Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang
beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir
dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan
penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal. (Tjokronegoro dan Hendra, 2004)
Prevalensi gagal ginjal di Amerika Serikat pada tahun 2005 adalah 485.012, insiden
kejadian penyakit gagal ginjal ini sebanyak 106.912 dan kematian yang disebabkan oleh penyakit
gagal ginjal sebesar 167,3 kematian per 1000 pasien per tahun. Tercatat ada 341.319 klien gagal
ginjal yang menjalani hemodialisis dengan perincian sebagai berikut : yang melakukan
hemodialisis di pusat hemodialisis sebanyak 312.057, hemodialisis di rumah sebanyak 2.105, dan
yang melakukan peritoneal dialisis sebanyak 25.895. (National Institute of Diabetes and
Digestive and Kidney Diseases, 2008). Penyakit ginjal masih menjadi masalah besar bagi dunia.
Selain sulit disembuhkan, biaya perawatan dan pengobatan pederita gagal ginjal sangat mahal
(Wijaya. R, 2004). Indonesia termasuk Negara dengan tingkat penderita gagal ginjal cukup
tinggi. Saat ini, jumlah penderita gagal ginjal mencapai 4.500 orang. Kecenderungan kenaikan
penderita gagal ginjal terlihat dari meningkatnya jumlah pasien hemodialisa (Habibie. R.A,
2006). Menurut daftar tabulasi dasar (DTD) di rumah sakit Indonesia, pada tahun 2005, gagal
ginjal menempati urutan ke empat dengan jumlah kematian 3.047 atau sekitar 3,16 % dan pada
tahun 2007 gagal ginjal tetap menempati urutan ke empat namun jumlah kematian bertambah
menjadi 3.181 atau sekitar 3,41 %. Adapun klien yang menggunakan pelayanan khusus pada
tahun 2005 sebanyak 11.219 dan pada tahun 2007 bertambah menjadi 137.118 pasien.
Di DKI Jakarta sendiri pasien yang menjalani hemodialisis sebanyak 17.815 pasien
(Depkes RI, 2008). Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, pada tahun 2008 jumlah
pasien hemodialisa mencapai 2.260 orang. Dimana mengalami peningkatan dari 2.148 orang
pada tahun 2007 (Rachmat, 2009). Jumlah pasien penyakit ginjal di Indonesia diperkirakan
60.000 orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap tahunnya. Sedangkan jumlah mesin

cuci darah yang ada di Indonesia sekitar 1.000 unit. Jumlah ini hanya bisa melayani 4.000 orang
setiap tahun. Ini berarti jumlah pasien yang dapat dilayani kurang dari 10% (Wijaya. R, 2004).
Adapun reaksi yang muncul ketika seseorang didiagnosis penyakit kronik diantaranya
shock, tidak percaya, depresi, marah. Seseorang dengan penyakit kronik tidak memikirkan bahwa
mereka sakit dan berperilaku seperti kebiasaan sehari hari. Masalah psikologis dan sosial harus
diperhatikan karena gejalagejala yang ditimbulkan dan juga ketidakmampuan karena sakit akan
mengancam identitas, menyebabkan perubahanperubahan dalam peran, mengubah citra tubuh
dan mengganggu gaya hidup yang ada (Smeltzer, 2007).
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1.

Bagaimanakah Persepsi klien terhadap perubahan citra diri ?

2.

Bagaimanakah sikap klien terhadap perubahan citra diri ?

3.

Apakah terjadi perubahan pada kehidupan dengan adanya perubahan citra diri ?

4.

Seberapa besarkah pengaruh perubahan citra diri terhadap Kehidupan sehari-hari klien ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.

Tujuan Umum
Mengidentifikasi Persepsi klien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis

terhadap perubahan citra diri.


2.

Tujuan Khusus

1) Mengidentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan persepsi klien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis terhadap perubahan citra diri.
2) Mengidentifikasi hubungan antara dukungan sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, dan tingkat pengetahuan klien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis
terhadap perubahan citra diri.
1.4 Manfaat Penulisan
1.

Bagi tenaga keperawatan


Membantu perawat mengidentifikasi dan membantu menangani masalah Persepsi klien

dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis terhadap perubahan citra diri.

2.

Bagi Institusi Pendidikan


Menambah pengetahuan tentang mekanisme koping yang digunakan klien gagal ginjal

kronik yang menjalani terapi hemodialisis.


3.

Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran atau informasi untuk menambah wawasan

dan pengembangan penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gagal Ginjal Kronik


Menurut Tjokronegoro dan Utama (2004), penyakit gagal ginjal kronik merupakan suatu
proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang
progresif, danp ada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu
keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat
yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal.
2.2 Hemodialisis
Terapi hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air,
natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semipermeabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses
difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Setyawan, 2001). Adanya perubahan yang terjadi dalam hidup
pada pasien hemodialisis dapat menyebabkan stress.
2.3 Citra D iri
Citra diri merupakan konsep yang kompleks meliputi kepribadian, karakter, tubuh dan
penampilan individu (Susanto, 2001).
Schilder mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh individu yang
terbentuk dalam pikiran kita, atau dengan kata lain gambaran tubuh. Individu menurut individu
itu sendiri (Glesson & Frith, 2006). Rudd dan Lennon (2000) menyatakan bahwa citra tubuh
adalah gambaran mental yang kita miliki tentang tubuh kita. Gambaran mental ini meliputi dua
komponen, yaitu komponen

perseptual (ukuran, bentuk, berat, karakteristik, gerakan, dan

performansi tubuh) dan komponen sikap (apa yang kita rasakan tentang tubuh kita dan
bagaimana perasaan ini mengarahkan pada tingkah laku).
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun
eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh
dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi
dari pandangan orang lain (Potter & Perry, 2005).

Citra tubuh merupakan sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari maupun tidak
disadari meliputi persepsi masa lalu dan sekarang megenai ukuran, bentuk, fungsi, penampilan
dan potensi tubuh (Sulisyiwati,2005).
Perubahan citra tubuh adalah suatu keadaan distress personal, yang didefinisikan oleh
individu, yang mengindikasikan bahwa tubuh mereka tidak lagi mendukung harga diri dan yang
disfungsional, membatasi interaksi sosial mereka dengan orang lain (suliswati, 2005)
1) Komponen Citra Tubuh
Komponen citra tubuh menurut Keaton, Cash, dan Brown (Tresnanari, 2001) mengatakan
citra tubuh berkaitan dengan dua komponen yaitu:
a. Komponen persepsi, bagaimana individu menggambarkan kondisi fisiknya yaitu mengukur
tingkat keakuratan persepsi seseorang dalam mengestimasi ukuran tubuh seperti tinggi atau
pendek, cantik atau jelek, putih atau hitam, kuat atau lemah.
b. Komponen sikap, yaitu berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan individu terhadap
bagian-bagian tubuh yang meliputi wajah, bibir, hidung, mata, rambut dan keseluruhan tubuh
yang meliputi proporsi tubuh, bentuk tubuh, penampilan fisik
Ada beberapa ahli yang mengemukakan mengenai komponen citra tubuh. Salah satunya
adalah Cash (2000) yang mengemukakan adanya lima komponen citra tubuh, yaitu :
a. Appearance Evaluation (Evaluasi Penampilan), yaitu penilaian individu Mengenai
keseluruhan tubuh dan penampilan dirinya, apakah menarik atau tidak menarik, memuaskan
atau tidak memuaskan.
b. Appearance Orientation (Orientasi Penampilan), perhatian individu terhadap penampilan
dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya.
c. Body Areas Satisfaction (Kepuasan terhadap Bagian Tubuh), yaitu kepuasan individu
terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, payudara, tubuh bagian bawah
(pinggul, pantat, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), dan keseluruhan tubuh.
d. Overweight Preocupation (Kecemasan Menjadi Gemuk), yaitu kecemasan menjadi gemuk,
kewaspadaan individu terhadap berat badan, melakukan diet ketat, dan membatasi pola
makan.
e. Self-Clasified Weight (Persepsi terhadap Ukuran Tubuh), yaitu persepsi dan penilaian
individu terhadap berat badannya, mulai dari kekurangan berat badan sampai kelebihan berat
badan.

Berdasarkan pendapat Cash yang dikemukakan di atas mengenai komponen citra tubuh,
maka dapat disimpulkan bahwa komponen citra tubuh meliputi evaluasi dan orientasi individu
terhadap penampilan tubuh, kepuasan pada bagian tubuh tertentu, serta persepsi dan penilaian
terhadap berat badan.
2) Penyebab Gangguan Citra Tubuh
Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi seseorang tentang tubuh yang diakibatkan
oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang sering
kontak dengan tubuh. Gangguan citra tubuh merupakan suatu keadaan ketika individu
mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam penerapan citra diri seseorang
(Lynda Juall,2006).
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh
a.

Sosialkultural: budaya serta adat-istiadatberpengaruh terhadap citra tubuh seseorang melihat


di Indonesia terdapat beraneka ragam budaya dan adat

b.

Jenis kelamin: laki-laki dan perempuan memiliki citra tubuh yang berbeda tergantung dari
tiap-tiap individu.

c.

Status hubungan

d.

Agama