Anda di halaman 1dari 48

BPSL

BUKU PRAKTIKUM SKILLS LAB


ORTODONSI 2

SEMESTER V
TAHUN AKADEMIK 2014-2015

BLOK 3.5.9

BUKU PRAKTIKUM SKILLS LAB

BLOK 3.5.9
BUKU PRAKTIKUM SKILLS LAB
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

BUKU PRAKTIKUM SKILLS LAB

ORTODONSI 2
SEMESTER V
TAHUN AKADEMIK 2014-2015
Penyusun :

Tim SL Blok 3.5.9

Editing :

Sekretariat Blok

Desain & Layout :

Tim Sekretariat Blok

Cetakan : Agustus, 2014


PSPDG FK UB

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
perkenanNya buku petunjuk Praktikum/Skills Lab Ortodonti II Blok 3.5.9 bagi
mahasiswa semester V PSPDG FKUB dapat diselesaikan.
Buku ini disusun sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan oleh
KKI dan diharapkan dengan adanya praktikum / Skills Lab Ortodonti II
mahasisiwa dapat meningkatkan ketrampilan serta pemahaman tentang teori
teori dasar yang telah dipelajarinya
Semoga buku ini bermanfaat bagi mahasiswa dan staf pengajar
dalam proses pendidikan dokter gigi Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
1. Tata tertib praktikum / skills lab
1.1 Persiapan sebelum praktikum
1.2 Selama praktikum
1.3 Setelah praktikum
2. Tujuan
2.1 Tujuan umum
2.2 Tujuan khusus
3. Fasilitas yang disediakan
4. Alat yang harus dipersiapkan mahasiswa
5. Materi Skills Lab
6. Metode
7. Tahapan
8. Jadwal skills lab
Daftar pustaka

1.
TATA TERTIB PRAKTIKUM / SKILLS LAB
1.1. Persiapan sebelum praktikum
- Bacalah buku petunjuk praktikum sehingga dapat menguasai hal
yang harus dikerjakan atau dipahami
- Memakai baju praktikum lengkap dengan name tag, dan membawa
perlengkapan yang diperlukan
- Setiap kali akan mengerjakan / memulai praktikum, periksa dulu
kelengkapan praktikum yang disediakan apakah dalam keadaan baik
atau tidak. Jika ada kekurangan segera lapor kepada instruktur
1.2. Selama praktikum
- Selama praktikum mahasiswa tidak diperbolehkan merokok, makan,
atau memasukkan jari/benda lain ke dalam mulut
- Apabila terjadi kecelakaan sekecil apapun (misal mendapat luka atau
biakan kuman tumpah dalam jumlah cukup banyak) segera lapor
kepada instruktur
1.3. Setelah praktikum
- Bersihkan meja praktikum dan semua peralatan yang dipakai
- Buatlah laporan praktikum secara individu sesuai dengan form dan
dikumpulkan satu minggu sesudahnya.
2.
TUJUAN
2.1. Tujuan umum :
Mahasiswa mampu membuat komponen aktif dan pasif, mengaktivasi
komponen aktif sesuai fungsi yang diinginkan, menganalisa model
studi, mendiagnosa suatu kasus maloklusi, menentukan rencana
perawatan, membuat desain peranti alat lepasan.
2.2. Tujuan khusus
1. Mahasiswa mampu memahami dan membuat macam-macam
komponen aktif dan retentif pada peranti ortodonti lepasan
2. Mahasiswa mampu melakukan aktivasi peranti ortodonsi lepasan
3. Mahasiswa mampu menganalisa model studi, menganalisa dan
mempelajari anatomi gigi, kurva of spee, bentuk lengkung rahang,
mendeteksi adaya kelainan, termasuk pembesaran lokal dan
asimetri lengkung, mengevaluasi hubungan intercusp/interdigitasi

4. Mahasiswa mampu mendiagnosa kelainan maloklusi


5. Mahasiswa mampu menentukan rencana perawatan
6. Mahasiswa mampu membuat desain peranti lepasan
3.

FASILITAS YANG DISEDIAKAN


- Model cetakan RA dan RB dari stone
- Kawat Stainless Steel diameter 0,5 mm dan 0,7 mm
- Rekam medik
- Rontgenogram : Panoramic
- Foto Ekstra dan Intra Oral

4.

ALAT YANG HARUS DIPERSIAPKAN MAHASISWA


- Tang 3 jari
- Tang coil
- Tang Adams
- Tang potong
- Pensil 2B
- Penghapus pensil
- Simetroskop (symmetograph)
- Brass wire
- Jangka sorong (sliding calipers)
- Jangka berujung runcing
- Penggaris besi

5.

MATERI
- Membuat komponen aktif (pegas cantilever tunggal dan busur labial)
dan komponen pasif (cengkeram adams) dari peranti lepasan
ortodonti
- Mengisi Rekam Medik (Melakukan analisis umum, lokal, fungsional,
radiografi model studi , menghitung kebutuhan ruang, menentukan
diagnosa, menentukan rencana perawatan, membuat desain peranti
lepasan ortodonti).

6.

METODE
- Demonstrasi
- Praktek membuat komponen aktif dan pasif dari peranti lepasan
ortodonti
- Praktek cara mengaktivasi komponen aktif dan sekrup ekspansi
- Mengisi rekam medik (Melakukan analisis umum, lokal, fungsional,
radiografi model studi model studi , menghitung kebutuhan ruang,
menentukan diagnosa, menentukan rencana perawatan)
- Membuat desain peranti lepasan ortodonti sesuai kasus
- Ujian

7.

TAHAPAN PEKERJAAN
1. Membuat desain komponen aktif dan retentif (di lembaran ) pada
gambar oklusal gigi RA/RB
2. Masing-masing mahasiswa mendapat 1 model RA atau RB dari gips
keras/stone
3. Membuat komponen aktif (pegas cantilever tunggal dan busur labial)
dan komponen pasif (cengkeram adams) pada model gips
4. Memfiksasi komponen aktif dan pasif peranti lepasan di model gips
5. Peragaan dan latihan cara mengaktivasi komponen aktif dan sekrup
ekspansi
6. Mengisi rekam medik (Melakukan analisis umum, lokal, fungsional,
radiografi model studi model studi , menghitung kebutuhan ruang,
menentukan diagnosa, menentukan rencana perawatan ruang,
membuat desain peranti lepasan ortodonti sesuai kasus).

I.

