Anda di halaman 1dari 24

BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. M

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 31 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Asrama Gedong Panjang RT 01/03 Kab. Sukabumi

Suku-bangsa

: Sunda

Pendidikan

: SMA

Status pernikahan

: Janda

Pekerjaan

: Tidak Bekerja

Tanggal Masuk RS

: 01November 2014

B. RIWAYAT PSIKIATRI
Berdasarkan :

Autoanamnesis : diambil tanggal 02November 07 November 2014 di bangsal


Kemuning

Alloanamnesis : diambil tanggal01 November 2014 ( dengan ibu pasien)

1. Keluhan Utama
Pasien ngamuk-ngamuk di rumah sampai mendorong ibunya ke tembok
2. Riwayat Penyakit Sekarang
1 hari SMRS pasien ngamuk ngamuk dirumah sampai mendorong ibunya ke
tembok. Kadang pasien berusaha ingin kabur dari rumah.Karena khawatir, orang tua
pasien membanyanya ke IGD.

10 hari SMRS pasien kontrol ke Poli Jiwa tapi setelah pulang ke rumah, pasien
tidak mau minum obatnya dengan alasan bosan minum obat. 5 hari SMRS, pasien
merasa orang-orang selalu ingin berbuat jahat padanya dan mengutukya menjadi
jelek. Pasien merasa bahwa rambut yang ada dikapalanya adalah bukan rambutnya
dan pasien mengatakan ada yang membisikkan, rambutnya dipotong atau dicabut

aja, karena itu bukan rambut kamu!, lalu pasien mengikuti perintah tersebut dengan
memotong dan mencabut sebagian rambutnya.Pasien juga mengatakan sejak 5 bulan
yang lalu sering ada bisikan yang tidak terlihat wujudnya, suara lak-laki yang
mengatakan bahwa, Kau adalah istri saya kamu jangan menikah dengan manusia
seumur hidup kamu.Pasien mengaku pernah berpacaran saat SMA kemudian hamil,
setelah anaknya lahir pasien mengaku membunuh anaknya dengen cara mencekik
leher anaknya dan dibuang ke sungai oleh pacarnya. Sebelum mencekik anaknya,
pasien mengatakan ada yang membisikinya dengan kata kata. Itu anaknya cekik saja
sama kamu,jangan kamu besarkan. Karena laki-laki nya ga mau tanggung jawab
sama kamu.

Ibu pasien mengatakan, pasien mengalami keluhan seperti ini sejak bercerai
dengan suaminya.Pasien sudah pernah menikah 7 tahun yang lalu. Pasien di kenalkan
dengan mantan suaminya oleh temannya.Awalnya pasien tidak mau menikah, tapi
setelah 1 minggu berkenalan, tiba-tiba pasien ingin menikah dengan laki-laki
tersebut.3 bulan setelah menikah, pasien bercerita ke ibunya bahwa suaminya tidak
lagi ganteng seperti dulu.Suaminya sering minum alcohol dan sering memukul
pasien.Karena tidak tahan, pasien dan suami bercerai.Ibu pasien mengatakan keluhan
pasien timbul beberapa bulan setelah bercerai dengan suaminya.Ibu pasien menduga
bahwa anaknya telah di guna-guna oleh orang.

Pasien adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara.Pasien mengatakan jika pasien tidak
yakin bahwa keluarga nya yang sekarang adalah keluarga kandungnya.Pasien
mengatakan sering mendapat perlakuan buruk dan ucapan yang kasar dari
keluarganya.Pasien

mengatakan

sering

disetubuhi

oleh

ayah

dan

kakak

iparnya.Pasien mengatakan ayah nya menyetubuhi pasien atas izin dari ibunya.Pasien
sering merasa banyak orang yang tidak suka dengan dirinya, dan ada yang berbuat
jahat dengannya. Pasien sering mendengar orang lain membicarakan dan menghina
dirinya. Pasien mengeluh seluruh wujudnya dirubah dan kulitnya berubah menjadi
hitam karena ada yang tidak suka dengan pasien.Kadang pasien juga menyalahkan
orang tuanya karena wujud dan kulitnya berubah, supaya pasien tidak mendapatkan
jodoh seumur hidupnya.

Ibu pasien mengatakan bahwa ayah, ibu, dan kakaknya adalah keluarga
kandung pasien. Ibunya mengatakan bahwa pasien memang tidak dekat dengan
ayahnya, karena ayahnya sering bertugas ke luar kota. Jika keluhan pasien timbul,
pasien tidak mengenali keluarganya, pasien selalu menganggap bahwa mereka bukan
keluarga kandung pasien.

Pasien sering dirawat di Ruang Kemuning sejak 4 tahun yang lalu dan
sekarang merupakan rawat inap yang kurang lebih ke20 kali. Terakhir dirawat2bulan
yang lalu dengan keluhan yang sama. Keluarga pasien sering membawa pasien ke
orang pintar dan diberikan minuman yang dibacakan doa untuk diminum oleh pasien.
Setelah berobat ke orang pintar, ibu pasien mengaku keadaan pasien membaik tapi
tidak lama.Saat di Ruang Kemuning pasien merasa pasien yang lain sering
membicarakan pasien, dengan mengatakan pasien adalah seorang pembantu, perebut
suami orang dan pacar orang. Oleh karena itu pasien tidak ingin berinteraksi dengan
pasien lain.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sering dirawat di ruang Kemuning sejak 4 tahun yang lalu.Pasien rutin
meminum obat selama 4 tahun yang lalu , namun beberapa bulan terakhir jarang
minum obat dengan alasan bosan minum obat dan takut mati karena minum obat
terus-menerus. Riwayat dikeluarga tidak ada yang menderita gangguan jiwa.

