Anda di halaman 1dari 13

Maksud tazir di dalam syariat adalah memberi pelajaran bagi orang yang berdosa yang tidak ada

hukuman dan tidak ada kafarah (tentang dosa yang dilakukan)-nya.


Berkaitan dengan itu sesungguhnya maksiat ada tiga macam:
1. Jenis maksiat yang memiliki hukuman seperti zina dan mencuri. Hukuman adalah kafarah bagi
pelakunya.
2. Jenis maksiat yang memiliki kafarah dan tidak ada hukumannya seperti bersetubuh di siang hari
pada bulan Ramadhan.
3. Jenis maksiat yang hukumannya tidak ditentukan oleh syariat atau syariat menentukan batasan
hukuman bagi pelakunya tetapi syarat-syarat pelaksanaannya tidak diterangkan dengan sempurna,
misalnya menyetubuhi wanita selain farjinya, mencuri sesuatu yang tidak mewajibkan penegakan
hukuman potong tangan di dalamnya, wanita menyetubuhi wanita (lesbian) dan tuduhan selain
zina, maka wajib ditegakkan tazir pada kasus-kasus itu, tersebut dalam hadits:
Janganlah kamu mencambuk melebihi sepuluh kali cambukan kecuali dalam hukuman dari
hukuman-hukuman Allah Azza wa Jalla. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Tersebut di dalam suatu riwayat bahwa Umar bin Khathab radhiyallahu anhu mentazir dan
memberi pelajaran terhadap seseorang dengan mencukur rambut, mengasingkan dan memukul
pelakunya, pernah pula beliau radhiyallahu anhu membakar kedai-kedai penjual khamr dan
membakar suatu desa yang menjadi tenpat penjualan khamr. Tazir dalam perkara yang
disyariatkan adalah tazir yang wajib menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam
Ahmad rahimahumullah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan yang lainnya berpendapat bolehnya melakukan
tazir dengan membunuh, beliau rahimahullah menyatakan, Merupakan bagian dari prinsipprinsip madzhab Hanafy, sesungguhnya pelanggaran yang tidak memberikan konsekuensi hukuman
bunuh seperti membunuh dengan batu timbangan dan seorang laki-laki yang melakukan perbuatan
keji secara berulang-ulang, maka menurut mereka, seorang pemimpin (imam) berhak membunuh
pelakunya, seperti itu pula dia berhak menambah hukuman melebihi batas yang telah ditentukan
jika melihat adanya kebaikan (maslahat) di dalamnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bolehnya mentazir dengan harta, Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mentazir dengan menahan harta rampasan perang
dari orang yang berhak menerimanya, dikabarkan pula bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam
mentazir orang yang tidak menunaikan zakat dengan mengambil separuh hartanya. Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan
Nasai,

