Anda di halaman 1dari 24

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Melalui Penerapan

Model Pembelajaran Inkuiri Pada Materi Pokok Larutan Penyangga


di SMA
PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
GRESIANA KHOIROTUL BADRIYAH (12030194009)
IHDA SHOUMI NURDINI (12030194034)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan

adalah

factor

yang

sangat

penting

dalam

menentukan kualitas hidup suatu bangsa. Keberhasilan pendidikan


dapat membawa keberhasilan suatu bangsa. Oleh sebab itu, untuk
memperbaiki kehidupan bangsa harus dimulai dari dalam penataan
segala aspek dalam pendidikan. Untuk mendapatkan geerasi yang
unggul, pemerintah mencanangkan penyusunan kurikulum pendidikan
yang tepat dan akurat karena kurikulum merupakan komponen
pendidikan yang menjadi acuan oleh setiap satuan pendidikan.
Pembelajaran IPA didasarkan pada teori belajar konstruktivis
yang dilakukan sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman yang
dimiliki sebelumnya (Ramsey, 1993). Proses belajar dilakukan melalui
tahap ekspolari dari pengalaman yang dimilikinya melalui kegiatan
ilmiah

yang

dimulai

dengan

observasi

data

sampai

dengan

memperoleh kesimpulan yang menjadi pengetahuan baru. Salah satu


mata pelajaran IPA adalah pelajaran kimia. Pelajaran yang didalamnya
terdapat konsep-konsep, fakta-fakta, dan eksperimen yang berguna
untuk membuktikan suatu konsep tersebut. Pelajaran kimia pada
dasarnya tidak hanya menitikberatkan pada pengetahuan teoritis saja,
tetapi harus diikuti dengan kemampuan untuk mengaplikasikan
konsepnya. Pelajaran kimia perlu memberikan kesempatan kepada
siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan kemampuan
dasar bekerja ilmiah memberi pengetahuan, berpikir dasar dan berpikir
tingkat tinggi, mengembangkan sikap kritis, logis, sistematis, disiplin,
terbuka dan jujur, kooperatif serta rasa ingin tahu.
Mata pelajaran kimia perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih
khusus

yaitu

untuk

membekali

peserta

didik

pengetahuan,

pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk


memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan
ilmu dan teknologi. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh peserta

didik melalui beberapa pendekatan, antara lain pendekatan induktif


dslam bentuk proses inkuiri ilmiah pada tataran inkuiri tebuka. Proses
inkuiri ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja
dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek
penting

kecakapan hidup.

Oleh karena

itu pembelajaran kimia

menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung


melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan
sikap ilmiah (Mulyasa, 2010).
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan fakta diatas
yaitu model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran ini merupakan
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses
berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan
sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan sehingga
menempatkan

siswa

sebagai

subjek

belajar.

Dalam

proses

pembelajaran inkuiri guru hanya sebagai fasilitator dan motivator


belajar siswa. Guru menyajikan fenomena atau suatu kejadian dalam
kehidupan sehari-hari yang menimbulkan konflik kognitif dan rasa ingin
tahu siswa, sehingga merangsang mereka melakukan penyelidikan
untuk menemukan suatu konsep.
Salah satu masalah yang sedang dihadapi saat ini adalah
kebanyakan guru hanya mengajar bagaimana suatu materi tuntas
disampaikan kepada siswa serta bagaimana siswa dapat memperoleh
ketuntasan
memikirkan

belajar

sesuai

bagaimana

SKM

yang

siswa

ditetapkan

belajar

dan

sekolah

tanpa

mengembangkan

kemampuan yang dimilikinya, salah satunya adalah keterampilan


berpikir

tingkat

tinggi.

Faktanya,

siswa

hanya

dituntut

untuk

menghafalkan informasi yang disampaikan oleh guru, hal tersebut


tentu tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Cara
belajar demikian, bukanlah cara belajar yang bermakna dan tidak
dapat tersimpan dalam memori jangka panjang.
Materi larutan penyangga mempelajari tentang pengertian
larutan

penyangga,

pH

larutan

penyangga,

dan

fungsi

larutan

penyangga dalam makhluk hidup dan kehidupan sehari-hari. Materi


pokok larutan penyangga merupakan konsep yang tidak cukup dihafal
saja namun terdapat konsep-konsep yang perlu diobservasi melalui
kegiatan ilmiah berupa praktikum, kegiatan ini sangat penting untuk
membuktikan

konsep-konsep

yang

telah

ada.

