Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Organisme yang hidup di alam memiliki tingkat dan jenis kepekaan yang berbedabeda terhadap suatu rangsangan yang dilakukan. Setiap spesies yang satu dengan
spesies yang lainnya akan memberikan respon yang berbeda-beda terhadap suatu
rangsangan, hal ini berkaitan erat dengan habitat dan kebiasaan spesies tersebut.
Adanya respon saat terjadinya suatu rangsangan ini merupakan salah satu cara
mahkluk hidup mempertahankan diri terhadap rangsangan itu sendiri.
Pertahanan diri suatu jenis mahkluk hidup ini biasanya dilakukan dengan cara
penyesuaian diri terhadap lingkungan yang mengalami rangsangan. Taksis merupakan
salah saru respon sederhana dari tingkah laku hewan dalam proses penyesuaian diri.
Praktikum ekologi hewan percobaan Tipe Respon Hewan dilakukan untuk melihat
respon yang terjadi pada hewan tersebut saat diberikan suatu rangsangan. Pada
praktikum ini sampel hewan uji yang digunakan adalahPontoscolex corethurusdengan
memberi rangsangan berupa fototaksis dan geotaksis. Pengamatan dilakukan untuk
melihat apakahPontoscolex corethurusmemberikan respon neganif atau respon positif
terhadap rangsangan yang diberikan.
1.2Permasalahn
Permasalah yang didapat pada praktikum Ekologi Hewan percobaan Tipe Respon
Hewan adalah:
1.Bagaimana responPontoscolex corethurusterhadap rangsangan cahaya (fototaksis)
yang diberikan?
2.Bagaiman pengaruh suatu kemiringan tempat terhadap pergerakanPontoscolex
corethurus?
3.Bagaimana pergerakanPontoscolex corethurussaat diletakkan pada wadah yang
memiliki zona terang dan zona gelap?
1.3Tujuan
Praktikum Ekologi Hewan percobaan Tipe Respon Hewan yang dilakukan bertujuan:
1.Untuk mengetahui responPontoscolex corethurusterhadap rangsangan cahaya
(fototaksis).
2.Untuk
mengetahui

pengaruh

suatu

kemiringan

tempat

terhadap

pergerakanPontoscolex corethurus.
3.Untuk mengetahui pergerakanPontoscolex corethurussaat diletakkan pada wadah
yang memiliki zona terang dan zona gelap.

1.4Hipotesis
Praktikum ekologi Hewan percobaan Tipe Respon Hewan yang dilakukan dengan
permasalahan yang muncul dapat di ambil hipotesis sebagai berikut:
1.Pontoscolex corethurussaat diberikan rangsangan cahaya (fototaksis) maka yang
terjadi adalah respon negatif yaituPontoscolex corethurusakan bergerak menjauhi
cahaya dan menuju ketempat gelap.
2.Pontoscolex corethurussaat diberikan kemiringan sudut, semakin tinggi kemiringan
maka pergerakannya akan semakin lambat.
3.Pontoscolex corethurussaat diletakkan pada wadah yang memiloki bagian terang
dan bagian gelap makaPontoscolex corethurusakan bergerak menuju bagian gelap.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksis
Ilmu yang mempelajari tentang pola perilaku hewan disebut ethologi. Perilaku pada
hewan dapat dibagi kedalam tiga unsur yaitu tropisme, taksis, refleksi, insting, belajar
dan menalar. Taksis adalah sumber rangsangan. Misalnya fototaksis merupakan
rangsangan yang berasal dari sumber cahaya (Hasan dan Widipanestu, 2000).
Suatu rangsangan tingkah laku (iritabilitas) suatu organisme disebut juga daya
menanggapi rangsangan. Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungannya. Pada beberapa organisme terdapat sel-sel,
jaringan atau organ-organ yang berdiferensiasi khusus. Pada organisme yang
bergerak, tanggapan terhadap rangsangan disebut refleks. Suatu gerak taksis pada
organisme yang diberikan rangsangan akan bergerak menjauhi atau mendekati
rangsangan.
Taksis adalah suatu gerakan hewan menuju atau menjauhi suatu rangsangan yang
terjadi. Taksis dibagi menjadi dua berdasarkan arah orientasi dan pergerakan, yaitu
taksis positif dan taksis negatif. Taksis menurut macam rangsangannya juga
dibedakan menjadi fototaksis (rangsangan cahaya), rheoaksis (rangsangan terhadap
arus air), kemotaksis (rangsangan terhadap bahan kimia) dan geotaksis (rangsangan
terhadap kemiringan tempat) (Michael, 1994):
1.Fototaksis adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh adanya rangsangan dari
sumber cahanya.
2.Rheotaksis adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh adanya arus air pada
suatu tempat.

3.Geotaksis adalah gerak taksis yang terjadi karena adanya kemiringan suatu tempat.
4.Kemotaksis adalah gerak taksis yang terjadi karena adanya zat kimia.
Suatu gerak taksis dikatakan taksis positif jika respon yang terjadi adalh menuju atau
mendekati rangsangan, sedangkan taksis negatif jika respon yang terjadi adalah
menjauhi rangsangan (Virgianti, 2005).
Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus dari luar. Reseptor diperlukan
untuk mendeteksi stimulus itu, syarat diperlukan untuk mengkoordinasikan respon
dan efektor itulah yang sebenarnya melakukan aksi. Perilaku dapat juga terjadi
sebagai akibat stimulus dari dalam. Lebih sering terjadi, perilaku suatu organisme
merupakan akibat gabungan stimulus dari luar dan dalam (Kimball, 1992).
Taksis adalah suatu bentuk sederhana dari respon hewan terhadap stimulus dengan
bergerak secara otomatis langsung mendekati atau menjauh dari atau pada sudut
tertentu terhadapnya atau dalam proses penyesuaian diri terhadap kondisi
lingkungannya (Suin, 1989).
2.2 Cacing Tanah
Cacing tanah menyukai lingkungan yang

