Anda di halaman 1dari 62

PROBLEM KEPASIRAN

Problem Kepasiran
Problem kepasiran adalah ikut terproduksinya pasir
bersama dengan aliran fluida reservoir.
Problem ini umumnya terjadi pada formasi-formasi
yang dangkal

Problem kepasiran terjadi akibat rusaknya kestabilan


dari ikatan butiran-butiran pasir yang disebabkan
oleh adanya gaya gesekan ( frictional force ) serta
tumbukan oleh suatu aliran dari fluida dimana laju
aliran yang terjadi melampaui batas maksimum dari
laju aliran kritis yang diperbolehkan, sehingga
butiran-butiran pasir akan ikut terproduksi bersamasama dengan minyak ke permukaan.

Faktor Sementasi

Butiran pasir pada suatu sistem akan membentuk


suatu ikatan antar butiran itu sendiri dalam suatu
ikatan sementasi yang mana ikatan sementasi
tersebut membuat butiran-butiran pasir bersatu dan
kuat.
Semakin besar harga faktor sementasi, maka akan
semakin kuat ikatan antar butiran-butiran pasir dan
semakin terkonsolidasi (consolidated).
Semakin rendah harga faktor sementasinya maka akan
semakin rendah juga tingkat konsolidasi antar buitiranbutiran pasir (unconsolidated), sehingga butiran-butiran
pasir tersebut akan mudah lepas.

Harga faktor sementasi ini dapat diketahui dari


analisa core spesial (Special Core Analysis/SCAL).

Identifikasi Problem Kepasiran


Problem kepasiran dapat diindikasikan dengan kriteria
parameter sebagai berikut :
Faktor sementasi batuan yang relatif kecil (<=1.7).
Kekuatan formasi yang relatif kecil (< 0.8 x 1012 psi2)
Laju produksi yang besar (lebih besar dari laju
produksi kritis) menyebabkan gaya seret fluida
menjadi besar.
Pertambahan saturasi air akan menyebabkan clay
yang ada dalam formasi mengembang. Hal ini
mengakibatkan lengkungan kestabilan menjadi
berkurang, sehingga lengkungan kestabilan pasir
mudah runtuh.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


1.

Kecepatan Aliran

Laju aliran kritis adalah suatu laju aliran fluida reservoir maksimum,
dimana jika harga tersebut terlampaui maka pasir akan ikut
terproduksi.
Semakin besar aliran fluida, semakin besar pula gaya seret (drag force)
fluida yang bekerja pada busur kestabilan.

Stein memberikan persamaan tentang besarnya produksi kritis yang


diperbolehkan sehingga tidak merusak kestabilan formasi, yaitu :
0,025x106 K z N zG z A z
Qz
Bzz At
Dimana :
Qz = Laju produksi kritis, stb/hari
Kz = Permeabilitas formasi, md
Bz = Faktor volume formasi, bbl/stb
Nz = Jumlah lubang perforasi
Gz = Shear modulus batuan, psi
z = Viscositas fluida, cp
Az = Luas kelengkungan butir pada kondisi test, sq-ft
At = Luas kelengkungan butir pada kondisi pengamatan, sq-ft

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


2. Sementasi Batuan
Faktor sementasi tergantung pada tingkat konsolidasi
batuan. Formasi dengan faktor sementasi lebih kecil
dari 1.8 merupakan formasi yang tidak stabil dan sering
terjadi problem kepasiran pada formasi ini.
Faktor Sementasi Untuk berbagai Jenis Batuan
Litologi
Batupasir
loose uncemented sand
slightly cemented sand
moderately cemented sand
well cemented sand
Batugamping
moderately porous limestone
some oolitic limestone

Harga m
1,3
1,3 1,7
1,7 1,9
1,9 2,2
2
2,8

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


3. Kandungan Lempung Formasi
Material lempung terdiri dari kelompok mika, kaolinite,
chlorite, illite dan montmorilllonite.
Umumnya lempung mempunyai sifat yang basah air atau
water wet, sehingga apabila air bebas melewati formasi yang
mengandung lempung akan menimbulkan dua akibat, yaitu :
Lempung akan menjadi lembek
Gaya adhesi dari fluida yang mengalir terhadap material yang
dilaluinya akan naik.

