Anda di halaman 1dari 12

IKAN BANDENG

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Hewan Air

Di susun oleh :
Ira Sri Destiawati
Ashma Karimah
G. B. Kharis Dio A.
Awaluddin
Adi Zulkarnaen
Khusnul Khatimah
Nasdwiana
Turissa Pragunanti

230110120108
230210120050
230210120061
230210141001
230210141002
230210141003
230210141004
230210141005

Perikanan dan Kelautan


Kelompok 10

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN

2014

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah

melimpahkan

rahmat

dan

karunia-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan penyusunan tugas Makalah Fisiologi Hewan Air Tentang Ikan


Bandeng ini. Tugas berupa makalah yang telah terselesaikan ini merupakan salah
satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Hewan Air.
Proses penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih
sebanyak-banyaknya kepada pihak yang telah terlibat dalam penyusunan makalah
kali ini. Semoga bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada
penulis selama penyelesaian makalah ini mendapat balasan yang tiada terkira dari
Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan sangat
jauh dari kata sempurna. Akhir kata, kami penulis berharap semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jatinangor, 28 November 2014

Kelompok 10

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Bab
I.

II.

III.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................

1.2 Tujuan.............................................................................................

PEMBAHASAN
2.1 Sistem Reproduksi Ikan Bandeng...................................................

2.2 Sistem Osmoregulasi Ikan bandeng................................................

2.3 Sistem Pernafasan Ikan bandeng....................................................

2.4 Sistem Pencernaa Ikan bandeng......................................................

2.5 Sistem Peredaran darah Ikan bandeng............................................

2.6 Sistem Otot Ikan bandeng...............................................................

KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan.....................................................................................

3.2 Saran............................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bandeng dikenal juga sebagai milkfish dan memiliki karakteristik tubuh
langsing seperti peluru dengan sirip ekor bercabang sebagai petunjuk bahwa
bandeng memiliki kemampuan untuk berenang dengan cepat. Tubuhnya berwarna
putih keperak-perakan dan dagingnya berwarna putih susu. Bandeng yang hidup
di alam memiliki panjang tubuh mencapai 1 m. Pada morfologi luar ikan bandeng
terdapat bagian bagian seperti mulut, mata, sirip dada, sirip punggung, lateral
line, sirip ekor, sirip perut dan sirip anus (dubur). Jenis sirip ekor bandeng yaitu
homocercal sedangkan bentuk ekornya adalah forked. Bandeng memiliki bentuk
sisik yang ctenoid atau disebut juga sisik sisir dengan bentuk yang agak persegi.
Sedangkan bentuk mulutnya sendiri adalah sub terminal yaitu letak mulut ikan
terletak didekat ujung depan kepala. Bentuk dari ikan ini adalah torpedo sehingga
ikan bandeng ini mampu bergerak cepat atau juga tergolong ikan perenang cepat
dan kuat dengan habitat air payau. Warna tubuh pada punggung berwarna
kehitam-hitaman, pada bagian linea lateralis bewarna keperakan dan pada bagian
bawah dari linea lateralis berwarna putih. Ikan bandeng memiliki dua jenis
kelamin yaitu jantan dan betina, bandeng jantan dapat diiketahui dari lubang
ansunya yang hanya dua buah dan ukuran badan agak kecil sedangkan bandeng
betina memiliki lubang anus tiga buah dan ukuran badan lebih besar dari ikan
bandeng jantan (Rahardjo, 1985).
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu :
1) Untuk mengetahui morfologi dan fisiologi Ikan Bandeng
2) Untuk mngetahui sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem
pencernaan, sistem otot, sistem saraf, sistem endokrin dan sistem
reproduksi pada Ikan Bandeng.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Reproduksi Ikan Bandeng
Bandeng memijah secara alami pada tengah malam sampai menjelang pagi.
Pemijahan bandeng berlangsung secara partial yaitu telur yang sudah matang
dikeluarkan, sedang yang belum matang terus berkembang di dalam tubuh untuk
pemijahan berikutnya. Dalam setahun, satu ekor bandeng dapat memijah lebih
dari satu kali. Siklus reproduksi bandeng dimulai dari perkembangan gonad yang
berdasarkan nilai Gonade Somatic Indeks (GSI), diameter telur dan penampakan
histologis gonad terbagi atas muda (immature), berkembang (developing), matang
(mature), siap pijah (gravid) dan salin (spent). Bobot gonad pada fase matang
berkisar 10-25 % berat tubuh.
Indikator pemijahan adalah bandeng jantan dan betina beriringan dengan
posisi jantan berada di belakang betina. Pemijahan lebih sering terjadi pada saat
pasang rendah dan fase bulan seperempat. Telur bandeng ditetaskan di perairan
sedang sampai hangat dengan suhu 26o sampai 320 C dengan salinitas air 29-34
o/oo.
Di alam, telur berbentuk bulat dengan diameter 1,10-2,25 mm, tidak
memiliki gelembung lemak, ruang perivitelin sempit, berasal dari hasil pemijahan
induk bandeng di perairan pantai atau relung karang. Telur yang telah dibuahi
menetas pada suhu 27-31 0 C dalam waktu 25-35 jam setelah pembuahan,
kemudian terbawa arus ke arah pantai (Mahyuddin, K, 2011).
Lele berkembang biak secara ovipar (eksternal), yaitu pembuahan terjadi di
luar tubuh. Artinya, spermatozoa membuah telur di luar tubuh ikan. Untuk
membuahi telur, spermatozoa harus bergerak. Spermatozoa pada induk jantan
tersebut bersifat immotile dalam cairan plasmanya dan akan bergerak apabila
bercampur dengan air.
Pertemuan gamet jantan dan betina ini akan membentuk zigot sebagai cikal
bakal menjadi generasi baru. Perkembangan gamet jantan (sperma) maupun betina
(ovum) diatur oleh hormon sejenis gonadotropin. Dengan bertelur, mula-mula
ikan yang berlainan jenis berenang berpasangan sambil menari-nari. Pelepasaan
telur dari induk betina diikuti pelepasan sperma oleh induk jantan, lalu terjadi

