Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TUGAS SGD

(KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN HEMODIALISA)

SGD 3

Ni Kadek Ayu Purnamayani

(0802105003)

Ni Luh Putri Suwandewi

(0802105013)

A.A Sagung Citra Kumala Dewi

(0802105018)

Ni Made Alit Nopiyanti

(0802105028)

Komang Tri Desi Lopita R.

(0802105032)

Ni Komang Ayu Ariati

(0802105035)

Putu Ita Purwanti Diansari

(0802105045)

A.A Gede Putra Sumadi

(0802105054)

Ni Komang Ayu Surya Dewi

(0802105059)

I Gusti Ngurah Juniartha

(0802105072)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

Tanggal

: Senin, 14 Maret 2011

Topik

: Asuahn keperawatan klien dengan hemodialisa

Fasilisator

: Ns. S.Kep

Ketua

: Komang Tri Desi Lopita R.

(0802105032)

Sekretaris

: Ni Komang Ayu Ariati

(0802105035)

TUGAS
Buatlah Asuhan keperawatan klien dengan Hemodialisa !

KONSEP DASAR HEMODIALISA

A. Pengertian
Hemodialisa berasal dari bahasa yunani, hemo berarti darah dan dialisis berarti
pemisahan atau filtrsi.
Dialisis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada gangguan fungsi ginjal
dengan membuang kelebihan cairan dan akumulasi toksin endogen atau eksogen. Dialisis
paling sering digunakan untuk pasien dengan penyakit ginjal akut atau kronis (tahap
akhir).(Doenges, 2000)
Menurut Price dan Wilson (1995) dialisa adalah suatu proses dimana solute dan air
mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari kompartemen cair
menuju kompartemen lainnya. Hemodialisa dan dialisa peritoneal merupakan dua tehnik
utama yang digunakan dalam dialisa. Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama yaitu
difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap perbedaan
konsentrasi atau tekanan tertentu.
Sedangkan menurut Tisher dan Wilcox (1997) hemodialisa didefinisikan sebagai
pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermeabel (dializer)
ke dalam dialisat. Dializer juga dapat dipergunakan untuk memindahkan sebagian besar
volume cairan. Pemindahan ini dilakukan melalui ultrafiltrasi dimana tekanan hidrostatik
menyebabkan aliran yang besar dari air plasma (dengan perbandingan sedikit larutan)
melalui membran. (Tisher & Wilcox, 1997).

Jadi secara klinis hemodialisa adalah suatu proses pemisahan zat-zat tertentu (toksila
uremiak) dari darah melalui membran semipermiabel di dalam ginjal buatan yang disebut
dialiser dan selanjutnya di buang melalui cairan dialises yang disebut dialisat. Proses
pemisahan (penyaringan) sisa-sisa metabolisme melalui selaput semipermeable dalam
dialisis mesin dialiser. Darah yang sudah bersih dipompa kembali ke dalam tubuh.
Hemodialisa merupakan salah satu bentuk terapi pengganti pada pasien dengan
kegagalan fungsi ginjal, baik yang sifatnya akut maupun kronik atau pada stadium gagal
ginjal, terminal dengan bantuan mesin hemodialisa.

B. Epidemiologi/insiden kasus
Hemodialisa di indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai sekarang telah
dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Umumnya di gunakan untuk ginjal buatan
yang kompartemen darahnya adalah kapiler-kapiler selaput semipermeabel (hallow fiber
kidney).

C. Tujuan hemodialisa
Mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih
kembali. Metode terapi mencakup hemodialisis, hemofiltrasi dan peritoneal dialysis.
Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan
untuk mencegah kerusakan permanent atau menyebabkan kematian. Hemofiltrasi
digunakan untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan. Peritoneal dialysis mengeluarkan
cairan lebih lambat daripada bentuk-bentuk dialysis yang lain.
Selain itu Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara
lain :
a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.
b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya
dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

C. Indikasi
Price dan Wilson (1995) menerangkan pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika
kadar kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria , 4 mg/100 ml pada wanita dan
glomeluro filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh dibiarkan
terus menerus berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak
dilakukan lagi.
Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara ideal
semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang
dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit
walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi tersebut juga disebutkan
adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem paru,
hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.

Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya dimulai
ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding dengan kadar
kreatinin serum 810 mg/dL. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara
mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan hemodialisa. Selanjutnya
Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan bahwa indikasi relatif dari hemodialisa
adalah azotemia simtomatis berupa ensefalopati, dan toksin yang dapat didialisis.
Sedangkan indikasi khusus adalah perikarditis uremia, hiperkalemia, kelebihan cairan
yang tidak responsif dengan diuretik (oedem pulmonum), dan asidosis yang tidak dapat
diatasi.
Jadi dapat di simpulkan Pada umumnya indikasi dialisis pada GGK alah bila laju filtrasi
glomerulus (LFG sudah kurang dari 5mL/menit, yang di dalam praktek dianggap
demikian bila (TKK) < 5mL/menit. Keadaan pasien yang hanya mempunyai TKK <
5mL/menit tidak selalu sama, sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai bila dijumpai
salah satu hal berikut :
-

Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata

K serum > 6 mEq/L

Ureum darah > 200mg/dL

pH darah < 7,1

Anuria berkepanjangan (>5 hari)

Fluid overload

D. Kontraindikasi
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi
yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom otak
organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah
tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit,
instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi hemodialisa yang lain
diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi infark, sindrom hepatorenal,
sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI, 2003).

