Anda di halaman 1dari 11

Kejang Demam pada Anak Laki-laki Berusia Tiga Tahun

Pendahuluan
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai
penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu
tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya
mengalami kejang demam.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai
pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah
infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan.
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai
4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang
demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal
tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat
dibandingkan laki-laki.
Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan selsel otak kurang menyenangkan di kemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik,
mental atau sosial yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera.
Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat
yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. 1-2

Anamnesis
Anak yang mengalami kejang demam akan didahului dengan serangan demam baik
suhu tinggi maupun suhu yang tidak terlalu tinggi yang dapat disebabkan oleh infeksi saluran

pernapasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Pastikan
tidak adanya infeksi sistem saraf pusat untuk mengeliminasi kemungkinan kejang oleh
penyebab lain.1 Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan untuk menganamnesis anak
dengan kejang demam:
Usia anak berkisar 6 bulan -5 tahun
Adanya riwayat infeksi seperti infeksi saluran pernapasan atas, otitis media,
pneumonia, gastroenteritis maupun infeksi saluran kemih.
Tidak ada infeksi sistem saraf pusat.
Adanya demam sebelum timbulnya kejang
Umumnya serangan kejang berlangsung 24 jam pertama sewaktu demam.
Kemungkinan adanya pengaruh genetik, riwayat anggota keluarga yang juga pernah
mengalami kejang demam.
Pemeriksaan Fisik
Tidak ada pemeriksaan fisik yang spesifik pada kejang demam. Umumnya dapat
dilakukan pemeriksaan tanda tanda vital yaitu pemeriksaan suhu, frekuensi pernapasan,
denyut nadi serta tekanan darah pada penderita. Yang menonjol disini biasanya didapatkan
peningkatan suhu tubuh.2
Pemeriksaan tingkat kesadaran diperlukan pasca kejang untuk memperhatikan apakah
ada defisit neurologis atau tidak. Bentuk pemeriksaan kesadaran yang digunakan dapat
berbentuk pemeriksaan kualitatif maupun kuantitatif. Tingkat kesadaran kualitatif pasien
terbagi atas:
Compos mentis: sadar terhadap diri dan lingkungan.
Delirium : gaduh gelisah, kacau, disorientasi
Somnolen : mengantuk, mudah dibangunkan, menangkis nyeri
Stupor: dapat dibangunkan dengan rangsangan kuat, kemudian kesadaran turun lagi
Koma : tanpa gerakan sama sekali
Secara kuantitatif dapat digunakan Glasgow Coma Scale, tabel berikut akan menjelaskan
tentang Glasgow Coma Scale.

Tabel 1: Glasgow Coma Scale, diunduh dari http://misslittlenurse.blogspot.com/2010/04/glasgow-comascale.html

Skor terendah ialah 3 yang berarti pasien dalam keadaan koma dalam dan yang
tertinggi 15 berarti pasien dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Pemeriksaan tanda rangsang meningial dapat digunakan untuk mengeksklusi adanya
meningitis. Bentuk pemeriksaan tanda rangsang meningeal meliputi kaku kuduk, tanda
Kernig, tanda Laseque dan tanda Brudzinsky.2
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan kadar elektrolit,
glukosa serum, pemeriksaan CSS serta pemeriksaan radiologik yang sesuai. Adanya
pemeriksaan ini bukan hanya untuk menegakkan diagnosis kejang demam namun juga untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi sistem saraf pusat yang membangkitkan
serangan kejang.3
Pemeriksaan elektrolit menunjukkan adanya hipokalsemia, hipomagnesia dan
hiperfosfatemia. Selain itu didapati penurunan kadar glukosa darah / hipoglikemia. Analisa
cairan serebrospinal tidak selalu dilakukan pada kejang demam. Pemeriksaan ini dilakukan
bila ada kecurigaan adanya meningitis pada bayi dan anak.
Pemeriksaan EEG tidak diindikasikan pasca kejang demam sederhana karena
umumnya gambarannya hanya akan membuktikan bentuk normal dan tidak akan mengubah
manajemen. EEG hanya diindikasikan pada kejang demam atipik maupun anak yang beresiko

