Anda di halaman 1dari 55

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Banyaknya perubahan serta persaingan yang dihadapi dunia usaha dalam
era globalisasi ini menuntut perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja
perusahaannya. Salah satu faktor dapat yang mencerminkan kinerja suatu
perusahaan adalah laporan keuangan yang merupakan salah satu sumber informasi
yang dihasilkan oleh perusahaan yang dibuat oleh pihak-pihak manajemen secara
teratur. Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut sangat
dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan baik pihak laba maupun
ekstrenal perusahaan dalam memenuhi kebutuhan mereka yang berbeda-beda.
Pihak eksternal perusahaan terutama investor sangat membutuhkan
informasi yang tercantum dalam laporan keuangan untuk dapat memprediksi
keberhasilan kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Salah satu parameter
yang sering digunakan untuk menilai keberhasilan kinerja suatu perusahaan
adalah tingkat perolehan laba. Tingkat laba atau rugi suatu perusahaan dapat
diketahui dalam laporan laba rugi yang diterbitkan oleh perusahaan. Namun,
tingkat perolehan laba tersebut tidak dapat dipastikan kenaikan maupun
penurunannya.
Pertumbuhan laba suatu perusahaan bisa saja mengalami kenaikan untuk
tahun sekarang ini namun juga bisa mengalami penurunan untuk tahun
berikutnya. Karena pertumbuhan laba tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya
suatu analisis untuk memprediksi tingkat pertumbuhan laba. Analisis yang biasa

digunakan adalah analisis laporan keuangan yang menggunakan rasio keuangan


untuk mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan. Penilaian atas kinerja
perusahaan dapat mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang nantinya
dapat memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan tersebut.
Pertumbuhan laba adalah perubahan persentase kenaikan laba yang
diperoleh perusahaan (Simorangkir,2003) dalam Hapsari, (2003). Pertumbuhan
laba yang baik, mengisyaratkan bahwa perusahaan mempunyai keuangan yang
baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan, karena besarnya
dividen yang akan dibayar di masa akan datang saat bergantung pada kondisi
perusahaan.
Menurut Indrawati dan Suhendro (2006), Pertumbuhan Laba adalah
perubahan laba ditahan dan total asset perusahaan. Menurut Devie (2003),
Pertumbuhan Laba dalam manajemen keuangan diukur berdasar perubahan laba
ditahan, bahkan secara keuangan dapat dihitung berapa pertumbuhan yang
seharusnya (Sustainable Growth Rate) dengan melihat keselarasan keputusan
investasi dan pembiayaan. Pertumbuhan Laba yang berkelanjutan adalah tingkat
dimana perusahaan dapat tumbuh tergantung pada bagaimana dukungan asset
terhadap peningkatan laba ditahan.
Menurut Barley and Mayers (2007:120) Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan laba bersih suatu perusahaan adalah : Naik turunnya jumlah unit
yang dijual dan harga jual per unit, Naik turunnya harga pokok penjualan, Naik
turunnya biaya usaha yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual, naik
turunnya nilai rasio keuangan, Naik turunnya tingkat bunga pinjaman (biaya
modal asing), Naik turunnya pos penghasilan oleh variasi jumlah unit yang dijual,

variasi dalam tingkat harga dan perubahan tingkat kebijakan dalam pemberian
diskon, Naik turunnya pajak yang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang
diperoleh atau tinggi rendahnya ratif pajak, Adanya perubahan dalam metode
akuntansi.
Perusahaan dengan laba bertumbuh, dapat memperkuat hubungan antara
besarnya atau ukuran perusahaan dengan tingkatan laba yang diperoleh. Dimana
perusahaan dengan laba bertumbuh akan memiliki jumlah aktiva yang besar
sehingga

memberikan

peluang

lebih

besar

didalam

menghasilkan

profitabilitasnya, Hamid (2001), merumuskan bahwa perusahaan yang bertumbuh


adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan margin, laba dan penjualan yang
tinggi. Menurut Sujana (2004), menyatakan perusahaan yang memiliki total aktiva
yang besar menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan.
Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang paling sering
digunakan. Rasio keuangan menghubungkan berbagai perkiraan yang terdapat
pada laporan keuangan sehingga kondisi keuangan dan hasil operasi suatu
perusahaan dapat diinterpretasikan.
Menurut Simamora (2004 : 822) rasio merupakan pedoman yang
berfaedah dalam mengevaluasi posisi dan operasi keuangan perusahaan dan
mengadakan perbandingan dengan hasil-hasil dari tahun-tahun sebelumnya atau
perusahaaan-perusahaan lain.
Rasio keuangan merupakan alat utama untuk melakukan analisis keuangan
dan memiliki beberapa kegunaan. Menurut Keomn, Scott, Martin, dan Petty (2005
: 108) rasio keuangan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat likuiditas
perusahaan, apakah manajemen efektif dalam menghasilkan laba operasi atas

aktiva yang dimiliki perusahaan, bagaimana perusahaan didanai, apakah


pemegang saham biasa mendapat tingkat pengembalian yang cukup.
Pada dasarnya macam atau jumlah angka-angka rasio banyak sekali karena
rasio dibuat menurut kebutuhan penganalisa. Namun demikian angka rasio yang
ada dapat digolongkan menjadi dua. Golongan yang pertama adalah berdasarkan
sumber data keuangan yang merupakan unsur atau elemen dari angka rasio
tersebut dan penggolongan yang kedua adalah berdasarkan pada tujuan
penganalisa (Munawir, 2001:68).
Rasio keuangan berdasarkan sumber data yang digunakan dibedakan
menjadi rasio-rasio neraca, rasio-rasio laporan rugi laba, dan rasio-rasio antar
laporan keuangan. Sedangkan berdasarkan tujuannya rasio keuangan dibedakan
menjadi rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan
rasio pertumbuhan.
Rasio perbandingan antara total hutang terhadap ekuitas yang biasa diukur
melalui rasio debt to equity ratio (DER). Dalam perhitungannya DER dihitung
dengan cara hutang dibagi dengan modal sendiri, artinya jika hutang perusahaan
lebih tinggi daripada modal sendirinya besarnya rasio DER berada diatas satu,
sehingga dana yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan lebih
banyak dari unsur hutang daripada modal sendiri (equity).
Oleh karena itu, peneliti tertarik menggunakan DER karena tingkat DER
yang besarnya kurang dari satu, karena jika DER lebih dari satu menunjukkan
jumlah hutang yang lebih besar dan resiko perusahaan semakin meningkat.
Kenaikan DER pada tingkat tertentu akan meminimalkan biaya modal, tetapi bila
penambahan terlalu berlebihan justru berakibat meningkatnya biaya modal.

Semakin tinggi DER, maka semakin rendah tingkat pendanaan yang


disediakan oleh pemilik sehingga akan sulit memperoleh pendanaan dari kreditor
untuk mendukung kegiatan operasionalnya yang dapat berakibat pada penurunan
laba perusahaan (santoso, 2006:128).
Penelitian ini menggunakan rasio ROA dan ROE untuk mempengaruhi
nilai pertumbuhan laba karena, Analisa ROA dan ROE ini sudah merupakan
tehnik analisa yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur
efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. ROA dan ROE itu sendiri adalah
salah satu bentuk dari ratio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat
mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan pendapatan yang
ditanamkan dalam menghasilkan laba yang digunakan untuk operasi perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan.
Semakin tinggi ROA, semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan dari
aktiva yang dimilikinya dan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Semakin tinggi ROE, maka semakin banyak investor yang ingin menanamkan
modalnya di perusahaan sehingga kegiatan operasional perusahaan semakin lancar
dan perusahaan dapat meningkatkan labanya (Keomn, Scott, Martin, dan Petty
2005 : 108).
Penelitian mengenai rasio-rasio keuangan telah banyak dilakukan di
Indonesia. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa secara
keseluruhan rasio keuangan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam
memprediksi pertumbuhan laba. Namun secara parsial tidak semua rasio
keuangan dapat berpengaruh dalam memprediksi pertumbuhan laba.

