Anda di halaman 1dari 50

BAB

Postmatur

Kehamilan

Pengertian

Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu, antara lain kehamilan memanjang, kehamilan lewat
bulan,

kehamilan

postterm,

dan

pascamaturitas.

Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas,
yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi
terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak
menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. ( Varney
Helen,2007)
Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin
banyak digunakan. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini,
Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah- ubah. Meskipun
insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah, beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar
induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu
berdasarkan

hitungan

dengan

USG.

Akibatnya

induksi

yang

menjadi

bersifat

relatif.
Etiologi

Etiologinya msih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak
cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin
berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin.
Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan
kehamilan

lewat

waktu.

Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42
minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri
spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan
tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%.Volume air
ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang
tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum,
55%

C.

intrapartum,

15%

postpartum

Prognosis

Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka
mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Namun kurang lebih 18 %
kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada
populasi

dan

kriteria

yang

digunakan.

Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk
menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan.Jika Tp telah ditentukan pada trimester
terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan.Data yang terkumpul sering menunjukkan
peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu.
Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan
yang

paling

tepat

guna

mencegah

kematian

tersebut.

(Varney,

Helen,

2007)

Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10,4 12%. Apabila diambil batas waktu
43

minggu

frekuensinya

adalah

3,4

-4%

Mochtar,Rustam,1998)

Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA
daripada AGA lewat bulan. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal
untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio
10,5 pada lahir post term. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat
mengubah hasil positif yang diingunkan, angka penatalaksanaan anestesia epidural, persalinan sesar,
dan

mortalitas.

Pengaruh

terhadap

Ibu

dan

Janin

Terhadap

Ibu

Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Janin
besar (c) Moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia
uteri, distosia bahu dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan
mortalitas.

Terhadap

janin

Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu
karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin
bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah
kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.

D
1.

.
Bila

HPHT

dicatat

Pemeriksaan
dan

diketahui

wanita

hamil,

Penunjang
diagnosis

tidak

sukar.

2. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Hanya dengan pemeriksaan antenatal
yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis.
3. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur,
baguan
4.

proksimal

USG

tibia,

ukuran

tulang

diameter

kuboid

biparietal,

diameter
gerkan

biparietal

janin

dan

9,8

jumlah

atau
air

lebih.
ketuban.

5. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal
maupun transabdominal, kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin
setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat
biru

Nil,

maka

sel

sel

yang

mengandung

lemak

akan

berwarna

jingga.

Melebihi

10%

kehamilan

diatas

36

minggu

Melebihi

50%

kehamilan

diatas

39

minggu

6. Amnioskopi, melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurt warnanya karena dikeruhi mekonium.
7. Kardiotografi, mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plase
8. Uji oksitosin ( stress test), yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap
kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam
kandungan.
9.
10.

Pemeriksaan

kadar

Pemeriksaan

11.

estriol

pH

darah

Pemeriksaan

urin

kepala

janin

sitoloi

Dua

dalam

vagina

Penatalaksanaan
prinsip

Medis

pemikiran

1. Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan


intervensi

jika

hanya

terdapat

indikasi.

2. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42
minggu.

dengan

pertimbangan

kondisi

janin

yang

cukup

baik

optimal.

Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif, antara
lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop), perkiraan berat badan janin ( dengan manuver
leopot, sonogram, atau keduanya) , kesejahteraan janin, pilihan wanita yang bersanngkutan, volume
cairan amnion, riwayat kebidanan sebelumnya, status medis ibu, dan metode induksi sesuai
pertimbangan. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin, karena term yang

berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu.
Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang
digunakan

dalam

menentukan

usia

kehamilan.

Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan
medis yang mengancam ibu dan janin. Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan
seksio sesaria merupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini.
Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko
dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut. Secara umum metode induksi yang paling
efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus.
Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan
anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai
41

minggu

dan

taksiran

berat

jain

3800

gram

atau

lebih.

Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin, seksio sesaria, infeksi dan
perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan
resiko lahir mati, cairan bercampur, mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus, distosia
bahu

jika

Indikasi
a.

untuk

Hasil

janin

induksi

uji

persalinan

janin

meragukan

makrosomia.

mencakup
(

skor

hal

profil

biosfik

b.

hal

rendah)

Oligohidramnion.

c.

Preeklamsi

yang

cukup

d.

parah

menjelah

cukup

Diabetes

e.

IUGR

f.

dependent

menjelang

Riwayat

lahir

usia

mati

bulan

pada

cukup
kehamilan

cukup

bulan
bulan.

Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu
1.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu)
2. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan, dokumentasikan
rencana

yang

disepakati

40+

minggu)

3. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test, NST) dua kali dalam seminggu, yang dimulai saat
kemilan

berusia

41

minggu

dan

berlanjut

hingga

persalinan.

4. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume, APV) dua kali dalam seminggu,
yang

dimulai

saat

kehamilan

berusia

41

minggu

dan

berlanjut

hingga

persalinan.

5. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif
atau

APV

yang

randah.

6. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai
penanganan

aktif

Penatalaksanaan

aktif

mengacu

pada

kehamilan

leat

pada

bulan

protokol.

Induksi

persalinan

Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan.
Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat
meningkatkan bahaya. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak
adanya standardisai kriteria, praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir.
Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist, hasil yang diharapkan dari induksi
persalinan adalah ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum
persalinan spontan terjadi. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi
uterus, namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus.
Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun
1970-an. Pengaturan dosis, dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga
kini

masih

dalam

penelitian,

Untuk menghasilkan persalinan yang aman, keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang
dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin, dan prostaglandin
terbukti

lebih

efektif

sebagai

agens

yang

mematangkan

seriks

dibanding

oksitosin.

Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak, stimulasi
payudara, peregangan servik secara mekanis), memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau
sedikit

penelitian
Metode

untuk
hormon

menguatkan
untuk

induksi

rekomendasinya.
persalinan

1. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ).
Dengan

catatan

servik

sudah

matang.

2. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin
namun

kombinasi

keduanya

menunjukkan

hal

yang

a.

positif.
Misprostol

1) Merk dagang cytotec. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA
untuk

mencegah

ulkus

peptikum,

bukan

untuk

induksi)

b.

Dinoproston

1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2, tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina (
disetujui

FDA

untuk

induksi

persalinan

pada

tahun

1995)

2) Merk dagang predipil. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0,5 mg deng
diberika

intraservik

disetujui

FDA

untuk

induksi

persalinan

pada

tahun

1993)

3. Mifepriston 9 RU 486, antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester
pertama, bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral.