lembab dengan bahan organik yang

berlimpahan dan banyak banyak kalsium yang tersedia. Akibatnya, cacing tanah
terdapat paling melimpah dalam tanah berstruktur halus dan kaya bahan organik dan
tidak terlalu asam. Cacing tanah pada umumnya membuat liang dangkal dan hidup
mencerna bahan organik yang terdapat didalam tanah (Nurdin, 1997).
Perilaku cacing tanah dengan membuat liang yang dangkal merupakan respon
terhadap rangsang cahaya. Kelangsungan hidup suatu mahkluk hidup tergantung pada
kemampuannya dalam menanggapi rangsang dan bagaimana organisme (cacing
tanah) tersebut menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (Odum, 1993).
Secara sistematis, cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oelh segmensegmen (Norafiah,2005).Pontoscolex corethurusmempunyai mukus yang dikeluarkan
oleh usus sebanyak 16 % perberat kering

tubuh yang dapat menstimulasi

pertumbuhan mikroflora sehingga dapat mendegradasi materi organik tanah menjadi


bentuk yang lebih sederhana dan mudah dicerna. Berdasarkan penelitian, inokulasi
cacing tanah Pontoscolex corethurus dapat memperbaiki kondisi fisika dan kimia
tanah yang ditandai dengan meningkatnya permeabelitas, porositas serta kandungan
unsur hara tanah (Adianto, 2004).
BAB III

METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
Praktikum Ekologi Hewan percobaan Tipe

Respon Hewan yang dilakukan

menggunakan alat-alat yaitu wadah dengan dua zona (zona terang dan zona gelap),
senter, kertas penutup dan alat geotaksis.
Bahan-bahan yang digunan pada praktikum Ekologi Hewan percobaan Tipe Respon
Hewan adalahPontoscolex corethurus, kertas dan air secukupnya.
3.2Cara Kerja
3.2.1Fototaksis
Bak (wadah) yang disediakan merupakan bak yang memiliki dua zona (zona terang
dan zona gelap), zona gelap ditutupi dengan kertas penutup, kemudian diletakkan 5
ekorPontoscolex

corethurussecara

bersamaan

kemudian

disinari

dengan

menggunakan senter. Kemudian diamati pergerakanPontoscolex corethurusdan


dicatat waktu yang diperlukan masing-masingPontoscolex corethurusuntuk sampai
pada zona gelap.
3.2.2Geotaksis
Pontoscolex corethurussebanyak 3 ekor diletakkan mengarah keatas pada suatu
bidang

miring

corethurusserta

(alat
waktu

geotaksis),
yang

kemudian

diperlukan

diamati
untuk

pergerakanPontoscolex

masing-masingPontoscolex

corethurusuntuk sampai pada batas atas alat geotaksis. Perlakuan ini juga diberikan
dengan mengubah kemiringan sudut dari 30o, 50odan 70o, selain mengarah keatas,
perlakuan ini juga dilakukan dengan mengarahkanPontoscolex corethuruskearah
bawah.
3.2.3PergerakanPontoscolex corethurus
Pontoscolex corethurussebanyak 3 ekor diletakkan kedalam wadah dengan dua zona
(zona terang dan zona gelap),Pontoscolex corethurusdiletakkan dizona terang demana
sebelumnya wadah telah ditaburi tepung, diamati pergerakannya dan digambar.
Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali dengan lama waktu setiap percobaan 10
menit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil
4.1.1Fototaksis
No
Pontoscolex corethurus
Waktu

1
Pontoscolex corethurus1
1 : 23
2
Pontoscolex corethurus2
1 : 29
3
Pontoscolex corethurus3
1 : 32
4
Pontoscolex corethurus4
3 : 12
5
Pontoscolex corethurus5
3 : 22
4.1.2Geotaksis
4.1.2.1Geotaksis ke Arah Atas
Pontoscolex corethurus
Waktu (detik)
30o
50o
70o
1
1,45
1,24
3,09
2
1,31
1
0,79
3
6,24
1,58
5,27
4
1,99
2,59
4,55
5
0,57
2,31
3,38
6
3,97
3,75

5,1
4.1.2.2Geotaksis ke Arah Bawah
Pontoscolex corethurus
Waktu (detik)
30o
50o
70o
1
1,33
0,37
0,31
2
0,47
0,43
0,93
3
2,40
3,1
3,59
4
2,53
1,29
1,68
5
0,45
0,51
0,36
6
1,87
2,59
1,13
4.2Pembahasan
4.2.1Fototaksis
Respon yang terjadi padaPontoscolex corethurussetelah diberi rangsangan cahaya
yaitu negatif. Hal ini karena masing-masingPontoscolex corethurusbergerak menjauhi
cahaya dan menuju

kezona gelap. Orientasi negatifPontoscolex corethurusini

menunjukkan bahwa pernyataan Soetjipta (1993) adalah sesuai, bahwa cacing tanah
yang terkena cahaya menerima energi panas secara langsung. Hal ini akan
menyebabkan cacing tanah bergerak menjauhi cahaya, oleh sebab itulah cacing tanah,
dalam hal iniPontoscolex corethuruslebih menyukai tempat yang lembab dan
terlindung dari cahaya.

