Anda di halaman 1dari 6

MIGRASI, ASIMILASI, AKULTURASI DALAM MASYARAKAT

PRAAKSARA DI NUSANTARA
MAKALAH INI DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS DARI MATA KULIAH SEJARAH MARITIM

DISUSUN OLEH
AYU NOLANTIKA
NUR AINI RAMADHANI
M.KAWIYU

JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Sebagai manusia modern kita tidak pernah terlepas dari teknoogi dan
perubahan sosial yang terus menerus terjadi sesuai dengan jaman. Pola
kehidupan sosial di abad sekarang, dimana sebagaian besar semua aspek
kehidupan manusia terhubung dengan internet beserta kecanggihan sistem
komunikasi.

semua

mengedepankan

aspek;

kemajuan

sosial,

politik,

teknologi

sebagai

ekonomi
sarana

dan

budaya

membangun

kepentingan dan kesejahteraan.


Kecanggihan dalam berbagai aspek kehidupan menyisakan ruang kecil
dalam kehidupan sosial untuk tetap melestarikan kepercayaan yang sudah
ada sejak masa praaksara. Sebagaian masyarakat baik yang hidup di
perkotaan dan pedesaan masih banyak yang mempercayai jimat, melakukan
ritual

sesajen,

mengkramatkan

pohon,

hutan

bahkan

sungai

untuk

melestarikan adat lokalitas dan menjalankan kepercayaan yang dianut.


Hal-hal yang bersifat ritualistik ini mendapat percampuran budaya yang
cukup kuat dari India dan China yang mempengaruhi Nusantara hingga tahun
1500M. Pesebaran budaya yang bersifat ritualistik bukan hanya pada
peradaban tertentu saja, namun pada peradaban besar dunia di mulai dari
Mesir, India, China dan Amerika Tengah mengenal sistem ritual sebagai
sarana untuk mencapai kebutuhan rohani dan keagamaan.
Beragamnya ras dan perbedaan yang sangat mencolok antara warga
Indonesia bagian barat, tengah dan timur menjadi topik yang hangat dan
menarik dalam penulisan makalah kami. Berbagai ras yang ada di Indonesia
sekarang ini tidak terlepas dari proses migrasi yang dilakukan secara besarbesaran dimasa praaksara untuk mempertahankan kehidupan sebagai
manusia, mempertahankan kekuatan suku dengan mengalahkan suku lain
hingga dipertemukannya dua budaya yang membentuk nusantara seperti
sekarang ini.

ISI

2. MIGRASI BERBAGAI BANGSA KE NUSANTARA


Mesolitikum atau masa pertengahan praaksara adalah fase yang
menentukan perkembangan teknologi sesudahnya. Terhitung sebelum
10.000SM, masa mesolitik ini juga disebut sebagai masa penyebaran
manusia beserta kebudayaan yang dibawanya ke daerah baru. 1
Pekerjaan berat beralih menjadi pekerjaan yang berat dan lebih berarti
seperti; menanam pohon, ternak hewan dan membuat alat potong baru yang
memudahkan

mereka

dalam

mengerjakan

aktifitas

sehari-hari. 2

Kemungkinan, dimasa ini mereka membuat perahu untuk kebutuhan makan,


menangkap ikan di laut dan sungai. Makanan yang dimakan oleh manusia
praaksara di masa ini menentukan tingkat kecerdasan dalam pembuatan alat
yang digunakan untuk menunjang kehidupan mereka.
Selain kebutuhan makanan, mereka juga berpindah dari satu wilayah
ke wilayah lain untuk mencari sumber makanan yang lebih banyak. Periode
ini masih masuk ke dalam mesolitik. Kepercayaan terhadap kekuatan yang
tidak terlihat berkembang pesat di masa ini. artefak batu besar seperti
dolmen, sarkofagus menunjukkan mereka sudah mengenal benda-benda
besar seperti diatas untuk upacara sesaji menghormati nenek moyang
mereka ataupun kekuatan alam yang ada disekitar mereka yang tak dapat
dijelaskan alasannya.
Kebutuhan akan tempat yang lebih layak, membuat manusia praaksara
kembali melakukan perpindahan. Ada beberapa sarjana yang mendalami
masa praaksara dan mencetuskan teori: bahwa perbedaan ras di nusantara
terjadi dikarenakan banyaknya migrasi bangsa-bangsa dari berbagai wilayah
yang menetap disuatu tempat sehingga membuat bangsa yang terdahulu
menyingkir lebih ke arah dalam. Kedatangan homo sapiens yang mungkin
berasal dari Tongkin (utara) yang membawa budaya dong son ke nusantara
1
2

