Anda di halaman 1dari 31

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI PENJUMLAHAN

DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT MELALUI METODE DEMONSTRASI


DENGAN ALAT PERAGA KARTU PINUS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SD tersebut dapat diperoleh
data bahwa secara umum proses belajar mengajar masih teacher centered. Guru jarang
menggunakan media atau alat pembelajaran yang juga seharusnya melibatkan siswa
dalam penggunaanya. Hal ini menimbulkan siswa kurang memiliki kreatifitas dalam
belajar matematika. Proses belajar yang cenderung siswa pasif hanya membuat siswa
merasa tidak senang terhadap matematika dan bosan terhadap pelajaran matematika.
Bahkan guru kelas mengungkapkan bahwa selama ulangan harian matematika siswa
sekitar 50 % tidak mencapai nilai 60 yaitu batas tuntas KKM , walaupun setelah itu juga
diadakan ujian perbaikan. Selain, wawancara dengan guru, untuk menguatkan
permasalahan maka dilakukan juga wawancara dengan siswa kelas IV yang diambil
secara acak. Diperoleh hasil bahwa siswa tidak senang belajar matematika, karena sulit
dan pembelajaran kurang menyenangkan. Siswa enggan dan bahkan takut bertanya atau
menjawab pertanyaan dikarenakan bingung terhadap materi yang dijelaskan guru,
padahal guru selalu memberikan kesempatan bertanya yang seluas luasnya kepada
siswa. Proses belajar matematika yang dirasa siswa kurang menyenangkan ini dikuatkan
dengan pernyataan guru bahwa memang selama ini belum menggunakan model
pembelajaran yang bersifat PAKEM, dikarenakan masih merasa kesulitan dalam
penggunaan dan penerapannya.
Untuk membuktikan bahwa prestasi matematika siswa kelas IV tidak baik, maka
dilakukan Pre Tes yaitu materi pra syarat konsep bilangan bulat. Materi pra syarat ini
adalah materi pada kelas III yang telah diajarkan. Hasil Pos Tes menunjukkan bahwa
memang prestasi belajar matematika siswa kelas IV tidak baik karena tidak ada siswa
yang nilainya mencapai 60 dari KKM yang ditentukan yaitu 60. Kondisi ini cukup
memperihatinkan dan perlu dicari pemecahan masalahnya. Kesulitan siswa yang
dialami siswa dalam belajar matematika terutama dalam materi penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat, penyebabnya adalah materi pelajaran yang lumayan sulit,
model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru belum memberikan pemahaman
konsep yang lebih baik serta dapat mengaktifkan siswa baik fisik maupun mental dalam
pembelajaran matematika dan tidak adanya media pembelajaran sebagai daya
dukungnya. Mengingat banyak sekali aplikasi bilangan bulat yang langsung dipakai
1

dalam kehidupan sehari-hari, maka penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan


bulat oleh siswa harus mendapat perhatian.
Dari sejumlah metode yang ada, salah satu metode yang dianggap paling tepat
dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat

bagi siswa Sekolah Dasar adalah dengan menggunakan metode

demonstrasi menggunakan alat peraga kartu pinus. Dengan menggunakan metode


demonstrasi menggunakan alat peraga pinus diharapkan siswa dapat memecahkan
masalah yang berkaitan dengan materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Kegiatan belajar metode demostrasi menggunakan alat peraga kartu pinus mempunyai
nilai salur yang tinggi selain siswa bisa belajar tentang operasi bilangan bulat dengan
mudah, siswa juga dapat menimbulkan sikap saling menghormati dan menimbulkan
kreativitas siswa.
Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.
Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian tindakan kelas dengan
judul Peningkatan prestasi belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat melalui metode demonstrasi dengan alat peraga pinus

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalahnya sebagai berikut :
1.

Apakah penerapan

metode Demonstrasi pada materi penjumlahan dan

pengurangan bilangan bulat menggunakan Kartu Pinus dapat meningkatkan hasil


belajar siswa pada aspek kognitif ?
2.

Apakah penerapan metode Demonstrasi pada materi penjumlahan dan


pengurangan bilangan bulat menggunakan Kartu Pinus dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada aspek afektif?

3.

Apakah penerapan metode Demonstrasi pada materi penjumlahan dan


pengurangan bilangan bulat menggunakan Kartu Pinus dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada aspek Psikomotor?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kualitas
belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran Matematika.
2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut :


a. Meningkatkan hasil belajar materi operasi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat aspek kognitif melalui metode demonstrasi menggunakan kartu
pinus.
b. Meningkatkan hasil belajar materi

operasi penjumlahan dan pengurangan

bilangan bulat aspek afektif menggunakan metode demonstrasi menggunakan


kartu pinus.
c. Meningkatkan hasil belajar materi operasi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat aspek

psikomotor menggunakan metode demonstrasi

menggunakan kartu pinus.

D. Manfaat Penelitian
a.

Bagi Siswa
Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk memanfaatkan metode demonstrasi
menggunakan alat peraga

kartu pinus untuk mempermudah proses belajar

dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga siswa akan lebih
bersemangat dalam kegiatan belajanya. Semangat pemanfaatan metode
demonstrasi tersebut diharapkan tidak terbatas pada mata pelajaran Matematika,
melainkan juga pada mata pelajaran yang lain.
b.

Bagi Guru
Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya,
sehingga guru sebagai motor dalam proses pembelajaran akan selalu berupaya
dengan maksimal untuk menggunakan metode demonstrasi.

c.

Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan segala pemikiran dan gagasan yang
dimiliki peneliti yang didapat dalam berguru ilmu selama di bangku perkuliahan
tentang metode demonstrasi dan alat peraga kartu pinus dalam rangka untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas khususnya dan pendidikan pada
umumnya di sekolah dasar yang peneliti teliti

BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar
Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti
keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sanat tergantung pada keberhasilan pada
proses belajar siswa disekolah dan lingkungan sekitar. Belajar juga merupakan
proses orang memperoleh kecakapan, ketrampilan, dan sikap. Pada dasarnya belajar
merupakan tahapan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif Syah,(Jihad, 2007 : 1
), dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari beberapa
tahap. Sudjana ( 1996 ) juga berpendapat, belajar adalah suatu proses yang ditandai
adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap
dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek
yang ada pada individu yang belajar. Proses belajar itu terjadi karena adanya
interaksi antar seseorang dengan lingkungannya. (Arsyad, 2007 :1)
Adapun pengertian belajar sebagaimana dikemukaan oleh Slameto (Jihad, 2010 :
2) merumuskan belajar sebagai sebagai suatu proses usaha yang diilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Lebih jauh lagi Slameto (1995 : 3-5) memberikan ciri-ciri tentang
perubahan tingkah laku yang terjadi dalam belajar sebagai berikut :
a.