MEMBUAT KOMPONEN AKTIF DAN PASIF PERANTI LEPASAN


ORTODONTI

a. BUSUR LABIAL DENGAN LUP U


a. Fungsi :
- Menarik incisive ke palatal / lingual
- Mengurangi jarak gigit yang sedikit / meratakan keempat
incisive
b. Bahan :
- Kawat Stainless steel diameter 0.7 mm
c. Cara pembuatan :
1. Membuat busur ( Soft curves )
- Kawat dilengkungkan dengan menggunakan ke dua ibu
jari ( jangan menggunakan tang )
- Cara lain : Pegang salah satu ujung kawat erat-erat
dengan satu tangan dan lengkungkan dengan jari/
jempol tangan yang lain. Gerakan diulang sampai
didapatkan lengkungan yang diharapkan
2. Membuat tekukan tegak lurus ( Right angle bends )
Pegang kawat dengan tang pada posisi tegak lurus
terhadap sumbu panjang tang
Kemudian kawat ditekuk dengan cara : ibu jari menekan
kawat sampai sedekat mungkin dengan ujung tang
3. Membuat tekukan tajam ( Acute bend )
Pegang kawat dengan tang kemudian tekuk kawat ke
belakang menyusuri ujung tang dengan menggunakan
jari
4. Lengkungan kecil ( Small radius bends )
Pegang kawat tegak lurus dengan ujung tang. Kemudian
bengkokkan kawat dengan
cara menekankan ibu jari
yang diletakkan sedikit jauh dari daerah tekukan
Langkah-langkah :
- Buatlah gambar busur labial pada model dengan pensil.
- Dengan jari bengkokanlah kawat membentuk lengkung geligi
ideal

Perhatikan bahwa apabila dilihat dari samping kedua kaki


busur harus berhimpit, apabila dilihat dari atas, busur harus
melengkung halus tanpa ada lekukan2 tajam dan harus
terlihat simetris
Cobakan / sesuaikan busur pada model, kemudian
tentukanlah titik untuk bengkokan lup. Letak titik tergantung
pada besar lup yang akan dibuat. Pada umumnya titik
tersebut ditengah-tengah gigi kaninus
Bengkokanlah kawat pada titik yang telah ditentukan dengan
tang universal
Buatlah lup sesuai dengan gambar yang telah dibuat memakai
loop forming pliers / tang coil. Panjang lup tergantung pada
kedalaman vestibulum oris. Perhatikan bahwa lup tidak boleh
menjepit gingival atau terlalu jauh dari gingival
Buatlah lup pada sisi yang lain dengan cara yang sama
Pembuatan tag: bengkokanlah kawat kearah palatum
melewati embrasure C dan P. Buat pada ke dua sisi
Busur labial selesai dibuat dilihat dari oklusal

Gambar :

Draw a line mid crown height, level


with occlusal plane.

Cut a length of 0.7mm stainless steel


wire, then straighten using pliers and
fingers.

With fingers and thumbs, form the


wire into an ideal arch.

The wire will bend in the areas where


the most pressure is applied.

Try the ideal arch against the model,


using the pencil mark as a guide
The bow should rest passively against
the teeth.

Using the pencil line as a reference,


mark the canine eminence onto the
wire.

10

Make a 90 degree bend.

Using spring formers, make a U-loop


Length of U-loop should be just
beyond original margin

Check against model.

Contour distal section of U-loop.

11

Bend wire at contact point and across


occlusion.

Tag end to extend 2/3 into palate.

Uniform spacing of 1mm, with a foot Occlusal view: Notethat U-loop follows
at the end of tag.
contour of arch.

12

U-loop position
Should lie approx. 1mm away from
tissue

Labial Bow Checklist:


Should lie at mid crown height
Should be level to the occlusal
plane
Should touch all incisors where
desirable
U-loop should be formed at
canine eminence, and be
parallel and extend just
beyond margins
Distal of U-loop should be
contoured towards contact
point allowing approx. 1mm
space from model
Should be and exact fit over
contact point
Tag arms should be contoured
into palate with 1mm spacing

13

d.

1.2

Cara aktivasi :
- Digunakan tang pembentuk lup untuk mengaktifkan busur labial
- Lup dipegang dengan tang, tekuk kaki depan lup atau sempitkan lup
dengan tang
- Dengan melakukan ini kaki horizontal busur akan bergerak kea rah
insisal
- Kaki busur perlu dibetulkan dengan menahan lup dan menempatkan
kaki horizontal busur di tengah gigi

PEGAS CANTILEVER TUNGGAL


a. Fungsi :
- Menggerakkan gigi kearah mesiodistal
- Menggerakkan gigi ke labial atau searah dengan lengkung
geligi
b. Bahan :
Kawat diameter 0.5 mm dengan sebuah koil dengan diameter
tidak kurang dari 3 mm dibuat dekat masuknya pegas ke
dalam lempeng akrilik
c. Cara pembuatan :
- Mula mula buat koil dengan tang pembentuk pegas dengan
diameter dalam 3 mm
- Sesuaikan dengan proksimal gigi, kemudian ujung pegas
diberi bengkokan agar tidak melukai gingival
- Buat tag

14

Apabila ditanam secara box in maka koil diletakkan menempel


dengan model sedangkan tag sedikit terangkat dari model
Perhatikan bahwa letak titik fulcrum sangat mempengaruhi
arah gerak pegas

Gambar :

15

Cara aktivasi :
- Dengan menarik lengan pegas kearah pergerakan gigi /
dengan memencet koil sehingga lengan pegas bergerak
kearah yang diinginkan
- Perlu diperiksa apkah posisi pegas dan titik kontak dengan
gigi sudah benar
- Pada kunjungan pertama dilakukan aktifasi ringan saja yaitu
defleksi antara 1-2 mm
- Pada kunjungan berikutnya defleksi dapat sampai 3 mm

16

1.3 CENGKERAM ADAMS


a. Fungsi :
- Sebagai komponen retentif
b. Bahan :
- Kawat Stainless steel diameter 0,7 mm
c. Cara Pembuatan :
1. Meradir pada bagian mesiobukal dan distobukal dengan jarak
0.5 1 mm dari bagian aproximal gigi. Meradir dilakukan bila gigi
belum erupsi sempurna atau undercut tidak terlihat jelas
Cara meradir :
Pengambilan gips pada daerah mesiobukal/distobukal gigi
dengan ujung pisau model secara vertical
Pengambilan gips pada daerah mesiobukal/distobukal gigi
dengan ujung pisau model secara horizontal
2. Menentukan titik pada model untuk tempat kontak kedua ujung
arrow head
3. Tahap membengkokan kawat :
- Mula-mula kawat diluruskan
- Bengkokan kawat dengan kekuatan ibu jari ( tang hanya
sebagai pemegang ) membentuk sudut lancip 70- 80
- Beri tanda dengan spidol untuk bengkokkan sisi berikutnya
sesuai dengan jarak antara titik mesio dan disto aproksimal
yang telah tergambar
- Bengkokan kawat pada sisi berikutnya
- Pembuatan arrow head :
Panjang arrow head tergantung pada tinggi mahkota gigi
dan posisi gigi. Bidang arrowhead membuat sudut 45
dengan jembatan / bridge ( bagian horizontal kawat antera
bengkokan pertama dan kedua ). Pembuatan arrowhead
dilakukan pada kedua sisi