Orientasi masing-masing Pontoscolex corethurustidaklah terjadi dalam waktu yang


bersamaan. Hal ini dikarenakan meskipun telah dipilihPontoscolex corethurusyang
memiliki

ukuran

yang

sama

ukurannya,

namun

kemampuan

masing-

masingPontoscolex corethurusuntuk bereaksi dan bergerak tidaklah sama. Waktu


yang diperlukan masing-masingPontoscolex corethurusyang diuju berbeda-beda,
yaitu; Pontoscolex corethurus 1 selama 1 menit 23 detik, Pontoscolex corethurus 2
selama 1 menit 29 detik, Pontoscolex corethurus 3 selama 1 menit 32
detik,Pontoscolex corethurus4 selama 3 menit 12 detik danPontoscolex corethurus5
selama 3 menit 22 detik. Jadi waktu rata-rata yang diperlukanPontoscolex
corethurusadalah 2 menit 32 detik.
4.2.2Geotaksis
Percobaan geotaksis dengan 3 ekor Pontoscolex corethurus yang mengarah keatas
dilakukan dengan kemiringan sudut yang berbeda yaitu 30o, 50o dan 70o. Pada
kemiringan 30o kecepatan rata-rata Pontoscolex corethurus untuk mencapai puncak
alat geotaksis adalah 2,535 menit. Kemiringan 50o kecepatan rata-rata yang
dibutuhkan Pontoscolex corethurus untuk mencapai puncak alat geotaksis adalah
2,078 menit, dan terakhir pada kemiringan 70o kecepatan rata-rata yang diperlukan
Pontoscolex corethurus untuk mencapai puncak alat geotaksis adalah 4, 9 menit.
Percobaan geotaksis dengan 3 ekor Pontoscolex corethurus yang mengarah ke
bawah juga dilakukan dengan menggunakan beberapa bentuk kemiringan sudut yaitu
30, 50 dan 70. Pada kemiringan 30 kecepatan rata-rata yang diperlukan Pontoscolex
corethurus untuk sampai kebawah adalah 1,5 menit. Kemiringan 50 kecepatan ratarata yang dibutuhkan Pontoscolex corethurus untuk sampai kebawah adalah 1,38
menit. Sedangkan pada kemiringan 70 kecepatan rata-rata yang dibutuhkan
Pontoscolex corethurus untuk sampai kebawah adalah 1,26.
Dua perlakuan percobaan geotaksis ini menunjukkan beberapa respon yang
terjadi pada Pontoscolex corethurus. Pada percobaan geotaksis dengan mengarahkan
Pontoscolex corethurus kearah atas disimpulkan bahwa semakin kecil sudut
kemiringan maka Pontoscolex corethurus dapat bergerak semakin lambat sehingga
waktu yang diperlukan juga semakin lama. Hal ini juga berlaku untuk percobaan
geotaksis dengan mengarahkan Pontoscolex corethurus

kearah bawah, diketahui

bahwa semakin tinggi sudut kemiringan Pontoscolex corethurus akan semakin


singkat. Kedua perlakuan ini menunjukkan bahwa orientasi Pontoscolex corethurus
lebih cepat jika sudut kemiringan kecil dan arah pergerakan kebawah.
1.3.3
Arah Pergerakan Pontoscolex corethurus
Percobaan arah pergerakan Pontoscolex corethurus digunakan 3 ekor Pontoscolex
corethurus yang diletakkan kedalam wadah dengan dua zona, yaitu zona terang dan
zona gelap. Pontoscolex corethurus diletakkan dizona terang. Pengamatan dilakukan
selama 10 menit dengan 3 kali pengulangan. Dari ketiga kali pengulangan percobaan
yang dilakukan diketahui bahwa arah pergerakan Pontoscolex corethurus menuju ke
zona gelap. Namun waktu yang diperlukan oleh masing-masing Pontoscolex
corethurus berbeda-beda dan lebih lambat jika dibandingkan dengan diberinya
rangangan berupa cahaya.
GERAK TAKSIS PADA CACING TANAH
1.1.Tujuan
Untuk mengetahui jenis gerak tasis pada cacing dalam berbagai stimulus, dan untuk
membandingkan presentase gerak taksis pada cacing tanah terhadap berbagai
stimulus.
1.2.Dasar teori
Hewan sebagai komponen biotic dari ekosistem mempunyai karakteristik yang khas.
Struktur tubuh yang sangat lentur khususnya pada hewan invertebrate memungkinkan
hewan ini memiliki kemampuan mobilitas yang cukup tinggi. Dengan daya mobilitas
yang tinggi, hewan tersebut dapat bergerak bebas sesuai dengan kemampuan dan
nalurinya, apakah untuk mencari makan, menghindari dari predator, menjauhi
keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan, mencari pasangan untuk kawin
dan lain sebagainya.
Taksis dapat diartikan sebagai pergerakan suatu organism sebagai respon terhadap
adanya stimulus eksternal yang mengenainya secara langsung. Pergerakan organism
ini dapat berlangsung ke arah stimulus (respon positif); berupa respon menjauhi arah
stimulus (respon negative) maupun bergerak kea rah tertentu dengan sudut tertentu
dari stimulus (Kikkawa, 1971; Gundevia, 1996). Sementara Michael (1985)
mengemukakan bahwa taksis merupakan arah dari orientasi-orientasi dan gerakangerakan (positif dan negative) sesuai dengan rangsangan-rangsangan alam. Kikkawa

