Anda di halaman 1dari 52
BAHAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA DALAM RAPAT KERJA TAHUN 2012 DENGAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN “AKSELERASI
BAHAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA DALAM RAPAT KERJA TAHUN 2012 DENGAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
BAHAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA DALAM
RAPAT KERJA TAHUN 2012 DENGAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
“AKSELERASI INDUSTRIALISASI DALAM RANGKA MENDUKUNG PERCEPATAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI”
“AKSELERASI INDUSTRIALISASI DALAM RANGKA
MENDUKUNG PERCEPATAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI”
RANGKA MENDUKUNG PERCEPATAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI” Jakarta, 1 Februari 2012 Hotel Grand Sahid DIREKTORAT

Jakarta, 1 Februari 2012 Hotel Grand Sahid

DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

1 Februari 2012 Hotel Grand Sahid DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA
DAFTAR ISI I. KEBIJAKAN DAN REGULASI   3 II. NILAI TAMBAH

DAFTAR ISI

I. KEBIJAKAN DAN REGULASI

 

3

II. NILAI TAMBAH……………………………………………………….……………………

…………

7

III. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI…………………………… ………………… ……

13

IV.

PENUTUP

15

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI…………………………… ………………… …… 13 IV. PENUTUP 15
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI…………………………… ………………… …… 13 IV. PENUTUP 15
I. KEBIJAKAN DAN REGULASI
I. KEBIJAKAN DAN REGULASI
I. KEBIJAKAN DAN REGULASI
I.
KEBIJAKAN DAN REGULASI
I. KEBIJAKAN DAN REGULASI
I. KEBIJAKAN DAN REGULASI

I. KEBIJAKAN DAN REGULASI

I.1 FOUR TRACK STRATEGY

CSR

PRO GROWTH (PERTUMBUHAN)
PRO GROWTH
(PERTUMBUHAN)
I.1 FOUR TRACK STRATEGY CSR PRO GROWTH (PERTUMBUHAN) PENERIMAAN NEGARA INVESTASI NILAI TAMBAH NERACA
PENERIMAAN NEGARA INVESTASI NILAI TAMBAH NERACA PERDAGANGAN (PRODUKSI, EKSPOR DAN DOMESTIK)
PENERIMAAN
NEGARA
INVESTASI
NILAI TAMBAH
NERACA PERDAGANGAN
(PRODUKSI, EKSPOR DAN
DOMESTIK)
TAMBAH NERACA PERDAGANGAN (PRODUKSI, EKSPOR DAN DOMESTIK) PRO POOR (PEMERATAAN) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT
PRO POOR (PEMERATAAN)
PRO POOR
(PEMERATAAN)
(PRODUKSI, EKSPOR DAN DOMESTIK) PRO POOR (PEMERATAAN) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT KETENAGAKERJAAN LOCAL

ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN

RAKYAT

PRO POOR (PEMERATAAN) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT KETENAGAKERJAAN LOCAL CONTENT PRO JOB (LAPANGAN KERJA)
PRO POOR (PEMERATAAN) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT KETENAGAKERJAAN LOCAL CONTENT PRO JOB (LAPANGAN KERJA)
PRO POOR (PEMERATAAN) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT KETENAGAKERJAAN LOCAL CONTENT PRO JOB (LAPANGAN KERJA)

KETENAGAKERJAAN

LOCAL CONTENT

KESEJAHTERAAN RAKYAT KETENAGAKERJAAN LOCAL CONTENT PRO JOB (LAPANGAN KERJA) PRO ENVIRONMENT (LINGKUNGAN) GOOD
PRO JOB (LAPANGAN KERJA)
PRO JOB
(LAPANGAN KERJA)
PRO ENVIRONMENT (LINGKUNGAN)
PRO ENVIRONMENT
(LINGKUNGAN)

GOOD MINING PRACTICE

REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG

4
4

HIERARKI

KONSTITUSI

UUD

I. KEBIJAKAN DAN REGULASI I.2 REGULASI PENGELOLAAN MINERAL DAN BATUBARA

UUD 1945 PASAL 33

REGULASI PENGELOLAAN MINERAL DAN BATUBARA UUD 1945 PASAL 33 LEGISLASI UU REGULASI (KERANGKA) UU NO 4/2009

LEGISLASI

UU

REGULASI (KERANGKA)

UU NO 4/2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara

UU NO 4/2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara PP Perpres Permen & Kepmen 1. PP NO

PP

Perpres

Permen

&

Kepmen

Mineral Dan Batubara PP Perpres Permen & Kepmen 1. PP NO 22/2010 tentang Wilayah Pertambangan 2.

1. PP NO 22/2010 tentang Wilayah Pertambangan

2. PP NO 23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba

3. PP NO 55/2010 tentang Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara

Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara 4. PP NO 78/2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang 1.

4. PP NO 78/2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang

Batubara 4. PP NO 78/2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang 1. PERMEN ESDM NO 28 TAHUN 2009

1.

PERMEN ESDM NO 28 TAHUN 2009 Tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral Dan Batubara

2.

PERMEN ESDM NO 34 TAHUN 200Tentang Pengutamaan Pasokan Kebutuhan Mineral Dan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri

3.

PERMEN ESDM NO 17 TAHUN 2010 Tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Dan Batubara

4.

Permen ESDM No 18 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Perubahan Penanaman Modal Dalam Rangka Pelaksanaan KK

dan PKP2B

5.

Kepmen ESDM No.0617.K/32/MEM/2011 tentang Harga Batubara untuk PLN (Persero) Dalam Rangka Pengoperasian Pembangkit Tenaga Uap

6.

Kepmen ESDM No.1991.K/30/MEM/2011 Tentang Penetapan Kebutuhan Dan Persentase Minimal Penjualan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri Tahun 2012

7.

Dll.

Penetapan Kebutuhan Dan Persentase Minimal Penjualan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri Tahun 2012 7. Dll.

I. KEBIJAKAN DAN REGULASI

I.3 KEBIJAKAN MENDUKUNG PERKEMBANGAN INDUSTRI MANUFAKTUR

REGULASI I.3 KEBIJAKAN MENDUKUNG PERKEMBANGAN INDUSTRI MANUFAKTUR DMO MP3EI A D D E D V A
DMO MP3EI
DMO
MP3EI

ADDED VALUE

IMPLEMENTASI

REGULASI I.3 KEBIJAKAN MENDUKUNG PERKEMBANGAN INDUSTRI MANUFAKTUR DMO MP3EI A D D E D V A
II. NILAI TAMBAH
II. NILAI TAMBAH
II. NILAI TAMBAH
II. NILAI TAMBAH
II. NILAI TAMBAH
II. NILAI TAMBAH

II.1 DASAR HUKUM

1. Pasal 33 UUD 1945:

II. NILAI TAMBAH

a. Ayat (2) Cabang-cabang produksi yang penting dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara

b. Ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

2. UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara:

a. Pasal 95 huruf c Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral

dan/atau batubara

b. Pasal 102 Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan mineral dan batubara

c. Pasal 103 ayat (1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan

pemurnian hasil penambangan di dalam negeri

d. Pasal 170 Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat- lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat- lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat- lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan

3.

