Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan
disesuaikan dengan keadaan pasien berdasaarkan keadaan klinis, status
gizi,

dan

status

metabolisme

tubuh.

Keadaan

gizi

pasien

sangat

berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit (Kemenkes RI, 2013).


Terapi gizi atau terapi diet adalah bagian dari perawatan penyakit atau
kondisi klinis yang harus diperhatikan agar pemberiannya tidak melebihi
kemampuan organ tubuh untuk melaksanakan fungsi metabolisme. Terapi
gizi harus disesuaikan dengan perubahan fungsi organ. Pemberian diet
harus dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan keadaan klinis dan hasil
pemeriksaan laboratorium. (Kemenkes RI, 2013).
Ca Mammae Dextra T4cN1Mx dengan anemia dan hipoalbuminemia
merupakan suatu penyakit komplikasi yang memerlukan penatalaksanaan
diet khusus. Penetalaksanaan nutrisi klinik sedini mungkin diharapkan dapat
membantu keadaan pasien menjadi lebih baik dan menekan komplikasi lebih
lanjut. Penatalaksanaan diet bagi pasien kanker juga sangat dibutuhkan
untuk mempersiapkan operasi yang akan dijalani untuk membantu
meningkatkan kadar albumin dan kadar Hb. Langkah awal adalah dengan
menilai status gizi pasien hingga melakuakan monitoring dan evaluasi untuk
menilai keberhasilan terapi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum

Mampu merencanakan dan menerapkan Nutrition Care Proses (NCP)


pada pasien Pre operasi Ca Mammae Dextra T4cN1Mx dengan anemia
dan hipoalbuminemia
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan skrining gizi pada pasien Pre operasi Ca
Mammae Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia
b. Mampu membuat assesmen pada pasien Pre operasi Ca Mammae
c.

Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia


Mampu membuat diagnosis gizi pasien Pre operasi Ca Mammae

Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia


d. Mampu memberikan intervensi gizi untuk pasien Pre operasi Ca
Mammae Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia
e. Mampu mengimplementasikan rencana asuhan gizi pada pasien Pre
f.

operasi Ca Mammae Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia


Mampu melakukan monitoring dan evaluasi pelayanan gizi pada
pasien

Pre

operasi

Ca

Mammae

Dextra

T4cN1Mx,

anemia,

hipoalbuminemia
g. Mampu melakukan edukasi/konseling gizi pada pasien pasien Pre
operasi Ca Mammae Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbuminemia

C. Waktu dan Tempat


1. Waktu Pelaksanaan Studi Kasus
Pelaksanaan studi kasus dilaksanakan pada 09 - 14 Oktober 2014.
2. Tempat Pelaksanaan Studi Kasus
Pelaksanaan studi kasus dilaksanakan di Ruang Cendana 2, K.10, kelas
III RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

D. Jenis Data dan Cara Pengumpulan


1. Jenis Data
a. Data Primer

Data primer penelitan diambil secara langsung melalui wawancara


dari pasien, keluarga pasien, perawat, dan dokter residen yang
menangani.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh secara tidak langsung dengan melihat data
base yang ada dalam rekam medis pasien dan komputer.
2. Cara Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan cara wawancara kepada pasien
dan keluarga, perawat ruangan, dan dokter yang menangani pasien.
b. Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan dengan cara mengutip data yang ada
dalam rekam medis pasien dan komputer.
E. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa diharapkan dapat menambah pengalaman dalam
menganalisis suatu permasalahan dengan mengaplikasikan teori-teori
yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan.
2. Bagi Pasien dan Keluarga
Pasien dan keluarga pasien mengetahui terapi diit yang diberikan
pada pasien, agar termotivasi untuk menjalankan dan mematuhi diit yang
diberikan dirumah sakit.
3. Bagi Institusi Rumah Sakit
Memberikan sumber informasi atau wacana bagi institusi rumah sakit
terutama bagi instalasi gizi berkaitan dengan penatalaksanaan diit pada
pasien

Pre

operasi

Ca

Mammae

Dextra

T4cN1Mx,

anemia,

hipoalbuminemia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit
1. Ca Mammae
Kanker merupakan neoplasma ganas. Neoplasma didefinisikan
sebagai masa jaringan abnormal yang tumbuh berlebihan dengan tidak
ada koordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal dan tetap tumbuh
dengan cara berlebihan setelah stimulus yang menyebabkan perubahan
tersebut berhenti. Pada dasarnya awal semua neoplasma ialah hilangnya
tanggapan terhadap kendali pertumbuhan normal. Kanker dapat tumbuh
dari satu atau lebih sel. Neoplasma terjadi akibat mutasi dari gen
(Robbins SL, et.al., 2007).
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel akibat adanya
onkogen yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada
jaringan payudara (Karsono, 2006). Ca mammae merupakan tumor

ganas yang tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan


lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
2. Hipertensi
Menurut Bustan (2000), hipertensi adalah keadaan peningkatan
tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu
target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk
pembuluh darah jantung) dan left ventricle hypertrophy (untuk otot
jantung).
Hipertensi merupakan desakan darah yang berlebihan dn hampir
konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika
memompa darah. Hipertensi berkaitan dengan tekanan diastolik, tekanan
sistolik, atau kedua-duannya secara terus menerus.
B. Etiologi
Menurut Brunner dan Suddarth (2002), tidak ada satupun penyebab
spesifik dari Ca Mammae, akan tetapi terdapat banyak faktor yang
diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya ca mammae.
Faktor-faktor resiko ca mammae diambil dari ABC Breast Cancer
adalah sebagai berikut:
1. Umur : Kelompok resiko tinggi terjadinya ca mammae pada umur tua
>40 tahun.
2. Negara berkembang
3. Menarche sebelum umur 11 tahun
4. Menopause setelah umur 54 tahun
5. Hamil pertama pada usia 40 tahun
6. Riwayat keluarga
7. Pernah menderita kanker jinak (Atypical hiperplasia)
8. Kanker di luar payudara
9. Status sosial
10. Banyak konsumsi lemak jenuh
11. Overweight pada saat premenopause dan post menopause.
12. Konsumsi alkohol
13. Riwayat terkena paparan radiasi
14. Menggunakan kontrasepsi oral
15. Terapi hormonal >10 tahun
C. Patofisiologi

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi. Pada
tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memicu sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini
disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang berupa bahan
kimia, virus, radiasi (peenyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua
sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan
genetik

dalam

sel

atau

bahan

lainnya

yang

disebut

promotor,

menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Pada tahap


promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi tidak akan terpengaruh
oleh promosi (Desen, 2008).
Menurut Price dan Wilson (2006) pada ca mammae terjadi
proliferasi keganasan sel epitel yang membatasi duktus atau lobus
payudara. Pada awalnya hanya terdapat hyperplasia sel dengan
perkembangan sel-sel atipikal. Sel-sel ini kemudian berlanjut menjadi
karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu
tujuh tahun untuk tumbuh dari satu sel menjadi massa yang cukup besar
untuk dapat dipalpasi (kira-kira berdiameter 1 cm) pada ukuran itu sekitar
25% ca mammae sudah mengalami metasasis.

D. Tanda dan Gejala Ca Mammae


Tanda dan gejala ca mammmae, yaitu:
1. Benjolan pada payudara. Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri
pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar,

lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara
atau puting susu.
2. Erosi atau eksema puting susu. Kulit atau puting susu tadi menjadi
tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan
samapai menjadi oedema, hingga kulit kelihatan seperti jeruk (peau
dorange), mengerut atau timbul borok (ulkus pada payudara). Borok itu
makin

lama

makin

besar

dan

mendalam,

sehingga

dapat

menghancurkan payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.


