Anda di halaman 1dari 11

L APO RAN PRA KT IK UM FT S ST E RIL

P E M B UATA N S E D I A A N D A L A M V I A L
V I TAM I N C

Di su sun O l eh
Amelia Jovita (1031311003)
Chandra Kirana ( 1031311014)
Sri indah rejeki ( 1031311063)
Yuni utami ( 1031311071)
M. Farid N. (1031211047)

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASIYAYASAN PHARMASI SEMARANG

PROGRAM D-3 FARMASI


2014

TUGAS : membuat dan mengavaluasi sediaan steril vial vitamin C


I.

TUJUAN: Mengetahui cara pembuatan sediaan dan evaluasi hasil sediaan VIAL
VITAMIN C

II.

PRAFORMULASI
1. Tinjauan farmakologi bahan obat.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, atau suspensi atau sebuk yang

harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan
dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsikan, atau mensuspensikan sejumlah
obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda.
(Formularium Nasional. 1978:317)
1

Wadah obat suntik, termasuk tutupnya, tidak boleh berinteraksi dengan sediaan, baik
secara fisik maupun kimia, sehingga akan mengubah kekuatan dan efektifitasnya. Bila
wadah terbuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak berwarna atau berwarna
kekuningan agar memungkinkan pemeriksaan isi. Jenis gelas yang sesuai dipilih untuk
tiap sediaan parenteral biasa dinyatakan dalam masing-masing monografi.
a.

Dosis tunggal (single dose) adalah suatu wadah kedap udara yang

mempertahankan jumlah obat steril dengan tujuan pemberian parenteral sebagai dosis
tunggal dan yang bila dibuka dan yang bila dibuka, tidak dapat ditutup rapat kembali
dengan jaminan tetap steril. Pada umumnya, wadah mempunyai bentuk ampul ukuran 1
ml- 20 ml dengan sediaan larutan.
b.

Dosis ganda (multiple doses) adalah wadah kedap udara yang

memungkinkan pengambilan isinya per bagian berturut-turut tanpa terjadi perubahan


kekuatan, kualitas, atau kemurnian bagian yang tertinggal. Pada umumnya, wadah
mempunyai bentuk vial atau flakon berukuran 2 ml- 20 ml, bentuk botol atau kolf
berukuran 50 ml- 1000 ml dengan sediaan larutan, suspensi, emulsi, dan padatan. Perlu
ditambahkan antimikrobial presevative.
c.

Prefield Syringe bahan terbuat dari: gelas, PVC, atau semipolyethene.

Cepat digunakan dan mahal.


(Formulasi Steril. 2006: 30- 32
VITAMIN C
Asam askorbat adalah lakton dari asam 2-keto-L-gulonat yang ada dalam bentuk
enol. Gugus enolnya menyebabkan senyawa ini mempunyai kemampuan reduksi yang
paling kuat, sedangkan sifat asamnya ditentukan oleh gugus hidroksil pada C-3 (vinilog
asam karbonat). Vitamin C dalam bentuk kristal stabil dalam oksigen udara, akan tetapi
dalam larutan oleh oksidatoe akan cepat diuraikan menjadi asam oksalat. Basa dan logam
berat terutama ion Cu akan mempercepat proses ini. (Ernst M, 1991)
Vitamin C mudah di absorbai melalui saluran cerna. Pada keadaan normal tampak
kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah di absorbsi. Kadar dalam leukosit,
trombosit lebih besar daripada plasma dan eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh
dengan kadar btertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam obat dan jaringan lemak.
( FKUI, 2008, hal 778)
2

Fungsi vitamin C adalah kompleks dan yang terpenting adalah pembentukan


kolagen, yakni protein bahan penunjang utama dari tulang/rawan dan jaringan ikat. Bila
sintesa kolagen terganggu, maka mudah terjadi kerusakan pada dinding pembuluh yang
berakibat pendarahan. Khasiat ini berdasarkan antara lain efek stimulasi vitamin C
terhadap pengubahan prolin menjadi hidroksiprolin.
(Drs. Tan Tjay dan Kirana Rahardja. 2007. Hal: 856)
2. Tinjauan sifat fisika kimia bahan obat
a. Vitamin C
Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak
lebih dari 100,5 % C6H8O6
Pemerian: hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh
cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil
di udara, dalam larutan vepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang
190C
Kelarutan : mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol: tidak
larut dalam kloroform dalam eter dan dalam benzena.
Injeksi asam askorbat adalah larutan steril asam askorbat dalam air
untuk injeksi yang dibuat dengan penambahan natrium hidroksida,
natrium karbonat atau natrium bikarbonat : mengandung asam askorbat
C6H8O6 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0 % dari jumlah
yang tertera pada etiket.
Wadah dan penyimpanan. Dalam wadah yang tidak tembus cahaya,
dosis tunggal, sebaiknya dari kaca I atau tipe II
(Anonim. 1995, Hal: 39-40
b. Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih
dari 100,5% NaHCO3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Rumus molekul NaHCO3. BM = 84,01

