Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan
rahmat, kesehatan, kesempatan dan pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
kepaniteraan bedah mulut ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan persyaratan guna
melengkapi ujian kepaniteraan bagian Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Gadjah Mada.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada drg. Bambang Dwi
Rahardjo, Sp.BM selaku penanggung jawab kepaniteraan Bedah Mulut FKG UGM serta semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari masih banyak
kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan pembaca
memberikan saran dan kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, 15 September 2014
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Prinsip ilmu bedah yang diaplikasikan oleh ahli bedah dapat diaplikasikan
juga dalam praktek ilmu bedah mulut. Ilmu bedah mulut sebagai spesialisasi dalam
ilmu kedokteran gigi adalah bagian dari praktek kedokteran gigi. Prinsip kerja dari
bedah mulut sama seperti prinsip yang berlaku dalam ilmu bedah, yaitu bahwa

eksodonsia harus dilakukan secara asepsis , bedah atraumatika, dan di bawah anestesi
yang baik serta mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh. Asepsis adalah suatu
keadaan yang bebas dari mikroorganisme (Pedersen, 1996).
Di bidang kedokteran gigi asepsis di daerah rongga mulut harus
diusahakan sebaik mungkin termasuk daerah Iidah. Keadaan asepsis juga diusahakan
untuk operator terutama tangan, alat bedah yang digunakan dan kamar bedah. Seluruh
alat yang akan dipakai harus dalam keadaan steril dengan cara sterilisasi. Sterilisasi
adalah tonggak dalam praktik keperawatan perioperatif. Prinsip tersebut merupakan
dasar bagi banyak standar teknis dan praktik yang membentuk bagaimana pasien,
instrumen, bahan dan peralatan dipersiapkan dan digunakan dalam ruang operasi.
Dengan mematuhi dan memahami prinsip sterilisasi, operator dapat memastikan
bahwa pasien tidak akan mendapatkan bahaya kecerobohan akibat karena
kontaminasi silang mikroorganisme. Proses sterilisasi dapat berupa pemanasan,
pemberia zat kimia, radiasi atau filtrasi (Kohn dkk., 2003).
Eksodonsia adalah salah satu cabang ilmu bedah mulut yang mempelajari
tentang hal-hal yang berhubungan dengan tindakan bedah gigi. Tujuan eksodonsia
adalah untuk mengeluarkan seluruh bagian gigi bersama jarigan patologisnya dari
dalam soket gigi serta menanggulangi komplikasi yang mungkin ditimbulkannya.
Terdapat bermacam-macam tang ekstraksi yang didesain berdasarkan bentuk
anatomis gigi geligi rahang atas maupun bawah. Tang ekstraksi didesain demikian
untuk memudahkan mengeluarkan gigi beserta keseluruhan akarnya dari soket gigi
dalam proses eksodonsia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior metode Fisher
2. Bagaimana cara sterilisasi alat, ruangan, dan bahan medis
3. Apa saja faktor-faktor yang perlu diperhatikan saat praktikum bedah mulut?
4. Apa saja komplikasi dari pencabutan gigi dan anestesi?
5. Bagaimanakah ciri-ciri tang gigi posterior rahang atas dan rahang bawah?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui teknik anastesi blok N. Alveolaris inferior metode Fisher
2. Untuk mengetahui sterilisasi alat, bahan, dan ruangan
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang perlu diperhatikan saat praktikum bedah
mulut
4. Untuk mengetahui komplikasi eksodonsia dan anastesi

