Anda di halaman 1dari 3

Proses perkembangan embrio ayam dimulai setelah terjadi fertilisasi yang membentuk zigot.

Perkembangan awal adalah terjadinya pembelahan segmentasi (cleavage), kemudian morulasi, blastulasi,
gastrulasi, neurulasi, dan organogenesis. Fase gastrula terbentuk tiga lapisan dasar embrio yang menentukan
perkembangan embrio selanjutnya, yaitu endoderm, mesoderm dan ektoderm (Huettner, 1961).
Periode pertumbuhan awal sejak zigot mengalami pembelahan berulang kali sama saat embrio
memiliki bentuk primitif ialah bentuk dan susunan tubuh embrio yang masih sederhana dan kasar. Bentuk dan
susunan tubuh embrio itu umum terdapat pada jenis hewan vertebrata. Periode ini terdiri atas empat tingkat yaitu
tingkat pembelahan, tingkat blastula, tingkat gastrula, dan tingkat tubulasi (Yatim,1982).
Menurut Patten (1958), faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio ayam adalah suhu,
keberhasilan gastrulasi dan kondisi lingkungan. Semakin tinggi suhu maka semakin cepat proses perkembangan
embrio ayam berlangsung. Namun, perkembangan embrio ayam juga memiliki suhu optimal inkubasi. Apabila
suhu telalu tinggi maka akan merusak embrio tersebut. Keberhasilan perkembangan embrio selanjutnya karena
gastrulasi merupakan proses yang paling menentukan dalam perkembangan embrio. Kondisi lingkungan yang
buruk mengganggu perkembangan embrio ayam.
Embrio di dalam telur, mengembangkan mekanisme khusus untuk memobilisasi vitamin dan mineral
yang sebelumnya disimpan dengan cara transport protein. Kekurangan sedikit dapat secara signifikan
mempengaruhi beberapa ayam dalam kawanan, tetapi tidak yang lain, menyebabkan angka kematian embrio
lebih tinggi pada akhir inkubasi. Tingkat kematian tinggi terjadi pada minggu kedua inkubasi embrio ayam
menunjukkan kekurangan nutrisi pada ayam, sebagai tingkat kematian normal dalam periode ini sangat rendah.
Kelebihan serta kekurangan dapat mempengaruhi perkembangan embrio dan dapat mengganggu produksi telur
ayam. Kekurangan nutrisi atau kelebihan memberi efek terhadap perkembangan embrio (SL Vieira, 2007).
Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 108 hari sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat tersebut maka akan
terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan
karotenoid pada pakan yang dibelah oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus germinalis.
Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek
sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah ini, ovarium
mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi ke
dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, 6antara lain theca layer yang merupakan lapisan terluar yang
bersifat permeabel sehingga memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya.

Lapisan kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring komponen cairan plasma
yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang berupa material
protein bersifat fibrous (berongga) (Anonymous, 2010).Dalam membran plasma, oocyte (calon folikel)
berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga terbentuklah material penyusun
kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein
(HDL) dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk kompleks fosfoprotein,
fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang
disintesis di dalam hati sebagai respon
terhadap estradiol. Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam bentuk kompleks lipida kalsium
dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte, akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan
vitelogenin ini dinamakan vitelogenesis (Anonymous2010).
Dalam perkembangannya, embrio dibantu kantung oleh kuning telur, amnion, dan alantois. Kantung kuning
yang telur dindingnya dapat menghasilkan enzim. Enzim ini mengubah isi kuning telur sehingga mudah diserap
embrio. Amnion berfungsi sebagai bantal, sedangkan alantois berfungsi pembawa sebagai ke oksigen embrio,
menyerap zat asam dari embrio, mengambil yang sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan
menyimpannya dalam alantois, serta membantu alantois, serta membantu mencerna albumen (Aspan, 2009).
Telah diteliti bahwa dengan menambahkan zat lain Endoxan-Asta pada pertumbuhan ayam umur 4 dan 5 hari
inkubasi dengan menginjeksikannya kedalam kantong yolk maka malformasi yang dapat dapat ditimbulkan
adalah : gelombang meliputi mata, kelopak mata yang tidak tumbuh sempurna, mata yang tidak tumbuh sama
sekali, paruh dengan sisi lateral yang bercelah, paruh atas atau bawah yang pendek, paruh menyilang,
micromelia, syndactyl, ectodactyl, ectopia viscerum, exenchephali dan clut palate. (Sri Sudarwati, 1975)
Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur
diklasifikasikan menjadi dua kategori:7
1. Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesiskan di hati hampir 60%
dari total kuning telur.
2. Phosvitin dan lipoprotein yang terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low density lipoprotein (LDL)
yang disebut pula dengan granuler dan keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari
disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil sintesis bersamasama dengan ion kalsium, besi dan zinc membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke
dalam kuning telur