Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah umat manusia adalah sejarah penindasan dan perbudakan. Menurut Ali
Syari`ati, simbol-simbol peradaban manusia sesungguhnya dibangun atas nyawa dan darah
jutaan orang. Dibalik kemegahan Piramid, simbol peradaban Mesir kuno, tersimpan cerita
memillukan tentang sebuah rezim penindasan dan perbudakan. Dibutuhkan 800 juta keping
batu yang harus di bawa sejauh 980 km dari Aswan menuju Mesir hanya untuk membangun
kuburan para terkutuk itu. Jutaan nyawa budak manusia adalah harga yang harus dibayar
demi ambisi Fifaun, sang penindas.
Seiring perjalanan waktu, penindasan dan perbudakan terus bergulir dengan berbagai
bentuknya. Hari ini kita tidak lagi melihat tragedi perbudakan untuk membangun kuburan.
Namun dengan sangat jelas dapat dilihat bahwa proses penindasan masih terus terjadi dengan
berbagai motif tapi dengan tujuan yang sama, yaitu memuaskan nafsu segelintir orang. Hari
ini perbudakan terjadi dengan modus yang lebih halus. Atas nama perang terhadap teroris,
ribuan tentara AS harus terbunuh atau membunuh orang yang tidak pernah mereka kenal di
Irak dan Afghanistan. Bahkan penindasan bisa terjadi atas nama agama sekalipun.
Sebaliknya, jika sejarah manusia adalah sejarah penindasan, maka sejarah kenabian
adalah sejarah pembebasan terhadap kaum tertindas. Kehadiran mereka di muka bumi
bukanlah sekedar penyampai wahyu Tuhan, namun juga memimpin kaumnya dalam
melakukan perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan. Sepanjang masa kenabiannya,
Nabi Muhammad SAW telah berhasil membebaskan kaum lemah Arab, terutama dari
kebodohan dan perbudakan. Posisi kaum perempuan yang sebelumnya sangat hina, bahkan
bisa diwariskan dan diperjual belikan, diangkat menjadi makhluk yang mulia bahkan berhak
atas harta warisan. Para budak yang biasanya diperlakukan sebagai barang dagangan
diberikan kebebasan sebagai manusia merdeka yang memiliki hak yang sama dengan
manusia lain, bahkan dengan nabi sekalipuin.
Orang musyrik Mekkah seringkali mencela Islam dengan mengatakan bahwa
pengikut Muhammad hanyalah kaum miskin saja. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin
1

yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia
(biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan
orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat
kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah
orang-orang yang dusta. (QS Nuh 27)
Begitulah, kaum dhuafa memang sangat dekat dengan para rasul, dan sebaliknya
keberadaan mereka sangat dibenci dan dihina oleh kaum penguasa. Para penguasa zalim
tersebut tentu saja tidak senang jika kelompok tertindas tersebut melakukan perlawanan
terhadap kekuasaannya. Sehingga berbagai cara dilakukan agar perbudakan tetap terjadi
sehingga kelompok tertindas tersebut tetap berada dalam kesulitan. Cerita tentang
penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap para budak tentu sangat sering kita
dengar dalam sejarah perjalanan nabi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana nilai dan ajaran sosial kemanusiaan muhammadiyah (Teologi Al Maun)?
2. Bagaimana gerakan peduli kepada fakir miskin dan anak yatim yang dilakukan
muhammadiyah?
3. Bagaimana bentuk dan model gerakan sosial kemanusiaan muhammadiyah?
4. Bagaimana bentuk revitalisasi gerakan sosial muhammadiyah?
1.3 Tujuan Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan
khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Kemuhammadiyahan II.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui nilai dan ajaran sosial kemanusiaan muhammadiyah (Teologi Al

Maun)?
2. Untuk mengetahui gerakan peduli kepada fakir miskin dan anak yatim yang dilakukan

muhammadiyah
3. Untuk mengetahui bentuk dan model gerakan sosial kemanusiaan muhammadiyah
4. Untuk mengetahui bentuk revitalisasi gerakan sosial muhammadiyah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai dan Ajaran Sosial Kemanusiaan Muhammadiyah (Teologi Al Maun)
Teologi Al-Maun merupakan suatu konsep yang diambil dari Surat Al-Maun. Dalam
surat ini, terdapat pembelajaran yang sangat berharga, sebagai upaya membangun etos
moralitas-spritualitas disatu sisi dengan berkaca terhadap fakta realitas keagamaan dan sosialbudaya dengan melihat fakta ketidakadilan sosial dalam kerangka makro dengan harapan dan
tujuan memberdayakan kembali prinsip-prinsip utama umat Islam umumnya dan warga
Muhammadiyah dalam menciptakan tatanan yang seimbang dalam persoalan-persoalan
politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya.
Surat Al-Maun berbunyi:

