Anda di halaman 1dari 34

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH

EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI


Pengukuran Metakognitif, Penilaian Portofolio dan Project

Disusun oleh :

Nur Khasanah

( K4312046/B )

Setiasih Rizki W

( K4312062/B )

Tsania Hayyu Q

( K4312064/B )

Zulfa Ayu Afdhilla ( K4312079/B )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

Kata Pengantar

Puji serta syukur kami panjatkan ke khadirat Allah atas berkat dan rahmatNya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Pengukuran Metakognitif,
Penilaian Portofolio dan Project. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah Evaluasi Pembelajaran Biologi. Terimakasih, penulis sampaikan kepada semua
pihak yang telah berkontribusi membantu penulis dalam menyusun makalah tersebut.
Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan, baik
penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami
harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan informasi bagi temanteman mahasiswa

FKIP

Biologi

UNS

khususnya

dan bermanfaat

untuk

pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Surakarta, 12 Mei 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam lingkup pengetahuan,
tertinggi

setelah

pengetahuan

metakognitif menempati tingkat

faktual,

pengetahuan

konseptual

dan

pengetahuan prosedural. Metakognitif merupakan kemampuan untuk melihat


pada diri sendiri sehingga apa yang dilakukan dapat terkontrol secara optimal.
Implikasinya dalam pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan
berpikir,

kemandirian

dalam

memecahkan

masalah.

Selain

adanya

pengukuran, terdapat pula penilaian. Penilaian yag akan dibahas dalam


makalah ini adalah penilaian portofolio dan penilaian proyek.
Penilaian portofolio merupakan penilaian berbasis kelas terhadap
sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan
terorganisasi yang diambil selama proses pembelajaran, untuk memantau
perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik.
Berbeda dengan penilaian portofolio, Penilaian proyek merupakan
kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam
periode/waktu

tertentu.

Digunakan

untuk

mengetahui

pemahaman,

kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan


menginformasikan sesuatu secara jelas.
Tujuan melakukan penilaian secara umum adalah untuk memperoleh
informasi yang bersifat kwalitatif.

Evaluasi Pembelajaran Biologi merupakan salah satu mata kuliah yang


mempelajari semua hal yang berkaitan dengan evaluasi, guna menentukan
tindaklanjut dan tindakan dalam pembelajaran. Evaluasi meliputi pengukuran,
penilaian, asesmen. Makalah yang berjudul Pengukuran Metakognitif,
Penilaian Portofolio dan Project, akan membahas terkait ketiga hal tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pengukuran metakognitif?
2. Bagaimanakah cara mengetahui aktivitas metakognitif siswa?
3. Apakah yang dimaksud dengan penilaian portofolio?
4. Bagaimanakah Prinsip Penilaian Portofolio?
5. Apasajakah bentuk-bentuk penilaian portofolio?
6. Apakah yang dimaksud dengan penilaian Project?
7. Bagaimanakah Teknik Skoring Penilaian Proyek?

C. Tujuan
1. Mengetahui Aspek metakognitif dan pengukuran metakognitif
2. Mengetahui cara melakukan pengukuran metakognitif siswa
3. Mengetahui penilaian portofolio
4. Mengetahui Prinsip Penilaian Portofolio
5. Mengetahui bentuk-bentuk penilaian portofolio
6. Mengetahui penilaian Project
7. Mengetahui Teknik Skoring Penilaian Project

BAB II
PEMBAHASAN

1.

Pengukuran Metakognitif
Istilah Metakognisi dimunculkan oleh beberapa ahli psikologi sebagai hasil

penelitian terhadap kondisi, mengapa ada orang yang belajar dan mengingat lebih
dari yang lainnya? Secara harfiah metakognisi terdiri dari awalan meta yang artinya
sesudah dan kata kognisi. Metakognisi dapat diartikan sebagai kognisi tentang
kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir. Menurut
Anderson dan Krathwohl (2001), penambahan awalan meta pada kata kognisi
untuk merefleksikan ide bahwa metakognisi adalah tentang atau di atas atau
sesudah kognisi. Di samping itu, pengertian metakognisi hampir sama dengan
pengertian perefleksian terhadap apa yang dipikirkannya. (deSoete, 2001). Kata
reflektif berasal dari kata to reflect artinya to think about.
Istilah metakognisi yang diperkenalkan Flavell (Yong & Kiong, 2006),
mendefinisikan aspek pertama dari metakognisi sebagai pengetahuan seseorang
terhadap proses hasil kognitifnya atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya,
kemudian aspek kedua dari metakognisi didefinisikan sebagai pemonitoran dan
pengaturan diri terhadap aktivitas kognitif sendiri. Metakognitif adalah suatu bentuk
kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat
terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini seseorang dimungkinkan
memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, sebab dalam setiap
langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul pertanyaan : Apa yang saya kerjakan
?; Mengapa saya mengerjakan ini?; Hal apa yang membantu saya untuk
menyelesaikan masalah ini?.

Schoenfeld (1992) mendefinisikan metakognisi sebagai pemikiran tentang


pemikiran sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek penting

yaitu:

pengetahuan tentang proses berpikir sendiri, pengontrolan atau pengaturan diri, serta
keyakinan dan intuisi. Interaksi ini sangat penting karena pengetahuan kita tentang
proses kognisi kita dapat membantu kita mengatur hal-hal di sekitar kita

dan

menyeleksi

kita

strategi-strategi

untuk

meningkatkan

kemampuan

kognitif

selanjutnya.
Meningkatkan pengetahuan metakognitif akan terlihat pada strategi guru
memfasilitasi siswa mengembangkan daya belajarnya tidak hanya mengembangkan
sikap,

keterampilan

dan

pengetahuannya

namun

siswa

terampil

belajar,

mengembangkan kemandirian siswa dalam menerapkan berbagai cara sehingga dapat


mengembangkan pengetahuan bermodalkan pengetahuan yang dipelajarinya.
Anderson & Krathwohl (Sukmadinata & Asari, 2006 : 26) memberikan
rincian dari pengetahuan yang dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan
kognitif. Dalam lingkup pengetahuan tersebut, pengetahuan metakognitif menempati
pada tingkat tertinggi setelah pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan
pengetahuan prosedural. Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan strategik,
pengetahuan tugas-tugas berpikir dan pengetahuan pribadi. Sebagai contoh
pengetahuan metakognitif, yaitu pengetahuan tentang langkah-langkah penelitian,
rencana kegiatan dan program kerja ; pengetahuan tentang jenis metode, tes yang
harus digunakan dan dikerjakan guru ; dan pengetahuan tentang sikap, minat,
karakteristik yang harus dikuasai untuk menjadi seorang guru yang baik.
Jadi metakognitif memiliki kesamaan makna dengan berpikir tentang cara
berpikir, belajar tentang belajar atau

belajar tentang bagaimana cara belajar.