Materi

larutan

penyangga merupakan materi yang didalamnya tidak berpusat pada


pengetahuan teoritis saja, namun terdapat suatu keterampilan proses,
dimana siswa dituntut melakukan eksperimen untuk memecahkan
konsep

larutan

penyangga

serta

eksperimen

penyangga dalam kehidupan sehari-hari.


Berdasarkan uraian diatas, maka

aplikasi

peneliti

larutan

tertarik

untuk

melakukan penelitian tentang pembelajaran dengan menggunakan


model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan penyangga.
Diharapkan dalam melakukan eksperimen siswa dapat berpikir tingkat
tinggi untuk menemukan pengalaman dan pengetahuan baru. Oleh
karena

itu,

peneliti

dalam

penelitian

ini

mengambil

judul

"

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Melalui Penerapan


Model

Pembelajaran

Inkuiri

Pada

Materi

Pokok

Larutan

Penyangga Di SMA"
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keterlaksanaan

pembelajaran

dengan

menerapkan

model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan penyangga?


2. Bagaimana keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa SMA setelah
diterapkan model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan
penyangga?
C. Definisi Operasional
a. Model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang terdiri
atas tahapan atau sintak meliputi pemberian stimulus, rumusan
masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi data, dan
kesimpulan.
b. Keterlaksanaan pembelajaran adalah kesesuaian antara aktifitas
guru

saat

mengajar

dengan

sintak

pada

penerapan

model

pembelajaran

inkuiri

Keterlaksanaan

pada

sintak

materi

dapat

pokok

diketahui

larutan

penyangga.

dengan

melakukan

pengamatan oleh tiga orang pengamat dengan menggunakan


lembar keterlaksanaan pembelajaran.
c. Keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu keterampilan
berpikir yang mencakup ranah kognitif C3, C4, C5, dan C6 seperti
merumuskan

pertanyaan,

merumuskan

hipotesis,

merancang

percobaan, melaporkan hasil observasi, kemampuan memberikan


alasan, dan menarim kesimpulan sesuai dengan fakta pada saat
penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan
penyangga. Untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi
siswa, dilakukan pretes yang mencakup soal-soal berpikir tingkat
tinggi (soal ranah kognitif C4 dan C5), selanjutnya diberi perlakuan
dalam hal ini penerapan model mpembelajaran inkuiri pada materi
poko larutan penyangga. Setelah diberi perlakuan, dilakukan postes,
selanjutnya dianalisis dengan perhitungan skor gain <g> untuk
mengetahui

seberapa

jauh

peningkatan

nilai

postes

siswa

dibandingkan nilai pretes.


d. Materi pokok larutan penyangga merupakan salah satu materi di
kelas XI-IPA Semester 2 yang memiliki
Kompetensi Dasar:
Mendeskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan
penyangga dalam tubuh makhluk hidup.
Indikator:
1. Menganalisis larutan penyangga dan bukan larutan penyangga
melalui percobaan.
2. Menghitung pH dan pOH larutan penyangga
3. Menghitung pH larutan penyangga dengan penambahan sedikit
asam dan sedikit basa serta dengan pengenceran
4. Menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam kehidupan seharihari
D. Variabel
1. Variabel control: Materi Larutan Penyangga, siswa
2. Variabel manipulasi: Model Pembelajaran

3. Variabel respon: Ketrampilan berpikir tingkat tinggi siswa

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. HAKIKAT BELAJAR
Oemar Hamalik (2011:22-23) berpendapat bahwa belajar adalah
melatih daya-daya yang dimiliki manusia. Dengan latihan-latihan itu,
maka daya-daya akan terbentuk dan berkembang sehingga dapat
berfungsi sebagaimana mestinya, seperti: daya mengingat, daya
berpikir, daya merasakan, daya berkehendak, dan sebagainya. Hal ini
mengandung perngertian bahwa untuk memiliki daya-daya tersebut,
maka diperlukan latihan-latihan.
Menurut Melvin L.Silberman (2006:27), proses belajar bukanlah
semata-mata kegiatan menghafal. Banyak hal yang kita ingat akan
hilang

dalam

beberapa

jam.

Mempelajari

bukanlah

menelan

semuanya. Seorang guru tidak dapat dengan serta merta menuangkan


sesuatu kedalam bentuk para siswa karena siswa sendirilah yang harus
menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang
bermakna. Selain itu, belajar juga bukan kegiatan kegiatan sekali saja.
Artinya, proses belajar berlangsung secara bergelombang. Belajar
memerlukan kedekatan dengan materi yang akan dipelajari, jauh
sebelum memahaminya.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, maka dapat
diperoleh beberapa unsur penting dalam belajar. Pertama, belajar
adalah suatu proses dan bukan semata-mata hasil yang hendak
dicapai.