Sektor kegiatan industri plastik dan kemasan merupakan sektor yang


cukup berprospek untuk kegiatan investasi. Hal tersebut terlihat dari industi
plastik dan kemasan yang memiliki peluang tumbuh di atas laju pertumbuhan
ekonomi nasional. Pasca tahun 2020, tingkat pertumbuhannya akan mencapai
35% terhadap produk domestik bruto (PDB) (www.BisnisIndonesia.co.id, 2008).
Tabel I.1
Data DER, ROA, ROE, Dan Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Plastik
dan kemasan
No
Emiten
Tahun
ROA
ROE
DER
PL
2010
-16.50
-31.58
0.91
17.52
2011
-75.58
-149.85
0.98
-89.90
1
AKKU
2012
-19.15
-51.87
1.71
77.21
2013
0.91
10.32
10.30
-122.20
2010
4.81
9.06
0.88
-40.41
2011
3.65
7.43
1.04
-9.04
2
AKPI
2012
1.81
3.69
1.03
-45.20
2013
1.13
2.27
1.00
-27.07
2010
7.36
10.75
0.46
-18.19
2011
4.90
7.59
0.55
-33.59
3
APLI
2012
1.26
1.92
0.53
-74.35
2013
-1.00
-1.48
0.48
-174.81
2010
6.89
18.85
1.62
70.17
2011
6.80
17.21
1.53
15.41
4
BRNA
2012
7.07
18.06
1.55
24.43
2013
0.41
1.24
2.04
-92.80
2010
-6.98
-16.04
1.30
-158.37
2011
-3.87
-10.50
1.72
43.30
5
FPNI
2012
-5.18
-15.62
2.02
-37.20
2013
-2.29
-7.54
2.30
-46.07
Sumber : www.idx.co.id
Pada tabulasi data diatas dapat dilihat beberapa tahun cenderung
mengalami kenaikan nilai ROA yang diukuti dengan penurunan nilai
pertumbuhan laba sementara teori menyatakan bahwa semakin tinggi ROA yang
mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total asset

maka semakin tinggi pertumbuhan laba. (Keon, Scott, Martin, dan Petty 2005 :
108).
Pada nilai ROE perusahaan plastik dan kemasan terjadi kenaikan yang
diikuti dengan penrunan nilai pertumbuhan laba sementara menurut teori semakin
tinggi ROE, maka semakin banyak investor yang ingin menanamkan modalnya di
perusahaan sehingga kegiatan operasional perusahaan semakin lancar dan
perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhan laba (Keomn, Scott, Martin, dan
Petty 2005 : 108).
Pada nilai DER cenderung mengalami penurunan pada beberapa tahun
yang diikuti oleh penurunan nilai pertumbuhan laba yang sementara teori
menyatakan semakin tinggi DER, maka semakin rendah tingkat pendanaan yang
disediakan oleh perusahaan yang akan mengakibatkan pertumbuhan laba
mengalami penurunan (santoso, 2006:128).
Penelitian yang dilakukan oleh Suprihatmi dan Wahyuddin (2003) dalam
menguji pengaruh rasio keuangan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, telah membuktikan
bahwa rasio-rasio keuangan yaitu debt to equity, gross profit margin, net profit
margin, inventory turnover, total assets turnover, return on investment, return on
equity secara simultan dapat mempengaruhi prediksi pertumbuhan laba. Namun
secara parsial hanya gross profit margin, inventory turnover, return on investment
dan return on equity yang berpengaruh signifikan terhadap prediksi pertumbuhan
laba. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2007) dalam
menguji enam rasio keuangan yaitu working capital to total asset, current
liabilities to inventory, operating income to total assets, total asset turnover, net

profit margin dan gross profit margin untuk memprediksi pertumbuhan laba
membuktikan bahwa tujuh rasio keuangan tersebut secara simultan mempunyai
pengaruh dalam memprediksi pertumbuhan laba. Namun secara parsial hanya
total asset turnover, net profit margin dan gross profit margin yang mempunyai
pengaruh untuk memprediksi pertumbuhan laba.
Perbedaan yang terjadi antara hasil penelitan Suprihatmi dan Wahyuddin
(2003) dengan Hapsari (2007) menunjukkan bahwa adanya ketidakkonsitenan
antara penelitian-penelitian tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Suprihatmi dan Wahyuddin (2003) menunjukkan bahwa rasio keuangan net profit
margin tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap
prediksi pertumbuhan laba. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari
(2007) menunjukkan hasil yang bertolak belakang dengan penelitian Suprihatmi
dan Wahyuddin (2003) bahwa rasio keuangan net profit margin secara parsial
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prediksi pertumbuhan laba.
Ketidakkonsistenan yang terjadi antara hasil penelitian Suprihatmi dan
Wahyuddin (2003) dengan Hapsari (2007) mendorong penulis untuk meneliti
kembali penilitian mengenai pengaruh rasio keuangan terhadap prediksi
pertumbuhan laba. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah
dilakukan oleh Hapsari (2007). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya adalah (1) penelitian sebelumnya mengambil sampel di perusahaan
manufaktur sedangkan penelitian ini mengambil sampel di perusahaan plastik dan
kemasan, (2) periode tahun penelitian sebelumnya adalah 2003-2005 sedangkan
penelitian ini menggunakan periode tahun 2010-2013, dan (3) jumlah rasio
keuangan yang digunakan sebagai variabel independen dalam penelitian terdahulu

adalah enam rasio keuangan sedangkan dalam penelitian ini digunakan delapan
rasio keuangan yaitu, debt to equity, return on asset, dan return on equity.
Berdasarkan penjelasan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
judul dari penelitian ini adalah Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Plastik dan Kemasan Yang Terdaftar
Di BEI.

B. Identifikasi Masalah
Adapun peneliti mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut :
1. Pada perusahaan plastik dan kemasan mengalami penurunan dan kenaikan
nilai ROA dari tahun 2010-2013 tetapi tidak diiukuti oleh penurunan dan
kenaikan nilai PL
2. Adanya penurunan nilai ROE pada perusahaan Plastik dan kemasan dari
tahun 2010-2013 yang tidak diiukuti oleh penurunan nilai PL
3. Adanya kenaikan nilai DER pada perusahaan Plastik dan kemasan dari
tahun 2010-2013 yang diiukuti oleh penurunan nilai PL

C. Batasan Dan Rumusan Masalah


Batasan Masalah
Batasan Masalah seperti yang terlihat pada identifikasi masalah diatas,
maka batasan masalah dalam penelitian ini yaitu : faktor-faktor yang digunakan
dalam penelitian adalah rasio Return On Asset (ROA), Return On equity (ROE),
Debt Equity Ratio (DER).

10

Rumusan Masalah
1. Apakah ada pengaruh ROA terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan
Plastik dan kemasan?
2. Apakah ada pengaruh ROE terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan
Plastik dan kemasan?
3. Apakah ada pengaruh DER terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan
Plastik dan kemasan?
4. Apakah ada pengaruh ROA, ROE, DER terhadap pertumbuhan laba pada
perusahaan Plastik dan kemasan?

D. Tujuan dan Manfaat penelitian


Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian pada umumnya bertujuan untuk menjawab rumusan
masalah, dengan demikian tujuan penelitian ini yaitu :
a. Untuk

mengetahui

dan

menganalisis

pengaruh

ROA

terhadap

pertumbuhan laba perusahaan pada perusahaan.


b. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ROE terhadap pertumbuhan
laba perusahaan pada perusahaan.
c. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh DER terhadap pertumbuhan
laba perusahaan.
d. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ROA, ROE, dan DER
terhadap pertumbuhan laba perusahaan pada perusahaan.

11

Manfaat Penelitan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara langsung maupun
tidak langsung bagi pihak-pihak yang berkepentingan antara lain :
a. Bagi penulis
Penelitian ini bermanfaat dalam memperdalam pengetahuan peneliti
tentang pertumbuhan laba yang ada dalam perusahaan.
b. Bagi Perusahaan
Perusahaan dapat mengetahui langkah-langkah yang akan diambil dalam
mengantisipasi kegiatan usahanya berdasarkan modal kerja yang tersedia
bagi

pencapaian

sasaran,

sehingga

diharapkan

terus

mengalami

perkembangan ke arah yang lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai


bahan pertimbangan dalam hal menentukan kebijakan penyediaan modal
kerja pada masa yang akan datang.
c. Bagi penelitian selanjutnya
Referensi bagi peneliti berikutnya dalam menguji masalah yang sama di
masa mendatang.

