Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Konsumsi energi global meningkatkan sejumlah masalah lingkungan hidup. Untuk

batubara, timbulnya polutan, seperti oksida sulfur dan nitrogen (SOx dan NOx), serta
partikel dan unsur penelusuran, seperti merkuri, merupakan suatu masalah. Teknologi telah
dikembangkan dan dikerahkan untuk menekan emisi-emisi tersebut.
Dampak pada lingkungan hidup dari konsumsi energy kita merupakan masalah bagi
kita

semua.

Membatasi

dampak

negatif

dari

produksi

batubara

dan penggunaanya

merupakan prioritas bagi industry batubara dan yang telah menjadi fokus penelitian,
pengembangan dan investasi. Banyak yang telah dicapai teknologi telah berkembang dan
banyak digunakan untuk membatasi emisi partikelpartikel halus, NOx dan SOx serta unsurunsur

penelusuran.

Peningkatan

efisiensi pembakaran batubara juga telah mencapai

penguranagnyang signifikan dalam emisi karbon dioksida. Penggunaan teknologi yang lebih
untuk meningkatkan kinerja lingkungan batubara akan merupakan hal yang penting,
terutama di negara-negara berkembang dimana penggunaan batubara ditentukan untuk
mengalami kenaikan yang tajam.
Salah satu dampak penggunaan batubara adalah terjadinya hujan asam. Hujan asam
menjadi perhatian dunia selama bagian akhir dari abad yang lalu, pada saat ditemukan
pengasaman danau dan kerusakan pohon di beberapa bagian di Eropa dan Amerika Utara.
Hujan asam disebabkan oleh sejulmah faktor, termasuk drainase asam dari area hutan yang
telah dibukadan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dalam pengangkutan dan
pembangkit listrik. Oksida sulfur (SOx) dan nitrogen (NOx) diemisikan pada berbagai
tingkat selama pembakaran bahan bakar fosil. Gas -gas tersebut memberikan reaksi kimia
terhadap

uap air dan zat-zat

lainnya di atmosfir dan membentuk asam yang kemudian

mengendap pada saat hujan.

Tindakan-tindakan telah diambil untuk mengurangi emisi SOx dan NOx secara
signifikan dari pembangkit listrik tenaga uap. Pendekatan-pendekatan tertentu juga memiliki
manfaat mengurangi emisi-emisi lainnya seperti merkuri. Sulfur ada di batubara sebagai
campuran dan bereaksi dengan udara pada saat batubara dibakar untuk menghasilkan SOx.
Sebaliknya, NOx terbentuk pada saat bahan bakar fosil dibakar. Dalam banyak hal,
penggunaan batubara dengan kadar sulfur yang rendah adalah cara yang paling ekonomis untuk
mengendalikan dampak negatif penggunaan batubara

1.2.