Pasien tidak memiliki gangguan bawaan sejak lahir, tidak pernah mempunyai
riwayat kejang sebelumnya, tidak pernah menderita sakit berat hingga membutuhkan
perawatan Rumah Sakit, dan tidak ada riwayat trauma kepala sebelumnya.Pasien
tidak merokok dan menyangkal minumalcohol.

Keluarga mengatakan sering membawa pasien ke dukun untuk berobat, dan


diberi air yang telah dibacakan doa oleh dukun tersebut untuk diminum dan dibasuh ke
muka pasien supaya pasien sembuh. Setelah berobat ke dukun, keluarga pasien
mengatakan kalau keluhannya pasien berkurang tapi tidak lama

4. Riwayat Kehidupan Pribadi


a. Riwayat Prenatal dan Perinatal
3

Saat

kehamilan,

ibu

pasien

mengatakan

tidak

ada

masalah

dengan

kandungannya.Pasien lahir cukup bulan.

b. Masa Kanak-kanak dini ( 0-3 tahun)


Ibu pasien mengatakan perkembangan pasien sesuai dengan usianya

c. Masa Kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)


Perkembangan fisik pasien sama dengan anak sebayanya. Pasien termasuk
anak yang memiliki banyak teman. Pasien tidak memiliki masalah belajar, tidak
pernah mengompol, tidak pernah melakukan kekerasan terhadap binatang.

d. Masa pubertas dan remaja

Hubungan sosial
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan komunikasi
antara keluarga juga baik, pasien termasuk anak yang penurut. Pasien lebih
sering tinggal dirumah dan membantu ibunya.

Riwayat Pendidikan Formal


Pasien bersekolah di SD dekat rumahnya, yang ditempuh selama 6
tahun, kemudian dilanjutkan bersekolah di SMP selama 3 tahun, dan
selanjutnya pasien melanjutkan sekolah ke jenjang SMA hingga tamat.

Perkembangan motorik dan kognitif


Tidak terdapat gangguan pertumbuhan fisik, sesuai dengan usianya,
dalam perkembangan kognitif tidak terlihat adanya gangguan dalam belajar.
Tidak ada gangguan dalam perkembangan motorik.

Masalah emosi dan fisik


Pasien termasuk orang yang penurut dan cenderung menghindari
konflik dengan teman-temannya, jika terjadi masalah pasien sering
menghindar. Dalam perkembangan fisik, pasien terlihat sesuai dengan anak
seusianya.

Riwayat Psikoseksual
Menurut pasien, pasien pernah pacaran saat SMA dan diputuskan begitu saja.

Riwayat agama
Menurut pasien, pasien termasuk orang yang taat beribadah.
4

e. Masa Dewasa

Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai wartawan di salah satu Koran daerah.Kemudian
berhenti karena hanya wanita sendiri dan teman kerjanya tidak ada yang
seusianya.

Aktivitas sosial
Ibu pasien mengatakan, jika pasien dalam keadaan sehat. Hubungan pasien
dengan lingkungan sekitar cukup baik.

Riwayat pernikahan
Ibu pasien mengatakan, pasien pernah menikah sebelumnya 1 kali dan bercerai.

f. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayah kandung dan ibu kandung
masih hidup.Dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita gejala yang sama
dengan pasien.Kakak pasien sudah menikah dan mempunyai satu anak

SKEMA KELUARGA

Keterangan :
Laki laki

Perempuan

Pasien

Cerai

g. Situasi hidup sekarang


Pasien tinggal didaerah pemukiman yang cukup padat, hubungan pasien
dengantetangga kurang baik. Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakak dan

keponakannya.Sumber penghasilan keluarga pasien dari ayah pasien dan kakak


pasien. Pasien saat ini tidak bekerja.

Wawancara Psikiatri
Alloanamnesis Tanggal 01 November 2014
Lokasi : Ruang kemuning
D : dokter Muda K : keluarga

D : Assalamualaikum, bu
K : Waalaikum salam.
D : Maaf ini dengan siapanya pasien?
K : Saya Ibunya
D : Oh ya bu perkenalkan kami dokter muda
K : Iya dok
D : Kamiingin bertanya dulu ya bu ?
K :iya, silahkan dok.
D : Kenapa Meilia dibawa kesini ya bu ?
K : Gini dok, dia suka ngamuk-ngamuk terus di rumah sampai sempat menendang saya dan
sering mengancam akan kabur dari rumah sambil menodongkan pisau atau gunting.
D : Sejak kapan bu?
K : Sejak5 hari yang lalu dok
D : Kenapa bisa ngamuk- ngamuk bu?
K :Awalnya dia ingin menikah dengan laki-laki yang dikenalkan oleh temannya. Tapi orang
tua tidak setuju karena laki-laki tersebut sering minum alcohol dan main judi.Sebelumnya
Meilia pernah menikah 7 tahun yang lalu.Tapi bercerai setelah 7 bulan menikah.Kata Meilia
setelah 3 bulan menikah, suaminya tidak ganteng lagi seperti dulu. Lalu jadilah Meilia seperti
ini.
D : Kenal sama suaminya dimana bu?
K : Dikenalkan oleh temannya. Awalnya dia gamau dok tapi setelah 1 minggu kenalan tibatiba dia mau karena menganggap suaminya terlihat ganteng.Dari situ saya merasa sepertinya
Meilia di guna guna.
D: Apakah Meilia mempunyai anak dari pernikahannya bu?
K : Alhamdulillah untungnya belum dok
D : Loh kok Alhamdulillah bu?
6

