi dengan memanggil
para pihak.

- Para pemilik Sertifikat Hak


Milik Nomor 18 dan 20/
Sipolha telah mengadukan
hal tersebut ke kantor
Pertanahan Kabupaten
Simalungun dan sudah
dilakukan Penelitian Data
Yuridis yang ada di Kantor
Pertanahan Kabupaten
Simalungun dan
direncanakan untuk
melakukan peninjauan
lapangan ke lokasi tanah
dimaksud
- Di dalam HGU No. 7 PTPN - Telah dilakukan cek Lapangan
IV kebun Balimbingan di
Sertifikat Hak Milik No. 41/
duga terdapat Hak Milik
Makar Mulia yang letaknya
No. 41 An Sutarno Tanggal
di lembah/ Jurang Desa/
5 Nopember 2002 seluas
Nagori Mekar Mulia,
9.180 M2 yang letaknya di
Kecamatan Tanah Jawa,
Desa/ nagori Mekar Mulia,
Kabupaten Simalungun di
Kecamatan Tanah jawa,
duga posisi Hak Milik No.
Kabupaten Simalungun.
41/ Mekar Mulia berada di
dalam HGU No. 7 Kebun
Balimbingan.

Universitas Sumatera Utara

- Disarankan untuk pengukuran


pengembalian batas atas
tanah yang di
persengketakan ke Kanwil
BPN Propinsi Sumatera
Utara di Medan
A. Sdr. Kemin dkk (155 kk) dengan
- Bahwa tanah seluas 215 Ha - Sdr. Kemin dkk sebanyak
PTPN III/ Kebun Bandar Betsy
tersebut menurut
155 kk telah melaporkan hal
luas tanah 115 Ha.
pengakuan Kemin dkk
tersebut kepada Menteri
B. Bekas HGU No. 1/ Kebun Bandar
dikuasai sejak 1943 s/d
Sekretariat Negara RI,
Betsy telah berakhir haknya
1968, pada tahun 1965
Komnas HAM Indonesia,
tanggal 31 Desember 2005 luas
keluar SK Panitia
BPN RI, Menteri Negara
tanah 5.348,9
Landreform Tanggal 2
BUMN, KPK RI, Gubernur
Maret 1965 dan pada tahun
SU, BPN Prov SU, Bupati
1968 s/d 2000 di kuasai
Simalungun, dan BPN Kab.
oleh Kebun PTPN III
Simalungun.
- BPN Simalungun telah
Bandar Betsy dari tahun
melakukan peninjauan
2000 s/d saat ini dikuasai/
lapangan di lokasi tanah
diusahai oleh Kemin dkk
seluas 115 Ha tersebut
seluas 115 Ha untuk tanah
pertanian
tanggal 15 Februari 2012
A. Sdri. Halimah Sinaga dan Murjimah - Bahwa tanah Hak Milik dan - Direncanakan peninjauan
Sinaga Jalan Pematang No. 7A
No sebahagian di garap
lapangan oleh BPN
Pematang Siantar.
orang 35 M2 dan 15 M2
Kabupaten Simalungun di
lokasi sengketa tersebut.
B. Sertifikat Hak Milik No. 1171 seluas
untuk rumah dan kedai
1.985 M2 dan HM No. 1759 seluas
kopi.
- Pihak Halimah Sinaga Cs
membuat pengaduan ke
420 M2 letak tanah Jalan Mata Air
Polres Simalungun
Desa/ Nagori Rambung Merah
sekarang Pematang Simalungun
A. Sdr. Ade Silalahi dan Sdr. Pahala
- Bahwa Panitia Pembagian
- Surat dari LSM TANNAS
Sihombing, Ketua dan Sekretaris
Tanah EX HTI memberikan
Maret 2012 maka
LSM ALIANSI TANNAS.
persil-persil kepada
direncanakan peninjauan
B. Penerbitan beberapa Sertifikat Hak
Kelompok Tani di Buntu
lapangan oleh BPN
Milik yang letaknya di Nagori
Bayu, Kecamatan
Kabupaten Simalungun
Buntu Bayu, Kecamatan
Hatonduhan kemudian BPN
untuk mengetahui lokasi dan
Hatonduhan (tanah EX HTI) seluas
Kabupaten Simalungun
permasalahan yang ada di
340.70 Ha
berdasarkan pembagian
lapangan.
tersebut menerbitkan
- LSM TANNAS membuat
sertifikat sesuai dengan
pengaduan ke Polda SU di
peraturan yang berlaku
Medan.
sedang sebahagian dari
Kelompok Masyarakat ada

Universitas Sumatera Utara

yang keberatan atas


pembagian tersebut.
A. Kelompok Tani Makmur An.
- Bahwa Masyarakat
- Surat Kelompok Tani
Damril dkk (sebanyak 33 kk) Desa
Kelompok Tani Makmur
Makmur tanggal 12 Maret
Bandar Betsy II, Kecamatan
telah menguasai tanah
2012, maka direncanakan
Bandar Huluan, Kabupaten
tersebut sebelum ada HGU
BPN Kabupaten
Simalungun atas tanah seluas 10 Ha Kebun Bandar Betsy yang
Simalungun akan
(seluruhnya seluas 17,2 Ha).
letak tanah masyarakat
melakukan peninjauan
B. Bekas HGU No. 1/ Kebun Bandar
berdampingan dengan Kebun
Lapangan dan penelitian
Betsy telah berakhir haknya
Bandar Betsy luas nya 17,2
untuk mengetahui
tanggal 31 Desember 2005 luas
Ha kemudian di tahun 2011
permasalahan tersebut.
tanah 5.348,9
sebahagian disuguh hati oleh
Kebun Bandar Betsy seluas
7,2 Ha sedang di areal sisa
seluas 10 Ha terdapat patok
tanda batas Kebun Bandar
Betsy yang dulunya berada
di luas areal Kebun
Kelompok Tani Makmur
Sumber : BPN Kabupaten Simalungun.

Dari upaya penanganan sengketa pertanahan di atas, BPN Simalungun


menempuh mekanisme penyelesaian sengketa sebagai berikut :
1. Bila ditemukan cacat administratif karena adanya kekeliruan data awal, maka
koreksi administratif dilakukan oleh BPN
(sengketa 1 dan 2; mengadakan penelitian lapangan dan administrasi, pihak PTPN
IV disarankan melakukan pengukuran pengembalian batas kebun Bah Butong ke
Kanwil BPN Sumatera Utara)
2. Bila kedua belah pihak saling terbuka, diusahakan musyawarah yang difasilitasi
oleh BPN.
(Sengketa 1,2,3 dilakukan gelar perkara dan mediasi dengan memanggil para
pihak)

Universitas Sumatera Utara

3. Bila sengketa melibatkan instansi sektoral, diupayakan koordinasi antar sektor.


(Sengketa 8,9 yang melibatkan sektor Perkebunan (Bandar Betsy), tanah ex HTI
di Nagori Buntu Bayu (Kec. Hatonduhan), dan pihak LSM)
4. Bila semua usaha telah menemui kegagalan, utamanya bila objek sengketa
berkenaan dengan masalah hak, yang berkaitan dengan kebenaran material,
maka upaya terakhir adalah melalui Pengadilan.
Berkenaan dengan mekanisme penyelesaian sengketa tersebut di atas 430, terdapat
berbagai hambatan yang perlu disampaikan sebagai catatan.
Upaya penyelesaian berupa koreksi administratif oleh BPN pada umumnya
dilakukan dalam bentuk pembatalan Surat Keputusan Perubahan Hak Atas Tanah
atau sertifikat hak atas tanah, baik karena dijumpai adanya cacat hukum administrasi
dalam penerbitan keputusan pemberian dan/atau sertifikat hak atas tanah atau karena
melaksanakan putusan pengadilan.
Sebagai instansi yang bertanggungjawab untuk urusan pelayanan
administratif, BPN tidak berwenang untuk melakukan uji materiil dalam rangka
menemukan kebenaran terhadap sengketa berkenaan dengan kebenaran data yuridis
dan/atau data fisik, namun seringkali pihak yang bersengketa kurang memahami
perbedaan kewenangan BPN yang termasuk dalam lingkup hukum administrasi dan
kewenangan melakukan uji materiil yang merupakan kewenangan badan peradilan.
Kekurangpahaman ini seringkali menyebabkan banyaknya kasus/sengketa
yang masuk ke BPN dan setelah diteliti ternyata penyelesaiannya tidak menjadi
wewenang BPN atau tindakan yang diharapkan dari BPN tidak dapat serta merta
dilakukan karena misalnya, telah ditangani oleh pengadilan dan belum mempunyai
kekuatan hukum yang tetap.
D. Penyelesaian Kasus/sengketa hak atas tanah adat melalui litigasi (Badan
peradilan) di Kabupaten Simalungun
1. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat di Desa Bangun Dolok
Kelurahan Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten
Simalungun.

430

Maria, Tanah, op cit, hal.113-114.

Universitas Sumatera Utara

a.

Putusan

Pengadilan

Negeri

Simalungun

No.37/Pdt.G/2003/PN.

Simalungun tanggal 23 Juli 2004


b.

Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.297/PDT/2004/PT.MDN, tanggal


27 April 2005

c.

Putusan Mahkamah Agung RI No.2143 K/PDT/2005, tanggal 05


November 2009.

Kasus Posisi : Keturunan Amani Marhilap Sinaga lawan Manatar Sinaga dkk
(Perdata)
Argumentasi Hukum para pihak :
Kerajaan (Harajaon) Buttu Pasir dibuka oleh Raja yang bernama Op.Butu Pasir
Harajaon Buttu Pasir terdiri dari 5 (lima) Kampung (huta) yaitu :
a. Kampung Buttu Pasir (sebagai pusat kerajaan)
b. Kampung Tiga Rihit
c. Kampung Lumban Tongatonga
d. Kampung Parmanukan
e. Kampung Bangun Dolok
Sedangkan Kampung ke-5, Kampung Bangun Dolok (sekarang merupakan
anak kampung Bangun Dolok) dibuka oleh keturunan Op. Buttu Pasir yaitu Ama Ni
Marhilap Sinaga. Kampung Bangun Dolok ini merupakan bahagian dari kerajaan Op.
Buttu Pasir.
Kampung Bangun Dolok, luasnya 3 ha yang terletak di Bangun Dolok
Kelurahan Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun
dengan batas-batas sebagai berikut :
1) Sebelah Utara berbatas dengan Tanah Negara
2) Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
3) Sebelah Timur berbatas dengan Lajangan, Bangun Raja
4) Sebelah Barat berbatas dengan ladang Pinus.

Universitas Sumatera Utara

Kemudian, keturunan Op. Buttu Pasir lainnya, anak kedua dari Ama Ni
Marhilap yaitu Siharajaon Sinaga (Jungil) ada membuka kampung (si Pukka Huta)
bahagian dari kerajaan Op. Buttu Pasir, yaitu yang disebut Bangun Raja (sekarang
merupakan anak kampung Bangun Dolok) karena Siharajaon adalah keturunan Op.
Buttu Pasir, maka ianya berhak untuk membuka kampung di atas kerajaan Buttu Pasir
dan Bangun Raja luasnya 15 ha yang terletak di Bangun Dolok Kelurahan Parapat
Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, dengan batas-batas
sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatas dengan Tanah Negara
2) Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
3) Sebelah Timur berbatas dengan Jurang
4) Sebelah Barat berbatas dengan Bangun Dolok, Ladang Pinus.
Bahwa dibukanya kampung Bangun Dolok oleh Ama Ni Marhilap dan
kampung Bangun Raja oleh Siharajaon maka kedua kampung tersebut mempunyai
tanah tempat pengembalaan ternak (Lajangan) diatas kerajaan Buttu Pasir dan terletak
di Bangun Dolok kelurahan Parapat kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten
Simalungun, dan sebahagian dari lajangan tersebut telah disewakan Raja Usia kepada
Tuan Lemes dan Tuan Houninge :
Bahwa sisa lajangan seluas 3 ha yang masih dipergunakan oleh kedua
kampung tersebut mempunyai batas-batas sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatas dengan Bangun Dolok, Bangun Raja
2) Sebelah Selatan berbatas dengan Lajangan
3) Sebelah Timur berbatas dengan Jurang
4) Sebelah Barat berbatas dengan Bangun Dolok, Ladang Pinus.
Bahwa pada zaman sebelum kemerdekaan kampung Bangun Dolok telah
didaftar kepada pemerintahan Belanda sebagai tanah milik dari Ama Ni Marhilap dan
pendaftaran tersebut meliputi Bangun Dolok, Bangun Raja dan Lajangan
sebagaimana disebutkan diatas;
Bahwa pada saat Kampung Bangun Dolok yang dibuka Ama Ni Marhilap
terbakar maka Ama ni Marhilap pindah ke kampong Tiga Rihit dan meninggalkan
kampung Bangun Dolok (anak kampung Bangun Dolok sekarang), ditinggalkan
dalam keadaan kosong dan masyarakat yang ada di atas nya juga ikut berpindah dan
sebahagian besar pindah ke Bangun Raja.
Bahwa saat Siharajaon yang membuka kampung Bangun Raja meninggal
dunia dan tidak meningalkan keturunan, maka saudaranya yaitu bernama Marhilap

Universitas Sumatera Utara

dan Sijua yang juga anak dari Ama Ni Marhilap pindah dari kampung Tiga Rihit ke
Bangun Raja untuk meneruskan kampung Bangun Raja.
Bahwa setelah Indonesia merdeka maka pemerintah Indonesia mendata
kembali tanah-tanah yang ada di wilayah Indonesia dan ketiga tanah sebagaimana
disebutkan di atas yaitu kampung Bangun Dolok, kampung Bangun Raja dan
Lajangan di data kembali dan sejak saat itu dinamakan Kampung Bangun Dolok
sampai sekarang.
Bahwa masyarakat yang menempati tanah tersebut haruslah seijin dan
sepengetahuan oleh Ama Ni Marhilap dan mereka hanya diberikan ijin untuk
menempati dan mengusahai dan bukannya memiliki, dan saat ini Tergugat I sd
XXXVI (36 orang) Manatar Sinaga dkk mengusahai bagian-bagian tanah terperkara.
Bahwa di atas tanah terperkara Penggugat I (Amal Sinaga) dan II (Salamat
Sinaga) ada mempunyai ladang, saudara Penggugat I dan II, yaitu M.Japaya Sinaga
mempunyai ladang, Marben Sinaga mempunyai rumah dan ladang, Matio Sinaga
mempunyai ladang dan Hemat Sinaga mempunyai ladang.
Bahwa di atas tanah terperkara Penggugat IV (Efendi Sinaga) ada mempunyai
ladang dan saudara Penggugat IV yaitu Na Risma Br.Sirait mempunyai ladang,
Marolop Sinaga mempunyai ladang dan Joden Sinaga mempunyai rumah dan ladang.
Bahwa keturunan langsung Ama Ni Marhilap yaitu cucunya bernama Hati
Sinaga semasa hidupnya sempat menjabat sebagai Gamot Bangun Raja (sekarang
merupakan anak kampung Bangun Dolok), hal tersebut terjadi karena Hati Sinaga
merupakan keturunan langsung dari Pembuka Kampung (Sipukka Huta) Bangun
Dolok.
Bahwa sepengetahuan Penggugat-penggugat, tanah terperkara merupakan satu
kesatuan yang dibuka (dipukka) oleh Ama Ni Marhilap dan keturunannya dan tidak
ada orang lain yang membuka (mamukka) kampung di tanah terperkara baik
keturunan Op. Buttu Pasir yang lain selain dari Ama Ni Marhilap apalagi yang bukan
keturunan Op. Buttu Pasir.
Pertimbangan dan Putusan Hakim
Majelis Hakim PN Simalungun, pada hari Selasa, tanggal 6 Juli 2004 yang terdiri dari
B.Sitanggang, SH. (Ketua Majelis), Sunggul Simanuntak, SH, dan Barita Sinaga, SH.
(Anggora), member pertimbangan, sebagai berikut :
a. Tentang gugatan Kurang Pihak (Exceptio Plurium Litis Consorsium) memberi
pertimbangan : meskipun tidak dengan secara eksplisit disebutkan bahwa objek
perkara adalah harta warisan namun jika dikaitkan dengan replik Penggugatpenggugat, dengan tegas mengutip Yurisprudensi MARI No.439 K/Sip/1968,
tertanggal 8 Januari 1969, kaidah hukumnya menyebutkan : tuntutan tentang