5. Untuk mengetahui ciri-ciri tang posterior rahang atas dan rahang bawah?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Anastesi Blok Nervus Alveolaris Inferior Metode Fisher
Blok n. alveolaris inferior dapat dilakukan dengan mendeponirkan
anestetikum sekitar nervus tersebut sebelum masuk ke canalis mandibularis. Metode
ini dianjurkan karena injeksi supraperiosteal biasanya tidak efektif terutama untuk
regio gigi-gigi molar. Sulcus mandibularis terletak pada facies interna ramus
mandibula. Berisi jaringan ikat longgar yang dilalui oleh n. alveolaris dan pembuluh
darahnya. Sebelah medialnya tertutup oleh ligamentum sphenomandibularis dan m.
pterygoideus medialis. Raphe pterygomandibularis terletak tepat di bawah mukosa
dan bisa diraba apabila mulut dibuka lebar-lebar. Raphe membentang dari crista
mylohyoidea pada mandibular, di sebelah posterior molar ketiga, ke hamulus
pterygoideus (Purwanto, 1993).
Teknik : Palpasi fossa retromolaris dengan jari telunjuk sehingga kuku jari
menempel pada linea obliqua. Dengan barrel bagian yang berisi anastetikum)
syringe terletak di antara kedua premolar pada sisi yang berlawanan, arahkan jarum
sejajar dengan dataran oklusal gigi-gigi mandibula ke arah ramus dan jari. Tusukkan
jarum pada apeks trigonum pterygomandibularis dan teruskan gerakan jarum di antara
ramus dan ligamentum-ligamentum serta otot-otot yang menutupi facies posterior

sulcus mandibularis. Di sini, deponirkan kurang lebih 1,5cc anestetikum di sekitar n.


alveolaris inferior. (Kedalaman insersi jarum rata-rata 15 mm, tetapi bervariasi
tergantung pada ukuran mandibula dan perubahan proporsinya sejalan dengan
pertambahan umur). N. lingualis biasanya teranastesi dengan cara mendeponirkan
sejumlah kecil anastetikum pada pertengahan perjalanan masuknya jarum (Purwanto,
1993).
Anestesia: injeksi menyeluruh biasanya untuk tujuan operatif, untuk
menganastesi semua gigi pada sisi yang diinjeksi kecuali incisivus sentral dan lateral
yang menerima inervasi dari serabut saraf sisi kontralateralnya. Anastesi biasanya
kurang menyeluruh pada aspek bukal gigi-gigi molar karena gigi juga diinervasi oleh
n. buccalis longus. Untuk esktraksi, injeksi mandibula perlu ditambah dengan injeksi
n. buccalis longus.
B. Sterilisasi
Sterilisasi merupakan suatu proses yang menghancurkan semua bentuk
kehidupan mikroba, termasuk endospora pada permukaan benda mati. Sterilisasi dan
disinfeksi adalah dua tonggak dalam praktik keperawatan perioperatif. Prinsip
keduanya merupakan dasar bagi banyak standar teknis dan praktik yang membentuk
bagaimana pasien, instrumen, bahan dan peralatan dipersiapkan dan digunakan dalam
ruang operasi. Dengan mematuhi dan memahami prinsip sterilisasi, operator dapat
memastikan bahwa pasien tidak aan mendapatkan bahaya kecerobohan akibat karena
kontaminasi silang mikroorganisme. Proses sterilisasi dapat berupa pemanasan,
pemberia zat kimia, radiasi atau filtrasi (penyaringan).
1. Sterilisasi Alat
Alat-alat yang bersentuhan dengan pasien (instrumen dan peralatan
dental) dikategorikan sebagai kritis, semicritical, atau nonkritis, tergantung pada
potensi risiko infeksi yang berhubungan dengan penggunaannya. Alat-alat kritis
adalah yang digunakan untuk menembus jaringan lunak atau tulang memiliki risiko
terbesar penularan infeksi dan harus disterilkan dengan panas. Alat-alat semicritical
menyentuh kulit atau membran mukosa yang tidak utuh dan memiliki risiko
penularan lebih rendah; karena mayoritas barang-barang semicritical dalam
kedokteran gigi adalah toleran terhadap panas, mereka juga harus disterilkan dengan
menggunakan panas. Jika barang semicritical sensitif terhadap panas, maka dapat

menggunakan desinfeksi tingkat tinggi. Alat-alat nonkritis memiliki resiko penularan


infeksi yang paling rendah, karena hanya berkontak dengan kulit yang utuh, yang
berfungsi sebagai barier yang efektif untuk mikroorganisme (Kohn dkk., 2003).