II.1 DASAR HUKUM (Lanjutan)

II. NILAI TAMBAH

PP No 23 Tahun 2010, tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan

Batubara:

a. Pasal 84 ayat (1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus mengutamakan kebutuhan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri

b. Bab VIII (pasal 93 96) mengenai Peningkatan Nilai Tambah, Pengolahan dan Pemurnian Mineral dan Batubara

c. Pasal 112 angka 4 huruf c Kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan surat izin pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam

negeri dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya Undang-Undang

Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

4. PerMen ESDM No. 34/2009, tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Minerba untuk Kepentingan Dalam Negeri

Batubara ” 4. PerMen ESDM No. 34/2009, tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Minerba untuk Kepentingan Dalam Negeri
Batubara ” 4. PerMen ESDM No. 34/2009, tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Minerba untuk Kepentingan Dalam Negeri

II. NILAI TAMBAH

II.2 MATA RANTAI NILAI TAMBAH

SDA
SDA
INDUSTRI PRIMER INDUSTRI SEKUNDER Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara Usaha Pengolahan Lanjut Kegiatan Hulu
INDUSTRI PRIMER
INDUSTRI SEKUNDER
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
Usaha Pengolahan Lanjut
Kegiatan Hulu Minerba
Kegiatan Hilir Minerba
Kegiatan Hilir Perindustrian
(Menambang dari perut bumi)
(Meningkatkan Nilai Tambah Pertama)
(Meningkatkan Nilai Tambah Kedua)
Mineral Logam
Produk Akhir
Cadangan
(Bahan Galian)
Produk Antara
Pengolahan
Proses
Eksplorasi
Eksploitasi
Pemurnian
Lanjut
Logam
•Separasi
Alloy
•Ekstraksi
•Refining
Industri Mesin, logam dasar
dan elektronika (IMELDE)
 Industri logam-besi baja
Mineral Bukan Logam
Produk Akhir
Cadangan
Bahan Baku Industri
Proses
Eksplorasi
Eksploitasi
Pengolahan
Lanjut
Produk olahan
•Penggerusan
Proses fisik
• Industri kimia dasar
•Pencampuran
-
Tepung
• Aneka industri

Upgrading

- Pellet

Proses Kimia

-

Katalis

Kimia (sabun, obat dll)

Konstruksi

Rumah tangga

Produk Akhir

Sumber Daya

Mineral dan

Batubara

Rumah tangga Produk Akhir Sumber Daya Mineral dan Batubara - Filler Batuan Cadangan - Coater, dll
- Filler Batuan Cadangan - Coater, dll Pemolesan/ Eksplorasi Eksploitasi Pengolahan pemotongan •Barang seni
- Filler
Batuan
Cadangan
- Coater, dll
Pemolesan/
Eksplorasi
Eksploitasi
Pengolahan
pemotongan
•Barang seni
•Crushing
•Bahan Bangunan
•Grinding
•Sizing
Batubara
Cadangan
Batubara
Batubara
Eksplorasi
Eksploitasi
Pengolahan
Pemanfaatan
- Kokas

Blending/Mixing

Upgrading

Konversi

- Briket

- CWM (Coal Water Mixture)

- CWF (Coal Water Fuel)

- Gas batubara

Transportasi

Industri

Pembangkitan

- CWM (Coal Water Mixture) - CWF (Coal Water Fuel) - Gas batubara • Transportasi •

II. NILAI TAMBAH

II.3 Material Balance/Neraca Pengolahan dan Pemurnian (Eksisting dan Rencana) (1)

SUMBER DAYA /CADANGAN (ton Bijih) PRODUKSI TAMBANG INDUSTRI KAPASITAS KOMODITAS (2010) PENGOLAHAN/PEMURNIAN
SUMBER DAYA /CADANGAN
(ton Bijih)
PRODUKSI TAMBANG
INDUSTRI
KAPASITAS
KOMODITAS
(2010)
PENGOLAHAN/PEMURNIAN
PENGOLAHAN
Sumberdaya
Cu Concentrate (ton)
Eksisting:
4.925.066.645
3.466.770,93
-
Smelting Gresik
1.000.000
Rencana:
Cadangan
- Nusantara Smelting (2014)
800.000
4.161.388.377
- Global Investindo (2015)
1.200.000
- Indosmelt (2014)
400.000
TOTAL KAPASITAS
BALANCE
3.400.000
66.771
Sumberdaya
Bijih Bauksit (ton)
Rencana:
551.961.397
15.490.356,83
- SGA PT Antam (2014)
4.000.000
- CGA PT Antam (2014)
1.100.000
Cadangan
-
2.000.000
179.503.546
Harita Prima Abadi (2014)
TOTAL KAPASITAS
BALANCE
7.100.000
8.390.357
Sumberdaya
Bijih Nikel (ton)
Eksisting:
2.633.500.434
26.380.000
-
FeNi PT. Antam
2.950.000
- Ni in Matte PT. INCO
6.080.000
Cadangan
Rencana
576.914.000
- Weda Bay nickel (2016)
6.000.000
- NPI PT. Antam (2014)
900.000
- FeNi PT Antam (2014)
TOTAL KAPASITAS
BALANCE
2.950.000
18.880.000
7.500.000
Sumber Data : Badan Geologi dan Data Produksi DJMB (2010)
NIKEL
BAUKSIT
TEMBAGA

II. NILAI TAMBAH

II.3 Material Balance/Neraca Pengolahan dan Pemurnian (Eksisting dan Rencana) (2)

SUMBER DAYA INDUSTRI KAPASITAS KOMODITAS /CADANGAN PRODUKSI TAMBANG PENGOLAHAN/PEMURNIAN PENGOLAHAN (ton Bijih)
SUMBER DAYA
INDUSTRI
KAPASITAS
KOMODITAS
/CADANGAN
PRODUKSI TAMBANG
PENGOLAHAN/PEMURNIAN
PENGOLAHAN
(ton Bijih)
Sumberdaya
Bijih Besi (ton)
Rencana:
5.075.637.708
3.865.385
Cadangan
PT. MJIS (2012)
PT. SILO (2015)
PT. Krakatau POSCO (2014)
PT. Gunung Garuda (2013)
PT. Semeru Surya Steel (2012)
PT. Mandan Steel (2012)
PT. Delta Prima Steel (2012)
PT. Jogja Magasa (2012)
PT. Indoferro (2012)
TOTAL KAPASITAS
BALANCE
1.000.000
2.500.000
9.000.000
115.494.000
900.000
460.000
5.000.000
300.000
3.000.000
1.500.000
23.760.000
-19.794.615
Sumberdaya
Bijih Mangan (ton)
Rencana:
11.195.341
610.000
360.000
Cadangan
Dalam tahap survey
4.078.029
PT. Sumber Bumi Kalbar
PT. AGB/Hyundai
TOTAL KAPASITAS
360.000
Sumber Data : Badan Geologi dan
Data Produksi DJMB (2010)
BALANCE
250.000
MANGAN
BESI
TOTAL KAPASITAS 360.000 Sumber Data : Badan Geologi dan Data Produksi DJMB (2010) BALANCE 250.000 MANGAN
TOTAL KAPASITAS 360.000 Sumber Data : Badan Geologi dan Data Produksi DJMB (2010) BALANCE 250.000 MANGAN
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI
III KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI

III. PERAN MINERBA DALAM MP3EI

III.1 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN MP3EI

Implementasi Mineral dan Batubara Untuk Kebutuhan Dalam Negeri

Memberikan kepastian dan transparansi meningkatkan iklim di industri

pertambangan

Meningkatkan Investasi dan Penerimaan negara

Peningkatan nilai tambah komoditas pertambangan (pengolahan, pemurnian,

local content, tenaga kerja dan CSR)

Meningkatkan integrasi sisi hulu dan hilir

Penyelesaian berbagai macam masalah (Tumpang tindih lahan dengan kehutanan, dll)

Meningkatkan Program CSR

Meningkatkan infrastruktur mineral dan batubara

tindih lahan dengan kehutanan, dll) • Meningkatkan Program CSR • Meningkatkan infrastruktur mineral dan batubara 14
14
14
IV. PENUTUP
IV. PENUTUP
IV. PENUTUP
IV. PENUTUP
IV. PENUTUP
IV. PENUTUP

IV. PENUTUP

Sektor pertambangan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan ekonomi Indonesia (Investasi, Penerimaan negara, tenaga Kerja, Comdev, nilai tambah, dll).

