Anda di halaman 1dari 11

TEORI AKUNTANSI

Pertemuan 6

KELOMPOK 4

Oleh
I GEDE GUNA WIJAYA

(1115351071)

TIKSNAYANA VIPRAPRASTHA

(1115351074)

I GEDE DARMAYASA

(1115351073)

I GST NGR RAI SURYAWAN

(1115351015)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

KONSEKUENSI EKONOMI
(ECONOMIC CONSEQUENCES)
Konsekuensi ekonomi adalah sebuah konsep yang menilai bahwa, lepas
dari implikasi teori pasar sekuritas yang efisien, pilihan kebijakan akuntansi yang
mempengaruhi nilai perusahaan. Beberapa pengertian konsekuensi ekonomi
adalah sebagai berikut :
Stephen A. Zeff, seorang tokoh akuntansi yang paling persuasif berkaitan
dengan konsekuensi ekonomi, mengenalkan konsep ini dalam artikelnya tahun
1978 yang berjudul The Rise of Economic Consequences. Menurut Zeff (1978)
mendefinisikan economic consequences sebagai dampak laporan akuntansi
terhadap perilaku pengambilan keputusan bisnis, pemerintah, dan kreditur. Esensi
dari definisi ini adalah bahwa laporan akuntansi dapat mempengaruhi (affect)
keputusan nyata oleh manajer dari pihak lain, tidak hanya sekedar
menggambarkan

(reflecting)

hasil

keputusan

yang

dibuat.

Zeff

mendokumentasikan beberapa contoh di Amerika Serikat dimana bisnis, asosiasi


industri, dan pemerintah mencoba mempengaruhi, atau telah mempengaruhi,
standar akuntansi yang disusun oleh Accounting Principles Board (APB) dan
pendahulunya the Committee on Accounting Procedure (CAP).
Economic consequences adalah konsep yang menyatakan bahwa, walaupun
bertentangan dengan implikasi teori pasar modal efisien, pilihan kebijakan
akuntansi dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Walaupun dengan implikasi
kebijakan teori pasar modal efisien, tampak bahwa pilihan kebijakan akuntansi
memiliki konsekuemsi ekonomi bagi pemakai laporan keuangan, walaupun tidak
secara langsung mempengaruhi aliran kas perusahaan.
Konsekuensi ekonomi adalah konsep yang menegaskan bahwa pilihan
kebijakan akuntansi akan mempengaruhi nilai ekonomi perusahaan dan
berdampak pada perilaku bisnis, pemerintah, dan kreditur dalam membuat
keputusan. Esensi konsekuensi ekonomi adalah bahwa kebijakan akuntansi dan
perubahan kebijakan akuntansi dan perubahan kebijakan akuntansi tersebut
merupakan suatu permasalahan (matter), terutama permasalahan manajemen.
Akan tetapi, apabila hal tersebut merupakan permasalahan bagi manajemen,
kebijakan akuntansi juga permasalahan bagi investor yang memiliki perusahaan

karena manajer dapat mengubah hasil operasi perusahaan yang sesungguhnya


dengan melakukan perubahan kebijakan akuntansi. Pada dasarnya, pengertian dan
konsekunsi ekonomi adalah bahwa kebijakan akuntansi perusahaan, dan
perubahan-perubahan dalam kebijakan, itu penting. Yang utama, hal tersebut
penting bagi manajemen, kebijakan akuntansi penting bagi para investor yang
memiliki perusahaan, karena manajer mungkin mengubah dengan baik operasi
aktual dari perusahaan-perusahaan karena perubahan dalam kebijakan akuntansi.
Mengapa konsekuensi ekonomi (economic consequences) muncul :

Konsekuensi ekonomi muncul karena perusahaan melakukan kontrak


seperti kompensasi eksekutif (execuitive compesation) dan kontrak utang
(debt contract)

Kebijakan akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber informasi


yang penting bagi investor. Manajer dapat menggunakan sumber informasi
berupa pilihan kebijakan akuntansi yang dipilih ssebagai signal tentang
informasi dari dalam perusahaan.

Teori pasar modal efisien gagal menjelaskan perilaku pasar. Berdasarkan


teori pasar modal efisien, suatu perubahan akuntansi direaksi oleh pasar
hanya apabila perubahan akuntansi tersebut berpengaruh terhadap arus kas
perusahaan.

