Anda di halaman 1dari 53

PERMUSUHAN ANTAR UMAT ISLAM YANG DI

SEBARKAN OLEH WAHHABISME


Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan
pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim
sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung
kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat
yang membabi buta, yakni doktrin takfiri, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir.
Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam yang benar
(menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan terhadap semua kaum Muslim yang
dipandang tidak sejalan dengan ajarannya. Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak
terelakkan. Peradaban Islam pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan
dengan persoalan internal yang sudah usang.

I. Wahhabi Sebagai Sekte Tersendiri


Istilah Wahhabi tidak diproklamirkan oleh pendiri ataupun pengikutnya, melainkan datang dari
orang-orang yang berada di luar. Nama tersebut diambil dari perumus doktrin ajaran ini, yaitu
Muhammad bin Abdul Wahhb (1115 H/ 1703 M 1206 H/ 1791 M). Hingga saat ini, Wahhabi
dijadikan mazhab resmi di Arab Saudi yang pahamnya mendominasi berbagai aspek kehidupan
di sana.
Pengikut aliran ini sendiri menolak sebutan Wahhabi, sebab sejak awal telah menjadi stigma
yang melahirkan kesan buruk, sehingga mereka lebih memilih istilah al-Muwahhidn atau Ahl
al-Tawhd, yang berarti orang-orang yang mentauhidkan Allah. Namun justru nama yang mereka
gunakan itu mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip tauhid yang
merupakan landasan pokok Islam. Menurut Prof. Hamid Algar, tidak ada alasan untuk menerima
monopoli atas prinsip tauhid tersebut, sebab gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang anak
manusia yang bisa benar bisa juga salah. Maka, cukup beralasan dan lazim untuk menyebutnya
Wahhabisme dan kaum Wahhabi.[1]
Para pengikut Wahhabi menyatakan diri bahwa tujuan mereka semata-mata hanya untuk
memurnikan tauhid. Tauhid harus dimurnikan sebab telah bercampur dengan apa yang mereka
namakan sebagai syirik, tahayul, bidah dan khurafat. Islam yang sarat beban historis harus
dirampingkan dan dibersihkan dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya,
Al-Quran dan Al-Sunnah.
Wahhabisme merupakan fenomena yang bersifat spesifik, yang mesti dipandang sebagai mazhab
pemikiran terpisah atau sekte tersendiri. Para pengamat, khususnya non-Muslim, banyak yang
melakukan deskripsi ringkas keliru tentang mereka dengan menyebutnya sebagai kelompok
Sunni ekstrim atau konservatif. Padahal sejak awal, para ulama Sunni sendiri menganggap

mereka bukan bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jamah. Hal itu disebabkan karena hampir
seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang merupakan bagian integral Islam Sunni, dikecam
oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahwa kaum Wahhabi kini dianggap sebagai Sunni[2],
hal itu mengindikasikan bahwa istilah Sunni telah diberi makna yang sangat longgar, yakni
sekadar pengakuan terhadap legitimasi empat khalifah yang pertama. Bahkan istilah Sunni yang
berkembang sekarang tidak lebih berarti non-Syiah.[3] Karena itulah, penulis menganggap
Wahhabi merupakan sekte atau mazhab tersendiri dalam Islam.

II. Perjalanan Wahhabisme dalam Sejarah


Pendiri gerakan Wahhabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, berasal dari keluarga klan Tamim
yang menganut mazhab Hambali, dan sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama
bermazhab Hambali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke-14 M.
Sebelum menjadi mubaligh, ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah yang motifnya
tidak begitu jelas[4]. Mekkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah (Irak), Damaskus (Syria), Qum
(Iran), Afghanistan serta India adalah wilayah yang sempat ia kunjungi. Setelah berkelana dan
belajar di berbagai kota, lantas ia pun membawa doktrin-doktrin yang kemudian dijadikan
landasan pemikiran dan keyakinannya, yang nantinya dinilai bermasalah oleh mayoritas
kalangan Sunni ataupun Syiah.
Sebagian peneliti meragukan motif utama Wahhabisme sebagai gerakan keagamaan murni.
Mereka mengajukan bukti yang mengarah kepada keraguan tersebut. Salah satunya adalah bukti
yang diajukan oleh Dr. Abdullah Mohammad Sindi, seorang professor yang berasal dari Saudi
Arabia. Dalam makalahnya yang berjudul Britain and the Rise of Wahhabism and the House of
Saud[5], ia mengutip sebuah memoar yang ditulis seorang agen rahasia Inggris yang berjuluk
Hempher.
Dalam Confession of a British Spy[6], demikian judul memoar tersebut, Hempher mengakui
adanya sebuah konspirasi Inggris untuk menggoyang kekuasaan Imperium Ottoman
(Utsmaniyah) serta untuk menciptakan konflik di antara kaum Muslim.
Hempher yang berpura-pura memeluk Islam itu menjalin persahabatan panjang dengan
Muhammad bin Abdul Wahhab. Hingga akhirnya berhasil melakukan brainwash terhadap
Muhammad bin Abdul Wahhab, sehingga mampu meyakinkannya bahwa kebanyakan kaum
Muslim saat itu telah menyimpang dari ajaran yang benar. Dan Muhammad bin Abdul Wahhab
adalah manusia terpilih yang bisa menyelamatkan Islam dari berbagai penyimpangan.
Tentang kepribadian Ibn Abdul-Wahhab, Hempher menggambarkannya sebagai seorang yang
tidak stabil, berperangai buruk, gugup, sombong, dan bodoh.[7]
Jika memoar tersebut benar adanya, maka tak diragukan bahwa gerakan Wahhabisme sejak awal
sudah terlibat dalam konspirasi yang disusun oleh kolonial Inggris. Namun karena adanya
sebagian peneliti yang meragukan memoar tersebut dengan menunjukkan beberapa kejanggalan,

maka tidak menutup kemungkinan bahwa gerakan Wahhabisme pada awalnya memang
merupakan gerakan keagamaan. Meskipun pada perkembangan berikutnya, adanya campur
tangan Inggris tak bisa dipungkiri lagi.
Untuk menarik berbagai analisa dari sebuah gerakan kontroversial ini, penulis membagi
perjalanan sejarah Wahhabisme dalam tiga periode:

Periode Pertama (1744-1818): Babak Awal Aliansi Wahhabi-Saudi


Huraymilah terletak di Najd, sebuah wilayah di bagian timur jazirah Arab. Di sinilah dakwah
Ibnu Abdul Wahhab dimulai setelah kembali dari pengembaraannya. Ajarannya yang keras itu
mengalami penolakan dari masyarakat setempat, termasuk dari ayah dan saudaranya sendiri.
Pada periode ini, Ibnu Abdul Wahhab menyusun sebuah buku kecil sederhana yang diberi judul
Kitb al-Tawhd, sebuah rujukan yang miskin bobot intelektual, sebab di dalamnya tidak ada
penjelasan yang menunjukkan bangunan kerangka berpikir sang penulis. Tentang kitab ini,
simak komentar Prof. Hamid Algar:
Alih-alih menguraikan doktrin Islam yang paling fundamental seperti tercermin dari judulnya,
buku kecil itu hanya berisi kumpulan hadits tanpa diberi komentar, yang disusun dalam enam
puluh tujuh bab.

Adalah lebih mendekati kebenaran untuk mengatakan buku ini dan karya-karya lain Muhammad
bin Abd al-Wahhab merupakan catatan-catatan seorang pelajar.

Tampaknya para pelindung Wahhabisme merasa malu dengan ketipisan karya Muhammad bin
Abd Wahhab, sehingga mereka memandang karya itu perlu dipertebal ukurannya.[8]
Setelah empat belas tahun menyebarkan ajarannya, ia kembali ke tempat kelahirannya,
Uyaynah, yang kini memiliki kondisi yang lebih menguntungkan. Penguasa setempat, yaitu
Utsman ibn Muammar memperluas perlindungannya kepada Muhammad bin Abd al-Wahhab
dan bersumpah untuk setia kepada pemahaman tauhid yang didakwahkan oleh Ibnu Abdul
Wahhab.
Perlindungan penguasa membuat Ibnu Abdul Wahhab semakin tak terkendali. Ia semakin
terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bidah. Ia
mulai mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin serta menolak berbagai tafsir AlQuran yang dianggapnya menyimpang.

Namun ini tidak berlangsung lama. Penguasa saat itu, Utsman ibn Muammar, menyerah kepada
pimpinan suku yang kuat di wilayah itu, sehingga pada tahun 1744 ia diusir penguasa baru yang
membuatnya pindah ke Al-Diriyyah (masih di Najd), ibu kota keamiran Muhammad bin Saud,
yang notabene bermusuhan dengan amir Uyainah saat itu. Di sinilah Ibnu Abdul Wahhb
mendapat perlindungan. Selanjutnya terbentuklah sebuah aliansi permanen yang meliputi tiga
aspek: politik, keagamaan, dan perkawinan. Di bidang politik, sebagai amir Ibnu Saud
mendapatkan legitimasi keagamaan; dalam bidang keagamaan Ibnu Abdul Wahhab diuntungkan
dengan diangkatnya menjadi qadi serta ajarannya dinyatakan sebagai mazhab resmi; dan dalam
perkawinan Ibnu Saud mengawini salah seorang putri Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebuah
aliansi yang tentu saja menguntungkan kedua belah pihak. Prof. Abdullah Mohammad Sindi
menyebutkan bahwa lagi-lagi Inggris mengambil peran penting dalam rangka terwujudnya
aliansi tersebut. Melalui dukungan uang dan senjata, Inggris semakin mudah menghasut mereka
aliansi tersebut.[9]
Inilah babak awal lahirnya sebuah negara teokratik yang kelak mengontrol ketat segala macam
bentuk interpretasi keagamaan khususnya di Arab Saudi.
Muhammad bin Saud kemudian menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai
pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahhab. Tahun 1159 H/ 1746 M,
aliansi Wahhabi-Saudi melakukan proklamasi formal jihad melawan semua orang yang tidak
sejalan dengan pemahaman tauhid Wahhabisme, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai kafir,
musyrik, dan murtad. Mula-mula mereka menyerang mazhab Syiah, kemudian kaum sufi, lalu
mulai menyerang orang-orang Sunni. Semua yang tidak mau mengikuti mazhab mereka
dianggap kafir dan halal darahnya.
Dalam kurun waktu 10 tahun, aliansi tersebut tumbuh pesat menjadi kekuatan dominan di jazirah
Arab. Wilayah kekuasaan Muhammad bin Saud berkembang seluas 30 mil persegi.[10]
Tahun 1206 H/ 1791 M, tidak lama sesudah bentrokan dengan penguasa Madinah, Muhammad
bin Abdul Wahhab meninggal. Namun hal ini tidak mengurangi motivasi untuk melakukan
penaklukan dan pembantaian. Malah, kekuatan mereka tumbuh semakin besar.
Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syiah di Karbala, tercatat 4000 orang
dibantai secara kejam. Secara brutal pula mereka menghancurkan makam Imam Husain di sana.
Tahun 1810 mereka membunuh orang-orang tak bersalah di jazirah Arab. Di Makkah mereka
menjarah orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Di Madinah mereka menyerang dan
menodai Masjid dan makam Nabi.
Menyadari kekuatan yang semakin besar, maka target selanjutnya adalah melepaskan diri dari
dari Imperium Utsmani. Tidak butuh waktu lama, ekspansi Wahhabi berhasil menimbulkan
instabilitas di wilayah kekhalifahan tersebut, terutama di semenanjung Arabia, Irak dan Syam.

Periode Kedua (1818-1932): Kekalahan dan Kebangkitan Baru

Pendudukan kaum Wahhabi atas Haramain memaksa pewaris kekhalifahan yang resmi, yakni
Kerajaan Utsmaniyah, untuk bertindak tegas. Terlebih, berbagai aksi teror yang dilancarkan
kelompok Wahhabi itu telah membangkitkan kemarahan kaum Muslim sedunia. Untuk
menindaklanjutinya, Istanbul mengirim pasukan Mesir untuk menumpas gerakan tersebut. Tahun
1818 M, Ibrahim Pasya dari Mesir mengalahkan kelompok Wahhabi. Diriyyah pun diratakan
dengan tanah. Abdullah al-Saud, amir saat itu, beserta dua pengikutnya diseret ke Istanbul. Di
depan publik kepalanya dipenggal. Sebagian lagi dibawa ke Kairo untuk ditahan di sana. Ini
merupakan sebuah pelajaran yang hendak ditunjukkan Kerajaan Utsmaniyah kepada orang-orang
yang menggabungkan ambisi politik dengan penyimpangan agama.
Kekalahan itu membuat kelompok Wahhabi yang tersisa semakin terbakar api permusuhan
terhadap kelompok Muslim lainnya. Tapi ironisnya, semakin mendekatkan diri kepada kolonial
Inggris. Ini terlihat ketika tahun 1851, Faisal Ibn Turki al-Saud yang sebelumnya berhasil
meloloskan diri dari tahanannya di Kairo, kembali meminta dukungan Inggris. Sebagai tindak
lanjut hubungan itu, tahun 1865 Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk
membuat suatu perjanjian.
Di awal abad ke-20, tatkala kekuatan dan strategi Inggris semakin berhasil merongrong
kekhalifahan Utsmaniyah, kembali pemimpin Wahhabi saat itu, Abdul Aziz, dimanfaatkan.
Lagi-lagi, teror kembali dilakukan kelompok Wahhabi. Dilaporkan, sekitar 1200 orang yang
membangkang dibantai secara kejam.[11]
Berkat sokongan Inggris, perlahan tapi pasti aliansi Wahhabi-Saudi di bawah kepemimpinan
Abdul Aziz berhasil menaklukkan hampir seluruh jazirah Arab. Puncaknya, tahun 1932
kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Ini menandai periode kebangkitan baru aliansi Wahhabi-Saudi.

Periode Ketiga (1932-Sekarang): Patron Baru dan Melemahnya Ikatan


Periode ini ditandai dengan perolehan atas kekayaan minyak dan peralihan dari Inggris ke
Amerika sebagai patron asing utama mereka. Kembali aliansi ini dijadikan instrumen istimewa
untuk kepentingan Amerika dan sekutunya di Timur Tengah.
Melalui kucuran petrodollar, dalam beberapa dekade terakhir ini Saudi dan Wahhabismenya itu
berupaya tidak saja menghilangkan stigma buruk yang melekat kepadanya, tetapi juga secara
dramatis berusaha meningkatkan citra diri di tengah dunia Islam. Oleh karena itu, Wahhabisme
kini telah disajikan sebagai gerakan reformis yang semata-mata bertujuan untuk melakukan
purifikasi di tubuh Islam. Sang pendiri, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab pun ditampilkan sebagai
tokoh pembaharu yang telah berhasil memurnikan Islam dari berbagai noda.
Hal-hal memalukan yang menjadi sorotan dunia pun berusaha dieliminasi. Perlakuan
diskriminasi terhadap kaum perempuan sebagai warga kelas tiga semakin dikurangi. Tetapi isuisu sektarian yang menyangkut perlakuan buruk terhadap mazhab minoritas, terutama Syiah,
tetap berlangsung.[12]

Namun seiring berjalannya waktu, gejala melemahnya ikatan antara kelompok keagamaan
Wahhabi dan keluarga Saudi pun semakin kentara. Pemicu utamanya adalah maraknya korupsi,
gaya hidup hedonis, serta mulai munculnya gejala sekularisasi. Sejumlah kecil orang mulai
berani mengecam dan berani mengungkap penyimpangan-penyimpangan rezim Saudi.
Pemberontakan di Mekkah bulan November 1979, yang dipimpin oleh Juhaiman Muhammad
Utaibi, seorang mantan Kopral Garda Nasional Saudi, menjadi peringatan awal adanya
kekecewaan pada sebagian kalangan terhadap kerajaan Saudi. Dikuasainya Masjidil Haram oleh
sekelompok bersenjata cukup mengejutkan dunia. Gejolak politik pun meledak. Lalu tentara
Amerika dan Eropa bersatu membantu pemerintah Saudi memulihkan situasi di tanah suci.[13]
Perang teluk 1991 dan ekspansi besar kehadiran Amerika semakin membuat lebarnya jurang
antara kelompok Wahhabi dan rezim Saud.
Sementara pemerintah Saudi semakin mesra dengan Amerika, para ulama Wahhabi justru
menganggap Amerika dan sekutunya adalah musuh yang harus diperangi. Lantas orang bertanya,
jika demikian, di mana ulama-ulama Wahhabi ketika Irak diluluhlantakkan Amerika, ketika
Hizbullah menahan gempuran Israel selama 33 hari, juga ketika genosida terhadap rakyat
Palestina berlangsung hingga kini? Jawabnya sederhana: haram membantu perjuangan orangorang yang tidak seakidah dengan mereka.[14] Itu pula yang menyebabkan kerajaan Saudi
setengah hati ketika mendukung penyerangan Amerika terhadap tentara Taliban di Afghanistan
yang nota bene berpaham Wahhabi.
Maka ketika World Trade Center di New York luluh lantak pada tanggal 11 September 2001,
ulama Wahhabi bernama Abdullah bin Jibrin mengeluarkan fatwa yang tidak hanya
membenarkan serangan terhadap WTC, tetapi juga mengutuk orang-orang murtad dan kaum
Muslim yang berkolaborasi dengan Amerika, sebuah kategori yang jelas di dalamnya termasuk
keluarga Kerajaan Saudi.[15] Namun meski demikian, masih banyak jajaran ulama Wahhabi
yang tetap setia dengan rezim Saudi.