Universitas Sumatera Utara

pengembalian barang warisan dari tangan pihak ketiga tidak perlu diajukan
oleh semua ahli waris
Oleh Pengadilan, ini tidak berlaku mutlak, namun hanya kasuistis. Penggugat
mendalilkan objek perkara dibuka (dipukka oleh Amani Marhilap untuk
Kampung Bangun Dolok, Siharajaon Sinaga (Jungil) untuk Kambung Bangun
Raja, maka seharusnya Penggugat-penggugat harus mengikutsertakan seluruh
ahli waris dari kedua orang tersebut.
b. Tentang Gugatan Kabur (Exceptio Obscuur Libelium)
Untuk dapat melaksanakan eksekusi menyangkut sebidang tanah, harus
memenuhi persyaratan minimal, yaitu adanya luas (ukuran panjang lebar)
dan batas objek eksekusi yang jelas. Penggugat hanya menyebut luas 3 ha
(kampung Bangun Dolok, 15 ha (kampong Bangun Raya), 3 ha
(Lajangan atau penggembalaan).
c. Tentang gugatan salah alamat
1) Tidak mengikutsertakan Rumah Ibadah (Gereja Methodist) dan Vihara
(Buddha) yang ada di atas objek perkara, sama halnya dengan tidak
mengikutsertakan semua ahli waris.
2)

Bukan Lurah, yang seharusnya digugat melainkan Pemerintah


Kabupaten Simalungun (Bupati Simalungun) karena Lurah adalah
perangkat daerah (UU 22/99), harus diajukan ke PTUN dengan alasan
bahwa notulen rapat tersebut adalah surat berharga adalah pernyataan
yang keliru dan harus ditolak, karena objek gugatan di PTUN bukanlah
surat berharga, melainkan adalah Penetapan Tertulis (UU no 5/1986).

Dengan demikian menghukum Penggugat-penggugat membayar Ongkos


Perkara. Putusan ini membuat Penggugat (Amani Marhilap) mengajukan banding.
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan, pada hari Selasa, tanggal 5 April
2005 yang terdiri dari Salem Manalu, SH (Ketua), Jesminar Idroes,SH dan
Soekardi,SH (anggota) memutuskan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

Sipukka Huta, pembuka kampung adalah Ama Ni Marhilap dan keturunannya


bernama Siharajaon Sinaga, karena itu keturunan langsungnya berhak atas tanah
tersebut.
Artinya Pengadilan Tinggi Medan membatalkan putusan Pengadilan Negeri
Simalungun di atas. Putusan Pengadilan Tinggi ini, yang memenangkan Amani
Marhilap membuat Manatar Sinaga mengajukan kasasi.
Majelis Hakim Agung, yang terdiri dari H.Abdul Kadir Mappong, SH., ketua muda
yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai ketua Majelis,
Dr.H.Abdurrahman,SH,MH dan H.M Zaharuddin Utama,SH (Anggora), Selasa, 26
Februari 2008
Pertimbangan dan Putusan Hakim
a. Bahwa posita gugatan Penggugat ternyata tidak menyebutkan secara jelas
tentang luas dan batas-batas objek sengketa sehingga akan menyulitkan eksekusi
di kemudian hari apabila telah ada putusan yang berkekuatan tetap atas objek
sengketa.
b.

Masih terdapat beberapa orang yang menguasai bagian-bagian dari objek


sengketa tidak diikutsertakan sebagai Tergugat, sehingga tidak menutup
kemungkinan akan menghasilkan suatu pemeriksaan perkara yang tidak tuntas.

Atas pertimbangan itu, Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Tinggi


Medan No.297/PDT/2004/Pengadilan Tinggi Medan/5 April 2005 (yang
membatalkan putusan Pengadilan Negeri Simalungun No.37/Pdt.G/2003 tanggal 6
Juli 2004, sehingga memenangkan Manatar Sinaga dkk.
2. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat Masyarakat Silampuyang
Kasus : Perbuatan Melawan Hukum
Putusan Nomor : 26/Pdt/G/2006/Pengadilan Negeri Simalungun
Pihak yang berperkara : Masyarakat Huta Bagasan, Desa Silampuyang, Kecamatan
Siantar, Kabupaten Simalungun (85 orang) yang diwakili kuasa hukum Sitor
Situmorang,SH,MH dkk melawan
a. PTPN IV
b. Pemerintah RI cq BPN RI cq BPN Sumatera Utara cq BPN Kabupaten
Simalungun
Isunya sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat Huta Bagasan, Desa Silampuyang, Kecamatan Siantar, Kabupaten


Simalungun (85 orang) yang diwakili kuasa hukum Advokat dari Law Office Sitor
Situmorang dan partners sebagai Penggugat, melawan :
a. PT Perkebunan Nusantara IV (dahulu PTP VII) Medan, sebagai Tergugat I
b. Pemerintah RI BPN RI cq dan BPN Kanwil Propinsi Sumatera Utara cq
BPN Kabupaten Simalungun selanjutnya sebagai Tergugat II.
Objek gugatan adalah tanah Cadangan Perluasan Perkampungan dan
Pertanian Huta Bagasan Nagori Silampuyang yang terletak di Huta Bagasan Desa
Silampuyang Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara
seluas 225 ha dengan batas-batas sebagai berikut 431 :
Sebelah Utara : dimulai dari Patok I memanjang sampai Patok II sampai Patok III
dibatasi dengan Tanah Sawah Pak Supar areal perkebunan Kelapa
Sawit Afdeling II PTPN IV Jalan Desa Silampuyang dan Sungai
Bah Arabi,
Sebelah Timur : dimulai dari Patok III sampai Patok IV dibatasi dengan Sungai Bah
Arabi, areal perkebunan Kelapa Sawit Afdeling II PTPN IV areal
Perkebunan Kelapa Sawit Afdeling III PTPN IV dan Sungai Bah
Hilang (dikenal masyarakat Waliman sebagai daerah Sitahuak)
Sebelah Selatan : dimulai dari Patok IV sampai daerah irigasi (DAM) dibatasi dengan
Sungai Bah Hilang, Tanah Pak Bero, Tanah Pak Untung, Tanah Pak
Waliman, Tanah Pak Tamin, Tanah Pak Sairin, Tanah Pak
Suratman, Tanah Pak Purba, Tanah Pak Amron Batubara, Tanah
Pak Hermanto, Tanah Pak Saliwon, Tanah Pak Satia Girsang,
Tanah Pak Ginting, Tanah Pak Mangatar Saragih, Tanah Pak
Sarpen, Tanah Pak Salmon, Tanah Asam Damanik, Tanah Pak
Kasiran, Tanah Alm. Pak Torik Situmorang, Tanah Pak Syarifuddin
Manurung dan Tanah Pak Asam Damanik,
Sebelah Barat : dimulai dari daerah irigasi (DAM) sampai Patok I dibatasi dengan
Tanah Alm. Pak Amat Lontong, Tanah Pak Zaiman, Tanah Pak
Manan, Rumah Pak Jimin, Tanah Pak Narsim dan Tanah Pak
Turino.
Selanjutnya disebut TANAH OBJEK GUGATAN 432
Pertimbangan dan Putusan Hakim
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun, pada hari Selasa, tanggal 13 Maret
2007 yang terdiri dari L.Sipayung,SH (ketua majelis), Mangapul Manalu,SH dan
Muhammad Hibrian,SH (Hakim Anggota) memberi penimbangan sebagai berikut:

431

Putusan Pengadilan Tinggi No. 264/PDT/2007/PT-MDN, hal. 2


Putusan Nomor 26/Pdt/G/2006/P.N Sim, hal. 2

432

Universitas Sumatera Utara

a. Tentang tempat kedudukan hukum pengajuan gugatan berbeda dengan apa


dimaksud dalam surat kuasa yang telah dilegalisir.
Setelah mempelajari isi Surat Kuasa Khusus tanggal 23 Agustus 2006 tersebut,
Majelis Hakim berpendapat bahwa yang dimaksud dalam penulisan Pengadilan
Negeri Siantar tersebut adalah Pengadilan Negeri Simalungun, sebab dalam isi
surat kuasa khusus tersebut disebutkan bahwa tanah terperkara terletak di Nagori
Silampuyang, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, sesuai dengan asas
berperkara terhadap barang tidak bergerak harus diajukan di Pengadilan Negeri
dimana benda tersebut terletak (Asas forum rei sitae)
Penulisan kata di Pengadilan Negeri Siantar, menurut kemat Majelis Hakim
clerical error (kesalahan redaksional) yang tidak harus menimbulkan gugatan
kabur atau batal, karena gugatan justru diajukan oleh para penggugat di
Pengadilan Negeri Simalungun bukan di Pengadilan Negeri Siantar, sebab tidak
ada Pengadilan Negeri yang bernama Siantar.
b. Tentang Gugatan Penggugat tidak jelas atau kabur (obscuur libel)
Pencantuman nama-nama Para Penggugat sebanyak 85 orang lengkap dengan
tempat tinggal domisili sebagaimana dalam Surat Kuasa Khusus tanggal 23
Agustus 2006, Menurut Majelis Hakim sudah memenuhi syarat formal subjek
hukum suatu gugatan, karena sepanjang pemeriksaan persidangan diperoleh fakta
hukum bahwa 85 orang yang disebut dalam Surat Kuasa Khusus tersebut, benar
bertempat tinggal di Huta Bagasan dan benar telah memberikan kuasa kepada
kuasa Para Penggugat untuk mewakili kepentingan mereka dalam perkara perdata
di persidangan dan tidak dapat kekeliruan subjek hukum (error in persona),
dalam surat gugatan aquo.
Posita gugatan dengan petitum gugatan tidak saling mendukung atau
bertentangan, maka gugatan menjadi kabur (obscuur libel) sehingga oleh
karenanya gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima.
Dalam Posita gugatan disebutkan atas hak kepemilikan Para Penggugat atas
tanah objek perkara berdasarkan terjemahan SK dari daftar SK Gouvenour der
Oost Kust van Sumatera No.273/B/E.3, 30 Agustus 1928, 234, 4 ha sedangkan
dalam Petitum gugatan bukti-bukti Surat Penggugat P1 sampai dengan P24, tidak
ada yang mendukung tentang adanya hak milik penggugat sebanyak 85 orang
tersebut.
Sehingga Majelis Hakim memutuskan gugatan Para Penggugat tidak dapat
diterima (Niet Ontvanhelijke Voklaard) dan menghukumnya membayar biaya
perkara.
Pada tingkat banding, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan yang terdiri dari
I.AJLuhulima,SH.MH (Ketua), Elsa Mutiara Napitupulu,SH dan Aspar Siagian,SH
(Anggota), pada hari Senin, 11 Februari 2008 dengan Putusan
No.264/PDT/2007/Pengadilan Tinggi Medan (19 September 2007) mengadili :

Universitas Sumatera Utara

menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Simalungun tanggal 13 Maret 2007


No.26/Pdt.G/2006/Pengadilan Negeri Simalungun, karena putusannya sudah tepat
dan benar menurut hukum.
Dari kasus ini dapat diidentifikasi sengketa ini adalah :
Awalnya sengketa hak ulayat (hak Partuanon Silampuyang) antara rakyat
Silampuyang dengan Perkebunan. Peralihan hak-hak perkebunan asing dahulu kepada
PTPN-IV.
Faktor Penyebab Sengketa Pertanahan adalah : faktor historis, bahwa pada tahun
1975, DPR-GR berjanji untuk memberikan lahan perkebunan seluas 225 Ha kepada
rakyat. Apakah ini sudah disetujui pihak perkebunan? Dimana lokasinya, kepada
siapa dijanjikan DPR-GR itu, bagaimana realisasinya, siapa saja rakyat yang
menerima janji tersebut ? Dalam Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) yang dibuat
oleh Belanda dan pembesar-pembesar adat di Kerajaan Siantar, Bandar, dan
Sidamanik, antara sekian banyak Partuanon yang hadir dalam pertemuan khusus itu,
tercantum nama Tuan Djaingat/ Tuan van Silampuyang (Oktober 1907) 433
Juga penyebabnya adalah faktor politik ;
Titik puncak penetrasi perkebunan asing ke daerah Simalungun adalah pada tanggal 1
Juli 1920 dimana pemerintah Hindia Belanda menetapkan Simalungun menjadi
bagian dari Cultuurgebied Oostkust van Sumatra (Simalungun dimasukkan menjadi
bagian dari daerah kultur perkebunan asing), yang berarti kepentingan perkebunan
asing dinomorsatukan, sedang kepentingan rakyat raja-raja tradisional
dinomorduakan. Inilah politik kolonial murni yang telah dialami oleh daerah dan
rakyat Simalungun mulai tahun 1920 sampai tahun 1943 (masuknya pemerintahan
militer Jepang ke Sumatera Timur).
Upaya penyelesaiannya terhadap faktor historis :
Terhadap penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan yang timbul karena
faktor historis, terutama dengan adanya tuntutan rakyat (Silampuyang) untuk
pengembalian seluruh tanah perkebunan yang diklaim sebagai tanah ulayatnya, secara
yuridis, tidak dapat dipenuhi, karena unsur-unsur dari ada tidaknya hak ulayat
sebagaimana diatur dalam PMNA/ Ka BPN Nomor 5 tahun 1999 yakni adanya
subyek, obyek dan tatanan hukum, sama sekali tidak terpenuhi lagi, kecuali
diterbitkan aturan hukum yang dapat mengakomodir tuntutan masyarakat/ organisasi
adat Silampuyang tersebut. Demikian juga terhadap tuntutan masyarakat yang
didasarkan pada alas hak berupa bukti garapan di masa lalu yang dituangkan baik
dalam kartu penggarap maupun putusan pejabat terdahulu, tidak demikian saja dapat
dipenuhi karena harus terlebih dahulu dilakukan penelusuran jejak sejarahnya dan
juga dicari data pembandingnya. Apalagi dalam beberapa kasus banyak ditemukan
indikasi pemalsuan dokumen dan selama ini tidak pernah dilakukan penelitian yang
diikuti dengan tindakan tegas apabila terbukti dilakukan tindak pidana pemalsuan
dokumen.

