Anda di halaman 1dari 11

Lansia dengan Inkontinensia

Posted on 12 Januari 2012 by Andi (Nurse Boy)


Disusun Oleh : Muhammad Ananggadipa
Institusi : Stikes Hang Tuah Surabaya
Nim : o81.xx62

Definisi

Inkontinensia didefinisikan sebagai berkemih ( defekasi ) di luar kesadaran, pada waktu dan
tempat yang tidak tepat, dan menyebabkan masalah kebersihan atau social ( Watson, 1991 ).
Terdapat dua aspek social yang sangat penting dalam definisi inkontinensia ini. Inkontinensia
yang diderita oleh klien mungkin tidak menimbulkan sejumlah masalah yang nyata bagi teman
atau keluarganya. Aspek social yang lain yaitu adanya konsekuensi yang ditimbulkan
inkontinensia terhadap individu yang mengalminya, antara lain klien akan kehilangan harga diri,
juga merasa terisolasi dan depresi.
Faktor yang berkonstribusi terhadap perkembangan inkontinensia adalah factor fisiologis dan
psikologis. Faktor psikologis dapat mencakup depresi dan apatis, yang dapat meperberat kondisi
sehingga sulit untuk mengatasi masalah kearah normal. Beberapa kondisi psikiatrik dan
kerusakan otak organic seperti demensia, dapat juga menyebabkan inkontinensia. Faktor
anatomis dan fisiologis dapat mencakup kerusakan saraf spinal, yang menghancurkan
mekanisme normal untuk berkemih dan rasa ingin menghentikannya. Penglihatan yang kurang
jelas, infeksi saluran perkemihan, dan medikasi tertentu seperti diuretic juga berhubungan
dengan inkontinensia. Selain itu, wnaita yang melahirkan dan laki laki dengan protatism,
cenderung mengalami kerusakan kandung kemih yang dapat menyebabkan inkotinansia, akibat
trauma atau pembedahan.

Etiologi

Terdapat sejumlah alas an terjadinya inkontinensia, baik yang disebabkan oleh semua factor
diatas maupun masalah klinis yang berhubungan. Alasan utama pada lansia adalah adanya
ketidakstabilan kandung kemih . Beberapa kerusakan persyarafan mengakibatkan sesorang
tidak mampu mencegah kontraksi otot kandung kemih secara efektif ( otot detrusor ) dan
mungkin juga dipersulit oleh masalah lain, seperti keterbatasan gerak atau konfusi. Keinginan
untuk miksi datang sangat cepat dan sangat mendesak pada seseorang sehingga penderita tidak
sempat pergi ke toilet, akibatnya terjadi inkontinensia, kejadian yang sama mungkin dialami
pada saat tidur.

Pada wanita, kelemahan otot spingter pada outlet sampai kandung kemih seringkali disebabkan
oleh kelahiran multiple sehingga pengeluaran urine dari kandung kemih tidak mampu dicegah
selama masa peningkatan tekanan pada kandung kemih. Adanya tekanan di dalam abdomen,
seperti bersin, batuk, atau saat latihan juga merupakan factor konstribusi.
Pembesaran kelenjar prostat pada pria adalah penyabab yang paling umum terjadinya obstruksi
aliran urine dari kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan inkontinensia karena adanya
mekanisme overflow. Namun, inkontinensia ini dapat juga disebabkan oleh adanya obstruksi
yang berakibat konstipasi dan juga adanya massa maligna ( cancer ) dalam pelvis yang dialami
oleh pria dan wanita. Akibat dari obstruksi, tonus kandung kemih akan menghilang sehingga
disebut kandung kemih atonik. Kandung kemih yang kondisinya penuh gagal berkontraksi, akan
tetapi kemudian menyebabkan overflow, sehingga terjadi inkontinensia.
Apapun penyebabnya, inkontinensia dapat terjadi saat tekanan urine di dalam kandung kemih
menguasai kemampuan otot spingter internal dan eksternal ( yang berturut turut baik secara
sadar maupun tidak sadar ) untuk menahan urine, tetap berada dalam kandung kemih