3. Pendarahan pada puting susu.
4. Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah
besar, sudah timbul borok atau kalau sudah ada metastase ke tulangtulang.
5. Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening ketiak, bengkak
pada lengan dan penyebaran kanker di seluruh tubuh.
E. Pentahapan Ca Mammae
Pentahapan ini digunakan untuk menentukan stadium dari tumor yang
meliputi penentuan letak topografi tumor primer, ekstensinya ke organ
sekitar, dan ada tidaknya metastasenya ke organ lain. Mengetahui
stadium tumor sangat penting untuk menetukan tindakan terapi yang
diberikan dan juga prognosis penyakit. Beberapa cara untuk menentukan
stadium tumor menurrut Machsoos (2007) adalah sebagai berikut:
1. Stadium tumor berdasarkan letak topografi, ekstensi, dan metastasenya
dalam organ
a. Stadium lokal: pertumbuhannya masih terbatas pada organ semula
tempatnya tumbuh.

b. Karsinoma in situ: pertumbuhannya masih terbatas intra epitelial,


intraduktal, intra lobuler. Istilah ini hanya dikenal pada tumor ganas
epitelia.
c. Infiltrasi lokal atau invasif: Tumor padat telah tumbuh melewati
jaringan epitel, duktus, atau lobulus, tetapi masih dalam organ yang
bersangkutan (pengertian patologi: telah melewati stratum papilare
atau membrana basalis) atau telah menginfiltrasi jaringan sekitarnya
(pengertian klinis: sudah ada perlekatan dengan organ sekitarnya).
d. Stadium metastase regional: Tumor padat telah metastase ke kelenjar
limfe yang berdekatan (kelenjar limfe regional).
e. Stadium metastase jauh: Tumor padat telah metastase pada organ
yang letaknya jauh dari tumor primer.
2. Stadium tumor berdasarkan sistem TNM (Stadium TNM)
Sistem TNM ini berdasarkan 3 kategori, yaitu: T (Tumor primer), N
(Nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional), dan M (Metastase
jauh). Masing-masing kategori tersebut dibagi lagi menjadi subkategori
untuk melukiskan keadaan masing-masing kategori dengan cara memberi
indeks angka dan huruf dibelakang T, N, dan M, yaitu:
a. T = Tumor Primer
1) Indeks angka: Tx, Tis, T0, T1, T2, T3, dan T4
2) Indeks huruf: T1a, T1b, T1c, T2a, T2b, T3b, dst
b. N = Nodus, metastase ke eklenjar regional.
1) Indeks angka: N0, N1, N2, dan N3.
2) Indeks huruf: N1a, N1b, N2a, N2b, dst.
c. M = Metastase organ jauh

1) Indeks angka: M0, M1


2) Indeks huruf: Mx
Pada umumnya arti TNM adalah sebagai berikut:
a. Kategori T = Tumor Primer
Tx = Syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.
Tis = Tumor in situ
T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer
T1 = Tumor dngan f maksimal < 2 cm
T2 = Tumor dengan f maksimal 2-5 cm
T3 = Tumar dengan f maksimal > 5 cm
T4 = Tumor invasi keluar organ
b. Kategori N = Nodul, metastase ke kelanjar regional.
N0 = Nodul regional negatif
N1 = Nodul regional positif, mobile belum ada perlekatan)
N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan
N3 = Nodus jukstaregional atau bilateral.
c. Kategori M = Metastase organ jauh
M0 = Tidak ada metastase organ jauh
M1 = Ada metastase organ jauh
Mx = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.

F. Manajemen Terapi Gizi


Gangguan gizi yang dapat timbul pada pasien penyakit kanker
disebabkan kurangnya asupan makanan, tindakan medik, efek psikologik,
dan pengaruh keganasan sel kanker. Gejala kanker dalam keadaan berat

dinamakan cachexia yang manifestasinya secara klinis adalah anoreksia,


penurunan berat badan, gangguan refleks, lemas, anemia, kurang energi
protein, dan keadaan deplesi secara keseluruhan (almatsier, 2010).
Beberapa faktor penyebab gangguan gizi yang dapat timbul pada
penyakit kanker menurut Almatsier (2010) adalah:
1. Kurang nafsu makan yang disebabkan oleh faktor psikologik dan lost
response terhadap kanker berupa cepat kenyang atau perubahan pada
indra pengecap (lidah).
2. Gangguan asupan makanan dan gangguan gizi karena:
a. Gangguan pada saluran cerna, dapat berupa kesulitan mengunyah,
menelan, dan penyumbatan.
b. Gangguan absorbsi zat gizi.
c. Kehilangan cairan dan elektrolit karena muntah-muntah dan diare.
3. Perubahan metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak.
4. Peningkatan pengeluaran energi.
Syarat-syarat diet pada penyakit kanker menurut Almatsier (2010)
adalah sebagai berikut:
1. Energi diberikan tinggi
2. Protein tinggi, yaitu 1-1,5 g/kgBB
3. Lemak sedang 25-30% dari total energi
4. Karbohidrat cukup, yaitu sisia dari kebutuhan energi total
5. Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A, B kompleks, C, dan E.
Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen.
6. Rendah iodium bila sedang menjalani medikasi radioaktif internal.

10

7. Bila imunitas menurun (leukosit < 10L) atau pasien akan menjalani
kemoterapi agresif, pasien harus mendapatkan makanan yang steril.
8. Porsi makan kecil dan sering diberikan
Penatalaksanaan diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan
edema atau asietes dan atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit
dekompensasio kordis. Pemberian diet rendah garam juga diberikan
berdasrakan stage hipertensinya yang dibagi menjadi 3 stage yaitu RG I
(200-400 mg Na/ hari, RG II 600-800 mg Na/ mg, dan RG III 1000-1200 mg/
hari (Almatsier, 2010).
Selain dengan diet rendah garam diet untuk pasien hipertensi adalah
DASH diet (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang merupakan diet
sayuran serta buah yang banyak mengandung serat pangan (30 gram/hari)
dan mineral tertentu (kalium, magnesium serta kalsium) sementara asupan
garamnya dibatasi (Hartono, 2006).
G. Interaksi Obat dan Makanan
Dalam pemberian makanan dan obat resep atau obat bebas harus
mempertimbangkan adanya kemungkinan interaksi antara makanan atau
pemberian makan enterik pada pasien dengan obat yang dikonsumsi
(Webster-Gandy, 2014).
Mikro dan makronutrien dapat berinteraksi dengan terapi obat dan
interaksi

ini

dapat

bersifat

positif

(meningkatkan

efek

obat

yang

menyebabkan toksisitas obat) atau melemahkan/ mengganggu kesehatan


(menyebabkan kegagalan terapi atau ketidakefektifan obat). Resiko interaksi
obat dan makanan paling besar dialami oleh pasien yang mengkonsumsi
lebih dari satu macam obat, anak-anak, dan lansia. Cara yang paling baik

11

minum obat adalah dengan segelas air, karena keasaman jus buah, teh, dan
kopi dapat mengganggu sifat obat dan keseimbangan pHnya (WebsterGandy, 2014).
Absorbsi obat tertentu dapat diperlambat dan dikurangi karena
adanya makanan dilambung atau pada beberapa kasus ditingkatkan.
Meminum obat tertentu disertai makanan dapat mengurangi iritasi ataupun
kerusakan lambung (Webster-Gandy, 2014).

BAB III
NUTRITION CARE PROCESS (NCP)

A.

Identitas Pasien
Nama
Umur
Sex
Pekerjaan
Pendidikan
Agama
No RM
Ruang
Tgl Masuk
Tgl Kasus

:P
: 53 tahun
: Perempuan
: Pekerja lepas/ Buruh
: SD
: Islam
: 01-70-21-57
: Cendana 2/ K.10/ Kls III
: 08 Oktober 2014
: 09 Oktober 2014
12

Alamat

: Payaman Selatan RT 03 Girirejo Imogiri Bantul,

Yogyakarta
Diagnosis medis : Ca Mammae Dextra T4cN1Mx
Anemia
Hipoalbuminemia, Sepsis

B.

