Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS TROPONIN

DENGAN METODE ELISA


SANDWICH PADA PJK
NAMA KELOMPOK
ADIYAT EDI WAHYUDI

HELEN NATALIA YULUCI


HABEAHAN SARTIKA
RITA YUNIATI

TIARA DEWI

Pengertian troponin

Troponin adalah molekul protein spesifik


yang merupakan bagian dari otot rangka
dan otot jantung. Otot polos tidak
memiliki troponin.
Troponin adalah suatu protein regulator
yang terdapat pada filamen tipis aparatus
kontraktil otot bergaris.

Jenis-jenis troponin
Troponin C (TnC) dengan berat molekul 18.000
dalton, berfungsi mengikat dan mendeteksi ion
kalsium yang mengatur kontraksi.
Troponin T (TnT) dengan berat molekul 24.000
dalton, suatu komponen inhibitorik yang
berfungsi mengikat aktin.
Troponin I (TnI) dengan berat molekul 37.000
dalton yang berfungsi mengikat tropomiosin.

Dari tiga polipeptida tersebut, hanya bentuk troponin I


(cTnI) dan troponin T (cTnT) yang ditemukan di dalam
sel-sel miokardium, tidak pada jenis otot lain.
Setiap subunit troponin mempunyai berbagai isoform
tergantung pada tipe otot dan dikode oleh sebuah gen
yang berbeda. Isoform yang spesifik kardiak dan otot
bergaris diekspresikan pada otot jantung dan otot bergaris
pada dewasa. Struktur asam amino troponin T dan I yang
ditemukan pada otot jantung berbeda dengan struktur
troponin pada otot skeletal, sedangkan struktur troponin C
pada otot jantung dan skeletal identik. Subunit troponin T
(TnT) dan troponin I (TnI) mempunyai isoform jantung,
slow and fast twitch skeletal.

Troponin sebagai penanda biokimia


Ketika terjadi iskemia miokard, maka
membran sel menjadi lebih permeabel
sehingga komponen intraseluler seperti
troponin jantung merembes ke dalam
interstitium dan ruang intravaskuler .
Protein ini mempunyai ukuran molekul
yang relatif kecil dan terdapat dalam 2
bentuk, yaitu troponin I dan troponin T.

Akan terjadi pelepasan troponin dini segera


setelah jejas iskemia, diikuti oleh pelepasan
troponin miofibriler yang lebih lama, yang
menyebabkan pola pelepasan bifasik yang
terutama terjadi pada troponin T (cTnT).
Sedangkan pada troponin I (cTnI) karena jumlah
troponin sitosoliknya lebih kecil kemungkinan
pelepasannya monofasik. Kadar cTnT mulai
meningkat 3-5 jam setelah jejas dan tetap
meningkat selama 14-21 hari. Kadar cTnI mulai
meningkat 3 jam setelah terjadi jejas dan tetap
meningkat selama 5-7 hari.

Kadar kedua troponin mencapai puncak


12-24 jam setelah jejas. Troponin jantung
dapat diukur sebagai unit bebas (misalnya
cTnI atau cTnT) dan dilepas selama
stadium dini IMA atau sebagai bagian dari
komplek (misalnya sebagai komplek
tersiercTnT -I-C atau komplek
binercTnI-C dan cTnT -I), karena secara
struktural berikatan satu dengan lainnya.


Pelepasan troponin yang berkelanjutan ini
memberikan informasi yang setara dengan yang
diberikan oleh isoenzim laktat dehidrogenase (LDH)
untuk diagnosis konfirmatorik infark miokardium
sampai beberapa hari setelah kejadian akutnya

Keluarnya troponin jantung ke sirkulasi sedikit


lebih tertinggal dari mioglobin. Karena itu
penggabungan pengukuran mioglobin (sangat sensitif
tetapi kurang spesifik untuk cedera miokardium) dan
troponin jantung (sangat spesifik untuk cedera
miokardium) sangat bermanfat.

Preparasi Sampel

Sampel yang digunakan ialah darah


berupa serum darah, dengan mengikuti
prosedur laboratorium dimana pengujian
langsung dilakukan setelah pengambilan
untuk mencegah terjadinya hemolisis.

METODE PENGUJIAN TROPONIN


METODE ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent
Assay)
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
adalah suatu teknik biokimia yang terutama
digunakan dalam bidang imunologi untuk
mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen
dalam suatu sampel.
Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu
antibodi dengan spesifitas untuk antigen tertentu

LANJUTAN

Streptavidin dimasukkan ke dalam mikroplate


kemudian ditambahkan serum penderita dan larutan
inkubasi yang antara lain mengandung anti berlabel
biotin dan anti biotin TnT berlabel enzim. Biotin akan
berikatan dengan streptavidin.