K : Iya karena suaminya kasar, sering mukulin Meilia dan sering minum alcohol juga.
D : Apakah sebelumnya pernah Meilia berobat ke poli jiwa bu?
K : Iya dok, sejak 4 tahun yang lalu, terakhir kontrol ke poli 15 hari sebelum kesini
D : Obatnya rutin diminum setiap hari bu?
K : Iya dok, tapi akhir-akhir inisetelah kontrol jarang minum lagi, katanya bosen
D : Ngamuk-ngamuknya tiba tiba atau bagaimana bu ?
K :Tiba tiba dok.
D :Waktu lagi marah marah dia sampai merusak barang barang di rumah nggak bu ?
K :Kadang iya dok, kadang juga mukul saya dan kakaknya dok.
D : Terus ditanyakan ke pasien kenapa dia mengamuk - ngamuk ?
K :Katanyakarena ingin menikah. Namanya orang tua ya dok, ingin yang terbaik buat
anaknya. Tapi meilia malah menganggap kami melarangnya menikah.
D : Ibu sama Bapak orang tua kandungnya Mei atau gimana?
K : Iya orang tua kandung dok. Saya yang hamil sampai melahirkan dia. Cuma waktu saya
lagi hamil, Bapak lagi tugas di luar kota. Setelah Mei lahir saya Cuma bilang ke Bapak kalau
mau kasih nama Meilia, kata Bapak iya. Bapak teh baru balik kesini pas Mei usia 3 tahun.
Habis itu ada tugas lagi keluar kota. Makanya Mei jadi ga deket sama Bapaknya. Kalau lagi
kumat mah dia ga kenal sama orang tuanya
D : Di keluarga ada yang punya penyakit sama kaya Meilia ga bu?
K : Engga dok, cuma dia aja yang kaya gini
D : Meilia sebelumnya udah pernah kerja bu?
K : Udah jadi wartawan tapi cuma 1,5 tahun aja. Soalnya dia ga nyaman kerja disana, ga ada
yang seumuran dengan dia, usia nya sudah tua semua.
D : Waktu di tempat kerja pernah ada masalah dengan teman kantornya ga bu?
K : Engga ada sepertinya dok.
D : Sama keluarga gimana bu? Pernah ada masalah?
K : Sama keluarga sih engga dok. Cuma ya itu kalau lagi kambuh suka ga inget sama
keluarganya, dibilangnya kita bukan keluarga kandugnya.
D : Apakah ada masalah lain yang ibu ketahui tentang Meilia?
K :Engga ada, hanya ingin menikah saja karena dia takut tidak mendapat jodoh sampai tua
D : Masih ada hal lain yg meikerjakan di rumah nggak bu?
K :Sehari-hari dia masih membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, jika pikirannya
sedang baik tapi kalau lagi kumat biasanya cuma tidur-tiduran aja dikamar
D : Selain itu bagaimana bu dengan pola tidurnya di rumah ?
7

K : Kalau lagi kambuh mah tidurnya susah dok, kalau lagi baik ya baik tidurnya
D : Terus bagaimana dengan pola makannya bu ?
K :Makannya seperti biasa dok, tapi kadang ga mau makan juga dok
D : Baik bu, mungkin itu saja yang ingin kami tanyakan. Terima kasih bu..
K : Iya, sama-sama dok.

Autoanamnesis Tanggal 7 November 2014


Lokasi: Ruang Kemuning
D : Dokter Muda; P: (Pasien)

D : Assalamualaikum,hai namanya siapa?


P : Waalaikum salam. Saya Meilia Ronggowati, panggil aja mba Memei
D : Umurnya berapa mba Memei?
P : 31 tahun dok.
D : Agamanya apa?
P : Islam.
D : Sekolah sampai tingkat berapa?
P : SMEA dok
D : Sekarang bekerja atau tidak?
P : Engga dok, saya Cuma dirumah aja
D : Tapi sebelumnya pernah bekerja ga?
P : Pernah dok, jadi wartawan cuma sebentar
D : sebentarnya itu berapa lama mba memei?
P : sebentar ya dok, saya ingat-ingat dulu. Kalo ngga salah 1 bulan dok, eh tapi 1 minggu
juga ngga sampai, kurang lebih 3 hari kalo ga salah ya dok.
D : Kenapa cuma sebentar?
P : Iya soalnya temennya laki-laki semua, ada Boy, Ronal, Viktor, sama siapa lagi saya lupa.
Mereka juga membuat saya bodoh, dihilangkan akal pikiran saya dan kecerdasan saya. Tapi
aslinya ya dok, saya itu cerdas, tapi saya ga sombong. (senyum)
D : Mba Memei tau ngga kesini kenapa?
P : Engga tau ya dok ya, saya dipaksa kesini sama orang yang ngaku-ngaku orang tua saya.
Kayanya mereka mau saya disini sampai meninggal kali ya dok ya?!
D :Maksudnya ngaku orangtua mba memei gimana?

