Anda di halaman 1dari 10

Struktur Bangunan

Struktur Bangunan Secara Umum

Oleh :
Kelompok 8
Annisa Arifandita Mifshella
Chrisfela Wulandari
Ria Utami
Rofika Ratna Ardiansyah
Rumeisyah

Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Sipil S1
Universitas Riau
2010

STRUKTUR BANGUNAN SECARA UMUM

PENGERTIAN STRUKTUR BANGUNAN


Defenisi struktur dalam kontek hubungannya dengan bangunan adalah sebagai sarana
untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaannya atau kehadiran bangunan kedalam tanah
(scodek, 1983)
LIMA GOLONGAN BENTUK STRUKTUR (SUTRISNO, 1983)
1.

STRUKTUR RANGKA

2.

STRUKTUR PERMUKAAN BIDANG(STRUKTUR LIPATAN DAN CANGKANG)

3.

STRUKTUR KABEL DAN BOIMAORFIK

CONTOH STRUKTUR BANGUNAN.


DINDING
ATAP
BALOK DAN KOLOM
PONDASI
DLL
DINDING
Dinding adalah bagian dari suatu bangunan yang keberadaannya vertikal dan memanjang
serta berbungsi untuk membatasi suatu ruang/bagian terhadap ruang atau bagian yang lain
(nonstruktural),yang kadang-kadang juga berfungsi sebagai pemikul beban (strutural
BAHAN-BAHAN YANG DAPAT DIJADIKAN DINDING
1.

KAYU

Dinding dari kayu hanya berfungsi sebagai dinding pembatas saja, tidak mampu
menahan beban (nonstruktural), disebut sebagai dinding partisi. Bahan-bahan yang sering
dipakai adalah papan, tripleks, multipleks, dan lain- lain.
2.BATU
Bahan dapat dari batu kali/gunung atau dari batu bara, yang disusun satu sama lain dengan satu
perakat yang disebut luluh dabn disebut dindingg batu atau tembok.Dinding batu atau tembok
ini lebih kaku dan kokoh dibandingkan kayu dan bersifat struktural ataupun nonstruktural,,
tergantung dari besarnya pembebanan dan tebalnya dinding.
3.Beton Bertulang
Disebut dinding beton bertulang karena terbuat dari bahan beto bertulang, bersifat struktural
bahkan sering dipakai juga untuk memikul beban atau gaya horizontal (misalnya shear wall).
STUKTUR DINDING DIBEDAKAN MENJADI DUA MACAM
1.

DINDING STRUKTURAL

2.

DINDING NONSTRUKTURAL

DINDING STRUKTURAL
Dinding struktural adalah dinding yang dapat berdiri sendiri dan tidak berubah
akibat beban-beban yang bekerja pada dirinya (stabil)
contoh:tembok dan dinding beton bertulang.

Dinding nonstructural
Dindiing nonstruktural adalah dinding yang tidak dapat menahan beban ataupun
dinding yang tidak dapat berdiri sendiri sehingga untuk keteguhannya (agar
stabil),memerlukan suatu penguatan dan perkakuan.
contoh: Dinding dari struktur kayu dan tembok (pasangan bata)setengah batu.

BALOK LOTENG

SUSUNAN BALOK LOTENG


1.

SUSUNAN BALOK TUNGGAL

2.

SUSUNAN BALOK MAJEMUK ATAU GANDA

SUSUNAN BALOK TUNGGAL


a. Jarak antara tembok-tembok pemikul
b. tidak besar (l 4m).
c. Pada susunan balok ini hanya ada satu macam balok, yaitu balok anak.
d. Jarak antara balok anak antara 50-70 cm, tergantung dari bahan lantai yang
dipakai, papan atau multipleks.

SUSUNANBALOK MAJEMUK ATAU GANDA


a. Pada jarak bentang yang melebihi 4 meter, balok anak tidak dapat dipakai
sebagai balok tunggal.Untuk keperluan itu maka dipakai balok pemikul yang
diletakkan sedemikian rupa sehingga balok anak dapat dipakai, hanya saja
dengan arah yang berbeda.
b. Disini dipakai balok pemikul lain untuk memperpendek bentang.balok
pemikul ini disebut balok induk.

