Anda di halaman 1dari 3

Disentri merupakan sebuah keadaan sakit dengan karakternya berupa diare yang umumnya

disertai dengannya feses disertai lendir mukopurulen yang dapat disertai dengan darah.
Etiologinya dibagi menjadi 2 kategori besar.
Amoebic dysentery
Bacillary dysentery
Disentri basiler umumnya disebabkan oleh bakteri keluarga Shigella, sedangkan disentri
amuba umumnya disebabkan oleh Entamoeba histolytica. Disenntri basiler umumnya
muncul dalam bentuk kejadian luar biasa, sedangkan disentri amuba dalam kasus-kasus
sporadik. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan mikroskopis dan isolasi dari
organisme penyebabnya.
Gejala dari infeksi Shigella umumnya berupa nyeri perut, tenesmus, BAB yang sering namun
dalam jumlah yang sedikit disertai lendir dan darah. Infeksi ini umumnya ditularkan dari satu
orang ke orang yang lain dan hanya diperlukan jumlah bakteri yang sedikit untuk dapat
menularkannya. Umumnya kejadian ini terjadi karena rendahnya kualitas sanitasi dan
kebersihan lingkungan.
Pengambilan sampel feses
Sampel feses atau swab feses lebih dianjurkan. Bila dilakukan dengan tepat, swab rektal
juga dapat menghasilkan hasil yang memuaskan. Hal-hal berikut harus diperhatikan dalam
pengambilan sampel feses. :
Pengambilan sampel dilakukan pada fase awal penyakit dan sebelum pemberian
antibiotik diberikan.
Transpor sampel feses diletakan dalam kontainer yang steril dan kedap udara.
Sampel feses harus segera diproses dalam kurun waktu 2 jam, bila ada hambatan,
spesimen diinokulasikan dalam medium cary and blair.
Kumpulkan sampel dari feses yang baru dikeluarkan dan mengandung lendir serta darah.
Sampel feses harus segera dibawa dan diproses, terutama Shigella spp. Karena tingkat
surviveabilitynya rendah karena perbedaan pH yang terjadi, meskipun dibekukan.
Pemeriksaan Makroskopik
Examine the stool specimen for consistency (liquid, semisolid or formed); colour (white,
yellow or black), atypical components (mucus, blood, parasites etc).
Microscopic examination
Examine microscopically for parasites, leucocytes and RBCs by making saline and iodine
preparations.
Prepare a faecal suspension by suspending the faeces from the rectal or faecal swab in a
tube containing 1 ml of sterile saline per swab. Wash the swabs thoroughly in the saline by
swirling the tube and rotating the swab against the side of the tube to express the fluids.
The distinguishing features between bacillary and amoebic dysentery are given in Table 1.
Table 1: Differences between bacillary and amoebic dysentery
Feature
Bacillary dysentery
Amoebic dysentery
Pus cells

Numerous

Scanty

Red blood cells

Discrete

In clumps

Eosinophils

Absent or rare

Present

Macrophages

Present and show ingested RBCs

Absent

Charcot Leyden crystals

Absent

Present

E.histolytica

Absent

Trophozoites +

Bacteria

Scanty, non motile

Numerous, motile

Growth on MacConkey agar

Positive for Shigella

Negative

Pada dasarnya, disentri basiler dapat disebabkan oleh : Shigella,E. Coli ( EPEC, STEC, EHEC )
Disentri amebik umumnya disebabkan oleh Entamoeba hystolytica