Proses

tersebut

berlangsung

melalui

suatu

rangkaian

pengalaman yang dapat mengubah tingkah laku yang telah dimiliki


sebelumnya. Kedua, belajar adalah suatu proses yang didapat dari
latihan-latihan sehingga dengan latihan tersebut dapat meningkatkan
daya mengingat, daya berpikir, daya berkehendak, dan sebagainya.
2.

KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 merupakan kelanjutan dari Kurikulum Berbasis

Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup

kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu


(Poerwati, 2013-68). Implementasi kurikum pada sekolah menengah
atas/madrasah aliyah (SMA/MA) dilakukan secara bertahap mulai tahun
pelajaran 2013/2014.
Perubahan kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk meningkatkan
rasa ingin tahu siswa dan mendorong siswa untuk aktif mampu lebih
baik dalam observasi, bertanya, menalar, dan mengkomunikasikan
(mempresentasikan) terhadap apa yang mereka peroleh atau mereka
ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Melalui empat tujuan
itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan
lebih produktif. Untuk menjadi kreatif, siswa diberi kesempatan untuk
mengamati fenomena alam, fenomena sosial, dan fenomena seni
budaya, kemudian bertanya dan menalar dari hasil pengamatan
tersebut.

Hal

ini

menunjukkan

siswa

benar-benar

belajar

dari

lingkungan. Berdasarkan kreativitas tersebut, timbul inovasi dan kreasi


yang menjadikan siswa memiliki beragam alternatif jawaban dalam
setiap masalah yang dihadapinya. Pola pkir kreatif dan inovatif seperti
itu diharapkan diharapkan akan lahir dari implementasi kurikulum
2013. Kurikulum 2013 merupakan pegembangan dan perbaikan
terhadap kurikum yang ada saat ini (Setyaningrum,2013:14).
Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Siswa adalah
subjek yang memiliki kemampuan untuk secara

aktif mencari,

mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu


pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan
kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses
kognitifnya. Agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan
pengetahuan, siswa perlu didorong untuk bekerja memecahkan
masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya
keras mewujudkan ide-idenya (Permendikbud No.81A, 2013).

Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen


kurikulum, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan pronsip yang:
(1) berpusat pada siswa, (2) mengembangkan kreativitas siswa, (3)
menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4) bermuatan
nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan
pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai
stragtegi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, konstektual,
efektif, efisien, dan bermakna. Didalam pembelajaran, siswa didorong
untuk

menemukaan

sendiri

dan

mentransformasikan

informasi

kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam


ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau
kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan
waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa
(Permendikbud No.81A, 2013).
Dalam pembelajaran Kurikulum 2013 ada dua modus proses
pembelajaran

yaitu

proses

pembelajaran

langsung

dan

proses

pembelajaran tidak langsung. Pembelajaran langsung berkenaan


dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari
KI-3 dan KI-4. Keduanya, dikembangkan secara bersamaan dalam
suatu

proses

mengembangkan

pembelajaran
KD

pada

KI-1

dan
dan

menjadi
KI-2.

wahana

Pembelajaran

untuk
yang

menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2. (Permendikbud


No.81A, 2013).
3. TEORI BELAJAR YANG MENDASARI MODEL INKUIRI TERBIMBING
a) Teori Belajar Bruner
Bruner menekankan tentang model belajar penemuan (discovery
learning). Bruner mengangggap bahwa belajar penemuan sesuai
dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia (Ratna
Wilis Dahar, 1989:103). Menurut Bruner, selama kegiatan belajarmengajar berlangsung, siswa diberi kesempatan mencari atau

menemukan sendiri makna segala sesuatu yang dipelajarinya.


Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan
pencarian pengetahuan secara aktif oleh siswa dan dengan
sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri
untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang
mneyertainya akan menghasilkan pengetahuan yang benarbenar bermakna. Agar proses belajar berjalan lancar, ada tiga
faktor