Klasifikasi inkontinensia

Meskipun berbagai penyebab inkontinensia menghasilkan proses yang sederhana, tetapi


inkontinensia perlu dikategorisasikan, seperti yang telah ditetapkan oleh Perhimpunan
Kontinensia Internasional.
1. Inkontinensia stress
Terjadi akibat adanya tekanan di dalam obdomen ( peningkatan intra badomen secar tiba tiba
yang menambah tekanan yang emmang telah ada pada kandung kemih ). Oleh Karen itu, bersin
batuk, tertawa, latihan / olahraga, atau perubahan posisi dengan bangun dari kursi atay berbalik
dapat menyebabkan kehilangan sejumlah kecil urine tanpa disadari atau kebocoran urine dari
kandung kemih. Hal tersebut lebih sering terjadi pada wanita karena kehilangan tonus otot dasar
panggul yang dihubungkan dengan melahirkan anak, prolaps pelvis seperti sistokel, uretra yang
lebih pendek secra natomis, dan kelemahan sfingter. Pada pria, prostatektomi adalah salah satu
penyebabnya.
1. Inkontinensia mendesak ( urgensi )
Inkontinensia ini dihubungkan dengan keinginan yang kuat dan mendesak untuk berkemih
dengan kemampuan yang kecil untuk menunda berkemih. Berkemih dapat dilakukan, tetapi
orang biasanya berkemih sebelum sampai ke toilet. Mereka tidak merasakan adanya tanda untuk
berkemih. Pada inkontinensia urgensi, kandung kemih hampir penuh sebelum kebutuhan utnuk
berkemih dirasakan dan sebagai akibatnya, sejumlah kecil sampai sedang urine keluar sebelum
dapat mencapai toilet. Sensasi urgensi tersebut disertai dengan frekuensi. Penyebabnya
dihubungkan dengan ketidakstabilan otot trusor ( aktivitas yang berlebihan ) oleh otot itu sendiri
atau yang dihubungkan dengan kondisi seperti sistitis, obstruksi aliran keluar, cedera spinal pada

bagian suprasakral, dan stroke. Antara 40 70% inkontinensia pada lansia adalah jenis
inkontinensia urgensi.
1. Inkontinensia Overflow
Inkontinensia karena aliran yang berlebihan ( overflow ) adalah hilangnya urine yang terjadi
dengan distensi kandung kemih secara berlebihan yang terjadi pada 7 sampai 11% pasien
inkontinensia. Kapasitas berlebihan, yang menyebabkan tekanan kandung kemih lebih besar
daripada tekanan resistensi sfingter uretra. Karena otot detrusor tidak berkontraksi, terjadi urine
yang menetes dan penurunan pancaran urine saat berkemih.
Inkontinensia karena aliran yang berlebihan disebabkan oleh gangguan transmisi saraf dan oleh
adanya obstruksi pada saluran keluarnya urine seperti yang terjadi pada pembesaran prostat atau
impaksi fekal. Hal ini juga disebut hipnotik atau atonik kandung kemih. Residu urine setelah
berkemih lebih dari 150 sampai 200 ml.
Kondisi ini juga terjadi saat aktivitas kandung kemih tidak ada dan muncul karena adanya
beberapa obstruksi yang menahan urine untuk keluar. MIksi normal tidak mungkin terjadi.
Akhirnya, tekanan dari urine di dalam kandung kemih mengatasi obstruksi dan terjadi episode
inkontinensia. Hal ini biasanya terjadi pada prostatism dan konstipasi fekal.
1. Inkontinensia reflex
Akibat dari kondisi sistem saraf pusat yang terganggu, seperti demensia. Dalam hal ini,
pengosongan kandung kemih dipengaruhi reflex yang dirangsang oleh pengisian. Kemampuan
rasa ingin berkemih dan berhenti berkemih tidak ada.
1. Inkontinensia fungsional
Inkontinensia fungsional disebabkan oleh factor factor selain dari disfungsi system urinaria.
Struktur system urinaria utuh dan fungsinya normal, tetapi factor eksternal mengganggu
kontinensia. Demensia, gangguan psikologis lain, kelemahan fisik atau imobilitas, dan hambatan
lingkungan seperti jarak kamar mandi yang jauh adalah salah satu factor factor ini. Hal ini
terjadi saat terdapat factor yang membatasi individu untuk kontinensia, bias berupa spinal,
psikiatrik, atau musculoskeletal.