P : Iya mereka itu aslinya bukan orangtua saya, orangtua saya itu sudah almarhum
almarhumah.Mereka pada jahat sama saya, saya mau nikah tapi ga boleh. Wujud dan kulit
saya di bikin jelek biar ga ada yang suka.
D : Cara dibikin jeleknya gimana?
P : Iya saya dibawa ke orang pinter, dikasih air untuk diminum dan cuci muka. Tapi abis itu
muka saya jadi jelek, saya liat ke kaca malah jadi kaya nenek nenek, kulit saya jadi gosong.
D :Mba Memei tau ga ini dimana?
P : Iya tau dok ruang kemuning.
D : Mba Memei tau sakit apa?
P : Pertama sakit hati, kedua sakit pikiran, ketiga sakit jiwa raga, yang keempat...sebentar ya
dok ya saya inget-inget lagi. Kalau ngga salah ya, saya pernah sakit jiwa dok, tapi
alhamdulillah sekarang udah sembuh. Tapi ngga tau kenapa ya dok, saya ko begini lagi.
D : Mba Memei sebelumnya pernah kesini ?
P : Pernah dok
D : Terus kenapa kesini lagi ?
P : Saya kepikiran ingin nikah ingin punya jodoh yang sayang sama saya. Tapi orang tua saya
melarang, jadi saya kepikiran sampai sakit begini. Tapi saya ga fitnah ya dok, kalau fitnah
kan masuk neraka.
D : Sekarang udah yang keberapa kali?
P : Kalau ngga salah ya dok, udah 19 kali lebih atau 20 kali lebih, saya lupa dok
D : Mba Memei udah kenalan belum sama temen-temen disini ?
P : Ga mau dok, nanti saya dikira naksir sama dia, nanti pacarnya marah. Nanti saya juga
dikatain perebut suami orang atau pacar orang. Mereka juga sering bilang saya pembantu,
jadi saya ga mau kenalan sama mereka.
D : Tapi dulu mba Memei punya banyak temen ga ?
P : Punya dok, waktu masih sekolah, tapi mereka juga pada jahatin saya.
D : Punya ga temen yang deket banget waktu sekolah ?
P : Aslinya ya dok, kalau ga salah namanya, sebentar dok saya inget-inget lagi. Waktu kelas 1
SMEA saya duduk sebangku sama Lianti orang Cibadak, kelas 2 SMEA saya duduk sama
Diah, kelas 3 saya duduk sebangku sama Nani. Awalnya mereka pada baik, tapi malah
jahatin saya.
D : Emang jahatinnya gimana sih mba Mei?

P : Mereka menghacurkan masa depan saya dan sering memfitnah saya. Saya pernah
dicekokin obat, ga tau obat perangsang atau apa ya dok ya habis itu saya pusing terus
disetubuhi sampai saya hamil dan melahirkan disekolah.
D : Terus anaknya sekarang dimana?
P : Iya bentar dengerin dulu ya. Sayaawalnya gatau waktu itu hamil, Pas lagi mandi kok perut
berasanya agak sakit, Kaya ada isinya, dipegang keras. Aku pikir kenapa gini.Aku ga bilang
ke orang tua. Terus Bulbul Dani kan ya nama pacar pertama aku orang Sekarwangi. Aku kan
muntah muntah gatau apa apa. Dia yang tau aku hamil. Dikasih uang buat gugurin sama dia
50.000 tapi aku ga nurut gatau kenapa. Ditendang perut aku sama Bul bul. Ga ngaku dia
hamilin aku. Aku jadinya serem. Abis melahirkan jadinya stress gitu, kan diputusin sama dia.
Jadinya itu udah ada bisikan bisikan waktu aku hamil katanya gini Itu anaknya cekik saja
sama kamu, kalau kamu besarkan, laki-laki itu ga akan tanggung jawab sama kamu terus
aku kan dari dulu suka kemasukan, terus aku cekik anaknya, samapi mati. Terus dibawa sama
Bulbul. Katanya mah dibuang ke sungai hanyut.Jadi aku ya udah stress dari dulu ya. Tapi
wallahu alam ya gatau gamau suuzon, kaya ada yang mau jahatin jadinya gini (sambil
tunjukin kulitnya yang menjadi gosong)
D :Mba Mei pernah denger ada bisikan yang lain lagi ga?
P :Bisikanlain?dulu pernah ada ya dok. Terakhir ada bisikan suaranya laki-laki tapi bukan
orang.Katanya gini Kau adalah istri saya, kau jangan menikah dengan manusia seumur
hidup kamu. Sampai sekarang saya masih belum diceraikan dok sama dia. Tapi aslinya saya
masih singel ya dokter, saya bukan janda. Terus rambut saya ya dok dulunya ga begini,
asalnya botak. Ada bisikan katanya gini, aku kan sakit kepala ya sakit ubun ubun gini katanya
Rambutnya gunting sama kamu. Digundulin sama kamu biar sakit kepalanya hilang.
Sekarang udah tumbuh lagi, karena saya merasa wujud saya berubah dan ini bukan rambut
saya, saya gunting lagi dan sebagian saya cabutin.
D : Sejak kapan mba Memei sering mendengar bisikan itu? Terus ada bisikan itu saat mba
Memei sedang apa?
P : Kurang lebih 5 bulan, ga nentu dok kapan adanya bisikan itu.
D : Pernah liat bayangan atau makhluk lain gitu ga?
P : Kalau sekarang sih engga ya . Cuma waktu itu lihat, tapi ga ngarang cerita ya, gatau setan
jurig atau apa gitu, berbulu, menyerupai orang tua. Dan laki-laki yang sering membisiki saya
dengan mengaku suami saya berwujud seperti makhluk besar, hitam, tua dan jelek. Tapi
sekarang mah engga Alhamdulillah.
D : Mba Mei ada masalah dengan keluarga?
10

