Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS SPERMA

Disusun Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Siti Novianti Eka Putri


: B1J009176
: III
:4
: Andrian Putra Bahari

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahasa Yunani kuno)
adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk
membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang
menjadi embrio. Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi utama dari laki-laki. Sel
sperma memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sel sperma manusia terdiri atas
kepala yang berukuran 5 m x 3 m dan ekor sepanjang 50 m. Sel sperma pertama kali
diteliti oleh seorang murid dari Antoni van Leeuwenhoek tahun 1677 (Anonim, 2008).
Beberapa alasan dilakukannya pemeriksaan semen. Pertama, untuk terjadinya
kebuntingan hanya diperlukan beberapa juta ekor yang disemprotkan ke dalam alat kelamin
betina meskipun hanya satu ekor spermatozoa yang dibutuhkan untuk terjadinya anak,
padahal dalam satu kali penampungan dapat diperoleh semen yang mengandung berjuta-juta
spermatozoa, jadi penilaian dan pemeriksaan itu perlu untuk mendapatkan perhitungan
berapa kali semen yang didapatkan itu dapat diencerkan, sehingga mudah untuk membagibaginya. Kedua, dapat diketahui berapa jumlah spermatozoa yang hidup dan yang telah mati,
penilaian menentukan apakah semen dapat diencerkan dan disimpan lama atau tidak
(Partodiharjo, 1990).
Menurut Soeminto (2002), diantara ikan budidaya yang cukup digemari konsumen
di daerah Kedu dan Banyumas karena kandungan telurnya adalah ikan Nilem (Osteochillus
hasselti CV). Kesukaan ini selain disebabkan rasa telurnya yang gurih, teksturnya gempi,
warnanya menarik, juga proporsi berat telur dibanding berat tubuh ikan cukup mencolok
(komunikasi pribadi). Pada penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa ikan ini mampu
memproduksi telur masak antara 18-26% berat tubuh.
Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat
distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah

spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas, morfologi (ukuran dan bentuk
kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan). Analisis sperma ini bisa dilakukan pada
spesies lain, seperti ikan emas atau ikan yang lainya. Yang terpenting hanyalah dilakukan
pada ikan jantan yang masak kelamin

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas sperma ikan
nilem.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada
ketinggian 500-800 m dpl dan lebih menyukai pada perairan jernih, mengalir dengan dasar
berpasir atau berbatuan kecil-kecil. Nilem betina masak kelamin pada umur 1-1,5 tahun.
Ovarium maupun testis sebagai organ berpasangan, berkedudukan di kanan-kiri bawah
gelembung renang di dalam rongga perut. Bobot ovarium mencapai 15 gram, dengan panjang
7-9 cm. Seekor induk betina dapat menghasilkan telur oviposisi 7-12 ribu butir. Ovarium ikan
nilem siap kawin/mijah berwarna kuning kemerahan atau oranye (Soeminto, 2002).
Ikan nilem jantan masak kelamin setelah berumur 8 bulan. Berat testis lebih
ringan dibanding berat ovarium pada ikan yang sama umurnya, tetapi panjangnya dapat
dikatakan sama. Dari kedua testis dapat dihasilkan sekitar 1-1,5 ml milt (dalam keadaan

