Anda di halaman 1dari 6

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Seminar : Ilmu Bedah


Tanggal : 28 Juli 2008

SPLENEKTOMI
Penyeminar : Beny Roberta, Skh
NIM
: 06-0210102-0060
Pembimbing : drh. H. Syafruddin, M.P

Pendahuluan
Limpa merupakan organ limpoid terbesar dalam tubuh yang berasal dari
diferensiasi jaringan mesenkim mesogastrium dorsal dan merupakan kelenjar tanpa
saluran (ducless) yang berhubungan erat dengan sistem sirkulasi. Limpa mengandung
25% limfosit T dan 10-15% limfosit B dari jumlah total populasi. Limpa dibungkus
oleh kapsul serosa dan kolagen yang menembus parenkim. Limpa dapat berfungsi
untuk memfagositosis sel darah merah yang sudah tua dan rusak, dan juga untuk
partikel benda asing, mikroba, antigen, dan sisa sel. Organ ini dianggap merupakan
salah satu pusat kegiatan pada sistem retikuloendotelium (Anonimus. 2008). Limpa
yang terletak pada sisi kiri lambung ialah alat tubuh yang menyerupai bunga karang
yang fungsi utamanya ialah menyimpan darah yang tidak ikut dalam peredaran darah
(Ressang. 1984).
Splenektomi adalah sebuah metode operasi pengangkatan limpa, yang mana
organ ini merupakan bagian dari sistem getah bening. Splenektomi pertama kali
sebagai terapi dilakukan pada tahun 1978 oleh Nicholas Matthias. Pada tahun 1928,
William Mayo, telah melakukan 500 tindakan splenektomi dengan tingkat mortalitas 10
% (Taslim, 2007). Pada tahun 1953, King dan Schumacher memperlihatkan peningkatan
kejadian infeksi dan kematian akibat sepsis pada anak yang telah dilakukan spelenektomi.
Selain itu tindakan pengambilan limpa (splenektomi) tentunya akan
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Karena salah satu organ yang berperan dalam
sistem kekebalan tubuh yaitu limpa. Menurut Suwanti (1999), tikus yang limpanya
diambil sampai 50% akan mengalami penurunan respon antibodi dan hal ini
merupakan penyebab kerentanan terhadap suatu infeksi. Dan hal tersebut telah
dibuktikan terhadap infeksi bakteri, di mana splenektomi berhubungan dengan
bertambahnya risiko terjadinya septikemia bakteri.
Akhirnya, pada pertengahan abad 20 dan berdasarkan banyaknya pengalaman
akibat dari infeksi postsplenektomi, operasi pada pasien yang mengalami trauma limpa
biasanya dilakukan dengan memperhatikan umur pasien, pengalaman institusi, dan
pengalaman dokter bedah itu sendiri (Morris, 2000).

Indikasi Splenektomi
Mengingat fungsi filtrasi limpa, indikasi splenektomi harus dipertimbangkan
dengan benar. Selain itu, splenektomi merupakan tindakan operasi yang tidak boleh
dianggap ringan. Splenektomi dilakukan apabila terdapat kerusakan limpa yang tidak
bisa diatasi dengan splenorafi, splenektomi parsial, atau pembungkusan.
Indikasi lain dari splenektomi adalah sebagai terapi primer, mengurangi
pembesaran limpa, mengurangi gejala splenomegali, mendiagnosa patologi limpa,
kontrol pendarahan limpa, torsio limpa, tumor, abses limpa, tallasemia. Apabila limpa
seekor hewan diangkat, maka ini tidak akan mengakibatkan gangguan pada hewan
tersebut. Kelenjar limfe dan sumsum tulang belakang akan menggantikan fungsi dari
limpa sehingga hewan tersebut masih bisa bertahan hidup (Ressang, 1984).
Pasien
Hewan yang digunakan adalah anjing lokal (Canis domesticus), bernama Bejo,
umur 3,5 bulan, jenis kelamin jantan, berat badan 6 kg, berwarna putih, yang berasal
dari Darussalam Banda Aceh. Sebelum dilakukan operasi pasien telah diperiksa
keadaan fisiknya secara umum, pasien dipuasakan selama 12 jam sebelum dilakukan
operasi.
Pelaksanaan operasi splenektomi ini direncanakan dilakukan di ruang bedah
klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pembedahan adalah: meja operasi, spuit, scalpel,
pinset anatomis dan sirurgis, arteri klem, needle holder, allis forceps, gunting, duc
clamp, doyen clamp, drapping, tampon dan sarung tangan.
Bahan yang digunakan adalah: benang nilon, chromic cat gut, cotton, alkohol
70%, yodium tincture 3%, atropine, ketamin, xylazin, penicillin oil serta vitamin BComplex.
Persiapan Operasi
Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat dengan dosis 0,04 mg/kg
BB secara sub cutan, 10 menit kemudian dilanjutkan dengan pemberian telazol
dengan dosis 14-16 mg/kg BB secara intra muskular. Setelah pemberian anestesi,
frekuensi nafas dan jantung diperiksa setiap 10 menit sekali sampai pembedahan
selesai (Tilley dan Smith,2000).

