Anda di halaman 1dari 27

RESPIRASI

Laporan Praktikum
Untuk memenuhi tugas matakuliah Anatomi Fisiologi Manusia
yang dibina oleh Dra. Hj. Susilowati, M.Si dan Dr. H.Abdul Ghofur, M.Kes

Oleh:
Kelompok 2 Off B
Gupita Laksmi P. (120341421990)
Humila Ainun N. (120341421995)
Nadhia Kirana D. (120341421996)
Nisaul Lauziah S. (120341421967)
Noviana Tri L.

(100342404646)

Rizky Alfarizy

(120341421984)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2014

A. Topik
Respirasi

B. Tanggal Praktikum
6 Oktober 2014
C. Tujuan
1. Menentukan volume tidal, volume cadangan ekspirasi, kapasitas vital,
volume cadangan inspirasi
2. Mengetahui frekuensi pernapasan, faktor-faktor yang mempengaruhi
irama pernapasan
3. Mendapatkan kandungan CO2 dalam udara ekspirasi

D. Dasar Teori
Respirasi berarti satu inspirasi dan satu ekspirasi. Seorang dewasa
normal melakukan 14-18 kali respirasi setiap menit, dan dalam keadaan
istirahat sebanyak 12-15 kali. Selama ini paru-paru mempertukarkan udara di
dalamnya

denagn

atmosfir.

Untuk

mengukur

volume

udara

yang

dipertukarkan, dipergunakan spirometer (respirometer) (Basuki, 2000).


Selama proses bernapas normal, kira-kira 500ml udara bergerak ke
saluran napas dalam setiap inspirasi, dan jumlah yang sama bergerak keluar
dalam setiap ekspirasi. Hanya kira-kira 350 ml volume tidal benar-benar
mencapai alveoli, sedangkan yang 150ml tetap berada di hidung, faring,
trakhea, dan bronkhi, yang disebut sebagai volume udara mati (Soewolo,
2003).
Dengan bernapas sangat kuat, kita dapat menghisap lebih dari 500ml
udara. Kelebihan udara yang dihirup ini, yang disebut volume udara cadangan
inspiratori, rata-rata 3.100ml. Dengan demikian sistem pernapasan dapat
menarik 3.100ml (volume cadangan respiratori) + 500ml (volume udara tidal)
= 3.600ml (Soewolo, 2003).

Bila kita melakukan inspirasi normal dan kemudian melakukan


ekspirasi sekuat-kuatnya, kita akan dapat mendorong keluar 1.200ml udara,
volume udara ini disebut volume cadangan ekspiratori. Susudah volume udara
cadangan ekspiratori dihembuskan, sejumlah udara masih tetap berada dalam
paru-paru karena tekanan intrapleural lebih rendah sehingga udara yang
tinggal ini dipakai untuk mempertahankan agar alveoli tetap sedikit
menggembung, juga beberapa udara masih tetap ada pada saluran udara
pernapasan. Udara ini disebut udara residu, jumlahnya kira-kira 1.200ml
(Soewolo, 2003).
Kapasitas paru-paru dapat dihitung dengan menjumlah semua volume
udara paru-paru. Kapasitas inspiratori adalah keseluruhan kemampuan
inspiratori paru-paru, yaitu jumlah volume udara tidal dan volume udara
cadangan inspiratori = 500ml + 3.100ml = 3.600 ml. Kapasitas residu
fungsional adalah jumlah volume udara residu dan volume udara cadangan
ekspiratori = 2.400 ml. Kapasitas vital adalah volume udara cadangan
inspiratori + volume udara tidal + volume udara cadangan ekspiratori =
4.800ml. Akhirnya, kapasitas total paru merupakan jumlah semua volume
udara, yaitu = 6.000ml (Soewolo, 2003).
Frekuensi

pernapasan

adalah

intensitas

memasukkan

atau

mengeluarkan udara per menit. Pada umumnya intensitas pernapasan pada


manusia berkisar antara 16 - 18 kali. Frekuensi respirasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti: usia, jenis kelamin, aktifitas, kondisi fisik, suhu
tubuh dan posisi tubuh (Anonim, 2009).
Menurut Basoeki (2000), respirasi seorang dewasa normal adalah 1418 kali per menit, sedangkan dalam keadaan istirahat 12-15 kali. Irama dasar
respirasi dikendalikan oleh sistem saraf dalam medula oblongata dan spons
(Soewolo, 2003).
Usia: makin tambah usia, makin kecil frekuensi respirasi seseorang.
Anak-anak lebih banyak frekuensi pernafasannya daripada orang dewasa. Hal
ini disebabkan anak-anak masih dalam usia pertumbuhan sehingga banyak

