Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FAAL

TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI

Oleh :
Kelompok B-5
Ranita Rahmi Pramesti
(011311133206)
Sifana Zana Masyitha
(011311133214)
Yazid Yunantama Bakar
(011311133215)
Afi Citralikita Khairunnisa (011311133216)
Dwika Rasyid Firmanda
(011311133221)
S1 Pendidikan Dokter Angkatan 2013
Dosen Pembimbing :
Purwo Sri Rejeki, dr, M.Kes

I.

LABORATORIUM FAAL
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Teoritis


Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah
terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan sistol
adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah
dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel.
Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di
arteri sewaktu darah mengalir keluar ke pembuluh-pembuluh hilir
sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung

pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding


pembuluh darah.
Denyut jantung adalah jumlah denyutan jantung per satuan
waktu, biasanya per menit. Denyut jantung didasarkan pada jumlah
kontraksi ventrikel (bilik bawah jantung). Denyut jantung mungkin
terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia). Denyut nadi
adalah denyutan arteri dari gelombang darah yang mengalir melalui
pembuluh darah sebagai akibat dari denyutan jantung. Denyut nadi
biasanya diambil di pergelangan tangan (arteri radialis), fossa cubiti
(arteri brachialis), dan tengkuk (arteri carotis) untuk memperkirakan
denyut jantung.
Pengukuran tekana darah menggunakan alat yang bernarma
sphygnomanometer. Manset dari sphygnomanometer diletakkan di atas
arteri brachialis. Stetoskop juga digunakan untuk mendengar denyut.
Tekanan dinaikkan hingga tidak terdengar denyut lagi. Hal ini terjadi
karena tekanan manset melebihi tekanan darah sehingga arteri terjepit
dan tidak ada darah yang mengalir di dalamnya. Kemudian, secara
perlahan-lahan tekanan manset dikurangi sehingga terdengar bunyi
dup pertama (Korotkoff I). Denyut pertama ini menggambarkan
tekanan darah sistolik dan pada saat ini pembuluh darah yang
sebelumnya tidak teraliri darah mulai mengalirkan darah kembali.
Denyutan

terdengar

disebabkan

penyempitan

pembuluh

darah

mengakibatkan aliran laminar/turbulen dari darah yang perlahan


memasuki pembuluh darah.
Ketika tekanan manset terus diturunkan secara perlahan, bunyi
denyut juga akan terdengan menurun sehingga akhirnya menghilang.
Bunyi denyut terakhir menggambarkan tekanan darh diastolik
(Korotkoff V). Bunyi denyut akhirnya meghilang karena tekanan
manset telah turun di bawah tekanan pembuluh darah sehingga tidak
ada tahanan lagi. Tekanan darah ini sangat penting dalam sirkulasi
darah dan selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di
dalam arteri, arteriola, kapiler, dan sistem vena, sehingga terbentuk
suatu aliran darah yang menetap.
Jantung bekerja sebagai

pompa

darah,

karena

dapat

memindahkan darah dari pembuluh vena ke pembuluh arteri pada

sistem sirkulasi tertutup. Aktivitas pompa jantung berlangsung dengan


cara mengadakan kontraksi dan relaksasi, sehingga dapat menimbulkan
perubahan tekana di dalam siskulasi darah.
Pemeriksaan denyut nadi dan tekanan darah seseorang
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah perubahan posisi
tubuh dan aktifitas tubuh yang dapat dipakai sebagai indikator menilai
sistem kardiovaskuler seseorang.
1.2.

Masalah
a. Bagaimana pengaruh posisi tubuh terhadap tekanan darah dan
denyut nadi?
b. Bagaimana pengaruh latihan fisik terhadap tekanan darah dan
denyut nadi?
c. Bagaimana langkah-langkah pengukuran denyut nadi dan tekanan
darah?

1.3.

Tujuan
1. Mengamati dan mempelajari pengaruh posisi tubuh terhadap denyut
nadi dan tekanan darah
2. Mengamati dan mempelajari pengaruh latihan fisik terhadap denyut
nadi dan tekanan darah.

II.

METODE KERJA
2.1.

Alat dan Bahan


1. Meja periksa / tempat tidur.
2. Stopwatch / arloji (jam).
3. Sphygnomanometer (Tensimeter), terdiri dari:
a. manometer air raksa + klep pembuka penutup.
b. manset udara
c. selang karet.
d. pompa udara dari karet + sekrup pembuka penutup.
4. Stetoskop.
5. Bangku untuk latihan fisik (dengan naik-urun bangku).
6. Metronom.