12

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Uraian Teoritis
1. Pertumbuhan Laba
a. Pengertian Tingkat Pertumbuhan Laba
Didalam melakukan menjalankan perusahaan mempunyai tujuan dalam
kegiatannya yaitu dengan adanya peningkatan atau Pertumbuhan Laba
perusahaan. Pertumbuhan Laba sangatlah diinginkan oleh perusahaan karena
Pertumbuhan Laba mencerminkan suatu pertumbuhan perusahaan. Perusahaan
harus mempunyai strategi yang tepat agar dapat memenangkan pasar dengan
menarik konsumen agar selalu memilih produknya. Untuk itu faktor-faktor yang
mempengaruhi penjualan harus benar-benar diperhatikan.
Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut perusahaan akan dapat
menetapkan kebijaksanaan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, sehingga
perusahaan dapat menjual produk dalam jumlah yang besar dan volume penjualan
akan meningkat yang mengakibatkan laba perusahaan akan meningkat pula.
Dengan meningkatnya laba perusahaan, maka keuntungan yang diperoleh para
investor akan meningkat.
Menurut Indrawati dan Suhendro (2006), Pertumbuhan Laba adalah
perubahan laba ditahan dan total asset perusahaan. Menurut Devie (2003),
Pertumbuhan Laba dalam manajemen keuangan diukur berdasar perubahan laba
ditahan, bahkan secara keuangan dapat dihitung berapa pertumbuhan yang

12

13

seharusnya (Sustainable Growth Rate) dengan melihat keselarasan keputusan


investasi dan pembiayaan.
Menurut Ratnawati (2007), Pertumbuhan Laba yang berkelanjutan adalah
tingkat dimana perusahaan dapat tumbuh tergantung pada bagaimana dukungan
asset terhadap peningkatan laba ditahan. Selain melalui tingkat, Pertumbuhan
Laba dapat juga diukur dari pertumbuhan aset atau dengan kesempatan investasi
yang diproksikan dengan berbagai macam kombinasi nilai set kesempatan
investasi (Investment ODERortunity Set).
Murni dan Andriana (2007) menyatakan, pendekatan Pertumbuhan Laba
merupakan suatu komponen untuk menilai prospek perusahaan pada masa yang
akan datang. Dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Laba merupakan komponen
untuk menilai prospek perusahaan pada masa yang akan datang dan dalam
manajemen keuangan diukur berdasarkan perbandingan antara laba ditahan dan
total aset.
Pertumbuhan Laba adalah perubahan pada laporan keuangan per tahun.
Pertumbuhan berkaitan dengan bagaimana terjadinya stabilitas peningkatan laba
ditahan kedepan. Pertumbuhan Laba yang di atas rata-rata bagi suatu perusahaan
pada umumnya didasarkan pada pertumbuhan cepat yang diharapkan dan industri
dimana perusahaan beroperasi. Pertumbuhan Laba suatu produk sangat tergantung
dari daur hidup produk (Fabozzi 2005, Hal. 881).
b. Manfaat Pertumbuhan Laba
Menurut Amstrong (2002: 327) adapun manfaat dari Pertumbuhan Laba
adalah sebagai berikut :

14

1) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang


yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya, kemampuan untuk
membayar kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal batas
waktu yang telah ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu).
2) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan.
3) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
pendek tanpa memperhitungkan sediaan atau piutang,
4) Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
dengan modal kerja perusahaan.
5) Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar
utang
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba Perusahaan
Menurut Amstrong (2002: 327) ada empat tahap daur hidup produk yang
mempengaruhi Pertumbuhan Laba, yaitu:
a. Tahap Introduksi
Tahap ini mulai ketika produk baru pertama kali diluncurkan. Hal ini
membutuhkan waktu, dan Pertumbuhan Laba cenderung lambat. Dalam
tahap ini kalau dibandingkan dengan tahap-tahap yang lain, perusahaan
masih merugi atau berlaba kecil karena penjualan yang lambat dan
biaya distribusi serta promosi yang tinggi.

15

b. Tahap Pertumbuhan
Pada tahap ini Pertumbuhan Laba meningkat dengan cepat, laba
meningkat, karena biaya promosi dibagi volume penjualan yang tinggi,
dan juga karena biaya produksi per unit turun.
c. Tahap Menjadi Dewasa
Tahap dewasa ini berlangsung lebih lama daripada tahap sebelumnya
dan memberikan tantangan kuat
Penurunan

Pertumbuhan

Laba

bagi

manajemen pemasaran.

menyebabkan

banyak

produsen

mempunyai banyak produk untuk dijual.


d. Tahap Penurunan
Penjualan menurun karena berbagai alasan, termasuk kemajuan
teknologi, selera konsumen berubah, dan meningkatnya persaingan
ketika penjualan dan laba menurun, beberapa perusahaan mundur dari
pasar. Perusahaan yang masih bertahan dapat mengurangi macam
produk yang ditawarkannya.
Pertumbuhan Laba suatu produk dari emiten tergantung dari daur hidup
produk. Jika Pertumbuhan Laba per tahun meningkat, investor akan percaya
terhadap emiten, bahwa emiten akan memberikan keuntungan di masa depan.
Kondisi tersebut terjadi jika informasi yang diperoleh investor sempurna.
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan Pertumbuhan Laba
merupakan perubahan penjualan per tahun yang stabil. Jika Pertumbuhan Laba
per tahun meningkat, investor akan percaya terhadap emiten bahwa emiten akan
memberikan keuntungan dimasa depan.

16

Bagi perusahaan dengan tingkat Pertumbuhan Laba dan laba yang tinggi
kecenderungan perusahaan membagikan dividen lebih konsisten dibandingkan
dengan perusahaan-perusahaan yang tingkat Pertumbuhan Labanya rendah (Hatta,
2002).
Adapun faktor yang menjadi penilaian laba perusahaan adalah sebagai
berikut (Kasmir, 2002) :
a. Aspek permodalan
Yang dinilai dalam aspek ini adalah permodalan yang ada didasarkan
kepada kewajiban penyediaan modal perusahaan. Penilaian tersebut
didasarkan kepada modal yang diperoleh dari internal perusahaan
maupun eksternal perusahaan untuk mengukur kecukupan modal yang
dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau
menghasilkan risiko
b. Aspek kualitas aset
Aktiva yang produktif merupakan penempatan dana oleh perusahaan
dalam asset yang menghasilkan perputaran modal kerja yang cepat
untuk mendapatkan pendapatan yang digunakan untuk menutup biayabiaya yang dikeluarkan oleh perusahaan. Dari aktiva inilah perusahaan
mengharapkan adanya selisih keuntungan dari kegiatan pengumpulan
dan penyaluran dana.
c. Aspek Pendapatan
Aspek ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam
meningkatkan laba atau untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan
profitabilitas yang dicapai perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan

17

yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas terus


meningkat.
d.

Aspek Likuditas
Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid, apabila perusahaan yang
bersangkutan dapat membayar semua hutang-hutangnya terutama
hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang pada saat jatuh
tempo. Secara umum rasio ini merupakan rasio antara jumlah aktiva
lancar dibagi dengan hutang lancar.

e. Aspek Pertumbuhan Penjualan


Menjual produk dalam jumlah yang besar dan pertumbuhan penjualan
akan meningkat yang mengakibatkan laba perusahaan akan meningkat
pula. Dengan meningkatnya laba perusahaan, maka keuntungan yang
diperoleh para investor akan meningkat. Semakin tinggi pertumbuhan
penjualan berarti semakin efektif penggunaan penjualan tersebut.
Pertumbuhan penjualan yang efektif sangatlah penting bagi perusahaan,
karena dapat meningkatkan tingkat laba yang dihasilkan suatu
perusahaan
Dalam praktek, Pertumbuhan Laba itu dipengaruhi oleh beberapa faktor
sebagai berikut: (Swastha dan Irawan, 2004).
1. Return On Asset (ROA).
Return On Asset (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang
efektivitas manajemen dalam mengelola asetnya. Di samping itu, hasil
pengembalian asset menunjukan produktivitas dari Pertumbuhan Laba
perusahaan. Semakin kecil (rendah) rasio ini maka semakin rendah

18

tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan, demikian pula sebaliknya.


Artinya rasio ini sangat berguna untuk mengukur efektivitas dari
Pertumbuhan Laba perusahaan.
2. Return On Equity (ROE).
Rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa mengukur tingkat
pengembalian modal. ROE sangat berguna dalam meningkatkan
Pertumbuhan Laba perusahaan, dan juga manajemen karena rasio
tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholder
value creation. Artinya semakin tinggi rasio ROE, semakin tinggi
pula tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan
3. Debt To Equity Ratio (DER)
Kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua hutanghutangnya menunjukkan

solvabilitas suatu perusahaan. Suatu

perusahaan yang solvable berarti perusahaan tersebut mempunyai


modal atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutanghutangnya (Riyanto, 2001).
Menurut Brealey (2008:120) untuk mengukur Pertumbuhan Laba dapat
digunakan rumus sebagai berikut :

19

2. ROA (Return On Asset)


a. Pengertian ROA
Return on Investment atau Return on Assets menunjukkan kemampuan
perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Dengan
mengetahui rasio ini, akan dapat diketahui apakah perusahaan efisien dalam
memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaan. Rasio ini juga
memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena
menunjukkan

efektivitas

manajemen

dalam

menggunakan

aktiva

untuk

memperoleh pendapatan. Analisa Return on Asset (ROA) dalam analisa keuangan


mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan
yang bersifat menyeluruh/komprehensif.
Analisa Return on Asset (ROA) ini sudah merupakan tehnik analisa yang
lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektivitas dari
keseluruhan operasi perusahaan. Return on Asset (ROA) itu sendiri adalah salah
satu bentuk dari ratio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur
kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva
yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
Dengan demikian Return on Asset (ROA) menghubungkan keuntungan yang
diperoleh dari operasi perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah
investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi
tersebut (Net Operating Assets). Sebutan lain untuk rasio ini adalah Net
Operating Profit Rate of Return atau Operating Earning Power (Munawir 2005 :
89).