memerlukan energi. Oleh sebab itu, kebutuhannya akan oksigen juga lebih
banyak dibandingkan orang tua (Anonim, 2009).
Jenis Kelamin: laki-laki lebih banyak frekuensi pernafasannya
daripada perempuan. semakin banyak energi yang dibutuhkan, berarti
semakin banyak pula O2 yang diambil dari udara. Hal ini terjadi karena lakilaki umumnya beraktivitas lebih banyak daripada perempuan (Anonim, 2009).
Aktifitas dan kondisi fisik: makin terlatih fisik seseorang, makin kecil
frekuensi respirasinya. Jika diperhatikan, orang yang melakukan aktivitas
kerja membutuhkan energi, memiliki frekuensi pernapasan yang besar pula.
Berarti, semakin berat kerjanya maka semakin banyak kebutuhan energinya,
sehingga frekuensi pernapasannya semakin cepat (Anonim, 2009).
Setelah melakukan aktivitas (misalnya: berlari), metabolisme dalam
tubuh meningkat terutama untuk metabolisme asam laktat dalam sel yang
banyak menghasilkan CO2 dan panas. Selama berlari, penggunaan O2 oleh
otot yang bekerja bertambah. Sehingga PO2 dalam jaringan dan dalam darah
menurun. Difusi O2 dan darah ke jaringan bertambah sehingga PO2 darah pada
otot berkurang dan pelepasan O2 dari hemoglobin meningkat. Selama
olahraga, penggunaan oksigen dapat meningkat sampai sebanyak 30 kali lipat.
Harus ada mekanisme untuk menyesuaikan usaha respirasi terhadap tuntutan
metabolik (Soewolo, 2003).
Suhu tubuh: suhu yang tinggi, meningkatkan frekuensi respirasi.
Semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka frekuensi pernapasan akan
semakin cepat. Di lingkungan yang panas tubuh mengalami peningkatan
metabolisme untuk mempertahankan suhu agar tetap stabil. Untuk itu tubuh
harus lebih banyak mengeluarkan keringat agar menurunkan suhu tubuh.
Aktivitas ini membutuhkan energi yang dihasilkan dari peristiwa oksidasi
dengan menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen yang lebih
banyak untuk meningkatkan frekuensi (Anonim, 2009).
Posisi tubuh, posisi berbaring frekuensi respirasi 13/menit, dan pada
posisi duduk 18/menit dan 22/menit pada posisi berdiri. Frekuensi pernapasan

meningkat saat berjalan atau berlari dibandingkan posisi diam. frekuensi


pernapasan posisi berdiri lebih cepat dibandingkan posisi duduk. Frekuensi
pernapasan posisi tidur terlentang lebih cepat dibandingkan posisi tengkurap
(Anonim, 2009).
Namun, masih banyak factor-faktor lain yang lebih dominan
mempengaruhi frekuensi pernapasan yaitu.
1. Emosi seseorang
2. Perasaan seseorang
3. Kejiwaan seseorang.
4. Energi dan aura seseorang
5. Latihan dan kebatinan seseorang
Dalam keadaaan normal, kegiatan inspirasi dan ekpirasi atau
menghirup dan menghembuskan udara dalam bernapas hanya menggunakan
sekitar 500 cc volume udara pernapasan (kapasitas tidal = 500 cc). Fase
ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi
semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi
lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru (Mrwaldi, 2009).
Sel-sel tubuh terus menerus menggunakan O2 untuk reaksi metabolik
yang melepaskan energi dari molekul nutrien dan menghasilkan ATP. Pada
saat yang sama, reaksi ini juga melepaskan Karbon dioksida. Karena jumlah
karbondioksida yang berlimpah akan menghasilkan keasaman yang bersifat
racun bagi tubuh, maka CO2 yang berlimpah harus dibuang dengan cepat dari
sel tubuh (Soewolo, 2003).
Pusat kontrol yang ada di medulla oblongata juga membantu
mempertahankan homeostasis dengan cara memonitor kadar CO2 dalam darah
dan mengatur jumlah CO2 yang dibuang oleh alveoli saat ekspirasi. Petunjuk
utama mengenai konsentrasi CO2 datang dari munculnya sedikit perubahan
pH darah dan cairan jaringan yang menggenangi otak. CO2 bereaksi dengan
H2O untuk membentuk H2CO3, yang akan menurunkan pH. Ketika pusat

control yang ada di medulla oblongata mendeteksi adanya penurunan pH,


pusat control tersebut akan meningkatkan kedalaman dan laju pernapasan.n
Kelebihan CO2 dibuang dalam udara ekspirasi. Peningkatan konsentrasi CO2
umumnya merupakan indikasi kuat mengenai adanya penurunan konsentrasi
O2, karena CO2 dihasilkan melalui proses yang sama dengan proses konsumsi
O2, yakni respirasi seluler (Alvyanto, 2009).

E. Alat dan Bahan


Alat:
Spirometer, pipa tiup, kantung plastik, buret, statif, labu erlenmeyer 125ml,
karet gelang, sedotan, pipa kaca
Bahan:
Alkohol 70%, aquades, phenolpthalen (PP), NaOH 0,1 M

F. Langkah Kerja
1. Mengukur volume pernapasan
Persiapan: pipa tiup dicuci dengan alkohol 70% setiap akan dipakai; pipa
tiup dipasang pada spirometer; skala diatur menunjukkan angka 0 (nol)
sebelum spirometer digunakan; udara pernapasan ditiup melalui mulut.
a. Menghirup udara dengan inspirasi normal, kemudian
menghembuskan sekuat mungkin pada spirometer yang terbaca
menunjukkan volume tidal dan volume cadangan ekspirasi. Diulangi
tiga kali dan dimabil rata-ratanya.

b. Menghembuskan udara dengan ekspirasi normal, kemudian


menghembuskan lagi udara sekuat mungkin. Ini adalah volume
cadangan ekspirasi. Diulangi tiga kali dan diambil rata-ratanya.

c. Hasil langkah 1 dikurangkan hasil langkah 2. Ini adalah volume


tidal.

d. Menghembuskan sebanyak mungkin udara setelah bernapas


dalam-dalam. Ini adalah kapasitas vital. Diulangi tiga kali dan
dirata-rata.

e. Hasil langkah 4 dikurangi langkah 1 diperoleh volume cadangan


inspirasi.

