Anda di halaman 1dari 7

ESSAY

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN FISIKA TERINTEGRASI


UNTUK MEMBENTUK PEMAHAMAN HOLISTIK DAN
KARAKTER SADAR LINGKUNGAN BAGI SISWA SMA

oleh
YULI ARDIKA PRIHATAMA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

Implementasi Pembelajaran Fisika Terintegrasi


untuk Membentuk Pemahaman Holistik dan Karakter Sadar
Lingkungan bagi Siswa SMA
Berbicara tentang pendidikan karakter yang sekarang tengah marak dikaji
untuk dimplementasikan dalam dunia pendidikan di Indonesia ibarat lautan yang
selalu berbuih kemudian hilang kembali jika tidak segera diikuti dengan langkah
implementatif. Sudah cukup banyak seminar, lokakarya, workshop, dan berbagai
acara pertemuan para ahli untuk mengkaji masalah pendidikan karakter dan
implementasinya pada berbagai disiplin ilmu dalam pendidikan namun sampai
sekarang belum terlihat proses secara nyata untuk mewujudkan pendidikan
karakter yang integral di dunia pendidikan. Justru terkadang pendidikan karakter
hanya menjadi isapan jempol bagi para siswa karena memang tidak ada perbedaan
antara sebelum dan sesudah diaplikasikannya pembelajaran berbasis karakter.
Misalnya dalam pembelajaran IPA, khususnya fisika, sejak pendidikan
karakter mulai dicanangkan dan diimplementasikan oleh sekolah sampai sekarang
belum memberikan perubahan yang signifikan. Realita yang ada di lapangan
masih banyak siswa yang terbiasa membuang sampah sembarangan, merusak
tanaman, jajan makanan yang banyak mengandung zat kimia, dan sebagainya.
Bukankah pendidikan IPA seharusnya menumbuhkan karakter siswa untuk lebih
bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kadar
yang aman. Hal ini tidak mengherankan, karena masih banyak juga guru IPA yang
merokok saat mengajar, mengendarai mobil ke sekolah, dan berbagai tingkah
aneh yang tidak mencerminkan seorang cendekiawan dalam bidang IPA.
Tidak ada yang perlu disalahkan dengan realita tersebut karena ia
merupakan bukti bahwa pendidikan karakter yang sedang dibumikan oleh
pemerintah kita ibarat api jauh dari panggang. Sampai sekarang belum ada
keynote yang jelas untuk dijadikan pedoman yang dapat diimplementasikan secara
nyata, karena memang bangsa kita saat ini baru sadar dan belajar untuk
bangkit dan mengejar keterbelakangan kualitas pendidikannya.

Maka dari itu, penulis tergerak hatinya untuk mencoba menawarkan


sebuah solusi untuk menjawab berbagai paradoks yang telah dipaparkan di atas.
Membangun karakter bangsa melalui dunia pendidikan berarti membangun insan
pendidikan agar memiliki karakter unggul untuk mewujudkan tujuan nasional.
Ada sebuah kata kunci yang bagus, orang yang berkarakter pastilah orang yang
baik, tetapi orang yang baik belum tentu berkarakter karena orang yang
berkarakter

adalah

orang

yang

baik

dan

memiliki

kapasitas

untuk

mengaktualisasikan kebaikannya. Sesuai dengan latar belakang sebagai calon


pendidik bidang ilmu fisika dan IPA, maka penulis menawarkan sebuah konsep
implementasi

pembelajaran

fisika

terintegrasi

untuk

membentuk

pemahaman holistik dan karakter sadar lingkungan bagi siswa SMA.


Pembelajaran fisika terintegrasi merupakan sebuah gagasan yang
digulirkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia agar para siswa
SMA memiliki pemahaman dan cara berpikir yang holistik terhadap permasalahan
yang ada di lingkungan mereka. Gagasan ini muncul karena para siswa
mengalami dikotomi atau trikotomi atau mungkin banyak kotomi pengetahuan.
Mereka mengkotak-kotakan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah dan
seoalah-olah tidak ada kaitannya sama sekali. Sehingga pembelajaran yang
mereka ikuti hanyalah bagaimana mengerti sebuah teori kemudian menggunakan
dalam sebuah soal yang sederhana dan mungkin lebih tepatnya penuh dengan
khayalan karena barangkali soal-soal ulangan yang mereka kerjakan tidak pernah
terealisasi dalam kehidupan nyata. Maka dari itu, pembelajaran Fisika terintegrasi
ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Permasalahan

selanjutnya,

bagaimana

cara

mengimplementasikan

pembelajaran Fisika terintegrasi tersebut? Sebelum kita kaji lebih jauh ada
baiknya kita ulas tentang standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).
Dalam Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006 dijelaskan bahwa standar
kompetensi digunakan sebagai pedoman untuk menentukan kualitas lulusan/
peserta didik. Kompetensi dasar adalah rincian dari standar kompetensi yang
berupa poin-poin kompetensi yang harus dikuasai peserta didik agar dapat
dinyatakan lulus atau telah menjalani proses belajar dengan baik. Masing-masing

