Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.

Definisi Pernikahan
Sebelum mengetahui mengenai penyesuaian pernikahan terlebih dahulu

mengetahui pengertian pernikahan itu sendiri. Menurut UU RI Nomor 1 tahin 1974


pasal 1 tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah:
Ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 tentang
Pernikahan).
Duvall dan Miller (1985), mengatakan bahwa pernikahan adalah hubungan
yang diketahui secara sosial dan monogamous, yaitu hubungan berpasangan antara
satu wanita dan satu pria. Sehingga bisa didefinisikan sebagai suatu kesatuan
hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung jawab
dan memainkan peran sebagai pasangan yang telah menikah, dimana didalamnya
terdapat hubungan seksual, keinginan mempunyai anak dan menetapkan pembagian
tugas antara suami istri.

2.2.

Status Anak di Luar Nikah Menurut Hukum Islam


Para ulama sepakat bahwa anak itu tetap punya hubungan nasab dengan

ibunya dan keluarga ibunya. Tanggung jawab atas segala keperluannya, baik materil
maupun spiritual adalah ibunya dan keluarga ibunya. Demikian pulanya dengan hak
waris-mewaris. Status anak diluar nikah sebagai berikut:
a. Anak yang dibuahi tidak dalam pernikahan yang sah, namun dilahirkan dalam
pernikahan yang sah.
Menurut Imam Malik dan Imam SyafiI, dan didukung oleh Jumhur Ulama
Anak yang lahir setelah enam bulan dari perkawinan ibu dan bapaknya, anak itu
dinasabkan kepada bapaknya. Jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan, maka
anak itu dinasabkan kepada ibunya. Mereka berpedoman pada pendapat Ali bin
Abi Thalib ketika menghentikan rencana khalifah Usman bin Affan menghukum
rajam terhadap seorang perempuan atas tuduhan zina yang diadukan suaminya
karena sang isteri melahirkan bayi pada 6 bulan (kurang 9 bulan) dari waktu akad
nikah. Maka Ali menjelaskan kepada Usman bahwa al-Qur`an menyebutkan masa
mengandung dan menyusui bayi adalah 30 bulan seperti yang tertera di dalam
surat Al- Ahqaaf ayat 15, lalu dikaitkan dengan surat al-Baqarah ayat 233 bahwa
masa menyusui adalah 2 tahun, ini artinya masa mengandung paling pendek 6
bulan dan masa menyusui paling panjang 2 tahun. (Tafsir Al-Alusi, Surat al
Ahqaaf ayat 15). Tegasnya, meskipun si ibu melangsungkan akad nikah, bila
kurang dari 6 bulan sejak pernikahannya itu lalu ia melahirkan anak, maka sang
anak tersebut tidak boleh dinasabkan kepada ayah yang menikahi ibunya.

Menurut Imam Abu Hanifah


Anak di luar nikah itu tetap dinasabkan kepada bapaknya sebagai anak yang sah.
Menurut Abu Hanifah, anak mempunyai hubungan darah dengan laki-laki yang
tidur seranjang dengan ibu anak. Bila dilahirkan di luar perkawinan maka
menurut Abu hanifah anak tersebut meski tidak memiliki hubungan nasab dengan
ayah biologisnya ia tetap menjadi mahram (haram dinikahi) oleh ayah biologisnya
sama dengan mahram melalui pernikahan. ( Al-Qurthubi, Bidayah al--Mujtahid,
juz 2 hal. 34).
b. Anak yang dibuahi dan dilahirkan diluar pernikahan yang sah
Status anak diluar nikah dalam kategori yang kedua, disamakan statusnya dengan
anak zina dan anak lian, oleh karena itu maka mempunyai akibat hukum sebagai
berikut:
1. Tidak ada hubungan nasab dengan bapaknya. Anak itu hanya mempunyai
hubungan nasab dengan ibunya. Bapaknya tidak wajib memeberikan nafkah
kepada anak itu, namun secara biologis ia tetap anaknya. Jadi hubungan yang
timbul hanyalah secara manusiawi, bukan secara hukum.
2. Tidak ada saling mewaris dengan bapaknya, karena hubungan nasab
merupakan salah satu penyebab kewarisan.
3. Bapak tidak dapat menjadi wali bagi anak diluar nikah. Apabila anak diluar
nikah itu kebetulan seorang perempuan dan sudah dewasa lalu akan menikah,
maka ia tidak berhak dinikahkan oleh bapak biologisnya yang menjadi wali
adalah wali hakim. Wali hakim adalah wali yang diangkat dan diberi hak

menikahkan oleh pemerintah yang dalam konteks lembaga pemerintahan di


Indonesia diwakili oleh Pegawai Kantor Urusan Agama.

c. Status Anak di Luar Nikah Menurut Hukum Perkawinan Nasional.