2. Irama pernapasan
a. Pelaku duduk santai, frekuensi pernapasan dihitung dalam 1 menit

b. Pelaku diminta bernapas cepat selama 1 menit, setelah ditu


diminta bernapas normal selama 1 menit. Frekuensi pernapasan
dihitung setelah bernapas normal per menit.

c. Pelaku memegang kantong plastik sedemikian rupa sehingga


mulut dan hidung berada di dalam kantong. Pelaku diminta
bernapas selama 2 menit. Kemudian bernapas normal di luar
kantong plastik. Frekuensi pernapasan dihitung per menit setelah
bernapas normal di luar kantong plastik.

d. Pelaku lari di tempat 60 langkah, setelah itu duduk di kursi,


frekuensi pernapasan dihitung per menit.

e. Langkah 1-4 diulangi setiap kali selesai melakukan kegiatan


pelaku menarik napas panjang, menutup hidung, menahan selama
mungkin sampai pelaku harus bernapas lagi. Waktu dicatat.

f. Perlakuan 5 diulang tetapi pelaku menghembuskan napas


panjang. Hasil dicatat.

3. Kandungan CO2 dalam udara ekspirasi


a.Mengisi 2 labu Erlenmeyer dengan 100ml aquades

b. Pada tiap labu Erlenmeyer ditambahakan 3-5 tetes phenolptalin


dan kemudian 5 tetes 0,1 M NaOH. Larutan menjadi bewarna merah
delima dan ditutup rapat-rapat kedua labunya.

c. Sedotan dimasukkan pada salah satu labu. Udara pernapasan ke


dalam labu melalui pipa sampai warna merah hilang. Waktu yang
diperlukan dicatat.

d. Pelaku lari di tempat 60 langkah, kemudian menghembuskan


udara ke dalam labu sampai warna hilang. Waktu yang diperlakukan
dicatat.

e. Melakukan titrasi dengan cara:

Buret diisi dengan larutan 0,1 M NaOH. Batas


volume larutan dicatat.

Labu Erlenmeyer berisi larutan diletakkan tepat


di bawah ujung bawah buret dengan memberi
landasan kertas putih.

Larutan dalam buret diteteskan ke dalam labu


setetes demi setetes dengan perlahan-lahan,
setiap tetes labu digoyang.

Ditetesi dan digoyang tersu sambil diamati


dengan cermat bila terjadi perubahan warna dari
tidak berwarna menjadi merah.

Bila sudah nampak ada perubahan warna,


penetesan dihentikan. Ini berarti titik ekivalen
sudah terlewati, angka batas volume pada buret
dicatat.

Titik ekivalensi ditentukan terletak pada


pertengahan antara angka volume NaOH saat
mulai namapk terjadi perubahan warna dengan
satu angka sebelumnya.

Volume zat pentiter (NaOH) yang terpakai


dihitungsehingga tercapai titik ekivalen tadi
dengan pedoman 1ml 0,1 M NaOH setara
dengan 10mol CO2

G. Data Pengamatan

H. Analisis Data
1. Mengukur Volume Pernapasan
Dari hasil praktikum, diperoleh data bahwa volume tidal dan volume
cadangan ekspirasi pelaku adalah 2550 cc pada ulangan pertama, 1600 cc
pada ulangan kedua, dan 1700 cc pada ulangan ketiga. Jadi rata-rata volume
tidal dan volume cadangan ekspirasi adalah 1950 cc. Sementara itu, volume
cadangan ekspirasi adalah 1100 cc pada ulangan pertama, 600 cc pada
ulangan kedua, dan 700 cc pada ulangan ketiga. Diperoleh rata-rata volume
cadangan ekspirasi pelaku adalah 800 cc. Volume tidal didapatkan dari selisih
hasil yaitu volume tidal dan volume cadangan ekspirasi dikurangi volume
cadangan ekspirasi. Dari hasil pengurangan tersebut, diperoleh data 1450 cc
pada ulangan pertama, 1000 cc pada ulangan kedua, dan 1000 cc pada
ulangan ketiga. Rata-rata volume tidal pelaku adalah 1150 cc. Jadi dapat
disimpulkan bahwa diperoleh volume tidal pelaku adalah 1150 cc.
Kesimpulan sementara dipeeroleh bahwa volume udara yang dihirup atau
dihembuskan oleh pelaku adalah 1150 cc.
Pada praktikum langkah yang ke empat yaitu kapasitas vital pelaku
diperoleh data 2800 cc untuk ulangan pertama, 1800 cc pada ulangan kedua,
dan 1900 cc pada ulangan ketiga. Kapasitas vital rata-ratanya adalah 2167 cc.
Kapasitas vital merupakan sejumlah cadangan ekspirasi dengan volume tidal
dan volume cadangan ekspirasi. Pada praktikum langkah yang terakhir
dilakukan perhitungan volume cadangan inspirasi yang dapat diperoleh
dengan pengurangan hasil langkah yang ke 4 yaitu kapasitas vital dikurangi
langkah ke 1 yaitu volume tidal dan volume cadangan ekspirasi. Dari hasil
pengurangan tersebut, diperoleh volume cadangan inspirasinya yaitu 250 cc
untuk ulangan pertama, 200 cc pada ulangan kedua, dan 200 cc pada ulangan
ketiga. Jadi, rata-rata volume cadangan inspirasi pelaku adalah 217 cc. Dari
hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa volume yang paling besar
adalah kapasitas vital.

Di bawah ini merupakan grafik dari hasil pengukuran volume


pernapasan pelaku, yaitu ulangan 1 (Nadhia), ulangan 2 (Humila), dan
ulangan 3 (Nisaul).