17

Gambar :

18

19

1.4

SEKRUP EKSPANSI
Terdapat berbagai macam sekrup ekspansi yang dapat
digunakan untuk menggerakkan gigi. Ada yang mempunyai guide pin
tunggal maupun ganda. Sekrup dengan pin ganda lebih stabil, pin
tunggal lebih berguna apabila tempatnya sempit, misal di rahang
bawah.
a. Fungsi :
- Melebarkan / mengekspansi lengkung geligi
- Menggerakan satu gigi / beberapa gigi kearah mesio distal
- Menggerakan satu gigi / beberapa gigi kearah bukal / labial
b. Bahan :
Stainless steel
c. Bagian-bagian sekrup ekspansi :

20

d.

Cara Pemasangan :
1. Ekspansi transversal anterior
Sekrup dipasang :
- Sejauh mungkin ke anterior
- Setinggi mungkin di palatum
- Membentuk sudut 90 terhadap garis median
- Bagian posterior diberi kawat penahan diameter 0.9 mm

Gambar :

2. Ekspansi transversal posterior


Penempatan sekrup hampir sama, sekrup dipasang diantara P2
kiri dan kanan.
Gambar :

21

3. Ekspansi tranversal anterior dan posterior


Sekrup dipasang :
- Sedalam mungkin di palatum
- Diantara P1 kiri dan kana
- Membentuk sudut 90 terhadap garis median
- Sumbu panjang sejajar bidang oklusal
Gambar :

e. Cara aktivasi :
- Dilakukan pemutaran dengan kunci yang tersedia, sesuai
dengan arah perputaran yang biasanya berupa tanda panah
- Apabila pada sekrup tidak ada arah pemutaran , sebaiknya
pada lempeng akrilik diberi tanda arah pemutaran
- Sekrup diputar seperempat putaran seminggu sekali
- Operator perlu mengajari pasien atau orang tua cara memutar
sekrup dengan benar

22

II. MENGISI REKAM MEDIS


2.1 Data Pasien
1. Nama Pasien :
Nama pasien dicatat dengan benar
2. Jenis kelamin :
Pencatatan jenis kelamin pasien diperlukan berkaitan segi psikologi
perawatan :
Pasien wanita lebih sensitif dari pada pasien lelaki oleh karena itu
perawatan harus dilakukan dengan cara yang lebih lemah lembut dari
pasien lelaki.
Pasien wanita lebih memperhatikan secara detil keteraturan giginya
dari pada pasien laki-laki.
Pasien wanita biasanya lebih tertib lebih sabar dan lebih telaten dari
pada pasien lelaki dalam melaksanakan ketentuan perawatan
3. Usia :
Pencatatan usia diperlukan untuk :
Mengetahui apakah pasien masih dalam masa pertumbuhan /
sudah berhenti
Pertumbuhan gigi-geligi termasuk periode gigi susu/decidui,

campuran/ mixed atau tetap/permanent.


Gigi yang sudah erupsi sudah sesuai dengan umur pasien
(menurut umur erupsi gigi).
Menetapkan jenis alat ortodontik yang tepat untuk digunakan
(alat cekat atau lepasan, alat aktif atau fungsional)
Untuk memperkirakan waktu /lama perawatan yang diperlukan.
Apakah perawatan bisa segera dilaksanakan atau harus ditunda,
berapa lama dibutuhkan perawatan aktif dan berapa lama
diperlukan untuk periode retensi
4. Tanggal Lahir:
Untuk mengetahui usia secara detail berdarkan hari bulan dan tahun
5. Alamat :
Pencatatan alamat (dan nomer telepon) diperlukan agar operator
dapat menghubungi pasien dengan cepat bila diperlukan . Sebaliknya
pasien juga diberi alamat (dan nomer telepon) operator untuk
mempermudah komunikasi.
6. Nama Orang tua:

23

7. Pekejaan Orang tua:


8. Suku bangsa :
Pencatatan suku bangsa diperlukan karena suatu kelompok suku
bangsa atau ras tertentu akan mempunyai ciri-ciri spesifik yang masih
termasuk normal untuk kelompok tersebut (misalnya suku bangsa
Negroid sedikit protrusif masih termasuk normal).
2.2 Analisis Umum
ANAMNESIS:
1. Keluhan Utama (chief complain/main complain) :
Keluhan utama adalah alasan/motivasi yang menyebabkan pasien
datang untuk dirawat. Dari keluhan yang telah dikemukakan itu akan
dapat diketahui:
Apa sebenarnya yang pasien inginkan untuk mendapat
perbaikan dari operator/dokter gigi
Apakah keluhan itu memungkinkan untuk ditanggulangi dengan
perawatan ortodontik?
Apakah keluhan itu menyangkut faktor estetik atau fungsional
(bicara, mengunyah)?
Keluhan utama bisanya diikuti oleh keluhan sekunder yaitu
keluhan yang baru disadari setelah mendapat penjelasan dari
operator: Apakah ada keadaan lain yang tidak disadari oleh
pasien yang merupakan suatu kelainan yang memungkinkan
untuk dirawat secara ortodontik ? Jika ada ini perlu dijelaskan
dan dimintakan persetujuan untuk dirawat
2. Riwayat Kasus (Case History)
Riwayat kasus dapat ditelusuri dari beberapa aspek :
a. Riwayat Gigi-geligi (Dental History):
Periode gigi susu (Decidui Dentition)
Periode gigi campuran (Mixed Dentitition)
Periode gigi permanen (Permanent Dentition)
b. Riwayat Penyakit
c. Riwayat Keluarga
d. Kebiasaan buruk