yang

ditekankan

dan

harus

diperhatikan

dalam

menyelenggarakan pembelajaran, yaitu: pentingnya memahami


struktur

mata

pelajaran,

pentingnya

belajar

aktif

supaya

sesorang dapat menemukan konsep sendirir sebagai dasar untuk


memahami konsep dengan benar, dan pentingnya nilai dari
berpikir induktif. Ketiga faktor tersebut harus berkesinambungan
satu sama lain sehingga proses belajar dapat berjalan optimal.
Pendekatan model belajar Bruner didasarkan pada dua asumsi.
Pertama, asumsi bahwa perolehan pengetahuan merupakan
proses interaktif. Hal ini berarti pengetahuan akan diperoleh bila
dalam pembelajaran seseorang berinteraksi secara aktif dengan
lingkungannya. Kedua, asumsi bahwa orang mengkonstruksikan
pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang
tersimpan yang telah diperoleh sebelumnya. Belajar penemuan
menunjukkan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu
akan bertahan lama dalam ingatan siswa. Kedua, belajar
penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik, artinya
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang menjadi kogniti siswa
lebih mudah diterapkan dalam situasi-situasi baru. Ketiga, secara
menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa
dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan mandiri.
Belajar penemuan yang murni memerlukan banyak waktu,
sehingga dalam penggunaan model belajar penemuan Bruner
disarankan hanya sampai batas-batas tertentu saja. Dari uraian

di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses


penemuan.

Pembelajaran

dengan

model

inkuiri

terbimbing

mengajak siswa untuk menemukan konsep larutan penyangga


melalui

proses

percobaan,

baik

demonstrasi

maupun

eksperimen. Pada pembelajaran tersebut, siswa diajak terlibat


langsung untuk menemukan konsep larutan penyangga melalui
percobaan dengan bimbingan guru yang dilakukan oleh setiap
siswa. Proses tersebut juga sesuai dengan hakikat kimia, yaitu
produk, proses, dan sikap ilmiah.
b) Teori Balajar Ausubel
Ausubel, seorang ahli

psikologi

pendidikan

memberikan

penekanan-penekan terhadap belajar bermakna dan variabelvariabel yang berhubungan dengan jenis belajar ini. Menurut
Ausubel daalam Ratna Wilis Dahar (1989:110-111), belajar dapat
diklasifikasikan

ke

dalam

dua

dimensi.

Dimensi

pertama

berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran


disajikan pada siswa. Sedangkan dimensi kedua berhubungan
dengan cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi pada
struktur kognitif yang telah ada. Dimensi pertama teori belajar
Ausubel
pelajaran

berhubungan
disajikan

dengan

pada

cara

siswa,

informasi

melalui

atau

penerimaan

materi
atau

penemuan. Informasi dapat dikomunikasikan pada siswa baik


dalam bentuk belajara penerimaan yang menyajikan informasi
dalama bentuk final, maupun dengan bentuk belajar penemuan
yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian
atau seluruh materi yang akan diberikan. Dimensi kedua teori
belajar Ausubel berhubungan dengan cara bagaimana siswa
dapat mangaitkan informasi pada struktur kognitif yang telah
ada. Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, serta
generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Siswa
menghubungkan atau mengaitkan informasi baru yang diperoleh

dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi


belajar bermakna. Dengan kata lain bahwa belajar bermakna
merupaakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada
konsep-konsep yang terdapat dalam struktur kkognitifnya. Siswa
juga

dapat

menghafalkan

informasi

tersebut

tanpa

menghubungkannya dengan konsep-konsep atau pengetahuan


yang telah ada dalam struktur kognitifnya, dalam hal ini terjadi
belajar hafalan. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa
pembelajaran bermakna menekankan siswa untuk menemukan
konsep

larutan

penyangga

melalui

bimbingan

guru.

Pembelajaran ini bermakna karena siswa menemukan konsep


larutan penyangga melalui eksperimen dan demonstrasi guru.
Melalui eksperimen dan demonstrasi siswa dapat melihat secara
langsung

setiap

peristiwa

yang

berkaitan

dengan

larutan

penyangga sehingga siswa lebih dapat mengingat konsep


larutan penyangga dan pada akhirnya pembelajaran menjadi
bermakna.
4. JENIS DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN INKUIRI
Martin, Lisa dan Hansen (2000:35), menjelaskan bahwa ada 4
tipe inkuiri yakni:
a. Inkuri Terbuka atau Inkuiri Penuh (Open or full inquiry)
Inkuri Terbuka atau disebut juga inkuri penuh didefinisikan
sebagai pendekatan berpusat pada siswa yang dimulai dengan
pertanyaan siswa, diikuti dengan perancangan oleh siswa atau
kelompok siswa dan pelaksanaan penyelidikan atau percobaan
dan mengkomunikasikan hasilnya. Pendekatan ini sangat dekat
dengan

kerja

ilmuwan

sesungguhnya.