Assesment Gizi
1. Data Subjektif
a. Riwayat Penyakit
1) Keluhan Utama

1 MSRS OS mengeluh nyeri pada payudara kanan, OS


kemudian periksa ke RS Nur Hidayah dan disarankan periksa
ke RSS.
HMRS OS datang ke UGD karena nyeri.
2) Riwayat Penyakit Sekarang:
HT (+), Ca Mammae
3) Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi 20 th
20 tahun SMRS OS merasakan adanya benjolan di payudara
kanan. Awalnya kecil tetapi semakin lama semakin besar.
4) Riwayat Penyakit Keluarga :
b.

Riwayat Gizi
1) Data Sosial Ekonomi
Penghasilan
: Menengah ke bawah
Jumlah Keluarga
: 6 orang
Suku
: Jawa
2) Aktifitas Fisik
Lama kerja
: 12 jam
Lama Tidur
: 6 jam
Jenis Olahraga
:Frekuensi
3) Alergi/ Pantangan Makanan :
4) Diet yang Pernah Dijalankan

:-

13

Jenis Diet
:Lamanya
:5) Makanan Kesukaan
Jenis
: Kacang rebus
Frekuensi
: Kacang rebus 1 minggu 2 kali
6) Fungsi Gastrointestinal
Nyeri ulu hati : Konstipasi
:Mual
:+
Perubahan pengecapan/ penciuman: Muntah
:Gangguan mengunyah
:Anoreksia
:Gangguan menelan
:Diare
:Kondisi Gigi
:7) Suplementasi Gizi
Jenis
:Merk
:Frekuensi
:8) Perubahan Berat Badan
Berkurang
:+
Bertambah : Kurun Waktu : 9) Cara mengolah Makanan
Digoreng dan dimasak santan
10) Kebiasaan Makan
- Nasi 3x1 hari @ 1 centong= 100g
- Lauk hewani: telur 1x1 hari@ 60 g
- Lauk nabati: tempe goreng 1 potong 2 x 1 hari @ 25 g
- Sayur: (bayam, kentang, kacang panjang) 3x1 hari @ 100 g
- Buah: Jarang (pisang) @ 100 g
- Cemilan: kerupuk, keripik
- Teh manis setiap pagi (gula 1 sdm= 8 g)
- Tidak menyukai makanan yang berbau amis (daging, ayam,
ikan)
Assesment :
Dihadapkan pada pasien bernama Ny.P usia 53 tahun dengan
diagnosis medis Ca mammae Dextra T4cN1Mx, anemia, hipoalbumin dan
sepsis. Pasiendari keluarga menengah ke bawah. Pasien menyukai
kacang rebus. Pasien tidak menyukai makanan yang berbau amis
(daging, ayam, ikan). Pengolahan makanan lebih sering digoreng dan
dimasak santan. Asupan makan pasien kurang baik dimana menu
makanan tidak sesuai dengan syarat gizi seimbang.
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Antropometri

14

LLA : 23,8 Cm
% LLA = 23,8/ 30,7
= 77,5%
Assesment Antropometri :
Berdasarkan data hasil pengukuran antropometri dilihat
dari % LLA didapatkan status gizi pasien dalam kategori kurang/
under weight.
b. Pemeriksaan Biokimia
Jenis

Nilai

Satua

Ket

Normal

2,10

3,40-5,00

g/dL

Eosinofil

0,0

2,0-4,0

Eritrosit

2,20

4,20-5,20

GDS
Hb
Hct
INR
Kreatinin

156
5,8
18,8
1,14
0,50

74-140
12-14
36,0-48,0
0,9-1,10
0,6-1,3

Leukosit

16,13

4,50-11,0

Limfosit
MCH
MCHC
Monosit
Monosit
MPV
Na
Neutrofil
Neutrofil
P-LCR
RDW-CV
RDW-SD
Retikulosit

10,7
26,4
30,9
1,79
11,1
11,4
130
12,61
78,1
35,4
17,9
53,5
3,9

22,0-40,0
27,0-32,0
32,0-36,0
0,3-0,8
2,0-8,0
7,2-10,4
136-145
2,20-4,80
50,0-70,0
15-25
11,5-14,5
35,0-45,0
0,5-1,5

SGOT/AST

251

15-37

SGPT/ALT
Trombosit

46
540

<34
150-450

Pemeriksa

Tanggal

Hasil

an
Albumin

08/10/201
4

L
10^6/
L
mg/dL
g/dL
%
10^3/
L
%
Pg
g/dL
%
Fl
%
%
%
fL

10^3/
L

L
H
L
L
H
L
H
L
L
L
H
H
H
L
H
H
H
H
H
H
H
H
H

15

Assesment Berdasar Pemeriksaan Biokimia :


Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium kadar Hb, MCH,
dan MCHC rendah mengindikasi bahwa pasien mengalami anemia,
kadar

albumin

rendah

mengindikasi

pasien

mengalami

hipoalbuminemia, kadar SGOT dan SGPT tinggi mengindikasi pasien


mengalami gangguan fungsi hati. Kadar GDS tinggi karena pada
pasien kanker terjadi peningkatan resistensi insulin dan pelepasan
insulin yang tidak adekuat.
c. Pemeriksaan Fisik dan Klinik
1. Kesan Umum: Lemah, CM
2. Vital Sign
a. Tensi: 160/70 mmHg
b. Respirasi : 20x/menit
c. Nadi: 96x/menit
d. Suhu: 38,6 oC
3. Kepala/ Abdomen/Ekstremitas:
Kepala : CA +/+, SI -/Leher : JVD 5 + 2 cm H2O
Dada : I : simetris (+), KG (-)
P: VF ka : ki
P : Somer +/+
A : Vesikuler +/+
Terdapat luka pada payudara pasien
Abdomen : I : tkt , DC (-), Dsc
A : Peristaltik (+)
P : NT (-)
P : Timpani (+)
Ext: Akral hangat LRT C 2
4. Pemeriksaan Penunjang:
Topografi: St. Lokalis mammae. Massa ukuran 5x5 cm, keras,
batas tdk tegas, mobile terfiksir ke kulit, disertage (-)

Anamnesis Berdasarkan Pemeriksaan Fisik dan Klinik


Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik klinik pasien dalam keadaan
lemah,

CM,

suhu

tinggi

dengan

tekanan

darah

tinggi

yang

16

mengindikasi

pasien

mengalami

HT

St

I.

Pada

payudara

kananterdapat luka. Hasil pemeriksaan topografi ditemukan st. Lokalis


mammae dengan massa ukuran 5x5 cm, keras, batas tdk tegas,
mobile terfiksir ke kulit disertage (-).

d. Dietary History
Hasil Recall 24 jam diet di Rumah Sakit
Tanggal : 08 Oktober 2014
Diet RS : Lunak
Implementasi
Asupan oral
Infus
Standar Diet RS
% Asupan

E (kkal)
111`7,35
-

P (g)
40,19
-

L (g)
24,1
-

KH (g)
180,41
-

1659,46

60,65

61,19

231,48

67,33%

66,27%

39,4%

77,9%

Assesment Berdasarkan Asupan Makan :


Berdasarkan hasil Recall 24 jam di Rumah Sakit didapatkan
asupan zat gizi pasien

dibandingkan dengan standar diet di RS

berdasarkan kategori Gibson (2005) adalah kurang (<80%)


e. Riwayat Medis
Jenis
Obat/
tindakan
Amlodipin
e tab 5
mg
Ceftriaxon
e inj 1 g

Fungsi
Untuk hipertensi
Antibiotik

Efek samping/
Interaksi dengan
zat gizi
Mual,mintah,
edema
Apabila diminum
bersamaan dengan
antasid, susu, atau
zat yang
mengandung
garam, zink, zat
besi, atau kalsium
dapat
menyebabkan
penurunan absorbsi
dan penurunan
efektivitas

17

Curcuma
inj 1 g
Ketorolax
inj 30
mg/mL
NaCl inf

Ranitidin
50
mg/2mL
Ringer
lakta inf
500 mL
Tamoliv
ibf 10
mg/mL

C.