Kategori
Kritis

Definisi

Instrumen dental

Penetrasi jaringan lunak, Instrumen

bedah,

berkontak dengan tulang, periodontal

scaler,

masuk ke dalam atau scalpel blades, bur bedah


berkontak dengan aliran
darah atau jaringan lunak
lainnya
Semikritis

Kontak membran mukosa Kaca mulut, kondensor


atau

kulit

yang

tidak amalgam, sendok cetak

utuh; tidak berpenetrasi reusable,

dental

pada jaringan lunak, tidak handpiece

(walaupun

berkontak dengan tulang, dental handpiece masuk


tidak masuk ke dalam dalam

kategori

barang

atau berkontak dengan semicritical, sterilisasinya


akliran

darah

atau harus menggunakan panas

jaringan lunak lainnya

dan

bukan

sekedar

disinfektan tingkat tinggi


Non-kritis

Berkontak dengan kulit Head/cone


yang utuh

manset

tensi,

radiograf,
facebow,

pulse oximeter
Menurut Kohn dkk (2003), instrumen dental yang tahan panas biasanya
disterilisasi menggunakan alat-alat dibawah ini yang telah mendapatkan sertifikasi
kelayakan penggunaan medis oleh FDA.
a. Sterilisasi Uap

Di antara metode sterilisasi, sterilisasi uap adalah yang paling diandalkan dan
ekonomis. Sterilisasi uap digunakan barang-barang critical dan semicritical yang tidak
sensitif terhadap panas dan kelembaban. Sterilisasi uap memerlukan pemaparan langsung
dari setiap item untuk langsung menguapinya pada suhu dan tekanan pada jangka waktu
tertentu untuk membunuh mikroorganisme. Dua tipe dasar sterilisasi uap adalah
perpindahan gravitasi dan high-speed prevacuum sterilizer. Menurut Lakshamn dkk
(2002), prinsip kerja autoclave adalah pada saat air dipanaskan pada lingkungan yang
tertutup, titik didihnya naik bersamaan dengan suhu uap keseluruhan, contohnya apda
104kPa (15p.s.i) suhu

uap

Fenomena

dimanfaatkan

sterilisasi
sterilisasi
muatan

ini
uap

oleh

adalah

121.

autoclave. Setelah

selesai,

pengeringan

bersamaan

dengan

evakuasi

uap. Pengeringan dapat

dipercepat dengan

penyedotan udara yang

hangat

terfiltrasi

chamber.

dalam

dan

Gambar 1. autoclave
b. Dry Heat
Menurut Kohn dkk (2003), strerilisasi dry heat digunakan untuk sterilisasi
material yang dapat rusak oleh sterilisasi panas yang lembab (misalnya, bur dan beberapa
instrumen ortodontik). Walaupun dry heat memiliki keuntungan biaya operasional yang
rendah dan tidak korosif, namum membutuhkan waktu proses yang lama dan tempratur
yang tinggi sehingga tidak cocok untuk beberapa barang dan instrumen. Sterilisasi dry
heat yang digunakan dalam kedokteran gigi meliputi static-air dan forced-air types:

Tipe static-air biasanya disebut tipe sterilisasi oven . Kumparan pemanas di bagian
bawah atau sisi unit menyebabkan udara panas naik ke dalam ruangan melalui konveksi
alami.
Tipe forced-air ini dikenal juga sebagai sterilisasi rapid heat transfer. Udara panas
disirkulasikan ke seluruh ruang pada kecepatan tinggi, hal ini memungkinkan transfer
energi dari udara ke instrumen yang lebih cepat, sehingga mengurangi waktu yang
diperlukan untuk sterilisasi.