433

Djariaman Damanik, Berpikir, Op Cit, hal. 102.

Universitas Sumatera Utara

Terhadap penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan yang timbul karena


faktor politik dilakukan dengan cara kompromi dengan mengakomodir kepentingan
di luar kepentingan hukum, dengan maksud penyelesaian masalah tersebut dapat
menciptakan stabilitas atau sekedar mengurangi benturan kepentingan dalam
masyarakat pada masa itu, sehingga masalah pertanahan tersebut tidak dapat
diselesaikan secara tuntas, karena tujuan penyelesaian dimaksud bukan dalam rangka
kepastian hukum dan menuntaskan permasalahan, tetapi hanya untuk tujuan aman
di lingkungan kekuasaannya 434. Misalnya saja Pemerintah mengakomodir tuntutan
masyarakat yang menggunakan alas hak yang pernah diterbitkan Pemerintah di masa
lalu tanpa melakukan penegakan hukum secara konsekwen, padahal ada indikasi
kelompok masyarakat melakukan memanipulasi dokumen, namun tidak ada tindakan
hukum secara tegas.
Penyelesaian masalah pertanahan yang dilakukan secara politik sering
ditemukan dalam penanganan masalah pertanahan yang terjadi pada areal
perkebunan, misalnya pemberian legalisasi kepada para penggarap di masa lalu telah
menjadi pendorong dilakukannya penjarahan tanah perkebunan oleh masyarakat
dengan berbagai alasan 435, sehingga tidak jarang dengan kebijakan yang diambil oleh
Pemerintah Daerah melalui pendekatan politik dalam menyelesaikan masalah
pertanahan justru menjadi pemicu terjadinya masalah pertanahan baru dan keadaan
ketidakpastian hukum, selanjutnya dapat berdampak pada terganggunya stabilitas di
Daerah bahkan stabilitas Nasional 436.
3. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat Kebun Bangun (Kasus
Tanjung Pinggir, klaim Pelepasan Eks HGU PTPN-III Kebun Bangun
Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara).
Kasus :
Putusan No.40/Pdt.G/2001/PN.Sim, Putusan No.199/PDT/2002/PT.MDN, Putusan
MA RI No.515 K /Pdt/2003, diputuskan Kamis , 3 Februari 2005.
Kasus Posisi
Sengketa tanah antara masyarakat penduduk Kecamatan Siantar Martoba Kota
Pematang Siantar dengan PTPN III Kebun Bangun.
Dasar Permohonan Pelepasan

434

Muhammad Yamin, Paradigma Reformasi Peraturan Perundang-undangan Pertanahan/ Agraria,


Penyelesaian Sengketa Pertanahan Serta Kelembagaan, opini pada Harian Analisa Medan, terbitan tanggal 23
Maret 2005, hal. 6.
435
Junaidi D Kamal, Konflik Tanah Perkebunan Hambat Investasi Sumut, Harian Waspada Medan, 18
Januari 2005, hal. 14.
436
Terganggunya stabilitas nasional akibat adanya masalah pertanahan yang tidak diselesaikan melalui
penegakan hukum dan terlalu dipengaruhi oleh faktor politik terbukti dengan turunnya Kabinet Wilopo Tahun
1953 yang disebabkan tidak tuntasnya masalah pembagian tanah garapan pada areal perkebunan di Sumatera
Utara (Karl. J. Felzer, Sengketa Agraria, Pengusaha Perkebunan Melawan Petani, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1991), hal. 107.

Universitas Sumatera Utara

a.

Tuntutan Pengembangan wilayah Kota Pematangsiantar sesuai dengan Visi dan


Misi Walikota Pematangsiantar Tahun 2006 -2010 untuk menjadikan Kota
Pematangsiantar sebagai Kota yang Mandiri menjadi prioritas yang mendesak
dalam rangka mengakomodir pesatnya pembangunan dalam berbagai sektor
melalui perluasan areal perkotaan.

b.

Peraturan Daerah Kota Pematangsiantar No.7 Tahun 2003 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Pematangsiantar, bahwa arahan pemanfaatan areal PTPNIII Kebun Bangun seluas 700 Ha yang berada di Kecamatan Siantar Martoba
Kota Pematangsiantar yaitu untuk Perumahan, Perkantoran dan jasa serta
Fasilitas Umum lainnya.

c.

Bahwa areal PTPN-III Kebun Bangun yang seluas 700 Ha, dimana seluas
573,41 Ha tidak lagi diperpanjang HGU-nya berdasarkan Surat Keputusan
Kepala BPN No 102/HGU/BPN/2005 Tanggal 8 Juli 2005

a.

Syarat Pelepasan Asset


Berdasarkan Surat Keputusan Kepala BPN No 102/HGU/BPN/2005 Tanggal 8
Juli 2005 bahwa sebahagian yang termasuk dalam Rencana Umum Tata Ruang
Wilayah (RUTRW) Kota Pematangsiantar seluas 573,41 Ha tidak diperpanjang
lagi HGU-nya yang langsung dikuasai oleh negara dan selanjutnya tanah
tersebut dapat dimohon dengan sesuatu hak sesuai dengan RUTRW setempat.
(Hal ini telah diakomodir dengan dikeluarkannya Perda Kota Pematangsiantar
No.7 Tahun 2003 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pematangsiantar

Universitas Sumatera Utara

yang menegaskan bahwa peruntukan areal PTPN-lll kebun Bangun adalah untuk
Perumahan, Perkantoran dan jasa serta Fasilitas Umum lainnya)
b.

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, setelah


memperoleh izin pelepasan asset dari menteri yang berwenang (Pada
DiktumKedua Keputusan BPN No 102/HGU/BPN/2005 Tanggal 8 Juli 2005)
(Hal ini telah diakomodir setelah Pemerintah Kota Pematangsiantar beberapa kali
menyurati Kementerian Negara BUMN dengan Nomor Surat : No 590/5974
Tanggal 6 Oktober 2005, No 591/6292 Tanggal 18 Oktober 2005, No
590/5431/VII/2006 Tanggal 25 Juli 2006,No 590/1082 Tanggal 14 Februari2007
dan NO 591/4246/Vll/2007.

a.

Permasalahan Yang Dihadapi


Tahun 1998 masyarakat menuntut pengembalian tanah mereka yang telah
dinasionalisasikan oleh negara dengan memasang spanduk-spanduk dan plang di
atas areal HGU, dan akibat hal tersebut Adm Kebun Bangun memohon bantuan
untuk pengamanan kepada Walikota dan Kapolres Simalungun, dan sebagai
tindak lanjutnya dibentuklah Tim Terpadu Propinsi.

b.

Tahun 1999 dilakukanlah rapat terpadu di Kantor Gubernur oleh Tim Terpadu
dan oleh DPRD Kota Pematangsiantar juga melakukan dengar pendapat dengan
pihak Kebun Bangun.

c.

Tahun 2000 dibentuk Tim Penanganan Masalah Pertanahan, dan Tahun 2001
oleh Tim Penanganan Masalah Pertanahan dibentuk lagi sub Tim l dan hasil
rapat Sub Tim l memberikan rekomendasi antara lain mengakomodir tuntutan

Universitas Sumatera Utara

masyarakat sepanjang memiliki alas hak dan bukti-bukti yang kuat atas tanah
tersebut. Namun masyarakat tidak menerima dan menuntut terus agar areal
dikembalikan kepada mereka, dan oleh Muspida Plus areal tersebut dinyatakan
stanvast. Setelah dinyatakan standvast masyarakat penggarap melakukan
perlawanan hukum dengan menuntut ke Pengadilan Tinggi.
d.

Tahun 2002 Pemerintah Kota Pematangsiantar membentuk Sub Tim ll yang


melibatkan lebih banyak unsur masyarakat dengan hasil mengeluarkan
rekomendasi antara lain mengakomodir tuntutan masyarakat sepanjang memiliki
alas hak dan bukti-bukti yang kuat atas areal tersebut, namun masyarakat tetap
tidak menerima dan terus melakukan kegiatan penggarapan dan bahkan
menimbulkan konflik horizontal.

e.

Tahun 2003 masyarakat penggarap melakukan banding ke Mahkamah Agung


dengan No. 515 K/Pdt/2003,dan oleh Mahkamah Agung pada Tanggal 3
Februari 2005 standvast yang dibuat oleh Muspida Plus dicabut. Dengan
dicabutnya standvast tersebut, masyarakat menggangap bahwa areal tersebut
menjadi hak mereka.

f.

Tanggal 24 Juli 2007 Muspida Kota Pematangsiantar mengadakan pertemuan


dengan mengeluarkan kesimpulan bahwa masyarakat penggarap bukan sebagai
pemilik hak atas tanah; perlu diadakan sosialisasi kepada kelompok-kelompok
penggarap melalui mass media maupun pertemuan-pertemuan langsung, agar
Camat dan lurah tidak mensahkan atau menandatangani dokumen-dokumen yang
menyangkut tanah garapan sebelum ada putusan yang sah atas kepemilikan

Universitas Sumatera Utara

tanah; dan dihimbau kepada seluruh elemen masyarakat yang berada di areal
tanah garapan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Pertimbangan dan Putusan Hakim


Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun pada hari Senin tanggal 18 Februari
2002 yang terdiri dari D.D Siahaan,SH (Ketua), R.Simorangkir,SH dan D.G
Tobing,SH (Anggota) mengadili perkara perdata pada tingkat I antara Kasmen Sinaga
dkk (26) melawan
a. Pemerintah RI cq Mendagri (Jakarta) cq Gubernur Sumatera Utara cq
Walikota Pematang Siantar
b. Pemerintah RI cq Mendagri (Jakarta) cq Gubernur Sumatera Utara cq
Walikota Pematang Siantar cq Sekda Pematang Siantar
c. Pemerintah Kodam I/BB dan lainnya
Mengabulkan sebagian gugatan Penggugat dan menyatakan standvaast
terhadap objek sengketa yang terletak di blok 28,29,30,31,37,46 dan 47.
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan yang terdiri dari Amir Syarifuddin
Harahap,SH (Ketua), Achmad Dahlan,SH dan Roosdiana AR,SH (Anggota),
tanggal 12 Juni 2002 menguatkan putusan Pengadilan Negeri (Tingkat I)
sebelumnya.
Mahkamah Agung oleh Majelis Hakim yang terdiri dari
Prof.Dr.H.Muchsin,SH (Ketua), Prof.Dr.Valerine.Jl.Kriethoff, SH,MA dan
Andar Purba,SH (Anggota).
4. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Adat dan Sengketa tanah yang
berkembang antara Masyarakat dengan perkebunan Bandar Betsy
Perkebunan Bandar Betsy dimasukkan dalam daerah PTPN-IV Gunung
Pamela yang terletak antara Tebing Tinggi-Pematang Siantar sebelah kiri pasar hitam
15 km dari pinggir jalan besar, sebelah kiri menuju Pematang Siantar. Perkebunan
ini sekarang termasuk dalam PTPN-III. Rakyat yang mendiami kampung-kampung
sekitar areal perkebunan sejak tahun 1947, sebagian besar terdiri dari suku Jawa yang
merupakan basis dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR)
merupakan ormas dari PKI. Orang-orang ini telah menggarap areal perkebunan sejak
zaman Jepang (1943). Setelah perkebunan Bandar Betsy dinasionalisasi pada tahun
1957, pihak PPN telah melakukan pembersihan areal perkebunan dari penggarap
dengan sistem ganti kerugian atas dasar musyawarah, walaupun tanah itu telah

Universitas Sumatera Utara

diganti rugi oleh pihak PPN, namun anggota-anggota BTI/PR tidak mau mematuhi
bahkan sering mengganggu petugas-petugas PPN yang sedang bekerja 437.
Upaya penyelesaiannya :
Dalam penyelesaian sengketa pertanahan (hak atas tanah adat) dan sengketa
pertanahan di Kabupaten Simalungun mempunyai 3 (tiga) model 438. Disebut
demikian karena model ini memperhatikan faktor kepentingan (interest), kekuasaan
(power), dan hak (right) yang menjadi sumber sengketa antara dua pihak. Yang
dimaksud dengan:
a). Kepentingan adalah objek kebutuhan atau keinginan yang menjadi sumber
sengketa. Artinya, dua pihak punya kebutuhan dan keinginan yang sama terhadap
objek yang disengketakan, misalnya tanah, barang, uang, jasa layanan, dan lainlain.
b). Kekuasaan adalah objek kebutuhan atau keinginan yang menjadi sumber sengketa.
Artinya dua pihak punya kebutuhan dan keinginan yang sama untuk memperoleh
status dan peran sehingga memiliki hak dan kewenangan tertentu yang dominan.
c). Hak adalah objek kebutuhan atau keinginan yang menjadi sumber sengketa.
Artinya, dua pihak punya kebutuhan dan keinginan yang sama untuk memperoleh
tuntutannya,karena masing-masing merasa bahwa tuntutan itu berkaitan dengan
kekuasaan, kewenangan, dan tanggung jawab.
Model ini mengisyaratkan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan
sengketa adalah memenuhi kebutuhan semua pihak yang bersengketa: kepentingan,
kekuasan, dan hak. Oleh karena itu, menurut model ini, penyelesaian sengketa pun
437

Nas Sebayang dalam Syafruddin Kalo, Masyarakat dan Perkebunan, op cit, hal. 275.
Para pemerhati konflik juga mengajukan model tiga faktor, lihat Alo Liliweri, Prasangka & konflik,
komunikasi Lintas budaya Masyarakat Multikultur, (Yogyakarta, LKiS, 2005), hal. 309.
438

