Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI EKSPRIMENTAL II
PERCOBAAN V
UJI PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL
KOMPARTEMEN SERTA PEMILIHAN DOSIS DALAM FARMAKOKINETIKA

Nama
1.
2.
3.
4. Nur Ainin Sofia Mohd Zailani

Hari/Tanggal Praktikum
Dosen Jaga
Asisten Jaga
Asisten Koreksi

Disusun oleh :
Kelas : C
Golongan/Kelompok : IV / 3
NIM

Tanda Tangan

FA/09761

: Senin, 10 November 2014


:
:
:

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


BAGIAN FARMAKOLOGI DAN FARMASI KLINIK
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

PERCOBAAN V
PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL
KOMPARTMEN SERTA PEMILIHAN DOSIS DALAM FARMAKOKINETIKA

I.

TUJUAN

Agar mahasiswa mampu menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan untuk


pengukuran parameter farmakokinetik berdasarkan model kompartmen suatu obat.

Agar mahasiswa mampu menggunakan dosis yang tepat untuk subyek uji.

Agar mahasiswa mampu memperkirakan model kompartmen berdasarkan kurva


semilogaritmatik kadar obat dalam plasma/darah lawan waktu.

II.

DASAR TEORI
Farmakokinetika adalah ilmu yang mempelajari penyerapan, penyaluran dan

pengurangan obat. Deskripsi tentang penyaluran dan pengurangan obat sangat penting untuk
merubah permintaan dosis pada individu dan kelompok pasien. Pada fase farmakokinetika,
obat mengalami proses ADME yaitu absorpsi, distribusi, biotransformasi (metabolisme) dan
ekskresi yang berjalan secara stimulant langsung atau tak langsung meliputi perjalanan suatu
obat melintasi sel membrane (Shargel & Yu, 1988).
Pengetahuan farmakokinetika berguna dalam berbagai bidang farmasi dan
kedokteran,

seperti

untuk

bidang

farmakologi.

Pertama

kali,

dengan

penelitian

farmakokinetika dapat dibantu diterangkan mekanisme kerja suatu obat dalam tubuh,
khususnya untuk mengetahui senyawa yang mana yang sebenarnya bekerja dalam tubuh;
apakah senyawa asalnya, metabolitnya atau kedua-duanya. Jika efek obat dapat dinilai secara
kuantitatif, data kinetika obat dalam tubuh sangat penting artinya untuk menentukan
hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan intensitas efek yang ditimbulkannya.
Dengan demikian daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat ditentukan
farmasetika, farmasi klinik, toksikologi dan kimia medisinal. Obat berada dalam suatu
keadaan dinamik dalam tubuh. Dalam suatu sistem biologik peristiwa-peristiwa yang dialami
obat sering terjadi secara serentak. Dalam menggambarkan sistem biologik yang kompleks
tersebut, dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat itu (Sriwidodo, 1985).
Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel & Yu, 1988):
a) Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada berbagai
pengaturan dosis
b) Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara individual

c) Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dngan aktivitas farmakologi atau


metabolit metabolit
d) Menghibungakan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik atau
toksikologik
e) Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
f) Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi absorbsi,
distribusi dan eliminasi
g) Menjelaskan interaksi obat
Pada model dua kompartemen, tubuh dianggap terdiri atas dua kompartemen yaitu
kompartemen sentral dan kompartemen perifer. Kompartemen sentral meliputi darah dan
berbagai jaringan yang banyak dialiri darah seperti jantung, paru, hati, ginjal dan
kelenjarkelenjar endokrin. Obat tersebar dan mencapai kesetimbangan dengan cepat dalam
kompartemen ini. Kompartemen perifer adalah berbagai jaringan yang kurang dialiri darah
misalnya otot, kulit, dan jaringan lemak sehingga obat lambat masuk kedalamnya. Model dua
kompartemen ini pada prinsipnya sama dengan model satu kompartemen, bedanya terdapat
dalam proses distribusi karena adanya kompartemen perifer; eliminasi tetap dari
kompartemen sentral (Oktavia, 2009).
Model Farmakokinetik merupakan suatu hubungan matematik yang menggambarkan
perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam sistem yang diperiksa .Metode analisis
kompartemental digunakan untuk memperkirakan dan menentukan secara kuantitatif apa
yang terjadi terhadap obat sebagai fungsi waktu dari saat diberikan sampai waktu dimana
obat tersebut sudah tidak ada lagi di dalam tubuh.
Variabel dalam farmakokinetik terdapat dua macam, yaitu variabel tergantung dan
variabel bebas. Dalam praktek parameter farmakokinetik tidak ditentukan secara langsung,
tetapi ditentukan melalui percobaan dari sejumlah variabel tergantung dan bebas, yang
secara bersama dikenal sebagai data. Melalui data dapat diperkirakan model farmakokinetik
yang kemudian diuji kebenarannya dan selanjutnya diperoleh parameter-parameter
farmakokinetiknya.
Variabel bebas meliputi variabel interval dan variabel eksternal. Kedua variabel ini
secara langsung mempengaruhi parameter primer, yang terdiri dari Ka (kecepatan
absorpsi), Vd (volume distribusi) dan Cl (clearance). Parameter primer mempengaruhi
parameter sekunder dan parameter turunan. Parameter sekunder terdiri dari T1/2 (waktu
paruh eliminasi) dan F eliminasi. Parameter turunan terdiri dari AUC (Area Under Curve),
F oral dan Css (kadar obat dalam darah). Sehingga parameter primer, parameter sekunder
dan parameter turunan merupakan variabel tergantung.