Inkontinensia Fekal

Meskipun biasanya bukan merupakan tanda penyakit mayor, inkontinensia dapat menyebabkan
gangguan yang serius pada kesejahteraan fisik dan psikologis lansia. Inkontinensia fekal dapat
terjadi secara bertahap ( seperti demensia ) atau tiba tiba ( seperti cedera medulla spinalis ).
Inkontinensia fekal biasanya akibat dari statis fekal dan impaksi yang disertai penurunan
aktivitas, diet yang tidak tepat, penyakit anal yang nyeri yang tidak diobati, atau konstipasi
kronis. Inkontinensia fekal juga dapat disebabkan oleh penggunaan laksatifyang kronis,

penurunan asupan cairan, deficit neurologis dan pembedahan pelvic, prostat, atau rectum serta
obat obatan seperti antihistamin, psikotropik, dan preparat besi.
Lansia yang mengalami inkontinensia fekal mungkin tidak menyadari kebutuhan untuk defekasi.
Jika ia tidak dapat pergi ke kamar mandi atau menggunakan commode atau pispot sendiri, pasien
dapat kehilangan sensitifitas rectum akibat harus menahan desakan defekasi sementara
menunggu bantuan. Perubahan musculoskeletal dapat juga emmepngaruhi kemampuan lansia
untuk mengambil posisi yang nyaman, yang mempengaruhi frekuensi dan keefektifan defekasi.
1. 1.
1.
2.
3.
4.

Manifestasi klinis
Rembesan feses yang terus menerus dari rectum.
Ketidakmampuan mengenali kebutuhan defekasi.
Kram abdomen dan distensi.
Kemungkinan impaksi fekal.

1. 2.
Pemeriksaan diagnostic
2. Pemeriksaan rectum digital dapat menyingkirkan kemungkinan impaksi fekal.
3. Kolonoskopi mungkin diperlukan untuk mendeteksi gangguan usus lainnya.
1. 3.

Penanganan

Pasien yang menderita inkontinensia fekal harus dikaji penyebab masalah yang mendasari
penyakitnya dengan cermat. Pelatihan kembali defekasi merupakan terapi pilihan. Jika
masalahnya adalah tonus sfingter anal yang buruk, latihan otot otot panggul dapat membantu
mengoreksinya. Lansia dapat diajarkan untuk mengontraksi dan merilekskan otot otot tersebut.
Umpan balik biologis dapat sangat membantu bagi pasien yang menderita inkontinensia yang
terkait dengan disfungsi sensorik atau motorik sfingter anal. Calon pengguna umpan balik
biologis harus dimotivasi dan mampu mengikuti petunjuk. Jika inkontinensia fekal disebabkan
oleh impaksi, sumbatan harus dihilangkan dengan enema atau secara manual. Enema dan
supositoria dapat digunakan secara berulang untuk mendapatkan evakuasi feses yang tuntas.
Kegagalan mengevakuasi feses secara menyeluruh meningkatkan kemungkinan feses
terakumulasi kembali. Jika inkontinensia disebabkan oleh proktitis, enema kortikosteroid yang
diresepkan dapat bermanfaat.

Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine bukan merupakan tanda tanda normal penuaan. Inkontinensia urine selalu
merupakan suatu gejala dari masalah yang mendasari. Jutaan lansia mengalami beberapa
kehilangan kendali volunteer. Masalah kontinensia urinarius dibagi menjadi akut atau persisten
dan dapat berkisar dari kehilangan control kandung kemih ringan sampai inkontinensia total.
Inkotinensia akut terjadi secara tiba tiba biasanya akibat dari penyakit akut. Sering terjadi pada
individu yang dirawat di rumah sakit, inkontinensia akut biasanya hilang setelah penyakit
sembuh. Inkontinensia akut juga dapat akibat dari obat, terapi, dan factor lingkungan .