Menurut hukum Perkawinan Nasional Indonesia, status anak dibedakan
menjadi dua: pertama, anak sah. kedua, anak luar nikah. Anak sah sebagaimana
yang dinyatakan UU No. Tahun 1974 pasal 42: adalah dalam anak yang
dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Dan Kompilasi
Hukum Islam (KHI) pasal 99 yang menyatakan : anak sah adalah : (a) anak
yang lahir dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.(b). Hasil pembuahan
suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.
Bila dicermati secara analisis, sepertinya bunyi pasal tentang anak sah ini
memimbulkan kerancuan, anak sah adalah anak yang lahir dalam atau sebagai
akibat perkawinan yang sah. Bila dinyatakan anak yang lahir akibat perkawinan
yang sah tidak ada masalah, namun anak yang lahir dalam masa perkawinan
yang sahini akan memimbulkan suatu kecurigaan bila pasal ini dihubungkan
dengan pasal yang membolehkan wanita hamil karenan zina, menikah dengan
pria yang menghamilinya. Perkawinan perempuan hamil karena zina dengan laki
laki yang menghamilinya menikah adalah perkawinan yang sah. Seandainya
beberapa bulan sesudah perkawinan yang sah itu berlansung, lahir anak yang
dikandungnya, tentu akan berarti anak yang lahir anak sah dari suami yang
mengawininya bila masa kelahiran telah enam bulan dari waktu pernikahan.

10

Yang dimaksud dengan anak luar nikah adalah anak yang dibuahi dan
dilahirkan di luar pernikahan yang sah, sebagaimana yang disebutkan dalam
peraturan perundang-undangan Nasional antara lain:
1. UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 43 ayat 1, menyatakan anak yang dilahirkan di
luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan
keluarga ibunya.
2. Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 100, menyebutkan anak yang lahir
diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan
keluarga ibunya
Pada akhirnya bila dicermati dari peraturan perundang-undangan yang berlaku
di Indonesia tentang Hukum Perkawinan, menyatakan bahwa status nasab anak
di luar nikah mempunyai hubungan keperdataan hanya kepada ibunya dan
keluarga ibunya. Hubungan ini biasa disebut dengan kekuasaan orang tua, yakni
timbulnya hak dan kewajiban antara orang tua dan anak. Implementasinya adalah
bahwa anak di luar nikah hanya memiliki hubungan yang menimbulkan adanya
hak dan kewajiban dengan ibu dan keluarga ibunya. Agaknya dapat dinyatakan
mafhum mukhalafah (makna yang tersirat bertentangan dengan makna daripada
lafaz yang tersurat) dari pernyataan tersebut bahwa anak itu tidak mempunyai
hubungan keperdataan dengan bapak biologisnya dalam bentuk; nasab, hak dan
kewajiban secara timbal balik.

11

Secara implisit dapat ditegaskan bahwa hampir tidak ada perbedaan antara
hukum Islam dengan hukum perkawinan Nasional dalam menetapkan nasab anak
di luar nikah, walaupun tidak dinyatakan secara tegas hubungannnya dengan
bapak biologis, dalam pasal tertentu.
d. (Status) seorang anak adalah bagi (pemilik) firasy, dan bagi laki-laki pezina
adalah

(kerugian

dan

penyesalan).

(HR.

Bukhari

dan

Muslim)

Yang dimaksud dengan firasy adalah kasur. Jadi, makna hadits tersebut adalah
bahwa nasab (garis keturunan) seorang anak akan dinisbatkan kepada pemilik
firasy atau laki-laki yang menggauli ibunya secara sah. Bila pemilik firasy itu
adalah suami yang sah, maka nasab anak tersebut berhak dinisbatkan kepadanya.
Namun bila pemilik firasy itu bukan suami yang sah, maka nasab anak yang lahir
tidak boleh dinisbatkan kepadanya.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa bila anak itu lahir 6 bulan setelah
pernikahan antara ibunya dengan laki-laki yang menghamilinya, maka anak itu
merupakan anak yang sah tanpa harus ada ikrar (pengakuan) dari laki-laki yang
menghamilinya itu. Sedangkan bila dia lahir di bawah 6 bulan setelah pernikahan,
maka sah atau tidaknya nasab sang anak tergantung pada ikrar laki-laki yang
menghamilinya.