Pengujian terhadap kemampuan ini bisa dilakukan dengan cara menantang siswa
menunjukkan kompetensinya dalam bentuk menggunakan pengetahuan yang telah
dipelajarinya untuk mengembangkan inisiatif belajar secara mandiri sehingga dapat

mengembangkan pengetahuan barunya. Tugas mandiri untuk mengembangkan daya


inisiatif sendiri, mengembangkan ide-ide kreatif, mendisain model baru, inisiatif baru,
atau mengembangkan karya inoatif merupakan cara yang sesuai untuk menghimpun
informasi tentang kemampuan belajar dengan mendayagunakan ilmu yang
dimilikinya.
Secara umum metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir tentang
pemikiran. Beberapa perspektif menekankan pengetahuan individual tentang kognisi
dan penggunaan strategi. Yang lainnya menekankan baik itu pengetahuan maupun
pengaturan kognisi.
Instrumen Monitoring Diri Metakognisi
Untuk mengetahui aktivitas metakognitif siswa digunakan instrumen
monitoring diri metakognisi yang memuat pernyataan-pernyataan metakognitif.
Misalnya, saya yakin bahwa saya memahami masalah yang ditanyakan pada saya;
saya mencoba menyajikan masalah dengan bahasa saya sendiri; saya mencoba untuk
mengingat jika saya pernah menyelesaikan masalah yang mirip dengan masalah
seperti ini; saya mengidentifikasi dan memeriksa setiap informasi yang terdapat
dalam masalah ini; serta saya berpikir tentang pendekatan yang berbeda yang akan
saya coba untuk mecahkan masalah ini. Siswa diminta untuk menyatakan ya,
tidak atau mungkin.
Instrumen ini dirancang berupa angket untuk mengetahui strategi metakognisi
mahasiswa dalam memecahkan masalah. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan
instrumen yang digunakan oleh Goos et.al. (2000:18). Instrumen tersebut dibagi
menjadi 4 bagian, yaitu untuk mengetahui strategi metakognisi mahasiswa : (1) dalam
proses memahami masalah; di saat memecahkan masalah; (2) ketika selesai
memecahkan masalah; (3) dan dalam memilih strategi yang digunakan oleh
mahasiswa. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan metakognisi dalam Instrumen
Monitoring Diri Metakognisi:

No Pertanyaan monitoring diri


1

Tujuan pertanyaan monitoring

Sebelum mulai memecahkan


masalah
1. Saya membaca lebih dari Menilai
satu kali

pengetahuan

pada

masalah

2. Saya yakin bahwa saya Menilai pemahaman terhadap


memahami masalah yang masalah
ditanyakan pada saya
3. Saya mencoba menyajikan Menilai pemahaman terhadap
masalah dengan bahasa masalah
saya sendiri
4. Saya

mencoba

mengingat

untuk Menilai

jika

pengetahuan

dan

saya pemahaman terhadap masalah

pernah

menyelesaikan

masalah

yang

mirip

dengan masalah ini.


5. Saya mengidentifikasi dan Menilai
memeriksa

pengetahuan

dan

setiap pemahaman terhadap masalah

informasi yang terdapat


dalam masalah ini.
6. Saya

berpikir

tentang Menilai

tentang

pemilihan

pendekatan yang berbeda strategi pemecahan masalah


yang
untuk

akan saya coba


memecahkan

masalah.
2

Ketika

menyelesaikan

masalah
7. Saya

melakukan Menilai

penerapan

strategi

Ya

Tidak

pemecahan masalah tahap pemecahan masalah


per tahap
8. Saya

telah

membuat Menilai

pemeriksaan

pada

pemahaman

pada

pemahaman

pada

kesalahan dan mengulangi kesalahan


beberapa pekerjaan
9. Saya

membaca

ulang Menilai

masalah untuk memeriksa masalah


bahwa

saya

telah

melakukan langkah yang


tepat.
10. Saya bertanya pada diri Menilai
sendiri

apakah

sudah

saya progress penyelesaian

mendekati

penyelesaian.
11. Saya memikirkan ulang Menilai penerapan strategi yang
tentang

metode beragam

penyelesaian yang saya


gunakan dan mencoba
metode/ pendekatan baru

Ketika

menyelesaikan

masalah
12. Saya memeriksa hasil Menilai akurasi dan ketepatan
perhitungan agar yakin penyelesaian
bahwa penyelesaiannya
sudah benar
13. Saya memeriksa kembali Menilai penerapan strategi
metode yang digunakan

untuk mengetahui bahwa


saya telah menyelesaikan
masalah

seperti

dimaksud
14. Saya bertanya pada diri Menilai ketepatan dari solusi
sendiri

apakah

jawabannya sudah benar


atau tidak
15. Saya bertanya pada diri Menilai penerapan strategi yang
sendiri

apakah beragam

jawabannya sudah benar


atau tidak
Strategi yang digunakan
16. Saya

menggunakan Mengecek

metode Guess and Check digunakan


17. Saya

menggunakan

aljabar untuk merancang


beberapa

persamaan

untuk diselesaikan
18. Saya membuat diagram
atau gambar.
19. Saya menuliskan hal-hal
yang penting.
20. Saya
dan