Metode

1.

non

hormon

Induksi

Pemisahan

persalinan
ketuban

Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan
membran amnion dari bagian servik yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat
pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk
menentukan penipisan serviks, pembukaan dan posisi lazimnya. Perawatan dilakukanan untuk
memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam
mungkin melalui os interna, melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah
dan membaran. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72
jam. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu.
Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan
dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada
kasus kasus servisitis, plasenta letak rendah, maupun plasenta previa, posisi yang tidak diketahui,
atau

perdarahan

pervaginam

yang

tidak

2.

diketahui.
Amniotomi

Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti
untuk mengkaji penipisan servik, pembukaanm posisi,, dan letak bagian bawah. Presentasi selain
kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun, atau
bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk
menginduksi persalinan, namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat
yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik
amniotomi
3.

ini.
Pompa

Payudara

dan

stimulasi

puting.

Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi

kehamilan dan persalinan. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat
dengan

metode

kompres

hangat

selama

4.

jam

sebanyak

kali

Minyak

perhari.
jarak

Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan
angka

kejadian

5.

persalinan

Kateter

spontan

jika

forey

diberikan

pada

atau

kehamilan

cukup

Kateter

bulan.
balon.

Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter
untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini
sangat

efektif.

6.

Aktifitas

seksual.

Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan,
protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian, wakru, dosis, dan langkah
kewaspadaan. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi, bidan dianjurkan mendokumentasikan
secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. Bidan maupun wanita
harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat
bulan. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan
resep, dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat
bulan.

F.

Diagnosis

bayi

postmatur

pascapersalinan

Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan, dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang


dapat

dibagi

dalam

stadium

1. stadium I : kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas (maserasi), verniks kaseosa sangat
sedikit

sampai

tidak

ada.

2. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh
mekoneum

yang

bercampur

air

ketuban.

3. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali
pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan
mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir
harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.

G.

Komplikasi

Kemungkinan

komplikasi

pada

bayi

postmaturhipoksia

-hipovolemia
-

asidosis

-sindrom

gawat

napas

-hipoglikemia
-hipofungsi

adrenal.

I.

Dx

Ansietas

Nyeri

Deficit

b/d
b/d
pengetahuan

II

mekonium

Kemungkinan

kelahiran

operasi
(keluarga)

sectio
tentang

komplikasi

lama
caesarea

perawatan

Bayi

integritas
b/d

Kehamilan

proses

Dx

Kerusakan
Sianosis

PostMatur

infant
Postmatur

kulit

b/d

telah

bercampur

pada

bayi

maserasi
air

ketuban

postmaturhipoksia:

-hipovolemia
-

asidosis

-sindrom

gawat

napas

-hipoglikemia
-hipofungsi

adrenal.

DAFTAR

Cunningham,
Mochtar,

PUSTAKA

Gary,

dkk.2006.

Rustam.1998,

Obstetri
Sinopsis

William

ed.21.

Obstetri.

Jakarta.EGC
Jakarta.EGC

Prawiroharjo, Sarwono.2003. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Varney,

Helen

Dkk.2007,

Buku

Ajar

Asuhan

Kebidanan

ed.4

vo1.

Jakarta.EGC

Manuaba, Ida Bagus Gede. 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.Jakarta. Arcan

ASUHAN

KEPERAWATAN

I.

BAYI

DENGAN

POST

MATUR

KONSEP

DASAR.

1.

Definisi

Bayi Post Term adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42 minggu, dihitung dari hari
pertama

haid

terakhir

tanpa

memperdulikan

berat

badan

bayi

pada

waktu

2.

lahir.

Etiologi.

Penyebab terjadinya post term tidak diketahui. Pada umumnya sering dianggap bahwa penyebab post
term adalah tidak pekanya uterus terhadap oksitoksin. Penyebab lain yang dikemukakan ialah faktor
herediter karena lewat waktu tidak jarang terjadi pada suatu keluarga tertentu dan mempunyai
kecendrungan

untuk

3.

pada

wanita

Tanda

Tanda
-

terulang

dan

Kurus,

Verniks

Tali

bayi

seperti

kaseosa

tua,

lanugo
layu

agak

Gejala.

post

orang

dan

pusat

Kulit

sama.

dan

gejala

nampak

yang

matur
karena

atau

berwarna

pucat

Kadang

kulit

berkurang
dan

adalah

dengan
disertai

yang

:
keriput.

menghilang.
kekuningan.
deskuamasi.
asfiksia.

4.

Prognosis.

Kalau persalinan terlambat 3 minggu atau lebih dari usia aterm, maka terdapat peningkatan angka
kematian

yang

cukup

berarti

5.
-

Komplikasi
Suhu

yang

tidak

stabil.

Hipoglikemi.

Polisitemia.

Kelainan

neurogenik.

6.

Penanganan.

Pemantauan obstetrik yang teliti termasuk non stres testing/OCT (oxytocin Challenge Test) biasanya
dapat memberikan landasan rasional untuk melakukan pilihan antara persalinan tanpa intervensi
persalinan

yang

di

induksi

atau

melakukan

sectio

II.

caesaria.

PENGKAJIAN

1.

Identitas

bayi

2.

ibu.

Riwayat

a.

penyakit.

Riwayat

penyakit

sekarang.

Bayi lahir dengan usia kehamilan ibu lebih dari 42 minggu dan tidak merasakan adanya tanda-tanda
bayi

mau

b.

lahir.

Riwayat

penyakit

dahulu.

Kemungkinan ibu pernah mengalami kehamilan lama seperti yang dialami sekarang, riwayat haid ibu,
penyakit

yang

diderita

c.
Apakah

ibu

berkaitan

Riwayat
ada

dalam

dengan

keluarga

yang

pernah

keluarga.

melahirkan

bayi

Pengkajian
Respirasi

kehamilannya.

penyakit

3.
-

yang

post

term.

fisik.

bisa

terjadi

asfiksia.

- Kulit : berkeriput, pucat disertai deskuamasi, verniks kaseosa dan lanugo berkurang.
-

4.

Nutrisi

Diagnosa

kurus,

keperawatan

tampak

yang

kurang

sering

gizi.

muncul

a. Asfiksia berhubungan dengan penurunan fungsi respirasi (plasenta bertambah umur) ditandai
dengan pernafasan tachipnoe, nilai apgar score kurang dari 6, denyut jantung janin kurang dari 100
x/menit

atau

lebih

dari

160

x/menit.

Tujuan : bayi tidak mengalami asfiksia dengan kriteria nilai apgar score normal (lebih dari 6), nafas
normal

antara

100

160

x/menit.

Intervensi

Lakukan

Usahakan

resusitasi

setelah

dipusatkan

bayi

pada

baru

lahir

bila

pembersihan

jalan

nafas

terdapat

asfiksia.

sedini

mungkin.

- Usahakan agar tubuh bayi konstan dengan mengeringkan tubuh bayi dan memberikan selimut kalau
perlu

menggunakan

Tentukan

pemanas

apgar

(lampu).

score

menit.

a. Kekurangan gizi berhubungan dengan penurunan fungsi plasenta dalam memenuhi nutrisi ditandai
dengan

berat

badan

kurang

dari

2500

gram

dan

tampak

kurang

gizi.