pemijahan di dalam air (pemijahan eksternal). Telur yang dibuahi akan menetas
dalam waktu 20 jam. Induk betina akan berjaga di sarang sampai anak lele
mandiri, sedangkan induk jantan langsung pergi setelah pemijahan. Seekor betina
dapat menghasilkan 1 000 4 000 butir telur setiap kali pemijahan (Hernowo. A
dan Suyanto R. 2006).
2.2 Sistem Osmoregulasi Ikan Bandeng
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang
dilakukan oleh organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga prosesproses fisiologis berjalan normal. Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda
dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau
kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung
dengan normal (Marshall dan Grosell, 2006).
Proses osmoregulasi ini terjadi karena adanya pengaturan konsentrasi ionion konsentrasi cairan tubuh, dimana proses ini juga membutuhkan energi. Bila
ikan air tawar dimasukkan dalam medium air laut maka yang akan terjadi adalah
pemasukan air dalam tubuh ikan dari medium dan juga berusaha mengeluarkan
sebagian garam-garam dari dalam tubuhnya. Bila ikan tidak dapat melakukan
proses ini, maka sel-sel ikan akan pecah (turgor) dan jika terjadi sebaliknya ikan
akan kekurangan cairan atau biasa disebut dehidrasi (Fujaya, 2004).
Tujuan utama osmoregulasi adalah untuk mengontrol konsentrasi larutan
dalam tubuh ikan. Apabila ikan tidak mampu mengontrol proses osmosis yang
terjadi, ikan yang bersangkutan akan mati, karena akan terjadi ketidakseimbangan
konsentrasi larutan tubuh yang akan berada di luar batas toleransinya (Takeuchi,
dkk., 2002).
Ada tiga pola regulasi ion dan air, yakni : (1) Regulasi hipertonik atau
hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih
tinggi dari konsentrasi media, misalnya pada potadrom (ikan air tawar). (2)
Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi
cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media, misalnya pada oseandrom
(ikan air laut). dan (3) Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi
cairan tubuh sama dengan konsentrasi media (Takeuchi, dkk., 2002).

2.3 Sistem Pernafasan Ikan Bandeng


Sistem pernapasan ikan "bernapas" dengan mengambil oksigen yang terlarut
dalam air yang mereka alirkan melewati insang. Mereka tidak mampu hidup lebih
dari beberapa menit di luar air. Agar mampu hidup di darat, mereka harus
mendapatkan sistem paru-paru yang sempurna secara tiba-tiba.
Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu
lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian
dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang
terdiri dari sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis
(lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler
sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut
operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh
operkulum.Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula
berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran
ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan
perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan
rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 02
sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan 02. Contoh ikan yang
mempunyai labirin adalah: ikan gabus dan ikan lele. Untuk menyimpan cadangan
02, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang terletak di
dekat punggung.
Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan
ekspirasi. Pada fase inspirasi, 02 dari air masuk ke dalam insang kemudian 02
diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.
Sebaliknya pada fase ekspirasi, C02 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan
bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluar tubuh. Selain dimiliki
oleh ikan, insang juga dimiliki oleh katak pada fase berudu, yaitu insang luar.
Hewan yang memiliki insang luar sepanjang hidupnya adalah salamander.