Shigella
Pada dasarnya disentri basiler karena Shigella dapat disebut sebagai shigellosis. Etiologinya
ada 4, yakni Shigella sonnei, Shigella flexneri dan Shigella dysenteriae.
Patogenesis dari Shigellosis adalah Shigella masuk ke dalam sistem GIT melalui transmisi
orofecal, dan untuk Shigella tidak dibutuhkan bakteri dalam jumlah besar untuk
menybabkan terjadinya disentri. Secara umum, Shigella menyebabkan disentri pada pasien
melalui 2 cara, dengan Shigella toxin atau dengan invasi secara langsung pada mukosa usus.
Diagnosis Shigelosis dapat ditetapkan dengan pemeriksaan feses rutin, dimana didapatkan
leukosit sebanyak 10 -15 LPB dengan bakteri +++, selain itu dari lab darah dapat ditemukan
leukositosis shift to the left, hemokonsentrasi akibat dehidrasi, anemia bila terdapat darah
yang banyak pada feses. Kultur Shigella merupakan pemeriksaan definitif untuk diagnosa
pasti.
Terapi dasar dari disentri basiler karena shigella merupakan rehidrasi. Bila memungkinkan,
rehidrasi diberikan secara oral, dengan menggunakan oralit, tapi bila tidak dapat dilakukan
rehidrasi secara oral, pasien dapat dirawat dirumah sakit dengan pemberian cairan melalui
intravena. Pemberian antibiotik dapat mempercepat masa rawat pasien, umumnya dapat
diberikan antibiotik spektrum luas seperti ampicillin, amoxicillin sambil menunggu hasil
kultur, bila secara definitif sudah didapatkan, maka dapat diberikan floroquinolone (
ciprofloxacin ) atau Trimethoprim Sulfamethoxazole.
Amoebic dysentery
Pathogenesis :
Disentri amuba disebabkan oleh infeksi Entamoeba hystolytica, Infeksi terjadi ketika
seseorang menelan kista infektif ( bernukleus 4 ) yang dapat bertahan selama mingguan
sampai bulanan, namun kista ini dapat dihancurkan pada suhu dibawah -5C atau diatas
40C. Setelah kista tertelan ( orofecal transmission ), kista mengalami pembelahan nukleus
lagi dan kemudian melepaskan 8 trofozoit ke dalam ileum. Trofozoit kemudian dibawa ke
usus besar dimana mereka menimbulkan flask-shaped ulkus. Masa inkubasi berlangsung
selama 2 6 minggu, secara umum, infeksi terjadi secara subklinis, namun respon antibodi

perlahan muncul walaupun tanpa ivasi lokal. Pasien dengan infeksi asimptomatik juga harus
diobati untuk mencegah transmisi ataupun terjadinya kolitis.
Infeksi ini juga dapat menimbulkan granuloma, yang dapat diraba pada rektum atau terlihat
pada foto radiologi sebagai suatu massa. Amuba kemudian dapat menyusup masuk ke
dalam vena porta dimana kemudian akan menginfeksi hati dan menyebabkan amebiasis
hati, setelah itu dapat menyebar ke paru atau ke otak.
Manifestasi Klinis :
Pada disentri amuba terdapat diare intermiten, diare umumnya memiliki bau busuk,
mengandung lendir dan darah. Nyeri abdomen, flatulens, dan demam umumnya terjadi.
Pemeriksaan fisik dapat menunjukan nyeri tekan abdomen, hepatomegali.
Komplikasi
Massive haemorrhage.
Perforation and peritonitis.
Toxic megacolon in fulminant cases.
Post-dysenteric colitis.
Amoebic liver abscess (presents with fever, right upper-quadrant pain and intercostal
tenderness on right side; abscess may rupture into pleural cavity, pericardial cavity,
peritoneal cavity or into the lungs.
Pleuropulmonary amoebiasis.
Amoebic pericarditis.
Cutaneous amoebiasis.
Rectovaginal fistula:
Diagnosis
Pemeriksaan feses rutin dapat menunjukan trofozoit bebas, eritrosit, leukosit. Pemeriksaan
lab darah dapat menunjukan adanya leukositosis shift to the left, hemokonsentrasi.
Sigmoidoscopy dapat mendeteksi ulserasi berbentuk flask. Amoebic serology dengan
Hemaglutinasi indirek, ELISA, atau counter immunoelectrophoresis, umumnya pemeriksaan
ini dilakukan pada amebiasis ekstra intestinal.
Tata Laksana
Dapat diberikan metronidazole ( 30-50 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis ) ataupun
tinidazole. Setelah itu diberikan furamide atau iodoquinol untuk membasmi kista pada
lumen usus selama 10 hari.