Mineral dan Batubara dapat diolah lebih lanjut sehingga

dapat memberikan nilai tambah

Pembangunan infrastruktur vital dan strategis, sehingga ada kemudahan akses dalam membangun smelter mineral

dan pengolahan batubara

Ada kerjasama yang kuat di antara semua sektor, sehingga industri pertambangan minerba dapat memberikan nilai tambah dan menghasilkan efek berantai (multiplier effect)

sehingga industri pertambangan minerba dapat memberikan nilai tambah dan menghasilkan efek berantai (multiplier effect)
sehingga industri pertambangan minerba dapat memberikan nilai tambah dan menghasilkan efek berantai (multiplier effect)
www.djmbp.esdm.go.id
www.djmbp.esdm.go.id
www.djmbp.esdm.go.id
www.djmbp.esdm.go.id
www.djmbp.esdm.go.id

www.djmbp.esdm.go.id

www.djmbp.esdm.go.id
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas

Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1)

Komoditas mineral logam Produk Samping/ Batasan produk minimum No. Bijih/ore Mineral Sisa Hasil untuk dijual
Komoditas mineral logam
Produk Samping/
Batasan produk minimum
No.
Bijih/ore
Mineral
Sisa Hasil
untuk dijual ke Luar Negeri
1.
Tembaga
(proses peleburan)
a. Chalcopirite
Katode Cu > 99,9% Cu
b. Bornite
a. Anode slime:
a.
Au (>99%)
c. Cupcrite
b.
Ag (>99%)
d. Kovelite
c.
Pd (>99%)
d.
Se (>99%)
e.
Pt (>99%)
f.
Te (>99%)
b. Tembaga Telurid
a.
Cu >99%
b.
Te >99%
Tembaga
(Proses Perlindian)
a. Chalcopirite
a.
Au (>99%)
b. Bornite
b.
Ag (>99%)
c. Cupcrite
c.
Pd (>99%)
d. Kovelite
d.
Se (>99%)
e.
Pt (>99%)
f.
Te (>99%)
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas

Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1)

Komoditas mineral logam Produk Batasan produk minimum No. Bijih/ore Mineral Samping untuk dijual ke Luar
Komoditas mineral logam
Produk
Batasan produk minimum
No.
Bijih/ore
Mineral
Samping
untuk dijual ke Luar Negeri
2.
Bauksit
a.
Gibbsit
a.
Smelter grade alumina
> 99% Al2O3
b.
Diaspor
b.
Chemical Grade Alumina > 99% Al2O3
c.
Boehmit
c.
Al > 99%
3.
Nikel dan/atau kobal
a.
Pentlandit
a.
Ni Mate > 70% Ni
(proses peleburan)
b.
Garnerit
b.
FeNi (saprolit) > 16% Ni
a. Saprolit
c.
Serpentinit
c.
FeNi (limonit/campuran) > 10% Ni
b. Limonit
d.
Karolit
d.
e.
Pirit
NPI (Nickel Pig Iron)
> 6% Ni
Nikel dan/atau kobal
(proses pelindian)
Limonit
f.
Goetit
a.
MHP (Mix Hydroxide Presipitate) > 25% Ni
b.
MSP (Mix Sulfide Presipitate) > 45% Ni
c.
Ni > 99%
d.
Co > 99%
e.
Cr > 99%
Nikel dan/atau kobal
(proses reduksi)
Sponge FeNi > 4% Ni
a. Saprolit
b.
Limonit
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas
Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1) Komoditas

Batasan Minimum Pengolahan Dan Pemurnian Mineral Logam Dalam Rpermen Peningkatan Nilai Tambah Mineral (1)

Komoditas mineral logam Produk Batasan produk minimum No. Bijih/ore Mineral Samping untuk dijual ke Luar
Komoditas mineral logam
Produk
Batasan produk minimum
No.
Bijih/ore
Mineral
Samping
untuk dijual ke Luar Negeri
4. Bijih besi
a. Hematit
b. Magnetit
Sponge iron > 85% Fe
Pig iron > 94% Fe
c. Pirit
a. Goetit/laterit
Sponge iron > 80% Fe
Paduan logam (Alloy) >
88% Fe
Pasir besi
a. Titanomagnetit
Pig iron > 94% Fe
b. Ilmenit
Terak
a. TiO2 >98%
c. Rutil
b. Paduan logam (Alloy) > 65% Ti
c. V2O5 > 14.0%
d. Paduan logam (Alloy) > 65% V
5. Mangan
a. Pirolusit
a. Paduan logam (Alloy) > 60 % Mn
b. Psilomelan
b. MnO2 > 98%
c. Braunit
d. Manganit
5. Mangan a. Pirolusit a. Paduan logam (Alloy) > 60 % Mn b. Psilomelan b. MnO2
5. Mangan a. Pirolusit a. Paduan logam (Alloy) > 60 % Mn b. Psilomelan b. MnO2
FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN EKSISTING PT. TIMAH DAN KOBATIN Lokasi BANGKA BELITUNG Kapasitas Produksi Timah Ingot

FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN EKSISTING

PT. TIMAH DAN KOBATIN Lokasi BANGKA BELITUNG Kapasitas Produksi Timah Ingot : 74.000 ton/tahun SMELTIING
PT. TIMAH DAN KOBATIN
Lokasi
BANGKA BELITUNG
Kapasitas
Produksi
Timah Ingot : 74.000
ton/tahun
SMELTIING TIMAH (29 PERUSAHAAN)
Lokasi
BANGKA BELITUNG
Kapasitas
Produksi
Timah Ingot : 40.000
ton/tahun

DJMB, 2011

PT. INALUM Lokasi ASAHAN Kapasitas Alumunium : Produksi 250.000 ton/tahun
PT. INALUM
Lokasi
ASAHAN
Kapasitas
Alumunium :
Produksi
250.000 ton/tahun
PT. INCO Lokasi SOROWAKO Kapasitas Produksi Ni+Co in Matte : 72.500 ton/tahun PT. ANTAM Lokasi
PT. INCO
Lokasi
SOROWAKO
Kapasitas
Produksi
Ni+Co in Matte : 72.500
ton/tahun
PT. ANTAM
Lokasi
SULAWESI TENGGARA
Kapasitas
FerroNikel : 26.000/tahun
Produksi
JAKARTA - : 75 ton/tahun Emas - 275 ton/tahun Perak :

JAKARTA

- : 75 ton/tahun

Emas

- 275 ton/tahun

Perak :

PT. LOGAM MULIA (ANTAM)

Lokasi

Kapasitas

Produksi

Perak : PT. LOGAM MULIA (ANTAM) Lokasi Kapasitas Produksi PT. SMELTING GRESIK (MITSUBISHI FLASH) Lokasi Gresik
Perak : PT. LOGAM MULIA (ANTAM) Lokasi Kapasitas Produksi PT. SMELTING GRESIK (MITSUBISHI FLASH) Lokasi Gresik
PT. SMELTING GRESIK (MITSUBISHI FLASH)