2.4 Sistem Pencernaan Ikan Bandeng


Proses pencernaan ikan sama dengan vertebrata lainnya. Namun ikan
memiliki beberapa variasi,terutama dalam hubungannya dengan cara makan, pada
umumnya ikan bernafas dengan ingsang dengan cara memasukan air ke dalam
mulut hingga melewati

ke ingsang dan

sekaligus menyaring oksigen yang

terlarut dalam air, namun tidak semua ikan bernafas dengan ingsang ada juga
bernafas dengan paru-paru misalnya ikan paus dan lumba-lumba. Bagian-bagian
ikan bandeng adalah otak, alat pencernaan, limpa, gonad, ginjal pilorik kaeka,
gelembung renang, jantung, hati, kantong empedu fujiya (2004). Fungsi lambung
ikan bandeng (Chanos chanos) adalah menyimpan makanan dalam jumlah yang
sangat besar setelah hewan selesai makan, mengaduk makanan dengan sekresi
(getah lambung), dan pengosongan lambung, dan memasukan isinya kedalam
usus. Panjang usus pada ikan bandeng yang kami peroleh yaitu 334 cm, maka
dapat disimpulkan bahwa ikan tersebut menunjukan ikan herbivora atau ikan yang
sumber makannya berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Makanan dicerna oleh ikan dan diserap sebagai sari makanan, dan yang
tidak dapat dicernakan dikeluarkan sebagai fase. Sari makanan itu diedarkan
keseluruh bagian tubuh. Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan, sisa-sisa
metabolisme dikeluarkan lewat anus, pada ikan bertulang sejati anus terletak
disebelah depan saluran genital Effendy, (1979). Ada segolongan ikan selain
menghisap hawa dengan insangnya ada juga yang dapat mengambil hawa dari
udara karena mempunyai alat yang disebut Labyrint dan bekerja seperti paruparu ikan-ikan ini bila berada diluar air tidak segera mati, Pada kloaka adalah
ruang yang bermuaranya saluran pencernaan dan saluran urogenital (Achjar,
1986). Seluruh pencernaan pada ikan berturut-turut dari awal makanan masuk ke
mulut adalah sebagai berikut: mulut-faring-asofogus-lambung-pilorus-usus-anus.
Dalam baberapa hal ditemukan adaptasi alat-alat tersebut terhadap makan dan
kebiasaan makannya.pada ikan dengan seluruhpencernaan ini, pencernaan dan
makananya dibantu dengan lengkapnya hati dan pancreas (Effendie,2002). Ikan
Bandeng berdasarkan sistem pencernaannya merupakan ikan herbivora (pemakan
tumbuhan). Pernyataan diatas dibuktikan dengan panjang usus ikan Bandeng lebih
panjang dari panjang standarnya. Aslamyah (2008), mengatakan bahwa ikan

Bandeng dewasa mengkonsumsi, alga, zooplankton, bentos lunak, dan pakan


buatan berbentuk pellet. Tumbuh-tumbuhan yang berbentuk benang dan yang
lebih kasar lagi akan lebih mudah dimakan oleh ikan bandeng bila mulai
membusuk.
2.5 Sistem Peredaran Darah Ikan Bandeng
Peredaran darah ikan adalah peredaran darah tunggal, yang artinya darah
hanya satu kali mengalir melalui jantung. Darah masuk ke jantung melalui
pembuluh balik yang di tampung dalam satu smpul yang disebut sinus venosus,
kemudian darah masuk kedalam serambi dan bilik selanjutnya dipompa oleh
bonggol arteri dan menuju ke lengkung insang, maka selanjutnya akan terjadi
pertukaran gas O2. Setelah itu darah mengalir kembali ke jantung malalui vena
(Mahardono , 1979). Peredaran darah berfungsi dalam pengangkutan oksigen
hasil respirasi, pengangkutan sisa metabolisme. Jantung ikan terdapat suatu ruang
tambahan yang disebut sinus venosus, yang berfungsi sebagai penampung darah
dari vena hapaticusserta mengirimkannya keatrium terdapat katub sinatrial. Darah
kemudian dikirim kembali ke ventrikel untuk mencegah darah tersebut kembali ke
atrium.
2.6 Sistem Otot Ikan Bandeng
Roharjo (1980) Mengemukakan ssstem otot disebut juga dengan sistem
urat daging yang berfungsi sebagai bentuk tubuh dan penghasil daya gerak
terhadap ikan. Urat daging yang terhadap di kedua sisi tubuh Ikan dapat di
bedakan menjadi dua bagian, yaitu epaksial dan hipaksial. Kedua bagian tersebut
dipisahkan oleh suatu selaput yang di namakan horizontal akletogeneous septum.
Dibagian permukaan selaput ini terdapat urat daging yang menutupinya yaitu
musculus Lateralis superficialitas yang banyak mengandung Lemak karena warna
merah kehitaman. Pada garis besarnya ikan mempunyai tiga macam urat daging
yaitu urat daging bergaris, urat daging licin, dan urat daging jantung. Otot Jantung
adalah otot yang cara kerjanya tidak di pengaruhi oleh rangsang, sedangkan otot
polos dan otot lurik di pengaruhi oleh rangsangan Otot merupakan pembentuk
rangka. Otot berperan dalam pergerakan organ tubuh atau bagian tubuh.