Tujuan
-

Mengetahui apa yang dimaksud NOX

Mengetahui apa yang dimaksud Low NOX Burning/Pembakaran Low NOX

Mengetahui prinsip kerja utama Burner Rendah NOX

BAB II
DASAR TEORI

Batubara saat ini telah digunakan secara besar-besaran untuk pembangkit tenaga
listrik, Saat ini batu bara memberikan pasokan sebesar 39% bagi listrik dunia. Di banyak
negara, peran batu bara jauh lebih tinggi. Ketersediaan pasokan batu baradengan biaya
rendah baik di negara maju maupun di negara berkembang sangat vital untuk mendapatkan
tingkat pemasangan listrik yang tinggi. Contohnya di Cina, 700 juta orang telah memiliki sistem
listrik selama lebih dri 15 tahun yang lalu. Kini 99% dari negara tersebut telah memiliki
sambungan listrik, dimana sekitar 77% dari listrik tersebut dihasilkan oleh pusat pembangkit
listrik tenaga uap.(WCI, 2005).Indonesia sendiri Tercatat dari seluruh konsumsi batubara
dalam negeri pada tahun 2005 sebesar 35,341 juta ton, 25,132 juta ton atau sekitar 71,11% di
antaranya digunakan oleh PLTU. Hingga saat ini, PLTU berbahan bakar batubara, baik
milik Perusahaan Listrik Negara maupun yang dikelola swasta, ada 9 PLTU, dengan total
kapasitas saat ini sebesar 7.550 MW dan mengkonsumsi batubara sekitar 25,1 juta ton per
tahun.(Nugraha, 2009).
Teknologi Batubara Bersih adalah teknologi yang dikembangkan untuk mengurangi
dampak lingkungan dari pembangkit batubara. Bila batubara digunakan sebagai sumber bahan
bakar, maka akan terjadi emisi gas yang dihasilkan oleh dekomposisi termal batubara seperti
sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon dioksida, dan produk kimia sampingan lainnya yang
bervariasi tergantung dari jenis batubara yang digunakan.
Emisi gas SO2 dan NOX Peraturan tentang langit bersih yang digalakkan dibanyak negara
termasuk Indonesia menyebabkan keharusan bagi perusahaan untuk mengontrol polutan udara
dari plant mereka. Kebutuhan energi untuk tambahan proses ini sangat besar, karena kandungan
polutan gas buang, besar dan bervariasi tergantung dari asal gas buang tersebut. Akibat peraturanperaturan tersebut penyediaan energi untuk menghilangkan emisi polutan menjadi besar juga.
Untuk pembatasan terhadap emisi gas berbahaya yang mengancam kelestarian lingkungan, perlu
ditetapkan oleh Negara batas emisi yang diijinkan keluar dari plant tertentu. Batas emisi gas

berbahaya yang diijinkan untuk bebarapa negara sangat bervariasi tergantung dari jenis plant,
ukuran plant dan bahan bakar yang digunakan. Data tersebut dapat dilihat dalam tabel beikut :
Tabel. Batas Emisi SO2dan NOX dari beberapa Negara

Sumber energi dan dampaknya terhadap lingkungan


Salah satu sumber energi yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah
batubara. Hanya sayang sebagian besar batubara Indonesia berupa lignit yaitu batubara muda.
Batubara muda karena kandungan kandungan pengotor masih cukup besar kalau dibakar
menghasilkan gas-gas yang bermacam-macam dan abu layang berupa debu yang lebih banyak.
Untuk menjaga kelestarian alam, diperlukan biaya yang lebih banyak untuk mengolah gas
buangan ini agar tidak berbahaya bagi lingkungan.

Perkiraan konsumsi sumber energi dimasa yang akan datang dapat dilihat di Gambar
berikut :

Gambar 1. Proyeksi Sumber Energi di Indonesia di Masa Yang Akan Datang

Gas-gas dalam gas buang.


Reaksi pembakaranadalah reaksi antara bahan bakar dengan oksigen dalam ruang
pembakaran. Bahan bakar yang merupakan senyawa organik hidrokarbon bila dibakar
menghasilkan gas CO2dan H2O menurut reaksi : CXHy+ ( x + y)O2 tx CO2+ y H2O Senyawa
hidrokarbon yang bermacammacam dan senyawa-senyawa lain yang ada dalam bahan bakar,
menyebabkan hasil pembakaran tidak hanya karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) tetapi juga
senyawa berbahaya seperti SO2dan NOX. Kadar gas NOX dan SO2 dalam gas hasil pembakaran
dapat dilihat dalam Tabel berikut :