E. Prinsip Hemodialisa
Secara keseluruhan sistem hemodialisa terdiri dari 3 elemen dasar ,yaitu sistem sirkulasi
darah diluar tubuh (ekstrakorporeal), dialiser, dan sistem sirkulasi dialisat.

1. Sistem Sirkulasi Darah Ekstrakorporeal


Selama hemodialisa darah pasien mengalir dari tubuh kedalam dialiser melalui akses
arteri, kemudian kembali ke tubuh melalui selang vena dan akses vena. Sistem
sirkulasi darah di luar tubuh ini disebut sistem sirkulasi darah extra corporal
2. Dialiser
Dialiser adalah suatu alat berupa tabung atau lempeng, terdiri dari kompartemen
darah dan kompartemen dialisat yang dibatasi oleh membran semipermieabel .Di
dalam dialiser ini terjadi proses pencucian darah melalui proses difusi dan
ultrafiltrasi,sehingga dihasilkan darah melalui yang sudah bersih dari zat-zat yang
tidak dikehendaki.
3. Sistem Sirkulasi Dialisat
Dialisat adalah cairan yang digunakan dalam proses dilisis. Dialisat dialirkan ke
dalam kompartemen pada dialiser dengan kecepatan tinggi. (1,5 x 500 ml/ mnt).

Prinsip mayor/pro ses hemodialisa


1) Akses Vaskuler :
Seluruh dialysis membutuhkan akses ke sirkulasi darah pasien. Kronik biasanya
memiliki akses permanent seperti fistula atau graf sementara. Akut memiliki
akses temporer seperti vascoth.
2) Membran semi permeable
Hal ini ditetapkan dengan dialyser actual dibutuhkan untuk mengadakan kontak
diantara darah dan dialisat sehingga dialysis dapat terjadi.
3) Proses Difusi
Proses difusi adalah proses pergerakan spontan dan pasif zat terlarut. Molekul
zat terlarut dari kompartemen darah akan berpindah kedalam kompartemen
dialisat setiap saat bila molekul zat terlarut dapat melewati membran
semipermiabel demikian juga sebaliknya.
4) Konveksi
Saat cairan dipindahkan selama hemodialisis, cairan yang dipindahkan akan
mengambil bersama dengan zat terlarut yang tercampur dalam cairan tersebut.
5) Proses Ultrafiltrasi
Proses ultrafiltrasi adalah proses pergeseran zat terlarut dan pelarut secara
simultan dari kompartemen darah kedalam kompartemen dialisat melalui

membran semipermiabel. Proses ultrafiltrasi ini terdiri dari ultrafiltrasi


hidrostatik dan osmotik.

Ultrafiltrasi hidrostatik
-

Transmembrane pressure (TMP)


TMP adalah perbedaan tekanan antara kompartemen darah dan
kompartemen dialisat melalui membran. Air dan zat terlarut didalamnya
berpindah dari darah ke dialisat melalui membran semipermiabel adalah
akibat perbedaan tekanan hidrostatik antara kompertemen darah dan
kompartemen dialisat. Kecepatan ultrafiltrasi tergantung pada perbedaan
tekanan yang melewati membran.

Koefisien ultrafiltrasi (KUf)


Besarnya permeabilitas membran dializer terhadap air bervariasi
tergantung besarnya pori dan ukuran membran. KUf adalah jumlah cairan
(ml/jam) yang berpindah melewati membran per mmHg perbedaan
tekanan (pressure gradient) atau perbedaan TMP yang melewati membran.

Ultrafiltrasi osmotik
Dimisalkan ada 2 larutan A dan B dipisahkan oleh membran
semipermiabel, bila larutan B mengandung lebih banyak jumlah partikel
dibanding A maka konsentrasi air dilarutan B lebih kecil dibanding
konsentrasi larutan A. Dengan demikian air akan berpindah dari A ke B
melalui membran dan sekaligus akan membawa zat -zat terlarut didalamnya
yang berukuran kecil dan permiabel terhadap membran, akhirnya konsentrasi
zat terlarut pada kedua bagian menjadi sama.

F. Peralatan Hemodialisa
Peralatan untuk terapi HD terdiri dari dializer, water treatment, larutan dialisat
(konsentrat) serta mesin HD dengan sistem monitor.
1. Dializer /ginjal buatan (artificial kidney)
Dializer adalah tempat dimana proses HD berlangsung sehingga terjadi pertukaran
zat-zat dan cairan dalam darah dan dialisat. Proses dialisis terjadi terdiri dari 2
ruang /kompartemen,yaitu:

Kompartemen darah yaitu ruangan yang berisi darah.


Kompartemen dialisat yaitu ruangan yang berisi dialisat.
Kedua kompartemen dipisahkan oleh membran semipermiabel.
Dialiser mempunyai 4 lubang yaitu dua ujung untuk keluar masuk darah dan dua
samping untuk keluar masuk dialisat.
Material membran dializer dapat terbuat dari Sellulose, Sellulose yang disubstitusi,
Cellulosynthetic,

Synthetic.

