Anda di halaman 1dari 15

PANCASILA DI MASA ORDE BARU

(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Ideologi Politik Bangsa Indonesia)
Dosen Pengampu : Dr. Triyanto, S.H., M.Hum

Oleh:
Alim Khafabillah

S861208001

Andang Firmansyah

S861208002

Anis Syatul Hilmiah

S861208003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Setelah jatuhnya rezim Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno ke tangan Orde Baru
dibawah pimpinan Soeharto peranan Pemerintah dalam menentukkan jalannya negara dan
keterlibatannya dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat semakin besar. Seperti halnya
negara di dunia pada umumnya, negara-negara di Dunia Ketiga yang lahir dari pengalaman
kolonialisme sesudah abad XX telah memilih demokrasi sebagai salah satu dasarnya yang
fundamental. Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara pada umumnya memberikan
pengertian bahwa pada tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah
pokok yang mengenai kehidupannya, termasuk daam menilai kebijaksanan Pemerintah
negara oleh karena kebijaksanaan tersebut menentukan kehidupan rakyat.
Indonesia sebagai satu negara yang juga lahir dari pengalaman kolonialisme sesudah
Perang Dunia II telah menjadikan pula demokrasi sebagai salah satu prinsip
ketatanegaraannya. Lahirnya Orde Baru pada tahun 1966 memberikan harapan akan
pemulihan hak-hak demokrasi rakyat dengan tema Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Lembaga-lembaga yang dianggap tidak sesuai dengan tekad
ini dibubarkan atau diperbaharui, indoktrinasi di sekolah-sekolah dan lembaga Pemerintahan
dihapuskan, tahanan-tahanan yang disekap tanpa proses peradilan pada zaman Orde Lama
dibebaskan, sedangkan pers yang semula dilarang terbit diijinkan terbit kembali.
Tetapi program-program pembangunan yang dilakukan Orde Baru sejak semula
menyimpan trend untuk menghilangkan pluralisme-liberal karena sistem tersebut dianggap
tidak kondusif untuk pelaksanaan pembangunan. Program pembangunan (ekonomi) telah
menuntut pra-syarat stabilitas nasional dan keinginan menciptakan stabilitas nasional inilah
yang mengantarkan Pemerintah Orde Baru pada kecenderungan untuk membatasi hak-hak
demokratis rakyat sehingga kehidupan politik rakyat lebih banyak ditentukan dari atas (top
down) yang tidak jarang dilakukan dengan politcal-engineering. Indoktrinasi Pancasila
memang dilakukan dan dengan menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal menyulut banyak
tanggapan pro dan kontra. Disini kami akan mencoba memaparkan tentang Pancasila di Masa
Orde Baru berikut dengan jalannya Pemerintahan yang diterapkannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Militer sebagai Aktor Utama


Pemerintah Orde Baru telah menampilkan militer sebagai pelaku utama dalam pentas
perpolitikan di Indonesia. Peran militer dalam bidang ekonomi sebenarnya sudah dimulai
sejak zaman Demokrasi Liberal, yaitu sesudah lahirnya konsep Dwifungsi ABRI. Konsep
Dwifungsi ABRI pertama kali dikemukakan oleh A.H. Nasution yaitu dengan memfungsikan
militer selain sebagai bertempur dan memenangkan peperangan guna mempertahankan
eksistensi negara juga harus berusaha untuk menciptakan atau menjaga agar kehidupan
masyarakat dapat terbina dengan baik.
Menurut Nasution pemikiran tentang fungsi ganda ABRI bukanlah tidak ada landasan
konstitusionalnya, sebab negara RI menurut UUD 1945 haruslah diartikan sebagai organisasi
seluruh rakyat Indonesia dengan tujuan yang terdapat di dalam sila kelima Pancasila yaitu
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semua golongan dalam
masyarakat berhak ikut serta melaksanakan asas kedaulatan rakyat, dan untuk itu ABRI-pun
dapat menjadi kekuatan sosial sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UUD 1945 sebagai
golongan serta dalam penjelasan Tap MPRS No. XXII Tahun 1966 sebagai penggolongan
yang terdapat dalam masyarakat.
Tampilnya ABRI dalam tugas pembinaan wilayah (masyarakat) dimaksudkan agar roda
Pemerintahan dan fungsi-fungsi masyarakat berjalan dengan wajar, bahkan kalau bisa
bertambah baik. Untuk itu istilah ABRI melakukan kegiatan-kegiatan non-tempur yang
disebut kekaryaan. Seperti dikemukakan oleh Arief Budiman, konsep Dwifungsi ini pada
kenyataannya telah membukakan pintu bagi ABRI untuk masuk dalam kegiatan ekonomi dan
politik (dalam Mahfud, 2003: 67). Golongan militer kemudian menjadi pengelola dari
berbagai perusahaan ketika terjadi nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan asing terutama
perusahaan-perusahaan Belanda dan Amerika pada saat berlangsungnya konfrontasi dengan
Malaysia.
Menurut sejarah, sebelum lahirnya konsep Dwifungsi, militer sudah terlibat dalam
kegiatan politik sejak awal berdirinya negara RI meskipun pada mulanya melalu cara-cara
3