Akibatnya butiran pasir cenderung untuk bergerak ke lubang


sumur, apabila fluida formasi mulai terproduksi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


4. Migrasi Butir-Butir Halus Formasi
Muecke butir-butir halus yang dapat melewati saringan mesh
terkecil, yaitu 400 mesh atau 37 m, diendapkan sewaktu
terbentuknya batuan dan masuk ke dalam formasi pada waktu
operasi pemboran dan komplesi sumur.
Pada umumnya formasi adalah water wet, sehingga partikel
tidak akan bergerak jika yang bergerak hanya minyak. Begitu
fasa air bergerak maka partikel akan bergerak bersama air.
Pergerakan partikel ini sangat dipengaruhi oleh prosentase air
di dalam fluida yang terproduksi.

Dengan ikut terproduksinya partikel ke lubang sumur


kemudian ke permukaan dan dianggap sebagai pasir,
sedangkan sisanya akan menyumbat pada pori-pori disekitar
lubang sumur. Karena tertutupnya pori-pori akan
menyebabkan penurunan permeabilitas

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


5. Kekuatan Formasi
Kekuatan formasi dalam hal ini merupakan kemampuan formasi
dalam menahan butiran batuan tetap pada tempatnya akibat gaya
yang bekerja padanya. Kekuatan formasi ini dipengaruhi oleh friksi
dan kohesi antar butir pasir.
Kekuatan formasi dapat diketahui melalui modulus elastisitas
batuan dengan menggunakan log, salah satunya adalah:
Sonic Log
Prinsipnya adalah penentuan interval transit time (t) yang merupakan fungsi
litologi formasi dan porositas yang berdasarkan pengalaman dan penelitian,
maka diperoleh kriteria sbb :

(t) < 95 s/ft

: formasi kompak
95 s/ft < (t) < 105 s/ft : diragukan
(t) > 105 s/ft
: formasi tidak kompak

MENURUT PENBERTHY DAN SHAUGHNESSSY PENYEBAB


KEPASIRAN ADALAH :
1.

2.

3.

Shear Failure
Terlepasnya butiran Pasir akibat gaya gesekan fluida. Besarnya gaya
gesekan di tentukan oleh laju alir dan viskositas fluida.
Tensile Failure
Akibat penurunan tekanan pori dalam formasi sering terjadi pada sumur
brown field
Cohesive Failure
Terlepasnya batuan pasir disebabkan oleh material material pengikat
( semen) antara butiran tidak kuat dalam menahan antar butiran pasir

Elastisitas
sifat zat /bahan yang memungkinkan benda
kembali pada ukuran semula

Plastisitas
Bentuk yg tidak kembali ke bentuk semula

Tegangan (stress)
Perbandingan besar gaya yg bekerja terhadap luas
penampang permukaan sebuah benda.
= tegangan (N/m2)
F = gaya tekan/tarik (N)
A = luas penampang (m2)

Tegangan dibedakan atas :


Tegangan tarik

Tegangan tekan

Regangan (strain)
Perbandingan antara pertambahan panjang thd
panjang mula-mula suatu benda bentuk suatu benda
yg mendapat tekanan.
= regangan
l = pertambahan panjang (m)
lo = panjang mula-mula (m)

Modulus Elastisitas
Modulus Young (E)
mengambarkan sifat elastisitas benda dalam arah memanjang, bahan semakin susah
ditarik / tekan

Modulus benda ( Bulk Modulus )


Modulus yg menghubungkan tekanan hidrostatik dgn perubahan volume yg
dihasilkan.

Pencegahan Problem Kepasiran

Untuk mencegah terjadinya kepasiran adalah dengan cara memproduksikan


minyak pada laju optimum tanpa terjadi kepasiran.

Sand free flow rate merupakan besarnya laju produksi kritis, dimana apabila
sumur tersebut diproduksikan melebihi laju kritisnya, maka akan menimbulkan
masalah kepasiran.