Apa yang diberikan oleh seseorang karena mencari pahala maka dia mendapatkan pahalanya, dan
barangsipa yang menahannya maka kami yang akan mengambilnya beserta separuh hartanya, hal
itu sebagai salah satu kewajiban dari Rabb kami.
Tazir dilakukan oleh seorang pemimpin (hakim), demikian pula bapak boleh melakukan terhadap
anaknya, tuan terhadap budaknya dan suami terhadap istrinya -dengan syarat mereka tidak
melakukannya dengan berlebih-lebihan. Dibolehkan menambah tazir untuk mencapai makrud
(dalam memberi pelajaran) atas suatu kesalahan. Tetapi jika menambah tazir bukan untuk tujuan
ini, berarti dia telah melampaui batas dan menimpakan hukuman yang menyebabkan binasanya
seseorang.
Ibnu Rajab rahimahullah menyampaikan pernyataan penting sehubungan dengan apa yang sedang
kita bahas. Beliau rahimahullah berkata, Disebutkan dalam riwayat Muslim,
Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang mewajibkan ditegakkannya hukuman, kemudian
hukuman itu ditegakkan atasnya, maka itu menjadi kafarah baginya.
Ini menunjukkan bahwa hukuman-hukuman itu merupakan kafarah. Syaby rahimahullah berkata,
Tidaklah saya mendengar tentang permasalahan ini -bahwa hukuman itu menjadi kafarah bagi
pelakunya- yang lebih baik dari hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu. Juga perkataannya:
Maka mereka dihukum dengan hukuman-hukuman yang syari yaitu hukuman-hukuman yang telah
ditetapkan ketentuannya atau tidak ditetapkan -seperti tazir- serta mencakup hukuman-hukuman
taqdir seperti berbagai musibah dan penyakit. Telah ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu
alaihi wasallam, bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Tidaklah seorang muslim tertimpa penyakit, musibah, kecemasan dan kesedihan sampaipun
sebuah duri yang menusuknya kecuali dengan sebab itu Allah Azza wa Jalla menghapuskan
kesalahan-kesalahannya.
Telah diriwayatkan dari Ali radhiyallahu anhu bahwa hukuman itu menjadi kafarat bagi orang
yang telah diberi hukuman. Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan perselisihan di antara kaum
muslimin dalam masalah ini, namun beliau rahimahullah menguatkan bahwa semata-mata dengan
ditegakkan hukuman (atas pelaku dosa) maka hal itu merupakan kafarah baginya, beliau
rahimahullah sangat melemahkan pendapat yang menyelisihi hal itu.
Wallahu alam bish-shawab.
Sumber: Kafarah Penghapus Dosa oleh Said Abdul Adhim (penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin bin
Subaidi), penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang. Hal. 73-76.

Taazir
Tazir

Tazir adalah salah satu hukum daripada hukum-hukum Allah. Tazir adalah satu undang-undang yang
Allah SWT berikan keistimewaan kepada pemimpin atau pemerintah Islam yang sah untuk berhukum
dengannya, bergantung kepada keperluan dan kemaslahatan.
Saya bawakan contoh judi. Judi Allah hina di dalam Al-Quran, Nabi SAW hina di dalam hadis. Bahkan di
dalam mana-mana agama lain, semua mengkritik dan mengutuk kaki-kaki judi. Tetapi di dalam Al-Quran
dan hadis sendiri tidak dinyatakan perlaksanaan hukuman tertentu ke atas kaki judi. Maka ia bergantung
kepada pemerintah. Kalau pemerintah melihat dalam negaranya mungkin hanya 1% yang bermain judi,
mungkin hukuman yang diberi tidak terlalu berat. Tetapi kalau dalam satu negara, 80% adalah kaki judi,
dia mungkin akan meletakkan hukuman yang berat.
Contoh lain adalah rasuah. Nabi SAW menyebut di dalam hadis,

Ertinya: Allah melaknat orang yang merasuah dan penerima rasuah dalam hukum. (riwayat Ahmad dan
lainnya)
Tetapi wujudkah hukuman tertentu yang Allah tetapkan bagi orang yang terlibat dalam rasuah? Tidak,
Nabi pun tidak pernah menyebutnya. Jadi hukuman yang tidak dinyatakan oleh Allah dan Rasul seperti
ini tidak boleh dikatakan hukum hudud, ia kembali kepada tazir, kembali kepada kecerdikan pemimpin
untuk menentukan kadar hukuman sesuai dengan keperluan.
Sebab itu kalau kita lihat dalam sebuah negara luar, ada yang mencadangkan sampai rasuah dikenakan
hukuman bunuh. Kalau kadar rasuah sangat membimbangkan, pelaksanaan hukuman rasuah yang berat
perlu dilaksanakan. Sebab itu keluarlah satu kaedah yang ulama sebut,

Tindakan pemerintah ke atas rakyat bergantung kepada kemaslahatan.