yang tidak resmi. Pada tingkat pusat di zaman revolusi pembatasan bidang antara militer dan
sipil memang tampak jelas. Pemerintahan dengan pemimpin militer seringkali dilakukan dan
keputusan yang diambil terletak banyak dalam soal politik. Yahya Muhaimin menyimpulkan
bahwa sebenarnya TNI sejak lahirnya sudah commited dengan urusan-urusan non-militer,
termasuk bidang politik, terutama pada para perwira yang mempunyai ideologi tertentu
seperti Jenderal Soedirman, A.H. Nasution, TB Simatupang, atau perwira lainnya.
Membawa kekuatan Angkatan Bersenjata di bawah kontrol pusat merupakan proses yang
panjang dan membahayakan. Dalam usaha mendorong angkatan udara, angkatan laut, dan
kepolisian agar tidak membahayakan Angkatan Darat yang ambisius secara politik pada
1962, Sukarno telah mengangkat kepala staf dari keempat angkatan menjadi komandan dari
masing-masing angkatan yang bertanggung jawab pada diri mereka sendiri sebagai
Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata (Wahyudi : 279). Hal ini memberikan pada para
komandan itu otonomi yang besar dan memperkuat loyalitas mereka terhadap Soekarno.
Karena ingin menghindari pertikaian dengan angkatan udara, angkatan laut dan kepolisian,
Soeharto berusaha pelan-pelan mengurangi kebebasan mereka. Pada akhir 1966, ia
mengumunkan penggabungan sekolah latihan militer ke dalam satu akademi angkatan
bersenjata (AKABRI) dan pada 1967, menghapuskan status kementrian dari pada komandan
angkatan. Sementara itu, Soeharto memperlemah perlawanan terhadap kekuasannya secara
bertahap dalam angkatan dengan menggantikan para perwira Sukarnois dengan orang yang
loyal pada dirinya.
Struktur komandan dalam Angkatan Bersenjata pada saat yang bersamaan diperketat
untuk memusatkan kekuasaan dan mengurangi otonomi para komandan daerah. Enam
Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dibentuk yang menyebabkan seluruh pasukan
angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara dibawah satu komando dalam wilayah
masing-masing. Sebagai tambahan pada kekuasaan operasionalnya berdasarkan Keputusan
Presiden No. 19/1969, tanggal 3 Maret 1969, para komandan Kowilhan membentuk,
Pelaksana Khusus Komkamtib, sebuah komando keamanan internal, yang dilakukan di
bawah otoritas Presiden secara langsung (dan bukan dibawah Komandan Angkatan Darat)
(dalam Wahyudi: 280).
Hal ini secara dramatis memperluas mandat Komkamtib, dari pemulihan keamanan
dan ketertiban sebagai akibat dari usaha kudeta menjadi penjaga kekuasaan pemerintah dan
organ-organnya dari pusat hingga pemerintah propinsi dalam rangkat mempertahankan
4