Stein memberikan persamaan tentang besarnya produksi kritis yang


diperbolehkan sehingga tidak merusak kestabilan formasi, yaitu :

0,025x106 K z N zG z A z
Qz
Bzz At
Dimana :

Qz = Laju produksi kritis, stb/hari


Kz = Permeabilitas formasi, md
Bz = Faktor volume formasi, bbl/stb
Nz = Jumlah lubang perforasi
Gz = Shear modulus batuan, psi
z = Viscositas fluida, cp
Az = Luas kelengkungan butir pada kondisi test, sq-ft
At = Luas kelengkungan butir pada kondisi pengamatan, sq-ft

Penanggulangan Problem Kepasiran


Metode Penanggulangan Problem kepasiran :
1. Pengurangan drag force :
Penentuan laju maksimum atau laju produksi kritis.

2. Metode Mekanik :
Screen Liner

Gravel Pack

Penambahan formation strength, yaitu dengan


menggunakan resin consolidation method.

PENANGGULANGAN KEPASIRAN DENGAN GRAVEL


PACK
Prinsip gravelpack adalah mencegah terproduksinya pasir dengan
memasang gravel yang mempunyai permeabilitas yang tinggi tetapi tidak
dapat dilewati oleh partikel pasir formasi.
Pelaksanaan Gravel Pack :
1. Pembersihan perforasi dengan clean fluid sebelum gravel dipasang
2. Penentuan ukuran gravel pack sesuai dengan ukuran butiran pasir
3. Pemasangan gravel pack kedalam lubang perforasi

PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN GRAVEL


PACK
1. Ukuran gravel pack yang tersedia
2. Angularitas dan besar butir gravel

Batuan sedimen
Pelapukan
Erosi
Transportasi
Pengendapan
Diagenesa
Perubahan yang berlangsung selama
dan sesudah litifikasi

Diagenesa
Kompaksi
Sedimen

Sementasi

Rekristralisasi

Pengkrisatalan kembali mineral dari suatu larutan


kimia yg berasal dari pelarutan material sedimen
selama diagenesa atau sebelumnya

Autiqenesis

Terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa

Metasomatisme

Pergantian mineral sedimen oleh berbagai mineral


autigenik

Grain Size

Nama Butir
Besar Butir ( mm)
Bongkah ( Boulder)
256
Brangkal ( Couble)
256 s/d 64
Krakal ( Pcebble)
64 s/d 4
Pasir sangat kasar ( Very coarse sand)
4 s/d 2
Pasir Kasar ( Coarse sand)
2 s/d 1
Pasir Sedang ( Medium Sand)
1 s/d 0,5
Pasir halus ( Fine sand)
1/2 s/d 1/4
Pasir sangat halus ( Very fine sand)
1/4 s/d 1/8
Lanau ( Silt)
1/16 s/d 1/256
Lempung ( Clay)
1/256

Pemilahan ( Sorting)

Kebundaran
Terdapat pada Butiran Sedimen klastik kasar
Pettijohn, dkk., (1987)
1. Sangat meruncing (sangat menyudut) (very angular)
2. Meruncing (menyudut) (angular)
3. Meruncing (menyudut) tanggung (subangular)
4. Membundar (membulat) tanggung (subrounded)
5. Membundar (membulat (rounded), dan
6. Sangat membundar (membulat) (well-rounded).

Shape
Bentuk Butiran
Berdasar perbandingan diameter panjang (long) (l), menengah (intermediate) (i) dan
pendek (short) (s) maka terdapat empat bentuk butir di dalam batuan sedimen
1. Oblate, bila l = i tetapi tidak sama dengan s.
2. Equant, bila l = i = s.
3. Bladed, bila l tidak sama dengan i tidak sama dengan s.
4. Prolate, bila i = s, tetapi tidak sama dengan l

Shape

Penentuan Gravel Pack dan Sand Screen


Penentuan ukuran efektif gravel pack
Menurut Saucier, dimana :
D50 = diameter berat kumulatif ukuran gravel pack (in)
d50 = diameter median berat kumulatif ukuran pasir formasi (in)
Penentuan ukuran celah sand screen
Metode Coberly W 2 d10
Metode Wilson W d 10
Metode Gill W d15
Dimana W = lebar celah screen (in)