PT. SMELTING GRESIK (MITSUBISHI FLASH)

Lokasi

Gresik

Kapasitas Produksi

- Katoda Tembaga :

270.000 ton/tahun

- Anode Slime

:

1.800 ton/tahun

Lokasi Gresik Kapasitas Produksi - Katoda Tembaga : 270.000 ton/tahun - Anode Slime : 1.800 ton/tahun
RENCANA FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN (1) PT. ANTAM ( SGA MEMPAWAH) PT. SUMBER BUMI KALBAR lokasi MEMPAWAH

RENCANA FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN (1)

PT. ANTAM ( SGA MEMPAWAH) PT. SUMBER BUMI KALBAR lokasi MEMPAWAH Pemurnian Mangan kapasitas Smelting
PT. ANTAM ( SGA MEMPAWAH)
PT. SUMBER BUMI KALBAR
lokasi
MEMPAWAH
Pemurnian Mangan
kapasitas
Smelting Grade Alumina :
produksi
1 juta ton SGA/tahun
PT. HARITA PRIMA ABADI MINERAL
Smelter Grade Alumina
PT. INDONESIA CHEMICAL ALUMINA
(PT ANTAM. SHOWA DENKO &
MARUBENI CORP.)
PT. HERALD RESOURCES, Ltd
lokasi
DAIRI, SUMUT
lokasi
TAYAN
Pabrik konsentrat dan hasil penambangan Lead dan
Zinc
PT. NUSANTARA SMELTING
kapasitas
Chemical Grade Alumina
produksi
:
300.000 ton CGA/tahun
lokasi
BONTANG
kapasitas
Copper Chatode :
produksi
200.000 ton/tahun
PT. MERATUS JAYA IRON & STEEL
(PT. ANTAM & PT. KS)
lokasi
BATU LICIN
kapasitas
produksi
Sponge Iron : 315.000
ton/tahun
PT. SILO GROUP
PT. AGINCOURT RESOURCES
lokasi
Tapanuli Selatan, SUMUT
Pig Iron
Pengolahan Emas dan Perak
PT. TIN CHEMICAL
lokasi
CILEGON, BANTEN
PT. AGB/HYUNDAI
lokasi
KUPANG, NTT
Ferro –Silicon-Mangan
Kap : 60.000-100.000 ton/tahun
PT. TIMAH
lokasi
Bangka Belitung
Pabrik Pengolahan Timah
RENCANA FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN (2) PT. ANTAM lokasi HALMAHERA kapasitas FeNi : 27.000 ton/tahun produksi PT.

RENCANA FASILITAS PENGOLAHAN/PEMURNIAN (2)

PT. ANTAM lokasi HALMAHERA kapasitas FeNi : 27.000 ton/tahun produksi PT. WEDA BAY NIKEL PT.
PT. ANTAM
lokasi
HALMAHERA
kapasitas
FeNi : 27.000 ton/tahun
produksi
PT. WEDA BAY NIKEL
PT. POSITION
(SOLWAY GROUP)
lokasi
WEDA
PT. ANTAM
Perngolahan Nikel
kapasitas
Nikel Hidroksida :
produksi
60.000 ton/tahun
lokasi
NORTH KONAWE
kapasitas
Nikel Pig Iron : 120.000
ton/tahun
PT. NABIRE BHAKTI MINING
produksi
Lokasi
NABIRE
PT. SINOSTEEL INDONESIA
PT. INCO
Pengolahan Emas Kap. 500.000 ton
bijih
Pengolahan Nickel (2014)
Pengolahan Nikel Pig
Iron
PT. GLOBAL PERKASA INVESTINDO
PT. INDO SMELTING
PT. INCO
lokasi
TIMIKA
lokasi
MAROS
Lokasi
POMALAA
kapasitas produksi
- Copper Chatode : 100.000 ton/tahun
kapasitas
Nikel Hidroksida :
Copper Catode
Kap : 400.000 ton/tahun
- Perak, copper
: 200.000 ton/tahun
produksi
48.800 ton/tahun
PT. BATUTUA TEMBAGA RAYA
lokasi
WETAR
Penirisan Copper Catode
A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan
A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan

A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA

A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan
A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan
A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan

Smelting Gresik

1.000.000 ton

EKSISTING A. MATERIAL BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan

BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan
BALANCE TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan

RENCANA

TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan 4.161.388.377 ton
TEMBAGA Smelting Gresik 1.000.000 ton EKSISTING RENCANA Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan 4.161.388.377 ton

Sumber Daya

4.925.066.645 ton

Cadangan

4.161.388.377 ton

Sumber Daya 4.925.066.645 ton Cadangan 4.161.388.377 ton Produksi (2010) 3.466.770,93 ton Nusantara Smelting (2014)

Produksi (2010)

3.466.770,93 ton

Nusantara Smelting (2014)

Nusantara Smelting (2014)

800.000

ton

Global Investindo (2015)

Global Investindo (2015)

1.200.000 ton

1.200.000 ton

Indosmelt (2014)

Indosmelt (2014)

400.000

ton

66.771 ton (Belum diolah dan dimurnikan) TEMBAGA
66.771 ton
(Belum diolah dan dimurnikan)
TEMBAGA
(2015) 1.200.000 ton Indosmelt (2014) 400.000 ton 66.771 ton (Belum diolah dan dimurnikan) TEMBAGA
B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi
B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi

B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT

B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi
B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi

NIHIL

EKSISTING B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi (2010)

B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi
B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi

RENCANA

B. MATERIAL BALANCE BAUKSIT NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi

Sumber Daya

551.961.397 ton

Cadangan

179.503.546 ton

Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi (2010) 15.490.356,83 ton SGA PT Antam (2014)
Sumber Daya 551.961.397 ton Cadangan 179.503.546 ton Produksi (2010) 15.490.356,83 ton SGA PT Antam (2014)

Produksi (2010)

15.490.356,83 ton

SGA PT Antam (2014)

SGA PT Antam (2014)

4.000.000

ton

CGA PT Antam (2014)

CGA PT Antam (2014)

1.100.000

ton

Harita Prima Abadi (2014)

Harita Prima Abadi (2014)

2.000.000

ton

8.390.357 ton (Belum diolah dan dimurnikan) BAUKSIT
8.390.357 ton
(Belum diolah dan dimurnikan)
BAUKSIT
ton Harita Prima Abadi (2014) 2.000.000 ton 8.390.357 ton (Belum diolah dan dimurnikan) BAUKSIT
ton Harita Prima Abadi (2014) 2.000.000 ton 8.390.357 ton (Belum diolah dan dimurnikan) BAUKSIT
C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)
C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)

C. MATERIAL BALANCE NIKEL

C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)
C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)

EKSISTING C. MATERIAL BALANCE NIKEL RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010) 26.380.000

C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)
C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)

RENCANA

C. MATERIAL BALANCE NIKEL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010)

Sumber Daya

2.633.500.434 ton

Cadangan

576.914.000 ton

Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010) 26.380.000 ton FeNi PT. Antam 2.950.000
Sumber Daya 2.633.500.434 ton Cadangan 576.914.000 ton Produksi (2010) 26.380.000 ton FeNi PT. Antam 2.950.000

Produksi (2010)

26.380.000 ton

FeNi PT. Antam

2.950.000 ton

Ni in Matte PT. INCO

6.080.000 ton

Weda Bay nickel (2016)

Weda Bay nickel (2016)

6.000.000

ton

NPI PT. Antam (2014)

NPI PT. Antam (2014)

1.200.000

ton

FeNi PT Antam (2014)

FeNi PT Antam (2014)

2.950.000

ton

7.500.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) NIKEL
7.500.000 ton
(Belum diolah dan dimurnikan)
NIKEL
1.200.000 ton FeNi PT Antam (2014) 2.950.000 ton 7.500.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) NIKEL
1.200.000 ton FeNi PT Antam (2014) 2.950.000 ton 7.500.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) NIKEL
E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi
E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi

E. MATERIAL BALANCE MANGAN

E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010)
E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010)

NIHIL

EKSISTING E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010) 610.000

E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010)
E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010)

RENCANA

E. MATERIAL BALANCE MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010)

Sumber Daya

11.195.341 ton

MANGAN NIHIL EKSISTING RENCANA Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010) 610.000 ton PT.