Gambar 2. Dry

Heat Sterilization

c. Metode

penyaringan

(filtration)
Penyaringan adalah proses sterilisasi yang dilakukan pada suhu kamar. Sterilisasi
dengan penyaringan digunakan untuk bahan yang peka terhadap panas misalnya serum,
urea dan enzim. Dengan cara penyaringan larutan atau suspensi dibebaskan dari semua
organisme hidup dengan cara melakukannya lewat saringan dengan ukuran pori yang
sedemikian kecilnya sehingga bakteri dan sel-sel yang lebih besar tertahan diatasnya,
sedangkan filtratnya ditampung didalam wadah yang steril. Namun demikian, virus tidak
dapat terpisah dengan penyaringan semacam ini. Oleh karena itu, setelah penyaringan,
medium masih perlu dipanasi dalam autoklaf, meskipun tidak selama 15 menit dan
dengan suhu 121oC.
d. Sterilisasi Air mendidih
Perebusan adalah pemanasan didalam air mendidih atau uap air pada suhu 1000C
selama beberapa menit. Pada suhu ini sel vegetatif dimatikan, sedang spora belum dapat
dihilangkan.

Beberapa

bakteri

tertentu

tahan

terhadap

suhu

perebusan

ini,

misalnya Clostridium perfringens dan Clostridium botulinum tetap hidup meskipun


direbus selama beberapa jam.

2. Sterilisasi Ruang
Untuk menghindarkan atau memperkecil bahaya infeksi, seharusnya
bekerja secara asepsis, artinya melakukan pekerjaan dengan menjauhkan segala
kemungkinan kontaminasi dari pada kuman. Tindakan mensucihamakan atau
desinfeksi, tidak hanya dilakukan terhadap alat- alat yang dipergunakan saja, tetapi
terhadap semua yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan luka
termasuk ruang tindakan. Keadaan ruang tindakan harus sedemikian rupa sehingga
mudah dibersihkan. Misalnya : dinding tegel, porselen atau marmer, lantai tegel,
warna sejuk (putih atau biru muda). Alat- alat yang dipergunakan seperti boor, lampu,
meja bedah juga merupakan sumber infeksi. Untuk mempergunakan sebaiknya
dilakukan oleh seorang asisten yang tidak turut dalam operasi tersebut. Apabila dalam
keadaan terpaksa operator harus memegang alat alat bantu, maka harus dilapisi
dengan kasa/lap steril.
Permukaan, khususnya tempat pemeriksaan atau meja operasi, yang
kontak dengan cairan badan, jug harus distreilisasi. Usap dengan desinfektan ( klorin
0,5 % ), sebelum digunakan kembali, saat terlihat terkontaminasi atau paling sedikit
setiap hari, merupakan cara yang mudah dilakukan, tidak mahal untuk dekontaminasi
permukaan luas. Larutan pemutih pakaian seperti Bayclin mengandung zat kimia
klorin sebanyak 5,25%, larutan ini dapat digunakan sebagai larutan desinfektan
dengan mengencerkannya menjadi larutan klorin 0,5 %. Apabila memungkinkan
sterilisasi ruang dapat dilakukan menggunakan penyinaran ultraviolet.
3. Sterilisasi Bahan-Bahan Medis
Penggunaan panas yang lembab dengan tekanan tinggi ini menghasilkan
kekuatan

penghacur

bakteri

yang

paling

efektif

terhadap

semua

bentuk

mikroorganisme. Bahan-bahan yang akan disterilisasi dalam autoclave biasanya


dibungkus dahulu dalam kasa biasanya disteriliser dalam satu paket bedah, untuk
sesuatu jenis operasi. Pembungkusan dengan kain kasa ini gunanya untuk
mempertahankan sterilitas alat atau bahan beberapa hari atau minggu diluar autoclave