Inkuriri

terbuka

memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan biasanya


siswa bekerja langsung dengan konsep dan materi, peralatan,
dan sebagainay. Siswa diminta untuk bertanya kepada diri

sendiri yang akan membimbing penyelidikan mereka adalah


kunci dari inkuiri terbuka.
b. Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Guru
dalam
inkuiri
terbimbing

mambantu

siswa

mengembangkan penyelidikan didalam kelas. Biasanya, guru


meilih pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan percobaan
yang akan dilakukan siswa. Para siswa dalam kelompok besar
atau beberapa kelompok kecil kemudian membantu guru untuk
menentukan bagaimana proses penyelidikan berlangsung. Guru
seharusnya tahu bahwa hal ini adalah saat yang tepat sebagai
kemampuan awal yang dibutuhkan untuk inkuiri terbuka. Inkuiri
terbimbing adalah tahapan untuk menuju inkuiri terbuka. Ketika
siswa harus belajar mengenai fenomena yang kompleks yang
tidak dapat diselidiki di dalam kelas, seorang guru (atau para
siswa) dapat menyediakan data ilmiah dari berbagai sumber
yang akan dijadikan sebagai sumber penyelidikan.
c. Inkuiri Gabungan (Completed Inquiry)
Inkuiri gabungan menggabungkan inkuiri terbimbung dengan
inkuiri

terbuka.

Dengan

dimulai

melalui

Undangan

atau

berusaha menarik perhatian siswa melalui inkuiri terbimbing.


Guru memilihkan pertanyaan pertama untuk kemudian diselidiki
oleh siswa. Pertanyaan tersebut memiliki tujuan yang spesifik
dan direncanakan oleh guru agar siswa mencapai kompetensi
tertentu. Setelah inkuiri terbimbing, pembelajaran berpusat
kepada siswa ditingkatkan melalui penerapan inkuiri terbuka.
Tentu saja materi yang berkaitan dengan inkuiri terbuka juga
berkaitan dengan materi saat diterapkan inkuiri terbimbing.
Tahap-tahap dalam inkuiri gabungan antara lain: 1) sebuah
undangan menuju inkuiri, 2) inisiasi guru melalui inkuiri
terbimbing (guided inquiry), 3) inisiasi siswa melalui inkuiri
terbuka (open inquiry), 4) pemecahan masalah melalui inkuiri,
dan 5) penilaian.

d. Inkuiri Terstruktur (Structured Inquiry)


Inkuiri terstruktur, terkadang juga disebut dengan inkuiri
langsung,

adalah

inkuiri

terbimbing

yang

pada

prinsip

utamanya diarahkan oleh guru. Artinya, materi dan kegiatan


telah direncanakan sepenuhnya oleh guru dimana siswa
hanya

berkewajiban

untuk

mengikutinya.

Terkadang

pendekatan ini digunakan oleh guru di kelas. Bagaimanapun


juga terdapat keterbatasan keterlibatan siswa di dalam
kegiatan inkuiri oleh instruksi dari guru sendiri dengan tujuan
untuk membimbing siswa tahap demi tahap.
Karakteristik
Inkuiri
Terbimbing:
Karakteristik

guru

menekankan pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing di


dalam kelas menurut Drayton & Falk dalam Jennifer Branch
(2004):
a. Inkuiri merupakan masalah bentuk otentik (kehidupan
nyata) dalam konteks kurikulum dan / atau yang terjadi di
masyarakat.
b. Siswa diharapkan dapat menyelidiki mengapa suatu
peristiwa

dapat

terjadi

serta

mengumpulkan

dan

mengolah data secara ilmiah untuk mencari jawabannya.


c. Menggunakan pendekatan induktif dalam menemukan
pengetahuan

dan

pembelajaran

berpusat

kepada

keaktifan siswa.
d. Ciri-ciri proses belajar dengan inkuiri adalah: mengamati,
bertanya, tidak semata-mata mendengar dan menghafal.
e. Guru memfasilitasi proses pengumpulan dan menyajikan
f.

informasi.
Guru
dan

siswa

menggunakan

teknologi

untuk

memajukan penyelidikan.
g. Guru dan siswa lebih sering berinteraksi dan lebih aktif
daripada selama proses pembelajaran.
5. Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
A. Pengertian Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Pembelajaran inkuiri terbimbing adalah proses dimana
siswa

terlibat

dalam

belajar

mereka,

merumuskan

pertanyaan,

menyelidiki

secara

luas

dan

kemudian

membangun makna dan pengetahuan serta pemahaman


baru. Pengetahuan baru siswa dapat digunakan untuk
menjawab pertanyaan, untuk mengembangkan solusi atau
untuk

mendukung

posisi

atau

tempat

tujuan

yang

ditampilkan. Pengetahuan ini biasanya disajikan kepada


orang lain dan mungkin mengakibatkan beberapa jenis
tindakan

(Galileo

Educational

Network)

dalam

Jennifer

Branch (2004). Dalam model inkuiri terbimbing terdapat


deskripsi atau representasi fisik yang meningkatkan pada
pemahaman sesuatu yang tidak dapat diamati secara
langsung. Sebuah model pembelajaran, seperti model inkuiri
terbimbing ini, mendukung karya guru dan siswa dan dapat
digunakan dalam berbagai cara (Donham, 2001) dalam
Jennifer