20

b. Manfaat ROA
Kasmir (2008, hal 197), menerangkan bahwa tujuan dan manfaat
penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar
perusahaan yakni :
1) untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam
satu periode tertentu
2) untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun
sekarang
3) untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
4) untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
5) untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal pinjaman maupun modal sendiri
6) untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang
digunakan baik modal sendiri
Formulasi dari Return on Asset atau ROA adalah sebagai berikut:

(Wild, 2005, Hal. 41)


3. ROE (Return On Equity)
a. Pengertian ROE
Return on Equity atau Return on Net Worth mengukur kemampuan
perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan atau
untuk mengetahui besarnya kembalian yang diberikan oleh perusahaan untuk
setiap rupiah modal dari pemilik. Rasio ini dipengaruhi oleh besar kecilnya utang

21

perusahaan, apabila proporsi utang makin besar maka rasio ini juga akan makin
besar. Formulasi dari Return on Equity atau ROE adalah sebagai berikut:
Rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa merngukur tingkat
pengembalian atas investasi pemegang saham. ROE sangat menarik bagi
pemegang saham maupun calon pemegang saham, dan juga manajemen karena
rasio tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholder value
creation. Artinya semakin tinggi rasio ROE, semakin tinggi pula nilai
perusahaan, hal ini tentunya merupakan daya tarik investor untuk menanamkan
modalnya di perusahaan tersebut.
Return On Equity (ROE) yang menggambarkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba yang bisa diperoleh pemegang saham. Indikator yang dipakai
menilai efektivitas dan efesiensi perusahaan dalam menggunakan assets untuk
memperoleh laba banyak dipakai adalah Return On Assets (ROA). Menurut
(Natarsyah, 2004) faktor fundamental seperti Return On Equity berpengaruh
terhadap harga saham perusahaan. Semakin tinggi nilai ROE menunjukkan
semakin tinggi laba bersih dari perusahaan yang bersangkutan (Ang, 2001). Ada
hubungan yang positif antara ROE dengan harga saham perusahaan yang dapat
meningkatkan nilai buku saham perusahaan (Higgins, 2003).
Pada rumus di atas menunjukkan bahwa dengan meningkatnya laba bersih
maka akan meningkat pula nilai dari ROE jika ekuitasnya tetap. Demikian pula
sebaliknya dengan menurunnya laba bersih akan menurunkan nilai ROE.
Menurut Bodie, Kane and Marcus (2002 ) Return on Equity ( ROE ) yang
merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas ini merupakan salah
satu dari dua faktor dasar dalam menentukan pertumbuhan tingkat pendapatan

22

perusahaan. Ada dua sisi dalam menggunakan ROE, kadang-kadang diasumsikan


bahwa ROE yang akan datang merupakan perkiraan dari ROE yang lalu. Tetapi
ROE yang tinggi pada masa yang lalu tidak menjamin ROE yang akan datang
masih tetap tinggi.
Penurunan ROE merupakan bukti bahwa investasi baru pada perusahaan
tersebut menghasilkan ROE yang lebih rendah dari investasi lama. Hal paling
penting dari para analis adalah tidak perlu menerima nilai historis sebagai
indikator dari nilai yang akan datang.
b. Manfaat ROE
Kasmir (2008, hal 197), menerangkan bahwa tujuan dan manfaat
penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan yakni :
1) untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam
satu periode tertentu
2) untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun
sekarang
3) untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
4) untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
5) untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal pinjaman maupun modal sendiri
6) untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang
digunakan baik modal sendiri
Formulasi dari return on equity atau ROE adalah sebagai berikut:

(Wild, 2005, Hal. 41)

23

4. Debt to Equity Ratio (DER)


a. Pengertian DER
Manajemen utang perusahaan dapat diukur dengan rasio solvabilitas. Rasio
ini menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang (dana pihak luar).
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang
digunakan perusahaan sehingga memperbesar resiko yang ditanggung perusahaan.
Menurut Warsono (2003:36) rasio solvabilitas dapat menggunakan dua ukuran,
yaitu rasio hutang total terhadap total aktiva (debt ratio/DR).
Rasio hutang terhadap total aktiva / debt ratio (DR) Debt ratio yang biasa
disebut rasio hutang, melihat keseluruhan total hutang baik hutang jangka panjang
maupun jangka pendek yang disediakan kreditur dibandingkan dengan total
aktiva. Rasio ini digunakan untuk melihat seberapa besar jumlah aktiva yang
digunakan untuk menjamin besarnya hutang sehingga debt to equity ratio.
Rasio ini merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur
perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa
besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan
berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Semakin tinggi rasio ini maka
pendanaan dengan utang semakin banyak. Maka semakin sulit bagi perusahaan
untuk memperoleh tambahan pinjaman karena dikhawatirkan perusahaan tidak
mampu menutupi utang-utangnya dengan aktiva yang dimilikinya. Sebaliknya
semakin rendah rasio ini maka semakin kecil perusahaan dibiayai utang.
b. Manfaat DER
Menurut Brealey dan Myers (2001), manfaat rasio solvabilitas adalah
sebagai berikut :

24

1) Perusahaan lebih menyukai internal financing (dana internal). Dana internal


tersebut diperoleh dari laba yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
2) Perusahaan menyesuaikan target dividen payout ratio terhadap peluang
investasi mereka, sementara mereka menghindari perubahan dividen secara
drastis.
3) Kebijakan dividen yang sticky ditambah fluktuasi profitabilitas dan peluang
investasi yang tidak dapat diproksi, berarti terkadang aliran kas internal
melebihi kebutuhan investasi namun terkadang kurang dari kebutuhan
investasi.
4) Apabila pendanaan eksternal diperlukan, pertama-tama perusahaan akan
menerbitkan sekuritas yang paling aman, yaitu mulai dari penerbitan hutang
convertible bond , dan alternatif paling akhir adalah saham.
Adapun untuk mengukur DER adalah sebagai berikut

5. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Joni dan Lina (2010) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba,
dengan hasil penelitian Profitabilitas, ukuran perusahaan, dividen, struktur
asset memiliki pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.
2. Yoko (2011) Pengaruh ROA, ROE, DER Terhadap Pertumbuhan Laba,
dengan hasil ROA, ROE, memiliki pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba,
sementara DER tidak memiliki pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.
3. Sri Hermuningsih (2007) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Yang Go Publik Di Indonesia,dengan

25

hasil penelitian bahwa Ukuran Perusahaan dan DER memiliki pengaruh


terhadap Pertumbuhan Laba, sedangkan EPS tidak berpengaruh terhadap
Pertumbuhan Laba
4. Vina Ratna Furi (2009) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Laba Pada Perusahaan manufaktur Yang Terdaftar di BEI, dengan hasil
penelitian ukuran perusahaan, risiko bisnis, struktur aktiva dan rasio hutang
memiliki pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba, sedangkan profitabilitas tidak
memiliki pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.
5. Ita Lopolusi (2007) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Laba Sektor Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI, dengan hasil penelitian
bahwa variabel hutang berpengaruh negtif tidak signifikan terhadap
Pertumbuhan Laba.

B. Kerangka Konseptual
Pertumbuhan adalah unsur yang esensial bagi keberhasilan dan
kehidupan

banyak

perusahaan.

Tanpa

pertumbuhan,

perusahaan

sulit

membangkitkan dedikasi (pengabdian) terhadap pencapaian tujuannya dan


menarik para manajer yang cakap. Pertumbuhan dapat bersifat internal atau
eksternal. Pertumbuhan Laba pada prinsipnya adalah perusahaan membeli aktiva
tertentu dan membiayainya dengan retensi laba atau pembiayaan dari luar. (Van
Horne, 2004: 187).
Menurut Swastha dan Irawan, (2004) Pertumbuhan Laba itu dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti : ROA, ROE, DER.