Pemerian : berupa serbuk hablur putih, stabil di udara kering , tetapi


dalam udara lembab secara perlahan-lahan terurai. Larutan segar dalam air
dingin, tanpa dikocok, bersifat basa terhadap lakmus. Kebasaan bertambah
bila larutan dibiarkan, di goyang kuat atau dipanaskan.
Kelarutan ; larut dalam air, tidak larut dalam etanol
(Anonim, 1995. Hal:601)
Fungsi : agent terapeutik
Konsentrasi : untuk injeksi isotonis/infusion 1,39% stabil pada pH 8,3
sodium bicarbonate bereaksi dengan asam, garam asam dan beberapa
garam alkaloid
(Wade, raiomon,et all, 2009, hall 665)
c.

Natrium metabisulfit
Natrium metabisulfit mengandung sejumlah Na2S2O5 setara dengan
tidak kurazng dari 65,0% dan tidak lebih dari 67,4% SO3.. Rumus molekul
Na2S2O3 BM=190,10
Pemerian : berupa hablur putih atau serbuk hablur putih kekuningan,
berbau belerang oksida.
Kelarutan :mudah larut dalam air dan garam gliserin, sukar larut dalam
etanol
Fungsi : sebagai antioksidan
Konsentrasi : 0,001% - 1,0 %
(Wade, raiomon,et all, 2009, hall 690)

d. Air untuk injeksi


Air untuk injeksi di murnikan dengan cara penyulingan dan
memenuhi standart yang sama dengan purified water (USP) dalam hal
jumlah zat padat yang ada tidak lebih dari 1mg per 100 ml. air untuk
injeksi tidak disyaratkan steril tetapi harus bekas pirogen di maksutkan
untuk pembuatan produk injeksi yang akan di sterilisasi akhir dan harus
disimpan dalam wadah yang tertutup rapat pada suhu dibawah atau diatas
kisaran suhu tumbuh mikroba
(Ansel, dkk. 1989. Hal 406-407)
e. Dinatrium edetat ( Na EDTA)
Pemerian : serbuk hablur putih
Kelarutan : larut dalam air, praktis tidak larut dalam CHCL3 dan eter,
sedikit larut dalam etanol 93 %, larut dalam 1:11 bagian air

Fungsi : sebagai chelating agent 0,005-0,1 %. (Wade, raiomon,et all,


2009, hall 242)
f. Natrium Carbonas
Natrium kabonat mengandung tidak kurang dari 99.5% Na2CO3
Dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian ; hablur , tidak berwarna, serbuk hablur putih
Kelarutan ; Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih.
( Depkes RI. 1979 )
3. Cara Sterilisasi Bahan
VITAMIN C
Pada pembuatan injeksi vitamin C, tidak dilakukan sterilisasi pada
masing-masing bahan karena sifat dari vitamin C mudah teroksidasi dengan
adanya panas, sehingga dilakukan sterilisasi C
4. OTT
Asam askorbat
Tidak cocok bila digunakan bersama dengan garam-garam besi, bahan
pengoksidasi dan garam logam berat terutama tembaga
( Reynolds, 1982, hal: 1653)
Asam askorbat OTT dengan Natrium Bikarbonat.
Natrium bikarbonat
Tidak dapat dicampur dengan asam, garam asam, dopamine HCL,
Pentazosin laktat, garam alkaloid, bismuth salisilat
( Wade, raimon, et all, 2009, hal 667)
Natrium metabisulfit
Incompatible dengan klorampheniko dan beberapa obat orto atau para
hidroksi benzyl alkohol derivate dari asam sulfonat akan mempengaruhi
sejumlah proses atau aktivitas farmakologi
( Wade, raimon, et all, 2009, hal 691)
5. Cara penggunaan
Dapat diberikan secara intravena, subkutan, dan intramuscular
III.