P : Tidak ada ya dokter, waktu orang tua saya masih hidup. Tapi semenjak orang tua saya
almarhum dan almarhumah, semua harta milik keluarga saya dicuri oleh mereka dan para
pelakunya, tapi malah saya yang dituduh mencuri. Saya juga pernah mendengar mereka
mendoakan saya supaya saya mati, ga punya jodoh, jelek dan gila seumur hidup.
D: Mereka itu siapa mba Mei?
P : Mereka dan para pelakunya dokter, dari golongan manusia, hewan dan tumbuhan dan
makhluk gaib yang diciptakan oleh Sang Pencipta yang menjelma jadi orang tua, kakak,
kakak ipar dan keponakan saya.
D : Dirumah biasanya ngapain aja?
P : Dirumah waktu orang tua saya belum almarhum dan almarhumah, saya bantuin mama
beresin rumah. Tapi saya bukan pembantu atau babu ya dok, jangan anggap saya pembantu,
saya juga bukan pelacur saya tidak merebut istri mereka, saya masih singel ya dokter.
D : Di rumah atau sekitar rumah ada yg jahat ga?
P :Ada dokter, mereka dan para pelakunya
D : Jahatinnya gimana?
P :Mereka memfitnah saya, membuat saya seperti sekarang ini, dan menuakan saya.
D : Menuakan bagaimana?
P : Sebentar ya dok ya, dengerin dulu. Jadi, mereka dan para pelakunya membuat saya
menjadi tua, aslinya saya tinggi sekarang saya menjadi pendek, dan membuat wajah saya
berubah seperti sekarang ini, tapi saya ga sombong ya dok ya, saya ga iri sama dokter, saya
takut masuk neraka jahanam.
D :Terus apa yang mba Memei lakukan ?
P :Saya berdoa kepada Sang Pencipta, agar saya dikembalikan seperti dulu dari ujung kepala
sampai ujung kaki. Berdoa agar mereka dilaknat oleh sang pencipta. Kenapa dokter Tanyatanya?
D : Mau tau, boleh kan?
P : Iya boleh
D : Mba Mememi sayang sama orang tua mba Memei ga ?
P : Sayang ya dok, sama orang tua kandung saya yang melahirkan saya dari rahimnya.
D : Mba memei anak keberapa dari berapa bersaudara ?
P : Saya anak terakhir dokter, saya punya satu orang kakak perempuan
D : Sayang ga sama kakanya mba Mei?
P : Sayang dokter, tapi sekarang udah ga tau kemana. Masih hidup ga ya?
D : Lho, emang ga tau masih hidup atau ngga?
11

P : Sebentar ya dok, saya inget-inget dulu. Kayanya udah meninggal deh dok, eh tapi ga tau
deh.
D : Mba Memei ada keinginan untuk menikah ga ?
P : Aslinya ya dokter, saya ingin menikah tapi dengan jodoh yang langsung dari sang
pencipta yang soleh dan solehah, yang baik dan budi pekertinya baik, yang ibadahnya rajin.
Tapi sang pencipta belum memberikan jodoh untuk saya.
D : Kalau boleh tau, sebenernya mba memei sudah pernah menikah atau belum?
P : Aslinya ya dok, saya pernah menikah, tapi waktu saya masih kecil. Sama laki-laki tua,
hitam, saya ga cinta dok, tapi dia yang membuat saya menjadi cinta menggunakan magic.
Saya diguna-guna supaya mau menikah dengan laki-laki tua itu.
D : Kalau tidur gimana biasanya? Nyenyak ga?
P :Alhamdulillah dokter, nyenyak
D :Mba Memei biasanya lebih seneng menyendiri, main kumpul sama yang lain atau gimana?
P : Saya sih pengennya ya kaya orang normal. Pingin punya temen, temen laki-laki, temen
perempuan, sahabat atau pacar yang tidak menjerumuskan saya, yang baik. Tapi itu ada yang
doa jahat ke saya biar saya sendiri seumur hidup. Saya ga suuzon dokter, emang nyatanya
begitu
D : Jadi mba Mei yakin bapak ibu itu bukan orang tua kandungnya?
P : Iya yakin. Lagian waktu kecil kan bapak ibu mukanya ga kaya gitu, kenapa sekarang kaya
gitu. Tapi dia ngaku saya anak dia tapi bapak itu setubuhin saya, terus bilang terang terangan
Mama sama bapak ga sayang sama kamu, kamu bukan anak kandung mama.
D : Iyau dah kalo gitu makasih ya Mba Mei, nanti kalo ada yang mau ditanya saya tanya lagi
ya, terimakasih
P : Iya dokter, sama-sama. Terimakasih kembali (senyum)

C. STATUS MENTAL
1.

Raut wajah

: Biasa

2. Pola pikir
a. Bentuk

: Autistik

b. Isi

: Wahan Curiga, ideas of reference

c. Jalan

: Flight of Idea, Magical thinking, Persevarasi

3. Gangguan persepsi
a. Auditorik

: ada

b. Visual

: tidak ada
12

4. Afek

: Appropriate

5. Mood

: Disforik

6. Perhatian

: Distraktibilitas (-)

7. Tingkah Laku

: Hipoaktif

8. Decorum

: Penampilan : rapi
Kebersihan

: bersih

Sopan santun : baik


9. Tilikan

: III

10. Taraf dapat dipercaya : Kurang dapat dipercaya

D. STATUS FISIK
1. Status Internus

Keadaan umum

: tampak sehat

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36 oC

Nadi

: 88 kali/menit

Pernafasan

: 18 kali/menit

2. Status Neurologi

Gangguan rangsang Meningeal : (-)

Mata

Gerakan

: Baik kesegala arah

Bentuk Pupil

: Bulat isokor

Reflek cahaya

: +/+ (langsung, tidak langsung)

Motorik

Tonus

: baik

Turgor

: baik

Kekuatan

: baik

Koordinasi

: baik

Refleks

: tidak dilakukan

13

E. PEMERIKSAAN MULTIAKSIS

Aksis I
F20.0 Skizofrenia Paranoid dengan Depresi dan Suicidal Behaviour
DD/ F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini manic dengan Gejala Psikotik

Aksis II
F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
Aksis III
Tidak ada gangguan. Dari pemeriksaan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien
tidak memiliki penyakit lain.