Kemampuan otot untuk berkontraksi disebabkan oleh adanya serabut kontraktil


(Mahardono,1979). Otot pada ikan dibagi oleh suatu sekat horizontal menjadi otot
epaksial yaitu otot yang terletak di atas sekat horizontal, dan otot hipaksialis yang
terletak di bawah sekat horizontal (Fujaya, 2004). Menurut Sjafei (1989) urat
daging yang terdapat di kedua sisi tubuh ikan dapat dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu epaksial dan hipaksial. Kedua bagian tersebut dipisahkan oleh suatu
selaput yang dinamakan horizontal akletogeneous septum. Dibagian permukaan
selaput ini terdapat urat daging yang menutupinya musculus lateralis
superficialis yang banyak mengandung lemak karena warna yang merah
kehitaman. Dari penempelnya juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu urat daging
yang menempel pada rangka, ialah urat daging licin dan urat daging jantung
(Hardanto, 1979). Otot jantung adalah otot yang cara kerjanya tidak dipengaruhi
oleh rangsang sedankan otot polos dan otot lurik dipengaruhi oleh rangsang, pada
otot polos tidak memperlihatkan adanya garis-garis melintang dan terdapat pada
sistem-sistem yang menjalankan fungsinya secara otomatis (Soewasono, 1960).
Dalam tubuh terdapat tiga macam jaringan otot yaitu otot polos yang tidak
dipengaruhi oleh rangsang, otot serat lintang involunter (tidak dipengaruhi
kehendak) dan otot serat lintang volunter (dipengaruhi oleh kehendak) ( Frandson,
1983).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang kami buat dapat disimpulkan yaitu :
1. Ikan bandeng merupakan ikan yang berada di air payau.
2. Pada morfologi luar ikan bandeng terdapat bagian bagian seperti mulut,
mata, sirip dada, sirip punggung, lateral line, sirip ekor, sirip perut dan
sirip anus (dubur).
3. Bandeng memijah secara alami pada tengah malam sampai menjelang
pagi. Pemijahan bandeng berlangsung secara partial yaitu telur yang sudah
matang dikeluarkan, sedang yang belum matang terus berkembang di
dalam tubuh untuk pemijahan berikutnya. Dalam setahun, satu ekor
bandeng dapat memijah lebih dari satu kali.
4. Ikan Bandeng dewasa mengkonsumsi, alga, zooplankton, bentos lunak,
dan pakan buatan berbentuk pellet.
5. Pada Ikan bandeng sistem pernafasan, sistem syaraf, dan sistem otot sama
dengan ikan yang lainnya. Ikan Bandeng dalam sistem peredaran darahnya
tunggal karena darah hanya satu kali mengalir melalui jantung.
3.2 Saran
Makalah yang kami buat berasal dari acuan yang berdasarkan penelitian,
tetapi harus ada yang lebih akurat pengamatan yang dilakukan dari setiap bagianbagian organ yang ada di Ikan Bandeng.

DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin, A. 2008. Morfologi dan Anatomi Hewan Air. Yayasan Dwi Sri :
Bogor
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta : Jakarta.
Marshall, W.S., dan M. Grosell. 2006. Ion transport, osmoregulation, and acidbase balance. In the Physiology of Fishes, Evans, D.H., and Claiborne, J.B.
(eds.). taylor and Francis Group.
Puspowardoy, 2003. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Bandeng. Rineka Cipta :
Jakarta
Romimohtarto dan Juwana, 2006. Biologi Laut. Erlangga : Jakarta
Takeuchi, K., H. Toyohara, dan M. Sakaguchi. 2000. Effect of hyper- and
hypoosmotic stress on protein in cultured epidermal cell of common carp.
Fisheries Science 66: 117-123.
Sutoyo, 2007,Anatomi Komparativa. Penerbit Alumni, Bandung
Suyanto. 2009. Morfologi Ikan Bandeng. Penebar Swadaya, Jakarta Sjafei. 1989.
Epaksial Dan Hipaksial. P.T Gramedia, Jakarta