Inkontinensia persisten diklasifikasikan menjadi inkontinensia urgensi, inkontinensia stress,


inkontinensia overflow, dan inkontinensia fungsional. Inkontinensia urine dapat disebabkan oleh
ketidakseimbangan endokrin, seperti hiperklasemia dan hiperglikemia. Keterbatasan mobilitas
atau penyakit yang menyebabkan retensi urine dapat mencetuskan inkontinensia urine ata dapat
akibat depresi pada lansia

Manifestasi klinis

1. Melaporkan merasa desakan berkemih, disertai ketidakmampuan mencapai kamar mandi


karena telah mulai berkemih.
2. Desakan, frekuensi, dan nokturia.
3. Inkontinensia stress dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urine ketika tertawa,
bersin, melompat, batuk atau membungkuk.
4. Inkontinensia overflow, dicirikan dengan volume dan aliran urine buruk atau lambat dan
merasa menunda atau mengejan.
5. Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urine yang adekuat.
6. Hiegiene buruk atau tanda tanda infeksi.
7. Kandung kemih terletak di atas sifisis pubis.

Pemeriksaan diagnostic

1. Urinallisis, digunakan untuk melihat apakan ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine.
2. Uroflowmetry digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi
pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.
3. Cysometri digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuscular kandung kemih dengan
mengukur efisiensi reflex otot detrusor, tekanan dan kapasitas intravesikal dan reaksi
kandung kemih terhadap rangsangan panas.
4. Urografi ekskretorik, disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi
struktur dan fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih.
5. Volding cystourethrography digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan kandung
kemih dan uretra serta mengkaji hipertrofi lobus prostat, striktur uretra, dan tahap
gangguan uretra prostatic stenosis ( pada pria ).
6. Uretrografi retrograde, digunakan hampir secara ekslusif pada pria, membantu diagnosis
striktur dan obstruksi orifisium uretra.
7. Elektromiografi sfingter pada pasien pria dapat menunjukkan pembesaran prostat atau
nyeri, kemungkinan menanndakan hipertrofi prostat jinak atau infeksi. Pemeriksaan
tersebut juga dapat menunjukkan impaksi yang mungkin menyebabkan inkontinensia.
8. Pemeriksaan vagina dapat memperlihatkan kekeringan vagina atau vaginitis atrofi, yang
menandakan kekuranagn estrogen.
9. Katerisasi residu pescakemih digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan
kandung kemih dan jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien
berkemih.