Pembentukan gas NOXdalam pembakaran bahan bakar


Emisi NOx dari pembakaran dapat dijelaskan sebagai sebagai emisi nitrogen oksida (NO)
dan nitrogen dioksida (NO2). Oksida yang dominan dan yang lebih berbahaya dari kedua
senyawa itu adalah gas NO yang merupakan 95% dari NOx. Meskipun juga terdeteksi N2O alam
gas hasil pembakaran yang bisa merusak ozone di Stratosfir, tujuan pengelolaan NOxadalah
erubah menjadi NO2dan pengambilan gas tersebut.
Pembentukan NOx dalam pembakaran merupakan interaksi antara proses kimia, fisika
dan panas berlangsung melalui 3 tahapan.
1. Pembentukan NOx karena panas
Oksidasi nitrogen dalam atmosfir pada suhu tinggi membentuk radikal oksigen. Atom
berreaksi dengan nitrogen menghasilkan NO.
O2 2 O
O + N2 NO + N
N + O2 NO + O
N + OH NO + H
2. Pembentukan NOx dari Bahan bakar
Pembentukan NOxdari bahan bakar disebabkan adanya senyawa hiterosiklik nitrogen yang ada
alam bahan bakar seperti piridin, piperidin dan guinolin yang terdapat dalam minyak dan rantai iklik
maupun rantai terbuka nitrogen dalam batu bara. Senyawa-senyawa nitrogen ini yang menghasilkan
gas NO. Jumlah maupun kecepatan pembentukan NOx dari senyawa nitrogen tergantung dari
ikatannya masingmasing.

3. Pembentukan NOX cepat.


Pembentukan NOX ini terjadi karena reaksi nitrogen dan radikal hidrokarbon selama
pembakaran. Pembentukan NOX ini cepat terjadi pada pelepasan energi panas karena
pembakaran. Sebagai permulaan terjadinya reaksi adalah pembentukan HCN sbb:
CH + N2 HCN + N
CH2+ N2 HCN + NH
Selanjutnya HCN ini mereduksi senyawa nitrogen menjadi NO Penghilangan gas-gas
berbahaya dalam gas buang. Teknologi pengontrolan gas berbahaya dari suatu plant misalnya
6

pembakaran batubara, bisa melalui dua jalan yaitu dengan modifikasi teknik pembakaran untuk
mencegah terbentuknya atau penghilangan gas berbahaya yang ada dalam gas hasil pembakaran.
Pencegahan terjadinya gas berbahaya, misalnya NOX dilakukan dengan pembakaran kembali
NOX pada kondisi kekurangan udara dan dilanjutkan pembakaran pada suhu rendah untuk
menyempurnakan reaksi. Sedangkan penanganan gas hasil pembakaran untuk mengurangi NOX
yaitu dengan teknik reduksi katalitis selektif (SCR) dan reduksi non katalitis selektif (SNCR).
Penyerapan gas berbahaya juga dilakukan dengan menyerap gas tersebut dengan bahan penyerap
melalui kontak antara gas yang mengandung gas berbahaya dengan cairan penyerap dalam kolom
absorbsi.

Abu layang yang terikut dalam gas hasil pembakaran dipisahkan dengan pemisah
elektrostatis. Penyerapan gas berbahaya dalam gas hasil pembakaran dilakukan dengan cara
mengkontakkan gas dengan penyerap kalsium hidroksida, yang mengikat gas menjadi senyawa
kalsium sulfat dan kalsium nitrat. Dalam reaktor ini, reaksi disempurnakan dan kemudian
dipompakan ke dalam tangki pengenap sehingga kalsium sulfat mengenap. Setelah dipisahkan
kalsium sulfat dicampur dengan abu layang dari pemisahan menggunakan pemisah elektrotatis.

Pembakaran ulang NOX adalah modifikasi proses pembakaran, sehingga pembentukan


NOxdiminimumkan . Pembakaran ulang NOX untuk mengurangi NOX dalam hasil pembakaran
dilakukan melalui 3 tahapan. Tahap pertama gas pembentukan gas NO dengan interaksi bahan
bakar dengan udara, tahap kedua adalah penambahan bahan bakar dibawah kondisi reduksi
(kekurangan oksigen) untuk memproduksi radikal hidrokarbon yang berreaksi dengan NOX yang
terbentuk, menghasilkan N2dan tahapan ketiga adalah penambahan udara pada suhu rendah untuk
menyempurnakan pembakaran. Karena biaya proses penyerapan ini tinggi, dan hasil samping
yang diperoleh yaitu gibsun tidak banyak digunakan, maka kebanyakan negara berkembang tidak
menggunakan penyerap ini, kecuali pada untuk gas-gas mempunyai kandungan SOX yang sangat
tinggi.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Definisi
NOX adalah sebuah sebutan umum untuk mono-nitrogen oksida NO dan NO2 (nitrogen