Spesifikasi

dializer

yang dinyatakan

dengan

Koeffisient ultrafiltrasi (Kuf) disebut juga dengan permiabilitas air. Besarnya


permeabilitas membran dializer terhadap air bervariasi tergantung besarnya pori
dan ukuran membran. KUf adalah jumlah cairan (ml/jam) yang berpindah melewati
membran per mmHg perbedaan tekanan (pressure gradient) atau perbedaan TMP
yang melewati membran. Dializer ada yang memiliki high efficiency atau high
flux. Dializer high efificiency adalah dializer yang mempunyai luas permukaan
membran yang besar. Dializer high flux adalah dializer yang mempunyai pori-pori
besar yang dapat melewatkan. Molekul yang lebih besar, dan mempunyai
permiabilitas terhadap air yang tinggi. Ada 3 tipe dializer yang siap pakai, steril
dan bersifat disposibel yaitu bentuk hollow-fiber (capillary) dializer, parallel flat
dializer dan coil dializer. Setiap dializer mempunyai karakteristik tersendiri untuk
menjamin efektifitas proses eliminasi dan menjaga keselamatan penderita. Yang
banyak beredar dipasaran adalah bentuk hollowfiber dengan membran selulosa.

2. Water treatment
Air yang dipergunakan untuk persiapan larutan dialisat haruslah air yang telah
mengalami pengolahan. Air keran tidak boleh digunakan langsung untuk persiapan
larutan dialisat, karena masih banyak mengandung zat organik dan mineral. Air
keran ini akan diolah oleh water treatment sistim bertahap.Jumlah air yang
dibutuhkan untuk satu session hemodilaisis seorang pasien adalah sekitar 120 Liter.

3. Larutan Dialisat
Dialisat adalah larutan yang mengandung elektrolit dalam komposisi tertentu.
Dipasaran beredar dua macam dialisat yaitu dialisat asetat dan dialisat bikarbonate.

Dialisat Asetat
Dialisat asetat telah dipakai secara luas sebagai dialisat standard untuk
mengoreksi asidosis uremikum dan untuk mengimbangi kehilangan bikarbonat

secara difusi selama HD. Dialisat asetat tersedia dalam bentuk konsentrat yang
cair dan relatif stabil. Dibandingkan dengan dialisat bikarbonat, maka dialisat
asetat harganya lebih murah tetapi efek sampingnya lebih banyak. Efek
samping yang sering seperti mual, muntah, kepala sakit, otot kejang, hipotensi,
gangguan hemodinamik, hipoksemia, koreksi asidosis menjadi terganggu,
intoleransi glukosa, meningkatkan pelepasan sitokin. Adapun komposisi
dialisat asetat dan bikarbonat adalah sebagai berikut:

Dialisat Bikarbonat
Dialisat bikarbonat terdiri dari 2 komponen konsentrat yaitu larutan asam dan
larutan bikarbonat. Kalsium dan magnesium tidak termasuk dalam konsentrat
bikarbonat oleh karena konsentrasi yang tinggi dari kalsium, magnesium dan
bikarbonat dapat membentuk kalsium dan magnesium karbonat. Larutan
bikarbonat sangat mudah terkontaminasi mikroba karena konsentratnya
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Kontaminasi ini dapat
diminimalisir dengan

waktu

penyimpanan

yang singkat.

Konsentrasi

bikarbonat yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan alkalosis


metabolik yang akut. Namun dialisat bikarbonat bersifat lebih fisiologis
walaupun relatif tidak stabil. Biaya untuk sekali HD bila menggunakan dialisat
bikarbonat relatif lebih mahal dibanding dengan dialisat asetat.

Komponen-komponen Estndar Dialisat Asetat dan Bikarbonat


Componen

Dialisat asetat

Dialisat Bikarbonat

(MEq/liter)

(MEq/liter)

Natrium

135 - 145

135 -145

Kalium

0 4,6

0 4,6

Kalsium

2,5 3,5

2,5 3,5

Magnesium

0,5 -1,0

0,5 1,0

Florida

100-114

100 124

Asetat

35 - 38

2 -4

Bikarbonat

30 36

Dextrosa

11

11

PCO3

0,5

80 100

PH

Bervariasi

7,1-7,3

4. Mesin hemodialisis
Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi
mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran darah
melewati suatu membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk
dialisat dan sirkuit darah korporeal. (Tisher & Wilcox, 1997).
Mesin HD terdiri dari pompa darah, sistem pengaturan larutan dialisat dan sistem
monitor. Pompa darah berfungsi untuk mengalirkan darah dari tempat tusukan
vaskuler kepada dializer. Kecepatan dapat diatur biasanya antara 200-300 ml per,33
- 8,33 menit. Untuk pengendalian ultrafiltrasi diperlukan tekanan negatif. Lokasi
pompa darah biasanya terletak antara monitor tekanan arteri dan monitor larutan
dialisat. Larutan dialisat harus dipanaskan antara 34-390 C sebelum dialirkan
kepada dializer. Suhu larutan dialisat yang terlalu rendah ataupun melebihi suhu
tubuh dapat menimbulkan komplikasi. Sistem monitoring setiap mesin HD sangat
penting untuk menjamin efektifitas proses dialisis dan keselamatan penderita.

