Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1 Posisi Geografis


Gunung Sumbing terletak 723' LS dan 11003'30" BT. Terletak di Provinsi Jawa
Tengah. Secara administratif Gunung Sumbing berada pada empat kabupaten yaitu Kabupaten
Temanggung disebelah timurlaut, Kabupaten Magelang disebelah tenggara, dan Kabupaten
Wonosobo disebelah barat. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371mdpl dengan kaki
Gunung Sumbing sebelah baratlaut berbatasan langsung dengan Gunung Sindoro.

Gambar 2.1 Posisi Geografis Gunung Sumbing yang diamati dari citra Google Earth

2.2 Sejarah Pembentukan Gunung Sumbing


Akibat letak Indonesia dengan batas lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan
lempeng Pasifik menghasilkan interaksi yang mengakibatkan Indonesia menjadi salah satu
negara dengan tektonik paling aktif. Posisi Pulau Jawa tempat Gunung Sumbing berada pada
zona penujaman (zona subduksi) yang mengakibatkan terbentuknya aktivitas volkanisme
yang cukup intens di Pulau Jawa. Akibatnya terbentuknya 4 jalur magmatisme di Pulau Jawa
yang membentuk formasi batuan beku atau vulkanik. Keempat jalur magmatisme tersebut
adalah:
1. Jalur

Volkanisme Eosen hingga Miosen tengah, terlihat pada Zona Pegunungan

Selatan
4

2. Jalur volkanisme Miosen Atas hingga Pliosen. Terletak di sebelah utara Pegunungan
Selatan yang berupa intrusi lava dan batuan beku
3. Jalur volkanisme Kuarter Busur Samudera yang terdiri dari deretan gunung api aktif di
Pulau Jawa
4. Jalur volkanisme Kuarter Busur Belakang, jalur ini ditempati sejumlah gunung api
berumur Kuarter yang terletak di belakang busur volkanik aktif saat ini
(Soeria Atmadja, 1991, dalam Nuraini dan Sofyan, 2010)
Gunung Sumbing Lawu Merapi Sindoro Slamet merupakan kelompok jalur
volkanisme Kuarter Busur Samudra. Ada dua jalur rangkaian gunung api, jalur utama yang
terletak ditengah Pulau Jawa dan jalur belakang busur. Gunung Sumbing merupakan gunung
yang terletak pada jalur utama.

Gambar 2.2 Peta pesebaran zona utama dan topografi gunung api Pulau Jawa terutama pada Jawa bagian
tengah (http://rovicky.files.wordpress.com , 2009)

2.3 Morfologi Gunung Sumbing


Gunung Sumbing memiliki bentuk kerucut sehingga disebut gunung api dengan tipe
stratovulkano. Pada bagian kawah terlihat mulut kawah telah hancur pada arah timur laut,
sehingga nampak seolah sobek, maka disebut Gunung Sumbing, karena nampak seperti bibir

yang terkoyak. Secara morfologi Gunung Sumbing dapat dibedakan menjadi dua satuan
morfologi yaitu morfologi lereng dan morfologi puncak.
Morfologi lereng terletak pada ketinggian 1400 sampai dengan 3000 mdpl yang terdiri
dari lereng bagian landau dan lereng yang curam. Lereng bagian landai memiliki satuan
litologi yang tersusun atas batuan yang didominasi piroklastik seperti lapilli, tuf, tuf pasiran,
sampai tuff halus berbatu apung. Bagian lereng yang terjal memiliki kemiringan lereng 2530 tersusun atas litologi lava (lava flow) yang membentuk punggungan-punggungan bukit.
Selain itu pada bagian lereng terdapat morfologi kerucut parasit Petarangan pada kaki gunung
sebelah utara dengan ketinggian 1292mdpl dan kerucut parasit Namu pada lereng bagian
tenggara yang memiliki ketinggian1033mdpl.
Morfologi puncak Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3200-3371mdpl. Kawah
Gunung Sumbing memiliki diameter 800m dengan kedalaman 100-150m. Kawah berbentuk
tapal kuda membuka ke arah timurlaut. Kubah lava yang terdapat pada bagian kawah
memiliki dimensi 450m dengan tinggi membujur menuruni lereng sebelah timurlaut dengan
litologi yang tersusun dari andesit hornblende. Bibir kawah yang berupa tinggian (pematang)
terdiri dari hipersten augit hornblende, serta terlihat beberapa struktur kekar pada beberapa
bagiannya.

Gambar 2.3 Citra satelit dari Google Earth yang menunjukkan kawah Gunung Sumbing yang membuka kea rah
timurlaut, mengindikasikan chanel tempat mengalirnya lava pada erupsi yang pernah terjadi

Gambar 2.4 Peta Kawah Gunung Sumbing nampak kubah lava/dome pada peta (Arsip Direktorat Vulkanologi
PVMBG, 2011)

Gambar 2.5 Puncak Gunung Sumbing. Nampak tinggian bibir kawah dan kubah lava pada bagian tengah kawah.
Aktivitas magmatik terlihat dari manifestasi solfatara dan gas belerang menyengat yang keluar dari bagian
berwarna putih. ( sumber : Google Earth Photos)

2.4 Tipe Magma Gunung Sumbing


Gunung api yang terdapat pada jalur utama atas batuan volkanik dengan tipe toleitik, kalk
alkali dan kalk alkali kaya potassium (Nuraini dan Sofyan, 2010).Gunung Sumbing sendiri
memiliki jeis batuan dengan kandungan K2O yang rendah atau bertipe toleitik. Hal ini
mengindikasikan bahwa magma bawah gunung api di Gunung Sumbing dan gunung api pada
jalur utama berasal dari mantel bumi yang tercermin dari subduksi di bagian selatan Jawa.
Oleh karena itu, Gunung Sumbing memiliki komposisi magma dengan tipe intermidiet
cenderung asam sebagai hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Tipe lava
yang dihasilkan adalah lava andesitic dan dasitik.

Gambar 2.6 Model pembentukan magma toleitik yang menjadi karakteristik gunung api pada busur vulkanik
(sumber : http://www.le.ac.uk/ )

2.5 Sejarah Erupsi Gunung Sumbing


Berdasarkan komposisi magmanya yang cenderung asam, Gunung Sumbing memiliki
karakteristik erupsi bertipe magmatik strombolian. Ciri khas letusan strombolian adalah
fragmen lava yang dilemparkan bersamaan dengan awan erupsi yang berwarna putih karena
sedikit mengandung debu. Erupsi ini dipicu adanya tekanan yang sangat kuat dari dapur
magma sehingga menghasilkan letusan yang bersifat eksplosif.
Letusan yang tercatan sepanjang sejarah adalah pada tahun 1730 dan hingga kini tidak
menunjukkan adanya indikasi akan melakukan erupsi kembali. Letusan 1730 terjadi di kawah
puncak, dengan terbentuknya kubah lava dengan aliran ke arah bibir kawah terendah
(Junghun, 1853 dan Traverne,1926)
Bukti satu-satunya adalah ditemukannya endapan kuarter yang tersebar di Kabupaten
Sleman dan wilayah Jawa Tengah berupa breksi andesit dan juga tuf. Hingga saat ini aktivitas
volkanik pada Gunung Sumbing tidak berhenti begitu saja, aktivitas solfatara yang
9

mengeluarkan gas-gas belerang dengan bau menyengat masih terjadi pada puncak Sumbing.
Gas-gas ini menghasilkan endapan sulfur yang berwarna kekuningan. Aktivitas solfatara
terkuat terjadi pada tahun 1977. Suhu yang tercatat adalah 125C dengan solfatara bertekanan
kuat menghasilkan suara tiupan yang keras (blazer) dan mata air panas dengan suhu 87C.

Gambar 2.7 Letusan tipe strombolian yang terjadi pada Gunung Etna sebagai ilustrasi yang terjadi pada Gunung
Sumbing. Tipe erupsi stromboli di cirikan oleh adanya magma yang sangat cair, yang semakin ke arah
permukaan sering dijumpai letusan pendek yang disertai dengan ledakan (sumber: http://fast.swide.com/)

10

2.6 Upaya Penanggulangan Bencana Gunung Sumbing


Salah satu upaya untuk menanggulangi bahaya letusan Gunung Sumbing adalah
dibuatnya pos pengamatan Gunung Sumbing. Pos pengamatan ini tidak hanya menjadi
pengamatan Gunung Sumbing namun juga menjadi pos pengamatan unung Sindoro
mengingat letaknya yang berdekatan. Pos pengamatan ini terletak d Desa Gentingsari, Kec.
Parakan, Kab. Temanggung, Jawa Tengah.

Gambar 2.7 Sosialisasi yang dilakukan petugas PVMBG pasca meningkatnya Gunung Sindoro di Pos
pengamatan Gunung Sumbing-Sindoro.

Suatu gunung api dapat diketahui karakteristik dan ciri-ciri erupsinya dari produk yang
dihasilkannya. Meskipun sepanjang sejarah Gunung Sumbing tidak pernah meletus hingga
terjadi bencana besar, namun kita harus waspada terhadap segala kemungkinan yang ada.
Suatu api yang sudah lama tidak meletus biasanya akan dahsyat letusannya bila terjadi dan
kemungkinan awan panas tidak bisa untuk dianggap remeh (Kusumadinata, 1980, dalam
Jurnal Direktorat Vulkanologi). Oleh karena itu dapat dibuat peta kawasan rawan bencana
guna mitigasi dan penanggulangan korban jiwa apabila sewaktu-waktu gunung meletus
Peta kawasan rawan bencana terbagi menjadi Daerah Bahaya dan Daerah Bencana.
Pembagian daerah ini berdasarkan bentukan morfologi dan topografi, aktivitas dan
karakteristik gunung api, dan pesebaran letusan masa lalu yang dapat dilihat dari endapan
piroklastik sekitar gunung.

11

1. Daerah Bahaya
Daerah bahaya merupakan daerah yang sangat rawan terkena bahaya letusan berupa
luncuran awan panas, lelehan lava, lontaran material piroklastik sepert bom dan blok,
hujan pasir dan abu. Daerah ini memiliki radius 5km dari kawah aktiftanpa
memperhitungkan arah tiupan angin pada saat terjadi letusan. Pada Gunung Sumbing
daerah paling bahaya adalah daerah arah timurlaut tempat bukaan kawah . Daerah ini
meliputi K. Kedu, K. Parang, K Gondang yang memiliki jumlah jiwa 23.500 itupun
pada sensus penduduk tahun 1989. Karena itu penduduk harus segera diungsikan bila
ada tanda-tanda terjadi letusan.

2. Daerah Waspada
Daerah waspada merupakan daerah diluar daerah bahaya yang masih terpengaruh
bahaya lontaran lapilli, hujan pasir dan abu yang berbentuk lingkaran diluar daerah
bahaya dengan radius 8km dar kawah aktif. Penduduk pada daerah ini lebih padat dari
daerah bahaya, yaitu berkisar 71.500 pada tahun 1989. Selain bahaya lontaran material
letusan, pada daerah ini penduduk diharapkan waspada bila terjadi hujan pasca letusan
karena beberapa sungau yang berhulu dari daerah puncak kemungkinan besar kan
dilalui oleh lahar hujan.
Daerah diluar kedua daerah tersebut merupakan daerah aman, namun perlu
diperhatikan bahwa daerah tersebut tidak berarti tidak terjangkau oleh material letusan sama
sekali. Sehingga kewasadaan dan kesigapan dalam mitigasi wajib diperlukan sebelum atau
setelah letusan terjadi.

Gambar 2.8 Peta Kawasan


Rawan Bencana Gunung
Sumbing (Arsip Direktorat
Vulkanologi PVMBG)

12

2.7 Pemanfaatan Gunung Sumbing


Sebagaimana pada umumnya kawasan daerah gunung berapi umumnya memiliki
kondisi tanah yang subur dengan komposisi yang memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh
secara maksimal. Kondisi seperti itu pula yang dimanfaatkan penduduk kawasan lereng
Gunung Sumbing. Kawasan Jawa Tengah hingga kini dikenal dengan komoditi pertaian
berupa tanaman tambakau yang memiliki kualitas terbaik di Indonesia. Termasuk kawasan
Kabupaten Temanggung dan sekitarnya yang berada di lereng Sumbing. Sepanjang lereng
Gunung Sumbing-Sindoro pemandangan hijau daun lebar dari tanaman tembakau
menghampar indah.

Gambar 2.9 Petani Bakau pada sedang memanen hasil daun tembakau yang telah menguning, siap untuk
dikeringkan menjadi tembakau kualitas terbaik, nampak Sumbing menjulang perkasa sebagai latar. ( sumber:
http://3.bp.blogspot.com/ )

Gambar 2.10 Tembakau kualitas super pada lereng sumbing (sumber


:http://arumsekartaji.files.wordpress.com/ )

13

Selain potensi dalam bidang pertanian Gunung Sumbing memiliki keindahan puncak
yang memukau. Panorama puncak-puncak gunung yang berada di sekitar menjadi daya tarik
tertuntu bagi para pendaki Sumbing. Gunung Merapi, Slamet, Dieng, dan Sindoro nampak
seperti sekumpulan penjaga yang mengelilingi Gunung Sumbing. Kenampakan samudra
diatas awan mengganjar setiap pendaki dengan kepuasan yang tak bisa diungkapkan katakata. Pendakian Gunung Sumbing yang memiliki ketinggian 3371mdpl dimulai dari
basecamp pendakian yang berada pada jalan antara Kab. Wonosobo-Magelang. Potensi inilah
seharusnya senantiasa dikembangkan menjadi lebih baik dan bertanggung jawab yang
nantinya akan meningkatkan potensi pariwisata daerah dan mendayagunakan masyarakat
sekitar Gunung Sumbing.

Gambar 2.11 Puncak


Gunung Sumbing 3371
yang diabadikan oleh
para pendaki. Tinggian
menjulang yang dihiasi
kubah lava menjadikan
keelokan Sumbing tidak
terlupa (sumber:
http://lupajalanpulang.fil
es.wordpress.com/ )

Gambar 2.12 Mengabadikan momen pendakian pada puncak Gunung Sumbing (sumber:
https://ajustabrata.files.wordpress.com )

14