Anda di halaman 1dari 9

PENGANTAR FARMAKOLOGI

A. PENGERTIAN FARMAKOLOGI

Farmakologi berasal dari kata pharmacon (obat) dan logos (ilmu pengetahuan).
Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat dan cara kerjanya pada
system biologis.
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau
hewan yang dapat digunakan sebagai obat.
Farmasi adalah bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu
kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan
keamanan penggunaan obat. Profesional bidang farmasis disebut farmasis atau apoteker.
Farmakologi Klinik adalah ilmu farmakologi yang mempelajari pengaruh kondisi klinis
pasien terhadap efikasi obat, misalkan kondisi hamil dan menyusui, neonates dan anak,
geriatric, inefisiensi ginjal dan hepar.
Farmakologi Terapi atau sering disebut farmakoterapi adalah ilmu yang mempelajari
pemanfaatan obat untuk tujuan terapi.
Toksikologi adalah pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang
merugikan bagi organisme hidup.

B. PERKEMBANGAN OBAT
Pada zaman dahulu setelah ditemukannya obat,obat yang pertama digunakan ialah obat
yang berasal dari tanaman yang lebih dikenal dengan sebutan obat tradisional (jamu). Obat
nabati ini digunakan sebagai rebusan atau ekstrak dengan aktivitas yang seringkali berbedabeda tergantung dari asal tanaman dan cara pembuatannya.

Perkembangan sintetis obat baru dimulai pada abad XX dengan dibuatnya sintetissintetis seperti:asetosal disusul kemudian dengan sejumlah zat-zat lainnya.pendrobakan sejati
baru dicapai dengan penemuan dan penggunaan obat-obat kemoterapetik sulfanilamide(1935)
dan penisilin(1940).sejak tahun 1945 ilmu kimia,fisika dan kedokteran berkembang dengan
pesat dan hal ini menguntungkan sekali bagi penyelidikan yang sistematis dari obat-obat
baru.penemuan-penemuan baru menghasilkan lebih 500 macam obat setiap
tahunnya,sehingga obat-obat kuno makin terdesak oleh obat-obat baru, kebanyakan obat-obat
yang digunakan ditemukan sekitar 20 tahun yang lalu,sedangkan obat-obat kuno ditinggalkan
dan diganti dengan obat modern tersebut.
C. PENGGOLONGAN OBAT
1. Obat bebas

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep
docter.Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis
tepi berwarna hitam.
Contoh : Parasetamol
2. Obat bebas terbatas
Obat bebas tebatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat
dijual atau dibeli tanpa resep docter,dan disertai dengan tanda peringatan.Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna
hitam.
Contoh : CTM
3. Obat keras dan psikotropika
Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep docter.Tanda
khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi
berwarna hitam.
Contoh:Asam Mefenamat
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah sinetis bukan narkotika,yang
berkhasiat psikoatif melalui pengaruh selektif pada sususan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh : Diazepam, Phenobarbital
4. Obat narkotika
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetik
maupun semi sintetik yang dapat menyebabkan penurunan dan perubahan

kesadaran,hilangnya rasa,mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan


ketergantungan
Contoh : Morfin, Petidin
Hal ini dianggap kurang memuaskan, maka lambat laun ahli kimia mencoba
mengisolasi zat-zat aktif yang terkandung dalam tanaman, sehingga menghasilkan
serangkaian zat-zat kimia sebagai obat.
Misalnya : Efedrin dari tanaman Ephedra vulgaris, Atropin dari Atropa belladonna, Morfin
dari Papaver somniferum, Digoksin dari Digitalis lanata, Reserpin dari Rauwolfia serpentine.
D. OBAT GENERIC

Obat generic adalah yaitu obat generic bermerek dagang dan obat generic berlogo yang
dipasarkan dengan merek kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Zat aktif amoxicillin
misalnya, oleh pabrik A diberi merek inemicillin, sedangkan pabrik B member nama
gatoticillin dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut,
bahannya sama amoxixillin.
Dari sisi zat aktifnya(komponen utama obat),antara obat generic baik berlogo generic
lebih murah dibandingkan obat yang dipatenkan.
Mutu obat generic tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama.Ibarat
sebuah baju,fungsi asarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara
dingin.Hanya saja,modelnya beraneka ragam.Begitu pula dengan obat.Generik kemasannya
dibuat biasa,karena yang terpenting bias melindungi produk yang ada
didalamnya.Namun,yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan
berbagai warna.Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal.
E. OBAT ESENSIAL

Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi
masyarakat terbanyak.
F. SEDIAAN FARMASI

Sediaan farmasi tidak hanya obat, tetapi juga meliputi obat tradisional dan
kosmetika. Ketentuan ini tercantum dalam pasal 40 UU no. 23/1992tentang kesehatan. Untuk
lebih mengetahui sediaan farmasi, dibawah ini dibahas secara singkat tentang obat
traddisional dan kosmetika.
1.