24

Jenis, Kapan, Durasi, Frekuensi, Intensitas, Posisi, Apakah ada


hubungan antara bad habit yang dilakukan dengan keadaan
maloklusi pasien

2.3 Kedaaan Umum


Maksud pemeriksaan klinis menyangkut tinggi badan, berat badan
adalah untuk memperkirakan pertumbuhan dan perkembangan pasien
secara umum, untuk mendapatkan hasil perawatan yang optimal.
Maksud mengetahui adanya kelaian endokrin, penyakit anak, alergi,
kelainan saluran pernafasan dan tindakan operasi adalah utk
mengetahui adakah penyakit yang pernah / sedang diderita pasien
dapat menggangu proses pertumbuhan, perkembangan rahang dan
erupsi normal gigi-geligi, sehingga diduga sebagai penyebab
maloklusi.
Riwayat penyakit anak perlu ditelusuri utk mengetahui:
- Adakah penyakit yang pernah / sedang diderita pasien dapat
menggangu proses pertumbuhan, perkembangan rahang dan
erupsi normal gigi-geligi, sehingga diduga sebagai penyebab
maloklusi.
- Adakah penyakit yang diderita pasien dapat mengganggu /
menghambat proses perawatan ortodontik yang akan
dilakukan.
- Adakah penyakit yang kemungkinan dapat menular kepada
operator. Perlu diketahui pada umur berapa dan berapa lama
penyakit itu diderita pasien dan apakah sekarang masih
dalam perawatan dokter, dokter siapa ?
Ciri maloklusi keluarga
Tujuan dari anamnesis riwayat keluarga adalah untuk mengetahui
apakah maloklusi pasien merupakan faktor herediter (keturunan)
yang diwariskan dari orang tua. Untuk itu perlu ditanyakan keadaan
gigi-geligi kedua orang tua dan saudara kandung pasien.
Anamnesis bad habit dimaksudkan untuk mengetahui etiologi
maloklusi pasien apakah berasal dari suatu kebiasaan buruk yang
telah / sedang dilakukan pasien.
Untuk itu tanyakan kepada pasien atau orang tuanya tentang :

25

Jenis : Bad habit apa yang telah dilakukan ?


Kapan : Umur berapa bad habit dilakukan, apakah sekarang
masih dilakukan ?
Durasi : Dari sejak kapan sampai kapan dilakukan ?
Frekuensi : Berapa kali per jam / perhari dilakukan ?
Intensitas : Seberapa kuat / keras dilakukan ?
Posisi : Bagaimana dan di bagian mana dilakukan ?
Apakah ada hubungan antara bad habit yang dilakukan
dengan keadaan maloklusi pasien

2.4 Analisa Lokal


Tipe Kepala

Cara pengukuran
pasien di dudukkan kemudian dilihat dr belakang
Indeks kepala = Lbr kepala (B) (jrk bizigomatik supramastoideus) x 100
Panjang kepala (A) (Jarak Gl Oc)

26

Klasifikasi bentuk muka dan kepala menurut Sukadana


berdasarkan:
Indeks muka = Tinggi muka ( A) (Jarak N Gn) x 100
Lebar muka (B) (Jarak bizigomatik)
Klasifikasi indeks muka :
- Euriprosop ( muka pendek, lebar) : 80,0 84,9
- Mesoprosop (muka sedang ) : 85,0 89,9
- Leptoprosop (muka tinggi, sempit) : 90,0 94,9
Jika indeks : < 80,0 : Hipo Euriprosop
> 94,9 : Hiper Leptoprosop

(1976)

Profil muka : Menurut Graber (1972) dikenal tiga tipe profil muka yaitu :
Cembung (convex), bila titik petemuan Lcb-Lca berada didepan garis
Gl-Pog
- Lurus (straight ), bila titik petemuan Lcb-Lca berada tepat pada garis
Gl-Pog
- Cekung (concave), bila titik petemuan Lcb-Lca berada dibelakang
garis Gl-Pog
Untuk menentukan profil muka digunakan 4 titik anatomis sebagai acuan
:
- Glabella (Gl) : Titik terendah dari dahi terletak pada tengah-tengah
diantara alis mata kanan dan kiri.
- Lip contour atas (Lca) : Titik terdepan bibir atas.
- Lip contour bawah (Lcb) : Titik terdepan bibir bawah
-

27

Pogonoin (Pog) : Titik terdepan dari dagu didaerah symphisis


mandibula.

Tonus Bibir atas dan bawah


Keadaan bibir pada waktu istirahat (rest position) : terbuka /
menutup.
Bibir terbuka pada waktu rest posisi bisa disebabkan karena bibir
terlalu pendek (incompetent)
atau hypotonus otot bibir sering
dijumpai pada pada pasien yang gigi depannya protrusif.

2.5 Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan mulut (oral hygiene / OH) :baik/sedang /buruk.
dapat ditetapkan dengan Indeks OHIS, pasien yang kebersihan
mulutnya jelek kemungkinan besar kebersihan mulutnya akan lebih
jelek lagi selama perawatan dilakukan , oleh karena itu motivasi
kebersihan mulut perlu diberikan sebelum perawatan ortodontik
dilakukan.
Mucosa : normal / tidak normal
Pasien dengan oral hygiene yang jelek biasanya mempunyai gingiva
dan mucosa yang
inflamasi dan hypertropy.
Frenulum labii superior :tinggi/sedang/rendah
Frenulum labii inferior : tinggi/sedang/rendah
Pemeriksaan frenulum dilakukan untuk mengetahui posisi
perlekatannya (insersio) pada marginal gingiva serta ketebalannya,
apakah akan mengganggu
pengucapan kata-kata tertentu dan
apakah akan mengganggu pemakaian plat ortodontik yang akan
dipasang ?

28

Keadaan lidah : normal /macroglossia / microglossia


Pasien yang mempunyai lidah besar ditandai oleh :
- Ukuran lidah tampak besar dibandingkan ukuran lengkung giginya
- Dalam keadaan relax membuka mulut, lidah tampak luber menutupi
permukaan oklusal gigi-gigi bawah.
- Pada tepi lidah tampak bercak-bercak akibat tekanan permukaan
lingual mahkota gigi (tongue of identation)
- Gigi-gigi tampak renggang-renggang (general diastema)
Palatum : normal / tinggi / rendah serta normal / lebar / sempit
Pasien dengan pertumbuhan rahang rahang atas kelateral kurang
(kontraksi) biasanya palatumnya tinggi sempit, sedangkan yang
pertumbuhan berlebihan (distraksi) biasanya mempunyai palatum
rendah lebar.Jika ada kelainan lainnya seperti adanya peradangan,
tumor, torus, palatoschisis,dll. dicatat.
Cara Pengukuran:
menggunakan kaca mulut no4
< kaca mulut: rendah
> kaca mulut: tinggi
Cara pengukuran palatum dengan indeks Korkhaus :
Tinggi palatum menurut Korkhaus didefinisikan sebagai jarak tinggi
garis vertikal yang tegak lurus dengan midpalatal raphe. Garis vertikal
ini berjalan dari permukaan palatum sampai bidang oklusal (molar
pertama rahang atas).
Palatal height index = Palatal height x 100
Posterior arch width
>42% : palatum tinggi
<42 %: palatum dangkal.
Fonetik: Normal/tidak normal
Garis tengah geligi atas: normal/ bergeser
Garis tengah geligi bawah: normal/bergeser
Amati posisi garis tengah gigi rahang atas dan rahang bawah
terhadap suturapalatina jika didapatkan penyimpangan, kearah mana
penyimpangannya dan ukur seberapa besar penyimpangan tersebut