}3
} 2 } 1
}7 } 6 } 5
} 4

Artinya : " Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang
menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (QS. AlMaun: 1-7)
Ayat di atas merupakan basis ideologi perjuangan Muhammadiyah yang memberikan
landasan keberpihakan kepada kaum lemah (dhuafa) dan kaum teraniaya (mustadhafin).
Semangat Al-Maun merupakan dasar pijakan dalam pengembangan awal gerakan PROPenolong Kesengsaraan

Oemoem dengan

tokoh

Kyai

Sudjak

di

awal

pendirian

Muhammadiyah tahun 1912. Penerjemahan tersebut disesuaikan dengan munculnya gagasan


baru tentang pembentukan masyarakat sipil atau masyarakat madani atau masyarakat yang
beradab. Masyarakat madani yang dimaksud dalam hal ini adalah masyarakat yang terbuka
dan bermartabat.
Sayyid Quthb (dalam Tafsir fi Zhilalil Quran Vol. 24) menjelaskan bahwa surat
pendek ini mampu memecahkan hakikat besar yang mendominasi pengertian iman dan kufur
secara total. Boleh jadi definisi iman dan kufur di sini sangat berbeda bila dibandingkan
definisi tradisional. Karena kufur (mendustakan agama) di sini diartikan sebagai menghardik
3

anak yatim dan atau menyakitinya (Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin, ayat 2-3). Logika kufur muncul karena
seharusnya saat iman seorang sudah mantap di hati niscaya anak-anak yatim dan orang
miskin tentu tidak akan diterlantarkan.

SEMANGAT agama sebagai ideologi kritik sosial dapat dirujuk akar teologisnya
pada Al-Quran surat Al-Maun. Al-Mn adalah satu diantara surat dalam Al-Quran yang
mengandung doktrin teologi sangat penting. Surat yang termasuk makiyah awal (turun di
Makkah) ini mengajarkan kaitan yang erat antara penghayatan iman dengan pengamalan
sosial. Suatu ajaran yang menyimpulkan hubungan antara ide monoteisme (tauhid) dengan
semangat humanisme (kemanusiaan), serta rasa keadilan ekonomi dan sosial.1
Tauhid adalah dimensi keimanan sedang humanisme adalah dimensi kemanusiaan.
Tauhid adalah mengesakan Tuhan, humanisme menyatukan manusia dalam kesederajatan
sebagai sama-sama makhluk Tuhan. Tauhid adalah sebuah ketundukan kepada Tuhan sedang
humanisme adalah sebuah penghargaan atas martabat kemanusiaan. Tauhid adalah konsepsi
keyakinan sedang humanisme adalah gerakan sosial. Tauhid adalah menjaga dan humanisme
adalah bergerak. Semua itu, sekali lagi, merupakan spirit dari teologi Al-Maun.
Untuk mengatasi ketidakadilan sosial yang terjadi saat ini, maka Muhammadiyah
sebagai persyarikatan perlu untuk menghidupkan lagi spirit Al-Maun, sebagaimana yang
telah dilakukan oleh Kyai Dahlan di awal-awal pendirian Muhammadiyah.
Ada beberapa pesan yang dapat di tangkap dari surat Al-Maun, diantaranya adalah:

Pertama, orang yang menelantarkan kaum dhuafa (mustadhafiin) tergolong kedalam orang
yang mendustakan agama.

Kedua, ibadah shalat memiliki dimensi sosial, dalam arti tidak ada faedah shalat seseorang
jika tidak dikerjakan dimensi sosialnya.

Ketiga, mengerjakan amal saleh tidak boleh dibarengi dengan sikap riya.

Keempat, orang yang tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, bersikap egois
dan egosentris termasuk kedalam orang yang mendustakan agama.

Fazlur Rahman, Islam, h. 3.