Teknik Operasi
Pasien yang telah dianastesi diletakkan di atas meja operasi dengan posisi
dorsal recumbency, daerah yang akan dincisi terlebih dahulu didesinfeksi dengan
Alkohol 70% dan Iodium Tincture 3%. Pasang drapping pada daerah operasi. Incisi
pertama dilakukan pada permukaan kulit di daerah linea alba sepanjang 4-6 cm,
secara berturut-turut, disayat dan dipreparir kulit, fascia subcutanea, musculus dan
peritonium.
Setelah rongga perut terbuka, cari limpa pada bagian kiri lambung dan
dikeluarkan dari rongga abdomen, lalu diletakkan di atas drapping. Pembuluhpembuluh yang menuju ke bagian limpa yang akan dipotong diligasi dan di potong,
pada bidang yang akan dipotong, capsulanya ditekan-tekan menggunakan telunjuk
dan ibu jari, dan Doyen clamp dipasang melintang pada daerah yang ditekan tadi lalu
pasang dua lagi Doyen clamp disamping Doyen clamp yang telah dipasang tersebut.
Doyen clamp yang ditengah kemudian dilepaskan. Pada daerah tersebut secara
perlahan ratakan pulpa, limfa tersebut diantara dua clamp yang terpasang. Lalu
lakukan pemotongan limfa disepajang ujung distal clamp, lalu jahit capsulanya
dengan menggunakan catgut chromic dengan metode simple continous. Clamp yang
masih terpasang kemudian dilepas sedikitnya atau beberapa pendarahan akan terjadi,
pendarahan kecil dikontrol dengan melakukan tekanan dengan mengunakan tampon
(Archibald,1974).
Setelah selesai, reposisi kembali limpa ke tempatnya semula. Kemudian
lakukan penjahitan peritonium menggunakan benang nilon dengan pola jahitan simple
interupted, muculus dan facia menggunakan chromic catgut dengan pola jahitan
simple continous, sedangkan kulit dijahit dengan benang cotton menggunakan pola
simple interupted (Hickman dan Walker, 1980). Setelah operasi selesai daerah incisi
diberi Yodium Tincture 3% dan ke dalam luka diinjeksikan Penisilin Oil 1-2 cc.
PERAWATAN PASCA OPERASI
Pasien ditempat pada kandang yang bersih dan kering, diberikan makanan
yang bergizi dan mudah dicerna. Pemberian obat-obat suportif seperti vitamin BComplex dan antibiotik dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Apabila berjalan
baik maka setelah tiga hari, luka operasi mulai sembuh dan pulih normal kembali.
Jahitan luka dapat dibuka setelah luka kering dan benar-benar telah tertutup, pasien
tersebut harus dikontrol baik perawatan kesehatan maupun makanannya sampai
pasien benar-benar sembuh.
Perawatan Pasca Operasi
Pasien yang telah dioperasi ditempatkan dalam kandang yang bersih san
kering. Luka operasi tersebut dijaga/dikontrol kebersihan dan kesembuhannya
diperiksa secara kontinyu selama 3-5 hari dengan memberikan Antibiotik. Pemberian
obat-obat supportif seperti Vit B kompleks dapat dilakukan selama 3 hari berturutturut. Jahitan luka dapat dibuka setelah luka kering dan benar-benar telah tertutup,
pasien tersebut harus dikontrol baik perawatan kesehatan maupun makanannya
sampai pasien benar-benar sembuh.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Anonimus. (2008). Limpa. http://id.wikipedia.org/wiki/Limpa.
Anonymous. (2008). Splenectomy. http://wikipwedia.org/wiki/splenectomy-36K.
Archibald, J. (1974). Canine Surgery, Second Archibald Edition. American Veterinary
Publications, INC. Drawer kk, Santa Barbara, California.
Hickmann, J dan R. G. Walker. (1980). An Atlas Veterinary Surgery. Second Edition.
Johnwright & Son. Ltd, Philadelpia.
Morris, Peter J. (2000). Oxford Textbook of Surgery 2nd Edition. Oxford Press
Ressang, A. A. (1984). Patologi Khusus Veteriner, Edisi ke 2, IPB Bogor.
Suwanti, Lucia Tri. (1999). Pengaruh Splenektomi Trhadap Infeksi Toxoplasma
Gondii Pada Mencit. Faculty of Veterinary Airlangga University.
Taslim,

A.
(2007).
Splenektomi
dan
http://aslimtaslim.blogspot.com/2007/11/splenektomi-dankomplikasinya.html.

Komplikasinya.