FORMULASI
1. Permasalahn dan penyelesaian
Vitamin c mudah teroksidasi
Penyelesaian : dengan pemberian antioksidan dalam proses
pembuatannya, untuk mencegah reaksi oksidasi agar sediaan tetap stabil
selama penyimpanan.
Menggunakan Na metabisulfit 0,1 % yang berguna sebagai antioksidanz
Asam askorbat sangat tidak stabil dengan cahaya panas dan udara
5

Penyelesaian ; digunakan vial berwarna coklat untuk menghindari


terjadinya oksidasi vitamin C oleh cahaya. Atau penyimpananya disimpan
dalam tempat yang gelap dan terlindung cahaya matahari
Vitamin C sangat stabil pada stabil pada 6-6,5
Penyelesaian : dengan menambahkan ph adjuster, seperti larutan Na2CO3
karena Na2CO3 dapat meningkatkanstabilitas zat aktif. Mengganti O2
menjadi CO2
Vitamin C dalam kondisi panas akan kehilangan asam askorbat sekitar
50%
Penyelesaian: dilakukan dengan sterilisasi C yaitu larutan disaring melalui
penyaring bakteri steril dalam wadah yang steril dan ditutup kedap
menurut tehnik aseptis
Adanya ion logam dalam vial mampu mengkatalisis reaksi peruraian
vitamin C menjadi bentuk yang tidak stabil
Penyelesaian : ditambahkan Na EDTA 0,1 % sebagai bahan pengkelat
untuk mengikat ion logam yang kemungkinan dari botol vial dan
membentuk kompleks

2. Formula
R/

Asam Ascorbat
Na EDTA
Na metabisulfit
Na2CO3
Aqua p..i

1,5% (OTT dengan Na Bicarbonat )


0,1%
0,5%
1,39%
ad 5ml

No
1

Bahan
Asam

Perhitungan
1,5/100 x 30

Penimbangan
450 mg

Askorbat
Na EDTA

ml
0,1/100 x 30

30 mg

Na

ml
0,5/100 x 30

150 mg

metabisulfit
Na2CO3

Aqua p.i

ml
1,39/100 x 30 420 mg
ml
Ad 100%

Ad 30 ml

Pengenceran Na
EDTA = bobot zat
50 mg ad 10 ml
30 mg ~ x = 30
mg / 50 mg x 10
ml = 6 ml

3. Perhit

ungan Berat dan Volume


6

Penambahan volume untuk larutan encer 5ml=0,3ml (Depkes RI, 1995 :


hal 1044)
Berat dan Volume
V = (2 + n ) V
= (2 +3) (5,0 + 0,30)
= 26,5 ml ~ 30ml

Perhitungan Isotonis
Ptb Asam Askorbat
Ptb Na EDTA
Ptb Na metabisulfit
Ptb Na2CO3
Ptb Nacl

= 0,105 (b1)
= 0,132 (b2)
= 0,386 (b3)
= 0,380 (b4)
= 0,576 (b5)

B = 0,52 (b1.c1+b2.c2+b3.c3+b4.c4)
= 0,52 (0,105 x 1,5 + 0,132 x 0,1 + 0,386 x 0,5 + 0,380 x 1,39 )
0,576
= - 0,64
hipertonis, maka tidak perlu penambahan NaCl
4. Cara Sterilisasi Sediaan
Dengan cara sterilisasi menggunakan filtrasi memban
Cara Kerja
Semua alat disterilkan
Disiapkan Aq p.i 30 ml
Ditimbang Vit C dilarutkan dengan Aq p.i
Ditimbang Na Metabisulfit dan Na2CO3, dilarutkan pada larutan vit. C
pada Erlenmeyer
Dibuat pengenceran Na EDTA Di beaker glass kemudian dipipet 6 ml dan
dimasukkan dalam campuran Erlenmeyer
Dicampur homogen larutan
Cek pH
7

Aq pro injeksi ad 30 ml
Dihomogekan
Larutan injeksi vitamin C
Dituang sedikit aqua p.i untuk membasahi kertas saring untuk menyaring
Disaring dalam erlenmeyer bersih dan kering
Disaring kembali menggunakan membran filter yang sebelumnya ditetesi
sediaan, kemudian dimasukkan kedalam botol vial sebanyak 5,3 ml
Vial ditutup karet dan alumunium voil lalu dikencangkan
Vial vitamin C
Dievaluasi PH ,keseragaman volume, sterilitas, kejernihan,
dan kebocoran
Memenuhi syarat atau tidak
IV.