(dalam lemari). Ada beberapa pabrik yang membuat kertas pembungkus sebagai ganti
kain kasa. Kertas ini mempunyai sifat sifat kain dan juga mempunyai kelebihankelebihan dari pada kain kasa. Sifatnya kurang poreus dari pada kain kasa, dan oleh
sebab itu lebih sukar ditembus oleh debu dan mikroorganisme, tetapi tidak dapat
dipergunakan berkali-kali. Alat-alat atau bahan-bahan yang telah disterilkan
di autoclave dengan pembungkus kertas yang cukup dapat disimpan dilemari selama
2-4 minggu. Lama atau waktu sterilisasi dengan autoclave tergantung dari besar
kecilnya paket bedah. Paket yang kecil dapat disterilkan dalam waktu 30 menit pada
250 F dengan tekanan 20 pon (10 kg). Sarung tangan dari karet merupakan bahan
yang lebih peka terhadap tekanan uap dari pada peralatan lainnya seperti pembalut,
seprai dan instrumen dari metal. Oleh sebab itu bahan dari karet cukup disteriliser
dengan tekanan uap 15 pon atau 15 menit pada 250F.
C. Faktor-faktor yang harus diperhatikan saat praktikum bedah mulut
Prinsip yang berlaku dalam eksodonsia sama seperti prinsip yang berlaku dalam ilmu
bedah, yaitu bahwa eksodonsia harus dilakukan secara asepsis , bedah atraumatika, dan di
bawah anestesi yang baik serta mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh.
1. Asepsis
Asepsis adalah suatu keadaan yang bebas dari mikroorganisme. Di bidang
kedokteran gigi asepsis di daerah rongga mulut harus diusahakan sebaik mungkin
termasuk daerah Iidah. Keadaan asepsis juga diusahakan untuk operator terutama
tangan, alat bedah yang digunakan dan kamar bedah. Sebelum melakukan tindakan
eksodonsia rongga mulut selalu harus dibersihkan dengan mengolesi seluruh mukosa
rongga mulut dan lidah dengan antiseptika misalnya larutan iod gliserin.
Seluruh alat yang akan dipakai harus dalam keadaan steril, diletakkan di atas
baki dan kemudian ditutup handuk steril. Kain kasa dan kapas steril dapat digunakan
di daerah operasi. Tangan operator yang bekerja di daerah operasi harus diperhatikan
kebersihannya yaitu tangan dan telapak tangan termasuk daerah kuku lalu ke daerah
atas sampai siku tangan harus secara tekun disikat (srubbing) dengan sabun selama 10
menit dan sabun yang melekat kemudian dibasuh dengan air yang mengalir dan keran
langsung. Sebelum operator memakai sarung tangan steril maka telapak tangan harus
dicuci terlebih dahulu dengan alkohol 70%. Untuk operasi besar operator dan
pembantunya membutuhkan gaun operasi steril. Penggunaan jarum suntik hipodermik