Pancasila dan UUD 1945. Targetnya sekarang tidak hanya kaum komunis tetapi setiap orang
yang dicurigai terlibat dalam kegiatan-kegiatan ekstrem dan subversif. Perubahan ini
memberikan para komando Kowilhan kekuasaan yang tidak terbatas dan memperlihatkan
kemunculan Komkamtib dalam penilaian Sundhaussen sebagai agen regim yang paling
menindas dan paling menakutkan, mencampuri aktivitas politik hampir semua organisasi
sosial politik dan menangkap orang sesuka hatinya (Wahyudi: 280).
Selain itu juga, untuk memastikan bahwa pemerintahan memenuhi kehendak Soeharto
dan untuk menyerap sebagian surplus tenaga manusia dalam angkatan darat adalah dengan
menunjuk perwira militer memasukki jabatan-jabatan pemerintahan yang dulunya dipegang
sipil. Proses ini mendapat pembenaran dari doktrin kekaryaan angkatan darat dan skalanya
meningkat tajam di bawah Orde Baru. Menurut David Jenkins memperkirakan bahwa lebih
dari 20.000 perwira diangkat selama tahun-tahun Orde Baru sebagai menteri, kepala
departemen, duta besar, rektor universitas, manajer perusahaan negara dan jabatan
pemerintahan lainnya. Ketika kaum militer tidak mengepalai departemen pemerintahan,
mereka selalu menguasai departemen-departemen pemerintahan itu dari berbagai pos
strategis seperti Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, atau Inspektur Jenderal.
B. Stabilitas Nasional sebagai Prasyarat Pembangunan
Keadaan ekonomi dan politik yang porak poranda menjadikan pemerintah Orde Baru
melakukan pembenahan dengan sasaran pembangunan ekonomi yang didukung oleh situasi
dan kondisi yang kondusif. Berdasarkan Seminar II Angkatan Darat dan seminar hukum
(1966 dan 1967) mempertegas sikap pada dua hal, yaitu sebagai berikut.
Pertama,

kesatuan dan persatuan harus dijaga, apapun biayanya.

Kedua,

stabilitas politik merupakan prasyarat usaha-usaha lain, termasuk


pembangunan ekonomi.

Selanjutnya dari dua hal tersebut dicanangkan dua strategi kebijaksanaan Pemerintah
untuk mencapai integritas nasional. Integritas nasional pada hakikatnya tidak lain
menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa yang diinginkan. Dua strategi
tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama,

penghapusan sifat-sifat kultural utama dari komunitas-komunitas yang


berbeda menjadi semacam kebudayaan nasional. Strategi ini disebut
policy asimilasionis.

Kedua,

penciptaan kesetiaan nasional tanpa menghapuskan kebudayaan atau


policy bhinneka tunggal ika.

Suatu pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa bangsa-bangsa baru, seperti
halnya Indonesia, memerlukan integrasi setelah lepas daru rezim yang menjajah sebelumnya
adalah karena pemerintah-pemerintah penjajah tidak pernah memikirkan tentang kesetiaan
nasional melainkan mengkonsentrasikan diri pada penciptaan kelas-kelas yang akan setia
kepadanya sebagai penguasa kolonial. Pemerintah kolonial, dengan demikian, hampir sama
sekali tidak memperhatikan pada pengajaran bahasa dan kebudayaan nasional, sebab
pembangunan kesetiaan dan perasaan kebangsaan dapat mengancam kelangsungan kekuasaan
kolonial di negeri jajahan. Sementara Pemerintah negara-negara yang baru merdeka
membutuhkan tingkat integrasi yang lebih tinggi ketika kesempatan bagi partisipasi rakyat
dibuka lebih lebar dalam kehidupan (Myron Weiner dalam Mahfud, 2003: 69-70).
Tuntutan integrasi menjadi masalah yang cukup rumit karena ikatan-ikatan primordial
yang telah menjadi unsur-unsur dari bangsa tersebut telah menjelma sebagai masalah yang
rumit yang menuntut perhatian serius. Berkenaan dengan itu Clifford Geertz mengemukakan
bahwa negara-negara baru senantiasa didorong oleh dua motif yang berbeda dan kerapkali
bertentangan dan menimbulkan kegoncangan (ketegangan). Motif pertama adalah kehendak
untuk diakui sebagai pelaku-pelaku yang bertanggung jawab, yang hasrat dan pendapatnya
diperhitungkan; sedangkan motif kedua adalah kehendak untuk membina negara modern
yang efisien dan dinamis (dalam Mahfud, 2003: 72).
Ditinjau dari sudut ikatan-ikatan primordialis inilah upaya pembangunan politik ke
arah integrasi bangsa menjadi sangat penting. Ironisnya, upaya integrasi bangsa ini, menurut
Geertz menghadapi dilemanya sendiri karena setiap proses penciptaan satu negara
kebangsaan yang berdaulat telah juga semakin membangkitkan sentimen primordial karena
negara kebangsaan itu membawa hal baru yang dapat diperebutkan oleh berbagai kelompok
primordial. Kenyataan yang demikian telah menutut upaya pengecilan porsi pemberian
otonomi kepada rakyat sehingga peranan negara bisa lebih besar. Dengan demikian ada
sebuah dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam upaya integrasi nasional ini yakni tuntutan
akan lebih besarnya peranan negara daripada peranan masyarakat.
6