29

2.6 Keadaan Gigi Geligi


Periksa elemen gigi apa saja yang ada pada pasien. Tulislah rumus
gigi sesuai dengan gigi yang sudah erupsi dan beri keterangan.
Periksa gigi-gigi yang telah mengalami perawatan dan gigi yang tidak
normal atau telah mengalami perawatan.
2.7 Analisa Fungsional
Freeway space: jarak antar oklusal pd saat mandibula dlm posisi
istirahat.
Cara pengukuran:
Tentukan 1 titik di hidung dan 1 titik di dagu.
Kemudian ukur jarak ke-2 titik tsb dalam posisi istirahat dan
posisi oklusi
Ukur selisihnya
Ukuran rata-rata: 2-3mm
Path of closure: gerakan mandibula dari posisi istirahat menuju ke
oklusi sentris.
Cara pemeriksaan:
Pasien didudukkan pd posisi istirahat, lihat posisi garis mediannya
Pasien diinstruksikan utk oklusi sentris dari posisi istirahat dan lihat
kembali posisi garis mediannya.
Apabila posisi garis median pd saat posisi istirahat menuju oklusi
sentris tidak terdapat pergeseran tidak ada gangguan path of
closure
Normal: bila gerakan mandibula ke atas, ke muka dan belakang.
Tidak normal: bila terdapat deviasi dan displacement mandibula
Sendi Temporomandibular
Cara pemeriksaan:
Pasien didudukkan pada posisi istirahat
Letakkan kedua jari telunjuk operator di bagian luar meatus
acusticus externa (MAE) kiri dan kanan pasien
Pasien diinstruksikan utk membuka dan menutup mulutnya.
Normal: Apabila tidak ada krepitasi saat palpasi di bagian luar MAE
atau bunyi clicking pd saat membuka dan menutup mulut

30

Pola Atrisi: keausan gigi dibandingkan dengan usia pasien


Tidak normal: bila terjadi pengikisan dataran oklusal gigi permanen
pada usia fase geligi pergantian (usia muda)

2.8 Analisis Radiologi


Foto Panoramik
Fungsi Panoramik menentukan:
ada/tidaknya benih gigi
Keadaan tulang
Keadaan jaringan periodontal
Karies
Kehilangan gigi
Agenisi
Gigi yang impaksi
Gigi berlebih
Urutan erupsi
dll

III.

MENGANALISA MODEL STUDI

3.1

Pengertian :
Model studi adalah replika dari keadaan gigi geligi dan jaringan lunak
di sekitarnya yang digunakan sebagai catatan diagnostik penting dalam
membantu mempelajari oklusi dan gigi geligi, yang berupa cetakan
reproduksi dalam bentuk tiga dimensi.

3.2

Tujuan analisa model studi :


1. Untuk mempelajari anatomi gigi
2. Untuk mempelajari hubungan intercusp/interdigitasi
3. Untuk mempelajari bentuk lengkung rahang
4. Untuk mempelajari kurva of spee
5. Untuk mempelajari dan mengevaluasi oklusi dengan bantuan
articulator
6. Untuk mendeteksi kelainan, misalnya terdapat pembesaran lokal,
asimetris lengkung, dll.

31

7.
8.

Untuk mendiagnosa kelainan maloklusi


Untuk menganalisa kebutuhan ruang supaya dapat meletakkan
gigi-gigi dalam lengkung yang ideal
9. Untuk menentukan rencana perawatan
10. Untuk mengamati kemajuan selama perawatan
3.3

Kelainan Gigi
a. Kelainan Posisi Gigi
Supra Oklusi/supra posisi : gigi yang erupsinya melebihi bidang
oklusal.
Infra Oklusi/infra posisi : gigi yang erupsinya tidak sampai
mencapai bidang oklusal.
Untuk mengetahui apakah gigi mengalami supra posisi/supra
oklusi atau infra posisi/infra oklusi, harus berpedoman pada
dataran oklusal. Yang dimaksud dengan dataran oklusal yaitu
suatu bidang yang ditarik melalui oklusal gigi molar pertama
atas dan bawah, dan gigi-gigi insisivus atas dan bawah.
Mesioversi : posisi gigi lebih ke mesial dari posisi normal
Distoversi : posisi gigi lebih ke distal dari posisi normal
Linguoversi : posisi gigi lebih ke lingual dari posisi normal
b. Kelainan Bentuk Gigi
- Peg shaped adalah kelainan bentuk gigi menyerupai sebuah
pasak, biasanya didapatkan pada insisivus lateral.
- Geminasi adalah satu benih gigi yang tumbuh membentuk
seperti dua mahkota yang menjadi satu, tetapi dengan satu
buah akar.
- Fusi adalah dua benih gigi yang mahkota tumbuh menjadi satu
berukuran besar, tetapi dengan dua akar.
- Dilserasi adalah akar gigi yang tidak normal bentuknya /
bengkok.
c. Kelainan Jumlah gigi
- Hiperdontia : gigi kelebihan. Umumnya mesiodens, terletak
diantara kedua insisivus sentral.
- Hipodontia : kekurangan jumalah gigi. Umumnya berupa
agenisi atau tidak ada benih gigi, biasanya terjadi pada insisivus
lateral.

32

2.4

Kesimetrisan Lengkung Gigi dalam Arah Sagital dan


Transversal
Lengkung gigi yang kedudukannya tidak simetris, biasanya bisa terlihat
sejak pemeriksaan estetika wajah, namun bentuk lengkung yang tidak
simetris bisa juga dijumpai pada wajah yang simetris. Pada beberapa
kasus, bisa juga dijumpai keadaan asimetri hanya pada lengkung
giginya saja, sementara lengkung rahangnya normal.

Gambar 4. Penilaian kesimetrisan lengkung gigi A. Symmetograph, B.


Untuk menilai kesimetrisan lengkung gigi, kedua jarum penunjuk pada
symmetographdiletakkan pada bidang median raphe.