Universitas Sumatera Utara

harus dilakukan dengan metode dan teknik yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan itu. Dalam praktiknya, penyelesaian sengketa sebagaimana dianjurkan
model ini tidaklah mudah. Ingat bahwa pemberian tanah, barang, uang, jasa, dalam
rangka memenuhi kepentingan dua pihak ternyata bersifat sementara. Saat semua
tanah, barang dan jasa telah diterima (kepentingan dipenuhi), maka sengketa
merendah. Tapi jika persediaan tanah, barang dan jasa menipis, maka sengketa
muncul kembali.
Pilihan penyelesaian sengketa berikutnya adalah memberikan besaran
kekuasaan kepada pihak-pihak yang terlibat sengketa, sesuai dengan aturan yang
berlaku. Pelbagai riset menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa dengan
memberikan kekuasaan kepada seorang karena dialah yang seharusnya memegang
kekuasaan dan yang paling berwenang pun tidak menyelesaikan masalah. Betapa
sering, setelah diberi kekuasaan, orang menyalahgunakan kekuasaan itu untuk
menindas orang lain yang menjadi oposannya.
Pilihan penyelesaian sengketa lainnya dari model ini adalah memberikan hak
kepada pihak-pihak yang terlibat sengketa, sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pelbagai riset menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa dengan memberikan hak
kepada seorang karena dialah yang seharusnya memegang hak, tidak menyelesaikan
masalah. Betapa sering, setelah diberi hak, seseorang menyalahgunakan haknya untuk
menindas orang lain yang menjadi oposannya. 439
Menurut sejarah, Kabupaten Simalungun terdiri dari multi etnis yaitu: Batak
Toba, Batak Mandailing, Jawa (yang asalnya dari kuli kontrak). Kembali ke masa
kolonial, setelah tersebar berita tentang keadaan Simalungun di Tapanuli, yang
dibawa petugas mission, beberapa waktu kemudian telah ada yang memberanikan diri
untuk melihat keadaan daerah itu ada yang naik sampan dari Balige menuju
Sungkean Samosir terus ke Prapat (ingat kasus Amani marhilap di Desa Bangun
Dolok Kelurahan Prapat) dari Panahatan melewati hutan terus ke Tiga dolok dan
sampai ke Siantar setelah 4 hari perjalanan. Sesudah melihat keadaan daerah
tersebut 440, orang-orang Batak Toba itu memutuskan untuk membuka perkampungan.
Pekabar Injil melalui majalah mingguan Immanuel yang sangat tersebar dan menarik
perhatian, terutama bagi keluarga yang tidak memilik lahan yang luas.
Pada awalnya orang Batak Toba tersebut membuka hutan yang dianggap
subur dan lebih mudah dikerjakan untuk bahan pertanian. Padi dan ubi tanam di lahan
kering yang baru dibuka yang dikenal dengan Juma. Lama-kelamaan juma itu
berubah menjadi persawahan yang disebut juma sabah
Pada tahun 1907, tujuh Raja Simalungun menandatangani korte
verklaring. 441 Penandatanganan perjanjian tersebut merupakan pengakuan terhadap
kedaulatan Belanda disana dan sejak itulah perluasan perkebunan di Simalungun 442.
439

Ibid.
O.H.S Purba & Elvis F Purba, Migran Batak Toba, ,op.cit , hal. 5.
441,
Anthony Reid, The Blood of the people: op cit., hal.101.
442
R. Willliam Liddle, Ethnicity, Party and National Integration: an Indonesian case study, (USA: Yale
University Press, 1970), hal. 25 dan lihat juga Karl Pelzer, Planters and Peasent, op cit, hal. 55
440

Universitas Sumatera Utara

Perkembangan perkebunan-perkebunan asing di Sumatera Timur lambat laun


menimbulkan kesulitan, terutama dalam hal pangan. Untuk melipatgandakan hasil
pertanian pangan, salah satu cara yang ditempuh oleh Belanda ialah mengadakan
perjanjian dengan raja-raja setempat, 443 (ingat dengan kasus Silampuyang).
Demikianlah akhirnya rakyat terus mengharapkan penyelesaian yang adil
dalam kenyataan didambakannya itu menjadi putus asa untuk memperoleh
penyelesaian hukum. 444 Diperparah lagi karena penyelesaian hukum selalu berpihak
kepada kelompok tertentu yang tak pernah iba melihat nasib rakyat. 445 Rakyat
akhirnya menunggu dan mengharapkan sampai turun ratu adil yang pernah di
dengarnya dapat menyelesaikan masalah pertanahan.
Proses Pengadilan selalu menghasilkan penyelesaian yang menempatkan salah
satu pihak sebagai pemenang (a winner) dan yang lain sebagai yang kalah (a loser).
Sebenarnya kondisi yang demikian itu memunculkan cara-cara yang
dilakukan oleh pemilik modal perkebunan dalam rangka mempertahankan status
perkebunannya. Ada beberapa cara yang dilakukan oleh pihak pemilik modal agar
masyarakat tidak melakukan tindakan meminta kembali hak garapan mereka antara
lain: 446
a. Pendekatan legal formal (formal administratif): Tanah-tanah yang
disengketakan petani umumnya tidak memiliki kelengkapan surat
menyurat sebagai bukti kepemilikan, sehingga tanah-tanah tersebut
gampang dianggap sebagai tanah negara.
b. Pendekatan kepada tokoh masyarakat. Upaya mempertahankan tanahtanah perkebunan dilakukan dengan cara pendekatan secara khusus
kepada tokoh-tokoh masyarakat, seperti ketua adat, tokoh agama, tokohtokoh formal desa, dan sebagainya, tanpa sepengetahuan rakyat setempat.
Biasanya apabila tokoh-tokoh tersebut sudah ditaklukan proses
penguasaan mutlak terhadap rakyat akan sangat mudah. Secara historis ini
dapat dilihat dari konflik tanah masyarakat Silampuyang.
c. Pendekatan politik pecah belah. Politik pecah belah bukan hanya
monopoli penguasa kolonialis yang sangat terkenal dengan politik devide
et impera-nya, tetapi juga dipergunakan oleh penguasa Orde Baru untuk
menguasai tanah-tanah milik petani. Masyarakat atau petani pemilik tanah
diadu domba dengan sesamanya, misalnya dengan mengadakan
pendekatan-pendekatan tertentu kepada kelompok-kelompok masyarakat
yang berbeda kepentingan.
443

Tideman, Simeloengon: Het land der, Op Cit, hal.186-187.


Proses Pengadilan bersifat adversonal atau berlangsung atas dasar saling permusuhan atau
Pertikaian antara para pihak
445
M Yamin & Rahim, Beberapa Masalah Aktual Hukum Agraria, (Medan: Pustaka Bangsa Press,
2004), hal. 192.
446
Kutipan tersebut dikembangkan dari pandangan Bachriadi, Dalam Jurnal penelitian dinamika Petani,
No. 35 tahun X edisi Juli-Agustus 1999, PSDAL-LP3ES.
444

Universitas Sumatera Utara

d. Pendekatan manipulasi, pemalsuan dan diskriminasi. Proses manipulatif


yang sering dipergunakan untuk menguasai tanah-tanah rakyat atau
petani, misalnya dengan menerbitkan akta/sertifikat atas nama pejabat
tertentu,seperti yang terjadi di Bangun Dolok.
e. Pendekatan isolasi wilayah dan akses. Secara geografis biasanya tanahtanah petani yang akan dikuasai diisolasi, misalnya dengan cara menutup
jalan menuju lokasi. Sehingga secara geografis wilayah tersebut sulit
ditembus, yang mengakibatkan akses masyarakat atau petani ke dunia luar
terputus.
f. Pendekatan dengan menggunakan cap buruk atau stigma-stigma. Cara ini
dialamatkan kepada masyarakat yang tanahnya telah dikuasai. Misalnya,
masyarakat yang menuntut hak garapan dianggap pengikut aliran sesat,
pengacau keamanan,anti pembangunan. Orang yang anti pembangunan
dianngap anti Pancasila , dan itu berarti orang tersebut dianggap PKI. Cap
buruk lainnya misalnya, penyerobot tanah negara, penghuni liar, dan
sebagainya. Rakyat atau petani yang diberi stigma-stigma seperti itu akan
merasa ketakutan, dan dengan begitu akan lebih mudah dilakukan
penguasaan lahan perkebunan tersebut. (Kasus Bandar Betsy).
Bahwa dari berbagai permasalahan tersebut tak satupun yang mendapat
penyelesaian yang tuntas bahkan sering penyelesaian yang dilakukan tidak
dilaksanakan dengan penyelesaian hukum atau sering hanya diselesaikan secara
politis, bahkan dengan penyelesaian yang sifatnya sementara saja, sehingga tetap
menjadi atau menyimpan masalah. 447 Ini dapat dibuktikan dari beberapa kasus
konflik tanah yang sudah dibahas dalam bab sebelumnya yang sampai hari ini
belumlah tuntas meskipun sudah diputuskan oleh Mahkamah Agung. Begitu pula
yang menyangkut konflik (sengketa) hak atas tanah perkebunan seperti yang terjadi di
Perkebunan Bandar Betsy. Ini diakibatkan oleh sejumlah ketimpangan dan tidak
keselarasan. Ketimpangan itu antara lain: ketimpangan soal sturuktur kepemilikan
tanah, ketimpangan dalam penggunaan tanah dan ketimpangan dalam persepsi serta
konsepsi mengenai kepemilikan tanah. 448

447

M. Yamin & Abd. Rahim Lubis, Beberapa masalah aktual Hukum agraria, Loc,Cit.
Sholih Muadi, Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Perkebunan, (Jakarta:Prestasi Pustaka
Publisher, 2010), hal. 48.
448

Universitas Sumatera Utara

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. a. Tentang status hukum hak atas tanah adat di Kabupaten Simalungun dalam
Sistem Hukum Pertanahan Nasional. Sebenarnya hak atas tanah adat
sudah ada sejak dahulu kala. Ini dapat dibuktikan dari 19 (sembilan belas)
lingkaran hukum oleh van Vollenhoven yang disebutnya rechtskring,
salah satunya Tanah Gayo-Alas dan Batak beserta Nias. Batak (Tapanuli,
Karo, Simalungun). Tapanuli mengenal hak ulayat (golat) secara otomatis
Simalungun pastilah mengenal hak ulayat (hak Partuanon). Karena etnis
Simalungun yang berdiam di Kabupaten Simalungun maupun di daerahdaerah lain, memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Simalungun sebagai
etnis yang paling tua di daerah Sumatera Timur, sudah ada sejak abad ke7, bahkan sebelumnya. Sebagai etnis yang sudah lebih kurang 50 (lima
puluh) generasi mendiami kabupaten Simalungun, etnis Simalungun ini
masih memiliki hak-hak atas tanah adat (yang dipersamakan dengan
tanah). Ini dapat dibuktikan di beberapa daerah di kabupaten Simalungun
masih ada :
1) Bong-bongan sahuta (kolam ikan bersama) di Huta Kampung Baru,
desa Dolog Huluan, kecamatan Raya dan dusun Baringin Raya,
kelurahan Pematang Raya dan merupakan milik huta
2) Parmahanan (tempat penggembalaan kuda dan kerbau) Damak Nagori
Siporkas kecamatan Raya, kabupaten Simalungun, milik marga
(Saragih Garingging).
3) Parjalangan Sahuta (hampir sama dengan Parmahanan), bedanya
parmahanan lebih terawat, mempunyai sistem, sedangkan dalam
parjalangan sahuta tidak terawat, bersifat bebas. Ini juga adalah milik
huta.
4) Parsinumbahan : tempat penyembahan masyarakat adat Simalungun
sebelum adanya / masuknya agama, di dalammya terdapat
pamelean yaitu patung-patung yang disembah. Ini terdapat di
Siloting, tidak ada yang berani masuk (karena takut) kecuali datu

Universitas Sumatera Utara

(dukun,
paranormal),
karena
diyakini
bersifat
magisch.
Parsinumbahan adalah milik Marga (Saragih Garingging).
5) Paridian ni Raja : tempat pemandian Raja (Tuan Rondahaim Saragih
Garingging), pada zaman doeloe. Di sini dikenal umbul ni bah (mata
air), dalan ni bah (jalan ke tempat pemandian), pinggir ni bah : tepian
sungai. Terdapat 2 (dua) tempat untuk laki-laki dan perempuan.
Paridian ni Raja ini terdapat di Aman Raya, kelurahan Pamatang
Raya, kecamatan Raya. Ini adalah milik marga (Saragih
Garingging) & keturunan Raja Rondahaim (na bajan).
6) Losung / lesung adalah alat untuk menumbuk padi, kopi, bumbubumbu jika ada pesta. Losung ini dibentuk / dipahat dari kayu pokki,
mempunyai kepala layaknya seperti manusia. Losung ini juga ada 2
(dua) jenis : losung yang berjenis kelamin jantan dan betina, secara
fisik bedanya dapat dilihat dari bentuk telinganya, losung jantan,
telinganya lebih panjang daripada losung betina, sedangkan mata dan
hidungnya sama. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, losung
ini mempunyai nilai magisch, ini terdapat di huta Sambual desa
Nagori Raya Bayu, dan merupakan milik huta.
Nagori adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki wewenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dalam
Sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Huta adalah
bagian wilayah dalam Nagori yang merupakan lingkungan kerja pelaksanaan
Pemerintahan Nagori. Maujana Nagori adalah Badan Perwakilan yang terdiri
dari pemuka-pemuka masyarakat yang ada di Nagori yang berfungsi mengayomi
adat-istiadat, membuat peraturan Nagori, menampung dan menyalurkan aspirasi
masyarakat

serta

melakukan

pengawasan

terhadap

penyelenggaraan

Pemerintahan Nagori. Hak Partuanon (semacam hak ulayat) di Simalungun


masih eksis sesuai kriteria yang ditentukan dalam Pasal 2 ayat (2) PMNA/KBPN
No.5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat Hukum Adat, dimana etnis Simalungun sebagai si Pukkah Huta


Pakon si Mada Talun (Pembuka Kampung dan Pemilik Tanah Adat) tetap
mempunyai Hak Atas Tanah Adat Simalungun karena :
1) Masih terdapat masyarakat hukum adat Simalungun, sebagai subjek hak
ulayat, yang memegang teguh, mentaati dan terikat pada Hukum Adat
Simalungun dalam kehidupannya sehari-hari, Hukum Adat sebagai Living
Law, masih diberlakukan dalam masyarakat Simalungun sebagaimana dimuat
dalam buku Adatni Simalungun yang diterbitkan oleh Presidium Partuha
Maujana Simalungun tahun 2008, sebagai Lembaga Pemangku adat dan
cendekiawan Simalungun tertinggi.
2) Masih terdapat tanah ulayat atau sebutan lain yang sejenis yang di Simalungun
disebut Galunggung, Bombongan, Parmahanan, Juma na Bolak, Juma Sabah,
Talun dan lain-lain. Itu semua masih ada dan tersebar secara sporadis di
Nagori-nagori maupun Huta-huta di Kabupaten Simalungun.
3) Penggunaan tanah-tanah adat di Simalungun itu diatur oleh pengetua-pengetua
adat dari masyarakat hukum adat setempat dan tergabung dalam Perkumpulan
Partuha Maujana Simalungun (PMS), di mana pengaturan itu bertujuan
antara lain untuk menjaga kelestarian lingkungan demi kesejahteraan bersama
masyarakat hukum adat tersebut.
b. Beberapa kritikan terhadap Hak Atas Tanah Adat dalam Sistem Hukum
Pertanahan Nasional, dalam hal ini kritikan juga terhadap perundang-undangan
yang mengatur tentang sumber daya agraria (UU Sektoral) :
1). Kritikan terhadap UUD RI Tahun 1945