ejakulasi alami), tetapi pada stripping paling banyak diperoleh 1 ml milt. Milt ikan nilem
yang diperoleh lewat stripping yang langsung bersentuhan dengan air akan menggumpal, dan
dapat dicegah dengan diencerkan terlebih dahulu pada larutan fisiologis Ringer 100 kali
(Soeminto,2002).
Testis ikan nilem berbentuk memanjang atau berlobi. Posisi sama dengan posisi
ovarium ikan betina. Spermatozoa dari testis lewat duktules eferentes masuk ke dalam duktus
longitudinal testis. Duktus ini berkelok-kelok (konvoluntes) dan ujung anteriornya sering
ditetapkan sebagai epididimis. Bagian posteriornya mengalami dilatasi (membesar)
membentuk vesikula seminalis. Kedua vesikula seminal masuk ke dalam sinus urogenital dan
langsung berhubungan dengan kloaka lewat suatu jendela (orifisae) pada ujung papilla
urogenital (Soeminto, 2002).
Saluran spermatozoa pada jantan teleostei pada gonad mirip seperti saluran telur
pada betina. Lipatan peritoneum membungkus suatu bagian rongga solom, yang selanjutnya
berhubungan dengan gonad. Pada yang jantan saluran yang menghubungkan gonad diwakili
oleh sejumlah saluran yang saling berhubungan yang susunannya lebih kompleks dibanding
pada yang betina. Saluran ini bukan duktus diferen yang sebenarnya. Hubungan dengan
duktus archinefrik tersusun sebelah posterior opistonefros, tetapi kedua saluran ini pada
telostei memiliki penyaluran yang terpisah (Soeminto, 2002).
. Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang 'terperas', sangat sedikit
sekali kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa pun memiliki organel-organel yang sangat
sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki ribosom, retikulum
endoplasmik dan golgi. Sebaliknya ia memiliki banyak sekali mitokondria yang letaknya
sangat strategis untuk pengefisiensian energi yang diperlukan. Secara struktur ada dua bagian
yaitu kepala dan ekor (Tokuhiro,K et al., 2008). Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi.
Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik) haploid yang berupa kantong

berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Apabila spermatozoa kontak dengan telur isi akrosom
dikeluarkan secara eksositosis yang disebut dengan reaksi akrosom. Beberapa spermatozoa
invetebrata reaksi akrosom tersebut diikuti dengan pelepasan protein khusus yang mengikat
spermatozoa kuat-kuat pada bungkus telur (Sistina, 2000).
Sperma berasal dari spermatia yang telah mengalami diferensiasi sel perlahan-lahan.
Sperma dibagi menjadi dua bagian, yaitu kepala dan flagela. Flagela biasanya tersusun dari
berbagai bagian kecil, disebut potongan tengan (midle piece), flagelum sendiri dan potongan
ujung (end piece). Spermatozoid berupa sel yang dapat bergerak sendiri dalam cairan sperma.
Pergerakan spermatozoid yang khusus dikarenakan gerakan rambut cambuknya (flagela)
yang dinamakan nematosperium. Fertilisasi Ikan Nilem terjadi di luar tubuh dengan ukuran
telur 12 mm. Biasanya terjadi segmentasi secara meroblastik dan tidak mempunyai membran
embrio. Post larva (ikan muda) kadang-kadang tidak mirip dengan dewasa. Telur yang
dihasilkan bersifat telolecithal (Radiopoetro, 1981).
Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum.

Sperma

dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut dengan spermatogonia. Sebuah sel
sperma terdiri atas kepala dan ekor. Kepala sperma mengandung kromosom dalam suatu
keadaan kompak dan inaktif, leher yang merupakan daerah genting sperma, di dalamnya
terdapat sentriol depan dan bagian depan terdapat filament poros (Saanin, 1968). Badan
mengandung filament poros, mitochondria dansentriol belakang berbentuk cincin.

Ekor

terdiri dari dua daerah yakni bagian utama dan bagian ujung. Ekor sedikit mengandumg
sitoplasma. Pada bagian ujung ekor sama sekali tidak mengandung sitoplasma (Yatim, 1982).
Analisis sperma dimaksudkan untuk memeriksa jumlah milt yang dapat distriping
dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna sperma, bau, jumlah
spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas, morfologi (ukuran, bentuk kepala,
ukuran ekor, berbagai penyimpangan, ada tidaknya akrosoma) (Soeminto, 2007). Ikan jantan

masak kelamin dapat dilihat apbila diurut bagian dorsal maka akan keluar cairan putih susu.
Secara alamiah, spermatozoa diproduksi dalam testis untuk selanjutnya digunakan dalam
proses kopulasi, dalam proses ini spermatozoa akan diejakulasikan dari alat kelamin jantan
langsung ditumpahkan di dalam saluran alat kelamin jantan, dan sebagian diantaranya
berhasil sampai tempat pembuahan. Testis merupakan alat tubuh atau organ yang berfungsi
memproduksi spermatozoa dan hormon kelamin jantan, testosteron (Sistina, 2000).

III.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya, bilik hitung
(hemositometer), pipet eliason, pipet lekosit, gelas obyek, gelas penutup, pH indikator (kertas
pH), gelas pengaduk, stop watch, tisu, bak preparat, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sperma/milt segar, larutan
Ringer, larutan Giemsa, dan methanol.