SISTEM STRUKTUR
1. Konstruksi Horizontal
A. Floor System
Pemilihan dari sistem lantai adalah sistem plat beton bertulang. Pemilihan ini
didasarkan pada:

Tipe dan besarnya beban yang ada

Ukuran dan proporsi pada tumpuan struktur

Ketebalan konstruksi plat lantai yang diinginkan

Dari hal diatas, maka ditentukan sistem monstruksi lantai dua arah, penyaluran dua
arah atau lebih. Semua unsur lantai bekerja sama dalam menopang beban, rumus ketebalan

lantai t = 1/20 bentang, mempunyai kekakuan dua arah, jadi tidak perlu ditumpu keempat
sisinya.
Keuntungan sistem konstruksi dua arah :

Dapat meredam suara

Meredam getaran

Meredam panas dan kelembaban dengan lebih baik

Ketebalan lantai menjadi lebih tipis


Kerugiannya :

Ada bahaya pons maka kolom harus dapat diletakkan pada rusuknya pada lapisan
lantai. Cara mengatasinya adalah dengan mempertebal semua petak yang tertumpu oleh
kolom. Cara lain untuk mengatasi masalah pons yaitu dengan kolom diletakkan pada
rusuk lantai.

B. Balok
Balok bersama dengan plat lantai merupakan struktur yang berfungsi menahan
gaya-gaya horizontal. Juga merupakan elemen structural dari suatu bangunan yang biasa
digunakan dengan pola berulang. Fungsi utama balok adalah membentuk bidang kaku
horizontal. Bintang ini memperkokoh dan bergabung dengan struktur bangunan vertical
sehingga memungkinkan bangunan untuk bertindak terhadap gaya-gaya sebagai suatu unit
tertutup.
2. Konstruksi Vertikal
A. Kolom
Kolom adalah merupakan Elemen verikal yang sangat banyak disunakan. Kolom
tidak harus selalu berarah vertical, meskipun suatu elemen struktur bisa berarahmiring,
asalkan bisa memenuhi definisi kolom, yaitu beban aksial hanya diberikan ujung-ujungnya
dan tidak ada beban transversal
B. Roof System
Roof system terbagi dua, yaitu:

Roof System Auditorium


Auditorium membutuhkan bentang lebar maka dipilh struktur rangka atap baja (steel
joist roof sistem). Pola dasar segitiga pada rangka atap baja sama bentuk dan
komposisinya.

Roof System Tower


Rangka Atap yang menggunakan rangka baja dengan bentuk dan sususan pada roof
sistem sederhana bangunan rumah tinggal, yaitu bentuk limasan dengan penutup atap
kriplok.

3. Utilitas Bangunan
Terdiri dari pengaturan dan penempatan unsur-unsur yang membentuk suatu bangunan.
Misalnya sistem core, sewage treatment, pendistribusian air, tranportasi vertical (tangga, lift),
tata udara, instalasi listrik, penangkal petir, sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran,
sistem telekomunikasi, sound sistem (pada hall, mall, tempat-tempat umum).
4. Estetika Bangunan
Terdiri dari bentuk bangunan dan expresi bangunan yang memberikan cirri khas atau
warna tersendiri bagi bangunan tersebut.

HUBUNGAN STRUKTUR TERHADAP BANGUNAN


Struktur merupakan bagian dari sebuah bangunan yang menahan beban yang diberikan
kepadanya. Fungsi dari struktur dapat disimpulkan untuk memberikan kekuatan yang diperlukan
untuk mencegah sebuah bangunan mengalami keruntuhan. Lokasi struktur dalam bangunan tidak
selalu jelas karena struktur dapat digabungkan dengan bagian-bagian non-struktural dengan
berbagai cara. Contoh-contoh bangunan struktural dan non-struktural seperti :
a. Bangunan Igloo
Igloo merupakan struktur yang lapisan permukaannya berfungsi sebagai pendukung.
Blok-blok es membentuk tumpuan sendiri untuk menahan kubah.