Konsekunsi ekonomi diperlukan untuk mengetahui respon pasar atas


perubahan kebijakan akuntansi walaupun perubahan kebijakan akuntansi
tersebut tidak berpengaruh secara langsung terhadap arus kas. Karena itu,
konsekunsi ekonomi merupakan salah satu anomali pasar modal efisien.
Teori akuntansi positif (PAT) adalah penjelasan terhadap adanya
konsekuensi ekonomi.
Penting untuk menunjukkan istilah kebijakan akuntansi mengacu pada

kebijakan akuntansi apapun, bukan hanya kebijakan yang mempengaruhi cash


flow sebuah perusahaan. Misalnya bahwa sebuah perusahaan berubah dari
declining-balance ke amortisasi straight-line. Hal ini tidak akan dengan
sendirinya mempengaruhi cash flow perusahaan. Juga tidak akan ada dampaknya
pada pajak pendapatan (tax income) yang dibayarkan, karena otoritas pajak
memiliki regulasi tunjangan biaya modal mereka sendiri. Namun, kebijakan

amortisasi baru tersebut tentu saja akan mempengaruhi net income yang
dilaporkan. Maka, menurut doktrin konsekuensi ekonomi, perubahan kebijakan
akuntansi itu penting, lepas dari kurangnya dampak cash flow. Sesuai teori pasar
yang efsien, perubahan tersebut tidak akan bermasalah meskipun pasar mungkin
bertanya mengapa perusahaan mengubah kebijakan karena cash flow mendatang,
sehingga nilai pasar dari perusahaan, tidak secara langsung dipengaruhi.
Sebuah pemahaman atas konsep konsekuensi akuntansi dari pilihan
kebijakan akuntansi itu penting karena dua alasan, yakni (1) konsep itu menarik
dengan sendirinya. Banyak dari kejadian yang paling menarik dalam praktek
akuntansi berasal dari konsekuensi ekonomi. (2) pendapat bahwa kebijakan
akuntansi itu tidak penting itu berlawanan dengan pengalaman akuntan. Banyak
dari akuntansi keuangan dicurahkan untuk pembahasan dan argumen tentang
kebijakan akuntansi mana yang seharusnya digunakan dalam berbagai keadaan,
dan banyak debat dan konflik atas presentasi laporan keuangan melibatkan pilihan
kebijakan akuntansi. Konsekuensi ekonomi itu konsisten dengan pengalaman
dunia riil.
Konsekuensi ekonomi erat hubungannya dengan teori akuntansi positif
(Positive Accounting Theory/ PAT). PAT adalah teori yang berkaitan dengan
prediksi tindakan atas adanya pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer dan
bagaimana manajer merespon suatu standar baru. PAT adalah teori yang
menjelaskan mengapa dan apa yang dilakukan akuntan dalam praktek akuntansi.
Sedangkan teori akuntansi normatif adalah teori yang menjelaskan apa yang
seharusnya dilakukan akuntan (what should they do). Teori akuntansi positif
merupakan studi lanjut dan teori akuntansi normatif karena kegagalan normatif
menjelaskan fenomena praktek yang aktual terjadi.PAT dimaksudkan untuk
menjelaskan dan memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan
pilihan tertentu. Komponen PAT meliputi (1) Hipotesis rencana bonus (Bonus
Plan Hypothesis); (2) Hipotesis rencana utang (Debt Covenant Hyphothesis); dan
(3) Hipotesis biaya politik (Political Cost Hypothesis).
1. Hipotesis rencana bonus (Bonus Plan Hypothesis);
Tidak terdapat teori yang menjelaskan komposisi skema kompensasi
manajemen. Bagaimanapun, literatur-literatur yang ada memasukkan hipotesis

tentang peran skema ini dan efek insentif dari komponen-komponenya (lihat
Smith dan Watts, 1982).