B. Metode
Cara kerja dalam praktikum Analisis Sperma adalah:
1. Cara stripping
a. Ikan dipegang dengan bagian ventral ada di bawah dan bagian dorsal
menghadap keatas.
b. Tangan kanan menutupi kepala, sedangkan tangan kiri menyangga ekor.
c. Bagian lubang urogenital dilap dengan tissue

d. Abdomen ikan diurut dari anterior ke arah posterior menuju lubang


urogenital hingga pada lubang tersebut keluar cairan berwarna putih susu
(milt).
e. Milt yang keluar langsung disedot dengan menggunakan spuit injeksi
tanpa jarum.
2. Volume
a. Milt ikan nilem yang tertampung pada spuit injeksi diukur volumenya
dengan langsung membaca skalanya.
b. Volume sperma ikan nilem juga dapat diukur dengan menggunakan gelas
ukur volume 5 atau 10 ml.
3. Warna
Diamati secara visual dengan latar belakang warna putih.
4. Bau
Dibaui dengan cara dikipas-kipas dengan tangan, jangan dihirup langsung.
5. PH
Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas pH, dengan cara
mencelupkan kertas pH kedalam sampel sperma, diamkan beberapa saat,
kemudian cocokan perubahan warna yang terjadi dengan tube.
6. Motilitas sperma
a. Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet
tetes.
b. Milt diteteskan diatas objek glass.
c. Ditetesi dengan aquades, kemudian dihomogenkan.
d. Ditutupi dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop.
e. Bergerak atau tidak bergerak, ditentukan oleh presentase motilitasnya.
7. Menghitung jumlah total spermatozoa
a. Milt yang sudah diencerkan 10000x diambil dengan menggunakan pipet
tetes.
b. Diteteskan dibilik hitung Haemocytometer yang sudah ditutup dengan
cover glass melalui sela-sela paritnya.
c. Hitung jumlah sperma dengan menggunakan lima kotak sedang di dalam
kotak besar yang di bagian tengah.
d. Jumlah total spermatozoa dihitung dengan rumus:
total spermatozoa = (rata-rata 5 kotak sedang x pengenceran x 2,5.10 5)
sel/ml.
8. Morfologi spermatozoa

a. Sediaan

preparat apus spermatozoa dibuat dengan cara: meneteskan

sperma (pengenceran 100 x) pada objek glass di salah satu ujungnya.


Tetesan sperma disentuhkan dengan menggunakan ujung objek glass yang
lain, yang diberdirikan dengan sudut 30o. tetesan sperma diratakan dengan
menyerongkan gelas objek lain tadi menjauhi titik tetesan tersebut.
b. Apusan spermatozoa dibiarkan kering udara selama 5 menit.
c. Difiksasi dengan larutan eter alcohol (1:1), selama 5 menit.
d. Ditetesi dengan pewarna larutan Giemsa (pengenceran 20x), selama 30
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

menit.
Dibiarkan kering udara.
Dicuci dengan air mengalir.
Dibiarkan kering udara.
Amati dengan menggunakan mikroskop, spermatozoa dicari
Spermatozoa normal dan spermatozoa abnormal digambar.
Hitung spermatozoa pada 5 lapang pandang yang berbeda.
Persentase sperma normal dan abnormal ditentukan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Volume
: 0,4 ml
2. Viskositas
: 12 menit (mual menggumpal)
3. Warna
: Putih Susu
4. PH
: 7,5
5. Motilitas
: a. Sperma motil : 40 %
b. Sperma non motil : 60 %
Tabel 1. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan III
Persentase sperma motil (%)
Persentase sperma non motil
(%)
Keterangan:
K= kelompok