PELAKSANAAN
1. Penyiapan Alat
No
1

Alat
Erlenmeyer

Beaker Glass

Gelas Ukur

Gelas Ukur

Corong Kaca

Batang
Pengaduk
Plat Tetes
Indikator pH
Bunsen
Vial

7
8
9
10
11
12

Tutup Karet
Vial
Alumunium
Cap

Sterilisasi
Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C
-

Waktu
15
menit
15
menit
-

Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C

15
menit
15
menit
15
menit
15
menit
15
menit

50
ml
50
ml
50
ml
10
ml
-

5
ml
-

1
1
1
3

13

Kertas Saring

14

Pipet Tetes

15
16

Pinset
Beaker glass

17

Spuit Injeksi

18

Membran
Filter
Spuit Injeksi

19

1
500 1
ml
10
3
ml
1

Otoklaf
121o C
Otoklaf
121o C

15
menit
15
menit

Otoklaf
121o C
-

15
menit
-

1
ml

2. Pencucian dan pembungkusan alat


a. Alat Gelas
1. Alat direndam dalam larutan tepol 0,5% keudian direbus
2. Disikat sampai bersih, dibilas air kran mengalir sebanyak 3x
3. Dibilas air bebas pirogen sebanyak 3x
4. Dikeringkan dalam oven suhu 100C dengan keadaan terbalik
5. Dilakukan pengecekan noda (alat yang terdapat noda dicuci kembali)
6. Alat yang bersih dan kering dibungkus rangkap dan disterilisasi
dengan oven 180C selama 30 menit, otoklaf suhu 121C selama 15
menit
b. Alat Karet
1. Alat-alat karet direbus dengan tepol 1% dan Na2CO3 selama 15 menit.
2. Setelah direbus kemudian dibilas dengan air keran dan disikat
3. Dibilas dengan HCl 0,25% lalu dibilas lagi dengan air bebas pirogen
4. Alat tersebut dibungkus rangkap dua dan dilakukan sterilisasi dengan
otoklaf pada suhu 121C selama 15 menit
3. Sterilisasi alat
NO
1
2
3
4
5
6
7

WAKTU
Pemanasan
Pengeluaran udara
Menaikan suhu
Kesetimbangan
sterilisasi
Jaminan sterilisasi
Pendinginan

OTOKLAF

IV EVALUASI
9

1. Uji kejernihan
Vial diputar secara vertical 180C didepan suatu latar belakang yang putih

Bahan melayang akan berkilau bila terkena cahaya


2. Uji Ph
Injeksi vitamin C
diambil secukupnya
diletakan di plat tetes
dicek dengan kertas indicator
Ph injeksi vitamin C

3. Uji keseragaman volume


Vial yang disterilkan
dispuit hingga habis
diukur volumenya
rentang volume yang memenuhi syarat
4. Uji kebocoran
Uji kebocoran digunakan larutan metylen blue 0,0025 % b/v dalam phenol
0,0025% b/v
(goeswfin, 2009)

Vial direndam dalam larutan dan divacum 70 mmHg ( 0,96 kg/cm2)


Tidak kurang dari 15 menit
Vial yang berwarna biru dibuang
5. Uji sterilitas
Isi wadah kurang dari 10 ml digunakan media sebanyak 15 ml. volume
minimum yang diambil tiap wadah untuk tiap media 1ml
( depkes RI, 1995. Hal 859)
Media yang dibutuhkan dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml.
Jumlah sediaan yang akan diuji = 10ml/15ml x 1 ml : 0,67 ml (sediaan)
10

6. Cara uji sterilisasi


Dibuat media FTM dan TSB sesuai yang dibutuhkan
Dimasukan media ke dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml
Ditambah 0,67 ml sampel
Diinkubasi ke dalam incubator selama 14 hari
Dibuat control positif dengan media dan biakan E.coli untuk media FTM dan candida
albicans untuk media TSB dan control negative dengan media saja
Diamati hingga 14 hari. Apabila media berubah menjadi keruh maska sampel dinyatakan
tidak steril

11