yang telah disteril dengan autoclaving akan lebih aman dibanding yang disteril
melalui sterilisasi dingin. Sekarang penggunaan jarum sekali pakai (dispossable) steril
dipandang paling aman.
2. Bedah atraumatik
Bedah atraumatika adalah cara mengerjakan bedah (operasi) janngan hidup yang
berprinsip pada trauma jaringan yang ditimbulkan diusahakan sekecil mungkin.
Prinsip ini berlaku bagi tindakan eksodonsia. Semua kegiatan eksodonsia harus
terencana pasti untuk menghindan komplikasi eksodonsia yang tidak dikehendaki,
misalnya fraktur akar gigi, fraktur tulang pendukung gigi, fraktur tulang rahang,
perdarahan, terjadinya oro anthral fistula yang lebar, paralisis syaraf, laserasi jaringan
lunak di sekitar gigi. Jaringan yang laserasi berpotensi menjadi nekrosis karena sel-sel
yang membentuknya menjadi rusak dan kehilangan aktivitasnya.
3. Anestesi
Anestesi bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakan oleh pasien ketika
tindakan pembedahan dilakukan. Dalam dunia kedokteran gigi terdapat 2 jenis
anestesi yang biasa dilakukan, yaitu general anastesi dan lokal anastesi. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan macam anastesi yaitu luas daerah
operasi yang menyangkut batas-batas daerah operasi yang akan dikerjakan, keadaan
umum penderita, perluasan infeksi jaringan di daerah operasi, temperamen penderita,
dan kooperatif penderita.
4. Komplikasi pencabutan gigi dan anestesi
a. Komplikasi Intraoperatif
Perdarahan
Perdarahan saat dilakukan ekstraksi gigi merupakan salah satu komplikasi
intraoperatif. Apabila telah diketahui pasien memiliki resiko perdarahan maka sebaiknya
dokter gigi bekerja sama dengan dokter umum atau melakukan tes laboratorium terlebih
dahulu. Tindakan yang dapat dilakukan dokter gigi agar tidak terjadi perdarahan
intraoperatif adalah menghindari regio-reghio yang beresiko tinggi seperti palatum
dengan a. palatina mayor, vestibulum bukal molar bawah dengan a. fasialis, mandibula
anterior dan regio apikal molar ketiga yang terletak dekat a. alveolaris inferior.
Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan langsung
dengan jari atau kasa atau klem.
Fraktur

Semua fraktur yang dapat dihindarkan memiliki etiologi yang sama yaitu tekanan yang
berlebihan atau tidak terkontrol atau keduanya. Cara untuk menghindari fraktur
disamping tekanan terkontrol adalah dengan menggunakan radiograf sebelum melakukan
pembedahan.
Cedera Jaringan Lunak
Lecet pada jaringan lunak sering diakibatkan oleh retraksi berlebihan dari flap yang
kurang besar. Sobeknya mukosa sering terjadi pada tepi tulang dan komplikasi ini bisa
dihindari dengan membuat flap yang lebih besar dan menggunakan retraksi yang ringan
saja. Lecet akibat elevator, skalpel dan instrumen putar sangatlah jarang. Lecet dapat
dihindari dengan perhatian yang cermat dari operator.
b. Komplikasi pasca ekstraksi
Perdarahan
Perdarahan ringan dari alveolar adalah normal apabila terjadi pada 12-24 jam pertama
setelah pencabutan gigi. Cara terbaik untuk mengontrol kondisi ini adalah menekan
bagian oklusal dengan menggunakan kasa agar dapat merangsang pembentukan bekuan
darah yang stabil. Hematom adalah perdarahan setempat yang membeku dan membentuk
massa yang padat. Hematom biasanya bermula sebagai pembengkakan rongga mulut
yang sering berwarna merah dan lama kelamaan berubah menjadi noda memar berwarna
biru dan hitam.
Alveolitis
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah alvoelitis atau dry socket. Biasanya dimulai
pada hari ke 3 dan 5 setelah pencabutan. Keluhan utamanya adalah rasa sakit yang sangat
hebat. Penyebab alveolitis adalah hilangnya bekuan akibat lisis, mengelupas atau
keduanya. Alveolitis biasanya disebabkan oleh streptococcus selain itu trauma juga
berperan

dalam

terjadinya

alveolitis

karena

mengurangi

vaskularisasi.