merasa

bingung

tidak

bisa

memutuskan

untuk

berbuat sesuatu
21. Saya menggunakan cara

strategi

yang

lain

untuk

untuk

menyelesaikan masalah.
*Pertanyaan diatas dijawab dengan jawaban ya atau tidak
Istilah umum metakognisi merujuk pada konsep superordinat yang terdiri
dari setidaknya dua komponen, yaitu (1) pengetahuan; (2) monitoring (pengalaman)
dan regulasi/ kontrol (ketrampilan)
Ketika individu mengevaluasi kondisi saat ini dari operasi kognitif dasar
(misalnya memori, persepsi, problem solving), metacognitive monitoring dikatakan
terjadi. Ketika individu menggunakan hasil dari evaluasi monitoringnya (berkaitan
dengan hal-hal yang diperlukan untuk melakukan tugas, misalnya kecepatan atau
ketepatan), untuk meregulasi operasi kognitif dasar metacognitive control dikatakan
terjadi.
Lyons & Ghetti (2010) menuliskan bahwa metacognitive monitoring dan
metacognitive control memiliki berbagai bentuk tergantung pada tugas yang
dikerjakan dan tingkatan tugas tersebut. Hal ini dapat diilustrasikan melalui contoh
seorang siswa yang sedang melakukan persiapan untuk menghadapi ujiannya. Selagi
siswa mempersiapkan ujiannya, dia perlu untuk mengevaluasi dirinya, seberapa baik
materi-materi yang telah dipelajarinya (judgement of learning) dan mengarahkan
waktu serta perhatiannya untuk mempelajari materi-materi yang belum dikuasainya
(misalnya dengan mengalokasikan waktu belajarnya). Selama ujian, dia mungkin
menjunpai item-item yang tidak segera dia ketahui jawabannya; dalam hal ini dia
akan mencoba kemungkinan bahwa dia akan mampu untuk mengingat jawaban (a
feeling of knowing judgment) untuk selanjutnya memutuskan apakah dia akan
memberikan waktu ekstra untuk item-item tes tersebut, atau apakah akan lebih baik
kalau waktunya digunakan untuk mengerjakan item-item tes yang lain. Akhirnya
(terutama jika ada penalti untuk pemberian respon yang tidak tepat seperti yang biasa
dilakukan pada banyak testes terstandar), ketika menjawab setiap pertanyaan, siswa

harus mengevaluasimseberapa yakin dia terhadap ketepatan jawabannya (a


confidence judgment), dan memutuskan apakah memberikan respon (jika taraf
keyakinannya tinggi) atau menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan tes (jika
taraf keyakinan rendah). Dengan demikian metacognitive monitoring dan
metacognitive control dapat dipikirkan sebagai suatu sistem quality control, yang
berfungsi untuk meyakinkan bahwa hanya keluaran yang akurat dan tepat yang
dihasilkan.

Komponen utama dari metakognisi adalah:


Pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri, dan
Pengetahuan tentang kapan dan di mana mesti menggunakan strategi yang
diperoleh. Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi
tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri dan kesadaran akan kesulitan
selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan.

Keterampilan metakognisi adalah proses yang mengontrol penggunaan strategi


dalam tugas-tugas kognitif. Yang terasuk dalam metakognisi adalah
Pengetahuan tentang kognisis yang mencakup pengetahuan mengenai tugas,
strategi, rencana pembelajaran dan tujuan.
Kapabilitas seseorang dalam mengelola kognisi.
Termasuk di dalamnya adalah penentuan tujuan, mengaktifkan sumber daya
yang relevan, memilih strategi yang tepat, mengevaluasi pemahaman diri, mengecek
kemajuan diri, dan mengarah ulangkan upaya jika diperlukan. Meskipun bersifat
sadar dan internal, proses metakognisis dapat dilakukan secara otomatis dan semakin
luas basis pengetahuan seseorang pemelajar di bidang tertentu, semakin berkurang
kebutuhannya akan strategi metakognitif.
Empat kondisi umum untuk pembelajaran metakognitif adalah :

Pembelajaran dengan kesadaran akan kegunaan

Kriteria kinerja dan penilaian yang membutuhkan aktivitas metakognitif

Memberi contoh strategi dengan penguatan

Latihan ekstensif dalam situasi yang berbeda dengan penguatan.


Selama pembelajaran, diskusi singkat dapat mengeksplorasi tujuan strategi

metakognitif dan mengeksplorasi hubungan antara kondisi tugas, strategi dan produk
dari tugas-tugas yang berbeda. Monitoring diri dan evaluasi juga harus dimasukkan
sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan metakognitif.
Implikasi pembelajaran yang didasari pada metakognisi adalah siswa semakin
mandiri dalam pembelajaran. Kemandirian siswa tersebut berkaitan dengan
keterampilan metakognitif siswa. Keterampilan metakognitif dapat membantu
mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang selanjutnya juga berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Livingston (1997) menyatakan bahwa metakognitif
memegang salah-satu peranan kritis (sangat penting) agar pembelajaran berhasil.
Metakognitif mengarah pada kemampuan berpikir tinggi (high order thinking) yang
meliputi kontrol aktif terhadap proses kognitif dalam pembelajaran. Aktifitas seperti
merencanakan bagaimana menyelesaikan tugas

yang diberikan, memonitor

pemahaman, dan mengevaluasi perkembangan kognitif merupakan metakognitif yang


terjadi dalam sehari-hari. Keterampilan metakognitif memungkinkan siswa untuk
melakukan perencanaan, mengikuti perkembangan, dan memantau proses belajarnya
(Imel, 2002). Coutinho (2007) menyatakan bahwa ada hubungan positif antara
prestasi belajar dengan matakognisi. Siswa yang memiliki keterampilan metakognitif
yang baik akan menunjukkan prestasi belajar yang baik pula dibandingkan dengan
siswa yang memiliki kemampuan metakognitif rendah.
Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berbasis kelas terhadap sekumpulan
karaya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang diambil
selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu, digunkan oleh guru dan

peserta didik untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap


peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
Prinsip Penilaian Portofolio
a. Saling percaya
Dalam penilaian portofolio guru dan peserta didik ataupun antara peserta
didik dengan peserta didik lainnya harus memiliki rasa saling mempercayai.
Mereka harus merasa sebagai pihak-pihak yang saling memerlukan, dan
memiliki semangat untuk saling membantu. Oleh karena itu guru dan peserta
didik maupun peserta didik dengan peserta didik lainnya harus saling terbuka
dan jujur satu sama lain. Guru hendaknya seoptimal mungkin menciptakan
suasana pembelajaran dan penilaian yang kondusif sehingga peserta didik
dapat dengan mudah memperlihatkan kemampuannya secara optimal sesuai
dengan harapan standar kom[etensi, kompetensi dasar dan indikator yang
dituntut dalam kurikulum.
b. Kerahasiaan bersama
Kerahasiaan evidence merupakan hal yang sangat penting dalam portofolio.
Hasil pekerjaan peserta didik secara individu maupun kelompok sebaiknya
tidak diperlihatkan kepada peserta didik atau kelompok lain, sebelum
diadakan eksibisi (pameran). Penjagaan kerahasiaan ini akan memotivasi
peserta didik untuk memperbaiki evidence mereka. Pelanggaran terhadap
norma ini, selain menyangkut etika juga memberi dampak negatif kepada
proses pendidikan.