26

Menurut Kasmir (2005:205) Rasio Return On Asset (ROA) menunjukkan


keefisienan perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva. Menurut Bambang
Riyanto (2009 : 37) Dalam usaha pencapaian laba optimal, perusahaan membuat
berbagai kebijakan. Perusahaan dapat menggunakan rasio Return On Asset (ROA)
sebagai indikator mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
Rasio ini diperoleh membagikan laba bersih perusahaan dengan total aktiva
Return On Asset (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas
manajemen dalam mengelola asetnya. Di samping itu, hasil pengembalian asset
menunjukan produktivitas dari Pertumbuhan Laba perusahaan. Semakin kecil
(rendah) rasio ini maka semakin rendah tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan,
demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini sangat berguna untuk mengukur
efektivitas dari Pertumbuhan Laba perusahaan perusahaan.
Menurut Haryanto dan Toto (2003;142) Rasio laba bersih terhadap ekuitas
saham biasa merngukur tingkat pengembalian modal. ROE sangat berguna dalam
meningkatkan Pertumbuhan Laba perusahaan, dan juga manajemen karena rasio
tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholder value
creation. Artinya semakin tinggi rasio ROE, semakin tinggi pula tingkat
Pertumbuhan Laba perusahaan.
Semakin tinggi DER, maka semakin rendah tingkat pendanaan yang
disediakan oleh pemilik sehingga akan sulit memperoleh pendanaan dari kreditor
untuk mendukung kegiatan operasionalnya yang dapat berakibat pada penurunan
laba perusahaan (santoso, 2006:128).
Dari hasil penjelasan diatas maka dapat dilihat gambar kerangka
konseptual dibawah ini :

27

ROA

ROE

Pertumbuhan Laba

DER

Gambar II.1
Kerangka Konseptual
C. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Ada pengaruh ROA terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan Plastik
dan kemasan
2. Ada pengaruh ROE terhadap Pertumbuhan Laba perusahaan Plastik dan
kemasan
3. Ada pengaruh DER terhadap Pertumbuhan Laba perusahaan Plastik dan
kemasan
4. Ada pengaruh ROA, ROE dan DER secara simultan terhadap Pertumbuhan
Laba. perusahaan Plastik dan kemasan

28

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif
asosiatif. Menurut Umar (2003:30), penelitian kuantitatif adalah merupakan
pendekatan penelitian yang mendasarkan diri pada paradigma postpositivist dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan. Didalam penelitian ini melaksanakan
pengujian teori dengan uji statistik.

B. Definisi Operasional
Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen dan satu variabel
dependen. Definisi operasional masing-masing variabel dalam penelitian ini
sebagai berikut:
1. Variabel Independen (X)
Return on Asset (ROA)
Return on Asset (ROA) menghubungkan keuntungan yang diperoleh
dari operasi perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah
investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan
operasi tersebut (Net Operating Assets) (Munawir 2005 : 89).
ROA

Laba bersih Setelah Pajak


x100
Jumlah Total Asset

28

29

Return On Equity (ROE)


Return

On

Equity

(ROE)

yang

menggambarkan

kemampuan

perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh pemegang saham.


Indikator yang dipakai menilai efektivitas dan efesiensi perusahaan
(Natarsyah, 2000).

Debt To Equity Ratio (DER)


mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya
yang ditunjukkan oleh beberapa bagian dari modal sendiri atau ekuitas
yang digunakan untuk membayar hutang (Warsono, 2003:36).
DER

Total Hu tan g
x100
Jumlah Total Modal

2. Variabel Dependen (Y)


Pertumbuhan Laba Perusahaan (L)
Pertumbuhan Laba adalah perubahan pada laporan keuangan per tahun.
Pertumbuhan

berkaitan

dengan

bagaimana

terjadinya

stabilitas

peningkatan laba ditahan kedepan. Pertumbuhan Laba yang di atas ratarata bagi suatu perusahaan pada umumnya didasarkan pada pertumbuhan
cepat yang diharapkan dan industri dimana perusahaan beroperasi
(Fabozzi 2000, Hal. 881).

Keterangan :
Yit = pertumbuhan laba pada tahun tertentu.

30

Yit = laba perusahaan pada periode tertentu


Yit-n = laba perusahaan pada periode sebelumnya

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Adapun tempat dan waktu penelitian sebagai berikut :
Tempat : Perusahaan Plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI
Waktu : Penelitian ini dimulai dari bulan Juli hingga Oktober 2014
Tabel III.1
Waktu Penelitian
Bulan Pelaksanaan 2014
Jadwal kegiatan

Jul

Agt

Sept

Okt

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.Pengajuan judul
2.Pembuatan Proposal
3. Bimbingan Proposal
4. Seminar Proposal
5. Pengumpulan Data
6. Bimbingan Skripsi
7. Sidang Meja Hijau

D. Populasi Dan Sampel Penelitian


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek / subjek,
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari untuk kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2004 : 72).
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
periode 2010-2013. Populasi penelitian adalah perusahaan plastik dan kemasan
yang terdaftar di BEI yang berjumlah sebanyak 10 perusahaan.

31

Tabel III.2
Populasi Dan Sampel Peruashaan Plastik Dan Kemasan
No
Perusahaan
Emiten
1

APLI

Asiaplast Industries Tbk

BRNA Berlina Tbk

IGAR

Champion Pacific Indonesia Tbk.

SIAP

Sekawan Intipratama Tbk.

TRST

Trias Sentosa Tbk.

YPAS

Yanaprima Hastapersada Tbk.

AKKU Alam Karya Unggul Tbk

AKPI

Argha Karya Prima Industry Tbk.

FPNI

Lotte Chemical Titan Tbk.

10

SIMA

Siwani Makmur Tbk.

2. Sampel penelitian
Sampel yang digunakan dalam penilitian ini adalah 11 perusahaan plastik
dan kemasan. Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah
populasi relatif kecil, kurang dari 30 perusahaan, atau penelitian yang ingin
membutuhkan generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

32

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumentasi
yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasikan, dan mengalisis data sekunder
berupa catatancatatan, laporan keuangan, maupun informasi lainnya yang terkait
dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengennai ROA, ROE, DER, dan
Pertumbuhan Laba diperoleh dari data laporan keuangan perusahaan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan mengalisis data
sekunder berupa catatan catatan, laporan keuangan, maupun informasi lainnya
yang terkait dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengenai ROA, ROE,
DER dan Pertumbuhan Laba.
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan analisis yang paling mendasar untuk
menggambarkan keadaan data secara umum. Statistik deskriptif ini meliputi
beberapa hal sub menu deskriptif statistik seperti frekuensi, deskriptif, eksplorasi
data, tabulasi silang dan analisis rasio yang menggunakan Minimum, Maksimum,
Mean, Median, Mode, Standard Deviasi.
2. Regresi Linier Berganda
Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh hubungan antara variabelvariabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan analisis
regresi linear berganda. Statistik untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan metode regresi linier berganda dengan rumus:
Y= a + b1x1+ b2x2 + b3x3 +e

33

Dalam hal ini,


Y

= Pertumbuhan Laba

= konstanta persamaan regresi

b1,b2,

= koefisien regresi

x1

= ROA

x2

= ROE

x3

= DER

= Eror

a. Pengujian Asumsi Klasik


Model regresi yang digunakan dalam menguji hipotesis haruslah
menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan asumsi klasik. Asumsi klasik
regresi meliputi (Imam Ghozali dalam Sugiyono, 2002)
1) Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel
terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati
normal. Metode yang dapat dipakai untuk normalitas antara lain:
Analisis grafik dan analisis statistik. Uji normalitas dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara analisis grafik. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat
penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat
histogram dari residualnya: Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan
mengikuti garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi
normal (menyerupai lonceng), regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data
menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal
atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model
regresi tidak memenuhi asumsi normalitas

34

2) Uji Gejala Multikolinearitas


Masalah-masalah yang mungkin akan timbul pada penggunaan
persamaan regresi berganda adalah multikolinearitas, yaitu suatu keadaan yang
variabel bebasnya berkorelasi dengan variabel bebas lainnya atau suatu variabel
bebas

merupakan

fungsi

linier

dari

variabel

bebas

lainnya.

Adanya

Multikolinearitas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai variance inflation
factor (VIF). Nugroho (2005) dalam Sujianto (2009) menyatakan jika nilai
Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 maka model terbebas dari
multikolinearitas.
3) Uji Gejala Autokorelasi
Autokorelasi dapat diartikan sebagai korelasi yang terjadi di antara
anggota-anggota dari serangkaian observasi yang berderetan waktu (apabila
datanya time series) atau korelasi antara tempat berdekatan (apabila cross).
Adapun

uji

yang

dapat

digunakan

untuk

mendeteksi

adanya

penyimpangan asumsi klasik ini adalah uji Durbin Watson (D-W stat) dengan
ketentuan sebagai berikut (Sujianto, 2009:80) :
1. 1,65 < DW < 2,35 maka tidak ada autokorelasi.
2. 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 maka tidak dapat
disimpulkan.
3. DW < 1,21 atau DW > 2,79 maka terjadi auto korelasi.
4) Uji Gejala Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedasitas. Metode

35

yang dapat dipakai untuk mendeteksi gejala heterokedasitas antara lain: metode
grafik, park glejser, rank spearman dan barlett.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeteksi gejala
heteroskedasitas dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat
(ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya heteroskedasitas
dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot
antara ZPRED dan SRESID dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan
sumbu X adalah residual (Y prediksi Y sesungguhnya) yang terletak di
Studentized ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Jika ada titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur maka
mengidentifikasikan telah terjadi heterokedasitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas.
3. Pengujian Hipotesis
a. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
independen yang terdiri atas ROA, ROE dan DER, terhadap Pertumbuhan Laba.
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam uji ini adalah sebagai
berikut:
1). Merumuskan hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh ROA, ROE dan DER, terhadap Pertumbuhan
Laba, terhadap Pertumbuhan Laba.
H1 : ada pengaruh ROA, ROE dan DER, terhadap Pertumbuhan Laba,
terhadap Pertumbuhan Laba.