Mengingat adanya perbedaan pendapat pada kedua masalah tersebut, maka


bila ada kasus serupa, sebaiknya menanyakan terlebih dahulu kepada orang yang
bersangkutan, apakah dia tahu tentang hukumnya ataukah tidak. Bila tahu, maka

12

menurut penulis hal itu tidak jadi masalah. Sebab perbedaan pendapat tersebut
merupakan perbedaan pendapat (ikhtilaf) pada masalah-masalah furuiyyah
(cabang) yang tidak semestinya menimbulkan perpecahan. Apalagi masingmasing pendapat merupakan hasil ijtihad para ulama yang didasarkan pada dalildalil tertentu. Lain halnya, bila orang yang bersangkutan tidak mengetahui
hukumnya, maka Anda bisa menjelaskan pendapat yang Anda yakini
kebenarannya dengan dalil-dalil seperti yang penulis sebutkan di atas.

Tapi apapun pendapat yang kita yakini, yang terpenting bagi kita sekarang
adalah menghindari agar kasus seperti itu tidak terjadi, yaitu dengan cara menjaga
diri kita dan juga anak-anak kita dari perbuatan zina. Sebab, mencabut akar-akar
dari pohon yang berbahaya adalah jauh lebih baik daripada hanya sekedar
memotong dahan-dahannya saja. Sekedar mengingatkan, perbuatan zina
merupakan perbuatan dosa besar, bahkan termasuk salah satu dari tujuh dosa
besar yang harus dihindari oleh seorang Muslim.

Dalam Al-Qur`an, Allah swt. melarang kita untuk melakukan perbuatan zina,
bahkan mendekatinya (seperti dengan berpacaran) saja tidak dibolehkan. Allah
swt. berfirman: Dan janganlah kamu dekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu
perbuatan yang keji dan jalan yang buruk

l-Isra:32)

13

2.3.

Hukum Menikahi Wanita Hamil Di Luar Nikah

Bila seorang wanita hamil di luar nikah, berarti dia telah melakukan perbuatan
zina. Mengenai hukum menikahi wanita yang pernah berzina itu, sebagai berikut
beberapa pendapat ulama:

Sebagian ulama termasuk sebagian sahabat seperti Aisyah, Ali bin Abi Thalib,
Al-Barra` dan Ibnu Masud, berpendapat bahwa wanita yang pernah berzina tidak
boleh dinikahkan baik dengan laki-laki yang menzinahinya ataupun laki-laki yang
baik (bukan pezina). Mereka mendasarkan pendapatnya itu pada firman Allah
swt.: Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan
atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah
kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian
itu diharamkan bagi orang-orang mukmin. (QS. An-Nuur [24]: 3). Berdasarkan
dalil tersebut pula, Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa seorang isteri yang
berzina harus diceraikan oleh suaminya.

Jumhur (mayoritas) ulama termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khathab
berpendapat bahwa wanita tersebut boleh dinikahkan, baik dengan orang yang
menzinahinya ataupun dengan orang lain. Pendapat kedua ini didasarkan pada
firman Allah swt. Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu
dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya yang lelaki
dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah
akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nuur [24]: 32)

14

Dalam hal ini, bila wanita tersebut dinikahi oleh laki-laki yang menzinahi atau
menghamilinya, maka tidak perlu ada istibra`. Istibra` adalah upaya untuk
memastikan bahwa rahim seorang wanita telah benar-benar bersih dari air mani
laki-laki yang telah menggaulinya. Masa istibra` ini adalah 6 bulan. Tujuan
istibra` ini adalah untuk mendapat kepastian nasab. Untuk tujuan ini pula, maka
Islam mensyariatkan adanya masa iddah. Oleh karena itu, menurut jumhur ulama,
bila wanita yang hamil itu dinikahi oleh laki-laki yang benar-benar
menghamilinya, maka hal itu dibolehkan dan tidak perlu menunggu hingga
melahirkan.
Lain halnya bila wanita tersebut dinikahi oleh laki-laki lain, bukan laki-laki yang
menghamilinya, maka pernikahan itu haram dilakukan kecuali setelah wanita itu
melahirkan bayi yang dikandungnya dan telah melewati masa nifas. Hal ini
didasarkan pada hadits Nabi saw.:
Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk
menuangkan air (maninya) pada tanaman milik orang lain. (HR. Abu Daud)
Memang ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa meskipun dinikahi oleh
laki-laki yang menzinahinya, sang wanita tetap harus menunggu hingga
melahirkan, dengan dalil: sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, masa
iddah mereka itu sampai melahirkan kandungannya. (QS. Ath-Thalaaq [64]:
4)
3

Pendapat ketiga adalah pendapat Imam Ahmad. Beliau mengharamkan seorang


laki-laki menikahi wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Tapi bila
sudah bertaubat, maka pernikahan itu dibolehkan.