Contoh lain adalah money laundering. Duit yang didapatkan dari aktiviti haram di luar sana yang hendak
dibawa masuk ke negara kita tidak dibolehkan. Kemudian ia masuk secara haram dan ditangkap. Adakah
apabila hukuman ini tidak dinyatakan di dalam Al-Quran, maka pesalah dilepaskan?
Judi dalam bola sepak, tidak ada di dalam Al-Quran dan hadis. Perniagaan menjual manusia, pendatang
asing tanpa izin dan sebagainya, perkara seperti ini apabila tiada hukumannya di dalam Al-Quran maka
ianya dipindahkan kepada kebijaksanaan pemimpin untuk menentukan hukuman, inilah yang dinamakan
tazir.
Diyah (Diyat)
Diyah adalah satu topik khusus yang dipanggil ganti rugi. Contohnya, kemalangan jalan raya, seorang
melanggar secara tidak sengaja, maka dia perlu membayar ganti rugi. Bunuh secara tidak sengaja, kalau
menurut perundangan Islam, dia perlu membayar ganti rugi.
Diyah ini ada keterikatan dengan hukum balas balik. Dalam kes kecederaan mata seperti yang disebut
awal tadi, sekiranya orang yang dicederakan memaafkan pelakunya, orang yang melakukan kecederaan
tersebut harus membayar ganti rugi.
Semua perkara ini ada disebut oleh Nabi SAW; mata kena bayar berapa, tangan kalau putus kena bayar
berapa, kepala kalau pecah kena bayar berapa, kalau kena tulang kena bayar berapa, kalau terkopak
kena bayar berapa, semuanya telah diceritakan secara detil di dalam hadis-hadis Nabi SAW.

Hudud
Berbalik kepada topik utama kita iaitu hudud. Hudud berasal daripada perkataan arabal-had (batasan).
Bawa kereta pun ada had laju, pergaulan lelaki dan wanita juga ada had dan batasan. Dalam berbicara
dan berkata-kata juga ada had dan batasan. Filem hina Nabi, itu sudah melampaui had dan batasan
yang dibenarkan. Maka dalam setiap urusan kehidupan seorang muslim, ada had yang perlu dipatuhi.
Dalam Al-Quran, apabila Allah SWT menceritakan tentang pembahagian harta pusaka, setelah Allah
menceritakan semuanya secara detil, Allah berfirman,

Ertinya: Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kamu melampauinya.(surah Al-Baqarah, 2: 230)
Maka itu maksud asal perkataan had. Apabila kita katakan hudud, ia bermaksud batasan-batasan yang
telah Allah SWT tetapkan dalam jenayah syariah. Contohnya mencuri, menuduh orang berzina,
memberontak, minum arak, berzina, dan lain-lain. Ini adalah senarai beberapa kesalahan yang termasuk
dalam hudud. Kenapa dinamakan hudud adalah kerana Allah SWT telah menentukan kaedah
hukumannya, bagaimana pelaksanaan, dan kadar hukumannya.
Contoh-contoh hukuman hudud
1. Mencuri
Apabila Allah menyebut di dalam Al-Quran,

Lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi
apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (surah al-Maidah, 5:38)
Ini bukan cerita seorang mencuri lalu kita tangkap dan potong tangannya. Ini bukan seperti beli ayam di
pasar, tetapi perlu kepada pembuktian dan saksi yang adil. Perlu melihat kepada benda apa yang dia
curi. Sabda Nabi SAW,

Tidak dipotong tangan pencuri kecuali barang yang dicuri bernilai satu per empat dinar atau
lebih. (Muttafaqun alahi)
Jadi adakah boleh jika orang mencuri buah mempelam satu raga, kita potong tangannya? Sabda Nabi
SAW di dalam hadis yang lain,

Tidak ada potong tangan dalam (pencurian) buah dan tandan kurma. (riwayat Abu Dawud dan AtTirmidzi)
Jadi hal ini perlu difahami dengan betul. Bukan semua jenis mencuri dikenakan hukuman hudud. Mencuri
motorsikal, adakah boleh dikenakan hukuman hudud ke atasnya?
Perlu diperhatikan, adakah motorsikal itu berada dalam jagaan dan kawalan tuannya, atau tuannya
meninggalkan sahaja motorsikalnya di tepi jalan? Kereta Ferrari yang dicuri, sekiranya ia diparkir di

dalam kawasan rumah, dan ada pengawal yang menjaga kawasan rumah tersebut, kemungkinan ya,
barulah hukum hudud itu dilaksanakan kepada si pencuri.
Ini semua dibincang secara detil oleh para ulama, termasuklah kadar mana tangan si pencuri yang
dibuktikan bersalah itu dipotong.
Perlu dilihat juga sekiranya kecurian berlaku pada musim kemarau dan pencuri adalah dari kalangan
orang miskin, tidak ada potong tangan ketika mana musim lapar dan orang yang mencuri berada di
dalam kemudharatan.
Apabila ada masalah dalam pembuktian, disebut di dalam hadis,

Ketepikah hukum hudud kerana ada syubhat (dalam pembuktian).