b. Bangunan Teepe
Pada teepe kulitnya merupakan elemen non-struktural yang didukung oleh struktur dari
batang kayu. Pemisahan sangat jelas : permukaan luar sepenuhnya merupakan elemen nonstruktural dan tiang memiliki fungsi struktur yang murni.
c. Aula pameran
elemen utamanya adalah kulit shell beton bertulang yang berfungsi sebagai penopang.
d. Bangunan gedung
kulitnya merupakan elemen non-struktural yang terbuat dari lapisan logam yang
didukung oleh rangka baja yang mempunyai fungsi struktural.
e. Patung liberty di New York
permukaan yang tipis didukung oleh rangka struktur segitiga. Pengaruh pertimbangan
struktur pada bentuk akhirnya sangat sedikit.
5.1. PERSYARATAN STRUKTURAL
Untuk memenuhi fungsinya sebagai tumpuan bangunan dalam merespon beban apapun
yang mungkin dibebankan di atasnya, sebuah struktur harus memenuhi 4 hal, yaitu :
1.

Berada dalam keadaan setimbang

2.

Stabil

3.

Kekuatan yang cukup

4.

Kekakuan yang cukup

5.2. JENIS-JENIS BEBAN PADA BANGUNAN GEDUNG DALAM PERATURAN


PEMBEBANAN INDONESIA UNTUK GEDUNG TH 1983

a.

Beban Mati

Adalah berat semua bagian dari suatu bangunan yang bersifat tetap termasuk segala unsur
tambahan, finishing, mesin-mesin, peralatan yang tetap yang merupakan bagian-bagian yang
tidak terpisahkan dari gedung itu. Misalnya :

Berat sendiri konstruksi beton bertulang : 2400 kg/m3

Berat ubin pada pelat lantai : 24 kg/m2

Berat sendiri genteng beton beserta reng dan kasau : 50 kg/m2

b.

Beban Hidup
Adalah semua beban yang terjadi akibat hunian atau penggunaan gedung yang sifatnya

dapat berpindah-pindah (tidak tetap) :

Dapat bergerak : manusia, hewan, dan air yang mengalir

Dapat dipindahkan : kendaraan, mebel-mebel, mesin-mesin yang tidak permanen

Pada atap : beban yang berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekanan
jatuh ( energy kinetik butiran air )

Misalnya : beban hidup pada lantai rumah tinggal : 200 kg/ m2 , beban hidup pada ruang kuliah :
250 kg/ m2.

c.

Beban Angin
Adalah beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih

tekanan udara ( angin ), dengan aturan berikut :


1.

Tekanan tiup angin (p) harus diambil minimum 25 kg/ m2.

2.

Tekanan tiup angin di laut dan tepi laut sampai sejauh 5 km dari pantai minimum
40 kg/ m2

3.

Untuk daerah-daerah di dekat laut dan daerah-daerah lain tertentu, dimana terdapat
kecepatan-kecepatan angin yang mungkin menghasilkan tekanan tiup yang lebih besar

dari pada yang ditentukan dalam butir 1 dan , tekanan tiup angin (p) harus dihitung
sebagai berikut :
P = V2/16 kg/ m2
4.

Pada cerobong tekanan tiup ditentukan dengan rumus ;


P = 42,5 + 0,6 ht kg/ m2 dimana ht : tinggi cerobong (m)

d.

Beban Gempa
adalah beban yang diakibatkan oleh gerakan tanah akibat gempa bumi (tektonik atau

vulkanik).

e.

Pengaruh-pengaruh Khusus ( K )
Adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang terjadi akibat

suhu, pengangkatan dan pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya-gaya tambahan yang
berasal dari beban hidup seperti gaya sentrifugal dan gaya dinamis dari mesin-mesin, serta
pengaruh-pengaruh khusus lainnya.
Kombinasi pembebanan yang harus ditinjau adalah :
1.

Kombinasi pembebanan tetap (BT) : M + H

2.

Kombinasi pembebanan sementara (BS) : M + H + A atau M + H + G

3.

Kombinasi pembebanan khusus (BK) : BT + K atau BS + K