Anda di halaman 1dari 5

PENGGUNAAN REFRIGERAN HIDROKARBON

(HC) DALAM BISNIS PERAWATAN DAN


PERBAIKAN AC
Isnanda(1)
(1)

Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang


ABSTRAK

Sesuai dengan program Pemerintah tentang penghapusan bahan perusak ozon seperti
pengunaan CFC pada mesin Refrigerasi dengan jalan membatasi impor CFC, sehingga
suplay akan berkurang sedangkan kebutuhan meningkat yang menyebabkan harga CFC
semakin mahal. Maka dari itu dipakailah Hidrokarbon sebagai Refrigeran pengganti CFC
yang mempunyai sifat ramah lingkungan, harga lebih murah karena untuk kapasitas
pendingin yang sama jumlah Hidrokarbon yang dipakai hanya 40 % dari CFC. Disamping
itu panas latennya lebih tinggi dari CFC, sehingga jumlah panas yang diserap per kg
Refrigeran yang dipakai selama penguapan lebih besar. Semuanya itu merupakan
penghematan biaya.
ABSTRACT
Base on the governments program about the erasure ozones destroyer such the using of
CFC in the refrigeration machine by limiting the import of CFC. So that, the supply will
decrease while the demand is increasing and as the result the price becomes higher. Hence,
hydrocarbon is used to change the CFC, which is safe for the environment and has the
lower price because for the same capacity, hydrocarbon is used 40% of CFC. Beside that,
the color latent is higher than CFC, so the quantity that is absorbed per kg of
refrigerations use during the evaporation is bigger. All of that cause the saving cost.
Keywords: Refrigeration machine, Refrigerant hydrocarbon
1.

PENDAHULUAN

1.1 Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon


Hidrokarbon (HC) telah digunakan sejak lama
sebagai Refrigeran pada sistem atau mesin
Refrigerasi. Dimana pada lima tahun terakhir ini
penggunaannya telah meningkat secara pesat pada
peralatan rumah tangga dan peralatan komersial kecil
seperti lemari es sebagai pengganti R-12 (CFC), R22 (HCFC) dan R-134a (HFC) yang dapat merusak
lapisan ozon di stratosfer yang mengakibatkan
peningkatan jumlah sinar ultraviolet yang kita terima.
Dimana hal ini akan menyebabkan peningkatan kasus
kanker kulit, katarak pada mata dan dapat
menurunkan hasil panen. Refrigeran Hidrokarbon ini
adalah Refrigeran yang ramah lingkungan serta
kinerjanya sama dengan R-12 (CFC), R-22 (HCFC)
dan R-134a (HFC) dan pada banyak kasus dapat
menurunkan biaya konsumsi listrik karena panas
laten Hidrokarbon jauh lebih tinggi jika dibandingkan
dengan Refrigeran Halokarbon (CFC, HCFC, HFC),
sehingga jumlah panas yang diserap Hidrokarbon per
kg Refrigeran yang dipakai selama penguapan adalah
lebih besar sebagaimana terlihat pada Gambar (1).
Kalau ditinjau dari berat jenisnya, maka berat jenis
hidrokarbon lebih rendah jika dibandingkan dengan
refrigeran halokarbon (CFC, HCFC, HFC), ini akan
memberikan keuntungan untuk pemakaian dengan
volume yang sama dengan refrigeran halokarbon,

maka beratnya hanya sekitar 40% dari berat R-12


(CFC), R-22 (HCFC) dan R-134a (HFC), seperti
yang terlihat pada Gambar (2).
HC
HC FC

HFC

Gambar 1. Kalor laten beberapa refrigeran


HCFC
HC

HFC

Gambar 2. Berat jenis beberapa refrigeran

1.2 Jenis Refrigeran Hidrokarbon


Refrigeran Hidrokarbon yang digunakan pada sistem
refrigerasi adalah Refrigeran yang berada pada
tingkat kemurnian yang sangat tinggi dan harus
mempunyai tingkat kelembaban dan kontaminan
yang sangat rendah serta tidak berbau. Jika
pemakaian hidrokarbon (HC) yang tidak murni, maka

Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon (Hc) dalam Bisnis Perawatan dan Perbaikan AC (Isnanda)

akan menyebabkan
berikut:

terjadinya

hal-hal

sebagai

Tingkat kelembaban yang tinggi akan


menyebabkan filter pengering menjadi jenuh
sehingga terjadi pembekuan pada pipa kapiler
dan dapat menyebabkan kerusakan pada
kompresor

Zat pembau seperti yang digunakan pada LPG


dapat merusak kompresor dan menyumbat
filter pengering.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka sebelum


menggunakan hidrokarbon harus terlebih dahulu
mengetahui jenis hidrokarbon tersebut, karena
hidrokarbon untuk refrigeran tidak sama dengan
hidrokarbon untuk bahan bakar.
Pada sistem refrigerasi hidrokarbon yang digunakan
ada 2 jenis, yaitu:
1.

