Anda di halaman 1dari 3

KEHADIRAN ANGGOTA KELUARGA SELAMA RESUSITASI JANTUNG PARU :

PERNYATAAN SIKAP

Pada tahun 2007 European federation of Critical Care Nursing associations (EfCCNa), European
Society of Paediatric and Neonatal Intensive Care (ESPNIC) dan European Society of Cardiology
Council on Cardiovascular Nursing and Allied Professions (CCNAP), bersama-sama merumuskan
penyataan sikap mengenai keberadaan anggota keluarga selama resusitasi dewasa, anak-anak atau
bayi kerabat mereka. Teks lengkap dari pernyataan sikap ini awalnya dipublikasikan dalam Connect
The World of Critical Care Nursing. Versi singkat yang berkaitan dengan bayi ditunjukan di bawah
ini.
Kemungkinan pernyataan sikap didasari oleh penelitian dan pendapat para ahli seperti yang
diungkapkan dalam keperawatan dan literatur medis, meskipun kurang adanya bukti penelitian yang
berkualitas tinggi pada subjek keluarga yang menyaksikan resusitasi dan penelitian mengenai topik
ini sangat langka di Eropa.

LATAR BELAKANG
Pedoman resusitasi di Eropa mendukung kehadiran keluarga selama resusitasi jantung paru (CPR).
Namun praktik ini sering dianjurkan berdasarkan sikap paternalistik dan dugaan, karena
bertentangan dengan bukti empiris.
Dua puluh tahun yang lalu kehadiran anggota keluarga selama resusitasi terbatas terutama untuk
gawat darurat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir profesi kesehatan semakin menawarkan
kesempatan anggota keluarga untuk tetap hadir selama CPR. Lebih jauh lagi permintaan publik
terus-menerus (menekankan) bahwa keluarga harus dapat tetap bersama yang mereka cintai selama
CPR, terlepas dari hasil prediksi pasien.
Meskipun terjadi perubahan tren, menyaksikan resusitasi keluarga merupakan isu yang
kontroversial yang masih diperdebatkan secara luas. Kekhawatiran pada literatur berpusat pada tiga
area:

Potensi dari kehadiran keluarga yang meningkatkan efek ansietas dari staf resusitasi, atau
tertekan yang mungkin dapat menggangu proses. Sebelum adanya bukti, selain laporan
anekdotal terisolasi untuk mendukung perselisihan ini.

Ketika menyaksikan kejadian traumatik, anggota keluarga mungkin mengalami konsekuensi


emosional dan psikologis negatif ini belum dikonfirmasi oleh bukti yang ada. Selanjutnya,
Boyd mengamati bahwa banyak hambatan diduga dari kehadiran keluarga, seperti pelanggaran
kerahasiaan pasien, perdebatan teoritis karena tidak adanya perhatian yang ditunjukan untuk
mengatur profesionalitas.

Kerabat butuh ditawarkan pilihan untuk hadir atau tidak. Manfaat positif dari adanya anggota
keluarga yang hadir selama CPR meliputi pengembangan ikatan dengan tim resusitasi,
menyediakan suasana yang lebih manusiawi yang memungkinkan kepastian dan kepuasan saat
mengetahui bahwa anggota keluarga mereka berada di tangan yang aman.

Dua orang survei dari eropa, melakukan kerjasama dengan EfCCNa dan ESPNIC (Keperawatan),
dari dewasa, pediatrik dan neonatus perawat di perawatan kritis menyelidiki pengalaman mereka
selama CPR. Studi ini menunjukan bahwa sebagian besar perawat di perawatan kritis di Eropa
mendukung keluarga menyaksikan CPR. Namun, hanya sejumlah kecil unit perawatan intensif
memiliki kebijakan resusitasi termasuk petunjuk tentang keberadaan anggota keluarga. Sebagai
hasil rekomendasi utama dari ke dua survei adalah untuk mengurangi direktif yang ditujukan
kepada eropa tingkat luas.

PERNYATAAN SIKAP
1.

Semua pasien memiliki hak untuk menghadirkan keluarga selama proses resusitasi.

2.

Keluarga pasien harus ditawarkan kesempatan untuk hadir selama berlangsungnya resusitasi.

3.

Dukungan harus diselenggarakan oleh kualifikasi tenaga kesehatan profesional yang tepat yang
mampu merawat (mungkin maksudnya menenangkan, mensupport) anggota keluarga yang
menyaksikan resusitasi jantung paru.

4.

Konseling profesional harus ditawarkan kepada anggota keluarga yang menyaksikan kejadian
resusitasi,

5.

Semua anggota dari tim resusitasi yang terlibat dalam upaya resusitasi ketika anggota keluarga
hadir harus berpartisipasi dalam tim penanya.

6.

Kehadiran keluarga selama resusitasi harus dimasukkan ke dalam kurikulum dari program
pelatihan resusitasi jantung paru.

7.

Semua unit intensif dan kritis harus memiliki multi-disiplin pembuat pedoman bagi kehadiran
keluarga selama resusitasi jantung paru.

Catatan Yang Berhubungan Dengan Resusitasi Pada Bayi


Tujuan akhir mengenai siapa yang harus hadir selama resusitasi adalah harus membuat kerjasama
dengan anggota tim resusitasi dan anggota keluarga, tanpa tekanan dan paksaan.
Anggota keluarga harus diingatkan bahwa pada beberapa kesempatan mereka boleh diminta untuk
meninggalkan sisi (keluarga yang akan di RJP) setiap saat demi kepentingan terbaik mereka atau
bayi.
Resusitasi tim harus mengambil latar belakang budaya individual keluarga, kepercayaan, nilai-nilai
dan ritual ke dalam perhitungan.

Sementara itu, kemungkinan tidak dapat selalu menyediaan tenaga kesehatan profesional yang
bertanggung jawab untuk merawat anggota keluarga, ini bukan berarti mengesampingkan anggota
keluarga dari resusitasi tersebut.

Tidak hanya, anggota tim resusitasi yang berpengalaman, yang menjadi


Harus ditunjuk menjadi penanggung jawab utama untuk
Dengan kepada keluarga, :