Bila ingin dipadatkan lagi, empat buah pesan yang terkandung dalam surat Al-Maun
inilah yang menjadi cita-cita sosial Muhammadiyah, yaitu ukhuwah (persaudaraan), hurriyah
(kemerdekaan), musawah (persamaan), dan adaalah (keadilan).
Spirit inilah yang ditangkap oleh Kyai Dahlan dan diimplementasikannya dalam
kehidupan sosial melalui persyarikatan Muhammadiyah. Nilai-nilai ini sejalan dengan misi
Islam di muka bumi ini sebagai agama yang rahmatan lilalamiin. Dalam perjalanannya,
untuk mengimplementasikan tauhid sosial ini juga memerlukan berbagai macam faktor
pendukung yang harus hidup dan berkembang pada warga persyarikatan Muhammadiyah.
Dalam perspektif teologi Al-Maun di atas, agama seharusnya bukan sekedar
keimanan yang bersifat simbolik dan bisu, apalagi acuh terhadap ketimpangan sosial yang
terjadi. Tetapi, agama semestinya mengambil prakarsa untuk mewujudkan keadilan sosial dan
ekonomi sebagai bentuk tanggung jawab sosial agama dan pembelaan terhadap anak yatim
dan kaum miskin. Lebih dari itu, agama juga dituntut untuk menumbuhkan kesalehan
transformatif dengan ikut terlibat dalam mewujudkan masyarakat yang keberadaban. Suatu
masyarakat yang terbebas dari praktek ketidakadilan sosial, eksploitasi dan dehumanisasi atas
kaum miskin.
Gagasan sentral teologi Al-Maun di atas adalah keberpihakan terhadap kaum
dhuafa, fuqara, masakin dan mustadhafin. Inilah prinsip populisme yang menjadi focus
theologicus Islam.
2.2 Gerakan Peduli Kepada Fakir Miskin Dan Anak Yatim Yang Dilakukan
Muhammadiyah
Sejak awal berdirinya Muhammadiyah menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan
masyarakat, khususnya masyarakat kelas dhuafa.

Penyaluran dan pembagian zakat fitrah danmaal kepada fakir miskin dan asnaf yang lain

Pendirian panti asuhan, panti miskin, panti jompo

Pendirian Balai kesehatan, poliklinik, Rumah sakit Ibu dan Anak dan Rumah Sakit Umum

Pendampingan terhadap masyarakat kelas dhuafa agar dapat mandiri

Untuk mengelola amal-amal usaha tersebut, dibentuk majelis dan lembaga :

Majelis Pelayanan Kesehatan masyarakat

Majelis Pelayanan Sosial

Majelis Pemberdayaan Masyarakat

Majelis Lingkungan Hidup

Lembaga Penangulangan Bencana

2.3 Bentuk dan Model Gerakan Sosial Kemanusiaan


Bentuk aksi atau model gerakan sosial KH Ahmad Dahlan dan para murid-muridnya.
Di mana pada saat kaum dhuafa dan mustadhafin percaya bahwa penyakit yang dideritanya
adalah akibat lelembut atau roh yang marah, Kyai Ahmad Dahlan justru mendirikan
Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang kemudian menjadi rumah sakit dengan
pengobatan gratis. Ketika umat yang bodoh dan miskin memandang bangsa Belanda itu kafir,
Kyai malah mendirikan Balai Pengobatan dengan dukungan tenaga dokter Belanda dan
priyayi abangan tanpa bayaran sepeserpun. Sekolah yang dipandang umat sebagai tradisi
orang kafir dan kristiani, dipilih Kyai sebagai media pembebasan umat dari kebodohan dan
keterbelakangan. Kyai pun mendirikan sekolah pertama dengan menjadikan ruang tamu
rumahnya sebagai kelas.
Apa yang dilakukan Kyai Ahmad Dahlan tersebut tidak bisa dilepaskan dari visinya
tentang dunia dan pemahamannya mengenai al-Quran.2Visi Kyai Ahmad Dahlan hiduphidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah; siapa menanam
akan mengetam; dan pemimpin itu sedikit bicara banyak bekerja merupakan visi hidup
yang dalam dan sarat dengan nilai-nilai pemberdayaan. Visi itu kemudian melahirkan
berbagai gagasan dan kerja sosial yang menuntut kesadaran Kyai Ahmad Dahlan untuk
mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), balai pengobatan, rumah sakit, rumah
miskin, panti asuhan, panti jompo, panti korban perang, sekolah, hingga penerbitan media
cetak yang ditujukan sebagai upaya mengamalkan nilai Islam agar bermanfaat bagi
pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat yang tertindas (mustadhafin), serta
pencerdasan umat yang bodoh dan terbelakang.
Dalam bentuk lain dengan berdasar pada penafsiran surat al-Maun yang diajarkan
Kyai Ahmad Dahlan lahirlah beragam praksis sosial pemberdayaan masyarakat fakir, miskin,