(1971) menyebutkan bahwa perubahan orientasi tubuh suatu organism sebagai reaksi
terhadap stimulus dan mempeertahankan posisinya sebelum melakukan pergerakan
disebut respon taksis.
Dengan demikian bias dikatakan bahwa perilaaku taksis selaalu di dahului oleh suatu
bentuk respon taksis dan dilanjutkan dengan suatu pergerakan menuju atau menjauhi
atau ke arah tertentu dari stimulus yang diterima oleh suatu organism.
Berdasarkan jenis dari stimulus yang diterima oleh suatu organism daapat dibedakan
menjadi:
1)
Foto taksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
cahaya.
2) Kemotaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh stimulus berupa zat kimia.
3)
Aerotakssis adalaah jenis taksis yang disebabkan oleh aadanya stimulus berupa
kadar O2di udara.
4)
Geotaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
gaya gravitasi bumi.
5)
Rhoeotaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
daya tahan
6)
Thermotaaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
panas.
7)
Tigmotaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
sentuhan.
8)
Galvanotaksis adalah jenis taksis yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa
listrik.
Sedangkan berdasarkan arahnya (arah respon) taksisdapat dibedakan menjadi :
1) Taksis positif apabila respon arahnya mendekati rangsang/stimuli.
2) Taksis negative apabila respon arahnya menjauhi rangsang/stimuli.
1.3.Alat dan bahan
2.Alat
1Wormery1 buah
2Gelas kimia 500 ml1 buah
3Gelas kimia 50 ml3 buah
4Gelas ukur 50 ml1 buah
5Lampu spirtus1 buah
6Kabel listrik panjang0,5 meter
7Gunting1 buah
8Duplek atau kertas kardus
9Kertas alumunium foil
10Batu batre besar2 buah
11Kertas saring1 lembar

12Mortar dan pastel


1.b.Bahan
1)
Tanah dari kedalaman kurang lebih 30-50 cm (berwarna kuning kecoklatan
sebanyak 5 kg)
2) Ekstrak tanah humus (warna hitam) 50 ml.
3) Ekstrak hati ayam segar 2 buah sebanyak 50 ml.
4) Cacing tanah 65 ekor.
5) Aquades sebanyak 150 ml
1.4.Cara kerja
1)Pembuatan sediaan feromone
1.Menyediakan kertas alumunium foil ukuran 25x 25 mm2, dibentuk seperti
mangkok
2.Memasukan sseekor cacing tanah dan dikejutkan dengan aliraan listrik lemah
bagian kepala dan ekornya sampai mengeluarkan lender yang berbau amis.
3.Mengangkat cacing dan mengganti dengan cacing baru.
4.Kejutkan kembali dilakukan sampai sebanyak 15 ekor cacing.
5.Melarutkan feromon yang menempel pada kertas alumunium foil dengan akuades
sebanyak 50 ml.
2)Perlakuan cacing
1.Menggunting duplek dan kertas alumunium foil selebar wormery.
2.Melubangi kertas dengan ukuran lubang sebesar diameter cacing tanah dengan jarak
1 cm.
3.Memasukkan duplek tersebut kedalam wormery pada posisi membagi dua secara
vertical.
4.Memasukkan tanah yang diambil dari kedalaman 30-50 cm atau tanah kuning yang
telah digemburkan kedalam wormery sampai 2/3 bagiannya. Memasukkannya
kedalam wormery tersebut 10 ekor cacing tanah, masing-masing 5 ekor di tiap
bagian.
5.Perlakuan pertama, memasukan pada wormery ekstrak hati ayam (50 ml) pada satu
bagian yang telah disekat dan memasukan aquades pada sisi lainnya denga volume
yang sama (50 ml). Membiarkan selama 0,5 jam, kemudian memeriksa dan
mengamati posisi atau letak cacing tanah yang dimasukan (membuang tanah keluar
alat, sekat pemisah tetap pada posisinya).
6.Perlakuan kedua, diperlakukan sama seperti perlakuan pertama, tetapi dengan
memasukan ekstrak humus (50 ml) pada satu bagian yang telah disekat dan
memasukan aquades pada sisi lainnya dengan volume yang sama (50 ml) pada salah
satu bagian. Membiarkan selama 0,5 jam, kemudian memeriksa dan mengamati posisi

dan letak cacing tanah yang telah dimasukkan (membuang tanah ke luar alat, sekat
pemisah tetap pada posisinya)
7.Perlakuan ketiga, diperlakukan sama seperti perlakuan kedua, tetapi dengan
memasukan ekstrak feromon (50 ml) pada satu bagian yang telah disekat dan
memasukan aquades pada sisi lainnya dengan volume yang sama (50 ml) pada salah
satu bagian. Membiarkan selama 0,5 jam, kemudian memeriksa dan mengamati posisi
dan letak cacing tanah yang telah dimasukkan (membuang tanah ke luar alat, sekat
pemisah tetap pada posisinya)
8.Perlakuan keempat, meletakkan lampu spirtus pada salah satu dan sisi lainnya
meletakkan gelas kimia yang berisi es batu. Membiarkan selama 0,5 jam, kemudian
memeriksa daan mengamati posisi dan letak cacing tanah yang telah dimasukkan
(membuang tanah ke luar alat, sekat pemisah tetap pada posisinya)
9.Perlakuan kelima, tidak dilakukan penambahan bahan atau perlakuan pada wormery
yang berisi tanah dan cacing. Ini digunakan sebagai control. Membiarkannya selama
0,5 jam, kemudian memriksa dan mengamati posis atau letak cacing tanah yang
dimasukkan (membuang tanah ke luar alat, sekat pemisah tetap pada posisinya)
10.5.Data pengamatan
Perlakuan
Jumlah Cacing Tanah
ITanah dan Ekstrak hati ayam
6
Tanah dan Aquades
4
IITanah dan Ekstraks humus
4
Tanah + Aquades
6
IIITanah + Feromon
4
Tanah + Aquades
6
IVTanah + Lampu
5
Tanah + Es batu
5
VTanah
5
Tanah
5