c. Milik bersama
Semua pihak, guru maupunn peserta didik harus menganggap bahwa semua
evidence merupakan milik bersama yang harus dijaga secara bersama-sama
pula. Oleh karena itu semua evidence atau dokumen harus menjadi milik
bersama antara guru dan peserta didik. Guru dan peserta didik perlu

menyepakati bersama dimana evidence yang telah dihasilkan peserta didik


akan disimpan. Hal ini akan mempermudah peserta didik akan merasa
memiliki terhadap hasil kerja mereka, dan pada akhirnya tumbuh rasa
tanggung jawab pada diri mereka.
d. Kepuasan dan kesesuaian
Kepuasan semua pihak baik guru maupun peserta didik terletak pada tercapai
tidaknya standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator tersebut
yang dimanifestasikan melalui evidence peserta didik. Seluruh evidence
peserta didik dimulai dari awal mereka belajar sampai pada akhir kurun waktu
tertentu disimpan ditempat yang aman dan mudah diakses. Tidak semua
evidence memuaskan guru maupun peserta didik. Tetapi hasil kerja portofolio
seyogyanya berisi keterangan-keterangan dan atau bukti-bukti

yang

memuaskan bagi guru dan peserta didik. Portofolio hendaknya juga


merupakan bukti prestasi cemerlang peserta didik dan keberasilan pembinaan
guru.
e. Penciptaan budaya mengajar
Sebagian orang berpendapat bahwa portofolio merupakan metode pengajaran
namun ada pula yang menganggap alat penilaian. Sebenarnya, anatara
pengajaran dan penilaian secara portofolio tidak dapat dipisahkan. Penilaian
portofolio dapat dlakukan jika penganjarannya pun menggunakan pendekatan
portofolio. Jika dalammengajar guru hanya menuntut peserta didik untuk
menghafal fakta atau pengetahuan pada taraf tingkat rendah, maka penilaian
portofolio tidak akan

bermakna. Penilaian portofolio akan efektif jika

pengajarannya kemampuan yang nyata yang menggambarkan pengembangan


aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada taraf yang lebih tinggi.
f. Refleksi bersama
Penilaian portofolio memberikan ksempatn untuk melakukan refleksi
bersama-sama, dimana peserta didik dapat merefleksikan tentang proses
berpikir mereka sendiri, tentang kemampuan pemahaman mereka sendiri,

pemecahan masalah atau pengambilan keputusan dan mengamati pemahaman


mereka tentang kompetensi dasar dan indikator yang telah mereka peroleh.
g. Proses dan hasil
Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang
dinilai misalnya diperoleh dari catatan perilaku harian peserta didik (anecdot)
mengenai sikapnya dalam belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti
pelajaran dan sebagainya. Aspek lain dari penilaian portofolio adalah
penilaian hasil yaitu menilai hasil akhir suatu tugas yang diberikan oleh guru.
Dengan demikian maka penilaian portofolio tidak sekedar menilai akhir
pembelajar, melainkan juga perlu memberikan penilaian terhadap proses
belajar.
Karakteristik Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan salah satu alat yang efisien dalam proses pembelajaran.
Berbagai macam evidence peserta didik dapat dengan mudah dilihat dari waktu ke
waktu. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh penilaian tradisional manapun. Portofolio
merupakan nsalah satu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dan guru
berdialog dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini memungkinkan peserta didik
mengetahui secara lebih mendalam kemampuan masing-masing peserta didik. Guru
dan peserta didik dapat berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan kemampuan
yang peserta didik miliki. Menurut Barton & Collins (1997), terdapat berbagai
karakteristik esensial dalam pengembangan berbagai bentuk portofolio, yaitu :
a. Multi sumber
Multisumber artinya portofolio memungkinkan untuk menilai berbagai
macam evidence. Multiple sumber antara lain mencakup orang (pernyataan
dan observasi peserta didik, guru, program, orang tua, dan anggota
masyarakat), evidence yaitu apa saja yang akan dinilai seperti foto, rancangan,
jurnal, audio, dan video tape.

b. Authentic
Evidence peserta didik haruslah autentik, artinya ditinjau dari konteks maupun
fakta harus saling berkaitan satu sama lain. Evidence peserta didik yang
dinilai haruslah berkaitan dengan program pengajaran, kriteria, kegiatan,
standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai.
Mankala guru sudah mengajarkan sesuai dengan tuntutan kemampuan dasar
yang terdapat dalam kerangka dasar kurikulum, maka kemampuan yang di
peroleh peserta didik tentunya merefleksikan kemampuan yang diajarkan oleh
guru. Sehingga, manakala guru mengembangkan penilaian, khususnya
penilaian portofolio, relevan dengan portofolio di sekolah.
c. Dinamis
Portofolio bersifat dinamis, artinya portofolio mencakup perkembangan dan
perubahan (capturing growth and change). Salah satu hal yang terpenting
dalam portofolio adalah evidence yang ditambahkan dari waktu ke waktu,
tidak hanya sebelum atau sesudah penilaian dilakukan.
d. Eksplisit
Portofolio haruslah jelas, artinya semua tujuan pembelajaran berupa
kompetensi dasar dan indikator harus dinyatakan secara jelas. Selain itu,
bagaimana standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator tersebut perlu
dicapai juga dinyatakan. Sebgai contoh, bisa saja indikator dicapai melalui
pertolongan guru, dilakukan oleh seluruh peserta didik dilakukan secara
kelompok kecil, atau bahkan dilakukan sendiri oleh peserta didik secara
individu. Peserta didik harus mengetahui tujuan dilakukannya portofolio dan
kompetensi yang hendak dicapai. Setelah peserta didik selesai melakukan
sesuatu tugas misalnya, guru dapat melakukan penilaian misalnya kurang
baik, baik, dan baik sekali. Guru juga perlu memberikan komentar terhadap
hasil kerja yang telah dilakukan peserta didik.
e. Integrasi