Sekarang ini, perubahan dalam praktek akuntansi

menarik perhatian kualifikasi audit, dan dampaknya pada tahun perubahan yang
dilaporkan. Bagaimanapun, manajer masih memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi laba melalui metode akuntansi tanpa mebarik perhatian kualifikasi
audit.
Sebagian besar penelitian telah menginvestigasikan efek dari rencana bonus
dibandingkan rencana kinerja (performance plans) manajer dari pemilihan
prosedur akuntansi. Parameter rencana bonus diatur sedemikian rupa sehingga
sebagian besar bonus diberikan di beberapa tahun dan jika bonus dapat diberikan,
jumlah maksimumnya adalah mencapai fungsi linear positif pada laba yang
dilaporkan. Hal ini menyebabkan sebagian besar penelitian telah mengasumsikan
bahwa kompensasi manajer berada di bawah rencana kenaikan bonus seperti yang
dilaporkan semakin meningkat produktivitasnya. Berdasarkan asumsi bahwa,
peningkatan nilai sekarang dari laba perusahaan akan melaporkan dan
meningkatkan nilai sekarang dari kompensasi manajer. Hasil ini menghasilkan
hipotesis yang telah diuji dalam beberapa penelitian:
Bonus Plan Hypothesis. Ceteris paribus, manajer perusahaan dengan rencana
bonus lebih menyukai untuk memilih prosedur akuntansi yang memindahkan
pelaporan laba dari periode masa depan ke periode sekarang.
Manajer perusahaan dengan rencana bonus tertentu cenderung lebih
menyukai metode yang meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut
diharapkan dapat meningkatkan nilai sekarang bonus yang akan diterima
seandainya komite kompensasi dari dewan direktur tidak menyesuaikan dengan
metode yang dipilih (Watts & Zimmerman, 1990). Bila manajer itu menghindari
resiko, dia akan memilih kebijakan akuntansi yang meratakan pendapatan yang
dilaporkan, karena alur bonus yang kurang bervariasi memiliki utilitas yang
diduga lebih tinggi daripada alur bonus yang tidak stabil, bila keadaan yang lain
tetap sama.
Terdapat dua tipe dasar rencana kompensasi yang memberikan reward bagi
kinerja manajemen sebagai pengukuran oleh angka akuntansi (biasanya laba);
rencana bonus dan rencana kinerja (bonus plans and performance plans). Dari

literatur, kami menyimpulkan tiga faktor yang mungkin memotivasi akuntansi


mengenai rencana kompensasi berdasarkan laba : (1) ketidakmampuan untuk
mengamati nilai pasar perusahaan; (2) diasagregasi kinerja; dan (3) pajak.
1. Nonobservability of Firm Market Value
Masalah ini muncul karena banyak utang perusahaan tidak diperdagangkan,
dan karenanya, perubahan nilai total perusahaan (saham ditambah hutang) tidak
diamati.
2. Disgarregation of Performance
Bahkan jika nilai total perusahaan (total firm value) dapat diobservasi
langsung, hanya manajemen tingkat atas (top management) seperti presiden yang
bertanggung jawab untuk keseluruhan perusahaan. Nilai pasar subunit perusahaan
misalnya divisi dimana manajer-manajer yang lainnya bertanggung jawab tidak
dapat diamati/diobservasi. Konsekuensinya, dampak manajer lain pada nilai pasar
perusahaan tidak dapat diobservasi secara langsung. Laba akuntansi dapat
dikalkulasikan/dihitung untuk berbagai subunit perusahaan dan indeks nilai pasar.
3.

Taxes
Kinerja rencana biasanya lima tahun terakhir. Mereka menunda kompensasi

manajemen selama lima tahun dan, jika tarif pajak penghasilan badan kurang dari
tarif pajak manajemen, mengurangi nilai sekarang dari jumlah pajak yang dibayar
oleh perusahaan dan para manajernya
Jika manajer mengendalikan kalkulasi laba untuk memperluas yang dapat
mereka laporkan mengenai angka yang mereka harapkan, rencana bonus berbasis
laba (earning-based bonus plans) tidak akan ada untuk tujuan insentif. Pasar
menduga manager memanipulasi angka akuntansi untuk keuntungan mereka
sendiri,

secara

sewenang-wenang

melaporkan

pendapatan

yang

tinggi

dibandingkan mengambil tindakan yang dapat meningkatkan laba karena mereka


dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hasilnya, baik kompensasi manajer maupun
maupun nilai perusahaan akan dapat ditingkatkan melalui rencana bonus berbasis
laba. Jika rencana berbasis laba digunakan untuk reward manajer untuk alasan
insentif, harus terdapat beberapa pembatasan metode yang digunakan manajer
dalam mengkalkulasi laba. Dan pembatasan ini harus diawasi atau diaudit. Lebih

