Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan globalisasi diberbagai kota semakin meningkatkan jumlah
peristiwa urbanisasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suharini (2007)
ditemukan bahwa adanya perkembangan dari sutau kota akan meningkatkan jumlah
penduduk untuk melakukan urbanisasi. Dengan kata lain, urbanisasi dapat
mempengaruhi terhadap perkembangan kota.
Peristiwa urbanisasi dapat memberikan pengaruh negatif pada sutau kota. Tallness
(2005) menyatakan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan akibat urbanisasi salah
satunya adalah perubahan gaya hidup kearah masalah kesehatan, seperti merokok. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Ischak (2001) menyebutkan bahwa dampak negatif dari
urbanisasi meliputi adanya pencemaran udara akibat peningkatan jumlah transportasi
dan perkembnagan industrialisasi. Akibat merokok dan pencemaran udara tersebut
dapat mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan pada penduduk kota.
Pencemaran udara pada suatu daerah dapat menimbulkan masalah kesehatan
berupa masalah pernapasan pada penduduk daerah (Brunner, Suddart, & Smeltzer,
2008). Keadaan suatu daerah dengan tercemarnya udara menimbulkan mudahnya
Mycobacterium masuk ke dalam tubuh manusia. Salah satu penyakit yang didebabkan
oleh Mycobacterium dan mudah ditularkan melalui udara yaitu penyakit tuberkulosis
(Aries, 2009).
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di berbagai
Negara di dunia. Berdasarkan hasil World Health Organization (WHO) (2012)
menyatakan bahwa benua dengan tingkat tertinggi penderita TB terdapat di benua Asia
dan Afrika, dengan India dan Cina merupakan Negara penyumbang terbesar kasus TB
di dunia sekitar 40% dan kawasan negara-negara di Asia Tenggara dan Pasifik Barat
menyumbangkan sekitar 60% kasus TB di dunia. Salah satu negara Asia Tenggara yang
menyumbangkan kasus TB adalah negara Indonesia.
Kasus TB di Indonesia merupakan masalah kesehatan utama di masyarakat. Tahun
2011, Indonesia merupakan peringkat ke 4 negara dengan kasus TB tertinggi setelah
negara India, Cina, dan Afrika Selatan (WHO, 2012). Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 2004 menyatakan bahwa penyakit TB paru di Indonesia merupakan
penyebab kematian nomor 3 tersebar setelah penyakit jantung dan pernapasan (Depkes,
2008). Peningkatan jumlah penderita TB paru juga dipengaruhi oleh industrialisasi,
1

kemudahan transportasi, serta perubahan ekosistem (Muttaqin, 2008). Selain itu,


kemiskinan menyebabkan penduduk kekurangan gizi, tinggal di tempat yang tidak
sehat,

dan

kurangnya

kemampuan

dalam

pemeliharaan

kesehatan

sehingga

meningkatkan risiko terjadinya penyakit TB (Mahpudin, 2005).


Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang dapat berakibat fatal dan
dapat mengenai hampir semua bagian tubuh, biasanya dan lebih banyak mengenai paru.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosa, yang merupakan
basil tidak berspora, dan mudah dibasmi dengan pemanasan sindar matahari, ultra
violet. Basil ini sukar diwarnai, tetapi setelah diwarnai oleh fuchsin atau methylen blue,
basil ini tidak dapat lagi dibersihkan dengan asam, oleh karena itu disebut basil tahan
asam (BTA).
WHO memperkirakan TB merupakan 6% penyebab dari semua kematian di
seluruh dunia. Sebanyak 140.000 orang meninggal setiap tahun akibat TB atau setiap 4
menit ada satu penderita yang meninggal dan setiap 2 detik terjadi penularan. Kasus TB
paling banyak terjadi di Asia Tenggara (35%), Afrika (30%), dan Pasifik Barat (20%).
Berdasarkan data WHO pada tahun 2011, lima negara dengan insiden kasus TB
terbanyak yaitu, India (2,0-2,5 juta), China (0,9-1,0 juta), Afrika Selatan (0,4-0,6 juta),
Indonesia (0,4-0,5 juta), dan Pakistan (0,3-0,5 juta). India dan Cina masing-masing
menyumbangkan 26% dan 12% dari seluruh jumlah kasus di dunia (WHO, 2012).
Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI (Depkes RI) Indonesia diperkirakan
memiliki prevalensi TB untuk semua tipe TB adalah 565.614 kasus per tahun, 244 per
10.000 penduduk dan 1.550 per hari. Insidensi kasus TB yang mengakibatkan kematian
sebanyak 91.369 kasus per tahun, 30 kasus per 10.000 penduduk dan 250 kasus per hari.
TB sering dijumpai di daerah dengan penduduk yang padat, sanitasi yang buruk dan
malnutrisi, serta masyarakat dengan sosial ekonomi yang rendah. (Depkes, 2010).
TB paling sering menginfeksi sistem respirasi, baik berdiri sendiri ataupun
bersamaan dengan TB pada organ lain, di mana TB paru memiliki persentase lebih dari
80% dari keseluruhan kasus TB (Wong, 2008). Hampir 10% dari seluruh penderita TB
memiliki keterlibatan dengan muskuloskeletal. Setengahnya mempunyai lesi di tulang
belakang dengan disertai defisit neurologik 10% - 45% dari penderita (Hiswani, 2002).
Tuberkulosis tulang dan sendi merupakan 35% dari seluruh kasus tuberkulosa
ekstrapulmonal dan paling sering melibatkan tulang belakang, yaitu sekitar 50% dari
seluruh kasus tuberkulosa tulang. Keterlibatan spinal biasanya merupakan akibat dari
penyebaran hematogen dari lesi pulmonal ataupun dari infeksi pada sistem
genitourinarius (Isselbacher, et al. 2000).
2

Spondilitis tuberkulosa (Spondilitis TB) memiliki distribusi di seluruh dunia


dengan prevalensi yang lebih besar pada negara berkembang. Tulang belakang adalah
tempat keterlibatan tulang yang paling sering, yaitu 5-15% dari seluruh pasien dengan
tuberkulosis. Spondilitis TB merupakan penyakit kronik dan lambat berkembang
dengan gejala yang telah berlangsung lama. Spondilitis TB merupakan penyakit yang
dianggap paling berbahaya karena keterlibatan medula spinalis dapat menyebabkan
gangguan neurologis. Defisit neurologis pada spondilitis tuberkulosa terjadi akibat
pembentukan abses dingin, jaringan granulasi, jaringan nekrotik dan sequestra dari
tulang atau jaringan diskus intervertebralis, dan kadang-kadang trombosis vaskular dari
arteri spinalis.
Spondilitis TB dapat terjadi pada level manapun dari tulang belakang. Lokalisasi
yang paling sering terjadi yaitu pada daerah torakal bawah dan daerah lumbal (T8L3),
dan insidensi keterlibatan daerah torakal atas, servikal, dan sakral adalah 2-3%.
Spondilitis TB merupakan infeksi sekunder dari tuberculosis di tempat lain dari tubuh.
Riwayat penyakit dan gejala klinis pasien adalah hal yang penting, namun tidak selalu
dapat diandalkan untuk diagnosis dini. Nyeri adalah gejala utama yang paling sering.
Gejala sistemik muncul seiring dengan perkembangan penyakit. Nyeri punggung
persisten dan lokal, keterbatasan mobilitas tulang belakang, demam dan komplikasi
neurologis dapat muncul saat destruksi berlanjut. Gejala lainnya menggambarkan
penyakit kronis, mencakup malaise, penurunan berat badan dan fatigue. Diagnosis
biasanya tidak dicurigai pada pasien tanpa bukti tuberkulosa ekstraspinal (Brunner dan
Suddarth, 2002).
Penatalaksanaan

Spondilitis

TB

masih

kontroversial,

beberapa

penulis

menganjurkan pemberian obat-obatan saja, sementara yang lainnya merekomendasikan


obat-obatan dengan intervensi bedah. Dekompresi agresif, pemberian Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) selama 9-12 bulan dan stabilisasi spinal dapat memaksimalkan
terjaganya fungsi neurologis.

B. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk membahas definisi, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi, Web Of Caution (WOC), komplikasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan diganostik penunjang, penatalaksanaan serta diagnosa keperawatan
dan intervensi yang mungkin ditemukan dari penderita Spondilitis TB.
3

C. Manfaat Penulisan
Untuk mengetahui definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, Web Of
Caution (WOC), komplikasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan
diganostik penunjang, penatalaksanaan serta diagnosa keperawatan dan intervensi yang
mungkin ditemukan dari penderita Spondilitis TB.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi dan Fisiologis Saraf Spinalis (Syaifuddin, 2006)

Gambar 1
Pembagian sistem saraf (http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id)
Sistem saraf manusia terbagi atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem
saraf pusat terdiri dari otak dan medula spinalis. Sistem saraf tepi terdiri dari sistem
saraf somatis dan otonom (simpatis dan parasimpatis).
Terdapat 31 pasang saraf medula spinalis yang muncul dari segmen-segmen
medula spinalis melalui dua akar yaitu akar anterior dan akar posterior. Serabut saraf
motorik membentuk akar anterior yang berpadu dengan serabut saraf sensorik pada akar
posterior bersama membentuk saraf spinalis gabungan. Penyatuan ini terjadi sebelum
serabut saraf itu melintas foramen intervertebralis, segera setelah itu membagi diri lagi
menjadi serabut primer anterior dan serabut primer posterior. Serabut primer posterior
melayani kulit dan otot punggung. Sedangkan serabut primer anterior membentuk
berbagai cabang yang menjadi pleksus saraf anggota gerak dan membentuk saraf
interkostalis pada daerah toraks

Gambar 2
Serabut saraf spinalis (http://google.com)
1. Jalur Saraf Motorik
Impuls berjalan dari korteks serebri menuju sumsum belakang melalui jalur
traktus serebospinalis atau traktur piramidalis. Neuron pertama yaitu neuron motorik
atas memiliki badan sel dalam daerah prerolandi pada korteks serebri. Serabutserabutnya berpadu erat pada saat melintasi antara nucleus kaudatus dan lentiformis
dalam kapsula interna. Neuron motorik bawah yang bermula sebagai badan sel dalam
kornu anterior sumsum tulang belakang keluar dan masuk ke akar anterior saraf
spinalis lalu didistribusikan ke prifer dan berakhir pada organ motorik.
2. Fisiologi Pengaturan Motorik
Kegiatan motorik bawah sadar yang diintegrasikan dalam medulla spinalis dan
batang otak bertanggung jawab untuk daya gerakan. Gerakan volunter sederhana atau
kompleks dapat dilaksanakan oleh sturuktur motor di otak besar terutama area
korteks didepan sulkus sentralis. Jika seorang menderita kecelakaan trauma berat
pada korda spinalis maka terlihat gangguan kendali motorik otot yang diinervasi oleh
segmen saraf ditempat yang mengalami kerusakan: kehiangan kemampuan
menggerakkan anggota tubuh atas dan bawah secara volunteer, meskipun gerak
kepala lidah dan mata masih dikendalikan oleh saraf cranial dan batang otak.
Puncak peranan dari system saraf adalah pengendalian berbagai aktivitas
tubuh. Kemampuan ini dapat dicapai melalui pengendalian:
a. Kontraksi otot rangka seluruh tubuh
b. Kontraksi otot polos visceral
6

c. Sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin


Seluruh aktivitas pengedalian ini disebut fungsi motorik system saraf.
Sedangkan otot dan kelenjar adalah efektor karna melakukan fungsi yang ditetapkan
oleh isyarat saraf. Korteks motorik primer. Perkiraan otak manusia memperlihatkan
titik-titik didalam korteks motorik primer yang menyebabkan kontraksi otot didalam
berbagai bagian tubuh bia dirangsang. Rangsangan korteks motorik paling lateral
menyebabkan kontraksi otot yang berhubungan dengan gerakan menelan,
mengunyah, dan gerakan-gerakan wajah. Perangsangan bagian tengah garis korteks
motorik membengok kedalam fisura longitudinal menyebabkan kontraksi tungkai,
kaki dan jari kaki.
Korteks motorik asosiasi (premotorik).korteks ini terletak tepat didepan korteks
motorik primer yang bertugas membuat program gerakan volunter kompleks,
mengaktifkan oto-otot yang diperlukan untuk gerakan. Rangsangan listrik pada
korteks serebri di depan korteks motorik prmer menimbulkan kontraksi kompleks
dari kelompok otot atau gerakan berirama seperti mengayun tungkai ke depan dan
belakang, gerakan mata berkoordinasi, gerakan mengunyah, menelan dan posisi
sikap.
Korteks premotorik melukiskan kemampuan khusus mengatur gerakan
terkoordinasi yang meliputi banyak otot secara serentak, hal ini terjadi karena:
a. Mempunyai hubungan neuron subkortikal yang panjang dengan daerah asosiai
sensooris lobus parietal.
b. Mempunyai hubungan subkortikal langsung dengan korteks motorik primer.
c. Berhubungan dengan daerah-daerah dalam talamus yang bersebelahan dengan
daerah talamikus, berhubugan dengan korteks motorik primer.
d. Daerah premotorik mempunyai banyak hubungan langsung dengan ganglia basalis

B.

Spondilitis TB
Definisi

1.

Gambar 3
Spondilitis TB (http://google.com)
Spondilitis TB atau tuberkulosis spinal yang
dikenal pula dengan nama Potts disease of the spine
atau

tuberculous

vertebral

osteomyelitis

yang

merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di


seluruh dunia. Spondilitis TB merupakan infeksi
granulomatosis dan bersifat kronis destruktif yang di
sebabkan oleh kuman spesifik yaitu Mycobacterium
tuberculosa

yang

mengenai

tulang

vertebra

(Paramarta, Purniti, Subanada, & Astawa, 2008).


Spondilitis TB juga didefinisiskan sebagai peradangan granulonatosa yang bersifat
kronis, destruktif oleh Mycobacterium tuberculosa. Spondilitis TB selalu merupakan
infeksi sekunder atau ekstra paru dari TB paru (Zuwanda & Janitra, 2013).
2. Etiologi
Spondilitis TB merupakan infeksi sekunder dari Mycobacterium tuberculosa di
tempat lain di tubuh selain paru. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat
khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula
sebagai basil tahan asam (BTA), yang disebabkan karena kuman bakterium memiliki
dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan lemak (asam lemak mikolat).
Selain itu bersifat pleimorfik, tidak bergerak dan tidak membentuk spora serta
memiliki panjang sekitar 2-4 m (Paramarta, Purniti, Subanada, & Astawa, 2008).
Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman
ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa tahun (Price dan Wilson, 2006).
Dipergunakan teknik Ziehl-Nielson untuk memvisualisasikannya. Bakteri tubuh
secara lambat dalam media egg-enriched dengan periode 6-8 minggu. Produksi
niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu
untuk membedakannnya dengan spesies lain (Vitriana, 2002).
3. Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala
tuberkulosis pada umumnya. Gejala yang sering ditemukan adalah sebagai berikut:
a. Gejala umum
1) Badan lemah dan lesu
2) Nafsu makan berkurang
3) Penurunan berat badan
8

4) Demam terutama pada malam hari serta sakit pada punggung


5) Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari
b. Gejala lokal
Nyeri atau kaku pada punggung merupakan gejala awal yang sering
ditemukan. Spasme otot-otot punggung terjadi sebagai suatu mekanisme
pertahanan menghindari pergerakan pada vertebra. Saat penderita tidur, spasme
otot hilang dan memungkinkan terjadinya pergerakan tetapi kemudian timbul
nyeri lagi. Gejala ini dikenal sebagai night cry, umumnya terdapat pada anakanak.
Gejala lokal sesuai dengan lokasi vertebra yang terkena penyakit. Pada
vertebra servikal dapat ditemukan gejala kaku leher, nyeri vertebra yang menjalar
ke oksipital atau lengan, yang dirasakan lebih hebat bila kepala ditekan kearah
kaudal. Kemudian dapat terjadi deformitas, lordosis-normal akan berkurang dan
anak menopang kepalanya dengan lengan, abses retrofaringeal atau servikal,
paralisa lengan diikuti oleh paralisa tungkai. Gejala neurologik dapat terjadi
karena subluksasi antar vertebra, penekanan medula spinalis atau radiks saraf
serta diskus oleh tulang, terbentuknya abses, reaksi terhadap infeksi lokal,
terjadinya vaskulitis tuberkulosa.

