Anda di halaman 1dari 1

Ulkus peptikum merupakan kerusakan jaringan mulai dari mukosa, submukosa, sampai

dengan muskularis mukosa yang meluas sampai ke bagian bawah epitel dari saluran makan
bagian atas dengan batas yang jelas. Ulkus peptikum juga merupakan salah satu penyakit yang
masih sering ditemukan di masyarakat. Prevalensinya dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi
dimana penyakit ini banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi
yang rendah, dimana kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.1
Salah penyebab utama ulkus peptikum adalah infeksi dari lambung oleh bakteria yang
disebut Helicobacter pylori (H. pylori). H. pylori merupakan kuman patogen gram negatif, suatu
bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis pada manusia. Bakteri ini
bertahan hidup di tubuh manusia dengan memanipulasi sistem sel imum yang penting. Selain itu,
ulkus peptikum juga dapat dipicu oleh penggunaan non-steroidal anti inflammatory drugs
(NSAID) dalam jangka waktu yang lama, seperti penggunaan NSAID untuk pengobatan
penyakit osteoarthritis. Terdapat beberapa faktor lain yang juga dapat menjadi pencetus
timbulnya penyakit ini, seperti genetik, diet, alkohol, dan merokok.2,5
Penyakit ulkus peptikum dapat menimbulkan komplikasi yang serius bila tidak
ditangani dengan tepat. Komplikasi yang mungkin timbul adalah perdarahan, perforasi, dan
stenosis pilorik. Komplikasi yang paling sering muncul adalah perdarahan. Insiden perdarahan
dan perforasi meningkat pada usia lanjut dan pada pemakaian NSAID yang lama.1,5,8
Penanganan ulkus peptikum sendiri ditujukan untuk menghilangkan keluhan yang
timbul, menyembuhkan ulkus, mencegah kekambuhan, dan mencegah terjadinya komplikasi.
Penanganan ulkus peptikum saat ini terdiri dari terapi non medikamentosa dan terapi
medikamentosa, bila keduanya gagal dapat dilakukan tindakan operasi. Semua hal tersebut
dilakukan untuk mencapai tujuan terapi yang optimal.2,6,9,10
Mengingat masih banyaknya angka kejadian penyakit ulkus peptikum di masyarakat
Indonesia karena faktor resiko yang sangat tinggi di masyarakat, seperti kebiasaan masyarakat
untuk membeli obat tanpa resep dokter dan infeksi Helicobacter pylori yang kejadiannya sangat
tinggi di Indonesia, maka sangatlah penting untuk mempelajari penyakit ini terutama bagi para
praktisi medis.