Cara untuk mengetahui kesimetrisan lengkung gigi pada rahang adalah


menggunakan symmetograph. Symmetograph diletakkan di atas
permukaan oklusal gigi dengan bidang orientasi mid palatal raphe lalu
kedudukan gigi di kwadran kiri dengan kanan dibandingkan dalam arah
sagital dan transveral. Berdasarkan hasil analisis ini dapat diketahui
gigi geligi di kwadran mana yang memerlukan ekspansi atau
pencabutan untuk mengembalikan kesimetrisan lengkung.
2.5

Pergeseran garis median


Midline / garis median pada gigi rahang atas merupakan pertemuan
antara kontak mesial kedua gigi insisivus pertama. Jika tidak terjadi

33

pergeseran garis median pada rahang atas, maka garis yang ditarik
pada midline rahang tadi akan berada tepat pada interdental gigi
insisivus pertama atas kanan dan kiri.
Cara menentukan garis median :
RA : menghubungkan titik pertemuan rugae palatine kedua kiri kanan
dengan titik tengah pada Fovea palatine pada daerah psterior
palatum.
RB : membuat titik pada perlekatan frenulum labial dan lingual dan
titik ini melewati titik kontak insisivi sentral bawah
Gambar :

2.6.

Diastema
Adalah ruang antara 2 gigi yang berdekatan.
Gambar :

2.7

Kurva Spee
Adalah lengkung yg menghubungkan antara insisal insisive dengan
bidang oklusal molar terakhir pada rahang bawah.
Berikut beberapa tahap penentuan kurve spee :

34

Tempatkan suatu penggaris pada posisi horizontal mulai dari puncak


tonjol gigi insisivus permanen rahang bawah sampai ke cusp
mesiobukal gigi molar pertama permanen rahang bawah.
Setelah itu gunakan kaliper zurich untuk mengukur kedalaman kurve
Spee, dengan menempatkan kaliper tersebut pada cusp gigi
premolar rahang bawah secara tegak lurus terhadap penggaris.
Kemudian catat hasilnya dalam satuan milimeter. Pencatatan
pengukuran tersebut merupakan prediksi besarnya ruangan yang
dibutuhkan untuk mensejajarkan gigi premolar bawah dalam
dataran oklusal yang sama.

Gambar :

Kurva of spee normal : kedalaman tdk lebih 1.5 mm


Kurva spee positif
: kedalaman > 1.5 mm bentuk kurve cekung
gigi insisivi supra posisi / gigi posterior infra posisi
2.8

Relasi gigi
Adalah hubungan gigi atas dan bawah dalam keadaan oklusi .
a. Relasi gigi anterior
Jurusan sagital

35

Jarak gigit / overjet : jarak horizontal antara incisal insisiv


rahang atas dengan bidang labial insisiv rahang bawah.
- Overjet normal
: insisivi atas didepan insisivi bawah
dengan jarak 2-3 mm
- Overjet idak normal : jarak gigit terbalik. Edge to edge
Jurusan vertikal
- Tumpang gigit / over bite : jarak vertical incisal insisivi
rahang atas atas dengan insisal insisivi bawah
Overbite normal
: 2 mm
- Tumpang gigit bertambah : gigitan dalam
- Tumpang gigit berkurang : gigitan terbuka
- Tumpang gigit
: 0 (edge to edge)
-

b. Relasi gigi posterior

Jurusan Sagital
Netroklusi, distoklusi, mesioklusi, gigitan tonjol, tidak ada
relasi

2.9

Jurusan Transversal
Normal
: gigitan fisura luar rahang atas
Tidak normal
: gigitan fisura dalam atas, gigitan tonjol

Jurusan vertical
Gigitan terbuka : tidak ada kontak gigi atas dan bawah pada
saat oklusi

Analisa Kebutuhan Ruang


Dalam menganalisa kebutuhan ruang pada perawatan
ortodonti, kita mengenal beberapa istilah antara lain :
1. Diskrepansi ruang adalah ketidakseimbangan antara ruang yang
dibutuhkan dengan ruang yang tersedia pada lengkung gigi pada
masa gigi pergantian.
2. Ruang yang dibutuhkan (required space) adalah jumlah lebar
mesiodistal gigi kaninus, premolar satu dan premolar kedua yang
belum erupsi/sudah erupsi, serta keempat gigi insisivus.

36

3.

Ruang yang tersedia (available space) adalah ruang di sebelah


mesial molar pertama permanen kiri sampai mesial molar pertama
permanen kanan yang akan ditempati oleh gigi-gigi permanen
pada kedudukan yang benar yang dapat diukur pada model studi.

Ada beberapa alat bantu yang dapat digunakan untuk


membantu menganalisa kebutuhan ruang dalam perawatan ortodonti,
yaitu :
1. Model studi
2. Rontgenogram
3. Tabel perkiraan
4. Rumus
5. Alat ukur : sliding calipers (jangka sorong), symmetograph, brass
wire, jangka berujung runcing dan penggaris
Ada berbagai analisa yang dapat digunakan untuk mengukur
kebutuhan ruang dalam perawatan ortodontik, hal ini tergantung pada fase
pertumbuhan gigi.
a.
Analisa pengukuran ruang pada fase geligi permanen :
Nance, Lundstrom, Bolton, Howes, Pont, dan diagnostic setup
(Kesling).
b.
Analisa pengukuran ruang pada fase geligi campuran :
Analisa gambaran radiografi, Analisa menggunakan Tabel Probabilitas
(Moyers), dan analisa Tanaka-Johnston.
Pada Skills Lab kali ini, kita akan belajar mengukur kebutuhan ruang dengan
salah satu cara.
a.

Cara Mengukur Kebutuhan Ruang pada gigi permanen


(Metode Nance) :

Diskrepansi = tempat yang tersedia tempat yang dibutuhkan


Cara mengukur tempat yang tersedia (available space ) :
Rahang Atas :