Cadangan

4.078.029 ton

Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010) 610.000 ton PT. Sumber Bumi Kalbar
Sumber Daya 11.195.341 ton Cadangan 4.078.029 ton Produksi (2010) 610.000 ton PT. Sumber Bumi Kalbar

Produksi (2010)

610.000 ton

PT. Sumber Bumi Kalbar

360.000 ton

PT. AGB/Hyundai

Dalam Tahap Survey

250.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) MANGAN
250.000 ton
(Belum diolah dan dimurnikan)
MANGAN
Bumi Kalbar 360.000 ton PT. AGB/Hyundai Dalam Tahap Survey 250.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) MANGAN
Bumi Kalbar 360.000 ton PT. AGB/Hyundai Dalam Tahap Survey 250.000 ton (Belum diolah dan dimurnikan) MANGAN
PP No.52/2011
PP No.52/2011
PP No.52/2011
PP No.52/2011
PP No.52/2011
PP No.52/2011
PP No. 52/2011  PP No. 52/2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No 1/2007

PP No. 52/2011

PP No. 52/2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No 1/2007

tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang

Usaha Tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah Tertentu, terbit pada 22 Desember

2011.

Ketentuan Dalam PP No. 52/2011:

Pemerintah mensyaratkan penerima insentif merealisasikan investasi minimal

80%.

Wajib pajak yang telah memiliki izin penanaman modal sebelum PP berlaku, dapat tetap menerima insentif jika memiliki rencana penanaman modal paling

sedikit Rp. 1 triliun (Perusahaan lama tapi tidak lebih dari 12 bulan).

Wajib pajak yang telah mendapatkan keputusan tax allowance sesuai dengan PP. No. 1/2007, tidak perlu merealisasikan rencana penanaman modal hingga

80%

keputusan tax allowance sesuai dengan PP. No. 1/2007, tidak perlu merealisasikan rencana penanaman modal hingga 80%
keputusan tax allowance sesuai dengan PP. No. 1/2007, tidak perlu merealisasikan rencana penanaman modal hingga 80%
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN  Fasilitas pajak penghasilan, meliputi :  Pengurangan penghasilan neto sebesar 30%

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN

Fasilitas pajak penghasilan, meliputi :

Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah penanaman modal dibebankan selama 6 tahun masing-masing sebesar 5%/tahun Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat sebagai berikut :

Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat sebagai berikut : Kelompok Aktiva Tetap berwujud   Masa manfaat

Kelompok Aktiva Tetap berwujud

 

Masa manfaat menjadi

Tarif penyusutan dan amortisasi berdasarkan metode

 

Garis Lurus

Saldo Menurun

I. Bukan bangunan :

     

Kelompok I

2 Tahun

50%

100% (dibebankan

sekaligus)

Kelompok II

4

Tahun

25%

50%

Kelompok III

8

Tahun

12,5%

25%

Kelompok IV

10

tahun

10%

20%

II. Bangunan

     

Permanen

10

Tahun

10%

-

Tidak permanen

5

tahun

20%

-

II. Bangunan       Permanen 10 Tahun 10% - Tidak permanen 5 tahun 20% -
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan )  Pengenaan pajak penghasilan atas dividen yang diabayarkan kepada subyek
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan )  Pengenaan pajak penghasilan atas dividen yang diabayarkan kepada subyek

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan )

Pengenaan pajak penghasilan atas dividen yang diabayarkan kepada subyek pajak luar negeri sebesar 10% atau tarif yang lebih rendah menurut persetujuan penghindaran pajak berganda yang berlaku; dan

Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 tahun tetapi tidak lebih dari 10 tahun dengan ketentuan :

a. Tambahan 1 tahun : apabila penanaman modal baru pada bidang usaha yang diatur pada ayat 1 huruf a dilakukan di kawasan industri dan kawasan terikat

b. Tambahan 1 tahun : apabila mempekerjakan sekurang-kurangnya 500 orang tenaga kerja Indonesia selama 5 tahun berturut-turt

c. Tambahan 1 tahun apabila penanaman modal baru memerlukan innvestasi/pengeluaran untuk infrastruktur ekonomi dan sosial dilokasi usaha paling sedikit Rp 10 Milyar

baru memerlukan innvestasi/pengeluaran untuk infrastruktur ekonomi dan sosial dilokasi usaha paling sedikit Rp 10 Milyar
baru memerlukan innvestasi/pengeluaran untuk infrastruktur ekonomi dan sosial dilokasi usaha paling sedikit Rp 10 Milyar
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan ) d. Tambahan 1 tahun: apabila mengeluarkan biaya peneliitan dan pengembangan
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan ) d. Tambahan 1 tahun: apabila mengeluarkan biaya peneliitan dan pengembangan

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN (Lanjutan )

d. Tambahan 1 tahun: apabila mengeluarkan biaya peneliitan dan pengembangan di dalam negeri dalam rangka pengembangan produk atau efisiensi produksi paling sedikit 5% dri investasi jangka waktu lima tahun

dan/atau

e. Tambahan 1 tahun : apabila menggunakan bahan baku dan/atau komponen hasil produksi dalam negeri paling sedikit 70% sejak tahun ke-4

Fasilitas pajak penghasilan dapat dimanfaatkan setelah wajib pajak merealisasikan rencana penanaman modal paling sedikit 80%

pajak penghasilan dapat dimanfaatkan setelah wajib pajak merealisasikan rencana penanaman modal paling sedikit 80%
pajak penghasilan dapat dimanfaatkan setelah wajib pajak merealisasikan rencana penanaman modal paling sedikit 80%

Bidang Usaha Tertentu yang Mendapat Insentif (PP 52/2011)

           Pertanian tanaman, peternakan, perburuan
Pertanian tanaman, peternakan, perburuan
dan kegiatan terkait
Kehutanan dan penebangan kayu
Pertambangan batubara dan lignit
Pertambangan minyak, gas alam dan
panas bumi
Industri makanan
Industri tekstil
Industri bahan kimia
Industri karet
 Industri bahan kosmetik
Industri farmasi
Industri logam dasar
Industri barang logam
farmasi Industri logam dasar Industri barang logam • Industri elektronik • Industri peralatan listrik

Industri elektronik

Industri peralatan listrik

Industri mesin

Industri kendaraan

Industri alat angkut lain

Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan

Pengadaan air

Pengolahan sampah dan daur ulang

Kontruksi bangunan sipil

melalui

Angkutan

darat

dan

angkutan

saluran pipa

Kegiatan pemrograman komputer

realestat

melalui • Angkutan darat dan angkutan saluran pipa • Kegiatan pemrograman komputer • realestat
Bidang Usaha Tertentu dan Daerah Tertentu (PP 52/2011)  Pertanian tanaman, peternakan, perburuan dan kegiatan
Bidang Usaha Tertentu dan Daerah Tertentu (PP 52/2011)  Pertanian tanaman, peternakan, perburuan dan kegiatan