2.

Hidrokarbon murni yang disebut juga dengan


hidrokarbon dimana hanya terdiri dari satu
komponen zat hidrokarbon seperti iso butana
murni (R.600a ), yang mempunyai titik didih
120 C pada
tekanan atmosfer yang
digunakan secara umum pada lemari es rumah
tangga dan kapasitas pendinginnya rendah,
yaitu sekitar 60% dari R-12.
Hidrokarbon campuran, yaitu merupakan
campuran dari beberapa komponen zat
hidrokarbon seperti campuran antara propana
dengan
butana
(R.600a/R.290)
yang
mempunyai titik didih sekitar 310 C pada
tekanan atmosfer dan mempunyai sifat yang
sangat mirip dengan R-12 dan digunakan pada
peralatan baru seperti pembeku es krim dan
pendingin air

1.3 Tingkat Mampu Nyala Hidrokarbon


Hidrokarbon dapat menyala bila tercampur dengan
udara dan dibakar , maka dari itu kosentrasi batas
hidrokarbondi udara harus berada antara batas nyala
bawah (BNB) atau lower flammability (LFL) dan
batas nyala atas (BNA) atau upperflammability
(UFL), seperti yang terlihat pada Gambar (3).

Udara murni

BNB

HC Murni

Bila konsentrasi hidrokarbon dibawah BNB yaitu


sekitar 2%, maka tidak cukup jumlah hidrokarbon
untuk terjadinya pembakaran, demikian juga bila
konsentrasinya di atas BNA yaitu sekitar 10%, maka
tidak cukup oksigen untuk terjadinya pembakaran.
Pada saat melakukan perawatan dan perbaikan, maka
demi keamanan agar tidak terjadinya kebakaran
ditentukan bahwa batas hidrokarbon di udara dalam
ruangan tertutup tidak boleh lebih dari 8 gr/m3.
2. PROSEDUR PERAWATAN DAN PERBAIKAN
Prosedur perawatan dan perbaikan untuk mesin
refrigerasi yang menggunakan hidrokarbon (HC)
sebagai refrigeran pada dasarnya adalah sama dengan
mesin refrigerasi yang menggunakan refrigeran R-12
(CFC) atau refrigeran R-134a (HFC), kecuali ada
beberapa tindakan pencegahan yang harus dilakukan
bila bekerja dengan refrigeran yang mudah terbakar,
yang mencakup:
.2.1 Penanganan Umum Refrigeran Secara Aman
Semua refrigeran pada dasarnya berbahaya baik R-12
(CFC), R-22 (HCFC), dan R-134a (HFC) maupun
hidrokarbon (HC). Untuk itu sebagai pedoman dalam
menanganinya adalah sebagai berikut:
1. Hindari persentuhan refrigeran dengan kulit
karena dapat menimbulkan kerusakan pada kulit,
untuk itu gunakan sarung tangan, kacamata
ketika menanganinya.
2. Karena refrigeran tidak berbau dan lebih berat
dari udara, oleh karena itu refrigeran cendrung
terkosentrasi (mengumpul), maka dari itu
sirkulasi udara di daerah ini harus baik untuk
mengurangi kosentrasi tersebut.
3. Kalau terjadi kebocoran perbaiki secepat
mungkin karena refrigeran bersifat menyesakkan
pernafasan serta dapat membuat mati lemas
apabila terhisap dalam kosentrasi yang besar.
2.2 Cara Membuang Refrigeran Hidrokarbon
dari Sistem
Karena refrigeran hidrokarbon mudah terbakar, maka
untuk membuangnya dari sistem pada saat
memperbaiki sistem, misalnya dari kebocoran harus
dilakukan jauh
dari sumber api (sumber penyalaan
dan bunga api) dan disarankan di luar ruangan. Dan
alat yang baik unttuk membuka sistem digunakan
tang penusuk (tang kelelawar) yang terhubung
dengan selang panjang seperti ditunjukkan pada
gambar 4.