Branch

membimbing
analitis
sering

siswa

yang

penyelidikan,

(2004).
dalam

mencakup
tanpa

Model

inkuiri

terbimbing,

menggunakan

pendekatan

semua

tahap

belajar proses

sangat terbatas

dalam

proses

penyelidikan,

dan pandangan sempit

siswa
dalam

mengembangkan penyelidikan. Mereka mungkin berpikir


penyelidikan yaitu menemukan dan menjawab pertanyaan
orang lain, daripada memahami penyelidikan sebagai proses
sehingga

siswa

menjadi

bingung

tentang

sesuatu,

menghasilkan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri dan


menggunakan

informasi

untuk

memenuhi

kepentingan

mereka sendiri dan untuk mengembangkan pengetahuan


mereka sendiri.
B.

Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Jennifer Branch (2004) mengemukakan enam fase dalam
inkuiri terbimbing, dimana tahapan ini yang akan digunakan
dalam penelitian ini, tahapan tersebut yaitu:

Tabel 2.1
Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Menurut Jennifer Branch
Fase
Tahap pertama, Planning

Keterangan

(perencanaan)
Tahap kedua, Retrieving
(mendapatkan informasi)
Tahap ketiga, Processing
(memproses informasi)
Tahap keempat, Creating
(menciptakan informasi)
Tahap kelima, Sharing
(mengkomunikasikan informasi)
Tahap keenam, Evaluating
(mengevaluasi)
Dari penjabaran di atas, inkuiri terbimbing (guided inquiry) dapat
diartikan sebagai salah satu model pembelajaran berbasis inkuiri
yang penyajian masalah, pertanyaan dan materi atau bahan
penunjang ditentukan oleh guru. Masalah dan pertanyaan ini yang
mendorong siswa melakukan penyelidikan untuk menentukan
jawabannya.

Kegiatan

siswa

dalam

pembelajaran

ini

adalah

mengumpulkan data dari masalah yang ditentukan guru, membuat


hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisis hasil, membuat
kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
6. Hasil Belajar
Hasil belajar atau tingkat penguasaan suatu materi pelajaran
pada umumnya di ukur melalui suatu penelitian dan hasilnya ada
yang memperoleh nilai tinggi, sedang dan rendah. Penilaian akan
memberikan informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh

tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa
melalui kegiatan belajar mengajar.
Menurut Nana Sudjana (2009) hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya. Howard Kingsley membagi tiga mas belajar, yakni (a)
keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c)
sikap dan cita-cita.
Gagne membagi lima kategori hasil belajar yakni a) informasi
verbal, b) keterampilan intelektual, c) strategi kognitif, d) sikap dan
e)

keterampilan

motoris.

Dalam

sistem

pendidikan

nasional

rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kulikuler maupun tujuan


instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin
Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah,
yaitu:
a)
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual
yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan
b)

keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.


Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima
aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian,

c)

organisasi dan internalisasi.


Ranah psikomotoris berkenaan

dengan

hasil

belajar

keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek


ranah psikomotoris, yakni gerakan refleks, keterampilan
gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau
ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan
ekspresif dan interpretatif (Nana Sudjana, 2009).
Hasil belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran.
Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan kualitas pengajaran.
Caroll berpendapat dalam (Ahmad Sabri, 2010) bahwa hasil
belajar siswa dipengaruhi oleh lima faktor, yakni, (a) bakat pelajar,

(b) waktu yang tersedia untuk belajar, (c) waktu yang diperlukan
siswa untuk menjelaskan pelajaran, (d) kualitas pengajaran, dan (e)
kemampuan individu. Empat faktor yang disebut diatas (a, b, c, e)
berkenaan dengan kemampuan individu dan faktor (d) adalah
faktor

diluar

individu

(lingkungan).