Abdul Munir Mulkhan, 1990, Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah,
Yogyakarta: Penerbit PT Percetakan Persatuan, hal. 132

dan kaum mustadhafin lainnya oleh Muhammadiyah. Seperti dikatakan Kyai Ahmad Dahlan
untuk terus menerus menyerukan agar setiap orang yang mampu bersedia memenuhi hak-hak
dan berlaku adil kepada orang miskin dan para fakir, anak yatim dan orang-orang terlantar
dan menderita.

Gerakan penyeruan pemenuhan hak-hak fakir miskin dan orang-orang terlantar


tersebut kemudian melahirkan gerakan mengelola zakat dan zakat fitrah untuk dibagikan
kepada kaum fakir miskin, orang terlantar di jalan, mereka yang menderita karena berbagai
sebab. Praksis sosial dari teologi al-Maun tersebut kemudian tidak sekedar mendirikan balai
pengobatan, rumah sakit, rumah sakit jiwa, mendirikan panti jompo, rumah miskin, panti
asuhan yatim piatu, rumah orang terlantar ataupun rumah singgah, melainkan juga ditandai
dengan pembentukan satuan kerja penyantunan dan perbaikan kehidupan yatim piatu, fakir
miskin dan orang yang ditimpa musibah atau kesusahan. Sementara gerakan mengelola zakat
yang telah dimulai sejak tahun 1920, saat ini dilakukan dengan manajemen pengelolaan zakat
yang lebih profesional dengan keberadaan Lazizmu (Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah).
Kesemua praksis sosial dan kerja amal untuk kemanusiaan tersebut tidak lepas dari
pengajaran dan sesuai pesan Kyai Ahmad Dahlan bahwa Berbuat dan bekerja itu lebih baik
dan lebih penting dari berbicara.3

Selanjutnya praksis sosial untuk kemanusiaan dari pemahaman atas teologi al-Maun
tampak pula pada gerakan dakwah Muhammadiyah saat ini yang memiliki jangkauan lebih
luas dan beragam, seperti keaktifan Muhammadiyah dalam Pokja Pemberantasan Korupsi,
penuntasan mafia pajak dan hukum, pemberantasan flu burung dan TB (tubercolosis) yang
banyak menimpa kelompok masyarakat miskin, fatwa kurban dan bencana alam yang
menekankan agar kurban diberikan berdasarkan prioritas nilai manfaat dan kebutuhan
masyarakat terutama yang menjadi korban bencana, serta pendirian MDMC (Muhammadiyah
Disaster Center) untuk penanganan tanggap darurat bencana agar lebih cepat dan lebih
efektif dalam menolong korban bencana.

Terakhir, yang perlu diperhatikan adalah menjaga kesinambungan gerakan sosial di


atas tidak sekedar menjadi rutinitas dan aktifitas program yang sepi dari kreatifitas dan
3Abdul

Munir Mulkhan, 2007, Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah,
Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, hal. 194, lihat juga Abdul Munir Mulkhan, 1990, ibid, hal 75

semangat awal untuk tujuan dakwah sosial kemasyarakatan. Muhammadiyah saat ini dan
pada masa yang akan datang menghadapi tantangan yang lebih berat, mengingat tidak hanya
dituntut tetap menjaga semangat dan nilai pengajaran Kyai Ahmad Dahlan, melainkan harus
terus mampu melakukan terobosan baru untuk kerja sosial dalam berbagai bentuknya sesuai
kebutuhan masyarakat dan kondisi zamannya. Ke depan diharapkan akan dilahirkan lebih
banyak lagi rumah sakit baru yang lebih modern dengan kelengkapan teknologi kedokteran,
keunggulan dalam mutu dan kualitas pelayanan, integrasi nilai indigenious dan modern dalam
pengobatan, serta tetap terjaganya spirit dan amal sosial rumah sakit untuk melayani
sepenuhnya fakir miskin yang sakit. Panti asuhan atau rumah singgah dikembangkan bukan
hanya sebagai tempat penampungan sementara dengan pelatihan keterampilan pendukung,
tetapi juga diarahkan agar dapat difungsikan sebagai sentra kerajinan dan home industry yang
mampu memberi kecukupan secara ekonomi kepada penghuninya. Demikian pula terkait
dengan pengelolaan zakat, lembaga pendidikan, pengembangan ekonomi mikro, lembaga
penanganan bencana, serta program-program sosial kemasyarakatan lainnya. Dengan begitu,
zaman dan manusia boleh berubah, tetapi spirit perjuangan dan gerakan dakwah (amal sosial)
Muhammadiyah atas dasar surat al-Maun tetap terpelihara untuk mampu secara terus
menerus melahirkan kerja sosial dan amal baik untuk kepentingan dan kemaslahatan fakir,
miskin, para dhuafa, dan kaum mustadhafin.