Penanganan

Terapi obat disesuaikan dengan penyebab inkontinensia. Antibiotik diresepkan jika inkontinensia
akibat dari inflamasi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Obat antikolinergik digunakan untuk
memperbaiki fungsi kandung kemih dan mengobati spasme kandung kemih jika dicurigai ada
ketidakpstabilan pada otot detrusor. Obat antipasmodik diresepkan untuk hiperrefleksia detrusor
untuk menekan aktivitas otot polos kandung kemih. Estrogen, baik dalam bentuk oral, topical,
maupun supositoria, digunakan jika ada vaginitis atrofik. Inkontinensia stree kadang dapat
diterapi dengan antidepresan.
Terapi perilaku meliputi latihan berkemih, latihan kebiasaan dan waktu kemih, penyegeraan
berkemih, dan latihan otot panggul ( latihan kegel ). Pendekatan yang dipilih disesuaikan dengan
masalah pasien yang mendasari. Latihan kebiasaan dan latihan berkemih sangat sesuai untuk
pasien yang mengalami inkontinensia urgensi. Latihan otot panggul sangat baik digunakan oleh
pasien dengan fungsi tidak dipilih untuk pasien yang mengalami inkontinensia sekunder akibat
overflow. Teknik tambahan, seperti umpan balik biologis dan rangsangan listrik, berfungsi
sebagai tambahan pada terapi perilaku.
Latihan kebiasaan, bermanfaat bagi pasien yang mengalami demensia atau kerusakan kognitif,
mencakup menjaga jadwal berkemih yang tetap, biasanya setiap 2 sampai 4 jam. Tujuannya
adalah pasien dapat berkemih sebelum secara tidak sengaja berkemih. Latihan kembali berkemih
dapat bermanfaat bagi pasien dengan fungsi kognitif yang utuh. Latihan ini mengajarkan pasien
utnuk menahan desakan berkemih, secara bertahap meningkatkan kapasitas kandung kemih dan
interval anatara berkemih. Ketika kapasitas meningkat, urgensi dan frekuensi akan berkurang.
Spiral dapat direspkan untuk pasien wanita yang mengalami kelainan anatomis seperti prolaps
uterus berat atau relaksasi pelvic. Spiral tersebut dipakai secara internal, seperti diafregma
kontrasepsi, dan menstabilkan dasar kandung kemih serta uretra, yang mencegah inkontinensia
selama ketegangan fisik.
Penggunaan kateter kondom jangka panjang pendek dapat diresepkan bagi pasien pria utnuk
membantunya mencegah berkemih secara tidak sengaja dengan efektif. Penggunaan kondom
yang terus menerus harus dihindari, karena dapat menyebabkan ISK dan iritasi kulit.
Sfingter buatan yang terdiri atas sfingter bermanset silicon dengan balon yang mengatur tekanan
dan pompa karet dapat dipasang pada pasien pria setelah prostatektomi radikal atau pada pasien
wanita yang mengalami inkontinensia stress yang tidak berespon terhadap terapi lain. Manset
tersebut diletakkan disekitar leher kandung kemih. Balon menahan cairan yang biasanya
menegmbangkan manset. Pompa karet diimplan ke skrotum atau labia. Ketika kandung kemih
penuh dengan urine, manset yang sensitive terhadap tekanan mencegah urine bocor disekitar
leher kandung kemih. Pasien menekan pompa untuk memindahkan cairan dari manset kedalam
balon yang diberi tekanan yang memungkinkan berkemih.
Perbaikan dinding vagina anterior atau suspense retropubik kandung kemih dan uretra dengan
pembedahan dapat terjadi pilihan terapi bagi wanita yang emngalami inkontinensia stress.
Suspensi retropubik memperbaiki kandung kemih dan uretra ke posisi intra-abdomen yang tepat.

Pada pria yang megalami inkontinensia akibat hipertrofi prostat, penanganan dapat mencakup
reseksi transurethral prostat atau protatektomi terbuka. Pembedahan dapat digunakan untuk
menghilangkan lesi yang menyumbat yang menyebabkan inkontinensia urgensi atau overflow.
Pasien inkontinensia overflow akibat retensi urine dapat memanfaatkan kateterisasi intermiten.
Menghilangkan hambatan, memberikan lingkungan dengan pencahayaan yang baik, dan
memberikan orientasi yang sering ke kamar mandi akan membantu pasien yang emngalami
inkontinensia fungsional.

Asuhan keperawatan

Pengkajian

Pengkajian factor risiko untuk inkontinensia dibantu dengan singkatan DRIP dari Ouslander
untuk membantu mengingat penyebab inkontinensia sementara . Sistem DRIP ini juga berguna
dalam mengidentifikasi factor risiko terjadinya inkontinensia. D adalah untuk delirium ( depresi
harus ditambahkan untuk lansia ). R untuk retensi dan keterbatasan mobilitas ( restricted ). I
untuk infeksi, inflamasi, dan impaksi, dan P untuk poliura ( seperti yang disebabkan oleh
diabetes atau gagal jantung kongestif ) dan farmasetik atau obat obatan. Bila terdapat satu atau
lebih factor DRIP, inkontinensia berisiko terjadi dan pencegahan harus dilaksanakan.

Diagnosa keperawatan

Inkontinensia fekal :
1. Inkontinensia fekal b/d kerusakan neuromuscular, diare, impaksi fekal, atau kerusakan
kognitif.
2. Ansietas b/d inkontinensia fekal.
3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d inkontinensia fekal.
Inkontinensia urine :
1. Gangguan eliminasi urine b/d penyebab yang mendasari inkontinensia urine.
2. Risiko gangguan integritas kulit b/d inkontinensia urine.
3. Gangguan citra tubuh b/d inkontinensia