Peningkatan
makan
Mengurangi nyeri

antibiotik.
nafsu -

Dispepsia, sakit
kepala, gangguan
GI.
Mengatasi
dehidrasi Panas, infeksi pada
cairan intertisial
tempat
penyuntikan,
trombosis vena.
Untuk terapi gangguan Jarang:
mual,
GI
muntah, konstipasi
Mengembalikan
Panas, infeksi pada
keseimbangan elektrolit tempat
pada dehidrasi
penyuntikan,
trombosis vena.
Mengurangi nyeri dan
Kurang enak badan,
mengatasi demam dalam hipotensi, reaksi
jangka pendek
hipersensitivitas,
peningkatan kadar
transaminase
hepatik

Kesimpulan Assesment Gizi


Dihadapkan dengan pasien perempuan berumur 53 tahun dengan
diagnosa Ca Mammae Dextra T4cN1Mx dengan anemia, hipoalbumin, dan
sepsis. Pasien termasuk golongan menengah ke bawah. Pasien mempunyai
keluhan utama nyeri payudara kanan. Pasien merasakan adanya benjolan di
payudara kanan sejak 20 tahun yang lalu dan hipertensi sejak 20 tahun.
Kebiasaan makan pasien kurang baik karena tidak sesuai dengan syarat
menu gizi seimbang dan pasien sering mengkonsumsi makanan yang
digoreng dan bersantan. Status gizi pasien berdasarkan %LLA dalam
kategori kurang. Kesan umum pasien dalam keadaan lemah dan CM.
Tekanan darah tinggi mengindikasi pasien mengalami hipertensi, dan suhu
tubuh tinggi mnegindikasikan pasien mengakami sepsis. Hasil pemeriksaan

18

penunjang ditemukan st.lokalis mammae dengan massa ukuran 5x5 cm,


keras, batas tidak tegas, mobile terfiksir dikulit. Hasil recall 24 jam di RS
pada hari pertama asupan makan pasien kurang.

D.

Diagnosis Gizi
Domain Intake:
NI-5.1 Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan ca
mammae dan pre operasi dibuktikan dengan hasil lab kadar Hb 5,8
mg/dL, albumin 2,10 g/dL, status gizi kutrang (%LLA=77,5%), hasil
pemeriksaan fisik ditemukan massa lokalis mammae, dan hasil
recall 24 jam asupan makan pasien di RS kurang (<80%).
NI-2.1 Penurunan kebutuhan zat gizi spesifik (Na) berkaitan dengan pre op
dibuktikan dengan tekanan darah 160/70 mmHg
Domain Klinis:
NC-3.2

Penurunana

BB

yang

tidak

diharapkan

berkaitan

dengan

peningkatan kebutuhan zat gizi karena katabolisme yang berlebihan


akibat sakit dibuktikan dengan nafsu makan berkurang saat sakit
(Ca mammae).
E.

Intervensi Gizi
1. Tujuan Diet
a. Membantu mempersiapkan keadaan pasien menghadapi operasi.
b. Membantu meningkatkan asupan makan pasien.
c. Membantu mengontrol tekanan darah
d. Membantu meningkatkan kadar albumin dan Hb
2. Syarat Diet
a. Energi diberikan tinggi
b. Protein diberikan tinggi 1,5g/kg BB
c. Lemak diberikan sedang 25% dari total kebutuhan energi.
d. Karbohidrat sisa energi dikurangi protein dan lemak.
e. Na dibatasi 1000-1200 mg/ hari.
f. Makanan diberikan makanan sesuai dengan daya cerna dan
kesesuain pasien.

19

3. Perhitungan energi dan zat gizi


Rentang lengan : 138 Cm
Rumus Estimasi TB :
81,0 + (0,48xRL) = 81,0 + (0,48 x 138)
= 81,0 + 66,24
= 147,24 Cm
BBI = (TB 100) = 147,24 100
= 47,24 Kg
a. Energi
BEE = 655 + (9,6 x BB) + (1,8 x TB) (4,7 x U)
= 655 + (9,6 x 47,24) + (1,8 x 147,24) (4,7 x 53)
= 655 + 453,504 + 265,032 249,1
= 1124,436
TEE = BEE x FA x FS
= 1124,436 x 1,1 x 1,4
= 1731,63 Kkal
b. P : 1,5 g/kg/BBI = 1 g x 47,24 kg = 70,86 g
c. L : 25% x E total = 25% x 1731,63 Kkal = 432,9 Kkal/ 9 = 48,1 g
d. KH : (1731,63 283,44 432,9) Kkal = = 253,82 g

4. Terapi Diet : TKTP RG III


Bentuk makanan : Lunak
Cara pemberian: Oral
Pembahasan Preskripsi Diet:
Pasien diberikan diet TKTP RG III karena pasien menderita ca
mammae dengan hipertensi dan akan sedang mempersiapkan
operasi. Makanan diberikan dalam bentuk makanan lunak. Cara
pemberian kepada pasien secara oral karena pasien dapat menerima
makanan secara oral. Makanan utama diberikan 3 kali dalam sehari
dan selingan diberikan 2 kali sehari.
F. Rencana Konsultasi Gizi

20

Masalah Gizi

Tujuan

Materi

Keterangan

Asupan makan

Konseling
Meningkatkan Motivasi untuk

Edukasi

kurang

pengetahuan

menghabiskan

diberikan

Hipoalbuminemia

pasien dan

makanan,

kepada pasien

keluarga

Diet TKTP dan

dan keluarga

Anemia

tentang diet

rendah garam

pasien secara

Hipertensi

hipertensi

(makanan yang

lisan dengan

dan

diperbolehkan

menggunakan

persiapan

dan dibatasi).

media leaflet.

operasi.

G. Rencana Monitoring dan Evaluasi Keberhasilan Terapi Diet

Anamnesis

Yang diukur

Pengukuran

Evaluasi/target

Keluhan

Setiap hari

Keluhan pasien
berkuranng

Antropometri

LLA

Biokimia

Hb
Albumin

Awal dan akhir


perawatan

Berkala
kolaborasi
dengan tenaga
medis lain

Peningkatan
status gizi
menjadi lebih
baik

Mendekati batas
normal

21

Klinik,fisik

Tekanan
darah
Respirasi
Nadi
Suhu

Setiap hari

Mendekati batas
normal

Asupan zat gizi

Asupan E, P,
L, KH

Setiap hari

Asupan pasien
baik >80%

H. Implementasi
.

Kajian Terapi Diet


Jenis Diet: TKTP RG III /Bentuk Makanan: Lunak / Cara Pemberian: Oral

Standar Diet RS
Infus
Kebutuhan (planning)
%standar kebutuhan

Energi

Protein

Lemak (g)

KH (g)

(kkal)
1659,46
1731,63
95,8%

(g)
60,65

61,19

231,48

70,86
85,59%

48,1
125%

253,82
91,2%

Pembahasan Diet RS:


Berdasarkan hasil kajian terapi diet RS dibandingkan dengan
kebutuhan pasien sudah cukup akan tetapi perlu ditambahkan dengan
protein

agar asupan

protein

pasien tercukupi untuk persiapan

mengahadapi operasi, sedangkan persentase lemak terlalu tinggi


>120%.

I.