2.4 Revitalisasi Gerakan Sosial Muhammadiyah


Muhammadiyah perlu lebih berkonsentrasi pada peneguhan dan pencerahan diri di
tubuh gerakannya dengan orientasi kerja untuk sebesar-besarnya berkhidmat bagi kemajuan
umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan secara lebih optimal. Pada titik inilah
maka Muhammadiyah mengambil langkah muhasabah dengan melakukan revitalisasi
gerakan secara simultan.
Pada level praksis Muhammadiyah sesungguhnya layak disebut gerakan pembaru.
Melalui teologi Al-Maun (Al-Maunisme) Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai
gerakan yang sangat menekankan pentingnya amal saleh. Dengan menekuni wilayah praksis
sosial keagamaan berarti Muhammadiyah telah melaksanakan prinsip a faith with action.
Dalam bahasa warga Muhammadiyah prinsip ini dikenal dengan dakwah bil hal (mengajak
dengan amalan dan tindakan konkret). Muhammadiyah juga mempraktikkan ajaran sedikit
berbicara banyak bekerja, berdisiplin, bekerja keras, dan tanggung jawab secara organisasi.
8

Berkat beberapa ajaran tersebut Muhammadiyah mendapat kepercayaan dari umat


sehingga mampu melahirkan banyak amal usaha, terutama di bidang pendidikan, kesehatan,
dan pelayanan sosial lain.
Pada revitalisasi amal usaha selain diarahkan pada peningkatan dan pemerataan
kualitas juga diharapkan adanya langkah-langkah strategis yang mengintegrasikan misi
persyarikatan ke dalam pengelolaan amal usaha persyarikatan, sehingga semakin
mencerminkan gerakan amal salih sosial sebagaimana idealisme dan perintisan KH. Ahmad
Dahlan dalam membangun pendidikan modern dan gerakan Al-Maun. Revitalisasi juga
diperlukan untuk mengembangkan bentuk-bentuk amal usaha baru yang lebih strategy seperti
di bidang pemberdayaan ekonomi umat.
Menampilkan diri sebagai gerakan intelektual, selain gerakan praksis, akan sangat
menentukan arah dan perjuangan Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua.
Intelektualisme dapat menjadi sumber energi yang luar biasa bagi Muhammadiyah, terutama
dalam rangka memberikan pencerahan pada kehidupan keberagamaan di Indonesia. Sebab,
diakui atau tidak, wajah Islam Indonesia akhir-akhir ini telah diwarnai persaingan yang
sangat tajam antara kelompok Islam fundamentalis dan liberalis.
Kelompok Islam fundamentalis dengan dalih ingin mengembalikan amalan
keagamaan sebagaimana dicontohkan generasi awal Islam telah mengalami distorsi yang luar
biasa. Misalnya, simplifikasi identitas keislaman melalui simbol pakaian berjubah, memakai
celak, berjenggot, dan bercelana di atas tumit. Meski beberapa identitas keislaman ini
memiliki rujukan dalam ajaran Islam, menyederhanakan Islam dengan hal-hal yang bersifat
kategoris seperti itu jelas melenceng dari substansi ajaran Islam.
Sebaliknya, kelompok Islam liberal yang mengusung tema reaktualisasi ajaran juga
menimbulkan banyak kontroversi. Misalnya, kelompok Islam liberal dikatakan telah
mengotak-atik

ajaran

yang

dianggap

mapan

oleh

umat

Islam.