Penanggulangan Problem Kepasiran


Pada hakekatnya problematik turut terproduksinya pasir
dapat dikontrol dengan tiga cara, yaitu :
Pengurangan drag force, cara ini dianggap paling murah
dan paling efektif.
Dengan cara bridging sand, cara ini layak dipakai untuk
dikerjakan dan mempunyai aplikasi yang lebih luas tetapi
cara ini sulit untuk diterapkan pada multiple zone atau
pada sumur dengan diameter casing yang kecil.
Penambahan formation strength, yaitu dengan
menggunakan resin consolidation method.

Liner Completion

Purpose: preventing the well from collapsing sand or plugging production system
due to sand problem

Gravel Pack Completion


More effective in controlling sand problem during its life of
production

Metode sieve analysis merupakan suatu metode yang


digunakan untuk menentukan keseragaman butiran pasir,
dengan cara mengayak sampel yang telah dibersihkan dengan
menggunakan beberapa tingkatan saringan yang mempunyai
ukuran (skala mesh) dan mempunyai ukuran bukan saringan
(sieve opening)

Tingkat keseragaman butiran pasir oleh Schwartz ditentukan dengan rumus :

D40
D90
C

= Diameter ukuran pasir pada 40 percentile point


= Diameter ukuran pasir pada 40 percentile point
= Koefisien keseragaman (uniform coefficient)

Schwartz menyatakan bahwa pengertian uniform coefficient merupakan


tingkat keseragaman dari butiran pasir yang kemudian dapat
menunjukkan baik atau buruknya pemilahan butiran (sortasi).

Jika C < 3 maka pasir seragam dan berukuran D10


Jika C > 5 maka pasir tidak seragam dan berukuran D40
Jika C > 10 maka pasir sangat tidak seragam dan berukuran D70

Liner Completion
untuk formasi produktif dengan faktor sementasi antara 1,4 sampai 1,7
Percobaan yang dilakukan oleh Coberly menyatakan bahwa

a. Screen and Liner Completion


Yaitu sloted screen liner atau screen liner dengan lubang berupa celah
yang horizontal atau vertikal, wire wrapped screen liner yaitu pipa saringan
berupa anyaman dan prepack screen liner yang berupa pipa saringan
terdiri dari 2 pipa yang diantaranya diisi oleh gravel

b. Perforated Liner Completion


Dalam metode ini casing dipasang di atas zona produktifnya dibor dan
dipasang casing liner dan disemen. Selanjutnya liner diperforasi untuk
produksi.

Untuk menentukan ukuran gravel, beberapa ahli lain memberikan saran


atau pendapat sebagai berikut :

Coberly dan Wagner mengusulkan ukuran gravel yang digunakan sama


dengan 10 kali d10, dimana d10 adalah 10 percentile dari hasil sieve
analysis

Schwartz, memberikan pendekatan dalam menentukan gravel, yaitu


dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Harga perbandingan gravel terhadap pasir formasi atau G S ratio

Efek G-S Ratio Terhadap Pressure Drop

Ukuran Screen yang Digunakan Berdasarkan Ukuran


Range Gravel

Gravel Size

Gravel Size

(U. S. Mesh

(Inch)

40 / 60

0.0165 0.0098

30 / 50

0.0230 0.012

20 / 40

0.0330 0.0165

16 / 30

0.0470 0.0230

12 / 20

0.0660 0.0330

8 / 16

0.0940 0.0470

KOMPLESI
Open Hole
Liner
Cased Hole

SISTEM KOMPLESI
Single Completion
Multiple Completion

Commingle

PERALATAN COMPLETION
Wellhead
Untuk memisahkan lubang dicasing casing dan tubing. Mengontrol aliran dari dan ke
sumur
-

Casing Head ( Menyanggah atau tempat menggantung casing dan tubing)


Casing Hanger ( Menggantung dan sekat antara casing dengan casing head)
Tubing Head ( Menngantung Tubing, dihubungkan dengan casing Head, Menahan beban X
Mast Tree)
Tubing Hanger ( Menggantung tubing dan menyekat antara tubing dengan tubing headnya)
X Mast Tree ( Peralatan valve dipasang pada tubing head yang berfungsi untuk mengontrol
aliran dari sumur)