Obat Tradisional
Obat tradisional sering disebut obat bahan alam yang diproduksi di Indonesia.
Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat,
obat bahan alam dikelompokkan menjadi :
a. Jamu
Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapakan, klaim
khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris, dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
Jenis klaim penggunaan harus diwakili dengan kata-kata: secara tradisional digunakan
untuk . . . atau sesuai dengan yang disetujui pada pendaftaran.

b. Obat Herbal Terstandar


Obat herbal terstandar harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan. Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/pra klinik, telah dilakukan standarisasi
terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi.
c. Fitofarmaka
Fitofarmaka harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan,
klaim khasiat dibuktikan dengan uji klinik, telah dilakukan standarisas terhadap bahan baku
yang digunakan dalam produk jadi.
2.

Kosmetika
Kosmetika ialah bahan baku atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh (epidermis, rambut, kuku bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan
mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, dan atau
memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik. Kosmetik
yang diproduksi atau diedarkan harus memenuhi persyaratan : menggunakan bahan yang
memenuhi standar mutu serta persyaratan lain yang ditetapkan, diproduksi dengan mengikuti
aturan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), terdaftar pada, dan mendapatkan ijin
edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) .
Berdasarkan bahan dan penggunaannya serta untuk maksud evaluasi produk, kosmetik dibagi
2 golongan :

a.

Kosmetik golongan I, yaitu


Kosmetik yang digunakan untuk bayi,
Kosmetik yang digunakan sekitar mata, rongga mulut, dan mukosa lainnya,
Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan, dan
Kosmetik mengandung bahan yang fungsinya belum lazim serta belum diketahui keamanan
dan kemanfaatannya.
b. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I

G. POSOLOGI

Posologi adalah ilmu yang membahas bentuk sedian obat ,cara pemberian,perhitungan
dosis dan frekuensi pemberian obat. Paramedik perlu mempelajari posologi supaya dapat
membantunya memberikan obat secara rasional .Yaitu pemberian obat yang tepat pada
pasien, tepat obat, tepat waktu, tepat dosis, dan tepat dosis, dan tepat rute serta tepat
dokumentasi.
1. Bentuk Sediaan Obat
Bentuk sedian obat dibagi menjadi sedain padat ,semi padat, cair,dan gas.
a. Sediaan padat.
1) Pulvis/pulveres/Serbuk

Pulvis (serbuk) ialah campuran keringbahan obat atau zat kimia yang dihaluskan
ditujukan untuk obat dalanm atau luar. Pulveres adalah serbuk yang masing masing di
bungkus dengan pengemas yang cocok sekali minum.
2) Tablet
Ialah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi .Zat
tambahan berfungsi sebagai pengisi,pengmbang,pengikat,pelicin dan pembahas atau fungsi
lain yang cocok .Tablet bebentuk bulat pipih dengan berat antara 50 mg -2g,umumnya
sekitar 200-800 mg jenis tablet sangat ban yak ,misalnyas tablet salut ,tablet effervescent
tablet sub lingual,tablet lepas lambat ,dan lozenge.
3) Kapsul
Kapsul ialah sediaan padat yang trdiru dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut.Cangkang Kapsuil terbuat dari gelatin .pati atau bahn lain yang cocok.
4) Suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan
melalui rektal,vagina atau urethal. Sediaan ini dapat meleleh melunak atau melarut pada
suhu tubuh. Berdasarkan pemakainnya bentuk Suppositoria ada yang torpedo atau meruncing
dikedua ujungnya (Suppositoria anal ).Ovula yang bentuknya bulat atau bulat telur digunakan
melalui vagina.
5) Kaplet
Kaplet adalah tablet berbentuk seperti kapsul yang pembuatanya melalui kempa cetak.
6) Pellet
Sediaan tablet kecil ,sillindris ,dan steril yang pemakainya di tanam (inflantasi)
kedalam jaringan.
7) Lozenge
Adalah sedian tablet yang rasanya manis dan baunya enak yang penngunanya dihisap
dalam mulut
b. Sedian Setangah Padat
Ada beberapa sediaan setangah padat,yaitu unguenta (salep), cremones (krim), pasta, dan gel
(jelly).
1) Salep
Salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah di oleskan dan di gunakan sebagi
obat luar.
2) Krim