Kedua

faktor

tersebut

mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa


artinya, makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran,
makin tinggi pula hasil belajar siswa.
Berdasarkan teori dan konsep tentang hasil belajar tersebut di
atas, maka dapat dibuat suatu definisi konseptual hasil belajar
sebagai suatu kesimpulan. Hasil belajar merupakan perilaku berupa
pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan atau strategi
kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan
lingkungan dalam suatu suasana atau kondisi pembelajaran.
Pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan atau strategi
kognitif tersebut adalah baru, bukan yang telah dimiliki siswa
sebelum

memasuki

kondisi

atau

situasi

pembelajaran

yang

dimaksud. Hasil belajar tersebut biasa juga berbentuk kinerja atu


petunjuk

kerja

yang

ditampilkan

seseorang

mengikuti proses pembelajaran atau pelatihan.

setelah

selesai

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI IPA SMAN 18
Surabaya
2. Sampel Penelitian
Salah satu kelas XI IPA SMAN 18 Surabaya pada tahun ajaran 20152016 yaitu kelas XI IPA 6
B. Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini, rancangan penelitiannya menggunakan One
Group

Pretest-Postest

Design.

Jadi

dilakukan

pretest

di

awal

pembelajaran untuk mengetahui tingkat keterampilan berpikir tingkat


tinggi awal siswa. Setelah itu, diberikan suatu perlakuan dalam hal ini
penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan
penyangga

kemudian

diberikan

posttest

di

akhir

pembelajaran.

Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel:


Tabel Rancangan Penelitian (Pretest-Postest)
Pretest
O1

perlakuan
X

postest
O2

Keterangan:
O1 : pretest, untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi
awal siswa pada materi pokok larutan penyangga
X : perlakuan, penerapan model pembelajaran inkuiri
O2: postest, untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi
siswa pada materi pokok larutan penyangga
Analisis: menghitung signifikansi (O2-O1)
Peneliti mengidentifikasi kondisi awal pada sekelompok sampel
siswa kelas XI IPA-6 SMAN 18 Surabaya dengan melaksanakan pretest.
Kemudian dilakukan suatu kegiatan (perlakuan = tretment) dalam hal
ini

penerapan model

pembelajaran inkuiri

pada

materi

larutan

penyangga kemudian diberikan posttest di akhir pembelajaran. Pada


akhir kegiatan kondisinya diukur (postes). Hasil pretes dibandingkan
dengan hasil postes, kemudian disimpulkan.

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di SMAN 18 Surabay

pada semester genap

tahun ajaran 2015-2016


D. Prosedur Penelitian
Berdasarkan rancangan penelitian, maka rincian prosedur penelitian ini
terdiri dari 3 tahap kegiatan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan
kegiatan pembelajaran dan analisis data
1. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah:
a) Peninjauan sekolah.
b) Permintaan izin ke sekolah untuk melakukan penelitian di sekolah
tersebut.
c) Wawancara terhadap guru mata pelajaran kimia.
d) Penyiapan perangkat pembelajaran (RPP, Silabus dan LKS)
e) Penyiapan instrumen penelitian, yaitu lembar pengamatan
keterlaksanaan pembelajaran inkuiri, lembar tes keterampilan
berpikir tingkat tinggi.
f) Telaah dan validasi perangkat pembelajaran serta instrumen
penelitian yang dilakukan oleh dosen kimia.
g) Observasi kelas, survei alat dan bahan di laboratorium kimia.
2. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
a) Pada pertemuan pertama membahas Pengertian Larutan
Penyangga dan Asam Kuat Basa Kuat
b) Pada pertemuan kedua membahas Asam Lemah Basa Kuat
c) Pada pertemuan ketiga membahas Asam Lemah Basa Lemah
3. Tahap Analisis Data
Keterlaksanaan pembelajaran inkuiri dianalisis dengan cara
menghitung

skor

KMP,

skor

tersebut

menunjukkan

kriteria

kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Keterampilan


berpikir tingkat tinggi siswa oleh penerapan model pembelajaran
inkuiri dianalisis dengan cara menghitung selisish rata-rata nilai
postest dan pretest (n-gain score), nilai gain menunjukkan kriteria
tertentu terhadap perubahan ataupun peningkatan antara nilai
pretest dan postest.