Bidang Usaha Tertentu dan Daerah Tertentu (PP 52/2011)

Pertanian tanaman, peternakan, perburuan dan kegiatan terkait

Jasa reparasi dan pemasangan

mesin dan peralatan

Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki

Perikanan

Pertambangan batubara

Pertambangan bijih logam

Industri barang galian bukan logam

Industri makanan

Industri barang galian bukan logam  Industri makanan  Industri Tekstil  Industri kertas  Industri

Industri Tekstil

Industri kertas Industri bahan kimia

Industri logam dasar

Industri alat angkutan

Pengolahan limbah

Konstruksi bangunan sipil

Pergudangan dan jasa penunjang angkutan

alat angkutan  Pengolahan limbah  Konstruksi bangunan sipil  Pergudangan dan jasa penunjang angkutan

Bidang Usaha Dari Subsektor Minerba Yang Masuk Daftar Penerima Tax Allowance dan Juga Masuk menikmati Pembebasan Pajak (tax holiday)

No

Bidang Usaha

Cakupan Produk

Persyaratan

Pertambangan batubara dan lignit

Gasifikasi batubara di lokasi

penambangan

Coal Gasification

untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Industri logam dasar

Pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar, khususnya pengolahan bijih besi (besi kasar/ pig iron, besi sponge).

Besi dan Baja paduan (stainless

steel slab dan stainless steel billet

melakukan alih teknologi

Industri mesin penambangan, penggalian dan konstruksi

Industri alat besar

Investasi Rp 100 M Tenaga Kerja ≥ 100 orang untuk investasi baru, atau ≥ 50 orang untuk perluasan

Penggunaan komponen lokal

40%

Kerja ≥ 100 orang untuk investasi baru, atau ≥ 50 orang untuk perluasan  Penggunaan komponen
Kerja ≥ 100 orang untuk investasi baru, atau ≥ 50 orang untuk perluasan  Penggunaan komponen

Bidang Usaha Dari Subsektor Minerba Yang Masuk Daftar Penerima Tax Allowance dan Juga Masuk menikmati Pembebasan Pajak (tax holiday)

No Bidang Usaha Cakupan Produk Lokasi Persyaratan 1 Pertambangan Batubara Pemanfaatan batubara untuk energi
No
Bidang Usaha
Cakupan Produk
Lokasi
Persyaratan
1
Pertambangan
Batubara
Pemanfaatan batubara
untuk energi liquefaction
Kalimantan selatan,
Kalimantan tiimur,
kalimantan tengah, Jambi,
Bengkulu, Sumatera
Selatan, Sumatera Barat,
Riau, Aceh
2
Pertambangan Pasir
Besi
Pengolahan dan
Pemurnian Logam Pasir
Besi
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru
3
Pertambangan Bijih
Pengolahan dan
Seluruh Provinsi kecuali
Pembangunan dan
Besi
Pemurnian Logam Bijih
Besi
pulau jawa
perluasan smelter
baru
4
Pertambangan Bijih
Uranium dan Thorium
Pengolahan dan
Pemurnian bijih Logam
Bijih Uranium dan
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru
Thorium
5
Pertambangan Bijih
Timah
Pengolahan dan
Pemurnian logam bijih
timah
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru

Bidang Usaha Dari Subsektor Minerba Yang Masuk Daftar Penerima Tax Allowance dan Juga Masuk menikmati Pembebasan Pajak (tax holiday)

No Bidang Usaha Cakupan Produk Lokasi Persyaratan 6 Pertambangan Timah Hitam Pengolahan dan Pemurnian Logam
No
Bidang Usaha
Cakupan Produk
Lokasi
Persyaratan
6
Pertambangan Timah
Hitam
Pengolahan dan
Pemurnian Logam bijih
timah
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru
7
Pertambangan Bijih
Pengolahan dan
Seluruh Provinsi kecuali
Pembangunan dan
Bauksit
Pemurnian Logam Bijih
pulau jawa
perluasan smelter
Bauksit
baru
8
Pertambangan Bijih
Tembaga
Pengolahan dan
Pemurnian logam bijih
tembaga
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru
9
Pertambangan Bijih
Pengolahan dan
Seluruh Provinsi kecuali
Pembangunan dan
Nikel
Pemurnian logam bijih
nikel
pulau jawa
perluasan smelter
baru
10
Pertambangan Bijih
Mangan
Pengolahan dan
Pemurnian logam bijih
Mangan
Seluruh Provinsi kecuali
pulau jawa
Pembangunan dan
perluasan smelter
baru
11
Pertambangan bahan
Pengolahan dan
Seluruh Provinsi kecuali
Pembangunan dan
galian lainnya yang
tidak mengandung
pemurnian Bijih Zink dan
Bijih Zircon
pulau jawa
perluasan smelter
baru
bijih besi
III.D. PENINGKATAN NILAI TAMBAH
III.D. PENINGKATAN NILAI TAMBAH

Dasar Hukum

Kondisi Saat Ini

Permasalahan

Tindak Lanjut

UU No 4/2009 :

1. Pasal 102 “IUP dan IUPK

wajib meningkatkan nilai

tambah dalam penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan mineral dan batubara”

2. Pasal 103 ayat (1) “IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri”

3. Pasal 170 “KK yang sudah

berproduksi wajib melakukan

pemurnian paling lambat 5 tahun sejak UU diundangkan”

1.

Masih terdapat mineral yang

langsung diekspor :

bijih besi, pasir besi, bauksit, & mangan

2.

70% konsentrat tembaga masih

dieksport

3.

Nikel sebagian telah diproses menjadi ferronickel dan nickel matte

4.

Emas, Perak dan

timah seluruhnya telah diproses di

dalam negeri

1. Belum ada ketentuan tentang batasan kadar

minimum yang boleh

dieksport

2. Pabrik pengolahan dan pemurnian masih terbatas.

3. Kekhawatiran terbatasnya pasokan bahan baku dalam negeri dimasa yang akan datang

1. Penetapan batasan kadar minimum untuk ekspor

(Permen ESDM tentang

Peningkatan Nilai Tambah Mineral).

2. Pengendalian eksport untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dimasa

mendatang (DMO)

3. Koordinasi dengan intansi terkait untuk memfasilitasi pembagunan pabrik pengolahan dan pemurnian

a.l. : Kemenko

Perekonomian, Kemenkeu,

Kemenperin, dan Kemenperdag

pembagunan pabrik pengolahan dan pemurnian a.l. : Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, Kemenperin, dan Kemenperdag
pembagunan pabrik pengolahan dan pemurnian a.l. : Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, Kemenperin, dan Kemenperdag

II. KONDISI SAAT INI

II.1 SEBARAN POTENSI MINERAL

II. KONDISI SAAT INI II.1 SEBARAN POTENSI MINERAL Ferro and Associates , a.l. : Besi, Nikel,
Ferro and Associates , a.l. : Besi, Nikel, Kobalt, Kromit , Mangan, Molibdenum, Titan Precious
Ferro and Associates , a.l. : Besi, Nikel, Kobalt, Kromit , Mangan, Molibdenum, Titan
Precious Metal, a.l. : Emas, Perak, Platina
Base Metal , a.l. : Seng, Tembaga, Timah, Timbal, Air raksa
Rare metal, a.l. : Bauksit, Monasit