Terjadinya secara sadar;

b.

Bersifat kontinu dan fungsional;

c.

Bersifat positif dan aktif;

d.

Bukan bersifat sementara;

e.

Bertujuan dan terarah;


Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar dapat terjadi karena adanya interaksi

seseorang secara sadar dengan lingkungannya yang akan menghasilkan perubahan


tingkah laku pada berbagai aspek, diantaranya aspek kognitif, afektif dan
psikomotor.
Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap sering disebut
dengan hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah
4

melalui kegiatan belajar

Abdurrahman,(Jihad, 2008 : 14)..Dalam kegiatan

pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar.


Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan instruksional. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah

domain ) hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Sudjana, 2009 : 22)
. Adapun taksonomi atau kalsifikasi adalah sebagai berikut :
a.

b.

c.

Ranah kognitif (cognitive domain)


1)

Pengetahuan (knowledge)

2)

Pemahaman (comprehension)

3)

Penerapan (application)

4)

Analisis (analysis)

5)

Sintesis (synthesis)

6)

Evaluasi (avaluation)

Ranah Afektif (affective domain)


1)

penerimaan

2)

partisipasi

3)

penilaian

4)

organisasi

5)

pembentukan pola hidup

Ranah Psikomotor (psychomotoric domain)


1)

Persepsi

2)

Kesiapan

3)

Gerakan terbimbing

4)

Gerakan yang terbiasa

5)

Gerakan yang kompleks

6)

Penyesuaian pola gerakan

7)

Kreativitas .

Hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa untuk ketiga ranah atau aspek
(kognitif, afektif, dan psikomotor) pada Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan
Bulat Melalui Metode Demonstrasi Menggunakan Alat Peraga Kartu Pinus
Tabel 1.1 Hasil Belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran.
NO. Aspek Kognitif Aspek Afektif
Siswa
dapat
Mengembangkan
1.
mengetahui
perilaku
konsep
dasar
berkarakter,
bilangan
bulat
meliputi:
tekun,
yang meliputi :
tanggung
jawab,

Aspek Psikomotor
Dapat
memecahkan
aktivitas
pemecahan
masalah menggunakan
alat peraga kartu pinus.

2.

penjumlahan dan
pengurangan

kerjasama,
dan
mendengarkan
pendapat teman.

Siswa
mampu
membedakan
bilangan
bulat
positif
dan
bilangan
bulat
negatif.
Serta
mampu
menggunakannya
dalam
operasi
hitung.

Mengembangkan
keterampilan sosial,
meliputi: bertanya,
berlatih
berkomunikasi
verbal dan tulisan,
berpikir kreatif dan
sistematis.

Terampil menggunakan
alat perga kartu pinus
dalam
melakukan
penjumlahan
dan
pengurangan bilangan
bulat baik bilangan
bulat positif maupun
negatif.

Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang


merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Hasil
belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga
sikap dan ketrampilan. Dengan demikian hasil belajar siswa mencangkup segala hal
yang dipelajari disekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan ketrampilan.

2.

Pengertian Matematika
Matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya diambil
dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu
mempunyai asal kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge,
science). Kata mathematike berhubungan dengan kata lainnya yang sama, yaitu
mathein atau mathenein yang artinya belajar ( berpikir ). Jadi, berdasarkan asal kata,
maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir
(bernalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran),
bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi matematika terbentuk
karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan idea, proses, dan
penalaran.
Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris.
Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis
dengan penalaran didalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsepkonsep matematika supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah
dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan
bahasa matematika atau notasi matematika yang bernialai global (universal). Konsep
matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar
terbentuknya matematika. Berikut ini adalah pemaparan pembelajaran yang
ditekankan pada konsep-konsep matematika (Suwaningsih dan Tiurlina, 2006 : 3).

1). Penanaman Konsep Dasar ( Penanaman Konsep ), yaitu pembelajaran suatu


konsep baru matematika, ketika siswa belumpernah mempelajari konsep tersebut.
Kita dapat mengetahui konsep ini dari isi kurikulum, yang dicirikan dengan kata
mengenal. Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus
dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang kongkret dengan konsep
baru matematika yang abstrak. Dalam kegiatan pembelajaran konsep dasar ini media
atau alat peraga diharapkan dapat digunakan untuk membantu kemampuan pola
pikir siswa.
2). Pemahaman Konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep,
yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman
konsep terdiri atats dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari
pembelajaran penanaman

konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua ,

pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi


masih

merupakan lanjutan dari penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut,

penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya,


disemester atau kelas sebelumnya.
3). Pembinaan Ketrampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman
konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan ketrampilan bertujuan
agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti
halnya pada pemahaman konsep, pembinaan ketrampilan juga terdiri atas dua
pengertian. Pertama, merupakan lanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan
pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran
pembinaan ketrampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih
merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep. Pada pertemua
tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada
pertemuan sebelumnya, disemester atau kelas sebelumnya. (Heruman, 2007 : 2-3)
Maka dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa matematika adalah ilmu yang
berkenaan dengan ide-ide atau konsep yang tersusun secara hirarkis dan
penalarannya deduktif yang tujuannnya untuk melatih cara berpikir dan bernalar
dalam menarik kesimpulan, mengembangkan aktivitas kreatif, mengembangkan
kemampuan

memecahkan

masalah,

menyampaikan informasi.

3.