SK dan KD tersebut terbagi dalam berbagai mata pelajaran yang tersusun secara
berjenjang mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Adapun konsep
fisika terintegrasi adalah sebuah cara untuk mengkombinasikan berbagai SK dan
KD dalam pembelajaran fisika dalam sebuah obyek kajian nyata yang ada di
lingkungan sekitar sehingga mampu memicu pikiran peserta didik untuk berpikir
holistik, realistis dan solutif. Fisika terintegrasi dapat diaplikasikan untuk jenjang
pendidikan menengah yaitu SMA
Contoh

aplikasi

pembelajaran

Fisika

terintegrasi

adalah

pada

pembahasan tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan dampaknya


terhadap lingkungan. Adalah suatu kesalahan jika pembahasan nuklir hanya milik
orang fisika. Dan lebih salah lagi jika nuklir hanya boleh dipelajari dalam fisika.
Dengan model pembelajaran fisika terintegrasi, pembahasan tentang nuklir adalah
sebuah pembahasan yang sangat menakjubkan karena di dalamnya akan ada
observasi, eksplorasi, dan refleksi. Dimensi yang akan dirasakan para peserta
didik tidak hanya bagaimana mereka memahami nuklir sebagai sebuah hal yang
menakjubkan di alam, tetapi juga dimensi kekaguman terhadap kekuasaan Allah
yang Maha Mengatur dan Maha Memelihara.
Bagaimana bentuk kombinasi keterpaduan SK dan KD dalam
pembelajaran Fisika terintegrasi untuk kajian tentang nuklir tersebut? Berdasarkan
uraian

sebelumnya,

model

keterpaduan

yang

paling

sesuai

dalam

mengkombinasikan SK dan KD untuk pembelajaran fisika teringrasi adalah


keterpaduan jaringan (network), yaitu keterpaduan yang melibatkan SK dan KD
dari berbagai mata pelajaran yang berbeda rumpun karena dalam pembahasan
nuklir SK dan KD mata pelajaran ilmu alam, sosial, statistika, bahkan kajian
keagamaan juga bisa masuk di dalamnya, meskipun kajian sains paling dominan
di dalamnya.
Kemudian bagaimana membuat derivasi kajian tentang nuklir tersebut?
Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat tabel derivasi agar kita lebih mudah
merumuskan indikator dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Tabel
identifikasinya misalnya adalah sebagai berikut:

No.
Derivasi Permasalahan
Disiplin Ilmu dan SK-KD
1. Radioaktivitas
dan
perhitungan Fisika
matematisnya
SK :
Menunjukkan
penerapan
konsep
fisika
inti
dan
radioaktivitas dalam teknologi
dan kehidupan sehari-hari
KD :
Mengidentifikasi karakteristik
inti atom dan radioaktivitas
2. Reaktor Nuklir dan teknik pembangunan Fisika
PLTN
SK :
Menunjukkan
penerapan
konsep
fisika
inti
dan
radioaktivitas dalam teknologi
dan kehidupan sehari-hari
KD :
Mendeskripsikan pemanfaatan
radoaktif dalam teknologi dan
kehidupan seharihari
3. Sumber daya alam efisiensi sumber ..
energy
4. Analisis dampak lingkungan pembangunan
PLTN
5. Analisis dampak sosial ekonomi sebelum .
dan sesudah pembangunan PLTN
6. dst
.
Dengan adanya derivasi kajian di atas, maka pembahasan tentang nuklir menjadi
lebih jelas dan terarah.
Selanjutnya, pembelajaran dapat direncanakan secara fragmented
berdasarkan table tersebut dengan diawali sebuah pertemuan untuk menjelaskan
keseluruhan materi yang akan dibahas. Dengan cara ini, pembelajaran Fisika akan
terasa menyenangkan dan bermakna. Siswa akan mengenal permasalahan di
sekitarnya dalam dimensi yang kompleks karena pemahaman yang holistic.
Dalam realisasinya, guru fisika dapat mengajak guru lain secara tim
untuk mengkaji permasalahan yang diluar kajian fisika sehingga sekaligus dapat
menyampaikan konsep materi dalam disiplin ilmu yang lain. Jadi model
pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kolaborasi dan
kombinasi antar mata pelajaran dalam satu pekan pembelajaran di sekolah.

Akhirnya, dengan pembelajaran fisika terintegrasi ini, akan lahir jiwajiwa baru yang sadar akan kondisi sekelilingnya dan kemudian diwujudkan dalam
berbagai aksi kepedulian terhadap lingkungan. Inilah karakter yang seharusnya
terbentuk dari siswa yang sudah sekian tahun sekolah. Bukan sekedar tahu dan
pandai mengerjakan soal di atas kertas, tetapi bagaimana mereka turun ke
lapangan dan menyelesaikan permasalahan sesuai dengan ilmu yang mereka
dapatkan di bangku belajar. Fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi, geografi,
dan yang lainnya hendaknya dapat dipahami sebagai ilmu yang saling melengkapi
dan akan digunakan dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Ilmu-ilmu
tersebut tidak dapat berdiri sendiri sebagai pedoman penyelesaian masalah yang
kompleks, tetapi saling berkait menjadi sebuah solusi,
Demikianlah sedikit uraian tentang Implementasi pembelajaran fisika
terintegrasi dalam rangka membentuk pemahaman holistic dan karakter sadar
lingkungan bagi siswa SMA. Tulisan ini hanyalah sebagai pemicu otak kita untuk
berpikir dan tidak akan berarti apa-apa ketika orang-orang yang membaca tulisan
ini tidak tergerak hatinya untuk segera mengambil peran dalam memperbaiki
kualitas pendidikan kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu sumber
inspirasi bagi para calon pendidik di negeri ini untuk melahirkan generasigenerasi penerus yang hebat dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Referensi:
Kemendiknas. 2009. Pendidikan Karakter : Kumpulan Artikel di Media Massa
2009. Jakarta : Kemendiknas
Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
beserta lampirannya

CV Penulis

Nama

: Yuli Ardika Prihatama

Alamat

: Ngasinan RT 2 RW XII Ngasinan


Jebres Surakarta

Usia

: 21 tahun

Perguruan Tinggi : Universitas Sebelas Maret Surakarta


Jurusan

: Pendidikan MIPA P. Fisika

HP

: +6285 292 512 476

Email

: cpx.one@gmail.com