Rekomendasi Diet
Lunak RG -- Lunak RG ex. putel
Standar Diet RS
Makan
Pagi

Selingan

Snack

BBN
L.Hewani
L.Nabati
Sayur
Teh manis

300 g
50 g
25 g
100 g
200 mL
1 ps

Rekomendasi Standar Diet


BBN
300 g
L.Hewani (telur)
50 g
Putel
40 g
L.Nabati
25 g
Sayur
100 g
Susu non fat
100 mL
Snack
1 ps

22

Pagi
Makan
Siang

Selingan
Sore

Makan
Malam

BBN
300 g
L.Hewani
50 g
L.Nabati
25 g
Sayur
100 g
Buah (semangka) 100 g

Teh manis
Snack

BBN
L.Hewani
L.Nabati
Sayur
Buah (pisang)

200 mL
1 ps
300 g
50 g
25 g
100 g
50 g

E: 1659,46 Kkal
P: 60,65 g
L: 61,19 g
KH: 231,48 g
E: 1731,63 Kkal
P: 70,86 g
Kebutuhan
L: 48,1 g
KH: 253,82 g
%

E: 95,8%
P: 85,59%
L: 125%
KH: 91,2%

BBN
300 g
L.Hewani (telur)
50 g
Putel
40 g
L.Nabati
25 g
Sayur
100 g
Buah (semangka) 100 g

Teh tawar
Snack

200 mL
1 ps

BBN
L.Hewani (telur)
Putel
L.Nabati
Sayur
Buah (pisang)
E: 1719,36 Kkal
P: 73,25 g
L: 50,54 g
KH: 242, 68 g
E: 1731,63 Kkal
P: 70,86 g
L: 48,1 g
KH: 253,82 g
E: 99,29%
P: 103,37 g
L: 105,07%
KH:95,61%

Penerapan Diet Berdasarkan Rekomendasi


Pemesanan Diet: Lunak RG III ex. Putel
Rekomendasi diet lunak RG III ex pt diberikan untuk mencukupi
kebutuhan protein pasien dan membantu meningkatkan kadar albumin
pada pasien. Pemberian teh manis pada pagi hari diganti dengan susu
skim, dan pemberian teh manis pada snack sore diganti dengan teh tawar.
Lauk dihewani untuk menu pagi, siang dan sore diberikan telur rebus
karena pasien tidak menyukai makanan berbau amis seperti daging, ayam,
dan ikan.

23

300 g
50 g
40 g
25 g
100 g
50 g

J.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Penerapan Konseling
Pokok Bahasan
: Pre operasi ca mammae, hipertensi
Hari dan Tanggal
: Senin, 29 September 2014
Tempat
: Cendana 2/ K.10 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Waktu
: 20 menit
Sasaran
: Pasien dan Keluarga pasien.
Materi
: Diet TKTP RG III
Media
: Leaflet

BAB IV
PEMBAHASAN MONITORING DAN EVALUASI
A. Monitoring dan Evaluasi Data Subyektif
1. Monitoring dan evaluasi Keluhan Utama Pasien
Berdasarkan monitoring selama 6 hari keluhan umum pasien yaitu
nyeri payudara terus dirasakan dan disertai nyeri pada perut hingga hari
ke -6 monitoring. Pada tanggal 15 Oktober 2014 setelah dilakukan
biopsi pre op keluhan nyeri perut masih dirasakan hingga akhir

24

pengamatan pada tangggal 18 Oktober 2014, akan tetapi rasa nyeri


berkurang sejak tanggal 17 Oktober 2014.
B. Monitoring dan Evaluasi Data Obyektif
1. Monitoring dan Evaluasi Data antropometri
Tanggal
09 oktober 2014
14 Oktober 2014

LLA
23,8 Cm
24 Cm

%LLA
77,52%
78,18%

Status Gizi
Underweigh
Underweight

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi status gizi pasien


berdasarkan LLA yang diukur pada saat awal kasus dan pada akhir kasus
secara signifikan tidak ada peningkatan. Hal ini dapat dikarenakan
asupan nutrisi yang masuk

juga di gunakan oleh pertumbuhan kanker,

sehingga asupan nutrisi untuk jaringan yang lain berkurang.

25

2. Monitoring dan evaluasi data biokimia


Jenis
Pemeriksaa
n
Albumin
Eosinofil
Eritrosit
GDS
Hb
Hct
INR
Kreatinin
Leukosit
Limfosit
MCH
MCHC
Monosit
MPV
Na
Neutrofil
P-LCR
RDW-CV
RDW-SD
Retikulosit
SGOT/AST
SGPT/ALT
Trombosit

Nilai
Normal
3,405,00
2,0-4,0
4,205,20
74-140
12-14
36,048,0
0,91,10
0,6-1,3
4,5011,0
22,040,0
27,032,0
32,036,0
2,0-8,0
7,210,4
136145
50,070,0
15-25
11,514,5
35,045,0
0,5-1,5
15-37
<34
150-

Satuan

g/dL

Tanggal Pemeriksaan
08/10/201
13/10/2014
4
2,10 (L)

2,94 (L)

0,0 (L)
10^6/L

2,20 (L)

3,94 (L)

mg/dL
g/dL

156 (H)
5,8 (L)

10,5 (N)

18,8 (L)

33,3 (L)

1,14 (H)
0,50 (L)
10^3/L

16,13 (H)

8,86 (N)

10,7 (L)

8,9 (L)

Pg

26,4 (L)

84,5 (H)

g/dL

30,9 (L)

27,7 (L)

11,1 (H)

11,2 (H)

Fl

11,4 (H)

10,9 (H)

130 (L)

135 (N)

78,1 (H)

79,6 (H)

35,4 (H)

31,7 (H)

17,9 (H)

15,9 (H)

fL

53,5 (H)

47,0 (H)

10^3/L

3,9 (H)
251 (H)
46 (H)
540 (H)

592
26

450
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kadar albumin
rendah

mengindikasi

bahwa

pasien

mengalami

hipoalbuminemia.

Rendahnya kadar albumin pada pasien kanker menurut Saslow, et.al


(2002) dapat disebabkan oleh tiga hal, yaitu penurunana asupan makan,
malabsorbsi, dan pengaruh mediator katabolik yang dihasilkan oleh sel
tumor itu sendiri diantaranya seperti sitokin-alfa, interleukin, dan
interferon gama.
Penurunan kadar Hb pada pasien kanker mengindikasikan bahwa
pasien mengalami anemia. Kejadian anemia pada pasien kanker menurut
Dicato (2013) terjadi karena interaksi sel kanker/sel tumor dengan sistem
imun pejamu yang mendorong pengaturan inflamasi sitokin spesifik
seperti interleukin-1 (IL-1), interferon gamma (IFN-) dan faktor nekrosis
tumor (TNF-). Peingkatan kadar sitokin ini akan menekan progenitor
eritroid burst-forming unit erythroid (BFU-E) dan colony-forming unit
erythroid (CFU-E) di sumsum tulang, sehingga mengganggu metabolisme
besi dan mengurangi produksi eritropoietin (EPO).
Dalam penanganan medis/ operasi kadar albumin dan Hb harus
mendekati nilai normal, untuk itu diperlukan tranfusi darah dan albumin
serta dukungan dari asupan makanan. Hasil monitoring laboratorium
terjadi peningkatan kadar Hb dan albumin hingga pasien siap untuk
menjalani tindakan selanjutnya (operasi). Setelah dilakukan tindakan
pada tanggal 15 kadar Hb pasien turun menjadi 7,12 g/dL dan dilakuakan
tindakan tranfusi PRC pada tanggal 18 Oktober 2014 dengan target kadar
Hb >10 g/dL.