5. Tusukan Vaskuler
Tusukan vaskuler (blood access) merupakan salah satu aspek teknik untuk program
HD akut maupun kronik. Tusukan vaskuler merupakan tempat keluarnya darah dari
tubuh penderita menuju dializer dan selanjutnya kembali lagi ketubuh penderita.
Untuk melakukan dialisis intermiten jangka panjang, maka perlu ada jalan masuk ke
sistem vaskular penderita yang dapat di andalkan. Darah harus dapat keluar dan
masuk tubuh penderita dengan kecepatan 200-400 ml/menit. Teknik-teknik akses
vaskuler utama untuk hemodialisis dibedakan menjadi akses eksternal dan akses
internal (Price, 1995).
a) Akses Internal (Permanen)

Arterio-Venous Fistula (AVF).


AVF di buat dengan teknik bedah melalui anastomosis langsung dari suatu
arteri dengan vena (biasanya arteri radialis dan vena sefalika pergelangan
tangan) pada tangan yang non dominant. Darah pirau dari arteri ke vana
membesar setelah beberapa minggu. Pungsi vena dengan jarum yang besar akan
lebih mudah di lakukan dan mencapai aliran darah pada tekanan arterial.
Hubungan ke sistem dialisis di buat dengann menempatkan satu jarum di distal

(garis arteri) dan sebuah jarum lagi di proksimal (garis vena) pada vena yang
sudah di arterialisasi tersebut. Masalah yang paling utam adalah rasa nyeri pada
pungsi vena, terbentuknya aneurisma, trombosis, kesulitan hemostasis
postdialisis, dan iskemia pada tangan (steal syndrome) (Price, 1995).

Arterio-Venous Graft (AVG).


Di ciptakan dengan menempatkan ujung kanula dari teflon dalam arteri
(biasanya arteri radialis atau tibialis posterior) dan sebuah vena yang
berdekatan. Ujung-ujung kanula kemudian dihubungkan dengan selang karet
silikon dan suatu sambungan teflon yang melengkapi pirau. Pada waktu di
lakukan dialisis, maka selang pirau eksternal di pisahkan dan di buat
hubungan dengan dialyzer. Darah kemudian mengalir dari jalur arteri, melalui
dialyzer dan kemudian kembali ke vena. Masalah utama adalah masa
pemakaian yang pendek akibat pembekuan dan infeksi (rata-rata 9 bulan).

b) Akses eksternal atau kateter

Kateter vena subklavia

Kateter vena jugularis

Kateter vena femoralis


Kateter adalah suatu pipa berlubang yang dimasukkan kedalamvena
subklavia, jugularis, atau vena femoralis yang memiliki akses langsung
menuju jantung katetr ini merupakan akses vaskular sementara. akses ini
digunakan jika akses internal tidak dapat digunakan untuk pengobatan, dan
pasien membutuhkan dialisis darurat. Internal AVF and AFG lebih di pilih
untuk di gunakan dari pada kateter karena AVF dan AVG menurunkan
kemungkinan infeksi, yang sangat penting bagi pasien yang menjalani
terapi hemodialisis yang memiliki daya imun rendah (Kidney Dialysis
Foundation, 2004).

6. Perlengkapan hemodilaisis lainnya


-

Jarum punksi, adalah jarum yang dipakai pada saat melakukan punksi akses
vaskuler, macamnya :

Single needle

Jarum yang dipakai hanya satu, tetapi mempunyai dua cabang, yang satu
untuk darah masuk dan yang satu untuk darah keluar. Punksi hanya
dilakukan sekali.

AV Fistula
Jarum yang bentuknya seperti wing needle tetapi ukurannya besar. Jika
menggunakan AV Fistula ini, dilakukan dua kali penusukan.

Perangkat Keras, terdiri dari :

Pompa darah, pompa infus untuk mendeteksi heparin

Alat pemonitor suhu tubuh apabila terjadi ketidakamanan konsentrasi


dialisat, perubahan tekanan udara dan kebocoran darah.

Perangkat Disposibel yang digunakan selain ginjal buatan :

Selang dialisis yang digunakan untuk mengalirkan darah antara dialiser dan
pasien.

Transfer tekanan untuk melindungi alat monitor dari pemajanan terhadap


darah.

Kantong cairan garam untuk membersihkan sistem sebelum digunakan.

F. Persiapan sebelum hemodialisa


Penderita perlu dipersiapkan terlebih dahulu untuk menghadapi peralihan dari
penanganan konservatif ke terapi lebih definitif jauh sebelum tindakan
hemodialisis diperlukan. Hal ini tidak hanya memberikan harapan pada pasien,
tetapi juga memungkinkan cukup waktu untuk mengindoktrinasi penderita dalam
rangka persiapan untuk dapat menjalani pengobatan pada saat yang tepat.
Penderita yang akan melakukan terapi pengganti hemodialisis harus diberikan
edukasi tentang biaya yang akan dikeluarkan. Terapi pengganti ini menggunakan
fasilitas yang sangat terbatas dan biaya pengobatan yang mahal. Pasien harus
mengetahui hal tersebut untuk mempersiapkan diri dari segi finansial. Selain itu
health education yang harus diberikan adalah

prosedur dilakukannya

hemodialisa dari proses persiapan, selama dilakukan, setelah hemodialisa. Pasien


perlu diberitahu bahwa akan dilakukan AV shunt, dan dilakukan pencucian
dengan menggunakan mesin. Health educatin lainnya adalah mengenai
hemodialisis ini tidak untuk menyembuhkan pasien. Pasien harus tahu terapi ini

tidak bisa menyembuhkannya tetapi hanya mampu menggantikan fungsi ginjal


dalam proses ekskresi.