Penerjemahan

kalimat thayyibah; la ilaha illallah dengan tiada Tuhan selain Tuhan, merupakan salah satu
contoh kreasi para pembaru muslim yang menimbulkan kontroversi berkepanjangan.
Menghadapi perdebatan dan persaingan dua mazhab pemikiran Islam yang senantiasa
memutlakkan kebenaran kelompoknya, Muhammadiyah sesungguhnya dapat menampilkan
diri sebagai mediator. Dalam hal ini Muhammadiyah dapat menjalankan fungsi management
of ideas di antara berbagai mazhab pemikiran.
9

Yang perlu dilakukan Muhammadiyah pada berbagai mazhab pemikiran (school of


thought) adalah mengajak untuk bergerak ke posisi tengah. Ajakan ini akan efektif jika
ditempuh melalui dialog yang tulus dan tidak saling mengklaim kebenaran. Jika dialog ini
dilakukan secara berkelanjutan, pada saatnya kita akan menyaksikan wajah Islam Indonesia
yang sangat moderat dan toleran terhadap berbagai keragaman.

10

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teologi Al-Maun merupakan suatu konsep yang diambil dari Surat Al-Maun. Dalam
surat ini, terdapat pembelajaran yang sangat berharga, sebagai upaya membangun etos
moralitas-spritualitas. Gagasan sentral teologi Al-Maun di atas adalah keberpihakan terhadap
kaum dhuafa, fuqara, masakin dan mustadhafin. Inilah prinsip populisme yang menjadi
focus theologicus Islam.
Sejak awal berdirinya Muhammadiyah menaruh perhatian besar terhadap
kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat kelas dhuafa. Dengan mendirikan
Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), balai pengobatan, rumah sakit, rumah miskin, panti
asuhan, panti jompo, panti korban perang, sekolah, hingga penerbitan media cetak yang
ditujukan sebagai upaya mengamalkan nilai Islam agar bermanfaat bagi pengentasan
kemiskinan, pemberdayaan masyarakat yang tertindas (mustadhafin), serta pencerdasan
umat yang bodoh dan terbelakang.
Tafsir sosial yang dilakukan oleh Kiai Dahlan atas semua persoalan pada masanya
sangat lugas. Penerjemahan teks-teks Qurani ke dalam praksis sosial dilakukan oleh Kiai
Dahlan dengan sangat tangkas. Tetapi secara lebih mendasar apa yang dilakukan oleh Kiai
Dahlan bukan berarti tanpa refleksi kritis dan mendalam terhadap kondisi yang dihadapi.
Refleksi kritis terhadap realitas sosial yang terjadi dan kemudian mencarikan solusi yang
tepat untuk mengentaskannya inilah yang belakangan menjadi sebuah semangat baru dalam
ilmu sosial. Sehingga teori sosial kritis yang belakangan ini banyak diintrodusir, dianggap
perlu dipertimbangkan sebagai sebuah pendekatan baru dalam metode tafsir sosial
Muhammadiyah.
Saran
Gerakan sosial Muhammadiyah ini masih banyak memiliki kekurangan-kekurangan
yang harus di benahi dan di kritisi agar gerakan sosial Muhammadiyah ini berjalan dengan
lebih baik sehingga organisasi Muhammadiyah menjadi lebih besar dan lebih sempurna
dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dan
sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Allah SWT didalam Al-Quran-Nya.

11

DAFTAR PUSTAKA
Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1991, h. 338.
Kazuo Shimugaki, Kiri Islam, Antara Modernisme dan Postmodernisme: Telaah Kritis atas
Pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta: LKiS, 1993, h. 6.
M. Dawam Rahadjo, 1997, Ensiklopedi al-Quran Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep
Kunci, Jakarta: Paramadina
Nashir Haedar. 2000. REVITALISASI GERAKAN MUHAMMADIYAH. Yogyakarta: BIGRAF
Publishing
Junaidi Muaizin : Revitalisasi
Ideologi
Muhammadiyah.Diakses
dari
http://junaidimuadzin.wordpress.com/2009/11/26/revitalisasi-ideologi-muhammadiyah/ pada
tanggal 22 November 2014 Pukul 19.00 WIB
Akhmad Rofiq : Amal Usaha Muhammadiyah Kedudukan dan Fungsinya. Diakses dari
http://www.academia.edu/5481656/Amal_Usaha_Muhammadiyah_Kedudukan_dan_Fungsin
ya pada tanggal 22 November 2014 Pukul 19.20 WIB

12