1.6.Hasil dan pembahasan


Pada perlakuan pertama cacing cacing yang berasal dari tanah yang diberi aquades
berpindah ke tempat yang diberi ekstrak hati, hal ini terjadi karena di dalam ekstrak
hati kaya sekali akan nutrisi yang merupakan sumber makanan bagi cacing tanah
sehingga cacing tanah akan cenderung untuk mendekati makanan. Pada perlakuan ini
terjadi taksis positif yaitu taksis yang mendekati arah stimulus.
Pada perlakuan yang kedua ada satu ekor cacing yang berpindah dari ekstrak humus
ke aquades, dengan adanya stimulus ekstrak humus seharusnya cacing akan
berpindah ke tempat yang kaya akan humus sebagai habitat yang sangat cocok untuk
cacing namun hal ini tidak sesuai dengan apa yang ada di teori. Ini disebabkan karena
kesalahan dalam menjalankan prosedur.
Pada perlakuan yang ke tiga ada satu ekor cacing yang berpindah tempat dari tempat
yang diberi feromon ke tempat yang yang diberi aquades hal ini terjadi karena
feromon merupakan sinyal kimiawi bagi cacing sebagai upaya untuk pertahanan diri
dari bahaya yang menyerangnya sehingga cacing yang menerima sinyal kimiawi
berupa feromon akan berpindah tempat guna untuk mengindari bahaya yang
menyerangnya. Ini merpakan jenis taksis negative yaitu gerak taksis cacing menjauhi
arah rangsangan atau stimulus.jenis taksis dari pada perlakuan ini adalah kemotaksis
yang di sebabkan oleh sinyal kimia dari feromon.
Perlakuan yang keempat yaitu dengan mempengaruhi suhu tempat dimana cacing itu
berada, yaitu dengan meleetakkan di satu sisi lampu spirtus yang menyala dan di satu
sisi lain meletakkan gelas kimia yang berisi es batu. Hal ini dilakukan guna
menciptakan suhu yang berbeda antara kedua sisi tersebut dan hasilnya ternya tidak
ada cacing yang berpindah tempat baik dari suhu rendah ke suhu tinggi maupun dari
suhu tinggi ke suhu rendah. Cacing dari tempat yang diberi suhu tinggi akan berusaha
menghindari suhu tersebut begitu pula cacing yang berada pada tempat yang bersuhu
rendah akan menghindari suhu tersebu sehingga Cacing tersebut akan terkumpul di
suatu tempat untuk menghindari kedua suhu tersebut.hal ini terjadi karena suhu ideal
untuk habitat cacing tanah adalah antara 15-25oC. suhu tanah yang lebih tinggi atau
lebih rendah tidak cocok untuk cacing sehingga cacing dari kedua sisi yang berbeda
tersebut akan berkumpul disuatu tempat yang suhunya antara 15-25oC yaitu tempat

yang menjauhi sisi api dan sisi es batu sehingga cacing tersebut akan berkumpul di
tengah dekat dengan pembatas pada wormery.
Perlakuan yang kelima merupakan perlaakuan control sebagai pembanding dari
perlakuan yang lainnya. Pada perlakuan ini tidak ada cacing yang berpindah tempat.
Hal ini terjadi karena tidak adanya stimulus yang merangsang cacing untuk berpindah
tempat.
1.7.Kesimpulan
berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.Perlakuan pertama satu ekor cacing berpindah dari tanah+aquades ke tanah+ekstrak
hati.
2.Perlakuan kedua satu ekor cacing berpindah dari tanah+humus ke tanah+aquades
hal ini terjadi kemungkinan karena kesalahan dalam menjalankan prosedur karena
seharusnya cacing akan berpindah ke bagian yang berisi tanah +ekstrak humus.
3.Perlakuan ketiga satu ekor cacing berpindah dari tanah+feromon ke tanah+aquades.
Hal ini terjadi karena feromeon yang dihasilkan oleh cacing merupakan sinyal kimia
bagi cacing subagai upaya untuk pertahanan diri dari cekaman.
4.Perlakuan keempat tidak ada cacing yang berpindah empat dari kedua sisi yaitu sisi
yang diletakkan lampu spirtus maupun sisi yang diletakkan es batu karena kedua sisi
tersebut bukanlah suhu yang cocok untuk habitat cacing sehingga cacing berada pada
bagian yang jauh dari kedua sisi tersebut.
5.Perlakuan keempat tidak ada cacing yang berpindah karena tidak ada stimulus bagi
pergerakan cacing.
6.8.Daftar pustaka
Putra F A. 1999.Ny Kartini Hidup bersama cacing. Jakarta: Kompas
Suin N. M. 1989.Ekologi Hewan Tanah. Bandung: Bumi Aksara
Rukmana H. R.Budidaya Cacing Tanah. Yogyakarta: Kanisius
Odum E.P. 1996.Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gajah Mada
Pertanyaan
1.Apa yang dapat disimpulkan mengenai pengamatan pada perlakuan I dan II? Gerak
taksis apakah yang dilakuakn cacing? Jelaskan kejadian tersebut dan kaitannya
dengan perilaku cacing tanah!
Jawab:
cacing tanah akan berpindah dari habitatnya yang berupa (tanah+aquadest) ke
habitatnya (tanah+ekstrak hati). Hal ini dikarenakan ekstrak hati mengandung banyak
protein dan dianggap sebagai makanannya. Seharusnya pada perlakuan II, cacing
tanah dari campuran tanah dengan aquadest berpindah ke campuran tanah dengan