Gambar 4
Kelainan tulang belakang (http://google.com)
Pada spondilitis tulang juga akan ditemukan gangguan neurologis.
Gangguan ini tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi
ditentukan besarnya tekanan abses ke kanalis spinalis. Bila terjadi gangguan
neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu:
1) Derajat I: kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan
aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf
sensoris.
9

2) Derajat II: terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih
dapat melakukan pekerjaannya.
3) Derajat III: terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi
gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia atau anesthesia.
4) Derajat IV: terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan
defekasi dan miksi. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi
secara dini atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya.
5) Stadium deformitas residual: Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah
timbulnya stadium implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh
karena kerusakan vertebra yang massif di sebelah depan.
4. Patofisiologi
Spondilitis TB merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder
dari TB tempat lain di tubuh. Penyebarannya terjadi secara hematogen. Tuberkulosis
menyebar melalui pembuluh darah dan limfe. Infeksi ini merusak tulang, timbul
nekrosis yang dapat menjalar ke sendi atau terdapat di bawah kulit berupa abses. Bila
sampai merusak diskus invertebralis dapat meimbulkan deformitas. Pada anak-anak
TB ini menyebabkan kifosis, skoliosis, atau deformitas hunch-back (bongkok).
Kerusakan

progresif

bagian

anterior

vertebra

akan

menimbulkan

kifosis

(Tambayong, 2000).
Ramachandran dan Paramasivan (2003) menyatakan perjalanan spondilitis TB
menjadi 4 tahap, yaitu:
a. Fase Primer
Basil masuk melalui saluran pernafasan sampai ke alveoli. Didalam jaringan
paru timbul reaksi radang yang melibatkan sistim pertahanan tubuh, dan
membentuk afek primer. Bila basil terbawa ke kelenjar limfoid hilus, maka akan
timbul limfadenitis primer, suatu granuloma sel epiteloid dan nekrosis perkijuan.
Afek primer dan limfadenitis primer disebut kompleks primer. Sebagian kecil
dapat mengalami resolusi dan sembuh tanpa meninggalkan bekas atau sembuh
melalui fibrosis dan kalsifikasi.
b. Fase Miliar
Kompleks primer mengalami penyebaran miliar, suatu penyebaran
hematogen yang menimbulkan infeksi diseluruh paru dan organ lain. Penyebaran
bronkogen menyebarkan secara langsung kebagian paru lain melalui bronkus dan
menimbulkan bronkopneumonia tuberkulosa. Fase ini dapat berlangsung terus

10

sampai menimbulkan kematian, mungkin juga dapat sembuh sempurna atau


menjadi laten atau dorman.
c. Fase Laten
Kompleks primer ataupun reaksi radang ditempat lain dapat mengalami
resolusi dengan pembentukan jaringan parut sehingga basil menjadi dorman. Fase
ini berlangsung pada semua organ yang terinfeksi selama bertahun-tahun. Bila
terjadi perubahan daya tahan tubuh maka kuman dorman dapt mengalami
reaktivasi.
d. Fase Reaktivasi
Fase reaktivasi dapat terjadi di paru atau diluar paru. Pada paru, rektifasi
penyakit ini dapat sembuh tanpa bekas, sembuh dengan fibrosis dan kalsifikasi
atau membentuk kaverne dan terjadi bronkiektasi. Reaktivasi sarang infeksi dapat
menyerang berbagai organ selain paru. Ginjal merupakan organ kedua yang paling
sering terinfeksi; selanjutnya kelenjar limfe, tuba , tulang, sendi, otak, kelenjar
adrenal, saluran cerna dan kelenjar mamma. Meskipun jarang, tuberkulosa
kongenital dapat ditemukan pada bayi, ditularkan melalui vena umbilikal atau
cairan amnion ibu yang terinfeksi.
Paru merupakan port dentree lebih dari 98% kasus infeksi TB, karena
ukuran bakteri sangat kecil sekitar 1-5 , kuman TB yang terhirup mencapai
alveolus dan segera diatasi oleh mekanisme imunologis nonspesifik. Makrofag
alveolus akan memfagosit kuman TB dan sanggup menghancurkan sebagian besar
kuman TB. Pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan
kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam
makrofag yang terus berkembang-biak, akhirnya akan menyebabkan makrofag
mengalami lisis, dan kuman TB membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi
pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut fokus primer Ghon.
Diawali dari fokus primer (Ghon), kuman TB menyebar melalui saluran
limfe menuju ke kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai
saluran limfe ke lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya
inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang
terkena. Jika fokus primer terletak di lobus bawah atau tengah, kelenjar limfe
yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika fokus primer
terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks
primer merupakan gabungan antara fokus primer, kelenjar limfe regional yang
11

membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis). Agrawal,


Patgaonkar, dan Nagariya (2010) menyatakan bahwa pada anak, sumber infeksi
biasanya berasal dari fokus primer di paru, sedangkan pada orang dewasa berasal
dari fokus ekstrapulmoner (usus, ginjal, tonsil). Dari paru-paru, kuman dapat
sampai ke tulang belakang melalui pleksus venosus paravertebral Batson.
Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi
pertumbuhannya oleh imunitas selular, kuman tetap hidup dalam bentuk dorman.
Fokus tersebut umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi
berpotensi untuk menjadi fokus reaktivasi, disebut sebagai fokus Simon.
Bertahun-tahun kemudian, bila daya tahan tubuh pejamu menurun, fokus Simon
ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di organ terkait,
misalnya meningitis, TB tulang dan lain-lain.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas selular, dapat terjadi
penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman
menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer sedangkan
pada penyebaran hematogen kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang
menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.
Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk
penyebaran hematogenik tersamar (occult hematogenic spread), kuman TB
menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan
gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh
tubuh. Organ yang dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik,
misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru atau lobus atas
paru.

12

13

5. Web of Caution
Infeksi Mycobacterium tuberculosa
Masuk ke paru
Aktivasi imunologi non spesifik: makrofag

Respon infeksi
MK: Hipertermi

Merangsag
hematoencephalic
barrier (bereaksi
terhadap hipotalamus)

Fagositosis gagal
Produksi prostaglandin
Makrofag lisis: bakteri bereplikasi
Merangsang
cerebral cortex

Pembentukan Ghon
MK: risiko
penyebaran infeksi

Tersebar secara hematogen dan limfatik

Nafsu makan
menurun & leptin
meningkat

Menginvasi tulang belakang

MK: gangguan citra


tubuh

Nafsu makan
disupresi

Pembentukan area gibus (kifosis)


Penekanan saraf-saraf tulang belakang

Kerusakan pada serabut saraf motorik

MK: gangguan rasa nyaman: nyeri

Kelemahan pada ekstremitas bawah


Dekompresi tulang belakang
MK: Gangguan mobilitas
fisik
Post operasi

MK: Risiko tinggi


terjadinya infeksi

Penggunaan korset/ bed rest


Tindakan operatif:
pemasangan implant

MK: Kecemasan
MK: Perubahan nutrisi:
kurang dari kebutuhan
tubuh

14

6. Komplikasi
Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis yang paling serius adalah Potts
paraplegia yang apabila muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural
oleh pus maupun sequester, atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan
bila muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan
granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.
Mielografi dan MRI penting untuk membedakan penyebab paraplegi ini.
Paraplegi yang disebabkan oleh tekanan ekstradural oleh pus ataupun sequester
membutuhkan tindakan operatif dengan cara dekompresi medulla spinalis dan saraf.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra torakal
ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan pada
vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses
yang merupakan cold abscess.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang
belakang terlihat bentuk kiposis dan tampak penonjolan dari tulang.
b. Palpasi
Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat
adanya penonjolan pada area tulang yang mengalami infeksi.
c. Perkusi
Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.
d. Auskultasi
Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan.

8. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Penunjang


a. Radiologi

15

Gambar 5
Pencitraan sinar-X proyeksi AP pasien spondilitis TB. Sinar-X memperlihatkan
iregularitas dan berkurangnya ketinggian dari badan vertebra T9 (tanda
bintang), serta juga dapat terlihat massa paravertebral yang samar, yang
merupakan cold abscess (panah putih) (Paramarta, Purniti, Subanada, dan
Astawa, 2008)
1) Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat jarang
menyerang area posterior
2) Terdapat penyempitan diskus
3) Gambaran abses para vertebral (fusi form)
4) Computed TomographyScan (CT), terutama bermanfaat untuk memvisualisasi
regio torakal dan keterlibatan iga yang sulit dilihat pada foto polos.
Keterlibatan lengkung syaraf posterior seperti pedikel tampak lebih baik
dengan CT Scan.
5) Magnetic Resonance Imaging (MRI), untuk membedakan komplikasi yang
bersifat kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang
belakang.
6) Neddle biopsi/ operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal
mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan pengalaman
dan pembacaan histologi yang baik (untuk menegakkan diagnosa yang
absolut).

16

b. Laboratorium
1) Laju endap darah meningkat yang menunjukkan adanya infeksi, dari 20 sampai
lebih dari 100mm/ jam
2) Pemeirksaan urin (melihat adanya keterlibatan ginjal), sputum dan bilas
lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paruparu yang aktif).
3) Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins,
typhoid, paratyphoid, dan brucellosis (pada kasus-kasus yang sulit dan pada
pusat kesehatan dengan peralatan yang cukup canggih) untuk menyingkirkan
diagnosa banding.
4) Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis
tuberkulosa).

Normalnya

cairan

serebrospinal

tidak

mengeksklusikan

kemungkinan infeksi TBC. Pemeriksaan cairan serebrospinal secara serial akan


memberikan hasil yang lebih baik.
c. Tuberculin skin test/Mantoux test/Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD)

positif. Hasil yang positif dapat timbul pada kondisi pemaparan dahulu maupun
yang baru terjadi oleh mycobacterium. Tuberculin skin test ini dikatakan positif
jika tampak area berindurasi, kemerahan dengan diameter 10 mm di sekitar
tempat suntikan 48-72 jam setelah suntikan.
9. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan
sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah
paraplegia.
Prinsip pengobatan sebagai berikut:
a. Pemberian obat antituberkulosis (OAT);
b. Dekompresi medulla spinalis;
c. Menghilangkan menyingkirkan produk infeksi
d. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)
Pengobatan terdiri atas:
a. Terapi Konservatif
1) Tirah baring (bed rest)
2) Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra atau membatasi gerak
vertebra
3) Memperbaiki keadaan umum penderita
4) Pengobatan antituberkulosa
Pengobatan non-operatif dengan menggunakan kombinasi paling tidak 4 jenis
obat anti tuberkulosis. Pengobatan dapat disesuaikan dengan informasi
17

kepekaan kuman terhadap obat. Pengobatan INH dan rifampisin harus


diberikan selama seluruh pengobatan.
Nama Obat
Isoniazid
Rifampisin

Dosis Harian
5 15 (300 mg)

Efek Samping
Hepatitis, neuritis perifer,

10 20 (600 mg)

hipersensitivitas.
Gastrointestinal,
kulit,

Pyrazinamid
Ethambutol

reaksi

hepatitis,

trombositopenia,

ensim

hepar,

cairan

tubuh

15 40 (2)

berwarna oranye
Toksisitas

hepar,

15 25 (2,5)

artralgia, gastrointestinal
Neuritis optik, penurunan
visus,

hipersensitif,

gastrointestinal
Streptomycin
15 40 (1)
Ototoksik, nefrotoksik
Sumber: Rahajoe NN, Basir D, Makmuri MS. Pedoman Nasional TB anak
dalam Paramarta, Purniti, Subanada, dan Astawa (2008).
b. Terapi Operatif
Qureshi, Khalique, Afzal, Pasha, dan Aebi (2012) menyatakan bahwa paling
sering kasus Spondilitis TB harus dioperasi dengan indikasi defisit neurologis,
deformitas, ketidakstabilan, abses luas dan nekrotik jaringan, atau tidak adanya
tanda-tanda membaik setelah diberikan terapi OAT. Tindakan operasi dilakukan
bila setelah 34 minggu pemberian terapi obat antituberkulosa dan tirah baring
(terapi konservatif) dilakukan tetapi tidak memberikan respon yang baik sehingga
lesi spinal paling efektif diterapi dengan operasi secara langsung. Intervensi
operasi banyak bermanfaat untuk pasien yang mempunyai lesi kompresif secara
radiologis dan menyebabkan timbulnya kelainan neurologis. Setelah tindakan
operasi pasien biasanya beristirahat di tempat tidur selama 36 minggu.
10. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis TB antara lain:
a. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan muskuloskeletal dan nyeri
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam
diharapkan tidak terjadi gangguan mobilisasi fisik
Kriteria hasil:
1. Klien mampu melakukan ROM aktif
18

2. Tidak ada atrofi


Intervensi
Rasional
Sarankan klien tetap melakukan Aktivitas minimal seperti miring kiri,
aktivitas ringan.

miring kanan dianjurkan. Aktivitas berat


tidak

diperbolehkan

karena

akan

meningkatkan pergerakan tulang belakang


yang telah mengalami infeksi sehingga
memungkinkan kerusakan akan semakin
Sarankan

luas.
klien Aktivitas

kepada

ringan

dan

bertahap

melakukan aktivitas yang ringan memungkinkan untuk ditoleransi klien.


dan bertahap.
Sarankan kepada keluarga untuk Mencegah risiko terjadinya injuri.
membantu aktivitas klien
Sarankan kepada klien untuk Korset membantu menjaga posisi tulang
menggunakan korset.
Observasi reaksi nyeri
melakukan aktivitas.
Ajarkan
keluarga

belakang tetap dalam keadaan lurus.


saat Dengan mobilisasi, terjadi penarikan otot,
hal ini menimbulkan nyeri.
untuk ROM membantu meningkatkan kelenturan

melakukan ROM pasif atau aktif otot yang mencegah terjadinya kontraktur
sesuai dengan kondisi klien

dan atrofi.

b. Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot b/d adanya peradangan sendi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam
diharapkan nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil:
1) Klien secara subjektif mengatakan nyeri berkurang (skala nyeri berkurang)
2) Klien tampak tenang/ rileks
3) Klien mampu melakukan manajemen nyeri secara mandiri
Intervensi
Rasional
Kaji nyeri secara komprehensif. Nyeri adalah pengalaman subjek yang
hanya

dapat digambarkan oleh klien

sendiri.
Berikan analgesik sesuai terapi Analgesik

berfungsi

menghambat

di

dan kaji efektivitasnya terhadap sekresi nya medioator kimia untuk nyeri.
nyeri.
Gunakan brace punggung atau Korset
korset sesuai indikasi.

untuk

mempertahankan

punggung tetap pada garis lurus.


19

posisi

Berikan

dorongan

untuk Dengan mengubah posisi otot otot tidak

mengubah posisi ringan dan mengalami spasme dan tegang sehingga


sering untuk meningkatkan rasa otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
nyaman.
Ajarkan dan bantu dalam teknik Metode alternatif seperti relaksasi kadang
alternatif penatalaksanaan nyeri.

lebih cepat menghilangkan nyeri atau


dengan

mengalihkan

perhatian

klien

sehingga nyeri berkurang.


c. Risiko penyebaran infeksi b/d infeksi Mycobacterium tuberculosa aktif
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam
diharapkan dalam waktu 4x24 jam tidak terjadi penyebaran infeksi
Mycobacterium tuberculosa
Kriteria hasil:
1. Kerusakan tulang tidak meluas
2. Kelemahan motorik tidak semakin berat
3. Tidak terbentuk pus
4. Nilai WBC dalam batas normal (5.000 10.000/ L)
Intervensi
Rasional
Kaji tanda-tanda dan lokasi yang Membantu dalam menentukan intervensi
infeksi.
Pantau TTV.

selanjutnya.
Peningkatan

suhu

mengidentifikasikan

reaksi inflamasi (adanya infeksi).


Pertahanan teknik aseptik pada Menurunkan resiko infeksi nosokomial.
perawatan luka dan prosedur
invasive.
Perhatikan tirah baring yang Mencegah terjadinya dekubitus yang akan
lama.
Kolaborasi

meningkatkan risiko terjadinya infeksi


nosokomial.
penggunaan Peran perawat mengkaji adanya reaksi dan

antibiotik.

riwayat
memberikan

Kolaborasi pemberian OAT

alergi,

antibiotik,

antibiotik

sesuai

serta
intruksi

dokter.
OAT merupakan penanganan terhadap
infeksi Mycobacterium Tuberculosa.

d. Gangguan citra tubuh b/d deformitas pada tulang belakang


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,
20

diharapkan citra tubuh tidak mengalami gangguan.