Untuk

penatalaksanaan komplikasi ini adalah bagian yang mengalami alveolitis diirigasi dengan
salin yang hangat. Palpasi hati-hati dengan menggunakan aplikator kapas membantu
dalam menentukan sensitivitas.
Infeksi
Pencabutan gigi yang melibatkan proses infeksi akut seperti perikoronitis atau abses
berpotensi terjadinya bakteremia atau penyebaran infeksi. Pencabutan gigi tertentu
yang mengalami sepsis lokal baik yang sudah dirawat maupun belum seperti deposit
kalkulus yang banyak, gingivitis akut atau kronis sebaiknya dihindari. Cara efektif

untuk mengurangi kontaminasi lokal adalah dengan profilaksis sebelum pencabutan


(scalling) yang dilakukan 2-3 hari sebelum dilakukan pencabutan.
Rasa Sakit
Pengontrolan rasa sakit sangat tergantung pada dosis dan cara pemberian obat serta
kerja sama dengan pasien. Dokter gigi dapat memberikan resep obat pengontrol rasa
sakit sesudah makan tetapi sebelum timbulnya rasa sakit.
Edema
Edema merupakan kelanjutan normal dari setiap pencabutan gigi serta merupakan
reaksi normal dari jaringan terhadap cedera. Usaha-usaha untuk mengontrol edema
mencakup termal (dingin), fisik (penekanan) dan obat-obatan . Aplikasi dingin 24 jam
pertama setelah pembedahan biasanya bermanfaat.
(Pedersen, 1996)
c.
Komplikasi Anastesi
Vesikel
Vesikel pada bibir bawah merupakan lesi yang sering ditemukan setelah injeksi
mandibula. Kondisi yang berkembang sehari sesudah injeksi diduga berhubungan
dengan penyuntikan anestikum, gangguan neurotropik dan trauma. Vesikel tersebut
terbentuk dikarenakan gigitan atau trauma pada bibir yang teranestesi.

Anestesia
Jika tusukan jarum terlalu tinggi dan masuk terlalu dalam, anestetikum akan mengalir
ke n. auriculotemporalis dan akan terjadi anestesi pada regio temporalis.
Turunnya kelopak mata setelah injeksi mandibula
Injeksi mandibula yang terlalu dalam dan terlalu tinggi dapat mencapai cabangcabang yang menginervasi mm orbicularis oculi dan menyebabkan hilangnya kontrol
muskular sementara pada kelopak mata.

Rasa sakit
Rasa sakit dipinggang seperti tertusuk, kadang-kadang timbul rasa sakit mendadak
dan sangar hebat pada mulanya dan secara bertahap berkurang sampai akhirnya
hilang dalam waktu 5-15 menit. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh posisi duduk
yang tidak tepat.

Parestesia
Setelah injeksi mandibula atau mentalis mungkin akan timbul sensasi tingling atau
mati rasa pada bibir bawah dalam waktu yang cukup lama. Biasanya disebabkan oleh
trauma langsung pada batang saraf.
(Purwanto, 1993)
5. Ciri-Ciri Tang Posterior

Tang atau dental forceps adalah instrumen metal yang digunakan untuk
mencabut gigi atau akar gigi dalam berbagai ukuran dan bentuk untuk berbagai kasus.
Bagian-bagian yang umumnya terdapat pada tang ekstraksi adalah beak/paruh yang
merupakan ujung tang untuk mencengkram gigi geligi, joint/pegangan yang
merupakan pertemuan antara beak dan handle, dan handle untuk pegangan operator.
Beak didesain untuk memegang gigi dengan erat dibawah garis gusi, dengan
permukaan dalam beak biasanya berbentuk konkaf sedangkan permukaan luarnya
berbentuk konveks (Pedersen, 1996).
Terdapat bermacam-macam tang ekstraksi yang didesain berdasarkan bentuk
anatomis gigi geligi rahang atas maupun bawah. Tang ekstraksi didesain demikian
untuk memudahkan mengeluarkan gigi beserta keseluruhan akarnya dari soket gigi
dalam proses eksodonsia. Berikut merupakan macam tang ekstraksi gigi posterior dan
desainnya;
a. Rahang Atas

Molar 1 dan Molar 2


Terdapat dua jenis tang ekstraksi untuk gigi M1 dan M2 rahang atas; yang pertama
untuk sisi kiri dan yang kedua untuk sisi kanan. Bentuk tang untuk gigi posterior
rahang atas sedikit lengkung dan terlihat seperti huruf S. Beak bukal pada tiap tang
posterior rahang atas

mempunyai desain

yang runcing, yang

cocok

bifurkasio

pada

bukal

bukal
gigi,

palatal

berbentuk

untuk

permukaan

untuk
dua

sedangkan

akar
beak

konkaf dan cocok


konveks

palatal.