1. Zina
Apabila seseorang ditangkap berzina, untuk disabit kesalahan perlu kepada saksi yang adil. Bukan
semudah tangkap dan terus menjatuhkan hukuman.
Saya tertarik apabila ada orang mengulas tentang isu rogol, katanya hukum hudud tidak sesuai kerana
jika non-muslim merogol muslim, disebabkan tiada saksi si mangsa tidak boleh mengadu, jika dia
mengadu, dia akan disabitkan kesalahan menuduh orang yang tidak bersalah (qadzaf) iaitu sebat 80 kali
sebatan.
Sebenarnya dia tidak faham tentang kaedah pembuktian hukum Islam. Kalau seseorang itu dirogol dan
tidak ada bukti, Islam mempunyai kaedah pembuktian yang lain contohnya melalui teknologi seperti DNA,
CCTV dan lain-lain. Cuma kesalahan yang dibuktikan melalui kaedah DNA dan CCTV tidak boleh
dikenakan hukuman hudud, tetapi kembali kepada hukuman tazir.
Bukanlah tidak dikenakan sebarang hukuman kepada pesalah tetapi dipindahkan daripada hukuman
hudud kepada hukum tadzir. Orang yang mengulas tersebut tidak faham, kitalah yang bertanggungjawab
memahamkan dia.
Tazir adalah hukuman yang tidak ditentukan oleh al quran dan hadits yang
berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi
pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya untuk tidak mengulangi kejahatan yang serupa, penentuan
jenis pidana tazir ini diserahkan sepenuhnya kepada penguasa sesuai dengan kemaslahatan menusia itu
sendiri. Menuurut hemat penulis, diantara jenis-jenis hukuman tazir yang telah penulis kemukakan dalam
pembahasan, tidak semuanya relevan untuk diterapkan pada zaman ini, seperti hukuman jilid dan salib
karena dinilai sangat keji. Sementara mengenai hukuman mati dalam tazir, penulis sependapat dengan
ulama yang membolehkannya sepanjang sejalan dengan kemaslahatan manusia. Tetapi secara umum,
mengenai jenis hukuman yang relevan untuk jarimah ta;zir ini harus disesuaikan dengan kejahatan yang
dilakukan agar hukuman dalam suatu peraturan bisa parallel. Untuk menentukan hukuman yang relevan
dan efektif, harus mempertimbangkan agar hukuman itu mengandung unsure pembalasan, perbaikan, dan
perlindungan terhadap korban (Theori neo-klasik), serta dilakukan penelitian ilmiyah terlebih dahulu.

Bentuk taazir
Penertian tazir adalah suatu jarimah yang diancam dengan hukuman tazir (selain had dan qishash),
pelaksanaan hukuman tazir, baik yang jenis larangannya ditentukan oleh nas atau tidak, baik perbuatan