Universitas Sumatera Utara

Meskipun pada tanggal 18 Agustus 2000, Pasal 18 B ayat (2) Bab VI


UUD RI Tahun 1945 (sudah diamandemen) yang menyatakan Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat adat beserta
hak-hak tradisionalnya, namun perubahan-perubahan ini belum memberi
arti apa-apa bagi masyarakat, karena secara empiris, dalam berbagai
sengketa sumber daya agraria, masyarakat selalu kalah. Dan Negara hanya
mengakui dan menghormati hak ulayat dan subjek hak ulayat dengan
disertai persyaratan dan sama sekali tidak menyinggung objek hak ulayat,
yaitu tanah ulayat / hutan ulayat.
2). Kritikan terhadap UU No.5 Tahun 1960 (UUPA)
Sistem pendaftaran tanah sebagai sub sistem hukum tanah nasional
mengandung kelemahan dikarenakan :
(a) Belum ada Undang-undang dan atau Peraturan Pemerintah yang
diamanatkan UUPA yang mengatur tentang hak milik atas tanah dan
terjadinya hak milik menurut hukum adat, serta jenis-jenis tanah hak
milik adat.
(b) Terjadi konflik nilai dasar (norma) antara nilai fundamental (Pasal 56
UUPA tentang eksistensi hukum adat dalam UUPA) dengan nilai
implementatif (konversi tanah-tanah bekas adat), berimplikasi kepada
penyelenggaraan pendaftaran tanah.
(c) Terjadi kesenjangan substansi akibat banyaknya jenis dan sebutan
tanah hak milik menurut adat di masing-masing daerah wilayah adat.
(d) Secara yuridis dogmatik, sistem publikasi negatif mengandung
kelemahan karena sertifikat menghasilkan kepastian hukum yang
relatif, sebab masih terbuka untuk dibatalkan jika ada pihak lain dapat
membuktikan sebagai pemilik sebenarnya.
UUPA memang mengakui hak ulayat dengan pembatasan mengenai eksistensi
dan pelaksanaannya, tetapi UUPA tidak memberi penjelasan mengenai kriteria hak
ulayat.
Pasal 3 UUPA hanya mengakui hak ulayat dan subjek hak ulayat dengan
disertai persyaratan yang ketat. Pasal ini juga sama sekali tidak menyinggung objek
hak ulayat. Bahkan dalam Penjelasan Umum Nomor II/3 dapat disimpulkan tanah
ulayat dinyatakan sebagai tanah Negara.
3). Kritikan terhadap UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (UUPK)
Pasal 5 UU No.41 Tahun 1999 menyatakan, hutan adat / hutan ulayat
adalah hutan negara. Hal ini merupakan pengingkaran terhadap hutan
ulayat yang merupakan objek hak ulayat. Pengingkaran terhadap objek
hak ulayat ini, menjadi salah satu sebab timbulnya sengketa agraria yang

Universitas Sumatera Utara

berkepanjangan. Oleh karena itu, agar sengketa agraria dapat dikurangi,


maka hutan ulayat harus diakui sebagai objek hak ulayat dan tidak
dinyatakan sebagai hutan Negara.
Dinyatakan, bahwa Pemerintah bersama pihak penerima izin usaha
pemanfaatan hutan berkewajiban untuk mengupayakan kompensasi yang
memadai, antara lain dalam bentuk mata pencaharian baru dan keterlibatan
dalam usaha pemanfaatan hutan di sekitarnya, namun UUPK tidak member
solusi mengenai penyelesaian masalah hilangnya hak masyarakat hukum adat,
yang hutan ulayatnya selama masa orde baru diberikan kepada pengusaha
pemegang HPH, karena itu areal hutan yang sedang dikerjakan, pelaksanaan
hak rakyat memungut hasil hutan dibekukan, kenyataannya dihapuskan.
4) Kritikan terhadap UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara (UU Minerba) sebagai pengganti UU No.11 Tahun 1967,
UU ini tak ubah seperti ular berganti kulit. UU ini dinilai sarat dengan
kepentingan melindungi perusahaan tambang, pemegang Kontrak Karya,
dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara, sehingga
makin melanggengkan sistem keruk cepat dan jual murah bahan tambang
Indonesia.
Ada 6 (enam) masalah yang utama dalam Undang-undang Minerba :
(a) Tidak ada peluang untuk melakukan kaji ulang dan negosiasi
terhadap Kontrak Karya
(b) Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara ini menguatkan ego sentral, melalui lahirnya Wilayah
Pertambangan
(c) Undang-undang ini tidak menempatkan pentingnya menjaga dan
melindungi perairan pesisir laut
(d) Undang-undang ini menggunakan pendekatan administratif dalam
proses perijinannya sehingga tidak efektif untuk menangani dampak
pencemaran lingkungan\
(e) Mempercepat kerusakan sarana dan prasarana umum karena
Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara membolehkan untuk dimanfaatkan menjadi Sarana
Pertambangan
(f) Terjadi Kontradiktif dengan Undang-undang Lingkungan Hidup
yang mengakui legal standing organisasi lingkungan hidup untuk
mengajukan gugatan terhadap perusahaan yang merusak lingkungan
5). Kritikan terhadap UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Universitas Sumatera Utara

Ada 4 (empat) variable yang sangat menentukan guna dipakai untuk


melihat keberhasilan dari proyek privatisasi air, yaitu :
(a) Jumlah pelanggaran (bertambah atau tidak)
(b) Kualitas air (membaik atau memburuk)
(c) Sumbangan terhadap PAD (bertambah atau membebani)
(d) Tarif
(e) Mutu pelayanan (Memuaskan atau menjengkelkan)
Kemudian dapat dilihat dari dampak negatif antara lain :
(1) Konflik kepentingan penggunaan air (antar petani, antara petani
dengan perusahaan, antara petani dengan pemerintah)
(2) Penurunan kualitas air sungai dari kelimpahan biota air
(3) Perubahan pola tanam. Pengeluaran tambahan akibat pompanisasi
karena air irigasi tidak ada atau tidak cukup. Tidak ada tambahan
pendapatan masyarakat atau pendapatan desa.
(4) Kecemburuan sosial terhadap masyarakat tertentu (hulu)
6) Kritikan terhadap UU No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
Berdasarkan asas lex specialis derogate lex generalis (asas yang
menyatakan bahwa ketentuan khusus mengalahkan ketentuan yang
umum), UUPA akan dikalahkan oleh UU No.18 Tahun 2004 tentang
Perkebunan itu, kemudian asas lex posteriori derogate lex priori (Asas
yang menyatakan ketentuan yang baru akan mengalahkan ketentuan
yang lama), UUPA juga akan dikalahkan oleh UU Perkebunan, karena
UU lebih dulu lahir (1960) sedangkan UU Perkebunan lahir tahun 2004.
Pasal 21 UUP mengantung ketidakpastian hukum, apakah yakin dengan
tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya perkebunanperkebunan disebut tindakan lainnya tentunya sangat luas dan tidak
terbatas.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya sengketa hak atas tanah adat di
Kabupaten Simalungun secara general sebagai berikut :
a. Administrasi pertanahan di masa lalu yang kurang tertib. Penguasaan &
kepemilikan tanah di masa lalu (hak atas tanah adat) seringkali tidak

Universitas Sumatera Utara

didukung bukti-bukti administrasi, sehingga data fisiknya berbeda dengan


data administrasi & data yuridisnya.
b. Peraturan perundang-undangan yang saling tumpang-tindih sering terlihat
saling bertentangan, sehingga menimbulkan konflik
c. Penetapan hukum pertanahan yang kurang konsisten, timbul konflik
kewenangan/kepentingan. Tidak ada supremasi hukum (keterbukaan &
keberpihakan pada kepentingan rakyat).
d. Law enforcement belum dilaksanakan secara konsekwen. Untuk
menghindari merajarelanya pendudukan tanah, pemalsuan surat-surat bukti
penguasaan tanah, penyerobotan tanah perkebunan, dan sebagainya.
Sengketa pertanahan terjadi sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang
ini. Pada jaman penjajahan, konflik pertanahan terjadi karena perbedaan
kepentingan antara penjajah dengan kaum yang dijajah (pribumi), sehingga
berimbas pada sengketa hukum, yaitu dengan berlakunya dualisme hukum
pertanahan. Akan tetapi di era kemerdekaan, reformasi sekarang ini, sengketa
pertanahan muncul karena pertentangan kepentingan masyarakat dengan
perkebunan (Kasus Bandar Betsy), masyarakat dengan Pemerintah (Kasus
Tanjung Pinggir), masyarakat dengan masyarakat (Kasus Amani Marhilap dan
kawan-kawan), perorangan dan kelompok masyarakat, kepentingan umum dan
kepentingan perorangan dan kelompok masyarakat.
Artinya bila dikategorikan kepada :
1) Faktor Hukum :
(a)

Aturan hukum, dalam hal ini terjadi sengketa disebabkan aturan


kurang jelas, bahkan karena banyak aturan hukum yang sudah tidak
ditaati oleh masyarakat.

(b) Pemahaman hukum masyarakat, akhir-akhir ini terhadap hak ulayat


dan masyarakat adat semakin meningkat, sehingga masyarakat

Universitas Sumatera Utara

menuntut pengembalian hak-hak mereka terkadang dengan cara yang


frontal, sehingga menimbulkan sengketa.
2) Faktor non-Hukum
(a) Ekonomi
(b) Pendidikan
(c) Budaya Masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat secara
rigid sehingga dapat memicu sengketa tanah.
b. Faktor konflik yang lain terkait dengan satu ideologi yang memandu integrasi
ekonomi secara global, yakni ideologi fundamentalisme pasar, yakni satu
ideologi yang selama ini telah mendorong banyak negara berkembang jatuh
dalam jurang kebangkrutan ekonomi dan mengalami kerusakan sosial dan
ekologis yang sulit untuk terpulihkan, contoh Kabupaten Simalungun, akibat
konversi teh menjadi sawit. Tragisnya lagi negara-negara yang telah
mengalami kebangkrutan ekonomi, kerusakan sosial dan ekologis, termasuk
Indonesia, Kabupaten Simalungun khususnya,seperti desa Nagori Bah Bolon
Tongah, Nagori Simpang Raya, Nagori Janggar Leto, Kecamatan Panei,
Kabupaten Simalungun, setiap hujan deras mengalami banjir parah, yang
sebelumnya, ini tidak pernah terjadi, tidak berusaha ke luar dari jebakanjebakan ekonomi yang disarankan oleh Bank Dunia dan Dana Moneter
Internasional (IMF), sebagai pelaku utama dari ideologi fundamentalisme
pasar.
c. Faktor penafsiran yang salah terhadap konsep otonomi daerah di tingkat
komunitas telah menciptakan elit-elit kampung, Otonomi Daerah seharusnya
memperhatikan demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan
keanekaragaman daerah, bukan penguasa yang kuat terhadap yang lemah.
Aparatur penegak hukum sendiri tidak memahami hukum dan peraturan antara
lain hukum pertanahan.
d. Faktor sejarah, sejarah penguasaan tanah oleh perusahaan perkebunan yang
terjadi di Kabupaten Simalungun menorehkan sejarah kelam dalam kehidupan
petani penggarap tanah. Adanya migrasi yang terlalu besar mengakibatkan

Universitas Sumatera Utara

masyarakat menjadi landhonger (lapar/ haus akan tanah). Beberapa


periodisasi sejarah menunjukan waktu dan proses pengambilan tanah dari
petani berbeda-beda. 3 Masa itu adalah setelah keluarnya Agrarische Wet,
masa nasionalisasi, dan masa setelah 1965. Beragam kondisi turut
menyebabkan berhasil tidaknya pengambilalihan kembali tanah-tanah garapan
petani dari perkebunan. Faktor-faktor itu adalah gerakan petani yang
terorganisir sistem pengelolaan perkebunan, dan kondisi politik lokal.
Berikut ini kronologis Masyarakat Hukum Adat Simalungun secara historis
1) Pra Kemerdekaan :
a) Masa Kerajaan Mardua
b) Masa Kerajaan Maropat
c) Masa Kerajaan Marpitu
2) Pasca Kemerdekaan :
Setelah Indonesia merdeka, maka terjadilah peralihan hak atas perkebunan
di Simalungun, yang sebelumnya diusahai oleh pekebun Eropa (Belanda),
lalu beralih kepada Negara. Artinya, bahwa yang beralih adalah hak para
pekebun asing kepada pemerintah Indonesia (P to G) yang sekarang
dikuasai oleh PT. Perkebunan Negara yang ebrada di bawah Kementrian
Badan Usaha Milik Negara RI. Sedangkan tanahnya (yang berasal dari
tanah leluhur dan merupakan Tanah ulayat Simalungun) tetap menjadi tanah
hak-hak tradisional etnis Simalungun. Sekarang tanah ulayat yang dijadikan
perkebunan tersebut telah beralih menjadi tanah Hak Guna Usaha yang

Universitas Sumatera Utara

diberikan oleh Negara kepada pihak perkebunan. Namun demikian,


kewajiban-kewajiban ketika pekebun Belanda membayar hasil tanah atau
uang sewa kepada masyarakat Simalungun melalui pemimpinnya,
seharusnya pembayaran tersebut tetap diteruskan oleh Pemerintah kepada
etnis Simalungun (G to P) setelah Indonesia merdeka, baik dalam bentuk
uang dan atau bentuk kompensasi lain secara adil dan bijaksana.
Pembayaran tersebut sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap
etnis Simalungun.
3. Upaya yang dilakukan dalam hal menyelesaikan sengketa hak atas tanah adat di
Kabupaten Simalungun adalah :
a. Penyelesaian di Luar Pengadilan
1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Simalungun telah menangani
sengketa pertanahan menurut Peraturan Kepala BPN No. 3 tahun 2011
yang meliputi :
a) Pelayanan pengaduan dan informasi kasus pertanahan
- diajukan secara tertulis
- dicatat/ registrasi dan diberikan Surat Tanda Penerimaan Pengaduan
b) Pengkajian Kasus Pertanahan
- pengkajian akar dan riwayat sengketa
- dilakukan telaahan hukum berdasarkan data yuridis dan data fisik
c) Penanganan kasus pertanahan
- penelitian/ pengolahan data pengaduan
- penelitian lapangan
- penyelenggaraan gelar kasus
- penyusunan risalah pengolahan data
- penyiapan berita acara
- monitoring dan evaluasi terhadap hasil penanganan sengketa
2). Camat maupun lurah sebagai mediator.
Dalam penyelesaian sengketa tanah di wilayah masing-masing, bertindak
selaku mediator adalah lurah/camat. Di Nagori Sait Buttu Saribu, sebuah
desa di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun, terdapat
beberapa sengketa tanah (termasuk menyangkut hak atas tanah adat) yang
diselesaikan menurut musyawarah mufakat, bahkan ada kasus yang sudah
diputuskan PN Simalungun diselesaikan kembali secara musyawarah
mufakat dan Camat Kecamatan Pematang Sidamanik telah menyelesaikan