15

Adapun orang yang bukan penzina menikahi wanita yang berzina, menurut satu
golongan seperti Hasan Bashri : Jika terjadi pernikahan terhadap wanita penzina,
nikahnya di fasakh (dipisahkan atau diceraikan). Sedangkan menurut Jumhur
Ulama (kebanyakan para ulama) : Boleh menikahi wanita yang berzina. Dalil
Jumhur, sebagaimana Hadits yang dirwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar
dan Al Baihaqi dari Aisyah r.a : La yuhramu al haramu al halalu; Tidak
diharamkan yang haram itu (wanita berzina/ hamil diluar nikah), jika ingin
dihalalkan (dinikahi.). Begitu juga di dalam Alquran disebutkan: Wauhilla
lakum ma-wara-a dzalikum; Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian
(wanita-wanita yang haram dinikahi) (QS.An-Nisak [4] : 24).

Menurut Abu Yusuf dan Zufar : Tidak boleh akad (menikahi) wanita hamil
karena

zina,

karena

kehamilan

tersebut

menyebabkan

larangan

untuk

mensetubuhinya dan akadnya tersebut dilarang sebagaimana tidak sah akad bagi
wanita hamil yang bukan atas sebab zina. Maka kesimpulannya, tidak sah akad
wanita hamil atas sebab zina.
6

Menurut Mazhab Maliki : Tidak boleh akad wanita (yang hamil) atas sebab zina
sebelum suci (bersih) dari zina yaitu sampai keluarnya haidh selama tiga kali atau
selama tiga bulan. Jika menikahi (wanita hamil diluar nikah) sebelum sucinya
(sebelum melahirkan atau tiga kali berturut-turut haidh atau tiga bulan berturutturut), maka akad tersebut dianggap fasid (rusak/ tidak sah) dan wajib di fasakh
(dipisah/ diceraikan).

Menurut Mazhab Hanbali (Hanabilah): Apabila berzina seorang wanita, maka


tidak dihalalkan bagi orang yang menikahinya kecuali ada dua syarat:

16

1. Selesai masa iddahnya, jika hamilnya karena zina, maka ditunggu sampai ia
melahirkan,

dan

tidak

halal

nikahnya

sebelum

ia

melahirkan.

2. Harus benar-benar bertaubat dari perbuatan zina yang telah dilakukannya.


Adapun syarat ini tidak dipakai menurut Qatadah, Ishaq, Abu Ubaid, Abu
Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafii. (Al Mughni Syarh Al Kabir, ibnu
Qudamah)

2.4.

Nafkah dan waris untuk anak yang diluar nikah

2.4.1. Nafkah

Karena status anak tersebut menurut hukum hanya mempunyai hubungan


nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya semata, maka yang wajib memberikan
nafkah anak tersebut adalah ibunya dan keluarga ibunya saja.

Sedangkan bagi ayah/bapak alami (genetik), meskipun anak tersebut secara


biologis merupakan anak yang berasal dari spermanya, namun secara yuridis formal
sebagaimana maksud Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam diatas, tidak mempunyai
kewajiban hukum memberikan nafkah kepada anak tersebut.

Hal tersebut berbeda dengan anak sah. Terhadap anak sah, ayah wajib
memberikan nafkah dan penghidupan yang layak seperti nafkah kesehatan,
pendidikan dan lain sebagainya kepada anak-anaknya, sesuai dengan penghasilannya,
sebagaimana ketentuan Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam, dalam hal ayah
dan ibunya masih terikat tali perkawinan.

17

Apabila ayah dan ibu anak tersebut telah bercerai, maka ayah tetap
dibebankan memberi nafkah kepada anak-anaknya sesuai dengan kemampuannya,
sebagaimana maksud Pasal 105 huruf (c) dan Pasal 156 huruf (d) Kompilasi Hukum
Islam.

Meskipun dalam kehidupan masyarakat ada juga ayah alami/genetik yang


memberikan nafkah kepada anak yang demikian, maka hal tersebut pada dasarnya
hanyalah bersifat manusiawi, bukan kewajiban yang dibebankan hukum sebagaimana
kewajiban ayah terhadap anak sah. Oleh karena itu secara hukum anak tersebut tidak
berhak menuntut nafkah dari ayah/bapak alami (genetiknya).

2.4.2. Waris

Sebagai akibat lanjut dari hubungan nasab seperti yang dikemukakan, maka
anak tersebut hanya mempunyai hubungan waris-mewarisi dengan ibunya dan
keluarga ibunya saja, sebagaimana yang ditegaskan pada Pasal 186 Kompilasi
Hukum Islam: anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan
saling mewarisi dengan ibunya dan keluarganya dari pihak ibunya. Dengan
demikian, maka anak tersebut secara hukum tidak mempunyai hubungan hukum
saling mewarisi dengan ayah/bapak alami (genetiknya).