Tujuan : Berat badan bayi normal atau bertambah sesuai dengan tahap tumbuh kembang bayi.
Rencana

Intervensi

Beri

Berikan
Anjurkan

PASI
kepada

Asi
bila
ibu

asi
untuk

yang

tidak
banyak

mencukupi
memakan

adekuat

kebutuhan

makanan

yang

nutrisi

bayi.

mengandung

gizi.

Daftar

Pustaka

Wiknjosastro, Hanifa. Prof. Dr. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Cetakan Kedua. Penerbit Yayasan Bina
Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo.

Jakarta.

1992

Martodipoero, Soebagjo. Dr. Perawatan Ibu Di Pusat Kesehatan Masyarakat. Depkes RI - Pusat
Penelitian

Dan

Pengembangan

Pelayanan

Kesehatan.

Surabaya.

1977

Jaffe, Marrie, etc. Maternal Infant Health Care Plans. Spring House Corporation, Pennsylvania. 1989

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI


POST MATUR
13.03 |
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dari survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI) dan data biro pusat statistik
(BPS), angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515
ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi
kehamilan dan persalinannya (dr. Nugraha, 2007)
Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai
usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri. Pelayanan kesehatan tersebut
dinyatakan sebagai bagian integeral dari pelayanan dasar yang akan terjangkau seluruh
masyarakat. Kegagalan dalam penangan kasus kedaruratan obstetri pada umumnya
disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal resiko kehamilan, keterlambatan rujukan,
kurangnya sarana yang memadai untuk perawatan ibu hamil dengan resiko tinggi maupun
pengetahuan tenaga medis, paramedis, dan penderita dalam mengenal kehamilan resiko
tinggi (krt) secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi ekonomi
(Syamsul, 2003).
Ada lima aspek dasar atau lima benang merah, yang paling penting dan saling terkait
dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap
persalinan baik normal maupun patologis. Lima benang merah tersebut adalah membuat
keputusan klinik, asuhan sayang ibu dan sayang bayi, pencegahan infeksi, pencetakan (rekam
medik) asuhan persalinan dan rujukan (asuhan persalinan normal, 2002).
Kasus-kasus yang harus dirujuk bidan adalah riwayat bedah sesar, perdarahan
pervaginam, persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu), ketuban pecah
disertai dengan mekonium yang kental, ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam), ketuban
pecah pada persalinan kurang bulan (kehamilan kurang dari 37 minggu), ikterus, anemia
berat, tanda gejala infeksi, pre-eklampsia /hipertensi dalam kehamilan, tinggi fundus 40 cm
/lebih, gawat janin, primipara dalam fase aktif kala I persalinan dan kepala janin masih 5/5,
persentasi bukan belakang kepala, persentasi ganda (majemuk), kehamilan ganda atau
gemelli, tali pusat menumbung dan syok (asuhan persalinan normal, 2007).membuat
keputusan klinik dihasilkan melalui serangkaian proses dan menggunakan informasi dari
hasil dan dipadukan dengan kajian teoritis dan interpensi berdasarkan bukti pengalaman yang
dikembangkan melalui berbagai tahapan dan terfokus pada pasien (varney,1997).

Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena
angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Namun kurang
lebih 18% kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu
bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan.
Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin
untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika tapi telah ditentukan
pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. D ata yang
terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia
kehamilan lebih dari 40 minggu.

1.2 TUJUAN PENULISAN


Penyusunan makalah ini bertujuan antara lain :
1.

Sebagai bahan acuan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan mengenai asuhan


keperawatan bayi dan ibu dengan persalinan postmatur

2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Apa definisi bayi postmatur ?
2. Bagaimana etiologi postmatur ?
3. Bagaimana patofisiologi postmatur ?
4. Apa saja manifestasi klinis persalinan postmatur bagi ibu dan bayi ?
5. Bagaimana progonosis persalinann postmatur ?
6. Apa saja komplikasi dari kelahiran postmatur ?
7. Bagaimana penanganan persalinan postmatur ?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang pada postmatur ?
9. Bagaimana penatalaksanaan postmatur ?
1.4 METODE PENULISAN

Metode yang dipakai penulis dalam penyusunan makalah ini adalah dengan cara
pengumpulan data dengan kategorisasi dan klasifikasi tertulis yang berhubungan dengan
makalah yang brsumbr dari e-book dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN DAN ISI

2.1 DEFINISI
Bayi Post Term adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42 minggu,
dihitung dari hari pertama haid terakhir tanpa memperdulikan berat badan bayi pada waktu
lahir.
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah
melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi.
(Buku Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450). Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi
antepartum, harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi
neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG
yang makin banyak digunakan. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum
diketahui hingga kini, dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih
berubah-ubah. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah, beberapa studi
menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan

lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Akibatnya
induksi yang menjadi bersifat relative.

2.2 ETIOLOGI.
Penyebab kelahiran post term Pada umumnya sering dianggap bahwa penyebab post
term adalah tidak pekanya uterus terhadap oksitoksin. Penyebab lain yang dikemukakan
ialah faktor herediter karena lewat waktu tidak jarang terjadi pada suatu keluarga tertentu
dan mempunyai kecendrungan untuk terulang pada wanita yang sama.
Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang
pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007).
Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10,4 12%. Apabila diambil
batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3,4 -4% (Ochtar,Rustam,1998).
Etiologi pada kelahiran lewat bulan ini masih belum pasti. Namun ada factor yang
diduga bayi lahir lewat bulan atau postmatur, yang dikemukakan adalah faktor hormonal
yaitu kadar progesterone, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.

2.3 PATOFISIOLOGI
Faktor hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah
cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam,
1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air
ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.
Etiologi menurut Nwosu dkk faktor-faktor yang menyebabkan post matur stress,
sehingga tidak timbulnya his kurangnya air ketuban dan Insufisiensi plasenta ( ilmu
Kebidanan: hal.318)
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun
setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi
juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan
nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang
sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaankeadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada
bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum.

2.4 MANIFESTASI KLINIS


Pengaruh terhadap Ibu dan Janin :
1. Terhadap Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena :
a.

Aksi uterus tidak terkoordinir.

b. Janin besar.
c.

Moulding kepala kurang.

Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan
perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.
2. Terhadap janin
Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dari
kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh
postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan
ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian
janin dalam kandungan.
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas
lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas
lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian
telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur
tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah
persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak
yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan
hidup mengalami kerusakan otak
Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing
belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10% kehamilan
antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33% pada 44 minggu. Oligohidramnion
yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.