monoksida dan nitrogen dioksida). Gas ini dihasilkan dari reaksi antara nitrogen dan oksigen di
udara saat pembakaran, terutama pada suhu tinggi. Di tempat-tempat dengan kepadatan lalu lintas
yang tinggi, seperti di kota-kota besar, jumlah nitrogen oksida yang dilepaskan ke udara sebagai
polusi udara dapat meningkat signifikan. Gas NOX terbentuk di semua tempat yang terdapat
pembakaran - contohnya dalam mesin. Dalam kimia atmosfer, sebutan NOX artinya adalah total
konsentrasi dari NO and NO2. NOX bereaksi membentuk asbut dan hujan asam. NOX juga
merupakan senyawa utama pembentuk ozon troposfer. NOX merupakan gas yang berbeda dengan
dinitrogen oksida (N2O) yang merupakan gas rumah kaca dan sering digunakan pada oksidator,
anestetik, dan zat aditif makanan. NOy (reaktif, nitrogen ganjil) diartikan sebagai penjumlahan
antara NOx dengan senyawa hasil oksidasi dari NOx, yang di dalamnya termasuk dengan asam
nitrat.
Nitrogen oksida (NOX) menjadi salah satu polutan dengan jumlah besar yang dihasilkan
oleh boiler, emisi NOX dapat menyebabkan hujan asam, pembentukan ozon, gangguan
penglihatan, serta gangguan kesehatan pada manusia. Atas dasar tersebut pengendalian emisi
NOx sangat diatur oleh regulasi pemerintah di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, emisi gas
buang dari boiler diatur batasannya oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup.
Penyusun utama polutan NOX adalah nitrogen oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2).
Proses pembakaran semua jenis bahan bakar fosil akan menghasilkan NOX sesuai dengan
temperatur kerjanya serta ketersediaan oksigen dan nitrogen pada bahan bakar dan udara. Emisi
NOX yang dihasilkan oleh boiler tersusun atas 90-95% NO dan sisanya adalah NO2. Namun
setelah kombinasi NOX tersebut keluar dari cerobong asap boiler, NO akan teroksidasi lebih
lanjut menjadi NO2. NO2 inilah yang biasanya tampak sebagai asap yang keluar dari cerobong
asap boiler tersebut.
9

3.2.

Proses Pembentukan NOX


Sebelum kita mengetahui cara-cara untuk mengendalikan emisi NOX, perlu kita pelajari

terlebih dahulu bagaimana proses terbentuknya NOX di dalam furnace boiler. Ada dua macam
cara utama bagaimana NOX dapat terbentuk, yang pertama disebut dengan Termal NOX, dan
yang kedua adalah Fuel NOX. Sebenarnya ada satu jenis lagi fenomena terbentuknya NOX yang
disebut dengan Prompt NOX. Namun karena kontribusinya yang sangat kecil dalam pencemaran
NOX maka proses yang ketiga ini tidak akan kita bahas pada kesempatan kali ini.
Nitrogen yang terkandung di dalam udara pembakaran dapat teroksidasi dan membentuk
NOX jika proses pembakaran terjadi pada temperatur yang cukup tinggi. Pada temperatur
pembakaran 1204oC, molekul nitrogen (N2) dan oksigen (O2) akan terpecah menjadi atom-atom
penyusunnya. Selanjutnya atom-atom N2- dan O2- akan bereaksi membentuk ikatan NO. Pada
proses oksidasi lebih lanjut, senyawa NO ini akan menjadi NO2. Proses pembentukan NOX yang
berasal dari nitrogen udara pembakaran inilah yang disebut dengan termal NOX.
Fuel NOX adalah sebutan bagi nitrogen yang terkandung di dalam bahan bakar fosil
(minyak atau batubara), yang membentuk emisi NOX di akhir proses pembakaran. Kontribusi fuel
NOX dalam membentuk NOX adalah sebesar hingga 50% jika menggunakan bahan bakar minyak,
dan 80% jika menggunakan batubara. Nitrogen di dalam bahan bakar fosil tersebut terikat di
dalam ikatan organik senyawa hidrokarbon. Selama proses pembakaran terjadi, atom nitrogen
terlepas menjadi atom bebas dan akan membentuk ikatan baru berupa NO dan N2. Sekalipun NO
yang terbentuk tersebut menjadi penyusun terbanyak NOX, namun hanya 20-30% saja atom
nitrogen yang terkandung di dalam bahan bakar fosil yang berubah menjadi NO, sisanya
membentuk N2.