humus. Namun ada cacing yang berpindah dari ekstrak humus ke bagian yang berisi
campuran aquades+tanah hal ini terjadi kemungkinan karena kandungan humus tang
terlalu rendah atau karena kesalah prosedur.
1.Bagaimana dengan pengamatan perlakuan III, gerk taksis apakah yang dilakukan
cacing? Apakah fungsi feromon dalam sinyal kimiawi cacing? Jelaskan!
Jawab:
Gerak taksis yang dilakukan oleh cacing tanah adalah gerak taksis positif pada
ekstrak hati, sedangkan pada pengamatan ke III, seharusnya gerak taksis yang terjadi
adalah gerak taksis positif, akan tetap hal ini tidak terjadi dikarenakan komposisi
humus terlalu rendah sehingga atau karena kesalaha perlakuan. Pada saat diberi
perlakuan dengan cara pada habitat tanah yang diberikan feromon maka cacing akan
berusaha berpindah dan menjauhi feromon tersbut. Hal ini disebabkan karena
feromon dianggap oleh cacing sebagai sinyal yang menunjukkan adanya bahaya.
Gerak taksis yang dilakukan oleh cacing adalah gerak kemotaksis yaitu jenis taksis
yang disebabkan oleh adanya stimulus berupa zat kimia. Fungsi feromon dalam
sinyal kimiawi cacing tanah yaitu untuk sinyal kimiawi pertahanan tubuhnya dari
bahaya atau cekaman yang mengancam
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hewan mampu merespon senyawa tertentu yang ada disekitarnya dengan menerima
informasi lalu dihantarkan melalui sistem saraf dalam bentuk impuls saraf, atau
potensial aksi. Respon yang diberikan pun dalam bentuk perilaku yang dilakukan
oleh hewan tersebut.
Respon yang dilakukan terbagi menjadi dua, yaitu innate respon dan learned respon.
Sensasi dan persepsi tersebut dikembangkan ke otak yaitu dengan mendeteksi energi
dari suatu stimulus oleh sel-sel sensoris. Sebagian besar sel neuron itu terspesialisasi
yang terdiri dari sel itu sendiri atau kelompok dari jenis lain. Jadi dalam praktikum
kali ini akan diuji bagaimana respon lalat buah/Drosophila melanogaster dalam
melakukan tingkah laku orientasi terhadap sumber rangsangan berupa gerakan taksis
(fototaksis, geotaksis, dan kemotaksis)
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pada kesempatan kali ini yaitu diantaranya:

1.

Mengetahui respon lalat buah terhadap rangsangan yang diberikan baik berupa

rangsangan secara geotaksis, fototaksis, maupun secara kemotaksis


2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi iritabilitas/rangsangan pada hewan
Drosophila melanogaster terhadap sumber rangsangan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Perilaku atau behavior adalah suatu respon atau tanggap terhadap sinyal yang berasal
dari lingkungan atau sinyal yang berasal dari organisme lainnya. Umumnya prilaku
yang muncul oleh suatu organisme memiliki tujuan yaitu :
1.
Untuk mencari makanan dan minum
2.
Mendapat dan menjaga daerah teroterial
3.
Untuk melindungi diri
4.
Untuk bereproduksi demi kelangsungan hidup mereka
Dari tujuan tersebut maka umumnya tingkah laku atau behavior merupakan suatu
kegiatan yang melibatkan semua system dalam tubuh tapi hanya dipengaruhi oleh
system syaraf dan endokrin sebagai pusat koordinasi. Adakalanya perilaku hewan
berkaitan dengan adaptasi. Namun adaptasi ini merupakan suatu bentuk usaha untuk
menyeimbangkan berbagai proses metabolisme dan perilaku dengan perubahan
secara siklik yang terjadi di sekelilingnya atau lingkungannya (Widiastuti, 2002).
Perilaku adalah aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu stimulus. Dalam
mengamati perilaku, kita cenderung untuk menempatkan diri pada organisme yang
kita amati, yakni dengan menganggap bahwa organisme tadi melihat dan merasakan
seperti kita. Ini adalah antropomorfisme (Y: anthropos = manusia), yaitu interpretasi
perilaku organisme lain seperti perilaku manusia. Semakin kita merasa mengenal
suatu organisme, semakin kita menafsirkan perilaku tersebut secara antropomorfik
(Isnaeni, 2006).
Pembawaan tubuh kea rah atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakan taksis pada
hewan. Hewan menunjukkan beberapa jenis taksis yang berbeda; fototaksis adalah
gerakkan terhadap cahaya, dan kemotaksis merupakan gerakkan terhadap kimia.
Sebagian serangga, misalnya kupu-kupu dan lalat, menunjukkan fototaksis; serangga
tersebut akan terbang terus kearah cahaya. Selalu serangga tersebut membawa dirinya
dengan mengarahkan tubuhnya hingga cahaya mengenai ke dua matanya. Jika satu
matanya buta, hewan akan bergerak dalam bentuk berputar-putar, selalu coba mencari
arah yang memungkinkan cahaya diimbangkan di antara ke dua mata. Kemotaksis