E. Perangkat Pembelajaran
Perangkat penilaian merupakan sekumpulan bahan penelitian
yang digunakan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri pada
materi pokok larutan penyangga, antara lain:
1. Silabus
Silabus yang digunakan sesuai dengan silabus kimia yang disusun
oleh departemen pendidikan nasional tahun 2013
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP yang digunakan dalam pembelajaran dibuat sesuai dengan
kompetensi dasar dan indikator yang tercantum dalam silabus
dengan sintak pembelajaran sesuai dengan sintak-sintak model
pembelajaran inkuiri.
3. Buku Siswa
Buku yang digunakan dalam pembelajaran tidak dikembangkan
sendiri oleh peneliti, namun menggunakan buku siswa yang telah
ada di pasaran.
4. Lembar Kerja Siswa
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah suatu lembar yang harus
dikerjakan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Lembar kerja siswa dibuat oleh peneliti yang bertujuan untuk
melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dan menguji
kemampuan siswa atau untuk mendorong siswa dalam satu
kelompok agar saling bekerja sama. Adapun karakteristik dari
lembar kerja siswa ini meliputi kompetensi dasar, indikator, dan
format tugas.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Lembar Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati keterampilan
guru melaksanakan sintak-sintak pembelajaran dalam kegiatan
belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri
yang sesuai dengan RPP. Lembar pengamatan ini diisi oleh
pengamat yang mengamati seluruh kegiatan pembelajaran.
2. Lembar Tes Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa

Lembar tes berisi sejumlah soal yang mewakili indikator pada


materi pokok larutan penyangga yang harus dicapai oleh siswa
setelah

menerima

proses

belajar

mengajar

dengan

model

pembelajaran inkuiri. Tes adalah semacam uji kompetensi apakah


siswa telah mencapai indikator belajar atau belum.
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Metode observasi ini dilakukan oleh pengamat dengan cara
mengisikan penilaian keterlaksanaan RPP hasil pengamatan dari 3
orang pengamat pada instrument penelitian Lembar Pengamatan
Keterlaksanaan Pembelajaran. Sebelum melakukan pengamatan,
para pengamat diberikan pengarahan tentang pengisian instrumen
penelitian.
2. Tes
Tes dilakukan satu kali. tes dilakukan di akhir pembelajaran yaitu
setelah

diterapkan

model

pembelajaran

inkuiri.

Hasil

tes

menunjukkan seberapa besar keterampilan berpikir tingkat tinggi


siswa setelah diajar dengan model pembelajaran inkuiri pada
materi pokok larutan penyangga.
H. Teknik Analisis Data
1. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran
Keterlaksanaan dalam penerapan pembelajaran ini dianalisis secara
deskriptif.

Keterlaksanaan

pembelajaran

dapat

dilihat

dari

terlaksananya dengan baik sintaks-sintaks pembelajaran sesuai


dengan

alokasi

waktu

yang

telah

direncanakan.

Penilaian

keterlaksanaan pembelajaran ini dilakukan dengan cara pemberian


skor menurut kriteria sebagai berikut:
0 = tidak terlaksana
1 = kurang baik
2 = cukup
3 = baik
4 = sangat baik

Pemberian

skor

untuk

penilaian

keterlaksanaan

proses

pembelajaran ini dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai


berikut:

Keterangan:
KMP = Kemampuan guru mengelola pembelajaran
Penilaian pengamat diberikan rentang skor dan makna sebagai
berikut (Sudjana, 2006):
Skor 0 < KMP 1 : bermakna kurang sekali
Skor 1 < KMP 2 : bermakna kurang
Skor 2 < KMP 3 : bermakna baik
Skor 3 < KMP 4 : bermakna baik sekali
2. Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Siswa dikatakan telah terlatih keterampilan berpikir tingkat tinggi
dengan baik bila nilai postest mengalami peningkatan dari nilai
pretest sebelumnya. Soal pretes dan postest yang digunakan
adalah soal-soal dalam ranah kognitif C4 dan C5. Karena menurut
Taksonomi Bloom ranah kognitif C3, C4, C5, dan C6 masuk dalam
kategori keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thingking
skill).

Setelah diperoleh nilai pretes dan postes siswa, dilakukan uji t


untuk mengetahui adanya perbedaan antara nilai pretes dan postes
setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri.

Keterangan:
Md = mean dari perbedaan pretes dengan postes (postes-pretes)
Xd = deviasi masing-masing subjek (d-Md)
X2d = kuadrat deviasi
n= jumlah subjek pada sampel
(Arikunto, 2010)
Dengan hipotesis:
H0
: tidak ada perbedaan antara nilai pretes dan postes
setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri.

H1

: terdapat perbedaan antara nilai pretes dan postes setelah

diterapkan model pembelajaran inkuiri.


Selanjutnya dianalisis melalui perhitungan

nilai

<g>

untuk

mengetahui seberapa besar perbedaan antara nilai pretes dan


postes setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri.

Keterangan:
<g> = penimgkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi
= rata-rata nilai postes
= rata-rata nilai pretes
Nilai <g>
<g> 0,7
0,7 > <g> 0,3
<g> < 0,3

Kriteria
Tinggi
Sedang
Rendah