2.2.

Tata kerja
Mengamati dan mempelajari pengaruh posisi tubuh terhadap denyut
nadi dan tekan darah.
1. a. Pilih satu mahasiswa relawan 1 (MR-1).

b.

Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi

MR-1 pada arteri radialis sinistra.


c. Pilih satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah
d.

MR-1 pada lengan kanan secara auskultasi.


Pilih satu mahasiswa untuk mencatat data dan menghitung

waktu.
2. MR-1 berbaring terlentang tenang selama 2-3 menit, kemudian :
Tentukan frekuensi dan irama denyut arteria tadialis sinistra
serta tekanan darah pada lengan kanan secara palpasi dan
auskultasi (masing-masing diukur tiga kali berturut-turut)
selanjutnya hitung nilai rata-ratanya.
3. MR-1 duduk tenang selama 2-3 menit, kemudian :
Tentukan frekuensi dan irama denyut arteria radialis sinistra
serta tekanan darah pada lengan kanan secara auskultasi
(masing-masing diukur tiga kali berturut-turut) selanjutnya
hitung nilai rata-ratanya.
4. MR-1 berdiri tenang dengan sikap anatomis selama 2-3 menit,
kemudian :
Tentukan frekuensi dan irama denyut arteria radialis sinistra
serta tekanan darah pada lengan kanan secara auskultasi
(masing-masing diukur tiga kali berturut-turut) selanjutnya
hitung nilai rata-ratanya.
5. Catat data sesuai format : Tabel 5.1.
Catatan :
Bila didalam tiga kali pengukuran secara berturut-turut terdapat
perbedaan yang besar, gunakan interval waktu 2 menit.
Mengamati dan mempelajari pengaruh aktifitas fisik terhadap
denyut nadi dan tekan darah.
1. a. Pilih satu mahasiswa relawan 2 (MR-2).
MR-2 boleh sama dengan MR-1 atau mahasiswa lain dalam
kelompok yang bersangkutan.
b. Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi
MR-2 pada arteri radialis sinistra.
c. Pilih satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah
d.

MR-2 pada lengan kanan secara auskultasi.


Pilih satu mahasiswa untuk mencatat data dan menghitung

waktu.
2. MR-2 duduk tenang selama 2-3 menit, kemudian :
4

Periksa frekuensi dan irama denyut arteria radialis sinistra serta


tekanan darah pada lengan kanan secara auskultasi (masingmasing diperiksa tiga kali berturut-turut).
Catat frekuensi dan irama denyut arteri radialis sinistra serta
tekanan sistolik dan diastolik, selanjutnya hitung nilai rataratanya.
3. Dengan manset tetap terpasang pada lengan atas kanan
(hubungan manset dengan skala manometer dilepas), MR-2
melakukan latihan fisik dengan cara STEP TEST yaitu dengan
NAIK-TURUN BANGKU 20 kali/menit selama dua menit
dengan dipandu oleh irama metronom pada frekuensi 80 ketukan
per menit.
4. Setelah step test berrakhir, MR-2 segera duduk, periksalah
frekuensi denyut arteri radialis sinistra dan tekanan darahnya
masing-masing satu kali.
Data ini diharapkan tercatat tepat 1 menit setelah step test
berakhir.
5. Teruskan memeriksa frekuensi denyut arteri radialis sinistra dan
tekanan darah dengan interval 2 menit (menit ke 3 ... menit ke 5
menit ke 7 dst.nya) sampai nilainya kembali seperti
keadaan sebelum latihan.
6. Catat Data sesuai format : Tabel 5.2.
Catatan :
Untuk setiap saat / interval, pengukuran frekuensi denyut arteri
radialis sinistra dan tekanan darah hanya diukur satu kali.

III.

HASIL
Tabel 5.1. Data pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan
darah.

POSISI TUBUH

BERBARING
TERLENTANG

DUDUK

DENYUT NADI

TEKANAN

TEKANAN

SISTOLIK

DIASTOLIK

(mmHg)
Palpasi / Auskultasi

(mmHg)
Auskultasi

Rerata = 90

1. 120/120
2. 120/120
3. 110/110

1. 70
2. 65
3. 60

1. 105

Rerata = 116/116
1. 110

Rerata = 65
1. 80

1. 100
2. 90
3. 80

BERDIRI

2. 95
3. 90

2. 110
3. 110

2. 80
3. 80

Rerata = 96
1. 115
2. 107
3. 104

Rerata = 110
1. 110
2. 110
3. 110

Rerata = 80
1. 80
2. 70
3. 80

Rerata = 108

Rerata = 110

Rerata = 76

Dari Tabel 5.1. Buatlah grafik.