agak lazim di kalangan hewan.Serangga tertarik pada zat kimia yang disebut
feromon, yang dikeluarkan oleh anggota spesiesnya pada jumlah yang sangat
sedikit.Sejumlah semut akan mengikuti kesan feromon itu dan akan berputar-putar
sampai mati kelelahan.Vertebrata kadangkala sangat bereaksi terhadap zat kimia.
Anjing pemburu dpt melacak seseorang dengan mencium bau bajunya (Mader ,1995).
Pengkajian prilaku merupakan cabang biologi yang relative baru, dan cenderung lebih
deskriptif serta tidak begitu meyakinkan secara analitis daripada cabang-cabang lain.
Salah satu bahaya menganalisis pola-pola aktivitas hewan lain adalah kecenderungan
sang peneliti untuk menyamakan aksi-aksi yang mirip dengan motif, keinginan, dan
tujuan manusia. Hal ini terutama krusial dalam hal tujuan, di mana kita sama sekali
tak punya kemampuan untuk menentukan apa yang sebenarnya diinginkan hewan
ketika menjalani serangkaian aktivitas. Intensitas dari dalam yang mendorong hewan
untuk melakukan sesuatu , apapun sifatnya, disebut dorongan (drive). Etologi,
pengkajian perbandingan prilaku dari prespektif evolusioner, sering kali berurusan
dengan dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kegiatan makan, seks, perawatan
anak, dan lain sebagainya. Dorongan-dorongan itu tampaknya merupakan motivasi
yang muncul akibat gangguan kesetimbangan internal seekor hewan. Dorongandorongan itu dimodifikasi oleh berbagai factor, baik factor internal maupun factor
yang ada di lingkungan. Dorongan sering kali disebut insting. (Fried, 2005).
Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa
perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh lingkungan
(nature/pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah
mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh
mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku.
Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki
komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis
seekor hewan.
Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik
(suatu norma reaksi) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu
diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk
penyelesaian masalah yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang

sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik--perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang
tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik,
dengan norma reaksi yang luas ( Campbell, 2004).
III. METODE PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari selasa tanggal 13 November 2012 di laboratorium
zoologi FMIPA Unila.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 2 buah tabung
gelas, kertas karbon, lampu senter, tape perekat, lalat buah, kapas, tape singkong, dan
stopwatch.
C. Cara Kerja
1. Percobaan Fototaksis
Menempatkan 5 lalat buah pada tabung plastik atau kaca bersih dan
menggabungkan tabung kedua dengan menggunakan selotip.
- Menutup tabung tersebut dengan kertas karbon hitam dan membiarkan salah satu
ujungnya terbuka. Lalu meletakkan tabung tersebut secara horizontal.
- Menyinari salah satu ujung yang terbuka tersebut dengan lampu senter selama 3
menit.
Setelah itu membuka kertas penutup dan mengamati jumlah lalat buah pada
tabung yang lain yang tertutup.
- Mengetuk-ngetuk tabung tersebut sehingga lalat buah terkumpul ditengah-tengah
dan lakukan hal serupa, hanya dibalik.
Menutup dengan kertas karbon bagian yang tadinya terbuka ditutup rapat dan
bagian yang tadinya tertutup dibuka dan disinari dengan lampu senter selama 3 menit
- Mengamati dan catat hasilnya pada table yang tersedia.
1. Percobaan Geotaksis
Menggunakan tabung-tabung yang sama, dengan mengambil 5 ekor lalat buah
yang baru dan masukkan kedalam tabung.
- Membiarkan lalat-lalat tersebut melekat pada tabung kemudian menutup dengan
kertas karbon hitam
- Memegang tabung tersebut dalam posisi vertikal selama 3 menit.
Membuka tutup karbon hitam dan menghitung jumlah lalat buah pada setiap
tabung