G. Proses Hemodialisa
Pada proses hemodialisa, darah dialirkan ke luar tubuh dan disaring di dalam ginjal
buatan (dialyzer). Darah yang telah disaring kemudian dialirkan kembali ke dalam tubuh.
Rata rata manusia mempunyai sekitar 5,6 s/d 6,8 liter darah, dan selama proses
hemodialisa hanya sekitar 0,5 liter yang berada di luar tubuh. Untuk proses hemodialisa
dibutuhkan pintu masuk atau akses agar darah dari tubuh dapat keluar dan disaring oleh
dialyzer kemudian kembali ke dalam tubuh. Terdapat 3 jenis akses yaitu arteriovenous
(AV) fistula, AV graft dan central venous catheter. AV fistula adalah akses vaskular
yang paling direkomendasikan karena cenderung lebih aman dan juga nyaman untuk
pasien. ?Sebelum melakukan proses hemodialisa (HD), perawat akan memeriksa tanda
tanda vital pasien untuk memastikan apakah pasien layak untuk menjalani Hemodialysis.
Selain itu pasien melakukan timbang badan untuk menentukan jumlah cairan didalam
tubuh yang harus dibuang pada saat terapi. Langkah berikutnya adalah menghubungkan
pasien ke mesin cuci darah dengan memasang blod line (selang darah) dan jarum ke
akses vaskular pasien, yaitu akses untuk jalan keluar darah ke dialyzer dan akses untuk
jalan masuk darah ke dalam tubuh. Setelah semua terpasang maka proses terapi
hemodialisa dapat dimulai.?Pada proses hemodialisa, darah sebenernya tidak mengalir
melalui mesin HD, melainkan hanya melalui selang darah dan dialyzer. Mesin HD
sendiri merupakan perpaduan dari komputer dan pompa, dimana mesin HD mempunyai
fungsi untuk mengatur dan memonitor aliran darah, tekanan darah, dan memberikan
informasi jumlah cairan yang dikeluarkan serta informasi vital lainnya. Mesin HD juga
mengatur cairan dialisat yang masuk ke dialyzer, dimana cairan tersebut membantu
mengumpulkan racun racun dari darah. Pompa yang ada dalam mesin Hd berfungsi
untuk mengalirkan darah dari tubuh ke dialyzer dan mengembalikan kembali ke dalam
tubuh.

Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel yang
terdiri dari dua bagian, bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. Darah mengalir
dari arah yang berlawanan dengan arah darah ataupun dalam arah yang sama dengan
arah aliran darah. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillary dializer yang
terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Darah mengalir melalui
bagian tengah tabung-tabung kecil ini, dan cairan dialisat membasahi bagian luarnya.
Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat
adanya banyak tabung kapiler (Price & Wilson, 1995).

Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh. Selama
hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke dalam sebuah
mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel (dializer) yang terdiri
dari dua ruangan. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan yang lain dialirkan dialisat,
sehingga keduanya terjadi difusi. Setelah darah selesai dilakukan pembersihan oleh
dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui arterio venosa shunt (AV-shunt).
Selanjutnya Price dan Wilson (1995) juga menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa
terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi untuk cairan dialisa. Darah
mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/blood line), melalui dializer
hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur vena. Cairan dialisa membentuk saluran
kedua. Air kran difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan suhu tubuh, kemudian
dicampur dengan konsentrat dengan perantaraan pompa pengatur, sehingga terbentuk
dialisat atau bak cairan dialisa. Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer, dimana
cairan akan mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase.
Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi sepanjang membran semipermeabel dari
hemodializer melalui proses difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.
Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara
darah dengan dialisat. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan
meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan
meningkatkan resistensi terhadap aliran vena, atau dengan menimbulkan efek vakum
dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Perbedaaan tekanan
hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi solut. Sirkuit
darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl 0,9 %, sebelum
dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan darah pasien mungkin cukup untuk
mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh), atau mungkin juga
memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan quick blood (QB) (sekitar 200
sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan yang baik. Heparin secara terusmenerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan
darah. Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan
menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah pasien. Untuk
menjamin keamanan pasien, maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitormonitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter (Price & Wilson, 1995).
Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan
kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 4 5 jam dengan frekuensi 2 kali

seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10 15 jam/minggu dengan QB 200300


mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3 5 jam
dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2 3 hari diantara hemodialisa,
keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa ikut berperan
menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa.

H. Komplikasi Hemodialisa
Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan
hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain :
a. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa
sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi pada
ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi.
b. Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat, rendahnya
dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan kelebihan
tambahan berat cairan.
c. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan kalsium,
magnesi\um, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh terhadap aritmia
pada pasien hemodialisa.
d. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari
osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat dibandingkan dari
darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemenkompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak
yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada
pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.
e. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada
pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
f. Perdarahan

Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat dinilai


dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa juga
merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.
g. Gangguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang disebabkan
karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit kepala.
h. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
i. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak
adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.
j. Nyeri dada
Penyebab: minum obat jantung tidak teratur, program hemodialisa yang terlalu cepat.