Hal senada juga diungkapkan oleh Ichlasul Amal yang mengatakan bahwa
kemungkinan memberikan otonomi-otonomi kepada rakyat sesungguhnya mengandung
dilema, sebab antara otonomisasi dan konsep negara yang mempunyai porsi (peranan) yang
besar itu sangatlah kontradiktif. Tampaknya masalah yang sulit dirumuskan adalah sampai
berapa besar dan bagaimana bentuk otonomi yang mampu membangkitkan kreatifitas di satu
pihak, tetapi pada pihak lain pemberian otonomi tersebut tidak mengakibatkan tingkah laku
detrimental terhadap integrasi negara (Mahfud, 2003: 74).
C. Strategi Orde Baru
1. Pengangkatan Anggota DPR
Sesuai dengan prinsip Dwifungsi ABRI bahwa selain Hankam juga menjadi kekuatan
sosial politik adalah kenyataan hal yang tidak dapat dipungkiri. Pengangkatan anggota ABRI
di dalam MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
tidak ditolak secara apriori oleh partai-partai sehingga sejauh menyangkut masalah ini
konsensus nasional berjalan lancar. Pertimbangan dari penerimaan sistem pengangkatan ini
adalah bahwa dalam keadaan yang masih gawat dikhawatirkan muncul satu fraksi yang dapat
menguasai suara mayoritas di MPR dan dengan besarnya suara fraksi tersebut dapat
menggunakan kekuasaannya untuk mengubah Pancasila dan UUD 1945 (Mahfud, 2003 : 81).
Perdebatan selanjutnya muncul adalah jumlah anggota ABRI yang diangkat serta
siapa-siapa yang akan diangkat. Semula Golkar dan ABRI mengusulkan anggota yang
diangkat adalah 50 persen dari seluruh anggota DPR sesuai dengan yang tertuang di dalam
RUU Pemilu tetapi serangkaian pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk pengangkatan
100 orang saja yang diangkat dari 460 orang seluruh anggota DPR. Kemudian setelah melalui
perdebatan yang panjang akhirnya disepakati Pasal 10 UU No. 16 tahun 1969 tentang
Susunan MPR, DPR, dan DPRD yang menentukan bawa anggota DPR berjumlah sebanyak
460 orang, 360 orang dipilih melalui pemilihan umum, dan 100 orang diangkat. 100 orang
yang diangkat ini terdiri dari 75 orang dari ABRI dan 25 orang dari golongan fungsional nonABRI (Mahfud, 2003: 82).
Adanya cara pengangkatan anggota DPR ini telah menimbulkan reaksi cukup kritis.
Harian Abadi (yang kemudian dicabut SIT-nya) pada tajuknya tanggal 1 Desember 1969
menulis bahwa ciri dan watak Demokrasi Pancasila yang tertuang di dalam UU Pemilihan
Umum secara logis bertentangan dengan prinsip demokrasi baik terhadap demokrasi absolut
(kekuasaan tertinggi langsung di tangan rakyat) maupun demokrasi representatif (kekuasaan
7