Aksis IV
Ditemukan adanya masalah hubungan percintaan (psikososial), masalah
ketidakpatuhan obat, dimana pasien tidak minum obat selama 1 bulan

Aksis V
GAF 51- 60 (gejala sedang, disabilitas sedang).

I.

RencanaTerapi
Rawat inap. Karena pasien datang ke RS Syamsudin dengan keadaan mengamuk,
tidak mau minum obat, dan menyalahkan orang lain.

Farmakoterapi
Haloperidol 5 mg, 3x1 tab
Trihexyphenidyl 2 mg, 3x1 tab
Chlorpromazine 100 mg, 1x1 tab
Depakote 250 mg 1x1 tab

Psikoterapi suportif

Psikoterapi persuasi : minum obat teratur dan kontrol kedokter.

Psikoterapi sugestif : meyakinkan pasien dengan tegas bahwa yang di


dengarnya tidak benar.

Psikoterapi bimbingan : memberi nasehat kepada pasien bahwa beribadah itu


penting karena dapat menenangkan pikiran dan jangan berburuk sangka
terhapat orang lain.

14

II.

Prognosis
Ad vitam :
Bonam karena pasien tidak mengalami kelainan fisik dan skizofrenia paranoid
tidak menyebabkan kecacatan fisik.

Ad functional :
Bonam karena pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Ad sanationam :
Dubia karena pada pasien ini stress yang menjadi kekambuhan nya diakibatkan
dari faktor luar, dan ketidakteraturan meminum obat, tekanan dari luar diri
individu dapat diminimalisir atau dihilangkan

15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Skizofrenia adalah gangguan mental atau kelompok gangguan yang ditandai oleh
kekacauan dalam bentuk dan isi pikiran (contohnya delusi atau halusinasi), dalam mood
(contohnya afek yang tidak sesuai), dalam perasaan dirinya dan hubungannya dengan dunia
luar serta dalam hal tingkah laku.2
Menurut DSM-IV, adapun klasifikasi untuk skizofenia ada 5 yakni subtipe paranoid,
terdisorganisasi (hebefrenik), katatonik, tidak tergolongkan dan residual. Untuk istilah
skizofrenia simpleks dalam DSM-IV adalah gangguan deterioratif sederhana.3 Sedangkan
menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia yang
ke-III skizofrenia dibagi ke dalam 6 subtipe yaitu katatonik, paranoid, hebefrenik, tak terinci
(undifferentiated), simpleks, residual dan depresi pasca skizofrenia. 4

2.2 Epidemiologi
Penelitian insiden pada gangguan yang relatif jarang terjadi, seperti skizofrenia, sulit
dilakukan. Survei telah dilakukan di berbagai negara, namun dan hampir semua hasil
menunjukkan tingkat insiden per tahun skizofrenia pada orang dewasa dalam rentang yang
sempit berkisar antara 0,1 dan 0,4 per 1000 penduduk. Ini merupakan temuan utama dari
penelitian di 10-negara yang dilakukan oleh WHO. Untuk prevalensi atau insiden skizofrenia
di Indonesia belum ditentukan sampai sekarang, begitu juga untuk tiap-tiap subtipe
skizofrenia.5
Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan perbedaan
dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang lebih awal daripada
perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun, sedangkan
perempuan 25 sampai 35 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki adalah
lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif dan wanita lebih mungkin
memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk
pasien skizofrenik wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia lakilaki.
Skizofrenia tidak terdistribusi rata secara geografis di seluruh dunia. Secara historis,
prevalensi skizofrenia di Timur Laut dan Barat Amerika Serikat adalah lebih tinggi dari
daerah lainnya.3
16

2.3 Etiologi
Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun berbagai
teori telah berkembang seperti model diastesis-stres dan hipotesis dopamin. Model diastesis
stres merupakan satu model yang mengintegrasikan faktor biologis, psikososial dan
lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang yang mungkin memiliki suatu
kerentanan spesifik (diastesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang
menimbulkan stres, memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia. Komponen lingkungan
dapat biologis (seperti infeksi) atau psikologis (seperti situasi keluarga yang penuh
ketegangan).
Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya
aktivitas dopaminergik. Teori tersebut muncul dari dua pengamatan. Pertama, kecuali untuk
klozapin, khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan dengan kemampuannya untuk
bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik tipe 2. Kedua, obat-obatan yang
meningkatkan

aktivitas

dopaminergik

(seperti

amfetamin)

merupakan

salah

satu

psikotomimetik. Namun belum jelas apakah hiperaktivitas dopamin ini karena terlalu
banyaknya pelepasan dopamin atau terlalu banyaknya reseptor dopamin atau kombinasi
kedua mekanisme tersebut. Namun ada dua masalah mengenai hipotesa ini, dimana
hiperaktivitas dopamin adalah tidak khas untuk skizofrenia karena antagonis dopamin efektif
dalam mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien teragitasi berat. Kedua, beberapa
data elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin meningkatkan
kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan obat
antipsikotik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien skizofrenia
mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik.3
Skizofrenia berdasarkan teori dopamin terdiri dari empat jalur dopamin yaitu:
1.