itu menyangkut hak Allah atau hak perorangan, hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada penguasa.
Hukuman dalam jarimah tazir tidak ditentukan ukurannnya atau kadarnya, artinya untuk menentukan
batas terendah dan tertinggi diserahkan sepenuhnya kepada hakim (penguasa). Dengan demikian,
syariah mendelegasikan kepada hakim untuk menentukan bentuk-bentuk dan hukuman kepada pelaku
jarimah.
Hukuman-hukuman tazir banyak jumlahnya, yang dimulai dari hukuman paling ringan sampai hukuman
yang terberat :
1. Hukuman mati
2. Hukuman Jilid
3. Hukuman-Kawalan (Penjara Kurungan
4. Hukuman Salib
5. Hukuman Pengecualian (Al Hajru)
6. Hukuman Denda (Tahdid)
Pengertian Jarimah Qishosh Diyat Yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman qishosh dan diyat.
Baik qishosh maupun diyat merupakan hukuman yang telah ditentukan batasannya, tidak ada batas
terendah dan tertinggi tetapi menjadi hak perorangan (si korban dan walinya), ini berbeda dengan
hukuman had yang menjadi hak Allah semata. Penerapan hukuman qishosh diyat ada beberapa
kemungkinan, seperti hukuman qishosh bisa berubah menjadi hukuman diyat, hukuman diyat apabila
dimaafkan akan menjadi hapus. Yang termasuk dalam kategori jarimah qishosh diyat antara lain
pembunuhan sengaja, pembunuhan semi sengaja, pembunuhan keliru penganiayaan sengaja dan
penganiayaan salah Yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman qishosh dan diyat. Baik qishosh
maupun diyat merupakan hukuman yang telah ditentukan batasannya, tidak ada batas terendah dan
tertinggi tetapi menjadi hak perorangan, ini berbeda dengan hukuman had yang menjadi hak Allah
semata.
Penerapan hukuman qishosh diyat ada beberapa kemungkinan, seperti hukuman qishosh bisa berubah
menjadi hukuman diyat, hukuman diyat apabila dimaafkan akan menjadi hapus. Yang termasuk dalam
kategori jarimah qishosh diyat antara lain pembunuhan sengaja , pembunuhan semi sengaja,
pembunuhan keliru penganiayaan sengaja dan penganiayaan salah.
Diantara jarimah-jarimah qishosh diyat yang paling berat adalah hukuman bagi pelaku tindak pidana
pembunuhan sengaja karena hukuman baginya adalah dibunuh. Pada dasarnya seseorang haram
menghilangkan orang lain tanpa alasan syar'i bahkan Allah mengatakan tidak ada dosa yang lebih besar
lagi setelah kekafiran selain pembunuhan terhadap orang mukmin. "Dan barang siapa membunuh orang
mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahannam, ia kekal di dalamnya dana Allah murka
kepadanya, mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya." (an nisa': 93). Rosulullah SAW
juga bersabda, " Sesuatu yang pertama diadili di antara manusia di hari kiamat adalah masalah darah".

4. Hukuman Tazir

Hukuman tazir ialah kesalahan-kesalahan yang hukumannya merupakan dera, iaitu penjenayahpenjenayah tidak dijatuhkan hukuman hudud atau qisas. Hukuman tazir adalah hukuman yang tidak
ditentukan kadar atau bentuk hukuman itu di dalam Al-Quran dan Al-Hadith.

Hukuman tazir adalah dera ke atas penjenayah-penjenayah yang telah sabit kesalahannya dalam
mahkamah dan hukumannya tidak dikenakan hukuman hudud atau qisas kerana kesalahan yang
dilakukan itu tidak termasuk di bawah kes yang membolehkannya dijatuhkan hukuman hudud atau qisas.

Jenis, kadar dan bentuk hukuman tazir itu adalah terserah kepada kearifan hakim untuk menentukan dan
memilih hukuman yang patut dikenakan ke atas penjenayah-penjenayah itu kerana hukuman tazir itu
adalah bertujuan untuk menghalang penjenayah-penjenayah mengulangi kembali kejahatan yang mereka
lakukan tadi dan bukan untuk menyiksa mereka.

A. PENGERTIAN TAZIR
menurut arti bahasa, lafaz tazir berasal dari kata yang sinonimnya:
1. yang artinya mencegah dan menolak;
2. yang artinya mendidik;
3. yang artinya mengagungkan dan menghormati;
4. yang artinya membantunya, menguatkan dan menolong.