III. Salafisme: Wajah Baru Wahhabisme?


Ada pengertian yang agak kabur antara Wahhabisme dan Salafisme, apakah keduanya sama atau
berbeda. Pasalnya, kaum Wahhabi sering pula mengatasnamakan diri sebagai As-Salaf. Namun
jika ditinjau dari kategorisasi historis, terdapat perbedaan di antara keduanya.
Sebagai respons terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam, berkaitan dengan
makin luasnya dominasi kaum imperialis Barat, muncullah tokoh-tokoh pembaharu seperti Jamal
al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, lalu dilanjutkan dengan Ikhwan alMuslimin, dan singkatnya diteruskan oleh berbagai tokoh dan gerakan yang dikenal sebagai
Salafiyah.
Diantara tokoh-tokoh pembaharu di atas, Rasyid Ridha dikenal paling fundamentalis dan
konservatif. Seperti Ibn Abdul Wahhab, referensi langsungnya adalah kepada masa lalu dan para

pendahulu yang saleh (al-salaf al-shlih), karena itu gerakan mereka disebut sebagai Salafiyah.
Namun tidak seperti Wahhabisme, gerakan ini berusaha merekonsiliasi ide-ide modern dan
Islam dengan menemukan (dan menafsirkan) kembali kebaikan-kebaikan yang menurut mereka
terdapat dalam agama.[16]
Akibat situasi politik di dunia Arab, era 1960-an tercipta hubungan yang lebih erat antara Salafi
dan Wahhabi ketika tejadi perang dingin antara kubu Mesir dan Arab Saudi. Di bawah payung
organisasi Liga Dunia Muslim yang dibentuk Arab Saudi tahun 1962, kaitan lebih erat antara
kaum Salafi dan Wahhabi terwujud. Para anggota Ikhwan al-Muslimin di Mesir (dan belakangan
di Suriah) hampir sulit disalahkan jika mereka mendekatkan diri kepada Arab Saudi, mengingat
serangan-serangan yang mereka terima di negeri mereka sendiri. Padahal kekhawatiran mereka
sangat beralasan, yakni semakin prihatin dengan cengkeraman imperialisme asing. Mungkin
itulah sebabnya orang-orang dengan kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan
perasaan kecewa tengah mencari seorang pahlawan, mulai bersimpati pada Wahhabisme.
Di tengah transformasi Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu, salah satu yang dikenal
bercorak keras adalah yang lahir dari buah pemikiran Sayyid Quthb (w.1960). Awalnya ia
menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer sebagai neo-Jahiliyyah, namun kemudian
ditafsirkan secara radikal oleh aliran Islamis yang lebih muda dan ekstrem di Mesir (dan di
beberapa tempat di Timur Tengah). Implikasi paling serius yang telah dielaborasi adalah konsep
takfir. Muslim nominal (Islam KTP) telah menjadi kafir dan karena itu secara potensial
diperbolehkan dibunuh.[17]
Watak radikal itulah barangkali yang membuat sebagian orang menyamakan Salafisme dengan
Wahhabisme. Memang Salafisme memiliki sejumlah kesamaan pandangan keberagamaan
dengan Wahhabisme, tetapi perbedaannya cukup mencolok. Adapun yang membedakannya
adalah sebagai berikut:
1. Salafi lebih menekankan persuasi daripada pemaksaan dalam rangka mengajak kaum
Muslim untuk menerima pandangan mereka.
2. Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi
yang melanda dunia Islam.
3. Salafi merekonsiliasikan ide-ide modern dengan nilai-nilai dalam Islam.
Perbedaan di atas bisa ditarik ketikasekali lagiistilah Salafisme dikaitkan dengan
kategorisasi historis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Mengingat saat ini agak kabur
untuk membedakan keduanya, terutama yang berkembang di Indonesia.

IV. Sekilas Ajaran Wahhabisme


Setelah memaparkan sejarah perkembangan Wahhabisme, penting kiranya untuk sedikit
menyinggung doktrin utama ajaran mereka.

Dari paparan sejarah sebelumnya, sebetulnya dapat terbaca bagaimana corak ajaran mereka.
Namun di bagian ini penulis akan mencoba meringkasnya seraya menambahkan beberapa poin
yang penulis anggap penting.
Kaum Wahhabi, seperti pendirinya, adalah orang-orang yang berpikir sangat linier, literal, kaku,
serta sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Quran maupun hadits. Umumnya mereka
menolak majz (metafora). Bagi mereka, semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk
neraka. Sehingga bidah hanyalah sebuah eufimisme, kata pelembut untuk kafir.[18]
Mereka juga menolak keberadaan seni dan budaya dalam Islam, serta tidak mementingkan
peninggalan sejarah Islam. Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat
kelahiran Nabi, rumah Ummul Muminn Khadjah, serta tempat tinggal Nabi dihancurkan.
Padahal, menurut Syaikh Jafar Subhani, awalnya Muhammad ibn Abdul Wahhab memusatkan
upayanya hanya untuk menghancurkan kuburan-kuburan saja, bukan menghancurkan setiap
peninggalan yang ditinggalkan Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. Tetapi para
pengikutnya kini telah meluaskan usahanya dengan melakukan pemusnahan setiap peninggalan
Islam, dengan dalih perluasan kedua tempat suci, Makkah dan Madinah.[19] Ini tentu sangat
disayangkan dan penting untuk diperhatikan kaum Muslim di seluruh dunia.
Kian hari umat Islam mengalami persoalan yang kian menumpuk. Namun bagi Wahhabi,
persoalan utama umat Islam terletak pada masalah tauhid, di mana mereka membaginya menjadi
tiga bagian:[20]
1). Tauhid al-Rububiyyah
Tauhid ini mengandung arti pengakuan bahwa hanya Allah semata yang memiliki sifat rabb,
penguasa dan pencipta dunia, yang menghidupkan dan mematikan. Tauhid ini sekadar
pengakuan verbal yang dengannya saja belum memadai untuk mencapai kualitas sebagai
Muslim.
2). Tauhid al-Asma wa al-Sifat
Mengandung pengertian hanya membenarkan nama dan sifat yang disebut dalam Al-Quran.
Tidak diperbolehkan menerapkan nama-nama tersebut kepada siapapun selain Tuhan. Ini
merupakan ulangan dari apa yang dirumuskan oleh Ibn Taymiyyah yang mengecam
antropomorfisme.
3). Tauhid al-Ibdah
Mengandung pengertian bahwa seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Tauhid inilah yang
dianggap paling penting, yang membatasi secara tegas antara Islam dan kufur, antara tauhid dan
syirik. Di sini tauhd al-ibdah didefinisikan secara negatif, dalam arti menghindari praktikpraktik tertentu; bukan secara afirmatif. Inilah yang mengakibatkan perasaan takut terhadap apa
yang dianggap sebagai penyimpangan. Ini membantu menjelaskan mengapa Wahhabisme
memiliki watak yang sangat keras.[21] Maka segala macam bentuk tawassul, ziyarah, tabarruk,

syafah, hingga praktik-praktik yang telah menjadi tradisi dalam Islam Sunni dan Syiah sepeti
maulid, dianggap sebagai pelanggaran atas tauhd al-ibdah.
Dalam pandangan Wahhabi, bidah dibagi menjadi dua: 1). Bidah dalam adat dan tradisi; 2).
Bidah dalam agama. Bidah yang pertama hukumnya mubah/ boleh, sedangkan yang kedua
haram dan sesat. Bidah yang kedua kemudian dibagi lagi menjadi dua: bidah qawliyyah
itiqadiyyah dan bidah fi al-ibadah.
Bagi Wahhabi, kaum Syiah, Sufi, dan kebanyakan kaum Sunni telah melakukan bidah baik
bidah qawliyyah itiqadiyyah maupun bidah fi al-ibadah. Maka dari itu boleh (bahkan harus)
diperangi.

V. Refleksi
Wahhabisme pada awalnya memang merupakan sebuah gerakan keagamaan murni hasil
pemikiran seorang anak manusia sebagai respons terhadap praktik-praktik lokal keberagamaan
yang dipandang menodai kemurnian Islam. Bahwa kemudian ia dijadikan alat oleh Inggris untuk
menancapkan hegemoninya, ini adalah hal lain yang memang tak dapat dipungkiri, bukti-bukti
sejarah menunjukkan demikian. Namun mengatakannya bahwa sejak awal memang sudah diatur
oleh Inggris, memerlukan bukti-bukti yang lebih kuat lagi. Adapun memoar Confession of a
British Spy tidak cukup kuat dijadikan bukti karena mengandung beberapa kejanggalan,
walaupun tetap patut dibaca untuk meraba situasi jazirah Arab saat itu.
Jika saja aliansi Wahhabi-Saudi tak memiliki kekayaan berupa cadangan minyak raksasa,
gerakan Wahhabisme mungkin hanya tergores dalam catatan sejarah sebagai gerakan pemikiran
yang secara intelektual bersifat marjinal dan berumur pendek saja. Namun nasib baik sebagai
negeri kaya raya mampu membuat mereka eksis hingga saat ini. Mereka memiliki modal kuat
sehingga mampu menyebarluaskan paham Wahhabisme di dunia Islam, hingga ke Indonesia.[22]
Dan penyebaran paham Wahhabisme di Indonesia terbilang cukup pesat. Inilah salah satu sebab
mengapa Indonesia yang sebelumnya sering disebut sebagai contoh par excellence masyarakat
Muslim yang lembut dan sejuk, perlahan mengalami radikalisasi akibat pengaruh ideologi dan
kebudayaan luar.
Karakteristik Wahhabisme yang sangat kaku telah ikut membunuh tradisi dialektika yang
mewarnai peradaban Islam berabad-abad lamanya. Contoh konkretnya bisa didapati di Makkah
dan Madinah. Sangat disayangkan bahwa Haramain yang telah berabad-abad lamanya menjadi
pusat intelektual dunia Islam, di tangan Wahhabi berakhir. Nyaris tak menyisakan apapun
kecuali lembaga-lembaga dakwah Wahhabisme yang secara absurd diberi label Universitas.
Padahal kegiatan intelektual menentukan perkembangan peradaban suatu bangsa. Selama masih
dalam genggaman kekuasaan Wahhabi, sulit mengembalikan Makkah dan Madinah ke masamasa awal ketika kedua kota tersebut masih menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan di
dunia Islam.

Imbas ekspansi Wahhabisme menyentuh pula aspek seni dan budaya. Fakta yang ditemukan kini,
nyaris tak ada peninggalan seni dan budaya Islam di Arab Saudi. Maka menjadi sebuah ancaman
serius ketika mereka berhasil mengekspor pahamnya hingga berhasil memberangus seni dan
budaya yang merupakan muatan lokal suatu wilayah.
Memang sulit diterima ketika Wahhabisme menolak keragaman budaya dan apresiasi terhadap
seni. Sejak dulu kala keragaman seni dan budaya dalam Islam begitu kaya, ekspresinya amat
berwarna. Bahkan dalam pandangan sufistik, seni merupakan manifestasi keindahan ilahiah yang
mampu membangkitkan gairah spiritualisme.
Hal lainnya yang patut menjadi sorotan adalah masalah persatuan Islam. Cara-cara radikal yang
mereka tempuh telah mengantarkan kepada tindakan kontra produktif. Persatuan Islam yang
selama ini telah dijaga utuh oleh berbagai kalangan baik Sunni ataupun Syiah terancam secara
serius akibat pandangan sempit kelompok Wahhabi, yang sayangnya lagi, mudah dijadikan alat
adu domba oleh musuh Islam yang sesungguhnya.
Telah banyak sarjana, baik Muslim maupun non-Muslim, yang merasa prihatin dengan implikasi
negatif ekspansi Wahhabisme. Mereka cukup produktif menghasilkan karya ilmiah untuk
mengungkap sejarah kelam Wahhabisme. Sayangnya, isu ini bukan sesuatu yang menarik bagi
sebagian besar masyarakat kita. Maka akibat sikap lalai, tak heran jika paham Wahhabisme
dengan mudahnya masuk ke sekolah-sekolah hingga ke Universitas.[23]
Mungkin membingungkan mengapa para mahasiswa dapat tertarik pada pandangan
Wahhabisme. Namun ketertarikan itu bisa jadi wajar, mengingat para mahasiswa terbiasa dengan
pandangan dunia rasionalistik yang didorong oleh studi mereka di bidang teknologi, rekayasa
dan ilmu alam. Lantas mereka mendapati di dalam Wahhabisme ada Islam yang (seolah) telah
dirasionalkan, yakni Islam yang telah dibersihkan dari kompleksitas teologi dan kerumitan
sufisme, yang dinilai sebagai tambahan yang tergolong bidah. Singkatnya, mereka menemukan
bahwa Islam yang disajikan dalam bentuk sederhana dan hitam-putih cocok bagi mereka.
Perlu dicatat bahwa tidak semua paham Wahhabi dan Salafi yang ada sekarang setuju dengan
cara-cara kekerasan. Ini seiring dengan dinamika kehidupan, spektrum yang terbentuk menjadi
semakin lebar dan melahirkan kategorisasi-kategorisasi baru. Dalam hal ini, selama mereka tidak
menggunakan cara-cara kekerasan, dakwah mereka tidak dapat disalahkan. Justru ini menjadi PR
besar bagi kita untuk berusaha menyajikan ilmu-ilmu agama orisinil sebagai menu yang
mengundang selera anak-anak muda sejak dini. Sebab, bisa jadi mudahnya mereka terdoktrin
oleh ajaran Wahhabisme disebabkan karena kebanyakan dari mereka belum menyadari betapa
samudera keilmuan Islam sesungguhnya begitu luas dan mempesona.[]
[1] Algar, Hamid. Wahhabisme, Sebuah Tinjauan Kritis, Jakarta: Paramadina, 2008, hal 28
[2] Kaum Wahhabi sendiri menganggap mereka sebagai representasi dari Ahl al-Sunnah wa alJamah.
[3] Algar, Hamid, op. cit., hal 30

[4] Hamid Algar memandang motif perjalanan Ibnu Abdul Wahhab masih tanda tanya.
Sejarawan lainnya mengatakan untuk urusan bisnis atau sekadar bersenang-senang. Ada juga
yang mengatakan motif perjalanannya itu untuk menimba ilmu.
[5] Abdullah Mohammad Sindi, Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud, eBulletin Vol.IV 16 January 2004, www.kanaanonline.org
[6] Meskipun catatan atau buku berjudul Confession of a British Spy ini diragukan keasliannya
oleh sebagian kalangan, termasuk Prof. Hamid Algar, namun cukup layak dibaca untuk
mengetahui gambaran situasi di jazirah Arab saat itu.
[7] Waqf Ikhls, Confession of a British Spy, Istanbul: Waqf Ikhlas Publications No.14, Eight
Edition, 2001
[8] Algar, Hamid, op. cit., hal 30, 44, 45, 47
[9] Dr. Mohammad Abdullah Sindi, op. cit.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] International Crisis Group, dalam jurnal tertanggal 19 September 2005, melaporkan bahwa
intimidasi terhadap kaum minoritas Syiah terus berlangsung, bahkan di sekolah-sekolah guruguru secara terbuka mengkafirkan Syiah di depan para siswanya. Belum lagi fatwa ulama
Wahhabi yang terang-terangan menghalalkan darah kaum Syiah.
[13] Trofimov, Yaroslav, Kudeta Mekkah, eBook, Pustaka Alvabet,
http://books.google.co.id/books?id=gPYcKbf6sxIC&printsec=frontcover&hl=en#v=onepage&q
=&f=false
[14] Isu ini bisa dicek di beberapa website Wahhabi/ Salafi baik di luar maupun dalam negeri.
Sebagai contoh: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1086
[15] Algar, Hamid, op.cit., hal 119
[16] Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah, Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di
Indonesia, Bandung: Mizan, 2007, hal 32
[17] Ibid, hal 41
[18] Muhsin Labib, Wahabisme Dan Teologi Penyesatan, http://irfanpermana.wordpress.com
[19] Subhani, Jafar, Al-Milal wa Al-Nihal, Studi Tematis Mazhab Kalam, Pekalongan: Penerbit
Al-Hadi, 1997, hal 363
[20] Algar, Hamid, op.cit., hal 69

[21] Ibid, hal 72


[22] Greg Fealy dan Anthony Bubalo dalam bukunya, Jejak Kafilah, mengatakan bahwa tiga
organisasi di Indonesia secara khusus menerima dukungan dana signifikan dari Arab Saudi.
Mereka adalah DDII, Al-Irsyad, dan Persis. (Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah,
Bandung: Mizan, 2007)
[23] Baca tulisan Prof. Komaruddin Hidayat yang dipublikasikan di website alamat berikut:
http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu

ISLAM GARIS KERAS, IMPERIALISME DAN WAHABI

Serangan terhadap menara kembar World Trade Centre (WTC), New York, Amerika Serikat,
pada 11 September 2001 menjadi bagian penting dari sejarah umat manusia di bumi, khususnya
bagi umat Islam, karena peristiwa itu membuat agama mereka dicap sebagai agama teroris.
Serangan terhadap WTC yang membuat simbol kemajuan ekonomi Amerika Serikat tersebut
runtuh dan sedikitnya 3.000 orang tewas, menurut Presiden Amerika Serikat George W. Bush,
dilakukan oleh organisasi militan Islam Al Qaeda yang dipimpin almarhum Osama bin Laden.
Namun demikian, tak sedikit pakar teori konspirasi yang curiga kalau justru Amerika dan Yahudi
lah dalang peristiwa terbesar pada awal abad 21 tersebut, karena hanya beberapa jam sebelum
WTC diserang, orang Yahudi yang bekerja di kedua gedung pencakar langit tersebut
berbondong-bondong meninggalkannya, sehingga tak seorang pun dari mereka yang menjadi
korban. Yang lebih menarik, sudah menjadi rahasia umum jika Osama merupakan mantan binaan
Central Inteligent Agency (CIA), dinas rahasia Amerika. Jadi, mengapakah orang yang dibina
balik menyerang, sehingga Islam dicap sebagai agama teroris?
Islam militan, Islam garis keras atau apa lah namanya, merupakan salah satu bentuk perbuatan
yang menyimpang dalam Islam, karena melalui Al-Quran surah Al-Qashash ayat 77 Allah
berfirman; Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. Dari firman ini jelas bahwa Islam tidak mengajarkan
kekerasan yang berbuah kerusakan. Islam adalah agama damai yang mengajarkan umatnya untuk

selalu sayang menyayangi, hormat menghormati, dan menjaga apapun yang dianugerahkan Allah
dengan baik sehingga tidak mendatangkan mudharat. Itu sebabnya Islam disebut sebagai
agama rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh umat.
Pada kata pengantar untuk buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Ketua Umum Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A. menyebutkan, sekte
ekstrem dalam sejarah Islam telah ada sejak abad pertama Hijriyah, abad dimana Nabi
Muhammad Saw. hidup. Kelompok ini menunjukkan diri di hadapan Rasulullah Saw. pada bulan
Syawal tahun 8 Hijriyah. Ketika itu Rasulullah baru saja memenangkan perang Thaif dan Hunain
dan memperoleh ghanimah (harta rampasan perang) yang melimpah. Oleh Rasullulah Saw.,
ghanimah tersebut dibagi-bagikan di Jaranah, tempat miqat umrah, dan para sahabat Rasulullah
Saw. seperti Abu Bakar Siddiq, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib , Saad
dan lainnya tidak mendapatkan bagian, namun para sahabat yang baru masuk Islam
mendapatkannya, termasuk Abu Sufyan yang kaya raya.
Saat pembagian masih berlangsung, Dzul Khuwaishirah dari keturunan Bani Tamim
menghampiri Rasulullah dan dengan kasarnya berkata; Berlaku adillah, hai Rasulullah!
Rasulullah terkejut, dan berkata; Celakalah kamu!Siapa yang akan berbuat adil jika aku saja
tidak berbuat adil?
Umar bin Khattab berkata; Wahai Rasulullah, biarkan kupenggal saja lehernya. Rasulullah
menjawab; Biarkan saja!
Dzul Khuwaishirah meninggalkan Rasulullah, dan Rasulullah bersabda; Akan lahir dari
keturunan orang ini kaum yang membaca Al Quran, tetapi tidak sampai melewati batas
tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi Al Quran, dan hanya hafal di bibir saja).
Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang
buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau
aku menemui mereka, niscaya akan kupenggal lehernya seperti kaum Ad. (HR. Muslim pada
Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda; Mereka
sejelek-jeleknya makhluk, bahkan lebih jelek dari binatang. Mereka tidak termasuk dalam
golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka. (HR. Shahih Muslim).
Menurut para ulama, kedua hadist ini menjelaskan bahwa Dzul Khuwaishirah akan memiliki
keturunan yang meski pun rajin sholat, baik wajib maupun sunah, dan membaca Al Quran,
namun cara berfikir dan perilakunya sama sekali tidak Islami, sehingga dapat diibaratkan seperti
sudah bukan lagi muslim dan takkan pernah lagi berperilaku seperti layaknya muslim. Keturunan
Dzul Khuwaishirah ini juga akan memerangi saudaranya sesama muslim, dan membela atau
bahkan mendukung orang-orang kafir. Rasulullah Saw menegaskan, orang-orang ini layak
dibunuh.
Apa yang disabdakan Rasulullah tersebut terbukti 29 tahun kemudian dengan dibunuhnya alKhalifah ar-Rasyid ke-3 Utsman bin Affan pada 37 Hijriyah hanya karena mengangkat
kerabatnya sebagai gubernur, dan berlanjut pada 17 Ramadhan 40 H dengan dibunuhnya Ali bin
Abi Thalib hanya karena Ali berdamai dengan Gubernur Syam Muawiyah yang menuntut agar
pembunuh Utsman segera dihukum (baca Islam yang Lurus dan yang menyimpang-3). Pada abad

pertama Hijriyah ini pula, atau tepatnya pada 37 H, orang-orang yang terlibat pembunuhan
terhadap Utsman membentuk sekte Khawarij, sekte radikal pertama dalam Islam, dan hampir 12
abad setelah Rasulullah Saw wafat, atau pada 1150 Hijriyah (1738 Masehi), sekte Salafi Wahabi
hadir di muka bumi.
Khawarij dianggap sebagai sekte radikal karena sekte ini mengkafirkan semua orang yang
berdamai atas kasus pembunuhan Utsman bin Affan, seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan
lain sebagainya. Selain itu, selama sekte ini tumbuh dan berkembang pada zaman pemerintahan
Bani Umayyah, sekte ini menjadi oposisi pemerintah dengan militansi luar biasa dan nekat,
sehingga meski hanya berkekuatan 80 orang, mereka berani melawan penguasa. Jika di antara
mereka ada yang tewas, mereka menganggapnya syahid. Sekte ini kemudin terpecah menjadi
beberapa sekte, di antaranya Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdat, dan Ash-Shufriyah. Yang
paling ekstrim adalah sekte Al-Azariqah karena kelompok ini menganggap orang di luar
Khawarij adalah kafir.
Pembunuhan terhadap Utsman, Ali, dan munculnya sekte Khawarij tak lepas dari campur tangan
Abdullah bin Saba, orang Yahudi asal Yaman yang disusupkan kaumnya untuk memecah belah
Islam. Orang ini pula yang meng-create sekte Syiah. Bagaimana dengan Salafi Wahabi?
Mengapa sekte ini juga dianggap radikal?
***
Bukhari dan Ahmad meriwayatkan, Rasulullah Saw. bersabda sambil menunjuk ke timur
Madinah; Sesungguhnya fitnah-fitnah itu dari sana, sesungguhnya fitnah-fitnah itu dari sana,
sesungguhnya fitnah-fitnah itu dari sana, dimana (dari sana) muncul tanduk setan.
Abdullah Ibnu Umar r.a. berkata; aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda di atas mimbar,
Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu di sana-sambil menunjuk ke timur Madinah- dari sana
muncul tanduk setan. (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, dan imam yang lain).
Hadist-hadist yang isinya kurang lebih sama dengan kedua hadist ini lumayan banyak. Dari
hadist-hadist ini diketahui kalau penyimpangan ajaran Islam yang memicu munculnya sektesekte banyak yang berpusat di suatu wilayah di timur Madinah. Wilayah manakah itu?
Jawabannya pada hadist berikut.
Rasulullah Saw. bersabda; Ya, Allah, berikanlah kami keberkahan kepada negeri Syam (kini
bernama Syiria) kami. Ya, Allah, berikanlah kami keberkahan kepada negeri Yaman kami.
Orang-orang (dari Najd) meminta; Juga kepada kegeri Najd kami, ya, Rasulullah?
Rasulullah Saw. menjawab; Ya, Allah, berikanlah kami keberkahan kepada negeri Syam kami.
Ya, Allah, berikanlah kami keberkahan kepada negeri Yaman kami. Orang-orang (dari Najd)
kembali meminta; Juga kepada negeri Nadj kami, ya, Rasulullah? Rasulullah Saw. bersabda
untuk ketiga kalinya; Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana
munculnya tanduk setan. (HR. Bukhari, Ahmad, Thabarani, Ibnu Hibban, dan lainnya).
Jadi jawabannya adalah, pusat berdirinya sekte-sekte yang menyimpang dari ajaran Islam adalah
Najd, Saudi Arabia. Muhammad ibnu Abdul Wahab, pendiri sekte Salafi Wahabi, lahir di Najd.

Begitupula Musailamah ibnu Habib al-Kadzdzab yang pada 10 H mengaku-ngaku sebagai nabi,
dan mengirim surat kepada Rasulullah Saw agar bumi dibagi dua, separuh untuknya dan separuh
lagi untuk Rasulullah. Nabi palsu ini dibunuh oleh Khalid ibnu Walid pada 11 H, pada masa
pemerintahan Abu Bakar Siddiq.
Thalhah ibnu Khuwailid al-Asadi yang pada 11 H mengaku bertemu Jibril dan mendapat wahyu
dari Allah SWT, juga berasal dari Najd. Nabi palsu ini diperangi Abu Bakar Siddiq dan kabur ke
Syam. Pasukannya semua terbunuh. Pada akhir hayatnya, Thalhah bertobat kepada Allah dan
kembali menjalani syariat Islam dengan benar.
Sajah binti al-Harits ibnu Suwaid at-Tamimah, nabi palsu pada 10 H yang juga ahli bahasa Arab
dan tukang sihir, juga berasal dari Najd. Wanita ini merupakan nabi palsu saingan berat
Musailamah, dan bahkan menikah dengannya. Setelah Musailamah tewas, dia bertaubat dan
menjalankan syariat Islam dengan benar.
Yang paling menakjubkan dari sabda Rasulullah tentang Najd adalah Dzul Khuwaisirah yang
menuding Rasulullah tidak adil, berasal dari Najd. Bahkan penampilan Dzul mirip dengan
penampilan umumnya penganut sekte Salafi Wahabi, karena menurut Imam Nawawi, Dzul
berjidat hitam, kepalanya botak, bersorban, tinggi gamisnya setengah kaki, dan bejenggot
panjang. Jidat yang hitam berasal dari bertemunya jidat dengan lantai kala sholat. Ini
menjelaskan kalau Dzul orang yang rajin sholat, baik yang wajib maupun sunah. Yang lebih
menakjubkan, seperti halnya sekte Al-Azariqah yang merupakan sempalan sekte Khawarij,
Salafi Wahabi pun menganggap kafir orang-orang yang tidak sejalan dengannya.
Pertanyaannya sekarang, apakah itu berarti ajaran sekte Salafi Wahabi merupakan
pengejawantahan dari ajaran sekte Khawarij? Atau hanya memiliki kesamaan ajaran saja?
Sekarang mari ingat-ingat penampilan Imam Samudera, Amrozi, dan para pelaku bom Bali I dan
Bom Bali II yang dihukum mati pada November 2008. Apa yang Anda dapatkan? Jidat yang
hitam, jenggot, bersorban, dan celana panjang yang menggantung dan tidak mencapai mata kaki?
Apakah ini berarti Imam Samudera cs merupakan pengikut Salafi Wahabi? Wallahusallam
bissawab. Tapi yang pasti Imam Samudera cs menganggap Indonesia sebagai negara kafir
karena menjadi antek-antek Amerika Serikat, meski pun penduduk negara ini mayoritas Islam.
Mereka bahkan menganggap kematiannya sebagai syahid, sama seperti keyakinan pengikut sekte
Khawarij.
Sejarah berdirinya sekte Salafi Wahabi bermula dari berdirinya Kementerian Persemakmuran
(Commonwealth Ministries) di London, Inggris, dengan misi utama mempertahankan wilayahwilayah yang telah dikuasai dan untuk menguasai wilayah-wilayah yang belum berhasil dikuasai.
Ketika kementerian tersebut dibentuk pada abad 18 Masehi, Inggris merupakan negara yang
menjajah banyak negara di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Negara di Asia yang dijajah di
antaranya India dan China.
Dalam buku berjudul Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan
Islam, juga berdasarkan referensi beberapa sumber, seorang intelijen Inggris bernama sandi
Hempher menjelaskan, negara-negara non muslim seperti China dan India adalah negara-negara

yang relatif mudah untuk ditundukkan karena agama Hindu, Buddha dan Konghucu yang dianut
oleh mayoritas rakyat kedua negara itu adalah agama-agama yang tidak mempedulikan
kehidupan duniawi, sehingga rakyat di kedua negara itu cenderung kurang memiliki rasa
patriotisme dan Inggris tidak menganggap mereka sebagai ancaman yang serius.Meski kala itu di
India terdapat Kesultanan Islam, namun rakyat India yang majemuk, bahkan jumlah pemeluk
Islam tidak sebanyak pemeluk agama Hindu, dengan cepat Kesultanan India dapat diberangus
dengan beragam cara, di antaranya dengan memperalat Mirza Ghulam Ahmad untuk mendirikan
sekte Ahmadiyah, sehingga umat Islam India terpecah belah dan bertikai. Ahmadiyah bahkan
digunakan untuk mem-back up setiap kebijakan yang diberlakukan di negara jajahannya itu,
sehingga apapun kebijakan Inggris, meski merugikan dan menyengsarakan rakyat India,
Ahmadiyah mendukung dan membelanya.
Hempher mengaku, yang membuat gentar Inggris adalah negara-negara Islam, termasuk Turki
yang kala itu di bawah pemerintahan Kesultanan Islam Turki Utsmani, dan belum dapat
dikuasai. Hempher mengaku, Inggris sebenarnya telah berhasil melemahkan kesultanan ini
dengan dua cara, yakni dengan membuat perjanjian yang menguntungkan Inggris, dan membuat
perjanjian rahasia dengan Iran, sehingga Iran bersedia menempatkan orang-orangnya di Turki
yang dapat dikendalikan oleh Inggris. Akibat kedua siasat ini, Kesultanan Turki didera kasus
korupsi, salah-urus administrasi, mengabaikan pendidikan, dan sebagainya, sehingga
pemerintahan melemah dan Inggris menjuluki negara ini sebagai The Sick Man of Asia.
Namun meski Kesultanan Islam Turki Utsmani melemah, Hempher mengaku kalau Inggris
masih saja khawatir kepada penduduk negeri ini yang mayoritas memeluk agama Islam. Bahkan
kekhawatiran ini membuat Inggris yakin kalau Kesultanan Turki baru akan runtuh dalam 100
tahun.
Hempher menyebut beberapa alasan yang membuat Inggris tetap gentar pada Kesultanan Islam
Turki Utsmani. Pertama, karena umat Islam sangat taat menjalankan ajaran agamanya, dan rela
mati demi agamanya itu. Kedua, karena Islam adalah agama yang peduli pada masalah
administrasi dan kekuasaan sehingga tak mudah dibohongi. Ketiga, karena Inggris khawatir
Kesultanan Islam Turki Utsmani dan pemerintah Iran mengetahui grand design yang sedang
dijalankan di kedua negara itu, khususnya di Turki. Dan keempat, karena para ulama di Istambul
dan Al-Azhar, juga di Irak dan Damaskus, tak mau berkompromi barang sedikit pun karena
mereka tak tertarik pada kesenangan duniawi yang ditawarkan Inggris dan lebih peduli untuk
meraih surga seperti janji Allah SWT., sehingga Inggris menganggap para ulama ini sebagai
rintangan yang tak dapat diatasi dalam upayanya menjajah Turki.
Tak putus asa, Kementerian Persemakmuran kemudian menyelenggarakan konferensi yang tak
hanya dihadiri para pejabat penting dan agamawan Inggris, tapi juga dihadiri diplomat dan
agamawan Rusia dan Perancis. Hempher yang hadir dalam konferensi ini menyebut, dalam
konferensi juga dibahas berbagai rencana untuk memecah-belah kaum Muslimin dalam berbagai
kelompok (sekte), membuat mereka meninggalkan agamanya (murtad), dan mengkristenkannya
sebagaimana yang terjadi di Spanyol. Usai konferensi, ribuan agen rahasia (intelijen) dan
misionaris, termasuk Hempher, disebar ke seluruh penjuru dunia, khususnya ke negara-negara
Islam yang ingin dikuasai. Hempher tegas mengatakan, misi ini dipelopori Inggris.

***
Kementerian Persemakmuran mengirim Hempher ke Mesir, Irak, Hijaz dan Istambul untuk
mengumpulkan informasi dan data-data guna memecah-belah Islam. Selain Hempher, ada
sembilan mata-mata lagi yang dikirim untuk melakukan misi yang sama dan pada watu yang
sama pula, yakni pada 1122 H/1710 M. Sebelum berangkat, Kementerian membekali Hempher
cs dengan uang, informasi tentang negara-negara dan kota-kota yang akan didatangi, peta,
bahkan nama-nama pejabat, ulama, dan kepala suku di negara-negara itu agar pelaksanaan misi
menjadi lebih mudah. Menteri Persemakmuran bahkan berpesan begini; Masa depan negara
kita bergantung pada keberhasilan kalian. Karena itu, kalian harus berbuat sekuat tenaga.
Tempat pertama yang didatangi Hempher adalah Istambul, ibukota Kekhalifahan Islam Turki
Utsmani. Untuk menyukseskan misinya, mata-mata yang kala itu masih berusia dua puluh
tahunan tersebut menggunakan nama palsu Muhammad, dan memperdalam lagi bahasa Turki
yang telah dipelajarinya di London agar penyamarannya sempurna.
Di Istambul, Hempher menjalin hubungan baik dengan seorang ulama tua bernama Ahmed
Efendi. Kepada ulama ini, Hempher mengaku telah yatim piatu dan datang ke Istambul selain
untuk mencari pekerjaan, juga untuk mempelajari Al Quran dan sunnah Rasulullah Saw. Ahmed
tidak curiga dan menerimanya dengan tangan terbuka. Apalagi karena Hempher melaksanakan
sholat lima waktu sebagaimana layaknya muslim. Dari Ahmed lah Hempher mempelajari segala
hal tentang Islam, dan semua yang diperolehnya dari Ahmed, juga dari hasil pengamatannya
selama berada di Istambul, dilaporkan secara berkala kepada Kementerian Persemakmuran.
Dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam,
Hempher menyebut kalau Kementerian menugaskan dirinya di Istambul selama dua tahun
(hingga 1712 Masehi/1124 Hijriyah). Setelah masa tugas berakhir, dia diminta pulang ke London
untuk memberikan laporan secara menyeluruh dan terinci. Begitupula dengan sembilan matamata lain yang mendapatkan misi yang sama dengannya.
Namun, jelas Hempher, termasuk dirinya, hanya enam orang saja yang pulang, karena satu dari
empat orang yang tidak pulang malah memeluk Islam dan menetap di Mesir; seorang lagi pulang
ke kampung halamannya karena ternyata dia adalah anggota KGB (dinas intelijen Rusia) yang
ditugaskan untuk memata-matai Inggris; seorang lagi meninggal di Imrah, sebuah kota kecil di
dekat Baghdad, akibat wabah penyakit yang menyerang kota itu; dan yang seorang lagi hilang
tak tentu rimbanya setelah setahun menjalankan tugas.
Hempher mengaku, hasil penyamarannya di Istambul mendapatkan pujian dari Kementerian
Persemakmuran, namun karena informasi yang didapatnya belum dapat mengungkap kelemahan
Kekhalifahan Islam Turki Utsmani, laporannya hanya diganjar sebagai laporan terbaik ketiga
setelah laporan rekannya yang bernama George Belcoude (laporan terbaik pertama), dan Henry
Fanse (laporan terbaik kedua). Kementerian lalu memberinya tugas kedua dengan dua misi yang
harus digolkan. Pertama, menemukan berbagai titik lemah kaum muslimin dan celah-celah yang
dapat digunakan untuk memecah-belah mereka, dan kedua setelah kelemahan dan celah-celah itu
didapatkan, langsung dimanfaatkan untuk menimbulkan perselisihan dan perpecahan di kalangan
umat Islam.

Jika engkau berhasil dengan kedua misi ini, engkau akan menjadi agen mata-mata yang paling
berhasil dan memperoleh medali penghargaan dari Kementerian Persemakmuran, pesan
Menteri Persemakmuran kepada Hempher.
Sebelum mengemban misi tugas kedua tersebut, Hempher yang kala itu berusia 22 tahun diberi
cuti selama enam bulan, dan masa cuti ini dimanfaatkan untuk menikahi sepupunya, Maria
Shvay yang berusia 23 tahun. Setelah masa cuti habis, dia berangkat ke Bashrah, Irak, sesuai
kota yang ditunjuk Kementerian Persemakmuran untuk melaksanakan tugas keduanya. Sebelum
Hempher berangkat, Menteri Persemakmuran berpesan begini kepadanya; Wahai Hempher,
ketahuilah bahwa banyak perbedaan alami di antara umat manusia sejak Tuhan menciptakan
Abel (Habil) dan Cain (Qabil). Perbedaan seperti ini akan terus ada hingga kedatangan Yesus
Kristus kelak. Begitupula halnya dengan perbedaan ras, suku, wilayah, kebangsaan, dan agama.
Tugasmu kali ini adalah mendiagnosis berbagai kontroversi dan perbedaan ini dengan baik,
serta melaporkannya kepada kementerian. Semakin berhasil engkau memperburuk dan
memperparah perbedaan di antara kaum Muslim, semakin besar jasa dan pengabdianmu kepada
Inggris. Kita, orang-orang Inggris, harus berbuat kerusakan dan membangkitkan perpecahan di
seluruh negara jajahan kita agar mereka hidup bermewah-mewahan. Hanya dengan berbagai
hasutan seperti itu kita akan bisa menghancurkan Kekhalifahan Turki Utsmani. Jika tidak,
bagaimana mungkin sebuah bangsa dengan jumlah populasi lebih sedikit bisa menguasai
bangsa lain dengan jumlah populasi lebih banyak?
Menteri Persemakmuran menambahkan; Tebarkanlah benih-benih perpecahan begitu engkau
mendapatkannya dengan sekuat kemampuanmu. Ketahuilah bahwa Kekhalifahan Turki
Utsmani dan Kekaisaran Iran telah mencapai puncak kemunduran dan kemerosotannya.
Karena itu, tugas pertamamu adalah menghasut orang-orang untuk berontak melawan pihak
yang berkuasa. Sejarah telah menunjukkan bahwa sumber segala jenis revolusi adalah
pemberontakkan massa. Ketika kaum Muslim terpecah-belah dan tidak bersatu serta memiliki
rasa senasib-sepenanggungan, mereka akan melemah dan dengan demikian kita mudah
menghancurkan serta meluluhlantakkan mereka.
Sekte Salafi Wahabi muncul setelah pendiri sekte itu, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi
bertemu dengan Hempher di Basrah dan di antaranya kemudian terjalin pertemanan yang
dimanfaatkan Hempher untuk menyukseskan misi yang diembannya di Irak.
Muhammad bin Abdul Wahab, menurut Hempher, adalah pemuda yang kasar,
penggugup, namun angkuh dan selalu mengikuti hawa nafsunya sendiri dalam memahami
Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw..
Pertemuan Hempher dengan pemuda yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Turki tersebut
terjadi pada 1713 Masehi (1125 Hijriyah), atau tak lama setelah agen mata-mata Inggris itu
mendarat di Bashrah dan melakukan penyamaran yang sama dengan ketika bertugas di Istambul,
yakni mengaku sebagai pemuda Turki yatim piatu bernama Muhammad. Bahkan untuk
memperkuat penyamarannya, Hempher tak segan-segan mengaku sebagai murid ulama Ahmed
Efendi asal Istambul.

Penyamaran Hempher ini nyaris terbongkar pada awal-awal kedatangannya di Bashrah. Kala itu,
begitu tiba di salah satu kota terbesar di Irak tersebut, Hempher tinggal di Masjid Syaikh Umar
Efendi karena belum mendapatkan rumah sewaan. Imam masjid itu, Syaikh Umar ath-Thai,
rupanya telah mencurigainya sejak ia datang, dan ia diberondong dengan berbagai pertanyaan,
termasuk soal identitasnya. Ia berhasil meyakinkan kyai Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) asal
Arab itu kalau ia memang berasal dari Turki, bukan orang Inggris, namun kemampuannya
meyakinkan sang Kyai bahwa ia berasal dari Turki, justru membuatnya dicurigai sebagai matamata yang dikirim pemerintah Khalifah Islam Turki Utsmani. Hempher pun hengkang dari
masjid dan berhasil mendapatkan kamar di sebuah penginapan milik pengusaha bernama
Mursyid Efendi.
Namun, kesialan ternyata masih menguntit Hempher karena pengakuannya kalau ia masih lajang
dan belum pernah menikah, membuat Mursyid menganggap dirinya sebagai pembawa sial bagi
penginapan yang dia kelola. Mursyid bahkan memberinya solusi untuk mengatasi masalah ini,
yakni meminta Hempher segera menikah atau keluar dari penginapannya secepat mungkin.
Karena sedang mengemban misi dan juga telah menikah, Hempher akhirnya memilih
meninggalkan penginapan Mursyid dan kemudian menyewa kamar di sebuah penginapan milik
tukang kayu bernama Abdur Ridha. Sambil menginap di sini, dia juga bekerja sebagai asisten
pemilik penginapan tersebut.
Abdur Ridha, jelas Hempher, merupakan seorang pria gagah penganut ajaran Syiah, dan berasal
dari Khurasan. Setiap sore, penginapan Abdur Ridha didatangi orang-orang Syiah dari Iran, dan
mereka semua bersama Abdur Ridha memperbincangkan berbagai persoalan, baik politik
maupun ekonomi. Selama perbincangan berlangsung, orang-orang ini tak segan-segan
mengecam pemerintah Irak dan Kekhalifahan Islam Turki Utsmani. Jika saat perbincangan
berlangsung ada orang asing yang datang, mereka mengubah topik pembicaraan kepada
persoalan-persoalan pribadi. Hempher mengaku kalau Abdur Ridha dan orang-orang Syiah Iran
itu sangat mempercayainya, karena bahasa Turki yang ia gunakan ternyata membuat dirinya
dikira berasal dari Azerbaijan.
Saat Abdur Ridha berbincang dengan orang-orang Syiah dari Iran tersebut kadangkala datang
seorang anak muda berpakaian perlente yang mengesankan kalau dia adalah pemuda terpelajar
yang sedang melakukan penelitian ilmiah. Pemuda inilah Muhammad bin Abdul Wahab anNajdi. Kedatangan pemuda ini sempat membuat Hempher terheran-heran karena dari caranya
berpakaian, Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Najd jelas orang Sunni, dan antara
Sunni dengan Syiah sama sekali tidak akur, selalu bertentangan. Keheranan makin bertambah
karena pemuda ini juga selalu mengecam habis-habisan Kekhalifahan Islam Turki Utsmani
yang juga Sunni seperti dirinya.
Keheranan Hempher terjawab setelah ia memahami karakter Muhammad bin Abdul Wahab yang
penggugup, tapi kasar, sombong dan selalu menuruti hawa nafsunya sendiri dalam memahami Al
Quran dan Sunnah Rasulullah itu, karena sifat sombong, kasar dan selalu menuruti hawa
nafsunya membuat Muhammad bin Abdul Wahab selalu menolak dan menentang apapun yang
dianggap tidak sesuai dengan keinginan dan jalan fikirannya. Pemuda ini bahkan mengabaikan
pandangan semua ulama, baik ulama di zamannya maupun imam empat mazhab fikih
Sunni (Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Malik bin Anas, dan Muhammad bin Idris asy-Syafii),

serta tidak mengakui para sahabat terkemuka Rasulullah Saw. seperti Abu bakar
Siddiq dan Umar bin Khattab. Mengenai sikapnya ini, Muhammad bin Abdul Wahab berpegang
pada sabda Rasulullah Saw yang menyatakan; Telah kutinggalkan untuk kalian Al Quran dan
Sunahku. Karena Sabda Rasulullah Saw adalah demikian, maka menurut Muhammad bin Abdul
Wahab, ia tak perlu mengikuti para sahabat maupun para imam mazhab. Padahal ketika dalam
perbincangan di penginapan Abdur Ridha hal ini ikut diperdebatkan, salah seorang ulama Syiah
dari Qum, Syaikh Jawad, menjelaskan, selain hadist tersebut, juga ada hadist yang menjelaskan
bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Telah kutinggalkan untuk kalian Kitab Allah dan Ahlul
Baitku. Dan yang dimaksud Ahlul Bait dalam hadist ini meliputi keluarga dan sahabat Nabi
Saw, serta para imam/ulama.
Sifat dan pola fikir Muhammad bin Abdul Wahab membuat Hempher senang, dan bahkan
merasa kalau anak muda ini adalah orang yang tepat yang dapat ia peralat untuk memecah-belah
Islam, karena orang seperti ini sangat mudah disesatkan dan pemikiran-pemikirannya dapat
didorong untuk dijadikan dasar pendirian sebuah sekte yang menyimpang dari ajaran Islam.
Apalagi karena Muhammad bin Abdul wahab pernah sesumbar dengan mengaku dirinya jauh
lebih baik dari Abu Hanifah, dan menilai kalau separuh isi kitab Shahihal-Bukhari, buku yang
berisi hadist riwayat Bukhari, dipenuhi dengan kesesatan.
***
Hempher mendekati Muhammad bin Abdul Wahab dan menjalin pertemanan dengannya. Untuk
membuatnya besar kepala dan kian sombong, Hempher sengaja selalu memuji-muji dan
membangga-banggakan pemuda itu di dalam setiap kesempatan. Misalnya saja, Hempher pernah
mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab lebih hebat dari Umar bin Khattab dan Ali bin
Abi Thalib, sehingga seandainya saja Rasulullah Saw masih hidup, beliau pasti akan menunjuk
Muhammad bin Abdul Wahab sebagai khalifah, bukan kedua sahabatnya itu.
Aku harap Islam akan berjaya dan gemilang di tanganmu, karena engkau lah satu-satunya
ulama yang akan berhasil menyebarkan Islam ke segenap penjuru dunia, katanya.
Hasutan dan pujian yang diumbar Hempher habis-habisan membuat Muhammad bin Abdul
Wahab mabuk kepayang, sehingga ketika Hempher mengajaknya menyusun sebuah tafsir
baru Al Quran yang hanya berdasarkan pendangan-pandangan mereka berdua saja, Muhammad
bin Abdul Wahab setuju. Meski pun tafsir itu bertolak belakang dengan tafsir para sahabat
Rasulullah saw, para imam mazhab, dan para ulama tafsir Al Quran. Tujuan Hampher mengajak
pembuatan tafsir baru ini jelas, yakni menyesatkan Muhammad bin Abdul Wahab. Apalagi
karena jelas sekali kalau pemuda ini memang ingin tampil sebagai seorang revolusioner sejati
yang pandangan-pandangannya dapat diterima masyarakat luas, meski pandangan-pandangan itu
berbeda dengan para ulama, sahabat, dan Rasulullah sendiri, sehingga apapun gagasan Hempher,
dengan senang hati diterimanya.
Maka begitu lah, di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar terseret
pada kesesatan dan menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sejati. Apalagi ketika Hempher
mengusulkan untuk menghalalkan nikah mutah (kawin kontrak), dia setuju, dan kepadanya
diberikan seorang perempuan bernama Shafiyyah untuk dinikahi dengan cara yang dilarang

dalam Islam tersebut. Shafiyyah, jelas Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata
dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, adalah salah seorang dari begitu banyak wanita
Kristen yang dikirim Kementerian Persemakmuran untuk merayu para lelaki Muslim di Irak agar
terjerumus dalam perzinahan dan prostitusi. Nama Shafiyyah pun bukan nama sebenarnya,
melainkan hanya nama panggilan semata.
Muhammad bin Abdul Wahab menikahi Shafiyyah secara mutah hanya untuk satu minggu
dengan mahar sejumlah emas. Ayat yang digunakan Hempher untuk menjerumuskan
Muhammad bin Abdul Wahab agar terjerumus dalam perzinahan adalah Surah An-Nisa ayat 42
yang berbunyi; Karena kalian beroleh kenikmatan dari mereka, berilah mereka maharnya
sebagai kewajiban yang ditentukan Makna ayat ini sebenarnya mengatur tata cara
pernikahan, bukan menghalalkan nikah mutah.
Sukses mejerumuskan Muhammad bin Abdul Wahab dalam perzinahan, Hempher kemudian
menjerumuskannya dalam khamar (minuman keras). Dalil yang digunakan Hempher adalah
riwayat tentang Yazid dan Khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah yang menenggak
khamar, padahal mereka adalah orang-orang yang pemahaman Al Quran-nya lebih baik
dibanding Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga berdasarkan riwayat ini, maka menurut
Hempher, meminum khamar adalah makruh, bukan haram. Bahkan menurut Hempher, Ummar
bin Khattab biasa meminum khamar, sehingga turun lah Surah Al Maidah ayat 91 yang
berbunyi; Setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian
karena khamar dan judi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan mengerjakan
sholat. Maka, tidakkah kalian menghentikannya sekarang juga?
Untuk meyakinkan Muhammad bin Abdul Wahab, Hempher mengatakan kalau berdasarkan ayat
ini, meminum khamar sesungguhnya tidak haram asalkan tidak mabuk, tidak melupakan Allah,
dan tidak lupa sholat. Lebih parah lagi, Hempher juga menggunakan Surah Thaha ayat 14 untuk
membuat Muhammad bin Abdul Wahab meninggalkan sholat. Karena bunyi ayat itu adalah
Dan kerjakanlah sholat untuk mengingat-Ku, maka menurut Hempher, umat Islam
sebenarnya tidak sholat pun tidak apa-apa asalkan tetap mengingat Allah.
Di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar dibuat tersesat dari ajaran Islam
yang sesungguhnya, dan keyakinannya terhadap Islam meluntur. Muhammad bin Abdul Wahab
sebenarnya sempat mencurigai niat jahat di balik semua dalil yang dicekoki Hempher
kepadanya, sehingga suatu kali Muhammad bin Abdul Wahab pernah berkata begini kepada
Hempher; Apakah engkau sedang berusaha membuatku keluar dari agamaku?
Kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab itu muncul ketika Hempher ingin menyesatkannya
juga dalam hal berpuasa, karena kala itu Hempher mengutip surah Al Baqarah ayat 184 yang
berbunyi; .. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya. Menurut
Hempher, karena dalam ayat ini tidak terdapat kata wajib, maka sebenarnya berpuasa bagi
umat Islam sunah hukumnya, bukan wajib. Atas kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab
tersebut, Hempher berkilah bahwa agama adalah kesucian hati, keselamatan jiwa, dan bukan
pelanggaran atas hak-hak orang lain, karena bukankah Rasulullah Saw. bersabda, Agama
adalah Cinta? Bahkan dalam surah Al-Hajr, Allah SWT. berfirman; Dan beribadahlah kepada
Tuhanmu sampai datang yaqin kepadamu.

Maka menurut Hempher, berdasarkan sabda Rasulullah dan firman Allah SWT., ketika
seseorang telah mencapai yaqin tentang Allah dan Hari Kiamat, membaguskan hatinya, dan
menyucikan seluruh amal perbuatannya, maka ia akan menjadi orang yang paling baik dan
paling saleh di antara umat manusia.
Muhammad bin Abdul Wahab menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapanku, jelas
Hemper dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan
Islam.
Puncak penyesatan Hempher terhadap Muhammad bin Abdul Wahab, yang memotivasi
Muhammad bin Abdul Wahab akhirnya membentuk sekte Wahabi adalah setelah Hempher
mengaku-ngaku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Kata Hempher kepada Muhammad bin
Abdul Wahab; Semalam aku bermimpi berjumpa Nabi Saw. Aku menyapa beliau dengan
berbagai sifat yang kuketahui dari para ulama. Beliau duduk di atas sebuah mimbar. Di sekeliling
beliau berkumpul para ulama yang tidak kukenal. Engkau masuk. Wajahmu bersinar cemerlang
seperti sebuah lingkaran cahaya. Engkau berjalan menghampiri Nabi Saw. Ketika engkau sudah
cukup dekat, Nabi Saw berdiri dan mencium dahimu. Beliau bersabda; Engkau lah pewaris
ilmuku, wakilku dalam berbagai urusan duniawi dan ukhrawi. Engkau pun berkata; Ya,
Rasulullah, aku takut menjelaskan ilmuku kepada orang banyak. Engkau lah yang terbesar.
Jangan takut, jawab Nabi Saw.
Muhammad bin Abdul Wahab senang sekali mendengar bualan Hempher dan berkali-kali
menanyakan apakah mimpi Hempher itu benar, dan Hempher tentu saja membenarkan.
Sejak saat itu, kukira, ia berniat memaklumkan berbagai ide atau gagasan yang telah
kutanamkan dalam dirinya untuk kemudian mendirikan sebuah sekte baru bernama Wahabi,
jelas Hempher sebagaimana tertulis dalam buku Catatan Seorang Mata-mata dan Persekongkolan
Menghancurkan Islam.
Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab sangat
mudah disesatkan karena pengetahuan agama pemuda yang lahir pada 1703 Masehi (1115
Hijriyah) dan wafat pada 1792 Masehi (1206 Hijriyah) ini memang kurang memadai karena dia
hanya belajar ilmu dari segelintir guru, termasuk dari ayahnya yang seorang qadhi (hakim).
Muhammad bin Abdul Wahab pernah mengaji kepada beberapa guru agama di Mekah dan
madinah, seperti kepada Syaikh Muhammad ibnu Sulaiman al-Kurdi dan Syaikh Muhammad
Hayat as-Sindi. Ketika ia ke Bashrah, ia sebenarnya ingin berguru kepada seorang syaikh di
sana, namun ditolak menjadi murid.
Hempher menerima pesan dari Kementerian Persemakmuran di London agar ia segera
meninggalkan Bashrah dan berangkat menuju Karbala dan Najf, dua kota yang kala itu, pada
abad 18 Masehi, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan spiritual yang paling populer di kalangan
Syiah. Hempher sebenarnya enggan berangkat karena saat perintah datang, Muhammad bin
Abdul Wahab yang dianggapnya sebagai pemuda bodoh dan tak bermoral, masih perlu didorong
untuk segera merealisasinya berdirinya sekte Wahabi, namun karena tugas tak bisa ditentang, ia
berpamitan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, dan berangkat ke Karbalah dan Najf.

Namun seperti diakui Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan
Persekongkolan Menghancurkan Islam, setelah ia pergi, Kementerian Persemakmuran tidak
melepaskan Muhammad bin Abdul Wahab begitu saja, melainkan terus membina untuk
menyesatkannya. Orang yang ditugaskan untuk terus menempel kepada Muhammad bin Abdul
Wahab di antaranya adalah Shafiyyah, wanita Kristen yang dinikahi Muhammad bin Abdul
Wahab dengan cara nikah mutah; Abdul Karim, seorang agen mata-mata yang ditugaskan
Kementerian Persemakmuran di distrik Jelfah dan Isfahan; dan Aisyah, seorang wanita Yahudi
yang juga bekerja untuk Kementerian Persemakmuran yang tinggal di Syiraz. Bukti atas hal ini
diutarakan Menteri Persemakmuran kepada Hempher, ketika Hempher menyampaikan
kekhawatirannya kalau setelah ia tinggalkan, Muhammad bin Abdul Wahab akan
mencampakkan apa yang telah ia tanamkan ke dalam dirinya, dan bahkan mungkin saja akan
mempelajari ajaran Islam yang benar. Kata Menteri; Jangan khawatir. Dia belum
mencampakkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang kautanamkan kepadanya. Mata-mata dari
Kementerian kita berjumpa dengannya di Isfahan dan melaporkan bahwa dia belum berubah
fikiran.
Bukti lain adalah keterangan Abdul Karim kepada Hempher ketika mereka bertemu. Kata Abdul
Karim, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan kembali menikahi Shafiyyah secara mutah untuk
selama dua bulan, dan kemudian menikahi Aisyah dengan cara yang sama, yakni nikah mutah.
Setelah menyelesaikan tugas di Karbalah dan Najf, Hempher mendapat cuti selama satu bulan,
dan masa cuti ini dimanfaatkan untuk berkumpul bersama anak dan istrinya di London. Selesai
cuti, Kementerian Persemakmuran menugaskannya untuk kembali ke Irak dan menemui
Muhammad bin Abdul Wahab karena orang tolol ini sangat pas dan cocok untuk mewujudkan
tujuan-tujuan kementerian, yakni memecah-belah Islam, melemahkannya, dan menguasai
negerinya. Sekretaris Kementerian Persemakmuran bahkan memberitahu kalau mata-mata
mereka di Isfahan telah bicara terus terang kepada Muhammad bin Abdul Wahab tentang apa
yang diinginkan pemerintah Inggris darinya, dan Muhammad bin Abdul Wahab telah
menyatakan bersedia memenuhi keinginan itu asal syarat-syarat yang diajukannya, dipenuhi.
Syarat-syarat dimaksud adalah diberi dukungan uang dan senjata untuk melindungi diri dari
negara dan ulama-ulama yang pasti akan menyerangnya sebagai akibat dari sekte yang ia dirikan,
dan Kementerian telah menyetujui syarat-syarat tersebut.
Hempher senang sekali, sehingga karena takut misi ini akan gagal ia laksanakan, ia meminta
arahan tentang apa yang pertama-tama harus ia lakukan, dan Sekretaris Kementerian
menyodorkannya skema sebanyak enam paragraph yang harus dipatuhi. Inilah skema enam
paragraph itu:
1. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan semua orang Muslim yang tidak sejalan
dengannya adalah orang-orang kafir, dan memaklumkan bahwa halal hukumnya membunuh
mereka, merampas harta mereka, menodai dan mencemarkan nama kehormatan mereka,
memperbudak pria-pria mereka, menjadikan wanita-wanita mereka sebagai gundik, dan menjual
mereka di pasar-pasar budak.

2. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa Kabah adalah berhala dan karenanya
harus dihancurkan, menghapus haji, memprovokasi berbagai suku agar menggerebek jemaah
haji, merampas harta milik mereka, dan membunuhnya.
3. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha membuat kaum Muslimin tidak mematuhi dan
tidak mentaati khalifah. Ia juga harus memprovokasi mereka agar memberontak terhadap
khalifah, harus mempersiapkan pasukan untuk pemberontakan tersebut, dan mengeksploitasi
setiap peluang dan kesempatan untuk menyebarkan keyakinan bahwa sangatlah perlu memerangi
kaum bangsawan Hijaz dan menghinakan mereka.
4. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa berbagai mausoleum atau tempat
pemakaman, kubah dan berbagai tempat suci di negara-negara Muslim adalah berhala, penuh
kemusyrikan, dan karenanya harus dihancurkan. Ia harus berusaha sebaik mungkin mencari
kesempatan untuk menghina dan melecehkan Nabi Muhammad Saw, khalifah-khalifah, dan juga
para ulama terkemuka dari berbagai mazhab.
5. Muhammad bin Abdul Wahab harus sekuat tenaga memicu timbulnya pemberontakan,
penindasan, dan anarki di negara-negara Muslim.
6. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha menerbitkan sebuah Mushaf Al Quran yang
mengalami perubahan, baik ditambah maupun dikurangi, sebagaimana halnya hadist-hadist Nabi
Saw.
Sekretaris Kementerian meminta Hempher agar tidak panik dalam melaksanakan program
raksasa ini, karena tugasnya dan tugas Kementerian Persemakmuran hanyalah menebar dan
menyemai benih-benih penghancuran Islam, dan apa yang mereka lakukan saat ini akan
dituntaskan oleh generasi-generasi setelah mereka.
Pemerintah Inggris sudah terbiasa bersabar dan melangkah maju setahap demi setahap.
Bukankah Nabi Muhammad, sang pemimpin besar revolusi Islam, juga manusia biasa? Dan
Muhammad bin Abdul Wahab yang sudah kita kuasai berjanji menuntaskan revolusi kita
seperti halnya Nabi panutannya, imbuh sang Sekretaris Kementerian.
Beberapa hari kemudian Hempher kembali ke Irak untuk melaksanakan tugasnya.
***
Hempher mendatangi rumah Abdur Ridha, dan tukang kayu itu menyambutnya dengan hangat
seperti layaknya bertemu teman lama. Abdur Ridha bahkan memberi tahu kalau Muhammad bin
Abdul Wahab pernah menitipkan surat untuk Hempher, dan surat itu diberikan kepadanya.
Dalam surat itu, Muhammad bin Abdul Wahab memberi tahu kalau ia meninggalkan kampung
halamannya, Najd, dan bermukim di Uyainah. Hempher segera menyusul dan menemui orang
binaannya itu di sana. Tubuh Muhammad bin Abdul Wahab kurus, dan pemuda itu juga
mengaku telah menikahi salah seorang anak kerabatnya yang bermukim di kota itu.

Soal kepindahan Muhammad bin Abdul Wahab ke Uyainah, berdasarkan paparan dalam buku
Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi diketahui kalau tak lama setelah berpisah dengan
Hempher, pada 1143 (1730 M) Muhammad bin Abdul Wahab pulang ke Huraimila, desa
kelahirannya di Najd, dan langsung berdakwah. Namun dakwahnya yang bertentangan dengan
ajaran Sunni, seperti menganggap ajaran Sunni lebih banyak bersifat bidah dan menganggap
orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya adalah kafir, ditentang keras tak saja oleh
masyarakat Huraimila dan para ulama Najd, tapi juga oleh keluarganya. Bahkan karena
dakwahnya yang dianggap sesat, Muhammad bin Abdul Wahab bertengkar hebat dengan
ayahnya, dan sempat akan dibunuh penduduk Huraimila. Saat bertengkar, ayah Muhammad bin
Abdul Wahab berkata begini kepada penduduk Huraimila; Kalian akan melihat kejahatan yang
akan dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Allah menakdirkannya yang akan terjadi
pasti terjadi!
Karena tak dapat berdakwah di Huraimila, Muhammad bin Abdul Wahab melarikan diri ke kota
Uyainah dan mendekati emir (walikota) di kota tersebut untuk mendapatkan perlindungan. Ia
juga menikahi seorang gadis dari salah seorang kerabatnya. Kepada Hempher, Muhammad bin
Abdul Wahab mengatakan kalau ia akan berhenti berdakwah, namun Hempher memberinya
semangat. .
Kukatakan kepadanya bahwa perjuangan Nabi Muhammad Saw untuk mensyiarkan Islam jauh
lebih berat dan lebih menderita dari apa yang engkau alami. Engkau tahu, inilah jalan
kehormatan dan kemuliaan. Seperti seorang revolusioner lainnya, engkau harus tangguh dan
tahan banting! kata Hempher seperti dikutip dari buku Persekongkolan Menghancurkan Islam.
Untuk tidak menimbulkan kecurigaan penduduk Uyainah atas kehadirannya di sisi Muhammad
bin Abdul Wahab, Hempher dan Muhammad bin Abdul Wahab sepakat untuk membohongi
penduduk dengan mengatakan kalau Hempher adalah budak Muhammad bin Abdul Wahab yang
baru saja kembali setelah melakukan perjalanan ke suatu tempat. Sedang untuk melancarkan
dakwah orang yang ia bina untuk menghancurkan Islam tersebut, serta untuk mengamankannya
dari serangan-serangan yang dapat terjadi seperti yang dialami Muhammad bin Abdul Wahab di
Desa Huraimila, Hempher menyewa sejumlah agen mata-mata yang juga dimanfaatkan untuk
berpura-pura menjadi para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Hempher menargetkan,
dalam dua tahun sekte yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab, atau sekte Wahabi, sudah
dapat diumumkan kepada masyarakat luas.
Kekhawatiran Hempher terbukti. Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang juga oleh
masyarakat Uyainah, sehingga Muhammad bin Abdul Wahab, juga Hempher, terpaksa
meninggalkan kota itu dan mengungsi ke Diriyah yang terletak di sebelah timur kota Najd.
Diriyah adalah wilayah dimana Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi
ketika Rasulullah Saw masih hidup, tinggal. Dari wilayah ini juga gerombolan kaum murtaddin
menyerang kota Madinah setelah Rasulullah Saw wafat.
Sadar bahwa perjuangan Muhammad bin Abdul Wahab mendirikan sekte Wahabi memang tak
mudah, Hempher menghubungi Kementerian Persemakmuran dan meminta bantuan.
Kementerian turun tangan dengan melobi Muhammad bin Saud, emir Diriyah agar mau
melindungi dan bergabung dengan Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad bin Saud setuju.

Maka terjalinlah kerja sama yang saling menguntungkan antara Amir Diriyah itu dengan
Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga dalam sekejap mata Muhammad bin Abdul Wahab
mendapat pengikut yang amat banyak, dan pada 1738 Masehi, sekte Wahabi dimaklumkan
(dideklarasikan).
Berkat Inggris, kekuasaan Muhammad bin Saud sebagai seorang emir, meluas. Bahkan
kemudian, pada 1744 Masehi, menjadi sebuah negara yang saat ini kita kenal dengan nama Saudi
Arabia (nama ini diambil dari nama keluarga Muhammad bin Saud, yakni Ali Saud yang
berarti keluarga Saudi). Diriyah dijadikan sebagai ibukotanya, dan Muhammad Saud menjadi
emir (penguasa)-nya. Sedang Muhammad bin Abdul Wahab diangkat sebagai imamnya.
Berdasarkan kitab Tarikh Ali Saud karya Ustadz Nashir as-Said diketahui kalau Muhammad
bin Saud dapat dilobi Kementerian Persemakmuran, karena keluarga Muhammad bin Saud
berdarah Yahudi Arab, dan kita tahu Inggris termasuk salah satu negara di dunia yang dikuasai
Yahudi melalui Zionis Internasional dengan Freemasonry sebagai salah satu anasirnya.
Ada dua keuntungan yang didapat Inggris dari peristiwa ini. Pertama, berhasil mendirikan sekte
baru untuk memecah-belah Islam, dan dapat menyedot limpahan kekayaan negara yang
terkandung dalam bumi Arab Saudi, khususnya cadangan minyak buminya. Hingga kini Saudi
Arabia masih menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang memiliki hubungan sangat baik
dengan Inggris , dan menganut paham Wahabi.
Sebagai sekte yang di-create negara penjajah, karakter sekte Wahabi juga tidak berbeda dengan
Inggris. Apalagi karena selain ajaran sekte ini jauh menyimpang dari ajaran Islam, juga karena
ketika masih berada di Uyainah dan dalam perlindungan Hempher, Muhammad bin Abdul
Wahab sempat berjanji kepada Hempher bahwa jika sektenya telah berdiri, ia akan
melaksanakan semua isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran.
Sejarah mencatat, demi meluaskan pengaruh dan menyebarkan sekte Wahabi, juga melaksanakan
isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran, duet Kerajaaan Arab Saudi dan
Muhammad bin Abdul Wahab melakukan ekspansi dan penyerangan kemana-mana, dan
terjadilah seperti apa yang diinginkan Inggris untuk menghancurkan Islam, yakni pertumpahan
darah dimana-mana yang seluruh korbannya adalah orang Islam. Duet ini tidak pernah mengusik
orang Yahudi dan Kristen yang datang ke negeri-negeri di sekitar mereka untuk menjajahnya.
Sekali lagi, subhanallah, benarlah sabda Rasulullah Saw seperti diriwayatkan Muslim pada
Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah, yang penggalannya berbunyi; Mereka memerangi orang
Islam dan membiarkan para penyembah berhala
Penyerangan-penyerangan dan pembunuhan-pembunuhan tersebut diakui sendiri oleh para tokoh
Wahabi dan bahkan tercantum dalam buku-buku sejarah resmi sekte ini, seperti buku Ad-Durar
as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah yang disusun Abdurrahman ibnu Muhammad ibnu Qasim
al-Ashimi al-Qathani an-Najdi yang merupakan kumpulan risalah dan makalah ulama-ulama
Najd dari sejak zaman Muhammad bin Abdul Wahab hingga saat ini. Wilayah yang diserang
hingga penduduk muslimnya tewas bergelimang darah di antaranya Mekah, Thaif, Madinah,
Riyad, Qatar, Bashrah, Karbala, Nejef, Qum, Omman, Kuwait, dan Syam, dan mereka bangga
pada tindakannya yang radikal dan tidak sesuai dengan akidah Islam tersebut.

Pertumpahan darah ini mulai terjadi setelah duet Muhammad bin Abdul Wahab dan emir Saudi
Muhammad bin Saud mengobarkan semangat jihad terhadap siapapun yang memiliki
pemahaman tauhid yang berbeda dengan sekte Wahabi, karena menurut mereka, Muslim non
Wahabi adalah kafir, sehingga harus digerebek, dirazia, bahkan dibunuh. Ini terjadi pada 1746
Masehi (1159 Hijriyah). Dalam lima belas tahun sejak jihad dikobarkan, Wahabi berhasil
menguasai sebagian besar wilayah Jazirah Arab, termasuk Najd, Arabia tengah, Asir, dan
Yaman. Setelah Muhammad bin Abdul Wahab meninggal pada 1791 Masehi (1206 Hijriyah),
jihad diteruskan oleh para pengikutnya dan penerus Muhammad bin Saud.
Karbala diserang pada 1802 Masehi (1216 Hijriyah) dengan mengerahkan 12.000 pasukan. Salah
satu kota kaum Syiah di Irak ini dikepung, penduduknya dibunuh, makam Imam Husein (putra
Ali bin Abi Thalib yang juga cucu Rasulullah Saw) dijarah. Versi ulama menyebutkan,
penduduk Karbala yang terbunuh dalam peristiwa ini mencapai 5.000 jiwa, sedang versi Wahabi
menyebut hanya 2.000 jiwa.
Thaif diserang pada bulan Dzulqaidah tahun 1217 Hijrah (1803 Masehi). Ketika peristiwa
terjadi, sebenarnya antara pemerintahan as-Syarif Ghalib, gubernur kota Mekah yang
memerintah kota itu, dengan Wahabi telah terjalin kesepakatan damai, namun Wahabi
melanggarnya. Ribuan penduduk kota ini tewas dan para ulamanya dipaksa untuk mengikuti
sekte Wahabi di bawah todongan senjata. Ulama yang setuju, selamat, namun yang menolak
dibunuh. Mereka juga merampas apa saja yang berharga dari kota itu.
Tentang serangan ke Thaif ini, ulama Mekah al-Mukaramah bermazhab Syafii, Ahmad ibnu
Zaini Dahlan dalam kitab Umara ul-Baladil Haram yang ditulisnya, menyatakan begini; Ketika
memasuki Thaif, Wahabi membunuh semua orang, termasuk orang tua renta, anak-anak, tokoh
masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka
menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya, membunuh umat
Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati satu jamaah
umat Islam mengadakan pengajian Al Quran, maka mereka segera membunuhnya hingga tiada
lagi yang tertinggal. Kemudian mereka memasuki masjid-masjid dan membunuhi orang-orang
yang sedang ruku dan sujud, merampas uang dan hartanya, menginjak-injak mushaf Al Quran,
dan juga menginjak-injak kitab Bukhari, Muslim, kitab fikih, nahwu, dan kitab-kitab lainnya.
Kitab-kitab itu kemudian disobek-sobek, dan serpihannya disebarkan di jalan-jalan dan ganggang. Mereka merampas harta orang-orang Islam, lalu membagikannya di antara mereka, seperti
pembagian ghanimah (harta pampasan perang) dari orang kafir.
Soal serangan ke Mekah, para ahli sejarah berbeda versi tentang tahun kejadiannya. Abdullah bin
Asy-Syarif Husain menyebut kalau penyerangan terjadi pada 1218-1219 Hijriyah (1803-1804
Masehi), namun Utsman ibnu Abdullah ibnu Bisyr al-Hanbali An-Najdi menyebut pada 1220
Hijriyah (1805 Masehi). Namun yang pasti, penyerangan terjadi persis pada musim haji, karena
umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji memang merupakan sasaran utamanya.
Dalam penyerangan ini, ribuan Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji tewas. Penduduk
juga diserang. Mereka ada yang langsung dibunuh, namun ada juga yang disiksa dahulu, baru
dibunuh. Bahkan ada yang dimutilasi dalam keadaan masih hidup. Yang lebih sadis, selain
merampas harta penduduk, pasukan Wahabi juga menyandera anak-anak dan baru dibebaskan
setelah ditebus orangtuanya.

Mekah diduduki Wahabi selama sekitar enam tahun. Pada periode ini, Mekah benar-benar dalam
masa kegelapan karena selain penduduk kota ini tak dapat lagi menjalankan syariat Islam dan
harus mengikuti paham Wahabi, juga karena mushaf-mushaf Al Quran dibakar, kitab-kitab
hadist dibakar, bahkan bangunan-bangunan bersejarah dan makam dihancurkan. Penduduk juga
dilarang merayakan Maulid Nabi dan membaca barzanzi. Korban terus bertambah karena
kezaliman Wahabi membuat penduduk yang masih hidup mengalami bencana kelaparan hebat
karena semua harta yang mereka miliki, telah dirampas.
Madinah diserang pada akhir bulan Dzulqaidah 1220 H, tak lama setelah Mekah dihancurkan.
Dalam serangan ini bukan hanya penduduk dibunuhi dan hartanya dirampas, namun rumah
Rasulullah Saw pun digerebek dan semua barang berharga di rumah itu dirampas, termasuk
lampu dan tempat air yang terbuat dari emas dan perak berhiaskan permata dan zamrud.
Sejumlah ulama di kota ini, seperti Shaikh Islmail al-Barzanji dan Shaikh Dandrawi melarikan
diri. Pasukan Wahabi juga menghancurkan semua kubah di Pemakaman Baqi, termasuk kubah
makam para Ahlul Baits yang terdiri dari istri-istri Nabi Saw dan keturunannya. Pasukan zalim
ini bahkan sempat mencoba memusnahkan kubah makam Rasulullah saw, namun begitu melihat
di kubah tersebut terdapat lambang bulan sabit yang mereka sangka terbuat dari emas murni,
mereka mengurungkannya.
Puas membuat kerusakan, Pasukan Wahabi meninggalkan Madinah yang telah mereka ubah
laksana kota mati yang luluh lantak.
***
Pasukan Wahabi menyerang Uyainah pada bulan Rajab 1163 Hijriah (1750 Masehi). Penduduk
dan emir kota itu, Utsman ibnu Hamad ibnu Muammar, dibunuh saat baru saja selesai sholat
Jumat dan masih berada di dalam masjid. Rumah-rumah dihancurkan, ladang-ladang dibakar,
semua harta berharga dirampas, dan para wanita dijadikan budak belian.
Tak sampai di situ, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan menakut-nakuti penduduk yang
melarikan diri agar jangan membangun lagi kota mereka hingga selama 200 tahun dengan alasan,
jika sebelum 200 tahun rumah-rumah kembali didirikan di Uyainah, maka Allah SWT akan
mengirimkan jutaan belalang untuk meluluhlantakkannya. Ini tentu saja kebohongan belaka.
Yang lebih mengiris hati, berdasarkan buku Tarikh Najd, sebuah buku tentang sejarah Saudi
yang dikeluarkan oleh kerajaan Arab Saudi, diketahui kalau penyerangan terhadap Unaiyah
dilakukan karena Wahabi menganggap penduduk kota itu kafir. Nauzubillahiminzalik!
Riyad diserang pasukan Wahabi pada 1187 Hijriyah (1774 Masehi). Semua bangunan di kota ini
dirusak dan dihancurkan, termasuk bangunan observatorium dan menara. Penduduknya, baik
perempuan maupun laki-laki, anak-anak maupun orang dewasa, dibunuh. Selama beberapa hari,
Riyad diduduki, dan begitu kota ini ditinggalkan, mereka membawa harta rampasan yang amat
banyak.
Kuwait diserang hingga tiga kali. Pertama pada 1205 Hijriyah (1790 Masehi), kedua pada 1213
Hijriyah (1798 Masehi), dan ketiga pada 1223 Hijriyah (1808 Masehi). Seperti halnya serangan
pada kota-kota yang lain, bangunan-bangunan di negara kaya minyak ini pun dirusak dan

dihancurkan, dan rakyatnya dibunuhi. Kabilah-kabilah di Kuwait dan Bahrain yang menolak
membayar jizyah (padahal jizyah hanya dikenakan kepada orang-orang kafir yang dilindungi),
diserang habis-habisan. Pada buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi tertulis, serangan
Wahabi terhadap Kuwait ini didukung Inggris karena kala itu Kuwait masih berada di bawah
pemerintahan Khlaifah Islam Turki Utsmani, sehingga serangan Wahabi ini menimbulkan
perang besar yang dikenal dengan nama Peperangan al-Hamdh.
Pada 1338 Hijriyah (1920 masehi), Wahabi lagi-lagi menyerang Kuwait sehingga perang
kembali pecah dan dikenal dengan nama Perang al-Jahra. Dalam kejadian ini, ulama Kuwait
Syaikh Salim ash-Shabbah nyaris saja tertawan, namun berhasil diselamatkan pasukan Ibnu
Thawalah dari Kabilah Syammar dan al-Ujiman. Korban tewas dari tentara dan penduduk sipil
Kuwait mencapai ribuan orang.
Pada 1341 Hijriyah (1921 Masehi), pasukan Wahabi yang sebagian besar merupakan tentara
kerajaan Arab Saudi, menghadang sekitar 1.000 orang penduduk Yaman yang sedang dalam
perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Penghadangan dilakukan di lembah
Tanumah. Dalam kejadian ini, hanya dua orang yang berhasil melarikan diri karena yang lainnya
tewas. Kerajaan Arab Saudi meminta maaf kepada pemerintah Yaman dan berdalih kalau
pihaknya mengira rombongan jemaah haji itu adalah jamaah dari Hijaz yang membawa senjata.
Namun setelah para ulama melakukan penelitian, diketahui kalau pembunuhan itu memang
dilakukan dengan sengaja. Peristiwa ini diabadikan ahli sejarah Dr. Muhammad Awadh alKhatib dalam buku berjudul Shafahat min Tarikh al-Jazirah al-Arabiyah yang ditulisnya.
Pada 1408 Hijriyah (1986 Masehi) jemaah haji Iran meneriakkan yel-yel yang mengkritik
Amerika dan sekutu-sekutunya sambil berjalan menuju Masjidil Haram untuk menunaikan shalat
berjamaah, umrah, dan thawaf. Yel-yel yang diteriakkan bunyinya begini; Kematian untuk
Amerika, kematian untuk Rusia, kematian untuk Israel! Wahai umat Islam, bersatulah! Aksi
jamaah haji Iran ini menarik perhatian jemaah haji dari negara lain, dan sebagian dari mereka
ikut meneriakkan yel-yel tersebut. Ketika mereka telah mendekati Masjidil Haram, tentara Saudi
Arabia menghadang dan menembaki mereka dengan membabi-buta. Sebanyak 329 jemaah haji
tewas dan ribuan luka-luka. Pembantaian ini dilakukan karena pemerintah Arab Saudi tak suka
negara-negara sekutunya dikecam dan dikritik.
Wahabi benar-benar melaksanakan seluruh isi skema enam paragraf Kementerian
Persemakmuran tanpa menyadari kalau kebrutalan mereka membuat sekte mereka tak ubahnya
bagai organisasi teroris yang menimbulkan kerusakan dan kematian di mana-mana. Apalagi
karena setiap kali melakukan penyerangan, pembunuhan, dan perampasan harta sesama Muslim,
sekte ini mendalihkannya sebagai tindakan jihad fisabilillah dan demi menegakkan ajarannya di
muka bumi. Sama seperti yang diyakini para teroris saat ini, termasuk Imam Samudera cs. Sekte
ini seperti tak kunjung menyadari kalau mereka diperalat oleh orang-orang kafir yang
sesungguhnya (baca; Inggris) untuk menghancurkan Islam dan menyeret diri mereka sendiri ke
dalam kekafiran.
Jika kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan Wahabi, kita akan menemukan lebih
banyak lagi kejahatan yang dilakukan sekte ini terhadap umat Islam, karena yang diserang bukan

hanya kota-kota, negara-negara, serombongan orang, tapi juga pribadi-pribadi muslim,


khususnya para ulama.
Mengutip dari buku Sejarah Berdarah Sekte Wahabi, sejak awal perkembangannya yang dimulai
pada 1738, Wahabi telah melakukan kejahatan dengan membunuhi para ulama yang menentang
ajarannya, terutama ulama-ulama di kota-kota yang menjadi target penyebaran ajaran sekte ini,
seperti Thaif, Mekah, Madinah, Ahsaa, Karbala, Yaman, dan Syam. Ulama yang dibunuh di
antaranya
;
1. Syaikh Abdullah az-Zawawi, ulama yang juga mufti Mekah al-Mukaramah yang bermazhab
Syafii.
Ulama
ini
dibunuh
di
rumahnya
dengan
cara
disembelih.
2. Syaikh Jafar asy-Syaibi, dibunuh oleh komandan tentara Wahabi pada 1217 Hijriyah (1802
Masehi).
3. Tiga ulama dari Kabilah Umar ibnu Khalid, dibunuh pada 1838 saat sedang dalam perjalanan
menuju Ahsaa.
Sebagai sekte yang di-create berdasarkan campur tangan non Muslim, penyimpangan
dalam ajaran Wahabi yang tak hanya berdasarkan fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab,
tapi juga fatwa para ulamanya, seperti Syaikh Ali al-Kudhair, Syaikh Aidh ad-Duwaisri, Syaikh
Abdullah an-Najdi, dan Syaikh Nashir al-Fahd, luar biasa parahnya. Fatwa-fatwa itu bahkan
cenderung nyeleneh dan berbahaya. Ini lah beberapa di antara fatwa-fatwa tersebut :

1. Fatwa Syaikh Ali al-Kudhair: Boleh berdusta dan bersumpah palsu demi agama (baca:
Wahabi), khususnya bagi para dai dan mubaligh.
2. Fatwa Syaikh Aidh ad-Duwaisri: Boleh menipu Syiah dan orang-orang lain yang berfaham
sesat (non Wahabi).
3. Fatwa Syaikh Sulaiman al-Kharasyi: Boleh merampok harta orang-orang sekuler, serta halal
nyawa dan kehormatan mereka (persis seperti yang diyakini para teroris seperti Imam Samudera
cs).
4. Fatwa Syaikh Ibnu Baz: Boleh menghancurkan website/situs seseorang atau lembaga tertentu,
mencuri password dan memata-matai email demi dakwah Salafi Wahabi.
5. Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin: Fatwa jihad terhadap Syiah dan wajib melaknat mereka.
6. Fatwa Dewan Fatwa Tetap (Lajnah Daimah): Haram menabur bunga di atas makam (Ahlus
Sunnah wal Jamaah tidak melarang hal ini).
7. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin: Haram belajar bahasa Inggris.
8. Fatwa Syaikh Nashir al-Fahd: Haram bertepuk tangan, haram ucapan salam dan
penghormatan dalam latihan militer.

8. Fatwa Syaikh Abdullah an-Najdi: Haram bermain bola sepak.


9. Fatwa Syaikh Hamud ibnu Aqla asy-Syuaibi: Halal nyawa dan kehormatan Abdullah arRuwaisyid, penyanyi Kuwait.
10. Fatwa Ulama-ulama Besar Saudi (Haiah Kibar al-Ulama): Haram game Pokemon dan
sejenisnya bagi anak-anak.
11. Fatwa Syaikh Utsman al-Khamis dan Sad al-Ghamidi: Haram penggunaan internet bagi
kaum wanita.

Selain fatwa-fatwa yang aneh, nyeleneh, dan tidak masuk akal, para ulama Wahabi juga
memiliki ajaran dan pendapat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw, para sahabat,
dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Misalnya;

1. Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid, ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi alAnbiyai Jumlatan (Beriman Kepada Semua Kitab) disebutkan kalau Adam a,s. bukanlah nabi
dan juga bukan rasul Allah.

2. Dalam buku al-Qaulu al-Mukhtar li Fanai an-Nar karangan Abdul Karim al-Humaid, ulama
Wahabi, disebutkan bahwa neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab selamanya di
neraka karena akan dipindahkan ke surga.

3. Dalam buku kaum Wahabi yang berjudul Fatawa al-Marah disebutkan bahwa menceraikan
istri ketika haid tidak menyebabkan jatuhnya talak (padahal ijma ulama mengatakan, seorang
suami yang menceraikan istrinya ketika sang istri sedang haid, maka talaknya tetap sah dan si
istri menjadi haram bagi suaminya).

4. Dalam buku berjudul Fatawa al-Marah juga disebutkan bahwa perempuan tidak boleh
menyetir mobil (Ijma ulama mengatakan, perempuan boleh mengendarai mobil selagi tidak ada
fitnah dan tetap terjaga aurat serta kehormatannya).

5. Dalam buku berjudul Fatawa al-Marah juga disebutkan bahwa suara wanita di sisi lelaki
ajnabi (bukan mahram atau orang yang boleh dinikahi) adalah aurat yang haram untuk didengar

suaranya. Dengan kata lain, wanita haram berbicara di sisi laki-laki (di zaman Rasulullah Saw,
perempuan dapat bertanya langsung kepada beliau tentang urusan agama. Ini berarti, dalam
Islam, tak apa-apa perempuan berbicara di sisi laki-laki).

6. Dalam buku Halaqat Mamnuah karangan Hisyam al-Aqqad, ulama Wahabi, disebutkan
bahwa mengucap zikir la illaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal
dalam Al Quran surah al-Azhab ayat 41 Allah berfirman; Wahai orang-orang yang beriman
berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.)

7. Ibnu Utssimin, ulama Wahabi, berkata; Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, termasuk
dosa besar, meskipun ziarah ke makam Rasulullah. (padahal dalam ajaran Islam tak ada
larangan wanita melakukan ziarah kubur, termasuk menziarahi makam Rasulullah Saw).

8. Dalam buku at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masail al-Haj wa al-Umrah karangan
Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz disebutkan bahwa memotong jenggot, apalagi
mencukurnya, hukumnya haram (padahal Islam tidak melarang memendekkan jenggot agar
kelihatan rapih, bahkan dianjurkan, karena Allah SWT mencintai keindahan)

9. Ibnu Baz dalam majalah ad-Dakwah edisi 1493 Hijriyah (1995 Masehi) yang diterbitkan Saudi
Arabiah menyatakan, haram bagi perempuan muslim mengenakan celana panjang, meskipun di
depan suami dan celana panjang itu lebar serta tidak ketat (Islam tidak melarang wanita memakai
celana panjang. Apalagi di hadapan suami).

10. Dalam kitab al-Ishabah, al-Juwaijati, imam Masjid Jami ar-Raudhah, Damaskus, Syiria,
disebutkan, ketika berada di Masjid ad-Daqqaq, Damaskus, salah seorang ulama Wahabi
mengatakan, shalawat kepada Rasulullah Saw dengan suara nyaring setelah adzan hukumnya
sama seperti seorang anak yang menikahi ibu kandungnya (Islam tidak melarang umatnya
bershalawat setelah adzan).

11. Ibnu Baz mengatakan, mengucapkan kalimat shadaqallahu al-adzim (maha Benar Allah
dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca Al Quran adalah bidah sesat dan haram
hukumnya (Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu karena mengandung pujian
kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Quran surah Ali-Imran ayat 95
yang bunyinya; Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya).)

Dari beberapa contoh di atas jelas sekali terlihat kalau ajaran Wahabi telah keluar dari
Islam karena terlalu banyak fatwa para ulama dan ajarannya yang tidak sejalan, bahkan bertolak
belakang, dengan ajaran Islam. Maka benar pula lah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh
Muslim dalam Kitab Az-Zakah bab al-Qismah yang penggalan sabdanya berbunyi; Mereka
keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang
buruannya Subhanallah.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kejayaan Wahabi. Karena
menganggap umat Islam selain pengikut ajarannya adalah kafir dan selalu memerangi, bahkan
membunuhi umat Islam dengan dalih jihad fisabilillah, lambat laun antipati terhadap sekte ini
meluas di seluruh wilayah Jazirah Arab, sehingga pada akhir abad 19 dakwah para ulama
Wahabi tak laku lagi. Bahkan selalu dicerca dan dikecam.
Sadar kalau sektenya dalam bahaya, dengan didukung pemerintah Arab Saudi dan Inggris tentu
saja, para ulama penerus Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan jurus baru untuk tetap
meng-eksiskan sekte ini di muka bumi. Apalagi karena sejarah Wahabi yang kelam dan kotor
membuat tak sedikit pengikutnya yang menjadi risih setiap kali berhadapan dengan pengikut
sekte Islam yang lain, terutama jika berhadapan dengan pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab
Islami, Prof. Dr. Said Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi
dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan
merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin
Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu
atau mutamaslif.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi,
sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh
salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal
sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi. Hal ini diketahui
berdasarkan dialog Albani dengan salah seorang pengikutnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, pada
Juli 1999 atau pada Rabiul Akhir 1420 Hijriyah.
Selain mengganti nama, sekte ini juga mengubah strategi dakwahnya dengan
mengusung platform dakwah yang sekilas, jika tidak dipahami benar maksud dan tujuannya,
terkesan sangat indah, terpuji dan agung, yakni kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Apa
yang salah dengan platform ini? Gampang dijawab.

Wahabi adalah sekte dengan ajaran yang bahkan oleh para ulama pengikut mazhab yang empat,
yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali dianggap sebagai ajaran sesat. Pendirinya,

Muhammad bin Abdul Wahab, adalah seorang pria arogan, kasar, dan telah dicuci otak oleh
Kementerian Persemakmuran melalui salah seorang agen mata-matanya, Hempher, sehingga
telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Ulama-ulamanya pun, termasuk Ibnu Taimiyah,
mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil, nyeleneh dan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lalu,
bagaimana mereka dapat mengajak setiap Mukmin kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah
Saw yang dijabarkan dan dijelaskan para ulama dalam hadist? Al Quran dan Sunnah yang mana
yang mereka maksud?? Ibnu Taimiyah sendiri, karena fatwa-fatwanya yang nyeleneh dan
menyimpang dari Islam, ditangkap, disidang, di penjara di Damaskus, dan meninggal di penjara
itu. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 60 ulama, baik yang hidup di zaman Ibnu Taimiyah
maupun yang sesudahnya, yang mengungkap kejanggalan dan kekeliruan fatwa-fatwa
ulama Wahabi itu dan juga ajaran Wahabi.

Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib
dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang
jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum
zaman kita. Sedang dari segi terminologi, as-salaf adalah generasi yang dibatasi oleh
sebuah penjelasan Rasulullah Saw dalam hadistnya; Sebaik-baik manusia adalah (yang
hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabiin), kemudian yang mengikuti
mereka (tabi at-tabiin). (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, berdasarkan hadist ini, assalaf adalah para sahabat Rasulullah Saw, tabiin (pengikut Nabi setelah masa sahabat)
dan tabi at-tabiin (pengukut Nabi setelah masa tabiin, termasuk di dalamnya para imam
mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat). Maka jangan
heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab
Islami, Prof. Dr. Said Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut
Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Yang juga perlu diwaspadai, kadangkala penganut ajaran Wahabi juga menyebut diri
mereka Ahlus Sunnah, namun biasanya tidak diikuti dengan wal Jamaah untuk
mengkamuflasekan diri agar umat Islam yang awam tentang aliran-aliran/sekte-sekte/golongangolongan dalam Islam, masuk ke dalam golongannya tanpa tahu sekte ini menyimpang, dan
mengamini ajarannya sebagai ajaran yang benar. Karena itu penting bagi setiap Muslim untuk
mempelajari sejarah agamanya, dan sekte-sekte yang berada di dalamnya.
***
Faham Salafi Wahabi masuk Indonesia pada awal abad 19 Masehi. Menurut buku Sejarah
Berdarah Sekte Salafi Wahabi, faham sesat ini dibawa oleh segelintir ulama dari Sumatera Barat
yang bersinggungan dengan sekte ini ketika sedang menunaikan ibadah haji di Mekah.
Namun demikian, para ulama ini tidak menelan mentah-mentah ajaran Wahabi, melainkan hanya
mengambil spirit pembaharuannya saja. Buku karya Syaikh Idahram itu bahkan
menyebut, spirit yang diambil ulama Sumatera Barat dari faham Wahabi kemudian menjelma

menjadi gerakan untuk melawan penjajah Belanda yang berlangsung pada 1803 hingga sekitar
1832 yang kita kenal dengan nama gerakan Kaum Padri dimana salah satu tokohnya
adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini tidak sekeras dan sekaku Wahabi karena dikulturisasi
dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.

Berkembangnya Wahabi di Indonesia sempat membuat sejumlah tokoh Islam kerepotan karena
dituding sebagai pengikut sekte ini. Mereka yang sempat dicap sebagai Wahabisme adalah
Syaikh Ahmad Surkati (pendiri al-Irsyad al-Islamiyah), KH. Ahmad Dahlan (pendiri
Muhammadiyah), dan Abdul Munir Mulkhan (cendekiawan Muhammadiyah yang juga guru
besar UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta), namun semua ini terbantahkan, karena KH. Ahmad
Dahlan seorang sufi.

Bahkan untuk membantah tuduhan bahwa ia penganut Wahabi, Syaikh Ahmad Surkati menulis
begini; Tangan saya gemetar ketika menulis bantahan ini. Bukan karena saya takut
terhadap gerakan yang keras itu, melainkan karena saya memang tidak mengetahui,
apalagi mengikutinya.

Masih menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pada 1995 Wahabi mulai memiliki
media cetak di Indonesia dengan terbitnya Majalah Salafi yang dibidani Jafar Umar Thalib dan
kawan-kawan. Jafar Umar Thalib juga kita ketahui sebagai Panglima Laskar Jihad.

Saat ini Wahabi telah terpecah menjadi dua faksi, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki.
Selain berjenggot dan mengenakan celana yang menggantung di atas tumit, para pengikut
Wahabi dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut :

1. Selalu menggerak-gerakkan jari telunjuk naik turun saat tasyahhud awal maupun akhir
(padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan hal ini, karena seperti dijelaskan para ahli
fikih, yang dimaksud menggerakkan jari telunjuk saat tasyahhud adalah dari kondisi tangan
menggenggam, telunjuk digerakkan hingga menunjuk ke depan (isyarah). Hanya itu, dan tidak
digerak-gerakkan terus menerus. Apa yang dilakukan pengikut Wahabi adalah bidah)

2. Sesuai doktrin sekte ini, pengikutnya diberikan penggambaran bahwa seperti halnya manusia,
Allah SWT juga memiliki wajah, dua mata, mulut, gigi, dua tangan lengkap dengan telapak
tangan dan jari-jemari, dada, bahu, dan dua kaki yang lengkap dengan telapak kaki dan betis.

Allah berupa seorang pemuda berambut gelombang dan berpakaian merah. Allah duduk di
atas Arasy seperti layaknya manusia duduk di kursi. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lainnya, dan turun dari langit yang satu ke langit yang lain. Jika Allah duduk di Arasy,
maka akan terdengar suara mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (doktrin
ini mirip doktrin dalam Kristen, dimana Isa a.s yang dianggap sebagai anak Tuhan merupakan
seorang pemuda dengan rambut bergelombang dan berselendang merah).

3. Pengikut sekte ini memiliki didoktrin bahwa tauhid dibagi tiga, yakni tauhid Ulhiyyah, tauhid
Rubbiyyah, dan tauhid al-Asm Wa ash-Shift , sehingga diyakini bahwa Abu Jahal dan Abu
Lahab lebih baik, lebih bertauhid, dan lebih ikhlas dalam beriman kepada Allah SWT daripada
umat Islam (padahal dalam Al Quran kedua tokoh ini justru dilaknat Allah SWT).
4. Selalu berbeda dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya, berpuasa hanya 28 hari di
bulan Ramadhan (Ahlus Sunnah wal Jamaah 29 atau 30 hari), dan pada 1419 Hijriyah (1999
Masehi) menetapkan bahwa waktu wukuf di Arafah bagi jemaah haji pada 17 Maret, padahal
para ahli falak berdasarkan hilal menetapkan bahwa waktu wikuf pada 18 Maret.

5. Sangat kaku dan sangat letterlijk (terlalu harfiah) dalam memahami ayat-ayat Al Quran dan
hadist (padahal Islam sangat fleksibel. Apalagi karena Islam diturunkan Allah sebagai rahmatan
lil alamin).

6. Mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham, dan mudah menuding apa yang dilakukan
umat Islam sebagai bidah dan musyrik, seperti misalnya melakukan ziarah kubur dan
mengucapkan shadaqallahu al-adzim setelah membaca Al Quran.

WAHABI PENGHANCUR KEBERADABAN ISLAM


Operasi Intelejen Inggris dan Kelahiran Wahabi plus Monarkhi Saudi-Wahabi
Pencetus nama Wahhabi adalah Inggris. Ya, pencetus pertamakali sebutan nama WAHHABI
adalah seorang bernama MR. Hempher, dialah mata-mata kolonial Inggris yang ikut secara aktif
menyemai dan membidani kelahiran sekte WAHHABI. Tujuannya adalah untuk menghancurkan
kekuatan ajaran Islam dari dalam, dengan cara menyebarkan isu-isu kafir-musyrik dan bidah.
Dengan fakta ini maka terbongkarlah misteri SIKAP WAHHABI yang keras permusuhannya
kepada kaum muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi penuh
kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan kontradiksi itu akan semakin jelas manakala
dihadapkan dengan paham Ahlussunnah Waljamaah. Walaupun begitu, ironisnya mereka tanpa

risih mengaku-ngaku sebagai kaum ASWAJA. Atas klaim sebagai ASWAJA itu, lalu ada
pertanyaan yang muncul, sejak kapan WAHHABI berubah jadi Ahlussunnah Waljamaah?
Wajar jika pertanyaan itu muncul, sebab bagaimanapun mereka memakai baju Ahlussunnah
Waljamaah, ciri khas ke-wahabiannya tidak menjadi samar. Untuk lebih jelas dalam mengenali
apa, siapa, kenapa, darimana WAHABISME, sebaiknya kita terlebih dulu mengetahui latar
belakang sejarahnya. Mari kita ikuti bersama..
LATAR BELAKANG BERDIRINYA KERAJAAN SAUDI ARABIA DAN PAHAM
WAHABI
Dr. Abdullah Mohammad Sindi *], di dalam sebuah artikelnya yang berjudul : Britain and the
Rise of Wahhabism and the House of Saud menyajikan tinjauan ulang tentang sejarah
Wahabisme, peran Pemerintah Inggeris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan
peran keluarga kerajaan Saudi. Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan paling reaksioner
saat ini adalah Wahabi, demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi dalam pembukaan
artikelnya tersebut. Dan kita tahu bahwa Wahabi adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia,
tambahnya.
Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sejak
kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya
keluarga Saud membalas jasa itu dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia.
One could not have existed without the other Sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan
sesuatu yang lainnya.
Wahhabisme memberi legitimasi bagi Istana Saud, dan Istana Saud memberi perlindungan dan
mempromosikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia. Keduanya tak terpisahkan, karena
keduanya saling mendukung satu dengan yang lain dan kelangsungan hidup keduanya
bergantung padanya.
Tidak seperti negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai
warga kelas tiga, membatasi hak-hak mereka seperti : menyetir mobil, bahkan pada dekade lalu
membatasi pendidikan mereka.
Juga tidak seperti di negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme :
1. melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw
2. melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan rakyat untuk patuh secara
mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka. melarang mendirikan bioskop sama sekali.
3. menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata, dan membebaskan hukum atas kaum
bangsawan, kecuali karena alasan politis.
4. mengizinkan perbudakan sampai tahun 60-an.
Mereka juga menyebarkan mata-mata atau agen rahasia yang selama 24 jam memonitor demi
mencegah munculnya gerakan anti-kerajaan.

Wahabisme juga sangat tidak toleran terhadap paham Islam lainnya, seperti terhadap Syiah dan
Sufisme (Tasawuf). Wahabisme juga menumbuhkan rasialisme Arab pada pengikut mereka. 1]
Tentu saja rasialisme bertentangan dengan konsep Ummah Wahidah di dalam Islam.
Wahhabisme juga memproklamirkan bahwa hanya dia saja-lah ajaran yang paling benar dari
semua ajaran-ajaran Islam yang ada, dan siapapun yang menentang Wahabisme dianggap telah
melakukan BIDAH dan KAFIR!

LAHIRNYA AJARAN WAHABI:


Wahhabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Diriyyah sebuah dusun
terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd.
Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab (1703-92).
Laki-laki ini lahir di Najd, di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang
mubaligh yang fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu
bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak. 2]
Sebelum menjadi seorang mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan
untuk keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria, Irak, Iran, dan
India.
Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan
Inggeris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa
Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam
dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan
rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam
memoar Mr. Hempher : Confessions of a British Spy 3]
Selagi di Basra, Iraq, Ibn Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang matamata Inggeris yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar (undercover), salah
seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim (di Timur Tengah) dengan
tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara sesama kaum
Muslim. Hempher pura-pura menjadi seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan
dengan cara yang licik, ia melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab
dalam waktu yang relatif lama.
Hempher, yang memberikan Ibn Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak
Ibn Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa : Orang-orang Islam mesti dibunuh, karena
mereka telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka kaum Muslim telah keluar
dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan
bidah dan syirik.

Hempher juga membuat-buat sebuah mimpi liar (wild dream) dan mengatakan bahwa dia
bermimpi Nabi Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul-Wahhab,
dan mengatakan kepada Ibn Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan meminta
kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bidah dan
takhayul.
Setelah mendengar mimpi liar Hempher, Ibn Abdul-Wahhab jadi ge-er (wild with joy) dan
menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan suatu aliran baru di dalam Islam
yang bertujuan memurnikan dan mereformasi Islam.
Di dalam memoarnya, Hempher menggambarkan Ibn Abdul-Wahhab sebagai orang yang
berjiwa sangat tidak stabil (extremely unstable), sangat kasar (extremely rude), berakhlak
bejat (morally depraved), selalu gelisah (nervous), congkak (arrogant), dan dungu (ignorant).
Mata-mata Inggeris ini, yang memandang Ibn Abdul-Wahhab sebagai seorang yang bertipikal
bebal/dungu (typical fool), juga mengatur pernikahan mutah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2
wanita Inggeris yang juga mata-mata yang sedang menyamar.
Wanita pertama adalah seorang wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini
tinggal bersama Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang wanita Yahudi
yang punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran. 4]

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI PERTAMA : 1744-1818


Setelah kembali ke Najd dari perjalanannya, Ibn Abdul-Wahhab mulai berdakwah dengan
gagasan-gagasan liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena dakwah-nya yang keras dan kaku,
dia diusir dari tempat kelahirannya. Dia kemudian pergi berdakwah di dekat Diriyyah, di mana
sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggeris lainnya yang berada dalam
penyamaran ikut bergabung dengannya. 5]
Dia juga tanpa ampun membunuh seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak
dengan cara yang sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar 6]
Padahal, hukum Islam tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup
dengan batu-batu kecil. Para ulama Islam (Ahlus Sunnah) tidak membenarkan tindakan Ibn
Abdul-Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.
Walaupun banyak orang yang menentang ajaran Ibn Abdul-Wahhab yang keras dan kaku serta
tindakan-tindakannya, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya Sulaiman Ibn AbdulWahhab, keduanya adalah orang-orang yang benar-benar memahami ajaran Islam -, dengan
uang, mata-mata Inggeris telah berhasil membujuk Syeikh Diriyyah, Muhammad Saud untuk
mendukung Ibn Abdul-Wahhab. 7]

Pada 1744, al-Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dengan membangun
sebuah aliansi politik, agama dan perkimpoian. Dengan aliansi ini, antara keluarga Saud dan Ibn
Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis, Wahhabisme sebagai sebuah agama dan
gerakan politik telah lahir!
Dengan penggabungan ini setiap kepala keluarga al-Saud beranggapan bahwa mereka
menduduki posisi Imam Wahhabi (pemimpin agama), sementara itu setiap kepala keluarga
Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran agama (religious
interpretation).
Mereka adalah orang-orang bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror
untuk menyebarkan paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab. Sebagai hasil aliansi SaudiWahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri dari orang-orang Arab
Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggeris yang melengkapi mereka dengan uang
dan persenjataan. 8]
Sampai pada waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar
yang pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus (Suriah), dan
menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam (Pembantaian atas Orangorang Sipil dalam jumlah yang besar).
Dengan cara ini, angkatan perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh
Jazirah Arab untuk menciptakan Negara Saudi-Wahhabi yang pertama.
Sebagai contoh, untuk memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bidah yang
dilakukan oleh kaum Muslim, Saudi-Wahhabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada 1801,
dengan tindakan brutal menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam Husein bin Ali
(cucu Nabi Muhammad Saw) di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari
4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa sebagai harta
rampasan. 9]
Sekali lagi, pada 1810, mereka, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa
di sepanjang Jazirah Arab. Mereka menggasak dan menjarah banyak kafilah peziarah dan
sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota suci Makkah dan Madinah.
Di Makkah, mereka membubarkan para peziarah, dan di Madinah, mereka menyerang dan
menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi, dan menjual serta membagi-bagikan
peninggalan bersejarah dan permata-permata yang mahal.
Para teroris Saudi-Wahhabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan
kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul.
Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga masjidmasjid suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan perang Mesir dikirim
ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.

Pada 1818, angkatan perang Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra penguasa Mesir)
menghancurkan Saudi-Wahhabi dan meratakan dengan tanah ibu kota Diriyyah .
Imam kaum Wahhabi saat itu, Abdullah al-Saud dan dua pengikutnya dikirim ke Istanbul dengan
dirantai dan di hadapan orang banyak, mereka dihukum pancung. Sisa klan Saudi-Wahhabi
ditangkap di Mesir.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE-II : 1843-1891


Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan
bantuan Kolonial Inggeris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati
atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahhabi memandang saudarasaudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya (their real enemies) dan
sebaliknya mereka menjadikan Inggeris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka. Demikian tulis
Dr. Abdullah Mohammad Sindi *]
Maka ketika Inggeris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencarai jalan untuk memperluas
area jajahannya, Dinasti Saudi-Wahhabi menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh
perlindungan dan bantuan Inggeris.
Pada 1843, Imam Wahhabi, Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo
dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah
Inggeris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggeris (British Political Resident) di
Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada 1851, Faisal kembali memohon
bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris. 10]
Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggeris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk
mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggeris dengan perjanjian (pakta)
bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.
Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi,
Imam Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi : antara perang politik
dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua
orang . 11]
Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian persahabatan dengan
Pemerintah Kolonial Inggeris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena
kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.
Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggeris
atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan : Teluk
Persia).

Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggeris yang berupa uang dan senjata,
pihak Dinasti Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianat dengan pemerintah
kolonial Inggeris yaitu : pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggeris
atas area yang dimilikinya.
Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan
Islam (yaitu : Inggeris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang
hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun
yang diluar wilayah Jazirah Arab.
Dari semua penguasa Muslim, yang paling merasa disakiti atas pengkhianatan Dinasti SaudiWahhabi ini adalah seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan
pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki, al-Rasyid menyerang Riyadh lalu
menghancurkan klan Saudi-Wahhabi.
Bagaimanapun, beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahhabi sudah mengatur untuk melarikan diri;
di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, AbdulAziz. Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggeris, untuk
mencari perlindungan dan bantuan Inggeris.

KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE III (SAUDI ARABIA) : Sejak 1902


Ketika di Kuwait, Sang Wahhabi, Imam Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz
menghabiskan waktu mereka menyembah-nyembah tuan Inggersi mereka dan memohonmohon akan uang, persenjataan serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh. Namun
pada akhir penghujung 1800-an, usia dan penyakit nya telah memaksa Abdul-Rahman untuk
mendelegasikan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi
Imam Wahhabi yang baru.
Melalui strategi licin kolonial Inggeris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat
menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara
menyeluruh, kolonial Inggeris langsung memberi sokongan kepada Imam baru Wahhabi AbdulAziz.
Dibentengi dengan dukungan kolonial Inggeris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru,
pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru
Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku
kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya
juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. 12]
Imam Wahhabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh majikan
Inggerisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggeris di wilayah Teluk Arab
sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan
uang, senjata dan para penasihat. Sir Percy Cox, Captain Prideaux, Captain Shakespeare,

Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang dipanggil Abdullah) adalah di antara banyak
pejabat dan penasihat kolonial Inggeris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi
membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya.
Dengan senjata, uang dan para penasihat dari Inggeris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz
dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji
Wahhabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahhabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan
Saudi Arabia.
Ketika mendirikan Kerajaan Saudi, Imam Wahhabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut
fanatiknya, dan para tentara Tuhan, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di
daratan suci Hijaz. Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif, yang merupakan keturunan Nabi
Muhammad Saw.
Pada May 1919, di Turbah, pada tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka
menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang.
Dan sekali lagi, pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara
Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka,
mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan orang-orang
yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis dan takut kaum wanita.
Banyak wanita Taif yang segara meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan
dan pembunuhan yang dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis.
Tentara primitif Saudi-Wahhabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang
melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah; tanpa
pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di jalan-jalan; dan
merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang tak berdosa ikut dibantai
dengan cara mengerikan di Taif. 11]
(* ) Dr. Abdullah Mohammad Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (professor
of International Relations) berkebangsaan campuran Saudi-Amerika. Dia memperoleh titel BA
dan MA nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D. nya di the University of
Southern California. Dia juga seorang profesor di King Abdulaziz University di Jeddah, Saudi
Arabia. Dia juga mengajar di beberapa universitas dan college Amerika termasuk di : the
University of California di Irvine, Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College.
Dia penulis banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggeris. Bukunya antara lain :
The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions.
Catatan Kaki :

[1] Banyak orang-orang yang belajar Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang
menjadi para pemuja syekh-syekh Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari
bangsa lain. Mereka (walaupun bukan Arab) mengikuti tradisi ke-Araban atau lebih
tepatnya Kebaduian (bukan ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang, menggunakan
kafyeh, bertindak dan berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.

[2] Alexei Vassiliev, Tareekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang
diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan Jalal alMaashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), hlm. 108.
[3] Untuk lebih detailnya Anda bisa mendownload Confessions of a British Spy
: http://www.ummah.net/Al_adaab/spy1-7.html
Cara ini juga dilakukan Imperialis Belanda ketika mereka menaklukkan kerajaankerajaan Islam di Indonesia lewat Snouck Hurgronje yang telah belajar lama di Saudi
Arabia dan mengirinmnya ke Indonesia. Usaha Snouck berhasil gemilang, seluruh
kerajaan Islam jatuh di tangan Kolonial Belanda, kecuali Kerajaan Islam Aceh. Salah satu
provokasi Snouck yang menyamar sebagai seorang ulama Saudi adalah menyebarkan
keyakinan bahwa hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah! (Hubbul Wathan minal
Iman). Dengan penanaman keyakinan ini diharapkan Nasionalisme bangsa Indonesia
hancur, dan memang akhirnya banyak pengkhianat bangsa bermunculan.
[4] Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East, page 13.
[5] Lihat The Beginning and Spreading of
Wahhabism, http://www.ummah.net/Al_adaab/wah-36.html
[6] William Powell, Saudi Arabia and Its Royal Family (Secaucus, N.J.: Lyle Stuart Inc.,
1982), p. 205.
[7] Confessions of a British Spy.
[8] Ibid.
[9] Vassiliev, Tareekh, p. 117.
[10] Gary Troeller, The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Saud
(London: Frank Cass, 1976), pp. 15-16.
[11] Quoted in Robert Lacey, The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York:
Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145.

Wahabi Penghancur Peradaban Islam

Daripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah!
Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka
sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun
bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah!
pada Syam kami. Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya
Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW
bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah
terbitnya tanduk Syaitan. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam
Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.)
.

Najd adalah Najad, Iraq adalah Iraq


Inilah berita sedih dan memprihatinkan bagi peradaban Islam dan sejarah peradaban umat
manusia secara umum. Pemerintahan Wahabi Arab Saudi telah menghancurkan ratusan
situs/tempat sejarah Islam yang telah berusia 14 abad. Semua ini dilakukan semata-mata
demi uang dan modernisasi walaupun dibungkus dengan dalil-dalil agama versi mereka,
bukan dalil-dalil agama yang difatwakan oleh jumhur ulama umat Islam dunia.
Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja sepak terjang kaum Wahabi yang merupakan
kelompok sangat minoritas dari umat Islam secara keseluruhan ini untuk mengobok-obok
warisan peradaban Islam tanpa izin atau musyawarah dulu dengan mayoritas umat Islam
dunia ?
Inilah yang akhirnya terjadi ketika orang-orang Arab Badui Nejed menguasai tanah suci
Mekah-Madinah setelah berhasil memberontak dari Kekhilafahan Usmani (Ottoman
Empire). Pemberontakan yang disokong Inggris ini akhirnya berujung pembentukan
negara baru yang bernama Kerajaan Saudi Arabia yang wilayahnya meliputi kawasan
Hijaz dan sekitarnya, termasuk dua tanah suci Mekah dan Madinah. Kaum Quraisy yang
penduduk asli Mekah pun lama-kelamaan kian tersingkir. Bahkan bani Hasyim juga telah
dipaksa bermigrasi ke Yordania (dengan skenario Inggris).

Kini Mekah dan Madinah sudah tak sama lagi dengan Mekah dan Madinah yang kita
baca di buku-buku sejarah Islam. Suasana sakralnya makin tergerus oleh suasana
hedonisme ala Amerika.

Situs Peninggalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah berubah fungsi
mengikuti rencana Illuminati dalam menghilangkan perasaan patriotisme umat Islam
sebagaimana ditulis oleh Doc Marquis dalam The (Decoded) Illuminatis Protocols of
the Learned Elders of Zion, Bab 25, hal.102.
Gambar: http://najd2.wordpress.com
Dulu ketika kaum pemberontak Wahabi Nejed ini berhasil menguasai kota suci Mekah
dan Madinah setelah mengalahkan pasukan pemerintah Khilafah Usmani, maka para
ulama di Nusantara ini pun segera merespons dengan pembentukan Komisi Hijaz.
Respons ini karena para pemberontak Wahabi tersebut telah mulai melakukan perusakan
dan penghancuran situs-situs sejarah Islam yang mereka temui di kedua kota suci
tersebut.
Namun lama-kelamaan karena kerajaan Wahabi Saudi Arabia ini makin eksis (apalagi
dengan dukungan penuh dari Amerika dan Inggris) maka respons tersebut kian kendur.
Dan tak terasa sudah sekitar 300 situs sejarah peradaban Islam yang mereka hancurkan.
Akankah ini dibiarkan terus oleh mayoritas umat Islam dunia ?
Seluruh situs sejarah Islam di kedua kota suci tersebut adalah milik umat Islam sedunia.
Dan kaum Wahabi yang sekarang menduduki kedua kota suci itu sama sekali tak punya
hak untuk mengacak-acaknya seenak perut mereka.
Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka
kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah
perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-

kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid


Ahmad Zaini Dahlan, Itirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah
Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain.
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab
(lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang
sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah
disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H/1713 M,
dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja
sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris
untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sektesekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Bahai. Bahkan
Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum
kolonial dengan alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab
Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu
pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang
kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan
mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang
lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi
peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab,
ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul AsSawaiqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya
di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis surat berisi
nasehat: Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu
dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang
yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia
kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat
maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak
mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul Azham (kelompok mayoritas) diantara kaum
muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari
kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan
muslimin.
Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok
terbesar. Allah berfirman: Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka
bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam
itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS: An-Nisa 115)
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalahasan
yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum mus
mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid
nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jamaah
berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa allimin sejak 600
tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa
banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan? Dengan segera

dia menjawab, Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam
Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari
awal sampai akhir Ramadhan Lelaki itu bertanya lagi Kalau begitu pengikutmu tidak
mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang
dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau
membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. Mendengar jawaban itu Ibn
Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul
Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar
wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang
terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dariyah, Muhammad bin
Saud (meninggal tahun 1178 H/1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari
menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk
memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah
Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta
seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah
kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi
palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll.
Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para
pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar
daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus
mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum
masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga
diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau
mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung
dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para
pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya
berkata: Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa
digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa
manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak
ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah
kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang
dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan
Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul
Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka
menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap
tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka
menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasanhiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Masjid Nabawi Tempo Doeloe

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan
merusak kiswah, kain penutup Kabah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan
puluhan kubah di Mala, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah
Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjidmasjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi
tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka
kencing di kubur kaum salihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan
Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya
yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya.
Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi,
pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Saud bangkit kembali mengusung paham
Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah,
memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu,
hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini
pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap
tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak
pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu
menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang sudah mapan.

Masjid Nabawi Sekarang


Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas
makam sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berada di Mala
(Mekkah), di Baqi dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan
tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan
tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena
gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum
Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati
nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan
diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu
menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi
manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena
banyak yang menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situssitus sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar
karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat
parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah
Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan
serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Wahabisme paling punya andil dalam
pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada
pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam
di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam
musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju
menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian
bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir, katanya kepada
Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah
dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah
Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan
dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun
1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah
berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala. (Mirip Masonic
bukan?)
Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak
menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu Alaihi
wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi.
Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh
dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum
Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.
Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah
menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan
bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.
Gerakan Wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka
menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar.
Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan
kafir, syirik dan ahli bidah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap
kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali
kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian
mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk
negeri ini.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan
Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini.
Mampukah Wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan
yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 %
sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata
bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Taala. Jika bukan karena Rahmat Allah yang
mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang
yang menjadi corong kaum Wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme,
penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang
hanya berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti
keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya,
itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah
dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah
Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai
waktu itu terdiri dari para ulama yang shaleh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun
mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua
itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bidah, padahal bukankah nama Saudi
sendiri adalah suatu nama bidah Karena nama negeri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu AsSaud.
Sungguh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham
Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu
Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits
ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan
lainnya. Diantaranya: Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah
sana, sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Quran namun tidak
sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama
seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak
panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).
(HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu
Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah
dalam negara Syam dan Yaman, Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai
Rasulullah, beliau berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan
Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda:
Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk
syaitan. Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.
Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur
(gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut
Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya
mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan
berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi
pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid
Abdurrahman Al-Ahdal: Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin
Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah
bercukur (gundul), karena ahli bidah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. AlAllamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad
menyebutkan dalam kitabnya Jalauzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: Akan keluar di
abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang
tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar,
pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin,
diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin AI-Hadits.
BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad
bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang
tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan
dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan
Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/
1792 M.

(Rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Syaban 1426 H /
September 2005 M)