Tilley, L.P and F.W.K Smith (2000). The 5 Minute Veterinary Consult Canine and
Feline. Second Edition, Lippincott Williams & Wilking.USA.

PROTOKOL BEDAH
Nama Pemilik : Beny Roberta
Jenis Hewan : Anjing
Nama Hewan : Bejo
Jenis Kelamin : Jantan
Umur
: 3,5 Bulan
SKH
Berat Badan : 6 Kg

Jenis Operasi
Operator
Co-Operator
Anastesiolog
Cardiolog

: Splenektomi
: Beny Roberta, SKH
: Cut Dwi Yulia, SKH
: Khairunas, SKH
: Siti Hajjarul Aswad,

Pembantu Umum: Ria Agustina, SKH


Eka Sutria, SKH
Elya Sari, SKH

I. PREMEDIKASI
Pemberian Atropin Sulfat dosis 0.04 mg/kg BB (SC), sediaan obat : 0,25 mg. Dosis
yang digunakan 0,96 ml.
II. ANASTESI
Jenis Anastesi Sediaan/konsentrasi
Telazol

10 %

III. TEKNIK OPERASI


No
Perlakuan
1
2
3
4
5
6

7
8
9

Dosis (IM)
14-16mg/kg BB

Dosis yg digunakan
(Dosis Minimum)
0,84 ml/6 kg BB

Bahan / Alat yang digunakan

Pencukuran bulu pada daerah yang akan Silet/Scalpel


dioperasi
Desinfektan daerah yang akan dioperasi
Alkohol 70%, Iodium tincture
3%
Pemasangan Drapping
Kain Drapping
Linea alba diincisi sepanjang 4-6 cm
Scalpel
Jepit Linea alba pada bagian kiri dan Allis forceps
kanan agar tetap terbuka
Preparir mulai dari kulit, fascia, musculus Gunting lurus tumpul
sampai peritonium, jari telunjuk dan jari
tengah digunakan sebagai pemandu agar
tidak menggunting organ viscera
Keluarkan limpa dan ligasi pembuluh Benang Cotton
darah yang mengalir ke limpa
Injeksi Adrenalin
Adrenalin dan spuit 3 ml
Tekan-tekan bidang limpa yang akan Doyens clamp
dipotong lalu pasang Doyens clamp
secara melintang kemudian pasang dua
Doyens clamp lagi disamping Doyens
clamp pertama.
Doyens clamp yang di tengah kemudian
dilepaskan dan ratakan daerah tersebut.

10
11
12
13
14

Potong bagian limpa yang akan di buang


Jahit bidang limpa yang telah dipotong
dan lepaskan clamp yang masih terpasang
Limpa dimasukkan kembali ke rongga
abdomen, lalu peritonium, musculus serta
fascia dijahit.
Kulit dijahit
Bekas incisi yang telah dijahit
dibersihkan, desinfeksi serta hewan
disuntikkan antibiotik dan obat suportif

Scalpel/gunting
Cat gut Chromic
Nilon, Cat gut Chromic
Benang Cotton
Iodium tincture 3%, Penisilin
dan Vitamin B Kompleks

IV. PERAWATAN PASCA BEDAH


1. Pasien ditempatkan dalam kandang yang bersih dan dijaga agar bekas luka
operasi tidak digigit atau digaruk oleh hewan, hal ini dapat dicegah dengan
menggunakan elizabet collar.
2. Pemberian antibiotik dan vitamin delakukan selama tiga hari berturut-turut
pagi dan sore.
3. Berikan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi.
4. Jahitan dapat dibuka setelah luka operasi kering dan pada bekas jahitan diolesi
dengan iodium tinture 3%.
R/
Amoxicillin
Dexamethason
Asam Mafenamat
B-komp

80 mg
0,3 mg
80 mg
0,5 tab

mf pulv dtd dain caps. No. XV


S 3 dd 1 caps
Bsp
R/
Bioplacenton
Sue

tube 10 ml
Bsp

Banda Aceh, 26 Juli 2008


Operator,

Beny Roberta, S.KH