Anda di halaman 1dari 4

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN (BAHAYA YANG TERSEMBUNYI/BAHAYA YANG

TIDAK DAPAT DIPREDIKSI) DARI KEHADIRAN KELUARGA SELAMA RESUSITASI

Pengarang : Rob Harteveldt, BA, DipHe, RGN, EN(G), perawat pencegahan penyakit jantung di
Stoke Mandeville Hospital, Aylesbury.

Abstrak : Harteveldt, R. (2005) keuntungan dan kerugian dari kehadiran keluarga selama proses
resusitasi. Nursing Times; 101: 36: 24-25.
Melihat resusitasi oleh beberapa anggota keluarga menjadi semakin umum (Booth et al, 2004),
meskipun hal tersebut belum pernah diteliti. Penemuan dari sejumlah (sedikit) studi menunjukan
perasaan campur aduk diantara staf kesehatan tentang manfaatnya bagi anggota keluarga. Namun,
anggota keluarga yang hadir selama upaya resusitasi percaya bahwa mereka telah memberikan
kontribusi dalam beberapa cara pengobatan. Penyedia layanan kesehatan harus menyadari akan
keuntungan dan kerugian dari keluarga yang menyaksikan resusitasi (FWR) (Family Witness
Resuscitation atau keluarga menyaksikan resusitasi) sehingga mereka dapat membuat keputusan
berdasarkan bukti (ilmiah).

Pada tahun 1995 RCN bekerjasama dengan British Association for Accident and Emergency
Medicine, merekomendasikan bahwa keluarga yang menyaksikan resusitasi (FWR) harus didukung
sepenuhnya. Meskipun ada kemungkinan bahwa anggota keluarga dekat masih diminta untuk
meninggalkan tempat selama upaya resusitasi. Alasannya adalah kebutuhan akan perlindungan
keluarga dari kekerasan yang dirasakan dari usaha resusitasi (mungkin maksudnya usaha resusitasi
itu terlihat sangat menyiksa pasien) (Osuagwu, 1991).
FWR sekarang umum (Booth, 2004) meskipun pandangan pengaturan otoritas dari perlindungan
tetap, dan banyak kerabat masih ditolak akses ke orang yang mereka cintai selama ini dari krisis
yang mendalam.

PERDEBATAN
30 tahun terakhir terlihat langkah besar dalam teknik resusitasi dan kolaborasi banyak organisasi
untuk meningkatkan kelangsungan hidup sehubungan dengan cardiac arrest. Kemajuan ini telah
mendorong isu FWR menjadi perdebatan utama (dalam masalah) etik dan moral.
Dahulu ruangan resusitasi menjadi tempat yang tidak dapat dikunjungi untuk kerabat. Namun, pada
saat bencana ketika tidak ada ruangan yang dapat dipergunakan banyak yang menyaksikan
prosedur traumatis resusitasi.

Sebagian orang berpendapat bahwa FWR seharusnya tidak terjadi karena karena kerahasiaan
pasien. Namun, sementara sebagian besar setuju bahwa tanggung jawab utama keperawatan dan
staf medis kepada pasien, ada isu-isu yang saling bertentangan ketika mempertimbangkan apa
kepentingan terbaik pasien.