27

3. Monitoring dan evaluasi data fisik dan klinik


Tgl
09

TD

Pemeriksaan/Tindakan

KU

St.lokalis mammae
Masa uk.5x5 cm, keras,

Lemah,CM,

batas tdk tegas, mobile


10

terfiksir ke kulit.
USG: Hepakal metastase
Tranfusi albumin

Sedang,

11

CM
Sedang,

12

Tranfusi PRC

CM
Sedang,

Tranfusi

sampai

CM,
Sedang,

Mammae

CM,
Baik,
Sedang,

13

PRC

Hb>10 g/dL
14
15

Bioposi:

Ca

T4cN1M1

CM
Sedang,

16

RR

T
O

(mmHg)

(x/mnt)

(x/mnt)

( C)

160/70

96

20

38,6

140/90

88

37,7

110/80

88

150/90

88

36,3

120/80

84

110/80

88

140/70

80

20

120/80

100

37,5

120/70

90

36,2

120/60

90

36,4

peristaltik
(+), luka op
tdk
merembes
Sedang,

17

luka

op

tidak
18

Tranfusi

PRC

Hb>10 g/dL

sampai

merembes
Sedang,
luka

op

tidak
merembes

Berdasarkan hasil monitoring pemeriksaan fisik klinik pada saat awal


kasus terdapat st lokalis mammae dengan massa ukuran 5x5 cm, keras,
batas tdk tegas, mobile terfiksuir di kulit dengan metastase yang belum
diketahui. Untuk menegakkan diagnosis Ca mammae dan mengetahui
adanya metastase sel kanker diperlukan adanya pemeriksaan imaging

28

sebagai pemeriksaan penunjang (Machsoos, 2007). Pemeriksaan penunjang


yang dilakukan untuk pasien Ny. P degan ca mammae adalah USG.
Berdasrakan hasil USG pada tanggal 10 Oktober 2014 dapat disimpulkan
bahwa terjadi hepakal metastase dari ca mammae.
Hasil monitoring klinik fisik yaitu keadaan umum, tekanan darah, respirasi,
nadi, suhu selama monitoring mengalami perbaikan dan tekanan darah
dalam keadaan stabil normal, sehingga pasien siap untuk menjalankan
operasi pada tanggal 15 Oktober 2014. Keadaan umum post op pasien
dalam keadaan sedang dan luka op tidak merembes hingga akhir monitoring
pada tanggal 18 Oktober 2014. Hasil pemeriksaan vital sign setelah
dilakukan tindakan medis pada tanggal 15 dalam keadaan stabil baik.
4. Monitoring dan evaluasi makanan pasien
09/10/2014

Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

E (Kkal)
1348,874
1731,63

P (g)
44,36
70,86

L (g)
43,89
48,1

KH (g)
201,771
253,82

77,89%

62,6

91,24

79,49

Na (mg)
191,125
1000-1200

10/10/2014
Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

E (Kkal)
1515,565
1731,63
87,52

P (g)
51,19
70,86
72,24

L (g)
36,44
48,1
75,76

KH (g)
227,705
253,82
89,71

Na (mg)
329,9
1000-1200

E (Kkal)
1583,65
1731,63
91,45

P (g)
69,689
70,86
98,35

L (g)
47,275
48,1
98,28

KH (g)
233,155
253,82
91,86

Na (mg)
685,4
1000-1200

11/10/2014
Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

12/10/2014

29

Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

E (Kkal)
1604,34
1731,63
92,6%

P (g)
76,518
70,86
107,9%

L (g)
44,34
48,1
92,18%

KH (g)
212,62
253,82
83,77

Na (mg)
657,2
1000-1200

E (Kkal)
1408,65
1731,63
81,35%

P (g)
61,4
70,86
86,66%

L (g)
37,28
48,1
77,5%

KH (g)
215,05
253,82
84,72%

Na (mg)
511,85
1000-1200

KH (g)
226,06
253,82
89,06%

Na (mg)
475,095
1000-1200

13/10/2014
Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

Asupan rata-rata pasien tanggal 09-14 Oktober 2014

Asupan oral
Kebutuhan
%Asupan/
Kebutuhan

E (Kkal)
1492,22
1731,63
86,17%

P (g)
60,63
70,86
85,56%

L (g)
41,84
48,1
86,98%

Berdasarkan hasil monitoring asupan makan pasien selama 5 hari


asupan makan pasien meningkat setelah diberikan motivasi. Asupan makan
rata-rata pasien selama monitoring dibandingkan dengan kebutuhan adalah
energi 86,17%, protein 85,56%, lemak 86,98%, karbohidrat 89,06%, dan
natrium 475,095 mg/hari. Hal ini menunjukkan bahwa asupan makan pasien
menurut Gibson (2005) dalam kategori baik (>80%) dan asupan natrium
sudah sesuai stadium hipertensi stage I dengan batas maksimalnya 10001200 mg/hari (Almatsier, 2010).
Penambahan garam dapur pada saat pemasakan untuk pasien
dengan diet RG dengan bentuk makanan bubur nasi berdasarkan standar
diet rendah garan (RG) RSUP Dr. Sardjito diberikan pada bubur nasi dan
lauk hewani.

30

C. Monitoring dan Evaluasi Diagnosis Gizi


Domain Intake:
NI-5.1 Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan ca mammae
dan pre operasi dibuktikan dengan hasil lab kadar Hb 5,8 mg/dL, albumin
2,10 g/dL, status gizi kutrang (%LLA=77,5%), hasil pemeriksaan fisik
ditemukan massa lokalis mammae, dan hasil recall 24 jam asupan makan
pasien di RS kurang (<80%).
NI-2.1 Penurunan kebutuhan zat gizi spesifik (Na) berkaitan dengan pre op
dibuktikan dengan tekanan darah 160/70 mmHg

Domain Klinik:
NC-3.2Penurunana

BB

yang

tidak

diharapkan

berkaitan

dengan

peningkatankebutuhan zat gizi karena katabolisme yang berlebihan


akibat sakit dibuktikan dengan nafsu makan berkurang saat sakit dan ca
mammae.
D. Perkembangan Terapi Diet
Tanggal
09/10/2014

Jenis Diet
TKTP RG III

Keterangan
Diberikan untuk memprersiapkan
tindakan operasi ca mammae
dan pasien mempunyai hipertensi

1014/10/2014

TKTP RG ex PT lauk telur

st.I
Penambahan putih telur pada
menu

makanan

dikarenakan

asupan

pasien
protein

pasien kurang dan kadar albumin


pasien rendah, sehingga selain
diberikan tindakan dokter dengan

31

tranfusi

albumin

diperlukan

dukungan asupan yang dapat


membantu meningkatkan kadar
albumin.
Lauk telur

diberikan

karena

pasien tidak menyukai makanan


yang berbau amis seperti daging,
ayam, dan ikan.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pelaksanaan studi kasus mendalam di Cendana 2 RSUP
Dr.Sardjito Yogyakarta pada tanggal 09-14 Oktober 2014 diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Keluhan nyeri perut masih dirasakan pasien hingga akhir kasus keluhan
nyeri telah berkurang..

32

2. Asupan makanan pasien mengalami peningkatan dari hari ke hari, dan


telah mencapai target yang diharapkan yaitu asupan >80% . Asupan ratarata energi 1731,63 Kkal, protein 70,86 g, lemak 86,98 g, karbohidat
253,82 g, dan natrium 475,095 mg.
3. Status gizi pasien hingga akhir kasus tidak ada perubahan secara
signifikan, status gizi pasien adalah kurang dengan %LLA akhir kasus
78,18%.
4. Hasil pemeriksaan kadar albumin, Hb dan tekanan darah mengalami
peningkatan hingga memenuhi syarat untuk dilakukan tindakan operasi,
yaitu kadar albumin 2,94 g/dL dan Hb 10,5 g/dL.
5. Tekanan darah telah mencapai batas normal dan stabil hingga akhir
kasus yaitu120/60 mmHg.

B. Saran
Diharapkan Instalasi gizi RSUP Dr.Sardjito membuat diet rendah garam
sesuai dengan tingkatan/ stage hipertensi pasien. Sehingga pemberian diet
RG I, II, dan III dapat dibedakan.