2.5 PROGNOSIS.
Kalau persalinan terlambat 3 minggu atau lebih dari usia aterm, maka terdapat peningkatan
angka kematian yang cukup berarti. Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan

bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat
setelah usia 40 minggu. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41
minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang
digunakan.
Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin
untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan.Jika Tp telah ditentukan
pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan.Data yang
terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia
kehamilan

lebih

dari

40

minggu.

Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang
pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007)
Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10,4 12%. Apabila diambil
batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3,4 -4% ( Mochtar,Rustam,1998)
Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau
bayi SGA daripada AGA lewat bulan. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk
kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. Namun
bagi SGA mempunyai odds ratio 10,5 pada lahir post term. Penatalaksanaaan aktif pada bagi
AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan, angka
penatalaksanaan anestesia epidural, persalinan sesar, dan mortalitas.
2.6 KOMPLIKASI
1. Suhu yang tidak stabil.
2. Hipoglikemi.
3. Polisitemia.
4. Kelainan neurogenik.
5. Terhadap ibu persalinan serotinus dapat menyebabkan distosia dikarenakan oleh:
a.

Aksi uterus yang tidak terkoordinir dikarenakan kadar progesteron yang tidak turun
pada kehamilan serotinus maka kepekaan terhadap oksitosin berkurang sehingga
estrogen tidak cukup untuk menyediakan prostaglandin yang berperan terhadap
penipisan serviks dan kontraksi uterus sehingga sering didapatkan aksi uterus yang
tidak terkoordinir.

b.

Janin besar oleh karena pertumbuhan janin yang terus berlangsung dan dapat
menimbulkan CPD dengan derajat yang mengakhawatirkan akibatnya persalinan
tidak dapat berlangsung secara normal, maka sering dijumpai persalinan lama, inersia
uteri, distosia bahu dan perdarahan post partum.

6. Terhadap janin
fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 28 minggu kemudian mulai
menurun terurtama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan
kadarestriol kadar plasenta dan estrogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan
peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko tiga kali. Akibat dari proses penuaan
plasenta maka pasokan makanan dan oksigen akan menurun disamping dengan adanya
spasme arteri spiralis. Janin akan mengalami pertumbuhan terhambat dan penurunan
berat dalam hal ini dapat disebut dismatur. Sirkulasi utero plasenter akan berkuarang
50% menjadi 250 mm/menit. Kematian janin akibat kehamilan serotinus terjadi pada 30
% sebelum persalinan, 50% dalam persalinan dan 15% dalam postnatal. Penyebab utama
kematian perinatal adalah hipoksia dan aspirasi mekonium. Tanda-tanda partus postterm
dibagi menjadi tiga stadium:
a.

Stadium I : kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit
kering, rapuh dan mudah mengelupas.

b.

Stadium II : gejala pada stadium satu ditambah dengan pewarnaan mekonium


(kehijauan pada kulit).

c.

Stadium III : pewarnaan kekeuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.

Pada kasus yang lain biasanya terjadi insufisiensi plasenta. Dimana plasenta, baik secara
anatomis maupun fisiologis tidak mampu memberikan makanan dan oksigen kepada fetus
untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan secara norma. Hal ini dapat
menyebabkan kematian janin dalam kandungan. Volume cairan amnion akan meningkat
sesuai dengan bertambahnya kehamilan. Pada kehamilan cukup bulan cairan amnion
1000-1500 ml, warna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, amis, dan agak
manis, cairan ini mengandung sekitar 98% air. Sisanya terdiri dari garam organik dan
anorganik yaitu rambut lanugo (rambut halus yang berasal dari bayi), sel-sel epitel dan
forniks kaseosa (lemak yang meliputi kulit bayi.

Produksi cairan amnion sangat dipengaruhi fungsi plasenta. Pada kehamilan serotinus
fungsi plasenta akan menurun sehingga akibatnya produksi cairan amnion juga akan
berkurang. Dengan jumlah cairan amnion dibawah 400 ml pada umur kehamilan 40
minggu atau lebih mempunyai hubungan dengan komplikasi janin. Ini dikaitkan dengan
fungsi cairan amnion yaitu melindungi janin terhadap trauma dari luar, memungkinkan
janin bergerak bebas, melindungi suhu janin, meratakan tekanan di dalam uterus pada
partus sehingga serviks membuka, membersihkan jalan lahir pada permulaan partus kala
II. Dengan adanya oligohidramnion maka tekanan pada uterus tidak sempurna, sehingga
terkadang disertai kompresi tali pusat dan menimbulkan gawat janin. Janin menjadi stress
kemudian mengeluarkan mekonium yang akan mencemari cairan ketuban, sehingga tak
jarang terjadi aspirasi mekonium yang kental.

2.7 PENANGANAN.
Pemantauan obstetrik yang teliti termasuk non stres testing/OCT (oxytocin Challenge
Test) biasanya dapat memberikan landasan rasional untuk melakukan pilihan antara
persalinan tanpa intervensi persalinan yang di induksi atau melakukan sectio caesaria

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar.
2. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Hanya dengan pemeriksaan antenatal
yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan
diagnosis.
3. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat penulangan pada bagian distal femur, bagian
proksimal tibia, tulang kuboid diameter biparietal 9,8 atau lebih.
4. USG : ukuran diameter biparietal, gerkan janin dan jumlah air ketuban.
5. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabil dengan amniosenteris baik transvaginal
maupun transabdominal, kulit ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin
setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan
sulfat biru Nil, maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga
a.

Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu.

b. Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu.

6.

Amnioskopi, melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurt warnanya karena dikeruhi
mekonium.

7. Kardiotografi, mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plase.
8. Uji oksitosin ( stress test), yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap
kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya
dalam kandungan.
9. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin.
10. Pemeriksaan pH darah kepala janin.
a.

Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :

b.

Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderung turun
karena O2 dalam darah sedikit

c.

Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi
preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi

d. Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)


e.

Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemi.

11. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
a.

pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik.

b.

PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik
sering terjadi hiperapnea.

c.

PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia cenderung turun
karena terjadi hipoksia progresif.

d. HCO3 (normal 24-28 mEq/L)


12. Urine
13. Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :
a.

Natrium (normal 134-150 mEq/L)

b. Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)


c.

Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)

14. Photo thorax


15. Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

2.9 PENATALAKSANAAN
1. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
2. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan
pengawasan ketat
3.

Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh
dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.

4. Bila ada riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim, Terdapat hipertensi, preeklampsia, Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas, Pada kehamilan > 40-42
minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit :
a.

Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :

Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang

Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau

Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia,


hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

b.

Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat
merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi
sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur
lebih peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi pakailah anestesi konduksi. (Rustam
Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998).

5. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu
a.

Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu (
40+minggu)

b.

Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan,


dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu).

c.

Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test, NST) dua kali dalam seminggu, yang
dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.

d. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume, APV) dua kali
dalam seminggu, yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut
hingga persalinan.
e.

Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST
yang nonreaktif atau APV yang rendah.

f.

Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat
diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol.

6. Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan :


a.

Induksi persalinan
Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan
lewat bulan. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan
karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. Namun walaupun banyak pihak
yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria, praktik
induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir
Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist, hasil yang diharapkan
dari induksi persalinan adalah ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah
kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi. Meski metode induksi
sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus, namun peran servik sangat
penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus.
Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin
sejak tahun 1970-an. Pengaturan dosis, dan cara pemberian dan waktu pemberian
untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian,
Untuk menghasilkan persalinan yang aman, keberhasilan induksi persalinan setelah
servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama
oksitosin, dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan
servik dibanding oksitosin.
Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak,
stimulasi

payudara, peregangan servik secara mekanis), memiliki

kisaran

keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan


rekomendasinya.
b. Metode hormon untuk induksi persalinan :

Oksitosin yang digunakan melalui intravena (atas persetujuan FDA untuk


induksi persalinan). Dengan catatan servik sudah matang.

Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik


dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif.

Misprostol

Merk dagang cytotec. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan
intravagina (disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum, bukan untuk
induksi)

Dinoproston
Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2, tersedia dalam dosis 10 mg yang
dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun
1995).
Merk dagang predipil. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk
jel 0,5 mg deng diberika intraservik (disetujui FDA untuk induksi persalinan
pada tahun 1993)
Mifepriston 9 RU 486, antagonis reseptor progesteron) (disetujui FDA untuk
aborsi trimester pertama, bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200
mg untuk diberikan per oral.

c.

Metode non hormon Induksi persalinan

pemisahan ketuban
Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada
upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik yang mudah diraih dan
segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam dengan tangan
terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan
serviks, pembukaan dan posisi lazimnya.
Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun.
Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna,
melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan
membaran. Beberapa usapan biasanya efektif untuk menstimulasi kontaksi awal
regular dalam 72 jam.
Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam
sirkulasi ibu. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur
membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi
janin. Pemisahan memban serviks tidak dilakukan pada kasus kasus servisitis,
plasenta letak rendah, maupun plasenta previa, posisi yang tidak diketahui, atau
perdarahan pervaginam yang tidak diketahui.

Amniotomi
Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Saat dikaukan bidan harus
memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik, pembukaan posisi, dan
letak bagian bawah. Presentasi selain kepala merupakan kontraindikasi AROM
dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun, atau bayi kecil karena
dapat menyebabkan prolaps talipusat. Meskipun amniotomi sering dilakukan
untuk menginduksi persalinan, namun hingga kini masih belum ada studi
prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada
kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini.

Pompa Payudara dan stimulasi puting.


Penggunaan cara ini relatif lebih aman karena menggunakan metode yang sesuai
dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. Penanganannya dengan menstimulasi
selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam
sebanyak 3 kali perhari.

Minyak jarak
Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk
dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada
kehamilan cukup bulan.

Kateter forey atau Kateter balon.


Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian balon di isi udara 25
hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Beberapa uji
klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah melampaui
batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. (Buku
Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450). Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus
dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang
didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Etiologi pada kelahiran lewat bulan ini masih belum pasti. Namun ada factor yang
diduga bayi lahir lewat bulan atau postmatur, yang dikemukakan adalah factor hormonal
yaitu kadar progesterone, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput,
mengelupas lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan
maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada
bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya bayi
postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun
dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford mati dan
banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang
bertahan hidup mengalami kerusakan otak.

3.2 SARAN
Memperhatikan kondisi saat fase kehamilan sangatlah penting dengan gizi yang cukup
dan seimbang, oleh karena itu bagi ibu-ibu yang hamil hendaklah mempersiapkan persalinan
dengan sebaik-baiknya, serta dengan melakukan pemeriksaan rutin baik untuk mengetahui
kesehatan janin dan sang ibu.

BAB II

PEMBAHASAN
I.

TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Definisi Kehamilan Lewat waktu (PosT Term) adalah kehamilan yang melewati 294 hari
atau lebih dari 42 minggu Lengkap. ( ILmu kebidanan: hal 317).
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah melampaui
batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. (Buku
Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450). Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus
dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang
didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG
yang makin banyak digunakan. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum
diketahui hingga kini, dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih
berubah-ubah. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah, beberapa studi
menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan
lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Akibatnya
induksi yang menjadi bersifat relative.

2.

Etiologi
Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang
pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007).
Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10,4 12%. Apabila diambil
batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3,4 -4% (Ochtar,Rustam,1998).
Etiologi pada kelahiran lewat bulan ini masih belum pasti. Namun ada factor yang diduga
bayi lahir lewat bulan atau postmatur, yang dikemukakan adalah faktor hormonal yaitu kadar
progesterone, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.

3.

Patofisiologi

Faktor hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah
cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam,
1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air
ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.
Etiologi menurut Nwosu dkk faktor-faktor yang menyebabkan post matur stress,
sehingga tidak timbulnya his kurangnya air ketuban dan Insufisiensi plasenta ( ilmu
Kebidanan: hal.318)
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun
setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi
juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan
nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang
sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaankeadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada
bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum.

4.

Manifestasi Klinis
Pengaruh terhadap Ibu dan Janin
Terhadap Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena :
(a). Aksi uterus tidak terkoordinir.
(b). Janin besar.
(c). Moulding kepala kurang.
Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan
perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.
Terhadap janin
Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dari
kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh
postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada
yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin
dalam kandungan.
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas
lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas lanjut

karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan
dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami
hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia
gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia
lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak.
Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing
belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10% kehamilan
antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33% pada 44 minggu. Oligohidramnion
yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.

5.

Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia ;
1. Hipovolemia.
2. Asidosis.
3. Sindrom gawat napas.
4. Hipoglikemia.
5. Hipofungsi adrenal.

Persalinan janin makrosomia pervaginam akan menimbulkan trauma pada bayi dan
maternal yang makin tinggi.
1. Komplikasi trauma pada janin atau bayi.
a. Asfiksia karena terlalu lama terjepit.
b. Truma akibat tindakan oprasi yang di lakukan pervaginam dengan bentuk trias
komplikasi:
1) Infeksi.
2) Asfiksia.
3) Trauma langsung dan perdarahan.
2. Komplikasi maternal trias komplikasi.
a. Trauma langsung persalinan pada jalan lahir:
1) Robekan luas.
2) Fistula rekto-vasiko vaginal.

3) Ruptura perineum tingkat lanjut.


b. Infeksi karena terbukanya jalan halir secara luas sehingga mudah terjadi
kontaminasi bakterial.
c. Perdarahan:
1) Trauma langsung jalan lahir.
2) Atonia uteri.
3) Retentio Plasenta.

6.