Intervensi
Rasional
Berikan kesempatan pada klien Meningkatkan harga diri

klien

dan

untuk mengungkapkan perasaan. membina hubungan saling percaya dan


Perawat harus

mendengarkan dengan

dengan penuh perhatian.


Bersamasama dengan

ungkapan

perasaan

membantu penerimaan diri.


klien Dukungan perawat pada

klien

dapat
dapat

mencari alternatif koping yang meningkatkan rasa percaya diri klien.


positif.
Kembangkan komunikasi dan Memberikan semangat bagi klien agar
bina

hubungan

antara

klien dapat memandang dirinya secara positif

keluarga dan teman serta berikan dan tidak merasa rendah diri.
aktivitas rekreasi dan permainan
guna mengatasi perubahan body
image.
e. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam diharapkan
nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
1. Porsi makan klien habis
2. Nafsu makan meningkat
3. BB stabil
Intervensi
Auskultasi bising usus.

Hipoaktif

Rasional
bising
usus

menunjukkan

penurunan motilitas gaster.


Kaji kemampuan mengunyah dan Menentukan pemilihan terhadap

jenis

menelan.
makanan.
Hindari makanan penghasil gas Dapat menimbulkan distensi abdomen.
dan mengandung karbonat.
Anjurkan makan dengan porsi Memenuhi kebutuhan nutrisi.
sedikit tapi sering.
Anjurkan makan makanan dalam Meningkatkan nafsu makan.
kondisi hangat.
Berikan perawatan oral sering.

Rasa tidak enak dan bau pencegah utama


terhadap nafsu makan.

21

22

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Uraian Kasus
Tn. R (21 tahun) dirawat di ruang Cendrawasih I dengan diagnosa Spondilitis TB.
Klien sebelumnya dirawat di RS Puri Husada. Klien dirujuk ke RSUD AA pada tanggal
8 Agustus 2014. Pada saat pengkajian klien tampak terbaring lemah di atas tempat tidur.
Keluarga mengatakan klien sekarang sudah tidak mampu lagi untuk berjalan seperti
sebelumnya. Kekuatan kaki klien semakin hari semakin melemah, pada ekstremitas
bawah dextra klien mulai kehilangan sensitivitas. Keluarga mengatakan bahwa
sebelumnya klien hanya mengalami benjolan kecil pada bagian punggung yang disertai
dengan demam. Klien membiarkan dan tetap bekerja sebagaimana biasanya. Demam
yang dialami klien datang terus-menerus sehingga keluarga memutuskan membawa
klien ke RS.
B. Pengkajian (28-08-2014)
1. Identitas Klien
Nama
: Tn. R (L/P)
TTL
: Kuala Lemang, 01-07-1993
Gol. Darah
: O+
Pendidikan
: SMA
Agama
: Islam
Suku
: Melayu
Stts Perkawinan : Belum Menikah
Pekerjaan
: Buruh
Alamat
: Kuala Lemang, Kec. Keritang Indragiri Hilir
Dx. Medik
: Spondilitis TB
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama
: Tn. J
Umur
: 50 tahun
Jenis Kelamin : (L/P)
Agama
: Islam
Suku
: Melayu
Hub. Dgn Klien : Ayah
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Petani
Alamat
: Kuala Lemang, Kec. Keritang Indragiri Hilir
C. Status Kesehatan
1. Status Kesehatan Saat Ini
a. Alasan Masuk Rumah Sakit
Klien masuk via IGD pada tanggal 8 Agustus 2014 rujukan dari Rumah Sakit Puri
Husada, Indragiri Hilir dengan alasan demam terus-menerus yang disertai dengan
pembesaran benjolan pada bagian punggung.
23

b. Keluhan Utama
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 28 Agustus 2014, keluarga klien
mengatakan kaki kanan klien mengalami kelemahan sehingga tidak bisa
digunakan untuk berjalan. Benjolan pada punggung klien juga mengalami lecet.
c. Faktor Pencetus
Lecet pada benjolan punggung disebabkan karena tirah baring lama.
d. Lamanya Keluhan
Sejak 1 bulan yang lalu.
e. Timbulnya Keluhan
( ) Bertahap
( ) Mendadak
f. Faktor yang Memperberat
Kondisi fisik yang lemah.
2. Status Kesehatan Masa Lalu
a. Penyakit yang Pernah Dialami
Keluarga klien mengatakan klien sebelumnya tidak pernah mengalami penyakit
yang kronis, klien hanya mengalami demam dan flu biasa.
b. Kecelakaan
Keluarga mengatakan klien tidak pernah mengalami kecelakaan sebelumnya.
3. Pernah Dirawat
(Klien sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit)
a. Penyakit
:b. Waktu
:c. Riw. Operasi : D. Pengkajian Pola Fungsi Dan Pemeriksaan Fisik
1. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
(Tidak dapat dikaji langsung pada klien)
a. Persepsi Tentang Kesehatan Diri
Keluarga mengatakan sebelumnya keluarga telah diberitahu bahwa klien
menderita TB Tulang dan minum obat selama 6 bulan dan tidak boleh putus.
Sehingga keluarga mengikuti anjuran tersebut dan bersedia mengikuti terapi yang
diberikan layanan kesehatan.
b. Pengetahuan dan Persepsi Klien Tentang Penyakit dan Perawatannya
Keluarga hanya mengetahui klien menderita TB Tulang dan harus mengkonsumsi
obat 6 bulan, serta akan dilakukan tindakan operasi, namun keluarga tidak
mengetahui jenis operasi yang akan dilakukan.
c. Upaya yang Biasa Dilakukan dalam Mempertahankan Kesehatan
1) Kebiasaan Diit yang Adekuat, Diit yang Tidak Sehat?
Keluarga mengatakan pola makan klien teratur, dan tidak terlalu menyukai
makanan berlemak.
2) Kemana Klien Biasa Berobat bila Sakit
Keluarga mengatakan biasanya jika hanya sakit ringan tidak perlu langsung
berobat karena berfikiran akan sembuh sendiri. Jika keluhan dirasakan sudah

24

bertambah berat, keluarga membawa ke pelayanan kesehatan, seperti


Puskesmas.
3) Kebiasaan Hidup
(Konsumsi jamu/Alkohol/Rokok/Kopi/Kebiasaan Olahraga)
Merokok : 8 batang/hari,
Lama : 3 tahun
Alkohol : Tidak ada,
Lama : Olahraga : Tidak ada,
Frekuensi : No

Obat/Jamu yang Biasa Dikonsumsi


Tidak mengkonsumsi obat/jamu

Dosis

Keterangan

4) Faktor Sosioekonomi yang Berhubungan dengan Kesehatan


a) Penghasilan
: Rp. 1.000.000 Rp. 1.500.000 /bulan
b) Asuransi Kesehatan : BPJS Kelas II
c) Keadaan Lingkungan Tempat Tinggal
Klien tinggal di daerah perkampungan yang tidak terlalu padat
penduduknya.
2. Nutrisi, Cairan, dan Metabolik
a. Gejala (Subyektif)
1) Tipe Diit : Makanan Biasa,
Jumlah makan perhari : 3 porsi
2) Pola Diit : Teratur,
Makan terakhir : Pagi (28 Agustus 2014)
3) Nafsu / selera makan : Baik,
Mual : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
4) Muntah : ( ) Tidak ada
( ) Ada.
5) Nyeri ulu hati : ( ) Tidak ada ( ) Ada
6) Alergi makanan : ( ) Tidak ada
( ) Ada
7) Masalah mengunyah / menelan : ( ) Tidak ada
( ) Ada
8) Keluhan demam : ( ) Tidak ada( ) Ada
9) Pola minum / cairan : Jumlah minum : 1 liter
Cairan yang biasa diminum : Air putih
10) Penurunan BB dalam 6 bulan terakhir : ( ) Tidak ada
( ) Ada.
Jelaskan : Tidak dapat diukur karena klien mengalami kelemahan pada kaki
kanannya.
b. Tanda (Obyektif)
1) Suhu tubuh
: 37oC
Diaphoresis
: ( ) Tidak ada, ( ) Ada
Jelaskan
:2) Berat badan
: (Tidak dapat diukur) kg
Turgor kulit
: Elastis
3) Edema
: ( ) Tidak ada
Lokasi dan karakteristik : 4) Asites
: ( ) Tidak ada
Jelaskan
:5) Integritas kulit perut : Utuh
6) Distensi Vena Jugularis : ( ) Tidak ada
Jelaskan
:7) Hernia / massa : ( ) Tidak ada
Lokasi dan karakteristik : 25