Portofolio senantiasa berkaitan antara program yang dilakukan peserta didik


dikelas dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, portofolio tidak terlepas
dari kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik tidak jauh dari apa yang
mereka alami. Contohnya sebagian peserta didik terbiasa menggunakan
pertanian dala kehidupan sehari-hari, maka kegiatan portofolio haruslah
berkaitan dengan pertanian.
Peserta didik dengan demikian dapat dengan mudah menghubungkan antara
kemampuan atau pengetahuannya dengan kenyataan sehari-hari.
f. Kepemilikan
Portofolio tidak hanya sekedar menilai atau membuat peringkat peserta didik
yang satu dengan peserta didik yang lain, tetapi harus menyambungkan antara
evidence peserta didik dengan standar kompetensi, kompetensi dasar atau
indikator pencapaian belajar. Penilaian portofolio menekankan pada adanya
rasa kepemilikan, yaitu adanya keterkaitan antara evidence dengan
kompetensi dasar dan indikator yang telah ditentukan dalam rangka mencapai
standar kompetensi tertentu. Peserta didik harus merasa memiliki semua
evidence yang mereka hasilkan. Dengan demikian mereka diharapkan dapat
menjaga dengan baik semua evidence tersebut.
g. Beragam tujuan
Portofolio dilaksanakan tidak hanya mengacu pada satu standar kompetensi,
kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar misalnya, tetapi juga
mengacu ke berbagai tujuan misalnya beberapa indikator pencapaian hasil
belajar. Sebagai salah satu yang bermanfaat dalam proses pembelajaran,
portofolio juga dapat melihat keefektifan suatu program dan pada saat yang
sama mengevaluasi perkembangan individu atau kelompok sebagai komunitas
peserta didik. Portofolio juga dapat dijadikan sebagai alat komunikasi ketika
peserta didik sharing pendapat dan pengetahuan dengan anggota keluarga,
guru atau anggota masyarakat.

PERBEDAAN ASESMEN PORTOFOLIO DENGAN TES


Berbeda dengan penilaian lainnya, keterlibatan peserta didik dalam penilaian
portofolio merupakan sesuatu yang harus dikerjakan. Berikut perbedaan tes dan
portofolio :
Tes

Portofolio

Menilai siswa berdasarkan sejumlah Menilai siswa berdasarkan seluruh


tugas yang berbeda

tugas dan hasil kerja yang berkaitan


dengan kinerja yang dinilai

Yang

menilai

hanya

guru, Siswa

berdasarkan masukan yang terbatas

turut

kemajuan

serta
yang

penyelesaian

dalam

menilai

dicapai

dalam

berbagai

perkembangan

tugas,

yang

dan

berlangsung

selama proses pembelajaran


Menilai

semua

siswa

menggunakan satu kriteria

dengan Menilai

setiap

siswa

berdasarkan

pencapaian masing-masing, dengan


mempertimbangkan

juga

faktor

perbedaan individual
Proses penilaian tidak kolaboratif Mewujudkan proses penilaian yang
(terutama antara guru, siswa dan kolaboratif
orang tua)
Yang mendapat perhatian dalam Yang
penilaian hanya pencapaian

mendapat

perhatian

dalam

penilaian meliputi kemajuan, usaha


dan pencapaian

Terpisah

antara

kegiatan Terkait erat antara kegiatan penilaian,

pembelajaran pembelajaran, testing pengajaran dan pembelajaran


dan pengajaran

Bentuk Portofolio
Menurut Nitko, secara umum penilaian portofolio dapat dibedakan menjadi 5 bentuk
yaitu:
1. Portofolio ideal (ideal portofolio)
2. Portofolio penampilan (show portofolio)
3. Porofolio dokumentasi (documentary portofolio)
4. Portofolio evaluasi (evaluation portofolio)
5. Portofolio kelas (classroom portofolio)
Sedangkan menurut Fosters dan Masters ( 1998 ) membedakan penilaian portofolio
dalam 3 kelompok yaitu :
a. Portofolio kerja (working portofolio)
Portofolio kerja adalah usaha mandiri yang telah dilakukan siswa atau
usaha bersama dari kelompok siswa. Hal-hal yang harus dilakukan siswa dan
dinilai dalam penilaian portofolio antara lain berupa draft, pekerjaan yang
belum selesai, atau pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan siswa.
Berbagai macam tugas yang setara atau yang berbeda disajika kepada
siswa siswa boleh memilih tugas-tugas yang dianggap cocok untuk mereka.
Guru juga dapat memutuskan apa yang harus dikerjakan siswa. Siswa dapat
bekerja sama dengan siswa lain dalam mengerjakan tugas tertentu. Portofolio
kerja menyediakan data tentang:Cara siswa mengorganisasi dan mengelola
kerja dan Ditunjukkan melalui prestasi belajar siswa (chievement).
Hasil kerja siswa dalam penilaian siswa dan portofolio jenis ini
digunakan dalam diskusi antara siswa dan guru. Ini akan membuat guru
mengenal kemajuan siswa dan memungkinkan guru menolong siswa untuk
mengidentifikasi kelemahan, kelebihan serta kelayakan dalam merancang dan
meningkatkan pengajaran.
b. Portofolio dokumentasi (documentary portofolio)
Portofolio dokumentasi adalah koleksi hasil kerja siswa yang khusus
digunakan

untuk

penilaian.