II. KONDISI SAAT INI

II. KONDISI SAAT INI II.2 SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA 1 % 13 % 20 % 66

II.2 SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA

1 % 13 % 20 % 66 % Distribusi Kualitas Sumberdaya Sumberdaya total 105 Miliar
1 %
13 %
20 %
66 %
Distribusi Kualitas Sumberdaya
Sumberdaya total
105 Miliar Ton
Cadangan Total
21 Miliar Ton

Sumber: Badan Geologi, 2010

Cadangan Total 21 Miliar Ton Sumber: Badan Geologi, 2010 Sangat Tinggi (anthrasit) ( > 7.100 kal/gr
Cadangan Total 21 Miliar Ton Sumber: Badan Geologi, 2010 Sangat Tinggi (anthrasit) ( > 7.100 kal/gr

Sangat Tinggi (anthrasit) ( > 7.100 kal/gr ) (Bituminus) ( 6.100 - 7.100 kal/gr )

( > 7.100 kal/gr ) (Bituminus) ( 6.100 - 7.100 kal/gr ) Sedang (Sub Bituminus)( 5100
( > 7.100 kal/gr ) (Bituminus) ( 6.100 - 7.100 kal/gr ) Sedang (Sub Bituminus)( 5100

Sedang (Sub Bituminus)( 5100 - 6100 kal/gr ) Tinggi Rendah (Lignite) ( < 5.100 kal/gr )

( 6.100 - 7.100 kal/gr ) Sedang (Sub Bituminus)( 5100 - 6100 kal/gr ) Tinggi Rendah
( 6.100 - 7.100 kal/gr ) Sedang (Sub Bituminus)( 5100 - 6100 kal/gr ) Tinggi Rendah

II. KONDISI SAAT INI

II.3 PRODUKSI MINERAL : EKSPOR DAN DOMESTIK

       

2009

 

2010

 

2011

 

2012

No

Komoditas

Unit

Produksi

Ekspor

Domestik

Produksi

Ekspor

Domestik

Produksi

Ekspor

Domestik

Produksi

Ekspor

Domestik

1

Tembaga

Ribu Ton

999

703

287

878

612

228

482

310

193

674

431

418

2

Emas

Ton

129

104

33

105

81

22

63

51

19

66

53

25

3

Perak

Ton

328

306

83

279

227

63

170

148

51

250

218

85

 

Ni+Co in

                         

4

Matte

Ribu Ton

68

61

0

77

77

0

72

68

0

71

72

0

5

Timah

Ribu Ton

60

65

0

48

47

0

54

52

0

72

72

0

6

Bijih Nikel

Juta Ton

6,1

5

0

7,5

6,4

0

32,9

32,6

0

34,0

34,0

0

7

Ferronikel

Ribu Ton

13

14

0

19

18

0

18

18

0

19

19

0

8

Bauksit

Juta Ton

5,4

4,7

0,2

15,6

15,2

0

40,7

39,7

0,03

10

10

0

9

Bijih Besi

Juta Ton

5,2

5,1

0

3,9

3,9

0

13,1

12,8

0

5

5

0

10 10 0 9 Bijih Besi Juta Ton 5,2 5,1 0 3,9 3,9 0 13,1 12,8
10 10 0 9 Bijih Besi Juta Ton 5,2 5,1 0 3,9 3,9 0 13,1 12,8

II. KONDISI SAAT INI

II.4 PRODUKSI, EKSPOR, DAN PENJUALAN DOMESTIK BATUBARA

Realisasi Rencana
Realisasi
Rencana

II. KONDISI SAAT INI

II.5 PENERIMAAN NEGARA DARI PERTAMBANGAN

II. KONDISI SAAT INI II.5 PENERIMAAN NEGARA DARI PERTAMBANGAN     Realisasi     Rencana 2004
   

Realisasi

   

Rencana

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

PNBP 2,6 4,8 6,7 8,7 12,5 15,3 18,6 24,7 27,2 29,9 32,9

PNBP

2,6

4,8

6,7

8,7

12,5

15,3

18,6

24,7

27,2

29,9

32,9

(RpTriliun)

Pajak 6,4 12,8 23,2 29,3 35,4 36,1 48,3 55,0 81,7 89,9 98,9

Pajak

6,4

12,8

23,2

29,3

35,4

36,1

48,3

55,0

81,7

89,9

98,9

(Rp Triliun)

Total

9,0

17,6

29,8

38,0

47,9

51,4

66,8

79,7

108,9

119,8

131,9

98,9 (Rp Triliun) Total 9,0 17,6 29,8 38,0 47,9 51,4 66,8 79,7 108,9 119,8 131,9
98,9 (Rp Triliun) Total 9,0 17,6 29,8 38,0 47,9 51,4 66,8 79,7 108,9 119,8 131,9

KERANGKA ROAD MAP SUPPLY - DEMAND KEBUTUHAN ENERGI BERBASIS BATUBARA UNTUK SMELTER

Smelter Eksisting

7 lokasi;

Kapasitas 0,73 t/th;

Rencana Smelter

13 lokasi;

Kapasitas 2,37 Jt t/th;

Rencana Smelter lainnya (UKM/ IUP) ??

Batubara bisa sebagai:

Power plant (batubara

kalori rendah);

Energi Blast Furnace (briket batubara

karbonisasi dan/

kokas);

Reduktor (batubara

2011 2012 2013 2014 2015 2016
2011
2012
2013
2014
2015
2016
Inventarisasi IUP Logam dan Rencana Lokasi Smelter UKM Pemetaan & Evaluasi Penetapan Rencana Lokasi &
Inventarisasi IUP Logam dan
Rencana Lokasi Smelter
UKM
Pemetaan & Evaluasi
Penetapan Rencana Lokasi & Konstruksi – Operasional Smelter
UKM
distribusi Batubara unt
Supplay Smelter
Penetapan Teknologi Smelter
Pelaksanaan kebijakan DMO pasokan batubara & mineral untuk
smelter
Invetarisasi & Evaluasi
Kebutuhan Energi bagi
Smelter
Spesifikasi dan Jumlah
Produksi Energi Secara Komersial dengan Peningkatan Kapasitas
Secara Bertahap.
Energi Terintegrasi untuk
Smelter
Kajian – Penetapan & Pembangunan Infrastruktur
Konsep & Penetapan Supplay –Demand Eneri
Smelter
Aplikasi Hasil Kegiatan Di Lapangan & Studi Banding
Koordinasi, Harmonisasi Program, Sosialisasi, Monitoring & Laporan Terintegrasi
Di Lapangan & Studi Banding Koordinasi, Harmonisasi Program, Sosialisasi, Monitoring & Laporan Terintegrasi
Di Lapangan & Studi Banding Koordinasi, Harmonisasi Program, Sosialisasi, Monitoring & Laporan Terintegrasi

DISTRIBUSI IUP MANGAAN & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Direncanakan ada 2 lokasi Smelter UKM Mangan (Pontianak, Tangeran dan Pacitan), dengan kapasitas produksi @
Direncanakan ada 2 lokasi Smelter UKM Mangan (Pontianak, Tangeran dan Pacitan), dengan kapasitas
produksi @ ……… ton/tahun bijih & batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi
……………
EKS
O P
1
EKS
O P
6
1
EKS
O P
EKS
O P
1 5
11 3
EKS
O
P
4
3
EKS
O P
EKS
O P
1
1
1 6
EKS
O P
EKS
O P
13 6
4
EKS
O P
1

EKS

3

O P

14

EKS

EKS O P 1 EKS O P 11 2 EKS O P 2 EKS O
EKS
O P
1
EKS
O P
11
2
EKS
O P
2
EKS
O P
18 9
EKS
O P
PROD (Ton/Th)
193
37
43.000
2 EKS O P 18 9 EKS O P PROD (Ton/Th) 193 37 43.000 O P