36

Jika tsig > 0,05 berarti Ho diterima dan H1 Ditolak


Jika tsig 0,05 berarti Ho ditolak. dan H1 Diterima
t=

rxy n 2
1 r x y

b. Uji F
Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara bersamasama terhadap variabel tidak bebas. Tahapan uji F sebagai berikut:
1). Merumuskan hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh ROA, ROE dan DER, terhadap Pertumbuhan
Laba.
H1 : ada pengaruh ROA, ROE dan DER, terhadap Pertumbuhan Laba
2). Membandingkan hasil Fsig dengan nilai probababilitas 0,05 dengan
kriteria sebagai berikut:
Jika Fsig > 0,05 berarti Ho diterima dan H1 Ditolak
Jika Fsig 0,05 berarti Ho ditolak. dan H1 Diterima

Fh

R2 k

1 r n k 1
2

Dimana :
R
= Koefisien korelasi berganda
K
= Jumlah variabel bebas
N
= sampel
c. Uji Determinasi
Untuk mengetahui seberapa besar persentase hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat, digunakan rumus uji Determinasi
D = R2 x 100 %.

37

Dimana:
D

= koefisien determinasi

R2

= hasil kuadrat korelasi berganda

38

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
Perusahaan plastik dan kemasan merupakan perusahaan yang bergerak di
bidang bahan-bahan pembuat kain yang menghasilkan produk untuk di konsumsi
masyarakat setiap harinya sesuai kebutuhan masing-masing rumah tangga,
meskipun sebagian produknya merupakan kebutuhan dasar. Di Bursa Efek
Indonesia terdapat 13 perusahaan industri plastik dan kemasan, yang menjadi
sampel pada penelitian ini.
Tabel IV.1
Data ROA, ROE, DER, Pertumbuhan Laba Perusahaan Plastik dan
kemasan
No

Emiten

AKKU

AKPI

APLI

BRNA

Tahun
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013

ROA
-16.50
-75.58
-19.15
0.91
4.81
3.65
1.81
1.13
7.36
4.90
1.26
-1.00
6.89
6.80
7.07
0.41

38

ROE
-31.58
-149.85
-51.87
10.32
9.06
7.43
3.69
2.27
10.75
7.59
1.92
-1.48
18.85
17.21
18.06
1.24

DER
0.91
0.98
1.71
10.30
0.88
1.04
1.03
1.00
0.46
0.55
0.53
0.48
1.62
1.53
1.55
2.04

PL
17.52
-89.90
77.21
-122.20
-40.41
-9.04
-45.20
-27.07
-18.19
-33.59
-74.35
-174.81
70.17
15.41
24.43
-92.80

39

2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013
2010
2011
2012
2013

FPNI

SIMA

TRST

YPAS

SIAP

-6.98
-3.87
-5.18
-2.29
-18,34
-67,01
-10,72
-9,52
6,74
6,75
2,81
0,76
10,55
7,44
4,71
1,99
3,56
2
1,84
0,09

-16.04
-10.50
-15.62
-7.54
-84,27
152,34
33,46
-13,49
11,04
10,86
4,54
1,41
16,11
11,2
10,01
4,65
6,9
3,18
3,2
0,2

1.30
-158.37
1.72
43.30
2.02
-37.20
2.30
-46.07
3,59
7,53
-3,27 -245,41
-4,12
83,62
0,42 -16,23
0,64
-4,97
0,61
5,32
0,62 -57,32
0,87
62,77
0,53
14,27
0,51 -21,55
1,12
-0,89
1,34 -51,25
0,66
18,73
0,59
-39,3
0,74
3,98
1,33 -93,71

2. Analisis Data
a. Statistik Deskriptif
Menurut Imam Ghozali (2006), statistic deskriptif dapat mendeskriptifkan
suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness. Pengujian statistic
deskriptif merupakan proses analisis yang merupakan proses menyeleksi data
sehingga data yang akan dianalisis memiliki distribusi normal. Deskripsi masingmasing variabel penelitian ini dapat dilihat pada tabel IV. 2 dibawah.
Tabel IV.2
Hasil Uji Statistik Deskriptif
N
ROA
ROE
DER

36

Minimum
-75,58

Maximum
10,55

Mean
-3,8861

Std. Deviation
18,13793

36

-149,85

152,34

-,1319

41,63757

36

-4,12

10,30

1,1147

2,04175

40

PL

36

Valid N (listwise)

36

-245,41

83,62

-29,3214

70,50957

Sumber : Data diolah SPSS 2014


Dari table IV.2 diatas dapat dilihat nilai ROA memiliki nilai minimum
sebesar -75.58 hal ini menunjukkan bahwa nilai ROA terendah yang terdapat pada
perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. Nilai Maksimum pada nilai
ROA sebesar 10.55 hal ini menunjukkan bahwa nilai ROA terbesar yang terdapat
pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. rata-rata nilai ROA
pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI sebesar -3.88.
Dari table IV.2 diatas dapat dilihat nilai ROE memiliki nilai minimum
sebesar -149,85 hal ini menunjukkan bahwa nilai ROE terendah yang terdapat
pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. Nilai Maksimum pada
nilai ROE sebesar 152,34 hal ini menunjukkan bahwa nilai ROA terbesar yang
terdapat pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. rata-rata nilai
ROE pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI sebesar -0,1319
Dari table IV.2 diatas dapat dilihat nilai DER memiliki nilai minimum
sebesar -4,12 hal ini menunjukkan bahwa nilai DER terendah yang terdapat pada
perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. Nilai Maksimum pada nilai
DER sebesar 10,30 hal ini menunjukkan bahwa nilai DER terbesar yang terdapat
pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. rata-rata nilai DER
pada perusahaan plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI sebesar 1,1147.
Dari table IV.2 diatas dapat dilihat nilai PL memiliki nilai minimum
sebesar --245,41 hal ini menunjukkan bahwa nilai PL terendah yang terdapat pada
perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. Nilai Maksimum pada nilai
PL sebesar 83,62 hal ini menunjukkan bahwa nilai PL terbesar yang terdapat pada

41

perusahaan plastik dan kemasan yang terdapat di BEI. rata-rata nilai PL pada
perusahaan plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI sebesar -29,3214.
b. Analisis Regresi Linier Berganda
1) Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas tentu saja untuk mengetahui apakah
suatu variabel normal atau tidak. Normal disini dalam arti mempunyai distribusi
data yang normal. Normal atau tidaknya data berdasarkan patokan distribusi
normal data dengan mean dan standar deviasi yang sama. Jadi uji normalitas pada
dasarnya melakukan perbandingan antara data yang kita miliki dengan
berdistribusi normal yang memiliki mean dan standar deviasi yang sama dengan
data.
Hasil Pengolahan data tersebut, dapat diperoleh bahwa data dalam
penelitian berdistribusi normal. Suatu data dikatakan terdistribusi secara normal
apabila memiliki nilai uji kolmogorov Asym.Sig lebih besar dari 0.05.
Tabel IV.3
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
ROA
N
Normal Parameters(a,b)

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

Absolute

ROE

DER

PL

36

36

36

36

-3,8861

-,1319

1,1147

-29,3214

18,13793

41,63757

2,04175

70,50957

,258

,269

,311

,128

Positive

,238

,269

,245

,084

Negative

-,258

-,240

-,311

-,128

1,546

1,612

1,868

,770

,168

,111

,187

,594

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.