lanjut, pembatasan harus menghasilkan angka laba yang mencerminkan efek


tindakan manajer pada nilai pasar perusahaan.
Hal ini tidak berarti bahwa pemilihan prosedur akuntansi oleh manajer secara
total dibatasi. Manajer mungkin lebih mengetahui prosedur akuntansi terbaik yang
dapat memotivasi subunit mereka. Demikian juga, biaya regulasi pemerintah
dapat bervariasi dengan variasi prosedur dan manajer mungkin mengetahui cara
terbaik untuk meminimalkan biaya ini. Karena itu, pembatasan seperangkat
prosedur akuntansi yang dapat digunakan untuk manajer, memberikan manfaat
mengurangi tindakan opportunistika manajerial sebagai hasil pembatasan yang
memiliki pertimbangan yang berlawanan dengan biaya pembatalan yang
mengoptimalkan bagi tujuan lainnya.
Sepanjang kontak dan pengawasan berbiaya sangat mahal, tidak semua
manipulasi akuntansi manajerial dapat dieliminasi. Hal tersebut mungkin akan
sangat mahal untuk komite kompensasi board of director untuk menghilangkan
semua manpulasi. Singkatnya, dengan memberikan rencana kompensasi berdasar
bonus, diduga pilihan prosedur akuntansi manajer diharapkan untuk dibatasi , tapi
tidak semuanya dibatasi. Motivasi untuk membatasi pemilihan prosedur akuntansi
memberikan penjelasan untuk jenis prosedur akuntansi yang dapat dipilih oleh
manajer (misalnya prosedur yang dapat diterima) dan bagaimana mereka berbeda
diantara berbagai perusahaan dan industri.
1. Hipotesis rencana utang (Debt Covenant Hyphothesis)
Makin tinggi rasio hutang/ekuitas perusahaan, makin besar kemungkinan bagi
manajer untuk memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba. Makin
tinggi

rasio

hutang/ekuitas

makin

dekat

perusahaan

dengan

batas

perjanjian/peraturan kredit (Kalay, 2000). Makin tinggi batasan kredit maka besar
kemungkinan penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. Manajer
akan lebih memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba sehingga
dapat mengendurkan batasan kredit dan mengurangi biaya kesalahan teknis (Watts
dan Zimmerman, 2990)
Penalarannya adalah bahwa peningkatan net income yang dilaporkan akan
menurunkan probabilitas dari default teknik. Kebanyakan kesepakatan utang
berisi kontrak-kontrak yang debitur harus penuhi selama masa kesepakatan

tersebut. Misal, perusahaan debitur mungkin sepakat untuk mempertahankan


tingkat rasio hutang terhadap ekuitas, interest coverage (rasio yang sama dengan
laba sebelum bunga dan pajak, dibagi oleh bunga), modal kerja, dan/atau ekuitas
pemegang saham. Bila kontrak semacam itu dilanggar, kesepakatan utang itu
mungkin menerapkan pinalty, seperti pembatasan pada dividen atau pinjaman
tambahan.
2.

Hipotesis biaya politik (Political Cost Hypothesis)


Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat

mengurangi laba periodik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Ukuran


perusahaan merupakan variabel proksi dari aspek politik. Yang mendasari
hipotesis ini adalah asumsi bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi individu
untuk menentukan apakah laba akuntansi betul-betul menunjukkan monopoli laba.
Disamping itu sangatlah mahal bagi individu untuk melaksanakan kontrak
dengan pihak lain dalam proses politik dalam rangka menegakkan aturan hukum
dan regulasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian
individu yang rasional cenderung memilih untuk tidak mengetahui informasi
lengkap. Proses politik tidak berbeda jauh dengan proses pasar. Atas dasar cost
informasi dan cost monitoring tersebut, manajer memiliki insentif untuk memilih
laba akuntansi tertentu dalam proses politik tersebut (Watts & Zimmerman, 1990)
Bila semua hal lain tetap sama, makin besar politic cost yang dihadapi oleh
sebuah perusahaan, makin besar kemungkinan dari periode saat ini ke periode
mendatang. Hipotesa political cost memperkenalkan sebuah dimensi politik dalam
pilihan kebijakan akuntansi. Standar akuntansi juga mempengaruhi tindakan
manajer dalam pengambilan keputusan ekonomi sah satunya terkait dengan opsi
saham karyawan. Opsi saham karyawan merupakan opsi saham yang dikeluarkan
oleh perusahaan kepada manajemen atau dalam beberapa kasus kepada karyawan
dimana mereka diberikan hak untuk membeli saham perusahaan dalam suatu
periode waktu. Berdasarkan APB 25 perusahaan harus mencatat biaya jika terjadi
selisih antara harga pasar saham dengan harga opsi saham yang dipegang oleh
manajer. Pada kenyataannya, harga yang dipegang oleh manajer disesuaikan
dengan harga pasar saham sehingga tidak ada biaya yang timbul dari transaksi ini.

Hal ini menyebabkan pendapatan bersih perusahaan meningkat karena


(seharusnya) ada biaya yang tidak dicatat.