rakyat melalui perwakilan); sementara Harian Kami menulis pula bahwa kenyataan UU yang
menyetujui adanya sejumlah orang diilih dan sejumlah orang diangkatan adalah pengingkaran
terhadap demokrasi. Begitu juga tokoh Masyumi, Moh. Roem mengkritik bahwa sistem
penjatahan adalah tidak sesuai dengan maksud kedaulatan rakyat yang justru hanya dapat
dicapai dengan pemilihan, dan tidak mungkin dengan pengangkatan.
Reaksi lain yang cukup keras juga datang dari tokoh cendekiawan Adnan Buyung
Nasution yang di depan forum seminar mahasiswa Malang menyatakan bahwa UndangUndang Pemilu mempunyai makna dan efek menutup pintu bagi perkembangan dan
pertumbuhan generasi muda kini oleh generasi tua yang tidak dapat dimaafkan kalau bukan
suatu kejahatan politik. Sampai pada selesainya UU Pemilu ini langkah pasti dari negara
Orde Baru untuk mengatasi kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat atau tampil sebagai
negara yang kuat sudah semakin mantap. Penciptaan kondisi politik yang stabil oleh Soeharto
telah melahirkan format politik baru Indonesia dengan lahirnya UU Pemilu tahun 1969.
Alfian mencatat bahwa sejak pengukuhan Soeharto sebagai presiden oleh MPRS
terlihat terjadinya proses pertumbuhan sebuah kekuasaan eksekutif yang kuat di bawah
kepemimpinan Soeharto sendiri, bersama dengan proses pengukuhan posisi militer beserta
golongan karya (Golkar) sebagai landasan kekuatan utamanya. Seiring dengan itu kita
melihat proses penyederhanaan sistem kepartaian berlangsung pula dengan lancar dan
sistematis. Semua itu telah berhasil menciptakan semacam kestabilan politik. Dengan
demikian sebuah format politik baru sudah terbentuk (Mahfud, 2003: 84).
2. Pancasila sebagai Satu-Satunya Asas
Menjelang Pemilu 1977 Presiden mulai mengintrodusir apa yang disebutnya sebagai
Eka Prasetya Pancakarsa. Pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 1975, Presiden antara
lain mengemukakan bahwa kita tidak mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara. Kita
tidak menyangsikan seujung rambut mengenai ketepatan Pancasila sebagai dasar falsafah
negara yang dapat memberi bimbingan bagi kemajuan, kesejahteraan, dan keselamatan
bangsa kita.
Ajakan saya adalah menjabarkan Pancasia itu dalam rumusan-rumusan yang
sederhana dan jelas untuk dipakai pedoman sikap hidup manusia Indonesia
Pancasila...

Ajakan saya adalah agar kita bersama-sama memikirkan penghayatan dan


pengamalan Pancasila dalam segala segi kehidupan dan tingkah laku kita seharihari.(dalam Mahfud, 2003: 91).
Pada acara lain di kesempatan sebelumnya yaitu dalam sambutan peringatan ulang
tahun ke-25 Universitas Gadjah Mada (19 Desember 1974) Presiden telah mengemukakan
perhatian dan keprihatinannya mengenai pengamalan Pancasila:
Pancasila adalah milik kita. Kita telah memilikinya tetapi baru merasa memiliki
belum memahami atau menghayati apa yang sebenarnya Pancasila itu. Justru karena
itulah, saya ingin mengajak seperti beberapa kali saya nyatakan dalam berbagai
kesempatan untuk memikirkan bersama penghayatan dan penjabaran Pancasila agar
dapat dimengerti, diamalkan, dan memberi wujud yang nyata dalam segala segi
kehidupan dan tingkah laku kita sehari-hari yang berdasarkan Pancasila. (dalam
Mahfud, 2003: 92).
Pada mulanya gagasan Presiden tentang Eka Prasetya Pancakarsa ini menimbulkan
pro-kontra karena tidak semua pihak begitu saja menerimanya. Alasannya yang antara lain
dikemukakan oleh yang menolak waktu itu adalah tentang kedudukan Eka Prasetya
Pancakarsa itu disamping UUD 1945. Sebab penjabaran Pancasila sebagai pedoman hidup
bernegara sudah ada yaitu UUD 1945 itu. Dalam kaitan penolakan itu pula fraksi PPP dalam
SU-MPR 1978 melakukan walk-out dari sidang komisi karena tidak menyetujui Eka Prasetya
Pancakarsa dijadikan Ketetapan MPR. Bagi PPP baju hukum yang tepat untuk Eka Prasetya
Pancakarsa itu adalah peraturan perundang-undangan di bawah ketetapan MPR, seperti
Peraturan Pemerintah atau UU.
Menjelang diadakannya voting di Komisi B yang membahas tentang P4 juru bicara
PPP, Karmani, SH membacakan pernyataan yang tampaknya sudah disiapkan sebelumnya.
Isi pernyataan itu adalah PPP tidak berkeberatan diadakannya suatu pedoman untuk
mengamalkan Pancasila asal tidak berbentuk Tap, dan tidak berbeda dengan jiwa dan makna
Pancasila yang ada di dalam UUD 1945. Akhirnya, Sidang Umum MPR tetap menerima P4
dan menuangkannya di dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Dan juru bicara semua fraksi, termasuk fraksi PPP
pada kata akhir Sidang Umum MPR menyatakan bahwa fraksinya terikat dan turut

bertanggung jawab atas semua putusan-putusan majelis, sebagai pelaksanaan Pasal 99