Penjumlahan dan Pengurangan bilangan bulat


a. Bilangan bulat

dan

mengembangkan

kemampuan

Menurut Ensiklopedi Matematika (1985 : 48), pengertian bilangan bulat yaitu


bilangan yang terdiri dari :
1) Bilangan asli atau bilangan bulat positif.
2) Bilangan nol (0).
3) Bilangan asli atau bilangan bulat negatif.
Bilangan bulat dilambangkan dengan huruf B
Bilangan Bulat (integer) adalah suatu bilangan yang terdiri dari bilangan bulat
positif atau nol dan bilangan negatif ,-6, -5, -4, -3, -2, -1, dan 0, 1, 2, 3, 4,
b. Pengertian penjumlahan dan pengurangan
1) Pengertian penjumlahan
Penjumlahan adalah operasi yang digunakan untuk memperoleh jumlah
dari dua bilangan (Ensiklopedi Matematika, 1985 : 366).

2) Pengertian pengurangan
Pengurangan adalah kebalikan dari penjumlahan. Jika pada suatu
penjumlahan diketahui jumlahnya dan salah satu
sukunya, maka penjumlahan itu di tulis
a + = c atau + a = c
Suku a adalah salah satu suku yang, sedangkan suku c adalah jumlahnya.
(Ensiklopedi Matematika, 1985 : 365).
c. Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat
Operasi yang digunakan untuk memperoleh jumlah dari dua bilangannya
dan kebalikannya dalam melakukan operasi terhadap bilangan asli positif
(bilangan bulat positif) atau bilangan asli negatif (bilangan bulat negatif).

4.

Metode Demonstrasi
Metode

demonstrasi

merupakan

metode

penyajian

pelajaran

dengan

memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau
benda tertentu, baik sebenarnya atau kadar hanya tiruan. Sebagai metode penyajian,
demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Dengan metode
demonstrasi peserta didik juga

berkesempatan mengembangkan kemampuan

mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Dalam metode demonstrasi diharapkan setiap
langkah-langkah pembelajaran dari hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan
mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dan dapat pula dimengerti materi
yang diajarkan. . (Sagala, 2010 : 210 ).
`

Petunjuk penggunaan metode demonstrasi


1) Persiapan/ perencanaan
a. Tetapkan tujuan demonstrasi.
b. Tetapkan langkah-langkah pokok metode demonstrasi.
c. Siapkan alat-alat yang diperlukan dalam metode demonstrasi.
2) Pelaksanaan metode demonstrasi
a. Usahakan demonstrasi dapat diikuti dan diamati seluruh kelas.
b. Tumbuhkan sikap kritis pada siswa sehingga terdapat tanya jawab, dan
diskusi tentang masalahyang didemonstrasikan.
c. Beri kesempatan setiap siswa untuk mencoba sehingga siswa merasa yakin
tentang kebenaran suatu proses.
d. Buatlah penilaian dari kegiatan siswa.
3) Tindak lanjut metode demonstrasi
Setelah demonstrasi selesai, berikanlah tugas kepada siswa baik secara tertulis
maupun secara lisan, misalnya membuat laporan dan lain-lain. Dengan demikian
kita dapat menilai sejauh mana hasil demonstrasi yang dipahami siswa. (Sudjana,
2010 : 84)
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut ;
1) Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongkret, sehingga
menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat).
2) Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
3) Proses pengajaran lebih menarik.
4) Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan
kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri. (Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain 2006 : 91)
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut ;
1) Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati
keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-kadang terjadi
perubahan yang tidak terkontrol.
2) Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal

yang didemonstrasikan

diperlukan pemusatan perhatian.


3) Tidak semua hal dapat didemonstrasikan didalam kelas.
4) Diperlukan ketelitian dan kesabaran dalam melakukan metode demonstrasi.
(Sagala, 2010 : 212).
Batasan melaksanakan metode demonstrasi sebagai berikut ;
1) Demonstrasi menjadi tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapa
diamati dengan seksama oleh siswa.

2) Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktifitas di
mana para siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu
menjadi pengalaman pribadi.
3) Kadang-kadang, bila suatu alat dibawa kedalam kelas kemudian didemonstrasikan,
terjadi proses yang berlainan dengan proses dalam situasi nyata.
4) Manakala setiap orang diminta mendemonstrasikan dapat menyita waktu yang
banyak, dan membosankan bagi peserta lain. (Yamin, 2009 : 66-67)

5.

Alat Peraga
a.

Pengertian Alat Peraga


Istilah alat peraga ini demikian melekat pada banyak pendidik sampai kurun

waktu yang cukup lama. Bahkan sampai saat ini masih banyak orang menggunakan
istilah alat peraga secara silih bergantidengan istilah lain seperti ; alat bantu, media, alat
pelajaran, dan lain-lain. Dengan alat peraga dimaksudkan untuk memperjelas pelajaran
yang disajikan. Istilah ini dikemukakan bukan berarti penggunaan alat peraga itu
dianggap salah tau konvensional. Alat peraga dalam pembelajaran pada hakekatnya
merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang rill sehingga
memperjelas pengertian pebelajar. (Anitah, 2009 : 3 ).

b.

Alat Peraga Kartu Pinus


Seperti penjelasan tentang alat peraga diatas, bahwa alat peraga adalah suatu alat

yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang rill atau nyata sehingga memperjelas
pengertian pebelajaran (siswa). Dalam pembelajaran tentang penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat kali ini menggunakan kartu pinus (singkatan dari plus dan
minus). Pada alat peraga ini, menggunakan alat berupa kartu yang diberi tanda positif
dan negatif didalam kartu tersebut. Bentuk alat peraga yang digunakan untuk operasi
hitung penjumlahan dan pengurangan adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1

Keterangan :

: Kartu yang berwarna hijau bertanda plus mewakili bilangan positif (


+)

: Kartu yang berwarna kuning bertanda minus mewakili bilangan


negatif ( - )

Langkah-langkah pengunaan kartu pinus adalah sebagai berikut :


1) Menunjukan nilai bilangan.
a) Bilangan nol
Untuk nilai bilangan nol jika antar bilangan positif dan bilangan negatif
sama atau bilangan positif berpasangan dengan bilangan negatif.

O
b) Bilangan positif

+3
Bilangan positif ditunjukan pada kartu berwarna hijau yang bertanda plus
(+). Tiga buah kartu berwarna hijau bertanda plus (+) mewakili bilangan +3
atau ditulis 3.

c) Bilangan negatif

-3

Bilangan negatif ditunjukan pada kartu yang berwarna kuning bertanda


minus/ min (-). Tiga buah kartu berwarna kuning bertanda minus/ negatif
mewakili bilangan -3.