BNA (UFL)

Gambar 3. Batas nyala bawah dan batas nyala atas


Hidrokarbon

Gambar 4. Tang Penusuk

45

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 2, No 1, Juni 2005

Tapi jika pipa proses mempunyai terminal


penghubung pengisian atau pengeluaran refrigeran,
maka tidak diperlukan tang penusuk. Sebelum
membuang refrigeran jika memungkinkan jalankan
ke kompresor terlebih dahulu, hal ini dilakukan untuk
memanaskan
pelumas
kompresor,
sehingga
refrigeran yang larut di dalamnya berkurang.
Selanjutnya untuk membuang hidrokarbon (HC)
secara aman dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Jangan membuka sistem dalam ruangan yang
tertutup, tapi bekerjalah dalam ruangan yang
berventilasi dengan baik (dengan jendela dan pintu
terbuka) atau diluar ruangan.
2. Sebelum menggunakan tang penusuk untuk
membuka sistem, pastikan bahwa ujung lain selang
berada di luar ruangan atau pada ruangan yang
mempunyai ventilasi yang baik.
3. Refrigeran yang dikeluarkan tidak boleh terhisap
masuk ke dalam gedung atau ruangan bawah tanah.
4. Tusuk pipa proses seperti gambar 4, jika
menggunakan tang penusuk serta pastikan jepitan
tang telah disesuaikan dengan pipa sehingga pipa
tersebut terjepit kuat dan tidak ada refrigeran yang
bocor keluar selain melalui jarum penusuk dan
selang tang penusuk. Untuk melakukan proses
pembuangan ini dibutuhkan waktu sekitar 15
menit, serta untuk memastikan bahwa tidak ada
lagi refrigeran yang keluar dari selang pengeluaran
dilakukan dengan cara memasukkan ujung selang
ke dalam wadah yang berisi air dan pastikan tidak
adanya gelembung yang keluar, tapi jika masih ada
gelembung ini menandakan masih terdapat sisa
refrigeran di dalan sistem. Dengan masih
terdapatnya sisa refrigeran di dalam sistem
walaupun sedikit harus dikeluarkan dengan jalan
mencabut tang penusuk dan dipasangkan terminal
penghubung yang dihubungkan dengan pompa
vakum yang akan menghampakan sisa refrigeran
tersebut.

ISSN 1829-8958

tekanan dari 5 sampai 5000 mikron air raksa, tapi


apabila tidak memiliki alat pengukur tekanan vakum
maka sistem harus di vakum selama paling tidak 30
menit setelah penunjuk tekanan pada gaugemanifold
menunjukkan -760 mm Hg (0 mili bar). Untuk lebih
jelasnya proses pemvakuman dapat dilakukan
sebagai berikut, dimana gauge manifold yang
mempunyai tiga buah selang yaitu merah yang
dihubungkan dengan klep service tekanan tinggi
kompresor dan selang biru dihubungkan ke klep
service tekanan rendah kompresor dan selang warna
hijau dihubungkan ke pompa vakum. Setelah itu
pompa vakum di jalankan dan kedua katup pada
manifold gauge, baik katup L0 maupun Hi dibuka,
sambil mengamati jarum pengukur tekanan L0
sampai menunjukkan tekanan -760 mm Hg setelah
pompa vakum dijalankan selama 20 menit.
Kemudian pompa vakum dimatikan dan kedua katup
L0 dan Hi ditutup selama 5 menit sambil mengamati
apakah jarum penunjuk yang sudah mencapai
tekanan -760 mm Hg bergerak kembali ke titik nol
atau tidak. Jika jarum penunjuk bergerak kembali ke
titik nol berarti menandakan terdapat kebocoran,
untuk itu harus diperiksa tempat terjadinya
kebocoran tersebut, untuk diperbaiki. Setelah itu di
ulang lagi pemvakumannya dan kalau jarum
pengukur L0 tetap pada angka -760 mm Hg selama 5
menit ini menunjukkan tidak terjadi kebocoran
sehingga dapat dilanjutkan ke pekerjaan berikutnya
yaitu pengisian refrigeran