Selanjutnya TnT yang terdapat pada serum penderita


akan berikatan dengan anti TnT berlabel dengan anti
TnT berlabel Biotin yang terikat streptavidin pada satu
sel dan pada sisi lainnya berikatan dengan anti TnT
berlabel enzim. Setelah itu tabung di cuci dengan
larutan pencuci dan kemudian ditambahkan subtrat
ABTS dan H2O2.

LANJUTAN

Bila dalam serum penderita terdapat TnT


yang dapat di baca dengan fotometer pada
panjang gelombang 405 nm, pemeriksaan
TnT Elisa menggunakan alat Automotik Elisa
Analyzer ES 33.

Alat dinyalakan.

Dimasukkan selang selang yang tersedia kedalam tabungtabung yang berisi reagensi menurut urutan yang
ditunjukan pada layar monitor.
Pipet masing masing 200 uL 6 standar, 2 kontrol TnT dan
sampel yang akan di periksa masing masing ke dalam
tabung yang telah berisi sampel yang telah dipersiapkan.
Selanjutnya alat akan bekerja secara otomatis sampai
didapatkan hasil pada kertas printer berupa kadar TnT
dalam satuan ng/mL.
Lamanya waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan TnT
secara Elisa ini minimal 2 jam.

Interpretasi Data
Hasil tes troponin dapat digunakan untuk memantau efektivitas
pengobatan IMA dengan trombolisis. Nilai rujukan untuk
troponin berdasarkan analisis secara immunoassay, yaitu:

Nilai antara 0,4 dan 0,1 ng/mL diinterpretasikan sebagai tak


pasti
Nilai di atas 0,1 ng/mL diinterpretasikan sebagai nekrosis sel otot
jantung
Pada operasi antung dan takikardia yang berlangsung lama,
nilai dapat sedikit lebih tinggi
Pada orang normal nilai kurang dari 0,2 ng/mL

Troponin kadang-kadang meningkat secara menetap pada pasien


dengan penyakit miokardium yang tidak memperlihatkan
peningkatan mioglobin, CK-MB atau LDH. Pasien-pasien ini
biasanya mengidap angina yang tidak stabil.
Ketika terjadi serangan jantung, kadar troponin bisa meningkat
dalam darah dalam waktu 3 atau 4 jam setelah cedera dan dapat
tetap tinggi selama 1-2 minggu setelah serangan jantung.
Pengujian troponin tidak terpengaruh oleh kerusakan otot lain,
sehingga suntikan, kecelakaan, dan obat-obatan yang dapat
merusak otot tidak mempengaruhi kadar troponin

Beberapa Kondisi yang Dapat Meningkatkan


Kadar Troponin
1. Kerusakan otot jantung

2. Takikardia berat (misalnya karena takikardia supraventricular),


dengan arteri koroner normal
3. Gagal jantung
4. Inflamasi (miokarditis dan perikarditis dengan keterlibatan otot
jantung yang kemudian disebut myopericarditis)
5. Kardiomiopati
6. Gangguan infiltrasi (amiloidosis jantung).
7. Operasi jantung dan transplantasi jantung

8. Operasi penutupan cacat septum atrium

Kondisi Non-Jantung
Akibat pemberian efek tidak langsung
pada otot jantung seperti:
1. Sepsis: Troponin meningkat sekitar
40%; ada peningkatan risiko
kematian dan lama tinggal di dalam
unit perawatan intensif pada pasien
ini.
2. Perdarahan gastrointestinal yang
parah: Terdapat ketidak sesuaian
antara permintaan dan pasokan
oksigen miokardium
3. Diseksi aorta
4. Peningkatan stress hemodinamik
5. Hipertensi pulmonar
6. Emboli paru

7. Eksaserbasi akut penyakit paru


obstruktif kronik (PPOK)
8. Iskemia
9. Gangguan sistem syaraf pusat
(perdarahan subaraknoid, stroke,
perdarahan intrakranial, kejang)
10. Penyakit ginjal stadium akhir
11. Toxin (kalajengking, ular, uburubur, lipan)
12. Keracunan (CO, sianida)
13. Pengaruh obat: agen kemoterapi
(anthracycline,cyclophosphamid
e, 5-fluorourasil dan cisplatin)

TERIMAKASIH..........^_^