2) Penjumlahan bilangan bulat.


a) 5 + 2 = 7
Pertama-tama ambil kartu berwarna hijau yang bertanda positif (+)
sebanyak 5 buah. Kemudian yang kedua ambil kartu berwarna hijau yang
bertanda positif (+) 2 buah. Karena tanda dalam penjumlahan tersebut
adalah plus atau tambah maka kartu berwarna hijau bertanda positif (+)
yang pertama sejumlah 5 dan kartu berwarna hjau bertanda positif (+) yang
kedua sejumlah 2, dan kedua kartu tersebut mempunyai tanda bilangan yang
sama, maka dijumlahkan atau digabungkan kedua kartu tersebut. Sehingga
hasilnya positif tujuh atau berupa tujuh kartu berwarna hijau yang bertanda
positif (+)

7
Ditambah

Hasil

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari penjumlahan diatas, maka hasil dari 5 + 2 = 7
b) 3 + (-4) = -1
Pertama-tama ambil kartu berwarna hijau bertanda positif (+) sejumlah 3
buah. Kemudian ambil lagi kartu berwarna kuning bertanda negatif (-)
sejumlah 4 buah. Lalu dijejerkan antara kartu berwarna hijau bertanda
positif (+) yang berjumlah 3 buah dengan kartu berwarna kuning bertanda
negaitf (-) yang berjumlah 4 buah. Maka dapat diambil hasilnya yang tidak
mempunyai pasangan dari kartu yang dijejerkan tadi yaitu pada kartu
berwarna kuning bertanda negatif (-) berjumlah 1.

Ditambah

Hasil

-1

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari penjumlahan diatas, maka hasil dari 3 + (-4) = -1.

c)

(-6) + 8 = 2
Pertama-tama ambil kartu berwarna kuning bertanda negatif (-) sejumlah
6 buah. Kemudian ambil lagi kartu berwarna hijau bertanda positif (+)
sejumlah 8 buah. Lalu dijejerkan antara kartu berwarna hijau bertanda
positif (-) yang berjumlah 6 buah dengan kartu berawana kuning bertanda
positif (+) yang berjumlah 8 buah. Maka dapat diambil hasilnya yang tidak
mempunyai pasangan dari kartu yang dijejerkan tadi yaitu pada kartu
berwarna hijau bertanda positif (+) berjumlah 2.

Ditambah

hasil

Hasil

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari penjumlahan diatas, maka hasil dari (-6) + 8 = 2.
d)

(-2) + (-5) = -7
Pertama-tama ambil kartu berwarna kuning yang bertanda negatif (-)
sejumlah 2. Kemudian ambil kartu berwarna kuning lagi yang bertanda
negatif (-) sejumlah

5. Karena pada operasi hitung tersebut adalah

penjumlahan , maka antara kartu berwarna kuning yang bertanda negatif (-)
sejumlah 2 buah yang pertama dengan kartu berwarna kuning yang bertanda
negatif (-) yang kedua sejumlah 5 buah itu digabungkan dan hasilnya yaitu 7
tujuh kartu berwarna kuning yang bertanda negatif (-). Atau negatif (-) 7.
Ditambah

hasil

-7

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari penjumlahan diatas, maka hasil dari (-2) + (-5) = -7

3) Pengurangan bilangan bulat.


Berbeda dengan menjumlahkan bilangan bulat, pada penjumlahan yang
berarti menggabungkan, mengurangkan bilangan bulat diartikan sebagai
mengambil atau memisahkan sebagian dari suatu kumpulan. Oleh sebab itu
maka dalam pengurangan bilangan bulat diperagakan secara gambar dalam
bentuk adanya sebagaian anggota yang diambil dari suatu kumpulan.
Hasilnya adalah kumpulan baru yang anggotanya tidak terkena proses
pengambilan. Dalam proses pengurangan menggunakan alat peraga kartu
pinus ini berlaku ketentuan sebagai berikut ; Dalam melakukan operasi
hitung pengurangan setiap bilangan yang menjadi pengurang harus diubah
dulu dengan lawan dari bilangan itu yaitu jika bilangan itu negatif maka
diganti positif sebaliknya jika bilangan itu positif maka diganti lawannya
yaitu negatif. Contohnya 3 4 = -1, maka bilangan positif 4 dalam
menggunakan alat peraga dekak-dekak diganti dengan lawannya yaitu
negatif 4 atau ditulis -4. Contohnya ;
a) 7 3 = 4
Pertama-tama ambilah kartu berwarna hijau yang bertanda positif (+)
sejumlah 7.Sesudah itu, lihatlah bilangan kedua pada operasi hitung kedua.
Lihat tanda operasi hitung pada operasi hitung tersebut. Karena pada operasi
hitung tersebut adalah pengurangan, maka bilangan pengurangannya harus
diubah dengan lawannya. Bilangan pada operasi hitung kedua yaitu positif
(+) 3, karena bilangannya positif maka diganti dengan lawan dari positif (+)
3 yaitu negatif (-) 3. Maka pengambilan kartu yang kedua mengambil kartu
berwarna kuning yang bertanda negatif (-) sejumlah 3. Maka dapat diketahui
hasilnya yaitu dari dijejerkannya antara kartu berwarna hijau yang bertanda
positif (+) sejumlah 7 dengan kartu berwarna kuning yang bertanda negatif
(-) sejumlah 3. Hasilnya yaitu 4 kartu berwarna hijau bertanda positif (+).

Dikurangi

Hasil

Ingat untuk operasi hitung pengurangan, maka pengurangannya harus


diubah dengan lawannya.
Dikurangi

hasil

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari pengurangan diatas, maka hasil dari 7 3 = 4
b)

2 5 = -3
Pertama-tama ambilah kartu berwarna hijau yang bertanda positif
(+) sejumlah 2. Karena operasi hitungnya berupa pengurangan, maka
pengurangannya (bilangan kedua pada operasi hitung) diganti dengan
bilangan lawannya. Lawan dari bilangan kedua, yaitu bilangan positif 5,
yaitu lawan dari positif (+) 5 yaitu negatif (-) 5. Jadi untuk kartu yang
kedua yaitu mengambil kartu berwarna kuning yang bertanda negatif (-)
sejumlah 5. Jejerkan antara kartu berwarna hijau yang bertanda positif
(+) sejumlah 2 dengan kartu berwarna kuning yang kedua yang bertanda
negatif (-) sejumlah 5. Maka akan diketahui hasilnya, yaitu sisa kartu
yang tidak mempunyai pasangan yang bertanda negatif (-) yaitu
sejumlah 3. Jadi, 3 buah kartu berwarna kuning yang bertanda negatif
adalah hasil dari operasi hitung dua dikurangi lima atau bisa juga
hasilnya disebut min tiga atau minus tiga (-3).