Intervensi keperawatan

Inkontinensia fekal

1. Jadwalkan waktu tambahan untuk mendorong dan member dukungan pada pasien untuk
mengurangi perasan malu, memalukan, atau tidak berdaya akibat kehilangan
pengendalian, puji keberhasilan upaya pasien.
2. Mulai program lathan kembali defekasi
3. Mulai program toileting terjadwal dengan mengkaji pasien agar mengetahui kapan waktu
defekasi rutinnya . Ingatkan atau bantu pasien menggunakan toilet atau commode 15
sampai 20 menit sebelum waktu rutinnya. Pastikan ia mengetahui letak toilet dan temani
pasien untuk memastikan ia telah berdefekasi dengan sempurna. Dorong pasien untuk
bergoyang kea rah belakang dank e depan ketika di toilet untuk meningkatkan peristaltic
dan temani pasien yang menderita penyakit Alzheimer tahap lanjut atau penyakit
neurologis lainnya.
4. Pertahankan perawatan hygiene yang efektif untuk meningkatkan kenyamanan pasien
dan mencegah kerusakan kulit dan infeksi, bersihkan area perianal dengan sering dan
oleskan krim sawar pelembab, kendalikan bau yang tidak sedap.
5. Pasien yang menderita inkontinensia fekal sangat rentan mengalami kerusakan kulit dan
infeksi. Waspadai komplikasi fisiologis ini selain masalah psikologis yang disebabkan
oleh isolasi sosial kehilangan kemandirian, penurunan harga diri, dan depresi.
6. Dorong pasien untuk makan diet kaya serat dengan sayur-sayuran berdaun kasar ( seperti
wortel dan selada ), buah tidak dikupas ( apel ), dan gandum utuh ( seperti gandum atau
roti gandum dan sereal ), kulit padi merupakan sumber serat terbaik.
7. Anjurkan asupan cairan yang adekuat ( 8 sampai 10 gelas air / 273 ml per hari ) jika
kondisi pasien memungkinkan.
8. Tingkatkan latihan yang teratur dengan menjelaskan cara latihan untuk membantu
defekasi yang teratur, bahkan pasien yang tidak dapat melakukan ambulasi dapat
melakukan latihan sambil duduk atau berbaring di tempat tidur.
Inkontinensia urine
1. Jelaskan semua pemeriksaan dan prosedur kepada pasien Anda. Fasilitasi pasien untuk
mengajukan pertanyaan, dan jawab dengan jujur, Berikan privasi untuk diskusi apapun.
2. Berikan antibiotic dan obat lainnya, sesuai program.
3. Orientasi pasien ke lokasi kamar mandi dan alat panggil. Berikan pencahayaan yang
adekuat di dalam kamar mandi untuk membantu pasien terhindar dari kecelakaan selama
malam hari. Jika ia membutuhkan bantuan ke kamar mandi, tawarkan padanya setiap 2
jam atau ketika ia terjaga.
4. Jelaskan rutinitas latihan berkemih dan dipasang jadwal tersebut. Bantu pasien yang
emndapat latihan berkemih untuk latihan napas dalam guna menunda desakan berkemih.
Berikan penguatan positif yang cukup untuk semua upaya kearah kontinensia.
5. Berikan perawatan perianal yang sering, dan perhatikan lansia apakah ada kerusakan
kulit. Cuci dengan sabun ringan dan air, dan keringkan kulit dengan menepuk
nepuknya. Cuci dari arah depan ke belakang untuk menghindari penyebaran kontaminasi.
6. Bantu pasien memasukkan spiral, sesuai program. Jika kateterisasi intermiten
diprogramkan, lakukan tepat waktu dan dokumentasikan jumlah urine yang kembali
tertampung.
7. Untuk pasien pascaoperasi, catat pengukuran asupan dan haluaran yang akurat. Berikan
perawatan kateter dan ambulasikan pasien segeramungkin.

Evaluasi

1. Pasien akan dapat mengendalikan defekasi setelah latihan kembali defekasi.


2. Pasien akan mengungkapkan persaannya mengenai kecemasan dan mengetahui
mekanisme koping.
3. Pasien akan mempertahankan integritas kulit.
4. Pasien akan mencapai kontinensia.
5. Pasien akan mengkomnikasikan perasaan positif mengenai perubahan citra tubuh.