Tidak

seperti

portofolio

kerja

yang

pengkoleksiannya dilakukan dari hari ke hari, dokumentasi portofolio adalah


seleksi hasil kerja terbaik siswa yang akan diajukan dalam penilaian. Dengan
demikian portofolio dokumentasi adalah koleksi dari sekumpulan hasil kerja
siswa selama kurun waktu tertentu.
Portofolio dokumentasi tidak hanya berisi hasil kerja siswa, tetapi
semua proses yang digunakan oleh siswa untuk menghasilkan karya tertentu.
Portofolio dokumentasi dalam penilaian portofolio bahasa inggris, misalnya
mungkin tidak hanya berisi tentang hasil akhir tulisan siswa, tetapi juga
berbagai macam draf dan komentar siswa tentang hasil tersebut. Draf dan
komentar siswa harus dipilih untuk menyajikan draf yang paling bagus dari
yang dihasilkan siswa. Semua ini dilakukan dalam rangka menunjukkan
proses penilaian, dan guru dapat menggunakannya sebagai bahan penilaian
dan pengkajian tentang bagaimana siswa merencanakan, dan menghasilkan
tulisan serta cara mereka menulis.
Kegunaan

portofolio

dokumentasi

sebagai

sumber

portofolio

bergantung pada:
Bagaimana hasil karya siswa berhubungan dengan indicator hasil belajar
yang telah diterapkan, dan
Isi penilaian portofolio yang dihasilkan siswa menunjukan kelemahan dan
kelebihan siswa.
Isi penilaian portofolio harus menyajikan suatu bukti yang berkaitan
dengan kompetensi dasar dan indicator pencapaian haisil belajar yang telah
ditentukan. Untuk menunjukkan hal ini, kegiatan belajar mengajar harus
sesuai dengan indicator pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan. Jika
kemampuan problem solving sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai
dalam pembelajaran matematika misalnya, tetapi kegiatan belajar mengajar
dikelas hanya memfokuskan pada latihan menghitung, maka hasil kerja siswa
tidak akan menunjukan hasil kerja yang berkaitan dengan problem solving

sebagai bagian dari documentary portofolio dokumentasi, melainkan hanya


menghitung.
c. Portofolio penampilan (show portofolio)
Portofolio penampilan (show fortofolio) digunakan untuk memilih halhal yang paling baik yang menunjukan bahan atau pekerjaan terbaik yang
dihasilkan oleh siswa. Portofolio pertunjukan bertujuan untuk menyeleksi
pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh siswa. Tidak seperti portofolio
dokumentasi, portofolio pertunjukan tidak mencakup proses pekerjaan,
perbaikan dan penyempurnaan pekerjaan siswa. Portofolio pertunjukan di
gunakan untuk tujuan seperti seleksi, sertifikasi, maupun penilaian kelas.
Untuk tujuan yang lebih rumit, yang sangat memerlukan perbandingan,
validitas perbandingan haruslah benar-benar diperhatikan oleh beberapa
penilai adalah perlunya reliabilitas, yaitu apakah skor yang diberikan kepada
hasil kerja siswa konsisten.

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PENILAIAN PORTOFOLIO

Setiap konsep atau model penilaian tentu ada kelebihan dan kekurangannya.
Begitu juga dengan penilaian portofolio. Adapun kelebihan penilaian portofolio
sebagai berikut:
1. Dapat melihat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik dari
waktu ke waktu berdasarkan feed-back dan refleksi diri.
2. Membantu guru melakukan penilaian secara adil, objektif dan dapat
dipertanggungjawabkan tanpa mengurangi kreatifitas pesertadidik.
3. Mengajak peserta didik untuk belajar bertanggungjawab terhadap apa yang
telah mereka kerjakan, baik dikelas maupun diluar kelas dalam rangka
implementasi program pembelajaran.
4. Meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran dan penilaian.

5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan


mereka.
6. Dapatdigunakanuntukmenilaikelas yang heterogenantarapesertadidik yang
pandaidankurangpandai.
Sedangkan kekurangan dari penilaian portofolio diantaranya sebagai berikut:
1. Membutuhkan waktu dan kerja ekstra.
2. Penilaian portofolio dianggap kurang reliable dibandingkan dengan bentuk
penilaian yang lain.
3.

Ada kecenderungan guru hanya memperhatikan pencapaian akhir sehingga


proses penilaian kurang mendapat perhatian.

4. Tidak tersedianya criteria penilaian yang jelas.


5. Penilaian portofolio masih relative baru sehingga banyak guru, orang tua dan
pesesrta didik yang belum mengetahui dan memahaminya.
6. Sulit dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.

Penilaian Proyek
Pengertian Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang
harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu
investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan
dan penyajian data.
Poin pokok dalam memahami pengertian dari penilaian proyek yaitu :

Penilaian proyek merupakan penilaian berbasis kelas,

Penilaian proyek dilakukan pada mata pelajaran tertentu,

Penilaian proyek dilakukan secara kontekstual dan komprehensif,

Penilaian proyek berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa,

Penilaian proyek menekankan pada proses dan produk,

Penilaian proyek dikerjakan selama periode waktu tertentu.


Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian proyek adalah penilaian berbasis

kelas yang dilakukan terhadap suatu tugas pada mata pelajaran tertentu dalam rangka
untuk

mendapatkan

informasi

kemampuan

dan

kompetensi

siswa

secara

komprehensif yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu.


Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan
mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan
sesuatu secara jelas.
Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan
yaitu :
1. Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan
mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

2. Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam pembelajaran.
3. Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan
mempertimbangkan kontribusi pendidik berupaa petujuk dan dukungan
terhadap proyek peserta didik.

Haryati dalam bukunya Model dan Teknik Penilaian mengungkapkan


beberapa kelebihan dari jenis penilaian proyek diantaranya;
1. Merupakan bagian internal dari proses pembelajaran terstandar, bermuatan
pedagogis, dan bermakna bagi peserta didik.