Peraturan Tata Tertib MPR yang berbunyi:
Setiap putusan, baik sebagai hasil mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak
harus diterima dan dilaksanakan dengan kesungguhan, keikhlasan hati, kejujuran,
dan bertanggung jawab. (Mahfud, 2003: 93).
Masih dalam kaitan upaya integrasi pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 1982
di depa DPR, Presiden mengemukakan usulnya tentang penetapan Pancasila sebagai satusatunya asas yang kemudian populer dengan sebutan gagasan asas tunggal. Waktu itu
Presiden mengusulkan agar semua organisasi politik memakai Pancasila sebagai satu-satunya
asas organisasi. Gagasan ini dianggap penting untuk menghindari keberingasan sosial yang
sering muncul akibat persaingan antar-kontestan dalam pemilu karena perbedaan asas partai
yang selalu terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya.
Gagasan ini banyak memancing pro dan kontra, Deliar Noer misalnya menyatakan
bahwa keberingasan yang terjadi pada masa kampanye pemilihan umum tidak terletak pada
asas partai yang berbeda, oleh sebab sejarah politik di negara kita juga memperlihatkan
ketenangan dan kedamaian pada pemilihan umum 1955 ketika perbedaan asas partai lebih
banyak terdapat. Sebab masalah itu seharusnya dipelajari pada segala segi yang menyangkut
pemilihan umum juga suasana dan perkembangan politik tentu perlu diperhatikan. Disamping
ada manfaat seperti yang diinginkan Presiden, penetapan asas tunggal itu menurut Deliar
Noer lebih banyak mudharatnya oleh karena:
a. Seakan-akan asas ini saja yang mutlak tepat, padahal kebenaran absolut ada pada
Tuhan.
b. Seakan asas lain berlawanan dengan asas tunggal, padahal diakui agama tidak
berlawanan dengannya.
c. Keterbukaan berkurang karena penilaian terhadap sesuatu tidak secara otomatis
bisa dibawakan pada asas tunggal.
d. Menyuruh orang untuk menanam tebu di bibir.
e. Seakan sudah ada satu tafsir tentang asas tunggal ini; seakan semua tafsir sama,
padahal perbedaan tafsir tidak otomatis berarti perlawanan sesamanya.

10

Bersamaan dengan polemik tentang pro dan kontra atas gagasan asas tunggal itu MPR
memasukkan gagasan itu dalam rancangan GBHN dalam Sidang Umum yang tersusun dalam
redaksi sebagai berikut.
Peranan kekuatan-kekuatan politik khususnya dan partai-partai dan Golongan
Karya sangat penting artinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta
sebagai modal dasar pembangunan nasional. Dalam rangka ini demi kelestarian
pengamalan Pancasila, partai politik dan Golongan Karya harus benar-benar
menjadi kekuatan sosial politik yang berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya
asas. Selanjutnya perlu ditingkatkan pendidikan politik serta memperjuangkan
aspirasi masyarakat yang berorientasi kepada program pembangunan secara jujur,
sehat, dan bertanggung jawab demi tercapainya tujuan nasional.(dalam Mahfud,
2003: 94).
Meskipun dari rumusan yang tercantum di dalam GBHN jelas bahwa yang diharuskan
memakai Pancasila sebagai satu-satunya asas adalah organisasi politik, tetapi ketika akan
ditindak-lanjuti dengan undang-undang, Pemerintah ingin agar keharusan tersebut
menjangkau pula organisasi-organisasi kemasyarakatan. Walaupun menimbulkan kontroversi
akhirnya pemerintah melahirkan paket lima undang-undang politik pada tahun 1985. Paket
lima UU Bidang Politik adalah tentang Pemilu, tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
dan DPRD, tentang Parpol dan Golkar, tentang referendum dan Ormas.
Dari UU itu menegaskan bahwa orpol maupun ormas harus memakai Pancasila
sebagai satu-satunya asas. Dengan dasar itu maka di samping orpol, ormas-ormas pun banyak
yang kemudian menyesuaikan diri menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas. Pihak
Pemerintah sendiri untuk menjamin dipatuhinya UU tentang keormasan tersebut telah
mengumumkan agar semua ormas segera mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri
(dengan syarat mencantumkan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi) dengan
konsekuensi dinyatakan bubar (membubarkan diri) jika sampai waktu yang ditentukan tidak
mendaftarkan diri. Organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah contoh ormas yang
dinyatakan bubar (dianggap membubarkan diri) karena tidak mendaftarkan diri sesuai dengan
yang ditentukan oleh Departemen Dalam Negeri.
Ditetapkan dan diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya asas kiranya merupakan
puncak penggalangan yang dilakukan secara terus menerus sejak tahun 1966/1967 oleh Orde
Baru dalam rangka integrasi nasional sebagai diputuskan oleh Seminar II Angkatan Darat
11