Dikurangi

hasil

Ingat untuk operasi hitung pengurangan, maka pengurangannya harus


diubah dengan lawannya.
Dikurangi

hasil

-3

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari pengurangan diatas, maka hasil dari 2 5 = -3.

c) 3 (-4) = 7
Pertama-tama mengambil kartu berwarna hijau bertanda positif
(+) sejumlah 3. Karena operasi hitungnya berupa pengurangan, maka
pengurangannya (bilangan yang kedua pada operasi hitung tersebut)
diganti dengan bilangan lawannya. Selanjutnya melihat bilangan yang
kedua yaitu negatif (-4) karena pengurangannya, maka lawan dari negaitf
(-) 4 yaitu positif (+) 4. Setelah itu yang kedua yaitu mengambil kartu
berwarna hijau yang bertanda positif (+) sejumlah 4. Karena kedua kartu
tersebut sama maka digabungkan. Sehingga hasil dari penggabungan
yaitu 7 sebagai hasil akhir atau positif 7.
Dikurangi

hasil

Ingat untuk operasi hitung pengurangan, maka pengurangannya harus


diubah dengan lawannya.
Dikurangi

hasil

77

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari pengurangan diatas, maka hasil dari 3 (-4) = 7.
d) (-2) (-5) = 3
Pertama-tama mengambil kartu berwarna kuning yang bertanda
negatif (-) sejumlah 2. Karena operasi hitungnya berupa pengurangan,
maka pengurangannya (bilangan kedua yang ada pada operasi hitung
tersebut) diganti dengan bilangan lawannya. Selanjutnya lihat terlebih
dahulu bilangan yang kedua pada operasi hitung pada soal tersebut yaitu

negatif (-) 5 sebagai penguranganya, maka lawan dari negaitif (-) 5 yaitu
positif (+) 5. Barulah mengambil yang kedua yaitu kartu berwarna hijau
bertanda positif (+) sejumlah 5, lalu dijejerkan. Sehingga dapat diketahui
hasilnya yaitu kartu yang tidak mempunyai pasangannya yaitu kartu
berwarna hijau bertanda positif (+) sejumlah 3 atau bisa dikatakan positif
(+) 3 atau 3 saja.

Dikurangi

hasil

Ingat untuk operasi hitung pengurangan, maka pengurangannya harus


diubah dengan lawannya. .
Dikurangi

hasil

Kartu pinus digabungkan sesuai dengan nilai bilangannya


Dari pengurangan diatas, maka hasil dari (-2) (-5) = 3

Jadi dari operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat
diambil kesimpulkan, pengurangan bilangan bulat adalah penjumlahan dengan
lawan bilangannya atau sebagai berikut :
a b = a +( -b )
a ( -b) = a + b
-a ( -b ) = -a + b
Keuntungan menggunakan Kartu Pinus ( plus minus )
a) Kartu pinus lebih praktis, mudah didapat .
b) Mudah menanamkan konsep, karena anak masih dalam masa peralihan.
c) Tahap berfikir anak masih dalam tahapan berfikir kongkret (nyata).
d) Sederhana
B. Penelitian Yang Relevan

Dalam PTK yang telah dilaksanakan oleh Widya Arief Satriyanto tahun 2006 ,
disimpulkan bahwa :
Pembelajaran matematika dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan keaktifan
dan pemahaman konsep siswa. Hal ini dibuktikan dengan nlai rata-rata skor ke aktivan
siswa pada siklus I 78, 36%, pada siklus II nilai rata-rata 80, 65%. Sehingga nilai ratarata kelas yang dicapai dan ketuntasan belajar sudah mencapai nilai rata-rata kelas 7,0
dan ketuntasan belajar sudah mencapai 75 %. Maka pembelajaran menggunakan
metode demonstrasi dapat digunakan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
C. Kerangka Berfikir
Belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya perubahan

pada diri

seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai
bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku,
ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada
individu yang belajar. Demikian pula seorang siswa yang sedang mengikuti belajar
matematika di sekolah. Seharusnya mereka dapat memahami materi pembelajaran
matematika tersebut begitu selesai proses pembelajaran dan mendapatkan hasil belajar
(kognitif, afektif dan psikomotor) yang baik.
Selain itu, karakteristik objek matematika yang abstrak juga

menyebabkan

materi matematika sulit untuk dipahami siswa SD yang masih berada pada tahap
berpikir konkret khususnya pada operasi bilangan bulat. Demikian pula dalam
pelajaran, guru masih menggunakan model pembelajaran klasikal dengan metode
ceramah, sehingga bisa menjembatani kesenjangan materi dan kemampuan berpikir
siswa. Konsep yang diterima cenderung verbal, interaksi belajar didominasi guru, siswa
menjadi pasif, tidak berani bertanya maupun menyampaikan pendapat, sehingga
interaksi siswa tidak maksimal dan kreativitas siswa terhambat.
Dengan metode demonstrasi menggunakan kartu pinus, kemungkinan siswa
akan melakukan penemuan serta dalam proses pembelajran operasi bilangan bulat yang
memungkinkan siswa bertambah pengetahuan serta membangun kerjasama, saling
menghormati, dan timbul kreativitas. Tindakan guru dengan mencoba menggunakan
metode demonstrasi melalui alat peraga kartu pinus, maka bertambah pengetahuannya,
sikap serta ketrampilan dalam bidang akademik. Sehingga akan meningkatkan
profesional dan kualitas guru. Dari uraian diatas, jadi dapat disimpulkan bahwa melalui
metode demonstrasi menggunakan alat peraga kartu pinus pada operasi bilangan bulat
mata pelajaran matematika diduga akan meningkatkan hasil belajar siswa SD.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan analisis teoritik dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai
berikut: Penerapan metode demonstrasi dengan alat peraga kartu pinus dapat

meningkatkan hasil belajar matematika aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa
kelas IV SD .......