2. Memberi peluang kepada peserta didik untuk mengekspresikan kompetensi


yang dikuasainya secara utuh.
3. Lebih efesien dan menghasilkan produk dan memiliki nilai ekonomis.
4. Menghasilkan nilai penguasaan kompetensi yang dapat dipertanggung
jawabkan dan memiliki kelayakan untuk disertifikasi (Mimin Haryati, 2010 :
90)
Guru

harus

mempersiapkan

rencana

yang

cukup

matang

dalam

mempersiapkan penilaian yang akan dilaksanakan dalam mendapatkan hasil yang


maksimal (Zaenal Arifin, 2009 : 89). Penentuan materi yang dijadikan sebagai bahan
proyek dalah merupakan hal utama yang harus terlebih dahulu dipersiapkan dan
direncanakan oleh guru terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
selama proses proyek yang dijalankan oleh siswa.
Materi yang dijadikan sebagai bahan untuk dalam penilaian proyek yang
dilaksanakan oleh guru setidaknya memenuhi kriteria-kriteria prinsip dasar tes hasil
belajar, sehingga sesuai dengan tujuan akhir dari belajar yaitu kesuksesan siswa.
Adapun kriteria-kriteria dalam menentukan materi yang di jadikan sebagai bahan
proyek yang dipersiapkan oleh guru adalah : pertama, hendaknya dapat mengukur
secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan insruksional.
Kedua, hendaknya dapat mengukur sampel yang representatif dari asil belajar dan
bahan pelajaran yang telah diajarkan. Ketiga, mencakup bermacam-macam bentuk
soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang di inginkan sesuai
dengan tujuan. Keempat, didesain sesuai dengan kegunaan untuk memperoleh hasil
yang di inginkan. Kelima, dibuat seandal mungkin sehingga mudah di interpretasikan
dengan baik (M. Ngalim Purwanto, 2000 : 23-25)
Dari kesemua kriteria diatas yang paling penting adalah, proyek yang
dilaksanakan oleh siswa tidak terlalu memberatkan dan membebani siswa, justru
dapat menarik hasrat siswa untuk semakin menikmati proyek yang sedang dijalankan
dalam mendapatkan hasil yang maksimal dan bermafaat besar bagi dirinya dalam
kehidupan sehari-hari.

Pengembangan Penilaian Proyek


Dalam proses pembelajaran tentunya tidak semua bentuk penilaian akan
cocok dengan materi atau kompetensi yang akan dicapai. Akan tetapi sebisa mungkin
bentuk penilaian yang digunakan dapat mencakup tiga ranah kompetensi, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan begitu, penilaian yang dilakukan oleh
guru tidak hanya tepat tetapi juga lebih komprehensif. Dan dari beberapa jenis
penilaian yang telah diungkapkan diatas salah satu jenis penilaian yang cukup
komprehensif

mencakup

ketiga

ranah

tersebut

adalah

penilaian

proyek

(ProjectWork). Penilaian proyek memberikan kesempatan kepada siswa untuk


seoptimal mungkin dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam memahami
konsep sampai dengan aplikasi bahkan menciptakan. Dalam penilaian proyek guru
dapat menilai siswa secara individu maupun kelompok. Sikap siswa terhadap proses
pembelajaran juga dapat lebih terpantau.
Pelaksanaannya penilaian proyek dapat dilakukan oleh siswa secara individu
atau kelompok. Penilaian proyek umumnya dilakukan dengan mengikuti beberapa
tahap dalam pelaksanaannya yang meliputi, perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan data, dan penyajian data atau presentasi.
Teknik Skoring Penilaian Proyek
Penilaian proyek dilakukan mulai dri perencanaan, proses pengerjaan sampai
hasil akhir proyek. Untuk itu pendidik perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang
perlu dinilai, seperti penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data dan
penyajian dalam laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat
disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat atau
instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam pelaksanaan penilaian proyek
dalam hal ini guru sangat berperan dalam membimbing siswa baik bekerja secara
individu maupun kelompok. Bimbingan guru sangat diperlukan mulai dari tahap awal

siswa akan menentukan topik dalam tugas proyek mereka sampai dengan pembuatan
laporan.
Hasil yang diselesaikan oleh siswa kemudian akan diberikan nilai atau skor,
yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh guru sesuai dengan kriteria-kreteria dari
tugas yang diberikan oleh guru. Adapun teknik yang digunakan oleh guru dalam
memberikan skor pada hasil tugas siswa adalah dengan daftar cek atau skala penilaian
(Sudaryono, 2012 : 89).
Bentuk kerja yang dinilai sebagai hasil usaha siswa adalah proses proyek yang
berlangsung. Diantaranya :
Contoh penilaian proyek
Skor **
No

Aspek *
1

Perencanaan :
a.

Persiapan

b.

Rumusan judul

Pelaksanaan
a.

Sistematika penulisan

b.

Keakuratan sumber data/informasi

c.

Kuantitas sumber data

d.

Analisis data

e.

Penarikan kesimpulan

Laporan proyek
a.

Performa

b.

Presentasi/penguasaan
Total skor

* Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah.


** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan
jawaban yang diberikan. Semakin lengkap dan tepat jawaban, semakin tinggi
perolehan skor.
Selanjutnya setelah point-point yang akan dinilai oleh guru sudah
dipersiapkan, selanjutnya adalah meracang krtteria-kriteria penilaian dari setiap point
yang akan di bidik oleh guru. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
Rubrik Penyelesaian Proyek
Komponen yang

Kriteria

Skor

Sesuai materi pembelajaran, orisinal, konstektual

Sesuai materi pembelajaran, orisinal, tidak

dinilai

konstektual
Topik

Sesuai materi pembelajaran, tidak orisinal,

konstektual
Sesuai materi pembelajaran, tidak orisinal, tidak
konstektual

Tidak sesuai materi pembelajaran, tidak orisinal,

tidak konstektual
Mencerminkan

hubungan,

ada

peluang

Mencerminkan hubungan, tidak ada peluang

penemuan

penemuan
Diagram Proyek

Kurang mencerminkan hubungan, ada peluang

penemuan
Kurang mencerminkan hubungan, kurang ada

peluang penemuan

Tahapan proses

Tidak membuat diagram

Lengkap, sistematis, metodologis

Lengkap, kurang sistematis, metodologis

Lengkap, sistematis, kurang metodologis

Lengkap, kurang sistematis, kurang metodologis

Kurang lengkap, kurang sistematis, kurang

Proyek

metodologis
Sesuai tahapan proyek, jadwal jelas, ada lembar

kemajuan
Monitoring
Sesuai tahapan proyek, jadwal jelas, tidak ada
lembar kemajuan