Tinggi badan : 170 cm


Tonus otot : Baik
( ) Ada
(

) Ada

Lingkar abdomen : 70 cm
( ) Ada
(

) Ada

8) Bau mulut /Halitosis : ( ) Tidak ada


( ) Ada
9) Kondisi mulut / gigi / gusi / mukosa mulut dan lidah :
Gigi lengkap, mukosa lembab.
3. Pernafasan, Aktivitas, dan Latihan Pernafasan
a. Gejala (Subyektif)
1) Dispnea
: ( ) Tidak ada
( ) Ada
Jelaskan
:2) Yang meningkat / mengurangi sesak :
Klien tidak mengalami sesak.
3) Pemajanan terhadap udara berbahaya :
Klien bekerja sebagai buruh bangunan, sehingga berisiko menghirup zat
berbahaya dari material bangunan.
4) Penggunaan alat bantu : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Pernafasan
Frekuensi
: 25 x/menit Kedalaman : Normal Simetris : Kiri = Kanan
2) Penggunaan alat bantu nafas : Tidak ada
Nafas cuping hidung :
Tidak ada
3) Batuk
: Tidak ada
Karakteristik sputum : 4) Fremit
: Kiri = Kanan
Bunyi nafas : Vesikuler
5) Egofoni : Tidak ada
Sianosis : Tidak ada
4. Aktifitas (Termasuk Kebersihan Diri) dan Latihan
a. Gejala (Subyektif)
1) Kegiatan dalam pekerjaan : Klien sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan
2) Kesulitan / keluhan dalam aktifitas
a) Pergerakan tubuh : Selama sakit, klien mengalami keterbatasan pergerakan
Kemampuan merubah posisi : ( ) Mandiri, ( ) Sebagian
Jelaskan : Keluarga mengatakan klien dalam merubah posisi dibantu oleh
keluarga.
b) Perawatan diri (mandi, mengenakan pakaian, bersolek, makan, dll) :
( ) Mandiri ( ) Perlu bantuan
3) Toileting : ( ) Mandiri
( ) Perlu bantuan
Jelaskan : Keluarga mengatakan kurang lebih seminggu kaki kanan klien
mengalami kelemahan sehingga BAB dan BAB klien menggunakan diapers.
4) Keluhan sesak nafas setelah beraktivitas :
( ) Tidak ada
( ) Ada
5) Mudah merasa kelelahan : ( ) Tidak ada
( ) Ada
Toleransi terhadap aktifitas : ( ) Baik
( ) Kurang
b. Tanda (Obyektif)
1) Respon terhadap aktivitas yang teramati
Klien tampak tidak mampu menggerakkan kaki kanan.
2) Status mental (Misal: menarik diri, letargi)
Klien tampak menarik diri ditandai dengan klien tidak mau berkomunikasi
dengan orang lain selain keluarga.
3) Penampilan umum
26

a) Tampak lemah : ( ) Tidak


( ) Ya
Jelaskan : Klien tampak terbaring di atas tempat tidur, dan mobilisasi
dibantu oleh keluarga.
b) Kerapian berpakaian
Klien tampak rapi berpakaian.
4) Pengkajian Neuromuskuler
Masa / tonus otot : Baik
Kekuatan otot
: Ekstremitas atas sinistra = 5
Ektremitas atas dextra = 5
Ekstremitas bawah sinistra = 4
Ekstremitas bawah dextra = 2
Postur
: Lordosis
Rentang gerak : Terbatas
Deformitas
: Pada vertebra lumbal 2 dan 3
5) Bau badan
: Tidak ada
Bau mulut : Tidak ada
Kondisi kulit kepala : Bersih
Kebersihan kuku : Bersih
5. Istirahat
a. Gejala (Subyektif)
1) Kebiasaan tidur : 2 kali (siang dan malam)
Lama tidur : Siang 1 jam
Malam 5 jam
2) Masalah berhubungan dengan tidur
a) Insomnia
: ( ) Tidak ada
( ) Ada
b) Kurang puas / segar setelah bangun tidur
( ) Tidak ada ( ) Ada
Jelaskan
: Kadang-kadang klien mengalami kesulitan tidur.
b. Tanda (Obyektif)
1) Tampak mengantuk / mata sayu : ( ) Tidak ada
( ) Ada
2) Mata merah : ( ) Tidak ada
( ) Ada
3) Sering menguap : ( ) Tidak ada
( ) Ada
4) Kurang konsentrasi : ( ) Tidak ada
( ) Ada
6. Sirkulasi
a. Gejala (Subyektif)
1) Riwayat Hipertensi atau masalah jantung :
( ) Tidak ada
( ) Ada
2) Riwayat edema kaki
( ) Tidak ada
( ) Ada
Jelaskan: 3) Flebitis : Tidak ada
Penyembuhan lambat: Tidak ada
4) Rasa kesemutan : Tidak ada
5) Palpitasi : b. Tanda (Obyektif)
1) Tekanan Darah : 140/90 mmHg
2) Mean Anterior Pressure / Tekanan nadi : 106,7 mmHg
3) Nadi Pulsasi
a) Karotis
: 98 x/menit
b) Femoralis
: 98 x/menit
c) Popliteal
: 98 x/menit
d) Jugularis
: 98 x/menit
27

e) Radialis
: 98 x/menit
f) Dorsal Pedis : 98 x/menit
g) Bunyi jantung
Frekuensi : 98 x/menit
Irama : Reguler
Kualitas : Kuat
4) Friksi gesek : Tidak ada
Murmur : Tidak ada
5) Ekstremitas: Suhu : 37o C
Warna : Tidak pucat
6) Tanda Homan : (-)
7) Pengisian kapiler : < 2 s
Varises : Tidak ada
Flebitis : Tidak ada
8) Warna
Membran mukosa : Merah muda Bibir : Tidak pucat
Konjungtiva : Anemis
Sklera : Tidak ikterik
Punggung kuku : Tidak pucat
7. Eliminasi
a. Gejala (Subyetif)
1) Pola BAB
Frekuensi : 1x/ hari
Konsistensi : Lunak
2) Perubahan dalam kebiasaan BAB (penggunaan alat bantu tertentu, misal:
terpangan kolostomi / ileostomy): Tidak terpasang alat bantu
3) Kesulitan BAB
Konstipasi : Tidak ada Diare : Tidak ada
4) Penggunaan laktasif : ( ) Tidak ada
( ) Ada
Jelaskan : 5) Waktu BAB terakhir : Pagi 28 Agustus 2014
6) Riwayat Pendarahan : Tidak ada
Hemoroid : Tidak ada
7) Riwayat Inkontinensi Alvi : Tidak ada
8) Penggunaan alat-alat, misal kateter : Tidak terpasang kateter urin
9) Riwayat penggunaan diuretik : Tidak ada
10) Rasa nyeri / rasa terbakar saat BAK : Tidak ada
11) Kesulitan BAK : Tidak ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Inspeksi abdomen membuncit : ( ) Tidak ada ( ) Ada
Jelaskan : Abdomen tampak datar
2) Auskultasi bising usus: ( ) Tidak ada
() Ada
Jelaskan : Bising usus terdengar kuat, frekuensi 6x/ menit
3) Perkusi
a) Bunyi Timpani
: ( ) Tidak ada, ( ) Ada
b) Kembung
: ( ) Tidak ada, ( ) Ada
c) Bunyi abnormal
: ( ) Tidak ada, ( ) Ada
4) Palpasi
a) Nyeri tekan : Tidak ada
Nyeri lepas : Tidak ada
b) Konsistensi lunak atau keras : Lunak
Massa : () Tidak ada ( ) Ada
c) Pola BAB
Konsistensi : Lunak Warna : Kuning kecoklatan
Abnormal : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
d) Pola BAK
Dorongan : Frekuensi : 2x/ hari Retensi : Tidak ada
28