Parameter primer meliputi :


1. Ka (kecepatan absorpsi)
Merupakan tetapan kecepatan absorpsi yang ditentukan oleh :
a. Variabel internal
Meliputi surface area (luas permukaan absorpsi), perfusi darah, kecepatan
peristaltik usus dan kecepatan pengososngan lambung.
b. Variable eksternal
Meliputi sifat obat itu sendiri (lipofilik atau hidrofilik) dan makanan/minuman.
2. Vd (volume distribusi)
Merupakan parameter yang menerangkan seberapa luas suatu obat terdistribusi dalam
tubuh. Volume ini tidak bermakna faal atau tidak ada kaitannya dengan faal. Volume
distribusi dipengaruhi oleh :
a. Perfusi darah
Yaitu seberapa cepat dan banyak obat masuk dalam darah.
b. Lipofilitas obat
c. Seberapa kuat obat terikat oleh protein plasma, protein darah maupun protein
jaringan.
3. Cl (clearance/klirens)
Merupakan parameter yang menerangkan pembersihan kandungan obat dalam suatu
volume distribusi dalam satuan volume atau waktu (ml/menit, ml/jam, liter/jam).
Parameter ini menunjukkan kemampuan tubuh untuk mengeliminasi obat.
Cl = Cl hepar + Cl renal + Cl lain-lain
Cl dapat berubah yang dapat disebabkan oleh :
a. Kegagalan ginjal,
b. Perubahan enzim,
c. Aliran darah yang masuk organ eliminasi,
d. Kekuatan organ/kapasitas organ eliminasi.
Parameter sekunder meliputi :
1. T1/2 eliminasi (waktu paruh eliminasi)
Adalah waktu yang diperlukan untuk mengubah jumlah obat dalam tubuh menjadi
separuhnya selama eliminasi dan merupakan parameter kedua setelah klirens.

2. F el (fraksi eliminasi)
Merupakan fraksi dari dosis obat yang mencapai peredaran darah dalam bentuk aktif
setelah eliminasi (bioavailibilitas).
Jumlah parameter yang diperlukan untuk menggambarkan model bergantung pada
kerumitan proses dan rute pemberian obat. Dalam praktek, terdapat suatu batasan pada
jumlah data yang mungkin diperoleh. Bila jumlah parameter yang dinilai bertambah maka
ketelitian penghitungan parameter ini menjadi lebih sulit. Agar parameter-parameter
menjadi sahih, jumlah titik-titik data seharusnya selalu melebihi jumlah parameter dalam
model . (Shargel & Yu, 1988).
Macam-macam model kompartemen :
a. Model Mammillary
Model Mammillary merupakan model kompartemen yang paling umum digunakan
dalam farmakokinetika. Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang
dihubungkan ke suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili plasma dan
jaringan-jaringan yang perfusinya tinggi dan secara cepat berkesetimbangan dengan obat.
Model Mammillary dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berhubungan secara erat,
karena jumlah obat dalam setiap kompartemen dalam sistem tersebut dapat diperkirakan
setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. Bila suatu obat diberikan
secara IV, obat secara langsung masuk ke dalam kompartemen sentral. Eliminasi obat
dari kompartemen sentral terjadi oleh karena organ-organ yang terlibat dalam eliminasi
obat terutama ginjal dan hati, merupakan jaringan yang diperfusi secara baik.
Tetapan laju dari farmakokinetika dinyatakan dengan huruf K. Kompartemen satu
mewakili plasma atau kompartemen sentral, sedamgkan kompartemen dua mewakili
kompartemen jaringan. Penggambaran model ini mempunyai tiga kegunaan, yaitu :
o memungkinkan ahli farmakokinetika merumuskan persaman diferensial untuk
menggambarkan perubahan konsentrasi obat dalam masing-masing kompartemen,
o memberikan suatu gambaran nyata dari laju proses, dan
o menunjukkan berapa banyak tetapan farmakokinetik yang diperlukan untuk
menggambarkan proses secara memadai.