10

Pembentukan NOX Pada Pembakaran Batubara


Pada proses pembakaran batubara, atom nitrogen terlepas dari susunan molekul batubara
pada saat awal proses pembakaran karena sifatnya yang volatil (mudah menguap pada temperatur
rendah). Pelepasan atom nitrogen tersebut diikuti dengan proses oksidasi sehingga terbentuk
molekul NO disamping terbentuknya pula N2. Proses pembentukan NOX yang berasal dari
nitrogen volatil batubara menyumbang 60-90% dari keseluruhan fuel NOX. Sebagian kecil atom
nitrogen yang terikat di dalam batubara tidak bersifat volatil seperti yang lain, sehingga
dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk lepas dari molekul batubara dan teroksidasi lebih lanjut
untuk membentuk NOX.
Pembentukan NOX yang berasal dari batubara sangat tergantung dengan perbandingan
stoikiometri bahan bakar dengan udara, namun tidak terlalu tergantung dengan temperatur proses
pembakaran. Atas dasar hal tersebut, pembentukan NOX dapat dikontrol dengan jalan
mengurangi jumlah supply udara pada saat zona awal (inisiasi) proses pembakaran. Mengontrol
proses pencampuran batubara dengan udara sehingga terjadi proses pembakaran yang bertingkat,
juga dapat mengurangi produksi NOX secara signifikan.
Metode mengendalikan emisi NOX pada boiler terdiri dari metode pre-combustion
(dengan memilih bahan bakar rendah nitrogen), metode mengendalikan proses pembakaran, serta
metode post-combustion (dengan menggunakan bahan kimia pengurai NOX menjadi N2 dan
H2O). Namun yang paling banyak digunakan adalah dengan mengontrol proses pembakarannya.
Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya bahwa mengurangi jumlah udara pada campuran
batubara dengan boiler di awal proses pembakaran, serta mengatur proses pembakaran agar
terjadi secara bertingkat adalah termasuk metode mengurangi emisi NOX dengan mengontrol
11

proses pembakaran. Berikut adalah sistem-sistem kontrol pembakaran yang bertujuan untuk
mengendalikan emisi NOX:
1. Pembakaran Low NOX
Burner adalah sebuah komponen proses pembakaran pada boiler yang berfungsi untuk
mencampurkan udara dengan bahan bakar dan memasukkannya ke dalam furnace boiler.
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa nitrogen di dalam batubara
menyumbang 80% NOX dari keseluruhan produksi NOX, dengan 60-90% terbentuk pada
saat awal proses (inisiasi) pembakaran. Zona inisiasi pembakaran terjadi pada burner,
sehingga penggunaan burner yang rendah NOX akan secara signifikan menurunkan
produksi NOX. Sistem burner konvensional dapat menghasilkan NOX 984-1968 mg/Nm3,
sedangkan sistem burner rendah NOX hanya menghasilkan 185-615 mg/Nm3.

Sistem Burner Rendah NOX (Low NOX Burner)


12

Prinsip kerja utama dari burner rendah NOX adalah dengan jalan mengontrol supply udara
yang akan dicampurkan dengan batubara. Keseluruhan udara yang dibutuhkan oleh proses
pembakaran dimasukkan ke dalam furnace boiler melalui burner ini, akan tetapi
pencampurannya dengan batubara dibatasi. Udara yang dicampurkan ke batubara pada
zona devolatilisasi dibatasi jumlahnya, sehingga membatasi kemungkinan pembentukan
NOX pada zona ini. Selanjutnya udara sisa yang dibutuhkan untuk proses pembakaran
batubara dimasukkan setelah melewati zona devolatilisasi. Dengan cara ini kita dapat
menekan produksi NOX pada kisaran 30-60%.

Bagian-bagian Low NOx Burner


2. Sistem Udara Bertingkat
Pada sistem ini, supply udara yang dibutuhkan untuk proses pembakaran tidak
keseluruhan dimasukkan melalui burner, sehingga membatasi jumlah oksigen yang terlalu
berlebihan pada saat awal proses pembakaran. Sisa udara yang dibutuhkan untuk proses
pembakaran dimasukkan ke dalam furnace boiler melalui sebuah alat bernama Over Fire
Air (OFA) yang instalasi nya terletak di atas burner. Instalasi OFA memungkinkan terjadi
proses pembakaran yang bertingkat.
13

Sistem Over Fire Air


Efek samping dari penggunaan sistem OFA antara lain dapat meningkatkan bahan
bakar yang tidak terbakar lebih banyak, pembentukan slag (kerak) pada area furnace,
serta peningkatan kemungkinan terjadinya korosi pada pipa-pipa furnace. Resiko ini
semakin meningkat jika digunakan batubara dengan kandungan sulfur yang tinggi. Di sisi
lain, penggunaan sistem udara bertingkat ini akan menurunkan produksi NOX di kisaran
40-60%.

14

Susunan Sistem Udara Bertingkat


Teknologi terbaru yang telah dikembangkan untuk mengatasi emisi NOX adalah CSNOX yang
dikembangkan oleh Ecospec Global Technology, sebuah perusahaan riset yang berpusat di
Singapura. Sistem ini tidak hanya dapat mereduksi emisi NOX, namun juga emisi CO2 dan SO2
dengan jalan penggunaan air yang telah diberi gelombang ultra rendah untuk mengikat polutanpolutan tersebut.

15

BAB IV
PENUTUP

4.1.

Kesimpulan
-

Yang dimaksud dengan NOX adalah sebuah sebutan umum untuk mono-nitrogen
oksida NO dan NO2 (nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida). Gas ini dihasilkan
dari reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara saat pembakaran, terutama pada suhu
tinggi.

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan
asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar batu bara di pemabakar
dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang
terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan
bakar daripada dengan nitrogen. Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang
pembakaran yang kedua dimana terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai
semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini disebut "staged combustion" karena
batu bara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners

Prinsip kerja utama dari burner rendah NOX adalah dengan jalan mengontrol supply
udara yang akan dicampurkan dengan batubara. Keseluruhan udara yang dibutuhkan
oleh proses pembakaran dimasukkan ke dalam furnace boiler melalui burner ini, akan
tetapi pencampurannya dengan batubara dibatasi. Udara yang dicampurkan ke
batubara pada zona devolatilisasi dibatasi jumlahnya, sehingga membatasi
kemungkinan pembentukan NOX pada zona ini. Selanjutnya udara sisa yang
dibutuhkan untuk proses pembakaran batubara dimasukkan setelah melewati zona
devolatilisasi. Dengan cara ini kita dapat menekan produksi NOX pada kisaran 3060%.

4.2.

Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Pembakaran Low NOX agar bisa

mendapatkan hasil yang lebih baik untuk mengurangi produk dari hasil pembakaran NO X
dikemudian hari.
16

DAFTAR PUSTAKA

17