Anda di halaman 1dari 3

1.

2 Respon Emosi dan Psikologi pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan
2.2.1 Respon Afektif (emosi)
Marah sebagai suatu emosi yang mempunyai ciri-cir aktivitas saraf simpatetik
yang tinggi (Davidoff, 1991 dalam Triantoro, 2009). Bagaimanapun pengalaman
emosional dari marah tidak selalu mengarah pada respon antagonis (Averil, 1983 dalam
Christoper, 2010). Kekerasan adalah merupakan salah satu dari respon afektif (emosi)
marah yang maladaptif. Seseorang yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak
berdaya, jengkel, merasa ingin berkelahi, mengamuk, bermusuhan, sakit hati,
menyalahkan, menuntut, mudah tersinggung, euporia yang berlebihan atau tidak tepat,
dan afek labil (Stuart & Laraia, 2009). Sedangkan menurut Boyd dan Nihart (1998) tanda
dan gejala perilaku kekerasan dapat diketahui secara afektif yaitu akan ditemukan
iritabilitas, depresi, marah, kecemasan, dan apati.
2.2.2 Respon Fisiologis
Menurut Beck respons fisiologis marah timbul karena kegiatan sistem saraf
otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, wajah
merah, pupil melebar, dan frekuensi pengeluaran urin meningkat. Ada gejala yang sama
dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti tangan
dikepal, tubuh kaku dan reflek yang cepat, hal ini disebabkan karena energi yang
dikeluarkan saat marah bertambah (Purwanto, 2006 dalam Triantoro, 2009).
Selain itu, terdapat beberapa gangguan yang muncul oleh karena respon pasien terhadap
penyakitnya:
1. Gangguan Mood
Gangguan mood ada beberapa bentuk yaitu ; painful arousal, hipersensitif terhadap
peristiwa yang tidak menyenangkan, tidak sensitif terhadap peristiwa yang tidak
menyenangkan, anticipatory pleasure berkurang, anhedonia, apati.
2. Gangguan Psikomotor
Beberapa peneliti menganggap retardasi psikomotor merupakan inti atau patologi primer
gangguan depresi. Salpetriere Retardation Scale membagi gangguan psikomotor dalam
beberapa bagian yaitu ; lambatnya pergerakan spontan, keletihan yang berlebih-lebihan,
pasien mengeluh semua dipaksakan, berkurangnya arus dan amplitudo pembicaraan dan
bertambahnya waktu untuk merespon atau sering menimbulkan monosyllabic speech, susah
konsentrasi dan pelupa, perasaan subjektif bahwa waktu berlalu dengan lambat atau berhenti
sama sekali, ragu-ragu, tidak dapat membuat keputusan sederhana.

3. Gangguan Kognitif
Gangguan kognitif secara klinis pada gangguan depresi dapat berupa ide deprivasi atau
kehilangan, self-esteem dan self-confidence yang rendah, rasa bersalah yang patologis,
perasaan tidak berdaya, dan rasa pesimis, adanya pemikiran kematian dan suicide.

1.3
Respon Emosi dan Psikologi Keluarga dalam Merawat Pasien dengan Gangguan
Sistem Persarafan
Peran keluarga terhadap perkembangan emosi mampu untuk mengenali, mengelola, dan
mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi
orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Keluarga dapat mengembangkan
keterampilan kecerdasan emosional maupun psikologi anggota keluarga dengan memberikan
beberapa cara yaitu:
1. Mengenali emosi diri, mengenali perasaan pasien sewaktu perasaan yang dirasakan
terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. kemampuan untuk memantau perasaan
dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman pasien.
2. Mengelola emosi, menangani perasan pasien agar dapat terungkap dengan tepat
kemampuan untuk menghibur , melepasakan kecemasan kemurungan atau
ketersinggungan, atau akibat-akibat yang muncul karena kegagalan.
3. Memotivasi , penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat
penting dalam keterkaitan memberi perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi pasien.
4. Membina hubungan dengan baik, Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita
mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan
kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan.
5. Berkomunikasi dengan jiwa merespon keluhan pasien dan memberikan bantuan saat
dibutuhkan.
Respon emosi dan psikologi akan selalu dialami oleh setiap keluarga jika ada salah sau
anggota keluarga dalam keadaan sakit. Sebuah keluarga dapat dipandang sebagai
sistemterbuka, suatu perubahan atau gangguan pada salah satu bagian dari sistemdapat
mengakibatkan perubahan atau gangguan dari seluruh sistem. Stres ataucemas yang dihadapi
dan dialami oleh salah satu anggota keluargamempengaruhi seluruh keluarga.Klien
dankeluarganya harus menghadapi berbagai perubahan yang terjadi akibat kondisisakit dan
pengobatan yang dilaksanakan. Keluarga umumnya akan mengalamiperubahan perilaku dan
emosional,setiap orang mempunyai reaksi yang berbedabeda terhadap kondisi yang dialami.

Menurut Friedman,Bowden dan Jones (2003) memberikan gambaran bahwa terdapat


interaksi keluarga dengan rentang sehat-sakit dalam bentuk upaya respon akut tehadap
penyakit klien dan keluarga. Peran keluarga sangat pentingg dalam tahapan-tahapan
perawatan kesehatan, mulai dari tahapan peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan
sampai tahap rehabilitasi.
Bentuk dukungan keluarga yang dapat diberikan kepada anggota keluarganya yang
sedang sakit yaitu dibagi menjadi lima bentuk dukungan sosial;
1. Dukungan instrumental
Bentuk dukungan ini dapat mengurangi stres karena individu dapat memecahkan
masalahnya yang berhubungan dengan materi.
2. Dukungan informasional
Bentuk dukunan ini melibatkan pemberian informasi, saran atau umpan balik tentang
situasi dan kondisi individu (pasien)
3. Dukungan emosional
Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin,
diperdulikan dan dicintai oleh lingkungan sosial atau keluarga dalam individu
menghadapi masalah contohnya gangguan kejiwaan.
4. Dukungan pada harga diri
Bentuk dukungan ini berupa pengharggaan pada individu, pemberian semangat dan
motivasi positif kepada individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.
5. Dukungan dari kelompok sosial
Benuk dukungan ini membua individu merasa menjadi anggota dari suatu kelompok
yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial dengannya.
http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id
http://scholar.google.com/scholar?q=Respon+Emosi+dan+Psikologi+Keluarga+dalam+merawat
+pasien (diakses pada 25 november 2014 pk 21.10)