Model 1. Model kompartemen satu terbuka, injeksi IV

Ka

Model 2. Model kompartemen satu terbuka denagn absorpsi order kesatu


K12

1
K21

Model 3. Model kompartemen dua terbuka, injeksi IV


K12

Ka

2
K21

Model 4. Model kompartemen dua terbuka dengan absorpsi order kesatu

B. Model Catenary
Dalam farmakokinetika model mammillary harus dibedakan dengan macam model
kompartemen yang lain yang disebut model catenary. Model Catenary terdiri atas
kompartemen-kompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deretan
kompartemen. Sebaliknya, model mammillary terdiri atas satu atau lebih kompartemen
yang mengelilingi suatu kompartemen sentral seperti satelit. Oleh karena itu model
catenary tidak dapat dipakai pada sebagia besar organ yang fungsional dalam tubuh yang
secara langsung berhubungan dengan plasma, model ini digunakan tidak sesering model
mammillary.

Ka

K21
K12
1

K23
3

K32

C. Model Fisiologi
Model fisiologi juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi, merupakan
model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan fisiologik yang diketahui.
Perbedaan utama antara model perfusi dan model kompartemen yang lazim adalah
sebagai berikut.
- Ia tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi. Konsentrasi obat dalam
berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran jaringan organ, aliran darah, dan melalui
percobaan ditentukan perbandingan obat dalam jaringan darah (yakni partisi obat antara
jaringan dan darah).
- Aliran darah, ukuran jaringan dan perbandingan obat dalam jaringan darah dapat
berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologik tertentu. Oleh karena itu, dalam model
fisiologik

pengaruh

perubahan-perubahan

ini

terhadap

distribusi

obat

harus

diperhitungkan.
- Model farmakokinetik dengan dasar fisiologik dapat diterapkan pada beberapa
spesies, dan dengan beberapa data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan. Jumlah
kompartemen jaringan dalam suatu model perfusi berbeda-beda bergantung obatnya.
Sebagai ciri khas, jaringan atau organ yang tidak ditembus obat dikeluarkan dari model
ini. Dengan demikian organ-organ seperti otak, tulang-tulang, dan bagian-bagian lain
sistem saraf pusat sering tidak dimasukkan dalam model karena hampir semua obat
mempunyai daya tembus yang kecil ke dalam organ-organ tersebut.

Makna yang nyata

dari model fisiologik adalah dapat digunakannya model ini dalam memprakirakan
farmakokinetik pada manusia dari data hewan. Besarnya berbagai organ tubuh atau
jaringan, tingkat ikatan protein, kapasitas metaboisme obat, dan aliran darah pada
manusia dan spesies lain seringkali telah diketahui atau dapat ditentukan. Jadi, parameterparameter, fisiologik dan anatomik dapat digunakan untuk memprakirakan efek obat pada
manusia berdasar efek obat pada hewan.
Waktu pengambilan obat dalam media cairan hayati (waktu sampling) dan perkiraan
model kompartemen memiliki hubungan keterkaitan. Keterkaitan kedua faktor ini
sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kesalahan waktu pengambilan cuplikan, maka
dapat menyebabkan kesalahan pula pada penentuan model kompartemen. Untuk
menghindari kesalahan dalam penetapan model farmakokinetik, terutama untuk obat yang
diberikan secara intravena, waktu sampling hendaknya dilakukan sedini mungkin sesudah
pemberian obat. Untuk percobaan pendahuluan lama pengambilan cuplikan perlu
diperhatikan. Jika sebagai cuplikan digunakan darah, pencuplikan dilakukan 3-5 kali T1/2
eliminasi obat karena diasumsikan kadar obat yang dapat dianalisis pada waktu tersebut
mencapai 90-95% kadar obat total. Jika digunakan urin, pencuplikan dilakukan 7-10 kali

T1/2 eliminasi obat berdasarkan asumsi bahwa pada waktu tersebut kadar obat yang
diekskresikan sudah mencapai 99% kadar obat total. Sedangkan pada percobaan
pendahuluan sebaiknya waktu sampling dicari setelah pemberian intravena.
Dalam waktu sampling perlu ditetapkan interval pengambilan dan lamanya waktu
pengambilan sampling. Untuk hasil terbaik pada ektravaskuler, perlu diambil pada dua
belas titik, yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak, distribusi dan
eliminasi, untuk model dua kompartemen. Sedangkan untuk model satu kompartemen,
diambil pada sembilan titik yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak dan
eliminasi.
Data yang diperoleh dari hasil percobaan pendahuluan tersebut selanjutnya digunakan
untuk memperkirakan model kompartemen suatu obat dalam farmakokinetiknya, yaitu
dengan memplotkan kadar obat dalam darah vs waktu pada kertas semilogaritma atau plot
log kecepatan ekskresi (dDE/dt) vs waktu pada kertas grafik normal jika digunakan data
urin.