37

1. Sediakan kawat dari tembaga (brass wire) untuk membuat


lengkungan berbentuk busur.
2. Letakkan brasswire dimulai dari mesial M1 permanen kiri,
menyusuri fisura gigi posterior yang ada didepannya, kemudian
melewati insisal incisive yang letaknya benar / ideal (yang
inklinasinya membentuk sudut 110 terhadap bidang maksila),
kemudian menyusuri fisura gigi posterior kanan dan berakhir sampai
mesial M1 permanen kanan (seperti terlihat pada gambar di
bawah).
3. Beri tanda pada brasswire menggunakan spidol sebagai tanda akhir
pengukuran.
4. Rentangkan kembali brasswire membentuk garis lurus kemudian
ukur mulai ujung kawat sampai pangkal (tanda yang sudah dibuat
dengan spidol).
5. Catat hasil pengukuran yang didapat sebagai available space (tempat
yang tersedia) untuk rahang atas
Rahang Bawah :
Tahapan sama dengan cara mengukur tempat tersedia pada rahang
atas, hanya saja brasswire diletakkan pada oklusal gigi dimulai dari
mesial M1 permanen kiri, menyusuri cusp bukal gigi posterior yang
ada didepannya, kemudian melewati insisal incisive yg letaknya benar
/ ideal (yang
inklinasinya 90 / tegak lurus terhadap bidang
mandibula), kemudian melewati cusp gigi potrerior kanan dan berakhir
sampai mesial M1 permanen kanan.
Cara mengukur tempat yang dibutuhkan (required space):
Rahang atas dan rahang bawah :
1. Sediakan jangka berujung runcing atau jangka sorong
2. Ukur lebar mesiodistal masing-masing gigi (yaitu lengkung terbesar
gigi) dimulai dari gigi yang terletak disebelah mesial M1 permanen
kiri sampai gigi yang terletak di mesial M1 permanen kanan.
3. Buatlah sebuah garis lurus pada kertas.
4. Hasil pengukuran lebar M-D tiap gigi dipindahkan pada garis yang
telah dibuat pada kertas tadi.

38

5. Hitunglah total pengukuran lebar M-D tiap gigi, catat hasil


pengukuran yang didapat sebagai required space (tempat yang
dibutuhkan) untuk rahang atas dan rahang bawah.
Gambar :

Gambar . (a) pengukuran lebar M-D gigi. (b) pengukuran tempat


tersedia rahang atas. (c) pengukuran tempat tersedia rahang bawah
Menurut Profitt, 2007, jika dari hasil perhitungan kebutuhan ruang
didapatkan :
- Kekurangan tempat
: s.d. 4 mm tidak diperlukan
pencabutan gigi permanen
- Kekurangan tempat
: 5 - 9 mm
kadang masih
tanpa pencabutan gigi permanen, tetapi seringkali dengan
pencabutan gigi permanen
- Kekurangan tempat
: > 10 mm

selalu dengan
pencabutan gigi permanen

b. Cara Mengukur Kebutuhan Ruang pada gigi campuran:


b.1. Perkiraan Ukuran Gigi Menggunakan Radiografi
Dalam analisis ruangan akan lebih mudah bagi kita untuk
menganalisinya pada foto periapikal daripada foto panoramik. Apabila
gigi yang belum erupsi mengalami rotasi, maka digunakan foto oklusal
untuk mengukur lebar gigi tersebut. Namun walaupun begitu, apapun
jenis foto roentgen yang dipakai, kita harus tetap ingat bahwa lebar
mesiodistal gigi yang terlihat pada roentgen
sudah mengalami
perbesaran. Untuk itu kita membutuhkan bantuan model studi untuk

39

mengatasinya. Kita dapat mengukur lebar gigi permanen yang belum


erupsi dengan menggunakan foto roentgen, dibantu dengan model
studi.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai cara dan tumus
pengukuran tersebut.
1. Ukur lebar mesiodistal gigi susu pada roentgen (Y) dan lebar gigi
permanen penggantinya juga pada roentgen (X).
2. Ukur lebar gigi susu langsung pada model studi (Y), maka lebar
gigi permanen penggantinya (X) akan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

X =
Keterangan :
X
= Lebar
Y
= Lebar
X
= Lebar
Y
= Lebar

gigi
gigi
gigi
gigi

X . Y
Y
permanen penggantinya
sulung pada model studi
permanen pada foto roentgen
sulung yang terlihat pada foto roentgen

Sebagai salah satu contoh, ukuran lebar mesiodistal gigi molar


kedua sulung yang terlihat pada foto roentgen (Y) = 10.5 mm.
Ukuran mesiodistal gigi premolar penggantinya yang terlihat pada
foto roentgen (X) = 7.4 mm. Sedangkan ukuran gigi molar kedua
sulung yang diukur langsung pada model studi (Y) = 10.0 mm. Maka
lebar gigi premolar kedua yang sebenarnya =
7.4 mm X 10.0 mm =
10.5

7.0 mm

40

pengukuran molar kedua sulung pada model studi dengan jangka


sorong

Gambar . pengukuran molar kedua sulung pada foto roentgen


Cara mengukur tempat yang tersedia (available space ) :
Cara pengukuran tempat yang tersedia pada fase geligi campuran
sama dengan cara pengukuran tempat yang tersedia pada fase
geligi permanen (lihat metode Nance)

41

Cara mengukur tempat yang dibutuhkan (required space):


1. Sediakan jangka berujung runcing atau jangka sorong
2. Ukur lebar mesiodistal gigi permanen yang telah erupsi sempurna
pada model studi dengan jangka sorong
3. Ukur lebar mesiodistal gigi permanen yang belum erupsi atau
erupsi sebagian dengan menggunakan rumus perbandingan
seperti di atas.
4. Hitunglah total pengukuran lebar M-D tiap gigi permanen P2-P2
(baik yang dihitung pada model studi maupun yang dihitung
dengan rumus perbandingan), catat hasil pengukuran yang
didapat sebagai required space (tempat yang dibutuhkan) untuk
rahang atas dan rahang bawah.
b.2 Perkiraan Ukuran Gigi dengan Tabel Probabilitas (Moyers)
Cara menggunakan analisis moyers adalah sebagai berikut :
1. Ukur Lebar M-D keempat gigi I permanen mandibula dan
dijumlahkan.
2. Jika terdapat gigi I yang berjejal, tandai jarak antar I dalam
lengkung gigi tiap kuadran dimulai dari titik kontak gigi I sentral
mandibula.
3. Ukur jarak tanda di bagian anterior (bagian distal gigi I lateral
permanen) ke tanda di permukaan mesial dari gigi M1 permanen
(space available untuk C,P1 dan P2 dalam 1 kuadran). Dapat
dilakukan menggunakan kawat atau dengan kaliper.
4. Jumlah lebar M-D keempat gigi I mandibula dibandingkan
dengan nilai pada tabel proporsional dengan tingkat
kepercayaan 75% untuk memprediksi lebar gigi C dan P maksila
dan mandibula yang akan erupsi pada satu kuadran.
5. Bandingkan jumlah ruang yang tersedia dengan ruang yang
diprediksi (dari tabel) pada kedua rahang. Jika diperoleh nilai
negatif, maka dapat disimpulkan adanya kekurangan ruang.
Cara mengukur tempat yang tersedia (available space ) :
Ada 2 cara pengukuran:
1. Pengukuran dengan menggunakan brasswire (lihat metode
Nance)

42

2. Pengukuran dengan cara segmental, yaitu sbb:


- Bagi lengkung rahang menjadi 4 segmen yaitu segmen I1-I2
kanan, segmen I1-I2 kiri, segmen distal I2-mesial M1 kanan
dan segmen distal I2-mesial M1 kiri.
- Hitung masing-masing segmen dengan menggunakan kawat
atau kaliper.
- Jumlahkan hasil pengukuran lebar segmen I1-I2 kanan+lebar
segmen I1-I2 kiri+ lebar segmen distal I2-mesial M1 kanan+
segmen distal I2-mesial M1 kiri.
- Catat hasil pengukuran yang didapat sebagai sebagai required
space (tempat yang dibutuhkan) untuk rahang atas dan rahang
bawah.
Cara mengukur tempat yang dibutuhkan (required space):
1. Hitung lebar M-D keempat gigi I rahang bawah
2. Jumlah lebar M-D keempat I rahang bawah dibandingkan dengan
nilai pada tabel proporsional (tabel Moyers) untuk memprediksi
lebar gigi C dan P rahang atas dan rahang bawah yang akan
erupsi pada satu kuadran.
3. Required space= jumlah lebar M-D keempat I +( 2 x (nilai pada
tabel prediksi)).

43

b.3 Perkiraan Ukuran Gigi dengan Tabel Sitepu


Cara pengukuran diskrepansi pada fase geligi campuran dengan
menggunakan Tabel Sitepu sama dengan cara pengukuran
diskrepansi menggunakan Tabel Moyers, hanya berbeda pada
Tabel yang digunakan saja.

44

JADWAL SL ORTO BLOK 9 TAHUN 2014


JADWAL SL ORTO BLOK 9 TAHUN 2014
Pertemuan
Hari/
Jam
Materi
keTanggal
1
Selasa
08.00-11.00
Pre-test 1: RM
9-9-2014
12.00-15.00
Prosedur
Diagnosis 1:
Analisis Umum,
analisis lokal,
analisis
fungsional,
analisis
radiografi
2
Rabu
08.00-11.00
Prosedur
10-9-2014
12.00-15.00
Diagnosis 2:
Analisis model
(kelainan
kelompok gigi &
relasi gigi)
3
Jumat
08.00-11.00
Pre-test 2:
12-9-2014
Analisa Ruang
Prosedur
Diagnosis 3:
Analisis Model
(analisa
pengukuran
ruang pada
mixed dentition
dengan
radiografi)
4
Selasa
08.00-11.00
Prosedur
16-9-2014
12.00-15.00
Diagnosis 4:
Analisis Model
(analisa
pengukuran

Grup

Ruang

A
B

Gijo Lt 2

B
A

Gijo Lt 2

A&
B

SL. A
SL. B

A
B

Gijo Lt 2

45

Rabu
17-9-2014

08.00-11.00

Kamis
18-9-2014

12.00-15.00

Jumat
19-9-2014

08.00-11.00

Selasa
23-9-2014

08.00-11.00
12.00-15.00

Rabu
24-9-2014

08.00-11.00
12.00-15.00

Jumat
26-9-2014

08.00-11.00

ruang pada
mixed dentition
dengan tabel
prediksi Sitepu
& Moyers)
Prosedur
Diagnosis 5:
Analisis Model
(analisa
pengukuran
ruang pada
permanent
dentition)
Prosedur
Diagnosis 5:
Analisis Model
(analisa
pengukuran
ruang pada
permanent
dentition)
Prosedur
Diagnosis 6:
Etiologi
Maloklusi
Prosedur
Diagnosis 7:
Desain Peranti I
Prosedur
Diagnosis 8:
Desain Peranti II
(Presentasi )
Pre-test 3:
Komponen
peranti lepasan
& Aktivasi ???

Gijo Lt 2

SL. A

A&
B

SL. A
SL. B

A
B

Gijo Lt 2

B
A

Gijo Lt 2
SL.A

A&
B

SL. A
SL. B

46

10

Selasa
30-9-2014

08.00-11.00
12.00-15.00

11

Rabu
1-10-2014

08.00-11.00

Kamis
2-10-2014

12.00-15.00

12

Jumat
3-10-2014

08.00-11.00

13

Selasa
7-10-2014

08.00-11.00
12.00-15.00

14

Jumat
24-102014

08.00-11.00

15

Selasa

08.00-12.00

Peranti Lepasan
1: membuat
cengkeram
adam
(permanent
dentition)
Peranti Lepasan
2: membuat
cengkeram
adam
(permanent
dentition)
Peranti Lepasan
3: membuat
busur labial
(permanent
dentition)
Peranti Lepasan
3: membuat
busur labial
(permanent
dentition)
Peranti Lepasan
4: Membuat
pegas cantilever
tunggal
(permanent
dentition)
Aktivasi Peranti
Lepasan
Prosedur
Diagnosis 9:
Review RM &
Presentasi
Ujian SL

A
B

Gijo Lt 2
Gijo Lt 2

SL.A

SL.A

A&
B

SL. A
SL. B

A
B

Gijo Lt 2
Gijo Lt 2

A&
B

SL. A
SL. B

Gijo

47

28-102014
16

Senin
3-11-2014

Ortodonsia

08.00-11.00

Ujian Remidi SL
Ortodonsia

Lt.2,
SL A,
SL.B
Gijo
Lt.2,
SL A,
SL.B

Daftar Pustaka
1. Rakosi, T., dkk. Color Atlas of Dental Medicine, Orthodontic-Diagnosis.
Edisi I. Germany: Thieme Medical Publishers. 1993. hal. 3-4, 207-235.
2. White, L.W. Modern Orthodontic Treatment Planning and Therapy. Edisi
I. California: Ormco Corporation. 1996. hal. 24-27.
3. Moyers, R.E. Handbook of Orthodontics. Edisi IV. Chicago : Year Book
Medical Publisher. 1988. hal 221-246.
4. Proffit, W.R., dkk. Contemporary Orthodontic. Edisi III. St. Louis : Mosby,
Inc. 2000. hal. 163-170.
5. Chen, Hsing Yen. Computer Aided Space Analysis. J of Clinical
Orthodontic. 1991; 25: 236-238.
6. Santoro, M., dkk. Comparison of Measurement Made on Digital and
Plaster Models. Am J Orthod. 2003; 57 : 101-105
7. Staley, R.N. Textbook f Orthodntic. Edisi I. Philadelphia : W.B. Saunders.
2001. Hal 134-145.
8. Graber, T.M., Orthodontic Current Principles and Techniques. Edisi II.
Philadelphia : Mosby Year Book. 1994. hal. 56-60, 297.
9. Pambudi Rahardjo : Peranti Ortodonti Lepasan, Surabaya : Airlangga
University Press, 2009
10. K.G.ISAACSON .J.G.MUIR.R.T.REED:Removable Orthodontic
Appliance,2002

48