TUBING
Ukurannya : 2-3/8
2-7/8 ( Rate < 2000 b/d)
3-1/2 ( Rate > 2000 b/d)
4
5-1/2
7

TIPE PENYAMBUNG TUBING


a. Standart API Coupling Connection
b. Extra Clearence Coupling
c. Integral Joint Connection ( Ulir yang dibuat di
badan tubing)
d. Connection Seals ( Khusus menahan kebocoran)

TUBING SAFETY VALVE ( Untuk Menutup Aliran)


-

Pressure Operated Safety Valve ( Untuk Menutup Pada Pressure Drop


Tertentu)
Hidraulik Safety Valve ( Di beri takanan dari permukaan, jika tekanan
hilang maka akan menutup secara otomatis)
Input Safety Valve ( Untuk Injection well agar tidak mendapatkan back
flow dari formasi jika peralatan rusak)
Differential type valve ( Untuk mengontrol rate yang terlalu tinggi)

Sumur X adalah sumur yang memiliki kedalaman total


(TD) 814, Sumur X menggunakan Intermediate Casing
( Tidak Ada Data ) dan Production Casing 7 at 815 dan
komplesi awal ( 30 Agustus 1975 ) dari Sumur X ini adalah
dengan membuka 1 Interval Perforasi pada interval 610622 dan diproduksi menggunakan Sucker Rod Pump 1
x 15 18 joint 3 Pump Set pada kedalaman 598. Pada
tahun 12 Juni 1984 dilakukan pemasangan Cup Packer
untuk mengisolasi interval 616-622 dan interval yang
diproduksikan adalah 610-616 menggunakan Sucker Rod
Pump 1 x 15 18 joint 3 Pump Set pada kedalaman
591. Kemudian pada tanggal 7 Januari 1990 Sumur X
dikonversi menjadi Sumur Observasi.

PERFORASI
Tujuan perforasi pada sebuah sumur adalah untuk dapat menciptakan
hubungan dibelakang casing dengan lubang bor, guna mengalirkan minyak
ataupun gas dari suatu formasi kedalam lubang sumur untuk dapat
diproduksi kepernukaan dengan menggunakan gun perforator sebagai alat
untuk penembus dinding casing dan semen, sampai dengan sasaran yang
dituju.

Faktor-faktor yang mesti dipertimbangan sebelum melakukan


proses perforasi antara lain yaitu :
Tidak merusak zona produktif.
Mendapatkan penembusan (penetrasi) sejauh mungkin.
Sekecil mungkin menjadinya kerusakan pada dinding casing
dan semen.

Kondisi Perforasi
Underbalance
Kondisi Underbalance merupakan suatu kondisi kerja dari perforasi
dimana tekanan hidrostatik lebih kecil dari tekanan formasi ( Ph < Pf ).
Balance
Kondisi Balance adalah suatu kondisi perforasi dimana tekanan
hirdrostatik lubang sumur seimbang atau sama dengan tekanan formasi (
Ph = Pf ). Kondisi ini biasanya digunakan pada formasi gas yang bertekanan
tinggi.
Overbalance
Kondisi Overbalance adalah suatu kondisi perforasi dimana tekanan
hidrostatik lebih besar dari formasi ( Ph > Pf ) lubang sumur.

Kedalaman Penetrasi dan Diameter Perforasi

Diameter perforasi merupakan ukuran lubang


yang dibuat dengan melakukan penembakan
perforator terhadap dinding casing.

Pola dan Phasing Perforasi


Phasing perforasi adalah besarnya sudut
busur antara dua lubang yang berdekatan
(dalam satu bidang datar) yang dibentuk oleh
alat perforator pada saat pelubangan yaitu 00,
600, 900, 1200, 1800

Adapun type dari perforator terdiri dari :


Bullet perforator
Jet perforator
Hydraulic perforator

Metoda perforasi

Model perforasi

Penentuan Faktor Skin Akibat Komplesi Perforasi Metoda K.C.


Hong

TUGAS