Selain komplikasi di atas ada juga beberapa komplikasi lain antara lain :
Komplikasi
Demam

Penyebab

Bakteri atau zat penyebab demam


(pirogen) di dalam darah
Dialisat terlalu panas

Reaksi anafilaksis yg berakibat


fatal
(anafilaksis)

Alergi terhadap zat di dalam mesin

Tekanan darah rendah

Terlalu banyak cairan yg dibuang

Gangguan irama jantung

Kadar kalium & zat lainnya yg


abnormal dalam darah

Emboli udara

Udara memasuki darah di dalam mesin

Penggunaan heparin di dalam mesin


untuk mencegah pembekuan

Perdarahan usus, otak, mata atau


perut

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN HEMODIALISA

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
2. Riwayat Penyakit
a) Riwayat penyakit infeksi
b) Riwayat penykit batu/obstruksi
c) Riwayat pemakaian obat-obatan
d) Riwayat penyakit endokrin
e) Riwayat penyakit vaskuler
f) Riwayat penyakit jantung
3. Data sujektif dan data objektif
Data subjektif

klien mengatakan tidak mengetahui tentang terapi pengobatan yang akan


dilakukan, efek sampingnya, serta hal-hal yang perlu dilakukan selama
menjalani terapi pengobatan.

Klien mengeluh demam

Klien mengeluh mual

Klien mengatakn tidak ada nafsu makan

Data objektif

Suhu tubuh di atas 37,5oC,

Peningkatan kadar WBC (normal 4,1-10,9),

Adanya kemerahan (eritema),

Adanya peningkatan saliva

4. Data interdialisis (klien hemodialisis rutin)


Data interdialisis meliputi :
g) Berat badan kering klien atau Dry Weight, yaitu : berat badan di mana klien
merasa enak, tidak ada udema ekstrimitas, tidak merasa melayang dan tidak
merasa sesak ataupun berat, nafsu makan baik, tidak anemis.

h) Berat badan interdialisis : Berat badan hemodialisis sekarang Berat badan post
hemodialisis yang lalu (Kg).
i) Kapan terakhir hemodialisis.

3. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum klien
Data subjektif : lemah badan, cepat lelah, melayang.
Data objektif : nampak sakit, pucat keabu-abuan, kurus, kadang kadang
disertai edema ekstremitas, napas terengah-engah.
b) Kepala
Retinopati
Konjungtiva anemis
Sclera ikteric dan kadang kadang disertai mata merah (red eye syndrome).
Rambut rontok
Muka tampak sembab
Bau mulut amoniak
c) Leher
Vena jugularis meningkat/tidak
Pembesaran kelenjar/tidak
d) Dada
Gerakkan napas kanan/kiri seimbang/simetris
Ronckhi basah/kering
Edema paru
e) Abdomen
Ketegangan
Ascites (perhatikan penambahan lingkar perut pada kunjungan berikutnya).
Kram perut
Mual/munta
f) Kulit
Gatal-gatal
Mudah sekali berdarah (easy bruishing)
Kulit kering dan bersisik
keringat dingin, lembab

perubahan turgor kulit


g) Ekstremitas
Kelemahan gerak
Kram
Edema (ekstremitas atas/bawah)
Ekstremitas atas : sudahkah operasi untuk akses vaskuler

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
Pre-Hemodialisis
1. Kurang pengetahuan mengenai terapi pengobatan berhubungan dengan keterbatasan
paparan informasi ditandai dengan klien mengatakan tidak mengetahui tentang terapi
pengobatan yang akan dilakukan, efek sampingnya, serta hal-hal yang perlu
dilakukan selama menjalani terapi pengobatan.

Saat Hemodialisis
1. PK Pendarahan
2. PK : Asidosis Metabolik

Post-Hemodialisis
1. Resiko infeksi berhubungan tempat masuknya mikroorganisme sekunder akibat
dialisi ditandai dengan suhu tubuh di atas 37,5oC, peningkatan kadar WBC (normal
4,1-10,9), adanya kemerahan (eritema).
2. Nausea berhubungan dengan iritasi gastrik ditandai dengan klien mengeluh mual,
adanya peningkatan saliva, klien tidak mau makan.
3. PK hipernatrium
4. Resiko Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan efek
terapi.

C. PERENCANAAN
Pre-Hemodialisis
1. Kurang pengetahuan mengenai terapi pengobatan berhubungan dengan
keterbatasan paparan informasi ditandai dengan klien mengatakan tidak

mengetahui tentang terapi pengobatan yang akan dilakukan, efek sampingnya,


serta hal-hal yang perlu dilakukan selama menjalani terapi pengobatan.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan terjadi
peningkatan pengetahuan klien dengan kriteria hasil:

klien mengatakan memahami pengertian terapi pengobatan, tujuan terapi


pengobatan, proses terapi pengobatan, hal-hal yang perlu dilakukan selama
menjalani terapi pengobatan, dan klien mematuhi prosedur yang harus dilakukan.

Intervensi:
Teaching: Disease Proses
a. Kaji tingkat pengetahuan klien yang berhubungan dengan proses pengobatan atau
terapi yang dilakukan (hemodialisa).
Rasional:
Mengetahui tingkat pengetahuan klien akan membantu dalam proses pemberian
informasi dan jenis paparan yang harus diberikan.
b. Jelaskan pengertian, tujuan, proses, dan hal-hal yang perlu dilakukan klien
selama menjalani proses pengobatan (hemodialisa).
Rasional:
Memberikan paparan pengetahuan kepada klien sehingga klien memahami
kondisi penyakitnya dan membantu klien dalam menentukan pengobatan yang
dilakukan.
c. Informasikan pasien tentang efek samping dari terapi pengobatan dan upaya yang
dilakukan dalam meminimalisir efek samping dari terapi pengobatan tersebut
(hemodialisa).
Rasional:
Membantu klien mempersiapkan diri terhadap efek samping dari pengobatan.