-Mawardi sebagai berikut:



Tazir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum
ditetapkan oleh syara.
memberikan definisi tazir yang mirip dengan definisi Al-Mawardi:
:
Tazir menurut syara adalah hukuman yang ditetapkan atas perbuatan maksiat atau jinayah yang tidak
dikenakan hukuman had dan tidak pula kifarat.
-kawan memberikan definisi tazir menurut syara sebagai berikut:
:

Tazir menurut syara adalah hukuman pendidikan yang tidak mencapai hkuman had syari.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa tazir adalah suatu istilah untuk hukuman
atas jarimah-jarimah yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara. Di kalangan fuqaha, jarimahjarimah yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara dinamakan dengan jarimah tazir. Jadi istilah
tazir bisa digunakan untuk hukuman dan bisa juga untuk jarimah (tindak pidana).

B. DASAR HUKUM DISYARIATKAN TAZIR

, (
)
Dari Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi saw. menahan seseorang karena disangka
melakukan kejahatan. (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, dan Baihaqi serta dishahihkan oleh Hakim).

:
) (
Dari Abi Burdah Al-Anshari ra. Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak boleh dijilid di atas
sepuluh cambuk kecuali di dalam hukuman yang telah ditentukan oleh Allah Taala. (Muttafaq alaih).

:
) (
Dari Aisyah ra. Bahwa Nabi saw. bersabda: Ringankanlah hukuman bagi orang-orang yang tidak pernah
melakukan kejahatan atas perbuatan mereka, kecuali dalam jarimah-jarimah hudud. (Diriwayatkan oleh
Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan Baihaqi)

C. PERBEDAAN ANTARA HUDUD DAN TAZIR


Menurut Sayid Sabiq perbedaan antara hudud dan tazir adalah:

1. Hukuman hudud diberlakukan secara sama untuk semua orang (pelaku), sedangkan hukuman tazir
pelaksanaannya dapat berbeda antara satu pelaku dengan pelaku lainnya, tergantung kepada
perbedaan kondisi masing-masing pelaku.
2. Dalam jarimah hudud tidak berlaku pembelaan (syafaat) dan pengampunan apabila perkaranya
sudah dibawa ke pengadilan, sedangkan untuk jarimah tazir kemungkinan untuk memberikan
pengampuna terbuka lebar, baik oleh individu maupun ulil amri.
3. Orang yang mati dikarenakan dikenakan hukuman tazir, berhak memperoleh ganti rugi, sedangkan
untuk jarimah hudud hal ini tidak berlaku.

D. MACAM-MACAM JARIMAH TAKZIR


Dari segi hak yang dilanggar, jarimah tazir dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Jarimah tazir yang menyinggung hak Allah
2. Jarimah tazir yang menyinggung hak individu
Dari segi sifatnya, jarimah tazir dapat dibagi kepada tiga bagian:
1. Tazir karena melakukan perbuatan maksiat
2. Tazir karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan umum
3. Tazir karena melakukan pelanggaran.
Abdul Aziz Amir membagi jarimah tazir secara rinci kepada beberapa bagian, yaitu:
1. Jarimah tazir yang berkaitan dengan pembunuhan
2. Jarimah tazir yang berkaitan dengan pelukaan
3. Jarimahjarimah tazir yang berkaitan dengan kejahatan terhadap kehormatan dan kerusakan akhlak
4. Jarimah tazir yang berkaitan dengan harta
5. Jarimah tazir yang berkaitan dengan kemaslahatan individu
6. Jarimah tazir yang berkaitan dengan keamanan umum.

E. MACAM-MACAM HUKUMAN TAZIR


Secara garis besar macam-macam tazir dibagi ke dalam 4 kelompok, yaitu sebagai berikut :