Universitas Sumatera Utara

Sengketa Tanah di Kelurahan/Nagori Sipolha Horison (ibukota


kecamatan), menurut Hukum Adat Simalungun yang harus melibatkan
pengetua adat.
b. Penyelesaian Sengketa melalui Pengadilan
Beberapa sengketa tanah yang terjadi di Kabupaten Simalungun melibatkan
masyarakat (adat) versus masyarakat (adat) seperti kasus yang terjadi di Desa
Bangun Dolok Kelurahan Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon
Kabupaten Simalungun, masyarakat (adat) versus Perusahaan Perkebunan
(kasus sengketa tanah Silampuyang), masyarakat versus Perusahaan
Perkebunan dan Pemerintahan (Sengketa Pertanahan Bandar Betsy),
masyarakat dengan Pemerintah (Kasus Tanjung Pinggir). Meskipun sudah
ada putusan Mahkamah Agung (Seperti dalam kasus di Kelurahan Parapat)
namun eksekusinya dalam praktek tidak dapat dilaksanakan.
B. Saran
1. a. Mengenai status hukum Hak Atas Tanah Adat di kabupaten Simalungun
yang masih eksis, hendaknya keberadaannya dipertahankan oleh huta
maupun marga, oleh karenanya perlu dibentuk Pusat Kajian Simalungun,
sebagai wadah/forum untuk berdiskusi secara ilmiah maupun non-ilmiah,
mengumpulkan data (buku, jurnal, laporan, dan lain-lain tentang historis
Simalungun yang selama ini berserak-serak). Badan ini terdiri dari
stakeholder yaitu unsur Pemerintah (Pemerintah Kabupaten Simalungun),
DPRD, Perguruan Tinggi (Akademisi), Masyarakat Adat Setempat, Pengetua
Adat (Pangatua, keturunan raja Marpitu), LSM Pemerhati Rakyat, dan unsurunsur yang terkait, yang bersifat independen sebagai penengah (partongah)
atau semacam arbitrary council (dewan penengah) yang juga berfungsi
menengahi semua persoalan mengenai tanah di Simalungun, seperti antara
rakyat pedesaan dan pihak perkebunan, dan lain-lain.
b. Mengenai kritikan tentang status Hak Atas Tanah Adat dalam Sistem Hukum
Pertanahan Nasional (UU Sektoral tentang Sumber Daya Agraria) maka
dalam beberapa putusan Mahkamah Agung, asas rechtverwerking ditetapkan,
namun dalam realitas hukum umumnya diperlakukan secara fakultatief oleh
hakim dalam proses peradilan. dengan demikian, untuk mengatasi kepastian
hukum sebagai konsekuensi penggunaan sistem negatif, maka lembaga
rechtverwerking perlu disertai title insurance sehingga suatu sistem asuransi
pendaftaran hak, mampu memenuhi rasa keadilan dengan menyelaraskan
kepentingan pemilik tanah terdaftar dengan pemilik tanah sebenarnya.
2. Setelah mengetahui tentang faktor-faktor penyebab sengketa Hak Atas Tanah
Adat di kabupaten Simalungun, maka perlu :
Membentuk peraturan daerah tentang Hak Ulayat (hak partuanon) di
Kabupaten Simalungun sekaligus
a. Melakukan perubahan kebijakan dan hukum positif (Law Reform) tentang
pengelolaan sumber daya alam yang lebih mengakomodir kelembagaan dan

Universitas Sumatera Utara

hukum masyarakat adat, sehingga diharapkan akan lahirlah hukum yang


substansinya menyentuh legal emphaty masyarakat setempat
b. Bahwa perlu meninjau kembali hukum lokal serta memposisikannya sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi petani
3. Untuk mengusahakan penciptaan infrastruktur produksi pengetahuan yang
dapat membantu memahami kondisi struktur agraria, sengketa agraria,
kerusakan lingkungan yang terjadi. Juga memahami pengetahuan dan
manajemen kelola sumber daya alam oleh masyarakat, maka perlu usaha dari
para akademisi dan peneliti, pemikir yang berada di Perguruan Tinggi,
lembaga-lembaga penelitian maupun organisasi non- pemerintah. Sulit
dibayangkan suatu desain pelaksanaan reforma agraria itu tanpa adanya
pengetahuan interdisipliner yang seharusnya dimiliki oleh semaua pihak dan
tanpa kelompok intelektual yang berpihak pada kaum miskin (pro-poor
critical mass).
4. Dalam upaya menyelesaikan sengketa Hak Atas Tanah Adat di kabupaten
Simalungun, perlu :
a. Mengambil langkah dan tindakan nyata untuk menghentikan segala
bentuk penggusuran yang menghancurkan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat.
b. Berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan di
Kabupaten Simalungun yang sampai saat ini tidak pernah selesai, maka
disarankan pada Pemerintah untuk melakukan reformasi agraria, salah
satunya sesuai dengan Sila II (Kemanusiaan yang adil dan beradab) dan
IV (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratanp/perwakilan) Pancasila, perlu diterbitkan undangundang tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat
(yang memang sudah dirancangkan/ RUU oleh Badan Legislatif maupun
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Abdurrahman, Kedudukan Hukum Adat Dalam Perundang-undangan Agraria di
Indonesia, Jakarta : Akademika Pressindo, 1994.
Ali, M.Chaidir dan P.Purbacaraka Disiplin Ilmu Hukum, Bandung: P.T Citra Aditya,
1990,
Anthony Reid, The Blood of the people: Revolution and the end of traditional rule in
Northern Sumatera, (Kuala Lumpur: Oxpord University Press. 1979).
Anderson, John, Mission to the East Cost of Sumatera, Kuala Lumpur: Oxford in
Asia, 1971.
Aun, Wu Min, The Malaysian Legal System, Malaysia : Selangor Darul Eksan, 1990.
Austin, John, The Province of Yurisprudence Determined and uses of the study of
Yurisprudence, 3rd, London : Weidenfeld and Nicholson, 1968.
___________, Lecture on Yurisprudence or the fhilosophy of positive law, London:
John Murray, 1875.
Bachriadi, Dianto, Sengketa Agraria dan Perlunya Menegakkan Lembaga Peradilan
yang Independen, dalam Usulan Revisi UUPA, Jakarta : KPHN-KPA, 1998.
Barus, Utari Maharani, Penerapan Hukum Perjanjian Islam Bersama-Sama Dengan
Hukum Perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH
Perdata) Studi Mengenai Akad Pembiayaan Antara Bank Syariah dan
Nasabahnya di Indonesia, Medan: SPS.USU,2006.
Basuki, Sunaryo, Diktat Hukum Agraria, Jilid 1, Jakarta : Universitas Indonesia,
2005.
Bekker, J.C, JMT Labuschagne, LP Vorster, Introduction to legal Pluralism in South
Africa, London: Butter Worths,2003.
Bertalanffly, Ludwig Van, General System Theory, New York : Braziller, 1972.
Black, Henry Campbell, Blacks Law Dictionary, A Bridged Sixt Edition, St. Paul
Minn : West Publishing, 1991.
Bruggink, Refleksi tentang Hukum, Terjemahan B. Arief Sidharta, Bandung: Citra
Aditya Bakti, cetakan ketiga, 1996.

Universitas Sumatera Utara

Damanik, Djariaman, Berpikir Multidisiplin Belajar dari Sejarah, [s.l] : [s.n], 2006.
Damanik, Jahutar, Jalannya Hukum Adat Simalungun, Medan: PD Aslan, 1974.
Danusaputro,St.Munadjat, Hukum Lingkungan Buku V: Sektoral jilid 5 (Dalam
Pencemaran Lingkungan) Melandasi Sistem Hukum Pencemaran, Bandung:
Bina Cipta, cetakan kelima,1986.
Edwin, Emoisse, Landreform in China and North Vietnam, London : The University
of North Carolina Press, 1983.
Emirzon, Joni. Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Negosiasi;
Mediasi; Konsiliasi dan Arbitrase, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama,
2001.
Enthoven, Het Adatrecht der Inlanders iin de Jurisprudentie, Bandung: [s.n], 1935.
Faucault, Michael, What is an author ? Textual Strategies : Perspectives in Post
Structuralis Criticsm, London : Methuen, 1979.
Felzer,J.Karl, Sengketa Agraria Pengusaha
Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1991.

Perkebunan

Melawan

Petani,

Friedmann, Legal Theory, New York : Columbia University, 1967.


, American Law, New York : W.W Norton and Company, 1984.
Groeneveltd (ed) W.P, Historical Notes on Indonesia and Malay: Complied from
Chinese Sources, Jakarta: Bharata, 1960.
Halim, Ridwan, Purnadi Purbacaraka, Sendi-Sendi Hukum Agraria, Jakarta:Ghalia
Indonesia, 1985.
Harsono,

Boedi, Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional dalam


Hubungannya dengan TAP MPR RI No. IX/MPR/2001, Jakarta:Universitas
Trisakti,2002.

____________, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang-Undang


Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta : Djambatan, 2003.
Harsono, Soni, Pokok-pokok Kebijaksanaan Bidang Pertanahan dalam Pembangunan
Nasional, Analisis CSIS, [s.l] : [s.n], [s.a].

Universitas Sumatera Utara

Hart, HLA, The Concept of Law, Oxford : Clarendon Press, 1961.


Hartkamp, Arthur (ed.), Towards an European Civil Code London: Kluwer Law
International, 1998.
Hartono, Sunaryati, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, (Bandung:
Alumni,1991.
Hazairin, Demokrasi Pancasila, Jakarta: Tinta Mas, 1970.
Holleman, F.D, Het Adatrecht van de Afdelling Tulungagung, Batavia : Buitenzorg,
1927.
Huan, Ma, Ying Yai Shen-Lan : The Overall Survey Of the Ocean Shores, 1433,
Cambridge:Hakluyt Society, 1970.
Hujibers, Theo, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, Jakarta : Kanisius, 1990.
Hutagalung, Arie Soekanti, Konsepsi yang mendasari Penyempurnaan Hukum Tanah
Nasional (Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Hukum Agraria
FH UI), Depok : FH UI Press, 2003.
______________________, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah,
Jakarta:LPHI, 2005.
_______________, Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan, Jakarta :
Rajawali Pers, 2008.
_______________, Pergulatan Pemikiran dan Aneka Gagasan Seputar Hukum Tanah
Nasional (Suatu Pendekatan Multidisipliner), Jakarta: Badan Penerbit FH
UI, 2011.
Ihromi, Tapi Omas, Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1993.
Ikhsan, Edy, Pergeseran Hak Tanah Komunal dalam Pluralisme Hukum dalam
Perspektif Socio Legal, disertasi, Medan : FH-USU, 2013.
Irianto, Sulystyowati, Perempuan Diantara Berbagai Pilihan Hukum (Studi mengenai
strategi perempuan Batak Toba untuk mendapatkan akses kepada harta
warisan melalui proses penyelesaian sengketa), disertasi, Jakarta : Yayasan
Obor Indonesia, 2003.

Universitas Sumatera Utara

Jansen, Arlin Dietrich, Gonrang Simalungun : Struktur dan Fungsinya dalam


Masyarakat Simalungun, Medan : Bina Media, 2003.
Joustra, Mivan Medan Naar Padang En Terugi, Leiden: S.C van Doesburq, 1915
Jubileum, Panitia, Buku Sejarah HKBP Pematangsiantar, Pesta Jubileum 75 Taon 29
September 1907 29 September 1982, Pematangsiantar:Grafina, 1982.
Kalo, Syafruddin, Masyarakat dan Perkebunan : Studi Mengenai Sengketa
Pertanahan Antara Masyarakat Versus PTPN-II dan PTPN-III di Sumatera
Utara, disertasi, Medan : PPS USU, 2003.
Kamello, Tan, Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia : Suatu Kajian Terhadap
Pelaksanaan Jaminan Fidusia dalam Putusan Pengadilan di Sumatera Utara,
disertasi, Medan : PPS-USU. 2002.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional, Balai Pustaka, 2007.
Kartidihardjo, Harijadi dkk, Azis Khan (Pengelolaan Sumber Daya Alam : Ruang
Kompromi dan Harmonisasi Kepentingan Ekonomi, Sosial dan Lingkungan
Dibawah satu Payung Pengelolaan Sumber Daya Alam), Jakarta: Suara
Bebas, cet.I edisi revisi, 2005.
Komisi

Nasional Hak Asasi Manusia, Sandra Moniaga : Hak Asasi


Manusia:Tanggung Jawab Negara, Peran Institusi Nasional & Masyarakat
Jakarta : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 1998.

Koesnoe, Catatan-Catatan terhadap Hukum Adat dewasa ini, Surabaya : Airlangga


University Press, 1979.
___________, Prinsip-prinsp Hukum Adat tentang Tanah, Surabaya : Penerbit
Ubraha Press, 2000.
___________, Kapita Selekta Hukum Adat Suatu Pemikiran Baru, Jakarta : Varia
Peradilan Ikatan Hakim Indonesia, 2002
Koeswahyono, Imam, Muchsin dan Soimin, Hukum Agraria Dalam Perspektif
Sejarah, Bandung : Refika Aditama, 2007.
Lapera, Tim, Otonomi Pemberian Negara : Kajian Kritis atas Kebijakan Otonomi
Daerah, Yogyakarta : Lapera Pustaka Umum, cet I, 2001.