John W Humprey. 1946. Ancient Technology. London: GRENWOOD PRESS. Hlm. 2


Ibid,-

mempengaruhi warna kulit di Indonesia bagian Barat yang lebih bersifat


orientalis, dilihat juga dengan hewan-hewan yang menetap di Barat
bedasarkan garis Wallace dan Weber yang lebih bersifat oriental. 3
Kemajuan pada era praaksara bukan hanya terjadi di Barat Indonesia,
pada bagian Timur Indonesia, sekitar tahun 3500 SM terkenal dengan
gerabah atau tembikar yang khas. Pembuatan tembikar ini dilakukan oleh
orang-orang Lapita, berbahasa Austronesia dan merupakan nenk moyang
dari bangsa Polinesia. Bangsa Polinesia yang beberapa tahun kemudian
menetap di Pulau Tonga, Samoa, dan beberapa pulau lainnya. 4

3. MIGRASI DAN KEBUDAYAAN YANG BERCAMPUR


Sebelum kedatangan ras Mongoloid, bedasarkan artefak yang
ditemuka di wilayah Jawa, Megantropus Paleojavanicus dengan ciri rahang
yang besar menguasai daerah Jawa. Hingga kedatangan ras mongoloid ini
Megantropus bergeser ke arah Timur yang lebih jauh. Dua kemungkinan
terjadi disini, pertama, kedatangan ras mongoloid yang kemudian menguasai
daerah barat Indonesia mengadakan kawin-campur dengan penduduk yang
sudah menetap sebelumnya. Kedua, kedatangan ras moboloid ke bagian
Barat nusantara disertai dengan pengusiran penduduk yang sebelumnya
menempati Barat Indonesia dan memaksa mereka pergi lebih ke arah Timur
Indonesia.
Kebudayaan di Indonesia masa praaksara ini bercampur dengan
kebudayaan yang datang dari arah Utara. Karakteristik bentuk artefak yang
sama disepanjang aliran sungai di daerah Asia Tenggara membuktikan bahwa
penyebaran satu ras ini mulai menguasai tempat tinggal dan kehidupan
mereka. Kebudayaan yang ada dilihat dari alat yang ada juga mempunyai
fungsi yang sama, karakteristik yang sama dan ditemukan hampir
disepanjang aliran sungai.

Robert Dick-Read. 2008. Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika.


Bandung: PT.MIZAN Pusataka. Hlm. 18
4
Ibid,-

Sungai dan laut menjadi faktor penentu dari kelangsungan kehidupan


manusia praaksara. Sepanjang sejarah, peradaban besar selalu tumbuh di
lembah sungai dan wilayahnya subur. Hal ini memungkinkan mereka
bertambah besar dalam porsi tubuh dan kecerdasan mereka meningkat
dengan konsumsi ikan. Fungsi sungai yang memberikan mereka kehidupan,
beralih fungsi menjadi tempat atau sarana penghubung dari satu wilayah
kekuasaan dengan wilayah lain. Mereka berkomunikasi dan menjalin
hubungan lewat sungai melalui perahu yang dibuat dari batang pohon.
Memang tidak ada artefak yang ditinggalkan untuk melacak jejak kemaritiman
masa praaksara, kita dapat berhipotesa atu membuat kemungkinan yang
paling rasional untuk menjelaskan aktifitas dalam masa praaksara.

4. ANTARA INDIA DAN CHINA


Kebudayaan

Indonesia

kental

dengan

dua

negara

besar

ini,

dimungkinkan sejak masa praaksara hingga sekarang hubungan kerjasama


ini terus berlanjut. Di masa praaksara, kemungkinan bangsa kita mengenal
sistem kesukuan yang telah ada dari bangsa India. sistem ini berlanjut melalui
kebudayaan yang terjalin dalam perekonomian.
Ekspor rempah-rempah Indonesia ke India dilakukan bukan hanya dari
masa klasik, namun jauh sebelum masa itu hubungan kerjasama sudah
terjalin dengan baik. Proses interaksi dua budaya yang cukup lama dan
bersifat intens ini membuat Indonesia bagian barat khususnya dengan mudah
menerima peradaban dan mengadopsi peradaban India yang disesuaikan
dengan kearifan lokal dalam proses akulturasi.
Berbeda halnya dengan China, walaupun peradaban besar praaksara
dimulai dari China yang datang ke Indonesia namun, telah bergeser kearah
yang lebih rigrid yakni perpolitikkan dan rasa ingin menguasai. Hal ini jauh
berbeda dengan India yang masuk melalui kebudayaan dan diserap langsung
oleh masyarakat. China masuk ke nusantara hanya murni proses berdagang
dan sistem upeti yang sejak dulu sudah mulai dikenakan. Ditemukannya koin

dari batu dan barang mewah berupa gerabah atau perhiasan dijadikan
sebagai alat tukar pada masa praaksara.

DAFTAR PUSTAKA
-

Humprey, John W. 1946. Ancient Technology. London: GRENWOOD PRESS.


Dick-Read, Robert. 2008. Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di
Afrika. Bandung: PT.MIZAN Pusataka.