Hasil Pengolahan data tersebut, dapat diperoleh bahwa data dalam


penelitian berdistribusi normal. Suatu data dikatakan terdistribusi secara normal

42

apabila nilai dari setiap variabel > 0.05 seperti nilai variabel ROA sebesar 0.168,
untuk nilai ROE 0.111, DER sebesar 0.187 dan PL sebesar 0,594

Gambar IV.1
P-Plot Normalitas
Hasil Pengolahan data tersebut, dapat diperoleh bahwa data dalam
penelitian berdistribusi normal. Suatu data dikatakan terdistribusi secara normal
apabila titik mengikuti garis diagonal pada grafik P-Plot.
c) Uji Multikolinearitas
Menurut Ghozali (2005: 91), uji multikolinearitas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (
independen). Pada model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
antar variabel independen, karena korelasi yang tinggi antara variabel-variabel
bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di
antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap
variabel terikatnya menjadi terganggu Pengujian multikolinearitas dilakukan
dengan melihat VIF antar variabel independen. Jika VIF menunjukkan angka
lebih kecil dari 10 menandakan tidak terdapat gejala multikolinearitas. Disamping

43

itu, suatu model dikatakan terdapat gejala multikolinearitas jika nilai VIF diantara
variabel independen lebih besar dari 10.
Tabel IV.3
Hasil Uji Multikolinearitas
Collinearity Statistics
Tolerance
,865
,806
,797
Sumber : Data diolah SPSS 2014

VIF
1,156
1,241
1,254

Dari data diatas setalah diolah menggunakan SPSS dapat diliha bahwa
nilai tolerance setiap variabel lebih kecil nilai VIF < 10 hal ini membuktikan
bahwa nilai VIF setiap variabelnya bebas dari gejala multikolinearitas.
d) Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2005:105) uji heteroskedastisitas bertujuan menguji
apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain, karena karena untuk melihat apakah
terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan
yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat
kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap
atau disebut homoskedastisitas. Suatu model regresi yang baik adalah tidak terjadi
heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk menguji ada tidaknya situasi
heteroskedastisitas dalam varian error terms untuk model regresi. Dalam
penelitian ini akan digunakan metode chart (Diagram Scatterplot), dengan dasar
pemikiran bahwa :
1) Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poin-poin), yang ada
membentuk suatu pola tertentu yang beraturan (bergelombang,

44

melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.


2) Jika ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar keatas dan dibawah
0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar IV.2
Scater Plot
Dari gambar scater plot diatas dapat dilihat bahwa titik menyebar keatas
dan dibawah sumbu 0 pada sumbu Y dan ini menunjukkan bahwa data penelitian
ini tidak terjadi gejala heteroskedasitas.
e) Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2008 : 95) Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah
dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul
karena observasi yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang
lainnya. Hal ini sering ditemukan pada time series. Ada berbagai cara untuk
menguji adanya autokorelasi, seperti metode grafik, uji LM, Uji Runs, Uji BG
(Breusch Godfrey), dan DW (Durbin Watson). Pada penelitian ini, uji
autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Run. Jika nilai Asymp. Sig. (2-

45

tailed) > 0,05 maka tidak ditemukan gejala autokorelasi, jika nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) < 0,05 maka ditemukan gejala autokorelasi.

Tabel IV.4
Uji Autokorelasi
Mode
l
R
R Square
Durbin-Watson
1
,592(a)
,351
2,181
Sumber : Data diolah SPSS 2013
Dari tabel IV.7 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 2,181 Angka
ini terletak di antara seperti kriteria yang dikemukakan oleh Ghozali (2008 : 95)
1. 1,65 < DW < 2,35 maka tidak ada autokorelasi.
2. 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 maka tidak dapat
disimpulkan.
3. DW < 1,21 atau DW > 2,79 maka terjadi auto korelasi.
f) Persamaan Regresi
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen yaitu nilai perputaran asset,
DER, ROA, serta satu variabel dependen yaitu DER. Adapun rumus dari regresi
linier berganda adalah sebagai berikut :
Y= a + b1x1 + b2x2 +e
Tabel IV.5
Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Unstandardized
Coefficients

Model

(Constant)
ROA

Standardized
Coefficients

B
-7,591

Std. Error
12,244

Beta

t
-,620

Sig.
,540

2,183

,596

,562

3,666

,001

ROE

-,784

,269

-,463

-2,917

,006

DER

-11,976

5,510

-,347

-2,174

,037

a Dependent Variable: PL

Sumber : Data diolah SPSS 2014

46

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan menggunakan SPSS 15.0 diatas


akan didapat persamaan regresi berganda model regresi sebagai berikut :
PL = -7,591 + 2,183ROA -0,784ROE - 11,976DER
Berdasarkan persamaan regresi tersebut dianalisis pengaruh ROA, ROE,
DER, terhadap PL yaitu :
1.

-7,591 menunjukkan bahwa apabila variabel ROA, ROA, DER adalah nol (0)
maka nilai DER sebesar -7,591%.

2. 2,183 menunjukkan bahwa apabila variabel ROA ditingkatkan 100% maka


nilai DER akan bertambah sebesar 2,183%
3.

0,784 menunjukkan bahwa apabila variabel ROA ditingkatkan 100% maka


nilai DER akan berkurang sebesar 0,784%.

4. 11,976 menunjukkan bahwa apabila variabel DER ditingkatkan 100% maka


nilai DER akan berkurang sebesar 11,976%.

g) Uji Determinasi
Identifikasi koefisien determinasi ditunjukkan untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Jika koefisien
determinasi (R2) semakin besar atau mendekati 1, maka dapat dikatakan bahwa
kemampuan variabel bebas (X) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). hal ini
berarti model yang digunakan semakinkuat untuk menerangkan pengaruh variabel
bebas teliti dengan variabel terikat. Sebaliknya, jika koefisien determinasi (R2)
semakin kecil atau mendekati 0 maka dapat dikatakan bahwa kemampuan variabel
bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) semakin kecil.

47

Tabel IV.6
Uji Determinasi
Mode
l
R
R Square
Durbin-Watson
1
,592(a)
,351
2,181
Sumber : Data Diolah SPSS 2014
Dari hasil uji R Square dapat dilihat bahwa 0.351 dan hal ini menyatakan
bahwa variable ROA, ROE, DER sebesar 35.1% untuk mempengaruhi variabel
PL sisanya dipengaruhi oleh factor lain atau variable lain. Alasan menggunakan R
Square karena peneliti memilih sampel dengan non-random (misalnya sampling
purposif, accidental) maka individu yang kita teliti namanya subjek atau
partisipan, bukan sampel.
4. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian diuji adalah dengan
menggunakan analisis regresi berganda. Hipotesis pertama (H1) sampai hipotesis
ke dua (H2) dianalisis dengan menggunakan model regresi linear untuk melihat
pengaruh masing-masing terhadap return saham dengan menggunakan t-test dan
f-test:
a. Uji signifikansi simultan (F-test)
Uji F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen
yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan fsig dengan
tingkat signifikan 0.05.
Untuk menguji apakah ROA, ROE, DER berpengaruh signifikan terhadap
PL, maka hipotesisnya :
- H0 : 1 = 0 (tidak ada pengaruh ROA, ROE, DER terhadap PL)
- H1 : 1 0 (ada pengaruh signifikan ROA, ROE, DER terhadap PL)

48

Kriteria penerimaan/penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :


Terima H1 jika nilai probabilitas F taraf signifikan sebesar 0.05 (Sig. 0.05)
Terima H0 jika nilai probabilitas F > taraf signifikan sebesar 0.05 (Sig. > 0.05)
Tabel IV.8
Uji F (Anova)
Sum of
Squares
Regression
60999,007
Residual
113006,97
2
Total
174005,97
9
a Predictors: (Constant), DER, ROA, ROE
b Dependent Variable: PL
Model
1

df
3

Mean Square
20333,002

32

3531,468

F
5,758

Sig.
,003(a)

35

Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan Fhitung > Ftabel
(5.758> 2.79) dan Fsig < 0.05 (Sig. 0.003 < 0.05), dengan demikian H1 diterima .
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROA, ROE, DER terhadap PL.
b. Uji signifikansi parsial (t-test)
Pengujian t-test digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel independen terhadap variabel dependen.
Untuk menguji apakah ROA, ROE, DER terhadap PL, maka hipotesisnya :
- H0 : 1 = 0 (tidak ada pengaruh ROA, ROE, DER terhadap PL)
- H1 : 1 0 (ada pengaruh signifikan ROA, ROE, DER terhadap PL)
Tabel IV.8
Uji t
Unstandardized
Coefficients

Model

Standardized
Coefficients

B
-7,591

Std. Error
12,244

-,620

Sig.
,540

ROA

2,183

,596

,562

3,666

,001

ROE

-,784

,269

-,463

-2,917

,006

DER

-11,976

5,510

-,347

-2,174

,037

(Constant)

Sumber : Data diolah SPSS 2014

Beta

49

Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi ROA berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.001 > 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROA terhadap PL.
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi ROE berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.006 < 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROE terhadap PL.
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DER berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.037 < 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan DER terhadap PL

B. Pembahasan
1. Pengaruh ROA Terhadap PL
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi ROA berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.001 > 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROA terhadap PL..
Menurut Kasmir (2005:205) Rasio Return On Asset (ROA) menunjukkan
keefisienan perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva. Menurut Bambang
Riyanto (2009 : 37) Dalam usaha pencapaian laba optimal, perusahaan membuat
berbagai kebijakan. Perusahaan dapat menggunakan rasio Return On Asset (ROA)
sebagai indikator mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
Rasio ini diperoleh membagikan laba bersih perusahaan dengan total aktiva
Return On Asset (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas
manajemen dalam mengelola asetnya. Di samping itu, hasil pengembalian asset
menunjukan produktivitas dari Pertumbuhan Laba perusahaan. Semakin kecil

50

(rendah) rasio ini maka semakin rendah tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan,
demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini sangat berguna untuk mengukur
efektivitas dari Pertumbuhan Laba perusahaan perusahaan.