1. Hukuman Tazir yang Berkaitan dengan Badan


Hukuman Mati
Hukuman mati untuk jarimah tazir hanya dilaksanakan dalam jarimah-jarimah yang sangat berat dan
berbahaya dengan syarat-syarat sebagai berikut :
-hukuman hudud selain hukuman
mati.
-betul dampak kemaslahatan terhadap masyarakat dan pencegahan
terhadap kerusakan yang menyebar di muka bumi.
Sebagian fuqaha syafiiyah membolehkan hukuman mati sebagai tazir dalam kasus penyebaran aliranaliran sesat dan juga kepada para pelaku homoseksual (liwath) tanpa membedakan antara muhsan
dengan ghairu muhsan. Adapun Ulama Hanafiyah memberikan hukuman mati apabila jarimah tersebut
dilakukan berulang-ulang. Sedangkan Ulama Malikiyah dan Hanabilah memberikan hukuman mati ini
untuk jarimah-jarimah tazir tertentu, seperti spionase dan melakukan kerusakan di muka bumi.
Hukuman Jilid (Dera)
Alat yang digunakan untuk hukuman jilid ini adalah cambuk yang sedang ukurannya (tidak terlalu besar
dan tidak terlalu kecil). Hali ini dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dengan alasan bahwa sebaik-baiknya
perkara adalah pertengahan.
Hukuman jilid tidak boleh sampai menimbulkan cacat dan membahayakan organ-organ tubuh orang
yang terhukum. sebab tujuannya memberi pelajaran dan pendidikan kepadanya. Oleh karena itu
cambukan tidak boleh diarahkan ke muka, farji, dan kepala melainkan diarahkan ke punggung. Hal ini
didasarkan kepada atsar sahabat Umar kepada eksekutor jilid.

Hindarilah untuk memukul kepala dan farji


2. Hukuman yang Berkaitan dengan Kemerdekaan
Hukuman Penjara
Hukum penjara dalam Syariat Islam dibagi kepada dua bagian, yaitu :

Hukuman penjara terbatas ini diterapkan untuk jarimah penghinaan, penjual khamar, pemakan riba,
melanggar kehormatan bulan suci Ramadhan dengan berbuka pada siang hari tanpa udzur, mengairi
lading dengan air dari saluran tetangga tanpa izin, caci mencaci antara dua orang yang berperkara di
depan sidang, dan saksi palsu.

berlangsung terus sampai orang


yang terhukum itu mati atau sampai ia bertobat. Dalam istilah lain bisa disebut dengan hukuman
penjara seunur hidup.Hukuman ini dikenakan kepada penjahat yang sangat berbahaya, misalnya
seseorang yang menahan orang lain untuk dibunuh oleh orang ketiga.
Hukuman Pengasingan
Hukuman pengasingan termasuk hukuman had yang diterapkan untuk tindak pidana hirabah
(perampokan) . Namun dalam praktiknya, hukuman tersebut juga diterapkan sebagai hukuman tazir,
yaitu dikenakan terhadap orang yang berprilaku mukhannast (waria), tindak pidana pemalsuan terhadap
al-Quran dan pemalsuan stempel Baitul Mal. Hukuman pengasingan ini diberikan sebab dikhawatirkan
berpengaruh kepada orang lain sehingga pelakunya harus dibuang. Adapun tempat pengasingannya
diperselisihkan oleh para fuqaha, menurut Imam Malik bin Annas pengasingan dilakukan dari negeri
Islam ke negeri bukan Islam. Menurut Umar bin Abdul Aziz dan Said bin Jubayyir pengasingan dari satu
kota ke kota lain.
3. Hukuman Tazir yang Berkaitan dengan Harta
Hukuman tazir dengan mengambil harta itu bukan berarti mengambil harta si pelaku untuk diri hakim
atau untuk kas negara, melainkan hanya menahannya untuk sementara waktu. Namun jika pelakunya
tidak bisa diharapkan untuk bertobat maka hakim dapat men-tasruf- kan hartanya untuk kemaslahatan.
Imam Ibnu Taimiyah membagi hukum tazir berupa harta ini kepada tiga bagian, yaitu :
Menghancurkan () , penghancuran ini berlaku terhadap barang-barang dan perbuatan/sifat
yang mungkar, seperti penghancuran patung milik orang Islam, penghancuran alat dan tempat minum
khamr, dll.
Mengubah () , mengubah harta pelaku antara lain seperti mengubah patung yang disembah oleh
orang muslim dengan memotong bagian kepalanya sehingga mirip dengan pohon.
Memiliki (), pemberian hukuman ini antara lain seperti keputusan Rasulallah melipatgandakan
denda bagi seorang yang mencuri buah-buahan, di samping hukuman jilid dan juga keputusan khalifah
Umar bin Khattab orang yang menggelapkan barang temuan. Selain denda hukuman tazir yang berupa
harta adalah penyitaan atau perampasan harta.
4. Hukuman-Hukuman Tazir yang Lain
Peringatan Keras
Peringatan keras dapat dilakukan di luar sidang pengadilan dengan mengutus seorang kepercayaan
hakim yang menyampaikan kepada pelaku. Isi peringatan itu misalnya: Telah sampai kepadaku bahwa
kamu melakukan kejahatan....Oleh karena itu jangan kau lakukan lagi.. Hal itu dilakukan karena hakim
menganggap bahwa perbuatan yang di lakukan pelaku tidak terlalu berbahaya.
Diadirkan di Hadapan Sidang