Pemeriksaan Penunjang
1. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar.
2. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Hanya dengan pemeriksaan
antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu
penegakan diagnosis.
3. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat penulangan pada bagian distal femur,
bagian proksimal tibia, tulang kuboid diameter biparietal 9,8 atau lebih.
4. USG : ukuran diameter biparietal, gerkan janin dan jumlah air ketuban.
5. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabil dengan amniosenteris baik
transvaginal maupun transabdominal, kulit ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel
kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air
ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil, maka sel-sel yang
mengandung
-

Melebihi

lemak
10%

akan
=

kehamilan

berwarna
diatas

jingga.
36

minggu.

- Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu.


6. Amnioskopi, melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurt warnanya karena dikeruhi
mekonium.
7. Kardiotografi, mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plase.
8. Uji oksitosin ( stress test), yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin
terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin
janin akan berbahaya dalam kandungan.
9. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin.
10. Pemeriksaan pH darah kepala janin.

11. Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :


Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderung turun
karena O2 dalam darah sedikit.
Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi
preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.
Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)
Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemi.
Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik.
PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik
sering terjadi hiperapnea.
PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia cenderung turun
karena terjadi hipoksia progresif.
HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
Urine
Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :
Natrium (normal 134-150 mEq/L)
Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
Photo thorax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

7.

Penatalaksanaan
1. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaikbaiknya.
2. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu
dengan pengawasan ketat
3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang
boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.

4. Bila :
a. Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim.
b. Terdapat hipertensi, pre-eklampsia.
c. Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas.
d. Pada kehamilan > 40-42 minggu
Maka ibu dirawat di rumah sakit :
1. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :
a. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
b. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
c. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi
menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
2. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat
merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi
sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih
peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi pakailah anestesi konduksi. (Rustam Mochtar,
Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998).
Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42
minggu
1. Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4

minggu (

40+minggu)
2. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan,
dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu).
3. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test, NST) dua kali dalam seminggu, yang
dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.
4. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume, APV) dua kali
dalam seminggu, yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut
hingga persalinan.
5. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST
yang nonreaktif atau APV yang rendah.

6. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat
diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol.
Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan :
- Induksi persalinan
Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan
lewat bulan. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak
alami dan dapat meningkatkan bahaya. Namun walaupun banyak pihak yang menentang
induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria, praktik induksi telah banyak
meningkat selama satu dekade terakhir.
Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist, hasil yang diharapkan dari
induksi persalinan adalah ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi
distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi. Meski metode induksi sekarang diutamakan
pada induksi kontarkasi uterus, namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak
sepenuhnya dipengaruhi uterus.
Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak
tahun 1970-an. Pengaturan dosis, dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua
metode hingga kini masih dalam penelitian,
Untuk menghasilkan persalinan yang aman, keberhasilan induksi persalinan setelah
servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama
oksitosin, dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan servik
dibanding oksitosin.
Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak,
stimulasi payudara, peregangan servik secara mekanis), memiliki kisaran keberhasilan secara
beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya.
Metode

hormon

untuk

induksi

persalinan

1. Oksitosin yang digunakan melalui intravena (atas persetujuan FDA untuk induksi
persalinan).

Dengan

catatan

servik

sudah

matang.

2. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari
oksitosin

namun

a. Misprostol

kombinasi

keduanya

menunjukkan

hal

yang

positif.

Merk dagang cytotec. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina
(disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum, bukan untuk induksi)
b.

Dinoproston
1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2, tersedia dalam dosis 10 mg yang
dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995).

2) Merk dagang predipil. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0,5
mg deng diberika intraservik (disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun
1993)

3). Mifepriston 9 RU 486, antagonis reseptor progesteron) (disetujui FDA untuk


aborsi trimester pertama, bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200
mg untuk diberikan per oral.
Metode

non

hormon

Induksi

persalinan

1. Pemisahan ketuban
Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya
memisahkan membran amnion dari bagian servik yang mudah diraih dan segmen uterus
bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan
memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks, pembukaan dan posisi lazimnya.
Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun.
Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna, melalui ujung
distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Beberapa usapan
biasanya efektif untuk menstimulasi kontaksi awal regular dalam 72 jam.
Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu.
Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja
dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Pemisahan memban serviks tidak
dilakukan pada kasus kasus servisitis, plasenta letak rendah, maupun plasenta previa, posisi
yang tidak diketahui, atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui.
2. Amniotomi
Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Saat dikaukan bidan harus memeriksa
dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik, pembukaan posisi, dan letak bagian bawah.
Presentasi selain kepala merupakan kontraindikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika
kepala belum turun, atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Meskipun

amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan, namun hingga kini masih belum
ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada
kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini.
3. Pompa Payudara dan stimulasi puting.
Penggunaan cara ini relatif lebih aman karena menggunakan metode yang sesuai dengan
fisiologi kehamilan dan persalinan. Penanganannya dengan menstimulasi selama 15 menit
diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari.
4. Minyak jarak
Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat
meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan.
5. Kateter forey atau Kateter balon.
Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian balon di isi udara 25 hingg
50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Beberapa uji klinis membuktikan
bahwa teknik ini sangat efektif.
II.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
1. Identitas bayi / ibu.
2. Riwayat penyakit.
a.

Riwayat penyakit sekarang.


Bayi lahir dengan usia kehamilan ibu lebih dari 42 minggu dan tidak merasakan

adanya tanda-tanda bayi mau lahir.


b. Riwayat penyakit dahulu.
Kemungkinan ibu pernah mengalami kehamilan lama seperti yang

dialami

sekarang, riwayat haid ibu, penyakit yang diderita ibu yang berkaitan dengan
kehamilannya.
c.

Riwayat penyakit keluarga.


Apakah ada dalam keluarga yang pernah melahirkan bayi post term.

3. Pengkajian fisik.
-

Respirasi : bisa terjadi asfiksia.

Kulit : berkeriput, pucat disertai deskuamasi, verniks kaseosa dan

lanugo

berkurang.
-

Nutrisi : kurus, tampak kurang gizi.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis bayi postmatur pasca persalinan, dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas
yang dapat dibagi dalam 3 stadium :
1) Stadium I : Kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas (maserasi), verniks
kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.
2) Stadium II : Keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang
kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.
3) Stadium III : Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada
jaringan tali pusat. Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika
telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna
hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya
langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.
1.

Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan asfiksia berat/ringan,


pernafasan tidak teratur, pernafasan cuping hidung, cyanosis, ada lendir pada
hidung dan mulut.

2.

Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan Keadaan


umum lemah, reflek menghisap lemah, masih terdapat retensi pada sonde.

3.

Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan suhu tubuh diatas normal, tali
pusat

layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal kadar leukosit, kulit kuning,

riwayat persalinan dengan ketuban mekonical.


4.

Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi berhubungan dengan


Bayi dirawat di dalam inkubator di ruang intensif, belum ada kontak antara ibu
dan bayi.