tahun 1966 yang menyatakan akan membayar berapa-pun untuk terciptanya persatuan dan
kesatuan, serta menjamin stabilitas politik sebagai prasayarat pembangunan. Jadi realisasi
tekad Seminar II Angkatan Darat itu berhasil mencapai puncaknya pada tahun 1985. Sampai
disini kita dapat mencatat upaya-upaya bertahap dan sistematis negara Orde Baru untuk
membangun stabilitas nasional (yang nantinya menjadi jalan untuk tampilnya negara kuat,
negara integral) sebagai berikut.
Pertama, penggarapan undang-undang pemilu yang akhirnya memberi peluang bagi
dominasi Pemerintah melalui sistem pengangkatan.
Kedua, penetapan hanya 10 (sepuluh) kontestan yang dapat tampil dalam Pemilu
1977.
Ketiga, pengelompokan partai-partai ke dalam golongan spiritual, golongan
nasionalis, dan golongan karya yang pada akhirnya (1973) mengantarkan pada fusi parpol.
Keempat, penyederhanaan sistem kepartaian dengan UU No. 3 tahun 1975 tentang
Parpol dan Golkar.
Kelima, penetapan oleh MPR tentang Eka Prasetya Pancakarsa (P4) pada tahun 1978.
Keenam, penetapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi orpol dan ormas
(1983/1985) yang kemudian diikuti dengan pelantikan anggota DPR/MPR yang diambil
sumpahnya berdasarkan rumusan ideologi yang baku (satu-satunya asas itu) pada tanggal 1
Oktober 1987.
Alfian mengemukakan bahwa proses pembaruan politik tampak menjurus ke arah
semakin kuatnya suasana kehidupan politik yang semakin menyatu dalam kehidupan
bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya asas,
lebih memperkuat lagi suasana kehidupan politik yang menyatu. Dan senada dengan itu
Maswadi Rauf juga mengemukakan bahwa diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal telah
dapat menghilangkan pertentangan ideologi, dan konflik yang timbul lebih bersifat
pertentangan program.
Menurut Moertopo tujuan dari P4 adalah untuk menanamkan gagasan ini dan dengan
demikian, mengubah seluruh cara orang Indonesia memahami identitas dan kebudayaannya
sendiri. Seperti yang diungkapkan dalam pidatonya sebagai berikut.
P4 ini tidak lain adalah mengindonesiakan orang Indonesia. Saya maksudkan
membuat orang Indonesia benar-benar menjadi orang Indonesia. Jadi selama
12