berkembang menjadi epilepsi. Kelainan EEG berupa perlambatan yang mencolok sering
dialami pada anak dengan kejang afebris rekuren dibandingkan anak normal. EEG tidak
dapat digunakan untuk memperkirakan anak mana yang akan mengalami kejang demam
berulang atau yang mengalami epilepsi.
Diagnosis Kerja
Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (
suhu rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.Jadi kejang demam
adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi otak akibat perubahan
potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang.
Kejang demam sederhana merupakan suatu gambaran kejang yang berlangsung kurang dari
15 menit, tidak menunjukkan adanya gambaran fokal yang signifikan, tidak berlangsung
dalam suatu rangkaian yang memiliki durasi total lebih dari 30 menit serta serangan hanya
terjadi satu kali dalam sehari.2,3
Kejang Demam Kompleks / Atipikal merupakan kejang pada demam dengan
manifestasi klinis yang lebih lama (lebih dari 15 menit) yang disertai dengan tanda fokal.
Serangan kejang yang kompleks dapat terjadi lebih dari satu kali dalam satu hari. Adanya
kejang demam kompleks harus diwaspadai karena dapat merupakan pertanda infeksi akut
yang serius serta dapat menyebabkan komplikasi berupa timbulnya epilepsi. Dua hal yang
perlu diperhatikan untuk membedakan kejang demam kompleks dan sederhana ialah lama
berlangsungnya kejang serta jumlah serangan kejang yang terjadi.
Diagnosis Banding
Epilepsi
Terjdi karna lepasnya muatan listrik yang berlebihan dan mendadak pada otak
sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuh
terganggu.
Meningitis
Merupakan infeksi pada meningen, yaitu selaput pembungkus otak. Infeksi ini dapat
disebabkan oleh bakteri seperti Stereptococcus pneumonia, Eschericia coli, dan Haemophilus
influenzae maupun virus seperti virus herpes zoster dan herpes simplex. Ada triad klasik dari
meningitis, yaitu berupa kaku kuduk, demam tinggi dan perubahan status mental. Selain itu
dapat dijumpai adanya fotofobia dan fonofobia. Jika tidak ada gejala klasik ini, maka sulit
untuk menegakkan diagnosis meningitis pada seseorang. Pada anak biasanya terlihat irritabel
dan kurang sehat. Pada bayi berusia hingga 6 bulan biasanya didapai penonjolan fontanella.

Adanya pemeriksaan analisa cairan serebrospinal dapat digunakan untuk menegakkan adanya
meningitis.
Tetanus
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin dari kuman klostridium yang
bermanifestasi dengan kejang otot secara paroksisimal dan diikuti kekakuan seluruh badan.
Kekakuan tonus ini selalu tampak pada otot maseter dan otot rangka.Tetanus penyakit yang
disebabkan tetanospasmin merupakan sejenis neurotoksin atau racun yang diproduksi oleh
clostridium tetani yang menginfeksi sistem saraf dan otot menjadi kaku.
Toksin tetanospasmin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui
peredaran darah sistem limpa. Toksin tersebut akan beraktivitas pada tempat-tempat tertentu,
seperti SSP termasuk otak sehingga menyebabkan kejang otot.
Etiologi
Pencetus terjadinya kejang ialah adanya demam yang disebabkan oleh adanya infeksi
pada bayi dan anak. Bentuk infeksi yang mungkin ditemukan adalah infeksi saluran
pernapasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Perlu
diperhatikan untuk menyingkirkan infeksi sistem saraf pusat sebagai penyebab kejang, baru
memikirkan kemungkinan adanya kejang demam.
Pada banyak pasien kejang demam sering ditemukan riwayat kejang demam pada
keluarganya, oleh karena itu dicurigai adanya kecenderungan genetik pada penyakit ini
meskipun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.1,4
Patofisiologi
Untuk mempertahankan kinerja otak diperlukan adanya energi yang didapatkan dari
hasil metabolisme. Bahan yang dibutuhkan mutlak disini adalah glukosa. Proses metabolisme
ini juga membutuhkan oksigen yang dihantar oleh paru-paru ke jantung kemudian ke otak.
Sel syaraf, seperti sel lainnya dikelilingi oleh suatu membrane yang permukaan dalamnya
lipoid sedangkan permukaan luarnya ionik. Dalam keadaan normal permeabilitas sel terhadap
ion kalium lebih tinggi dari ion natrium, sehingga kadar kalium dalam sel tinggi sedangkan
kadar natrium dalam sel rendah. Hal yang sebaliknya berlaku di luar sel saraf. Untuk menjaga
homeostasis ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase.
Keseimbangan potensial membrane ini dapat diubah oleh adanya perubahan
konsentrasi ion di ruang ekstrasel, rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanis,
kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya dan adanya perubahan patofisiologi dari membran
sendiri karena adanya penyakit atau pengaruh keturunan.3

Pada keadaan demam dengan kenaikan suhu 1o C menyebabkan kenaikan metabolisme basal
10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat hingga 20%. Pada seorang anak yang berusia
3 tahun sirkulasi darah ke otak mencapai 65%, bandingkan dengan orang dewasa yang hanya
mencapai 30%. Jadi adanya kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membrane sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion natrium
dan kalium sehingga kesimbangannya tidak terjadi lagi.
Lepas muatan ini akan meluas ke seluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan
bantuan neurotransmitter. Tidak semua jenis neurotransmitter dapat menyebabkan terjadinya
perpindahan ini. Hanya neurotransmitter yang bersifat eksitasi seperti glutamat dan asam
aspartat yang dapat menyebabkan peningkatan penyaluran impuls saraf. Adanya daerah
neuron yang mati (misalnya oleh karena adanya glioma tumbuh lambat, hematoma, gliosis
dan malformasi arterivenosus) juga dapat meningkatkan perkembangan sinaps hipereksitasi
yang baru. Eksitasi berlebih ini yang akan disalurkan menuju motor end plate sehingga
menyebabkan kontraksi secara tiba-tiba dari otot-otot rangka.4
Setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda-beda. Pada anak dengan ambang
kejang rendah, dapat timbul kejang pada suhu 38o C. Sedangkan pada anak dengan ambang
kejang yang tinggi, dapat timbul kejang pada suhu 40o C atau lebih. Oleh karena itu perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita mengalami kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang demam yang berlangsung lama biasanya
disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh karena
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu
tubuh yang makin meningkat akibat peningkatan aktivitas otot dan selanjutnya diikuti
peningkatan metabolisme. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada neuron
otak setelah berlangsungnya kejang pada waktu yang cukup lama. Edema otak juga dapat
terjadi karena adanya gangguan peredaran darah yang menyebabkan hipoksia sehingga
meninggikan permeabilitas kapiler.5
Epidemiologi
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak usia dibawah 6 tahun. Puncaknya biasanya
terjadi pada usia 14-18 bulan. Sangat jarang ditemukan adanya kejang demam pada anak
berusia diatas 6 tahun. Pada saudara kandung insidensinya berkisar 917%. Angka kejadian
pada kembar monozigot lebih besar daripada kembar dizigot. Adanya epilepsi pada saudara
kandung juga meningkatkan resiko kejang demam begitu pula sebaliknya. Insidensi

komplikasi berupa epilepsi berkisar 9% pada anak yang memiliki faktor resiko berupa
riwayat keluarga epilepsi positif dibandingkan dengan faktor resiko negatif yaitu sekitar 1%.2
Manifestasi Klinis
Kejang biasanyaterkait dengan kenaikan suhu tubuh yang cepat dan biasanya
berkembang bila suhu tubuh mencapai 39o C atau lebih. Serangan kejang biasanya
berlangsung dalam 24 jam pertama setelah demam dan bentuk kejang dapat berupa tonikklonik, tonik, klonik, fokal maupun akinetik. Bentuk yang paling sering dijumpai ialah tonikklonik yang berlangsung dalam waktu singkat dari beberapa detik hingga 10 menit yang
diikuti dengan periode mengantuk pasca kejang. Kejang demam yang menetap lama lebih
dari 15 menit menunjukkan adanya penyebab organik seperti proses infeksi atau toksik dan
memerlukan perawatan yang menyeluruh.
Sebagian besar penderita kejang demam akan mengalami kejang demam sederhana.
Hanya 20% dari kejang demam pertama yang bersifat kompleks. Anak dengan kejang demam
kompleks umumnya memiliki riwayat disfungsi neurologis maupun gangguan perkembangan
serta cenderung berusia kurang dari 18 bulan.5
Sekali lagi diingatkan bahwa sangat penting untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis, ensefalitis dan abses otak baru memikirkan
kemungkinan adanya kejang demam.
Penatalaksanaan
Non medika mentosa
Seringkali kejang yang terjadi akan berhenti dengan sendirinya. Penting untuk menjaga jalan
napas agar tetap lancar pada pasien yang mengalami serangan kejang demam.5
Jika anak mengalami kejang, posisikan anak miring (semiposisi) dengan leher yang
diekstensikan sehingga sekresi dapat keluar secara lancar melalui mulut.
Jika pernasapan sulit: buka saluran napas dengan ekstensi leher secara hati-hati,
angkat rahang ke depan. Jangan letakkan apapun ke dalam mulut. Berikan O2 jika
tersedia.
Tetap perhatikan keadaan vital pasien seperti kesadaran, suhu, tekanan darah,
pernapasan dan fungsi jantung. Penting untuk mengetahui pada suhu berapa anak
mengalami kejang sehingga kita dapat mengetahui ambang kejang anak tersebut.
Jangan letakkan apapun (sendok, jari) di mulut pasien.
Suhu tubuh yang tinggi dapat diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian
antipiretik. Antipiretik yang dapat digunakan pada anak adalah Paracetamol. Jangan
gunakan asam salisilat sebagai antipiretik karena dapat menyebabkan sindrom Reye.

Setelah kejang berhenti, periksa kadar glukosa dan elektrolit darah. Pada kejang demam
biasanya didapati peningkatan kadar fosfor, penurunan kadar magnesium dan kalsium serta
penurunan kadar glukosa darah.6
Hal yang perlu diperlukan adalah untuk menyingkirkan penyebab kejang akibat infeksi pada
sistem saraf pusat seperti meningitis, ensefalitis dan abses otak. Oleh karena itu dapat
dilakukan pungsi lumbal pada L4 L5 untuk mengambil cairan serebrospinal. Cairan ini
kemudian dianalisa untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi pada sistem saraf pusat.5,6
Namun, analisa cairan serebrospinal ini tidak dilakukan pada semua kasus kejang demam
melainkan hanya dilakukan pada:
Kejang dengan usia pasien dibawah 1 tahun.
Kejang yang berulang.
Adanya gejala-gejala gangguan sistem saraf pusat seperti adanya defisit neurologis
pasca kejang.
Medika Mentosa
Anti konvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan ketentuan
orangtua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya pada pada pasien. Tujuan
pemberian adalah mencegah timbulnya kejang pada keadaan demam. Obat yang diberikan
harus cepat diabsorpsi dan cepat masuk ke otak.
Berdasarkan penelitian dapat digunakan Diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg
untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat
badan lebih dari 10 kg, apabila suhu pasien menunjukkan suhu 38,5o C. Efek samping yang
mungkin timbul adalah ataksia, mengantuk, depresi pusat pernapasan, laringospasme dan
hipotonia.4
Untuk mengurangi rekurensi kejang demam dapat digunakan fenobarbital dengan
dosis sebagai berikut:
Neonatus

: 30 mg intramuskular

1 bulan 1 tahun

: 50 mg intramuskular

> 1 tahun

: 75 mg intramuskular

Namun

penggunaan fenobarbital harus diwaspadai karena efek samping yang

mungkin timbul berupa hiperaktivitas, irritabilitas, letargi dan ruam. Selain itu dicurigai
bahwa fenobarbital memiliki efek samping pada intelegensia. Sebuah penelitian menunjukan
kelompok anak yang pernah diberi fenobarbital memiliki IQ rerata 5,2 poin lebih rendah
daripada kelompok kontrol 6 bulan setelah terapi dihentikan. Pemakaian hanya sewaktu

demam tidak efektif karena konsentrasi terapeutik obat tidak akan dicapai dalam waktu
singkat kecuali bila diberikan dalam dosis yang sangat besar (15-20 mg/kg), namun dosis
besar ini juga berarti efek samping yang lebih besar.4
Diazepam oral 0,33 mg/Kg setiap 8 jam selama demam efektif dalam mengurangi
insiden kejang demam rekuren sama seperti penggunaan kontinu fenobarbital. Fenitoin dan
karbamazepin yang diberikan kontinu tidak efektif dalam mencegah kejang demam rekuren.
Natrium valproat mungkin menguntungkan, namun efek samping serius secara potensial
disebabkan oleh penggunaan agen ini tidak menjamin penggunaannya. Sehingga pilihan
terapi pencegahan rekuren terbaik ialah diazepam secara oral.
Komplikasi
Epilepsi
Anak yang menderita kejang demam beresiko lebih besar mengalami epilepsi
dibandingkan dengan yang tidak. Besarnya resiko ini dipengaruhi banyak faktor, namun yang
terpenting adalah kelainan status neurologik sebelum dan sesudah kejang, timbulnya kejang
demam yang kompleks dan riwayat kejang afebris pada keluarga. Seorang anak normal yang
mengalami kejang demam memiliki resiko 2x lipat lebih besar dibandingkan populasi
kontrol.2
Apabila kejang pertamanya kompleks, atau bila anaknya abnormal, resiko dapat
meningkat hingga 5 kali lipat. Bila kedua faktor ada maka resikonya menjadi 18 kali lipat dan
insidensi epilepsi dapat mencapai 10% dalam kelompok ini. Anak dengan serangan kejang
demam fokal, berkepanjangan, dan berulang dengan penyakit yang sama memiliki 50%
kemungkinan menderita epilepsi saat ia berusia 25 tahun.
Retardasi mental
Gangguan belajar dan perilaku, retardasi mental, defisit koordinasi dan motorik dan
status epileptikus pernah dilaporkan sebagai gejala sisa kejang demam. Kejang yang
berkepanjangan tampaknya merupakan faktor pemicu timbulnya sekuele.2
Pencegahan
Pencegahan terutama dari kejang demam adalah mencegah agar suhu tubuh anak tidak terlalu
tinggi sehingga tidak menjadi faktor pemicu timbulnya kejang.3 Hal yang dapat dilakukan
ialah:
Memberi kompres air dingin pada anak yang demam.
Tidak mengenakan baju yang tebal dan tertutup pada anak.
Menggunakan obat penurun suhu tubuh, yaitu Paracetamol.

Pencegahan sekunder berupa mencegah rekurensi demam telah dibahas di bagian


penatalaksanaan, yaitu dengan pemberian diazepam oral 0,33 mg/kg setiap 8 jam.
Prognosis
Umumnya baik. Angka mortalitas sangat rendah, yaitu berkisar dari 0,64 0,74 %.4
Kesimpulan
Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenikan suhu
tubuh(suhu rektal diatas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

Daftar Pustaka
1. Richard EB, Robert MK, Ann MA. Ilmu kesehatan anak nelson. Volume 3. Jakarta:
EGC; 2004.h.2059-60.
2. Abraham MR, Julien IE, Colin DR. Buku ajar pediatric Rudolph. Volume 3. Edisi 20.
Jakarta: EGC; 2007.h.2160-1.
3. Joyce LK. Pedoman pemeriksaan laboratorium & diagnostik. Jakarta: EGC; 2008.h.11620.
4. Annegers JF, Hauser WA, Shirts SB, et al. Factor prognostic of unprovoked seizures
after febrile convulsions. N Eng J Med 316: p.493.
5. Staf Pengajar ilmu kesehatan anak FKUI. Buku kuliah ilmu kesehatan anak. Volume 3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.h.1190-2.
6. Ellenberg JH, Nelson KB. Febrile seizures and later intellectual performance. Arch
Neurol 35: p. 1978.
7. Taslim SS, Sofyan I. Buku ajar neurologi anak. Jakarta: Balai Penerbit IDAI;
2001.h.244-51.
8. Roy M, Simon JN. Pediatrika. Edisi 7. Jakarta: Erlangga: 2005.h.112-4.