3. Rencana Keperawatan
Rencana perawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan
dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah

ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien (Santoso NI,1993 : 20). Langkahlangkah penyusunan rencana perawatan terdiri dari 3 kegiatan yaitu menetapkan urutan
prioritas masalah, merumuskan tujuan perawatan yang akan dicapai, menentukan rencana
tindakan perawatan.
Penentuan prioritas berdasarkan diagnosa keperawatan, dimana prioritas tertinggi
diberikan kepada masalah yang mengancam kehidupan atau keselamatan pasien. Masalah
nyata diberikan perhatian / prioritas terlebih dahulu dari pada masalah potensial. Penentuan
prioritas dilakukan karena tidak semua masalah dapat diatasi pada waktu yang sama
(Syahlan, 2000).
Rencana keperawatan berdasarkan diagnose adalah sebagai berikut :
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan asfiksia berat/ringan, pernafasan tidak
teratur, pernafasan cuping hidung, cyanosis, ada lendir pada hidung dan mulut.
Tujuan :
Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria:
-

Pernafasan normal 40-60 kali permenit.

Pernafasan teratur.

Tidak cyanosis.

Wajah dan seluruh tubuh


Berwarna kemerahan (pink variable).

Gas darah normal


PH = 7,35 7,45
PCO2 = 35 mm Hg
PO2 = 50 90 mmHg

Intervensi :
1.

Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga
bahu terangkat 2-3 cm

1.

Rasional : Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat
mengurangi kelancaran jalan nafas.

2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.


Rasional : Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin
pertukaran gas yang sempurna.
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan.
4.

Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas
darah arteri.
Rasional : Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan
otak. Dan peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi.

Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan Keadaan umum lemah,
reflek menghisap lemah, masih terdapat retensi pada sonde.
Tujuan :
Tujuan
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
-

Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik.

Berat badan tidak turun lebih dari 10%.

Retensi tidak ada.

Intervensi :
1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
Rasional : Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat
tindakan / perawatan yang tepat.
2. Monitor turgor dan mukosa mulut.
Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
Rasional : Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance)
4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
Rasional : Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
5. Lakukan control berat badan setiap hari.
Rasional : Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.

Resiko terjadinya infeksi


Tujuan:
Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria :
- Tidak ada tanda-tanda infeksi.
- Tidak ada gangguan fungsi tubuh.

Intervensi :
1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan.
Rasional : Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Rasional : Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
Rasional : Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi.
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat pengeringan tali pusat
karena mengandung anti biotik, anti jamur, desinfektan.
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
Rasional : Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala cardinal.
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan.
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
Rasional : Mencegah terjadinya penularan infeksi.
8. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
Rasional : Mencegah infeksi dari pneumonia.
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP.
Rasional : Sebagai pemeriksaan penunjang.
Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatan intensif.
Tujuan :
Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu.

Kriteria:
- Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi.
-

Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri.

Intervensi :
1. Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
Rasional : Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengurangi kecemasan serta untuk
kooperatifan ibu/keluarga.
2. Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
Rasional : Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi.
3. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
Rasional : Ketidaktahuan memperbesar stressor.
4. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
Rasional : Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca
pembatas.
5. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan.
Rasional : Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan
bayi/setelah bayi diperbolehkan pulang.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah melampaui
batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. (Buku
Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450). Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus
dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang
didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.

Etiologi pada kelahiran lewat bulan ini masih belum pasti. Namun ada factor yang diduga
bayi lahir lewat bulan atau postmatur, yang dikemukakan adalah factor hormonal yaitu kadar
progesterone, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas
lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas lanjut
karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan
dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami
hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia
gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia
lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak.

B. SARAN
Memperhatikan kondisi saat fase kehamilan sangatlah penting dengan gizi yang cukup
dan seimbang, oleh karena itu bagi ibu-ibu yang hamil hendaklah mempersiapkan persalinan
dengan sebaik-baiknya, serta dengan melakukan pemeriksaan rutin baik untuk mengetahui
kesehatan janin dan sang ibu.

DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam.1998, Sinopsis Obstetri. Jakarta.EGC
Varney, Helen Dkk.2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
Cunningham, Gary, dkk. 2006. Obstetri William ed.21. Jakarta: EGC
Referensi lainnya :
http://haekalzainalhasan.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-post.html
http://www.agung-skep-ns.co.cc/2010/03/askep-pre-post-matur-kehamilan.html

Kehamilan Lewat Waktu (Serotinus)


10 Jan

Pendahuluan
Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama haid
terakhir. Kehamilan aterm adalah usia kandungan antara 38-42 minggu dan ini merupakan
periode terjadinya persalinan normal. Namun, sekitar 3,4-14% atau rata-rata 10% kehamilan
berlangsung sampai 42 minggu atau lebih. Angka ini bervariasi dari bebearpa penelitian
bergantung pada kriteria yang dipakai.
Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap
dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Neagle dengan siklus haid rata-rata 28
hari dan belum terjadi persalinan. Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang
beresiko tinggi, di mana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Diagnosis usia kehamilan
lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan usia kehamilan, seperti rumus Naegele atau
dengan tinggi fundus uteri serial.
Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada kehamilan aterm, terutama terhadap
kematian perinatal (antepartum, intrapartum, dan postpartum) berkaitan dengan aspirasi
mekonium dan asfiksia.
Kehamilan postterm terutama berpengaruh terhadap janin, meskipun hal ini masih banyak
diperdebatkan dan sampai sekarang masih belum ada persesuaian paham. Dalam kenyataannya
kehamilan postterm mempunyai pengaruh terhadap perkembangan janin sampai kematian janin.
Ada janin yang dalam masa kehamilan 42 minggu atau lebih berat badannya meningkat terus,
ada yang tidak bertambah, ada yang lahir dengan berat badan kurang dari semestinya, atau
meninggal dalam kandungan karena kekurangan zat makanan dan oksigen.
Kehamilan postterm mempunyai hubungan erat dengan mortalitas, morbiditas perinatal, atau
makrosomia. Sementara itu, risiko bagi ibu dengan kehamilan postterm dapat berupa perdarahan
pascapersalinan ataupun tindakan obstetrik yang meningkat. Berbeda dengan angka kematian ibu
yang cenderung menurun, kematian perinatal tampaknya masih menunjukkan angka yang cukup
tinggi, sehingga pemahaman dan penatalaksanaan yang tepat terhadap kehamilan postterm akan
memberikan sumbangan besar dalam upaya menurunkan angka kematian, terutama kematian
perinatal.

Definisi
Kehamilan serotinus adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan yang dihitung dari
HPHT, di mana usia kehamilannya melebihi 42 minggu dan belum terjadi persalinan.

Serotinus/postterm adalah kehamilan lebih dari 42 minggu dengan berdasarkan

perhitungan kehamilan dengan HPHT dan belum terjadi persalinan


Aterm adalah kehamilan 38-42 minggu (periode persalinan normal)
Postmatur adalah penggambaran janin yang memperlihatkan adanya kelainan akibat
kehamilan yang berlangsung lebih dari yang seharusnya (serotinus).