Hubungan Konsekuensi Ekonomi (Economic Consequence) dan Teori Pasar


Modal Efisien (EMH)
Teori pasar modal efisien memprediksi tidak ada reaksi pasar terhadap
perubahan kebijakan akuntansi yang tidak berdampak terhadap profitabilitas dan
arus kas. Apabila tidak ada reaksi pasar (terlihat dari tidak berubahnya cost of
capital), hal ini menjadi tidak jelas mengapa manajemen dan pemerintah harus
konsen terhadap kebijakan akuntansi yang digunakan perusahaan. Dengan kata
lain, teori pasar modal efisien mendukung pengungkapan penuh, termasuk
pengungkapan kebijakan akuntansi. Namun, sekalipun kebijakan akuntansi
diungkapkan, pasar tidak bereaksi karena pasar tidak mempermasalahkan
perubahan nilai perusahaan hanya karena terjadi perubahan metode akuntansi.
Teori pasar modal efisien tidak mampu menjelaskan perubahan kebijakan
akuntansi terhadap reaksi pasar, pada tidak ada pengaruh perubahan akuntansi
tersebut terhadap arus kas. Karena itu, economic consequences dikategorikan
sebagai anomali pasar modal efisien. Terlihat bahwa tiga kontituen laporan
keuangan, manajemen, pemerintah, dan investor bereaksi terhadap artikel tentang
kebijakan akuntansi. Namun reaksi manajemen mengejutkan sampai pada
intervensi badan penyusun standar. Perbedaan reaksi ini merupakan bagian dari
konsekuensi ekonomi, yaitu bahwa pilihan kebijakan akuntansi dapat menjadi
masalah walaupun tidak ada pengaruhnya terhadap arus kas.
Konsekuensi ekonomi merupakan anomali bagi pasar modal efisien. Hal
ini terjadi karena perubahan kebijakan akuntansi yang tidak berpengaruh terhadap
arus kas memiliki konsekuensi ekonomi tetapi tidak direaksi oleh pasar. Bagi
manajer, kebijakan akuntansi adalah suatu masalah (matter) karena dua hal.
1. Pertama, bonus manajer seringkali ditentukan berdasarkan variabel
akuntansi.
2. Kedua, kontrak dengan kreditor seringkali terkait dengan variabel
akuntansi. Walaupun memiliki konsekuensi ekonomi, namun kebijakan

akuntansi tersebut tidak sesuai dengan efisiensi pasar modal. Memang,


konsekuensi ekonomi dan efisiensi pasar modal tidak sejalan.
Konsekuensi ekonomi dan efisiensi pasar modal dapat direkonsiliasi melalui teori
akuntansi positif yang didukung oleh teori keagenan. Teori ini menjelaskan
mengapa perusahaan terlibat dengan kontrak yang variabelnya adalah angka
akuntansi. Penjelasan lain selain teori keagenan adalah karena manajer tidak
percaya terhadap teori pasar modal efisien. Manajer yakin bahwa reaksi investor
dan biaya modal perusahaan dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi apapun
dampaknya terhadap arus kas.

Dampak Politik dan Konsekuensi Ekonomi Dalam Pembentukan Suatu


Standar
Standar dibentuk untuk mengurangi moral hazard yaitu manajemen
berusaha untuk overstated (aset dan revenue) dan understated (liability dan cost)
walaupun pada akhirnya juga muncul moral hazard yang lain yaitu proses politik.
Pembentukan standar sebagai proses politik yang mempengaruhi pemerintah,
sektor publik, dan sektor privat. Standar yang dibentuk digunakan untuk
pengungkapan (disclosure). Standar yang dibentuk selalu berkaitan dengan
konsekuensi ekonomi yang berkaitan dengan kos keagenan (berapa banyak pihak
yang dirugikan atau dengan kata lain berapa banyak kos yang dikeluarkan dengan
adanya standar baru dan respon pasar yang berkaitan dengan public goods (tidak
ada nilainya free raider) dan economic goods (barang ekonomi bernilai sehingga
perlu usaha untuk mendapatkan economic good maka laporan keuangan tidak ada
kebocoran informasi sehingga standar harus ditetapkan dan pembuatannya
diserahkan kepada pasar.

DAFTAR PUSTAKA
Watts, Zimmerman. Positive Accounting Theory. University of Rochester.
Indriana, Dian. Economic Consequences dan Implikasi Postive Accounting
Theory. Fakultas Ekonomi Universitas Semarang