33

Recall 24 jam Hari ke-1

Menu
Makan Siang
(08/10/2014)
Bubur
Steak daging
cincang
Tempe bb balado
Bobor bayam+lb
kuning
Puding

Snack sore
Biskuit
Teh manis
Makan Sore
(08/10/2014)
Bubur
Pepes Ikan
Tahu bb Gadon
Ca kangkung +

Bera
t (g)

E
(Kkal
)

P (g)

L (g)

KH
(g)

300

137,2

2,5

0,2

30,2

10
25
69,3
75
50

36,25
62,8

2,925
4,9

2,25
2,9

0,975
5,2

50,51
58
344,7
6

2,025
0

6,225
15

12,35

2,625
0
7,97
5

55,88
78,4
134,2
8

0,94
0

1,75
0

0,15
20,2

0,94

1,75

20,35

137,2
35,15
68,7
19,9

2,5
5,9
4,4
1,7

0,2
1,15
5,1
1,2

30,2
0
2,7
1

Na
(mg)

34,1

12,5
200

300
27,5
50
76

0,2
34,3

57,6
0
15
15

15,15

34

tong jae
Semangka

92

Makan Pagi
(09/10/2014)
Bubur
Ayam bb gulai
Tempe bacem
Ca sayuran
Teh Manis
Snack Pagi
(09/10/2014)
Dadar enten

300
12,5
25
71
200

TOTAL

29,5
290,4
5

137,2
43,26
58,8
30,2
78,4
347,8
6

0
1117,
35

1,8
16,95

0,6

0,4

6,6

15,1

8,05

40,5

2,5
4
4,8
1
0
11,8

0,2
3,025
1,9
1,2
0
6,32
5

30,2
0,46
6,5
4,6
20,2
61,9
6

40,19

24,1

0
180,
41

0
90,7
5

P (g)

L (g)

KH
(g)

0,15

19,875

0
0

0
0

10

15
24,5

Recall 24 jam Hari ke-2


Menu

Bera
t (g)

E
(Kkal)

Na
(g)

Makan Siang
(09/10/2014)
Nasi
Dging bb rujak
Rolade tahu kukus
Bening bayam+jagung
sisir
Pepaya

50
0
0
36,2
5
100

0
0

1,67
5
0
0

21,325

1,25

0,1

4,7

39

0,6
3,52
5

0,1

9,8

0,35

34,375

5,7
0
5,7

10,5
20,2
30,7

8
15
23

90,25

150,575
Snack sore
Roti manis isi jam
Teh manis

25
200

100,75
78,4
179,15

1,4
0
1,4

0
0

35

Makan Sore
(09/10/2014)
Bubur
Telur bb tomat
Tempe bb semur
Sup sayuran
Pisang ambon

300
55
25
60
60

137,2
115
64,25
28,9
55,2
400,925

2,5
6,9
5
0,8
0,6
15,8
75

0,2
8,65
2,9
1,1
0,3

30,2
1,95
5,5
4,6
14,05

13,15

56,3

0,15

19,875

10,1
6,4

0,9
0,7

3
74,4

16,65

21,475

77,4

3,7

68

0,6
69,02
5

Makan Pagi
(10/10/2014)
Makanan dari Luar
RS
Nasi
Tahu goreng
Telur rebus

50
50
60

90,25
103
93,1
286,35

Makanan RS
Bubur
Ayam bb rujak
Tahu bacem
Kimlo
Teh Manis

300
5
57.2
5
43,8
75
200

137,2
15,2

2,5
1,34

0,2
0,94

30,2
0,24

69

4,3

5,1

1,8

7,84

20,2

15

8,04

61,396

18,7

2,2
43,8
9

31,9
201,7
71

0
191,1
25

34,65
78,4
334,449

Snack Pagi
Nagasari

80

TOTAL

1,67
5
3,7
7,6
12,9
75

148
1348,8
74

2,14
5
0
10,2
85
1,7
44,3
6

Recall 24 jam Hari ke-3

Menu
Makan Siang (10/10/2014)
Bubur
Ayam bb bali
Tempe bb sate

Ber
at
(g)

E
(kkal)

P
(g)

L (g)

KH
(g)

Na
(mg)

300
5
28.2

137,2
15,2
14,125

2,5
1,34
3

0,2
0,94
2

30,2
0,24
2,685

3,7

36

5
Podomoro
kangkung+kedelai putih
Buah semangka

90
92

67,5
29,5
263,52
5

3,8
0,6
10,7
4

4,5
0,4

1,8
5,5

7,54

4,6
6,6
44,32
5

0
15
15

Snack sore
Roti bola-bola warna
Teh manis

40
200

82,8
78,4
161,2

1,8
0
1,8

0,8
0
0,8

17,2
20,2
37,4

Makan Sore (10/10/2014)


Bubur
Telur ceplok
Tahu bacem kicik
Kare sayuran
Pepaya

300
60
50
87.5
100

137,2
128,4
51,25
74,74
39
430,59

2,5
6,9
4,1
1,4
0,6
15,5

0,2
10,8
2,9
4,6
0,1
18,6

30,2
0,6
3,1
8,56
9,8
52,26

300
60
50

137,2
93,1
51,4

2,5
7,6
1,5

0,2
6,4
1,2

30,2
0,7
9,8

75

44,95
112

1,3
0,4

8,32
20,3

438,65

1,35
7,1
20,0
5

9,5

69,32

221,6
1515,
565

3,1
51,1
9

12,6
36,4
4

24,4
227,7
05

P (g)

L (g)

KH
(g)

Makan Pagi ( 11/10/2014)


Bubur
Telur
Tahu bb kuning
Tumis kacang
panjang+labu siam
Susu

Snack Pagi (11/10/2014)


Lapis beras

55

TOTAL

68,2

3
71,2

74,4

163,8
238,2

0
329,9

Recall 24 jam Hari ke-4


Menu

Ber
at

E
(Kkal

Na
(mg)

37

(g)

137,2
46,55
47,1
41,85

2,5
3,8
4,6
2,55

0,2
3,2
2,7
0,95

30,2
0,35
1,3
5,15

Soto kol+tauge
Pepaya

300
30
40
12,5
13,7
5
100

14,7

0,75

1,8

39
326,4

0,6
14,8

0,1
8,95

9,8
48,8

Snack Sore
Teh tawar
Roti karamel

200
50

0
142,4
142,4

0
4
4

0
1,4
1,4

0
28,4
28,4

Makan Sore
(11/10/2014)
Bubur
Telur
Opor putel
Tahu goreng

300
60
40
50

137,2
93,1
47,1
81,1

60
120

0,2
6,4
2,7
7,4
0,82
5
0,6
18,1
25

30,2
0,7
1,3
0,9

Gangan
Pisang ambon

2,5
7,6
4,6
4,1
1,12
5
1,2
21,1
25

0,2
11,0
75
2,77
5
1,9

30,2

58,92

2,5
6,60
7
4,50
7
4,8

32,39

1,85

1,35

4,44

112,3
500,0
5

7,1
27,3
64

0,4

20,3

163,8

17,7

65,49

298,6

113,8
113,8
1583,
65

2,4
2,4
69,6
89

1,1
1,1
47,2
75

23,6
23,6
233,1
15

Makan Siang
(11/10/2014)
Bubur
Telur
Putel bb lapis
Tempe oseng

32,1
110,4
501

Makan Pagi
(12/10/2014)
Bubur

300

Rendang telur

55

Rendang putel
Tempe bacem
Oseng sawi
putih+wortel
Susu

40
25

Snack Pagi
Kue lumpur

TOTAL

77,5

55

137,2
108,4
2
50,82

37,2
135,5

3
175,7

74,4
135,5

5,625
28,1
66,82
5

1,2
211,1

1,75

68,2

2,15

66,6

6,65

685,4

38

Recall 24 jam Hari ke-5

Menu
Makan Siang
(12/10/2014)
Bubur
Telur
Semur putel
Semur tahu
Sayur asem jakarta
Melon

Snack Sore
Teh tawar
Biskuit
Makan Sore
(12/10/2014)
Bubur
Telur
Kalio putel
Tempe ungkep
Sup sayuran+misoa
Pisang ambon
Makan Pagi
(13/10/2014)
Bubur
Telur
Putih telur
Tahu bb bali
Asem-asem buncis
Susu

Ber
at
(g)

E
(Kkal
)

300
60

137,2
93,1

40

40,53

50

58,53

97
92

72,4
35,2
436,9
6

200
25

0
111,7
6
111,7
6

P (g)

L (g)

2,5
7,6
4,80
7
4,70
7
2,73
0,6
22,9
44

0,2
6,4
1,22
5
3,62
5
3,1
0,2
14,7
5

Na
(mg)