Pelaku dihadirkan di hadapan sidang apabila membandel atau perbuatannya cukup membahayakan. Di
hadapan sidang ia juga diberi peringatan keras namun kali ini diucapkan. langsung oleh hakim. Bagi
orang tertentu hukuman seperti ini sudah cukup, karena sebagian orang ada yang merasa takut dan
gemetar dalam menghadapi meja hijau. Hukuman ini diberikan terhadap pelaku tindak pidana ringan
yang dilakukan pertama kalinya.
Nasihat
Ibnu Abidin yang dikutip oleh Abdul Aziz Amir mengemukakan bahwa yang dimaksud nasihat adalah
mengingatkan pelaku apabila ia lupa dan mengajarinya apabila ia tidak mengerti. Sama seperti dua
hukum sebelumnya, hukum nasihat ini juga diterapkan bagi pelaku-pelaku pemula yang melakukan
tindak pidana, bukan karena kebiasaan melainkan karena kelalaian.
Celaan (Taubikh)
Imam al-Mawardi mengemukakan bahwa taubikh ini bisa dilakukan oleh hakim dengan memalingkan
muka dari hadapan terdakwa yang menunjukan ketidaksenangannya, atau memandangnya dengan
muka yang masam dan senyuman sinis. Pada intinya celaan ini bisa dilakukan oleh hakim dengan
berbagai cara dan berbagai perkataanyang dikehendakinya yabg diperkirakan dapat mencegah pelaku
dari tindakan pidana yang pernah dilakukannya.
Pengucilan
Yang dimaksud dengan pengucilan adalah melarang pelaku untuk berhubungan dengan orang lain dan
sebaliknya melarang masyarakat berhubungan dengannya. Hukuman ini mungkin bisa lebih efektif jika
pengucilan itu dilakukan dalam bentuk tidak diikutsertakannya pelaku dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pemecatan (Al-azl)
Hukuman tazir berupa pemberhentian dari pekerjaan atau jabatan diterapkan kepada setiap pegawai
yang melakukan jarimah, baik yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatannyamaupun dengan
hal-hal lainnya. Contohnya : Pegawai yang mnerima suap, korupsi, nepotisme, zalim terhadap bawahan
atau rakyat, prajurit yang kabur dalam pertempuran dan hakim yang memutuskan perkara tanpa dasar
hukum yang telah ditetapkan.
Pengumuman Kesalahan secara Terbuka (at-Tasyhir)
Dalam buku as-Sindi dari Jami al-Itabi yang dikutip oleh Abdul Aziz Amir, tasyhir dilakukan dengan
mengarak pelaku ke seluruh negeri dan di setiap tempat selalu diumumkan kesalahan/tindak pidana
yang telah ia lakukan.
Jarimah-jarimah yang bisa dikenakan hukuman tasyhir antara lain: Saksi palsu, pencurian, kerusakan
akhlak, kesewenang-wenangan hakim dan menjual barang-barang yang diharamkan seperti bangkai dan
babi.

Penerapan tasyhir tidak dimaksudkan untuk menyebarluaskan kejahatan dan kejelekan pelaku,
melainkan untuk mengobati mentalnya agar ia berubah menjadi orang yang lebih baik dan tidak
mengulangi perbuatannya atau bahkan melakukan kejahatan yang baru.