Gambar 3. Tang Ekstraksi Molar 1 dan 2 Rahang Atas Kanan

akar

Gambar 4. Tang Ekstraksi Molar 1 dan 2 Rahang Atas Kiri


Molar 3
Tang ekstraksi untuk molar ketiga rahang atas

memiliki bentuk yang sedikit

lengkung dan merupakan forceps terpanjang karena posisi molar ketiga

yang

posterior. Dikarenakan bentuk gigi ini mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi,
beak tang ini berbentuk konkaf dan halus (tanpa ujung yang runcing), sehingga tang
ini bisa digunakan untuk mengekstraksi gigi molar ketiga maksila kiri dan kanan.

Gambar 5. Tang

Ekstraksi Molar 3

b. Rahang Bawah
Molar 1 dan
Molar 2
Tang ekstraksi mandibula memiliki paruh yang hampir membentuk sudut 90 dengan
pegangan. Untuk tang ekstraksi gigi molar pertama dan kedua mandibula memiliki
ciri paruhnya simetris dengan tonjolan bagian tengah atau ujung pada masing-masing
paruh, yang bertujuan agar mencengkram bifurkasi atau groove akar bukal atau
lingual.

Gambar 5. Tang

Ekstraksi Molar 1

dan 2 Rahang
Bawah

Molar 3
Tang ekstraksi ini memiliki pegangan yang lurus, sedangkan paruhnya melengkung
pada sudut kanan dibandingkan pegangannya. Paruhnya sedikit lebih panjang jika
dibandingkan tang ekstraksi molar pertama dan kedua mandibula, karena posisi molar
ketiga yang posterior dalam lengkung rahang. Karena gigi ini mempunyai ukuran dan

bentuk yang bervariasi dan karena biasanya tidak mempunyai bifurkasi akar, ujung
dari paruh tang ini berbentuk konkaf tanpa desain yang berujung runcing.
(Fragiskos, 2007; Pedersen 1996)

Gambar 6. Tang

Ekstraksi

Molar 3 Rahang
BAB III

Bawah
PENUTUP

Dalam praktik kedokteran gigi khususnya pada praktikum bedah mulut


dokter gigi harus memahami prinsip-prinsip tindakan bedah. Prinsip kerja dari bedah
mulut sama seperti prinsip yang berlaku dalam ilmu bedah, yaitu bahwa eksodonsia
harus dilakukan secara asepsis, bedah atraumatika, dan di bawah anestesi yang baik.
Tindakan bedah yang dilakukan para ahli bedah tidak lepas dari tujuan eksodonsia.
Tujuan eksodonsia adalah untuk mengeluarkan seluruh bagian gigi bersama jarigan
patologisnya dari dalam soket gigi serta menanggulangi komplikasi yang mungkin
ditimbulkannya.

DAFTAR PUSTAKA
Fragiskos, F.D., 2007, Oral Surgery, Springer, Germany, h. 181-200
Kohn, W.G., Collins, A.S., Cleveland J.L., Harte J.A., Eklund K.J., Malvitz D.M., 2003,
Guidelines for Infection Control In Dental Health-Care Settings, MMWR;
23(17): 1-76
Pedersen, G.W., 1996, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, EGC, Jakarta, h. 3, 83-100
Purwanto, 1993, Petunjuk Praktis Anestesi Lokal, EGC, Jakarta, h. 21-22, 38-39