Saat Hemodialisis
1. PK Pendarahan
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan kep selama (x24 jam), perawat meminimalkan
perdarahan dan mencegah komplikasi perdarahan, dengan kriteria hasil:

Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal (10-11 gr %)

Klien tidak mengalami episode perdarahan.

Tanda-tanda vital berada dalam batas normal (RR = 12-20 x/menit, nadi = 60100 x menit, TD dalam batas normal 120/80 mmHg).

Intervensi:
a. Kaji pasien untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau hemoragi.
Rasional: dengan mengetahui adanya perdarahan maka perawat dapat
memberikan intervensi lebih dini sehingga perdarahan yang berlebihan dapat
dicegah dan tidak terjadi komplikasi.
b. Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk terapi lain jika
diperlukan
Rasional: kesiapan pasien baik secara fisik dan psikologis dapat membantu
memperlancar jalannya terapi.
c. Pengawasan terhadap tekanan darah, nadi, dan kesadaran penderita.
Rasional: Tekanan darah, nadi, dan kesadaran bisa menurun akibat terjadi
perdarahan.
d. Pantau hasil lab berhubungan dengan perdarahan
Rasional: mengetahui komponen-komponen darah yang mengalami kelainan,
sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya perdarahan
e. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan hemostatik seperti vitamin K, 4 x 10
mg/hari, karbasokrom (Adona AC), antasida dan golongan H2 reseptor antagonis
(simetidin atau ranitidin).
Rasional: Berguna untuk menanggulangi perdarahan.
f. Kolaborasi dalam pemberian transfusi darah diperlukan.
Rasional: Tranfusi darah diindikasikan bila perdarahan yang terjadi perdarahan
hebat dan menurunkan Hb hingga 8 gr/ dl atu kurang dari itu, untuk mengganti
darah yang hilang dan mempertahankan kadar hemoglobin 50-70 % harga normal

2. PK : Asidosis Metabolik
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan terjadi asisdosis
metabolik tidak terjadi dengan kriteria hasil:

ttv dalam batas normal ;


RR : 16-20 X/menit
N : 60-100X/menit
T : 36,5-37,50 C
TD : 120-130/80-90 mmHg

nilai AGD dalam rentang normal ;


pH 7,35-7,45
pCO2 35-40
pHCO3- 22-24

pH klien dalam rentang normal (pH 7,35-7,45)

klien tidak mual, ada peningkatan nafsu makan, klien tidak lemah

Intervensi:
a. Kaji dan monitor:

Vital signs

Suara dan fungsi usus.

Fungsi persarafan & status mental

Intake & output cairan & BB

Rate & irama EKG.

Konsentrasi serum elektrolit.

Rasional : untuk mendapat data klien yang menggambarkan keadaan klien saat
dikaji dan untuk menentukan penanganan yang tepat
b. Monitor nilai Arterial Gas Darah
Rasional : nilai AGD (pHCO3-) menentukan keadaan asidosis klien sehingga
dapat ditentukan terapi yang tepat selanjutnya
c. Jika diperintah berikan IV sodium bicarbonate/natrium bikarbonat
Rasional : untuk membantu mengatasi keadaan asidosis klien (meningkatkan pH)
d. Koreksi masalah pokok yang terjadi (mual, anoreksia, bradikardia, kelemahan).
Rasional : mengurangi gejala asidosis klien serta meningkatkan derajat kesehatan
klien

Post-Hemodialisis
5. Resiko infeksi berhubungan tempat masuknya mikroorganisme sekunder
akibat dialisi ditandai dengan suhu tubuh di atas 37,5oC, peningkatan kadar
WBC (normal 4,1-10,9), adanya kemerahan (eritema).
Tujuan :
Setelah diberi asuhan keperawatan selama .x24 jam diharapkan tidak terjadi/
adanya gejala gejala infeksi dengan kriteria hasil :

Tidak terjadi infeksi.

Tanda-tanda infeksi tidak ada,

WBC (4,1-10.9 k/ul),

bebas eritema dan demam.

Intervensi :
a. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
Rasional

: Meminimalkan kontaminasi bakteri untuk mencegah terjadinya

infeksi
b. Dorong teknik mencuci tangan dengan baik sebelum dan sesudah melakukan
tindakan
Rasional : Meminimalkan kontaminasi bakteri untuk mencegah terjadinya infeksi

6. Nausea berhubungan dengan iritasi gastrik ditandai dengan klien mengeluh


mual, adanya peningkatan saliva, klien tidak mau makan.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x 24 jam diharapkan klien tidak
mengalami mual dengan kriteria hasil :

Tidak adanya saliva berlebih

Pasien tidak mengeluh mual

Klien dapat makan

Intervensi:
a. Jelaskan penyebab mual dan durasinya bila perlu
Rasional: Ini dimaksudkan agar klien dapat mengantisipasi awal agar tidak mual.
Pada pasien yang menjalani hemodialisa diharapka agar pasien makan sebelum
HD agar tidak terjadi hipoglikemi post HD.