Sesuai tahapan proyek, jadwal tidak jelas, ada

lembar kemajuan
Sesuai tahapan proyek, jadwal tidak jelas, tidak

ada lembar kemajuan


Tidak sesuai tahapan proyek

Selanjutnya, setelah mendapatkan hasil dari setiap individu atau kelompok


nilai atau skor kemudian diolah menjadi nilai baku untuk menentukan keberhasilan
dari tiap siswa. Dari contoh tabel diatas, jika skor tertinggi adalah 5 dan skor terendah
adalah 1, maka jika yang di yang dibidik ada 4 komponen nilai maksimal yang
didapat adalah 20 dan nilai terendah adalah 4 dain rentang nilai itulah yang di
gunakan oleh guru untuk menentukan keberhasilan dari siswa dalam proyeknya.
Sehingga sebagai guru bisa menggunakan 3 kriteria dari hasil yang diperoleh
oleh siswa, yaitu kurang baik, baik dan sangat baik. Sebagai mana bisa digambarkan :
Skor

Keterangan

1-7

Kurang baik

8-14

Baik

15-20

Sangat baik

Sebagai contoh dari hasil beberapa kelompok setelah menyelesaikan


proyeknya diberikan nilai oleh guru sebagai berikut :

Tabel Hasil Pengolahan Nilai Proyek


Skor Aspek
Nama kel

Perencanaan

Pelaksanaa
n

Kelompo

Lap.

Tota

Rata

Keteranga

proye

-rata

20

18

19

57

19

Sangat baik

15

17

16

48

16

Sangat baik

18

19

18

55

18

Sangat baik

10

15

16

41

14

Baik

15

14

16

45

15

Sangat baik

k1
Kelompo
k2
Kelompo
k3
Kelompo
k4
Kelompo
k5

Melihat dari hasil di atas, maka bisa dikatakan bahwa seluruh siswa secara
berkelompok berhasil menyelesaikan proyeknya dengan baik, hal ini di karenakan
peran siswa dan guru saling mendukung. Guru selalu membimbing dan merangsang
siswa agar semangat dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan, dan siswa juga
termotivasi untuk menyelesaikan proyeknya dengan sngguh-sunguh maka hasil yang
didapatkan bisa langsung dirasakan oleh siswa beserta manfaatnya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Metakognisi dapat diartikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan

tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir. Metakognitif adalah suatu


bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia
lakukan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini
seseorang dimungkinkan memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan
masalah, sebab dalam setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul
pertanyaan : Apa yang saya kerjakan ?; Mengapa saya mengerjakan ini?;
Hal apa yang membantu saya untuk menyelesaikan masalah ini?.
2. Untuk mengetahui aktivitas metakognitif siswa digunakan instrumen

monitoring

diri

metakognisi

yang

memuat

pernyataan-pernyataan

metakognitif. Instrumen tersebut dibagi menjadi 4 bagian, yaitu untuk


mengetahui strategi metakognisi mahasiswa : (1) dalam proses memahami
masalah; di saat memecahkan masalah; (2) ketika selesai memecahkan
masalah; (3) dan dalam memilih strategi yang digunakan oleh mahasiswa.
3. Penilaian portofolio merupakan penilaian berbasis kelas terhadap sekumpulan

kraya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang
diambil selama proses pembelajaran, untuk memantau perkembangan
pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik.
4. penilaian proyek adalah penilaian berbasis kelas yang dilakukan terhadap
suatu tugas pada mata pelajaran tertentu dalam rangka untuk mendapatkan
informasi kemampuan dan kompetensi siswa secara komprehensif yang harus
diselesaikan dalam periode waktu tertentu. Digunakan untuk mengetahui
pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan
kemampuan

menginformasikan

sesuatu

secara

jelas,

mempertimbangkan Kemampuan pengelolaan, relevansi dan keaslian.

dengan

DAFTAR PUSTAKA

Murti , Heru Astikasari Setya. 2011. Metakognisi Dan Theory Of Mind (Tom).
Jurnal Psikologi Pitutur Volume I. No 2.
L, Epon Nuraeni. 2006. Penggunaan Instrumen Monitoring Diri Metakognisi Untuk
Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pemecahan
Masalah Matematika. Artikel Hasil Penelitian Hibah Pembinaan UPI Tahun
2006.
Zainal, Arifin.2009. EvaluasiPembelajaran. Bandung;PT. RemajaRosdaKarya
Asep Jihad, Abdul Haris. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi
Pressindo.
Mimin Haryati. 2010. Model dan Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan Pendidikan,
cetakan keenam. Jakarta : Gaung Persada Press
Zaenal Arifin. 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
M. Ngalim Purwanto. 2000. Prinsip-Prinsip danTeknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sudaryono. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran. yogyakarta: Graha ilmu

Pertanyaan dan Jawaban

1.

Bagaimana wujud nyata dari pengukuran metakognitif ? apakah jurnal


termasuk dalam pengukuran metakognitif? [Mutiara Dyah Ayu (K4312044)]

2.

Jelaskan macam-macam portofolio? [Yunita Nur Anggraeni (K4312078)]

3.

Faktor apasajakah yang menyebabkan perkembangan metakognitif siswa berbedabeda? Apakah mungkin antara peserta didik satu dengan yang lainnya mempunyai
peluang mencapai metakognitif yang sama? [Wiwi ariyanti (K4312077)]

4.

Bagaimanakah efektivitas pengukuran metakognitif? [Tyas anna cahyanti


(K4312066)]

5.

Apakah benar pemilihan topik dalam proyek benar-benar tanpa campur tangan guru?
[Papin citra R.R (K4312049)]

6.

Bagaimana keaslian dari penilaian proyekjika proyeknya dibawa pulang?


[Papin citra R.R (K4312049)]

7.

Apakah 3 jenis penilaian portofolio dapat digunakan pada waktu yang sama
pada saat pembelajaran berlangsung? [Tutik Wulandari (K4312065)]

8.

Dalam

pengukuran

metakognitif

indikator

apa

yang

menunjukkan

perkembangan metakognitif dari siswa dikatakan sudah baik? [Rani Purwati


(K4312053)]

9.

Dalam penilaian portofolio yang dimaksud rahasia bersama itu seperti apa?
[Rani Purwati (K4312053)]

Anda mungkin juga menyukai