O P

23

EKS O P 9 3 EKS O P 2 36
EKS
O P
9 3
EKS
O P
2 36
193 37 43.000 O P 23 EKS O P 9 3 EKS O P 2 36

: Rencana Smelter UKM

: Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter

: :
:
:

Pelabuhan

O P 9 3 EKS O P 2 36 : Rencana Smelter UKM : Jalur distribusi

Smelter MP3EI

DISTRIBUSI IUP BAUKSIT & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Rencana distribusi batubara ke Smelter Bauksit

Direncanakan ada 2 lokasi Smelter UKM Bauksit (Kepri dan Pontianak), dengan kapasitas produksi @

……… ton/tahun bijih & batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi ……………

EKS O P PROD (Ton/Th) 9 15 9,1 jt EKS O P PROD (Ton/Th) 119
EKS
O P
PROD (Ton/Th)
9
15
9,1 jt
EKS
O P
PROD (Ton/Th)
119
31
9.2 jt
EKS
O P
7 11
EKS
O P
2
4

: Eksisting Smelter(Ton/Th) 119 31 9.2 jt EKS O P 7 11 EKS O P 2 4 :

: Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter9.2 jt EKS O P 7 11 EKS O P 2 4 : Eksisting Smelter : 9.2 jt EKS O P 7 11 EKS O P 2 4 : Eksisting Smelter :

Smelter : Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter : Rencana Smelter UKM : : P e

: Rencana Smelter UKM

Smelter : Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter : Rencana Smelter UKM : : P e
: :
:
:

Pelabuhan

Smelter : Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter : Rencana Smelter UKM : : P e

Smelter MP3EI

DISTRIBUSI IUP TIMBAL & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Direncanakan ada 1 lokasi Smelter UKM Timbal (Bogor), dengan kapasitas produksi ……… ton/tahun bijih & batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi ……………

KUALITAS (Adb)

PKP2B/IUP Sumatera

TM (%)

TS (%)

Abu (%)

FC (%)

CV (kcal/gr)

PT. Bukit Asam

8 - 18

0,15 - 1,79

3 - 20

0

7000

EKS O P 4 EKS O P 1 EKS O P EKS O P 1
EKS
O P
4
EKS
O P
1
EKS
O P
EKS
O P
1
EKS
O P
4
4
EKS
O P
2
1
2
EKS
O P
EKS
O P
EKS
O P
3
6
2
1
1
EKS
O P
EKS
O P
1
1
EKS
O P
2
1
11
EKS
O P
2
1
EKS
O
P
EKS
O P
EKS
O P
1
4 EKS
O P
6
2
4 32
EKS
O P
1
1
EKS
O P
1 3
P 1 4 EKS O P 6 2 4 32 EKS O P 1 1 EKS
EKS O P 1
EKS
O P
1
O P 6 2 4 32 EKS O P 1 1 EKS O P 1 3

: Rencana Smelter UKM

: Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter

EKS O P 3 1
EKS
O P
3
1
EKS O P 1 3 EKS O P 1 : Rencana Smelter UKM : Jalur distribusi
EKS O P 1 3 EKS O P 1 : Rencana Smelter UKM : Jalur distribusi

: Pelabuhan

DISTRIBUSI IUP NIKEL & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Direncanakan ada 1 lokasi Smelter UKM Nikel (Ternate dan Palu) , dengan kapasitas produksi ………
Direncanakan ada 1 lokasi Smelter UKM Nikel (Ternate dan Palu) , dengan kapasitas produksi ………
Rencana distribusi batubara ke Smelter Nikel
ton/tahun bijih & batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi ……………
EKS
O P
EKS
O P
6
1
EKS
O P
1
PROD
EKS
O P
(Ton/Th)
68 40
0,1 jt
PROD
PROD
EKS
O P
(Ton/Th)
EKS
O P
(Ton/Th)
13
1 0,85 jt
EKS
O P
202 35
3,1
jt
3
2
EKS
O P
PROD (Ton/Th)
118
61
3,9 jt
EKS
O P
13
2
EKS
O P
1
EKS
O P
1
: Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter
:
Pelabuhan
: Eksisting Smelter
: PT. Antam, Tbk
:
Smelter MP3EI
: Kontrak Karya (INCO)
: Rencana Smelter UKM

DISTRIBUSI IUP BIJIH DAN PASIR BESI & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Rencana distribusi batubara ke Smelter Nikel

Direncanakan ada 3 lokasi Smelter UKM Besi (Lampung, Ketapang, Ternate), dengan kapasitas produksi ……… ton/tahun

bijih & batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi ……………

KUALITAS (Adb) PKP2B/IUP Sumatera TM (%) TS (%) Abu (%) FC (%) CV (kcal/gr) PT.
KUALITAS (Adb)
PKP2B/IUP Sumatera
TM (%)
TS (%)
Abu (%)
FC (%)
CV (kcal/gr)
PT. Bukit Asam
8 - 18
0,15 - 1,79
3 - 20
0 7000
EKS
O P
4
EKS
O P
EKS
O P
1 23
54 16
EKS
O P
EKS
O P
12
5
EKS
O P
EKS
O P
30 32
1
2
5
EKS
O P
EKS
O P
4
7 3
EKS
O P
EKS
O P
EKS
O P
4
6
1
EKS
O P
3
21 29
EKS
O P
EKS
O P
2 16
12 6
EKS
O P
Bijih
1 1
EKS
O P
EKS
O P
Bijih
1
Bijih
1
EKS
O P
Bijih
1
3
Pasir
4
1
EKS
O P
5
1
: :
:
:

Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter

Rencana Smelter UKM

: :
:
:

Pelabuhan

4 1 EKS O P 5 1 : : Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter Rencana

Smelter MP3EI

DISTRIBUSI IUP TEMBAGA & SUPPLAY BATUBARA BAGI RENCANA SMELTER UKM

Rencana distribusi batubara ke Smelter Nikel

Direncanakan ada 2 lokasi Smelter UKM Tembaga (Pacitan, Padang), dengan kapasitas produksi ……… ton/tahun bijih &

batubara yang diperlukan …………. ton/tahun dengan spesifikasi ……………

KUALITAS (Adb) PKP2B/IUP Sumatera TM (%) TS (%) Abu (%) FC (%) CV (kcal/gr) PT.
KUALITAS (Adb)
PKP2B/IUP Sumatera
TM (%)
TS (%)
Abu (%)
FC (%)
CV (kcal/gr)
PT. Bukit Asam
8 - 18
0,15 - 1,79
3 - 20
0 7000
EKS
O P
4
EKS
O P
EKS
O P
4
2
6
EKS
O P
EKS
O P
1
10
EKS
O P
EKS
O P
EKS
O P
2
4
1
3 6
EKS
O P
4 9
EKS
O P
EKS
O P
EKS
O P
3
6
20
EKS
O P
1
EKS
O P
EKS
O P
4 9
1 9
EKS
O P
2
EKS
O P
3
: :
:
:

Pelabuhan

Smelter MP3EI

1 9 EKS O P 2 EKS O P 3 : : Pelabuhan Smelter MP3EI :

: Eksisting Smelter

: Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter

: Rencana Smelter UKM

EKS O P 3
EKS
O P
3
Smelter MP3EI : Eksisting Smelter : Jalur distribusi dari perusahaan ke smelter : Rencana Smelter UKM