Tabel 5.2. Pengaruh aktifitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah.
WAKTU

PRA LATIHAN

PAS
CA

Menit Ke-1
Menit Ke-3

AK
TIVI Menit Ke-5
TAS
Menit Ke-7

DENYUT

TEKANAN

TEKANAN

NADI
(x/menit)

SISTOLIK
auskultasi

DIASTOLIK
auskultasi

1. 105
2. 95
3. 90
Rerata = 96

(mmHg)
1. 110
2. 110
3. 110
Rerata = 110

(mmHg)
1. 80
2. 80
3. 80
Rerata = 80

147

120

80

110

120

80

106

110

70

98

110

70

Dari Tabel 5.2. Buatlah grafik.


6

Grafik Pengukuran Denyut Nadi dan Tekanan Darah Pra Latihan

Grafik Pengukuran Denyut Nadi dan Tekanan Darah Pasca Aktivitas Fisik

IV.

PEMBAHASAN
4.1.
4.2.

Diskusi Hasil
Diskusi Jawaban Pertanyaan

1. Jelaskan mengenai mekanisme yang mendasari suara-suara


Korotkoff (Korotkoff I, II, III, IV, V)
Suara Korotkoff I : Saat bunyi terdengar, dimana 2 suara terdengar
di waktu yang bersamaan, disebut sebagai
tekanan sistolik.
Suara Korotkoff II : Bunyi berdesir akibat aliran darah meningkat,
intensitas lebih tinggi dari fase I.
Suara Korotkoff III : Bunyi ketukan konstan tapi suara berdesir
hilang, lebih lemah dari fase I.
Suara Korotkoff IV : Ditandai bunyi yang tiba-tiba meredup/
melemah dan meniup.
Suara Korofkoss V : Bunyi tidak terdengar sama sekali, disebut
sebagai tekanan diastolik.
2. Apakah ada perbedaan antara atlet dan non-atlet dalam hal
pemulihan denyut nadi dan tekanan darah setelah melakukan
aktifitas fisik (post exercise)? Jelaskan!
Pemulihan denyut nadi pada atlet setelah melakukan aktivitas fisik
lebih cepat bila dibandingkan dengan non-atlet. Latihan teratur yang
dilakukan oleh atlet menyebabkan adaptasi otot jantung sehingga
jantung menjadi lebih tebal dan kuat. Jantung yang kuat membuat
kerja jantung lebih efisien dan denyut nadi menjadi lebih stabil.
Seorang atlet yang terbiasa melakukan latihan fisik membuat presso
refleksnya juga terlatih sehingga denyut jantung dan tekanan
darahnya meningkat secara teratur pula.Pemulihannya pun relatif
lebih cepat. Seorang non-atlet yang tidak terbiasa melakukan latihan
fisik sehingga presso refleksnya kurang terlatih sehingga denyut
jantung serta tekanan darahnya tidak teratur. Pemulihan denyut
nadinya pun lebih lama daripada pemulihan denyut nadi pada atlet.
3. a. Secara teoritis, bagaimanakah pengaruh posisi tubuh dan latihan
fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah?
Secara teori sebenarnya posisi tubuh sangat berpengaruh
terhadap denyut nadi dan tekanan darah. Hal ini karena ada efek
gravitasi bumi. Pada saat berbaring gaya gravitasi pada peredaran
8