Daftar pustaka

Stockslager, Jaime L. 2007 . Buku Saku Gerontik edisi: 2 . Jakarta : EGC.


Stanley M, Patricia GB. 2006 . Buku Ajar Keperawatan Gerontik . Jakarta : EGC.
Watson, Roger. 2003. Perawatan pada Lansia. Jakarta : EGC

Inkontinensia Urine
September 13, 2008 oleh agungrakhmawan
Inkontinensia Urine (IU) atau dikenal dalam bahasa awan sebagai beser merupakan salah satu
keluhan utama terutama pada penderita lanjut usia. Inkontinensia urine adalah pengeluaran urin
tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah
gangguan kesehatan dan atau sosial

DEFINISI
Inkontinensia Urine (IU) atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakan
salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia. Inkontinenensia urine adalah pengeluaran
urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah
gangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya
beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai
inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses).
ETIOLOGI
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ
kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan
mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air
seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga

walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab
Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah,
efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke
toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran
kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi
penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika
pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan
misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu
penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena
berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus
dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi
asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.
Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus
dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh
penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus
diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya
adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau
farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit
yang dideritanya. Nah, obat-obatan ini bisa sebagai biang keladi mengompol pada orang-orang
tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan,
penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat yang berkontribusi pada
IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic
adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti
antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol
juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia
urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan,
kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan
berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena
ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul
rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat
meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen
pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan
otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor
risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga
berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan
mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar
panggul.
PATOFISIOLOGI
Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Bisa
juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing.
Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih.

Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam
kandung kemih sampai kapasitas berlebihan.
Inkontinensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksia detrusor pada lesi suprapons dan
suprasakral. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh, akan
timbul sensasi urgensi. Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat
bermanifestasi sebagai stress inkontinens dan ketidakmampuan dari kontraksi detrusor yang
mengakibatkan retensi kronik dengan overflow Ada beberapa pembagian inkontinensia urin,
tetapi pada umumnya dikelompokkan menjadi 4:
1. Urinary stress incontinence
2. Urge incontinence
3. Total incontinence
4. Overflow incontinence
*Stress urinary incontinence terjadi apabila urin secara tidak terkontrol keluar akibat peningkatan
tekanan di dalam perut. Dalam hal ini, tekanan di dalam kandung kencing menjadi lebih besar
daripada tekanan pada urethra. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan, tertawa,
bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada rongga perut. Pengobatan dapat
dilakukan secara tanpa operasi(misalnya dengan Kegel exercises, dan beberapa jenis obatobatan), maupun secara operasi (cara yang lebih sering dipakai).
*Urge incontinence timbul pada keadaan otot detrusor yang tidak stabil, di mana otot ini bereaksi
secara berlebihan. Gejalanya antara lain perasaan ingin kencing yang mendadak, kencing
berulang kali, kencing malam hari, dan inkontinensia. Pengobatannya dilakukan dengan
pemberian obat-obatan dan beberapa latihan. *Total incontinence, di mana kencing mengalir ke
luar sepanjang waktu dan pada segala posisi tubuh, biasanya disebabkan oleh adanya fistula
(saluran abnormal yang menghubungkan suatu organ dalam tubuh ke organ lain atau ke luar
tubuh), misalnya fistula vesikovaginalis (terbentuk saluran antara kandung kencing dengan
vagina) dan/atau fistula urethrovaginalis (saluran antara urethra dengan vagina). Bila ini
dijumpai,dapat ditangani dengan tindakan operasi.
*Overflow incontinence adalah urin yang mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu
banyak di dalam kandung kencing akibat otot detrusor yang lemah.Biasanya hal ini dijumpai
pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes, cedera pada sumsum tulang belakang, atau saluran
kencing yang tersumbat. Gejalanya berupa rasa tidak puas setelah kencing (merasa urin masih
tersisa di dalam kandung kencing), urin yang keluar sedikit dan pancarannya lemah.
Pengobatannya diarahkan pada sumber penyebabnya.