e) Distensi kandung kemih : ( ) Tidak ada, ( ) Ada


f) Karakteristik urin
Jumlah : 700 cc/ hari
Bau : Khas amoniak
g) Keadaan bila terpasang Kolostomi atau Ileustomi : Tidak terpasang
8. Neurosensori dan Kognitif
a. Gejala (Subyektif)
1) Adanya nyeri
P : Paliatif/Provokatif
Q : Kualitas/Kuantitas
Klien tidak mengatakan adanya nyeri dan
R : Region/Tempat
secara objektif tidak teramati adanya
S : Severity/Tingkat berat nyeri
nyeri. Klien mengalami nyeri hanya pada
T : Time
dilakukan
luka
2) Rasa ingin pingsan atau pusing : ( )saat
Tidak
ada, ( perawatan
) Ada
3) Sakit kepala
Lokasi nyeri : Frekuensi : 4) Lokasi kesemutan / kebas / kelemahan : klien mengalami kelemahan pada
ekstremitas bawah dextra
5) Kejang : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
6) Mata, Penurunan penglihatan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
7) Penurunan pendengaran : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
8) Epistaksis : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Status mental (Kesadaran)
( ) Composmentis, ( ) Apatis, ( ) Samnolen, ( ) Spoor, ( ) Coma
2) Skala koma glasgow (GCS)
Respon membuka mata : 4
Respon motorik : 5
Respon verbal : 6
3) Terorientasi / Disorientasi: Terorientasi dengan baik
Waktu : - Tempat : Orang : 4) Persepsi sensori
Ilusi :Tidak ada masalah, Halusinasi : Tidak ada masalah Delusi : Tidak ada
masalah
5) Memori
Saat ini : Baik
Masa lalu : Mampu mengingat masa lalu
6) Alat bantu pendengaran atau penglihatan ( ) Tidak ada, ( ) Ada
7) Reaksi pupil terhadap cahaya
Ka / ki : Mengecil
Ukuran pupil : 6 mm
8) Fascial drop : Tidak ada
Postur : Kifosis
Reflek : 9) Penampilan umum tampak kesakitan :
( ) Tidak ada ( ) Ada
( ) Menjaga area sakit
Respon emosional : Emosional baik
Penyempitan fokus : Tidak terjadi
9. Keamanan
a. Gejala (Subyektif)
1) Alergi : Tidak ada
2) Obat-obatan : Tidak ada alergi obat
29

3) Makanan : Tidak ada alergi makanan


4) Faktor lingkungan
a) Riwayat penyakit hubungan seksual ( ) Tidak ada, ( ) Ada
b) Riwayat transfusi darah : Tidak ada
5) Kerusakan penglihatan dan pendengaran ( ) Tidak ada, ( ) Ada
6) Riwayat cidera : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
7) Riwayat kejang : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Suhu tubuh : 37oC
Diaforesis : Tidak ada
2) Integritas jaringan : Luka pada bagian VL2
3) Jaringan parut :
( ) Tidak ada
( ) Ada
4) Kemerahan pucat :
( ) Tidak ada
( ) Ada
Jelaskan : Terdapat kemerahan pada area sekitar luka
5) Adanya luka
Luas : 2x1 cm
Kedalaman : 1 cm
Drainase prulen : Drainase berwarna kekuningan jernih
6) Ekomosis/tanda pencerahan lain : Tidak ada
Terpasang alat invasive : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
7) Gangguan keseimbangan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
8) Kekuatan umum
Tonus otot :Baik
Parase atau paralisa : Pada ektremitas bawah dextra
10. Seksual dan Reproduksi
a. Gejala (Subyektif)
1) Pemahaman terhadap fungsi seksual
Klien belum menikah
2) Gangguan hubungan seksual karena berbagai kondisi (fertilitas, libido, ereksi,
kehamilan, pemakaian alat kontrasepsi, atau kondisi sakit)
Tidak ada
3) Permasalahan selama aktivitas seksual ( ) Tidak ada, ( ) Ada
4) Pengkajian pada laki-laki
Rabas pada penis : Tidak ada
Gangguan prostat : Tidak ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Pemeriksaan payudara / penis / testis
Tidak ada masalah
2) Kutil genitalia atau lesi
Tidak ada masalah
11. Persepsi Diri, Konsep Diri, dan Mekanisme Koping
a. Gejala (Subyektif)
1) Faktor stress
Keluarga mengatakan sudah menunggu 1 bulan untuk dilakukan pemasangan
implant.
2) Bagaimana klien mengambil keputusan ? (Sendiri atau dibantu)
Dibantu oleh keluarga
3) Yang dilakukan jika menghadapi masalah
Diskusi dengan anggota keluarga
4) Upaya klien dalam menghadapi masalahnya sekarang
Keluarga menunggu hingga tindakan operasi dilakukan 1 minggu lagi.
30

Perasaan cemas atau takut : ( ) Tidak ada, ( ) Ada


Perasaan ketidakberdayaan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
Perasaan keputusasaan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
Konsep diri
a) Citra diri : b) Ideal diri : c) Harga diri : d) Ada atau tidak perasaan perubahan identitas : Tidak ada
e) Konflik dalam peran : Tidak ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Status emosional
( ) Tenang, ( ) Gelisah, ( ) Marah, ( ) Takut, ( ) Mudah tersinggung
2) Respon fisiologi yang terobservasi
Perubahan tanda vital : Tidak ada
Ekspresi wajah : Afek datar
12. Interaksi Sosial
a. Gejala (Subyektif)
1) Orang terdekat dan lebih berpengaruh : Keluarga
2) Kepada siapa klien meminta bantuan bila mempunyai masalah : Keluarga
3) Adakah kesulitan dalam keluarga (hubungan dengan orang tua, saudara,
5)
6)
7)
8)

pasangan) :
( ) Tidak ada, ( ) Ada
4) Kesulitan berhubungan dengan tenaga kesehatan
( ) Tidak ada, ( ) Ada
Sebutkan : Keluarga mengatakan Tn. R tidak mau berkomunikasi dengan
tenaga kesehatan
b. Tanda (Obyektif)
1) Kemampuan berbicara
( ) Jelas, ( ) Tidak jelas, ( ) Tidak dimengerti, ( ) Afasia
Jelaskan: Klien tidak mau berbicara
2) Pola bicara tidak biasa / kerusakan : Klien jarang berbicara semenjak sakit
3) Penggunaan alat bantu bicara : Tidak ada
4) Adanya jaringan laringaktomi / trakeostomi : Tidak ada
5) Komunikasi non verbal, verbal dengan keluarga dan orang lain : Kurang baik
6) Perilaku menarik diri : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
Sebutkan : Klien tidak mau menjawab ketika diajak berkomunikasi
13. Pola Nilai Kepercayaan dan Spiritual
a. Gejala (Subyektif)
1) Sumber kekuatan bagi pasien : Keluarga
2) Perasaan menyalahkan tuhan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
3) Bagaimana klien menjalankan kegiatan agama atau kepercayaan
Selama dirawat di rumah sakit klien tidak ada menjalankan kegiatan agama
4) Masalah berkaitan dengan aktifitas selama dirawat : Klien mengalami
kelemahan
5) Pemecahan oleh pasien : Klien terbaring ditempat tidur, aktifitas dibantu oleh
keluarga

31

6) Adakah keyakinan/kebudayaan yang dianut pasien yang bertentangan dengan


kesehatan : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
7) Pertentangan nilai/keyakinan/kebudayaan terhadap pengobatan yang dijalani: (
) Tidak ada, ( ) Ada
b. Tanda (Obyektif)
1) Perubahan perilaku
a) Menarik diri : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
Jelaskan : Klien tidak mau menjawab ketika diajak berkomunikasi
b) Marah / sarkasme : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
c) Mudah tersinggung : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
d) Mudah menangis : ( ) Tidak ada, ( ) Ada
E. Data Penunjang
1. Laboratorium (tanggal 9-8-2014)
GLU 166 mg/dl
WBC 16,5.103/ul
URE 39,3 mg/dl
HGB 14,7 g/dl
CRE 1,21 mg/dl
HCT 47,0%
AST 74,6 u/l
MCV 80,4 L fl
ALT 49 u/l
MCH 25,2 L pg
BUN 18,4 mg/dl
MCHC 31,3 Lg/dl
+
Na 120,5 mmol/l
PLT 370.103/ul
+
K 3,50 mmol/l
MPV 6,4 L fl
Cl 92,4 mmol/l
2. Radiologi
Pemeriksaan rontgen pada tulang belakang ditemukan adanya benjolan pada VL2VL4.
3. EKG
Tidak dilakukan
4. USG
Tidak dilakukan
5. CT SCAN
Tidak dilakukan
6. Pemeriksaan Lain
Tidak dilakukan
7. Obat-obatan
IVFD RL dan NaCl 20 tetes/menit
Ceftriaxon 2x1 gr
Ranitidin 2x2 gr
OAT Kategori 1
8. Diit
Klien mengkonsumsi makanan yang diberikan oleh rumah sakit, yaitu makanan
biasa. Klien juga mengkonsumsi makanan seperti roti dan buah-buahan yang
disediakan oleh keluarga.
F. Analisa Data
Data Fokus