30,2
0,7

74,4

2,475

135,6

2,975
10,9
7,6

0,9

54,85

210,9

1,88

3,5

0,3

1,88

3,5

0,3

0,2
6,4
2,77
5
2,11
5
1,2
0,6
13,2
9

30,2
0,7

74,4

2,15

67

0,2
6,4
0
3,4
1,3
0,4
11,7

300
60

137,2
93,1

40

50,82

25

63,22

78
120

27,8
110,4
482,5
4

2,5
7,6
4,50
7
5,50
7
1
1,2
22,3
14

137,2
93,1
20
51,73
44,95
112,3
459,2

2,5
7,6
4,2
4,23
1,35
7,1
26,9

300
60
40
50
75
200

KH
(g)

6,6
4,2
28,1

1,2

71,95

142,6

30,2
0,7
0,4
2
8,32
20,3
61,92

74,4
65,5

163,8
303,7

39

Sack Pagi
Puding labu

55

TOTAL

113,8
126,9
1604,
34

2,4
2,7
76,5
18

1,1
1,2
44,3
4

23,6
26,2
212,
62

657,2

Recall 24 jam Hari ke-6

Menu
Makan Siang
(13/10/2014)
Bubur
Telur
Semur putel
Tempe oseng
Ca sayuran
Buah semangka

Snack sore
Teh tawar
Roti kukus
Makan Sore
(13/04/2014)
Bubur
Telur
Putel bb gulai
Tahu ungkep
Sup bayam+wortel
Buah pisang susu

Ber
at
(g)

E
(Kkal)

300
60

137,2
93,1

40

40,53

25

64,4

22,5

8,925

92

P (g)

L (g)

KH
(g)

Na
(mg)

0,2
6,4

30,2
0,7

74,4

1,225

2,475

135,6

2,9

5,56

0,3

1,5

29,5
373,65
5

2,5
7,6
4,80
7
4,92
5
0,32
5
0,6
20,7
57

0,4
11,42
5

6,6
47,03
5

61

126,9
126,9

2,7
2,7

1,2
1,2

26,2
26,2

300
60

137,2
93,1

0,2
6,4

30,2
0,7

40

51,425

2,7

2,3

25

21,562
5

2,5
7,6
4,52
5
2,11
25
1,27
5
0,8
18,8
13

1,2

0,9

5,175

0,4

19
58,37
5

65,2
5
81

30
74,5
407,78
75

11,8

1,8
211,8

13,4
13,4

74,4
140,2
5

0,8
215,4
5

Makan Pagi

40

(14/10/2014)
Bubur
Ayam bb kicik
Putel bb kuning
Tempe bb kuning
Orak-arik
wortel+kol
Teh manis

Snack Pagi
Cantik manis

TOTAL

300
50

137,2
156,35
10,132
5
0

2,5
13,4
1,20
18
0

0,2
9,9
0,306
25
0

30,2
9,5
0,618
75
0

52,5

25,725

1,05

1,05

2,925

100

78,4
407,80
75

0
18,1
52

0
11,45
63

20,2
63,44
38

92,5
92,5
1408,
65

1
1
61,4
21

1,4
1,4
37,28
13

20
20
215,0
54

10

50

37,3
33,9

71,2

511,8
5

41

LAMPIRAN
MONITORING, EVALUASI, DAN TINJAK LANJUT

Monitoring Assesmen Gizi

Evaluasi dan Tindak


Monitoring

Tanggal

Diagnosis Medis

Antropometri

Biokimia

Fisik dan Klinis

Asupan

Lanjut (Terapi Diet


Diagnosis Gizi
dan Konseling Gizi)

09/10/2014

Ca Mammae

RL= 138 cm

Hb: 5,8 g/dL

KU: Lemah, CM,

E: 77,9%

NI- 5.1

Asupan E, P, dan

Dextra T4cN1Mx

Estimasi TB=

Alb: 2,1 mg/dL

nyeri payudara

P: 62,6%

NI-5.4

KH kurang ( <80%)

Anemia

147,24 Cm

TD: 160/80 mmHg

L: 91,2%

NC-3.2

Motivasi untuk

Hipoalbuminemia,

BBI= 47,24Cm

N: 96 x/mnt

KH: 79,5%

menghabiskan

Sepsis

LLA= 23,8 Cm

RR: 20 x/mnt

Na: 423,725 mg

makanan dari RS

42

%LLA= 77,5%

t: 38,6 OC

dan anjuran tidak


membeli makanan
dari luar RS selama
masa perawatan.

10/10/2014

Ca Mammae

KU: Sedang, CM,

E; 88,4%

NI- 5.1

Asupan E dan KH

Dextra T4cN1Mx

nyeri payudara dan

P: 72,24%

NI-5.4

cukup, asupan P & L

Anemia

nyeri perut

L: 75,76%

NC-3.2

kurang (<80%).

Hipoalbuminemia,

TD: 140/90 mmHg

KH: 87,7%

Perlu sitambahkan

Sepsis

N: 88x/mnt

Na: 568,16%

ex putel

t: 37,7 C
USG: Ca Mammae
hepakal metastase.
11/10/2014

Ca Mammae

KU: Sedang, CM,

E: 91,45%

NI- 5.1

Asupan makan

Dextra T4cN1M1

nyeri perut dan

P: 98,35%

NI-5.4

pasien cukup baik

Hepakal

payudara

L: 998,28%

NC-3.2

(>80%)

metastase

TD: 110/80 mmHg

KH: 91,86 %

Anemia

N: 88x/mnt

Na: 717,15 mg

Ca Mammae

KU: Sedang, CM,

NI- 5.1

Asupan makan

Dextra T4cN1M1

nyeri perut dan

E: 93,41%
P: 108,4%

NI-5.4

pasien cukup baik

Hipoalbuminemia,
Sepsis
12/10/2014

43

Hepakal

payudara

metastase

TD: 150/90 mmHg

Anemia

N: 88x/mnt

L: 92,329 %
KH: 84,79 %

NC-3.2

E: 81,35 %
P: 86,66 %
L: 77,5 %
KH: 84,72%

NI- 5.1

(>80%)

Hipoalbuminemia,
Sepsis

13/10/2014

Ca Mammae

BB: 43,5 kg

Hb: 10,5 g/dL

Dextra T4cN1M1

LLA= 24 Cm

Alb: 2,94

Hepakal

%LLA= 78,18%,

mg/dL

Ca Mammae

BB: 43,5 kg

Hb: 10,5 g/dL

Dextra T4cN1M1

LLA= 24 Cm

Alb: 2,94

Hepakal

%LLA= 78,18%,

mg/dL

metastase

KU: Sedang, CM
TD: 120/80
mmHg
N: 88x/mnt

NI-5.4
NC-3.2

Asupan makan
pasien cukup baik
(>80%)

Anemia
Hipoalbuminemia,
Sepsis
14/10/2014

KU: Baik, CM
TD: 110/80
N: 88x /mnt

NI- 5.1
NI-5.4
NC-3.2

Dipuasakan karena
akan menjalankan
operasi

metastase
Anemia
Hipoalbuminemia
15/10/2014

Ca Mammae
Dextra T4cN1M1

KU: Sedang
TD: 140/70

Cek lab pre op

44

Hepakal

N: 80x /mnt
RR: 20x /mnt

metastase

16/10/2014

Ca Mammae
Dextra T4cN1M1
Hepakal
metastase

Hb: 7,12 g/dL

TD: 120/80

Tranfusi PRC

mmHg
N: 100x / mnt
t: 37,5 oC

Post biopsi
17/10/2014

Ca Mammae

TD: 120/70

Dextra T4cN1M1

mmHg
N: 90x /mnt
t: 36,2oC

Hepakal
metastase
Anemia
18/10/2014

Ca Mammae

TD: 120/60

Tranfusi PRC

Dextra T4cN1M1

mmHg
N: 90x / mnt
t: 36,4oC

sampai Hb >10 g/dL

Hepakal
metastase
Anemia

45

46