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulasi mengandung air tidak kurang atau
sama dengan (>)60% dan dimaksudkan obat luar.Umumnya digunakan didaer ah yang relatif
jarang terkana air karena krim mudah tercuci.
3) Pasta
Pasta adalah sediaan berupaa masa lembek yang di gunakan untuk pemakain
luar.Biasanya dibuat dengan mencampuir serbuk dalam jumlah >50% bagian dengan vaselin
atau parafin cair atau dengan bahan dasar yang tidak berlemak (gliserol,musilago atau sabun)
4) Jelli
Merupakan sedian suspensi setengah padat dari bahan organik atau
anogranik,mengandung air,dan di gunakan pada kulit yang peka atau berlendir (mukosa)
c.

Sediaan Cair

Adalah sedian cair yang mengandung bahan kimia terlarut,Kecuali dinyatakan lain,sebagai
pelarut digunakan air suling.Larutan bersifat homogen atau serba sama
1) Sirup
Suatu sediaan berupa larutan yang mengandung gula sukrosa.Kecuali dimyatakan lain
kadar gula tidak kurang dari 64% atau tidak lebih dari 66% sirup dengan kadar gula 65%
disebut sirup simplek yang digunakan sebagai origen saporis (pemanis)
2) Eliksir
Sediaan larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap,selai obat juga mengandung
bahs=an tambahan seperi gula,zat pemanis lainnya,zat warna, zat dan zat pengawet.Eliksir
digunakan sebagai obat dalam.Pelarut digunakan umumnya etanol karena dapat
meningkatkan kelarutan zat aktifnya.
3) Guttea (obat tetes)
Suatu sediaan cairan berupa larutan,emulasi atau suspensi digunakan baik untuk obat luar
atau obat dalam,dilengkapi alat penetes berskala (untuk obat dalam ) dan tidak berskala untuk
obat luar.Jika disebut obat tetes tanpa keterangan yang dimaksud adalah obat dalam.
4) Injeksi
Injeksi sediaan steril dan bebas pirogen yang berupa larutan, emulasi, suspensi, serbuk
yang dilarutkan atau disuspensikan lebih dulu sebelum digunakan. Penggunaan sediaan
injeksi disuntikan menggunakan spuit kedalam kulit, bawah kulit, otot atau intravena.
5) Enema
Enema adalah suatu larutan yang penngunanya melaluin rekum (anus). Kegunaan
sediaan enema antara lain untuk memudahkan buang air besar, mencegah kejang atau
mengurangi nyeri lokal.

6) Gargarisma
Yaitu berupa sediaan larutan relatif pekat yang di harus di encerkan sebelum di gunakan
(dikumurkan). Gargarisma umumnya digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi
tenggorokan.
7) Douche
Douche adalah larutan yang di gunakan secara langsung pada lubang tubuh,bermanfaat
sebagai pembersih atau antiseptik. Contoh douche adalah vaginal douche, eye douche,
pharingael douche, dan nasal douche.
8) Suspensi
Ialah sediaan cairan yang memgandunmg bahan obat berupa partikel halus yang tid ak
larut dan terdispresi dalam cairan pembawa. Dalam kemasaan sediaan suspensi diserta etiket
bertuliskan kocok dahulu sebelum digunakan, tujuan supaya partikel mengend ap
terdisperasi merata.
9) Emulsi
Emulsi merupakaan sedian yang mengandung bahan obat cair atau larutaan obat,
terdispersi dalam cair distabilkan dengaan emulagator yang sesuai. Emulsi merupakan
campuran zat berminyak dan berair. Dalam kemasannya, emulsi ada penjelasan kocok dahulu
sebelum digunakan supaya zat yang terpisah dapat tercampur merata kembali.
10) Infusa
Adalah sediaan cair yang di buat menyari simplisia nabati dengan air apnas (90 c)
selama 15 menit.
d. Sediaan Gas
Aerosol yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang di beri tekanan
.digunakan untuk obat luar atau obat dalam. Pemakaianya disedot melalui hidung atau mulut
atau disemprotkan dalam bentuk kabut ke saluran pernapasan.
a.