b. Dorong pasien untuk makan sedikit tapi sering dan untuk makan secara perlahan.
Makanan yang cair, lembut dan tidak terlalu panas akan ditoleransi dengan baik.
Rasional: Klien dianjurkan makan sering tapi sedikit dan makanan disajikan
dalam keadaan cair, lunak dan hangat agar klen mudak mencerna dan dapat
ditolerasi oleh tubuh
c. Anjurkan klien untuk minum disela-sela makan
Rasional: Membantu menetralisir asam lambung dan mengurangi rasa mual saat
makan
d. Singkirkan pemandangan dan bau yang tidak sedap dari area makanan.
Rasional: pemandangan dan bau yang tidak sedap dapat memicu mual
e. Intruksikan klien untuk menghindari: cairan panas atau dingin, makanan
berbumbu dan kafein
Rasional: Dapat memicu peningkatan asam lambung dan meningkatkan mual

7. PK hipernatrium
Tujuan :
Setelah diberikan askep ...x24 jam diharapkan tidak terjadi hipernatrium dengan
kriteria hasil :

Natrium dalam batas normal (135-147 mmol/liter)

Tidak terjadi tanda-tanda peningkatan natrium seperti

Intervensi :
1) Retriksi asupan cairan
Rasional : banyaknya cairan yang masuk beresiko menyebabkan penumpuk
cairan yang berlebih dan edema
2) Retriksi asupan garam
Rasional : mengembalikan kadar natrium seimbang dan mencegah semakin
banyaknya retensi Ntriuma dan air

8. Resiko Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan


efek terapi.
Tujuan :
Setalah diberikan Asuhan Keperawatan x24 jam diharapkan dapat mempertahankan
berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil:

Keseimbangan antara input dan output cairan pada klien.

Intervensi:
a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, turgor kulit tanda-tanda vital.
Rasional: Mengetahui perkembangan pengobatan dan intervensi selanjutnya.
b. Pantau asupan dan haluaran cairan klien.
Rasional: Untuk mengetahui keimbangan antara input dan output
c. Batasi masukan cairan.
Rasional: Pembatasan cairan akan menentukan BB ideal, haluaran urin, dan
respon terhadap terapi
d. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan.
Rasional: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam
pembatasan cairan
e. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama
pemasukan dan haluaran.
Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output.
f. Kolaborasi pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah.
Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan elektrolit dalam darah atau tubuh
klien

D. IMPLEMENTASI
Implementasi dilaksanakann sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.

E. EVALUASI
Evaluasi dilakukan berdasarkan SOAP dari criteria hasil yang diharapkan.
Pre-Hemodialisis
1. Kurang pengetahuan mengenai terapi pengobatan berhubungan dengan keterbatasan
paparan informasi ditandai dengan klien mengatakan tidak mengetahui tentang terapi
pengobatan yang akan dilakukan, efek sampingnya, serta hal-hal yang perlu
dilakukan selama menjalani terapi pengobatan.
Evaluasi:

Adanya peningkatan pengetahuan klien, klien mengatakan memahami tentang


pengertian terapi pengobatan, tujuan terapi pengobatan, proses terapi pengobatan,

hal-hal yang perlu dilakukan selama menjalani terapi pengobatan, dan klien
mematuhi prosedur yang harus dilakukan.
Saat Hemodialisis
1. PK Pendarahan
Evaluasi:

Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal (10-11 gr %)

Klien tidak mengalami episode perdarahan.

Tanda-tanda vital berada dalam batas normal (RR = 12-20 x/menit, nadi = 60100 x menit, TD dalam batas normal 120/80 mmHg).

2. Resiko Infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme sekunder.


Evaluasi:

Tidak terjadi infeksi.

Tanda-tanda infeksi tidak ada,

WBC (4,00-11,00 k/ul),

bebas eritema dan demam.

3. PK : Asidosis Metabolik
Evaluasi:

ttv dalam batas normal ;


RR : 16-20 X/menit
N : 60-100X/menit
T : 36,5-37,50 C
TD : 120-130/80-90 mmHg

nilai AGD dalam rentang normal ;


pH 7,35-7,45
pCO2 35-40
pHCO3- 22-24

pH klien dalam rentang normal (pH 7,35-7,45)

klien tidak mual, ada peningkatan nafsu makan, klien tidak lemah

Post-Hemodialisis
1. Resiko infeksi

Evaluasi:

Tidak terjadi infeksi.

Tanda-tanda infeksi tidak ada,

WBC (4,00-11,00 k/ul),

bebas eritema dan demam.

2. Nausea berhubungan dengan iritasi gastrik ditandai dengan klien mengeluh mual,
adanya peningkatan saliva, klien tidak mau makan.
Evaluasi:

Klien tidak mengalami mual,

tidak adanya saliva berlebih,

klien makan habis 1 porsi makanan yang di berikan dari rumah sakit

3. PK hipernatrium
Evaluasi:

Natrium dalam batas normal (135-147 mmol/liter)

Tidak terjadi tanda-tanda peningkatan natrium seperti

3. Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan efek terapi.


Evaluasi:

Terdapat keseimbangan antara input dan output cairan dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Carpnito, Lynda Juall, 1995, Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran Edisi 10.
Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
McCloskey&Bulecek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi, By MosbyYear book.Inc,Newyork
NANDA, 2005-2006, Nursing Diagnosis: Definitions and classifications, Philadelphia, USA
University IOWA., NIC and NOC Project, 1991, Nursing outcome Classification,
Philadelphia, USA.
Denis.

2009.

Askep

Hemodialisis.

http://ciptabydenis.blogspot.com/2009/11/askep-

hemodialisis. html [Akses : 7 september 2010]