LITERATUR
Perilaku staf
Ada enam studi yang membahas masalah perilaku staf. Studi ini mendapatkan data kualitatif dari
para respondennya, yang semuanya telah berpartisipasi dalam FWR. Ukuran sample relatif kecil
tapi didapatkan dari berbagai multidisiplin.
Semua studi (Back dan Rooke, 1994; Resley dan Hood, 1996; Mitchel dan Lynch, 1997; Meyers et
al, 2000; Booth et al, 2004), melaporkan ketakutan hasil dari proses legal (proses RJP tersebut)
merupakan faktor yang biasa terjadi diantara staf yang tidak menginginkan anggota keluarga hadir
selama usaha resusitasi. Tiga studi menunjukan staf takut kinerja mereka akan diteliti dan dikritik
oleh kerabat, meskipun tidak berbuat salah.
Hanya satu catatan studi (Meyers et al, 2000) menjabarkan bahwa tidak hanya tidak ada tuntutan
hukum yang dianjurkan untuk kelalaian karena kehadiran keluarga, tetapi juga bahwa 84% dari staf
merasa kinerja mereka telah benar-benar membaik selama resusitasi dan mereka telah mampu untuk
menghargai bahwa mereka berhadapan dengan manusia daripada bencana cardiac event.
Namun, beberapa staf percaya bahwa jarak emosional seperti itu penting bagi mereka untuk
berkonsentrasi pada tugas-tugas resusitasi dengan pikiran yang jernih. Selanjutnya, mereka
berpendapat bahwa dalam beberapa kasus upaya resusitasi tidak perlu berkepanjangan karena
kehadiran keluarga, bahkan jika upaya tersebut jelas sia-sia (Mitchell dan Lynch, 1997; Meyers et
al, 2000).
Reaksi tak terduga lainnya yang dikutip dari anggota keluarga sebagai alasan mengapa mereka tidak
akan mendukung FWR. Takut bahwa kerabat akan mengganggu defibrilasi misalnya, adalah umum
ditemukan. Ketakutan tersebut tidak memiliki dasar tapi nampaknya lebih ke arah aspek budaya.
Salah satu studi oleh Booth et al (2004) tiba pada kesimpulan yang kurang rumit mengapa FWR
tidak ditawarkan dalam survei telepon mereka dari bagian A&E (Ambulance and Emergency),
mereka menemukan bahwa alasan yang mungkin untuk ketidakhadiran kerabat di resusitasi adalah
karena tidak ada yang pernah mendekati mereka untuk menanyakan apakah mereka ingin terlibat.
Menarik untuk dicatat bahwa melalui studi ini, pada anggota staf medis yang lebih junior, kecil
kemungkinan mereka menyetujui FWR. Namun, perawat lebih cenderung menyarankan FWR untuk
ditawarkan dibandingkan dokter.

Penelitian Terkait
Jika tenaga kesehatan profesional merasa menyaksikan resusitasi dari orang yang dicintai adalah
menyedihkan bagi anggota keluarga, akan menolak FWR, begitu juga menurut Barret dan Wallis
(1998). Mereka melaporkan bahwa meskipun seorang wanita telah melihat suaminya di defibrilasi
di rung tamunya dan lagi di dalam ambulan oleh paramedis, dia diberhentikan (tidak diperbolehkan)
memasuki ruangan resusitasi.
Meyers et al (2000) mengutip dari berbagai tanggapan dari kerabat yang berpartisipasi dalam FWR.
Mayoritas menjelaskan bahwa pengalaman sebagai kekuatan atau natural dan dalam banyak
kasus anggota keluarga menyatakan bahwa mereka memiliki hak untuk berada di sana.
Menariknya, semua responden merasa bahwa melihat upaya (resusitasi) lebih baik daripada
ditinggal sendirian dengan bertanya-tanya dan berspekulasi.
Dalam upaya resusitasi yang telah berhasil Meyers et al (2000) melaporkan bahwa keluarga telah
merasa terhubung dengan yang mereka cinta dan merasa bahwa mereka telah mampu memberikan
kenyamanan saat berbagi pengalaman emosi yang kuat. Bahkan dalam kasus dimana upaya
resusitasi telah gagal, kerabat percaya bahwa dengan hadir, kekhawatiran mereka menurun dan
pengalaman membantu mereka menghadapi kenyataan untuk memfasilitasi berduka dalam beberapa
bulan kemudian (Doyle et al, 1987).
Studi dari Robinson et al (1998) membuktikan temuan ini. Kerabat yang terlibat dalam FWR
menunjukan tingkat kecemasan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak berpartisipasi.
Program-program televisi seperti Casualty menggambarkan detail prosedur seperti resusitasi selama
jam tayang. Meskipun naif untuk membayangkan bahwa fantasi akan mempersiapkan kita untuk
realitas. Munculnya program tersebut berarti intubasi dan defibrilasi bukanlah hal asing bagi orangorang sebagaimana kepercayaan para tenaga kesehatan profesional. Kenyataannya, jika saja ada
(maksudnya tidak ada), Blundell et al (2004) menemukan program-program UK yang
menggambarkan prosedur dengan hasil realistik dengan frekuensi hasil yang buruk.
Barrett and Wallis (1998) menyatakan bahwa terlalu banyak penekanan telah ditempatkan pada
prosedur tersebut. Ketika mempertanyakan kerabat beberapa bulan setelah resusitasi, sedikit dari
mereka bisa mengingat prosedur apa yang mereka lihat saat kejadian. Ini menunjukan bahwa
anggota keluarga lebih terfokus pada teknis dari apa yang terjadi di sekitar mereka daripada orang
yang dicintai yang berada tepat di depan mereka.