saudara belum mengenal P4, saudara belum menjadi warganegara yang lengkap.
(dalam Wahyudi, 2007: 361).
Jika orang Indonesia telah menerima Pancasila state of mind atau sikap berpikir
yang diminta oleh Pancasila, maka Moertopo mengatakan sebagai berikut.
Tidak mungkin ideologi komunis itu masuk, tidak mungkin ada ideologi lain yang
masuk. Dengan adanya P4 ini, berarti kita kembali menyusun pertahanan mental,
pertahanan politik, pertahanan sosial, pertahanan budaya bangsa Indonesia untuk
menghadapi semua kemungkinan yang timbul dari luar maupun yang timbul dari
dalam.
Maka, satu tujuan utama kampanye P4 adalah untuk membentuk rakyat Indonesia
dalam citra baru, untuk menciptakan apa yang disebut pemerintah Manusia Pancasila atau
Manusia Seutuhnya. Disinilah keberlanjutan antara kampanye indoktrinasi dan program
restukturisasi politik Orde Baru yang ambisius menjadi jelas. Sebagaimana pemerintah telah
membentuk kembali wajah politik, maka pemerintah juga mencoba membentuk kembali,
dalam kata-kata Pedoman P4 sikap dan perilaku setiap orang Indonesia dalam kehidupan
sosial dan politik. Hanya Pancasila yang berakar sebagaimana klaim Soeharto dalam tradisi
spiritual kuno Indonesia yang dapat memberikan orang Indonesia kekuatan hidup dan
menahan pengaruh yang merusak dari ideologi-ideologi asing (dalam Wahyudi, 2007: 363).

13

BAB III
KESIMPULAN

Naiknya Orde Baru dipandang sebagai munculnya sesuatu yang berbau baru dan
menggantikan yang berbau lama. Hal ini termasuk dalam indoktrinasi dan penerapan
Pancasila yang sangat diperhatikan. Berbagai strategi dilakukan secara bertahap, yaitu
sebagai berikut: Pertama, penggarapan undang-undang pemilu yang akhirnya memberi
peluang bagi dominasi Pemerintah melalui sistem pengangkatan; Kedua, penetapan hanya 10
(sepuluh) kontestan yang dapat tampil dalam Pemilu 1977; Ketiga, pengelompokan partaipartai ke dalam golongan spiritual, golongan nasionalis, dan golongan karya yang pada
akhirnya (1973) mengantarkan pada fusi parpol; Keempat, penyederhanaan sistem kepartaian
dengan UU No. 3 tahun 1975 tentang Parpol dan Golkar; Kelima, penetapan oleh MPR
tentang Eka Prasetya Pancakarsa (P4) pada tahun 1978; Keenam, penetapan Pancasila sebagai
satu-satunya asas bagi orpol dan ormas (1983/1985) yang kemudian diikuti dengan
pelantikan anggota DPR/MPR yang diambil sumpahnya berdasarkan rumusan ideologi yang
baku (satu-satunya asas itu) pada tanggal 1 Oktober 1987.
Ideologi negara Pancasila harus tetap dijaga sebagai ideologi terbuka yang menjadi
pengikat integrasi agar tetap selalu relevan. Hal ini penting karena kualitas satu ideologi itu
dapat dilihat dan diukur melalui tiga dimensi yaitu: kemampuannya mencerminkan realitas
yang hidup dalam masyarakat, idealisme yang terkandung di dalamnya, dan fleksibilitasnya
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Sifat terbuka ini harus tetap dijaga agar tidak
sampai timbul sikap fanatisme sempit terhadap Pancasila yang mungkin dapat menurunkan
kualitas karena daya fleksibiltasnya menjadi lemah.
Ideologi terbuka memiliki ciri khas bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak
dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral, dan budaya
masyarakat sendiri (Syarbaini, 2009: 57). Alfian mengemukakan pula bahwa gangguan
terhadap fleksibilitas ideologi bisa terjadi, antara lain melalui usaha membuat tafsiran-tafsiran
ideologi secara terperinci sampai memasukki hal-hal yang kecil, sebab jaringan tafsiran
semacam itu akan menutup rapat ideologi itu, apalagi kalai sampai dianggap sebagai satusatunya yang benar sehingga menjelma menjadi agama sekuler (dalam Mahfud: 98).

14

DAFTAR PUSTAKA

Bourchier, David. 2007. Pancasila Versi Orde Baru dan Asal-Muasal Negara Organis
(Integralistik). Yogyakarta: Aditya Media.
Krissantono. 1976. Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila. Jakarta: Center For
Strategic and International Studies (CSIS).
Mahfud, Moh. 2003. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Setyo, Bambang. 2011. Telaah Kritis Dasar Falsafah Negara Republik Indonesia dalam
Perspektif Aqidah Islam. Jakarta: Masyarakat Peduli Syariaah (MPS).
Syarbaini, Syahrial. 2009. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Bogor: Ghalia
Indonesia.

15