Satu kompartemen

INTRA
VASKULER

EKSTRA
VASKULER

Dua kompartemen

1.Model 1 kompartemen
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen tempat obat menyebar dengan seketika dan
merata ke seluruh cairan dan jaringan tubuh. Model ini terlalu disederhanakan sehingga untuk
kebanyakan obat kurang tepat.
2. Model 2 kompartemen
Tubuh dianggap terdiri atas kompartemen sentral dan perifer. Kompartemen sentral
terdiri dari darah dan berbagai jaringan yang banyak dialiri darah seperti jantung, hati ginjal
dan kelenjar-kelenjar endokrin. Obat tersebar dan mencapai kesetimbangan dengan cepat.
Komponen perifer adalah berbagai jaringan yang kurang dialiri darah misalnya otot, kulit,
dan jaringan lemak, sehingga obat lambat masuk ke dalamnya. Model ini prinsipnya sama
dengan model 1 kompartemen, bedanya hanya dalam proses distribusi karena adanya
kompartemen perifer; eliminasi tetap dari kompartemen sentral. Model ini cocok untuk
banyak obat.
3. Model 3 kompartemen
Kompartemen perifer dibagi atas kompartemen perifer yang dangkal (kompartemen
2) dan kompartemen perifer yang dalam (kompartemen 3). Untuk perhitungan regimen dosis
klinik, biasanya digunakan model 1 kompartemen untuk pemberian peroral dan kompartemen
2 untuk pemberian intravena. Pada pemberian bolus intravena, biasanya fase distribusi
terlihat jelas (menandakan 2 kompartemen), sedangkan pada pemberian oral, fase
distribusinya sering tertutup oleh fase absorpsi. Dalam model kompartemen terbuka, tubuh
diasumsikan sebagai kompartemen terbuka, seluruh kompartemen badan dianggap sebagai
kompartemen sentral. Dalam hal ini kompartemen sentral didefinisikan sebagai jumlah
seluruh bagian tubuh (organ dan jaringan atau bagian lainnya) dimana kadar obat segera
berada dalam kesetimbangan dengan yang ada dalam plasma/darah.
Model dua kompartemen terbuka berarti badan diasumsikan terbagi menjadi dua
bagian kompartemen yaitu kompartemen sentral dan kompartemen perifer. Kompartemen
perifer merupakan jumlah seluruh bagian tubuh (organ dan jaringan atau bagian lainnya)
kemana obat akhirnya akan menyebar tetapi tidak segera dalam kesetimbangan. Pemberian
dosis harus diperhatikan karena berkaitan dengan salah satu syarat metode yaitu sensitifitas
metode. Hal ini disebabkan karena besarnya dosis yang digunakan harus memungkinkan obat
dapat terdeteksi. Di samping itu ada juga beberapa obat yang kinetikanya tergantung dari
dosis sehingga harus ditetapkan jumlah dosis yang akan diberikan agar memperoleh efek
terapeutik.

Pemilihan dosis dapat mengacu pada LD50 obat yang akan diuji. Perbandingan harga LD50
oral lawan intravena dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang absorbabilitas
obat sebagai fungsi dari pemberian peroral. Jika informasi ini tidak tersedia dapat digunakan
dosis awal 5-10 % dari LD50 intravena .Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah metode
analisis mendukung besaran dosis tersebut sehingga fase eliminasi kadar obat masih dapat
dimonitor.
Dosis awal ini kemudian dinaikkan menurut besaran tertentu untuk mendeteksi
timbulnya kinetika tergantung dosis (dose dependent farmacocinetic). Untuk obat-obat yang
mudah mengalami saturasi dalam sistem transportasi dan eliminasinya (misalnya fenitoin,
warfarin, dan seftriakson), kenaikan nilai-nilai parameter kinetiknya (misalnya AUC, T1/2)
tidak sebanding dengan kenaikan dosis. Pemilihan dosis juga harus memperhatikan adanya
fenomena kinetika yang tergantung dosis, yaitu fenomena yang menunjukkan adanya
perubahan parameter farmakokinetika obat bila dosisnya berubah. Keadaan ini berkaitan
dengan asumsi orde kinetika obat tersebut.
Kinetika diasumsikan mengikuti orde nol bila menunjukkan fenomena tergantung
dosis (dependent dose). Tapi bila parameter farmakokinetik obat tidak dipengaruhi oleh
perubahan dosis (independent dose), maka dianggap mengikuti orde pertama. Hal ini dapat
diketahui dengan membandingkan harga waktu paruh eliminasi (T1/2) obat setelah pemberian
beberapa dosis yang berbeda. Jika harga T1/2 yang diperoleh berbeda akibat perbedaan dosis
yang diberikan, maka kinetik obat tersebut menunjukkan fenomena tergantung dosis
(dependent dose).

III.

ALAT DAN BAHAN


Alat

Tabung reaksi/flakon
Labu takar 5 ml
Pipet volume 0,1; 0,2; 1; 2ml
Mikropipet
Pipet Tetes
Spektrofotometer dan kuvet
Skalpel/silet
Sarung Tangan
Tabung eppendorf
Sentrifuge
Stopwatch
Vortex
Alat Timbang
Alat Injeksi

Bahan

Asan Trikloroasetat (TCA)


Sulfametoksazol
Akuades
Heparin
Darah tikus
Darah kelinci
Natrium Nitrit 0,1%
Amonium Sulfamat 0,5%
N(1-naftil)etilendiamin 0,1%

IV.CARA KERJA
1. Pembuatan kurva baku darah
Dibuat seri kadar baku SMZ yaitu : 5,10,25,50,100 dan 200 g/ml dengan mengencerkan
larutan SMZ 1,0 mg/ml menggunakan aquadest
Diambillah masing-masing kadar SMZ diatas sebanyak 0,25 ml kemudian masukkan
dalam tabung reaksi.
Ditambah aquadest dan Tambahkan TCA 10% 0,2 ml lalu vortex dan disentifugasi 10
menit 2500rpm
Ditambahkan nano2 0,1% 0,1 ml dan diamkan selama 3 menit
Ditambahkan ammonium sulfamat 0,5% 0,2 ml dan diamkan selama 2 menit
Ditambahkan NED 0,1% 0,2 ml dan diamkan selama 5 menit
Dibaca absorbansinya pada 545 nm pada spektrofotometer
Dibuat persamaan kurva baku : absorbansi terkoreksi vs kadar Y=Bx + A

2. Penentuan Model Kompartemen Sulfametoksazol (SMZ)


Kelinci ditimbang
Dibersihkan bulu disekitar ekor
Diambil 0,2 ml darah dari vena pada telinga kelinci untuk blangko
Disuntuikkan SMZ secara peroral dengan dosis 75 mg/kg BB dan 150 mg/kgBB
Diambil cuplikan (0,2 ml darah) 2 jam setelah penyuntikkan, yaitu : 5, 10,15, 30.
45, 60, 75, 90, 120
Kadar SMZ diukur (metode Bratton-Marshall) yaitu: sampel + TCA 10% 0,2 ml, lalu
divortex 30 detik kemudian sentrifuge 2500 rpm selama 10 menit
Beningan diambil 0,2 ml, dimasukkan ke flakon bersih
Ditambah NaNO2 0,1% 0,5 ml lalu diamkan selama 3 menit
Ditambah Ammonium sulfamat 0,5 % 0,5 ml lalu diamkan selama 2 menit
Ditambah NED 0,1 % sebanyak 2 ml lalu diamkan selama 5 menit
Dibaca absorbansi pada 545 nm dengan spektrofotometer
Dibuat kurva waktu vs kadar ( dari persamaan kurva baku) dan dihitung parameter-parameter
farmakokinetiknya
Tentukan model kompartemen dan jadwal pencuplikan yang tepat

3. Analisa Data
Dihitung kadar sulfametoksazol dalam tiap menit cuplikan menggunakan persamaan
kurva baku
Dibuat regresi linier ln Cp vs t fase eliminasi dan fase absorbsi
Ditentukan model kompartemen menggunakan persamaan notary
Dihitung parameter-parameter farmakokinetik = tmax, t1/2, Cp max, Keliminasi, K
absorbsi, Vd, Cl, AUC0-

Oktavia, RW., 2009, Pengaruh Seduhan Teh Hijau (Camellia sinensis) Terhadap
Farmakokinetika Parasetamol Yang Diberikan Bersama Secara Oral Pada Kelinci
Jantan, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah: Surakarta.

Shargel, L., dan Yu, AB., 1988, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan, Airlangga
University Press: Surabaya.