PENERAPAN PRAKTIK
Rekomendasi utama dari semua ulasan studi (Box 1) adalah penekanan perlunya penelitian lebih
lanjut tentang FWR. Memang, penting untuk dicatat bahwa sampel yang berhubungan dengan sikap
staf hanya diambil dari orang-orang yang bekerja di A&E.

Box 1. Pedoman untuk FWR

Jika mungkin diskusikan hal-hal seputar resusitsi dengan pasien dan keluarga

Jangan pernah beranggapan bahwa keluarga terdekat tidak ingin hadir

Bantu staf junior dalam peran mereka melibatkan keluarga saat itu (saat resusitasi)

Bahas kebijakan lokal mengenai FWR dengan rekan-rekan medis dan keperawatan
sehingga semua orang jelas tentang masalah ini

Jika memungkinkan alokasikan anggota staf untuk menjelaskan prosedur dari


hadirinya kerabat

Dimasukkannya FWR dalam penyusunan sistem seperti kursus advance basic life
support untuk menjelaskan dan mengedukasi staf.

Ini menimbulkan pertanyaan apakah FWR akan lebih diterima dalam area ruangan di mana
hubungan antara pasien, staf, dan keluarga telah dikembangkan dan memiliki dasar yang kuat.
Edukasi dan diskusi kelompok untuk memperoleh perhatian staf dan pandangan tentang FWR harus
dimulai, dan kita harus berusaha untuk mendukung rekan-rekan junior yang mungkin memerlukan
dukungan sehingga mereka tidak merasa terintimidasi oleh kehadiran anggota keluarga selama
upaya resusitasi.
Memiliki anggota staf yang mampu menjelaskan kepada kerabat mengenai apa yang terjadi selama
prosedur telah direkomendasikan oleh studi. Beberapa menyarankan perawat senior atau bahkan
seorang pendeta bisa menjadi orang yang tepat untuk memenuhi fungsi ini. Walaupun ke dua saran
ini memiliki kelemahan yang jelas, ini merupakan solusi yang meminta penyelidikan lebih lanjut.
Satu rekomendasi akhir adalah keterbukaan dengan klien kita, jika kita bisa membahas masalah
resusitasi dengan mereka secara langsung, perdebatan dapat langsung diakhiri.

PENUTUP
Penelitian dalam hal keuntungan dan kerugian dari FWR masih dalam pertumbuhan yang relatif
dengan mayoritas penemuan literatur yang anekdotal. Ukuran sampel dari jumlah studi yang
tersedia adalah kecil terbatas untuk area spesifik, dan metodologi mereka dan pendekatan etik
belum dapat dipertanyakan.
Selang waktu antara studi dan peristiwa subjek, bagaimanapun, mendukung validitas FWR sebagai
area penelitian. Lebih jauh lagi, hal ini menunjukan bahwa masalah ini tidak akan mudah memudar
dan akan selalu ada sisi dimana anda tertarik untuk berdebat mengenai FWR jauh dari penyelesaian.

Anda mungkin juga menyukai