Universitas Sumatera Utara

Laturette, Adonia Ivonne, Hak Ulayat Dalam Hukum Tanah Nasional, disertasi,
Surabaya : Universitas Airlangga, 2011.
Liddle, R. William, Ethnicity, Party and National Integration : an Indonesian Case
Study, USA : Yale University Press, 1970.
Liliweri, Alo, Prasangka & Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat
Multikultur, Yogyakarta : Lkis, 2005.
Limbong, Bernhard, Konflik Pertanahan, Jakarta Selatan: Margaretha Pustaka, 2012.
Loeb, M, Edwin, Sumatera: Its History and People, Singapore: Oxford University,
1935.
Lubis, Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung : Mandar Maju, 1994.
Lukito, Ratno, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler, Studi tentang Konflik dan
Resolusi dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta : Putaka Alvabet, 2008.
Mamudji, Sri dan Soerjono, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta : Rajawali Pers, 1990.
Marbun, H. Barita DjujurTaon, Laporan Tahunan (1946-1960), (Dologsanggul,
Humbang, Banabur, Asahan, Deli Serdang, Medan, Atjeh dan Medan
Timur, Medan : LP Universitas HKBP Nomensen, 1990.
Marsden, William, History of Sumatera, Kuala Lumpur : Oxford University of Press,
1966.
Mertokusumo, Sudikno II, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta :
Liberty, 1981.
Mertokusumo, Sudikno I, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty,
1996a, 2002.
Mirwati, Yulia, Konflik-Konflik Mengenai Tanah Ulayat Dalam Era Reformasi di
Daerah Sumatera Barat, disertasi, Medan: PPS USU, 2002
Moniaga, Sandra dan Stephanus Djuweng, Kebudayaan dan Manusia yang Majemuk,
Apakah Masih Punya Tempat di Indonesia? Kata Pengantar Konvensi
Internasional Labour Organization sebagai mengenai Bangsa Pribumi dan

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat Adat di Negara-negara Berkembang, Jakarta : ELSAM dan


IBBI, 1994.
Moniaga, Sandra, dkk, Ada dalam Politik Indonesia, Arianto Sangaji : Kritik
terhadap Gerakan Masyarakat Adat di Indonesia, dalam Jamie. S. Davidson,
dkk, Jakarta : KITLV, YOI, 2010.

Moore Sally Falk, Hukum dan Perubahan Sosial, terjemahan Sulystyowati Irianto
dkk, dalam T. O Ihromi (Ed), Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai,
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1993.
Muadi, Sholih, Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Perkebunan, Jakarta :
Prestasi Pustaka Publisher, 2010.
Muqoddas, Moh. Busyro, Politik Pembangunan Hukum Nasional, Yogyakarta : UII
Press, 1992.
Murad, Rusmadi, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah, Bandung : Alumni,
1991.
__________, Administrasi Pertanahan Pelaksanaan Dalam Praktek, Bandung:
Mandar Maju, 1997.
__________, Menyingkap Tabir Masalah Pertanahan, Bandung : Mandar Maju, 2007.
Muttaqien, Andi, dkk, Wajah Baru, Suhariningsih : Analisis Hukum Mengenai
Eksistensi Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.
Narbuko, Cholid, H. Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara,
2002.
Nurjaya, Nyoman F Nurhasan Ismail, Wajah Baru UU Perkebunan:Agrarische Wet,
Jakarta Selatan :ELSAM, Sawit Watch-Pilnet, 2012.
Panggabean, P. Pemberdayaan Hak MAHUDAT (Masyarakat Hukum Adat)
Mendukung Kegiatan Otonomi Daerah, Jakarta : Permata Aksara, 2011.
Pakpahan, Moshedayan, Tanah Adat di Daerah-Daerah Indonesia, Jakarta: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Badan Pertanahan Nasional, 1998.
Parlindungan, AP, Kapita Selekta Hukum Agraria, Bandung : Alumni, 1981.

Universitas Sumatera Utara

______________, Komentar atas UUPA, Bandung: Mandar Maju, 1991.


Paton, George Whitecross, A Textbook of Jurisprudence, Oxford : University Press,
1969.
Pelzer, Kant, Planters and Peasent, Colonial Policy and The Agration Stuggle in East
Sumatera 1863-1947, (is Gravenhage-Martinus Nijhoff, 1978).
___________, Planters Against Peasonts The Agrarian Struggle in East Sumatera
1947-1959, (Sengketa Agraria, Penguasa Perkebunan Melawan Petani,
Terjemahan Bosco Carvallo, Jakarta: Sinar Harapan, 1991.
Perangin-angin, Effendi, Hukum Agraria Indonesia Suatu Telaah Dari Sudut Pandang
Praktisi Hukum, Jakarta : Rajawali, 1989.
Pires, Tome, The Summa Oriental of Tomme Pires, An account of the East from the
Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515, Germany :
Lessing Druck Erij, 1935.
Poerba, J.D dan Kenan Purba, Sejarah Simalungun, Jakarta:Bina Budaya
Simalungun, 1995.
Purba, Elvis F. & O.H.S. Purba, Migran Batak Toba, di luar Tapanuli Utara Suatu
Deskripsi, Medan : CV Monora, 1998.
Purba, MD, Museum Simalungun, [(s.l) : (s.n), 1978].
Purba, Rehngena, Spirit Hukum, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000.
Rahim & M.Yamin, Beberapa Masalah Aktual Hukum Agraria, Medan : Pustaka
Bangsa Press, 2004.
Rajagukguk, Erman, Hukum dan Masyarakat, Jakarta : Bina Aksara, 1983.
Rangkuti, Siti Sundari, Hukum Lingkungan dan Kebijakan Lingkungan Nasional,
Surabaya: Airlangga University Press, 1996.
Rasuanto, Bur, Keadilan Sosial (Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas),
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Reid, Anthony, The Blood of The People : Revolution and the end of Traditional
Rule in North Sumatera, Kuala Lumpur : Oxpord University Press, 1979.

Universitas Sumatera Utara

_____________, Witnessess to Sumatera: A Travelers Anthology, Kuala Lumpur:


Oxford University, 1995.
Riyanto dan Eggi Sudjana, Penegakan Hukum Lingkungan dalam Perspektif Etika
Bisnis di Indonesia, cetakan pertama, Jakarta : Gramedia Pustaka Umum,
1999.
Ruchiyat, Eddy, Politik Pertanahan Nasional Sampai Orde Baru, Bandung : Alumni,
1999.
Runtung, Keberhasilan dan Kegagalan Penyelesaian Sengketa Alternatif: Studi
Mengenai Masyarakat Perkotaan Batak Karo di Kabanjahe dan Brastagi,
disertasi, Medan: PPS USU,2002.
Salim, HS, Hukum Pertambangan di Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo, 2005.
Samuel, Geoffrey, The Foundation of Legal Reasoning, SA, Vormgevers: Tilburg,
1994.
Sangti, Batara, Sejarah Batak, Balige : Kant Sianipar Company, 1977.
Saragih, Bintan, dan Moh. Kusnardi, Ilmu Negara, Jakarta : Gaya Media Pratama,
2000.
Saragih, J.E, Pustaka Laklak Museum Simalungun No. 252, Jakarta : Proyek
Pengembangan Media Kebudayaan Departemen P & K, 1981.
Saragih, Sortaman, Orang Simalungun, Jakarta : Citama Vigora, 2007.
Syarief, Elza, Menuntaskan Sengketa Tanah Melalui Pengadilan Khusus Pertanahan,
Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.
Sembiring, N.Sulaiman dan Mas Achmad Sentosa, Pengadilan Masyarakat dan
Penyelesaian Sengketa Lingkungan, Jakarta:ICEL,1997.
Sembiring, Rosnidar, Keberadaan Hak Ulayat di Kabupaten Simalungun, Medan:
Pustaka Bangsa Press, 2011.
Setiady, Tholib, Intisari Hukum Adat Indonesia, Bandung : Alfabeta, 2008.
Sihombing, B. F, Evolusi Kebijakan Pertahanan dalam Hukum Tanah Indonesia,
Jakarta : PT Toko Gunung Agung Tbk, 2005.

Universitas Sumatera Utara

Sihombing, PTP Seratus Taon Huria Kristen Batak Protestan, Medan : Philemon &
Liberty, 1961.
Simalungun Dalam Angka, Pematangsiantar : Badan Pusat Statistik Kabupaten
Simalungun dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Simalungun, 2010.
Simamora, Yogar Sogar, Prinsip Hukum Kontrak dalam Pengadaan Barang dan Jasa
oleh Pemerintah, disertasi, Surabaya : PPS Unair, 2001.
Simarmata, Rikardo, Pengakuan Hukum Terhadap Masyarakat Adat di Indonesia,
Jakarta : UNDP, 2006.
Sinaga, Martin Lukito, dan Juandaharaya Dasuha, Tole den Timorlanden das
Evanggelium, Sejarah 100 Tahun Injil di Simalungun, Pematangsiantar:
Kolportase GKPS, 2003.
Sitompul, A.A, Perintis Kekristenan di Sumatera Bagian Utara, Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 1986.
Sinaga, Martin Lukito, Identitas Postkolonial Gereja Suku Indonesia, Yogyakarta :
LKiS, 2006.
Slaats, Sejarah Hukum Agraria, [s.l] : [s.n], 1992.
Soedewo, Ery dan Claire Holt, Buletin Sangkakala, Medan : Arkeologi, 2005.
Soehino, Ilmu Negara, Yogyakarta : Liberty, 2000.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : UI Press, 1984, 1986.
Soemitro, Ronny Hanitjo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1990.
Soepomo, Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Hukum Adat, terjemahan HB
Jusrin, Jakarta : Gita Karya, 1963.
Soeromihardjo, Soedjarwo, Mengkritisi Undang-undang Pokok Agraria, Meretas
Jalan Menuju Penataan Kembali Politik Agraria Nasional, Jakarta : Cerdas
Pustaka, 2009.

Universitas Sumatera Utara

Soetiknjo, Imam, Undang-undang Pokok Agraria Sekelumit Sejarah Departemen


Dalam Negeri, Jakarta : Dirjend Agraria, 1985.
__________, Politik Hukum Agraria Nasional, Yogyakarta : Gajah Mada University
Press, 1994.
Subadi, Pengusaan dan Penggunaan Tanah Kawasan Hutan, Jakarta : PT Prestasi
Pustakarya, 2010.
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta : Intermasa, 2001.
Sudiyat, Iman, Asas-Asas Hukum Adat, Bekal Pengantar, Yoyakarta: Liberty, 1991.
Sudrajat, Nandang, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia menurut Hukum,
Yogyakarta : Pusaka Yustisia, 2010.
Sumardjono, Maria S.W, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Yogyakarta :
Universitas Gajahmada, 1989.
, Kebijakan Pertahanan antara Regulasi dan Implementasi, Jakarta:
Kompas, 2001.
___________, Transitional Justice atas Hak Sumber Daya Alam, dalam Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia: Keadilan dalam Masa Transisi, Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta: Komnas HAM, 2001.
____________, Mediasi Sengketa Tanah, Jakarta: Kompas, 2008.
____________, Tanah dalam Persepektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, Jakarata:
Penerbit Buku kompas, 2009.
Sunarmi, Mengelola Kearifan Lokal Menuju Hukum Yang Berkeadilan dalam
Putusan Lembaga Adat, dalam Rehgena Purba, Spirit Hukum,
Jakarta:PT.Raja Grafindo, 2012.
Supriadi, Hukum Agraria, Jakarta : Sinar Grafika, 2007.
Supriatma, Slamet dan Mas Soebagio, Dasar-dasar Filsafat Suatu Pengantar ke
Filsafat Hukum, Jakarta, Akademika Pressindo, 1988.
Susan, Novri, Pengantar Sosiologi Konflik dan isu-isu Konflik Kontemporer, Jakarta
: Kencana Prenada Media Group, 2009.

Universitas Sumatera Utara

Suseno, Frans Magnis, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan


Modern, Jakarata: Gramedia, 1994.
Suteki, Rekonstruksi Politik Hukum Hak Atas Air Pro-rakyat, Semarang : Surya Pena
Gemilang Publishing, 2010.
Syahrani, Riduan, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Bandung : Citra Aditya Bakti,
1999.
Tamanaha, B. Z, Realistic Sosio Legal Theory: Pragmatizm and a Social Theory of
low, England: Clarendon Press Oxford University, 1999.
Tambak, TBA Purba, Sejarah Simalungun, Pematangsiantar : Danau Singkarak,
1982.
Thalib, Sajuti, Hubunngan Tanah Adat dengan Hukum Agraria di Minangkabau,
Padang: Bina Aksara,1985.
Tideman, Simaloengoen : Het Land der Timor-Bataks in zijn Vroeger Isolatieen zijn
outwikkeling tot eerdeel van het eulmurgebied van de Ostleurst van
Sumatera, Leiden : van Doesburg, 1922.
Tirtawinata, R dan M.M Djojodigoeno, Het Adatprivaatrecht van Middel-Java,
Bandung : Sukamiskin, 1940.
Titahelu, Ronald Zelfianus, Penetapan Asas-asas Hukum Umum dalam Penggunaan
Tanah untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat ( Suatu Kajian Filosofi
dan Teoritik Tentang Pengaturan dan Penggunaan Tanah di Indonesia ),
disertasi, Surabaya : PPS Unair, 1993.
Tjitrosudibio, R dan R.Subekti, Burgelijk Wetboek Cetakan ke-31, Jakarta:Pradnya
Paramita, 2001.
___________, Kamus Hukum, Jakarta: Pradnya Paramita, 1983.
Usman, Rachmadi, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2003.
Usulan Pelepasan eks HGU PTPN-III Kebun Bangun Kota Pematangsiantar, Pemko
Pematangsiantar, 2008.
Vollenhoven van, Het Adatrecht van Nederlandsh Indie, Jilid 1 Bagian I, Leiden: E. J
Brill,1904 1933.

Universitas Sumatera Utara

Vries, E. De, Masalah-masalah Petani Jawa, terjemahan Ny. P.S. Kusuma Sutjo,
Jakarta : Bhratara, 1972.
Wahid, Muchtar, Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah, Jakarta
Selatan : Republika, 2008.
Wahyono, Padmo, Bahan-bahan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila,
Jakarta : Aksara Baru, 1984.
Waluyo, Bambang, Penelitian Hukum dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, 1991.
Warman, Kurnia, Hukum Agraria Dalam Masyarakat Majemuk, Jakarta: KITLV,
2010.
Warsito, Happy, Hak-hak Keagrariaan Adat dalam Politik Hukum Agraria Indonesia
di Era Globalisasi, disertasi, Semarang: Universitas Diponegoro, 2005
William, Liddle. R, Ethnicity, Party and National Integration, An Indonesian Case
Study, New Heaven, Yale University Press, 1970.
Wiradi, G, Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria, dalam Sediono. M. P.
Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (penyunting), Dua Abad Penguasaan
Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari masa ke masa,
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, PT. Gramedia1984.
Wiradi, Gunawan, Reforma Agraria, Perjalanan yang Belum Berakhir, Yogyakarta :
Insist Press, KPA dan Pustaka Pelajar, 2001.
Woodman, Gordon. R and Stardford w.Moorse, Indigeneous Law and Strate,
Dordrecht Holland: Faris Publications, 1987.
___________(ed) dan Antony Allot, Peoples Law and State Law, The Bellagio
Papers, Dordrecht:Faris Publication, 1990.
Yamin, M. Perkembangan Hukum Adat di Indonesia: studi mengenai refleksi gadai
tanah di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, disertasi, Medan:
PPS.USU, 2002.
Yuanzhi, Kong, Cheng Ho Muslim Tiong Hoa: Misteri Perjalanan Muhibah di
Nusantara, Jakarta: Obor, 2007.