2.3 Pembuangan Udara Sampai Menjadi Vakum


Satu hal yang sangat penting dalam perawatan sistem
adalah menghidari terdapatnya udara di dalam
instalasi karena udara ini mengandung uap air,
sedangkan refrigeran yang dipakai sebagai media
pendingin pada sistem mempunyai sifat tidak dapat
larut dalam air. Maka Apabila terdapat sejumlah
kecil air di dalam instalasi, air tersebut akan
membeku atau membentuk butiran es dan butiran es
ini akan mengganggu sirkulasi refrigeran. Untuk
menghindari terdapatnya udara di dalam instalasi
adalah dengan cara mengosongkan (mengvakum)
udara dari instalasi dengan memakai pompa vakum,
dimana pompa vakum harus mampu mengosongkan
sampai dengan tekanan 20-50 mikron air raksa.
Untuk melihat tekanan vakum diperlukan alat
pengukur tekanan vakum yang dapat mengukur

Gambar 5. Pemvakuman

2.4 Pengisian Refrigeran Hidrokarbon


Pada pengisian refrigeran hidrokarbon sebaiknya
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Ruang tempat pengisian harus mempunyai
ventilasi yang baik.

46

Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon (Hc) dalam Bisnis Perawatan dan Perbaikan AC (Isnanda)

2. Usahakan agar jumlah refrigeran hidrokarbon


yang terlepas ke udara sekecil mungkin.
3. Peralatan pengisian yang digunakan harus
akurat.
4. Ruang tempat pengisian harus ruangan yang
bebas rokok dan berjarak minimal 2 meter dari
api atau komponen listrik yang dapat
mengeluarkan bunga api serta bukan merupakan
ruang bawah tanah.
Setelah memperhatikan hal-hal di atas, maka proses
pengisian dapat dilakukan dengan menghubungkan
selang pengisi ke peralatan pengisian dan sistem
yang urutannya adalah sebagai berikut:
Mula-mula udara yang terkurung di dalam selang
pengisi pada saat penyambungannya ke peralatan
pengisian
harus
dikeluarkan
dengan
cara
mengendurkan sedikit mur yang mengencangkan
nipel pada pengukur tekanan manifold, kemudian
buka katup pada tabung refrigeran sehingga
refrigeran hidrokarbon akan mendesak udara yang
ada didalam selang keluar setelah itu kencangkan
kembali mur yang dikendorkan tadi, ini dapat dilihat
pada Gambar (6)

Gambar 7. Pengisian awal

Kemudian dilanjutkan dengan pengisian kedua


(terakhir), dimana mesin dalam keadaan hidup dan
posisi katup Hi dalam keadaan tertutup, serta posisi
katup L0 dalam keadaan terbuka

Gambar 8. Pengisian terakhir


Gambar 6. Pembilasan udara terkurung

Kemudian isi sistem dengan refrigeran sedikit , ini


merupakan pengisian awal dengan cara membuka
katup Hi, sedangkan katup L0 tetap dalam keadaan
tertutup sehingga refrigeran masuk ke dalam instalasi
atau sistem sampai mencapai tekanan 4-6 kg/cm2,
baik pada katup L0 maupun pada katup Hi dan ini
dilakukan dalam keadaan mesin mati

Untuk mengetahui atau melihat jumlah refrigeran


sudah cukup atau belum, dapat diketahui dari
beberapa cara :
1. Menimbang (berat).
2. Mengukur volume, yaitu dengan menggunakan
tabung penguap yang sudah dikalibrasi.
3. Melihat tekanan operasi.

47

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 2, No 1, Juni 2005

ISSN 1829-8958

Dimana dengan cara menimbang refrigeran yang


akan diisikan merupakan metoda yang paling teliti
jika berat refrigeran yang harus diisikan tidak
diketahui, maka pengisian sampai tercapainya
tekanan yang tepat merupakan metoda terbaik
berikutnya.
2.5 Uji Kebocoran
Setelah sistem diisi dan ditutup maka sistem harus
diperiksa kebocorannya dan metoda yang paling
aman dan akurat untuk mesin yang menggunakan
refrigeran hidrokarbon adalah dengan metoda air
sabun, karena dapat mendeteksi kebocoran yang
kecil dan tidak menimbulkan bahaya.

PUSTAKA
1.

Nippon Denso, Dasar Pengetahuan AC Mobil

2.

MC Graw Hill. Hand Book of Air Conditioning


System Design, 1965

3.

Sumanto, Drs. Dasar-dasar Mesin Pendingin.


Penerbit : Andi Offset. Yogyakarta, 1994.

48