Mesolimbik dopamin pathways: merupakan hipotesis terjadinya gejala positif pada


penderita skizofrenia. Mesolimbik dopamin pathways memproyeksikan badan sel
dopaminergik ke bagian ventral tegmentum area (VTA) di batang otak kemudian ke
nukleus akumbens di daerah limbik. Jalur ini berperan penting pada emosional, perilaku
khususnya halusinasi pendengaran, waham dan gangguan pikiran. Antipsikotik bekerja
melalui blokade reseptor dopamin ksususnya reseptor dopamin D2. Hipotesis hiperaktif
mesolimbik dopamin pathways menyebabkan gejala positif meningkat.

2.

Mesokortikal dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah VTA ke daerah serebral
korteks khususnya korteks limbik. Peranan mesokortikal dopamin pathways adalah
sebagai mediasi dari gejala negatif dan kognitif pada penderita skizofrenia. Gejala
17

negatif dan kognitif disebabkan terjadinya penurunan dopamin di jalur mesokortikal


terutama pada daerah dorsolateral prefrontal korteks. Penurunan dopamin di
mesokortikal dopamin pathways dapat terjadi secara primer dan sekunder. Penurunan
sekunder terjadi melalui inhibisi dopamin yang berlebihan pada jalur ini atau melalui
blokade antipsikotik terhadap reseptor D2. Peningkatan dopamin pada mesokortikal dapat
memperbaiki gejala negatif atau mungkin gejala kognitif.
3.

Nigostriatal dopamin pathways: berjalan dari daerah substansia nigra pada batang otak
ke daerah basal ganglia atau striatum. Jalur ini merupakan bagian dari sistem saraf
ekstrapiramidal. Penurunan dopamin di nigostriatal dopamin pathways dapat
menyebabkan gangguan pergerakan seperti yang ditemukan pada penyakit parkinson
yaitu rigiditas, bradikinesia dan tremor. Namun hiperaktif atau peningkatan dopamin di
jalur ini yang mendasari terjadinya gangguan pergerakan hiperkinetik seperti korea,
diskinesia atau tik.

4.

Tuberoinfundibular dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah hipotalamus ke


hipofisis anterior. Dalam keadaan normal tuberoinfundibular dopamin pathways
mempengaruhi oleh inhibisi dan penglepasan aktif prolaktin, dimana dopamin berfungsi
melepaskan inhibitor pelepasan prolaktin. Sehingga jika ada gangguan dari jalur ini
akibat lesi atau penggunaan obat antipsikotik, maka akan terjadi peningkatan prolaktin
yang dilepas sehingga menimbulkan galaktorea, amenorea atau disfungsi seksual.4

Selain dopamin, neurotransmiter lainnya juga tidak ketinggalan diteliti mengenai


hubungannya dengan skizofrenia. Serotonin contohnya, karena obat antipsikotik atipikal
mempunyai aktivitas dengan serotonin. Selain itu, beberapa peneliti melaporkan pemberian
antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas noradrenergik.3

2.4 Gejala dan Diagnosis


Gejala dari skizofrenia paranoid berupa gejala positif dan negatif dari skizofrenia
yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang
menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi
pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata,
modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.5 Gejala
waham dan halusinasi dapat muncul dan terutama waham curiganya.3
Terlebih dahulu akan dibahas mengenai penegakan diagnosa skizofrenia. Adapun
menurut DSM-IV sebagai berikut:
18

A. Gejala Karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi)
4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5) Gejala negatif yaitu pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan (avolition)
Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau pikiran
pasien atau dua lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya.
B. Disfungsi sosial/pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan,
satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan
diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa
anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal,
akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
C. Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Pada 6
bulan tersebut, harus termasuk 1 bulan fase aktif (yang memperlihatkan gejala kriteria A)
dan mungkin termasuk gejala prodormal atau residual.
D. Penyingkiran gangguan skizoafektif atau gangguan mood: gangguan skizoafektif atau
gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada episode
depresif berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama gejala fase aktif
atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya relatif
singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E. Penyingkiran zat/kondisi medis umum
F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif 3
Sedangkan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di
Indonesia yang ke-III sebagai berikut:

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas):

a) thought eco = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan walaupun isinya sama tapi kualitasnya
berbeda.

19

thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal); dan
thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar, atau
delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar
delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya secara jelas merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau pikiran, tindakan atau penginderaan khusus);
delusion perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
c) Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilkau pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara) atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh pasien
d) Waham-waham menetap lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar
dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau
kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa

2.5 Diagnosa Banding


Skizofrenia residual merupakan salah satu diagnosa banding dari skizofrenia paranoid.
PPDGJ-III memberikan pedoman diagnostik untuk skizofrenia residual yakni harus
memenuhi semua kriteria dibawah ini untuk suatu diagnosis yang meyakinkan:
a. Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik,
aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan
dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam
ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja
sosial yang buruk.
b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosis skizofrenia.
20

c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.5

2.6 Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia.
Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada pasien. Pada
skizofrenia paranoid, gejala positif lebih menonjol, maka adapun pengobatan yang
disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan tipikal (CPZ, HLP).4
Obat Risperidon adalah suatu obat antipsikotik dengan aktivitas antagonis yang
bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan pada reseptor dopamin tipe 2 serta
antihistamin (H1). Menurut data penelitian, obat ini efektif mengobati gejala positif maupun
negatif.3 Risperidon senyawa antidopaminergik yang jauh lebih kuat, berbeda dengan
klozapin, sehingga dapat menginduksi gejala ekstrapiramidal juga hiperprolaktinemia yang
menonjol. Meskipun demikian, risperidon dianggap senyawa antipsikotik atipikal secara
kuantitatif karena efek samping neurologis ekstrapiramidalnya kecil pada dosis harian yang
rendah.7
Klozapin termasuk obat antipsikotik atipikal yang juga mempunyai aktivitas antagonis
yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan antagonis lemah pada reseptor
dopamin tipe 2 juga bersifat antihistamin (H1). Efek samping berupa gejala ekstrapiramidal
sangat minimal, namun mempunyai sifat antagonis -1 adrenergik yang bisa menimbulkan
hipotensi ortostatik dan sedatif. Selain itu, dilaporkan terjadinya agranulositosis dengan
insiden 1-2% ditambah harganya yang mahal. Klozapin adalah obat lini kedua yang jelas bagi
pasien yang tidak berespon terhadap obat lain yang sekarang ini tersedia.
Selain terapi obat-obatan, juga bisa diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari terapi
perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, psikoterapi individual. Terapi
perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan
kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi
interpersonal. Perilaku adaptif didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk
hal-hal yang diharapkan sehingga frekuensi maladaptif atau menyimpang dapat diturunkan.
Terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. Pusat dari
terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi
yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Setelah pemulangan, topik penting yang dibahas
di dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya.
21

Selanjutnya diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi menurunkan stres dan
mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.
Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam
kehidupan nyata. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan
rasa persatuan dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia.
Psikoterapi individual membantu menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep
penting didalam psikoterapi adalah perkembangan hubungan terapeutik yang dialami psien
adalah aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak
emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang
diinterpretasikan oleh pasien. Ahli psikoterapi sering kali memberikan interpretasi yang
terlalu cepat terhadap pasien skizofrenia. psikoterapi untuk seorang pasien skizofrenia harus
dimengerti dalam hitungan dekade, bukannya sesi, bulanan, atau bahkan tahunan. Di dalam
konteks hubungan profesional, fleksibilitas adalah penting dalam menegakkan hubungan
kerja dengan pasien. Ahli terapi mungkin akan makan bersama, atau mengingat ulang tahun
pasien. Tujuan utama adalah untuk menyampaikan gagasan bahwa ahli terapi dapat
dipercaya, ingin memahami pasien dan akan coba melakukannya dan memiliki kepercayaan
tentang kemampuan pasien sebagai manusia. Mandred Bleuler menyatakan bahwa sikap
terapeutik terhadap pasien adalah dengan menerima mereka bukannya mengamati mereka
sebagai orang yang tidak dapat dipahami dan berbeda dari ahli terapi.3

2.7 Prognosis
Prognosis tidak berhubungan dengan tipe apa yang dialami seseorang. Perbedaan
prognosis paling baik dilakukan dengan melihat pada prediktor prognosis spesifik di Tabel
2.13.

Prognosis Baik

Prognosis Buruk

Onset lambat

Onset muda

Faktor pencetus yang jelas

Tidak ada faktor pencetus

Onset akut

Onset tidak jelas

Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan
pramorbid yang baik

pramorbid yang buruk

22

Gejala

gangguan

mood

(terutama Perilaku menarik diri, autistik

gangguan depresif)
Gejala positif

Gejala negatif

Riwayat keluarga gangguan mood

Riwayat keluarga skizofrenia

Sistem pendukung yang baik

Sistem pendukung yang buruk


Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma prenatal
Tidak ada remisi dalam 3 tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan

Walaupun skizofrenia bukanlah penyakit yang fatal, namun rata-rata kematian orang
yang menderita skizofrenia dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.
Tingginya angka kematian berkaitan dengan kondisi buruk di institusi perawatan yang
berkepanjangan yang menyebabkan tingginya angka Tuberkulosis dan penyakit menular
lainnya. Namun, penelitian baru-baru ini pada orang-orang skizofrenia yang hidup dalam
masyarakat, menunjukkan bunuh diri dan kecelakaan lain sebagai penyebab utama kematian
di negara berkembang maupun negara-negara maju. Bunuh diri, khususnya, telah
muncul sebagai masalah yang mekhawatirkan, karena risiko bunuh diri pada orang dengan
gangguan skizofrenia selama hidupnya telah diperkirakan di atas 10%, sekitar 12 kali lebih
tinggi dari populasi umum. Sepertinya ada sebuah peningkatan mortalitas untuk gangguan
kardiovaskular juga, mungkin terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat, pembatasan akses
perawatan kesehatan atau efek samping obat antipsikotik

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta; BagianIlmu


Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007.

2. Kumala, Poppy dkk. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. EGC. Jakarta:1998. 970

3. Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J., dan Grebb, Jack A. Sinopsis Psikiatri, Jilid I.
Binarupa Aksara. Tangerang: 2010. 699-702, 720-727, 737-740

4. Syamsulhadi dan Lumbantobing. Skizofrenia. FK UI. Jakarta: 2007.26-34

5. Maslim, Rusdi.Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ- III. FK Unika
Atmajaya. Jakarta:2001. 46, 50

6. Goodman dan Gilman. Dasar Farmakologi Terapi Vol.I. EGC. Jakarta:2007.475,480 &
482

24