K1
60
40

K2
90
10

K3
60
40

K4
40
60

K5
0
100

Rata-rata
0,4
99

6. Pengamatan bilik hitung (digambar)

7. Jumlah total spermatozoa


Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Total Spermatozoa Rombongan III
K1
K2
K3
K4
K5
Rata-rata
Total Spermatozoa 2.1.1011 7.5. 109 15.5.109 12.0.109
9,4.1010
9.3.109
Keterangan :
K = Kelompok
Perhitungan: (hanya menghitung kelompok sendiri)
Kotak pojok kiri atas
: 54
Kotak pojok kiri bawah
: 46
Kotak pojok kanan atas
: 41
Kotak pojok kanan bawah
: 56
Kotak tengah
: 43
Rata-rata 5 kotak = 240 : 5 = 48
total spermatozoa = rata-rata 5 kotak x pengenceran x 2.5.105
= 48 x 10.000 x 2.5.105
= 12.1010
8. Kesimpulan / Diagnosa
Kegiatan praktikum kali ini adalah untuk menguji kualitas dan kuantitas
sperma yang dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis.
Uji makroskopis :
1. Volumenya 0,4 ml
2. Warnanya putih susu
3. Viskositasnya mengental pada waktu 12 menit
4. PHnya 7,5
Mikroskopisnya
1. Motilitasnya sebesar 40 % dan non motil 60 %
2. Jumlah sperma 12.1010 sel/ml

B. Pembahasan
Hasil yang diperoleh kelompok kami dalam praktikum kali ini secara makroskopis
adalah sperma ikan nilem (milt) dengan volume 0,4 ml setelah kertas pH dicelupkan pada
sampel sperma memiliki derajat keasaman (pH)= 7,5. Dilihat dari mata telanjang milt ikan
nilem berwarna putih susu dan setelah dikipas-kipas milt ikan nilem berbau khas yaitu langu.
Sedangkan secara mikroskopis kami memprakirakan sperma nilem mempunyai
nilai motilitas 40 % dan 60% untuk amotil. Hal ini dikarenakan sampel yang kami amati telah
lama berada di ruang terbuka sehingga kami perkirakan jumlah sperma amotil sekitar 60 %
sebab walau dilihat dari mikroskop sampel tidak bergerak tetapi belum tentu sampel tersebut
telah mati (Soeminto, 2002). Oleh karena itu kami tidak dapat menentukan prosentase sperma
yang bergerak cepat dan lurus ke muka, bergerak lambat tapi lurus, tidak bergerak maju, dan
tidak bergerak sama sekali.
Warna sperma hasil striping pada ikan nilem (Osteochillus hasselti) adalah putih
susu, hal ini menunjukkan bahwa sperma ikan nilem yang digunakan pada praktikum adalah
sehat. Umumnya semen berwarna krem keputih-putihan atau hampir seputih susu. Kosentrasi
pada sperma akan mempengaruhi derajat keputihannya atau tingkat kekeruhannya. Semakin
keruh biasanya jumlah sperma per ml semen itu semakin banyak. Semen yang berwarna hijau
kekuning-kuningan biasanya banyak mengandung kuman Pseudomonas auroginosa yang
menandakan adanya peradangan yang kronis dalam saluran reproduksinya. Semen yang
berwarna merah atau kemerah-merahan menandakan bahwa semen itu mengandung sedikit
atau banyak darah (Partodiharjo, 1990).
Bila berwaran coklat atau kecoklat-coklatan menandakan bahwa semen itu
mengandung darah yang telah rusak atau busuk. Adakalanya semen itu berwarna kream tua

sampai kuning, warna ini disebabkan oleh banyaknya jumlah pigmen riflavin yang menurut
banyak pendapat tidak mempunyai peranan apa-apa terhadap spermatozoa maupun terhadap
kesuburan semen itu (Partodiharjo, 1990).
Semen yang normal mempunyai pH antara 7,2-7,8. pH pada pengamatan kali ini
adalah 7,5 yaitu basa. pH kurang dari 7,2 menunjukkan adanya penyakit kronis pada kelenjar
atau epididymis. pH rendah sekali menunjukkan adanya gangguan atau aplasia pada vesicular
seminalis atau ductus ejaculatorius. pH dapat berubah satu jam sesudah ejakulasi (Yatim,
1982).
Hasil pemeriksaan sperma menunjukkan bau langu, berarti sperma yang dihasilkan
normal, prostat aktif dan tidak ada infeksi.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal :
1. Sampel tumpah waktu ditampung atau diangkut.
2. Gangguan patologis atau genetic pada genitalia.
3. Vesicula seminalis tidak ada atau tidak berfungsi.
4. Gangguan hormonal atau karena radang kelenjar (Yatim, 1982).
Dalam praktikum ini digunakan beberapa larutan, seperti larutan Ringer, pewarna
Giemsa, dan methanol. Pengenceran dengan larutan Ringer dapat memperpanjang viabilitas
spermatozoa di dalam milt menjadi sekitar 9-10 menit. Bila tidak hanya 5 menit saja. Dengan
pewarna Giemsa, dapat dilihat menggunakan mikroskop bahwa spermatozoa normal
berbentuk oval/bulat dengan bagian ujung lebih terang dan bagian pangkal dekat leher lebih
gelap (Soeminto, 2002).
Penggunaan hemocytometer untuk menentukan jumlah spermatozoa dalam semen
menurut pendapat terbaru dianggap kurang praktis, karena kecuali memerlukan sedikit
keahlian dalam menghisab juga memerlukan waktu dalam menghitung dengan mikroskop.
Sperma yang diteteskan di atas kotak hemocytometer ditutup dan dihitung, hasilny dicatat