darah lebih rendah karena arah peredaran tersebut horisontal


sehingga tidak terlalu melawan gravitasi dan tidak terlalu
memompa. pada saat duduk maupun berdiri kerja jantung dalam
memompa darah akan lebih keras karena melawan gaya gravitasi
sehingga kecepatan denyut jantung meningkat.
Pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah
menunjukkan ada peningkatan denyut nadi, tekanan sistolik, dan
tekanan diastolik setelah melakukan latihan fisik seperti naik
turun bangku. Hal ini disebabkan karena perubahan yang besar
dalam sistem sirkulasi dan pernapasan. Pada menit pertama
terjadi kenaikan denyut nadi dan tekanan darah yang drastis
karena masih belum biasa melakukan hal tersebut tapi lama
kelamaan tekanan darah dan denyut nadi menurun karena kerja
jantung kembali normal.
b. Bagaimana mekanisme fisiologis dari perubahan tekanan darah
dan denyut nadi akibat pengaruh posisi tubuh dan latihan fisik?
Dalam proses kontraksi, otot memerlukan pasokan oksigen yang
banyak untuk memenuhi kebutuhan energi. Darah berfungsi
menyuplai O2 untuk menghasilkan energi. Oleh karena itu, curah
jantung akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan energi
melalui peningkatan aliran darah. Selain itu, perangsangan
impuls simpatis menyebabkan vasokontriktor pembuluh darah
pada tubuh kecuali pada otot yang aktif, terjadi vasodilatasi. Hal
inilah yang menyebabkan tekanan darah akan meningkat setelah
melakukan aktivitas fisik. Selain itu, sewaktu otot-otot
berkontraksi, otot tersebut menekan pembuluh darah dari
pembuluh perifer ke jantung dan paru-paru. Sehingga akan
meningkatkan curah jantung.
c. Apakah hasil praktikum saudara sesuai dengan teori? Bila tidak,
mengapa demikian?

Hasil praktikum kelompok kami tidak sesuai dengan teori, yaitu


tekanan sistolik relawan dalam posisi berbaring lebih tinggi
daripada posisi duduk atau berdiri, seharusnya dalam posisi
berbaring lebih rendah. Denyut nadi saat posisi berdiri lebih
rendah daripada saat duduk, seharusnya lebih tinggi. Hal ini
kemungkinan besar dikarenakan terjadi kesalahan yaitu
pada saat pemeriksaan mahasiswa coba
melakukan aktivitas lain atau pemeriksa salah
menghitung, sehingga hasil percobaannya tidak
sesuai dengan teori.
4. Apakah yang dimaksud dengan barorefleks dan baroreseptor?
Baroreseptor yang juga disebut sebagai pressoreseptor merupakan
suatu ujung saraf sensoris yang dirangsang oleh perubahan tekanan
seperti yang terdapat pada pembuluh darah manusia yang
mendeteksi tekanan darah dan melaporkan tekanan darah yang
abnormal ke sistem saraf pusat, yang memberikan respon dengan
mengatur resistensi pembuluh darah, laju dan kekuatan kontraksi
jantung. Proses ini dikenal dengan barorefleks. Baroreseptor bekerja
dengan mendeteksi peregangan pada dinding pembuluh darah.
Ada dua macam baroreseptor, baroreseptor arteri atau tekanan tinggi
dan baroreseptor tekanan rendah. Baroreseptor bisa ditemukan pada
arcus aorta dan sinus aorticus. Seperti namanya, baroreseptor
tekanan tinggi aktif pada sistem peredaran darah dengan tekanan
darah yang tinggi. Baroreseptor arteri merespon sangat cepat
terhadap perubahan tekanan darah, misalnya pada peningkatan
tekanan arteri akan meregangkan baroreseptor dan menyebabkan
menjalarnya sinyal menuju sistem saraf pusat. Sinyal umpan balik
kemudian dikirim kembali melalui sistem saraf otonom ke sirkulasi
untuk mengurangi tekanan arteri dan kembali ke nilai normal
dengan menurunkan denyut jantung dan resistensi pembuluh darah.
Ketika baroreseptor arteri tidak teregang, sistem saraf pusat
memberkan respon dengan meningkatkan denyut jantung dan

10

resistensi pembuluh darah. Baroreseptor arteri merespon hanya pada


perubahan jangka pendek.

V.

DAFTAR PUSTAKA
Ganong WF. Review of medical physiology. Ed 21. United States : The
McGraw-Hill Companies Inc; 2003.
Guyton AC, MD, Hall JE, Ph.d. 2006. Textbook of Medical Physiology. USA:
Elsevier.
Ronny, dr., M.Kes., AIFO. Fisiologi Kardiovaskular Berbasis Masalah
Keperawatan. Indonesia: EGC; 2009.
Pemeriksaan Tanda Vital. (2008). [ebook] Purwokerto: Universitas Soedirman,
p.2. Available at: http://kedokteran.unsoed.ac.id/Files/Kuliah/modul
%20/Ganjil%20I%20-%20pemeriksaan%20tanda%20vital.pdf [Accessed 13
Sep. 2014].

11

12