Ulangan 1 (Nadhia)
3000

Volume (cc)

2500
2000
1500
1000
500
0
Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Cadangan
ekspirasi

Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Kapasitas Vital

Volume
Cadangan
Inspirasi

Volume Pernapasan

Ulangan 2 (Humila)

Volume (cc)

2000
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Cadangan
ekspirasi

Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Kapasitas Vital

Volume Pernapasan

Volume
Cadangan
Inspirasi

Volume (cc)

Ulangan 3 (Nisaul)
2000
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Cadangan
ekspirasi

Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Kapasitas Vital

Volume
Cadangan
Inspirasi

Volume Pernapasan

Dari beberapa hasil data pengukuran volume pernapasan dari beberapa


pelaku, yaitu ulangan 1, ulangan 2, dan ulangan 3. Maka, dapat diperoleh ratarata volume pernapasan pelaku seperti ditunjukkan pada grafik di bawah ini.
2500
2000
Volume (cc)

1500
1000
500
0
Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Cadangan
ekspirasi

Volume tidal
dan volume
cadangan
ekspirasi

Kapasitas Vital

Volume Pernapasan

Volume
Cadangan
Inspirasi

2. Irama Pernapasan
Pada praktikum irama pernafasan ini terdiri dari 4 macam perlakuan
dan 3 ulangan dengan dilakukan 3 subjek yang berbeda, yaitu Rizky (laki-laki)
dengan usia 21 tahun, Noviana (perempuan) dengan usia 22 tahun dan Gupita
(perempuan) dengan usia 20 tahun. Pada perlakuan pertama, subjek duduk
santai kemudian dihitung frekuensi pernafasan selama 1 menit dan diperoleh
hasilnya. Frekuensi pernafasan yang diperoleh Rizky, Noviana, Gupita selama
1 menit berturut-turut yaitu 33, 37 dan 25 kali. Perlakuan kedua yaitu subjek
bernafas cepat selama 1 menit kemudian bernafas normal kembali selama 1
menit. Frekuensi pernafasan yang diperoleh setelah bernafas cepat kemudian
bernafas normal yaitu berturut-turut dari Rizky, Noviana dan Gupita selama 1
menit adalah 31, 25 dan 22 kali. Perlakuan ketiga yaitu subjek bernafas di
dalam kantong plastik selama 2 menit dan dipastikan bahwa hidung serta
mulut subjek berada di dalam kantong plastik kemudian subjek bernafas
normal selama 1 menit. Setelah itu, 1 menit berikutnya dihitung frekuensi
pernafasannya, diperoleh hasil berturut-turut dari Rizky, Noviana dan Gupita
yaitu 38, 43 dan 31. Perlakuan yang keempat yaitu subjek lari ditempat
sebanyak 60 kali kemudian dihitung frekuensi pernafasannya selama 1 menit
dan diperoleh hasil Rizky sebanyak 53 kali, Noviana sebanyak 53 kali dan
Gupita sebanyak 47 kali.
Pada ulangan selanjutnya dengan perlakuan yang sama namun setelah
dihitung frekuensi pernafasannya selama 1 menit, subjek menahan nafas dan
dicatat waktunya. Pada perlakuan pertama, subjek duduk santai dan dihitung
frekuensi pernafasannya. Diperoleh frekuensi pernafasan Rizky yaitu 33 kali,
Noviana 26 kali dan Gupita 25 kali. Pada saat menahan nafas diperoleh waktu
yaitu pada Rizky selama 35detik, Noviana 38 detik dan Gupita selama 50
detik. Pada perlakuam kedua, subjek bernafas cepat selama 2 menit kemudian
bernafas normal selama 1 menit dan dihitung frekuensi pernafasannya.
Frekuensi pernafasan Rizky yaitu 1 menit 3 detik, Noviana 59 detik dan

Gupita 1 menit 23 detik. Pada perlakuan ketiga yaitu subjek bernafas di dalam
kantong plastik selama 2 menit dan dipastikan bahwa hidung serta mulut
subjek berada di dalam kantong plastik kemudian subjek bernafas normal
selama 1 menit. Setelah itu, 1 menit berikutnya dihitung frekuensi
pernafasannya dan subjek menahan nafas lalu dicatat waktunya. Perolehan
data yaitu frekuensi pernafasan Rizky selama 1 menit yaitu 38 kali dan waktu
yang diperoleh saat menahan nafas yaitu 42 detik. Frekuensi pernafasan
Noviana yaitu 43 kali dan waktu yang diperoleh saat menahan nafas yaitu 31
detik. Dan frekuensi pernafasan Gupita selama 1 menit yaitu 33 kali dan
waktu yang diperoleh saat menahan nafas yaitu selama 30 detik. Pada
perlakuan keempat yaitu subjek berlari di tempat sebanyak 60 kali dan
dihitung frekuensi pernafasannya selama 1 menit. Kemudian subjek menahan
nafas dan dicatat waktunya. Diperoleh data yaitu frekuensi pernafasan Rizky
adalah 50 kali dan waktu yang diperoleh selama menahan nafas yaitu 18 detik.
Frekuensi pernafasan Noviana adalah 52 kali dan waktu yang diperoleh saat
menahan nafas yaitu 12 detik, dan frekuensi pernafasan Gupita yaitu 47 kali
dan waktu yang diperoleh saat menahan nafas yaitu 12 detik.
Pada ulangan yang terakhir yaitu dengan dilakukan perlakuan yang
sama namun subjek menghembuskan nafas pada setiap perlakuan dan dicatat
waktunya. Pada perlakuan pertama diperoleh hasil frekuensi pernafasan pada
Rizky adalah 35 kali dan waktu yang diperoleh saat menghembuskan nafas
yaitu 5,04 detik. Frekuensi pernafasan Noviana adalah 38 kali dan waktu yang
diperoleh saat menghembuskan nafas adalah 4 detik. Dan frekuensi
pernafasan Gupita adalah 26 kali dan waktu yang diperoleh saat
menghembuskan nafas adalah 1,06 detik. Pada perlakuan kedua diperoleh
hasil frekuensi pernafasan pada Rizky yaitu 32 kali dan waktu yang diperoleh
saat menghembuskan nafas yaitu 3,05 detik. Frekuensi pernafasan Noviana
yaitu 32 dan waktu yang diperoleh saat menahan nafas yaitu 3,05 detik. Dan
frekuensi pernafasan pada Gupita yaitu 24 kali dan waktu yang diperoleh saat

menahan nafas yaitu 1,16 detik. Pada perlakuan ketiga diperoleh frekuensi
pernafasan Rizky yaitu 37 kali dan waktu yang dibutuhkan saat
menghembuskan nafas yaitu 4,03 detik. Frekuensi pernafasan Noviana yaitu
40 kali dan waktu yang dibutuhkan saat menghembuskan nafas yaitu 3,05
detik. Dan frekuensi pernafasan Gupita yaitu 32 kali dan waktu yang
diperoleh saat menghembuskan nafas yaitu 1,50 detik. Sedangkan pada
perlakuan terakhir, frekuensi pernafasan yang diperoleh risky yaitu 53 kali
dan waktu yang diperoleh saat menghembuskan nafas yaitu 4,06 detik.
Frekuensi pernafasan Noviana yaitu 51 kali dan waktu yang diperoleh saat
menghembuskan nafas yaitu 4,05 detik. Dan frekuensi pernafasan Gupita
yaitu 46 kali dan wakktu yang diperoleh saat menghembuskan nafas yaitu
2,20 detik.

60
50
40
30

Rizky
Noviana

20

Gupita

10
0
Duduk santai

Bernafas cepar 1 Bernafas di dalam Lari di tempat 60


menit, bernafas kantong plastik 2
kali
normal 1 menit menit, bernafas
normal 1 menit

3. Kandungan CO2 dalam Udara Pernapasan


Sebelum melakukan praktikum, praktikan telah mengisi 2 labu
Erlenmeyer dengan 100 ml air lalu menambahkan 3-5 tetes phenoptalin dan 5
tetes 0,1 M NaOH sehingga warna larutan dalam labu berwarna merah delima.
Selanjutnya memasukkan sedotan ke dalam salah satu labu dan subjek yang
duduk diam meniupkan udara pernapasan ke dalam labu sampai warna merah
delima menjadi bening. Pada saat praktikum, diketahui bahwa waktu yang
dibutuhkan oleh subjek dalam mengubah warna labu dari merah delima
menjadi bening adalah 21 detik. Perubahan warna ini terjadi kemungkinan
karena terjadi perubahan kondisi larutan dari basa yaitu dengan penambahan
NaOH 0,1 M menjadi asam (penambahan CO2 yang dihasilkan oleh udara
pernafasan sebagai hasil peniupan). Akibatnya warna larutan yang berwarna
merah delima diberi CO2 dari peniupan, warna larutan menjadi bening.
Setelah labu Erlenmeyer bening, praktikan melakukan titrasi dengan
menambahkan larutan NaOH 0,1 M pada buret. Lalu membiarkan larutan
NaOH menetes dari buret ke dalam labu Erlenmeyer sambil menggoyangkan
labu Erlenmeyer sehingga terjadi perubahan warna dari bening menjadi
merah. Dari pengamatan diketahui bahwa titrasi pada subjek memerlukan 0,1
M NaOH sebanyak 0,3 ml yang setara dengan 3 mol CO2.
Setelah subjek melakukan lari di tempat 60 langkah, waktu yang
dibutuhkan oleh subjek untuk mengubah warna larutan dalam labu dari merah
delima menajdi bening adalah 27 detik. Waktu yang diperlukan subjek untuk
mengubah warna larutan dari merah menjadi bening setelah perlakuan lari di
tempat 60 langkah, lebih lambat daripada saat subjek hanya duduk diam (tidak
ada perlakuan. Pada saat titrasi volume NaOH yang dibutuhkan untuk
mengubah larutan dalam labu yang bening menjadi merah pada kedua subjek
adalah 0,2 ml atau setara dengan 2 mol CO2.

3.5
3
2.5
2
1.5

Kadar CO2 (mol)

1
0.5
0
Sebelum
Lari

Setelah
lari 60
langkah

I. Pembahasan
1. Mengukur Volume Pernapasan
Pada perlakuan pertama adalah pelaku menghirup udara dengan
inspirasi normal, kemudian pelaku menghembuskan udara sekuat mungkin
pada spirometer. Angka pada spirometer saat itu menunjukkan 2550 cc
pada ulangan pertama, 1600 cc pada ulangan kedua, 1700 cc pada ulangan
ketiga, sehingga rata-rata udara yang dapat dikeluarkan sekuat mungkin
setelah melakukan inspirasi normal adalah 1950 cc. 1950 cc tersebut
merupakan gabungan volume tidal dan volume cadangan ekspirasi. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Basoeki (2000) menyatakan bahwa udara yang
dihembuskan sekuat mungkin setelah menghirup udara dengan inspirasi
normal merupakan volume tidal dan volume cadangan ekspirasi.
Pada pengamatan pelaku ekspirasi normal, lalu menghembuskan udara
secara normal, lalu menghembuskan udara lagi sekuat mungkin pada
spirometer. Menurut Basoeki (2000) menyatakan bahwa langkah tersebut
digunakan untuk mengetahui volume cadangan ekspirasi. Berdasarkan
pengamatan pada ulangan pertama, jarum spirometer menunjukkan angka

1100 cc, ulangan kedua 600 cc, ulangan ketiga 700 cc, sehingga rata-rata
volume cadangan ekspirasi pelaku sebesar 800 cc. Menurut Soewolo, dkk.
(1999) volume cadangan ekspirasi adalah sebesar 1200 ml. Dari analisis
yang diperoleh bahwa angka 800 cc termasuk

masih dalam kisaran

normal volume cadangan ekspirasi, yaitu 1200 ml. Angka 800 cc


merupakan angka yang masih berada pada kisaran normal dari angka 1200
ml. Sehingga dapat dikatakan bahwa volume cadangan ekspirasi pelaku
adalah masih berada di batas normal.
Volume tidal dapat diperoleh dengan mengurangi nilai volume yang
diperoleh pada tahap pertama dikurangi nilai volume yang diperoleh dari
nilai cadangan ekspirasi. Basoeki, dkk. (2003). Berdasarkan pengamatan,
pelaku memiliki volume tidal sebesar 1150 cc. Nilai volume tidal tersebut
kurang sesuai dengan volume tidal menurut Soewolo, dkk. (1999) yang
menyebutkan bahwa selama proses bernafas normal, kira-kira 500 ml
udara bergerak ke saluran napas dalam setiap inspirasi dan jumlah yang
sama bergerak keluar dalam setiap ekspirasi, dan jumlah tersebut disebut
volume tidal. Dari pembahasan ini terlihat bahwa baik volume cadangan
ekspirasi maupun volume tidal pelaku berada pada kisaran yang kurang
normal, sehingga volume yang terukur melibihi kisaran normal. Hal ini
dimungkinkan karena ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan jarum
spirometer kurang sesuai, contohnya pengaturan skala awal oleh pengamat
yang kurang tepat, kurangnya ketelitian dari pengamat,

sehingga

pergerakan jarum kurang valid.


Pengamatan selanjutnya yaitu pelaku bernafas dalam-dalam kemudian
menghembuskan udara sebanyak mungkin untuk mengetahui kapasitas
vital pelaku. Berdasakan pengamatan, pada saat ulangan pertama 2800 cc,
ulangan kedua 1800 cc, ulangan ketiga jarum menunjukkan nilai sebesar
1900 cc, sehingga rata-rata kapasitas paru-paru pelaku adalah 2167 cc. Hal
ini tidak sesuai dengan pernyataan menurut Soewolo, dkk. (2003) yang
menyatakan bahwa kapasitas vital yang merupakan sejumlah volume

cadangan inspiratori dengan volume tidal dan volume cadangan ekspirasi


adalah sebesar 4800 ml. Dari pembahasan ini terlihat bahwa kapasitas
vital pelaku berada pada kisaran yang tidak normal, namun nilai kapasitas
vital lebih besar dari volume tidal dan cadangan ekspirasi. Hal ini
dimungkinkan karena ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan jarum
spirometer kurang sesuai, contohnya pengaturan skala awal oleh pengamat
yang kurang tepat, kurangnya ketelitian dari pengamat,

sehingga

pergerakan jarum kurang valid.


Menurut Soewolo, dkk. (1999) menyatakan bahwa volume cadangan
inspiratori dapat diperoleh dengan bernapas sangat kuat, sehingga dapat
menghisap lebih dari 500 ml udara. Kelebihan udara yang dihirup tersebut
merupakan volume cadangan inspiratori. Rata-rata volume cadangan
inspiratori adalah rata-rata 3100 ml. Dari pembahasan ini terlihat bahwa
baik volume cadangan inspirasi kisaran yang kurang normal. Hal ini
dimungkinkan karena ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan jarum
spirometer kurang sesuai, contohnya pengaturan skala awal oleh pengamat
yang kurang tepat, kurangnya ketelitian dari pengamat,

sehingga

pergerakan jarum kurang valid. Angka 217 cc merupakan angka yang


hampir melenceng jauh dari angka 3100 ml. Sehingga dapat dikatakan
bahwa volume cadangan inspirasi pelaku adalah di bawah batas normal.

2. Irama Pernapasan
Pada percobaan kali ini, perlakuan yang diberikan yaitu dengan subjek
duduk santai dan bernafas cepat selama 1 menit kemudian bernafas
normal selama 1 menit, dimana diketahui terdapat perbedaan frekuensi
pernafasan pada saudara Rizky (21 th), saudari Noviana (22 th), dan
saudari Gupita (20 th). Dalam 1 menit, frekuensi pernafasan saudari
Gupita terlihat paling rendah dibandingkan yang lainnya, namun memiliki
kemampuan menahan nafas paling baik, dan waktu penghembusan nafas

paling singkat. Hal ini karena udara yang tersimpan dalam paru-paru
sebagai cadangan respirasi cukup banyak dan cukup. Noviana memiliki
frekuensi pernafasan yang hampir sama dengan Rizki, karena secara usia
Noviana memiliki usia yang lebih tua, namun secara jenis kelamin Rizky
berkelamin laki-laki. Perbedaan ini terjadi karena beberapa faktor, seperti
yang diketahui Rizki memiliki jenis kelamin laki-laki dengan usia 21
tahun, sedangkan Gupita berkelamin perempuan dengan usia paling muda
yaitu 20 tahun dan bertubuh kecil, begitu juga dengan Noviana berkelamin
perempuan dengan usia 22 tahun.
Perlakuan selanjutnya yaitu dengan bernafas di dalam plastik selama 2
menit kemudian bernafas secara normal selama 1 menit. Berdasarkan data
juga diketahui bahwa Gupita memiliki frekuensi pernafasan paling rendah
dibandingkan Rizky dan Noviana, sedangkan frekuensi pernafasan paling
tinggi yaitu pada Noviana. Ketika bernafas di dalam plastik, maka
ketersediaan oksigen sangat terbatas hanya pada lingkungan di dalam
plastik tersebut. Ketika sekian kali respirasi, maka ketersediaan oksigen di
dalam plastik semakin berkurang berganti dengan karbondioksida karena
hasil dari ekshalasi berupa karbondioksida. Dalam keadaan seperti ini
akan semakin sulit untuk mengambil oksigen pada inhalasi karena plastik
semakin berisi dengan karbondioksidadan ketersediaan oksigen semakin
berkurang sehingga irama pernafasan yang terjadi semakin pelan karena
sesak. Jika hal ini terus berlanjut maka akan menyebabkan sesak nafas.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa pernafasan paru
merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru.
Fungsi paru adalah tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida
pada

pernafasan melalui paru/pernafasan eksterna. Oksigen dipungut

melalui hidung dan mulut. Saat bernafas, oksigen masuk melalui trakea
dan pipa bronchial ke alveoli, dan dapat erat berhubungan dengan darah di
dalam kapiler pulmonalis. Pernafasan dapat berarti pengangkutan oksigen

ke sel dan pengangkutan CO2 dari sel kembali ke atmosfer (Syaifudin,


1997:92).
Perlakuan terakhir yaitu dengan subjek lari di tempat sebanyak 60 kali
dan dihitung frekuensi pernafasannya. Dalam perlakuan ini, irama
frekuensi respirasi yang terjadi baik pada Noviana, Rizky, dan Gupita
semakin bertambah lebih cepat dan banyak jika dibandingkan dengan
perlakuan sebelumnya. Ketika tubuh sedang bekerja keras (berlari), maka
irama pernafasan yang terjadi tidak teratur. Hal ini dikarenakan waktu
inhalasi dan ekshalasi yang tidak optimal ketika tubuh sedang berlari, dan
irama respirasi akan menjadi lebih cepat setelah subjek beristirahat untuk
mengembalikan tenaga yang terpakai selama berlari.
Hal ini sesuai dengan sumber yang menyatakan bahwa kapasitas vital
paru dapat dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang melakukan olahraga
(dalam hal ini berlari). Olah raga dapat meningkatkan aliran darah melalui
paru-paru sehingga menyebabkan oksigen dapat berdifusi ke dalam
kapiler paru dengan volume yang lebih besar atau maksimum. Kapasitas
vital pada seorang atletis lebih besar daripada orang yang tidak pernah
berolahraga. Kebiasaan olah raga akan meningkatkan kapasitas paru dan
akan meningkat 30-40 % (Guyton & Hall, 1997: 605).
Perbedaan frekuensi irama pernafasan dapat disebabkan karena faktor
usia, jenis kelamin dan berat tubuh. Hal ini sesuai dengan sumber yang
menyatakan bahwa irama dasar respirasi ditentukan oleh sistem saraf
dalam medulla dan pons. Ukuran rongga dada dipengaruhi oleh kegiatan
otot pernafasan. Otot-otot ini berkontraksi dan relaksasi sebagai respon
impuls saraf yang ditransmisi kepadanya dari pusat di otak (Soewolo,
2003).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pernafasan antara lain:

1. Jenis kelamin
Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita kira-kira 20
sampai 25 persen lebih kecil daripada pria, dan lebih besar lagi pada
atletis dan orang yang bertubuh besar daripada orang yang bertubuh
kecil dan astenis (Guyton & Hall, 1997:605). Kapasitas paru pada
pria lebih besar yaitu 4,8 L dibandingkan pada wanita yaitu 3,1 L
(Tambayong, 2001).
2. Usia
Usia berhubungan dengan proses penuaan atau bertambahnya
umur. Semakin tua

usia

kemungkinan

penurunan

terjadi

seseorang

maka

semakin

besar

fungsi paru

(Suyono,

1995).

Kebutuhan zat tenaga terus meningkat sampai akhirnya menurun


setelah usia 40 tahun berkurangnya kebutuhan tenaga tersebut
dikarenakan telah menurunnya kekuatan fisik. Dalam keadaan
normal,

usia

juga mempengaruhi

frekuensi

pernapasan

dan

kapasitas paru. Frekuensi pernafasan pada orang dewasa antara


16-18 kali permenit, pada anak-anak sekitar 24 kali permenit
sedangkan pada bayi sekitar 30 kali permenit. Walaupun pada
orang dewasa

pernapasan

frekuensi

pernafasan

lebih

kecil

dibandingkan dengan anak-anak dan bayi, akan tetapi KVP pada


orang dewasa lebih besar dibanding anak-anak dan bayi. Dalam
kondisi tertentu hal tersebut akan berubah misalnya akibat dari suatu
penyakit,

pernafasan

bisa

bertambah

cepat

dan

sebaliknya

(Syaifudin, 1997).
3. Kebiasaan olah raga
Kesegaran jasmani berkenaan dengan kondisi fisik seseorang
dalam melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dalam waktu
yang relatif lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan
masih memiliki cadangan tenaga untuk melakukan aktivitas lainnya.
Kapasitas vital paru dapat dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang

melakukan olahraga. Olah

raga dapat meningkatkan aliran darah

melalui paru-paru sehingga menyebabkan oksigen dapat berdifusi ke


dalam kapiler paru dengan volume yang lebih besar atau maksimum.
Kapasitas vital pada seorang atletis lebih besar daripada orang
yang

tidak

pernah

berolahraga.

Kebiasaan

olah raga

akan

meningkatkan kapasitas paru dan akan meningkat 30 40 %


(Guyton & Hall, 1997).

3. Kandungan CO2 dalam Udara Pernapasan


Respirasi eksternal adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida
antara paru-paru dan karbondioksida antara paru-paru dan kapiler darah
paru-paru (Soewolo, dkk. 2003).
Berdasarkan

hasil

analisis

dapat

diketahui

bahwa

peniupan

berpengaruh terhadap terjadinya perubahan warna larutan dalam tabung


erlenmeyer, yaitu dari merah delima menjadi bening. Terjadinya
perubahan warna dari merah delima menjadi bening, disebabkan akibat
perubahan kondisi pada larutan dari basa menjadi asam. Hal ini karena di
dalam udara pernafasan terkandung CO2 yang akan bereaksi dengan H2O
(akuades) yang membentuk asam karbonat, sehingga larutan berubah
menjadi asam (berwarna bening). Menurut reaksi CO2 + H2O H2CO3.
Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa pada peniupan saat subjek
duduk santai, waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan warna
dari merah delima menjadi bening lebih cepat dibandingkan dengan
peniupan setelah perlakuan lari 60 langkah, yaitu 21 detik dibanding
dengan 27 detik. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang berhubungan
dengan pengaruh aktivitas. Semakin banyak aktivitas maka semakin tinggi
metabolisme sehingga semakin banyak CO2 yang dihasilkan. Pada
kenyataannya akan terjadi peningkatan frekuensi pernafasan saat
beraktivitas. Semakin banyak O2 yang dihirup selama inspirasi maka
jumlah CO2 yang diekspirasikan semakin meningkat. Soewolo (2005),

menyatakan bila dalam tubuh terdapat sedikit kenaikan PCO2 maka akan
merangsang area kemosensitif dalam medulla dan aretehemoreseptor
sehingga menyebabkan area respirastori menjadi sangat aktif dan
kecepatan respirasi meningkat.
Pada bernafas normal larutan NaOH yang dibutuhkan untuk mengubah
warna pada titrasi adalah 0,3 ml. Sedangkan pada saat bernafas setelah lari
60 langkah larutan NaOH yang dibutuhkan juga sama 0,2 ml. Hal tersebut
juga tidak sesuai dengan teori di mana seharusnya volume larutan NaOH
yang dibutuhkan untuk mengubah warna titrasi adalah lebih banyak ketika
bernafas setelah berlari, karena setelah berlari kadar CO2 yang dikeluarkan
oleh subjek ketika meniup larutan lebih banyak daripada yang bernafas
normal. Hal ini terjadi karena adanya kesalahan sewaktu melakukan
praktikum. Tidak berwarnanya larutan (bening) akibat peniupan yang
menghasilkan CO2 sehingga kondisi larutan menjadi asam akan kembali
menjadi basa setelah ditambah dengan larutan 0,1 M NaOH dari hasil
penitrasian dengan perubahan warna menjadi merah delima kembali.
Sehingga penetrasian dapat menunjukkan terjadinya perubahan kondisi
pada larutan dari asam menuju basa kembali karena terjadi penetralan
larutan yang bersifat asam (akibat pengaruh CO2) oleh larutan basa NaOH
0,1 M.

J. Kesimpulan
1. Berdasarkan praktikum diketahui volume cadangan ekspirasi adalah 800cc
(sumber: 1200ml), volume tidal 1150cc (sumber: 500ml), kapasitas paruparu 2167cc (sumber: 4800ml), volume cadangan inspiratori 217cc
(sumber: 3100ml).
2. Berdasarkan praktikum diketahui frekuensi pernapasan setiap orang
berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, usia, dan kebiasaan
olah raga.

3. Berdasarkan praktikum diketahui bahwa ketika lelah, kadar CO2 dalam


udara ekspirasi lebih rendah daripada saat normal (sumber: kadar CO2
dalam udara ekspirasi lebih tinggi ketika lelah daripada saat normal).

K. Daftar Pustaka
Alvyanto. 2009. Sistem pernapasan manusia, [online]. http: //alvyanto.
blogspot.com/2010/01/sistem-pernafasan-manusia.html. Diakses pada
tanggal 12 Oktober 2014
Anonim. 2009. Frekuensi Pernafasan dan Faktor yang Berpengaruh. [online].
http://bas-life.blogspot.com/2009/10/faktor-yang-mempengaruhikecepatan.html' rel='canonical'/>. Diakses pada tanggal 12 Oktober
2014
Basoeki, Soedjono,dkk. 2000. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Manusia. Malang: IMSTEP JICA.
Basoeki, Soedjono,dkk. 2003. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Manusia. Malang: IMSTEP JICA.
Guyton, Arthur C & Hall, John E. 1997. Fisiologi Kedokteran, Terjemahan
Irawati Setiawan. Jakarta: EGC.
Mrwaldi. 2009. Sistem Respirasi Pada Manusia. [online]. http://doc/
23376022/Sistem-Pernafasan-Inspirasi-Dan-Ekspirasi. Diakses pada
tanggal 12 Oktober 2014
Soewolo. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soewolo. 2003. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soewolo. 2005. Fisiologi Manusia. Malang: UM Press
Suyono, Joko. 1995. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Jakarta : EGC.
Syaifudin. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC.

Tambayong, Jan. 2001. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta:


Rineka Cipta.