Insidens
Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik
menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam
kehamilan cukup bulan, di mana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5-7%.

Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal, yaitu
kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan
uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter, karena postmaturitas sering
dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998).
Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor
terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan
lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan
psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan normal
umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun
kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Factor lain
adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42
minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme
arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup
dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume
air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan
kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi,
yaitu 30% prepartum, 55% intrapartum, dan 15% postpartum.

Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :

Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.

Tidak diketahui.
Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi.
Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Patofisiologi
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya
his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta
tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko
asfiksia sampai kematian dalam rahim (Manuaba, 1998).
Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan
kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat selaput
ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34-36
minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi
penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan plasenta tidak
mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi
besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan distosia bahu.

Sebab Terjadinya Kehamilan Postterm

Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan
postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara
lain sebagai berikut :
1. Pengaruh Progesteron
Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian
perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan
dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis
menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya
pengaruh progesterone.
2. Teori Oksitosin
Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan
atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam
menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang

kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab kehamilan
postterm.
3. Teori Kortisol/ACTH Janin
Dalam teori ini diajukan bahwa pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah
janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan
mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar
sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi
prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin, dan
tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak
diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
4. Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan
kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada
kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga
sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.
5. Herediter
Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan postterm
mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya.
Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seorang ibu
mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar
kemungkinan anak perempuannya akan mengalami kehamilan postterm.

Resiko
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin,
sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan
aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang,
lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan
kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan
terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai
cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke
dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum
aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat
mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan
neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia
karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang.
Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan
perdarahan postpartum.

Manifestasi Klinis

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara
subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10
kali/20 menit.
Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui
dengan pemeriksaan USG.
Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi :
Stadium I :
kering,

kulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit

rapuh, dan mudah mengelupas.


Stadium II :
Stadium III :
tali

seperti Stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit.


seperti Stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan

pusat.

Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari serotinus adalah :


1. Terhadap Ibu :
Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir,
maka akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.
2. Terhadap Bayi :
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan
40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh
postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap
dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian
janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage.

Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998), yaitu :

Biasanya lebih berat dari bayi matur (> 4000 gram)


Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur

Rambut lanugo hilang atau sangat kurang


Verniks kaseosa di badan kurang
Kuku-kuku panjang
Rambut kepala agak tebal
Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

Diagnosis
Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis kehamilan
postterm karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi
kehamilan. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai kehamilan postterm merupakan kesalahan
dalam menentukan umur kehamilan. Kasus kehamilan postterm yang tidak dapat ditegakkan
secara pasti diperkirakan sebesar 22%.
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah
mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi
fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih
tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan
janin yang jarang.
Dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm di samping dari riwayat haid, sebaiknya dilihat
pula hasil pemeriksaan antenatal.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilanlewat waktu, antara lain
:
1. HPHT jelas.
2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu.
3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20
minggu dengan fetoskop).
4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari
atau sama dengan 20 minggu.
5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

Pemeriksaan Penunjang

Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia
kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau tidaknya
gawat janin.
Menurut Mochtar (1998), pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan
berat badan ibu, diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban.
Pemeriksaan yang dilakukan seperti :
1. Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah persalinan yang lalu,
dan ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan teratur, dapat
diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat
membantu diagnosis.
2. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal,
gerakan janin dan jumlah air ketuban. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial
terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan.
Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia
kehamilan. Pemeriksaan Ultrasonografi pada kehamilan postterm tidak akurat untuk
menentukan umur kehamilan. Tetapi untuk menentukan volume cairan amnion (AFI),
ukuran janin, malformasi janin dan tingkat kematangan plasenta.
3. Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali periksa,
terjadi penurunan atau kenaikan berat badan ibu.
4. Pemeriksaan Amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan air ketuban menurut
warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur mekonium dan
bisa mengakibatkan gawat janin (Prawirohardjo, 2005).

Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan.

Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin,
karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin
dapat dilakukan :
1. Tes tanpa tekanan (non stress test).
Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila
diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar
janin baik.
2. Gerakan janin.
Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/20 menit) atau
secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/20 menit), dapat juga
ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG

(normal > 1 cm/bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata
oligohidramnion, maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi.
Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik.
Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33%
asfiksia.

Tatalaksana
Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga
setiap persalinan kehamilan posterm harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya
dilaksanakan di rumah sakit dengan pelayanan operatif dan perawatan neonatal yang memadai.
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan.
Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian
skor pelvik (pelvic score).
Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain :
1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
2. Induksi dengan oksitosin.
3. Bedah seksio sesaria.

The American College of Obstetricians and Gynecologist mempertimbangkan bahwa kehamilan


postterm (42 minggu) adalah indikasi induksi persalinan. Penelitian menyarankan induksi
persalinan antara umur kehamilan 41-42 minggu menurunkan angka kematian janin dan biaya
monitoring janin lebih rendah.
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat,
antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi
sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar,
dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.

Table 1. Skor Bishop

Pendataran serviks
Pembukaan serviks

0
0-30%
0

1
40-50%
1-2

2
60-70%
3-4

3
80%
5-6

Penurunan kepala dari Hodge III


-3
-2
-1, 0
+1, +2
Konsistensi serviks
Keras
Sedang
Lunak
Posisi serviks
Posterior Searah sumbu jalan lahir Anterior
Bila nilai pelvis (PS) > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.
Bila PS > 5, dapat dilakukan drip oksitosin.
Bila PS < 5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian lakukan
pengukuran PS lagi.

Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan Oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan
induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor
pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis > 5, maka induksi persalinan dapat dilakukan.
Induksi persalinan dilakukan dengan Oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus
dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul
his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena
dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan
hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat
diberikan infus drip Oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul,
dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.

Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :


1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
1. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
2. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi
menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

Pada kehamilan yang telah melewati 40 minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda inpartu,
biasanya langsung segera diterminasi agar resiko kehamilan dapat diminimalis.

Komplikasi
1. Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu :
1. Plasenta

Kalsifikasi
Selaput vaskulosinsisial menebal dan jumlahnya berkurang

Degenerasi jaringan plasenta


Perubahan biokimia

1. Komplikasi pada Ibu


Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri, atonia
uteri dan perdarahan postpartum.
2. Komplikasi pada Janin
Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap atau
berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.
1. Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu
komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin, gerakan
janin berkurang, kematian janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.
2. Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu
komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi seperti kelainan kongenital, sindroma
aspirasi mekonium, gawat janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau
pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka panjang pada bayi.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4
kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester
ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu).
Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7
bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7-8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal
ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah
terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang
digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu
diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah
hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat
ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka
itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.