Mengetuk-ngetuk tabung tersebut sehingga lalat buah terkumpul ditengah-tengah

dan menutup kembali dengan karbon hitam dan membalikkan tabung vertikal, yang
tadinya dibawah menjadi di atas.
- Menunggu selama 3 menit.
- Membuka kertas karbon dan mengamati berapa lalat buah pada masing-masing.
- Menghitung jumlah lalat, dan
- Mencatat hasilnya pada tabel yang tersedia
2. Percobaan Kemotaksis
Menyiapkan T-maze yang terdiri dari 3 tabung dihubungkan dengan pipa kaca
berbentuk huruf T. dengan tabung berkedudukan horizontal adalah tabung A dan B
dan yang berkedudukan vertikal adalah tabung C.
- Mengisi tabung A dengan makanan lalat buah pada sepotong aluminium foil dan
pada tabung B, meletakkan sepotong kapas basah. Sedangkan pada tabung C,
memasukkan 12-15 lalat buah.
Menutup semua tabung dengan stopper dan menyambungkan satu sama lain
dengan pipa gelas berbentuk huruf T.
- Mengamati dalam setiap 5 menit,
- Mencatat berapa banyak lalat buah pada tiap tabung.
- Mengulangi lagi langkah no. 2 dan kali ini sebelum di amati praktikan menghitung
kembali jumlah lalat tersebut.
- Meletakkan tabung-tabung set percobaan ini dalam ruang gelap selama 1 jam.
- Mengamati apa yang terjadi dengan menghitung lalat buah pada tiap tabung.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Data Pengamatan
Tabel hasil pengamatan praktikum perilaku hewan :
Jenis Taksis 5 menit pertama 5 menit kedua 5 menit ketiga
+ - + - + Fototaksis 7 3 6 4 7 3
Geotaksis 1 9 3 7 2 8
Kemotaksis 5 5 7 3 6 4
Keterangan : Fototaksis (+) Mendekati cahaya
( - ) Menjauhi cahaya
Geotaksis (+) Mendekati arah gravitasi
( - ) Menjauhi arah gravitasi
Kemotaksis (+) Mendekati tape
( - ) Menjauhi tape
B. Pembahasan
Praktikum kali ini yaitu perilaku hewan/behavior. Tujuan dari praktikum kali ini
yaitu untuk mengetahui bagaimana respon tingkah laku pada lalat buah (Drosophila
melanogaster) terhadap rangsangan yang diberikan.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dalam praktikum ini, maka praktikan
dapat mengetahui arah gerak lalat buah (Drosophyla sp.) terhadap rangsangan yang
diberikan. Perilaku hewan yang diamati adalah fototaksis, kemotaksis, dan geotaksis.
Pada percobaan yang pertama adalah mengenai gerakan fototaksis. Fototaksis adalah
gerak rangsang yang dilakukan oleh hewan terhadap sinar. Dilakukan dengan
memasukkan 10 lalat kedalam tabung gelas yang telah disediakan. Lalu disinari
dengan senter berwarna sinar putih dengan jarak 15 cm. Setelah disinari oleh cahaya
dari lampu senter, didapat 7 lalat buah pada 5 menit pertama, 6 lalat pada 5 menit
kedua dan 7 pada 5 menit ketiga ditempat terang, sedangkan sisanya ditempat
gelap.Hal ini disebabkan lalat buah bergerak menjauhi sumber rangsang cahaya.
Namun, ketika lampu senter dimatikan, sebagian besar lalat buah mendekati bagian
tabung yang terang oleh cahaya matahari dalam ruangan (tidak ditutupi kertas
karbon). Drosophila melanogaster termasuk hewan yang beraktivitas atau aktif pada
siang hari (diurnal). Karena lalat buah memiliki mata serta adanya insting dan
kebiasaan yang dialami oleh lalat tersebut, menjadikannya bergerak menjauhi sumber
cahaya dengan intensitas tinggi pada lampu senter dan bergerak mendekati sumber
cahaya alami dari matahari.
Pada percobaan yang kedua yaitu mengenai percobaan geotaksis. Geotaksis
merupakan gerak rangsang yang dilakukan oleh hewan terhadap gravitasi bumi.
Dilakukan dengan cara yang sama dengan percobaan pertama namun rangsangan
yang diberikan yaitu dengan menempatkan tabung dalam posisi vertikal dan
horizontal. Pada 5 menit pertama diperoleh 9 lalat yang berada diatas dan 1 lalat yang
berada dibawah, pada 5 menit kedua, hanya 3 lalat yang berada dibawah, sedangkan 7
lalat lainnya berterbangan di atas tabung. Dan pada 5 menit terakhir ada 2 lalat berada
dibarah tabung. Hal ini disebabkan karena lalat buah merupakan hewan terbang.
Mereka tidak biasa berada di permukaan tanah, sehingga cenderung menjauhi arah
gravitasi bumi. Dengan demikian lalat buah menunjukkan perilaku geotaksis negatif.
Pada percobaan ketiga atau yang terakhir adalah dengan melihat apakah9
lalat buah tersebut merespon rangsangan kimia yang ada. Yang di,aksud dengan
rangsangan kimia adalah adanya makanan lalat buah (tape) yang diletakkan disalah
satu ujung tabung. Pada 5 menit pertama jumlah lalat yang mendekati dan menjauhi

seimbang, yaitu 5 yang mendekati tape, pada menit berikutnya ada 7 lalat yang
mendekat dan pada menit terakhir ada 6 lalat yang mendekat. Hal ini menunjukkan
bahwa respon yang diberikan lalat buah untuk percobaan kemotaksis adalah positif.
Saat lalat buah merasakan bau yang dipancarkan dari tape tersebut, maka
kemoreseptor akan menghantarkan informasi mengenai rangsangan kimia dari
sumber makanan. Seperti glukosa, oksigen, karbon dioksida, dan asam amino,
semuanya berikatan dengan suatu tempat spesifik pada membran sel reseptor dan
memulai perubahan permeabilitas membran.
Gerakkan/tingkah laku orientasi Drosophila melanogaster ini menunjukkan bahwa
perilaku hewan ini memang sangatlah mendasar bahwa pada setiap individu lalat
buah memiliki
sinar/cahaya,

suatu

insting untuk mencari/mendapatkan

hubungan

lawan

jenis/seks,

interaksi

makan,
dengan

minum,
anggota

kelompoknya/menghindari predator.
Perilaku dihasilkan oleh gen dan factor-faktor lingkungan. Suatu mitos yang masih
diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa perilaku disebabkan oleh
pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh lingkungan (nature/pemeliharaan).
Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah mengenai memilih salah
satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh mana gen dan lingkungan
mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku. Fenotif tergantung pada
gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki komponen genetik dan
lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis seekor hewan.
Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik
(suatu norma reaksi) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu
diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk
penyelesaian masalah yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang
sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik--perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang
tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik,
dengan norma reaksi yang luas.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai
berikut :

1.

Pada percobaan kali ini diberikan beberapa rangsangan, seperti gerak

kemotaksis, fototaksis, dan geotaksis.


2. Pada percobaan kemotaksis terjadi gerakan positif, karena beberapa lalt bergerak
ke sumber rangsangan/tape
3.
Pada percobaan fototaksis terjadi gerakan positif juga, karena beberapa lalat
bergerak atau mendekati ke sumber rangsangan/sinar lampu senter
4. Pada percobaan geotaksis terjadi gerakan negatif, karena ada beberapa lalat buah
yang mayoritas menjauhi gravitasi bumi, karena hewan yang bersayap cenderung
bergerak ke geotaksis negativ.
5.
Gerakkan/tingkah laku orientasi Drosophila melanogaster ini menunjukkan
bahwa lalat buah memiliki insting untuk mencari makan, minum, sinar/cahaya,lawan
jenis, interaksi dengan anggota kelompoknya/menghindari predator.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell,dkk. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.
Fried, George H. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga
Mader, Silvia S. 1995. Biologi Evolusi, Keanekaragaman, dan Lingkungan.
Malaisya: Kucica..
Widiastuti, Endang L. 2002. Buku Ajar Fisiologi Hewan I. Universitas Lampung:
Bandar lampung