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini kami lakukan kepada siswa Sekolah Dasar. Tidak
semua Sekolah Dasar diwilayah ...... kami jadikan penelitian. Kami memilih lokasi
yang tepat untuk dilakukan penelitian. Lokasi tersebut adalah Sekolah Dasar II
Susukan, karena kami melihat bahwa ada salah satu sekolah dasar di ...... itu perlu
dilakukan inovasi dalam proses pembelajaran, yang sebelumnya sudah baik untuk
ditingkatkan lebih baik lagi.
SD ....... terdiri dari 6 kelas yang mana SD ....... merupakan Sekolah Dasar yang
satu atap dengan Sekolah Menengah Pertama. Tidak semua kelas di SD ....... kami
jadikan subyek penelitian. Peneliti kali ini melakukan penelitian tindakan kelas di kelas
IV. Mengapa penelitian tindakan dilakukan dikelas IV? Karena pada saat itu dikelas IV
memang perlu dilakukan inovasi pembelajaran serta hasil belajar siswa yang masih
rendah, khususnya mata belajaran Matematika.
Penelitian tindakan kelas ini kami berkolaborasi dengan guru kelas IV SD .......,
sehingga penelitian ini tidak mengganggu tugas pokok guru dalam melakukan proses
pembelajarannya. Dengan berkolaborasi dengan guru kelas IV SD ......., peneliti dapat
mendapatkan informasi masalah-masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar
dikelas, mengapa timbul masalah demikian, apa saja penyebab masalah tersebut dan
sampai ditemukan pemecahannya. Dengan demikian maka kualitas proses belajar
mengajar jadi lebih efektif, dan ditingkatkan serta juga dapat meningkatkan pula hasil
belajar.Karena hasil penelitian dibukukan maka sewaktu-waktu dikemudian hari dapat
dibuka kembali. Dapat pula sebagai bahan referensi guru-guru yang ada di SD .......
maupun dari sekolah yang lain. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar
penelitian selanjutnya.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester II tahun pelajaran 2010/ 2011. Waktu
yang dibutuhkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah 5 bulan. Dimulai dari
tanggal 22 November 2010 sampai dengan tanggal 31 Maret 2011. Waktu 5 bulan
tersebut dipergunakan untuk melakukan beberapa kegiatan.
3. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas ( Class Action Reseach).
B. Subjek Penelitian

20

Dalam penelitian tindakan kelas tidak ada penentuan jumlah sampel dan jumlah
populasi, yang ada hanya subjek penelitian karena seluruh siswa yang ada dikelas yang
digunakan untuk penelitian tersebut dijadikan subjek penelitian.
Subjek penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas IV SD ...... pada semester
II tahun pelajaran 2010/ 2011. Pada tahun pelajaran 2010/ 2011 ini, siswa kelas IV SD
....... berjumlah 30 siswa yang terdiri 13 siswa perempuan dan 17 siswa laki-laki. Dari
30 siswa kelas IV SD ....... ...... tahun pelajaran 2010/ 2011, semuanya berasal dari
kelurahan .......
Usia siswa kelas IV SD ....... tahun pelajaran 2010/ 2011 berada dikisaran 9
tahun sampai dengan 12 tahun. Dimana berasal dari latar belakang orang tua yang
berbeda. Mata pencaharian orang tua atau wali murid siswa di SD ....... rata-rata mata
pencahariannya yaitu petani dan buruh.
C. Teknik dan Alat Pengumpul Data
Dalam mendapatkan data dalam penelitian tindakan kelas ini diperlukan teknik dan alat
pengumpul data. Dengan menggunakan teknik pengumplan data yang tepat, maka akan
memudahkan didalam melaksanakan penelitian, menjadi jelas dan runtut akan langakahlangkah yang dilakukan. Sedangkan dengan alat pengumpul data yang benar maka dapat
diperoleh data yang akurat yang sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang ada.
1. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian tindakan kelas terdapat 2 teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes
dan teknik non tes.
a. Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau
tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur
sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama
meliputi aspek pengetahuan dan ketrampilan. Tes yang digunakan dalam penelitian
ini adalah tes tertulis bentuk uraian yang dilakukan pada setiap akhir siklus yang
telah dilaksanakan. Tes bentuk uraian ini merupakan tes hasil belajar produk.
Menurut Triyanto (2010) tes hasil belajar produk digunakan untuk mengukur tingkat
ketuntasan belajar siswa, berupa nilai yang diperoleh dari pelaksanaan post test.
b. Teknik non tes terdiri dari :
1) Observasi
Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara menganalisis
dan mencatat serta mengadakan pengamatan secara teliti sarta pencatatan secara
sistematis. Dalam lembar observasi ini di catat segala aktifitas siswa maupun
guru dalam melaksanakan pembelajaran. Lembar observasi ini akan diisi oleh
observer pada setiap akhir pertemuan. Melalui lembar observasi ini diharapkan
dapat memberikan informasi secara rinci mengenai proses selama pembelajaran
yang telah dilaksanakan.

2) Angket Skala respon


Dalam angket skala sikap yang digunakan adalah angket skala sikap yang
digunakan untuk mengungka respon siswa melalui pengerjaan tugas tertulis
dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa
menggunakan metode demonstrasi. Angket skala respon ini diberikan kepada
siswa setelah pelaksanaan tes subsumatif atau pada saat semua kegiatan siklus
telah berakhir. Sedangkan untuk mengetahui sikap siswa maka menggunakan
lembar afektifitas siswa.

3) Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah temuan selama pembelajaran yang diperoleh
peneliti yang tidak teramati dalam lembar observasi,. Catatan lapangan bisa
digunakan sebagai bahan pelengkap bagi pedoman observasi. Bentuk temuan ini
berupa aktivitas siswa dan permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran
4) Wawancara
Wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban
dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Wawancara yang dilakukan
pada penelitian ini adalah wawancara yang ditujukan kepada siswa yang
berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan langsung terhadap pembelajaran
menggunakan metode demonstrasi.

Wawancara

ini dimaksudkan untuk

melengkapi angket yang berisikan pendapat siswa terhadap proses pembelajaran


yang dilakukan.