Universitas Sumatera Utara

Yusriadi, Industrialisasi & Perubahan Fungsi Sosial Hak Milik Atas Tanah,
Yogyakarta : Genta Publishing, 2010.

Undang-undang :
Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria
Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional
(Propenas) Tahun 2000-2004
Undang-undang No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan.
Undang-undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Undang-undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan
Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
Undang-undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (PMNA) No.5
Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum
Adat.

Universitas Sumatera Utara

TAP MPR No. IX/MPR/2001 Tentang Pembaharuan Hukum Agraria dan


Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun No. 10 Tahun 2000 Tentang Pembentukan,
Penghapusan, dan Penggabungan Nagori di Kabupaten Simalungun.
Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun No. 18 Tahun 2000 Tentang Peraturan
Nagori di Kabupaten Simalungun.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.12 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan
dan
Pendayagunaan Data Profil Desa dan Kelurahan, Depdagri Dirjend
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tahun 2011

Jurnal :
Bachriadi, Jurnal Penelitian, Dinamika Petani No. 35 Tahun Edisi Juli-Agustus 1999,
PSDAL LP3ES.
Burns, Peter, The myth of adat ,Journal of Legal Pluralism Leiden: KITLV Press,
1989.
Fitzpatrick, Daniel Disputes and pluralism in modern Indonesian land law, Yale
Journal of International Law, Sydney The Federation Press, 1997.
Kleinhans, Roderick A. Macdonald, Martha-Marier, What is a Critical Legal
Pluralism, Canadian Journal of Law and Society, vol 12 no.2/ 1997.
Mahkamah Agung Republik Indonesia, Himpunan Kaedah Hukum Ratusan Perkara
Dalam Yurisprudensi MARI 1969-2001, Jakarta : MARI, 2002.
Marzuki, Peter Mahmud, Batas-batas Kebebasan Berkontrak, Majalah YURIDIKAL,
Vol.18, No.3, Surabaya : FH Unair.
Pandiangan, Sichmen, Bentuk-bentuk Perlawanan Petani Terhadap Negara, jurnal
Pemberdayaan Komunitas, Volume 5 no.3
Purba, Rehgena, Hukum Adat Dalam Yurisprudensi, Majalah Hukum Nasional
No.2 Tahun 2006,ISSN 0126-0227, Jakarta : BPHN, 2006.
Sangkakala, Buletin, Penyelesaian Sengketa Tanah, Medan: Balai Arkeologi, 2005.
Simmel, George, The Sociology of Conflict, America : Journal of Sociology, 1903.

Universitas Sumatera Utara

Soedewo, Ery dan Claire Holt, Fort Of Nagur, Buletin Sangkakala, Medan : Balai
Arkeologi, 2005.
Sumardjono, Maria S.W, Arti Strategis Pembaruan Agraria, sebagai landasan
pembangunan, makalah pada seminar dan lokakarya nasional Pengelolaan SDA
berkelanjutan yang ramah lingkungan dan Pembaruan Agraria untuk keadilan dan
kemakmuran rakyat, Bandung: ITB-UNPAD, tanggal 14-16 September 2001.
The Myth of Adat, 28 Journal of Legal Pluralism.
Wibowo, Basuki Rekso, Studi beberapa Modul Alternatif Penyelesaian Sengketa
Bisnis, Majalah Hukum
Yazid, T. M Luthfi, Penyelesaian Sengketa melalui ADR, Jurnal Hukum Lingkugan
Tahun III No. 1/ 1996. Pro Justitia, Tahun xiv, No.4 Oktober 1996.
Makalah :
Amanullah, Muhammad, Approaches To Methodology of Harmonisation: Principles
to Be Followed in Harmonisation of Shariah and Man-Made Law, International
Conference on Harmonisation of Shariah and Civil Law 2, Kuala Lumpur 29-30 juni
2005.
Bachriadi, Dianto, Sengketa Agraria dan Perlunya Menegakkan Lembaga Peradilan
yang Independen, Kertas Posisi KPA No.02,1998.
Badan Pertanahan Nasional, Kakanwil, Provsu, Mengungkap Permasalahan
Pertanahan di Provsu, makalah pada kuliah Bedah Kasus Fakultas Hukum
Universitas Panca Budi Medan, 27 Juni 2003.
________________, Sengketa Pertanahan dan Upaya Penyelesaiannya di Provsu,
makalah yang disampaikan kepada Kepala BPN RI pada saat kunjungan kerja ke
Sumatera Utara, 12 November 2006.
________________, Seminar Hukum Konflik Pertanahan di Sumatera Utara, DPC
IKADIN, Medan, Balai Raya Tiara Convention Hall, 21 April 2012
Bari, Abdul Aziz, Harmonization of Laws:A Survey of The Issues, Approaches and
Methodology Involved, International Confreence of Harmonisation of Shariah and
Civil Law 2, International Islamic University Malyasia, Kuala Lumpur, 29-30 June
2005.

Universitas Sumatera Utara

Dillon, H.S., Pembaruan Agraria sebagai alat demokrasi HAM, keadilan di Indonesia,
makalah pada semiloka Pelaksanaan Pembaruan Agraria dan pengelolaan SDA yang
adil dan berkelanjutan Bandung, 2001, hal.4., 14-16 September.
Diskusi Publik tentang Masyarakat Adat, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
bekerjasama dengan FH Universitas Dharma Agung, Hermina Hall, 11 Desember
2012.
Hadi, Hasbullah, Penanganan Masalah Pertanahan di Provinsi Sumatera Utara,
makalah, Dialog Publik Hukum Pertanahan di FH USU, 24 September 2011.
Harkrisnowo, Harkristuti, Paradigma Peningkatan Daya Saing dalam Kerangka Good
Government, makalah disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan
Tingkat II Angkata III yang disampaikan oleh Lembaga Administrasi Negara di
Jakarta, 2 Oktober 2009.
Harsono, Boedi, Sengketa Tanah Dewasa Ini, Akar Permasalahan dan
Penanggulangannya, makalah disajikan dalam seminar nasional : sengketa tanah,
permasalahan dan penyelesaiaanny di Jakarta 20 Agustus 2003.
Hermansyah, Permohonan Pengujian UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
terhadap UUD RI tahun 1945 pada Mahkamah Konstitusi RI, 26 Mei 2011.
Inayatullah, Landreform, APDAC Publication, Kuala Lumpur, 1980.
Kamali, Mohammad Hashim. Shariah and Civil law, International Conference on
Harmonisation of Shariah and Civil law, Kuala Lumpur 20-21 oktober 2003.

Martin, Boodman, The myth of Harmonization of Laws, Canadian Report on The


Subjektof Harmonization of Private Law Rules Between Comman and Civil Law
Jurisdictions Presented to the XIIIth International Congress Comparative Law,
Montreal Canada, August, 1990.
Panggabean, H.P, Inkonsistensi UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Minerba Khususnya
dalam hal pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat, seminar, 6 Agustus 2012,
Hermina Hall Darma Agung Medan.
Rahmadi, Takdir, Mekanisme Alternatif Penyelesaian Sengketa Dalam Konteks
Masyarakat Indonesia Masa kini, Seminar Sehari Alternatif Penyelesaian Sengketa
dalam kasus-kasus tanah, perburuhan, dan lingkungan, Studi dan Advokasi
Masyarakat bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Pusat IKADIN, Jakarta, 11
Agustus 1994.

Universitas Sumatera Utara

Rahman, Noer Fauzi, Masyarakat Adat dan Perjuangan Tanah Airnya, makalah,
kongres AMAN IV, 19 April 2012, Tobello Halmahera Utara.
Saptomo, Ade, Dibalik Sertifikasi Hak Atas Tanah Dalam Perspektif Pluralisme
Hukum, Padang : Universitas Andalas, 2010.
Sembiring, Rosnidar, Eksistensi Masyarakat Hukum Adat, Seminar, 11 Desember
2012, Hermina Hall Darma Agung Medan.
_________________, Keberadaan Hak Partuanon bagi Etnis Masyarakat
Simalungun, Makalah pada Seminar Menguak Hak Ulayat Simalugun, 15 Desember
2012, Yayasan Pelpem GKPS dan Fakultas Hukum Universitas Simalungun.
Seminar Hukum : Konflik Pertanahan di Sumatera Utara, Balai Raya Tiara
Convention Hall, Medan, 21 April 2012.
Sinaga, Syamsudin Manan, Tanggung Jawab Pemerintah Terhadap Hak-hak
Masyarakat Hukum Adat Simalungun, Makalah pada Seminar Menguak Hak Ulayat
Simalugun, 15 Desember 2012, Yayasan Pelpem GKPS dan Fakultas Hukum
Universitas Simalungun.
Sodiki Achmad, 40 Tahun Masalah Dasar Hukum Agraria, Pidato Penyuluhan, 17
Juni 2000.
_____________, Putusan MK yang berkenaan dengan Sumber Agraria, Seminar dan
Lokakarya Nasional, Konflik Perkebunan : Mencari solusi yang berkeadilan dan
mensejahterakan rakyat kecil, Malang : Universitas Brawijaya, 24-25 Mei 2012.
_____________, Kebijakan Pertanahan dalam Penataan Hak Guna Usaha untuk
sebesar-besar Kemakmuran Rakyat, makalah, Fokus Grup UKP-PPP, 28 Februari
2012.
Soesangobeng, Herman, Kontekstualisasi Filosofi Adat Tentang Tanah dan
Penerapannya setelah UU No.5 tahun 1960 serta Advokasi Pertanahan di Indonesia,
Bandung : Akatiga, 21 Februari 1998.
Sumardjono, Maria SW, Kebijakan Pertanahan antara Regulasi dan Implementasi,
Jakarta: Kompas 2001.
, Arti Strategis Pembaruan Agraria, sebagai landasan pembangunan,
makalah pada seminar dan workshop nasional. Pengelolaan SDA berkelanjutan yang
ramah banyak dan pembaruan agar untuk keadilan dan kemakmuran rakyat, Bandung
: ITB-UNPAD, 14-16 September

Universitas Sumatera Utara

____________, Menggagas ulang Penyempurnaan UUPA sebagai Pelaksanaan TAP


MPR RI No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya
Alam, Yogyakarta, 21 September.
____________, Harmonisasi Kedudukan Hak Ulayat Dalam Peraturan Perundangan
di Indonesia, Makalah, Materi Kuliah Hukum Sumber Daya Alam.
Titahelu, Ronald. Z, Azas-azas Penguasaan Tanah Ulayat Dalam Sistem Hukum
Nasional, Naskah Akademik Perda Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku
Utara, 2008.
Yuliadi, Shodiq Tri, Hukum Tanah dan Tata Guna Tanah, Hak Milik Atas Tanah,
Purwokerto : Universitas Muhammadiyah, 2010.
Yamin, M, Model Kebijakan Penyelesaian Konflik Tanah, 26 Juni 2012
Internet:
www.ilpf.org/events/jurisdiction/presentations/clifpr.htm. UNCITRAL and The
Goal of Harmonization of law, diakses tanggal 2 agustus.and the Goal of
Harmonization of Law.diakses tanggal 2 agustus 2005.
file:///C:/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/Sengketa%20tana
h/2.913.Sengketa.Tanah.Menunggu.Penyelesaian.htm, diakses tanggal 09 November
2010.
http : //d5er. wordpress.com/2010/12/21/perbedaan-sengketa-konflik-dan-perkara/
http : //www.tekmira.esdm.go.id/ currentissues/?p=1759.
http : //www.pme-indonesia.com/ opinion/? ID=8>
http : // syabab.com/index.php? option = com_ concent & view = article & catid =
33% 3Aopini & id = 561% 3 AUU-mineral-dan-batubara-melanggengkan-sistemkeruk-cepat-dan-jual-murah-bahan-tambang-indonesia & itemid = 62>.
Putusan :
Putusan MA No.383K/Sip/1971.
Putusan No.37/PDT.G/2003/PN.SIM.

Universitas Sumatera Utara

Putusan MARI No. 2143 K/PDT/2005.


Yurisprudensi, 10 Januari 1985 No. 365, K/ Pdt/ 1984.
Putusan No.297/Pdt./2004/PT. MDN
Putusan PN Simalungun No. 26/PDT/2006.
Putusan PT No.264/PDT/2007.
Surat/Surat Kabar :
Analisa Medan, 23 Maret 2005, M.Yamin:Paradigma Reformasi Peraturan
Perundang-undangan Pertanahan/Agraria Penyelesaian Sengketa Pertanahan serta
kelembagaan.
Buku Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan dan
Pembinaan Kehidupan Masyarakat di Nagori Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pematang
Sidamanik Kabupaten Simalungun 2012.
SK Gouvernour deer Oostkust van Sumatera No. 273/B/E. 3 tanggal 30 Agustus
1928.
Surat Perjanjian tentang Perluasan awal perkampungan, 20 April 1955.
Surat PPN Karet IV Perkebunan Bandar Betsy tertanggal 04 Maret 1965.
Surat Menteri Negara/Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN
No.5-378/M.PM-328/M.PM-BUMN/2000, tanggal 23 Agustus 2000.
Kertas Posisi No.1/2010, ELSAM, Pelanggaran HAM di Kawasan Perkebunan
Kelapa Sawit PT PP Lonsum Tbk-Sumatera Utara.
Kompas, 24 September 2001, Maria S.W. Sumardjono, Penyempurnaan UUPA dan
Sinkronisasi.
Kompas, 19 Juni 2004.
Kompas, Pulihkan Hak Tanah Rakyat, 13 Januari 2012
Sinar Indonesia Baru, 15 Januari 1977.
Sinar Indonesia Baru, 13 Desember 2010.

Universitas Sumatera Utara

Kompas, 15 Desember 2007, Konsep Tanah Ulayat Dalam Suku Sakai tidak diakui
Negara kepemilikannya sebagai milik Komunitas Lokal.
Kompas, 18 September 2011, Acara Konsultasi AMAN di Lapangan Merdeka
Kecamatan Sabang, Kabupaten Luwu Utara, Sekitar 600 Km ke arah Utara Kota
Makassar.
Kompas, Senin, 19 September 2011, Mendesak Pendataan Tanah Adat.
Kompas, Jumat, 13 Januari 2012, Pulihkan Hak Tanah Rakyat.
Laporan Profil Desa, Desa Bangun Das Mariah, kecamatan Panei, kabupaten
Simalungun. Muhammad Yamin, Paradigma Reformasi Peraturan Perundangundangan Pertanahan/ Agraria, Penyelesaian Sengketa Pertanahan serta
Kelembagaan, opini, Analisa, 23 Maret 2005.
Waspada, 18 Januari 2005, Junaidi D.Kamal, Konflik Tanah Perkebunan Hambat
Investasi Sumut.
Waspada, 2 Oktober 2012, M.Yamin, Logika Agraria menuntaskan Persoalan Tanah.

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai