Anda di halaman 1dari 25

JURNAL PRAKTIKUM SEMISOLID

FORMULASI KRIM HIDROKORTISON

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Mahasiswa

dapat

merancang

formula

sediaan

semisolid

krim

hidrokortison asetat

Mahasiswa mampu memformulasi dan mengevaluasi sediaan krim


hidrokortison asetat

II.

DASAR TEORI
Menurut FI III, krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental
mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe
krim ada dua yaitu krim tipe air minyak (A/M) dan krim minyak air (M/A).
Menurut FI IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung
satu atau lebih bahan obat yang terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai. Krim mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air
dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang batasan tersebut lebih diarahkan
untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal
asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci
dengan air.Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi. Umumnya berupa
surfaktan-surfaktan anionik, kationik, dan nonionik (Anief, 2000).
Prinsip pembuatan krim adalah berdasarkan proses penyabunan (safonifikasi)
dari suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa dan dikerjakan dalam suasana
panas yaitu temperatur 700- 800C. (Dirjen POM,1995).
Ada beberapa tipe krim seperti emulsi, air terdispersi dalam minyak (A/M)
dan emulsi minyak terdispersi dalam air (M/A). sebagai pengemulsi dapat
digunakan surfaktan anionik, kationik dan non anionik. Untuk krim tipe A/M
digunakan : sabun monovalen, tween, natrium laurylsulfat, emulgidum dan lainlain. Krim tipe M/A mudah dicuci. (Anief,1994).
Dalam pembuatan krim diperlukan suatu bahan dasar. Bahan dasar yang
digunakan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Kualitas dasar krim yang
diharapkan adalah sebagai berikut :

a. Stabil
b. Lunak
c. Mudah dipakai
d. Dasar krim yang cocok
e. Terdistribusi merata
Fungsi krim adalah:
a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit
b. Sebagai bahan pelumas bagi kulit
c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak langsung dengan zat-zat
berbahaya. (anief,1999)

Obat kulit yang umum digunakan mengandung obat-obat golongan


antibiotika, kortikosteroid, antiseptik lokal, antifungi dan lain-lain. Obat kulit
topikal mengandung obat yang bekerja secara lokal. Tapi pada beberapa keadaan,
dapat juga bekerja pada lapisan kulit yang lebih dalam, misalnya pada pengobatan
penyakit kulit kronik dengan obat kulit topikal yang mengandung kortikosteroid.
Hidrokortison adalah golongan kortikosteroid yang mempunyai efek
farmakologi sebagai anti-inflamasi, anti-pruritis dan aksi vasokonstriksi

Mekanisme kerja kortikosteroid sebagai antiinflamasi adalah kortikosteroid


mempengaruhi berbagai sel imunokompeten seperti sel T, makrofag, sel
dendritik, eosinofil,neutrofil, dan sel mast, yaitu dengan menghambat
respons inflamasi dan menyebabkan apoptosis berbagai sel tersebut. Kerja
kortikosteroid menekan reaksi inflamasi pada tingkat molekuler terjadi
melalui mekanisme genomik dan nongenomik. Antiinflamasi kortikosteroid
topikal dimediasi oleh penghambatan rilis fosfolipase A2, yang merupakan
enzim produksi prostaglandin, leukotrien, dan turunan asam arakhidonat.
Obat ini juga bekerja dengan menghambat transkripsi gen yang
mengaktifasi proinflamasi. Hal tersebut yang menjadikan kortikosteroid
menghambat fagositosis dan menstabilkan membran liposomal dari sel
fagosit yang berkontibusi pada efek antiinfalmasi.

Mekanisme sebagai efek imunosupresif dari kortikosteroid topikal adalah


dengan dimediasi dengan menurunkan produksi dan aksi hormon yang
terlibat pada respon inflamasi, menghambat migrasi leukosit ke daerah

inflamasi, dan mengganggu fungsi granulosit, sel endotel, sel mast dan
fibroblast.

Sedangkan mekanisme kortikosteroid topikal sebagai antiproliferatif adalah


dimediasi untuk mengganggu sintesis DNA dan mitosis. Menghambat juga
aktivitas fibroblast dan pembentukan kolagen.

Efek

vasokontriksi

pada

kortikosteroid

topikal

dimediasi

dengan

menghambat vasodilator alami termasuk antihistamin, bradikinin dan


prostaglandin. (Chabassol, A & Green Peter. 2012)

DAPUS : (Allison Chabassol and Peter green , MD, FRCPC. Topical Corticosteroid
Therapy:WhatYou Need to Know . The Canadian Journal of Diagnosis / February 2012

Secara umum, kortikosteroid topikal akan memberikan efek samping baik


lokal maupun sistemik. Efek samping sistemik terjadi setelah penyerapan steroid.
Kortikosteroid efektif karena berpenetrasi ke dalam kulit. Anak-anak memiliki
permukaan kulit yang relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa dan efek
samping sistemik lebih mungkin terjadi. Setelah penyerapan secara sistemik,
kortikosteroid mengganggu sintesis kortikosteroid dalam kelenjar adrenal.
Sehingga, produksi endogen akan dihambat dan terjadi kekurangan cadangan
kortikosteroid. Hal ini menyebabkan penurunan respon stres fisik. Ketika
penyerapan kortikosteroid berlangsung selama waktu yang lama, dan terutama
ketika steroid kuat digunakan, aktivitas kortikosteroid dalam tubuh mungkin terlalu
tinggi. Hal ini menyebabkan efek metabolik, yaitu Sindrom Cushing secara luas
dikenal. Pada anak-anak akan terjadi keterbelakangan pertumbuhan akibat
penggunaan yang berkepanjangan kortikosteroid.
Farmakokinetika

kortikosteroid

adalah

tingkat

penyerapan

perkutan

kortikosteroid topikal ditentukan oleh beberapa faktor yaitu pembawa/basis ,


integritas penghalang epidermis , dan penggunaan dressing oklusif .Kortikosteroid
topikal dapat diserap dari kulit utuh normal. Peradangan dan / atau lainnya proses
penyakit di kulit meningkatkan penyerapan perkutan .Dressing oklusif secara
substansial meningkatkan penyerapan perkutan kortikosteroid topikal .Dengan
demikian , dressing oklusif dapat menjadi tambahan yang berharga untuk terapi
pengobatan dermatosis resisten. Setelah diserap melalui kulit , kortikosteroid

topikal ditangani melalui farmakokinetik jalur yang sama dengan kortikosteroid


sistemik diberikan . Kortikosteroid adalah terikat protein plasma dalam derajat
yang bervariasi . Kortikosteroid dimetabolisme terutama di hati dan kemudian
diekskresikan oleh ginjal . Beberapa kortikosteroid topikal dan metabolitnya
juga diekskresikan ke dalam empedu .

Mekanisme masuknya obat ke kulit??????????/

III.

EVALUASI PRODUK REFEREN

Nama Produk
Armacort

Kandungan

Indikasi

- Hidrokortison asetat 2,5 %

Nyeri inflamasi dari

- Kloramfenikol 2%

dermatosis yang responsif

Kontra Indikasi
-

Dosis
Oleskan 3-4x sehari
menutupi bagian yang sakit

terhadap kortikosteroid
Bufacort-N

- Hidrokortison asetat 1%

- Dermatitis yang terinfeksi

-penderita TBC

Oleskan 2-3x sehari

- Neomisin sulfat 0,5 %

- Infetigo furunkulosis

- herpes simpleks

menutupi bagian yang sakit

- Akne

- vericella
- vaccine

Calacort

- Hidrokortioson 2,5 %

- Pengobatan topikal berbagai


kelainan kulit akut, sub akut,

- Infeksi virus

Oleskan 2-3x sehari

- Lesi kulit karena

menutupi bagian yang sakit

kronik

tuberkulosis

(10 gram)

- Infeksi jamur
Camviocorthon
Cendo

- Kliokinol 1 %

- Peradangan kulit

- Hidrokortison asetat 1 %

- Alergi

menutupi bagian yang sakit

- Kamfer 1 %

- infeksi

(5 gram)

Oleskan 2-4x sehari

IV.

STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF


Rek.. tulis yang hidrokortison asetat aja

No.

Bahan Aktif

Efek Utama

Efek Samping

Karakteristik

Karakteristik Kimia

Sifat Lain

Fisik
1.

Hydrocortisone

Anti alergi

hipersensitivitas

Pemerian

Antiradang

serbuk

Eksim

putih
hampir

: Rumus

molekul

hablur C21H30O5
atau BM : 362.5
putih,

tidak berbau

Kelarutan : sukar
larut dalam air
dan dalam eter,
agak sukar larut
dalam etanol dan
dalam

aseton,

sukar

larut

dalam kloroform

2.

Hydrocortisone Acetate

Anti alergi

hipersensitivitas

Pemerian

Antiradang

serbuk

Eksim

putih

: Rumus
hablur C23H32O6

atau BM : 404,5

hampir
tidak

molekul

putih,
berbau,

rasa

tawar

kemudian pahit

: Hidrokortison
asetat
merupakan
bahan dengan
karakteristik
fisik

yang

tidak

bersifat

higroskopis,
Kelarutan
praktis

volatil, mudah

tidak

melebur , dan

larut dalam air,


sukar

kristal.

larut

dalam etanol dan

Hidrokortison

dalam

asetat

kloroform.

bentuk kering

dalam

(bahan

baku)

mempunyai
shelf
(waktu
terjadinya
degradasi

life

10%obat
menjadi tidak
stabil)

adalah

selama 1tahun.

3.

Hydrocortisone Butyrate

Anti alergi

hipersensitivitas

Pemerian

: Rumus

molekul

Antiradang

serbuk

hablur, C25H36O6

Eksim

putih

hingga BM : 432,56 (FI 4)

praktis

putih,

praktis

tidak

berbau

Kelarutan
praktis

:
tidak

larut dalam air,


sukar

larut

dalam air, sukar


larut dalam eter,
larut

dalam

methanol, dalam
etanol dan dalam

aseton,

mudah

larut

dalam

kloroform

4.

Hydrocortisone Valerate

Anti alergi
Antiradang

hipersensitivitas

Rumus

molekul

C26H38O6

Eksim
BM =446.6 clarkes
analysis

Alasan pemilihan bahan aktif :


Bahan aktif yang digunakan adalah hidrokortison asetat
Karena :

Menurut Bakker,P.et.al.1990 hidrokortison asetat adalah steroid lemah yang masuk di


dalam daftar obat esensial WHO. Secara luas digunakan, mudah didapat dan tidak
mahal. Digunakan pada beberapa sediaan. Pada sediaan krim dan salep hidrokortison
asetat mempunyai stabilitas lebih baik dari pada lotion. Sehingga sediaan
hidrokortison bentuk krim dan salep banyak digunakan.

Menurut Bakker,P.et.al.1990 Hidrokortison asetat merupakan bahan dengan


karakteristik fisik yang tidak bersifat higroskopis, volatil, mudah melebur , dan
kristal.

Menurut Bakker,P.et.al.1990 hidrokortison asetat tidak terjadi reaksi rearragement


seperti yang terjadi pada betametason-17-valerat , karena hidrokortison asetat
merupakan 21-monoester. Sedangkan yang mengalami reaksi rearragement dan
aktivitasnya menurun adalah terjadi untuk semua 17-monoester dengan gugus
hidroksi bebas pada posisi 21.

Dalam produk referen banyak sediaan krim hidrokortison yang menggunakan bahan
aktif hidrokortison asetat

Hidrokortison dalam bentuk krim biasanya dikombinasi dengan asam seperti


hidrokortison dan asam asetat yang disebut hidrokortison asetat

Target Organ yg dituju

: subkutan

Tujuan terapi

: Lokal

Bentuk sediaan yang dipilih : krim o/w


Alasan

Sifat krim lebih nyaman dan cenderung disukai oleh masyarakat

Dengan basis o/w bahan aktif yang bersifat hidrofob mudah lepas

Di kebanyakan produk referen berupa krim

Sediaan krim direkomendasikan untuk mengobati lesi subkutan, lesi kronik

Dosis

Menurut martindale, Untuk topikal bisa dalam bentuk salep, lotion, dan cream.
Dengan konsentrasi 0,25 -2,5 %.

Menurut Martindale, 100 mg hidrokortison setara dengan :


Hidrokortison asetat 112 mg
Hidrokortison buteprate 135 mg
Hidrokortison butirat 119 mg
Hidrokortison cipionat 134 mg
Hidrokortison hidrogen suksinat 128 mg
Hidrokortison sodium fosfat 134 mg
Hidrokortison valerat 123 mg

Pada formula yang kami rancang, dosis yang digunakan sebesar 2,5 % hidrokortison
asetat, karena krim hidrokortison 2,5% memberikan kuantitas pelepasan zat aktif
yang lebih banyak dibandingkan dengan Krim Hidrokortison dengan kadar 1%.

Maka dalam jika sediaan krim sebesar 10 gram, maka :


Hidrokortison asetat =

x 10 gram = 0,25 gram = 250 mg

Digunakan 3 x sehari. Tidak boleh menggunakan 50 g krim dalam satu minggu, atau
atas anjuran dokter

FORMULA

BAHAN

Konsentrasi Penimbangan

Penimbangan

(10 gram)

FUNGSI

(200 g)

Hidrokortison asetat

2,5 %

0,25 gr

5 gr

Bahan aktif

Metilparaben/nipagin

0,25 %

0,025 gr

0,5 gr

Pengawet

Propilparaben/nipasol

0,15 %

0,015 gr

0,3 gr

Pengawet

Propilen glikol

0,2 %

0,2076 gr

4,152 gr

Pelarut
pengawet

Aqua rosae

q.s

q.s

q.s

Corigen
odoris

Asam stearat

15 %

1,5 gr

30 gr

Emulgator

Cera alba

2%

0,2 gr

4 gr

Fase minyak

Vaselin album

8%

0,8 gr

16 gr

Fase minyak

TEA

1,5%

0,15 gr

3 gr

Emulgator

Propilen glikol

8%

0,8 gr

16 gr

Fase air

6,0524 gr

121,048 gr

Fase Air

Aquadest

Ad 100

PERHITUNGAN BAHAN :

Dibuat krim sebesar 10 gram

Hidrokortison asetat =

Metil paraben =

x 10 g = 0,025 gram

Propil paraben =

x 10 g = 0,015 gram

Propilen glikol yang dibutuhkan untuk melarutakan metil paraben dan propil paraben

x 10 g = 0,25 gram

adalah 0,2 % = 0,2 ml


Didapatkan dari
kelarutan Metil paraben : propilen glikol = 1 : 5
maka

x = 0,125 ml

kelarutan Metil paraben : propilen glikol = 1 : 3,9

maka

x = 0,058 ml

Jadi, jumlah propilen glikol untuk melarutkan nipagin dan nipasol sebesar 0,125 ml +
0,058 ml = 0,1835 ml dibulatkan jadi 0,2 ml
Massa propilenglikol = x v = 1,038 gr/ml x 0,2 ml = 0,2076 gr

Aqua rosae = q.s

Asam stearat =

Cera alba =

Vaselin album =

TEA =

Propilen glikol =

Aquadest

x 10 = 1,5 gram

x 10 = 0,2 gram

x 10 = 0,8 gram

x 10 = 0,15 gram

x 10 = 0,8 gram

= 10 gr (0,25 gr+0,025 gr+ 0,015 gr+ 0,2076 gr+ 1,5 gr+ 0,2 gr+ 0,8 gr+ 0,15 gr+
0,8 gr) = 6,0524 gr

STUDI PREFORMULASI BAHAN-BAHAN EKSIPIEN

1. Metil paraben (nipagin) (HPE hal. 441)


C8H8O3

Fungsi :
Pengawet, antimikroba, efektif pada range pH yang luas, untuk sediaan topical 0,02
0,3 % . Aktivitas meningkat ketika digunakan dengan golongan paraben yang lainnya
Melawan mikroba pada pH 4-8
Mengalami inkompatibilitas dengan bentonit, tragacant, sorbitol
Pemerian : Kristal tak berwarna dan tidak berbau
Melting point : 125 -128 oC
Kelarutan :
Pelarut
Ethanol
Ethanol (95%)
Ethanol (50%)
Ether
Glycerin
Propylene glycol
Water

Perbandingan
1:2
1:3
1:6
1 : 10
1 :60
1:5
1 : 400
1 : 50 pada suhu 50 oC
1 : 30 pada suhu 80 oC

2. Propil paraben (nipasol) (HPE hal.596)


C10H12O3

Fungsi :
Pengawet, antimikroba, efektif pada range pH yang luas. Untuk sediaan topical 0,01
0,6 %, aktivitas meningkat ketika digunakan dengan golongan paraben yang lainnya
,melawan mikroba pada pH 4-8
Pemerian : Kristal putih, tidak berasa, tidak berbau
Boiling point 295oC
Kelarutan :
Solven
Aseton
Etanol (95 %)
Etanol (50 %)
Eter
Gliserin
Propilenglikol
Propilenglikol (50%)
Air

Kelarutan suhu 20 C
larut
1 : 1,1
1 : 5,6
Larut
1 : 250
1 : 3,9
1 : 110
1 : 4350 suhu 15 C
1 : 225 suhu 80 C

3. PROPILEN GLIKOL

Nama resmi

: PROPYLENGLYCOLUM

Nama sinonim

: propilenglikol

Rumus molekul

: C3H8O2

Berat molekul

: 76,10

Pemerian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak


manis, higroskopik

Kelarutan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)p, dan dengan


kloroform p, larut dalam 6 bagian eter p, tidak dapat campur
dengan eter minyak tanah p, dan dengan minyak lemak

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan :
Kegunaan
Humektan
Pengawet
Solvent / kosolvent

Sediaan
topical
Larutan, semisolid
Oral solutions
Topicals

konsentrasi
15 %
1530 %
1025 %
580 %

4. CERA ALBA (HPE hal. 779)


Pemerian
lilin putih , tidak berasa, berwarna putih , bau hampir sama dengan cera flava tapi
kurang intensif
Fungsi :
Meningkatkan konsistensi krim dan salep, menstabilkan emulsi w/o, untuk
menghaluskan tablet salut, dan mengatur titik lebur suppositoria. Digunakan untuk
film-coating tablet lepas lambat
Kelarutan :
larut di kloroform, eter,minyak, minyak menguap, dan karbon disulfida, sedikit larut
di etanol (95%), praktis tidak larut di air.
Suhu lebur : 61 65 C
Inkompatibilitas : inkompatibel dengan agen pengoksidasi
Stabilitas dan kondisi penyimpanan
pemanasan diatas 150 C akan terjadi esterifikasi, nilai asam turun, dan suhu lebur
turun. Stabil dalam wadah tertutup dan terlindung dari cahaya
Keamanan : digunakan untuk formulasi topikal dan oral, tidak toksik dan non-iritan,
dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas

5. Trietanolamin (TEA) (HPE. Hal 754)

C6H15NO3 149.19

Pemerian :
Jernih, tidak berwarna sampai kekuningan, berbau amonia.

Stabilitas dan kondisi penyimpanan :


TEA dapat berwarna coklat jika terpapar udara dan cahaya

Fungsi :
Emulsifying agent, agen basa. Konsentrasi untuk emulgator topikal sebesar 2 4
%v/v.

Karakteristik fisik :
pH

:10,5 (larutan 0,1)

Suhu didih

: 335 C

Suhu lebur

: 20 21 C

Kelembapan

:0,09 %

Kelarutan :
Pelarut

Kelarutan pada suhu 20 C

Aceton

Tidak larut

Benzen

1 : 24

Karbon tetraklorida

Tidak larut

Etil eter

1 : 63

Metanol

Tidak larut

Air

Tidak larut

6. ASAM STEARAT (HPE hal. 697)

Pemerian :

Keras, berwarna putih sampai kuning, mengkilap, bentuk kristal padat atau ada juga
dalam bentuk serbuk putih sampai kuning, sedikit berasa.

Fungsi :
Emulsifyng agent, solubilizing agent, lubrikan tablet dan kapsul

Kegunaan

Konsentrasi
(%)

Salep dan krim

1 20

Lubrikan tablet

1-3

Karakteristik Fisik :
Koefisien partisi (minyak : air) = 8 : 2
Nilai saponifikasi 200 220
Suhu lebur 69 70 C

Kelarutan :
Larut dalam benzen, karbon tetraklorida, kloroform, dan eter. Larut di etanol (95%),
heksan, dan propilen glikol, praktis tidak larut di air.

Stabilitas :
Stabil, antioksidan juga bisa ditambahkan. Simpan ditempat tertutup dan kering.

Inkompatibilitas :
Asam stearat inkompatibel dengan logam hidrogen dan basa, agen pereduksi dan agen
pengoksidasi.

7. VASELIN ALBUM (HPE Hal. 483)


Vaselin putih adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah padat,
diperoleh dari minyak bumi dan keseluruhan atau hampir keseluruhan dihilangkan
warnanya.

Pemerian

Putih atau kekuningan pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah
didinginkan pada suhu 0 C.

Kelarutan
Tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dingin atau panas dan dalam etanol
mutlak dingin, mudah larut dalam benzenea, dalam karbon disulfida, dalam
kloroform, larut dalam heksan, dan dalam sebagian besar minyak lemak dan minyak
atsiri.

8. AQUADEST (FI.Edisi III Hal.96)


Nama resmi

: AQUA DESTILLATA

Nama sinonim

: Air suling, Air murni

Rumus molekul

: H2O

Berat molekul

: 18,02

Pemerian

: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai

rasa
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan

: Zat tambahan

CARA PEMBUATAN

Asam stearat, cera alba,


vaselin album (fase
minyak)

2 TEA, Propilen Glikol dan


aquadest (Fase Air)

Diaduk, hingga terbentuk massa


krim. Tunggu sampai dingin

4
Masukkan hidrokortison asetat yang
telah digerus dimortir lain
Larutan nipasol dan
nipagin

Menambahkan
propilen glikol 0,2 ml

Menambahkan aqua
rosae q.s

Aduk, ad homogen

Masukkan dalam
beaker glass

Krim hidrokortison asetat

Masukkan wadah, beri etiket dan label


Menimbang nipasol
dan nipagin

CARA EVALUASI SEDIAAN


Uji Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna dan bau yang diamati secara
visual (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Spesifikasi krim yang
harus dipenuhi adalah memiliki konsistensi lembut, warna sediaan homogen, dan
baunya harum..
Uji Homogenitas

Menyiapkan sejumlah krim yang diamati

Mengoleskan krim pada kaca benda yang bersih dan kering sehingga
membentuk suatu lapisan yang tipis

Menutup dengan kaca preparat (cover glass)

Mengamati krim dibawah mikroskop

Krim dinyatakan homogen apabila pada pengamatan menggunakan


mikroskop, mempunyai tekstur yang tampak rata dan tidak menggumpa

(Voight, 1994).
Uji pH
Sejumlah sediaan diencerkan dengan aquadest sampai volume tertentu, diukur pH
dengan menggunakan indicator universal

1 gram sediaan diencerkan dalam 10 ml aquadest, aduk ad homogen

Diamkan agar mengendap

Ukur air dengan indicator universal

Catat pH

Penentuan viskositas

Uji ini menggunakan alat Viscotester VT-04

Kalibrasi viscometer

Pasang spindle ke dalam sampel

Jalankan viskotester

Baca angka yang tertera setelah konstan

Uji Daya Sebar

Menyiapkan sejumlah krim yang diamati

Meletakkan kaca transparan diatas kertas grafik

Menutup dengan kaca preparat (cover glass)

Mengamati krim dibawah mikroskop

Meletakkan 0,5 gram krim pada kaca

Menutup dengan kaca transparan dan dibiarkan selama selama 5 detik


untuk mendapatkan berapa diameter daerah yang terbentuk

Menambahkan beban diatas kaca transaparan tersebut beban 50, 100,


200, dan 500 gram

Mengamati diameter daerah yang terbenuk

Spesifikasi sediaan adalah krim dapat menyebar dengan mudah dan


merata.

Uji Daya Lekat

Meletakkan krim pada satu sisi kaca objek yang pada sisi bawahnya
telah dipasangkan tali untuk mengikat beban (50 gram)

Menempelkan pada kaca objek yang lain

Mengamati waktu yang dibutuhkan beban tersebut untuk memisahkan kedua


kaca tersebut.

Uji Stabilitas Suhu

Menyimpan krim pada suhu kamar 282C serta suhu tinggi 402C

Melakukan pengamatan secara organoleptis, homogenitas fisik serta


perubahan fisik selama penyimpanan

Melakukan pengamatan pada minggu ke-1, 2, dan 3

Spesifikasi sediaan adalah stabil dalam berbagai suhu tanpa ada


perubahan organoleptis, pH dan homogenitasnya