2. Alat Pengumpulan Data


Berdasakan teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas, bahwa
pengumpulan datanya menggunakan :

1) Lembar observasi
Lembar observasi ini akan diisi oleh observer pada setiap akhir
pertemuan. Melalui lembar observasi ini diharapkan dapat memberikan
informasi secara rinci mengenai proses selama pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Lembar observasi digunakan untuk mengamati aktifitas siswa dan
guru.
2) Soal Tes tertulis
Soal tes tertulis yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas
adalah tes bentuk uraian. Soal-soal tes yang disusun berdasarkan atas indikator

penyelesaian masalah yang akan diukur sehingga dapat melihat keberhasilan


kegiatan.
3) Angket
Derajat penilaian siswa terhadap suatu pernyataan yang berisi SS (Sangat
Sejutu), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju) yang disajikan
dalam bentuk kalimat.
4) Pedoman wawancara
Pedoman wawancara yang dimaksudkan untuk mengetahui pendapat
siswa terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Pedoman wawancara ini
berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan respon siswa terhadap
penggunaan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran.
5) Catatan lapangan
Catatan lapangan ini berisi tentang catatan observer mengenai hambatanhambatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran berlangsung.

D. Analisis Data
Setelah data penelitian tindakan kelas ini diperoleh maka selanjutnya dilakukan analisis
data. Analisis data menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif
digunakan untuk mengukur hasil belajar aspek kognitif dan analisis kualitatif digunakan
untuk mengukur hasil belajar afektif dan hasil belajar psikomotor.
1.

Analisis data hasil belajr aspek kognitif


Jenis data yang akan diperoleh adalah data kuantitatif
Untuk mencari nilai rata-rata (X) Sudjana (1996: 67) digunakan rumus sebagai
berikut:
X = xi
n
Keterangan:
X

= nilai rata-rata

xi = jumlah semua nilai


n

= banyaknya siswa
Untuk menghitung ketuntasan belajar siswa dengan rumus :
TB = S 6 x 100 %
N
Keterangan =

TB

= Ketuntasan belajar

S6

= Jumlah siswa yang mendapatkan nilai 6

= Banyaknya siswa

100%

= Bilangan tetap

peningkatan hasil belajar matematika aspek kognitif ditunjukan dengan nilai rata-rata
hasil evaluasi menggunakan lembar evaluasi yaitu diatas 60
2.

Anaisis data hasil belajar aspek afektif yaitu tentang sikap dan minat siswa terhadap
proses pembelajaran matematika melalui

metode demonstrasi menggunakan alat

peraga kartu pinus.


Peningkatan sikap siswa diukur menggunakan lembar afektif siswa, sedangkan
peningkatan minat menggunakan angket.
Penilaian sikap siswa diambil melalui lembar afektivitas siswa yaitu sikap = skor total
siswa X 100
Skor maksimum
Skor
1 rata-rata 175
1,75 < rata rata 2,5
2,5 < rata rata 3,25
3,25 < rata rata 4

ketrampilan yang dimiliki


Sangat kurang
Kurang
Baik
Sangat baik
( Jihad dan Haris, 2010 : 125 )

3.

Analisis data hasil belajar matematika aspek psikomotor yaitu tingkat ketrampilan
siswa dalam menggunakan alat peraga kartu pinus.
Penilaian ketrampilan diambil melalui lembar pesikomotor yaitu ketrampilan = jumlah
skor X 100
jumlah aktifitas
Skor
1 rata-rata 175
1,75 < rata rata 2,5
2,5 < rata rata 3,25
3,25 < rata rata 4

ketrampilan yang dimiliki


Sangat kurang
Kurang
Baik
Sangat baik
( Wardhani, 2004 : 14 )

E. . Indikator Penelitian
Penelitian ini dinyatakan berhasil apabila :
1. Adanya peningkatan hasil belajar aspek afektif pada selama siklus.
2. Sekurang-kurangnya 85 % dari jumlah siswa hasil belajarnya yang mencapai KKM
yang telah ditetapkan sekolah yaitu 60.
3. Adanya peningkatan hasil belajar aspek psikomotor pada setiap siklus.
F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas direncanakan dua siklus,
apabila belum berhasil akan dilanjutkan siklus berikutnya. Kegiatan setiap siklus terdiri
dari : Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Adapun bentuk prosedur penelitian
ditunjukan dengan diagram pada gambar 3.1, bentuk desain penelitian tindakan kelas dari
Kemmis & Mc Taggart diperlihatkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 Desain penelitian tindakan kelas dari Kemmis & Mc Taggart
1.

Perencanaan
Perencanaan pelaksanaan penelitian meliputi:
a. Mempersiapkan pokok bahasan yang akan digunakan dalam penelitian.
Kegiatan ini dilakukan dengan menelaah KTSP 2006 mata pelajaran
matematika kelas IV sekolah dasar, standar kompetensi, hasil belajar,
indikator, pendekatan, media/ alat peraga, dan sumber belajar yang akan
digunakan dalam penelitian.
b. Merumuskan model pembelajaran yang akan digunakan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa kelas IV (empat) sekolah dasar dalam penyelesaian
penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Untuk memecahkan masalah
tersebut peneliti merumuskan model pembelajaran dengan melalui metode
demonstrasi menggunakan alat peraga kartu pinus untuk meningkatkan
hasil belajar matematika pada materi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat tersebut.
c. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada
metode demonstrasi.

d. Menyusun soal-soal evaluasi yang berupa tes tertulis untuk tes formatif dan
subsumatif.
e. Menyusun instrumen penelitian yang akan di gunakan selama proses
pembelajaran dan penelitian berlangsung.

2.