misalnya y. Y ini adalah jumlah sel-sel spermatozoa yang mati dan yang terlihat tidak
bergerak dalam kotak-kotak. Spermatozoa yang tidak bergerak belum tentu mati
(Partodiharjo, 1990). Hasil perhitungan jumlah spermatozoa rata-rata adalah 12x1010
spermatozoa/ml semen. Jumlah sperma yang diejakulasikan oleh

Osteochillus hasselti

menunjukkan bahwa ikan nilem tersebut tergolong polyzoospermia menurut fertilitasnya.


Spermatozoa normal memiliki kepala, leher, badan dan ekor, jika dilihat di bawah
mikroskop bagian dinding kepala yang mengandung DNA di dalamnya tampak sekitar 2/3
bagiannya tertutup akrosoma dan diantara kepala dan badan terdapat sambungan pendek
yaitu leher yang berisi sentriole proksimal, kadang-kadang dinyatakan sebagai pusat aktivitas
kinetik spermatozoa. Bagian badan dimulai dari leher dan berlanjut ke cincin sentriol. Bagian
badan dan ekor mampu bergerak bebas walaupun tanpa kepala. Ekor berupa cambuk yang
membantu mendorong spermatozoa bergerak maju (Paxton, 1986).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

1. Warna sperma hasil striping pada ikan nilem (Osteochillus hasselti) adalah
putih susu, hal ini menunjukkan bahwa sperma ikan nilem yang digunakan
pada praktikum adalah sehat.
2. Sperma ikan nilem yang diamati menunjukkan PH 7,5
3. Perhitungan motilitas spermatozoa ikan nilem diperoleh jumlah spermatozoa
yang motil adalah 40%, sedangkan jumlah spermatozoa yang non motil adalah
60%. Hal ini menunjukkan bahwa spermatozoa ikan nilem yang diamati non
motil.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi motilitas spermatozoa Ikan Nilem adalah
fakor lingkungan, tempertur, kandungan zat-zat makanan, kandungan anion
dan kation, konsentrasi spermatozoa dan pH.

B. Saran
Setelah melakukan praktikum ini kami ingin memberikan saran mengenai
praktikum yang telah kami laksanakan:
1.

Sebaiknya asisten memberikan penjelasan mengenai perbedaan sperma motil dengan


non motil.

2.

Menjelaskan cara penggunaan Haemocytometer dengan lebih jelas.


DAFTAR REFERENSI

Anonim. 2008. www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2010.


Mukti, Akhmad Taufik. 2007. Perbandingan Pertumbuhan dan Perkembangan Gonad Ikan
Mas (Cyprinus carpio Linn.) Diploid dan Tetraploid. Universitas Airlangga, Surabaya.
Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Surabaya.
Partodihardjo. 1986. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara, Jakarta.
Paxton, M. J. W. 1986. Endrocrinology, Biologycal and Medical Prospective.
Wm. C. Brown Publisher, Dubuque: Lowa
Radiopoetro. 1981. Zoologi. Erlangga, Jakarta

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifkasi Ikan I. Bina Tjipta, Bandung.
Soeminto, et al. 2002. Pembentukan Ikan Jantan Homogamet (XX) lewat Ginosenis dan
Pemberian Andriol pada Ikan Nilem (Osteocillus hasselti CV). Fakultas Biologi
Unsoed, Purwokerto.
Yatim, W. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung