Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

PADAT,CAIR DAN GAS


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Pelajaran
Pengelolaan Laboratorium Kimia oleh Bapak Dian S.Si

Oleh :
Nama

: Kiki Sandra Oktian


Shofiya Wardah Nabilah
Yazen Rennylda

Kelompok

:5

Kelas

: 1 Analisis Kimia 2

SMK NEGERI 7 KOTA BANDUNG


Jl. Soekarno Hatta no. 596 Kota Bandung

JURUSAN ANALISIS KIMIA


2011

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, dan telah memberikan kekuatan dan kesehatan
lahir dan batin kepada penulis dalam pembuatan Makalah yang berjudul
Teknik Pengambilan Sampel Gas, Cair, dan Padat ini. Penulis juga
menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
banyak memberikan bantuan dalam penyusunan ini, baik bantuan secara
moril maupun materil. Ucapan terimakasih penulis disampaikan kepada :
1. Allah SWT, karena telah memberikan kekuatan dan kesehatan lahir
dan batin kepada penulis.
2. Pembimbing kelas 1 An 2 untuk pelajaran Pengelolaan Laboratorium
Kimia, yaitu Bapak Dian.
3. Orang Tua dan keluarga tercinta yang selalu mendoakan dan
memberikan dukungan bagi keberhasilan penulis.
4. Teman-teman Kelompok 5.
5. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari yang bahwa dalam penulisan materi ini belum
sempurna karena keterbatasan kemampuan dan fasilitas yang penulis
miliki. Walaupun demikian penulis berharap materi-materi ini dapat
memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Mudah-mudahan segala bantuan dan dorongan yang telah diberikan
kepada penulis akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah
SWT serta semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.
Wassalamuallaikum Wr. Wb.

Bandung, Juni
2011
Daftar Isi

Kata
Pengantar...............................................................................
..........2
Daftar
Isi..........................................................................................
.............

Bab

I.

Pendahuluan........

................................................................................
1.1

4
Latar

Belakang.....................................................................................
....

4
1.2

Tujuan

dan

manfaat.................................................................................
4
Bab

II.

Tinjauan

Pustaka.................................................................................
5
2.1
Pengertian.............................................................................
................

.........5

2.2 Tujuan Pengambilan


Sampel.............................................................................5

2.3 Sifat Fisik


Sampel........................................................................................
......5
2.4 Syarat-syarat pengambilan Sampel
..................................................................6
2.5 Syarat-syarat Alat Pengambilan
Sampel...........................................................6
2.6 Teknik Pengambilan
sampel.............................................................................6
2.7 ruangan Tempat penyimpanan
sampel..........................................................19
Bab
III.Penutup..................................................................................
...................20
3.1
kesimpulan..................................................................................
....................20
3.2
saran..........................................................................................
.....................20

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


SMKN 7 Kota Bandung atau yang dahulunya adalah STM Kimia,
merupakan sekolah kejuruan kimia dengan jurusan sebagai berikut :
Kimia Industri, Teknologi Tektil, Analisis Kimia, Dan Farmasi. Berlokasi
di Jl. Soekarno Hatta no.596 Kota Bandung.
Analisis

kimia

adalah

salah

satu

program

keahlian

yang

menganalisis suatu zat kimia dengan cara : analisis kuantitatif, analisis


kualitatif, dan analisis mikrobiologi. Yang akan penyusun jelaskan lebih
lanjut dalam makalah ini adalah pengambilan sampel (sampling)
dalam industri kimia.
Sampel adalah Sebagian kecil dari material yang memiliki sifat &
komposisi yang sama yang akan diuji di laboratorium. Pengambilan
sampel (sampling) adalah Pengambilan suatu sampel yang sesuai
dengan ketentuan yang diberikan, yang selanjutnya akan diuji di
laboratorium.
Oleh karena hal diataslah yang menjadi latar belakang penulis
untuk menyusun makalah ini.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1. Siswa dapat memenuhi tugas akhir semester genap.
2. Siswa dapat mengetahui pengertian dari sampel dan macammacamnya.
3. Siswa dapat mengetahui cara pengambilan sampel (sampling).
4. Siswa dapat mengetahui macam-macam pengambilan sampel.

BAB II
5

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Sampel adalah sebagian kecil dari material yang memiliki sifat
dan komposisi yang sama yang akan diuji di laboratorium.
Pengambilan sampel adalah pengambilan suatu sampel yang
sesuai dengan ketentuan yang diberikan untuk keperluan pengujian di
laboratorium.

2.2 Tujuan Pengambilan Sampel (Sampling)


Dalam melakukan sebuah penelitian, peneliti membutuhkan
objek yang akan diteliti. Tidak semua objek yang akan diteliti dapat
diamati dengan baik karena adanya beberapa keterbatasan. Oleh
karena itu, perlu dilakukan pengambilan sampel.

2.3 Sifat Fisik Sampel


Untuk sampel gas :
- Mempunyai tekanan secara alami : gas batubara, gas industri,
gas alam
- Mempunyai tekanan tinggi : gas hidrogen
- Mudah terbakar
- Mudah menguap
Untuk sampel cair :
- Cairan murni : oksigen cair, air, lelehan

besi

- Cairan campuran : minyak bumi, cat


- Cairan yang mengandung zat pelarut : air laut, urine
6

- Cairan yang mengandung zat tersuspensi : darah, susu, limbah


- Cairan yang mengandung padatan : lumpur aktif, slurry semen.
Untuk sampel padat : berupa padatan yang dapat berbentuk butiran,
bubuk, kristal, dan

bongkahan.

2.4 Syarat-syarat Pengambilan Sampel


Sampling tidak boleh menyebabkan kontaminasi
Sampling tidak boleh menyebabkan penurunan jumlah susunan gas
Harus memberikan hasil yang reprodusible
2.5 Syarat-syarat Alat Pengambilan Sampel
a. Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat sampel
b. Mudah dicuci dari berkas contoh sebelumnya
c. Kapasitas alat 1-5L tergantung dari maksud pemeriksaan
d. Mudah dan aman dibawa

2.6 Teknik Pengambilan Sampel


2.6.1 Teknik Pengambilan Sampel Gas

Teknik Sampling Udara


Teknik sampling kualitas udara dilihat lokasi
pemantauannya terbagi dalam dua kategori
yaitu teknik sampling udara emisi dan teknik
sampling udara ambien. Sampling udara emisi
adalah teknik sampling udara pada sumbernya
7

seperti cerobong pabrik dan saluran knalpot kendaraan bermotor. Teknik


sampling kualitas udara ambien adalah sampling kualitas udara pada
media penerima polutan udara/emisi udara.
Untuk sampling kualitas udara ambien, teknik pengambilan sampel
kualitas udara ambien saat ini terbagi dalam dua kelompok besar yaitu
pemantauan kualitas udara secara aktif (konvensional) dan secara pasif.
Dari sisi parameter yang akan diukur, pemantauan kualitas udara terdiri
dari pemantauan gas dan partikulat.

Gambar Klasifikasi Sampling Kualitas Udara


Pemantauan parameter partikulat secara konvensional (aktif sampling)
metoda passive sampling dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Metoda Pengujian Partikulat dari Udara Ambien secara Aktif
Partikulat atau debu adalah suatu benda padat yang tersuspensi di udara
dengan ukuran dari 0,3 m sampai 100 m, berdasarkan besar ukurannya
partikulat (debu) ada dua bagian besar yaitu debu dengan ukuran lebih
dari 10 m disebut dengan debu jatuh (dust-fall) sedang debu yang
8

ukuran partikulatnya kurang dari 10 m disebut dengan Suspended


Partikulate Matter (SPM). Debu yang ukurannya kurang dari 10 m ini
bersifat melayang-layang di udara.
Peralatan

yang

dipakai

untuk

melakukan

pengukuran

debu

SPM

(melayang-layang) ada 4 jenis alat diantaranya :

HVS (High Volume Sampler)

Cara ini dikembangkan sejak tahun 1948 menggunakan filter berbentuk


segi empat seukuran kertas A4 yang mempunyai porositas 0,3 - 0,45 m
dengan kecepatan pompa berkisar 1.000 1.500 lpm. Pengukuran
berdasarkan metoda ini untuk penentuan sebagai TSP (Total Suspended
Partikulate). Alat ini dapat digunakan selama 24 jam setiap pengambilan
contoh udara ambien. Bentuk alat HVS dapat dilihat pada Gambar 2
dibawah ini :

Gambar High Volume Sampler


Cara operasional alat ini adalah sebagai berikut :
9

1. Panaskan kertas saring pada suhu 105 oC, selama 30 menit.


2. Timbang kertas saring, dengan neraca analitik pada suhu 105 oC
dengan menggunakan vinset (Hati-hati jangan sampai banyak
tersentuh tangan)
3. Pasangkan pada alat TSP, dengan membuka atap alat TSP.
Kemudian dipasangkan kembali atapnya.
4. Simpan alat HVS tersebut pada

tempat yang sudah ditentukan

sebelumnya .
5. Operasikan alat dengan cara, menghiduo (pada posisi On ) pompa
hisap dan mencatat angka flow ratenya (laju alir udaranya).
6. Matikan alat sampai batas waktu yang telah ditetapkan.
7. Ambil kertasnya, panaskan pada oven listrik pada suhu Timbang
kertas saringnya.
8. Hitung kadar TSPnya sebagai mg/NM3
9. Metoda penggunaan alat ini bisa juga dilakukam, terhadap pm 10
atau pun dilanjutkan pada pengukuran parameter logam.

MVS (Middle Volume Sampler).


Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan

porositas

0,3-0,45

m,

kecepatan

pompa

yang

dipakai

untuk

pengangkapan suspensi Particulate Matter ini adalah 50 500 lpm. Alat


MVS dapat dilihat pada Gambar 3.

10

Gambar Middle Volume Sampler

Operasional alat ini sama dengan High Volume Sampler, hanya


yang membedakan dari ukuran filter membrannya. HVS ukuran A 4
persegi panjang, sedang MVS ukuran bulat diameter 12 cm.

LVS (Low Volume Sampler)


Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan

porositas

0,3-0,45

m,

kecepatan

pompa

yang

dipakai

untuk

pengangkapan Suspensi Partikulate Matter ini adalah 10 30 lpm. Alat


LVS dapat dilihat pada Gambar 4.

11

Gambar Low Volume Sampler


Pengambilan sampel dengan menangkap : Sampel udara atau gas
secara bersamaan dikumpulkan kedalam kanister dengan membuka katup
yang berhubungan dengan kanister. Pada beberapa kasus tingkatan
pengambilan sampel diatur oleh tabung penahan misalnya kolom kapiler
(0.53mm i,.d. X 0.5 panjang).

Pengambilan sampel pasif : Tingkat pengambilan sampel oleh pengontrol


aliran massa mekanik dikendalikan secara teliti.

Pengambilan sampel aktif : Pengambilan sampel dilaksanakan dengan


menggunakan

pompa

udara

dan

tingkatannya

dikendalikan

oleh

pengontrol aliran massa mekanik.

Istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel


udara seperti :
Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate
(TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di
saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti
inhalable/thoracic

particulate

yang

terutama

mengedap

disaluran

pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx).


12

Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan
ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur
fisiologi maupun metode pengambilan sampel.
Komponen Peralatan
Peralatan Stack Gases Sampler ini secara keseluruhan terdiri dari :
a) Sampling Probe : terbuat dari bahan gelas untuk mencegah terjadinya
kontak dengan gas emisi yang disampling ataupun dari bahan stainless
steel Alat ini dilindungi dengan tabung stainless steel.
b) Absorbtion Bottle : tempat terjadinya reaksi absorbsi antara gas emisi
yang disampling dengan
larutan penangkap tertentu. Botol absorbsi ini untuk gas-gas yang bukan
gas NOx dan gas NOx, masing-masing terdiri dari empat unit botol.
c) Flowmeter : alat ini selain sebagai pengukur kecepatan gas emisi yang
dihisap, juga dapat
digunakan untuk mengatur kecepatan pompa hisap. Kecepatan penarikan
gas emisi ini dapat
diukur

menggunakan

flowmeter

yaitu

berkisar

0,3

17

L/menit,

bergantung jenis material float yang


digunakan seperti float dari stainless steel atau bahan gelas
d) Pompa Sampling Gas Emisi : untuk mengambil
gas emisi dari stack dan dapat diatur kecepatan
samplingnya
e) Moisture adsorber : Moisture adsorber : tabung ini berisi bahan
penyerap uap air (silica gel), selain
berguna untuk melindungi flowmeter juga melindungi external/internal
pump dari kerusakan sewaktu proses sampling dilaksanakan.

13

f) Pengukur tekanan udara : alat ini untuk mengetahui berapa tekanan


udara luar saat
sampling dilakukan, agar dapat diketahui jumlah volume koreksi gas emisi
(liter) yang disampling.
g) Pengukur suhu udara : juga digunakan untuk mengetahui berapa suhu
udara luar saat sampling
dilakukan, agar dapat diketahui jumlah volume koreksi gas emisi (liter)
yang disampling.
h) Timer : untuk mengatur lamanya proses sampling gas emisi yang
dilakukan

sehingga

dapat

mencegah

terjadinya

kealpaan

petugas

sampling.
i) Manometer (closed tube) : untuk mengetahui tekanan vakum botol NOx
sebelum sampling gas
emisi dilakukan dan tekanan udara dalam botol setelah sampling gas
emisi dilakukan agar dapat
diketahui volume koreksi gas emisi NOx yang disampling.

2.6.2 Teknik Pengambilan Sampel Cair


Pengambilan sampel cair adalah mengumpulkan volume suatu
bahan cair yang akan di teliti, dalam jumlah sekecil mungkin tapi masih
mewakili (representatip), yaitu masih mempunyai sifat-sifat yang sama
dengan badan air tersebut. Dengan demikian analisa di laboratorium
sebenarnya merupakan tahap terakhir dari 3 tahap dalam penelitian suatu
badan air yaitu: pengambilan sample yang representatip, transport serta
pengawetan sample dan analisa sampel. Pengambilan contoh dapat
dilakukan secara manual atau secara otomatis tergantung dari keperluan
dan fasilitas yang ada. Masing-masing cara mempunyai kelebihan dan
kekurangan dalam pelaksanaannya.

14

1. Cara manual :
Pengambilan contoh secara manual mudah diatur waktu dan
tempatnya, serta dapat menggunakan bermacam-macam alat
sesuai dengan keperluannya. Apabila diperlukan volume contoh
yang lebih banyak, contoh dapat diambil lagi dengan mudah. Selain
itu biaya pemeliharaan alat dengan cara ini tidak besar bila
dibandingkan dengan cara otomatis. Akan tetapi keberhasilan
pengambilan

contoh

secara

manual

sangat

tergantung

pada

keterampilan petugas yang melaksanakannya. Pengambilan contoh


secara manual yang berulang-ulang dapat menyebabkan perbedaan
perlakuan yang dapat mengakibatkan perbedaan hasil pemeriksaan
kualitas air. Pengambilan contoh secara manual sesuai untuk
diterapkan pada pengambilan contoh sesaat pada titik tertentu dan
untuk jumlah contoh yang sedikit. Sedangkan untuk pengambilan
contoh yang rutin dan berulang-ulang dalam periode waktu yang
lama cara manual memerlukan biaya dan tenaga kerja yang besar.
2. Cara otomatis
Pengambilan contoh cara otomatis sesuai untuk pengambilan
contoh gabungan waktu dan contoh yang diambil rutin secara
berulang-ulang. Contoh dapat diambil pada interval waktu yang
tepat secara terus-menerus dan secara otomatis dapat dimasukkan
ke dalam beberapa botol contoh secara terpisah atau ke dalam satu
botol untuk mendapatkan contoh campuran. Dari hasil air komposit
yang dicampur tidak dapat diperiksa parameter-parameter seperti:
oksigen terlarut, pH, suhu, logam-logam terlarut dan bakteri. Hal ini
disebabkan karena parameter-parameter tersebut dapat berubah
oleh waktu atau dihasilkan suatu reaksi kimia antara zat-zat
tersebut dari contoh-contoh yang berlainan. Pemeriksaan contoh
secara

terpisah

dari

tiap-tiap

botol

dapat

menunjukkan

kemungkinan adanya kelainan pada masing-masing contoh, serta


15

dapat memberikan nilai minimum dan maksimum dalam periode


waktu tertentu. Sedangkan hasil pemeriksaan dari contoh komposit
merupakan hasil rata-rata selama periode pengukuran.
Dewasa ini telah banyak peralatan mekanis yang dapat
digunakan untuk mengambil contoh cara otomatis yang dirancang
sesuai dengan keperluan pemakainya. Beberapa alat pengambil
contoh otomatis dirancang khusus yang dapat digunakan untuk
mengetahui perbedaan karakteristik sumber air dan air limbah
setiap waktu, debit air setiap waktu, berat jenis cairan dan kadar zat
tersuspensi, Serta terdapatnya bahan-bahan yang mengapung.
Akan tetapi pengambilan contoh secara otomatis memerlukan biaya
yang lebih mahal untuk konstruksi alat dan pemeliharaannya, serta
memerlukan tenaga operator yang terlatih.
Persyaratan mendapatkan sampel cair yang baik :
(1) Pemilihan lokasi yang tepat
(2) Penetapan frekuensi pengambilan contoh
(3) Cara pengambilan contoh
(4) Perlakuan contoh di lapangan.
Frekuensi pengambilan sampel
Frekuensi pengambilan contoh
Beberapa
pengambilan

faktor
contoh

yang
yaitu:

dapat

mempengaruhi

perubahan

kualitas

frekuensi

air,

waktu

pengambilan contoh dan debit air.


Perubahan kualitas air
Perubahan kualitas air disebabkan oleh perubahan kadar
unsur yang masuk ke dalam air, kecepatan alir dan volume air.
Perubahan tersebut dapat terjadi sesaat ataupun secara teratur dan
terus menerus dalam suatu periode waktu. Sungai dan sumber air
lainnya dapat mengalami perubahan yang sesaat maupun yang
terus menerus. Sumber yang menyebabkan terjadinya perubahan
tersebut dapat secara alamiah ataupun buatan. Kedua perubahan
tersebut dapat dijelaskan dibawah ini.
16

Perubahan sesaat
Perubahan sesaat disebabkan oleh suatu kejadian yang tibatiba dan seringkali tidak dapat diramalkan. Sebagai contoh turunnya
hujan lebat yang tiba-tiba akan menyebabkan bertambahnya debit
air yang diikuti oleh terbawanya bahan-bahan pencemaran dari
pengikisan di daerah sekitarnya. Tumpahan dan bocoran dari limbah
industri atau pertanian dapat pula merubah kualitas air sesaat.
Perubahan terus-menerus
Perubahan secara terus menerus setiap tahun dapat terjadi
karena turunnya hujan atau turunnya suhu yang beraturan tiap-tiap
musim. Perubahan musim akan menyebabkan terjadinya perubahan
komposisi air serta kecepatan pembersihan air secara alamiah (self
purification). Perubahan secara teratur dapat pula terjadi setiap hari
secara alamiah, misalnya perubahan pH, oksigen terlarut, suhu dan
alkaliniti. Kegiatan industri dan pertanian pada suatu daerah dapat
pula mempengaruhi kualitas air secara teratur selama periode
terjadinya kegiatan pembuangan limbahnya. Sedangkan kegiatan
domestik dapat menyebabkan perubahan harian dan mingguan.
Perubahan kualitas air yang teratur dapat pula disebabkan oleh
adanya pengaturan debit air yang dilakukan secara teratur dan
terus menerus untuk keperluan tertentu.
Analisa Pati/Amilum pada sampel zat cair
PRINSIPNYA:
Sampel cair (nira tebu & sejenis) ditimbang tepat, kemudian
dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse. diputar dengan kecepatan
tertentu. Supernatan yang diperoleh diendapkan dengan Pb Asetat.
Filtrat jernih untuk di analisa profil gula dan kadar gulanya dengan
HPLC. Sedang Endapan pada tabung sentrifuse tadi digabung
dengan residu pada kertas saring pada penyaringan pertama.
Residu endapan ini di anggap sebagai pati.
Persiapan Pengambilan Sampel dan Pengawetannya

17

Alat yang akan dipakai untuk mengambil sampel harus bersih telah
dibilas oleh air suling dan dengan larutan yang akan mangisi
alat/tempat tersebut.
Sampel sebaiknya atau pada umumnya harus mengisi botol
pengambilan sampai penuh dan ditutup dengan baik utk mencegah
kontak dengan udara.
Cara pengawetan yang umum adalah disimpan pada suhu dingin
dengan cara sampel diangkut dalam kotak yg isotermis yg
mengandung es biasa/es kering(CO2 padat) lalu disimpan di
kulkas/freezer.
Pengambilan Sampel Limbah Cair
Dilakukan secara komposit selama 8 jam kerja.Pengambilan secara
komposit merupakan kombinasi dari beberapa sampel yang diambil
pada titik pengambilan yang sama pada wakti yang berbeda.
Pengambilan

sampel

dengan

cra

ini

sangat

berguna

dalam

peninjauan konsentrasi rata-rata yang digunakan dalam perhitungan


berbagai variabel seperti loading dan efisiensi dari pengolahan
limbah cair.
2.6.3 Teknik Pengambilan Sampel Padat
Secara umum :
Tentukan sampel yang akan dianalisis
Tentukan lokasi untuk pengambilan sampel
Ambilah sampel pada titik-titik yang telah ditentukan
Periksa kebutuhan yang ingin dianalisa
Dalam pengambilan sampel padat dilakukan teknik kuartering
yakni dengan cara sampel padat disebar dalam suatu wadah dan
dibentuk membentuk segi empat dengan menggunakan sebilah kayu
dengan cara membuat garis diantara sampel tersebut. Cara ini
18

dilakukan terus-menerus hingga berat sampel yang kita harapkan


cukup

untuk

keseluruhan

analisa.

Sisa

sebagian

dimasukkan ke karung yang baru dan di beri

besar

sampel

nama seperti semula.

Sampel hasil kuartering diberi labelyang sama dengan sampel awal.


Sampel kuartering siap dianalisa sesuai keperluan setelah sebelumnya
dimasukkan ke wadah yang baru.
Permasalahan yang dihadapi ketika pengambilan sampel
Permasalahan tersebut adalah :
a. Ukuran sampel yang harus diambil Besar kecilnya ukuran
sampel sangat dipengaruhi oleh tingkat homogenitas populasi, tingkat
keyakinan yang diperlukan, toleransi tingkat kesalahan yang dapat
diterima,

keterbatasan

yang

dimiliki

peneliti,

dan

tujuan

riset

dilakukan.
b. Teknik pengambilan sampel
Berikut ini beberapa teknik pengambilan sampel :

19

Penanganan Sampel Zat Padat


Mencegah sinar matahari. Beberapa jenis sampel dapat rusak
oleh cahaya matahari. Untuk menangani hal tersebut, maka sampel
harus disimpan di tempat yang gelap, seperti botol berwarna coklat
atau wadah yang berwarna gelap . Sedangkan senyawa

atau

sampel yang sangat sensitive terhadap sinar matahari seperti


perak, maka penyimpanannya harus dalam container yang kedap
cahaya.
2.7 Ruangan Tempat Penyimpanan Sampel
1. Ruangan harus dilengkapi tabung pemadam kebaran untuk sampel
yang mudah terbakar.
20

2. Harus mempunyai pengatur suhu untuk sampel yang mudah terurai


pada suhu di bawah / di atas suhu kamar.
3. Memakai pengatur kelembaban udara
4. Memakai pengatur cahaya. Menyediakan atau menyiapkan tempat
penyimpaan yang khusus seperti :
- Lemari es
- Kotak pendingin (cool storage), alat ini dapat menyimpan sampel
pada suhu 40C.
5. Menyiapkan bahan kimia prngawet pada tempat penyimpanan
sampel tersebut, misalnya :
-

Minyak tanah untuk menyimpan sampel logam alkali.

Tio sullfat untuk sampel biologis yang sudah mati.

Silika gel untuk sampel yang mudah menyerap air / higroskopis.


Residu di cuci beberapa kali dengan aseton, Aseton diuapkan

dengan

vakum

oven.

Residu

dihaluskan,

dilarutkan

dengan

aquabides, dengan water bath. Setelah dingin diberi buffer asetat


dan dihidrolisis dengan ensim amiloglucosidase semalam (24 jam)
suhu 370C. Lalu campuran dilarutkan dalam etanol 85% volume
tertentu.

21

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah menyelesaikan makalah ini, maka kami sebagai
penyusun dapat memenuhi tugas akhir semester genap khususnya
mata pelajaran Produktif II, mengetahui pengertian dari sampel dan
macam-macamnya,

mengetahui

cara

pengambilan

sampel

(sampling), mengetahui macam-macam pengambilan sampel.

3.2 Saran
Saran penyusun terhadap guru pengajar adalah agar sedikit
memperjelas metode penyamplingan atau memberikan sedikit materi
yang mencakup tentang penyamplingan agar penyusun lebih mudah
dalam menyelesaikan masalah.

22

DAFTAR PUSTAKA

23