Tindakan
Proses tindakan penelitian tindakan kelas sesuai dengan jadwal yang ada di SD
....... dimana proses pembelajaran matematika di SD ....... dimulai dari jam 07.00
WIB setiap paginya. Pembelajaran matematika untuk siswa kelas IV adalah pada hari
selasa dan hari jumat yang dilaksanakan mulai dari jam pelajaran pertama sampai
dengan jam pembelajaran ketiga.
Standar kompetensi yang dikembangkan dalam pembelajaran materi operasi
bilangan bulat berdasarkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) adalah
menjumlahkan dan mengurangkan bilngan bulat. Indikator pembelajaran yang
diharapkan disesuaikan dengan Kompetensi dasar yang terdapat dalam silabus yang
berkaitan dengan Standar Kompetensi yang ditetapkan.
Dalam penelitian tindakan kelas yang direncanakan dalam penelitian ini adalah
2 siklus dimana dalam siklus I digunakan untuk membahas materi mengurutkan
bilangan bulat dan menjumlahkan bilangan bulat. Dalam siklus II direncanakan
untuk membahas materi mengurangkan bilangan bulat.
Pelaksanaan tindakan ini dipandu peencanaan yang telah dibuat dan dalam
pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan. Selama
proses pembelajaran berlangsung, guru mengajar sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang sudah dibuat oleh peneliti. Serta peneliti dan bersama observer
mangamati aktivitas siswa dan guru pada saat proses pembelajaran. Adapun tindakan
yang dilakukan dalam bentuk langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang lebih
operasional tertera pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Siklus Penelitian Tindakan Kelas Melalui Metode Demonstrasi
Menggunakan Alat Peraga Kartu Bilangan

No Jenis kegiatan
1. Pendahuluan

2.

Kegiatan Inti

Kegiatan Guru
a. Guru memberikan salam
b. Guru mempresensi siswa
c. Guru membuka pelajaran
d. Guru
menyampaikan
tujuan
pembelajaran
e. Guru menginformasikan metode
pembelajarn yang akan digunakan
f. Guru memberikan motivasi
a. Guru mengelompokkan siswa
menjadi 5 kelompok
b. guru memperagakan penjumlahan

Kegiatan Siswa
Siswa merespon
Siswa memperhatikan
Siswa memperhatikan
Siswa memperhatikan
Siswa memperhatikan
Siswa merespon
Siswa merespon
Siswa

memperhatikan

c.

d.

e.

f.

g.

3.

Penutup

a.

b.
c.
d.
e.

3.

dua
bilangan
positif
dan
penjumlahan dua bilangan negatif
dengan kartu pinus. (tahap 1)
Guru membagikan Lembar Kerja
Siswa (LKS) kepada masingmasing kelompok
Guru
memperagakan
menjumlahkan
dua
bilangan
positif dan negatif bilangan bulat
dengan kartu pinus.(Tahap 2)
Guru memperagakan pengurangan
bilangan bulat positif dengan
bilangan bulat positif dan
pengurangan
bilangan bulat
negatif dengan bilangan bulat
negatif dengan menggunakan alat
peraga kartu pinus. (Tahap 3)
Guru memperagakan pengurangan
bilangan bulat positif dengan
bilangan bulat negatif dan
sebaliknya dengan menggunakan
kartu pinus.. (Tahap 4)
Guru
membimbing
siswa
menggunakan kartu pinus dalam
menjawab latihan-latihan.
siswa
membuat
kesimpulan
dengan bimbingan guru

dan merespon.

Siswa merespon

Siswa memperhatikan
dan merespon

Siswa memperhatikan
dan merespon

Siswa memperhatikan
dan merespon

Siswa merespon

Siswa merespon dan


mencatat tugas yang
diberikan guru
Guru memberikan kuis
Siswa mengerjakan soal
Guru memberikan evaluasi
Siswa merespon
Guru menginformasikan materi Siswa memperhatikan
yang akan datang
Guru menutup proses belajar Siswa merespon
mengajar

Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan lembar observasi yang telah dibuat sebelumnya. Observasi dilakukan
untuk melihat secara langsung bagaimana aktivitas siswa dan guru dalam proses
pembelajaran. Observasi ini dilakukan dalam setiap kegiatan pembelajaran selama
penelitian tindakan kelas berlangsung.

4.

Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan penelitian meliputi kreativitas siswa yang diukur dengan
lambar observasi dan tes serta tindakan guru yang diukur dengan lembar observasi
tindakan guru.

5.

Refleksi
Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Kemudian dilakukan
refleksi untuk melaksanakan penilaian terhadap proses pembalajaran yang terjadi
maupun masalah yang muncul dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang

dilakukan. Pelaksanaan refleksi dilakukan oleh peneliti, observer dan guru kelas
yang bersangkutan dalam bentuk diskusi. Diskusi tersebut bertujuan untuk
mengevaluasi hasil tindakan dan merumuskan perencanaan berikutnya.
Refleksi yang berupa diskusi tentang masukan dan saran-saran mengenai
pelaksanaan tindakan, yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah
selajutnya. Langkah tersebut dituangkan dalam rencana terevisi untuk meakukan
tindakan pada siklus berikutnya, hingga pembelajaran telah maksimal

G. Jadwal Penelitian

Waktu
No

Kegiatan
1

Action Plan

2
3

Proposal
Seminar
Proposal
Persiapan
Pelaksanaan
siklus 1

4
5

Pelaksanaan
siklus 2

Draf laporan

8
9

Laporan
Ujian

November
2 3 4
X

Desember
2 3 4

Januari
2 3 4

Februari
2 3 4

Mare
2 3

X
X
X

X
X

29

Daftar Pustaka

Haris, A dan Jihad, A. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. Multi pressindo.


Hamlik, O. (2006). Buku Media Pendidikan. Bandung. Alumni.
Anitah, S. (2009). Media Pembelajaran. Surakarta. Sebelas Maret University Press.
Sanjaya, W. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan. Jakarta.
Kencana
Badrujaman, A. Dan Hidayat, R. (2009). Cara Mudah Melakukan Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta. Trans Info Media.
Purwanto, N. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Tiurlina dan Suwangsih, E. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung. UPI
PRESS
Hamlik, O. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara
Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung. Remaja Rosda
Karya.
Mulyasa, H.E. (2009). Praktik Penilaian tindakan Kelas. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Djamarah, S.B., dan Aswan, Z. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Yamin, M. (2009). Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta. Gaung Persada
Perss.

Daftar Lampiran
A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )
B. Instrumen Penelitian
1. Lembar Observasi Aktifitas Guru
2. Lembar Observasi Aktifitas Siswa
3. LKS ( Lembar Kerja Siswa )
4. Catatan Lapangan
5. Lembar Wawancara
6. Angket
C. Biodata Tim Peneliti
1. Ketua Pelaksana
2. Anggota I
3. Anggota II

Anda mungkin juga menyukai