2. Pengaruh ROE Terhadap PL


Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi ROE berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.006 < 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROE terhadap PL.
Menurut Haryanto dan Toto (2003;142) Rasio laba bersih terhadap ekuitas
saham biasa merngukur tingkat pengembalian modal. ROE sangat berguna dalam
meningkatkan Pertumbuhan Laba perusahaan, dan juga manajemen karena rasio
tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholder value
creation. Artinya semakin tinggi rasio ROE, semakin tinggi pula tingkat
Pertumbuhan Laba perusahaan
3. Pengaruh DER Terhadap PL
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DER berdasarkan uji t
diperoleh sebesar tsig < 0.05 (Sig 0.037 < 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan DER terhadap PL.
Semakin tinggi DER, maka semakin rendah tingkat pendanaan yang
disediakan oleh pemilik sehingga akan sulit memperoleh pendanaan dari kreditor
untuk mendukung kegiatan operasionalnya yang dapat berakibat pada penurunan
laba perusahaan (santoso, 2006:128)

51

4. Pengaruh ROA, ROA, DER Terhadap PL


Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan Fhitung > Ftabel
(5.758> 2.79) dan Fsig < 0.05 (Sig. 0.003 < 0.05), dengan demikian H1 diterima .
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan ROA, ROE, DER terhadap PL.
Menurut Brigham (2000:60) Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi
struktur modal perusahaan menjadi hal yang penting sebagai dasar pertimbangan
dalam menentukan komposisi struktur modal perusahaan. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi komposisi struktur modal perusahaan diantaranya stabilitas
penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas,
pajak, pengendalian, sikap manajemen, dividen, ukuran perusahaan, dan
fleksibilitas keuangan.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya membatasi beberapa faktor yang akan
diteliti yang diduga berpengaruh terhadap struktur modal diantaranya perputaran
aset, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan. Karena untuk menunjukkan
seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi total hutang berdasar
total modal sendiri.
Lucas (2008:273) menyatakan bahwa beberapa faktor penting dalam
menentukan struktur modal (capital structure decisions) meliputi beberapa faktor:
Kelangsungan hidup jangka panjang, konservatisme manajemen, pengawasan,
struktur aktiva, risiko bisnis, pengawasan, tingkat pertumbuhan, pajak,
profitabilitas. Struktur modal dapat diukur dari rasio perbandingan antara total
hutang terhadap ekuitas yang biasa diukur melalui rasio debt to equity ratio
(DER).

52

Berdasarkan persamaan regresi tersebut dianalisis pengaruh ROA, ROA,


DER, terhadap DER yaitu : 0.787 menunjukkan bahwa apabila variabel ROA,
ROA, DER adalah nol (0) maka nilai DER sebesar 78.7%. 0.781 menunjukkan
bahwa apabila variabel ROA ditingkatkan 100% maka nilai DER akan bertambah
sebesar 78%. 0.860 menunjukkan bahwa apabila variabel ROA ditingkatkan
100% maka nilai DER akan berkurang sebesar 86.0%. 0.381 menunjukkan bahwa
apabila variabel DER ditingkatkan 100% maka nilai DER akan berkurang sebesar
38.1%.
Dari hasil persamaan regresi dapat disimpulkan bahwa ROA memiliki
hubungan positif terhadap DER, sedangkan ROA dan DER memiliki pengaruh
negatif terhadap DER.
Dari hasil uji R Square dapat dilihat bahwa 0.470 dan hal ini menyatakan
bahwa variable ROA, ROA, DER sebesar 47.0% untuk mempengaruhi variabel
DER sisanya dipengaruhi oleh factor lain atau variable lain. Alasan menggunakan
R Square karena peneliti memilih sampel dengan non-random (misalnya
sampling purposif, accidental) maka individu yang kita teliti namanya subjek atau
partisipan, bukan sampel.
Menurut Brigham (2000:60) Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi
struktur modal perusahaan menjadi hal yang penting sebagai dasar pertimbangan
dalam menentukan komposisi struktur modal perusahaan. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi komposisi struktur modal perusahaan diantaranya stabilitas
penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas,
pajak, pengendalian, sikap manajemen, dividen, ukuran perusahaan, dan
fleksibilitas keuangan.

53

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada pengaruh ROA terhadap PL pada perusahaan plastik dan kemasan
yang terdaftar di BEI.
2. Ada pengaruh ROE terhadap PL pada perusahaan plastik dan kemasan yang
terdaftar di BEI.
3. Ada pengaruh DER terhadap PL pada perusahaan plastik dan kemasan yang
terdaftar di BEI
4. Secara simultan ada pengaruh ROA, ROA, DER terhadap PL pada
perusahaan plastik dan kemasan yang terdaftar di BEI

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran-saran yang dapat diberikan
pada penelitian selanjutnya antara lain:
1. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan periode penelitian
yang lebih panjang sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil yang
lebih akurat dan dapat digeneralisasi
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel independen
yang turut mempengaruhi struktur modal.
3. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan sampel yang lebih
banyak dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai sector
sehingga hasilnya lebih baik lagi

54

DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert.2007.Buku Pintar Pasar Modal Indonesia.Jakarta:Media Staff
Indonesia.
Amstrong, Gary & Philip, Kotler. 2002. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jilid
1, Alih Bahasa Alexander Sindoro dan Benyamin Molan. Jakarta:
Penerbit Prenhalindo.
Bambang Riyanto. 2009. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan (edisi
keempat). Yogyakarta : BPFE UGM.
Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Keuangan Modern. (Edisi kedua).
cetakan ke sebelas. Yogyakarta : Liberty Offset.
Bodie, Kane, Marcus. 2002. Investment. Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat
Brealey, Richard A, Stewart C. Myers, dan Alan J. Marcus. 2007. Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Devi. 2003. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. Jurnal Bisnis
dan Akuntansi
Fabozzi, Frank J. 2005. Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Haryanto dan Toto Sugiharto, 2003. Pengaruh Rasio Profitabilitas Terhadap
harga Saham Pada Perusahaan Industri Minuman Di Bursa Efek
Jakarta, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 8 Nomor 3, hal 142
Hatta. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen: Investigasi
Pengaruh Teori Stakeholder. JAAI Volume 6 No. 2, Desember 2002
Higgins, 2005, Hubungan antara Kepemimpinan dengan Iklim Organisasi dan
Kepuasan Kerja, Terjemahan Abdul Rasyid dan Ramelan, DERM,
Jakarta.
Husein Umar, 2004, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta,
Raja Grafindo Persada.
Indrawati Titik dan Suhendro .2006. Determinasi Capital Structure pada
Perusahaan Manufaktur di Bursa EfekJakarta Periode 2000-2004,
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol. 3, No. 1, Hlm. 77-105
Joni dan Lina. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi

55

Hatta, Atika J, 2002, `Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen:


Investifasi Pengaruh Teori StakeholPertumbuhan penjualan. JAAI.
Vol.6. No.2. Desember. 2002
Imam Ghozali, 2002, Metode Penelitian Bisnis. Edisi Enam, Bandung, CV.
Alfabeta.
Ita Lopolusi. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. JAAI
Volume 6 No. 2, Desember 2002
James, C.Horne 2004. Akuntansi Lanjutan 2. Penerbit PT. Raja Grafindo. Jakarta
Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Edisi pertama, PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta
Keown,Arthur J & John D.Martin & J. William Petty & David F.Scott,JR. 2005.
Financial Management Principles and ADERlication (edition Tenth).
Pearson : Prentice Hall International.
Munawir, S. 2001. Analisa Laporan Keuangan, Yogyakarta : Liberty
Ratnawati. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. JAAI
Volume 6 No. 2,
Simamora Henry. 2002. Akuntansi Manajemen. Jakarta: UDER AMP YKPN
Sugiyono, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis,Cetakan Kesembilan, CV Alfabeta,
Bandung
Sri Hermaningsih. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan laba.
JAAI Volume 6 No. 2,
Van, Horne 2004. Accounting Economics. Translation Penerbit PT. Gramedia
Pustaka Umum Jakarta
Warsono.2003.Manajemen Keuangan Perusahaan, Jilid 1,Edisi ketiga,Cetakan
Pertama.BAPFE-Yogyakarta
Wild, John 2005. General Accounting. Translation. Penerbit Penada Media
Group. Jakarta
Yoko, 2011. Pengaruh ROA, ROE, DER Terhadap Pertumbuhan Laba Pada
Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di BEI, Jurnal FE Universitas
Negeri Semarang

Anda mungkin juga menyukai