Gas

Biasanya berupa oksigen, obat anestesi atau zat yang digunakan untuk sterilisasi.
2. Cara Pemberian Obat

Paramedis mempunyai tanggungjawab yang besar berkaitan dengan pemberian obat.


Antaralain, harus mengecek mulai dari perintah melalui (telepon, resep, catatan medic),
frekuensi pemberian (jika perlu, 1 kali per hari atau 4 kali per hari), indikasi, dosis, dan jalur
pemberian. Setelah pengecekan, paramedic harus memastikan bahwa pemberian obat yang
diberikan mengikuti 6 benar atau tepat, yaitu tepat pasien, obat, waktu, dosis, jalur
pemberian, dan tepat dokumentasi.

a.

Tepat pasien

Pemberian obat yang tidak tepat pasien dapat terjadi, seperti pada saat ordernya lewat
telepon, pasien yang masuk beersamaan, kasus penyakinya sama, suasana dengan kusut atau
adanya pindahan pasien dari ruang satu ke ruang lainnya. Untuk mengurangi kejadian tidak
tidak tepat pasien dapat dilakukan antara lain :
1) Tanya nama pasien, dengan pertanyaan siapa namanya, bukan dengan pertanyaan
namanya Bapak Supardi?
2) Cek identifikasi pasien dalam bracelet, dan
3) Cek pasian pada papan nama di tempat tidur dan di pintu.

b. Tepat Obat
Untuk menjamin obat yang diberikan benar, label atau etiket harus dibaca dengan teliti setiap
akan membrikan obat. Label atau etiket yang perlu diteliti antara alin : nama obat, sediaan,
konsentrasi, dan cara pemberian serta expired date. Kesalahan pemberia obat sering terjadi
jika perawat memberika obat yang disiapkan oleh perawat lain atau pemberian obat melalui
wadah (spuit)tanpa identitas atau label yang jelas. Harus diusahakan obat yang akan
diberikan.

c.

Tepat Waktu

Pemberian obat berulang, lebih berpotensi menimbulkan pemberian obat yang tidak tepat
waktu. Misalnya pada kasus gawat darurat henti jantung, epinefrin diberikan setiap 3 5
menit, jika tidak dipatuhi akan menhasilkan kadar obat yang tidak sesuai. Kakurangan atau
kelebihan keduanya sangat berbahaya.termasuk tepat waktu juga mencakup tepat kecepatan
pemberian obat melalui injeksi (bolus atau lambat) atau pemberian melalui infuse.

d. Tepat Dosis
Dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan terapi atau timbul efek berbahaya.
Kesalahan dosis sering terjadi pada pasien anak anak, lansia, atau pada orang obesitas. Pada
pasien pasien tersebu para media harus mengerti cara mengkonversi dosisdari orang dewasa
normal.

e.

Tepat Rute

Jalur atau rute pemberian obat adalah jalur obat masuk ke dalam tubuh.

f.

Tepat Dokumentasi

Menurut beberapa ahli, dokumentasi merupaka begian dari pemberian obat yang rasional,
yaitu aspek atau tepat yang ke 6, yaitu seperti meliputi nama obat, dosis, jalur pemberian,
tempat pemberian alasan kenapa obat diberikan, dan tanda tangan orang yang memberikan.

3. Rute Pemberian Obat


Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang masuk kedalam
tubuh, sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi atau kemungkinan timbulnya efek
yang merugikan. Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enteral dan parenteral.
1. Jalur Enteral
Jalur Enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti
pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal, dan oral. Pemberian melaui oral merupakan
jalur pemberian obat paling banyak digunakan karena paling murah, paling mudah, dan
paling aman. Kerugian dari pemberian obat melalui jalur enteral adalah absorpsinya lambat,
tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menelan. Kebanyakan
obat diberikan melalui jalur ini, selain alasan diatas juga alsan kepraktisan dan tidak
menimbulkan rasa sakit. Bahkan dianjurkan jika obat dapat diberikan melalui jalur ini dan
tidak untuk kepentingan emergensi (obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral.
2. Jalur Parenteral
Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral adalah transdermal
(topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat kedalam trakea menggunakan endotrakeal
(pemberian obat kedalam trakea menggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian
obat melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau lokal. Tabel 1 merupakan
deskripsi cara pemberian obat, keuntungan, adn kerugiannya.