Etiologi
32

Masalah Keperawatan

DS:

Faktor risiko: bekerja

1. Keluarga mengatakan

Gangguan mobilitas fisik

sebagai buruh bangunan

kaki kanan klien


mengalami kelemahan
dan sudah tidak bisa
digunakan;
2. Keluarga mengatakan
sejak seminggu terakhir

Daya tahan tubuh yang


lemah
Infeksi Mycobacterium
tuberculosa pada paru

klien ke kamar mandi


harus dibantu;

Invasi ekstraparu

DO:
1. Kekuatan otot ekstremitas
dekstra = 2;
2. Kekuatan otot ekstremitas
sinistra = 4;
3. Klien sehari-hari

Invasi ke tulang belakang


(VL2 VL4)
Gangguan motorik
ekstremitas bawah

terbaring di tempat tidur;


4. Klien dalam beraktifitas
seperti makan, ke kamar

Gangguan mobilitas fisik

mandi dibantu oleh


keluarga
DS:

Faktor risiko: bekerja

1. Keluarga mengatakan

sebagai buruh bangunan

klien sebelumnya
mengalami demam terusmenerus;
2. Keluarga mengatakan
sebelumnya sudah
mengetahui bahwa Tn. R

Daya tahan tubuh yang


lemah
Infeksi Mycobacterium
tuberculosa pada paru

mengalami TB tulang dan


harus minum obat selama

Invasi ekstraparu

6 bulan;
3. Keluarga mengatakan
sebelumnya anaknya

Menyerang tulang belakang

masih bisa berjalan


33

Resiko Penyebaran
Infeksi

sendiri namun semakin

Risiko penyebaran infeksi

lama semua aktifitas


harus dibantu.
DO:
1. Tampak penonjolan pada
tulang belakang VL 2
VL 4;
2. WBC= 16,5 x 103 /L;
3. Terdapat luka pada tulang
belakang VL 3 ukuran 2 x
1 x 1 cm3;
4. Luka kemerahan,
drainase serosa kuning
jernih, dan terdapat nyeri
tekan;
5. Postur tubuh kifosis.
DS:

Infeksi Mycobacterium

1. Keluarga mengatakan

tuberculosa

benjolan pada punggung


klien meletus;

Menyerang tulang belakang

2. Keluarga mengatakan
sebelumnya benjolan
tampak utuh.
DO:

Pembentukan gibus
(kifosis)
Penonjolan pada tulang

1. Tampak luka pada VL3;


2. Luka tampak kemerahan,

Gangguan motorik

drainase kekuningan

ekstremitas bawah

jernih;
3. Klien tampak berbaring

Tirah baring lama

di tempat tidur;
4. Klien dibantu untuk

Kerusakan integritas kulit

melakukan semua
34

Kerusakan integritas kulit

aktifitasnya termasuk
dalam merubah posisi.

G. WOC Kasus
Faktor resiko: bekerja sebagai buruh bangunan
Daya tahan tubuh lemah
Infeksi Mycobacterium tuberculosa pada paru
Invasi ekstraparu
Invasi ke tulang belakang (VL2-VL4)

MK: risiko
penyebaran
infeksi

Pembentukan
gibus (kifosis)
MK:
Gangguan
mobilitas
fisik

Gangguan motorik
ektremitas bawah
Tirah baring lama
MK: Kerusakan
integritas kulit

35

Penonjolan pada tulang

H. Rencana Itervensi Keperawatan


Diagnosa 1:
Gangguan mobilitas fisik b.d invasi Mycobacterium tuberculosa ke tulang belakang
Tujuan: tidak terjadi gangguan mobilisasi fisik
Kriteria hasil:
1. Klien mampu melakukan ROM aktif
2. Tidak ada atrofi
Intervensi
Rasional
Sarankan klien tetap melakukan Aktivitas minimal seperti miring kiri,
aktivitas ringan

miring kanan dianjurkan. Aktivitas berat


tidak

diperbolehkan

karena

akan

meningkatkan pergerakan tulang belakang


yang telah mengalami infeksi sehingga
memungkinkan kerusakan akan semakin
Sarankan

kepada

klien

luas
melakukan Aktivitas

ringan

dan

bertahap

aktivitas yang ringan dan bertahap


memungkinkan untuk ditoleransi klien
Sarankan kepada keluarga untuk Mencegah risiko terjadinya injuri
membantu aktivitas klien
Sarankan
kepada
klien

untuk Korset membantu menjaga posisi tulang

menggunakan korset
belakang tetap dalam keadaan lurus
Observasi reaksi nyeri saat melakukan Dengan mobilisasi, terjadi penarikan otot,
aktivitas.
Ajarkan keluarga

untuk

hal ini menimbulkan nyeri


melakukan ROM membantu meningkatkan kelenturan

ROM pasif/ aktif sesuai dengan kondisi otot yang mencegah terjadinya kontraktur
klien

dan atrofi

Diagnosa 2:
Risiko penyebaran infeksi b.d Mycobacterium tuberculosa aktif
Tujuan: dalam waktu 4x24 jam tidak terjadi penyebaran infeksi Mycobacterium
tuberculosa
Kriteria hasil:
1. Kerusakan tulang tidak meluas
2. Kelemahan motorik tidak semakin berat
3. Tidak terbentuk pus
4. Nilai WBC dalam batas normal (5.000 10.000/ L)
Intervensi
Rasional
Kaji tanda-tanda dan lokasi yang infeksi
Membantu dalam menentukan intervensi
selanjutnya.
Peningkatan suhu mengidentifikasikan

Pantau TTV
36

reaksi inflamasi (adanya infeksi).


Pertahanan teknik aseptik pada perawatan Menurunkan resiko infeksi nosokomial.
luka dan prosedur invasive
Perhatikan tirah baring yang lama

Mencegah terjadinya dekubitus yang


akan meningkatkan risiko terjadinya
infeksi nosokomial
Peran perawat mengkaji adanya reaksi

Kolaborasi penggunaan antibiotik.

dan riwayat alergi, antibiotik, serta


memberikan antibiotik sesuai intruksi
dokter.
OAT merupakan penanganan terhadap

Kolaborasi pemberian OAT

infeksi Mycobacterium tuberculosa.


Diagnosa 3:
Kerusakan integritas kulit b.d tirah baring lama
Tujuan: dalam 5x24 jam integritas kulit membaik secara optimal.
Kriteria hasil: pertumbuhan jaringan membaik dan lesi berkurang
Intervensi
Rasional
Kaji kerusakan jaringan kulit Menjadi data dasar untuk memberikan informasi
yang terjadi pada klien
intervensi perawatan yang akan digunakan.
Lakukan tindakan peningkatan Perawatan lokal kulit merupakan penatalaksanaan
integritas jaringan

keperawatan yang penting. Jika diperlukan berikan


kompres hangat, tetapi harus dilaksanakan dengan
hati-hati sekali pada daerah yang erosif atau

Tingkatkan asupan nutrisi

terkelupas
Diet Tinggi
diperlukan

Kalori

untuk

Tinggi

Protein

meningkatkan

(TKTP)

asupan

dari

kebutuhan pertumbuhan jaringan dan peningkatan


Evaluasi
dan

kerusakan

imunitas
jaringan Apabila masih belum mencapai dari kriteria evaluasi

perkembangan 5x24 jam, maka perlu dikaji ulang faktor-faktor

pertumbuhan jaringan.
penghambat pertumbuhan dan perbaikan dari lesi.
Kolaborasi untuk pemberian Antibiotik berfungsi mencegah ataupun mengatasi
antibiotic

terjadinya infeksi pada luka.

37

38